Masjid yang Indah, atau Masjid yang Hidup?

,

Oleh: Yamani, S.S., M.Pd.
Pengurus PC DMI Balikpapan Kota | Pengurus  MUI Kecamatan Balikpapan Kota | Dosen Universitas Mulia

 

Balikpapan, 24 April 2026— Ada masjid yang lantainya mengilap. Keramiknya serasi dengan warna dinding. Lampunya terang, bahkan terlalu terang untuk sekadar membaca mushaf. Semua tampak rapi, bersih, dan menenangkan mata.

Namun di sela-sela keindahan itu, ada sesuatu yang pelan-pelan menghilang. Tidak terdengar lagi riuh anak-anak belajar mengaji selepas magrib. Jarang terlihat remaja duduk berlama-lama, berdiskusi tentang hidup, tentang masa depan, atau sekadar mencari tempat pulang. Masjid tetap berdiri megah, tetapi terasa sunyi—bukan karena tidak ada orang, melainkan karena tidak ada kehidupan di dalamnya selain yang lima waktu.

Barangkali di titik ini kita perlu berhenti sejenak. Bukan untuk menyalahkan siapa pun, melainkan untuk bertanya dengan jujur: apakah kita sedang merawat masjid, atau tanpa sadar justru sedang mengosongkannya?

Dalam bayangan yang lebih utuh, masjid tidak hanya menjadi tempat untuk menunaikan shalat. Ia adalah ruang hidup. Tempat iman bertumbuh bersama ilmu. Tempat seorang anak pertama kali mengenal huruf-huruf Al-Qur’an. Tempat seorang pemuda yang gelisah menemukan arah. Tempat di mana yang lemah dikuatkan dan yang kebingungan dipeluk oleh kebersamaan.

Sejarah pernah menunjukkan itu. Di Masjid Nabawi pada masa Nabi Muhammad SAW, masjid bukan hanya ruang ibadah, tetapi pusat kehidupan umat. Di sana orang belajar, bermusyawarah, menyusun strategi, bahkan menyelesaikan persoalan sosial. Masjid menjadi jantung peradaban.

Lalu kita melihat keadaan hari ini. Banyak masjid tetap ramai saat waktu shalat, tetapi kembali lengang setelahnya. Dana kas terkumpul, bahkan tidak sedikit yang melimpah, tetapi penggunaannya sering berputar pada hal-hal yang serupa: memperindah bangunan, menyempurnakan tampilan, merapikan yang sebenarnya masih layak.

Tempat wudhu diganti bukan karena rusak, melainkan karena warnanya tidak lagi selaras. Keramik dibongkar bukan karena pecah, tetapi karena dianggap kurang sedap dipandang. Sementara itu, di luar pagar masjid, ada anak-anak yang belum tersentuh pembinaan, ada remaja yang mencari jati diri di tempat lain, ada keluarga yang membutuhkan uluran tangan tetapi tidak tahu harus ke mana.

Ini bukan semata-mata soal benar atau salah. Tidak ada yang keliru dalam keinginan memuliakan rumah Allah dengan tampilan terbaik. Tetapi ada sesuatu yang perlu diluruskan: ukuran keberhasilan masjid tidak seharusnya berhenti pada apa yang terlihat oleh mata.

Kita cenderung memilih sesuatu yang hasilnya langsung tampak. Mengganti keramik itu jelas hasilnya. Mengecat ulang dinding, memperbaiki plafon, menambah ornamen—semuanya memberi rasa puas yang cepat. Sementara membangun manusia adalah pekerjaan sunyi. Tidak selalu terlihat. Tidak selalu bisa diukur dalam waktu dekat.

Padahal, lantai yang mengilap tidak pernah bisa menggantikan kosongnya hati seorang pemuda yang tidak pernah disentuh pembinaan. Dinding yang rapi tidak akan menjawab kegelisahan seorang anak yang tumbuh tanpa arah.

Di sinilah letak amanah yang sering luput kita sadari. Dana masjid bukan sekadar angka yang harus dihabiskan atau disimpan. Ia adalah titipan kepercayaan. Setiap rupiah yang masuk membawa harapan agar masjid menjadi lebih hidup, lebih bermanfaat, lebih dekat dengan umat.

Maka pertanyaan yang semestinya kita ajukan bukan hanya, “Apakah ini boleh dilakukan?” tetapi juga, “Apakah ini yang paling dibutuhkan?”

Ada bagian yang mungkin paling sunyi dari semua ini: ketika remaja tidak lagi merasa masjid sebagai ruangnya. Mereka datang, menunaikan shalat, lalu pergi. Tidak ada alasan untuk tinggal. Tidak ada kegiatan yang memanggil. Tidak ada peran yang membuat mereka merasa dibutuhkan.

Masjid tetap berdiri. Tetapi generasi perlahan menjauh.

Perubahan ini tidak terjadi dalam satu malam. Ia datang perlahan, hampir tanpa suara. Hingga suatu hari kita menyadari bahwa yang tersisa hanya barisan yang semakin menua, sementara yang muda memilih mencari tempat lain untuk bertumbuh.

Mungkin yang perlu kita ubah bukan hanya program, tetapi cara pandang. Dari melihat masjid sebagai bangunan yang harus selalu tampak indah, menjadi ruang yang harus selalu terasa hidup. Dari fokus pada fisik, menjadi perhatian pada manusia yang datang dan pergi di dalamnya.

Renovasi tetap penting, tetapi ia seharusnya mengikuti kebutuhan, bukan sekadar selera. Ia menjadi pelengkap, bukan pusat dari segala perhatian.

Bayangkan sebuah masjid yang siangnya diisi suara anak-anak belajar membaca Al-Qur’an, sorenya dipenuhi remaja yang berdiskusi dan berkegiatan, malamnya menghadirkan kajian yang menenangkan hati, dan di sela-selanya ada tangan-tangan yang diam-diam membantu mereka yang kesulitan.

Mungkin tidak semua sudutnya sempurna. Mungkin catnya tidak selalu baru. Tetapi setiap bagiannya hidup.

Orang-orang datang bukan hanya untuk menunaikan kewajiban, tetapi karena mereka merasa di sanalah mereka bertumbuh.

Tulisan ini tidak sedang menunjuk siapa yang salah. Hampir semua pengurus masjid bekerja dengan niat yang tulus. Namun niat baik, tanpa arah yang tepat, kadang tidak cukup.

Barangkali yang kita butuhkan hari ini adalah keberanian untuk bertanya, dengan jujur dan tanpa defensif: apakah yang kita lakukan selama ini benar-benar menghidupkan umat?

Jika pertanyaan itu mulai kita rawat, mungkin perubahan tidak akan datang dengan gegap gempita. Ia akan hadir pelan-pelan, dalam langkah kecil yang konsisten. Dan suatu hari nanti, kita tidak lagi bangga hanya karena masjid kita indah, tetapi karena masjid itu benar-benar hidup—menghidupkan. (YMN)