Ketika Kepercayaan Datang Bersama Sapi-Sapi Itu

Oleh: Yamani, S.S., M.Pd.
Pengurus PC DMI Balikpapan Kota | Pengurus  MUI Kecamatan Balikpapan Kota | Dosen Universitas Mulia

 

Pemandangan itu tidak biasa. Puluhan sapi berdiri berjejer di hamparan rumput hijau di samping jalan menuju Masjid As-Salam. Domba-domba tertata rapi. Dari kejauhan, pemandangan itu lebih menyerupai sebuah padang penggembalaan yang damai daripada lokasi persiapan Idul Adha di tengah kota.

Orang-orang yang melintas memperlambat kendaraan mereka. Sebagian berhenti. Sebagian mengabadikan dengan telepon genggam. Anak-anak berdiri memandang dengan mata berbinar.

Tahun ini jumlahnya jauh lebih banyak. Lima puluh dua ekor sapi. Tiga puluh delapan ekor kambing dan domba. Angka yang tidak kecil untuk sebuah masjid.

Namun sesungguhnya yang membuat saya terdiam bukanlah jumlah hewan kurban itu. Melainkan sebuah pertanyaan yang jauh lebih penting: Mengapa begitu banyak orang menitipkan amanahnya ke sini?

Di tengah zaman ketika kredibilitas menjadi sesuatu yang mahal, ketika masyarakat semakin kritis terhadap setiap rupiah yang mereka titipkan, ketika tidak sedikit lembaga kehilangan kepercayaan publik karena gagal menjaga amanah, justru terjadi sesuatu yang menarik di Masjid As-Salam Wika.

Hanya sekitar dua puluh ekor sapi yang berasal dari lingkungan sekitar masjid. Selebihnya datang dari berbagai tempat. Ada yang berasal dari kawasan lain di Balikpapan. Ada yang berasal dari luar wilayah. Bahkan seorang jamaah dari Samarinda mengantar sendiri dua ekor sapi ke Masjid As-Salam.

Padahal ia bisa saja menitipkan kurbannya ke masjid yang lebih dekat. Ia bisa saja memilih panitia lain. Ia bisa saja mencari tempat yang lebih praktis.

Namun ia datang ke sini. Membawa amanah. Membawa keyakinan. Dan sesungguhnya, itulah fenomena yang sedang terjadi.

Sapi-sapi itu tidak datang sendirian. Mereka datang bersama reputasi yang dibangun perlahan selama bertahun-tahun. Reputasi yang tidak lahir dari spanduk. Tidak tumbuh dari baliho. Tidak dibangun oleh slogan.

Ia lahir dari sesuatu yang jauh lebih sederhana sekaligus lebih sulit: amanah yang dijaga ketika tidak ada yang melihat, pelayanan yang dilakukan tanpa banyak sorotan, dan komitmen yang terus dirawat dari tahun ke tahun.

Mungkin itulah yang sedang dipanen oleh Masjid As-Salam Wika hari ini. Bukan sekadar hewan kurban. Melainkan buah dari kepercayaan yang telah tumbuh lama di hati masyarakat.

Yang menarik, keyakinan masyarakat itu tidak berhenti pada jumlah hewan yang terus bertambah. Ia juga terlihat dari cara kurban dikelola.

Di banyak tempat, penyembelihan hewan kurban masih identik dengan tanah yang becek oleh darah, daging yang bersentuhan dengan lantai, dan proses yang dilakukan sekadarnya karena dianggap hanya berlangsung setahun sekali.

Namun di Masjid As-Salam, darah hewan langsung ditampung dan dialirkan ke tempat yang telah disiapkan. Daging dipotong dalam posisi menggantung. Pengemasan dilakukan secara tertib dan higienis.

Sebagian orang mungkin menganggapnya hanya urusan teknis. Padahal sesungguhnya itu adalah urusan hati.

Sebab seekor sapi yang berdiri di sana mungkin dibeli dari hasil kerja seseorang selama berbulan-bulan. Mungkin ada seorang ayah yang diam-diam menyisihkan sebagian gajinya setiap bulan. Mungkin ada seorang ibu yang menunda membeli sesuatu yang ia inginkan agar keluarganya tetap bisa berkurban. Mungkin ada seorang pensiunan yang menabung sedikit demi sedikit demi menunaikan ibadah yang telah lama dirindukan.

Mungkin pula ada seseorang yang harus mengalahkan banyak kebutuhan hidup agar tetap dapat mempersembahkan kurban terbaiknya kepada Allah.

Ketika hewan itu tiba di halaman masjid, yang datang sebenarnya bukan hanya sapi dan kambing. Di dalamnya ada doa-doa yang dipanjatkan setelah salat. Ada harapan yang disimpan dalam diam. Ada pengorbanan yang tidak pernah diketahui orang lain.

Karena itulah amanah sebesar itu layak diperlakukan dengan penuh penghormatan.

Maka ketika proses kurban dikelola dengan bersih, tertib, dan profesional, sesungguhnya yang sedang dihormati bukan hanya dagingnya. Tetapi juga perjuangan orang-orang yang menghadirkannya.

