Oleh: Yamani, S.S., M.Pd.
Pengurus PC DMI Balikpapan Kota | Pengurus  MUI Kecamatan Balikpapan Kota | Dosen Universitas Mulia

 

Pagi ini orang-orang berbicara tentang angka. Tentang rupiah yang bertambah di papan harga SPBU. Tentang biaya perjalanan yang membengkak. Tentang pengeluaran yang kembali harus disesuaikan.

Namun sesungguhnya ada sesuatu yang jarang diperbincangkan setiap kali harga-harga naik. Yaitu tentang orang-orang yang selama ini hidup tepat di batas kemampuannya.

Mereka yang tidak memiliki cadangan untuk menghadapi kejutan-kejutan kecil dalam hidup. Mereka yang jika pengeluarannya bertambah dua puluh ribu rupiah sehari, harus mengurangi sesuatu yang lain. Mungkin uang jajan anak. Mungkin lauk makan malam. Mungkin tabungan yang sebenarnya memang sudah lama tidak ada.

Bagi sebagian orang, kenaikan harga BBM hanyalah perubahan angka. Tetapi bagi sebagian lainnya, itu adalah keputusan-keputusan kecil yang menyakitkan yang harus dibuat setiap hari.

Cobalah sesekali memperhatikan halaman parkir masjid setelah shalat Subuh. Ada motor tua yang datang paling awal dan pulang paling akhir. Tidak ada yang tahu siapa pemiliknya. Mungkin seorang buruh. Mungkin seorang satpam. Mungkin seorang pengemudi ojek. Mungkin seseorang yang sepanjang malam memikirkan bagaimana membayar kebutuhan keluarganya pekan depan.

Ia berdiri di saf yang sama. Mengucapkan amin yang sama. Membaca doa yang sama. Tetapi beban yang dibawanya pulang belum tentu sama. Dan sering kali, tidak seorang pun bertanya.

Yang membuat saya khawatir bukanlah kenaikan harga Pertamax. Umat ini sudah berkali-kali melewati masa sulit. Yang lebih mengkhawatirkan adalah jika masjid kehilangan kepekaannya terhadap luka-luka kecil yang dialami jamaahnya. Karena luka terbesar dalam kehidupan bukan selalu kemiskinan.

Sering kali yang paling menyakitkan adalah merasa kesulitan seorang diri di tengah keramaian. Datang ke masjid setiap hari. Bersalaman dengan banyak orang. Tetapi tidak ada seorang pun yang mengetahui bahwa dirinya sedang berjuang agar dapur tetap berasap.

Mungkin inilah saatnya pengurus masjid berhenti hanya menghitung jumlah jamaah. Dan mulai mengenali siapa jamaahnya. Siapa yang baru kehilangan pekerjaan. Siapa yang motornya digunakan untuk mencari nafkah dari pagi sampai malam. Siapa yang diam-diam menunggak biaya sekolah anaknya. Siapa yang mulai mengurangi frekuensi hadir dalam kegiatan masjid karena biaya perjalanan terasa semakin berat.

Karena angka kehadiran tidak pernah mampu menceritakan kesulitan manusia. Yang bisa membacanya hanyalah hati yang mau peduli.

Saya membayangkan suatu malam, seorang marbot pulang ke rumah dengan wajah letih. Harga bensin naik. Biaya hidup naik. Penghasilannya tetap. Ia membuka pintu rumah dan berusaha tersenyum kepada anak-anaknya. Anak-anak itu tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya. Mereka hanya tahu ayahnya selalu pulang membawa ketenangan.

Padahal mungkin di dalam dadanya sedang berlangsung perang yang tidak terlihat. Perang antara kebutuhan yang terus bertambah dan kemampuan yang tidak bertambah.

Berapa banyak orang seperti ini yang ada di sekitar kita? Berapa banyak yang duduk tepat di samping kita ketika salat Jumat? Berapa banyak yang mengucapkan “Alhamdulillah” sambil menyembunyikan kecemasan yang tidak pernah diceritakan kepada siapa pun?

Masjid tidak selalu harus menjawab persoalan bangsa. Kadang-kadang cukup menjawab persoalan satu keluarga. Kadang-kadang cukup memastikan seorang ayah tidak pulang dengan kepala tertunduk karena merasa tidak mampu memenuhi kebutuhan rumahnya. Kadang-kadang cukup memastikan seorang guru ngaji tetap bisa datang mengajar tanpa harus memikirkan isi tangki motornya. Kadang-kadang cukup memastikan ada seseorang yang berkata, “Pak, kalau ada kesulitan, jangan hadapi sendirian.”

Kalimat sederhana seperti itu mungkin tidak mengubah keadaan ekonomi. Tetapi bisa mengubah cara seseorang memandang hidupnya.

Harga Pertamax mungkin akan turun suatu saat nanti. Seperti banyak peristiwa ekonomi lainnya yang datang dan pergi. Tetapi sejarah masjid tidak pernah ditulis oleh harga bahan bakar.

Sejarah masjid selalu ditulis oleh orang-orang yang memilih peduli ketika orang lain sibuk menghitung kepentingannya sendiri.

Kelak, ketika kita berdiri di hadapan Allah, sangat mungkin yang ditanyakan bukan berapa kali kita mengeluhkan kenaikan harga. Melainkan apakah kita sempat menjadi alasan mengapa seseorang tetap kuat menjalani hidup pada masa yang sulit.

Karena pada akhirnya, yang paling dikenang manusia bukan orang yang mampu menjelaskan krisis. Melainkan orang yang hadir ketika krisis itu terjadi.

