Seminar Proposal Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat Tahap ke-II DIPA LP3M Universitas Mulia yang digelar daring Zoom, Senin (16/11). Foto: Tangkapan layar

UM – Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (LP3M) Universitas Mulia menggelar Seminar Proposal Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat untuk dosen dengan dana hibah DIPA LP3M periode II tahun 2020 yang digelar secara daring Zoom, Senin (16/11) siang.

Seminar yang digelar internal ini diikuti khusus dosen Universitas Mulia dan proposalnya telah dinyatakan diterima oleh LP3M. Menurut Kepala LP3M Richki Hardi, S.T., M.Eng. mengatakan bahwa pemberian hibah oleh Universitas Mulia bertujuan untuk memotivasi para dosen mempersiapkan diri mengikuti hibah pendanaan yang lebih besar lagi, seperti hibah Penelitian Dasar dan atau Penelitian Fundamental dari Ditjen Dikti.

“Harapan kami, dosen-dosen dapat meningkatkan publikasi penelitiannya baik di jurnal tingkat nasional maupun internasional,” ungkap Richki Hardi.

Menurutnya, sebuah penelitian bukan hanya sekadar dilakukan, dibuat laporannya kemudian disimpan. “Tetapi juga harus dipublikasikan dalam bentuk jurnal-jurnal atau prosiding sehingga masyarakat dapat mengetahui dan memanfaatkan hasil-hasil penelitian yang kita lakukan,” tambahnya.

Pada pelaksanaan seminar proposal tahap II ini diikuti 21 orang peserta, baik dari Kampus Utama di Balikpapan maupun PSDKU Samarinda. Rinciannya, delapan orang mempresentasikan proposal penelitian dan 13 orang mengusulkan proposal pengabdian masyarakat. Bertindak sebagai reviewer Gunawan, S.T., M.T. dan Nariza Wanti Wulan Sari, M.Si. dari Samarinda sebagai moderator.

Usai seminar proposal, peserta akan melakukan penandatanganan kontrak dan pencairan dana hibah sebesar 80% dari total pendanaan. Setelah itu, LP3M akan melakukan pengawasan atau monitoring dan evaluasi untuk memantau kemajuan penelitian masing-masing pengusul.

Seminar Proposal Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat Tahap ke-II DIPA LP3M Universitas Mulia yang digelar daring Zoom, Senin (16/11). Foto: Tangkapan layar

Seminar Proposal Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat Tahap ke-II DIPA LP3M Universitas Mulia yang digelar daring Zoom, Senin (16/11). Foto: Tangkapan layar

Menurut informasi, seminar hasil, baik penelitian maupun pengabdian pada masyarakat akan dilaksanakan bulan Desember 2020 dan penyusunan laporan penelitian. Setelah laporan diserahkan dengan lembar pengesahan telah ditandatangani, selanjutnya akan diberikan sisa pendanaan 20%.

Sementara itu, dalam seminar ini masing-masing dosen mengajukan usulan penelitian dan saling bertukar pikiran, ide, maupun gagasan. Lazimnya sebuah seminar proposal skripsi mahasiswa, masing-masing peserta juga mengajukan beberapa pertanyaan, kritikan, atau masukan. Seperti yang dilakukan Subur Anugerah, salah satu dosen dari Program Studi Informatika Fakultas Ilmu Komputer ini mengajukan judul dengan topik Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Action Research.

Ia memaparkan, penelitiannya didasari atas pengalamannya mengasuh mata kuliah pemrograman komputer pada Semester Ganjil 2019/2020 yang lalu. “Pengamatan dilakukan sebelum adanya wabah Covid-19 di beberapa kelas pemrograman yang saya asuh. Nah, setelah saya periksa hasil pekerjaan mereka, saya menemukan banyak mahasiswa melakukan plagiasi kode program, jawaban kode program mereka memiliki kemiripan dengan jawaban mahasiswa yang lain, bahkan sama persis,” ungkapnya.

Ia merasa kesulitan untuk membuktikan kepada mahasiswa yang tidak mengaku melakukan plagiasi. “Seringkali mereka komplain dan datang ke saya sambil menanyakan mengapa mendapat nilai rendah. Jika satu atau dua orang yang datang tentu tidak masalah, saya masih bisa melayani mereka dengan bukti yang ada, tapi akan menjadi masalah apabila banyak yang komplain,” tuturnya.

