Balikpapan, 21 Mei 2026 – Ketika sebagian kalangan masih memandang bahasa Inggris sebagai mata pelajaran yang sulit dan menegangkan, puluhan pelajar di Kota Balikpapan justru menunjukkan hal sebaliknya. Mereka berdiri di hadapan dewan juri dan audiens untuk menyampaikan gagasan tentang isu-isu yang dekat dengan kehidupan generasi muda, mulai dari kesehatan mental hingga perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence).

Fenomena tersebut terlihat dalam Speech Competition 2026 tingkat SMA/SMK se-Kota Balikpapan yang diselenggarakan oleh UKM English Club Universitas Mulia pada 21 Mei 2026 di Ruang Eksekutif Universitas Mulia. Kegiatan yang mengusung tema “Speak Your Mind, Inspire the World” itu diikuti sembilan peserta dari berbagai sekolah menengah di Balikpapan dengan pendampingan guru dan orang tua.

Lebih dari sekadar kompetisi pidato berbahasa Inggris, kegiatan ini memperlihatkan bagaimana pelajar memanfaatkan bahasa sebagai sarana untuk menyampaikan gagasan terhadap berbagai persoalan yang berkembang di tengah masyarakat. Dalam sejumlah penampilan, peserta tidak hanya menunjukkan kemampuan linguistik, tetapi juga keberanian menyampaikan pandangan mengenai isu pendidikan, teknologi, dan kesehatan mental yang saat ini banyak menjadi perhatian generasi muda.

Menurut Ketua UKM English Club Universitas Mulia, Gita Khairunnisa, kompetisi ini lahir dari kegelisahan terhadap pandangan yang masih berkembang di kalangan pelajar bahwa bahasa Inggris merupakan sesuatu yang sulit, membosankan, dan tidak menyenangkan untuk dipelajari.

“Kami melihat masih ada anggapan bahwa bahasa Inggris itu susah dan tidak menarik. Melalui kompetisi ini kami ingin menunjukkan bahwa bahasa Inggris bisa menjadi media yang menyenangkan untuk mengembangkan diri. Kami ingin membuktikan bahwa English is fun, sesuai dengan semangat yang selama ini dibangun oleh UKM English Club,” ujarnya.

Pandangan tersebut menjadi salah satu alasan Universitas Mulia melalui UKM English Club terus menghadirkan ruang-ruang pembelajaran yang memungkinkan pelajar berinteraksi dengan bahasa Inggris dalam konteks yang lebih aplikatif. Alih-alih hanya berfokus pada aspek tata bahasa dan kosakata, peserta didorong untuk menggunakan bahasa Inggris sebagai alat untuk mengomunikasikan ide, gagasan, dan perspektif mereka terhadap berbagai fenomena yang sedang berkembang.

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan, kemampuan menyampaikan gagasan secara efektif dinilai tetap memiliki nilai strategis. Menurut Gita, perkembangan AI maupun media sosial justru semakin memperlihatkan pentingnya penguasaan bahasa Inggris karena sebagian besar perkembangan teknologi global masih menggunakan bahasa tersebut sebagai bahasa utama komunikasi dan pengembangan pengetahuan.

Tema “Speak Your Mind, Inspire the World” yang diangkat dalam kompetisi tahun ini juga dipilih untuk merespons perubahan yang sedang berlangsung di bidang pendidikan dan teknologi. Melalui tema tersebut, peserta didorong untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menyampaikan pemikiran yang dapat berkontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Menariknya, proses kompetisi juga memberikan gambaran mengenai potensi pelajar Balikpapan yang selama ini mungkin belum banyak terekspos. Dari hasil pengamatan panitia, banyak peserta menunjukkan kemampuan berbahasa Inggris yang baik dengan muatan pidato yang tidak sekadar retoris, tetapi juga memuat analisis dan gagasan yang relevan dengan kondisi saat ini.

“Kami menemukan banyak pelajar yang sangat fasih berbicara dalam bahasa Inggris. Yang lebih menarik lagi, isi pidato mereka cukup berbobot dan mengangkat isu-isu yang sedang berkembang seperti mental health, artificial intelligence, dan pendidikan,” jelasnya.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa ruang pengembangan kemampuan komunikasi tidak hanya berfungsi sebagai sarana kompetisi, tetapi juga menjadi medium untuk membaca cara generasi muda memandang perubahan sosial dan teknologi yang terjadi di sekitar mereka.

Meski demikian, panitia mencatat masih terdapat satu aspek yang perlu terus diperkuat, yakni kepercayaan diri saat tampil di hadapan publik. Menurut panitia, kemampuan bahasa yang baik tidak selalu diikuti dengan keberanian menyampaikan gagasan di depan audiens yang lebih luas.

Karena itu, penyelenggaraan kompetisi ini juga diarahkan untuk membantu pelajar membangun keberanian berbicara di ruang publik. Bahkan sebelum kegiatan berlangsung, salah satu tantangan yang dihadapi panitia adalah meyakinkan calon peserta bahwa kompetisi ini dapat menjadi batu loncatan untuk mengikuti ajang yang lebih tinggi di masa mendatang.

