Oleh: Yamani, S.S., M.Pd.
Pengurus PC DMI Balikpapan Kota | Pengurus  MUI Kecamatan Balikpapan Kota | Dosen Universitas Mulia

 

Balikpapan, 24 April 2026— Ada masjid yang lantainya mengilap. Keramiknya serasi dengan warna dinding. Lampunya terang, bahkan terlalu terang untuk sekadar membaca mushaf. Semua tampak rapi, bersih, dan menenangkan mata.

Namun di sela-sela keindahan itu, ada sesuatu yang pelan-pelan menghilang. Tidak terdengar lagi riuh anak-anak belajar mengaji selepas magrib. Jarang terlihat remaja duduk berlama-lama, berdiskusi tentang hidup, tentang masa depan, atau sekadar mencari tempat pulang. Masjid tetap berdiri megah, tetapi terasa sunyi—bukan karena tidak ada orang, melainkan karena tidak ada kehidupan di dalamnya selain yang lima waktu.

Barangkali di titik ini kita perlu berhenti sejenak. Bukan untuk menyalahkan siapa pun, melainkan untuk bertanya dengan jujur: apakah kita sedang merawat masjid, atau tanpa sadar justru sedang mengosongkannya?

Dalam bayangan yang lebih utuh, masjid tidak hanya menjadi tempat untuk menunaikan shalat. Ia adalah ruang hidup. Tempat iman bertumbuh bersama ilmu. Tempat seorang anak pertama kali mengenal huruf-huruf Al-Qur’an. Tempat seorang pemuda yang gelisah menemukan arah. Tempat di mana yang lemah dikuatkan dan yang kebingungan dipeluk oleh kebersamaan.

Sejarah pernah menunjukkan itu. Di Masjid Nabawi pada masa Nabi Muhammad SAW, masjid bukan hanya ruang ibadah, tetapi pusat kehidupan umat. Di sana orang belajar, bermusyawarah, menyusun strategi, bahkan menyelesaikan persoalan sosial. Masjid menjadi jantung peradaban.

Lalu kita melihat keadaan hari ini. Banyak masjid tetap ramai saat waktu shalat, tetapi kembali lengang setelahnya. Dana kas terkumpul, bahkan tidak sedikit yang melimpah, tetapi penggunaannya sering berputar pada hal-hal yang serupa: memperindah bangunan, menyempurnakan tampilan, merapikan yang sebenarnya masih layak.

Tempat wudhu diganti bukan karena rusak, melainkan karena warnanya tidak lagi selaras. Keramik dibongkar bukan karena pecah, tetapi karena dianggap kurang sedap dipandang. Sementara itu, di luar pagar masjid, ada anak-anak yang belum tersentuh pembinaan, ada remaja yang mencari jati diri di tempat lain, ada keluarga yang membutuhkan uluran tangan tetapi tidak tahu harus ke mana.

Ini bukan semata-mata soal benar atau salah. Tidak ada yang keliru dalam keinginan memuliakan rumah Allah dengan tampilan terbaik. Tetapi ada sesuatu yang perlu diluruskan: ukuran keberhasilan masjid tidak seharusnya berhenti pada apa yang terlihat oleh mata.

Kita cenderung memilih sesuatu yang hasilnya langsung tampak. Mengganti keramik itu jelas hasilnya. Mengecat ulang dinding, memperbaiki plafon, menambah ornamen—semuanya memberi rasa puas yang cepat. Sementara membangun manusia adalah pekerjaan sunyi. Tidak selalu terlihat. Tidak selalu bisa diukur dalam waktu dekat.

Padahal, lantai yang mengilap tidak pernah bisa menggantikan kosongnya hati seorang pemuda yang tidak pernah disentuh pembinaan. Dinding yang rapi tidak akan menjawab kegelisahan seorang anak yang tumbuh tanpa arah.

Di sinilah letak amanah yang sering luput kita sadari. Dana masjid bukan sekadar angka yang harus dihabiskan atau disimpan. Ia adalah titipan kepercayaan. Setiap rupiah yang masuk membawa harapan agar masjid menjadi lebih hidup, lebih bermanfaat, lebih dekat dengan umat.

Maka pertanyaan yang semestinya kita ajukan bukan hanya, “Apakah ini boleh dilakukan?” tetapi juga, “Apakah ini yang paling dibutuhkan?”

Ada bagian yang mungkin paling sunyi dari semua ini: ketika remaja tidak lagi merasa masjid sebagai ruangnya. Mereka datang, menunaikan shalat, lalu pergi. Tidak ada alasan untuk tinggal. Tidak ada kegiatan yang memanggil. Tidak ada peran yang membuat mereka merasa dibutuhkan.

Masjid tetap berdiri. Tetapi generasi perlahan menjauh.

Perubahan ini tidak terjadi dalam satu malam. Ia datang perlahan, hampir tanpa suara. Hingga suatu hari kita menyadari bahwa yang tersisa hanya barisan yang semakin menua, sementara yang muda memilih mencari tempat lain untuk bertumbuh.

Mungkin yang perlu kita ubah bukan hanya program, tetapi cara pandang. Dari melihat masjid sebagai bangunan yang harus selalu tampak indah, menjadi ruang yang harus selalu terasa hidup. Dari fokus pada fisik, menjadi perhatian pada manusia yang datang dan pergi di dalamnya.

Renovasi tetap penting, tetapi ia seharusnya mengikuti kebutuhan, bukan sekadar selera. Ia menjadi pelengkap, bukan pusat dari segala perhatian.

Bayangkan sebuah masjid yang siangnya diisi suara anak-anak belajar membaca Al-Qur’an, sorenya dipenuhi remaja yang berdiskusi dan berkegiatan, malamnya menghadirkan kajian yang menenangkan hati, dan di sela-selanya ada tangan-tangan yang diam-diam membantu mereka yang kesulitan.

Mungkin tidak semua sudutnya sempurna. Mungkin catnya tidak selalu baru. Tetapi setiap bagiannya hidup.

Orang-orang datang bukan hanya untuk menunaikan kewajiban, tetapi karena mereka merasa di sanalah mereka bertumbuh.