Masalah tersebut, menurutnya, menunjukkan proses pembelajaran kurang berhasil. “Nah, bagaimana agar pembelajaran terkait pemrograman ini bisa diikuti oleh masing-masing mahasiswa, karena setiap mahasiswa memiliki kemampuan menyerap materi kuliah dengan tingkat yang berbeda-beda. Ada yang sekali menyimak kuliah tetapi cepat menyerap dan mengerti, ada juga yang lambat sekali,” terangnya.

Dari penelitian tindakan kelas tersebut, ia memaparkan aplikasi atau sistem yang ia buat untuk membantu mengatasi pembelajaran di kelas tampaknya cukup berhasil. “Ya, masih perlu diteliti lagi dampak pemanfaatan sistem yang dibuat ini, terutama pada proses pembelajaran khusus terkait belajar pemrograman. Apalagi sekarang ini wabah Covid-19 memaksa proses pembelajaran banyak dilakukan daring dan semangat Merdeka Belajar sedang menjadi tren, ini butuh penelitian lagi soal dampaknya,” pungkasnya. (SA/PSI)

Foto bersama Thafidz Qur'an Putra Masjid Istiqamah

UM – Masih dalam rangkaian program Tri Dharma Perguruan Tinggi, Fakultas Humaniora dan Kesehatan (FHK) bersama Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) melaksanakan Pengabdian Masyarakat di lingkungan Ma’had Tahfidz Istiqamah dan PKBM Ans Noor Assalam Balikpapan, Sabtu, (21/11).

Foto bersama Thafidz Qur'an Putri Masjid Istiqamah

Foto bersama Thafidz Qur’an Putri Masjid Istiqamah

Dipusatkan di aula Masjid Istiqomah, kegiatan yang mengusung tema Aspek Hukum Terhadap Pembelajaran Daring dan Peningkatan Entrepreneur Berdasarkan Undang-Undang ITE itu, diisi oleh para dosen dengan beberapa materi.

Kana Kurnia memberikan materi dari sisi hukum

Kana Kurnia memberikan materi dari sisi hukum

Okta Nofia Sari memberikan materi dari sisi hukum

Okta Nofia Sari memberikan materi dari sisi hukum

Lisda Hani sebagai moderator pelatihan

Lisda Hani sebagai moderator pelatihan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sebagai pemateri dari sisi Hukum disampaikan oleh Kaprodi Ilmu Hukum Universitas Mulia Okta Nofia Sari S.H.,M.H dan Dosen Hukum Universitas Mulia Balikpapan Kana Kurnia, S.H., M.H. Sementara materi dari sisi Enterpreneur disampaikan oleh Plt Dekan FEB Ivan Armawan S.E., M.M. Dan terkait sisi IT disampaikan oleh Dekan FHK Vidy, S,S.M.Si. Juga hadir sebagai moderator dosen serta Sekretaris Prodi PG-PAUD Lisda Hani, S.Ag., M.Pd.

Okta Nofia Sari mengatakan, usai melakukan pengabdian masyarakat dengan menyasar UMKM, kali ini kegiatan dilanjutkan dengan menyasar peserta didik Tahfidz Al Qur’an. “Jadi ini merupakan kelanjutan dari program Tri Dharma Perguruan Tinggi. Dimana kali ini kita menggabungkan dua Fakultas, yakni FHK dan FEB,” katanya.

Okta menjelaskan, diangkatnya tema Aspek Hukum Terhadap Pembelajaran Daring dan Peningkatan Entrepreneur Berdasarkan Undang-Undang ITE, karena di situasi pandemi saat ini, banyak anak-anak sekolah menggunakan media pembelajaran melalui media informasi dan elektronik. “Namun disini kita mengemasnya ialah dengan cara bagaimana mengarahkan mereka untuk jauh lebih berhati-hati dalam menggunakan platform yang ada,” jelasnya.

Adapun materi-materi yang diberikan katanya, untuk sisi hukum, pihaknya menekankan tentang apa saja kegiatan yang boleh dilakukan di ruang cyber speed, lalu sanksi pidana dan pelanggaran yang dilakukan. “Terkait pengamanan data kami juga sempat menyampikan. Kemudian dikaitan pula dengan materi entrepreneur. Disini kita mengajarkan mereka untuk menjadi pribadi mandiri, mempersiapkan mereka untuk membuka peluang usaha melalu media sosial ataupun media informasi dan transaksi elektronik lainnya,” terangnya.

Okta menyebut kegiatan yang menyasar peserta didik ini telah menjadi agenda yang kedua, dimana sebelumnya pihaknya sudah melakukan pengabdian masyarakat di SMK Setia Budi pada Februari lalu. “Saat itu kami mengusung tema Stop Bullying Lawan dengan Prestasi,” sebutnya.