“Kami ingin peserta melihat bahwa kompetisi tingkat kota ini bukan tujuan akhir, tetapi langkah awal untuk mengembangkan potensi mereka dan berani tampil pada kompetisi yang lebih besar,” katanya.

Kompetisi diikuti oleh peserta dari berbagai sekolah, antara lain SMKN 2 Balikpapan, SMA Nasional KPS Balikpapan, SMA Kartika V-1 Balikpapan, SMK Airlangga Balikpapan, SMK Kesehatan Airlangga Balikpapan, serta beberapa sekolah lainnya. Penilaian dilakukan berdasarkan lima aspek utama, yaitu Pronunciation, Fluency, Content and Organization, Performance and Confidence, serta Grammar and Vocabulary.

Berdasarkan hasil penilaian dewan juri, Fiorenza Adelia R.H. dari SMA Nasional KPS Balikpapan berhasil meraih Juara I dengan skor 89,6. Posisi Juara II diraih Salvin Meltisha dari SMKN 2 Balikpapan dengan skor 88,7, sedangkan Juara III diraih Sakinah Cahaya Namira dari SMKN 2 Balikpapan dengan skor 85,6.

Melalui kegiatan ini, Universitas Mulia tidak hanya menghadirkan kompetisi bagi pelajar, tetapi juga membangun ruang pertemuan antara pendidikan menengah dan pendidikan tinggi dalam satu ekosistem pembelajaran. Ketika pelajar diberi kesempatan untuk menyampaikan gagasan, yang muncul bukan sekadar kemampuan berbahasa Inggris, melainkan potret generasi muda yang mulai berani berbicara tentang masa depan yang mereka hadapi dan ingin mereka bentuk. (YMN)

 

Balikpapan, 25 Mei 2026—Di tengah perubahan pola rekrutmen kerja yang semakin dipengaruhi kemampuan adaptasi, komunikasi, dan penguasaan teknologi, Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mulia menghadirkan seminar Smart Skill for Smart Career bekerja sama dengan HR Forum Balikpapan. Forum yang diikuti 110 mahasiswa itu membedah satu persoalan yang kerap luput dibicarakan di ruang kuliah: banyak lulusan memiliki nilai akademik baik, tetapi belum cukup siap menghadapi kultur, tekanan, dan ritme kerja industri yang terus berubah.

Seminar menghadirkan Wahyu Ratnasari, S.E., M.M., dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mulia, bersama Adi Firdaus selaku HR Head PT Gorontalo Sejahtera Mining dan Chairman HR Forum Balikpapan. Kehadiran praktisi HR dalam forum tersebut memberi mahasiswa kesempatan mendengar secara langsung bagaimana perusahaan membaca kualitas calon tenaga kerja, termasuk alasan mengapa banyak pelamar gagal bukan karena kurang pintar, melainkan karena tidak mampu menunjukkan sikap kerja dan kemampuan beradaptasi.

Ketua Program Studi Manajemen Universitas Mulia, Dr. Pudjiati, S.E., M.M., menilai persoalan utama mahasiswa hari ini bukan semata lemahnya penguasaan teori, melainkan ketidaksiapan menghadapi dinamika kerja yang menuntut respons cepat, kemampuan berkomunikasi, dan keberanian mengambil keputusan.

“Dunia kerja saat ini tidak hanya membutuhkan lulusan yang pintar secara akademik, tetapi juga siap bekerja, mampu belajar cepat, dan memiliki soft skill yang baik,” ujarnya.

Menurutnya, banyak mahasiswa masih kesulitan membangun kepercayaan diri, bekerja dalam tim, menyampaikan gagasan secara jelas, hingga menyelesaikan persoalan secara efektif. Padahal, ruang kerja modern bergerak jauh lebih cepat dibanding ritme pembelajaran konvensional di kelas.

Ia juga menyinggung perubahan cara perusahaan menilai calon pekerja. Jika dahulu IPK sering menjadi perhatian utama, kini perusahaan lebih tertarik melihat karakter, etika kerja, disiplin, dan kemampuan seseorang menyesuaikan diri terhadap perubahan teknologi maupun budaya kerja.

“Perusahaan percaya kemampuan teknis masih bisa dipelajari, tetapi attitude, kemauan belajar, dan kemampuan adaptasi jauh lebih sulit dibentuk,” jelasnya.

Karena itu, kerja sama dengan HR Forum Balikpapan tidak ditempatkan sekadar sebagai agenda seminar tahunan. Prodi Manajemen ingin membuka jalur yang lebih dekat antara mahasiswa dan dunia industri, agar mahasiswa tidak hanya mengenal teori manajemen dari buku, tetapi juga memahami ekspektasi nyata perusahaan terhadap calon tenaga kerja muda.

Dalam sesi diskusi, isu kecerdasan buatan (AI) dan digitalisasi kerja menjadi salah satu topik yang paling banyak memancing perhatian peserta. Mahasiswa mempertanyakan bagaimana masa depan profesi manajemen ketika pekerjaan administratif mulai digantikan sistem otomatis.

Mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Mulia berfoto bersama narasumber seminar Smart Skill for Smart Career, Wahyu Ratnasari, S.E., M.M. dan Adi Firdaus selaku HR Head PT Gorontalo Sejahtera Mining sekaligus Chairman HR Forum Balikpapan, didampingi Ketua Prodi Manajemen Dr. Pudjiati, S.E., M.M., usai kegiatan seminar yang membahas kesiapan karier dan penguatan soft skill di era AI dan digitalisasi kerja.

Menanggapi hal tersebut, Dr. Pudjiati menegaskan bahwa teknologi tidak semestinya dipandang sebagai ancaman, melainkan alat yang harus dikuasai. Menurutnya, kemampuan yang akan tetap dibutuhkan industri adalah kemampuan berpikir kritis, membaca situasi, memimpin tim, berkomunikasi, dan mengambil keputusan di tengah perubahan.

Ia menjelaskan bahwa konsep smart skill bukan sekadar kecakapan menggunakan teknologi, tetapi perpaduan antara kompetensi akademik, literasi digital, kemampuan interpersonal, kreativitas, dan ketahanan menghadapi tekanan kerja.

“Mahasiswa dituntut menjadi pribadi yang fleksibel, kreatif, profesional, dan siap menghadapi tantangan kerja yang terus berkembang,” katanya.

Suasana seminar berlangsung hidup ketika mahasiswa mulai mengaitkan materi dengan kegelisahan mereka menjelang dunia kerja. Pertanyaan tentang personal branding, pengalaman organisasi, strategi menghadapi wawancara kerja, hingga cara membangun networking muncul silih berganti sepanjang sesi diskusi.

Bagi Prodi Manajemen Universitas Mulia, antusiasme tersebut menunjukkan perubahan cara pandang mahasiswa terhadap masa depan karier mereka. Kampus tidak lagi cukup hanya menjadi tempat memperoleh ijazah, tetapi juga ruang membangun kesiapan mental, keterampilan, dan jejaring profesional sejak dini.

Ke depan, Program Studi Manajemen berencana memperluas kolaborasi dengan HR Forum Balikpapan dan berbagai mitra industri melalui program pelatihan, mentoring karier, seminar lanjutan, hingga peluang magang mahasiswa. Langkah itu diarahkan agar lulusan tidak gagap ketika memasuki dunia kerja, sekaligus mampu membaca perubahan industri yang bergerak semakin cepat dari tahun ke tahun. (YMN)

Balikpapan, 8 Mei 2026 – Suasana Domain Space Universitas Mulia pada Jumat (8/5/2026) tampak berbeda dari biasanya. Sejumlah pelajar SMA dan SMK bergantian berdiri di depan peserta lain, mencoba memperkenalkan diri menggunakan bahasa Inggris. Sebagian masih terdengar ragu-ragu, beberapa kali tertawa kecil karena salah pengucapan, tetapi ruangan tetap dipenuhi tepuk tangan dan dukungan dari peserta lain.

Momen tersebut menjadi bagian dari workshop “The Next Level: Public Speaking with English Club Universitas Mulia” yang diselenggarakan UKM English Club Universitas Mulia. Sebanyak 28 pelajar dari berbagai sekolah di Kota Balikpapan mengikuti kegiatan yang berfokus pada pelatihan public speaking dan penguatan kepercayaan diri dalam berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris.

Berbeda dari seminar satu arah, workshop ini dikemas dengan pendekatan yang lebih interaktif. Peserta tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga langsung mempraktikkan cara berbicara di depan publik melalui simulasi presentasi, perkenalan diri, diskusi kelompok, hingga evaluasi sederhana terhadap performa masing-masing peserta.

Narasumber workshop, Ahmad Sya’bana, mahasiswa Program Studi Akuntansi angkatan 2023 yang aktif di UKM English Club, menyampaikan materi menggunakan bahasa Inggris. Ia menjelaskan bahwa kemampuan berbicara di depan umum saat ini menjadi salah satu keterampilan yang semakin dibutuhkan, baik dalam dunia akademik maupun lingkungan kerja profesional.

“Public speaking bukan hanya tentang berbicara di depan banyak orang, tetapi bagaimana seseorang mampu menyampaikan gagasan dengan jelas, terstruktur, dan mampu memengaruhi audiens secara positif,” ujarnya.

Ahmad Sya’bana saat membawakan materi public speaking berbahasa Inggris dalam workshop “The Next Level” yang digelar UKM English Club Universitas Mulia. Melalui sesi interaktif dan praktik langsung, peserta diajak membangun keberanian berbicara di depan publik sejak usia sekolah.

Menurut Ahmad, banyak pelajar sebenarnya memiliki ide dan kemampuan, tetapi sering kesulitan menyampaikannya karena kurang terbiasa berbicara di depan umum. Karena itu, latihan komunikasi perlu dimulai sejak dini agar rasa percaya diri dapat tumbuh bersamaan dengan kemampuan akademik.

Ketua UKM English Club, Gita Khairunnisa, mengatakan kegiatan tersebut memang dirancang untuk menciptakan ruang belajar bahasa Inggris yang lebih santai dan aplikatif bagi generasi muda. Ia menilai masih banyak pelajar yang merasa takut menggunakan bahasa Inggris karena khawatir melakukan kesalahan saat berbicara.

