Himpunan Mahasiswa UM Open Donasi

UM– Kepedulian terhadap para korban bencana gempa bumi di Mamuju-Majene, Sulawesi Barat (Sulbar) dan bencana banjir di Kalimantan Selatan (Kalsel) terus ditunjukkan berbagai lapisan masyarakat, tak terkecuali mahasiswa Universitas Mulia Balikpapan.

Dengan melibatkan seluruh Himpunan mahasiswa Universitas Mulia yang diberi nama KOMALISA (Komunitas Mahasiswa Peduli Sesama) mereka membuka donasi untuk membantu para korban terdampak bencana alam di dua provinsi tersebut.

Ketua Himpunan Mahasiswa Informatika (Himatika) Muhammad As’ad Durrofiqi mengatakan sebagai upaya meringankan beban masyarakat yang tertimpa bencana alam baik banjir besar di Kalimantan Selatan dan Gempa Bumi di Sulawesi Barat, maka mahasiswa Universitas Mulia ikut tergerak untuk membantu.

“Jadi saat bencana ini muncul, kami seluruh himpunan mahasiswa melakukan pembahasan terkait bencana ini, dan ide untuk membuka donasi saya ajukan agar selain mahasiswa mungkin ada masyarakat umum yang ingin berpartisipasi bersama kami,” kata Muhammad As’ad.

Open donasi ini, katanya, mulai dibuka pada 15 Januari lalu dan rencananya akan ditutup pada 31 Januari mendatang. Setelah donasi terkumpul, rencanaya sebut As’ad, pihaknya akan menyerahkan hasil donasi tersebut ke Pemerintah Kota Balikpapan untuk diteruskan kepada PMI Balikpapan yang bertanggung jawab sebagai Posko Bantuan Utama Kota Balikpapan.

“saat ini kami menerima donasi melalui transfer bank, ovo maupun LinkAja. Selain uang tunai, kami juga membuka untuk bantuan sembako dan ada beberapa pakaian,” ujarnya.

Muhammad As’ad menjelaskan, selain membuka donasi melalui transfer, mereka juga melakukan open donasi dengan langsung turun ke jalan. Di awali pada tanggal 16 Januari lalu sebagai upaya untuk langsung mengajak masyarakat untuk ikut bersama membantu.

“Kebetulan dari program ini, kami banyak menerima donasi pakaian, dan karena info dari PMI Balikpapan bahwa tidak menerima baju, dikarenakan menghindari penyebaran virus dan lainnya, maka pakaian yang telah diterima kami jual agar dananya bisa dialokasikan untuk donasi. Dan saat ini dari seluruh pemasukan baju yang sudah diterima hampir setengahnya telah terjual,”

“Hingga saat ini, jumlah donasi yang sudah terkumpul yakni Rp 8,5 juta, dan ada beberapa sembako,” tambahnya.

As’ad menambahkan, KOMALISA akan tetap turun ke jalan hingga menjelang penutupan donasi yakni pada 31 Januari nanti. “Rencananya saat kita turun ke jalan nanti, akan kita lakukan secara berbeda yakni dengan menghadirkan live musik untuk lebih menarik minat masyarakat,” terangnya.

Ia pun berharap, nantinya seberapapun donasi yang terkumpul semoga tetap dapat membantu meringankan beban para korban. “Walau tidak seberapa semoga donasi ini dapat tepat sasaran  karena mereka tentu sangat membutuhkannya,” sebutnya.

“Dan melalui kegiatan ini pula, kami seluruh himpunan mahasiswa Universitas Mulia juga telah sepakat untuk tetap menggunakan Komalisa sebagai wadah yang akan menaungi mahasiswa yang peduli bencana,” tutupnya. (mra)

UM – Pengurus Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Universitas Mulia periode 2020-2021 resmi dilantik, Jumat (27/11).

Foto bersama Ketua UKM Tahun 2020/2021

Foto bersama Ketua UKM Tahun 2020/2021

Dipusatkan di Aula Kampus Cheng Ho, prosesi pelantikan dilakukan oleh Kabiro STDC, Kerjasama dan Media Kreatif, Yustian Servanda, S.Kom., M.Kom yang disaksikan langsung oleh Wakil Rektor Bidang Akademik Yusuf Wibisono, S.E., M.TI serta Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Mundzir.S.Kom., MT.

Mundzir, S.Kom., M.T. memberikan sambutannya

Mundzir, S.Kom., M.T. memberikan sambutannya

Mundzir menjelaskan, ada total 17 UKM yang dilantik, dimana jumlah ini bertambah dari tahun lalu yakni ada 16 UKM. “Ini adalah pergantian dari pengurus lama ke pengurus baru. Dimana tahun lalu itu ada 16 UKM, sedangkan tahun ini bertambah satu menjadi 17 UKM,” kata Mundzir.

Ia menuturkan, tujuan hadirnya UKM ini adalah sebagai wadah untuk mengembangkan kreativitas serta kompetensi mahasiswa. “Harapannya melalui UKM ini mahasiswa bisa mengembangkan minat maupun bakat yang mereka miliki,” jelasnya.

Mundzir menjelaskan, 17 UKM yang dilantik terbagi dalam empat bidang, yakni UKM Penalaran atau UKM Kompetensi, kemudian UKM Seni, UKM Olahraga serta UKM Keagamaan.

“Untuk UKM Penalaran biasanya mereka membuat workshop atau pelatihan untuk para anggotanya. Tetapi karena pandemi ini, membuat semuanya kegiatan terhenti sementara. Terkecuali UKM olahraga yang masih aktif, karena kita dituntut untuk tetap menjaga kesehatan. Tetapi saat ini semua UKM mulai bergerak lagi perlahan untuk membuat kegiatan,” jelasnya.

Saat ini, tambahnya, semua pengurus sedang manyusun program kerja, dan ada beberapa yang akan menggelar kegiatan, misalnya UKM Robotika yang berencana akan menggelar lomba antara mahasiswa sama seperti tahun lalu. “Tahun lalu kami sempat menggelar lomba robot soker, dan tahun ini akan kita buat lagi khusus untuk mahasiswa Universitas Mulia. Biasanya digelar mendekati akhir semester, mungkin bisa di bulan Februari,” sebutnya.