Terkait pemberian materi kepada peserta didik di lingkungan Ma’had Tahfidz Istiqamah, Okta menambahkan, para peserta yang berusia 14-16 tahun itu terlihat tampak begitu antusias. Mereka, katanya begitu antusias saat mendengarkan materi yang dipaparkan mulai dari aspek hukum hingga enterpreneurnya.

“Apalagi diselipkan pula materi terkait cyber bullying. Disitu mereka antusias mendengarkan dan bertanya terkait tindakan apa saja yang dimasukan dalam kategori cyber bullying. Bahkan ada yang bertanya terkait maraknya sosial media yang tidak suka salah satu konten hingga konten itu ingin diretas. Kemudian pertanyaan dari sisi enterpreneur juga diajukan para peserta didik terkait bagaimana pengembangan tentang pemasaran produk di masyarakat,” tuturnya.

Okta melanjutkan, nantinya program ini akan terus berlanjut, dimana pihaknya saat ini sudah merencanakan penelitian di salah satu tahfis quran lainnya. “Karena saat ini yang bisa dijangkau hanya thafis quran, jadi untuk sementara target kita ke sini, sementara sekolah akan kita lakukan setelah kegiatan di sekolah kembali normal dan dibuka,” katanya.

Dirinya pun berharap dengan adanya pemberian materi ini dapat menambah ilmu mereka. “Karena selain mereka belajar agama, mereka juga bisa tetap paham terkait penggunaan IT. Mungkin saja mereka kedepannya akan melanjutkan program itu melalui media sosial, dimana itu harus digunakan dengan bijak dan cermat,” harapnya. (mra)

Foto bersama usai pelatihan mengelola website bagi pesantren di Balikpapan, Selasa (17/11). Foto: Istimewa

UM – Tidak terasa saat ini dunia memasuki babak baru Era Industri 4 dan Masyarakat 5. Munculnya Pandemi Covid-19 memaksa umat manusia berubah dan beradaptasi dengan cepat. Imbasnya, model pembelajaran yang dulunya konvensional, kini disrupsi dan harus menyesuaikan. Bagaimana lembaga pendidikan konvensional seperti pesantren merespon perubahan ini?

“Ya, kita harus hadir untuk membantu lembaga pendidikan konvensional seperti pesantren ini agar tidak tertinggal kemajuan zaman dan teknologi,” tutur Subur Anugerah, S.T., M.Eng. dosen Program Studi Informatika Fakultas Ilmu Komputer Universitas Mulia.

Menurutnya, pesantren selalu serius dan fokus dalam pendidikan agama Islam dan pengembangan karakter. Namun, di zaman yang penuh perubahan dan ketidakpastian ini, pesantren diharapkan tetap berdiri dan mampu melaksanakan misi dan fungsinya sebagai lembaga pendidikan agama dan pengembangan karakter.

“Bagaimana model pembelajaran pesantren yang sejak dulu sangat unggul dalam memberikan pendidikan, melalui uswatun hasanah, teladan guru dan kyai secara langsung, kini harus tetap bisa mengikuti perkembangan zaman di tengah wabah Covid-19,” tuturnya.

Ia mengatakan, misi dan fungsi pesantren untuk melakukan transfer atau transmisi ilmu-ilmu pengetahuan keislaman (transmission of Islamic knowledge) harus tetap berjalan. 

“Pesantren juga harus menjaga dan memelihara tradisi Islam, mencetak calon ulama, hingga pemberdayaan umat,” tuturnya.

Salah satu yang juga tetap penting di era saat ini, menurutnya, adalah tetap melaksanakan penyebaran risalah Islam. 

“Nah, penyebaran risalah atau dakwah di zaman sekarang inilah, pesantren sebagai pusat pengetahuan keislaman diharapkan lebih menyentuh di tengah masyarakat. Saya rasa, masyarakat saat ini butuh referensi yang valid atau sahih, yang lebih diterima dan sejuk membumi,” tuturnya.

Menurutnya, sama seperti perguruan tinggi, pesantren saat ini perlu melakukan revitalisasi dalam menghadapi era disrupsi yang saat ini sudah terlihat nyata di depan mata. “Salah satu caranya adalah dengan memperkuat literasi religius dan literasi digital,” ungkapnya.

“Soal literasi religius, Insya Allah pesantren sudah tidak diragukan lagi keahlian dan kemampuannya, tinggal di bidang literasi digital inilah yang perlu diperkuat,” ujarnya.