Semoga kenaikan harga hari ini tidak hanya melahirkan keluhan. Tetapi melahirkan gelombang kepedulian baru dari masjid-masjid kita. Karena umat ini tidak akan kuat hanya dengan ekonomi. Umat ini akan kuat ketika hati-hatinya saling menguatkan. Dan ketika itu terjadi, tidak ada krisis yang mampu mengalahkan persaudaraan yang dibangun karena Allah. Jika harga-harga terus naik, maka pastikan kepedulian kita naik lebih tinggi lagi. (YMN)

 

 

Oleh: Yamani, S.S., M.Pd.
Pengurus PC DMI Balikpapan Kota | Pengurus  MUI Kecamatan Balikpapan Kota | Dosen Universitas Mulia

Pemandangan itu tidak biasa. Puluhan sapi berdiri berjejer di hamparan rumput hijau di samping jalan menuju Masjid As-Salam. Domba-domba tertata rapi. Dari kejauhan, pemandangan itu lebih menyerupai sebuah padang penggembalaan yang damai daripada lokasi persiapan Idul Adha di tengah kota.

Orang-orang yang melintas memperlambat kendaraan mereka. Sebagian berhenti. Sebagian mengabadikan dengan telepon genggam. Anak-anak berdiri memandang dengan mata berbinar.

Tahun ini jumlahnya jauh lebih banyak. Lima puluh dua ekor sapi. Tiga puluh sembilan ekor kambing dan domba. Angka yang tidak kecil untuk sebuah masjid.

Namun sesungguhnya yang membuat saya terdiam bukanlah jumlah hewan kurban itu. Melainkan sebuah pertanyaan yang jauh lebih penting: Mengapa begitu banyak orang menitipkan amanahnya ke sini?

Di tengah zaman ketika kredibilitas menjadi sesuatu yang mahal, ketika masyarakat semakin kritis terhadap setiap rupiah yang mereka titipkan, ketika tidak sedikit lembaga kehilangan kepercayaan publik karena gagal menjaga amanah, justru terjadi sesuatu yang menarik di Masjid As-Salam Wika.

Daging kurban dipotong dalam posisi menggantung untuk menjaga kebersihan dan kualitasnya. Di balik setiap potongan daging, tersimpan amanah para pekurban yang dititipkan dengan penuh kepercayaan kepada panitia.

Sekitar tiga puluh ekor sapi berasal dari warga lingkungan sekitar masjid. Selebihnya datang dari berbagai penjuru Kota Balikpapan. Bahkan ada jamaah dari Samarinda yang mengantar sendiri dua ekor sapi ke Masjid As-Salam.

Padahal ia bisa saja menitipkan kurbannya ke masjid yang lebih dekat. Ia bisa saja memilih panitia lain. Ia bisa saja mencari tempat yang lebih praktis. Namun ia datang ke sini. Membawa amanah. Membawa keyakinan.

Setelah ditimbang, daging kurban langsung ditempatkan dalam wadah yang bersih dan higienis. Bagi panitia, menjaga kualitas daging bukan sekadar urusan teknis, melainkan bentuk penghormatan terhadap ibadah dan pengorbanan para pekurban.

Fenomena ini menunjukkan bahwa kurban yang dihimpun tidak lagi bertumpu pada satu lingkungan, melainkan telah menjadi amanah yang datang dari masyarakat yang lebih luas.

Sapi-sapi itu tidak datang sendirian. Mereka datang bersama reputasi yang dibangun perlahan selama bertahun-tahun. Reputasi yang tidak lahir dari spanduk. Tidak tumbuh dari baliho. Tidak dibangun oleh slogan.

Ia lahir dari sesuatu yang jauh lebih sederhana sekaligus lebih sulit: amanah yang dijaga ketika tidak ada yang melihat, pelayanan yang dilakukan tanpa banyak sorotan, dan komitmen yang terus dirawat dari tahun ke tahun.

Mungkin itulah yang sedang dipanen oleh Masjid As-Salam hari ini. Bukan sekadar hewan kurban. Melainkan buah dari kepercayaan yang telah tumbuh lama di hati masyarakat.

Kepercayaan itu tidak berhenti di halaman masjid. Daging kurban yang dihimpun kemudian menjangkau wilayah yang jauh lebih luas. Distribusinya menjangkau seluruh kecamatan di Kota Balikpapan, bahkan meluas hingga Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kabupaten Penajam Paser Utara. Kurban tidak berhenti sebagai ritual penyembelihan, tetapi bergerak menjadi jembatan yang menghubungkan saudara-saudara seiman di berbagai tempat yang mungkin tidak pernah saling bertemu sebelumnya.

Panitia bekerja dengan pembagian tugas yang teratur, mulai dari pemotongan hingga penimbangan daging. Ketertiban ini menjadi bagian dari ikhtiar menjaga amanah agar kurban dapat diterima masyarakat dengan baik dan adil.

Yang menarik, keyakinan masyarakat itu tidak berhenti pada jumlah hewan yang terus bertambah. Ia juga terlihat dari cara kurban dikelola.

Di banyak tempat, penyembelihan hewan kurban masih identik dengan tanah yang becek oleh darah, daging yang bersentuhan dengan lantai, dan proses yang dilakukan sekadarnya karena dianggap hanya berlangsung setahun sekali.

Namun di Masjid As-Salam, darah hewan langsung ditampung dan dialirkan ke tempat yang telah disiapkan. Daging dipotong dalam posisi menggantung. Pengemasan dilakukan secara tertib dan higienis.

Sebagian orang mungkin menganggapnya hanya urusan teknis. Padahal sesungguhnya itu adalah urusan hati.

Sebab seekor sapi yang berdiri di sana mungkin dibeli dari hasil kerja seseorang selama berbulan-bulan. Mungkin ada seorang ayah yang diam-diam menyisihkan sebagian gajinya setiap bulan. Mungkin ada seorang ibu yang menunda membeli sesuatu yang ia inginkan agar keluarganya tetap bisa berkurban. Mungkin ada seorang pensiunan yang menabung sedikit demi sedikit demi menunaikan ibadah yang telah lama dirindukan.

Mungkin pula ada seseorang yang harus mengalahkan banyak kebutuhan hidup agar tetap dapat mempersembahkan kurban terbaiknya kepada Allah.

