Balikpapan, 9 Maret 2026 — Suasana Masjid Raudhatul Muta’allimin, Gunung Malang, Kelurahan Klandasan Ilir, Kecamatan Balikpapan Kota, tampak lebih hidup pada Minggu (8/3/2026) siang. Ratusan anak dari jenjang TK hingga SMP memenuhi area masjid untuk mengikuti pembukaan Pesantren Kilat Ramadhan yang diselenggarakan oleh PC Dewan Masjid Indonesia (DMI) Balikpapan Kota. Pada kegiatan ini, mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PGPAUD) Universitas Mulia turut ambil bagian melalui program pengabdian kepada masyarakat dengan mengajar dan mendampingi para peserta.

Pesantren Kilat Ramadhan tersebut berlangsung selama hampir dua pekan, mulai 8 hingga 19 Maret 2026, setiap pukul 13.00–15.30 WITA. Tercatat sekitar 156 peserta mengikuti kegiatan ini. Dari jumlah tersebut, sekitar 22 anak berasal dari jenjang TK/PAUD yang menjadi sasaran utama pembelajaran yang dibawakan oleh mahasiswa PGPAUD Universitas Mulia.

Seremoni pembukaan kegiatan secara resmi dibuka oleh Kaprodi PGPAUD Universitas Mulia, Bety Vitriana, S.Pd., M.Pd. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa kegiatan pengabdian masyarakat ini merupakan bagian dari implementasi nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi sekaligus ruang belajar bagi mahasiswa untuk menghubungkan teori dengan praktik di tengah masyarakat.

Kaprodi PGPAUD Universitas Mulia, Bety Vitriana, S.Pd., M.Pd., berfoto bersama para mahasiswi UM dan tim asatidzah Pesantren Kilat Ramadhan yang diselenggarakan oleh PC DMI Balikpapan Kota di Masjid Raudhatul Muta’allimin.

“Kegiatan Pengabdian Masyarakat Prodi PGPAUD di Pesantren Kilat Ramadhan ini merupakan contoh nyata implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi. Bagi mahasiswa, kegiatan ini memberikan kesempatan untuk mengaplikasikan ilmu, meningkatkan keterampilan sosial, dan menumbuhkan empati serta tanggung jawab sosial. Kegiatan ini juga menjadi aksi nyata penerapan kurikulum OBE yang digunakan di perguruan tinggi saat ini,” ujarnya.

Suasana pembukaan semakin semarak dengan penampilan edukatif dari Tim Masjid Assalam Balikpapan. Dalam sesi tersebut, para santri penghafal Al-Qur’an dari Masjid Assalam menampilkan simulasi perilaku yang berkaitan dengan adab di masjid. Melalui sebuah peragaan sederhana, mereka mempraktikkan berbagai contoh sikap yang baik maupun perilaku yang tidak tepat ketika berada di rumah Allah.

Metode pembelajaran ini dirancang interaktif. Anak-anak yang menjadi peserta pesantren kilat diajak untuk mengamati setiap adegan yang diperagakan, kemudian diminta menilai apakah perilaku tersebut termasuk adab yang baik atau tidak. Dengan cara ini, peserta tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga terlibat langsung dalam proses memahami nilai-nilai akhlak.

Ketua DKM Masjid Assalam, Ustadz Muhammad Dhenny, kemudian melanjutkan sesi tersebut dengan memberikan sejumlah pertanyaan kepada peserta mengenai adab di masjid. Anak-anak yang mampu menjawab pertanyaan dengan tepat mendapatkan hadiah sebagai bentuk apresiasi. Sesi tanya jawab berlangsung meriah dengan para peserta yang antusias mengangkat tangan untuk menjawab.

Tidak hanya itu, para santri penghafal Al-Qur’an dari Masjid Assalam juga memperdengarkan lantunan ayat-ayat Al-Qur’an yang mereka hafal. Bacaan yang dilantunkan dengan suara merdu menghadirkan suasana khidmat sekaligus mengundang kekaguman dari para peserta yang hadir.

Memasuki sesi pembelajaran, mahasiswa PGPAUD Universitas Mulia mulai mengisi kegiatan dengan berbagai aktivitas edukatif. Salah satu materi yang diberikan adalah pembelajaran bahasa Inggris untuk anak usia dini yang dikaitkan dengan nilai-nilai keislaman, seperti kosakata yang berhubungan dengan ibadah, kegiatan sehari-hari, serta pengenalan adab dan akhlak mulia.

Pembelajaran dirancang dengan pendekatan yang menyenangkan melalui permainan, gerak, serta berbagai aktivitas interaktif yang sesuai dengan karakteristik belajar anak usia dini. Selain kegiatan belajar, mahasiswa juga mengisi sesi ice breaking pada sela-sela pergantian materi. Berbagai permainan edukatif yang dibawakan membuat suasana kegiatan tetap hidup dan menjaga semangat peserta selama mengikuti pesantren kilat.

Dua orang mahasiswi PGPAUD Universitas Mulia mengajar peserta anak usia dini dalam kegiatan pembelajaran bahasa Inggris bernuansa nilai-nilai Islam pada Pesantren Kilat Ramadhan.

Dosen pembimbing mata kuliah Bahasa Inggris Universitas Mulia, Yamani, S.S., M.Pd., menjelaskan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan ini merupakan bagian penting dari proses pembelajaran berbasis praktik.

Menurutnya, pembelajaran bahasa Inggris untuk anak usia dini tidak cukup hanya dipahami melalui teori di ruang kuliah. Mahasiswa perlu merasakan secara langsung dinamika mengajar anak, mulai dari memahami karakter belajar mereka hingga merancang aktivitas pembelajaran yang menarik.

