Model Daycare Universitas Mulia yang Tumbuh dari Laboratorium Akademik Dilirik ITK
Balikpapan, 7 Mei 2026 — Ketika banyak taman penitipan anak berfokus pada layanan pengasuhan harian, Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG PAUD) Universitas Mulia justru mengembangkan pendekatan berbeda. Daycare Ananda Mulia tidak hanya dibangun sebagai tempat penitipan anak, tetapi sebagai living lab yang menghubungkan praktik pengasuhan, pembelajaran akademik, dan riset pendidikan anak usia dini dalam satu ekosistem.
Model inilah yang mendorong Institut Teknologi Kalimantan melakukan studi tiru ke Prodi PG PAUD Universitas Mulia dalam rangka pengembangan layanan daycare berbasis kampus di lingkungan ITK.
Kaprodi PG PAUD Universitas Mulia, Bety Vitriana, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa kekuatan utama Daycare Ananda Mulia bukan terletak pada fasilitas fisik semata, melainkan pada sistem yang dibangun secara terukur dan berkelanjutan.

Kaprodi PG PAUD Universitas Mulia, Bety Vitriana, S.Pd., M.Pd., memaparkan konsep Daycare Ananda Mulia sebagai living lab pendidikan anak usia dini di hadapan tim studi tiru ITK.
“Daycare kami memiliki SOP, kurikulum pembelajaran mulai usia bayi tiga bulan hingga pra sekolah enam tahun, dokumentasi perkembangan anak yang sistematis, serta keterlibatan aktif mahasiswa dan orang tua sebagai mitra pengasuhan. Keberhasilannya tidak hanya terlihat secara kasat mata, tetapi terdokumentasi dalam perkembangan tumbuh kembang anak,” ujarnya.
Berbeda dengan daycare konvensional yang berfokus pada pengawasan dan keselamatan anak, Daycare Ananda Mulia dikembangkan dengan tiga fungsi utama sekaligus: layanan pengasuhan, laboratorium observasi bagi mahasiswa, dan ruang uji coba inovasi pendidikan anak usia dini.
Di ruang inilah teori tidak berhenti sebagai materi kuliah. Aktivitas harian anak justru menjadi bagian dari proses akademik yang terus dianalisis dan diperbaiki.
“Living lab ini terintegrasi langsung dengan kurikulum. Mata kuliah seperti Strategi Pembelajaran Anak Usia Dini, Bermain dan Permainan, hingga Manajemen PAUD memiliki aktivitas yang tersinkronisasi dengan kegiatan daycare. Bahkan data kegiatan harian anak dapat menjadi bahan penelitian dan skripsi mahasiswa,” jelas Bety.
Salah satu praktik yang menjadi kekuatan Daycare Ananda Mulia adalah budaya dokumentasi dan refleksi yang dilakukan secara rutin. Guru, mahasiswa, dan dosen tidak hanya menjalankan kegiatan, tetapi mencatat perkembangan anak melalui catatan anekdot, buku penghubung, hingga forum refleksi mingguan.
Menurut Bety, pola kerja seperti ini membuat mahasiswa tidak belajar dari simulasi, melainkan dari dinamika nyata yang terus berkembang di lapangan.
“Hasil refleksi langsung digunakan untuk memperbaiki metode pengasuhan dan pembelajaran. Jadi mahasiswa belajar memahami anak dari kasus nyata, bukan sekadar teori di kelas,” katanya.

Tim PG PAUD Universitas Mulia dan Institut Teknologi Kalimantan berfoto bersama usai sesi pemaparan dan diskusi pengembangan daycare berbasis kampus.
Keberadaan daycare ini juga memperkuat posisi Universitas Mulia dalam pengembangan pendidikan anak usia dini di Kalimantan. Daycare Ananda Mulia dipandang bukan sekadar fasilitas pendukung kampus, tetapi bagian dari laboratorium pendidikan yang terintegrasi dengan proses akademik.
“Universitas Mulia menjadi salah satu pionir kampus yang membuka layanan daycare berbasis akademik di Kalimantan. Ini bukan hanya tentang layanan pengasuhan, tetapi tentang bagaimana kampus hadir sebagai ruang belajar sekaligus ruang tumbuh bagi anak,” tambahnya.
Dalam studi tiru tersebut, tim ITK mempelajari berbagai aspek pengelolaan daycare berbasis kampus, mulai dari tata kelola layanan, integrasi kurikulum, penyiapan sumber daya manusia, hingga proses pengurusan izin operasional dan sarana prasarana.
Ketua Tim Kerja Perencanaan ITK, Riza Hadi Saputra, S.T., M.T., menyampaikan bahwa kunjungan tersebut memberikan banyak gambaran praktis bagi pengembangan daycare di lingkungan kampus mereka.
“Kami merasa sangat terbantu dengan agenda studi tiru ini karena membuka banyak pemahaman baru terkait proses membuka layanan daycare berbasis kampus, mulai dari penyiapan SDM, manajerial, tata kelola sarana prasarana, kurikulum, hingga proses pengurusan izin,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa komunikasi lanjutan antarkedua institusi akan terus dibangun untuk membuka peluang kerja sama lain yang saling mendukung.
“Ke depan kami berencana membangun komunikasi lebih lanjut terkait beberapa bentuk kerja sama yang dapat saling menguntungkan bagi kedua belah pihak,” lanjutnya.
Bagi PG PAUD Universitas Mulia, pengembangan daycare berbasis living lab juga menjadi bagian dari visi jangka panjang. Dalam dua hingga lima tahun mendatang, prodi menargetkan penguatan layanan pelatihan bagi guru TPA dan daycare di Balikpapan, publikasi riset internasional berbasis daycare, hingga pengembangan aplikasi dokumentasi digital yang dapat digunakan oleh lembaga mitra.
Di balik seluruh pengembangan tersebut, Bety menyebut ada satu gagasan besar yang ingin terus dijaga.
“Daycare adalah jembatan antara ilmu dan kasih sayang. Pengasuhan tidak anti-riset, dan riset tidak boleh kehilangan sisi manusianya,” tutupnya.
Menurutnya, model ini sekaligus menunjukkan bahwa kampus dapat menjadi ruang publik yang tidak hanya mencetak pendidik masa depan, tetapi juga mendukung terwujudnya Kota Balikpapan sebagai kota ramah anak. (YMN)