Kemudian UKM Sinematografi, lanjutnya, sedang menyusun konsep untuk membuat film pendek. Sementara UKM Keagamaan akan mulai melakukan kegiatan keagamaan mingguan mereka dengan tetap menjaga protokol kesehatan.

Dirinya pun sangat mendukung semua program yang sedang disiapkan oleh mahasiswa. “Kami dari pihak kampus akan terus mendukung kreativitas minat dan bakat mahasiswa. Tahun ini ada penambahan satu UKM, ini menandakan minat dan kreativitas mahasiswa semakin meningkat. Kami harapkan akan terus bertambah seiring dengan perkembangan saat ini,” ujarnya.

Yustian Servanda, S.Kom., M.Kom. saat membacakan SK Rektor Pelantikan Ketua UKM

Yustian Servanda, S.Kom., M.Kom. saat membacakan SK Rektor Pelantikan Ketua UKM

Lebih lanjut Yustian Servanda menyebut, dukungan pihak kampus diberikan dalam bentuk sarana dan prasarana serta infrastruktur. “Fasilitas kami sediakan cukup lengkap, untuk olahraga ada lapangan voli, badminton, basket, kemudian ada laboratorium komputer hingga studio untuk UM TV,” pungkas Yustian. (mra)

UM– Sebagai upaya menggali potensi kreativitas mahasiswa dalam berinovasi, Program Studi S1 Manajemen Universitas Mulia menggelar Pelatihan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), Jumat (27/11) malam.

Menghadirkan pemateri dosen Universitas Airlangga Surabaya yakni Wahyuni Triana, kegiatan itu mengusung tema “Berkarya, Inovasi, Kreativitas, Lajutkan Prestasi” dan dipusatkan di Hall Kampus Cheng Ho.

Dengan tetap menerapkan protokol kesehatan, acara itu diikuti sebanyak 100 mahasiswa S1 Manajemen. Tampak hadir pula Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Mundzir serta Kaprodi S1 Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Linda Fauziyah Ariyani.

Linda Fauziyah menjelaskan, pelatihan PKM merupakan kegiatan yang rutin dilakukan, dan biasanya diikuti seluruh mahasiswa langsung di hall Cheng Ho. “Tapi karena situasi saat ini maka mahasiswa lainnya hanya mengikuti lewat zoom dan sosial media Instagram dan Youtube,” jelasnya.

Tujuan kegiatan ini katanya, untuk membekali mahasiswa agar mereka mengenal tentang program PKM. Dimana yang mengikuti langsung merupakan mahasiswa semester satu. “Jadi PKM ini merupakan hal yang baru bagi mereka, karena PKM hanya bisa ditemui di tingkat perguruan tinggi,” katanya.

Linda menuturkan, setiap tahun Universitas Mulia selalu meloloskan tim ke tingkat nasional. Dimana tahun 2019 ada tiga tim yang lolos dan tahun ini ada satu tim yang lolos. “Maka harapannya tahun depan akan lebih banyak lagi yang lolos,” harapnya.

“Padahal tahun ini kita masukan 72 proposal dari 80 kuota yang disiapkan untuk UM. Saingan kita sangat ketat sekali, dimana kampus lain mengumpulkan ratusan judul. Semoga tahun depan dengan kita memberikan pemahaman ini akan banyak muncul ide-ide kreatif dari mahasiswa yang bisa ikutan dalam PKM tahun depan,” tuturnya.

Dirinya menyebut, di Balikpapan mungkin kampus swasta yang setiap tahun lolos di tingkat nasional hanya Universitas Mulia.

Memang katanya, sebuah lomba bila menang merupakan sebuah bonus, namun tujuan utamanya adalah melatih kemampuan analisis mahasiswa membuat mahasiswa lebih kreatif lagi dan itu yang penting. “Jadi tidak sekedar kita lolos di tingkat nasional, tetapi bagaimana kemampuan nalar mereka bisa lebih baik lagi. Jadi PKM ini merupaka kegiatan penalaran, dan ini paling begengsi bagi mahasiwa, karena tidak sekedar ide saja, tetapi bagaimana mereka bisa mewujudkan ide itu dan menuliskannya dalam sebuah karya ilmiah,” katanya.

Ia menambahkan, tahun ini satu tim yang lolos PKM akan mengikuti Pekan Ilmiah Nasional Mahasiswa (PIMNas). Dan kebetulan yang lolos adalah dari fakultas Ilmu Komputer.

Terkait dengan pemateri yakni Ibu Wahyuni, beliau ahlinya dalam program PKM. Apalagi di kampu Universitas Airlangga Surabaya sudah belasan yang lolos di nasional. “Harapannya ini bisa menginspirasi mahasiswa agar mereka lebih tertarik dan berperan serta dalam program PKM,” harap Linda.

Sementara itu, dalam sambutannya Mundzir mengatakan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) memang getol mengikuti PKM. Dimana tahun lalu justru FEB pula yang memulai pembahasan dan menginisiasi kegiatan PKM di lingkungan Universitas Mulia.

“Bahkan tahun lalu juga berkat FEB yang menyampaikan bahwa PKM telah dibukan oleh Kemenristekdikti, langsung kita semua di seluruh program studi yang ada di UM secara bahu membahu membuat proposal PKM. Tidak tanggung tanggung, dari 80 kuota yang diberikan untuk UM, yang berhasil kita submit atau kirim ada 72 proposal. Walau dari total ini hanya satu yang lolos tahun ini,” katanya.

Sebelumnya, tambahnya, UM juga meloloskan tiga tim secara nasional dalam program Kompetisi Bisnis Mahasiswa Indonesia (KBMI). Dan satu produk yang dilirik pemerintah Balikpapan dalam hal ini Disporabudpar adalah yang dibuat oleh fakultas ekonomi, yakni donat budi ungu. Dan saat ini mereka sedang menyusun konsepnya apakah produk ini bisa dikembangkan dan menjadi produk khas mahasiswa UM

Dirinya berharap, dari pelatihan ini akan muncul kratifitas dalam bentuk inovasi produk yang bisa dikembangkan dan menjadi produk unggulan mahasiswa UM. “Karena disini juga kita sudah memiliki Inkubator Bisnis, sebuah wadah untuk mengembangkan produk yang diciptakan mahasiswa. Inkubator bisnis ini dapat membantu mematangkan sebuah produk inovasi agar bisa diperkenalkan ke masyarakat. Baik dari memasarkan, memberikan bantuan tentang pendanaan dan lainnya,” ujarnya.