Oleh karena itu, ketika datang surat dari Pondok Pesantren Bairuha Balikpapan yang ingin belajar bagaimana mengelola website kepada Universitas Mulia, ia menyambut hangat dan bersedia dengan senang hati diberikan tugas memberikan pelatihan. 

Pelaksanaan pelatihan itu sendiri digelar di Ruang Multimedia SMA/SMP IT TSG, Jalan Guntur Damai RT 38 Gunung Sari Ulu Balikpapan Tengah, Selasa (17/11). Pelatihan diikuti 22 orang peserta terdiri dari guru dan ustaz.

Ustadz Suwondo Ketua Pondok Pesnatren Bairuha saat memberikan sambutan pada pelatihan Mengelola Website, Selasa (17/11). Foto: Istimewa

Ustadz Suwondo Ketua Pondok Pesantren Bairuha Balikpapan saat memberikan sambutan pada pelatihan Mengelola Website, Selasa (17/11). Foto: Istimewa

Foto bersama usai pelatihan mengelola website bagi pesantren di Balikpapan, Selasa (17/11). Foto: Istimewa

Foto bersama usai pelatihan mengelola website bagi pesantren di Balikpapan, Selasa (17/11). Foto: Istimewa

Ketua Pondok Pesantren Bairuha Ustaz Suwondo mengatakan saat ini banyak pesantren yang fasilitasnya jauh lebih kecil tetapi mampu mengembangkan diri di tengah era informasi.

“Tetapi karena rajin di dunia maya, terus meng-update perkembangan sekolahnya, perkembangan pesantren, ya alhamdulillah trennya selalu naik, mendapat apresiasi dari masyarakat, bahkan perusahaan memberikan dukungan, dampaknya kemitraan dengan pesantren semakin naik,” tutur Ustaz Suwondo.

Ustaz Suwondo berharap dengan pelatihan mengelola website ini, pemberdayaan guru maupun ustaz di media sosial maupun website membawa dampak positif untuk perkembangan pesantren di masa yang akan datang.

Dalam pelatihan ini, materi yang disajikan antara lain menentukan arah atau tujuan website berdasarkan visi misi pesantren dan bagaimana membuat konten yang mendukung visi dan misi, baik berupa teks, foto, video, sulih suara, maupun gabungan antara teks dan konten lainnya.

“Dari sini kita bisa mengetahui apa saja konten yang nantinya harus tersedia di dalam sebuah website pesantren, setelah itu menentukan siapa yang akan bertugas mengisi konten tersebut, siapa juga yang akan bertugas mengelola seluruh konten,” ujar Subur Anugerah saat memberikan pelatihan.

Meski demikian, lanjutnya, waktu yang tersedia untuk pelatihan sangat terbatas, sedangkan materi pelatihan yang bersifat teknis membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Jika dilaksanakan penuh, ia khawatir pelatihan akan berlangsung beberapa hari. 

“Untuk mengejar waktu, pelatihan ini bersifat praktis, beberapa peserta yang didominasi guru dan ustaz ini sudah ada yang mahir membuat konten berita foto dan video. Bahkan salah satu peserta membuat berita video dengan cepat, berisi kegiatan pelatihan meski tanpa keterangan dan sulih suara,” ujarnya.

“Artinya, secara teknis sebenarnya peserta sudah mampu memanfaatkan tools dan perangkat videografi, juga termasuk fotografi menggunakan DSLR yang digunakan peserta. Ini modal awal yang bagus sekali,” ujarnya.

Untuk itulah, di akhir pelatihan, ia akan memberikan sertifikat sebagai penghargaan bagi peserta yang telah menyelesaikan pelatihan dengan mengerjakan tugas pekerjaan rumah membuat konten. 

“Ya, tentunya konten pendidikan, ada muatan edukasinya, bukan konten berita kegiatan seperti biasa pada umumnya. Peserta boleh memilih apakah membuat naskah berita teks, berita foto, berita video, atau gabungan keduanya, boleh dengan gaya straight news yang sudah diberikan contoh dan template-nya, boleh juga features, sesuai dengan minatnya,” tutupnya. (SA/PSI)

UM Sebagai salah satu perwujudan Tri Dharma Perguruan Tinggi, Program Studi (Prodi) S1 Ilmu Hukum Universitas Mulia melaksanakan program Pengabdian Kepada Masyarakat, Selasa (17/11).