Ketika hewan itu tiba di halaman masjid, yang datang sebenarnya bukan hanya sapi dan kambing. Di dalamnya ada doa-doa yang dipanjatkan setelah salat. Ada harapan yang disimpan dalam diam. Ada pengorbanan yang tidak pernah diketahui orang lain.

Karena itulah amanah sebesar itu layak diperlakukan dengan penuh penghormatan.

Maka ketika proses kurban dikelola dengan bersih, tertib, dan profesional, sesungguhnya yang sedang dihormati bukan hanya dagingnya. Tetapi juga perjuangan orang-orang yang menghadirkannya.

Namun kisah yang paling menggetarkan justru tidak datang dari angka lima puluh dua ekor sapi itu. Tidak datang dari para panitia. Tidak pula datang dari para pekurban.

Kerja sama yang terbangun di lokasi penyembelihan mencerminkan semangat gotong royong dalam melayani umat. Setiap potongan daging dijaga agar tidak menyentuh lantai sebagai bentuk komitmen terhadap kebersihan dan penghormatan kepada amanah kurban.

Ia datang dari seorang anak perempuan kecil. Seorang anak yang bahkan belum baligh.

Sore itu ia berdiri di pinggir jalan. Matanya terpaku pada deretan sapi dan domba yang memenuhi halaman. Ia tidak berbicara. Ia hanya memandang. Lama. Mungkin beberapa menit. Mungkin lebih.

Tidak ada yang tahu apa yang sedang terjadi di dalam hatinya saat itu. Yang pasti, pemandangan itu telah meninggalkan sesuatu. Sesuatu yang bahkan tidak disadari oleh orang-orang dewasa di sekelilingnya.

Sesampainya di rumah, ia meminta orang tuanya membuka celengan miliknya. Orang tuanya heran. “Mau dipakai untuk apa?” Anak itu menjawab pelan, “Aku ingin membeli kambing untuk berkurban.”

Rumah itu seketika menjadi sunyi. Kedua orang tuanya saling berpandangan. Barangkali bukan karena harga domba itu. Bukan pula karena jumlah uang dalam celengan tersebut.

Tetapi karena mereka baru menyadari bahwa hati anak mereka telah disentuh oleh sesuatu yang tidak pernah mereka rencanakan.

Di rumah itu tidak ada target membeli hewan kurban tahun ini. Tidak ada pembicaraan panjang tentang keutamaan Idul Adha. Tidak ada program khusus yang mereka siapkan.

Namun sebuah pemandangan sederhana telah berhasil mengajarkan sesuatu yang tidak berhasil diajarkan oleh banyak kata.

Anak itu tidak melihat sapi. Ia melihat kebaikan. Ia melihat orang-orang berlomba memberi. Ia melihat masjid menjadi tempat berbagi. Dan diam-diam, ia ingin menjadi bagian darinya.

Betapa luar biasanya. Di saat banyak orang dewasa masih sibuk menghitung untung dan rugi, seorang anak kecil justru sedang belajar kehilangan demi memberi.

Di saat sebagian orang bertanya apa yang akan mereka dapatkan, anak itu bertanya apa yang bisa ia korbankan.

Dan mungkin, pada saat itulah langit sedang tersenyum. Karena di tengah dunia yang semakin pandai meminta, masih ada hati kecil yang sedang belajar memberi.

Di sinilah saya memahami satu hal. Keberhasilan kurban tidak selalu diukur dari berapa ton daging yang dibagikan. Tidak selalu dari berapa ekor sapi yang dipotong. Tidak selalu dari seberapa ramai suasana penyembelihan.

Kadang keberhasilan kurban justru terlihat dari satu hati yang tergerak. Satu anak yang belajar berbagi. Satu keluarga yang akhirnya memutuskan berkurban untuk pertama kalinya.

Satu orang yang kembali percaya bahwa masjid bukan hanya tempat salat, tetapi juga tempat tumbuhnya kebaikan.

Karena pada akhirnya, lima puluh dua sapi itu akan habis disembelih. Tiga puluh sembilan kambing dan domba itu akan habis dibagikan.

Keramaian itu akan berlalu. Foto-foto itu akan tenggelam di antara ribuan unggahan lainnya.

Beberapa tahun dari sekarang, mungkin tidak banyak orang yang masih mengingat jumlah hewan yang pernah memenuhi halaman masjid itu. Tidak banyak yang mampu mengingat berapa kilogram daging yang dibagikan. Bahkan mungkin tidak ada yang lagi menghitung berapa ekor sapi yang pernah berdiri di sana.

Panitia bersiap melakukan proses penyembelihan sesuai prosedur yang telah ditetapkan. Ketelitian dan kehati-hatian menjadi bagian penting dalam memastikan hewan kurban diperlakukan dengan baik sebelum disembelih sesuai syariat.

Namun saya membayangkan seorang anak perempuan kecil itu. Anak yang pulang ke rumah lalu berkata, “Ayah, buka celenganku. Aku ingin berkurban.” Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Tetapi bisa jadi gema kebaikannya jauh lebih panjang daripada umur seekor kambing yang lahir dari celengan kecilnya.

Sebab apabila suatu hari anak itu tumbuh dewasa, menjadi seorang ibu, lalu mengajarkan kepada anak-anaknya tentang arti memberi, tentang arti pengorbanan, dan tentang cinta kepada masjid, maka pahala dari kambing yang lahir dari celengan kecil itu mungkin belum selesai mengalir hingga tahun-tahun mendatang.

Pada akhirnya, daging hanya bertahan beberapa hari. Keramaian hanya bertahan beberapa saat. Tetapi teladan dapat hidup lintas generasi.

Dan mungkin, ketika seluruh sapi itu telah lama menjadi kenangan, yang masih dicatat oleh Allah bukanlah berapa banyak hewan yang pernah memenuhi halaman masjid itu.Bukan pula berapa ramai suasana penyembelihannya. Melainkan berapa banyak hati yang berhasil dihidupkan karenanya.

