Balikpapan, 5 Mei 2026 – Universitas Mulia mendorong mahasiswa PG PAUD untuk membaca kurikulum bukan sebagai kumpulan format administratif, tetapi sebagai rancangan strategis yang menentukan kualitas pengalaman belajar anak usia dini. Perspektif tersebut mengemuka dalam kuliah tamu bertema “Bedah & Penyusunan Rencana Pembelajaran Mendalam PAUD” yang digelar Program Studi PG PAUD Universitas Mulia di Ballroom Cheng Hoo, Selasa (5/5).

Wakil Dekan Fakultas Humaniora dan Kesehatan (FHK) Universitas Mulia, Sri Purwanti, S.Pd., M.Pd., menilai kemampuan menyusun rencana pembelajaran mendalam menjadi fondasi penting dalam pendidikan calon guru PAUD. Menurutnya, di titik itulah mahasiswa belajar menerjemahkan arah kurikulum menjadi keputusan pembelajaran yang benar-benar bekerja di kelas.

“Rencana pembelajaran adalah bentuk nyata penerjemahan kurikulum ke dalam praktik pembelajaran. Mahasiswa tidak cukup hanya memahami tujuan dan capaian perkembangan secara teoritis, tetapi harus mampu menghubungkannya dengan strategi, media, asesmen, dan kebutuhan perkembangan anak,” ujarnya.

Dalam pandangan Sri Purwanti, persoalan utama dalam pendidikan calon guru sering kali muncul ketika mahasiswa memahami kurikulum hanya sebatas isi dokumen. Padahal, kurikulum seharusnya dibaca sebagai alat untuk membangun pengalaman belajar yang sesuai dengan karakteristik anak usia dini yang dinamis dan terus berkembang.

Melalui kuliah tamu ini, mahasiswa diajak melihat bagaimana kurikulum harus diterjemahkan secara fleksibel berdasarkan tahap perkembangan anak, konteks lingkungan belajar, serta perubahan kebijakan pendidikan yang terus bergerak. Pendekatan tersebut dinilai penting agar calon guru tidak tumbuh menjadi pelaksana kurikulum yang kaku.

“Kurikulum bukan sekadar dokumen administratif, tetapi instrumen strategis untuk membentuk pengalaman belajar anak. Guru harus mampu menerjemahkannya secara adaptif agar pembelajaran benar-benar bermakna dan mendukung tumbuh kembang anak secara holistik,” jelasnya.

Kegiatan ini juga dirancang untuk memecahkan persoalan klasik dalam pendidikan tinggi: kuat di teori, tetapi lemah saat implementasi. Karena itu, mahasiswa tidak hanya menerima pemaparan konsep, melainkan diajak menganalisis perangkat pembelajaran, mendiskusikan studi kasus, dan memahami pengalaman implementatif langsung dari praktisi pendidikan.

Menurut Sri Purwanti, pendekatan seperti ini penting untuk melatih mahasiswa mengambil keputusan pedagogik secara sadar dan kontekstual, bukan sekadar mengikuti pola yang sudah tersedia.

“Mahasiswa perlu dilatih berpikir aplikatif dan reflektif. Mereka harus mampu membaca kebutuhan anak, memahami situasi belajar, lalu menentukan strategi pembelajaran yang tepat berdasarkan kerangka kurikulum yang ada,” katanya.

Kehadiran narasumber dengan pengalaman implementatif juga memberi dimensi lain dalam proses pembelajaran mahasiswa. Bagi Sri Purwanti, pengalaman lapangan yang dibagikan praktisi membantu mahasiswa memahami bahwa pengembangan kurikulum bukan pekerjaan statis, melainkan proses yang terus berubah mengikuti kebutuhan pendidikan.

Dari situ, mahasiswa diperkenalkan pada berbagai pendekatan inovatif, strategi diferensiasi, hingga cara merancang pembelajaran kreatif yang tetap berpijak pada tujuan perkembangan anak usia dini.

“Mahasiswa perlu melihat langsung bahwa implementasi kurikulum di lapangan membutuhkan fleksibilitas, kreativitas, dan kemampuan menyesuaikan diri terhadap berbagai situasi pembelajaran,” tambahnya.

Lebih jauh, Sri Purwanti menilai kuliah tamu semacam ini menjadi bagian penting dari penguatan identitas akademik PG PAUD Universitas Mulia. Program studi tidak hanya membentuk mahasiswa agar patuh terhadap struktur kurikulum, tetapi juga melatih mereka memiliki keberanian intelektual untuk menganalisis, mengevaluasi, dan mengembangkan pembelajaran sesuai kebutuhan zaman.

Dengan pendekatan tersebut, Universitas Mulia sedang membangun pola pendidikan guru yang menempatkan mahasiswa sebagai perancang pembelajaran, bukan sekadar pengguna perangkat ajar. Di tengah perubahan kebijakan pendidikan dan tantangan perkembangan anak yang semakin kompleks, kemampuan membaca kurikulum secara kritis menjadi kompetensi yang tidak bisa ditawar.

Melalui ruang akademik seperti ini, PG PAUD Universitas Mulia memperlihatkan bahwa pengembangan kurikulum bukan sekadar membahas dokumen pendidikan, tetapi membentuk cara berpikir calon guru dalam memahami anak, merancang pengalaman belajar, dan mengambil keputusan pedagogik yang bertanggung jawab. (YMN)

 

Balikpapan, 6 Mei 2026 – Program Studi PG PAUD Universitas Mulia tidak membiarkan mahasiswa berhenti pada penguasaan teori strategi pembelajaran di ruang kelas. Melalui kuliah umum bertema “Bedah & Penyusunan Rencana Pembelajaran Mendalam PAUD”, mahasiswa diarahkan untuk membongkar cara lama memandang perencanaan pembelajaran—dari sekadar pengisian format administratif menuju kemampuan merancang pengalaman belajar yang benar-benar hidup di ruang anak usia dini.