Tulisan ini tidak sedang menunjuk siapa yang salah. Hampir semua pengurus masjid bekerja dengan niat yang tulus. Namun niat baik, tanpa arah yang tepat, kadang tidak cukup.

Barangkali yang kita butuhkan hari ini adalah keberanian untuk bertanya, dengan jujur dan tanpa defensif: apakah yang kita lakukan selama ini benar-benar menghidupkan umat?

Jika pertanyaan itu mulai kita rawat, mungkin perubahan tidak akan datang dengan gegap gempita. Ia akan hadir pelan-pelan, dalam langkah kecil yang konsisten. Dan suatu hari nanti, kita tidak lagi bangga hanya karena masjid kita indah, tetapi karena masjid itu benar-benar hidup—menghidupkan. (YMN)

 

Oleh: Yamani, S.S., M.Pd.
Pengurus PC DMI Balikpapan Kota | Pengurus  MUI Kecamatan Balikpapan Kota | Dosen Universitas Mulia

Balikpapan, 22 April 2026 — Di tengah maraknya masjid yang sibuk dengan pembangunan fisik megah namun minim aksi sosial, Masjid As-Salam justru tampil sebagai pengecualian. Masjid ini bukan hanya menjadi tempat ibadah formal lima waktu, tetapi juga menjadi episentrum distribusi keadilan sosial melalui aksi konkret—membagikan hewan kurban ke masjid dan musholla yang kekurangan.

Program ini tidak sekadar amal tahunan, melainkan bentuk keberpihakan: pada masjid kecil, pada jamaah yang tidak mampu berkurban, pada musholla yang selama ini tertinggal dalam arus sentralisasi kegiatan keagamaan. Di sinilah Masjid As-Salam menunjukkan fungsinya sebagai masjid progresif, yang tidak hanya membangun menara, tetapi juga membangun sesama.

Para pengurus DKM As-Salam tampaknya mengerti betul, bahwa hakikat kurban bukan terletak pada berapa banyak sapi yang disembelih di halaman masjid sendiri, bukan pula pada ramai dan megahnya suasana penyembelihan. Kurban adalah tentang menjangkau mereka yang nyaris tak pernah mencicipi daging kurban di Hari Raya, yang sering luput dari radar kepedulian kita. Di sanalah mereka hadir—bukan sebagai pemberi semata, tetapi sebagai penghubung kasih sayang antar sesama, menjembatani kesenjangan yang kadang tak terlihat mata, namun terasa dalam hati yang peka.

Ironisnya, di kota-kota besar, masih banyak masjid besar berlomba menyembelih sebanyak mungkin hewan kurban—seringkali hanya untuk konsumsi lokal yang sebenarnya sudah berkecukupan. Sementara di gang-gang sempit, di pinggir kota, ada musholla-musholla yang bertahun-tahun tidak pernah menyelenggarakan kurban. Di sinilah peran Masjid As-Salam menjadi signifikan dan menyentuh jantung problem struktural umat: kesenjangan distribusi keberkahan.

Masjid As-Salam tidak berhenti pada ritual dan keramaian seremonial. Mereka memilih untuk melangkah lebih jauh—melintasi batas-batas geografis dan sosial, menyusuri masjid-masjid kecil di pinggiran, musholla sederhana yang nyaris tak terdengar namanya, hingga ke sudut-sudut pelosok yang hanya dikenal oleh mereka yang peduli. Yang dibawa bukan sekadar daging kurban, tetapi harapan dan pengakuan: bahwa saudara-saudara kita di sana tidak dilupakan. Bahwa Idul Adha bukan milik segelintir, tapi milik semua. Melalui tindakan itu, Masjid As-Salam seakan berbisik dengan kasih, “Kami datang karena kami peduli. Anda bagian dari kami. Kebahagiaan hari raya ini pun hak Anda.”

Takmir Masjid As-Salam menyebut, program ini juga menjadi sarana pendidikan bagi jamaahnya sendiri. Bahwa nilai kurban tidak berhenti di bilah pisau, melainkan pada ketulusan untuk meniadakan batas-batas ego wilayah dan struktur masjid. Bahwa daging bukan hanya soal asupan, tetapi juga tentang pengakuan dan penghargaan atas keberadaan saudara seiman yang tersembunyi dari sorotan pusat kota.

Apakah model Masjid As-Salam ini bisa direplikasi? Bukan hanya bisa—harusnya menjadi keharusan moral. Bahkan lebih jauh, inilah seharusnya standar baru bagi masjid-masjid kita: tidak hanya megah dalam arsitektur dan penuh saat salat Jumat, tetapi juga hidup dalam nadi kepedulian sosial. Sebab fungsi sosial masjid sejatinya bukan sekadar wacana dalam kitab atau materi ceramah—ia baru sah disebut masjid umat ketika mampu menyambung yang lemah, bukan hanya memanjakan yang kuat. Ketika ada masjid yang merasa cukup hanya dengan ramai dan gemerlap di tengah kota, Masjid As-Salam justru memilih menengok yang sunyi dan tersisih. Dan di sanalah, ruh sejati Idul Adha dan makna masjid itu sendiri menemukan bentuk terbaiknya.

Kurban yang ideal bukan diukur dari berapa banyak hewan yang dipotong di satu lokasi, atau seberapa viral suasana penyembelihannya. Kurban yang sejati adalah yang manfaatnya menjangkau lebih luas—menemukan mereka yang selama ini hanya bisa menonton dari jauh, menanti dengan harap yang sering tak terjawab. Dalam hal ini, Masjid As-Salam memberi kita pelajaran penting: bahwa keadilan sosial umat tak selalu dimulai dari program besar, tetapi dari niat tulus untuk berbagi, dan keberanian untuk berpihak pada yang nyaris tak terdengar suaranya. Ironisnya, justru banyak masjid yang lebih sibuk mengelola citra dan keramaian, tetapi melupakan esensi: bahwa kurban adalah tentang siapa yang disantuni, bukan tentang siapa yang dipameri. (YMN)

Oleh: Yamani, S.S., M.Pd.