Menyasar kelompok budi daya lele dalam ember di Kelurahan Karang Rejo, kegiatan itu didampingi langsung oleh Dekan Fakultas Humaniora dan Kesehatan (FHK) Vidy, S,S.M.Si. Ada sebanyak 10 anggota yang terjun dalam kegiatan yang bertema Perlindungan Hukum Terhadap UMKM Pasca Pemberlakuan Omnibuslaw tersebut. Terdiri dari Dekan, Kaprodi, Dosen, Mahasiswa dan staf tenaga pendidik.

Pengabdian Kepada Masyarakat di Lingkungan Kelompok Budi Daya Lele dalam Ember di Kelurahan Karangrejo

Pengabdian Kepada Masyarakat Prodi S1 Ilmu Hukum Universitas Mulia di Kelurahan Karangrejo

Kaprodi Ilmu Hukum Universitas Mulia Okta Nofia Sari S.H., M.H menuturkan, kegiatan ini merupakan program unggulan Prodi Ilmu Hukum dalam melakukan pendampingan kepada UMKM.

“Pendampingan kepada UMKM ini, selain sebagai program unggulan juga berkaitan dengan konsentrasi yang terdapat di prodi S1 Ilmu Hukum yaitu Business Law. Jadi sekaligus kita melihat prospek yang ada di Balikpapan,” kata Okta sapaan akrabnya.

Okta menjelaskan, ini merupakan program pengabdian kepada masyarakat yang pertama dijalankan S1 Ilmu Hukum untuk tahun ini. Kegiatan ini katanya, bertujuan untuk memberikan pendampingan hukum khususnya di masa pandemi saat ini. Dimana jumlah UMKM di kota Balikpapan meningkat selama pandemi Covid-19. Apalagi, tambahnya, dengan diberlakukannya UU Omnibus Law yang didalamnya juga mengatur tentang UMKM, maka pentingnya edukasi terkait perlindungan hukum untuk mereka.

“Di tengah kondisi saat ini, justru banyak sekali masyarakat melakukan usaha kecil-kecilan. Jadi kami hadir untuk memberikan edukasi terhadap mereka yang ada di Balikpapan. Salah satunya yang berada di Kelurahan Karang Rejo ini,” ujarnya.

Adapun edukasi yang diberikan, sebutnya, mulai dari perizinan usaha, pengurusan sertifikasi halal hingga edukasi terkait bagaimana UMKM ini tidak merugikan konsumen. “Jadi kami mengemasnya dalam bentuk perlindungan hukumnya, mulai mengedukasi pendaftaran merek, hingga HaKInya. Kemudian karena budi daya lele dalam ember ini selain di konsumsi juga akan menjadi produk olahan, maka kita harapkan tidak akan merugikan siapapun termasuk konsumen,” terangnya.

Pengabdian Kepada Masyarakat di Lingkungan Kelompok Budi Daya Lele dalam Ember di Kelurahan Karangrejo

Pengabdian Kepada Masyarakat di Lingkungan Kelompok Budi Daya Lele dalam Ember di Kelurahan Karangrejo

Terkait jangka waktu program tersebut, tambah Okta akan lakukan secara berkesinambungan. “Kita akan melakukan kerjasama berkesinambungan. Jadi tidak hanya hari ini saja. Namun disana kita akan melakukan kerjasama lainnya, kita juga ingin terlibat langsung dalam kegiatan mereka,” sebunya.

“Jadi ketika mereka memiliki masalah ataupun kendala dalam UMKM-nya, maka kita bisa langsung melakukan pendampingan dalam sisi hukumnya. Selain itu, akan kita kuatkan lagi dalam bidang marketingnya. Mungkin kita akan ajak bekerjasama dengan FEB. Karena disini banyak program yang bisa dikerjasamakan, bukan hanya sisi hukum melainkan marketingnya,” tambahnya.

Selain menyasar kelompok budi daya lele dalam ember di Kelurahan Karang Rejo, lanjut Okta, pihaknya juga sudah memiliki beberapa rencana program lainnya. Seperti program unggulan pendampingan terhadap masyarakat wilayah pesisir, serta program pendampingan UMKM yang melibatkan Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) Balikpapan. “Untuk program bersama IWAPI masih akan dijadwalkan selanjutnya. Namun dalam waktu dekat ini kita juga ada kegiatan pengabdian kepada masyarakat di salah satu rumah tahfidz di Balikpapan,” lanjutnya.

Dirinya pun berharap dengan adanya program ini, khususnya di lingkungan budi daya lele dalam ember, kedepan mereka dapat mengembangkan usahanya bukan hanya di tingkat lokal, tetapi juga sampai ke tingkat nasional bahkan ke Internasional.

