Selamat kepada 8 dosen Universitas Mulia yang berhasil lolos pendanaan Program BIMA 2026—capaian yang merefleksikan ketajaman perumusan masalah, kekuatan metodologis, dan relevansi riset terhadap kebutuhan nyata di tingkat lokal maupun nasional.
Balikpapan, 10 April 2026—Sebanyak delapan dosen Universitas Mulia dinyatakan lolos pendanaan Program BIMA 2026, skema hibah nasional yang dikenal dengan proses seleksi ketat. Jumlah ini meningkat dibanding tahun sebelumnya dan mencakup dosen yang baru pertama kali memperoleh hibah.
Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Mulia, Dr. Mada Aditia Wardhana, S.Sos., M.M., mengatakan bahwa proposal yang lolos tidak hanya dinilai dari kelengkapan administratif, tetapi juga dari relevansinya terhadap kebutuhan nyata.
“Setiap usulan harus memberikan dampak, baik untuk kebutuhan nasional maupun lokal. Proposal yang lolos menunjukkan relevansi itu,” ujarnya.
Program BIMA merupakan salah satu instrumen pendanaan riset dan pengabdian dari pemerintah pusat yang menekankan pada kualitas substansi, kebaruan, serta kontribusi terhadap penyelesaian persoalan di masyarakat. Setiap proposal melalui tahapan seleksi berlapis sebelum ditetapkan sebagai penerima pendanaan.
Berangkat dari Masalah Riil
Menurut Mada, arah proposal yang diajukan dosen Universitas Mulia mulai bergerak ke pendekatan berbasis dampak. Penelitian dan pengabdian tidak lagi berhenti pada luaran akademik, tetapi diarahkan untuk menjawab persoalan konkret di lapangan.
“Setiap penelitian maupun pengabdian harus berangkat dari masalah riil di lingkungan. Karena itu, usulan yang didanai berpotensi memberikan manfaat, khususnya bagi masyarakat di Kalimantan Timur,” katanya.
Pendekatan ini tercermin dari ragam bidang yang diusulkan, mulai dari kesehatan, teknologi, hingga sosial kemasyarakatan, yang seluruhnya beririsan dengan kebutuhan lokal.
Kekuatan Riset Masih Berproses
Meski demikian, Universitas Mulia belum sepenuhnya mengerucut pada satu bidang unggulan riset. Mada menyebut, pola kekuatan tersebut masih dalam tahap pembentukan seiring meningkatnya jumlah penelitian berbasis dampak.
“Belum terpolarisasi secara jelas, tetapi semakin banyak penelitian berdampak akan membentuk peta keunggulan kampus,” ujarnya.
Persiapan dan Tantangan
Di balik peningkatan jumlah penerima hibah, terdapat tantangan yang masih dihadapi dosen, terutama dalam hal konsistensi meneliti dan pengembangan proposal.
LPPM, kata Mada, berupaya memperkuat pendampingan, termasuk mendorong persiapan lebih awal. Hal ini menjadi penting mengingat jadwal pengusulan pada tahun sebelumnya relatif lebih cepat dari biasanya.
“Ini menjadi catatan bagi kami untuk memfasilitasi persiapan lebih dini, agar kualitas proposal bisa terus meningkat,” katanya.
Daftar Penerima Hibah
Dosen Universitas Mulia yang lolos pendanaan penelitian Program BIMA 2026 antara lain:
- Budiarsih, Ph.D
- Apt. Indah Woro Utami, S.Farm., M.Farm.
- Rijal Fadilah, S.Kom.
- Rahmat Saudi Al Fathir AS, S.Kom., M.Kom.
- Apt. Murtiyana Sari, S.Farm., M.Clin.
- Shafyra Amalia Fitriany, S.Sosio., M.HP
- Dr. H. Sudarmo, SH, MM UM
- Apt. Warrantia Citta Citti Putri, S.Farm., M.Sc.
Dari Pendanaan ke Dampak
Peningkatan jumlah penerima hibah menjadi indikator awal, namun keberhasilan sesungguhnya akan diukur dari luaran yang dihasilkan. Universitas Mulia menargetkan setiap penelitian dan pengabdian yang didanai tidak hanya selesai secara administratif, tetapi juga memberi kontribusi nyata bagi masyarakat.
Dengan keterlibatan dosen pemula dalam skema ini, kampus juga mulai memperluas basis peneliti aktif, sekaligus memperkuat ekosistem riset yang lebih berkelanjutan. (YMN)
Balikpapan, 5 Maret 2026—Pelaksanaan peringatan Milad ke-79 Himpunan Mahasiswa Islam pada 18 Februari 2026 turut diisi dengan Lomba Poster Digital tingkat nasional yang diselenggarakan oleh HMI Komisariat Fekon. Kegiatan ini dilaksanakan secara daring melalui mekanisme pengumpulan dan seleksi karya berbasis online, sehingga memungkinkan partisipasi mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia.
Kompetisi tersebut dirancang sebagai ruang ekspresi intelektual generasi muda melalui media visual digital. Poster dipahami sebagai medium argumentasi visual—bukan semata produk estetika—yang memuat gagasan, kritik sosial, serta refleksi kebangsaan sesuai tema Milad ke-79 HMI. Pendekatan ini menempatkan desain sebagai instrumen komunikasi publik yang bertanggung jawab dan berbasis gagasan.
Sebanyak 22 peserta ambil bagian dalam ajang ini, berasal dari berbagai perguruan tinggi lintas provinsi dan lintas pulau. Partisipasi tercatat dari Universitas Jember, UIN Salatiga, Universitas Syiah Kuala, serta sejumlah perguruan tinggi di Kalimantan Timur seperti Universitas Mulawarman, Universitas Kutai Kartanegara, dan Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur. Komposisi peserta ini menunjukkan bahwa kompetisi memiliki daya jangkau nasional dengan tingkat persaingan yang terbuka.