“Kegiatan ini menjadi wahana praktik yang sangat berharga bagi mahasiswa untuk menerapkan secara langsung teori pembelajaran bahasa Inggris yang mereka pelajari di perkuliahan. Mereka belajar bagaimana menyampaikan kosakata bahasa Inggris kepada anak usia dini dengan pendekatan yang kreatif, komunikatif, dan sesuai dengan tahap perkembangan anak,” jelasnya.

Mahasiswa Universitas Mulia memandu kegiatan ice breaking melalui permainan edukatif untuk menjaga semangat peserta di sela-sela pergantian mata pelajaran pada Pesantren Kilat Ramadhan.

Ia menambahkan bahwa pengalaman ini juga melatih mahasiswa untuk lebih peka terhadap kebutuhan belajar anak. Melalui interaksi langsung di lapangan, mahasiswa tidak hanya mengembangkan kompetensi pedagogis, tetapi juga belajar membangun komunikasi yang hangat serta menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.

Menurutnya, integrasi pembelajaran bahasa Inggris dengan nilai-nilai Islam merupakan pendekatan yang relevan dalam pendidikan anak usia dini. Dengan cara tersebut, anak-anak tidak hanya mengenal kosakata bahasa asing, tetapi juga belajar tentang adab, ibadah, serta nilai-nilai akhlak yang menjadi fondasi penting dalam pembentukan karakter.

Melalui kegiatan pengabdian masyarakat ini, mahasiswa PGPAUD Universitas Mulia tidak hanya memperoleh pengalaman praktik mengajar, tetapi juga berkontribusi dalam membangun lingkungan pendidikan yang positif di masjid. Kehadiran mahasiswa di tengah kegiatan pesantren kilat diharapkan dapat memperkaya pengalaman belajar peserta sekaligus menumbuhkan kecintaan anak-anak terhadap masjid sebagai pusat kegiatan keagamaan dan pembinaan generasi muda. (YMN)

 

Balikpapan, 25 November 2025 Peringatan Hari Guru di Program Studi PGPAUD Universitas Mulia menjadi momentum refleksi mendalam tentang makna pendidik sebagai pembentuk fondasi peradaban sejak usia dini. Hari besar ini tidak sekadar menjadi penanda tanggal, tetapi menjadi pengingat peran guru PAUD sebagai agen perubahan di mana masa depan anak — dan masa depan bangsa — sedang dirancang.

Kaprodi PGPAUD, Bety Vitraya, S.Pd., M.Pd., menyampaikan bahwa Hari Guru merupakan pengingat tentang hakikat pendidik sebagai agen perubahan. “Kami mendidik manusia sebelum ia tahu bahwa ia adalah agen perubahan. Kami tidak hanya mengajarkan huruf atau angka, tetapi menanamkan empati, kepercayaan diri, dan imajinasi pada anak yang bahkan belum bisa mengungkapkan perasaan dan pikirannya,” ujarnya. Ia menegaskan, Hari Guru menjadi momen untuk tidak tenggelam dalam rutinitas hingga kehilangan makna dari profesi itu sendiri.

Guru PAUD: Dari Arsitek Peradaban Menjadi ‘Tukang Cat’

Bety menyebut realitas di lapangan masih jauh dari apresiasi ideal. Label “arsitek peradaban” berbanding terbalik dengan perlakuan yang diterima. “Di lapangan, arsitek ini sering dipakai sebagai tukang cat. Disuruh jagain anak saja, padahal kami sedang merancang jaringan syaraf kebaikan,” ujar­nya. Ia menyinggung masih adanya guru PAUD dengan gaji Rp400 ribu per bulan, serta sekolah yang menuntut inovasi tanpa fasilitas dasar. Namun, dalam tekanan tersebut para pendidik justru menunjukkan jati diri terbaik mereka. “Arsitek sejati tidak mengeluh saat tanahnya berbatu. Ia merancang fondasi dari batu itu—memberdayakan apa pun yang ada agar anak pulang dari sekolah membawa pengalaman baru.”

PGPAUD Universitas Mulia: Tidak Sekadar ‘Siap Kerja’, tetapi ‘Siap Hidup’

Berbicara tentang proses pendidikan calon guru PAUD, PGPAUD UM tidak menyiapkan mahasiswa sekadar untuk mendapatkan pekerjaan. Prodi mengarahkan mahasiswa untuk siap menghadapi dinamika nyata di dunia pendidikan anak usia dini. Kurikulum PGPAUD berdiri di atas tiga pilar: kompetensi, kreativitas, dan karakter, dengan 60% praktik lapangan. Mahasiswa didorong untuk menganalisis kasus nyata di sekolah PAUD dan mengubahnya menjadi pengalaman pembelajaran.
“Mereka harus paham dunia anak itu bukan teori. Mereka harus bisa membaca situasi, merasakan emosi, dan merespons dengan ilmu dan ketulusan.”

 Tiga Luka Besar: Gaji Rendah, Minim Pelatihan, dan Stigma Sosial

Saat ditanya tentang tantangan terbesar guru PAUD, Bety menyebut tiga persoalan yang masih akut:

  1. Gaji tidak layak – status dan tunjangan guru PAUD perlu regulasi yang jelas dan adil.
  2. Minim pelatihan – guru PAUD bukan sekadar pendidik, tetapi pembimbing anak dengan keunikan karakter; pelatihan berkelanjutan adalah kebutuhan strategis.
  3. Stigma “cuma babysitter” – masyarakat perlu menyadari kompleksitas tugas guru PAUD, termasuk mengasuh, menyuapi, mendampingi toilet training, hingga menenangkan anak dengan kebutuhan khusus.