Yang terpenting, kami ingin UMKM yang ada di Balikpapan sudah sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. Dan walaupun ada kendala, jangan sampai hal sepele dapat merugikan UMKM bahkan konsumen. Lalu untuk masyarakat, dengan adanya kegiatan ini akan memiliki dasar hukum dalam melakukan kegiatannya. Jadi kita bisa bersinergi terus. “Target kami ingin bisa menggandeng semua UMKM yang ada di Balikpapan,” pungkasnya. (mra)

Foto bersama peserta Bimbingan Teknis menggunakan Google Classroom untuk pembelajaran Daring di SDN 003 Tenggarong Seberang Kab. Kutai Kartanegara., Senin (2-3/11). Foto: Istimewa

UM – Dosen Universitas Mulia PSDKU Samarinda Muhammad Yani, S.Kom. M.T.I kembali memberikan bimbingan teknis atau pelatihan pembelajaran dalam jaringan (daring) untuk Guru-guru Sekolah Dasar Negeri 003 Tenggarong Kutai Kartanegara selama dua hari, Senin (2/11) dan Selasa (3/11) pekan lalu.

Di hadapan 23 orang guru yang didominasi Ibu-ibu ini, Muhammad Yani menjelaskan bagaimana memanfaatkan Google Classroom secara efektif untuk menunjang Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) daring Internet. Metode ini dikenal dengan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Seperti diketahui, saat ini di beberapa daerah di Indonesia tengah dilanda Pandemik Covid-19. Proses KBM tatap muka di kelas lebih banyak dialihkan secara daring.

Beberapa sekolah, baik di pelosok maupun di daerah, tampak belum memiliki kesiapan memanfaatkan teknologi informasi untuk mendukung pembelajaran jarak jauh.

Meski pada umumnya infrastruktur jaringan Internet saat ini dinilai cukup memadai, namun beberapa pengguna mencari cara bagaimana teknologi informasi ini dapat dimanfaatkan secara efektif di dalam mendukung PJJ.

Hal inilah yang mendorong Muhammad Yani dengan sukarela terus berupaya membimbing guru, pendidik, tenaga kependidikan, maupun peserta didik, utamanya yang berada di daerah, diberikan pelatihan pemanfaatan teknologi informasi.

Foto bersama peserta Bimbingan Teknis menggunakan Google Classroom untuk pembelajaran Daring di SDN 003 Tenggarong Seberang Kab. Kutai Kartanegara., Senin (2-3/11). Foto: Istimewa

Foto bersama peserta Bimbingan Teknis menggunakan Google Classroom untuk pembelajaran Daring di SDN 003 Tenggarong Seberang Kab. Kutai Kartanegara., Senin (2-3/11). Foto: Istimewa

Guru peserta Bimbingan Teknis menggunakan Google Classroom untuk pembelajaran Daring di SDN 003 Tenggarong Seberang Kab. Kutai Kartanegara., Senin (2-3/11). Foto: Istimewa

Guru peserta Bimbingan Teknis menggunakan Google Classroom untuk pembelajaran Daring di SDN 003 Tenggarong Seberang Kab. Kutai Kartanegara., Senin (2-3/11). Foto: Istimewa

Aktivitas Muhammad Yani memberikan Bimbingan Teknis menggunakan Google Classroom untuk pembelajaran Daring di SDN 003 Tenggarong Seberang Kab. Kutai Kartanegara., Senin (2-3/11). Foto: Istimewa

Aktivitas Muhammad Yani memberikan Bimbingan Teknis menggunakan Google Classroom untuk pembelajaran Daring di SDN 003 Tenggarong Seberang Kab. Kutai Kartanegara., Senin (2-3/11). Foto: Istimewa

Pelatihan ini merupakan bagian dari penerapan Tri Darma Perguruan Tinggi, yakni Pengabdian pada Masyarakat. Pada pelatihan ini, Muhammad Yani mengatakan ia memberikan pelatihan kepada guru bagaimana membuat kelas Virtual dengan Google Classroom.

“Materi yang disampaikan yaitu tentang membuat Kelas Virtual dengan Google Classroom, membuat Soal Penilaian Tengah Semester dan Akhir Semester menggunakan Google Formulir, dan Video Conference menggunakan Google Meet,” tutur Muhammad Yani.

Pasca pelatihan ini Muhammad Yani bersedia membantu apabila guru maupun peserta lainnya masih kesulitan dalam pelaksanaan KBM dengan Google Classroom.

