PG PAUD Universitas Mulia Ubah Cara Mahasiswa Memahami RPPH, Dari Dokumen Administratif Menjadi Peta Pembelajaran Anak

Balikpapan, 6 Mei 2026 – Program Studi PG PAUD Universitas Mulia tidak membiarkan mahasiswa berhenti pada penguasaan teori strategi pembelajaran di ruang kelas. Melalui kuliah umum bertema “Bedah & Penyusunan Rencana Pembelajaran Mendalam PAUD”, mahasiswa diarahkan untuk membongkar cara lama memandang perencanaan pembelajaran—dari sekadar pengisian format administratif menuju kemampuan merancang pengalaman belajar yang benar-benar hidup di ruang anak usia dini.

Bagi dosen pengampu Mata Kuliah Strategi Pembelajaran PAUD, Merlina, S.Pd.,M.Pd , kuliah umum ini lahir dari kebutuhan akademik yang sangat konkret: adanya jarak antara teori yang dipelajari mahasiswa dengan tantangan implementasi di lapangan. Menurutnya, mahasiswa selama ini mempelajari berbagai pendekatan seperti pembelajaran interaktif, bermain, inquiry, hingga tematik, tetapi perubahan kebijakan menuju RPM (Rancangan Pembelajaran Mendalam) berbasis deep learning menuntut kesiapan yang lebih dari sekadar memahami konsep.

“Di kelas, mahasiswa belajar teori, tetapi realitas di lapangan sering berbeda. Banyak guru PAUD masih kesulitan menerjemahkan teori ke dalam RPPH yang konkret, apalagi dengan format RPM berbasis deep learning yang relatif baru. Karena itu, kuliah umum ini menjadi titik temu antara teori kampus dan praktik nyata,” ujarnya.

Universitas Mulia merancang kegiatan ini dengan pendekatan bertahap yang menempatkan mahasiswa sebagai peserta aktif dalam proses transformasi berpikir. Sebelum sesi utama, mahasiswa diminta membaca dan membandingkan RPPH konvensional dengan pendekatan pembelajaran mendalam. Saat kegiatan berlangsung, narasumber tidak hanya menyampaikan materi, tetapi membedah langsung dokumen RPM sekaligus menunjukkan bagaimana pengalaman belajar dibangun dari eksplorasi anak.

Salah satu contoh yang ditekankan adalah perubahan orientasi dari sekadar “anak mengenal warna” menjadi “anak menemukan warna melalui pengalaman eksperimen.” Perubahan kecil dalam desain ini menunjukkan pergeseran besar dalam cara guru memandang pembelajaran.

Bagi Merlina, di sinilah mahasiswa mulai memahami bahwa strategi pembelajaran bukan daftar prosedur teknis, melainkan seni intelektual dalam merancang pengalaman belajar.

“Mahasiswa harus memahami bahwa strategi mengajar bukan sekadar langkah-langkah kegiatan, tetapi seni merancang pengalaman belajar bermakna. Karena itu, mereka juga diminta menuliskan alasan di balik setiap rancangan yang dibuat,” jelasnya.

Dekan FHK Universitas Mulia Dr. Mada Aditia Wardhana, S.Sos., M.M., Wakil Dekan FHK Sri Purwanti, S.Pd., M.Pd., Kaprodi PG PAUD Bety Viatriana, S.Pd., M.Pd., dosen Merlina, S.Pd., M.Pd., narasumber Shinta Anggraeni, S.Pd., M.Pd., dan peserta berfoto bersama usai kuliah umum PG PAUD sebagai bagian dari penguatan akademik mahasiswa dalam penyusunan pembelajaran mendalam PAUD.

Dalam proses tersebut, tantangan terbesar justru muncul dari kebiasaan lama mahasiswa yang terlalu fokus pada struktur administratif dokumen. Banyak mahasiswa, menurut Mei, sibuk mengisi kolom demi kolom tanpa benar-benar melihat bahwa dokumen tersebut seharusnya menjadi peta perjalanan perkembangan anak.

Kuliah umum ini kemudian membongkar pola pikir tersebut dengan menghadirkan realitas lapangan yang lebih dinamis. Mahasiswa diperlihatkan bahwa rencana pembelajaran dapat berubah ketika anak menunjukkan minat baru yang tak terduga—misalnya ketika perhatian mereka tiba-tiba tertuju pada kupu-kupu di sekitar kelas. Dari situ, mahasiswa belajar bahwa perencanaan bukan struktur kaku, melainkan rancangan adaptif yang harus responsif terhadap dunia anak.

“RPPH atau RPM itu bukan dokumen mati. Ia harus hidup bersama kebutuhan anak. Karena namanya rencana, kita sudah berusaha maksimal, tetapi proses di lapangan bisa berkembang sesuai situasi,” ungkapnya.

Kehadiran narasumber dengan rekam jejak prestasi nasional juga diposisikan bukan sekadar untuk memberi inspirasi, tetapi untuk mematahkan asumsi sempit tentang profesi guru PAUD. Mahasiswa diperlihatkan bahwa profesionalisme lahir dari keberanian bereksperimen, kemampuan berinovasi, dan komitmen memperbaiki kualitas pembelajaran secara terus-menerus.

Melalui pendekatan tersebut, PG PAUD Universitas Mulia sedang membangun standar baru: calon guru tidak cukup hanya mampu mengikuti template lama, tetapi harus berani menyusun pembelajaran yang relevan dengan konteks anak, lingkungan, dan perubahan zaman.

Secara kelembagaan, kuliah umum ini juga terhubung langsung dengan desain kurikulum berbasis OBE (Outcome-Based Education), project-based learning, dan pengalaman lapangan terbimbing yang diterapkan Universitas Mulia. Artinya, kegiatan ini bukan forum sesaat, melainkan bagian dari rantai pembelajaran berkelanjutan yang berlanjut ke micro teaching hingga implementasi magang di satuan PAUD mitra.

“Setelah kuliah umum, mahasiswa tidak berhenti di pemahaman. Mereka melanjutkan ke micro teaching, lalu mengimplementasikan RPM saat magang. Jadi ini bukan acara seremonial, tetapi pemicu agar mahasiswa terus berlatih, merefleksikan, dan menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan anak,” tegas Mei.

Melalui desain semacam ini, Universitas Mulia memperlihatkan bahwa kualitas pendidikan tinggi tidak hanya terletak pada transfer teori, tetapi pada kemampuan institusi membangun sistem pembelajaran yang melatih mahasiswa berpikir, merancang, menguji, dan beradaptasi. Di PG PAUD Universitas Mulia, mahasiswa tidak sedang disiapkan menjadi pengisi format pembelajaran, melainkan calon pendidik yang mampu membaca anak, memahami perubahan, dan menyusun pembelajaran mendalam dalam kondisi apa pun.