“Ucapan terima kasih sederhana saat menjemput anak penting untuk mengikis stigma. Ada profesi suci di balik pekerjaan yang tampak sederhana.”

Guru PAUD Ideal: Bukan Superhero, Melainkan Manusia Super

Dalam pandangan Bety, guru PAUD profesional bukanlah tokoh fiksi serba bisa, melainkan manusia sungguhan dengan indra yang bekerja melampaui kemampuan biasa:

  • Mata: melihat potensi, bukan keterbatasan.
  • Telinga: mendengar keheningan anak dengan kebutuhan khusus.
  • Tangan: kanan menulis, kiri memegang hati anak.
  • Kaki: berpijak pada realitas, melangkah ke masa depan.
  • Hati: penuh cinta, namun terjaga oleh disiplin.

Pesan untuk Guru PAUD: “Dunia Mungkin Tidak Tahu Namamu, tapi Sejarah Anak Mengabadikanmu”

Ungkapan paling emosional muncul saat Bety menyampaikan pesan Hari Guru untuk para pendidik PAUD di seluruh Indonesia.

“Untuk guru PAUD yang makan siangnya nasi dan telur digoreng dua kali agar anak-anak tetap bisa makan buah: kamu tidak sedang mengajar—kamu sedang menyelamatkan dunia dari kehilangan kebaikan.” Ia melanjutkan, “Ketika kamu berlutut menemani anak menangis karena puzzle tidak pas, itu adalah foto paling dekat dengan surga. Dunia mungkin tidak tahu namamu, tapi kenangan seorang anak menyebutmu pahlawannya, panutannya, malaikat kecilnya.”

Harapan untuk Mahasiswa PGPAUD

Penutup wawancara menyentuh kebanggaan profesi. “Saya tidak ingin mereka bangga karena gaji, tetapi karena jasa,” tegasnya. Ia meminta mahasiswa melihat kemuliaan profesi saat berhasil menutup kekosongan hati anak karena orang tuanya sibuk bekerja, atau saat mendampingi mereka membaca buku pertama. “Pada momen itu, Tuhan sedang menatapmu melalui mata manusia kecil. Populer atau tidak, engkau sedang memperkaya amal jariyah dan menyelamatkan masa depan dunia.” (YMN)

Balikpapan, 12 November 2025 — Dalam memperingati Hari Ayah Nasional, Kaprodi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG PAUD) Universitas Mulia, Bety Vitriana, S.Pd., M.Pd., mengungkapkan pandangannya tentang betapa pentingnya kehadiran sosok ayah dalam tumbuh kembang anak, terutama di masa usia dini. Menurutnya, ayah bukan sekadar pelengkap dalam keluarga, tetapi simbol keamanan, kekuatan, dan ketegasan yang memberikan dampak nyata terhadap perkembangan otak dan emosi anak.

“Kehadiran ayah yang responsif — cepat menanggapi isyarat anak, banyak bercanda, bermain, dan hadir secara fisik — menstimulasi otak anak untuk menghasilkan dopamin dan oksitosin,” tutur Bety. “Dua hormon ini berperan besar dalam meningkatkan konsentrasi, keberanian eksplorasi, serta kecepatan pemrosesan bahasa.”

Ia menambahkan, interaksi yang aktif antara ayah dan anak akan membangun kepercayaan diri serta kemampuan komunikasi anak. Bahkan, studi menunjukkan bahwa anak-anak yang rutin mendengar dongeng dari ayahnya minimal tiga kali seminggu memiliki kosakata 20% lebih luas ketika memasuki taman kanak-kanak.

Nilai-Nilai Keayah-an yang Membangun Karakter

Lebih lanjut, Bety menjelaskan bahwa peran ayah bukan hanya dalam mendampingi, tetapi juga dalam menanamkan nilai-nilai psikologis dan moral.

Beberapa nilai keayah-an yang paling berpengaruh menurutnya antara lain:

  • Konsistensi dan keteraturan, yang menumbuhkan rasa aman dan kepercayaan pada dunia di sekitar anak.
  • Gentle assertiveness, yaitu ketegasan tanpa kekasaran yang melatih anak mengatur emosi dan mengelola impuls.
  • Growth mindset, di mana ayah memuji proses, bukan hasil, untuk menumbuhkan semangat belajar yang sehat.
  • Respect terhadap ibu, agar anak belajar empati dan kesetaraan gender sejak dini.
  • Kepemimpinan, yang secara nyata dicontohkan melalui cara ayah mengambil keputusan dan menjaga keharmonisan keluarga.

“Anak-anak belajar dengan mengamati,” ujar Bety. “Mereka melihat bagaimana ayah memperlakukan ibu, bagaimana ayah mengambil keputusan, dan dari sanalah mereka meniru model kepemimpinan dan komunikasi.”

Kolaborasi Ayah dan Ibu: Kunci Lingkungan Belajar yang Optimal

Dalam pandangan Bety, pendidikan anak usia dini yang efektif memerlukan sinergi antara ayah dan ibu. Keduanya memiliki fungsi berbeda namun saling melengkapi. Ibu cenderung menghadirkan kehangatan emosional, sementara ayah memberikan variasi rangsangan dan tantangan yang menumbuhkan keberanian anak.