Karena sesungguhnya kurban yang paling jauh jangkauannya bukanlah yang menghasilkan daging paling banyak. Melainkan yang berhasil melahirkan hati-hati yang mencintai pengorbanan. (YMN)

 

Oleh: Yamani, S.S., M.Pd.

Pengurus PC DMI Balikpapan Kota | Pengurus MUI Balikpapan Kota | Dosen Universitas Mulia

Balikpapan, 17 Februari 2026—Malam ini, umat Islam di Indonesia kembali menanti hasil sidang isbat yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia. Sebagian saudara kita mungkin sudah menetapkan awal Ramadhan berdasarkan perhitungan hisab, sebagian lagi menunggu keputusan resmi pemerintah setelah laporan rukyat dari berbagai titik pengamatan. Setiap tahun suasana ini berulang, dan setiap tahun pula pertanyaan yang sama muncul: mengapa awal Ramadhan bisa berbeda?

Perbedaan itu bukan lahir dari ego, bukan pula dari keinginan untuk menyelisihi. Ia berakar pada cara membaca langit. Secara astronomi, awal bulan hijriah ditandai dengan kemunculan hilal, yaitu bulan sabit pertama setelah fase bulan baru. Prosesnya dimulai dengan ijtima’ atau konjungsi, ketika matahari dan bulan berada pada satu garis bujur langit. Namun pada saat itu, bulan sama sekali belum terlihat. Ia baru saja “lahir” dan masih sangat dekat dengan matahari. Untuk bisa tampak sebagai hilal, bulan harus bergerak menjauh, memiliki jarak sudut tertentu dari matahari, dan cukup tinggi di atas ufuk saat matahari terbenam.

Di sinilah letak persoalannya. Secara matematis, posisi bulan bisa dihitung dengan sangat presisi. Kita bisa mengetahui dengan akurat kapan konjungsi terjadi, berapa derajat ketinggian bulan saat magrib, dan berapa jarak sudutnya dari matahari. Metode ini disebut hisab, dan digunakan oleh organisasi seperti Muhammadiyah. Prinsip yang dipakai adalah wujudul hilal: jika saat matahari terbenam bulan sudah berada di atas ufuk, walau sangat tipis, maka bulan baru dianggap telah masuk. Ini adalah pendekatan ilmiah yang konsisten dan dapat diprediksi jauh hari.

Namun ada pendekatan lain yang juga ilmiah. Hilal bukan hanya soal angka, tetapi juga soal visibilitas. Ia dipengaruhi oleh ketebalan cahaya senja, kelembaban udara, polusi, dan kemampuan optik manusia maupun teleskop. Karena itu, dalam sidang isbat pemerintah bersama para ulama dan pakar astronomi mempertimbangkan kriteria kemungkinan terlihatnya hilal (imkanur rukyat). Pendekatan ini juga digunakan oleh ormas seperti Nahdlatul Ulama. Jika secara hitungan bulan memang sudah ada, tetapi secara ilmiah hampir mustahil terlihat, maka bulan berjalan disempurnakan menjadi tiga puluh hari. Perbedaannya bukan pada sainsnya, melainkan pada batas minimal yang dianggap cukup untuk menetapkan awal bulan.

Dari sisi fikih, perbedaan ini sama sekali bukan hal baru. Hadis Nabi ﷺ menyebutkan, “Berpuasalah karena melihatnya dan berbukalah karena melihatnya.” Mayoritas ulama dari Mazhab Syafi’i, Mazhab Maliki, dan Mazhab Hanbali memahami hadis ini secara literal: rukyat menjadi dasar utama. Namun sebagian ulama lain seperti Taqi al-Din al-Subki membuka ruang penggunaan hisab ketika telah mencapai tingkat kepastian ilmiah. Artinya, sejak berabad-abad lalu para ulama telah berbeda pendapat dalam bingkai ijtihad, bukan dalam bingkai permusuhan.

Di sinilah kita perlu menundukkan hati. Rasulullah ﷺ telah memberi kaidah yang menenteramkan: “Jika seorang mujtahid berijtihad lalu benar, ia mendapat dua pahala; jika ia berijtihad lalu keliru, ia mendapat satu pahala.” Betapa indahnya agama ini. Tidak ada yang sia-sia dalam usaha mencari kebenaran. Yang menghitung dengan ilmu astronomi mendapatkan pahala atas ijtihadnya. Yang menunggu rukyat dan keputusan sidang isbat pun mendapatkan pahala atas ijtihadnya. Semua berjalan di atas kaidah ilmiah dan syar’i. Tidak ada yang rugi.

Yang sungguh merugi bukanlah mereka yang berbeda dalam menentukan satu hari, melainkan mereka yang membiarkan perbedaan itu membelah hati. Betapa menyedihkan jika hilal yang begitu tipis justru melahirkan prasangka yang tebal. Betapa pilu jika Ramadhan yang datang membawa ampunan dan rahmat malah disambut dengan kecurigaan dan caci maki. Bulan sabit itu hadir dengan kelembutan cahaya, namun jangan sampai cahaya yang lembut itu berubah menjadi api yang menghanguskan ukhuwah. Padahal Allah telah menjanjikan pahala bagi setiap ijtihad yang tulus. Tidak ada yang sia-sia dalam upaya mencari kebenaran. Yang benar mendapat dua pahala, yang keliru tetap mendapat satu pahala. Semua bernilai di sisi-Nya. Yang menjadi musibah bukanlah perbedaan metode, tetapi ketika hati memilih untuk merobek persaudaraan yang seharusnya dijaga.