“Intinya besar harapan kami melalui program PKM ini, akan muncul produk yang menjadi unggulan, yang bisa membuat kalian menjadi entrepreneur sesuai dengan tag line UM, yakni Global Technopreneurship Campus,” harapnya.

Dilain pihak, Wahyuni Triana mengatakan, memang masih panjang proses yang harus diikuti mahasiswa baru ini, namun dengan pelatihan ini mereka dapat memiliki gambaran bahwa menjadi mahasiswa itu sangat menyenangkan. Apalagi bagi mereka yang sebelumnya saat di SMA/SMK memiliki banyak ide dan disinilah mereka memiliki jalan untuk mengembangkannya. Mungkin yang sebelumnya tidak tahu cara mengembangkan ide tersebut, namun dengan PKM ini mereka bisa mewujudkan ide-ide kreatif mereka. “Sangat mudah, karena ada wadahnya, dan bisa dibimbing oleh dosen. Salain itu juga bisa dibiayai,” katanya.

Jadi langkah pertama yang harus dilakukan mereka, katanya, adalah belajar untuk menulis. “Dan saya yakin setelah mereka bisa menulis, rasa percaya diri mereka akan meningkat. Setelah itu mereka akan mulai tahu tahapannya, dan itu akan membentuk kebiasaan mereka yang sistematis dan logis,” ujarnya.

Jadi ide-ide mereka memang harus dikeluarkan, bagaimana caranya tentu semua itu akan dibimbing dan bahkan bisa di biayai. “Apalagi kita tau Universitas Mulia ini juga sudah tembus ke nasional. Dan tentu ini luar biasa, karena mereka tidak kalah dengan universitas negeri, seperti di Surabaya. Dan jangan mau kalah, karena banyak yang bisa di eksplor dari Kalimantan. Dan mahasiswa harus berani menujukkan itu, karena ini kesempatan bagi mahasiswa untuk eksplor dan menjadikan sebuah produk kreativitas yang baik. (mra)

UM– Menjelang pergantian kepengurusan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Universitas Mulia, Student Technopreneur Development Center (STDC) menggelar Rapat Koordinasi bersama Pengurus UKM Universitas Mulia, Rabu (11/11).

Yustian Servanda, S.Kom., M.Kom. memimpin Rapat Koordinasi UKM

Yustian Servanda, S.Kom., M.Kom. memimpin Rapat Koordinasi UKM

Dipimpin Kabiro STDC, Kerjasama dan Media Kreatif, Yustian Servanda, S.Kom., M.Kom rapat itu membahas persiapan Pelantikan Pengurus UKM periode 2020-2021 yang rencananya akan dilakukan pada 20 November mendatang.

Yustian menjelaskan, selain membahas persiapan pelantikan, juga dilakukan evaluasi terkait program mahasiswa, khususnya di tengah pandemi covid-19 saat ini. “Memang karena tahun ini Indonesia khususnya Balikpapan dilanda pandemi virus corona, maka tentu kegiatan mahasiswa ikut terhambat. Karena berdampak pada dihentikannya semua kegiatan, dan itu yang disampaikan oleh para pengurus,” jelas Yustian.

Namun, kata dia, saat ini kegiatan mahasiswa bisa dijalankan kembali, walau dengan tetap memperhatikan dan menerapkan protokol kesehatan. “Kita sudah sampaikan ke mahasiswa bahwa kegiatan boleh berjalan namun tetap protokol kesehatan harus diterapkan,” katanya.

Dan apabila harus mendatangkan massa yang banyak, katanya, maka pelaksanaanya harus diatur. “Yang jelas kita ingin agar kegiatan mahasiswa mulai bergerak namun tetap perlahan. Mungkin bisa dari skala kecil dengan jumlah peserta yang sedikit,” ujarnya.

Dirinya menuturkan, sejauh ini hampir seluruh UKM terdampak, misalnya saja UKM Kerohanian Islam Al-Izzah yang rutin menggelar pengajian setiap Sabtu di kampus namun karena covid terpakasa harus dihentikan. “Tapi dalam waktu dekat ini mereka berencana akan kembali menggelar pengajian. Dan sama hal-nya dengan UKM Persekutuan Mahasiswa Kristen-Katolik yang juga rutin menggelar ibadah pada Sabtu di kampus,” terangnya.

Walau begitu, sebutnya, ada pula UKM yang masih rutin berjalan di saat pandemi, seperti UKM Olahraga, baik UKM Badminton, tenis meja dan lainnnya. “Karena dimasa pandemi ini kita tetap harus rutin berolahraga agar daya tahan tubuh tidak mudah menurun disaat virus corona masih ada hingga saat ini,” katanya.

Terkait persiapan pelantikan, lanjut Yustian, saat ini para pengurus sedang melakukan pembahasan diinternal mereka masing-masing. “Mereka mulai mengumpulkan beberapa anggota UKM untuk melakukan musyawarah di internal, terkait pembahas kepengurusan dan program kedepan. Jadi pada tanggal 20 November nanti, kita tinggal melantik pengurus yang baru,” sebutnya.