 

Balikpapan, 21 April 2026—Pagi itu, rumah kami berubah menjadi ruang ganti kecil yang riuh. Anak saya—yang masih di PAUD—berdiri di depan cermin dengan mata berbinar. Ia belum benar-benar memahami siapa Raden Ajeng Kartini, tapi ia tahu satu hal: hari itu ia harus tampil “cantik” dengan pakaian adat.

Ibunya mengambil peran dengan kesungguhan yang tidak main-main. Mencari, memilih, lalu menyewa baju adat Bugis yang menurutnya paling anggun. Kainnya jatuh rapi, warnanya lembut, dan ketika dikenakan, anak kami tampak seperti versi kecil dari masa lalu yang dipinjam sebentar untuk difoto. Ia tersenyum lebar. Kami pun, tanpa sadar, ikut larut dalam kebahagiaan yang sederhana itu.

Tidak ada yang salah di sana. Bahkan terasa hangat.

Namun, siang harinya—sekitar pukul 14:44 wita, realitas saya bergerak di jalur yang berbeda.

Sebuah pesan masuk dari kampus—terlambat, —memberitahukan bahwa dalam rangka Hari Kartini, seluruh civitas diminta mengenakan baju adat atau batik. Masalahnya sederhana: saya tidak punya. Batik lama telah lama menjadi kenangan yang tidak lagi muat di badan yang, entah sejak kapan, mulai bernegosiasi dengan gravitasi.

Waktu pun tidak berpihak. Dari sore hingga malam, saya mengajar. Tidak ada ruang untuk berbelanja, bahkan sekadar mencari pinjaman. Di tengah situasi itu, saya berdiri di depan lemari, menatap pilihan yang semakin menyempit, hingga akhirnya menemukan satu potong “jalan keluar”: batik organisasi Dewan Masjid.

Saya memakainya. Sedikit longgar di beberapa bagian, sedikit aneh di bagian lain. Tapi cukup untuk memenuhi syarat administratif yang tidak tertulis: yang penting terlihat ikut merayakan.

Di titik itulah, saya mulai bertanya—pelan, tapi mengganggu: apa sebenarnya yang sedang kita rayakan?

Jika kita kembali membaca surat-surat Raden Ajeng Kartini, kita tidak akan menemukan satu pun paragraf yang membicarakan kebaya sebagai alat perjuangan. Yang kita temukan justru kegelisahan intelektual, kritik terhadap keterbatasan akses pendidikan, dan hasrat yang nyaris radikal untuk berpikir merdeka.

Kartini tidak sedang memperjuangkan pakaian. Ia memperjuangkan kemungkinan.

Namun hari ini, kemungkinan itu sering direduksi menjadi simbol. Kebaya dan baju adat menjelma menjadi semacam “bahasa cepat” untuk menunjukkan bahwa kita sedang mengingatnya. Sebuah kode visual yang mudah dikenali, mudah direplikasi, dan—sayangnya—mudah pula kehilangan makna.

Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Dalam kajian budaya, ada kecenderungan yang disebut sebagai simbolisasi dangkal: ketika sesuatu yang kompleks dipadatkan menjadi tanda yang sederhana, lalu diulang terus-menerus hingga terasa cukup. Dalam konteks ini, kebaya menjadi tanda itu. Ia menggantikan diskursus.

Padahal, mengganti diskursus dengan simbol adalah bentuk kemalasan intelektual yang paling halus.

Di sekolah anak saya, kebaya itu berhasil menghadirkan kegembiraan. Anak-anak tertawa, berfoto, dan merasa istimewa. Itu penting. Masa kanak-kanak memang membutuhkan momen-momen seperti itu.

Tetapi di ruang yang lebih dewasa—kampus, misalnya—kita seharusnya bergerak lebih jauh dari sekadar estetika. Ketika mahasiswa dan dosen diminta mengenakan batik tanpa ruang dialog tentang gagasan Kartini, yang terjadi bukan internalisasi nilai, melainkan kepatuhan administratif yang dibungkus budaya.

Lebih jauh lagi, ada ironi yang sulit diabaikan.

Kita merayakan kebebasan yang Raden Ajeng Kartini perjuangkan, namun dalam cara-cara yang diam-diam membatasi ruang untuk menjadi diri sendiri. Tanpa disadari, peringatan ini belum sepenuhnya memberi tempat bagi semangat kritis yang pernah ia nyalakan. Dalam kondisi seperti itu, kebaya tidak lagi menjadi simbol budaya. Ia berubah menjadi kostum.

Apakah ini berarti kita harus berhenti memakai kebaya atau baju adat saat Hari Kartini?

Tidak sesederhana itu.

Simbol tetap punya tempat. Ia bisa menjadi pintu masuk, terutama bagi anak-anak. Ia bisa menjadi cara awal untuk mengenal identitas dan sejarah. Namun masalah muncul ketika pintu itu tidak pernah dibuka lebih lebar—ketika orang berhenti di ambang, merasa sudah sampai tujuan.

Yang kita butuhkan bukan penghapusan simbol, melainkan pemulihan makna.

Bayangkan jika di sekolah anak saya, setelah memakai baju adat, guru mengajak mereka—dengan cara yang sederhana—untuk memahami bahwa perempuan boleh bercita-cita setinggi apa pun. Bayangkan jika di kampus, alih-alih sekadar instruksi berpakaian, ada ruang diskusi tentang bagaimana gagasan Kartini masih relevan dalam isu akses pendidikan, kesetaraan kerja, atau bahkan dinamika rumah tangga modern.

Di sana, kebaya akan kembali menjadi simbol yang hidup—bukan sekadar kain yang difoto lalu dilupakan.

Pagi ini ketika saya mengenakan batik Dewan Masjid yang “apa adanya”, saya sempat tersenyum sendiri. Ada sedikit kelucuan, ada sedikit kejanggalan. Tetapi di balik itu, ada kesadaran yang pelan-pelan mengendap: kita sering terlalu sibuk terlihat merayakan, hingga lupa untuk benar-benar memahami apa yang dirayakan.