Ia memberi contoh sederhana:

“Ibu bisa menyiapkan bahan sensorik di ‘learning corner’, sementara ayah membuat label bergambar besar. Ibu membacakan buku, ayah menambahkan pertanyaan ‘What if…?’ agar anak berpikir divergen.”

Selain itu, Bety menyarankan keluarga untuk mengadakan “family meeting” singkat setiap minggu selama 15 menit. Dalam pertemuan itu, orang tua dapat menyepakati strategi disiplin dan topik belajar anak, sehingga tercipta komunikasi yang konsisten dan tidak membingungkan anak.

Tantangan Ayah di Era Modern

Bety juga menyoroti tantangan-tantangan yang kerap dihadapi para ayah masa kini, mulai dari keterbatasan waktu, tekanan kerja, hingga norma sosial yang masih menempatkan pengasuhan sebagai “urusan ibu”. Namun, ia menekankan bahwa peran kecil yang konsisten lebih berharga daripada kehadiran yang jarang tapi lama.

“Cukup lima menit tatap muka dan pelukan hangat saat pulang, atau satu jam khusus di akhir pekan sudah sangat berarti bagi anak,” jelasnya.

Bety juga mengingatkan agar ayah tidak terburu-buru menyelesaikan masalah anak dengan solusi praktis, tetapi lebih dulu mendengarkan perasaan mereka. “Kadang anak hanya ingin didengar. Cukup tanyakan ‘Kamu sedang sedih ya?’ sebelum memberi solusi.”

Menumbuhkan Kecerdasan Emosional Anak

Peran ayah tidak berhenti pada aspek kognitif, tetapi juga sangat penting dalam pembentukan kecerdasan emosional. Ayah bisa melatih anak mengelola emosi melalui aktivitas sederhana, seperti menanyakan perasaan anak setiap malam (“Hari ini senang atau tidak? Skala 1–10”), menunjukkan cara bernapas saat stres, hingga memberikan pelukan 20 detik untuk merangsang hormon kenyamanan.

“Jangan bilang ‘jangan nangis’,” pesan Bety menutup wawancara. “Lebih baik katakan, ‘Ayah di sini, kita atasi bersama.’ Kalimat sederhana itu bisa menjadi pondasi bagi anak untuk belajar menghadapi dunia dengan rasa aman dan penuh kasih.”

Refleksi Hari Ayah

Pandangan akademik yang disampaikan Bety Vitriana bukan sekadar teori, tetapi pengingat penting bagi masyarakat bahwa ayah adalah pendidik pertama di rumah — sumber rasa aman, keteladanan, dan dorongan bagi anak untuk tumbuh menjadi pribadi tangguh dan berdaya saing.

Di Hari Ayah Nasional ini, Universitas Mulia mengajak seluruh sivitas akademika untuk merenungkan kembali: seberapa sering kita hadir bukan hanya sebagai pemberi nafkah, tetapi juga sebagai sumber kasih, teladan, dan inspirasi bagi anak-anak kita. (YMN)

 

Balikpapan, 26 Oktober 2025— Dosen Program Studi S1 Manajemen Universitas Mulia, Dr. Linda Fauziyah Ariyani, S.Pd., M.Pd., menjadi narasumber dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Provinsi Kalimantan Timur pada Rabu, 22 Oktober 2025. Acara yang diikuti sekitar 200 peserta dari unsur guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) se-Kota Balikpapan ini mengangkat tema “Peran Pengajar Anak Usia Dini di Era Digital dalam Membangun Anak Bangsa yang Pancasilais.”

Dr. Linda Fauziyah Ariyani, S.Pd., M.Pd., Dosen S1 Manajemen Universitas Mulia, saat menyampaikan materi tentang pembelajaran Pancasila untuk anak usia dini pada kegiatan Bakesbangpol Provinsi Kaltim di Samarinda, Rabu (22/10).

Kehadiran Dr. Linda dalam forum tersebut merupakan bagian dari kontribusi Universitas Mulia terhadap penguatan nilai-nilai kebangsaan melalui pendidikan. Sebagai akademisi sekaligus asesor untuk jenjang PAUD, pendidikan dasar, menengah, dan kesetaraan (paket A, B, dan C) di Provinsi Kalimantan Timur, Dr. Linda berbagi pandangan dan pengalaman praktis tentang bagaimana menghadirkan pembelajaran Pancasila yang relevan di tengah arus digitalisasi.

Menurutnya, pendidikan karakter harus dimulai sejak masa emas pertumbuhan anak. “Urgensi penguatan nilai-nilai Pancasila pada anak usia dini tidak bisa ditunda. Justru pada masa inilah fondasi karakter dibentuk sebelum anak banyak terpengaruh oleh teknologi,” ujarnya.

Dr. Linda juga menyoroti peran guru PAUD sebagai penanam akar bangsa. Ia menjelaskan, “Guru bukan hanya pengajar huruf dan angka, tetapi teladan yang memberikan inspirasi, membentuk sikap, dan menumbuhkan keterampilan terbaik anak melalui proses pendidikan di sekolah.”

Dalam paparannya, Dr. Linda memperkenalkan LINDA Method, sebuah pendekatan pembelajaran yang dikembangkannya untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan berkarakter. Metode ini terdiri atas lima unsur utama: Lead, Involve, Narrative, Dialogic, dan Active. Dari kelima unsur tersebut, menurutnya, Lead with energy merupakan bagian yang paling menantang karena menuntut guru untuk mampu mengelola rasa dan emosi agar dapat memberi stimulus positif kepada anak didik.