Yustian mengungkapkan, untuk saat ini ada total 18 UKM di Universitas Mulia. “Yang mana 18 ini akan kita lakukan evaluasi kembali, setelah mereka menyampaikan laporannya, baik kegiatan maupun usulan di priode akan datang. Kita lihat seperti apa laporan mereka dan kendalanya seperti apa, serta solusinya dari mereka seperti apa. Hingga nanti baru akan kita putuskan apakah UKM yang telah berjalan ini dapat bisa dipertahankan. Namun harapan kita semuanya masih tetap berjalan dan dapat mengembangkan progam disetiap bidangnya,” pungkasnya. (mra)

18 Unit Kegiatan Mahasiswa Universitas Mulia

  • UKM Graphics Design and Animation
  • UKM Al-Izzah
  • UKM Basket
  • UKM Pramuka
  • UKM Robotika
  • UKM Mulia Smart Coding
  • UKM Tari
  • UKM Tenis Meja
  • UKM Volly Ball
  • UKM English Club
  • UKM Jurnalistik
  • UKM Paduan Suara
  • UKM Futsal
  • UKM Musik
  • UKM Badminton
  • UKM Cyber Securit
  • UKM Cinematography
  • UKM Persekutuan Mahasiswa Kristen-Katolik (PMK)
Tim PSDKU "Sibasah Borneo" Raih Juara Tiga Kompetisi ITK-IBD

UM– Torehan prestasi kembali diukir Mahasiswa PSDKU kampus Samarinda. Kali ini tim dari Prodi S1 Sistem Informasi berhasil meraih juara 3 dalam kompetisi Inovasi Bisnis UMKM Berbasis Digital (IBD) yang digelar Institut Teknologi Kalimantan (ITK) dalam rangka Dies Natalis ke-6. Hasil kompetisi ini diumumkan pada penutupan rangkaian dies natalis yang dilaksanakan pada 10 Oktober 2020.

Ketua Tim Dody Novandi mengatakan, timnya yang terdiri dari tiga orang, yakni Brigihta Valencia Angela, Tommy Andi Riawan serta dirinya berhasil menjadi juara setelah menciptakan inovasi berupa SIBasah (Sistem Informasi Bank Sampah) Borneo.

“Sesuai dengan tujuannya agar mahasiswa dapat berinovasi menggerakan UMKM di tengah masa pandemi Covid-19, maka kami mencoba untuk mengangkat trobosan melalui bank sampah,” kata Dody.

Dody menjelaskan, diangkatnya konsep bank sampah karena program bank sampah secara nasional sudah ada, dimana selain penanganan terhadap sampah, masyarakat juga mendapatkan manfaat ekonomi langsung dari sampah yang dikumpulkan.

“Sementara di Samarinda, berdasarkan literasi yang kami baca, juga ada program bank sampah  yang dijalankan masyarakat. Kegiatannya sama seperti bank konvensional biasanya. Ada nasabah, ada teller dan customer. Mereka juga memiliki buku tabungan, namun yang membedakan mereka nabung dari sampah plastik, yang ditimbang kemudian dikonversi menjadi uang dan dicatat dalam buku tabungan,” katanya.

Kemudian berdasarkan hasil wawancaranya bersama pengelola bank sampah tersebut, ternyata kegiatan ekonomi mereka masih konvensional yang artinya pencatatan nasabah masih berbasis microsoft, kemudian mereka memperkenalkan brand-nya masih menggunakan sosial media.

“Karena seperti yang kami baca pula, bahwa mengapa UMKM tidak dapat berkembang, ini dikarena kegiatan ekonomi UMKM rata-rata tidak ditunjang teknologi atau berbasis digital. Dan  karena saat ini sudah memasuki era industri 4.0, maka hampir semua kegiatan memanfaatkan teknologi informasi,” katanya.

Dengan dasar inilah, dirinya bersama timnya hadir memberikan solusi melalui inovasi agar kegiatan ekonomi pada pengelolaan bank sampah sudah dapat berbasis digital. “Sebab kita tahu, dari program bank sampah ini pula sebagai sarana peningkatan ekonomi kreatif melalui pengolahan sampahnya yang bisa menjadi beraneka ragam keterampilan yang bernilai jual,” ujarnya.

Aplikasi berbasis website ini sebut Dody mendukung gerakan 3R (Reuse, Reduce, dan Recycle) dengan diadakannya bank sampah serta transaksi keuangan dari hasil kereativitas masyarakat. SIBasah mendukung pelaku UMKM untuk memanfaatkan perjualan produk kerativitas berbasis digital.

“Saat ini memang masih berupa prototype, namun kedepan kami ingin agar inovasi ini akan dirancang menjadi aplikasi. Untuk itu kami berencana akan mengusulkan inovasi ini masuk dalam program tahunan Dikti yakni Program Kreativitas Mahasiswa, bila disetujui program ini bisa mendapatkan pendanaan dan aplikasinya akan kami lanjutkan,” pungkas Dody. (mra)

Situasi sebelumnya dan arahan Kampus Merdeka yang dipaparkan Wakil Rektor I Yusuf Wibisono SE MTI pada PKKMB daring, Kamis (3/9). Foto: YouTube

UM – Saat ini terjadi banyak perubahan yang revolusioner. Semesta belajar tak berbatas, tidak hanya di ruang kelas, perpustakaan dan laboratorium, tetapi juga di desa, industri, tempat-tempat kerja, tempat-tempat pengabdian, pusat riset, maupun di masyarakat. Inilah paparan Wakil Rektor Bidang Akademik Yusuf Wibisono SE MTI tentang konsep Kampus Merdeka Merdeka Belajar di Universitas Mulia pada PKKMB 2020, Kamis (3/9).

“Semua perguruan tinggi sedang berusaha mengadopsi Kampus Merdeka, ini sebetulnya tidak mudah, tapi akan memberikan banyak kebebasan, banyak keleluasan, dan banyak hal-hal yang sebelumnya tidak terpikirkan,” tutur Pak Wibi, sapaan akrab pria kelahiran Trenggalek Jawa Timur ini.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim meluncurkan kebijakan Kampus Merdeka Merdeka Belajar. Di dalam Kampus Merdeka terdapat empat kebijakan dalam rangka menyiapkan mahasiswa menjadi sarjana yang tangguh, relevan dengan kebutuhan zaman, dan siap menjadi pemimpin dengan semangat kebangsaan yang tinggi.

Empat kebijakan tersebut adalah, pertama, terkait pembukaan program studi baru. Kedua, terkait sistem akreditasi perguruan tinggi. Ketiga, perguruan tinggi berbadan hukum. Dan keempat, hak belajar tiga semester di luar program studi. Mahasiswa didorong melakukan pembelajaran di manapun.