Malam ini sidang isbat akan dilaksanakan. Sebagian mungkin telah mantap dengan keyakinannya, sebagian lainnya menanti keputusan resmi dengan harap dan doa. Namun apa pun hasilnya, semoga yang kita jaga bukan hanya angka pada kalender, melainkan keutuhan jiwa sebagai satu umat. Mungkin kita berbeda dalam memulai puasa, tetapi kita tetap berdiri menghadap kiblat yang sama. Kita tetap membaca ayat-ayat yang sama. Kita tetap memohon ampunan kepada Tuhan yang sama dengan air mata yang sama. Allah tidak pernah memerintahkan kita untuk bersatu dalam metode, melainkan bersatu dalam iman. Di situlah rahmat Islam memancar—memberi ruang bagi ilmu untuk berpikir, bagi ijtihad untuk bekerja, dan bagi perbedaan untuk hidup tanpa harus melahirkan kebencian. Jika Ramadhan adalah bulan penyucian hati, maka jangan biarkan ia datang ketika hati masih menyimpan bara. Biarlah hilal berbeda satu malam, tetapi jangan biarkan kita berjarak seumur hidup.

Jika kita memulai Ramadhan dengan hati yang lapang, maka satu hari perbedaan tidak akan mengurangi pahala sedikit pun. Namun jika kita memulai dengan kemarahan dan kesombongan, kita bisa kehilangan keberkahan yang jauh lebih besar. Biarlah para ahli berijtihad dengan ilmu mereka, dan biarlah kita menyambut Ramadhan dengan hati yang lembut. Sebab pada akhirnya, yang Allah lihat bukan seberapa cepat kita berpuasa, tetapi seberapa bersih jiwa kita ketika menyambutnya.

Oleh: Yamani, S.S., M.Pd.
Pengurus PC DMI Balikpapan Kota | Dosen Universitas Mulia


Balikpapan, 12 Februari 2026—
Beberapa hari lagi, mungkin Kamis depan, kita akan memasuki gerbang yang setiap tahun Allah bukakan dengan cara yang berbeda: bukan sekadar lewat hitungan kalender, tetapi lewat panggilan dari langit. Ramadhan bukan hanya pergantian bulan. Ia adalah momentum ketika Allah sendiri mengumumkan ampunan-Nya, membuka pintu-pintu surga, menutup pintu-pintu neraka, dan membelenggu para setan. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa pada malam pertama Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka dan tidak ada satu pun yang ditutup selama sebulan penuh, pintu-pintu neraka ditutup dan tidak ada satu pun yang dibuka, lalu setiap malam terdengar seruan: “Wahai yang menghendaki kebaikan, menghadaplah. Wahai yang menghendaki keburukan, berhentilah.”

Bayangkan, setiap malam langit memanggil. Pertanyaannya bukan apakah seruan itu ada, tetapi apakah hati kita masih peka untuk menjawabnya.

Bagi para dosen, Ramadhan adalah saat paling jujur untuk menilai kembali makna ilmu yang kita ajarkan. Kita berdiri di depan kelas, menjelaskan teori, memaparkan metodologi, membimbing penelitian, memberi nilai, dan membentuk cara berpikir mahasiswa. Namun Ramadhan datang untuk bertanya dengan lembut sekaligus tegas: sudahkah ilmu itu mengalir menjadi teladan? Sudahkah mahasiswa bukan hanya memahami konsep, tetapi melihat akhlak dalam diri pengajarnya? Mengajar bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan amanah yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Jika pintu surga benar-benar dibuka selama sebulan penuh, bukankah kita ingin masuk bersama generasi yang pernah kita bimbing, bukan sendirian membawa gelar dan reputasi?

Bagi mahasiswa, Ramadhan adalah cermin paling jernih bagi masa muda. Di usia yang penuh semangat, penuh cita-cita, dan sering kali juga penuh godaan, Ramadhan mengajarkan integritas yang paling dalam. Puasa adalah ibadah yang sunyi; tidak ada yang tahu kecuali Allah. Di ruang-ruang kampus, mungkin kita bisa tampil cerdas, aktif, dan percaya diri. Di media sosial, kita bisa terlihat sempurna. Tetapi ketika lapar dan dahaga datang, ketika tidak ada yang mengawasi, hanya iman yang berbicara. Ramadhan melatih kejujuran yang tidak bisa dipalsukan. Ia membentuk karakter yang tidak dibangun oleh sorotan publik, tetapi oleh kesadaran bahwa Allah selalu melihat.

Bagi para akademisi, yang terbiasa dengan diskursus, publikasi, dan perdebatan ilmiah, Ramadhan menghadirkan pertanyaan yang lebih dalam daripada sekadar argumen: sudahkah hati kita tunduk? Kita mungkin piawai menjelaskan epistemologi, metodologi, dan teori peradaban. Kita bisa berbicara tentang krisis kemanusiaan global, ketimpangan sosial, dan transformasi digital. Namun Ramadhan mengajak kita untuk duduk sendirian di sepertiga malam, menundukkan kepala, dan mengakui bahwa setinggi apa pun pengetahuan, kita tetap hamba. Ada saatnya kecerdasan berhenti berbicara dan air mata yang mengambil alih. Di situlah ilmu menemukan ruhnya.

Para pengurus masjid pun akan memasuki bulan tersibuk dalam setahun. Jadwal disusun, imam ditentukan, penceramah dihubungi, konsumsi diatur, agenda dirapikan. Masjid akan ramai oleh suara dan aktivitas. Tetapi Ramadhan tidak hanya meminta kerapian program; ia menuntut keikhlasan hati. Masjid bukan sekadar pusat kegiatan, melainkan pusat perubahan. Jangan sampai ia megah oleh dekorasi tetapi miskin oleh ketulusan. Jangan sampai ia penuh oleh manusia tetapi kosong oleh doa yang sungguh-sungguh. Ramadhan mengingatkan bahwa tugas memakmurkan masjid bukan hanya menghidupkan acara, melainkan menghidupkan jiwa-jiwa yang datang dengan luka, dosa, dan harapan.