Anak saya mungkin belum mengerti siapa Kartini. Tapi suatu hari nanti, ia akan bertanya. Dan ketika itu terjadi, saya berharap bisa menjawab lebih dari sekadar, “Dia perempuan yang pakai kebaya.”

Saya ingin mengatakan bahwa ia adalah perempuan yang membuka kemungkinan—dan bahwa kemungkinan itu tidak pernah datang dari pakaian, melainkan dari keberanian untuk berpikir, belajar, dan melampaui batas yang dianggap wajar.

Jika tidak, kita hanya akan mewariskan satu hal: lemari penuh simbol, tetapi pikiran yang tetap sempit. (YMN)

 

Oleh: Yamani, S.S., M.Pd.

Balikpapan, 22 Desember 2025— Hari ini, umat Islam kehilangan seorang penjaga masjid yang sejati. Bukan penjaga pintu, bukan penjaga bangunan—tetapi penjaga ruh masjid.

Berpulangnya Ustadz Muhammad Jazir, S.Pd. bukan sekadar kabar duka, melainkan peringatan sunyi bagi kita semua: bahwa hidup adalah amanah, dan masjid adalah ladang pengabdian.

Beliau mengajarkan kepada kita bahwa masjid tidak boleh berdiri megah sendiri namun sepi dari kepedulian. Bahwa masjid bukan tempat menyimpan uang, melainkan tempat menyalurkan harapan umat. Dengan keteladanan, bukan retorika, beliau menunjukkan bagaimana infak menjadi solusi, bukan angka laporan.

Kalimat beliau yang sederhana namun menghantam nurani, “Masjid tidak boleh kaya sementara jamaahnya miskin.”

Itu bukan slogan. Itu teguran bagi takmir, cambuk bagi pengurus, dan cermin bagi setiap DKM yang masih merasa aman dengan saldo, tetapi abai terhadap tangis jamaah.

Masjid Jogokariyan menjadi saksi bahwa masjid bisa hadir di saat rakyat lapar, bisa mengetuk pintu rumah jamaahnya, bisa memeluk anak muda, bisa menjadi rumah kedua bagi yang tak punya siapa-siapa.

Kini beliau telah kembali kepada Pemilik masjid yang sesungguhnya—Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. Namun pertanyaannya bukan lagi tentang beliau. Pertanyaannya tentang kita. Apakah masjid yang kita urus sudah benar-benar hidup? Apakah DKM kita hanya sibuk rapat dan laporan, atau sungguh-sungguh turun melayani umat? Apakah mimbar kita hanya lantang berbicara, atau masjid kita juga hadir memberi solusi?

Pengurus Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Balikpapan berfoto bersama almarhum KH. Muhammad Jazir dari Masjid Jogokariyan dalam kegiatan Pelatihan Manajemen Masjid Bersinar.

Wafatnya Ustadz Muhammad Jazir adalah amanah terakhir bagi para pengurus masjid:
jangan biarkan masjid kehilangan ruhnya. Jangan biarkan masjid jauh dari umatnya. Jangan biarkan masjid megah tetapi asing bagi jamaahnya.

Beliau mengajarkan bahwa dana masjid bukan sekadar untuk dihabiskan, melainkan untuk dihadirkan maknanya dalam kehidupan umat. Bahwa sebuah kegiatan, sekecil apa pun, menjadi sangat bernilai ketika mampu meringankan beban jamaah, menenangkan hati mereka, dan membuat masjid terasa dekat dan memeluk. Melalui teladan beliau, kita diajak untuk menata kembali niat—agar setiap program bukan sekadar berjalan, tetapi menghidupkan; bukan sekadar terlihat, tetapi terasa; bukan sekadar selesai, tetapi bermakna bagi jamaah yang kita layani.

Semoga Allah menerima seluruh amal jariyah beliau, melipatgandakan pahala dari setiap masjid yang tergerak karena teladannya, dan menjadikan kita—para pengurus DKM—sebagai penerus yang jujur, berani, dan amanah.

Karena sejatinya, takmir masjid bukan jabatan, tetapi jalan sunyi menuju akhirat.

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

Balikpapan, 25 November 2025 — Peringatan Hari Guru Nasional di Universitas Mulia menjadi momentum refleksi terhadap makna profesi pendidik di era digital. Bagi Dr. Linda Fauziyah Ariyani, M.Pd., peran guru, dosen, maupun pembina kewirausahaan tidak hanya berada pada ranah transfer ilmu, tetapi menyentuh dimensi kemanusiaan dan pengembangan potensi mahasiswa.

Sebagai Dosen Manajemen sekaligus Kepala Inkubator Bisnis UM, Dr. Linda menilai bahwa teknologi memang telah memperluas akses belajar, namun masih ada satu hal yang tidak dapat digantikan—sentuhan hati seorang pendidik.

“Pendidik adalah lentera dalam kegelapan. Teknologi banyak mengubah pembelajaran, namun hanya guru yang mampu menyentuh hingga ke hati siswa,” tegasnya.

Dalam membimbing mahasiswa di kelas maupun di lingkungan inkubator bisnis, ia melihat bahwa setiap mahasiswa membawa bakat masing-masing sejak lahir. Tantangannya bukan sekadar menciptakan mahasiswa yang unggul secara akademik, namun menemukan keunikan potensi mereka dan mengarahkannya pada titik optimal.

“Tugas guru adalah menemukan bakat siswa dan mengoptimalkannya dengan baik. Jika ada siswa yang belum tampak kelebihannya, artinya guru belum berhasil menemukan bakatnya,” ujarnya.

Untuk menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus bermakna bagi mahasiswa, Dr. Linda menerapkan pendekatan LINDA METHODS. Pendekatan ini tidak hanya menata pola mengajar, tetapi menghadirkan ruang yang mendorong motivasi intrinsik mahasiswa.

Ia menjelaskan bahwa LINDA METHODS terdiri atas:

  • Lead with energy, mengajar dengan energi dan semangat;
  • Involve through structure, mendesain suasana kelas melalui pengaturan ruang dan aktivitas;
  • Narrative learning, menghadirkan kisah inspiratif dalam pembelajaran;
  • Dialogue reflective, melibatkan dialog aktif alih-alih monolog;
  • Active synthesis, mahasiswa menyusun kesimpulan pembelajaran, bukan guru.