Poster karya mahasiswa Program Studi Teknologi Informasi Universitas Mulia yang meraih Juara 2 pada Lomba Poster Digital Milad HMI ke-79 tingkat nasional (18 Februari 2026).
Proses lomba dimulai dari tahap pendaftaran dan pengunggahan karya sesuai tema yang ditetapkan panitia. Setiap karya dinilai berdasarkan empat parameter utama: orisinalitas ide, ketajaman pesan, kesesuaian dengan tema, serta kualitas visual dan teknis desain. Mekanisme seleksi dilakukan secara bertahap hingga ditetapkan tiga karya terbaik.
Berdasarkan pengumuman resmi panitia, Juara 1 diraih oleh Gilang Permana Aditya dari Politeknik Negeri Balikpapan, Juara 2 diraih oleh Apriliani Wijaya dari Program Studi Teknologi Informasi Universitas Mulia Balikpapan, dan Juara 3 diraih oleh Muhammad Naufal Maulana dari Universitas Balikpapan.
Raihan Juara 2 oleh mahasiswa Universitas Mulia dipandang sebagai representasi capaian akademik institusi dalam membangun kompetensi yang tidak hanya teknis, tetapi juga reflektif. Karya yang dihasilkan dinilai mampu menerjemahkan gagasan ke dalam komposisi visual yang terstruktur dan komunikatif, sekaligus relevan dengan konteks Milad HMI ke-79.
Bagi Universitas Mulia, partisipasi dalam ajang nasional semacam ini merupakan bagian dari proses pembelajaran yang menekankan integrasi antara penguasaan teknologi, kemampuan analisis sosial, dan keberanian menyampaikan ide di ruang publik. Capaian ini memperkuat posisi institusi dalam mendorong mahasiswa untuk aktif berkompetisi serta terlibat dalam diskursus kebangsaan melalui pendekatan akademik dan kreatif. (YMN)
Pagi yang Tertata, Sidang Senat Terbuka Dimulai dengan Persiapan Matang
Balikpapan, 18 Desember 2025 — Kamis pagi, 18 Desember 2025, Balikpapan menyambut hari dengan suasana yang tenang dan bersahabat. Cahaya matahari telah meninggi, namun belum menyengat, seolah memberi ruang bagi sebuah peristiwa akademik yang tak hanya dirancang rapi, tetapi juga dimaknai dengan kesungguhan. Di Ballroom Cheng Hoo Universitas Mulia, denyut persiapan telah terasa sejak pagi.
Alih-alih hiruk-pikuk, yang tampak adalah keteraturan. Panitia bergerak dalam ritme yang senyap namun pasti—menyelaraskan tata ruang, memastikan setiap kursi dan meja berada pada posisi yang semestinya, merapikan detail-detail kecil yang kerap luput dari perhatian, namun menentukan wibawa sebuah sidang senat terbuka. Sentuhan estetika sederhana, seperti vas bunga dan penataan ruang penerima tamu, memperkuat kesan bahwa perhelatan ini diperlakukan sebagai ruang kehormatan akademik.

Seluruh tamu undangan berdiri menyambut masuknya Senat Universitas Mulia ke ruang Sidang Senat Terbuka dalam rangka Dies Natalis ke-7 Universitas Mulia Tahun 2025 di Ballroom Cheng Hoo.
Perlahan, ruang ballroom terisi. Dosen dan tenaga kependidikan Universitas Mulia hadir dengan sikap tenang, saling menyapa dalam percakapan singkat yang mencerminkan kebersamaan institusional. Kehadiran para tamu dari berbagai instansi eksternal—pemerintahan, lembaga negara, mitra industri, hingga perguruan tinggi—menambah bobot peristiwa ini sebagai momentum bersama, melampaui batas internal kampus.
Ketika waktu menunjukkan pukul 09.00 WITA, Ballroom Cheng Hoo telah terisi penuh. Suasana yang tercipta bukan semata formalitas, melainkan pertemuan antara disiplin akademik dan kegembiraan kolektif dalam memperingati Sidang Senat Terbuka Dies Natalis ke-7 Universitas Mulia Tahun 2025.
Master of Ceremony membuka rangkaian acara dengan menyapa para tamu kehormatan, di antaranya Rektor Universitas Mulia Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si.; jajaran Senat; pimpinan Yayasan Airlangga; perwakilan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur; Badan Otorita IKN; unsur TNI–Polri; lembaga peradilan; perbankan; DPR RI; mitra industri; serta sivitas akademika Universitas Mulia. Dengan khidmat, Sidang Senat Terbuka pun dinyatakan resmi dimulai.

Tari Nondoi, tarian selamat datang khas Dayak Bahau Paser Kalimantan Timur, dipersembahkan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa Gayatri Universitas Mulia sebagai simbol penghormatan dan keterbukaan kepada para tamu.
Tradisi Akademik, Budaya Lokal, dan Spirit Penyambutan
Prosesi masuk Senat Universitas Mulia, Rektor, dan jajaran pimpinan diiringi lantunan Gaudeamus Igitur. Lagu klasik akademik tersebut menghadirkan suasana reflektif—mengikat tradisi intelektual global dengan konteks lokal perguruan tinggi yang tengah bertumbuh. Ia menjadi penanda bahwa perayaan ini berakar pada nilai-nilai keilmuan yang dijaga lintas generasi.