Bagi remaja masjid, Ramadhan adalah panggilan keberanian. Mungkin ada di antara kalian yang merasa belum layak, masih bergulat dengan kesalahan, atau merasa kecil dibandingkan orang-orang yang tampak lebih saleh. Namun seruan langit itu tidak memilih usia dan tidak mensyaratkan kesempurnaan. Ia memanggil siapa pun yang ingin menjadi lebih baik. Menjadi remaja masjid bukan tentang terlihat religius di hadapan orang lain, tetapi tentang berani melawan diri sendiri ketika tak ada yang melihat. Ramadhan adalah kesempatan untuk membuktikan bahwa masa muda bukan alasan untuk menunda taubat, melainkan alasan untuk mempercepatnya.

Di atas semua itu, ada satu pertanyaan yang mungkin membuat dada kita sesak: bagaimana jika ini Ramadhan terakhir? Tahun lalu kita masih bersama banyak orang yang kini hanya tinggal nama dalam doa. Tidak ada satu pun dari kita yang memegang jaminan akan bertemu Ramadhan berikutnya. Setiap kali bulan ini datang, ia tidak pernah berjanji akan kembali kepada jiwa yang sama. Maka menunda taubat adalah kerugian yang tidak masuk akal. Menunda memaafkan adalah kesombongan yang berbahaya. Menunda kebaikan adalah perjudian yang terlalu mahal.

Setiap malam Ramadhan, langit bertanya: adakah yang memohon ampun sehingga ia akan diampuni? Adakah yang ingin bertaubat sehingga taubatnya diterima? Adakah yang berdoa sehingga doanya dikabulkan? Betapa menyedihkan jika pertanyaan itu menggema, sementara hati kita tetap diam dan sibuk oleh urusan dunia yang tidak pernah benar-benar selesai.

Beberapa hari lagi, mungkin Kamis depan, pintu-pintu surga akan dibuka. Jangan biarkan hati kita tetap tertutup. Sambutlah Ramadhan bukan hanya dengan ucapan dan spanduk, tetapi dengan tekad yang sunyi namun nyata: menjadi dosen yang lebih jujur, mahasiswa yang lebih bersih, akademisi yang lebih rendah hati, pengurus masjid yang lebih ikhlas, dan remaja yang lebih berani menaklukkan dirinya sendiri.

Jika Ramadhan ini mampu membuat kita menangis dalam sujud dan merasa kecil di hadapan Allah, maka itu lebih berharga daripada segala pencapaian yang pernah kita banggakan. Semoga ketika Ramadhan berlalu, yang pergi bukan hanya bulannya, tetapi juga dosa-dosa kita, dan yang tersisa adalah hati yang lebih hidup daripada sebelumnya.

Oleh: Yamani, S.S., M.Pd.
Pengurus PC DMI Balikpapan Kota | Dosen Universitas Mulia

Balikpapan, 8 Februari 2026—Di banyak sudut Kota Balikpapan, kubah-kubah masjid menjulang anggun, pengeras suara lantang mengumandangkan adzan lima kali sehari, dan spanduk peringatan hari besar Islam berganti saban musim hijriah. Namun di balik semarak itu, sebuah pertanyaan mendesak mengetuk nurani kita: apakah masjid sungguh telah menjadi pusat kehidupan umat, ataukah hanya sesekali menjadi panggung seremonial keagamaan?

Fakta yang patut direnungkan bersama menunjukkan bahwa sebagian besar pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) masih menempatkan Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) sebagai poros utama aktivitas kelembagaan. Bahkan, secara struktural, dibentuk seksi khusus untuk mengurusi perayaan-perayaan tersebut. Tidak ada yang keliru dengan PHBI—ia adalah bagian dari syiar, ruang edukasi publik, sekaligus perekat sosial. Namun persoalan muncul ketika syiar direduksi menjadi seremoni, ketika kalender kegiatan masjid nyaris berhenti di lima momentum besar: Tahun Baru Islam, Maulid Nabi, Isra Mi‘raj, Ramadhan–Idul Fitri, serta Idul Adha.

Di luar hari-hari itu, masjid kembali lengang. Rapat pengurus jarang digelar—kadang tak lebih dari lima kali setahun—seakan roda organisasi hanya berputar ketika ada spanduk yang harus dicetak dan penceramah yang harus diundang. Padahal dalam teori manajemen organisasi nirlaba berbasis komunitas, intensitas pertemuan pengelola adalah indikator vital dari kesehatan institusi. Rapat bukan sekadar forum administratif, melainkan ruang lahirnya visi, evaluasi, inovasi, dan keberanian untuk berubah.

Masjid, dalam sejarah Islam klasik, tidak pernah sesempit itu. Ia adalah pusat pendidikan, rumah musyawarah, ruang advokasi sosial, sentra ekonomi umat, dan kawah candradimuka kepemimpinan generasi muda. Di Madinah, Rasulullah ﷺ menjadikan masjid bukan hanya tempat sujud, tetapi juga tempat membentuk peradaban. Dari lantainya yang sederhana lahir strategi sosial, solidaritas ekonomi, dan kader-kader umat yang tangguh secara spiritual sekaligus sosial.

Pertanyaannya kini: mengapa kita mereduksi warisan agung itu menjadi sebatas panggung perayaan tahunan?

Lebih menggetarkan lagi, alokasi dana masjid sering kali terkuras untuk kebutuhan seremonial: dekorasi, konsumsi, honor penceramah, dan panggung acara. Semua itu sah dan dibutuhkan. Tetapi menjadi ironi ketika hampir tidak tersisa anggaran—dan lebih penting lagi, gagasan—untuk program pembinaan pemuda masjid, pelatihan keterampilan hidup, kelas kepemimpinan, penguatan ekonomi jamaah, atau pendampingan keluarga yang terjerat kesulitan.