“Kami ingin peserta merasa bahwa belajar bahasa Inggris tidak harus selalu tegang. Yang penting berani mencoba dulu dan mau terus belajar,” katanya.

Selama kegiatan berlangsung, suasana workshop beberapa kali berubah menjadi lebih cair ketika panitia menghadirkan sesi ice breaking dan games edukatif. Peserta yang awalnya terlihat pasif mulai aktif berdiskusi dan saling memberi dukungan saat sesi praktik berlangsung.

Pembina UKM English Club, Riski Zulkarnain, S.Pd., M.Pd., menilai kegiatan semacam ini penting karena dunia pendidikan saat ini tidak hanya menuntut kemampuan akademik, tetapi juga kemampuan komunikasi, berpikir kritis, dan keberanian tampil di depan publik.

Ia menyebut organisasi mahasiswa memiliki ruang yang cukup besar untuk menghadirkan kegiatan yang memberi dampak langsung kepada masyarakat, termasuk pelajar sekolah menengah yang sedang mempersiapkan diri menghadapi dunia perkuliahan dan kerja.

“Mahasiswa dan pelajar sekarang perlu membiasakan diri menyampaikan ide dengan baik. Kemampuan itu akan sangat dibutuhkan di berbagai bidang,” ujarnya.

Seluruh rangkaian workshop dipersiapkan oleh mahasiswa anggota UKM English Club Universitas Mulia. Keterlibatan mahasiswa sebagai panitia sekaligus fasilitator menunjukkan bagaimana organisasi kemahasiswaan tidak hanya menjadi ruang berkegiatan, tetapi juga tempat belajar mengelola program edukatif secara langsung.

Melalui kegiatan ini, Universitas Mulia mencoba menghadirkan pendekatan pembelajaran yang lebih dekat dengan kebutuhan generasi muda saat ini—tidak hanya mengasah kemampuan akademik, tetapi juga membangun keberanian untuk berbicara, menyampaikan ide, dan tampil percaya diri di ruang publik. (YMN)

 

Balikpapan, 7 Mei 2026 – Universitas Mulia melalui Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) menyelenggarakan diskusi publik bertajuk “Kampus atau Barak? Militer Masuk Ranah Pendidikan” pada 7 Mei 2026 di Universitas Mulia Balikpapan sebagai bagian dari penguatan budaya akademik yang menempatkan kampus sebagai ruang dialog, pertukaran gagasan, dan pengembangan nalar kritis mahasiswa terhadap isu-isu kebangsaan kontemporer.

Kegiatan ini dirancang sebagai forum intelektual untuk membahas dinamika hubungan antara pendidikan, demokrasi, dan kebebasan akademik dari beragam perspektif. Melalui tema tersebut, mahasiswa diajak menelaah secara kritis berbagai pendekatan dalam sistem pendidikan, termasuk pentingnya menjaga perguruan tinggi sebagai ruang ilmiah yang bertumpu pada independensi berpikir, kebebasan akademik, serta tanggung jawab sosial.

Rangkaian acara diawali dengan pembukaan dan sambutan dari unsur pimpinan universitas serta perwakilan organisasi kemahasiswaan yang menekankan pentingnya diskusi akademik sebagai bagian dari tradisi perguruan tinggi. Kehadiran Presiden dan Wakil Presiden BEM se-Balikpapan turut memperluas spektrum dialog, menjadikan forum ini tidak hanya sebagai agenda internal kampus, tetapi juga ruang konsolidasi pemikiran mahasiswa lintas perguruan tinggi.

Sesi utama menghadirkan pemaparan mengenai perkembangan isu keterlibatan militer dalam ranah pendidikan sebagai bahan kajian demokrasi dan tata kelola pendidikan tinggi. Materi diskusi menyoroti pentingnya memahami perbedaan karakter pendidikan sipil dan pendidikan berbasis komando dalam konteks pembentukan budaya akademik, sekaligus mendorong mahasiswa untuk mengembangkan literasi konstitusional, kesadaran hukum, dan kepekaan terhadap prinsip-prinsip kebebasan berpikir.

Forum ini juga membahas bagaimana mahasiswa sebagai komunitas intelektual memiliki peran strategis dalam merawat tradisi dialogis di perguruan tinggi. Dalam suasana akademik, peserta diajak melihat bahwa kampus bukan sekadar ruang pembelajaran formal, melainkan lingkungan yang membentuk kapasitas analitis, keberanian berpendapat, serta kemampuan membaca perubahan sosial secara rasional dan bertanggung jawab.

Salah satu gagasan yang mengemuka dalam diskusi menyoroti bahwa berbagai bentuk pendekatan terhadap mahasiswa perlu dipahami secara kritis dengan mempertimbangkan kondisi psikologis, sosial, dan struktural yang memengaruhi kehidupan pendidikan. Pandangan tersebut memperkaya forum dengan perspektif sosial-politik yang memberi ruang refleksi tanpa melepaskan pijakan akademik.