Bagi dosen pengampu Mata Kuliah Strategi Pembelajaran PAUD, Merlina, S.Pd.,M.Pd , kuliah umum ini lahir dari kebutuhan akademik yang sangat konkret: adanya jarak antara teori yang dipelajari mahasiswa dengan tantangan implementasi di lapangan. Menurutnya, mahasiswa selama ini mempelajari berbagai pendekatan seperti pembelajaran interaktif, bermain, inquiry, hingga tematik, tetapi perubahan kebijakan menuju RPM (Rancangan Pembelajaran Mendalam) berbasis deep learning menuntut kesiapan yang lebih dari sekadar memahami konsep.

“Di kelas, mahasiswa belajar teori, tetapi realitas di lapangan sering berbeda. Banyak guru PAUD masih kesulitan menerjemahkan teori ke dalam RPPH yang konkret, apalagi dengan format RPM berbasis deep learning yang relatif baru. Karena itu, kuliah umum ini menjadi titik temu antara teori kampus dan praktik nyata,” ujarnya.

Universitas Mulia merancang kegiatan ini dengan pendekatan bertahap yang menempatkan mahasiswa sebagai peserta aktif dalam proses transformasi berpikir. Sebelum sesi utama, mahasiswa diminta membaca dan membandingkan RPPH konvensional dengan pendekatan pembelajaran mendalam. Saat kegiatan berlangsung, narasumber tidak hanya menyampaikan materi, tetapi membedah langsung dokumen RPM sekaligus menunjukkan bagaimana pengalaman belajar dibangun dari eksplorasi anak.

Salah satu contoh yang ditekankan adalah perubahan orientasi dari sekadar “anak mengenal warna” menjadi “anak menemukan warna melalui pengalaman eksperimen.” Perubahan kecil dalam desain ini menunjukkan pergeseran besar dalam cara guru memandang pembelajaran.

Bagi Merlina, di sinilah mahasiswa mulai memahami bahwa strategi pembelajaran bukan daftar prosedur teknis, melainkan seni intelektual dalam merancang pengalaman belajar.

“Mahasiswa harus memahami bahwa strategi mengajar bukan sekadar langkah-langkah kegiatan, tetapi seni merancang pengalaman belajar bermakna. Karena itu, mereka juga diminta menuliskan alasan di balik setiap rancangan yang dibuat,” jelasnya.

Dekan FHK Universitas Mulia Dr. Mada Aditia Wardhana, S.Sos., M.M., Wakil Dekan FHK Sri Purwanti, S.Pd., M.Pd., Kaprodi PG PAUD Bety Viatriana, S.Pd., M.Pd., dosen Merlina, S.Pd., M.Pd., narasumber Shinta Anggraeni, S.Pd., M.Pd., dan peserta berfoto bersama usai kuliah umum PG PAUD sebagai bagian dari penguatan akademik mahasiswa dalam penyusunan pembelajaran mendalam PAUD.

Dalam proses tersebut, tantangan terbesar justru muncul dari kebiasaan lama mahasiswa yang terlalu fokus pada struktur administratif dokumen. Banyak mahasiswa, menurut Mei, sibuk mengisi kolom demi kolom tanpa benar-benar melihat bahwa dokumen tersebut seharusnya menjadi peta perjalanan perkembangan anak.

Kuliah umum ini kemudian membongkar pola pikir tersebut dengan menghadirkan realitas lapangan yang lebih dinamis. Mahasiswa diperlihatkan bahwa rencana pembelajaran dapat berubah ketika anak menunjukkan minat baru yang tak terduga—misalnya ketika perhatian mereka tiba-tiba tertuju pada kupu-kupu di sekitar kelas. Dari situ, mahasiswa belajar bahwa perencanaan bukan struktur kaku, melainkan rancangan adaptif yang harus responsif terhadap dunia anak.

“RPPH atau RPM itu bukan dokumen mati. Ia harus hidup bersama kebutuhan anak. Karena namanya rencana, kita sudah berusaha maksimal, tetapi proses di lapangan bisa berkembang sesuai situasi,” ungkapnya.

Kehadiran narasumber dengan rekam jejak prestasi nasional juga diposisikan bukan sekadar untuk memberi inspirasi, tetapi untuk mematahkan asumsi sempit tentang profesi guru PAUD. Mahasiswa diperlihatkan bahwa profesionalisme lahir dari keberanian bereksperimen, kemampuan berinovasi, dan komitmen memperbaiki kualitas pembelajaran secara terus-menerus.

Melalui pendekatan tersebut, PG PAUD Universitas Mulia sedang membangun standar baru: calon guru tidak cukup hanya mampu mengikuti template lama, tetapi harus berani menyusun pembelajaran yang relevan dengan konteks anak, lingkungan, dan perubahan zaman.

Secara kelembagaan, kuliah umum ini juga terhubung langsung dengan desain kurikulum berbasis OBE (Outcome-Based Education), project-based learning, dan pengalaman lapangan terbimbing yang diterapkan Universitas Mulia. Artinya, kegiatan ini bukan forum sesaat, melainkan bagian dari rantai pembelajaran berkelanjutan yang berlanjut ke micro teaching hingga implementasi magang di satuan PAUD mitra.

“Setelah kuliah umum, mahasiswa tidak berhenti di pemahaman. Mereka melanjutkan ke micro teaching, lalu mengimplementasikan RPM saat magang. Jadi ini bukan acara seremonial, tetapi pemicu agar mahasiswa terus berlatih, merefleksikan, dan menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan anak,” tegas Mei.

Melalui desain semacam ini, Universitas Mulia memperlihatkan bahwa kualitas pendidikan tinggi tidak hanya terletak pada transfer teori, tetapi pada kemampuan institusi membangun sistem pembelajaran yang melatih mahasiswa berpikir, merancang, menguji, dan beradaptasi. Di PG PAUD Universitas Mulia, mahasiswa tidak sedang disiapkan menjadi pengisi format pembelajaran, melainkan calon pendidik yang mampu membaca anak, memahami perubahan, dan menyusun pembelajaran mendalam dalam kondisi apa pun.