Di sudut saf belakang, mungkin ada ayah yang menunduk karena kehilangan pekerjaan. Di teras masjid, barangkali ada remaja yang mencari makna hidup tetapi tidak menemukan ruang dialog. Di perumahan sekitar, mungkin ada janda yang berjuang sendiri membiayai sekolah anaknya. Pertanyaannya kembali menghantam hati kita: apakah masjid telah hadir untuk mereka—atau hanya ramai ketika hari raya tiba?

Krisis ini bukan sekadar soal program; ia adalah krisis orientasi. Masjid yang hidup bukan diukur dari meriahnya panggung PHBI, melainkan dari ramainya shaf shalat berjamaah di hari biasa, dari wajah-wajah pemuda yang betah berdiskusi selepas Isya, dari jamaah yang merasakan bahwa masjid adalah tempat pulang—bukan hanya tempat singgah.

Pemuda, khususnya, tidak bisa dirangkul hanya dengan undangan menghadiri tabligh akbar setahun sekali. Mereka membutuhkan ruang aktualisasi, mentoring, pelatihan digital, kewirausahaan, diskusi intelektual, dan proyek sosial nyata. Tanpa itu, masjid akan terus menua bersama pengurusnya, sementara generasi penerus tumbuh di luar pagar spiritual yang seharusnya menaungi mereka.

Tulisan ini bukan gugatan dari luar, melainkan jeritan cinta dari dalam. Sebab mengkritik masjid dengan kejujuran adalah bentuk kesetiaan tertinggi terhadapnya. Kita tidak sedang kekurangan bangunan megah; kita kekurangan keberanian untuk mentransformasikan masjid menjadi pusat pemberdayaan umat.

Barangkali sudah saatnya DKM di Balikpapan—dan di kota-kota lain—berani melakukan pergeseran paradigma: dari event organizer keagamaan menjadi arsitek peradaban lokal. Dari pengelola agenda tahunan menjadi perancang masa depan jamaahnya.

Mari bertanya dengan jujur pada diri sendiri: berapa kali kita duduk bersama tahun ini untuk memikirkan bagaimana shalat berjamaah Subuh bisa penuh? Berapa jam kita habiskan untuk mendesain program kaderisasi pemuda? Berapa rupiah yang dialokasikan untuk mengangkat ekonomi jamaah yang terpuruk?

Jika pertanyaan-pertanyaan itu membuat dada kita sesak, mungkin itulah tanda bahwa hati kita masih hidup.

Masjid tidak membutuhkan pengurus yang hanya pandai menata acara; ia membutuhkan penjaga ruh, perancang perubahan, dan pemimpin yang rela begadang memikirkan umatnya. Sebab suatu hari kelak, bukan spanduk PHBI yang akan ditanya di hadapan Allah, melainkan: apa yang telah kita lakukan agar rumah-Ku ini benar-benar memakmurkan hamba-hamba-Ku?

Dan semoga, dari kegelisahan ini, lahir keberanian baru—keberanian untuk menghidupkan masjid bukan hanya pada hari raya, tetapi pada setiap hari kehidupan. (YMN)

Oleh: Yamani, S.S., M.Pd.

Balikpapan, 30 Januari 2026—Tanggal  31 Januari selalu memiliki makna istimewa bagi warga Nahdlatul Ulama. Di hari itulah, pada tahun 1926, NU lahir sebagai ikhtiar para ulama—dipimpin Hadratus Syaik Hasyim Asy’ari bersama KH. Abdul Wahab Hasbullah dan KH. Bisri Syansuri— menjaga ajaran Islam Ahlussunnah wal Jama‘ah sekaligus merawat harmoni sosial bangsa. Hampir satu abad kemudian, denyut perjuangan itu terus hidup—salah satunya melalui masjid-masjid yang menjadi pusat ibadah, pendidikan, dan pelayanan umat.

Bagi para pengurus masjid, Milad NU bukan sekadar seremoni tahunan. Ia adalah momentum muhasabah: sejauh mana masjid telah berfungsi bukan hanya sebagai tempat shalat, tetapi juga sebagai ruang pembinaan akhlak, penguatan ukhuwah, dan pengabdian sosial. Di tangan takmir, imam, khatib, dan relawan masjidlah nilai-nilai tawassuth (moderat), tasamuh (toleran), tawazun (seimbang), dan i‘tidal (adil) diwujudkan dalam praktik nyata.

NU sejak awal memandang masjid sebagai jantung kehidupan umat. Dari mimbar masjid, dakwah yang sejuk disuarakan. Dari serambi masjid, anak-anak belajar mengaji. Dari halaman masjid, solidaritas sosial digerakkan—menggalang bantuan, merawat fakir miskin, dan menguatkan yang lemah. Semua itu adalah wajah Islam rahmatan lil ‘alamin yang terus diperjuangkan NU hingga hari ini.

Peringatan Milad NU menjadi ajakan kepada seluruh pengurus masjid untuk memperbarui niat khidmat. Mengelola masjid bukan semata soal administrasi atau fisik bangunan, melainkan amanah peradaban: menumbuhkan generasi berilmu, beradab, dan cinta tanah air. Di era digital dan tantangan sosial yang kian kompleks, masjid juga dituntut adaptif—menjadi pusat literasi keislaman, ruang dialog, serta benteng dari paham ekstrem dan perpecahan.

Melalui Milad NU, para pengurus masjid diajak meneguhkan kembali perannya sebagai penjaga nilai, perawat tradisi ulama, dan penggerak persatuan umat. Dari masjidlah semangat kebangsaan dipupuk, dari masjid pula kedamaian sosial dirawat.

Semoga peringatan Milad Nahdlatul Ulama ini menjadi penguat langkah seluruh pengurus masjid untuk terus berkhidmat dengan ikhlas, istiqamah, dan penuh kebijaksanaan—menghidupkan masjid, memuliakan jamaah, serta menjaga Indonesia tetap rukun dalam bingkai Islam yang rahmatan lil ‘alamiin.

