Harga Pertamax Naik, Tetapi Ada yang Jauh Lebih Mahal dari Itu
Oleh: Yamani, S.S., M.Pd.
Pengurus PC DMI Balikpapan Kota | Pengurus MUI Kecamatan Balikpapan Kota | Dosen Universitas Mulia
Pagi ini orang-orang berbicara tentang angka. Tentang rupiah yang bertambah di papan harga SPBU. Tentang biaya perjalanan yang membengkak. Tentang pengeluaran yang kembali harus disesuaikan.
Namun sesungguhnya ada sesuatu yang jarang diperbincangkan setiap kali harga-harga naik. Yaitu tentang orang-orang yang selama ini hidup tepat di batas kemampuannya. Mereka yang tidak memiliki ruang kesalahan dalam keuangan keluarga.
Mereka yang jika pengeluarannya bertambah dua puluh ribu rupiah sehari, harus mengurangi sesuatu yang lain. Mungkin uang jajan anak. Mungkin lauk makan malam. Mungkin tabungan yang sebenarnya memang sudah lama tidak ada.
Bagi sebagian orang, kenaikan harga BBM hanyalah perubahan angka. Tetapi bagi sebagian lainnya, itu adalah keputusan-keputusan kecil yang menyakitkan yang harus dibuat setiap hari.
Cobalah sesekali memperhatikan halaman parkir masjid setelah shalat Subuh. Ada motor tua yang datang paling awal dan pulang paling akhir. Tidak ada yang tahu siapa pemiliknya. Mungkin seorang buruh. Mungkin seorang satpam. Mungkin seorang pengemudi ojek. Mungkin seseorang yang sepanjang malam memikirkan bagaimana membayar kebutuhan keluarganya pekan depan.
Ia berdiri di saf yang sama. Mengucapkan amin yang sama. Membaca doa yang sama. Tetapi beban yang dibawanya pulang belum tentu sama. Dan sering kali, tidak seorang pun bertanya.
Yang membuat saya khawatir bukanlah kenaikan harga Pertamax. Umat ini sudah berkali-kali melewati masa sulit. Yang lebih mengkhawatirkan adalah jika masjid kehilangan kepekaannya terhadap luka-luka kecil yang dialami jamaahnya. Karena luka terbesar dalam kehidupan bukan selalu kemiskinan.
Sering kali yang paling menyakitkan adalah merasa kesulitan seorang diri di tengah keramaian. Datang ke masjid setiap hari. Bersalaman dengan banyak orang. Tetapi tidak ada seorang pun yang mengetahui bahwa dirinya sedang berjuang agar dapur tetap berasap.
Mungkin inilah saatnya pengurus masjid berhenti hanya menghitung jumlah jamaah. Dan mulai mengenali siapa jamaahnya. Siapa yang baru kehilangan pekerjaan. Siapa yang motornya digunakan untuk mencari nafkah dari pagi sampai malam. Siapa yang diam-diam menunggak biaya sekolah anaknya. Siapa yang mulai mengurangi frekuensi hadir dalam kegiatan masjid karena biaya perjalanan terasa semakin berat.
Karena angka kehadiran tidak pernah mampu menceritakan kesulitan manusia. Yang bisa membacanya hanyalah hati yang mau peduli.
Saya membayangkan suatu malam, seorang marbot pulang ke rumah dengan wajah letih. Harga bensin naik. Biaya hidup naik. Penghasilannya tetap. Ia membuka pintu rumah dan berusaha tersenyum kepada anak-anaknya. Anak-anak itu tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya. Mereka hanya tahu ayahnya selalu pulang membawa ketenangan.
Padahal mungkin di dalam dadanya sedang berlangsung perang yang tidak terlihat. Perang antara kebutuhan yang terus bertambah dan kemampuan yang tidak bertambah.
Berapa banyak orang seperti ini yang ada di sekitar kita? Berapa banyak yang duduk tepat di samping kita ketika salat Jumat? Berapa banyak yang mengucapkan “Alhamdulillah” sambil menyembunyikan kecemasan yang tidak pernah diceritakan kepada siapa pun?
Masjid tidak selalu harus menjawab persoalan bangsa. Kadang-kadang cukup menjawab persoalan satu keluarga. Kadang-kadang cukup memastikan seorang ayah tidak pulang dengan kepala tertunduk karena merasa tidak mampu memenuhi kebutuhan rumahnya. Kadang-kadang cukup memastikan seorang guru ngaji tetap bisa datang mengajar tanpa harus memikirkan isi tangki motornya. Kadang-kadang cukup memastikan ada seseorang yang berkata, “Pak, kalau ada kesulitan, jangan hadapi sendirian.”
Kalimat sederhana seperti itu mungkin tidak mengubah keadaan ekonomi. Tetapi bisa mengubah cara seseorang memandang hidupnya.
Harga Pertamax mungkin akan turun suatu saat nanti. Seperti banyak peristiwa ekonomi lainnya yang datang dan pergi. Tetapi sejarah masjid tidak pernah ditulis oleh harga bahan bakar.
Sejarah masjid selalu ditulis oleh orang-orang yang memilih peduli ketika orang lain sibuk menghitung kepentingannya sendiri.
Kelak, ketika kita berdiri di hadapan Allah, sangat mungkin yang ditanyakan bukan berapa kali kita mengeluhkan kenaikan harga. Melainkan apakah kita sempat menjadi alasan mengapa seseorang tetap kuat menjalani hidup pada masa yang sulit.
Karena pada akhirnya, yang paling dikenang manusia bukan orang yang mampu menjelaskan krisis. Melainkan orang yang hadir ketika krisis itu terjadi.
Semoga kenaikan harga hari ini tidak hanya melahirkan keluhan. Tetapi melahirkan gelombang kepedulian baru dari masjid-masjid kita. Karena umat ini tidak akan kuat hanya dengan ekonomi. Umat ini akan kuat ketika hati-hatinya saling menguatkan. Dan ketika itu terjadi, tidak ada krisis yang mampu mengalahkan persaudaraan yang dibangun karena Allah. Jika harga-harga terus naik, maka pastikan kepedulian kita naik lebih tinggi lagi. (YMN)