Ia juga membagikan pengalaman dari guru-guru PAUD yang telah menerapkan metode ini dan melaporkan peningkatan semangat belajar serta perilaku positif anak di kelas. “Ketika guru memimpin dengan energi positif, anak-anak merespons dengan antusias dan lebih mudah diarahkan untuk berbuat baik,” katanya.

Selain itu, Dr. Linda menekankan pentingnya kolaborasi antara guru dan orang tua dalam menanamkan nilai-nilai Pancasila. “Guru dapat melibatkan orang tua melalui aktivitas sederhana di rumah, seperti melatih anak untuk merapikan tempat tidur dan alat makan sendiri. Dari situ nilai tanggung jawab dan kemandirian tumbuh secara alami,” jelasnya.

Kepada para orang tua, ia berpesan agar tidak menyerahkan sepenuhnya pendidikan karakter kepada sekolah. “Pendidikan dengan kasih sayang terbaik ada pada orang tua. Guru hanya memiliki waktu terbatas di sekolah, sementara orang tua membersamai anak setiap hari bahkan hingga mereka dewasa,” ungkapnya.

Salah satu kutipan yang mencuri perhatian peserta adalah pernyataannya: “Anak-anak lahir dengan gadget di tangan, tapi tugas kita menanamkan gotong royong di hati mereka.” Menurut Dr. Linda, kalimat ini menggambarkan bahwa membangun keterampilan bisa dilakukan dengan tangan, tetapi membentuk karakter hanya dapat dilakukan dengan hati.

Suasana sesi diskusi bersama para narasumber dan peserta yang terdiri atas ratusan guru PAUD se-Kota Balikpapan, membahas strategi penguatan karakter Pancasila di era digital.

Dalam wawancara, Dr. Linda juga menuturkan bahwa keyakinannya terhadap pentingnya pendidikan karakter sejak PAUD tumbuh dari pengalamannya melihat anak-anak yang belum banyak terpengaruh dampak negatif teknologi. “Inilah waktu terbaik untuk membekali mereka dengan nilai-nilai luhur budaya bangsa,” katanya.

Menutup wawancara, Dr. Linda menyampaikan harapannya terhadap generasi masa depan Indonesia. “Saya percaya, anak-anak yang tumbuh dengan pendidikan berbasis Pancasila akan menjadi generasi yang membawa kebermanfaatan bagi bangsa. Mereka akan menerangi kehidupan dengan karya hebat dan menjadi rujukan bagi masyarakat dunia yang adil dan beradab,” tuturnya.

Melalui kiprah para dosennya seperti Dr. Linda Fauziyah Ariyani, Universitas Mulia terus memperkuat reputasi sebagai kampus yang aktif berkontribusi bagi pembangunan pendidikan di Kalimantan Timur. Aktivitas dosen di berbagai forum nasional dan daerah menjadi bagian dari implementasi tridharma perguruan tinggi—khususnya pengabdian masyarakat dan pengembangan keilmuan—yang mempertegas peran Universitas Mulia sebagai pusat inovasi pendidikan yang berkarakter. (YMN)

 

Mahasiswa PG-PAUD UM Ciptakan Dongeng Digital: Gerakan Literasi dari Layar ke Hati

Balikpapan, 20 Oktober 2025 – Di tengah derasnya gelombang digitalisasi pendidikan, mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG-PAUD) Universitas Mulia memilih jalannya sendiri: melestarikan budaya bercerita melalui teknologi. Melalui kegiatan Workshop Pembuatan Buku Dongeng Digital, mereka menghidupkan kembali tradisi lisan dalam bentuk karya interaktif yang bisa diakses dari layar mana pun.

Ketua Himpunan Mahasiswa (HIMA) PG-PAUD, Nur Wahida, menjelaskan bahwa gagasan kegiatan ini lahir bukan sekadar untuk memenuhi program kerja organisasi, tetapi sebagai respon terhadap perubahan besar dalam dunia pendidikan anak.

“Awalnya kegiatan ini merupakan program kerja HIMA periode 2024–2025, namun kami melihat tren pendidikan yang kini semakin kuat dengan konten digital. Dari situ muncul ide untuk mengembangkan dongeng tradisional agar masuk dalam dunia digitalisasi,” ujarnya.

Tema “Membangun Kreativitas Guru AUD melalui Karya Buku Dongeng Digital yang Interaktif dan Edukatif” dipilih bukan tanpa alasan. Bagi HIMA PG-PAUD, kreativitas guru bukan hanya kemampuan mencipta cerita, tetapi kemampuan menjembatani nilai-nilai budaya dengan teknologi yang akrab di tangan anak-anak.

Foto bersama usai workshop pembuatan buku dongeng digital di ruang eksekutif White Campus Universitas Mulia, Sabtu (19/10/2025).

“Tema ini menjadi bentuk harapan agar guru PAUD mampu menciptakan karya yang bisa digunakan dalam pembelajaran, yang tetap interaktif dan edukatif,” jelasnya.

Respons peserta pun melampaui ekspektasi. Mahasiswa mengaku antusias karena untuk pertama kalinya mereka menghasilkan karya digital yang bisa dibaca dan dibagikan secara luas.

“Workshop ini jadi pengalaman pertama bagi banyak mahasiswa. Mereka membuat karya asli, mempublikasikannya secara online, dan menyadari bahwa hasil kreativitas mereka bisa diakses oleh banyak orang,” katanya.

 Suasana workshop di Laboratorium A White Campus saat peserta antusias membuat buku dongeng digital interaktif sebagai hasil praktik pembelajaran.