Pandangan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur disampaikan melalui sambutan Gubernur Kalimantan Timur yang diwakili oleh Staf Ahli Bidang Sumber Daya Alam, Perekonomian Daerah, dan Kesejahteraan Rakyat, drh. Arif Murdiatno.
Nuansa penyambutan kemudian diperkaya melalui penampilan Tari Nondoi, tarian selamat datang khas Dayak Bahau Paser Kalimantan Timur yang dipersembahkan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa Gayatri Universitas Mulia. Gerakannya yang lembut dan terukur menyiratkan penghormatan, keterbukaan, serta filosofi harmoni antara manusia, budaya, dan lingkungan—sebuah pesan simbolik tentang posisi perguruan tinggi di tengah masyarakat.
Sidang Senat Terbuka secara resmi dibuka oleh Ketua Senat Universitas Mulia, Dr. Agung Sakti Pribadi, S.H., M.H., dan dilanjutkan dengan doa bersama yang dipimpin oleh Drs. Achmad Prijanto. Ruang ballroom sejenak hening, menandai bahwa rangkaian akademik ini tidak hanya dimulai dengan ketertiban prosedural, tetapi juga kesadaran spiritual.

Penandatanganan Nota Kesepahaman (MoA) antara Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Kalimantan Timur dengan sejumlah fakultas dan unit di Universitas Mulia sebagai penguatan kolaborasi riset terapan dan pengabdian masyarakat.
Momen kebangsaan kemudian hadir melalui lagu Indonesia Raya, disusul Hymne Balikpapan dan Mars Universitas Mulia. Tiga identitas—nasional, kedaerahan, dan institusional—bertemu dalam satu tarikan nafas, menegaskan posisi Universitas Mulia sebagai bagian dari denyut pembangunan daerah dan negara.
Pemutaran video profil Universitas Mulia menghadirkan kilas balik perjalanan institusi, capaian tridarma perguruan tinggi, serta arah pengembangan kampus technopreneur yang berpijak pada kebutuhan masyarakat dan tantangan pembangunan regional.
Dalam sambutannya, Rektor Universitas Mulia Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si. menegaskan bahwa usia tujuh tahun merupakan fase konsolidasi strategis. Pada titik ini, penguatan mutu akademik, perluasan kolaborasi, dan kesiapan institusi dalam merespons dinamika Kalimantan Timur—termasuk kehadiran Ibu Kota Nusantara—menjadi agenda yang tidak terpisahkan.

Orasi ilmiah disampaikan oleh perwakilan Badan Otorita IKN, Rafli Muzadi, S.T., M.T., yang mengulas pengembangan infrastruktur kota cerdas menuju Ibu Kota Nusantara sebagai pusat pemerintahan digital.
Arah Institusi, Kebijakan Pendidikan, dan Kerja Sama Strategis
Direktur Eksekutif BPH Yayasan Airlangga, Dr. Agung Sakti Pribadi, S.H., M.H. menempatkan Universitas Mulia dalam dua bingkai besar. Pertama, sebagai instrumen kebijakan publik yang memperluas akses pendidikan tinggi melalui dukungan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur. Kedua, sebagai institusi yang tengah diarahkan menuju global technopreneur campus 2045—sebuah visi yang menautkan pendidikan, riset, dan pengabdian masyarakat dalam kerangka pembangunan berkelanjutan.
Ketua Yayasan Airlangga, Mulia Hayati Devianti, S.E. menekankan bahwa tujuh tahun perjalanan Universitas Mulia adalah fase krusial dalam memperkokoh fondasi kelembagaan. Yayasan, menurutnya, berkomitmen mendorong transformasi pendidikan yang adaptif melalui pemanfaatan teknologi digital, kecerdasan buatan, dan pembelajaran virtual sebagai keniscayaan masa depan.

Rektor Universitas Mulia, Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si., menyerahkan plakat Universitas Mulia kepada Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Kalimantan Timur sebagai simbol penguatan sinergi kelembagaan.
Pandangan pemerintah daerah disampaikan melalui sambutan Gubernur Kalimantan Timur yang diwakili oleh Staf Ahli Bidang Sumber Daya Alam, Perekonomian Daerah, dan Kesejahteraan Rakyat, drh. Arif Murdiatno. Ia menegaskan peran strategis perguruan tinggi sebagai motor penggerak pembangunan sumber daya manusia—tidak hanya menyiapkan lulusan siap kerja, tetapi juga melahirkan inovator dan technopreneur yang mampu menciptakan lapangan kerja baru.

Ketua Dewan Pembina Yayasan Airlangga, Drs. Satria Darma, menyerahkan cendera mata kepada perwakilan Badan Otorita IKN, Rafli Muzadi, S.T., M.T., sebagai bentuk apresiasi atas kolaborasi strategis.
Komitmen tersebut dipertegas melalui penandatanganan Nota Kesepahaman antara Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Kalimantan Timur dengan sejumlah fakultas dan unit di Universitas Mulia. Kerja sama ini menjadi pijakan penguatan riset terapan dan pengabdian masyarakat yang selaras dengan kebutuhan daerah.
Dari Riset Terapan hingga Peneguhan Arah Institusi
Dimensi keilmuan Universitas Mulia tercermin dalam paparan Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Dr. Mada Aditia Wardhana, S.Sos., M.M. Ia mempresentasikan hasil riset pengolahan limbah pesisir menjadi bahan baku farmasi melalui pendekatan green farmakoekonomi. Limbah sisik dan tulang ikan yang sebelumnya terabaikan berhasil diolah menjadi kolagen, kitosan, dan albumin—produk bernilai ekonomi tinggi yang membuka peluang peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Mulia, Dr. Mada Aditia Wardhana, S.Sos., M.M., memaparkan hasil riset pengolahan limbah pesisir menjadi bahan baku farmasi melalui pendekatan green farmakoekonomi dalam rangkaian Sidang Senat Terbuka Dies Natalis ke-7 Universitas Mulia.
Rangkaian acara juga diisi dengan penyerahan cendera mata kepada para tamu kehormatan serta pembagian buku Kelangkaan Air Bersih di Balikpapan, hasil kajian Balikpapan Water Forum. Publikasi ini mencerminkan komitmen Universitas Mulia dalam mendorong diskursus publik berbasis riset dan kebijakan.