Balikpapan, 6 Mei 2026 – Program Studi PG PAUD Universitas Mulia menggeser pembelajaran mahasiswa dari sekadar memahami teori menuju kemampuan menguji, membedah, dan merancang strategi belajar yang benar-benar dapat bekerja di ruang pendidikan anak usia dini. Melalui kuliah tamu bertema “Bedah & Penyusunan Rencana Pembelajaran Mendalam PAUD” yang berlangsung di Ballroom Cheng Hoo, Selasa (5/5), mahasiswa tidak ditempatkan sebagai pendengar materi, tetapi sebagai calon pendidik yang harus mampu menghubungkan konsep kampus dengan kebutuhan nyata perkembangan anak.

Bagi Kaprodi PG PAUD Universitas Mulia, Ibu Bety Viatriana, S.Pd., M.Pd., kegiatan ini bukan pelengkap akademik, melainkan instrumen untuk menguji apakah teori deep learning yang dipelajari mahasiswa benar-benar dapat diterjemahkan menjadi rancangan pembelajaran yang hidup di lapangan. Menurutnya, kualitas pedagogik tidak diukur dari hafalan konsep, tetapi dari kemampuan membangun pengalaman belajar yang kontekstual, adaptif, dan berdaya guna.

“Kuliah tamu ini menjadi jembatan penting antara teori deep learning di kelas dengan praktik menyusun rencana pembelajaran kontekstual. Mahasiswa tidak hanya belajar konsep, tetapi melihat langsung bagaimana pembelajaran bermakna dirancang di lapangan. Ini mempercepat penguatan kompetensi pedagogik secara aplikatif,” ujarnya.

Struktur kegiatan disusun dengan pendekatan bertahap: mahasiswa terlebih dahulu membedah fondasi konseptual, kemudian masuk pada analisis langsung RPPH, berdialog kritis dengan narasumber, hingga menyusun ulang desain pembelajaran berdasarkan hasil evaluasi. Pola ini menunjukkan cara Universitas Mulia membangun kultur akademik yang menuntut mahasiswa berpikir, mengoreksi, dan memproduksi gagasan, bukan sekadar menerima pengetahuan jadi.

Dalam skema tersebut, mahasiswa diajak melihat bahwa rancangan pembelajaran bukan produk final, melainkan dokumen kerja yang harus siap diuji oleh perubahan kebijakan, kebutuhan anak, dan dinamika praktik pendidikan. Di titik inilah proses akademik bergerak dari ruang kelas menuju latihan profesional.

“Mahasiswa kami dorong membandingkan teori dengan praktik riil, lalu merevisi rencana pembelajarannya secara adaptif terhadap kebijakan nasional. Hasilnya, mereka membangun pemahaman akademik yang kritis, bukan sekadar antusiasme sesaat,” jelas Bety.

Mahasiswa PG PAUD Universitas Mulia mengikuti sesi kuliah tamu dengan penuh perhatian saat mendalami penyusunan rencana pembelajaran PAUD yang kontekstual, reflektif, dan adaptif terhadap kebutuhan perkembangan anak.

Orientasi tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana PG PAUD Universitas Mulia memaknai rencana pembelajaran sebagai proses intelektual yang terus bergerak. Mahasiswa dibiasakan membaca kebutuhan anak secara menyeluruh, mengevaluasi efektivitas strategi, lalu menyesuaikan desain belajar berdasarkan refleksi akademik. Dengan demikian, penyusunan pembelajaran tidak jatuh menjadi rutinitas administratif, tetapi menjadi keputusan pedagogik yang sadar tujuan.

Bety menilai proses seperti ini penting untuk membentuk calon guru yang tidak sekadar mampu mengajar, tetapi juga memiliki disiplin reflektif dalam setiap keputusan pembelajarannya.

“Kuliah tamu ini menjadi ruang refleksi terbimbing, di mana mahasiswa menguji rencana pembelajarannya terhadap kebutuhan holistik anak. Karena rencana pembelajaran adalah hipotesis kerja yang harus terus dievaluasi, bukan sekadar dokumen administratif. Ini membentuk calon guru yang reflektif dan berpusat pada anak,” tuturnya.

Lebih jauh, kegiatan ini juga memperlihatkan arah pengembangan institusional PG PAUD Universitas Mulia yang tidak berhenti pada pencetakan tenaga pendidik konvensional. Program studi ini sedang membangun kapasitas mahasiswa agar mampu membaca transisi PAUD ke SD secara strategis, memahami arah Merdeka Belajar, serta menghasilkan pendekatan pembelajaran yang relevan dengan perubahan zaman.

Di tengah kebutuhan pendidikan yang terus bergerak, keterhubungan antara kampus, praktisi, dan kebijakan menjadi faktor penting dalam menjaga relevansi lulusan. Karena itu, kehadiran narasumber dengan rekam jejak implementatif diposisikan bukan sebagai simbol seremonial, tetapi sebagai sumber pembanding antara desain akademik dan praktik unggul.

“Mahasiswa kami dibekali kemampuan merancang transisi PAUD ke SD secara strategis, adaptif terhadap kebijakan Merdeka Belajar. Kuliah tamu dengan praktisi unggul membangun reputasi prodi yang relevan, dinamis, dan solutif. Inilah modal mencetak lulusan yang mampu menjawab tantangan zaman secara bijak,” pungkasnya.

Melalui pendekatan semacam ini, Universitas Mulia menunjukkan bahwa pendidikan tinggi dapat memainkan peran lebih substantif daripada sekadar transfer materi. Di PG PAUD, mahasiswa dipersiapkan untuk memasuki profesi pendidikan dengan perangkat berpikir yang lebih matang: mampu menghubungkan teori, praktik, kebijakan, dan kebutuhan anak dalam satu rancangan pembelajaran yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik maupun sosial. Di situlah institusi tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi membangun arsitek pembelajaran masa depan. (YMN)

Balikpapan, 4 Mei 2026— Dalam lanskap industri kreatif yang terus bergerak dinamis, penguasaan desain tidak lagi berhenti pada kemampuan estetis semata, melainkan menuntut kedalaman konseptual dalam membangun identitas visual yang relevan, strategis, dan komunikatif. Berangkat dari kebutuhan tersebut, Himpunan Mahasiswa Desain Komunikasi Visual (HIMA DKV) menggelar kuliah tamu bertajuk “Menghidupkan Ide Lewat Desain Brand” pada 28 April 2026 melalui platform Google Meet sebagai ruang akademik alternatif yang memperluas pembelajaran mahasiswa di luar struktur perkuliahan formal.