Menurutnya, integrasi elemen-elemen tersebut menjadikan kelas lebih hidup dan meninggalkan kesan yang kuat bagi mahasiswa, sekaligus menumbuhkan keberanian untuk bermimpi besar, memulai langkah kewirausahaan, dan tetap disiplin dalam jalur akademik.

Menutup wawancara, Dr. Linda menyampaikan pesan bahwa pendidikan harus terus menjadi bagian dari setiap aspek kehidupan manusia. Ia mengingatkan bahwa orientasi pendidikan tidak sekadar keuntungan material, namun peningkatan kualitas hidup.

“Pendidikan memang tidak pernah menjamin seseorang menjadi kaya, tapi pendidikan akan selalu menjadikan kualitas kehidupan manusia lebih baik,” ungkapnya.

Pernyataan tersebut menjadi refleksi kuat di Hari Guru Nasional: kualitas pendidikan ditentukan oleh kemauan pendidik untuk terus hadir, membimbing, serta menemukan bakat terbaik yang dimiliki setiap mahasiswa. (YMN)

 

Balikpapan, 25 November 2025 Peringatan Hari Guru di Program Studi PGPAUD Universitas Mulia menjadi momentum refleksi mendalam tentang makna pendidik sebagai pembentuk fondasi peradaban sejak usia dini. Hari besar ini tidak sekadar menjadi penanda tanggal, tetapi menjadi pengingat peran guru PAUD sebagai agen perubahan di mana masa depan anak — dan masa depan bangsa — sedang dirancang.

Kaprodi PGPAUD, Bety Vitraya, S.Pd., M.Pd., menyampaikan bahwa Hari Guru merupakan pengingat tentang hakikat pendidik sebagai agen perubahan. “Kami mendidik manusia sebelum ia tahu bahwa ia adalah agen perubahan. Kami tidak hanya mengajarkan huruf atau angka, tetapi menanamkan empati, kepercayaan diri, dan imajinasi pada anak yang bahkan belum bisa mengungkapkan perasaan dan pikirannya,” ujarnya. Ia menegaskan, Hari Guru menjadi momen untuk tidak tenggelam dalam rutinitas hingga kehilangan makna dari profesi itu sendiri.

Guru PAUD: Dari Arsitek Peradaban Menjadi ‘Tukang Cat’

Bety menyebut realitas di lapangan masih jauh dari apresiasi ideal. Label “arsitek peradaban” berbanding terbalik dengan perlakuan yang diterima. “Di lapangan, arsitek ini sering dipakai sebagai tukang cat. Disuruh jagain anak saja, padahal kami sedang merancang jaringan syaraf kebaikan,” ujar­nya. Ia menyinggung masih adanya guru PAUD dengan gaji Rp400 ribu per bulan, serta sekolah yang menuntut inovasi tanpa fasilitas dasar. Namun, dalam tekanan tersebut para pendidik justru menunjukkan jati diri terbaik mereka. “Arsitek sejati tidak mengeluh saat tanahnya berbatu. Ia merancang fondasi dari batu itu—memberdayakan apa pun yang ada agar anak pulang dari sekolah membawa pengalaman baru.”

PGPAUD Universitas Mulia: Tidak Sekadar ‘Siap Kerja’, tetapi ‘Siap Hidup’

Berbicara tentang proses pendidikan calon guru PAUD, PGPAUD UM tidak menyiapkan mahasiswa sekadar untuk mendapatkan pekerjaan. Prodi mengarahkan mahasiswa untuk siap menghadapi dinamika nyata di dunia pendidikan anak usia dini. Kurikulum PGPAUD berdiri di atas tiga pilar: kompetensi, kreativitas, dan karakter, dengan 60% praktik lapangan. Mahasiswa didorong untuk menganalisis kasus nyata di sekolah PAUD dan mengubahnya menjadi pengalaman pembelajaran.
“Mereka harus paham dunia anak itu bukan teori. Mereka harus bisa membaca situasi, merasakan emosi, dan merespons dengan ilmu dan ketulusan.”

 Tiga Luka Besar: Gaji Rendah, Minim Pelatihan, dan Stigma Sosial

Saat ditanya tentang tantangan terbesar guru PAUD, Bety menyebut tiga persoalan yang masih akut:

  1. Gaji tidak layak – status dan tunjangan guru PAUD perlu regulasi yang jelas dan adil.
  2. Minim pelatihan – guru PAUD bukan sekadar pendidik, tetapi pembimbing anak dengan keunikan karakter; pelatihan berkelanjutan adalah kebutuhan strategis.
  3. Stigma “cuma babysitter” – masyarakat perlu menyadari kompleksitas tugas guru PAUD, termasuk mengasuh, menyuapi, mendampingi toilet training, hingga menenangkan anak dengan kebutuhan khusus.

“Ucapan terima kasih sederhana saat menjemput anak penting untuk mengikis stigma. Ada profesi suci di balik pekerjaan yang tampak sederhana.”

Guru PAUD Ideal: Bukan Superhero, Melainkan Manusia Super

Dalam pandangan Bety, guru PAUD profesional bukanlah tokoh fiksi serba bisa, melainkan manusia sungguhan dengan indra yang bekerja melampaui kemampuan biasa:

  • Mata: melihat potensi, bukan keterbatasan.
  • Telinga: mendengar keheningan anak dengan kebutuhan khusus.
  • Tangan: kanan menulis, kiri memegang hati anak.
  • Kaki: berpijak pada realitas, melangkah ke masa depan.
  • Hati: penuh cinta, namun terjaga oleh disiplin.

Pesan untuk Guru PAUD: “Dunia Mungkin Tidak Tahu Namamu, tapi Sejarah Anak Mengabadikanmu”

Ungkapan paling emosional muncul saat Bety menyampaikan pesan Hari Guru untuk para pendidik PAUD di seluruh Indonesia.