Ketertarikan juga datang dari kalangan pendidik PAUD di luar kampus. Beberapa kepala sekolah dan Bunda PAUD Balikpapan Selatan turut hadir meninjau jalannya workshop.

“Dari kunjungan itu, beberapa kepala sekolah bahkan tertarik memasukkan karya mahasiswa ke galeri pustaka digital Bunda PAUD Balikpapan Selatan,” ungkapnya.

Dalam kegiatan yang berlangsung selama dua hari itu, setiap peserta wajib menulis dan merancang satu buku dongeng digital secara mandiri. Setiap naskah dibuat dari ide orisinal peserta dan dipublikasikan melalui platform FlipHTML5, agar bisa dibaca publik secara daring.

“Kami ingin setiap peserta benar-benar menulis cerita mereka sendiri, bukan menyalin. Semua karya dipublikasikan agar bisa menjadi bagian dari literasi digital anak,” jelasnya.

HIMA PG-PAUD juga berkolaborasi dengan narasumber profesional di bidang mendongeng dan pembuatan konten digital agar peserta dapat belajar langsung dari praktisi.

Ketua HIMA PGPAUD Universitas Mulia, Nur Wahida, menyerahkan sertifikat penghargaan kepada narasumber pertama, Kak Eri, pendongeng Balikpapan yang inspiratif.

“Kami menyiapkan pemateri yang kompeten di setiap sesi agar peserta tidak hanya paham teori, tapi juga mampu menerapkannya dalam karya,” katanya.

Bagi pengurus HIMA, kegiatan ini menjadi laboratorium organisasi yang nyata — tempat belajar manajemen acara, kolaborasi eksternal, hingga kepemimpinan dalam dunia akademik.

“Pelajaran paling berharga bagi kami adalah bagaimana menyelenggarakan kegiatan secara sistematis dan bekerja sama dengan berbagai pihak. Itu pengalaman penting,” ujarnya.

Tak berhenti di situ, seluruh karya mahasiswa yang terkumpul akan dikurasi untuk diterbitkan dalam Galeri Pustaka Digital PG-PAUD Universitas Mulia, dan ke depan direncanakan memperoleh sertifikat HAKI sebagai bentuk penghargaan terhadap kreativitas mahasiswa.

“Kami berharap karya-karya ini bisa diseleksi dan mendapat HAKI, bahkan dicetak menjadi satu buku kumpulan dongeng. Itu bentuk nyata bahwa mahasiswa bisa menghasilkan karya yang bermakna,” pungkasnya.

Kak Eri menampilkan praktik mendongeng yang memukau dan interaktif di hadapan peserta workshop, memancing tawa dan imajinasi mahasiswa PGPAUD.

 

Melalui langkah sederhana namun visioner ini, mahasiswa PG-PAUD Universitas Mulia telah menegaskan satu hal: bahwa teknologi bukan lawan dari tradisi, melainkan ruang baru untuk membuat nilai-nilai budaya tetap hidup dan dapat disentuh oleh generasi yang tumbuh di depan layar. (YMN)

 

Balikpapan, 20 Oktober 2025– Di tengah derasnya arus digitalisasi yang mengubah cara anak belajar dan berinteraksi dengan dunia, Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG-PAUD) Universitas Mulia mengambil langkah berani: menyiapkan calon guru yang tidak hanya piawai bercerita, tetapi juga mampu menghadirkan dongeng dalam bentuk digital yang interaktif dan bernilai lokal.

Kegiatan Workshop Pembuatan Buku Dongeng Digital yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa (HIMA) PG-PAUD pada 18–19 Oktober 2025 di ruang Eksekutif dan Laboratorium A White Campus Universitas Mulia menjadi ruang eksplorasi bagi mahasiswa calon guru untuk berkreasi sekaligus meneguhkan peran baru mereka di tengah transformasi teknologi pendidikan.

Dari kiri: Wakil Dekan FHK Sri Purwanti, S.Pd., M.Pd.; Kaprodi PG-PAUD Bety Vitriana, S.Pd., M.Pd.; Dekan FHK Dr. Mada Aditia Wardhana, S.Sos., M.M.; dan Erikariyani, S.E., M.M., pendongeng asal Balikpapan yang dikenal luas dengan nama Kak Eri, saat menghadiri pembukaan Workshop Pembuatan Buku Dongeng Digital di White Campus Universitas Mulia, Sabtu (18/10).

Kaprodi PG-PAUD, Bety Vitriana, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa HIMA PG-PAUD hadir bukan sekadar menyelenggarakan pelatihan teknis, melainkan mengusung misi kebudayaan dan literasi digital yang lebih luas.

“Kami ingin mengajak mahasiswa sekaligus calon guru PAUD menjadi guru yang mampu melestarikan budaya Indonesia dan menciptakan konten lokal dalam format digital yang interaktif. Tanpa langkah ini, kita akan kehilangan generasi pembaca karena guru tidak mampu menawarkan cerita di ‘layar’—tempat anak-anak kini bernaung,” ujarnya.

Mahasiswa PG-PAUD tampak antusias mengikuti sesi praktik pembuatan buku dongeng digital di ruang Laboratorium A White Campus Universitas Mulia.

Menurut Bety, guru PAUD masa kini tidak lagi cukup hanya menjadi pencerita yang menuturkan kisah di depan kelas. Mereka harus naik peran menjadi kurator konten dan pendongeng digital (digital storyteller) yang mampu memadukan nilai-nilai budaya dengan medium teknologi yang akrab dengan dunia anak-anak.