Kegiatan ini menjadi bagian dari ikhtiar institusional program studi dalam menghubungkan fondasi teoritis yang dipelajari di kelas dengan realitas profesional di sektor industri kreatif. Melalui forum ini, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk menelaah branding bukan sekadar sebagai produk visual, tetapi sebagai konstruksi identitas yang memadukan riset, strategi komunikasi, serta pemaknaan simbolik dalam setiap elemen desain.

Rangkaian kegiatan berlangsung sistematis melalui pembukaan, sambutan akademik program studi, pengantar materi, pemaparan substansi utama, diskusi interaktif, hingga sesi partisipatif yang mendorong keterlibatan mahasiswa secara aktif. Format tersebut menunjukkan bahwa pengembangan kompetensi mahasiswa DKV tidak hanya diarahkan pada transfer pengetahuan satu arah, tetapi juga pada pembentukan daya analisis, kreativitas, dan keberanian intelektual dalam merespons tantangan profesi.

Fokus utama pembahasan menempatkan branding sebagai inti dari komunikasi visual modern. Dalam pemaparannya, dijelaskan bahwa logo tidak dapat dipahami hanya sebagai elemen grafis yang menarik perhatian, melainkan sebagai medium representasi nilai dan narasi sebuah brand. “Logo bukan sekadar gambar yang terlihat keren, tetapi memiliki nyawa dan cerita di dalamnya,” menjadi salah satu gagasan penting yang menegaskan bahwa identitas visual harus mampu menghadirkan karakter, filosofi, serta pesan yang terbangun melalui komposisi warna, bentuk, dan tipografi secara utuh.

Perspektif tersebut memberikan landasan akademik yang penting bagi mahasiswa untuk memahami bahwa desain brand merupakan proses strategis yang berakar pada pemikiran kritis dan sensitivitas komunikasi. Dalam konteks ini, mahasiswa didorong untuk melihat karya desain bukan hanya sebagai hasil visual, tetapi sebagai instrumen komunikasi yang memiliki daya hidup, arah, dan posisi dalam membangun persepsi publik.

Pelaksanaan kuliah tamu ini juga merefleksikan komitmen HIMA DKV dalam memperkuat ekosistem pembelajaran yang responsif terhadap perkembangan industri. Organisasi kemahasiswaan tidak sekadar berfungsi sebagai wadah aktivitas mahasiswa, tetapi turut berperan sebagai katalisator akademik yang menghadirkan ruang temu antara pengetahuan kampus dan kebutuhan profesional.

Melalui kegiatan semacam ini, penguatan kapasitas mahasiswa DKV diarahkan pada kesiapan menghadapi industri kreatif dengan perspektif yang lebih komprehensif—bahwa desain adalah perpaduan antara kreativitas, strategi, dan kebermaknaan. Dengan demikian, kampus terus menegaskan posisinya sebagai ruang pengembangan intelektual yang tidak hanya menghasilkan desainer, tetapi juga konseptor visual yang mampu menerjemahkan ide menjadi identitas yang bernilai. (YMN)

 

Balikpapan, 24 Februari 2026—Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Universitas Mulia menyelenggarakan Workshop PPK Ormawa 2026 secara daring melalui Zoom, Senin (23/2/2026). Kegiatan ini diarahkan untuk memperkuat kapasitas organisasi kemahasiswaan dalam menyusun proposal Program Penguatan Kapasitas Organisasi Mahasiswa (PPK Ormawa) Tahun 2026 secara sistematis, terukur, dan sesuai dengan ketentuan program.

Workshop dibuka oleh Rektor Universitas Mulia Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si. bersama Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Sumardi, S.Kom., M.Kom. Pembukaan kegiatan menandai komitmen institusi dalam menempatkan PPK Ormawa sebagai bagian dari pembelajaran terapan yang menyeimbangkan capaian akademik dan penguatan kompetensi non-akademik mahasiswa.

Pelaksanaan workshop dikoordinasikan oleh Bidang Kemahasiswaan dan Alumni dengan melibatkan unsur pengelola layanan kemahasiswaan lintas unit. Kegiatan ini diikuti oleh pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), dan Himpunan Mahasiswa (HIMA), serta para pembina organisasi kemahasiswaan di lingkungan Universitas Mulia. Keterlibatan unsur pimpinan dan pengelola tersebut memperkuat fungsi workshop sebagai ruang penyamaan pemahaman dan standar perencanaan program.

Sebagai penguatan substansi, Universitas Mulia menghadirkan Dr. Ir. Miftahush Shirothul Haq, S.Pt., IPP. dari Universitas Gadjah Mada. Materi difokuskan pada strategi penyusunan proposal PPK Ormawa, pemetaan isu desa dan kelurahan, serta perancangan program yang memiliki keterkaitan logis antara permasalahan, tujuan, indikator capaian, dan luaran kegiatan. Paparan juga menyoroti kesalahan konseptual yang kerap muncul dalam proposal dan berdampak pada kegagalan seleksi.

Dalam konteks kebijakan internal, Universitas Mulia menyiapkan skema dukungan dan rekognisi akademik bagi mahasiswa yang berhasil meloloskan proposal dan memperoleh pendanaan PPK Ormawa. Skema tersebut dirancang untuk mendorong organisasi kemahasiswaan menyusun proposal secara serius dengan perencanaan yang berbasis data dan kebutuhan wilayah dampingan.

PPK Ormawa merupakan program Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, yang berfokus pada pengembangan soft skills mahasiswa melalui kegiatan pengabdian dan pemberdayaan masyarakat. Pada tahun 2026, program ini membuka delapan tema, meliputi Desa Konservasi dan Tangguh Bencana, Desa/Kelurahan Wirausaha, Desa Smart Farming, Desa/Kelurahan Sehat, Desa/Kelurahan Cerdas, Desa/Kelurahan Maritim, Desa Hutan, serta Desa/Kelurahan Wisata.