“Untuk guru PAUD yang makan siangnya nasi dan telur digoreng dua kali agar anak-anak tetap bisa makan buah: kamu tidak sedang mengajar—kamu sedang menyelamatkan dunia dari kehilangan kebaikan.” Ia melanjutkan, “Ketika kamu berlutut menemani anak menangis karena puzzle tidak pas, itu adalah foto paling dekat dengan surga. Dunia mungkin tidak tahu namamu, tapi kenangan seorang anak menyebutmu pahlawannya, panutannya, malaikat kecilnya.”

Harapan untuk Mahasiswa PGPAUD

Penutup wawancara menyentuh kebanggaan profesi. “Saya tidak ingin mereka bangga karena gaji, tetapi karena jasa,” tegasnya. Ia meminta mahasiswa melihat kemuliaan profesi saat berhasil menutup kekosongan hati anak karena orang tuanya sibuk bekerja, atau saat mendampingi mereka membaca buku pertama. “Pada momen itu, Tuhan sedang menatapmu melalui mata manusia kecil. Populer atau tidak, engkau sedang memperkaya amal jariyah dan menyelamatkan masa depan dunia.” (YMN)

Balikpapan, 12 November 2025 — Dalam memperingati Hari Ayah Nasional, Kaprodi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG PAUD) Universitas Mulia, Bety Vitriana, S.Pd., M.Pd., mengungkapkan pandangannya tentang betapa pentingnya kehadiran sosok ayah dalam tumbuh kembang anak, terutama di masa usia dini. Menurutnya, ayah bukan sekadar pelengkap dalam keluarga, tetapi simbol keamanan, kekuatan, dan ketegasan yang memberikan dampak nyata terhadap perkembangan otak dan emosi anak.

“Kehadiran ayah yang responsif — cepat menanggapi isyarat anak, banyak bercanda, bermain, dan hadir secara fisik — menstimulasi otak anak untuk menghasilkan dopamin dan oksitosin,” tutur Bety. “Dua hormon ini berperan besar dalam meningkatkan konsentrasi, keberanian eksplorasi, serta kecepatan pemrosesan bahasa.”

Ia menambahkan, interaksi yang aktif antara ayah dan anak akan membangun kepercayaan diri serta kemampuan komunikasi anak. Bahkan, studi menunjukkan bahwa anak-anak yang rutin mendengar dongeng dari ayahnya minimal tiga kali seminggu memiliki kosakata 20% lebih luas ketika memasuki taman kanak-kanak.

Nilai-Nilai Keayah-an yang Membangun Karakter

Lebih lanjut, Bety menjelaskan bahwa peran ayah bukan hanya dalam mendampingi, tetapi juga dalam menanamkan nilai-nilai psikologis dan moral.

Beberapa nilai keayah-an yang paling berpengaruh menurutnya antara lain:

  • Konsistensi dan keteraturan, yang menumbuhkan rasa aman dan kepercayaan pada dunia di sekitar anak.
  • Gentle assertiveness, yaitu ketegasan tanpa kekasaran yang melatih anak mengatur emosi dan mengelola impuls.
  • Growth mindset, di mana ayah memuji proses, bukan hasil, untuk menumbuhkan semangat belajar yang sehat.
  • Respect terhadap ibu, agar anak belajar empati dan kesetaraan gender sejak dini.
  • Kepemimpinan, yang secara nyata dicontohkan melalui cara ayah mengambil keputusan dan menjaga keharmonisan keluarga.

“Anak-anak belajar dengan mengamati,” ujar Bety. “Mereka melihat bagaimana ayah memperlakukan ibu, bagaimana ayah mengambil keputusan, dan dari sanalah mereka meniru model kepemimpinan dan komunikasi.”

Kolaborasi Ayah dan Ibu: Kunci Lingkungan Belajar yang Optimal

Dalam pandangan Bety, pendidikan anak usia dini yang efektif memerlukan sinergi antara ayah dan ibu. Keduanya memiliki fungsi berbeda namun saling melengkapi. Ibu cenderung menghadirkan kehangatan emosional, sementara ayah memberikan variasi rangsangan dan tantangan yang menumbuhkan keberanian anak.

Ia memberi contoh sederhana:

“Ibu bisa menyiapkan bahan sensorik di ‘learning corner’, sementara ayah membuat label bergambar besar. Ibu membacakan buku, ayah menambahkan pertanyaan ‘What if…?’ agar anak berpikir divergen.”

Selain itu, Bety menyarankan keluarga untuk mengadakan “family meeting” singkat setiap minggu selama 15 menit. Dalam pertemuan itu, orang tua dapat menyepakati strategi disiplin dan topik belajar anak, sehingga tercipta komunikasi yang konsisten dan tidak membingungkan anak.

Tantangan Ayah di Era Modern

Bety juga menyoroti tantangan-tantangan yang kerap dihadapi para ayah masa kini, mulai dari keterbatasan waktu, tekanan kerja, hingga norma sosial yang masih menempatkan pengasuhan sebagai “urusan ibu”. Namun, ia menekankan bahwa peran kecil yang konsisten lebih berharga daripada kehadiran yang jarang tapi lama.

“Cukup lima menit tatap muka dan pelukan hangat saat pulang, atau satu jam khusus di akhir pekan sudah sangat berarti bagi anak,” jelasnya.

Bety juga mengingatkan agar ayah tidak terburu-buru menyelesaikan masalah anak dengan solusi praktis, tetapi lebih dulu mendengarkan perasaan mereka. “Kadang anak hanya ingin didengar. Cukup tanyakan ‘Kamu sedang sedih ya?’ sebelum memberi solusi.”

Menumbuhkan Kecerdasan Emosional Anak

Peran ayah tidak berhenti pada aspek kognitif, tetapi juga sangat penting dalam pembentukan kecerdasan emosional. Ayah bisa melatih anak mengelola emosi melalui aktivitas sederhana, seperti menanyakan perasaan anak setiap malam (“Hari ini senang atau tidak? Skala 1–10”), menunjukkan cara bernapas saat stres, hingga memberikan pelukan 20 detik untuk merangsang hormon kenyamanan.