Sesi dialog dan tanya jawab berlangsung dinamis dengan melibatkan peserta dari berbagai organisasi mahasiswa. Pertukaran gagasan yang berkembang menunjukkan bahwa perguruan tinggi memiliki fungsi strategis sebagai ruang perdebatan ilmiah yang sehat, tempat berbagai pandangan dapat diuji melalui argumentasi, data, dan kerangka berpikir demokratis.

Melalui penyelenggaraan diskusi publik ini, Universitas Mulia menegaskan komitmennya dalam mendukung ekosistem pendidikan tinggi yang mendorong keterbukaan intelektual, kedewasaan berpikir, dan partisipasi mahasiswa dalam merespons isu-isu strategis secara akademik. Di tengah perubahan sosial yang terus berlangsung, kampus dituntut tetap menjadi ruang yang memungkinkan lahirnya pemikiran kritis, dialog konstruktif, dan kontribusi nyata bagi kehidupan demokrasi. (YMN)

BALIKPAPAN, 30 Maret 2026— Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Mulia melaksanakan kegiatan Bakti Sosial Gerakan Mahasiswa Mengabdi pada Sabtu, 14 Maret 2026, di Kampung Tumaritis, Kelurahan Graha Indah, Kota Balikpapan.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat yang diselenggarakan Universitas Mulia dalam momentum Ramadan 1446 H. Program tersebut menyasar warga prasejahtera yang sebagian besar bekerja di sektor informal, seperti buruh harian lepas dan pemulung.

BEM Universitas Mulia menyalurkan bantuan sosial kepada warga serta melakukan interaksi langsung melalui dialog dengan masyarakat setempat. Selain penyaluran bantuan, kegiatan juga diisi dengan pendekatan komunikasi untuk menggali kondisi dan kebutuhan warga.

Pelaksanaan kegiatan mendapat pendampingan dari unit terkait di lingkungan Universitas Mulia, yang terlibat dalam koordinasi lapangan, komunikasi dengan masyarakat, serta dukungan layanan sosial. Keterlibatan lintas unit ini menjadi bagian dari upaya institusi dalam memastikan program berjalan terarah dan sesuai kebutuhan masyarakat.

Tokoh masyarakat setempat, Ruslan, turut hadir dalam kegiatan tersebut dan memberikan dukungan terhadap pelaksanaan program. Keterlibatan unsur masyarakat dinilai penting untuk menjaga relevansi kegiatan dengan kondisi riil di lapangan.

Warga Kampung Tumaritis menyambut kegiatan ini dengan antusias. Sejumlah warga hadir di lokasi sejak siang hari untuk mengikuti rangkaian kegiatan dan menerima bantuan yang disalurkan.

Melalui kegiatan ini, Universitas Mulia menjalankan peran pengabdian kepada masyarakat sebagai bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. Program tersebut sekaligus menjadi ruang bagi mahasiswa untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat dan memahami kondisi sosial di lingkungan sekitar kampus. (YMN)

Balikpapan, 24 Februari 2026—Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Universitas Mulia menyelenggarakan Workshop PPK Ormawa 2026 secara daring melalui Zoom, Senin (23/2/2026). Kegiatan ini diarahkan untuk memperkuat kapasitas organisasi kemahasiswaan dalam menyusun proposal Program Penguatan Kapasitas Organisasi Mahasiswa (PPK Ormawa) Tahun 2026 secara sistematis, terukur, dan sesuai dengan ketentuan program.

Workshop dibuka oleh Rektor Universitas Mulia Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si. bersama Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Sumardi, S.Kom., M.Kom. Pembukaan kegiatan menandai komitmen institusi dalam menempatkan PPK Ormawa sebagai bagian dari pembelajaran terapan yang menyeimbangkan capaian akademik dan penguatan kompetensi non-akademik mahasiswa.

Pelaksanaan workshop dikoordinasikan oleh Bidang Kemahasiswaan dan Alumni dengan melibatkan unsur pengelola layanan kemahasiswaan lintas unit. Kegiatan ini diikuti oleh pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), dan Himpunan Mahasiswa (HIMA), serta para pembina organisasi kemahasiswaan di lingkungan Universitas Mulia. Keterlibatan unsur pimpinan dan pengelola tersebut memperkuat fungsi workshop sebagai ruang penyamaan pemahaman dan standar perencanaan program.

Sebagai penguatan substansi, Universitas Mulia menghadirkan Dr. Ir. Miftahush Shirothul Haq, S.Pt., IPP. dari Universitas Gadjah Mada. Materi difokuskan pada strategi penyusunan proposal PPK Ormawa, pemetaan isu desa dan kelurahan, serta perancangan program yang memiliki keterkaitan logis antara permasalahan, tujuan, indikator capaian, dan luaran kegiatan. Paparan juga menyoroti kesalahan konseptual yang kerap muncul dalam proposal dan berdampak pada kegagalan seleksi.

Dalam konteks kebijakan internal, Universitas Mulia menyiapkan skema dukungan dan rekognisi akademik bagi mahasiswa yang berhasil meloloskan proposal dan memperoleh pendanaan PPK Ormawa. Skema tersebut dirancang untuk mendorong organisasi kemahasiswaan menyusun proposal secara serius dengan perencanaan yang berbasis data dan kebutuhan wilayah dampingan.