H. Rizal Effendy menyerahkan buku Kelangkaan Air Bersih di Balikpapan, hasil kajian Balikpapan Water Forum, kepada Gubernur Kalimantan Timur yang diwakili oleh drh. Arif Murdiatno sebagai kontribusi akademik dalam diskursus kebijakan publik.
Orasi ilmiah disampaikan oleh perwakilan Badan Otorita IKN, Rafli Muzadi, S.T., M.T., yang mengulas pengembangan infrastruktur kota cerdas menuju Ibu Kota Nusantara sebagai pusat pemerintahan digital. Paparannya menempatkan perguruan tinggi sebagai mitra strategis dalam membangun ekosistem kota cerdas berbasis teknologi dan data.

Direktur Eksekutif BPH Yayasan Airlangga menyerahkan potongan pertama tumpeng kepada Ketua Dewan Pembina Yayasan Airlangga, Drs. Satria Darma, sebagai simbol rasa syukur atas Dies Natalis ke-7 Universitas Mulia.
Sidang Senat Terbuka ditutup dengan prosesi pemotongan tumpeng sebagai simbol rasa syukur, dilanjutkan dengan penganugerahan Penghargaan Universitas Mulia 2025. Apresiasi ini diberikan kepada sivitas akademika berprestasi sebagai pengakuan atas dedikasi dan kinerja institusional. Fakultas Humaniora dan Kesehatan meraih penghargaan Fakultas dengan Kerja Sama Terbaik dengan delapan kerja sama sepanjang 2025. Program Studi PGPAUD S1 dinobatkan sebagai Program Studi dengan Audit Mutu Internal Terbaik dengan capaian 83,54 persen. Program Studi Sistem Informasi PSDKU Samarinda menerima penghargaan atas pemanfaatan Lentera terbaik. Penghargaan Dosen Terbaik dianugerahkan kepada Agus Widianto, S.Kom., M.Kom., sementara penghargaan Tenaga Kependidikan Terbaik diberikan kepada Aslina Dua Beda, S.Ak.

Ketua Program Studi PGPAUD Universitas Mulia, Bety Vitriana, M.Pd., berpose bersama dosen dan tenaga kependidikan PGPAUD usai menerima Penghargaan Universitas Mulia 2025 sebagai Program Studi dengan Audit Mutu Internal Terbaik, dengan capaian 83,54 persen.
Pada usia tujuh tahun, Universitas Mulia menandai perjalanannya bukan sekadar melalui seremoni, melainkan melalui refleksi akademik, penguatan kolaborasi, dan peneguhan peran strategis perguruan tinggi dalam pembangunan daerah dan nasional. (YMN)
Balikpapan, 16 Desember 2025 — Universitas Mulia meraih Juara II dalam Program Sinergi KKN dan BI Program Chapter (Championship Perguruan Tinggi Terintegrasi Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah/CBP Rupiah) yang diselenggarakan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Rabu, 11 Desember 2025.
Capaian tersebut merupakan hasil kolaborasi pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Mulia dengan Program CBP Rupiah, sebuah gerakan nasional yang diinisiasi Bank Indonesia untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Rupiah sebagai alat pembayaran yang sah sekaligus simbol kedaulatan negara.

Wahyu Nur Alimyaningtias, S.Kom., M.Kom., mewakili Universitas Mulia, menerima penghargaan Juara II Program Sinergi KKN dan BI Program Chapter (Championship Perguruan Tinggi Terintegrasi Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah/CBP Rupiah) yang diserahkan oleh pejabat Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kota Balikpapan, Rabu (11/12/2025).
Melalui KKN berbasis CBP Rupiah, mahasiswa Universitas Mulia berperan aktif mengenalkan nilai Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah kepada masyarakat di lokasi KKN. Program ini dirancang tidak hanya sebagai edukasi literasi keuangan, tetapi juga sebagai wahana pembentukan sikap kebangsaan dan tanggung jawab sosial mahasiswa dalam kehidupan bermasyarakat.
Salah seorang dosen pembimbing KKN Universitas Mulia, Wahyu Nur Alimyaningtias, S.Kom., M.Kom., menjelaskan bahwa kolaborasi dengan Bank Indonesia melalui Program CBP Rupiah memberikan ruang pembelajaran kontekstual bagi mahasiswa. “Melalui KKN ini, mahasiswa tidak hanya menyampaikan edukasi tentang penggunaan Rupiah yang baik dan bijak, tetapi juga belajar menanamkan nilai kebangsaan serta literasi keuangan secara langsung di tengah masyarakat,” ujarnya.
Pelaksanaan program tersebut terintegrasi dengan kolaborasi lintas pemangku kepentingan, melibatkan perguruan tinggi se-Balikpapan serta seluruh kelurahan di enam kecamatan. Sinergi ini menjadi bagian dari upaya bersama dalam mengedukasi masyarakat agar menggunakan Rupiah secara tepat, bijak, dan bertanggung jawab.

Rektor Universitas Mulia Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i (tengah) didampingi Ketua Panitia KKN Universitas Mulia Tahun 2025 Dr. Pudjiati, S.E., M.M. (kanan) dan Dosen Pembimbing KKN Universitas Mulia Tahun 2025 Wahyu Nur Alimyaningtias, S.Kom., M.Kom. (kiri) pada kegiatan penyerahan penghargaan Program Sinergi KKN dan BI Program Chapter CBP Rupiah oleh Bank Indonesia Balikpapan.
Penghargaan Juara II yang diterima Universitas Mulia merupakan bentuk apresiasi Bank Indonesia terhadap kontribusi akademisi, mahasiswa, dan mitra daerah dalam mendukung penguatan literasi Rupiah melalui pendekatan pengabdian kepada masyarakat yang terstruktur dan kolaboratif. (YMN)
Balikpapan, 10 Oktober 2025 — Laut Indonesia, kendati kaya keanekaragaman hayati, kini berada di bawah tekanan eksploitasi, polusi, dan perubahan iklim. Di tengah tantangan itu, Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si., Rektor Universitas Mulia, menggagas cara pandang baru melalui buku Kecerdasan Buatan untuk Laut Indonesia: Inovasi Teknologi dalam Konservasi Ekosistem Kelautan, yang ia tulis bersama Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I. (Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Universitas Mulia) dan Dr. Hadiratul Kudsiah dosen Universitas Hasanuddin Makassar.