“Jangan bilang ‘jangan nangis’,” pesan Bety menutup wawancara. “Lebih baik katakan, ‘Ayah di sini, kita atasi bersama.’ Kalimat sederhana itu bisa menjadi pondasi bagi anak untuk belajar menghadapi dunia dengan rasa aman dan penuh kasih.”

Refleksi Hari Ayah

Pandangan akademik yang disampaikan Bety Vitriana bukan sekadar teori, tetapi pengingat penting bagi masyarakat bahwa ayah adalah pendidik pertama di rumah — sumber rasa aman, keteladanan, dan dorongan bagi anak untuk tumbuh menjadi pribadi tangguh dan berdaya saing.

Di Hari Ayah Nasional ini, Universitas Mulia mengajak seluruh sivitas akademika untuk merenungkan kembali: seberapa sering kita hadir bukan hanya sebagai pemberi nafkah, tetapi juga sebagai sumber kasih, teladan, dan inspirasi bagi anak-anak kita. (YMN)

 

Balikpapan, 10 November 2025 – Dalam refleksi Hari Pahlawan tahun ini, Dosen Program Studi Hukum Universitas Mulia, Shafyra Amalia Fitriany, S.Sosio., M.HP., menyoroti bentuk perjuangan hukum masa kini yang menurutnya tidak lagi berhadapan dengan penjajahan fisik, melainkan menghadapi tantangan baru seperti ketimpangan akses terhadap keadilan, bias gender, dan pengaruh kekuasaan yang kerap memengaruhi proses hukum.

Ia menyebut semangat para pahlawan hukum masa lalu perlu diterjemahkan ulang menjadi komitmen terhadap keadilan substantif, bukan sekadar kepatuhan pada prosedur formal. “Perjuangan hari ini adalah memastikan hukum tidak berhenti pada teks, tetapi hidup dalam keadilan yang dirasakan masyarakat,” ujarnya dalam wawancara.

Menurut Shafyra, tantangan kepercayaan publik terhadap hukum menuntut keberanian moral dari para insan hukum, terutama pendidik dan mahasiswa. “Kepahlawanan di tengah dinamika hukum berarti berani bersikap kritis dan konstruktif dalam sistem yang terus berproses menuju keadilan ideal,” tuturnya. Ia menambahkan, tugas utama akademisi hukum adalah menanamkan kesadaran etis bahwa hukum seharusnya menjadi alat koreksi sosial, bukan sekadar perangkat formal negara.

Mengenai penegakan hukum di Indonesia, Shafyra menilai kondisi saat ini masih berada dalam fase pembenahan. Nilai-nilai dasar seperti keadilan sosial, kemanusiaan, dan kedaulatan rakyat yang telah dirumuskan para pendiri bangsa tetap relevan dan harus terus diperjuangkan agar semakin tercermin dalam praktik hukum.

“Masih ada tantangan dalam penerapan hukum yang menunjukkan perlunya pembenahan sistemik agar hukum benar-benar berpihak pada kebenaran dan keadilan,” ungkapnya. Ia menilai penegakan hukum baru dapat dikatakan sejalan dengan semangat pendiri bangsa ketika hukum menjadi sarana pembebasan dan perlindungan bagi kelompok rentan, termasuk perempuan, masyarakat adat, dan komunitas marginal.

Shafyra juga menyoroti peran mahasiswa hukum dalam melanjutkan semangat kepahlawanan tanpa harus terlibat dalam politik praktis. Menurutnya, peran itu justru bisa dimulai dari hal-hal sederhana namun bermakna. “Mahasiswa hukum bisa menjadi pahlawan dengan berpikir kritis, berani bersuara atas ketidakadilan, dan mengadvokasi isu sosial di lingkungan sekitarnya,” katanya.

Baginya, kepahlawanan mahasiswa terletak pada kemampuan menjembatani antara teori dan realitas sosial — antara hukum yang tertulis dan keadilan yang benar-benar dirasakan masyarakat.

Dalam konteks dunia digital, Shafyra mencatat fenomena baru dalam persepsi publik terhadap hukum yang sering disederhanakan dengan istilah “no viral, no justice.” Ia menjelaskan, fenomena ini menjadi cermin tantangan bagi sistem hukum untuk tetap menjamin keadilan tanpa bergantung pada sorotan publik.

“Idealnya, keadilan tidak semestinya menunggu menjadi viral,” tegasnya. “Sistem hukum yang adil, cepat, dan berpihak pada kebenaran seharusnya mampu berdiri dengan integritasnya sendiri — tanpa tekanan dari opini publik.” (YMN)

Balikpapan, 10 November 2025 – Bagi Fiqri Maulana Nuzulianto, S.IP., M.IP., dosen tamu mata kuliah Pancasila di Fakultas Hukum Universitas Mulia, bulan November merupakan ruang refleksi kolektif tentang makna perjuangan dan kebangsaan. Ia memandang 10 November bukan sekadar perayaan seremonial, tetapi momentum untuk menakar kembali kesetiaan generasi kini terhadap nilai-nilai pengorbanan dan keberanian moral.

Menurutnya, kepahlawanan di masa kini tidak lagi diwujudkan melalui senjata, melainkan lewat upaya menjaga nalar etik bangsa. “Menegakkan Pancasila hari ini berarti melawan korupsi, menolak penyalahgunaan wewenang, dan menumbuhkan empati sosial,” tuturnya. Ia menyebut krisis moral dan individualisme sebagai bentuk penjajahan baru dalam makna sosial-budaya yang menggerogoti rasa kebersamaan.

Fiqri berpendapat, nilai kepahlawanan berbasis Pancasila harus menjadi mekanisme pertahanan moral bangsa — mendorong warga menempatkan kepentingan publik di atas kepentingan pribadi, memperkuat integritas personal, serta menghidupkan kembali solidaritas sosial yang mulai melemah di ruang publik digital.