Sementara itu, Kepala SDN 003 Tenggarong Seberang Nordiana, S.Pd. berharap bimbingan teknis ini dapat mengenalkan pada pengetahuan dan mengasah keterampilan baru bagi guru-gurunya. “Apalagi kondisi seperti saat ini, penerapan teknologi untuk kegiatan pembelajaran sangat diperlukan,” tuturnya.

Ia berharap, setelah pelatihan ini dapat langsung diterapkan oleh seluruh tenaga pendidik untuk membantu penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar secara daring.(SA/PSI)

Tampak mahasiswa/mahasiswi Universitas Mulia yang merupakan pengemudi Ojek GT, Sabtu (17/10/2020)

Mahasiswi Universitas Mulia perkenalkan Ojek GT kepada masyarakat, Sabtu (17/10/2020)

Transportasi Online Gratis untuk Masyarakat

UM – Inovasi teknologi saat ini terus dikembangan Universitas Mulia (UM) bukan hanya bertujuan untuk dapat dimanfaatkan mahasiswa melainkan juga masyarakat luas.

Terbaru, perguruan tinggi yang berada di bawah Yayasan Airlangga ini melahirkan trobosan di bidang transportasi. Dengan nama Ojek GT, startup ini sudah dapat dimanfaatkan masyarakat secara gratis dan dapat diunduh di Playstore.

Pencetus Ojek GT Riovan Styx Roring menjelaskan, Ojek GT telah didukung oleh Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN). Selain sebagai bentuk pengabdian masyarakat, kehadiran Ojek GT juga sebagai salah satu skema yang ditawarkan untuk perkembangan teknologi.

“Kita mendorong teknologi society 5.0 dimana masyarakat menggunakan teknologi secara gratis, digunakan untuk semua lapisan masyarakat dan dikembangkan untuk masyarakat itu sendiri,” jelas Riovan yang juga menjabat sebagai Kabag Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas Ilmu Komputer (Fikom) UM.

Selain memiliki arti Ojek Gratis, kata Riovan, kata GT sesungguhnya berasal dari singkatan Global Technopreneur yang merupakan tagline dari Universitas Mulia, dimana GT juga memiliki arti gotong royong untuk membantu masyarakat.

Dia menyebut, walau menghadirkan konsep yang berbeda dari transportasi online lainnya, yakni dengan skema pembayaran gratis untuk masyarakat, namun para mitra driver akan tetap mendapatkan profit yang sesuai dengan peraturan Kementerian Perhubungan. Dimana pendapatan mereka akan diperoleh dari mitra lain atau pihak ke tiga.

“Tetap ada tarif batas bawah, batas atas dan lainnya. Jadi kami menawarkan skema bisnis ini ke instansi pemerintah, perusahaan maupun organisasi untuk menyubsidi tarif tersebut. Bentuknya  bisa promosi usaha atau bisa juga untuk promosi kreatif,” katanya.

Ia menuturkan, persiapan trobosan ini sudah dilakukan sejak tahun 2019. “Sesungguhnya awal tahun ini sudah kita perkenalkan, namun karena adanya pandemi maka tertunda,” tuturnya.

Tampak mahasiswa/mahasiswi Universitas Mulia yang merupakan pengemudi Ojek GT, Sabtu (17/10/2020)

Anak-anak turut menjadi penumpang Ojek GT

Tampak mahasiswa/mahasiswi Universitas Mulia yang merupakan pengemudi Ojek GT, Sabtu (17/10/2020)

Dokumentasi penumpang dan pengendara Ojek GT

Dan sebagai kick off, tambah Riovan, pihaknya saat ini telah menyiapkan 70 armada. Dimana semuanya saat ini masih dijalankan oleh mahasiswa. Dan kedepan tidak menutup kemungkinan akan dibuka untuk masyarakat. “Pertimbangan kita membuka untuk mahasiswa karena modal kita terbatas. Dan seragam kita juga masih menggunakan almamater. Jadi untuk diawal ini kami telah menerima pendanaan dari Kemenristek/BRIN, dan sudah kita siapkan order sekitar 300-500 trip,” ujarnya.

Karena masih dalam tahap perkenalan, lanjut Riovan, maka saat ini aplikasi Ojek GT masih standar yakni baru sebatas ojek motor. “Kedepannya bila sudah berkembang kita segera akan buka untuk pemesanan makanan, barang ataupun roda empat secara gratis. Target kita tahun depan pun bisa go nasional dan bekerjasama dengan universitas yang tersebar di Indonesia,” harapnya.