Sampul buku “Kecerdasan Buatan untuk Laut Indonesia: Inovasi Teknologi dalam Konservasi Ekosistem Kelautan” karya Prof. Dr. Muhammad Ahsin Rifa’i dan Yusuf Wibisono.
“Indonesia adalah negara maritim superkaya biodiversitas, namun tertekan oleh eksploitasi berlebih, polusi, dan dampak iklim. Metode konservasi konvensional saja tidak cukup, karena itu kami menulis buku ini untuk mendorong adopsi teknologi terutama AI agar pemantauan, analisis, dan pengambilan keputusan konservasi menjadi lebih cepat, presisi, dan berbasis bukti,” ungkap Prof. Ahsin.
Dari Keterbatasan Lapangan ke Gagasan Humanistik Teknologi
Ide buku ini berangkat dari kesenjangan antara kebutuhan konservasi real-time dan keterbatasan instrumen di lapangan. Prof. Ahsin menegaskan, Universitas Mulia membawa visi technopreneurship yang berpusat pada manusia (human-centered technopreneurship) dengan semangat “AI untuk kemaslahatan manusia dan laut.”
Baginya, teknologi harus menempati posisi etis: bukan sekadar perangkat mekanis, melainkan sarana pemulihan ekosistem, pemberdayaan masyarakat pesisir, dan penguatan kebijakan publik berbasis data.
Tiga Ancaman Nyata dan Satu Masalah Pokok
Prof. Ahsin menyoroti tiga persoalan paling mendesak di laut Indonesia: praktik penangkapan destruktif dan IUU fishing, polusi plastik dan mikroplastik, serta dampak perubahan iklim seperti pemutihan karang dan kenaikan muka air laut.
Namun di balik itu, ia menegaskan adanya akar sistemik: kesenjangan data dan lemahnya infrastruktur pemantauan, yang membuat kebijakan konservasi sering tertinggal dari dinamika kerusakan di lapangan.
Kampus sebagai Ruang Orkestrasi Pengetahuan
Dalam pandangan Prof. Ahsin, perguruan tinggi memiliki peran yang tak tergantikan dalam merangkai disiplin yang tampak berjauhan—dari AI dan data science, hingga ekologi, kebijakan publik, dan sosial maritim.
“Kampus menyediakan metodologi, validasi ilmiah, dan integrasi lintas-disiplin agar solusi tidak spekulatif. Publikasi seperti buku ini merangkum bukti, mengonversinya menjadi strategi yang bisa diadopsi pemerintah, LSM, dan komunitas pesisir,” ujarnya.
Universitas Mulia, lanjutnya, tengah menyiapkan pendekatan pembelajaran dan riset yang menghubungkan laboratorium data laut, sistem IoT dan citra satelit, bioakustik, serta etika dan tata kelola AI, agar teknologi diadopsi secara aman, inklusif, dan berkelanjutan.
Kolaborasi Tiga Ilmuwan Lintas Disiplin
Dalam proses penulisan, masing-masing penulis berkontribusi sesuai kepakaran. Prof. Ahsin dan Hadiratul Kudsiah menyusun fondasi ekosistem dan peta ancaman lingkungan laut, sedangkan Yusuf Wibisono, pakar teknologi dan data dari Universitas Mulia, mengembangkan kerangka machine learning, sensor, dan penerapan AI untuk deteksi IUU fishing, pemantauan mikroplastik, serta prediksi iklim laut.
“Kami menyatukan hasilnya melalui tinjauan bersama agar narasi ilmiah, kebijakan, dan praktik lapangan klop. Hasilnya adalah peta jalan integrasi teknologi kelautan yang aplikatif, bukan sekadar konseptual,” kata Prof. Ahsin.