Melalui workshop ini, Universitas Mulia memperkuat standardisasi penyusunan proposal PPK Ormawa di tingkat organisasi kemahasiswaan. Penekanan diarahkan pada ketepatan perumusan masalah, kejelasan indikator capaian, serta kesesuaian program dengan tema dan skema pendanaan PPK Ormawa 2026. (YMN)

 

Balikpapan, 3 Desember 2025—Universitas Mulia menjadi salah satu dari 11 perguruan tinggi di Balikpapan yang menjadi lokasi Aksi Simpatik Hari AIDS Sedunia bertema “Bersama Wujudkan Indonesia Tanpa AIDS 2030, Mulai dari Kampus”. Kegiatan yang meliputi sosialisasi pencegahan HIV dan skrining TB ini menghadirkan narasumber dari Dinas Kesehatan Kota Balikpapan, termasuk dr. I Dewa Gede Dony Lesmana, yang memaparkan situasi epidemiologi terkini dan tantangan edukasi di kelompok usia mahasiswa.

dr. I Dewa Gede Dony Lesmana narasumber dari Dinas Kesehatan Kota Balikpapan.

Dalam penjelasannya, dr. Dony menyampaikan bahwa mahasiswa merupakan kelompok strategis yang tidak dapat diabaikan dalam upaya menekan penularan HIV. Berdasarkan data Dinas Kesehatan, usia 15–24 tahun menyumbang 23% dari seluruh kasus positif HIV di Balikpapan, yaitu 61 kasus. Ia menegaskan bahwa angka tersebut bukan sekadar statistik, melainkan gambaran nyata kerentanan usia remaja.
“Jika kita berbicara tentang pencegahan, maka kelompok usia inilah yang harus ditemui. Mereka bergerak cepat, dinamis, dan risikonya meningkat ketika lingkungan sosialnya kurang terawasi,” ujar dr. Dony.

Panitia dari Dinas Kesehatan Kota Balikpapan, pimpinan Universitas Mulia, dan para peserta berfoto bersama seusai pelaksanaan Aksi Simpatik Hari AIDS Sedunia.

Temuan lokal tersebut sejalan dengan hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017, yang menunjukkan bahwa tingkat literasi HIV komprehensif di kalangan remaja nasional baru mencapai 14,1%. Menurut dr. Dony, rendahnya literasi ini memiliki implikasi langsung terhadap perilaku dan pengambilan keputusan. “Pengetahuan dasar mereka masih sangat terbatas. Ketidaktahuan inilah yang membuat intervensi edukasi di kampus menjadi bukan sekadar program pendukung, tetapi kebutuhan mendesak,” jelasnya.

Walaupun Balikpapan belum memiliki survei lokal mengenai tingkat pengetahuan mahasiswa terhadap HIV dan TB, Dinas Kesehatan menggunakan capaian nasional tersebut sebagai pijakan. Selain pertimbangan epidemiologis, dr. Dony menekankan faktor psikososial sebagai penyebab tingginya risiko. “Remaja memiliki kecenderungan untuk mencoba hal baru. Tekanan pergaulan dan rasa ingin tahu sering kali lebih dominan dibanding pertimbangan kesehatan. Faktor ini harus dipahami sebagai dasar perancangan edukasi,” tambahnya.

Dalam kegiatan yang menyasar 11 kampus, Dinas Kesehatan menetapkan dua indikator keberhasilan jangka pendek. Pertama, peningkatan pemahaman peserta, diukur melalui perbandingan nilai pre-test dan post-test. Kedua, partisipasi mahasiswa dalam pemeriksaan HIV secara sukarela. Kedua indikator ini dinilai penting untuk melihat apakah intervensi berjalan efektif dan diterima oleh mahasiswa.

Suasana pemaparan materi dalam roadshow Pencegahan dan Pengendalian HIV serta skrining TB oleh tim Dinas Kesehatan Kota Balikpapan.

 

Untuk strategi jangka panjang, dr. Dony menilai bahwa kegiatan semacam ini tidak boleh berhenti pada momentum Hari AIDS Sedunia. “Edukasi harus berkesinambungan, tidak berhenti setelah acara berakhir. Yang lebih penting lagi, kampus perlu terhubung dengan jejaring layanan HIV sehingga setiap kasus dapat ditangani secara komprehensif,” ungkapnya.

Ia juga menyampaikan sejumlah rekomendasi bagi institusi perguruan tinggi. Sosialisasi perlu digelar secara berkala, bekerja sama dengan Dinas Kesehatan dan unit kemahasiswaan. Selain itu, kampus dapat mempertimbangkan pembentukan Satgas HIV, dengan dosen tertentu dilatih menjadi konselor. “Kampus adalah lingkungan pendidikan. Jika kita ingin pencegahan berjalan efektif, maka harus ada struktur internal yang bisa bekerja secara mandiri dan terkoordinasi,” tegas dr. Dony.

Kegiatan di Universitas Mulia ini menjadi salah satu upaya penting untuk memperkuat kesadaran, mengurangi stigma, dan mendorong deteksi dini di kalangan mahasiswa. Dengan beban epidemi yang semakin bergerak ke kelompok usia muda, integrasi antara institusi pendidikan dan otoritas kesehatan menjadi langkah strategis yang perlu diperluas dan dipertahankan. (YMN)

 

Balikpapan, 2 Desember 2025 — Upaya pemerintah memperluas literasi kesehatan publik kembali menyentuh lingkungan perguruan tinggi. Melalui program aksi simpatik Hari AIDS Sedunia 2025, Kementerian Kesehatan RI bersama Dinas Kesehatan Kota Balikpapan menyelenggarakan rangkaian edukasi HIV dan skrining tuberkulosis (TB) di 11 kampus, termasuk Universitas Mulia. Kegiatan berlangsung di Ballroom Cheng Ho, Selasa (2/12).

Program ini menghadirkan Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kota Balikpapan, dr. Elizabeth Rassi, yang memaparkan perkembangan terbaru epidemi HIV di kota ini. Melalui data lokal dan contoh kasus, mahasiswa diajak melihat bagaimana penularan HIV masih terjadi di kelompok usia produktif dan remaja—kelompok yang juga mengisi ruang-ruang kampus.

dr. Agustinus Wendhi Widata memaparkan informasi dasar HIV/AIDS, membuka sesi dengan penjelasan yang menempatkan mahasiswa pada konteks epidemi yang sebenarnya.

Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Universitas Mulia, Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I., menyampaikan bahwa kampus tidak bisa memisahkan diri dari isu kesehatan publik. Ia menilai bahwa keterhubungan mahasiswa dengan informasi kesehatan harus diwujudkan melalui paparan langsung dari tenaga kesehatan, bukan hanya melalui bahan ajar atau literatur.

Dalam diskusinya dengan dr. Elizabeth sebelum kegiatan dimulai, Wibisono mencatat bahwa Kota Balikpapan memiliki 361 kasus HIV yang tercatat, dengan kemungkinan angka yang lebih tinggi karena sebagian kasus tidak terdeteksi. Menurutnya, kondisi ini menempatkan institusi pendidikan pada posisi yang relevan untuk memperkenalkan pendekatan pencegahan yang berbasis bukti.

Para peserta mengikuti penjelasan narasumber dengan saksama, mencatat poin-poin penting mengenai penularan, pencegahan, dan layanan kesehatan terkait HIV/AIDS.

“HIV belum memiliki terapi yang mampu menghilangkan virus sepenuhnya. Maka cara paling masuk akal adalah memperkecil risiko melalui pemahaman dan perilaku yang sesuai dengan fakta medis,” ungkapnya. Ia juga mendorong mahasiswa untuk memanfaatkan forum ini sebagai kesempatan belajar yang bersifat langsung dan terukur.

Setelah sesi pemaparan, kegiatan berlanjut dengan layanan skrining TB dan konseling singkat oleh tim Dinas Kesehatan. Dalam proses ini, mahasiswa dapat mengamati bagaimana asesmen kesehatan dilakukan, termasuk identifikasi faktor risiko dan alur layanan rujukan.

Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kota Balikpapan, dr. Elizabeth Rassi, memberikan suvenir kepada peserta sebagai penanda apresiasi atas partisipasi dalam rangkaian edukasi kesehatan.

Di lingkungan Universitas Mulia, kegiatan seperti ini dipandang sebagai cara untuk memperlihatkan bagaimana isu epidemiologi dipahami dan diterapkan dalam konteks nyata. Interaksi mahasiswa dengan tenaga kesehatan membuka ruang belajar yang berbeda dari ruang kuliah, karena mereka melihat langsung bagaimana pendekatan medis, data, dan komunikasi kesehatan bertemu dalam praktik. (YMN)

 

Balikpapan, 25 November 2025 – Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Mulia kembali menyelenggarakan Mulia Accounting Event (MAE) Volume 2 sebagai upaya memperkuat kesiapan mahasiswa dalam menghadapi transformasi profesi akuntansi dan keuangan di era digital. Kegiatan yang berlangsung di Ballroom Cheng Hoo, Selasa (25/11), menghadirkan kolaborasi bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) serta pemateri dari kalangan akademisi berpengalaman industri.

MAE Volume 2 mengangkat dua tema utama yang dikemas dalam Accounting Insight. Materi pertama, “Investasi Saham untuk Pemula: Edukasi Pasar Modal untuk Generasi Z”, disampaikan oleh Aldila Bandaro, Deputi Wilayah BEI Kalimantan Utara. Melalui pemaparan ini, mahasiswa diajak memahami instrumen pasar modal, mekanisme transaksi, serta prinsip pengambilan keputusan investasi berbasis data. Penjelasan dilengkapi contoh kasus dan simulasi yang memungkinkan peserta melihat langsung bagaimana keputusan finansial terbentuk pada lingkungan pasar nyata.

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Dr. Ivan Armawan, S.E., M.M., membuka secara resmi Mulia Accounting Event (MAE) Vol. 2 di Ballroom Cheng Hoo, Selasa (25/11/2025).

Materi kedua, “Peran Akuntansi di Era Digital dan Dunia Kerja”, disampaikan oleh Dothy Amelia Saragih, S.E., M.M., dosen Universitas Mulia dengan pengalaman profesional di sektor keuangan. Paparan ini menyoroti pergeseran peran akuntan dari sekadar pencatat transaksi menjadi analis informasi keuangan berbasis teknologi. Mahasiswa diperkenalkan pada penggunaan sistem ERP, analitik data, financial reporting digital, dan standar kompetensi yang kini menjadi kebutuhan industri.

Dekan FEB, Dr. Ivan Armawan, S.E., M.M., menyampaikan bahwa MAE bukan sekadar agenda tahunan, tetapi bagian dari desain akademik FEB untuk membangun kesiapan mahasiswa menghadapi lanskap industri keuangan yang semakin terdigitalisasi. Ia menekankan bahwa penguasaan teori akuntansi hanyalah fondasi awal, sementara dunia kerja menuntut kemampuan lain yang lebih kompleks—mulai dari interpretasi data berbasis teknologi hingga ketepatan pengambilan keputusan dalam konteks pasar yang bergerak cepat.

Ia menambahkan, pendekatan experiential learning menjadi kunci agar mahasiswa—khususnya generasi Z—memperoleh pengalaman yang relevan dengan dunia kerja. Simulasi investasi, diskusi berbasis studi kasus, dan interaksi dengan praktisi diharapkan dapat menumbuhkan keterampilan analitis, komunikasi, dan kolaborasi.

Para guru dan siswa dari berbagai SMA dan SMK di Balikpapan menghadiri MAE Vol. 2, mengikuti sesi edukasi pasar modal dan akuntansi digital untuk generasi muda.

Seiring meningkatnya otomatisasi dan penggunaan kecerdasan buatan di sektor keuangan, FEB terus memutakhirkan kurikulum melalui mata kuliah sistem informasi akuntansi, literasi fintech, serta audit berbantuan teknologi. MAE berfungsi sebagai penguatan karena menghadirkan wawasan terbaru terkait tren pasar modal dan inovasi investasi digital.

