Dua Belas Tahun Menjaga Makna Pengorbanan, Universitas Mulia Siapkan Tujuh Hewan Qurban

,

Balikpapan, 26 Mei 2026—Aroma rumput basah dan suara percakapan panitia mulai terasa berbeda ketika bulan Dzulhijjah tiba di lingkungan Universitas Mulia. Di balik aktivitas akademik yang padat, ada tradisi yang diam-diam terus tumbuh selama lebih dari satu dekade: qurban yang dibangun dari gotong royong dosen dan karyawan kampus.

Tahun ini menjadi penanda perjalanan ke-12 pelaksanaan qurban di lingkungan kampus tersebut. Bukan sekadar rutinitas tahunan, program ini perlahan menjelma menjadi ruang pertemuan antara nilai ibadah, solidaritas, dan kepedulian sosial.

Koordinator pelaksana qurban, Drs. Achmad Prijanto, menyebut bahwa sejak awal program ini tidak pernah dibangun hanya untuk menyembelih hewan qurban semata. Ada nilai yang ingin dirawat bersama.

“Menjalankan syariat dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT menjadi tujuan utama. Qurban menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah sekaligus melatih keikhlasan dalam menyisihkan sebagian harta,” ujarnya.

Namun di tengah tekanan ekonomi yang dirasakan banyak kalangan, menjaga semangat kolektif bukan perkara mudah. Tidak semua dosen dan karyawan dapat langsung ikut serta. Karena itu, panitia memilih pendekatan yang sederhana tetapi efektif: menabung sedikit demi sedikit setiap bulan.

Bagi sebagian orang, skema itu mungkin terlihat biasa. Tetapi di lingkungan kampus, cara tersebut justru menjadi jembatan yang memungkinkan niat berqurban tetap hidup di tengah banyak kebutuhan lain yang harus diprioritaskan.

Achmad menjelaskan, transparansi dan akuntabilitas menjadi kunci utama agar kepercayaan peserta tetap terjaga dari tahun ke tahun. Panitia berusaha memastikan seluruh proses berjalan terbuka sehingga dosen dan karyawan merasa nyaman menitipkan amanah qurbannya.

Di sisi lain, qurban di lingkungan kampus ini juga membangun kultur kerja yang tidak banyak terlihat di ruang rapat atau administrasi akademik. Ada kebersamaan yang lahir dari proses menabung bersama, berdiskusi bersama, hingga mendistribusikan daging qurban secara langsung kepada masyarakat.

“Nilai-nilai qurban seperti kebersamaan, rela berkorban, dan disiplin ikut membentuk lingkungan kerja yang lebih harmonis, produktif, dan profesional,” katanya.

Tahun ini, jumlah hewan qurban mengalami peningkatan signifikan. Jika sebelumnya terdapat empat ekor hewan qurban, kini meningkat menjadi tujuh ekor atau naik sekitar 75 persen.

Menurut Achmad, peningkatan itu tidak lepas dari dukungan keluarga besar Yayasan Airlangga yang terus ikut menyuburkan kegiatan qurban di lingkungan kampus.

“Alhamdulillah, tiap tahun kami menargetkan minimal tiga ekor. Tahun ini meningkat dari empat menjadi tujuh ekor,” ungkapnya.

Tetapi denyut utama qurban kampus sesungguhnya terasa ketika proses distribusi dimulai. Daging qurban tidak berhenti di lingkungan internal kampus. Panitia turun langsung menyasar masyarakat sekitar kampus, petugas kebersihan Kota Balikpapan, hingga tiga panti asuhan.

Bagi warga sekitar, kehadiran qurban dari Universitas Mulia ternyata sudah menjadi sesuatu yang ditunggu setiap tahun. Bukan karena besarnya jumlah daging yang diterima, melainkan karena ada hubungan sosial yang terus dipelihara tanpa banyak publikasi berlebihan.

Achmad bahkan menegaskan bahwa program ini tidak dibangun untuk pencitraan institusi.

“Dampaknya dirasakan masyarakat dan itu yang paling penting. Daging qurban Universitas Mulia selalu ditunggu masyarakat dari tahun ke tahun,” tuturnya.

Di tengah banyaknya program kampus yang berorientasi pada capaian akademik dan teknologi, qurban justru menghadirkan wajah lain perguruan tinggi: hadir sebagai bagian dari denyut sosial masyarakat di sekitarnya.

Bagi Universitas Mulia, qurban tampaknya bukan hanya tentang penyembelihan hewan. Ia menjadi cara sederhana untuk menjaga hubungan antarmanusia tetap hangat di tengah dunia yang semakin sibuk dan individual. (YMN)