Ia juga mengingatkan bahwa generasi muda kini berisiko kehilangan ruh kepahlawanan, karena nilai-nilai idealisme mulai terkikis oleh budaya instan dan pragmatisme sosial. “Pahlawan masa kini adalah mereka yang berani mengambil sikap, berinovasi, dan berkorban tanpa pamrih di ruang sosial maupun digital,” ujarnya. Fiqri mencontohkan bentuk kepahlawanan baru seperti mengawasi jalannya demokrasi melalui media digital, mendorong kesetaraan sosial, dan menjadi relawan di isu-isu kemanusiaan. “Mereka adalah pahlawan digital, sosial, dan intelektual — berjuang dengan data, nalar, dan kolaborasi,” tambahnya.

Menurutnya, penanaman nilai Pancasila dalam pendidikan tidak cukup bersifat kognitif, tetapi harus dilakukan secara transformasional. Ia mendorong agar kampus memberi ruang bagi tokoh dan aktivis muda sebagai teladan moral bagi mahasiswa. “Nilai tidak tumbuh dari hafalan, melainkan dari pengalaman dan interaksi dengan figur yang hidup dengan nilai itu,” jelasnya.

Model pembelajaran berbasis proyek, lanjutnya, dapat digunakan untuk menumbuhkan kesadaran kritis mahasiswa terhadap tantangan Pancasila di masyarakat. Ia juga menekankan pentingnya literasi digital yang berakar pada etika Pancasila, agar ruang maya tidak menjadi sarang hoaks dan ujaran kebencian. Dengan demikian, mahasiswa tidak berhenti pada “pengetahuan tentang Pancasila”, tetapi menjadikannya “sikap hidup Pancasila”.

Bagi Fiqri, perjuangan mahasiswa hari ini adalah perjuangan karakter dan integritas. Mahasiswa, katanya, harus menjadi penggerak perubahan, pengontrol sosial, dan pewaris idealisme bangsa. “Tugas mereka bukan lagi merebut kemerdekaan, tetapi menjaga agar ilmu digunakan dengan tanggung jawab dan idealisme tetap dijaga dari kepentingan sesaat,” tegasnya.

Ia juga menyoroti pentingnya peran kampus dalam membentuk generasi berjiwa kepahlawanan. Menurutnya, perguruan tinggi sebaiknya menjadi ruang yang memberi kesempatan bagi ekspresi kritis dan konstruktif mahasiswa. “Kampus idealnya menjadi laboratorium demokrasi yang sehat, tempat tumbuhnya dialog, kolaborasi, dan keberanian moral,” ujarnya.

Fiqri menutup pandangannya dengan ajakan agar semangat Pancasila benar-benar menjadi kebudayaan kampus yang hidup, tidak berhenti pada tataran kognitif semata. Ia menilai Pancasila perlu dijadikan pisau analisis dalam proyek akademik, pengabdian masyarakat, dan riset sosial. “Mahasiswa yang berintegritas dan berkontribusi sosial seharusnya mendapat penghargaan yang sama dengan mereka yang berprestasi akademik,” ujarnya. Baginya, itulah cara kampus menyalakan kembali semangat kepahlawanan — dengan ilmu, integritas, dan keberanian moral. (YMN)

Balikpapan, 10 November 2025 – Memperingati Hari Pahlawan, Rektor Universitas Mulia, Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si., menegaskan bahwa kepahlawanan masa kini tidak lagi diukur dengan senjata atau seragam, melainkan dengan integritas dan keberanian moral dalam ilmu pengetahuan.

Menurutnya, nilai yang perlu dihidupkan di lingkungan akademik adalah keteladanan integritas — jujur, disiplin, berani mengambil sikap berbasis data, serta gotong royong lintas disiplin. “Itulah energi moral yang menghidupkan etos ilmiah, memperkuat kepercayaan publik, dan melahirkan karya yang bermakna,” ujarnya.

Prof. Ahsin menilai bahwa pahlawan masa kini bukanlah figur tunggal, melainkan ekosistem. “Para dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni, dan mitra yang mengubah masalah nyata menjadi solusi teruji — dari kelas, laboratorium, hingga masyarakat — merekalah pahlawan yang sejati,” ungkapnya. Bagi beliau, kepahlawanan lahir dari integritas, kolaborasi, dan keberanian bereksperimen di tengah dinamika zaman.

Ia menggambarkan universitas sebagai arena kepahlawanan intelektual, tempat gagasan diuji, data diperdebatkan, dan etika dijaga. “Kita merayakan kebenaran melalui riset bermutu, pembelajaran kritis, dan pengabdian yang berdampak. Bukan dengan sorak-sorai, melainkan dengan standar, evidensi, dan akuntabilitas,” tegasnya.

Menjawab bagaimana Universitas Mulia menanamkan semangat tersebut, Prof. Ahsin menjelaskan sejumlah langkah sistemik yang telah dijalankan.
“Kami menanamkan literasi data, etika digital, dan skeptisisme metodologis melalui kurikulum OBE berbasis proyek, mata kuliah literasi informasi, tugas fact-checking, rubrik integritas akademik, serta pembiasaan rujukan primer dan reproduksibilitas hasil,” paparnya.

Dalam pandangannya, perjuangan setara dengan pahlawan hari ini adalah upaya memerdekakan pikiran dari hoaks, meningkatkan mutu riset dan pembelajaran, serta melayani masyarakat dengan teknologi tepat guna. “Itu termasuk membangun inovasi yang menyejahterakan — melalui publikasi, hak kekayaan intelektual, dan prototipe yang diadopsi industri,” jelasnya.

Bagi Prof. Ahsin, Hari Pahlawan juga menjadi refleksi pribadi tentang amanah kepemimpinan. “Maknanya adalah berani benar, adil, dan konsisten. Saya terinspirasi oleh Bung Hatta yang rasional, etis, dan visioner. Kepemimpinan harus berbasis data, dialog, dan tanggung jawab publik demi kemajuan Universitas Mulia,” tuturnya.

Menutup wawancara, Prof. Ahsin menyampaikan pesannya bagi generasi muda Universitas Mulia:
“Jadilah generasi yang cerdas, tangguh, dan rendah hati. Rawat rasa ingin tahu, jaga integritas, kolaborasi tanpa sekat, dan gunakan ilmu untuk melayani. Ukurlah diri dengan dampak, bukan sekadar gelar.” (YMN)