FEB juga menyoroti pentingnya menutup jarak antara kemampuan akademik dan tuntutan profesional. Melalui keterlibatan dosen yang memiliki pengalaman industri, mahasiswa diperkenalkan pada praktik pelaporan keuangan terkini, standar audit modern, serta penggunaan perangkat digital yang menjadi standar dunia kerja. Program magang, pelatihan sertifikasi, dan pemanfaatan software akuntansi menjadi bagian dari strategi integratif tersebut.

Untuk MAE Volume 2, FEB telah menetapkan indikator keberhasilan yang terukur seperti peningkatan literasi pasar modal berdasarkan evaluasi pre–post, kemampuan simulasi transaksi berbasis data, hingga partisipasi mahasiswa dalam kegiatan dan komunitas pasar modal kampus. Indikator ini menjadi dasar evaluasi agar kegiatan tidak berhenti sebagai agenda seremonial, tetapi menghasilkan capaian nyata bagi pengembangan kompetensi mahasiswa.

Ke depan, FEB menargetkan kerja sama yang lebih luas dengan BEI maupun lembaga jasa keuangan melalui pendirian galeri investasi kampus, guest lecture berkelanjutan, pelatihan sertifikasi, hingga kompetisi analisis saham. Kolaborasi ini, menurut Dr. Ivan, akan membuka akses mahasiswa pada peluang karier dan jaringan profesional yang lebih luas.

Salah seorang mahasiswa aktif mengajukan pertanyaan saat sesi tanya jawab, menunjukkan antusiasme peserta dalam memahami investasi saham dan peran akuntansi di era digital.

Dengan konsistensi program yang selaras dengan perkembangan industri, FEB Universitas Mulia menegaskan posisinya sebagai fakultas yang menempatkan literasi digital, teknologi keuangan, dan pembelajaran akuntansi modern sebagai identitas akademik. “Kami ingin mahasiswa FEB tidak hanya siap bekerja, tetapi menjadi individu yang memahami arah perubahan industri keuangan dan mengambil peran di dalamnya,” tutupnya. (YMN)

Balikpapan, 25 November 2025— Materi kedua penyuluhan hukum pada Senin, 24 November 2025 menghadirkan perspektif tegas dari Jaksa Kejaksaan Negeri Balikpapan, Yogo Nurcahyo, SH, mengenai “Kejahatan Terhadap Anak di Bawah Umur”. Sejak awal pemaparan, Yogo langsung menyorot persoalan mendasar: semakin kompleksnya pola kriminalitas terhadap anak dan urgensi penanganan hukum yang tidak bisa diselesaikan secara kompromistis. Penyampaian materi berlangsung dinamis, dengan audiens aktif mengajukan pertanyaan mengenai tantangan penegakan hukum di lapangan.

Di awal pemaparan, Yogo menjelaskan dasar hukum perlindungan anak yang menjadi rujukan penegakan, mulai dari UU Nomor 23 Tahun 2002, UU Nomor 35 sebagai perubahan atas UU Perlindungan Anak, hingga Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu). Ia mengajak peserta memahami urgensi struktur perundang-undangan agar masyarakat sadar posisi dan kekuatan hukum dalam melindungi anak.

Dekan Fakultas Hukum, Budiarsih, S.H., M.Hum., Ph.D., menyerahkan cinderamata kepada perwakilan Bapas Kelas I Balikpapan, Imam, sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi dalam kegiatan penyuluhan hukum pada seminar Crimes Against Minors

“Tata urutan perundang-undangan harus dipahami sejak dini karena dialah yang mengatur kehidupan bernegara. Kalau masyarakat tidak tahu hukumnya, bagaimana bisa menuntut perlindungan?” tegasnya.

49 Kasus Anak, 29 Sudah Dieksekusi

Yogo memaparkan data penanganan perkara selama 2025 di Kejaksaan Negeri Balikpapan: 49 kasus dengan status penuntutan, dan 29 di antaranya telah dieksekusi. Menurutnya, percepatan penanganan perkara anak menjadi keharusan karena durasi penahanan yang sangat dibatasi oleh undang-undang.

“Penanganan kasus anak harus cepat, tepat, dan senyap. Terlambat sedikit, anak bisa stres dan sekolah terganggu,” jelasnya.

Restorative Justice Tidak Untuk Semua Kasus

Salah satu poin penting yang mendapat perhatian peserta adalah penerapan diversi dan restorative justice. Meskipun undang-undang mendorong pendekatan keadilan restoratif, Yogo menegaskan bahwa tidak semua jenis kejahatan dapat dimaafkan melalui diversi.

“Saya pribadi tidak pernah melakukan diversi untuk kasus kejahatan seksual. Itu kejahatan luar biasa. Pelaku harus dihukum setinggi-tingginya karena harga diri dan masa depan korban dipertaruhkan,” tegasnya disambut anggukan peserta.

Jaksa Kejaksaan Negeri Balikpapan, Yogo Nurcahyo, SH, memaparkan materi kedua dengan fokus pada urgensi penegakan hukum terhadap kejahatan pada anak di bawah umur.

Kolaborasi Antarinstansi adalah Kunci

Dalam pemeriksaan perkara anak, terdapat sejumlah instansi yang harus bekerja secara terpadu — mulai dari BAPAS, Dinas Sosial, UPTD PPA, hingga psikiater. Setiap anak, baik pelaku maupun korban, akan menjalani asesmen psikologis hingga penentuan tempat pembinaan seperti Balai Latihan Kerja, LPKS, atau Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) di Tenggarong.

Namun, Yogo juga menyoroti lemahnya infrastruktur daerah.

“LPKA hanya satu untuk seluruh Kalimantan Timur. Perjalanan jauh menyulitkan aparat dan berdampak psikologis bagi anak. Idealnya tiap wilayah minimal memiliki satu unit pembinaan.”

Para siswa peserta seminar terlihat menyimak penyampaian materi dengan antusias, mencerminkan kepedulian generasi muda terhadap isu perlindungan anak.

Peradilan Anak Bersifat Khusus

Berbeda dari perkara pidana umum, peradilan anak bersifat tertutup dan seluruh prosesnya mengutamakan pemulihan — termasuk larangan memakai atribut toga bagi hakim dan jaksa demi menciptakan suasana yang tidak mengintimidasi anak.