“Guru bukan sekadar pencerita, tapi content curator dan digital storyteller. Ia harus mampu memilah aplikasi, meramu dongeng lisan nenek moyang menjadi file digital yang bisa diklik, dan tetap menjadi filter agar anak tidak hanya jadi konsumen pasif,” jelasnya.

Pendongeng Balikpapan Kak Eri berbagi pengalaman dan teknik mendongeng interaktif di era digital kepada peserta workshop.

Bety menekankan bahwa di tengah derasnya arus konten digital global, guru memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan anak-anak tetap tumbuh dengan akar budaya sendiri. Buku dongeng digital yang diciptakan mahasiswa diharapkan menjadi jembatan antara nilai-nilai lokal dan dunia digital tempat anak belajar.

“Guru tetap menjadi jantung, hanya saja kini berdetak dalam ritme digital untuk menyesuaikan kebutuhan zaman. Melalui karya buku dongeng digital, guru dapat menghadirkan tontonan yang mendidik dan bermuatan pesan moral bagi generasi emas,” tambahnya.

Ketua HIMA PG-PAUD menyerahkan sertifikat penghargaan kepada Kak Eri sebagai bentuk apresiasi atas kontribusinya dalam kegiatan Workshop Pembuatan Buku Dongeng Digital.

Melalui kegiatan ini, Prodi PG-PAUD Universitas Mulia berupaya membangun ekosistem belajar yang menumbuhkan kreativitas digital berbasis budaya. Setiap karya yang lahir diharapkan bukan hanya menjadi produk akademik, tetapi juga kontribusi nyata untuk literasi anak usia dini Indonesia di era layar. (YMN)

Balikpapan, 8 Oktober 2025 — Pelaksanaan Pasar Pagi Mulia di Bay Park Plaza tidak hanya menghadirkan bazar dan pertunjukan musik, tetapi juga sejumlah kegiatan kreatif bagi masyarakat dan mahasiswa.

Salah satunya adalah Yoga & Sound Bath Class, sesi relaksasi yang dipandu instruktur yoga dan fasilitator sound bath. Kegiatan ini memberi kesempatan bagi pengunjung untuk merasakan suasana tenang di tengah keramaian acara.

Selain itu, Workshop Beads & Craft menjadi ruang bagi peserta untuk belajar membuat perhiasan manik-manik dan aksesori buatan tangan. Kegiatan ini menarik minat pengunjung dari berbagai kalangan.

 

Program Studi PG PAUD Universitas Mulia juga terlibat dengan menggelar Lomba Mewarnai Anak-anak yang diikuti lebih dari 50 peserta dari berbagai sekolah di Balikpapan.

Dari kalangan muda, K-Pop Dance Competition & Coswalk Parade menjadi salah satu bagian acara yang paling ramai dikunjungi. Komunitas pecinta budaya populer dari Balikpapan berpartisipasi aktif menampilkan kreativitas mereka.

Selain itu, kegiatan SMADA.COM Wanted hasil kolaborasi dengan SMA Negeri 2 Balikpapan menampilkan karya siswa SMA/SMK. Kegiatan ini memberi ruang bagi generasi muda untuk memperlihatkan karya mereka di luar lingkungan sekolah.

Keseluruhan kegiatan tersebut menunjukkan keterlibatan aktif mahasiswa dan masyarakat dalam satu ruang kegiatan yang terbuka dan kreatif. (YMN)

Balikpapan 8 Oktober 2025—Pasar Pagi Mulia kembali digelar di Bay Park Plaza Balikpapan. Kegiatan ini diinisiasi oleh Domain Creative Bureau bersama sivitas Universitas Mulia dan telah terselenggara sebanyak empat kali dalam sembilan bulan terakhir. Tiga edisi sebelumnya berlangsung di lingkungan kampus dan satu edisi di Plaza Balikpapan.

Menurut panitia, kegiatan ini berangkat dari gagasan Domain Creative Bureau yang ingin mempertemukan mahasiswa dengan komunitas lokal dan pelaku UMKM. Pasar Pagi Mulia berkembang menjadi kegiatan yang membuka ruang interaksi antara kampus dan masyarakat.

Pada penyelenggaraan kali ini, lebih dari 30 tenant lokal dan sejumlah komunitas seni terlibat. Sepuluh band dari Balikpapan dan Samarinda tampil di panggung utama, di antaranya The Bani, Gaharu, Daffa & The Kuncoros, Leonora, Here to Stay, Justicia, Renaldy Rizky, Paw’s Letter, MARA, dan Murphy Radio.

Murphy Radio menjadi salah satu penampil yang menarik perhatian. Band ini sebelumnya telah melakukan tur di Eropa, dan usai kegiatan ini dijadwalkan tampil di China dan Jepang.

Selain menampilkan musik dan bazar, kegiatan ini juga melibatkan mahasiswa dari berbagai fakultas. Fakultas Ilmu Komputer membuka booth warkom yang menjual camilan buatan mahasiswa. Program Studi PG PAUD mengadakan lomba mewarnai untuk 50 anak, sementara 10 anggota BEM Universitas Mulia membantu operasional kegiatan dari awal hingga selesai. (YMN)

 

Balikpapan, 12 September 2025 Rasa syukur dan kebanggaan dirasakan Lisda Hani Gustina S,Ag, M.Pd, dosen Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) Agama Islam Universitas Mulia, saat Rencana Pembelajaran Semester (RPS) yang ia susun bersama tim resmi disahkan dalam Kurikulum 2025. Baginya, pengesahan ini bukan sekadar formalitas, melainkan tonggak penting dalam menghadirkan model pembelajaran yang lebih bermakna.