Oleh: Yamani, S.S., M.Pd.

Balikpapan, 29 Januari 2026 — Dunia hari ini tidak sedang baik-baik saja. Api konflik menyala di berbagai penjuru, sementara kepekaan nurani manusia justru terasa kian menipis. Ukraina luluh lantak oleh perang berkepanjangan. Palestina, khususnya Gaza, terus menanggung penderitaan akibat penjajahan dan agresi yang belum berkesudahan. Ketegangan antara kekuatan besar dunia—baik di Timur maupun Barat—terus meningkat, dengan saling unjuk kekuatan militer, ekonomi, dan pengaruh geopolitik.

Di level global, kita makin sering menyaksikan dunia bergerak bukan oleh suara keadilan, melainkan oleh siapa yang paling kuat dan berpengaruh. Sanksi ekonomi, veto politik, dan dominasi narasi internasional sering kali berujung pada penderitaan rakyat sipil, sementara mekanisme keadilan global tampak tumpul. Konflik-konflik ini tidak selalu lahir dari kebetulan, melainkan dari kepentingan strategis, sumber daya alam, dan perebutan pengaruh yang dibungkus dengan bahasa diplomasi.

Dalam kondisi seperti ini, Al-Qur’an telah mengingatkan dengan tegas:

وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ
“Dan janganlah kamu condong kepada orang-orang yang zalim, karena kamu akan disentuh api (neraka).”
(QS. Hud: 113)

Namun persoalannya bukan hanya tentang mereka yang berbuat zalim. Pertanyaan yang lebih dekat adalah: di manakah posisi kita ketika kezaliman itu terjadi?

Remaja Masjid: Kita Ada di Mana?

Sebagai pendidik, kegelisahan ini bukan sekadar lahir dari membaca berita atau mengikuti dinamika global, tetapi dari perjumpaan sehari-hari dengan generasi muda itu sendiri. Di ruang kelas, di lingkungan masjid, dan dalam percakapan-percakapan sederhana, terlihat jelas betapa banyak potensi yang besar namun perlahan kehilangan arah. Bukan karena mereka tidak cerdas, melainkan karena hati mereka jarang diajak berhenti, merenung, dan bertanya: untuk apa hidup ini dijalani dan kepada siapa ia akan kembali. Kegelisahan inilah yang semakin terasa getir ketika dunia di sekitar kita justru dipenuhi luka dan darah.

Di saat dunia berdarah, banyak remaja Muslim tenggelam dalam dunia kecilnya sendiri. Jari-jari lebih sibuk menggulir media sosial daripada membuka mushaf. Malam-malam habis untuk game dan hiburan, tetapi berat untuk bangun tahajud. Hati mudah hancur karena cinta yang kandas, tetapi tidak bergetar saat melihat Gaza dibombardir. Air mata tumpah karena ditolak cinta, namun kering saat saudara seiman dikubur massal.

Masjid—yang seharusnya menjadi pusat pembinaan dan peradaban pemuda—tak jarang terasa lengang. Kajian dianggap membosankan. Mengaji terasa melelahkan. Ilmu agama dipandang tidak menjanjikan masa depan. Padahal, tanpa iman dan ilmu yang dirawat, masa depan seperti apa yang sedang dipersiapkan?

Krisis ini bukan semata akibat kesibukan fisik, melainkan karena hati yang kehilangan arah dan tujuan. Remaja mudah terseret arus budaya instan dan hedonistik yang mengakibatkan:

  • kehilangan makna hidup yang sejati;
  • lalai dalam menjaga iman, sehingga ibadah rutin menjadi disepelekan atau terlupakan;
  • meninggalkan masjid bukan karena sibuk, tetapi karena hati tidak lagi menemukan rasa damai di dalamnya.

Allah ﷻ berfirman:

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ

“Belumkah tiba waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka dalam mengingat Allah?”
(QS. Al-Hadid: 16)

Ayat ini bukan sekedar peringatan bagi akal, tetapi mengguncang apa yang kita rasakan: apakah hati kita masih hidup dan takut kepada Allah, atau telah mengeras oleh kelalaian.

Antara Greenland dan Hati yang Membeku

Mengapa Greenland penting? Karena ia menjadi simbol zaman ini. Tanah yang jauh, dingin, dan sepi kini diperebutkan demi sumber daya dan posisi strategis. Dunia rela bertengkar demi es dan mineral, tetapi tidak peduli pada darah anak-anak di Gaza. Inilah dunia yang kehilangan nurani.

Dan lebih berbahaya lagi, ketika hati remaja Muslim ikut membeku—dingin dari kepedulian, beku dari kesadaran, mati rasa terhadap penderitaan umat.

Saatnya Remaja Masjid Bangkit

Remaja masjid bukan sekadar pengisi shaf shalat. Kalian adalah generasi yang kelak akan memikul Islam di tengah dunia yang semakin bising oleh kebatilan. Jika hari ini lalai, esok agama ini akan dipikul oleh siapa? Bangkit bukan harus dengan senjata, tetapi dengan kesungguhan. Dengan shalat yang dijaga. Dengan ilmu yang dicari. Dengan Al-Qur’an yang dibaca dan dipahami. Dengan masjid yang dihidupkan, bukan hanya saat Ramadhan, tetapi sepanjang hidup.

Karena di tengah gelapnya dunia oleh ketidakadilan global, Allah tetap menjaga cahaya-Nya:

يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ

“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka, tetapi Allah menyempurnakan cahaya-Nya.”
(QS. Ash-Shaff: 8)

Pertanyaannya kini sederhana namun mendasar: jika bukan remaja masjid hari ini, siapa lagi? Agama ini tidak akan runtuh oleh musuh, tetapi oleh kelalaian para pewarisnya sendiri. Apakah kita akan menjadi penjaga cahaya itu, atau justru orang yang lalai hingga cahaya itu redup dari hidup kita sendiri?