“Mungkin nomor satu, dua, dan tiga tidak menarik mahasiswa baru untuk dijelaskan di sini, tapi bagi yang berminat bisa langsung ke saya atau langsung saja Googling, bisa cari informasi tentang Kampus Merdeka,” tutur Pak Wibi.

Namun, ia memperhatikan kebijakan yang keempat perlu untuk diperhatikan dengan seksama. “Fokus kita, terkait apa yang akan kita lakukan nanti ada pada nomor empat, yaitu hak belajar tiga semester di luar program studi,” tuturnya.

Situasi sebelumnya dan arahan penerapan Kampus Merdeka yang dipaparkan Wakil Rektor I Yusuf Wibisono SE MTI pada PKKMB daring, Kamis (3/9). Foto: YouTube

Situasi sebelumnya dan arahan penerapan Kampus Merdeka yang dipaparkan Wakil Rektor I Yusuf Wibisono SE MTI pada PKKMB daring, Kamis (3/9). Foto: YouTube

Delapan kegiatan belajar di luar kampus yang dipaparkan Wakil Rektor I Yusuf Wibisono SE MTI pada PKKMB daring, Kamis (3/9). Foto: YouTube

Delapan kegiatan belajar di luar kampus yang dipaparkan Wakil Rektor I Yusuf Wibisono SE MTI pada PKKMB daring, Kamis (3/9). Foto: YouTube

Dasar hukum untuk melaksanakan hak belajar tiga semester di luar program studi adalah Permendikbud No 3 Tahun 2020. Dengan penerapan hak belajar diharapkan akan terbuka kesempatan luas bagi mahasiswa, untuk memperkaya dan meningkatkan wawasan, serta kompetensi-nya di dunia nyata sesuai dengan passion dan cita-cita mahasiswa.

“Jadi, adik-adik mahasiswa baru yang benar-benar baru kuliah tahun ini menurut saya tidak terlalu bermasalah dengan program tiga semester di luar program studi, karena masih hal baru,” ungkap Pak Wibi.

Menurutnya, program keempat Kampus Merdeka ini akan ditanggapi berbeda jika untuk mahasiswa yang sudah pernah belajar di diploma kemudian mengambil S1 lagi. “Maka, nomor empat ini akan terasa sekali banyak perubahan,” ungkapnya.

Pada situasi sebelumnya, satu SKS itu sama atau setara dengan 50-60 menit tatap muka di kelas. Tetapi jika belajarnya di laboratorium, satu SKS itu setara 2-3 jam belajar di kelas. Sedangkan di lapangan, satu SKS itu bisa setara dengan 5-6 jam belajar. “Itu sangat terasa sekali tidak adil. Inilah salah satu alasan munculnya konsep Kampus Merdeka Merdeka Belajar,” kata Pak Wibi.

Pada situasi lain, hal ini juga terjadi pada mahasiswa yang sedang mengikuti program pertukaran mahasiswa. “Mahasiswa yang mengikuti program ini umumnya lambat lulus. Karena apa yang dipelajari di tempat yang dituju itu umumnya berbeda kurikulum, dan dia harus menempuh kurikulum di perguruan tinggi asalnya,” ungkapnya.

Meski disebutkan mahasiswa yang mengikuti program pertukaran belajar akan mendapatkan nilai tambah, yakni pengalaman pendidikan, pengalaman pengajaran, wawasan, dan juga pengalaman bahasa.

Oleh karena itu, saat ini Kemdikbud mengarahkan perguruan tinggi untuk memberikan hak secara sukarela kepada mahasiswa. Sukarela dalam arti dapat diambil atau tidak oleh mahasiswa yang bersangkutan, yaitu mengambil SKS di luar perguruan tinggi sebanyak dua semester atau setara dengan 40 SKS.

Hak sukarela lainnya, mahasiswa dapat mengambil SKS di program studi yang berbeda di perguruan tinggi yang sama sebanyak satu semester atau setara dengan 20 SKS. “Bagi kami, perguruan tinggi wajib memberikan hak, tapi hak itu boleh adik-adik ambil atau tidak,” tutur Pak Wibi.

“Jadi nanti dengan konsep Kampus Merdeka yang sedang kita adopsi saat ini sedang kita, saya, Wakil Rektor Bidang Akademik dan para Dekan sedang menggodok bagaimana ini penerapan yang terbaik untuk institusi kita,” tuturnya.

Ini lantaran, menurutnya, atmosfer perguruan tinggi di Pulau Jawa dengan di Kalimantan berbeda. “Kalau di Jawa banyak sekali perguruan tinggi sehingga mudah saling bekerja sama,” ungkapnya.

Saat ini, kreativitas dan inovasi menjadi kata kunci penting untuk memastikan pembangunan Indonesia yang berkelanjutan. Para mahasiswa yang saat ini belajar di perguruan tinggi harus disiapkan menjadi pembelajar sejati yang terampil, lentur, dan ulet (agile learner). (SA/PSI)

UM – Pandemi Covid-19 yang masih melanda Indonesia khususnya Balikpapan tentu memengaruhi kegiatan akademik di seluruh perguruan tinggi termasuk Universitas Mulia. Berbagai kegiatan yang sebelumnya sudah dialihkan menjadi daring atau online, kini juga diterapkan pada kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) tahun 2020.

Ini terlihat pada Kamis, (4/9) kemarin. Dimana pembukaan PKKMB yang dipusatkan di aula kampus Cheng Ho dan dipimpin Rektor Universitas Mulia Dr. Agung Sakti Pribadi, S.H., M.H. diikuti sekitar 500 mahasiswa baru (maba) secara online dari kediamannya masing-masing.

Rencananya PKKMB tersebut akan berlangsung selama dua hari, Kamis (3/9) dan Sabtu (5/9). Diisi dengan berbagai materi yang akan disampaikan oleh Rektor, dekan hingga dosen Universitas Mulia.

Dr. Agung Sakti Pribadi, S.H., M.H. mengatakan, karena masih dalam kondisi pandemi Covid-19, maka terpaksa pelaksanaan PKKMB yang seharusnya dilakukan di kampus, dialihkan secara daring. “Sebenarnya ini memang tidak ideal karena pengenalan kampus harusnya dilakukan di kampus. Agar maba ini bisa melihat langsung kondisi kampus serta kita bisa bertatap muka dan berdialog secara langsung,” katanya.