Rektor Universitas Mulia, Prof. Dr. Muhammad Ahsin Rifa’i, menunjukkan buku karyanya bersama Yusuf Wibisono berjudul “Kecerdasan Buatan untuk Laut Indonesia” saat wawancara eksklusif di ruang kerjanya
Menuju Konservasi Berbasis Kecerdasan
Buku ini bukan sekadar panduan akademik, melainkan ajakan reflektif: bagaimana kecerdasan buatan dapat menjadi bagian dari etika lingkungan dan masa depan konservasi Indonesia.
“Laut Indonesia adalah laboratorium hidup yang membutuhkan kecerdasan manusia dan mesin sekaligus,” tutup Prof. Ahsin. “Kita harus memastikan bahwa teknologi yang kita kembangkan benar-benar berpihak pada kehidupan.” (YMN)
Balikpapan, 30 September 2025 – Universitas Mulia kini semakin memperkuat langkahnya dalam membangun budaya mutu dan tata kelola pendidikan tinggi yang berkualitas. Sebanyak 16 dosen resmi dinyatakan lulus sebagai Auditor Mutu Internal (AMI) setelah mengikuti pelatihan intensif selama dua hari pada 10–11 September 2025 dan menempuh serangkaian uji sertifikasi yang mencakup uji kompetensi teknis dan psikotest khusus auditor.
Pelatihan ini menjadi bagian penting dari strategi universitas dalam meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di bidang penjaminan mutu. Selama proses pelatihan, para peserta mendapatkan pembekalan menyeluruh mulai dari pemahaman regulasi dan standar mutu pendidikan tinggi, teknik audit dan penyusunan laporan, hingga simulasi audit lapangan. Materi disampaikan oleh para praktisi dan narasumber berpengalaman di bidang penjaminan mutu perguruan tinggi, sehingga peserta tidak hanya dibekali pengetahuan teoretis, tetapi juga keterampilan praktis yang relevan dengan kebutuhan audit di lingkungan universitas.
Wakil Rektor Bidang Sumber Daya, Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I., menyampaikan bahwa keberhasilan ini merupakan momentum penting bagi Universitas Mulia dalam memperkuat komitmen terhadap mutu tridharma perguruan tinggi. “Fokus kita bukan pada skor individu, tetapi pada kenyataan bahwa sekarang Universitas Mulia memiliki 16 auditor bersertifikat yang siap bekerja memastikan mutu tridharma berjalan sesuai standar,” ujarnya. Ia menambahkan, keberadaan para auditor baru ini akan memperkuat pelaksanaan audit di seluruh fakultas, program studi, dan unit kerja, sekaligus memastikan bahwa hasil audit dapat dijadikan dasar pengambilan keputusan dan perencanaan perbaikan berkelanjutan.
Lebih jauh, Wibisono menjelaskan bahwa keberadaan auditor internal merupakan salah satu elemen vital dalam penerapan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) di perguruan tinggi. SPMI merupakan instrumen utama untuk memastikan seluruh proses pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat berjalan sesuai standar nasional dan visi institusi. Implementasinya dilakukan melalui siklus PPEPP (Penetapan, Pelaksanaan, Evaluasi, Pengendalian, dan Peningkatan) yang harus dijalankan secara berkelanjutan. Dalam konteks ini, audit mutu internal menempati posisi strategis pada tahap Evaluasi, yaitu memeriksa sejauh mana standar telah diterapkan secara efektif dan konsisten.
“Evaluasi yang objektif tidak dapat dilakukan oleh pimpinan unitnya sendiri. Di sinilah peran auditor dari unit lain menjadi penting untuk memastikan proses evaluasi berlangsung secara independen, profesional, dan dapat dipertanggungjawabkan,” terang Wibisono.
Meski demikian, pelaksanaan AMI di perguruan tinggi tidak lepas dari tantangan. Salah satunya adalah membangun kesadaran dan sikap positif di setiap unit kerja terhadap kehadiran auditor. Menurut Wibisono, paradigma berpikir tentang audit harus bergeser dari kesan pengawasan yang menakutkan menjadi kemitraan yang konstruktif. “Auditor tidak datang untuk mencari kesalahan, tetapi membantu unit kerja melihat sejauh mana standar telah diterapkan dan di mana peluang perbaikannya. Audit seharusnya disambut sebagai upaya kolaboratif dalam memperkuat kualitas institusi,” ujarnya.
Wibisono juga menekankan bahwa kompetensi teknis saja tidak cukup untuk menjadi auditor. Integritas, sikap profesional, dan sensitivitas terhadap konteks kerja menjadi faktor yang tidak kalah penting. Seorang auditor dituntut tidak bersikap arogan atau menghakimi, namun tetap tegas, objektif, dan berpegang pada fakta. “Peran normatif auditor adalah memastikan bahwa seluruh standar yang telah ditetapkan benar-benar dilaksanakan. Namun pada saat yang sama, auditor juga perlu memiliki kepekaan untuk melihat peluang perbaikan dalam semangat continuous improvement,” tegasnya.

Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Universitas Mulia, Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I., saat berdiskusi pada sesi tanya jawab dalam pelatihan Sertifikasi Auditor Mutu Internal (AMI) beberapa waktu lalu.
Ia menambahkan bahwa jika auditor menemukan bahwa suatu standar terlalu mudah dicapai, hal itu dapat menjadi indikasi perlunya peningkatan standar tersebut agar proses pelaksanaan tridharma maupun layanan institusi terus terdorong ke arah yang lebih baik. “Proses perbaikan ini tidak boleh berhenti. Justru harus terus berlanjut agar memberikan dampak nyata terhadap peningkatan mutu institusi secara menyeluruh,” tambahnya.
Kehadiran 16 auditor baru ini tidak hanya menjadi capaian administratif, tetapi juga langkah strategis yang menguatkan fondasi tata kelola Universitas Mulia. Hal ini semakin relevan mengingat pada tahun 2026, universitas akan memasuki fase transformasi menjadi Research and Innovation University, setelah sebelumnya berfokus pada peran sebagai Teaching University. Perubahan orientasi ini menuntut standar mutu yang lebih tinggi, pengelolaan yang lebih sistematis, dan budaya perbaikan berkelanjutan di seluruh lini organisasi.
“Para auditor ini akan menjadi bagian dari ekosistem mutu yang memastikan seluruh proses berjalan sesuai standar, terus diperbarui, dan memberikan dampak nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan, inovasi, serta pengabdian kepada masyarakat. Ini adalah langkah awal yang penting untuk membawa Universitas Mulia ke level yang lebih tinggi,” pungkas Wibisono. (YMN)
Balikpapan, 23 September 2025 – Universitas Mulia (UM) berhasil masuk dalam jajaran perguruan tinggi yang melanjutkan ke tahap kedua ajang Anugerah Humas Diktisaintek 2025. Ajang ini merupakan program apresiasi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi terhadap pengelolaan kehumasan di Perguruan Tinggi Negeri (PTN), Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti), dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di seluruh Indonesia.
Pada tahap awal, seluruh PTN dan PTS di Indonesia menjadi peserta penilaian. Dari proses seleksi tersebut, terpilih 38 PTN, 12 politeknik, dan 33 PTS yang dinyatakan layak melanjutkan ke tahap kedua, termasuk Universitas Mulia di dalamnya.
Tahap kedua akan dilaksanakan pada Rabu, 24 September 2025 pukul 08.30 WITA dengan agenda presentasi. Universitas Mulia akan diwakili oleh Wakil Rektor Bidang Sumberdaya, Yusuf Wibisono, S.E., M.Ti., yang dipercaya untuk menyampaikan paparan mewakili Rektor UM.
Wibisono, menyampaikan bahwa kesempatan ini merupakan ruang belajar dan evaluasi diri. “Kami bersyukur atas amanah ini. Kehumasan bukan hanya wadah penyebaran informasi, tetapi juga cermin nilai dan komitmen universitas untuk melayani masyarakat. Pengakuan ini adalah dorongan agar kami terus menjaga kepercayaan publik,” ujarnya.
Kehadiran Universitas Mulia di antara perguruan tinggi terpilih ini menegaskan komitmen untuk mengembangkan praktik kehumasan yang transparan, akuntabel, dan berlandaskan nilai akademik. Dengan sikap rendah hati, UM menyambut tahap selanjutnya sebagai kesempatan memperkaya pengalaman sekaligus memperkuat kontribusi universitas bagi masyarakat. (YMN)
“Permasalahan utama bukan semata pada perolehan sarana, melainkan pada bagaimana sarana tersebut dapat diintegrasikan secara menyeluruh ke dalam struktur kurikulum sehingga secara efektif memperkuat pencapaian kompetensi lulusan.”
— Wisnu Hera Pamungkas, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Sistem Informasi Universitas Mulia
Balikpapan, 11 Agustus 2025 – Program Penguatan Perguruan Tinggi Swasta (PP-PTS) dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menjadi salah satu instrumen utama untuk memperkuat kapasitas akademik dan sarana prasarana perguruan tinggi swasta di Indonesia. Tahun ini, Universitas Mulia (UM) memperoleh hibah hampir setengah miliar rupiah untuk mendukung dua program studi kunci: Farmasi dan Teknologi Informasi.
Namun, seperti ditegaskan oleh Wakil Rektor Bidang Akademik dan Sistem Informasi UM, Wisnu Hera Pamungkas, S.T.P., M.Eng., keberhasilan pemanfaatan hibah ini lebih dari sekadar angka dana dan peralatan canggih. “Tantangan terbesar bukan hanya mendapatkan peralatan, tetapi bagaimana kita bisa mengintegrasikannya secara penuh ke dalam kurikulum dan memastikan fasilitas ini memperkuat capaian pembelajaran lulusan secara nyata,” ujarnya tegas.
Menerjemahkan Hibah ke Dalam Capaian Pembelajaran
Wisnu menjelaskan, Program Studi Farmasi menerima perangkat laboratorium senilai lebih dari Rp300 juta, termasuk furnace dan hematology analyzer. “Kami harus memastikan bahwa perangkat ini tidak hanya jadi pajangan di laboratorium, melainkan menjadi bagian integral dari RPS dan modul praktikum yang berbasis Outcome Based Education (OBE). Ini juga berarti kami memasukkan prinsip Green Pharmacy dan pharmapreneurship—agar mahasiswa tidak hanya paham teknis, tapi juga sadar akan aspek keberlanjutan dan inovasi kewirausahaan farmasi,” jelasnya.
Di sisi lain, pada Program Studi Teknologi Informasi, pergeseran paradigma praktikum menjadi fokus utama. “Sebelumnya, praktikum lebih banyak bersifat simulasi. Sekarang, dengan keberadaan sandbox lab, mahasiswa bisa langsung berpraktik melakukan simulasi serangan siber, konfigurasi jaringan, hingga deployment cloud nyata. Ini menuntut dosen menyiapkan skenario pembelajaran berbasis proyek yang kompleks dan relevan dengan kebutuhan industri,” tambah Wisnu.
Hibah Sebagai Pemantik Reformasi Kurikulum dan Metode
Hibah PP-PTS bukan sekadar sarana pengadaan peralatan, melainkan pemicu pembaruan kurikulum dan metode pembelajaran. “Di Farmasi, kami akan melakukan revisi RPS dan menambah modul praktikum yang sejalan dengan standar industri farmasi yang terus berkembang,” katanya. “Sedangkan di Teknologi Informasi, perangkat sandbox lab memungkinkan mahasiswa mengakses teknologi terkini dan belajar melalui project-based learning yang menekankan keterampilan aplikatif.”
Dengan pendekatan ini, Universitas Mulia mencoba menjawab kebutuhan zaman yang menuntut lulusan tidak hanya menguasai teori, tetapi juga mampu mengimplementasikan dalam konteks nyata.