Sementara itu, Rektor Universitas Mulia, Agung Sakti Pribadi mengatakan, nantinya setelah melewati proses uji coba di lapangan, akan dilakukan evaluasi kembali sebelum secara resmi di launching ke publik. “Jadi saat ini masih dalam tahap perkenalan, kita targetkan secepatnya akan segera di launching,” kata Agung.

Dirinya mengapresiasi seluruh hasil karya dosen Universitas Mulia. “Kita ingin tunjukkan bahwa dosen kita, orang lokal mampu menciptakan aplikasi sekelas transportasi online yang sudah ada. Ini menunjukan bahwa SDM kami sudah memiliki kemampuan yang lebih,” ujarnya.

Agung menyebut, selain Ojek GT saat ini pihaknya juga sedang mempersiapkan startup lainnya yang ditargetkan akan diluncurkan akhir tahun ini. “Ada tiga yang akan kita targetkan launching akhir tahun ini, mulai dari Hosting Rakyat, Smart RT, dan Coding School,” pungkasnya. (mra)

Guru-guru SMP Negeri 3 Tenggarong Seberang Kab. Kutai Kartanegara peserta Bimbingan Teknis Penerapan Pembelajaran Dalam Jaringan (daring) menggunakan Google Classroom., Senin (14/9). Foto: Istimewa

UM – Setiap dosen Universitas Mulia minimal dalam satu tahun akademik memiliki kewajiban melaksanakan tri darma perguruan tinggi. Salah satunya adalah pengabdian pada masyarakat, seperti yang dilakukan Muhammad Yani SKom MTI, dosen Universitas Mulia PSDKU Samarinda, yang membimbing guru-guru SMP 3 Tenggarong Seberang Kutai Kartanegara dalam menerapkan pembelajaran daring, Senin (14/9).

Bimbingan teknis yang berlangsung selama dua hari, 14-15 September 2020, ini ditujukan untuk membantu para guru dalam memanfaatkan teknologi informasi untuk mempermudah penyampaian materi belajar kepada siswa. Di tengah pandemi Covid-19 saat ini, pembelajaran daring menjadi salah satu pilihan yang tepat untuk sekolah agar dapat menyelenggarakan pendidikan dengan baik.

Pada kesempatan ini, Kepala Sekolah Joko Triyanto, S.Pd, M.Pd. membuka secara resmi pelatihan yang diikuti 20 orang guru, bertempat di laboratorium komputer sekolah.

Guru-guru SMP Negeri 3 Tenggarong Seberang Kab. Kutai Kartanegara peserta Bimbingan Teknis Penerapan Pembelajaran Dalam Jaringan (daring) menggunakan Google Classroom., Senin (14/9). Foto: Istimewa

Guru-guru SMP Negeri 3 Tenggarong Seberang Kab. Kutai Kartanegara peserta Bimbingan Teknis Penerapan Pembelajaran Dalam Jaringan (daring) menggunakan Google Classroom., Senin (14/9). Foto: Istimewa

Guru-guru SMP Negeri 3 Tenggarong Seberang Kab. Kutai Kartanegara peserta Bimbingan Teknis Penerapan Pembelajaran Dalam Jaringan (daring) menggunakan Google Classroom., Senin (14/9). Foto: Istimewa

Guru-guru SMP Negeri 3 Tenggarong Seberang Kab. Kutai Kartanegara peserta Bimbingan Teknis Penerapan Pembelajaran Dalam Jaringan (daring) menggunakan Google Classroom., Senin (14/9). Foto: Istimewa

Muhammad Yani mengatakan, pelatihan difokuskan pada bimbingan teknis penerapan pembelajaran daring menggunakan Google Classroom. “Materi yang dibahas antara lain tentang pengenalan Google Classroom, merancang kelas online, mengelola tugas, membuat dan pengelolaan soal ujian, dan pengembangan kelas online,” tutur master lulusan Universitas Bina Nusantara ini.

Dosen yang memiliki Channel YouTube dan aktif mengelolanya ini kerap membagikan video pengalamannya menggunakan Google Classroom untuk pembelajaran daring. Tidak heran, ia mendapat kepercayaan untuk berbagi pengalaman bersama guru-guru sekolah.

Dalam pelatihan ini, ia melihat para guru antusias mengikuti kegiatan meski sebagian besar baru mengenal platform Google Classroom. “Mereka optimis dapat menerapkan Google Classroom untuk pembelajaran daring di SMP Negeri 3 Tenggarong Seberang. Semoga ini membantu dan bermanfaat,” tutup Muhammad Yani. (SA/PSI)