Dan yang terpenting, kata dia, harus ada rasa antusias dari para maba ketika akan mengawali kegiatan di kampus. “Namun karena kondisi saat ini, maka inilah yang harus dilakukan,” ujarnya.

Setelah dilakukannya pengenalan kampus, tambah Agung diharapkan para maba dapat paham sistem perkuliahan yang diterapkan di Universitas Mulia. “Mereka harus tahu mulai dari managemenya seperti apa, perkuliahannya seperti apa. Mungkin sistem perkuliahan online ini mereka tidak mengetahui atau mengalami sebelumnya, jadi disini kita berikan pemahamannya semua,” terangnya.

Apalagi lanjut Agung, Universitas Mulia merupakan kampus berbasis IT, jadi diharapkan dengan distem perkuliahan online nantinya, para maba bisa lebih mandiri dan tetap semangat belajar.  “Karena di tengah situasi Covid-19 ini semua pihak dituntut untuk beradaptasi dengan kebiasaan baru. Namun, tetap harus berinovasi untuk mengantarkan calon generasi penerus khususnya mahasiswa, menjadi mahasiswa yang unggul dan berdaya saing pada era global,” lanjutnya.

Usai PKKMB, kegiatan mahasiswa akan dilanjutkan dengan pemberian mata kuliah dasar umum (MKDU). “Jadi pada Senin mendatang mereka akan langsung mengikuti MKDU selama seminggu. Baik materi dan tugas akan dilakukan secara online melalui zoom. Dan ada presentasi tugas dan ini akan dilakukan langsung tatap muka,” bebernya.

“Jadi ada sebagian online dan sebagian tatap muka dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. Kita berupaya untuk tidak seluruhnya online. Terutama saat praktek di laboratorium, karena tidak efektif bila tidak dilakukan di laboratorium,” tambahnya.

Sementara itu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nadiem Anwar Makarim, dalam sambutannya mengatakan bahwa pandemik memberikan banyak hikmah pembelajaran. “Metode pembelajaran berbasis teknologi, termasuk pembelajaran secara daring menjadi suatu hal yang harus kita adaptasikan dan kembangkan, seiring dengan dinamika adaptasi kurikulum yang perlu dilakukan oleh pihak perguruan tinggi,” tutur Nadiem.

Kondisi ini, lanjutnya, diharapkan dapat memicu kreativitas dan inovasi semua pihak di samping menguatkan implementasi adaptasi kebiasaan baru.

Menurut Mendikbud, menjadi mahasiswa artinya memasuki fase kehidupan baru, membentuk jati diri sebagai manusia seutuhnya melalui pendidikan tinggi. “Meneruskan pembelajaran dari Ki Hadjar Dewantara, paradigma pendidikan harusnya berpulang pada kemerdekaan belajar dan kemandirian pelaku belajar untuk mendapatkan nilai dan tujuan hidup sebagai manusia seutuhnya yang bermanfaat bagi keluarga, masyarakat, dan bangsa,” tuturnya. (mra)

Rektor Dr. Agung Sakti Pribadi, S.H., M.H. saat memberikan sambutan dalam PKKMB 2020 di Studio White Campus Universitas Mulia, Kamis (3/9). Foto: YouTube

UM – Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) tahun ini di Universitas Mulia dilaksanakan dalam jaringan atau daring. Rektor Dr. Agung Sakti Pribadi S.H., M.H. membuka secara resmi PKKMB yang berpusat di Studio Campus Universitas Mulia, Jalan Letjen Zaini Azhar Maulani Balikpapan, Kamis (3/9).

Acara dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, diikuti pembacaan doa, sambutan Mendikbud Nadiem Anwar Makarim, sambutan Rektor, dan penyerahan tanda peserta PKKMB. Setelah itu dilanjutkan paparan kebijakan Kampus Merdeka oleh Wakil Rektor Yusuf Wibisono SE MTI dan Bela Negara oleh Drs. Suprijadi M.Pd.

“Ketika lagu Indonesia Raya dinyanyikan (tadi), ada terbersit kesedihan yang tidak biasa, bertahun-tahun sebelumnya kita lakukan kegiatan PKKMB, dulu disebut Ospek, kemudian Bina Akrab Mahasiswa, semua dilakukan dengan semangat, tapi hari ini di seluruh kampus terutama di Indonesia tidak ada tatap muka,” terang Pak Agung mengawali sambutan.

Di hadapan sekitar 500 mahasiswa baru yang menggunakan aplikasi Zoom dan disiarkan langsung di YouTube, Rektor mengawali sambutan dengan ungkapan syukur bahwa semua dalam keadaan sehat dan kegiatan berjalan lancar dan aman.

“Kita tidak mengenal mahasiswa secara akrab karena dilakukan secara virtual, tidak bertatap muka langsung,” ungkap Pak Agung. Dengan tidak bertatap muka langsung, maka kesulitannya adalah tidak mampu memperhatikan respon, antusias, dan kesulitan yang dialami mahasiswa.

Namun, menurutnya, seperti yang dikatakan Mendikbud bahwa sebelum terjadi pandemi Covid-19, Mendikbud telah merancang program Kampus Merdeka, Merdeka Belajar. “Kemandirian menjadi hal penting untuk kita semua. Kita harus bisa mandiri untuk belajar,” terang Pak Agung.

Terlebih di saat ini, generasi sekarang adalah generasi milenial, generasi muda, generasi yang akrab dengan gadget. Rektor menilai, generasi milenial tidak akan mengalami kesulitan yang berarti dalam menggunakan teknologi. “Walaupun dengan adanya kesulitan pandemik saat ini,” tuturnya optimis.