Pengawasan Mutu dari Log Book Hingga Evaluasi Capaian Kompetensi
Memastikan fasilitas hibah tidak menjadi simbol semata, UM menerapkan mekanisme monitoring dan evaluasi (monev) yang berlapis. “Kami mulai dari pencatatan penggunaan alat oleh dosen dan laboran lewat log book, survei kepuasan dosen dan mahasiswa, hingga evaluasi capaian kompetensi mata kuliah. Indikator keberhasilan seperti jumlah revisi RPS dan persentase capaian CPL sudah kami tetapkan sejak proposal hibah,” terang Wisnu.
Hal ini menunjukkan komitmen UM untuk menjadikan hibah sebagai investasi nyata dalam kualitas pembelajaran, bukan sekadar pemenuhan administratif.
Meningkatkan Kompetensi Dosen sebagai Kunci Keberhasilan
Dosen dan laboran mendapat perhatian khusus dalam peningkatan kompetensi teknis. “Pelatihan teknis sudah kami rancang agar mereka bukan hanya operator alat, tetapi mampu mengintegrasikan teknologi ini dalam pembelajaran berbasis kasus dan proyek,” kata Wisnu. Di Farmasi, pelatihan fokus pada pengoperasian furnace dan mikroskop trinokuler dengan kamera, serta menggabungkannya dalam modul Problem-Based Learning. Di TI, pelatihan meliputi pengoperasian perangkat keras jaringan, server, dan sandbox lab dengan pengembangan skenario pengajaran berbasis kasus nyata.
Menurut Wisnu, “Keberhasilan fasilitas hibah sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusia yang mengelolanya dan mengoptimalkannya dalam proses belajar mengajar.”
Fasilitas sebagai ‘Living Laboratory’
UM mengambil langkah inovatif menjadikan fasilitas hibah sebagai living laboratory yang melibatkan mahasiswa secara aktif. “Mahasiswa Farmasi akan dilibatkan dalam proyek inovasi produk berbasis bahan alam dari tahap standarisasi hingga uji keamanan,” jelas Wisnu. “Sementara mahasiswa TI akan mengerjakan proyek keamanan siber, konfigurasi jaringan, dan eksperimen cloud computing dalam skenario nyata.”
Melalui berbagai mekanisme seperti tugas proyek, capstone project, dan kompetisi, fasilitas ini diharapkan menjadi ruang eksplorasi dan inovasi mahasiswa, bukan hanya alat bantu pengajaran.
(YMN)
“Hibah ini bukan sekadar penghargaan, melainkan amanah yang meneguhkan peran Universitas Mulia sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan kemanfaatan publik. Dengan semangat kolaborasi dan dedikasi tanpa henti, kita akan memastikan bahwa setiap riset, inovasi, dan pengabdian masyarakat yang lahir dari kampus ini menjadi cahaya yang menerangi kemajuan bangsa dan peradaban,”—Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si.
Balikpapan, 11 Agustus 2025 – Universitas Mulia (UM) berhasil lolos seleksi Program Penguatan Perguruan Tinggi Swasta (PP-PTS) tahun 2025 yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek). Melalui program ini, UM menerima hibah untuk dua program studi, yaitu S1 Farmasi dan S1 Teknologi Informasi.
“Hibah ini bukan sekadar bantuan peralatan,” ujar Prof. Ahsin, “tetapi katalis percepatan transformasi menuju visi 2045 sebagai perguruan tinggi berbasis technopreneurship yang unggul dalam IPTEK. Dengan dukungan fasilitas modern, kami dapat memperkuat ekosistem pembelajaran, riset terapan, dan kolaborasi internasional, sekaligus meningkatkan daya saing lulusan, kapasitas dosen, serta reputasi institusi di mata publik dan mitra strategis.”
Menurutnya, setelah hibah ini diterima, UM harus berperan sebagai penggerak peningkatan mutu pendidikan tinggi. “Fasilitas ini harus dimanfaatkan untuk memperkuat OBE, pembelajaran digital, dan layanan akademik,” tegasnya. “Kami juga ingin UM menjadi mitra strategis pemerintah dalam pemerataan akses pendidikan bermutu yang mendukung Indonesia Emas 2045, sekaligus menjadi pusat inovasi dan kolaborasi multipihak.”
Prof. Ahsin menambahkan, pemanfaatan hibah perlu dirancang agar berkelanjutan. “Fasilitas ini harus diintegrasikan ke dalam kurikulum berbasis OBE, dosen dilatih agar optimal memanfaatkannya, lalu dilakukan monitoring dan evaluasi berkala. Kami juga mendorong kolaborasi lintas program studi, dan mengukur dampaknya lewat tracer study serta evaluasi keterampilan lulusan,” jelasnya.
Ia menilai hibah PP-PTS 2025 selaras dengan roadmap universitas. “Ini mendukung percepatan fase Teaching University dalam lima tahun ke depan, sekaligus menjadi fondasi transisi ke Research & Technopreneurship University dalam sepuluh tahun, sehingga target visi 2045 bisa dicapai lebih cepat dan terukur.”
Terkait strategi eksternal, Prof. Ahsin menyampaikan, “Kami ingin memperluas eksposur akademik UM melalui publikasi capaian dan inovasi di media nasional dan internasional, membangun kemitraan strategis dengan perguruan tinggi dan industri global, serta menginisiasi program unggulan seperti riset kolaboratif, pertukaran dosen-mahasiswa, dan konferensi internasional.”
Tentang target berikutnya, ia menjelaskan, “Milestone besar setelah ini adalah meraih akreditasi institusi ‘Unggul’ BAN-PT, memperoleh sertifikasi internasional untuk program studi prioritas, membangun pusat riset dan inovasi technopreneurship berskala nasional, serta menjalin kemitraan global yang menghasilkan program pertukaran, riset bersama, dan publikasi bereputasi tinggi.”
Prof. Ahsin juga memberi pesan langsung kepada mahasiswa. “Hibah ini adalah investasi nyata untuk masa depan kalian. Fasilitas dan teknologi yang dihadirkan akan membuat proses belajar lebih modern, interaktif, dan relevan dengan kebutuhan dunia kerja global. Mahasiswa akan belajar di lingkungan yang semakin berkualitas, dengan laboratorium dan infrastruktur canggih yang membuka peluang riset, inovasi, dan kolaborasi internasional. Bagi calon mahasiswa, ini bukti bahwa UM terus berkembang dan berkomitmen mempersiapkan lulusan kompeten, berdaya saing tinggi, dan siap menjadi bagian dari generasi Indonesia Emas 2045.”
Menutup wawancara, ia menegaskan, “Perlu ada target terukur seperti peningkatan publikasi di jurnal bereputasi, lahirnya paten dan prototipe inovatif, serta prestasi mahasiswa di tingkat nasional dan internasional. Hibah ini membuktikan pentingnya keberanian berinovasi, konsistensi menjaga mutu, dan kesiapan tata kelola. Semua PTS sebaiknya menjadikan setiap dukungan, termasuk hibah, sebagai pemicu transformasi berkelanjutan.”
(YMN)