PPK Ormawa merupakan program Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, yang berfokus pada pengembangan soft skills mahasiswa melalui kegiatan pengabdian dan pemberdayaan masyarakat. Pada tahun 2026, program ini membuka delapan tema, meliputi Desa Konservasi dan Tangguh Bencana, Desa/Kelurahan Wirausaha, Desa Smart Farming, Desa/Kelurahan Sehat, Desa/Kelurahan Cerdas, Desa/Kelurahan Maritim, Desa Hutan, serta Desa/Kelurahan Wisata.

Melalui workshop ini, Universitas Mulia memperkuat standardisasi penyusunan proposal PPK Ormawa di tingkat organisasi kemahasiswaan. Penekanan diarahkan pada ketepatan perumusan masalah, kejelasan indikator capaian, serta kesesuaian program dengan tema dan skema pendanaan PPK Ormawa 2026. (YMN)

 

Balikpapan, 18 Februari 2026 – Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika (HimaTI) Universitas Mulia melaksanakan kegiatan Goes to School bertajuk Beyond Networking: Menjelajahi Cakrawala Keamanan Siber pada 24 November 2025 di SMK Negeri 6 Balikpapan. Kegiatan ini menjadi bagian dari pengabdian institusi dalam memperluas wawasan teknologi informasi bagi siswa sekolah menengah kejuruan.

Program ini dirancang untuk memperkenalkan dimensi yang lebih luas dari bidang Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ). Tidak hanya membahas konfigurasi jaringan, pelatihan juga menyoroti keamanan informasi, pemrograman, arsitektur perangkat keras, hingga relevansinya dengan perkembangan komputasi awan dan Internet of Things (IoT). Pendekatan tersebut diambil untuk memberikan gambaran utuh mengenai kompetensi yang dibutuhkan dalam ekosistem industri digital.

Kegiatan berlangsung dalam format interaktif di lingkungan sekolah. Sesi awal memuat pemaparan konseptual mengenai keamanan sistem komputer dan jaringan, termasuk prinsip dasar perlindungan data serta potensi kerentanan yang kerap dimanfaatkan dalam serangan siber. Materi disampaikan secara aplikatif agar mudah dipahami oleh siswa jurusan TKJ.

Untuk menjaga partisipasi aktif, rangkaian kegiatan diselingi sesi interaksi yang mendorong konsentrasi dan respons cepat peserta. Dinamika ini menjadi pengantar menuju sesi utama berupa simulasi praktik dalam lingkungan virtual.

Pada tahap praktik, siswa menggunakan VirtualBox dan sistem operasi Kali Linux untuk memahami mekanisme keamanan sistem secara terkontrol. Simulasi ini memberikan pengalaman langsung mengenai bagaimana suatu sistem diuji keamanannya tanpa menimbulkan risiko pada perangkat asli. Pendekatan berbasis praktik tersebut dirancang agar siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga melihat penerapannya secara nyata.

Melalui kegiatan ini, Universitas Mulia mempertegas kontribusinya dalam membangun kesiapan teknologi generasi muda. Program Goes to School menjadi ruang kolaboratif yang mempertemukan pendidikan tinggi dan sekolah kejuruan dalam penguatan literasi digital yang lebih kontekstual dan relevan dengan kebutuhan industri. (YMN)

Balikpapan, 13 Februari 2026 – Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika (HimaTI) Universitas Mulia melaksanakan kegiatan sosialisasi dan pelatihan keamanan siber bertajuk Guardians of the Cyber: Menempa Generasi Tangguh Keamanan Informasi pada 9 Desember 2025 di Laboratorium Komputer SMK Negeri 3 Balikpapan. Kegiatan ini merupakan bagian dari penguatan peran institusi dalam membangun literasi keamanan informasi di tingkat pendidikan menengah.

Pelatihan diselenggarakan sebagai tindak lanjut arahan akademik Program Studi Teknologi Informasi Universitas Mulia untuk memperluas edukasi keamanan siber kepada pelajar. Inisiatif ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya risiko kejahatan siber serta pentingnya pemahaman sejak dini mengenai perlindungan data pribadi dan mekanisme serangan digital yang umum terjadi.

Kegiatan terbagi dalam dua sesi utama yang diikuti siswa jurusan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ). Sesi awal memuat pemaparan konsep dasar keamanan informasi, klasifikasi ancaman siber, serta pola serangan yang kerap dimanfaatkan peretas. Materi difokuskan pada pemahaman struktural mengenai bagaimana sistem dapat dieksploitasi dan bagaimana mitigasinya dirancang.

Bagian inti kegiatan berlangsung dalam bentuk simulasi praktik di lingkungan virtual. Dengan memanfaatkan perangkat lunak VirtualBox, peserta melakukan skenario terkontrol menggunakan sistem operasi Kali Linux untuk menguji kerentanan mesin berbasis Windows 7. Dalam simulasi tersebut, siswa mengamati bagaimana sebuah file backdoor dapat membuka akses pemantauan sistem dari jarak jauh. Pendekatan ini dirancang agar peserta tidak hanya memahami konsep serangan, tetapi juga menyadari konsekuensi teknis dan etis dari penyalahgunaan akses sistem.