Yogo menutup sesi dengan pesan reflektif:

“Hukum memang melindungi dari pelanggaran. Tapi pencegahan sejatinya bermula dari keluarga, sekolah, dan masyarakat. Anak rusak bukan karena hukum lemah, tapi karena orang dewasa lalai.”

Iqbal, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Mulia selaku moderator, mendampingi para pemateri selama jalannya sesi diskusi.

Dengan antusiasme peserta yang tinggi dan diskusi yang hidup, penyuluhan ini diharapkan meningkatkan kesadaran publik untuk bersama-sama melindungi anak, baik sebagai generasi penerus maupun aset masa depan bangsa. (YMN)

 

Balikpapan, 25 November 2025— Fakultas Hukum Universitas Mulia menyelenggarakan seminar bertajuk “Crimes Against Minors” pada Hari Senin, 24 November 2025 yang dirangkaikan dengan penandatanganan Memorandum of Agreement (MOA) bersama Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas I Balikpapan. Kegiatan yang berlangsung di Ballroom Cheng Hoo ini menghadirkan narasumber dari Polresta Balikpapan, Kejaksaan Negeri Balikpapan, serta Bapas Balikpapan. Seminar diikuti oleh ratusan siswa SMP, SMA dan SMK sebagai bentuk perluasan edukasi hukum sejak dini.

Kaprodi Hukum Universitas Mulia, M. Asyharuddin, S.H., M.H., menyampaikan sambutan pembuka sekaligus menegaskan urgensi edukasi dan kewaspadaan hukum bagi generasi muda pada Seminar “Crimes Against Minors” di Ballroom Cheng Hoo.

Ketua Program Studi Hukum Universitas Mulia, M. Asyharuddin, S.H., M.H., dalam sambutannya menyampaikan bahwa tema seminar berangkat dari kepekaan mahasiswa terhadap fenomena kejahatan terhadap anak yang kian mengemuka. Ia menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar forum diskusi, tetapi ruang pertukaran pengetahuan antara peserta dan narasumber dari lembaga penegak hukum. Asyharuddin turut mengapresiasi kinerja panitia mahasiswa yang mempersiapkan kegiatan selama satu bulan dan berhasil menggandeng berbagai instansi strategis.

Dekan Fakultas Hukum Universitas Mulia, Budiarsi, S.H., M.Hum., Ph.D., memberikan sambutan yang menekankan komitmen fakultas dalam memperkuat kolaborasi bersama lembaga penegak hukum untuk penguatan perlindungan anak di era digital.

Dekannya, Budiarsi, S.H., M.Hum., Ph.D., memberikan perspektif yang lebih luas mengenai posisi kegiatan ini dalam konteks pengabdian institusi. Ia menegaskan bahwa Fakultas Hukum menaruh perhatian serius untuk memastikan kegiatan akademik memiliki dampak nyata di masyarakat, terutama generasi muda. Menurutnya, seminar ini menjadi bentuk komitmen kampus dalam memperkenalkan nilai-nilai kesadaran hukum secara sistematis kepada pelajar, sekaligus memperkuat jejaring kerja sama dengan lembaga hukum negara. Ia juga menyoroti keterlibatan mahasiswa semester awal sebagai panitia inti sebagai representasi kesiapan akademik dan profesional di Fakultas Hukum.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Sumardi, S.Kom., M.Kom., mewakili Rektor Universitas Mulia dalam sambutan yang mengapresiasi sinergi akademisi dan aparat penegak hukum sebagai upaya meningkatkan literasi hukum pelajar.

Sementara itu, sambutan Rektor Universitas Mulia yang diwakili oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Sumardi, S.Kom., M.Kom., menekankan relevansi akademisi sebagai mediator penyebaran informasi dan edukasi hukum yang konstruktif di masyarakat. Mengangkat contoh kasus penculikan anak yang sempat menjadi sorotan nasional, ia mengajak peserta seminar untuk memahami urgensi penegakan hukum dan kehati-hatian terhadap kejahatan terhadap anak di era digital. Sumardi juga menegaskan kesiapan Universitas Mulia sebagai ruang kolaborasi bagi aparat penegak hukum dalam menyampaikan literasi hukum kepada publik.

Penandatanganan MOA sebagai Wujud Komitmen Bersama

Momentum akademik ini dilanjutkan dengan penandatanganan MOA antara Fakultas Hukum Universitas Mulia dan Bapas Kelas I Balikpapan. Kesepakatan tersebut ditandatangani oleh Dekan Fakultas Hukum Universitas Mulia, Budiarsi, S.H., M.Hum., Ph.D., dan Kepala Bapas Kelas I Balikpapan, Imam Siswoyo. MOA ditujukan untuk memperkuat sinergi dalam pengembangan pendidikan hukum, riset, dan program pengabdian kepada masyarakat, khususnya yang berfokus pada perlindungan anak dan pembinaan remaja.

Melalui kerja sama ini, Fakultas Hukum Universitas Mulia berkomitmen memperluas integrasi antara teori dan praktik hukum di lingkungan akademik, sekaligus memberikan ruang bagi mahasiswa untuk terlibat dalam kegiatan edukasi, penyuluhan, dan penelitian terkait perlindungan anak dengan melibatkan lembaga penegak hukum.

Penandatanganan Memorandum of Agreement (MOA) antara Fakultas Hukum Universitas Mulia dan Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas I Balikpapan, dilakukan oleh Dekan Fakultas Hukum, Budiarsi, dan Kepala Bapas Kelas I Balikpapan, Imam Siswoyo, sebagai langkah strategis memperkuat kerja sama edukasi dan layanan hukum.

Penegasan Peran Kampus sebagai Agen Edukasi Hukum

Seminar “Crimes Against Minors” dipandang sebagai langkah strategis dalam memperkuat kesadaran hukum masyarakat, terutama generasi muda yang rentan bersinggungan dengan isu kriminalitas digital dan sosial. Kolaborasi akademik dan aparat penegak hukum ini diharapkan mampu melahirkan pola edukasi berkelanjutan demi memperkuat perlindungan terhadap anak sekaligus menanamkan kepribadian hukum yang berkarakter bagi pelajar sebagai calon penerus bangsa. (YMN)