Rektor Dr. Agung Sakti Pribadi, S.H., M.H. saat memberikan sambutan dalam PKKMB 2020 di Studio White Campus Universitas Mulia, Kamis (3/9). Foto: YouTube

Rektor Dr. Agung Sakti Pribadi, S.H., M.H. saat memberikan sambutan dalam PKKMB 2020 di Studio White Campus Universitas Mulia, Kamis (3/9). Foto: YouTube

Mahasiswa baru peserta PKKMB 2020 bersama Dekan maupun Dosen Universitas Mulia, Kamis (3/9). Foto: YouTube

Mahasiswa baru peserta PKKMB 2020 bersama Dekan maupun Dosen Universitas Mulia, Kamis (3/9). Foto: YouTube

Sedikit kilas balik, Rektor juga mengenalkan sejarah berdirinya Universitas Mulia dari gabungan tiga perguruan tinggi, yakni STIKOM Balikpapan, ASMI Airlangga Balikpapan, dan STMIK Sentra Pendidikan Bisnis (SPB) Samarinda.

“Pada tahun 2018 bergabunglah tiga perguruan tinggi tersebut menjadi Universitas Mulia, dengan Kampus Utama di Kota Balikpapan, dan Program Studi Diluar Kampus Utama atau PSDKU di Kota Samarinda,” tuturnya.

Tentu saja, menurut Rektor, para mahasiswa baru yang hadir pada kesempatan PKKMB daring kali ini terasa sulit diketahui dari mana daerah asal dan domisilinya. “Tidak ada bedanya antara Balikpapan dan Samarinda ketika dilakukan kelas virtual,” ungkap Pak Agung.

Meski demikian, Rektor mengingatkan agar para mahasiswa menyiapkan diri untuk mengikuti perkuliahan daring setidaknya dalam satu semester ke depan. “Namun beberapa pertemuan sesuai dengan protokol kesehatan akan kita lakukan dengan jumlah terbatas,” ungkapnya.

Rektor optimis mahasiswa akan mampu melalui masa-masa sulit di tengah pandemik Covid-19 saat ini. Kampus pun saat ini tengah mengembangkan Learning Management System (LMS) untuk mendukung kegiatan belajar mengajar agar berjalan lebih efektif.

Model pembelajaran pun dilaksanakan baik secara daring (online) ataupun luring (offline). Cara menerapkan dua model pembelajaran baik online maupun offline ini disebut Blended Learning.

Rektor berpesan kepada seluruh peserta agar mengikuti PKKMB dengan antusias dan semangat serta meningkatkan kreativitas.

“Saudara bisa mengambil alih kreativitas, berkreasilah untuk membentuk grup sendiri untuk berkomunikasi sebagaimana dulu Whatsapp terbentuk oleh mahasiswa yang ingin berkomunikasi internal antar mereka, dan berkembang hingga sekarang,” tutur Rektor.

“Kreativitas kalian sekarang ini diuji, lakukan kreativitas. Jangan karena keterbatasan pertemuan membuat kalian tidak kreatif. Kampus memberikan fasilitas inkubator bisnis bagi mahasiswa yang memiliki keunggulan dalam berkreativitas, bahkan berwirausaha untuk berkembang,” tutup Rektor. (SA/PSI)

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nadiem Anwar Makarim saat memberikan sambutan pada Program Pengenalan KehidupanKampus bagi Mahasiswa Baru 2020 di perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Foto: Tangkapan Layar

UM – Tahun ini dengan kondisi pandemik Covid-19, Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) dilaksanakan secara daring menyesuaikan kondisi di masing-masing wilayah perguruan tinggi. Begitu pula di Universitas Mulia, PKKMB juga dilaksanakan secara daring yang dibuka pada hari ini, Kamis (3/9).

PKKMB merupakan wahana bagi pimpinan perguruan tinggi untuk memperkenalkan dan mempersiapkan mahasiswa baru dalam proses transisi menjadi mahasiswa yang dewasa dan mandiri, serta mempercepat adaptasi dengan lingkungan yang baru. Dengan PKKMB, diharapkan memberikan bekal untuk keberhasilan mahasiswa menempuh pendidikannya di perguruan tinggi.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nadiem Anwar Makarim, dalam sambutannya mengatakan bahwa pandemik memberikan banyak hikmah pembelajaran. “Metode pembelajaran berbasis teknologi, termasuk pembelajaran secara daring menjadi suatu hal yang harus kita adaptasikan dan kembangkan, seiring dengan dinamika adaptasi kurikulum yang perlu dilakukan oleh pihak perguruan tinggi,” tutur Nadiem.

Kondisi ini, lanjutnya, diharapkan dapat memicu kreativitas dan inovasi semua pihak di samping menguatkan implementasi adaptasi kebiasaan baru.

Menurut Mendikbud, menjadi mahasiswa artinya memasuki fase kehidupan baru, membentuk jati diri sebagai manusia seutuhnya melalui pendidikan tinggi. “Meneruskan pembelajaran dari Ki Hadjar Dewantara, paradigma pendidikan harusnya berpulang pada kemerdekaan belajar dan kemandirian pelaku belajar untuk mendapatkan nilai dan tujuan hidup sebagai manusia seutuhnya yang bermanfaat bagi keluarga, masyarakat, dan bangsa,” tuturnya.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nadiem Anwar Makarim saat memberikan sambutan pada Program Pengenalan KehidupanKampus bagi Mahasiswa Baru 2020 di perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Foto: Tangkapan Layar

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nadiem Anwar Makarim saat memberikan sambutan pada Program Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru 2020 di perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Foto: Tangkapan Layar

Berikut isi lengkap sambutan Mendikbud Nadiem Makarim pada pelaksanaan PKKMB di seluruh perguruan tinggi di Indonesia.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Salam sejahtera bagi kita semua,

Para pimpinan perguruan tinggi di seluruh Indonesia yang saya hormati,

Adik-adik mahasiswa yang saya cintai,

Viva Mahasiswa!

Syukur Alhamdulillah di kesempatan ini saya dapat menyapa Bapak Ibu dan adik-adik mahasiswa semua, meskipun secara daring,

Salam sehat dan bahagia,

Kita masih terus berjuang di tengah pandemic Covid-19, namun disisi lain pandemic banyak memberikan hikmah pembelajaran bagi kita.

Metode pembelajaran berbasis teknologi, termasuk pembelajaran secara daring menjadi suatu hal yang harus kita adaptasikan dan kembangkan, seiring dengan dinamika adaptasi kurikulum yang perlu dilakukan oleh pihak perguruan tinggi.