Namun kisah yang paling menggetarkan justru tidak datang dari angka lima puluh dua ekor sapi itu. Tidak datang dari para panitia. Tidak pula datang dari para pekurban.

Ia datang dari seorang anak kecil. Seorang anak yang bahkan belum baligh.

Sore itu ia berdiri di pinggir jalan. Matanya terpaku pada deretan sapi dan domba yang memenuhi halaman. Ia tidak berbicara. Ia hanya memandang. Lama. Mungkin beberapa menit. Mungkin lebih.

Tidak ada yang tahu apa yang sedang terjadi di dalam hatinya saat itu. Yang pasti, pemandangan itu telah meninggalkan sesuatu. Sesuatu yang bahkan tidak disadari oleh orang-orang dewasa di sekelilingnya.

Sesampainya di rumah, ia meminta orang tuanya membuka celengan miliknya. Orang tuanya heran. “Mau dipakai untuk apa?” Anak itu menjawab pelan, “Aku ingin membeli domba untuk berkurban.”

Rumah itu seketika menjadi sunyi. Kedua orang tuanya saling berpandangan. Barangkali bukan karena harga domba itu. Bukan pula karena jumlah uang dalam celengan tersebut.

Tetapi karena mereka baru menyadari bahwa hati anak mereka telah disentuh oleh sesuatu yang tidak pernah mereka rencanakan.

Di rumah itu tidak ada target membeli hewan kurban tahun ini. Tidak ada pembicaraan panjang tentang keutamaan Idul Adha. Tidak ada program khusus yang mereka siapkan.

Namun sebuah pemandangan sederhana telah berhasil mengajarkan sesuatu yang tidak berhasil diajarkan oleh banyak kata.

Anak itu tidak melihat sapi. Ia melihat kebaikan. Ia melihat orang-orang berlomba memberi. Ia melihat masjid menjadi tempat berbagi. Dan diam-diam, ia ingin menjadi bagian darinya.

Betapa luar biasanya. Di saat banyak orang dewasa masih sibuk menghitung untung dan rugi, seorang anak kecil justru sedang belajar kehilangan demi memberi.

Di saat sebagian orang bertanya apa yang akan mereka dapatkan, anak itu bertanya apa yang bisa ia korbankan.

Dan mungkin, pada saat itulah langit sedang tersenyum. Karena di tengah dunia yang semakin pandai meminta, masih ada hati kecil yang sedang belajar memberi.

Di sinilah saya memahami satu hal. Keberhasilan kurban tidak selalu diukur dari berapa ton daging yang dibagikan. Tidak selalu dari berapa ekor sapi yang dipotong. Tidak selalu dari seberapa ramai suasana penyembelihan.

Kadang keberhasilan kurban justru terlihat dari satu hati yang tergerak. Satu anak yang belajar berbagi. Satu keluarga yang akhirnya memutuskan berkurban untuk pertama kalinya.

Satu orang yang kembali percaya bahwa masjid bukan hanya tempat salat, tetapi juga tempat tumbuhnya kebaikan.

Karena pada akhirnya, lima puluh dua sapi itu akan habis disembelih. Tiga puluh delapan kambing dan domba itu akan habis dibagikan.

Keramaian itu akan berlalu. Foto-foto itu akan tenggelam di antara ribuan unggahan lainnya.

Beberapa tahun dari sekarang, mungkin tidak banyak orang yang masih mengingat jumlah hewan yang pernah memenuhi halaman masjid itu. Tidak banyak yang mampu mengingat berapa kilogram daging yang dibagikan. Bahkan mungkin tidak ada yang lagi menghitung berapa ekor sapi yang pernah berdiri di sana.

Namun saya membayangkan seorang anak kecil itu. Anak yang pulang ke rumah lalu berkata, “Ayah, buka celenganku. Aku ingin berkurban.” Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Tetapi bisa jadi gema kebaikannya jauh lebih panjang daripada umur seekor domba.

Sebab apabila suatu hari anak itu tumbuh dewasa, menjadi seorang ayah, lalu mengajarkan kepada anak-anaknya tentang arti memberi, tentang arti pengorbanan, dan tentang cinta kepada masjid, maka pahala dari domba yang lahir dari celengan kecil itu mungkin belum selesai mengalir hingga hari ini.

Pada akhirnya, daging hanya bertahan beberapa hari. Keramaian hanya bertahan beberapa saat. Tetapi teladan dapat hidup lintas generasi.

Dan mungkin, ketika seluruh sapi itu telah lama menjadi kenangan, yang masih dicatat oleh Allah bukanlah berapa banyak hewan yang pernah memenuhi halaman masjid itu.Bukan pula berapa ramai suasana penyembelihannya. Melainkan berapa banyak hati yang berhasil dihidupkan karenanya.

Karena sesungguhnya kurban yang paling jauh jangkauannya bukanlah yang menghasilkan daging paling banyak. Melainkan yang berhasil melahirkan hati-hati yang mencintai pengorbanan. (YMN)