Meskipun terdapat kendala teknis pada tahap instalasi perangkat lunak, dinamika pembelajaran tetap terjaga. Siswa menunjukkan kemampuan kolaboratif dengan saling membantu menyelesaikan tahapan konfigurasi hingga simulasi berjalan sesuai skenario. Proses ini sekaligus memperlihatkan pentingnya kerja tim dalam praktik keamanan siber.

Melalui kegiatan ini, Universitas Mulia mempertegas kontribusinya dalam pengembangan kapasitas generasi muda di bidang teknologi informasi. Pelatihan keamanan siber tidak hanya membekali keterampilan teknis, tetapi juga menanamkan kesadaran kritis terhadap tanggung jawab penggunaan teknologi di ruang digital.

Kolaborasi antara Universitas Mulia dan SMK Negeri 3 Balikpapan diharapkan dapat berlanjut dalam bentuk program edukasi berkelanjutan, sehingga kesiapan siswa menghadapi tantangan keamanan informasi semakin terstruktur dan berbasis kompetensi. (YMN)

Balikpapan, 26 Januari 2026—Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Mulia melalui Program Studi Manajemen menyelenggarakan seminar bertajuk “Menata Karier dan Masa Depan di Usia 20-an” pada Jumat, 23 Januari 2026. Kegiatan ini diikuti oleh 194 mahasiswa, yang terdiri atas 135 mahasiswa baru angkatan 2026 serta 59 mahasiswa angkatan 2025.

Ketua Program Studi Manajemen Universitas Mulia, Dr. Pudjiati, S.E., M.M., berfoto bersama mahasiswa peserta seminar yang menerima cenderamata atas keaktifan mereka dalam sesi tanya jawab.

Kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai bagian dari upaya fakultas dalam memberikan pembekalan nonkurikuler kepada mahasiswa, khususnya terkait perencanaan karier sejak masa studi. Selain itu, seminar ini juga memperkenalkan program pembentukan Duta Manajemen yang akan mendukung kegiatan Promosi Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Program Studi Manajemen.

Ketua Program Studi Manajemen Universitas Mulia, Dr. Pudjiati, S.E., M.M., menyampaikan materi dalam seminar “Menata Karier dan Masa Depan di Usia 20-an” yang diselenggarakan oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mulia.

Dalam sesi utama, Ketua Program Studi Manajemen Universitas Mulia, Dr. Pudjiati, S.E., M.M., menyampaikan materi mengenai pengenalan potensi diri, perumusan tujuan profesional, serta pentingnya penyusunan langkah yang terarah dalam menyiapkan karier mahasiswa. Ia juga menyoroti perlunya penguatan keterampilan komunikasi, kepemimpinan, kerja sama tim, serta kesiapan menghadapi dinamika dunia kerja.

Mahasiswa diarahkan untuk memanfaatkan kegiatan organisasi, pelatihan, dan aktivitas kemahasiswaan sebagai bagian dari proses pengembangan diri selama menempuh pendidikan di perguruan tinggi, termasuk keterlibatan dalam kegiatan promosi program studi.

Seorang mahasiswa mengajukan pertanyaan dalam sesi diskusi pada seminar perencanaan karier yang digelar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mulia.

Program Duta Manajemen diperkenalkan sebagai wadah partisipasi mahasiswa dalam kegiatan komunikasi publik Program Studi Manajemen kepada calon mahasiswa dan masyarakat. Melalui program tersebut, mahasiswa diharapkan mampu menjalankan peran representatif secara bertanggung jawab serta menunjukkan sikap profesional dalam interaksi publik.

Pelaksanaan kegiatan didukung oleh Himpunan Mahasiswa Manajemen (HMM) yang berperan dalam membantu kelancaran teknis dan koordinasi selama seminar berlangsung.

Rangkaian kegiatan dilaksanakan melalui pemaparan materi dan sesi diskusi. Partisipasi mahasiswa tercermin dari jumlah pertanyaan serta tanggapan yang muncul selama sesi berlangsung.

Mahasiswa peserta seminar berfoto bersama Ketua Program Studi Manajemen Universitas Mulia, Dr. Pudjiati, S.E., M.M., selaku pemateri utama kegiatan.

Melalui kegiatan ini, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mulia bersama Program Studi Manajemen memfasilitasi mahasiswa dalam memahami pentingnya perencanaan masa depan sejak dini, kesiapan menghadapi dunia kerja, serta peran mahasiswa dalam kegiatan representasi program studi di lingkungan universitas. (YMN)

 

Balikpapan, 8 Desember 2025— Di tengah situasi kebencanaan di Sumatra, keterlibatan mahasiswa Universitas Mulia melalui UKM LDK Al-Izzah kembali menunjukkan peran kampus sebagai ruang filantropi yang aktif. Selama dua hari penggalangan dana, tim mahasiswa menyisir kelas pagi dan kelas malam dengan pola kerja terorganisasi: koordinasi izin dosen, pembagian tim dokumentasi, dan pemanfaatan QRIS untuk memudahkan partisipasi.