“Kerja keras kami akhirnya memperoleh pengesahan. Tentu ada rasa lega, tapi juga muncul semangat baru untuk mengimplementasikannya secara konsisten,” ungkap Lisda.

Kepala LPMPP Universitas Mulia, Jamal, menandatangani berkas pengesahan Kurikulum 2025 sebagai bagian dari rangkaian seremonial pengesahan.

Menurutnya, legitimasi kurikulum yang baru memberi ruang lebih luas bagi para dosen untuk berkreasi. Dengan adanya payung resmi, ia merasa lebih leluasa menghadirkan pendekatan project based learning dan design thinking dalam perkuliahan Agama Islam. “Ini menjadi dorongan untuk terus mencari metode terbaik agar mahasiswa aktif, kritis, dan produktif,” ujarnya.

Namun, Lisda tak menutup mata pada tantangan yang menanti. Mengubah pola pikir dosen dan mahasiswa dari pola konvensional menuju pembelajaran berbasis proyek menjadi pekerjaan yang tidak ringan. Dibutuhkan adaptasi, kreativitas, serta keberanian untuk keluar dari zona nyaman. “Selain itu, dukungan sarana, kolaborasi, dan komitmen sangat menentukan keberhasilan pelaksanaan kurikulum ini,” tambahnya.

Sebagai bentuk implementasi, Lisda menyiapkan skema pembelajaran yang menuntut mahasiswa mengerjakan proyek nyata, mulai dari riset kecil, kerja kolaboratif, hingga penyajian hasil dalam bentuk karya. Dengan demikian, mahasiswa tidak berhenti pada pemahaman konsep, melainkan menginternalisasi nilai-nilai yang relevan melalui pengalaman langsung.

Di akhir wawancara, Lisda menekankan harapannya agar Kurikulum 2025 benar-benar mampu melahirkan lulusan yang unggul secara intelektual dan kokoh secara karakter. “Saya berharap kurikulum ini mendapat dukungan penuh dari semua pihak, sehingga cita-cita kita membangun pendidikan yang transformatif bisa diwujudkan,” tutupnya. (YMN)

“Daycare Ananda Mulia tidak kami bangun hanya untuk sekadar menjadi layanan penitipan anak, tetapi sebagai laboratorium multifungsi di mana mahasiswa PG-PAUD belajar langsung mendampingi pengasuhan anak sambil mengasah jiwa technopreneur. Mereka merasakan praktik nyata, memahami manajemen layanan, dan menanamkan mental wirausaha sejak di bangku kuliah,”—Dr. Mada Aditia Wardhana, S.Sos., M.M., (Dekan FHK Universitas Mulia).

Dr. Mada Aditia Wardhana, S.Sos., M.M., Dekan Fakultas Humaniora dan Kesehatan UM (kedua dari kiri).

Humas Universitas Mulia, 17 Juli 2025 — Fakultas Humaniora dan Kesehatan (FHK) Universitas Mulia resmi merealisasikan salah satu program strategisnya melalui pendirian Daycare Ananda Mulia. Kehadiran taman pengasuhan ini bukan hanya menambah layanan berbasis pengasuhan anak bagi sivitas akademika, tetapi juga menjadi area praktik pembelajaran aplikatif bagi mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG-PAUD).

Dekan FHK, Dr. Mada Aditia Wardhana, S.Sos., M.M., menjelaskan bahwa Daycare Ananda Mulia dirancang tidak sekadar sebagai penopang pemasukan lembaga (income generator) atau sekadar layanan sosial, melainkan sebagai laboratorium multifungsi. “Mahasiswa PAUD tidak hanya belajar teori di ruang kelas. Mereka terjun langsung, mendampingi proses pengasuhan anak dengan supervisi ketat dari dosen. Praktik nyata inilah yang membedakan, karena mereka menyerap pengetahuan melalui pengalaman,” ungkap Mada.

Sebagai bagian dari ciri khas Universitas Mulia yang mengedepankan technopreneurship, Daycare juga difungsikan sebagai ruang pembentukan karakter kewirausahaan. Mahasiswa didorong memahami bagaimana unit layanan berjalan, merancang program, memecahkan persoalan riil, sekaligus mengenal aspek manajerial layanan pengasuhan anak. “Pengalaman ini menjadi dasar pembelajaran entrepreneurship. Mereka mengalami proses belajar bisnis layanan secara nyata, bukan hanya simulasi,” tambah Mada.

Berbeda dari daycare pada umumnya, layanan ini dikembangkan berbasis kepakaran para dosen PG-PAUD UM. Kombinasi keilmuan pedagogi anak usia dini dan praktik pengasuhan diarahkan untuk melahirkan inovasi layanan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat perkotaan, sekaligus mendukung kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) melalui model pembelajaran berbasis pengalaman kerja riil.

Bagi universitas, keberadaan Daycare Ananda Mulia juga diharapkan memperkaya kontribusi UM sebagai institusi pendidikan yang berdampak langsung ke masyarakat, terutama dalam bidang kepaudan. Selain menjadi sarana pembelajaran, fungsi income generator ini ditujukan untuk mendukung kemandirian ekonomi mahasiswa yang terlibat di dalamnya.

“Harapannya, melalui program ini mahasiswa tidak hanya kompeten sebagai pendidik anak usia dini, tetapi juga memiliki mental wirausaha dan kemandirian ekonomi sejak duduk di bangku kuliah,” pungkas Mada.

Humas UM (YMN)