Kondisi ini diharapkan dapat memicu kreativitas dan inovasi semua pihak disamping menguatkan implementasi adaptasi kebiasaan baru.

Adik-adikku mahasiswa baru se-Indonesia,

Menjadi mahasiswa artinya memasuki fase kehidupan baru, membentuk jati diri sebagai manusia seutuhnya melalui pendidikan tinggi.

Meneruskan pembelajaran dari Ki Hadjar Dewantara, paradigma pendidikan harusnya berpulang pada kemerdekaan belajar dan kemandirian pelaku belajar untuk mendapatkan nilai dan tujuan hidup sebagai manusia seutuhnya yang bermanfaat bagi keluarga, masyarakat, dan bangsa.

Filosofi tersebut mendasari transformasi kebijakan Kemdikbud Merdeka Belajar, terutama Kampus Merdeka yang memerdekakan pendidikan untuk meningkatkan budaya pembelajaran dan inovasi, yang bisa memantik growth-mindset generasi penerus bangsa.

Perguruan tinggi didorong untuk lebih adaptif dalam melakukan transformasi kurikulum sesuai kebutuhan nasional dan kebutuhan global, serta disesuaikan dengan karakteristik yang lazim di Indonesia.

Di masa lalu mahasiswa tidak memiliki fleksibilitas di dalam belajar. Semua kegiatan belajar dimaknai secara rakitan, dengan satuan kredit semester, hingga kegiatan-kegiatan yang dilakukan mahasiswa di luar kampus, di luar ruang kuliah, di luar lecture, tidak bisa diakui sebagai pembelajaran.

Saat ini SKS diartikan dalam jam kegiatan sehingga ada fleksibilitas bagi mahasiswa menuntut ilmu, baik secara tatap muka perkuliahan, maupun kegiatan lainnya seperti magang, mengajar di desa, dan lain sebagainya.

Berbagai kegiatan di luar kampus ini diharapkan dapat meningkatkan kompetensi mahasiswa untuk memberikan solusi atas permasalahan riil yang dihadapi masyarakat.

Kampus merdeka mendorong kita sebagai pelajar sepanjang hayat, keharusan untuk terus belajar, menggali bakat dan minat, dan meningkatkan keunggulan kompetensi di era baru pendidikan, era Revolusi Industri 4.0.

Kreativitas dan inovasi bisa terpacu dengan gotong royong banyak pihak. Kompetensi dan kolaborasi dapat lebih diasah melalui berbagai macam program kampus merdeka.

Adik-adik mahasiswa yang saya banggakan,

Pendidikan adalah kunci solusi atas krisis pembelajaran dan berbagai permasalahan yang dihadapi bangsa. Mahasiswa diharapkan menjadi agen perubahan, dan penggerak untuk menghasilkan berbagai solusi untuk bangsa.

Ubah paradigma belajar di perguruan tinggi menjadi kuliah untuk belajar. Belajar bagaimana bisa berkarya atau bekerja di berbagai bidang, bukan hanya sekadar kuliah untuk bekerja.

Mari sama-sama belajar dan terus haus belajar untuk menjadi manusia yang merdeka.

Selamat mengikuti Program Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru.

Selamat berkarya,

Salam Kampus Merdeka,

Terima kasih,

Wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.

(SA/PSI)

 

Mahasiswa Universitas Mulia berhasil menjadi penerima pendanaan Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM) 5 Bidang Tahun 2020 dari Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti).

Proposal dengan judul Aplikasi Vulnerability Assessment Sebagai Solusi Tata Kelola Pengamanan Informasi di SMKTI Airlangga Samarinda, yang dibuat oleh tim mahasiswa dari program studi Sistem Informasi Kampus Samarinda menjadi salah satu dari ratusan proposal yang lolos pendanaan program tersebut.

Diketahui Program Kreatifitas Mahasiswa merupakan program tahunan yang digelar oleh Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Digelar dalam rangka memandu mahasiswa untuk menjadi  pribadi  yang  tahu aturan, taat  aturan, kreatif, inovatif, dan objektif kooperatif dalam membangun keragaman intelektual.

Kepala Kantor PSDKU Kampus Samarinda Ir. Riyayatsyah, M.P mengatakan, tim ini beranggotakan lima orang, yang terdiri dari Muhammad  Iswansi sebagai ketua tim, dengan anggota Thasa Amelia, Risky Fahriza, Gusti Muhammad Jafar, dan Paul Vincent Mendrova. “Sebelumnya mereka telah mengajukan proposal yang berisikan ide-ide baru yang inovatif,” katanya.

Dia menjelaskan, melalui PKM setiap perguruan tinggi memberikan peluang kepada mahasiswa untuk dapat berkreasi. “Ini seperti lomba yang digelar oleh Dikti. Proposal yang terpili berhak mendapatkan pendanaan untuk produk yang dibuatnya. Dan pemilihan itu atas dasar apakah produk yang mereka buat memiliki dampak atau efek yang besar bagi apa yang diteliti,” ujarnya.

Proses mendapatkan pendanaan itu, tambahnya, guna mengembangkan ide kreatif dan inovasi mahasiswa yang diwujudkan dalam program PKM tersebut. Mahasiswa harus mengirimkan proposal tentang ide kreatif dan inovasi sesuai dengan bidang yang diminati ke Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan untuk diseleksi. “Setelah itu, jika mahasiswa mendapatkan pembiayaan, mahasiswa mengembangkan isi atau kegiatan yang telah direncanakan dalam proposal tersebut,” terangnya.

Ia menuturkan, ini menjadi kali kedua Universitas Mulia berpartisipasi. “Tahun 2018 kami kirim tapi belum terpilih. Dan dari sini kami pelajari mengapa tidak terpilih. Akhirnya disimpulkan bahwa kualitas dari proposal harus lebih baik dan benar, penulisan dan sebagainya, kemudian pemanfaatannya lebih diutamakan. Jadi produk yang dibuat bukan yang sudah umum. Produk harus lebih spesifik,” tuturnya.

Riyayatsyah pun berharap, dengan diraihnya pencapaian tersebut dapat semakin membuka peluang lebih untuk mahasiswa lain dalam meningkatkan ide kreatif dan inovasi yang dimiliki. (mra)