Hasilnya, kontribusi warga kampus terkumpul dalam bentuk donasi tunai sebesar Rp5.032.000 dan transaksi QRIS sebesar Rp2.707.000. Total dana Rp7.739.000 kemudian disalurkan melalui Human Initiative. Sepanjang kegiatan, mahasiswa melaporkan dukungan yang konsisten dari dosen, karyawan, mahasiswa, hingga pedagang kantin. Pada beberapa kesempatan, penyumbang secara spontan memberikan uang dalam jumlah besar, sedangkan yang tidak membawa uang tunai memanfaatkan QRIS dengan ekspresi lega karena tetap dapat berkontribusi.

Rektor UM, Prof. Ahsin, bersama Kabag Kerjasama Wahyu Nur Alimyaningtias dan Aktivis UKM LDK Al-Izzah menerima kunjungan Fadhilur Rohim, Kepala Divisi Retail & Digital Partnership Human Initiative.

Pada Senin pagi, 8 Desember 2025, ruang Rektor di gedung White Campus menjadi titik temu antara Universitas Mulia dan Human Initiative. Rektor Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si., menyerahkan secara langsung dana hasil penggalangan mahasiswa untuk korban bencana di Sumatra. Penyerahan dilakukan tanpa seremoni berlebihan, namun menunjukkan adanya kepahaman bersama bahwa dukungan nyata seringkali dimulai dari ruang-ruang kecil di dalam kampus. Hadir dalam pertemuan tersebut Wakil Rektor Bidang Akademik, Wisnu Hera Pamungkas, S.T.P., M.Eng., Kabag Kerjasama Universitas Mulia, Wahyu Nur Alimyaningtias, S.Kom., M.Kom. dan Sejumlah Aktivis Dakwah UKM LDK Al-Izzah UM serta  perwakilan lembaga kemanusiaan Human Initiative. Pada kesempatan yang sama, Rektor UM menerima sertifikat penghargaan dari Human Initiative.

Dari pihak Human Initiative, Kepala Divisi Retail & Digital Partnership Fadhilur Rohim menjelaskan bahwa kolaborasi dengan lembaga pendidikan tidak hanya dimaknai sebagai penggalangan dana sesaat, tetapi sebagai bagian dari ekosistem respons kebencanaan yang lebih luas. Kampus disebut sebagai pusat energi anak muda yang memiliki kepedulian sosial tinggi, mampu menggerakkan relawan dan mempercepat penyebaran informasi di saat krisis.

Rektor Universitas Mulia menyerahkan dana hasil penggalangan mahasiswa untuk korban bencana Sumatra kepada perwakilan Human Initiative.

Dalam pandangan Human Initiative, strategi bersama kampus berjalan pada beberapa bidang: kapasitas intelektual untuk edukasi kebencanaan, penggunaan jaringan digital seperti grup WhatsApp dan poster QRIS, serta kecepatan respons ketika bencana berskala besar terjadi. Kolaborasi ini dianggap investasi jangka panjang untuk membentuk generasi muda yang siap siaga dan berdaya dalam kerja kemanusiaan.

Indikator keberhasilan penyaluran bantuan dirumuskan dalam tiga aspek prioritas: ketepatan sasaran kepada kelompok rentan, kecepatan distribusi kebutuhan dasar, serta dampak jangka menengah melalui pemulihan fasilitas umum dan bantuan psikososial. Dana yang dihimpun dari Universitas Mulia dialokasikan untuk penyediaan kebutuhan dasar, layanan darurat lapangan, dan dukungan pemulihan awal.

Aktivis dakwah UKM LDK Al-Izzah menerima piagam penghargaan atas kontribusi penggalangan dana kemanusiaan.

Ketua LDK Al-Izzah sekaligus koordinator aksi, Qolby Zakin, mencatat bahwa kegiatan di lapangan berlangsung dengan disiplin. Tim masuk kelas hanya ketika suasana memungkinkan, meminta izin secara sopan, dan menyampaikan maksud dengan singkat. Pada beberapa momen, mahasiswa yang tidak membawa uang tunai tampak kecewa, tetapi berubah gembira ketika diberi opsi QRIS. “Ada teriakan syukur hanya karena bisa ikut sedekah,” ujarnya.

Bagi Qolby, solidaritas kemanusiaan dalam konteks ini memiliki dimensi spiritual. Ia mengutip hadis tentang perumpamaan kaum mukmin sebagai satu tubuh; ketika satu bagian tersakiti, bagian lain ikut merasakannya. Penggalangan dana di kampus, menurutnya, bukan sekadar aktivitas sosial tetapi bagian dari pendidikan karakter berlandaskan keimanan dan persaudaraan sebangsa.

Setelah dana diserahkan, Human Initiative akan mengawal proses distribusi di lokasi bencana. Dokumentasi penyaluran akan disampaikan melalui kanal publik, termasuk media sosial, untuk memastikan transparansi. Di internal kampus, relawan tetap dipertahankan melalui kegiatan evaluasi dan kebersamaan, dengan pesan yang berulang: meluruskan niat, bekerja lillahita’ala, dan menjaga semangat. (YMN)