Dampak pandemi Covid-19 hingga kini masih perlu diwaspadai, meski pemerintah mulai menetapkan kebijakan new normal. Pembatasan sosial dan kegiatan yang melibatkan orang banyak saat ini harus dihindari, termasuk kegiatan penyuluhan.

Walau penuh dengan keterbatasan, pemberian informasi khususnya dibidang kesehatan semestinya tetap harus dilakukan, terlebih disaat penyebaran Covid-19 yang semakin meningkat. Dengan memanfaatkan kemajuan teknologi, penyuluhan dapat dilakukan tanpa harus bertatap muka, misalnya melalui diskusi online ataupun kreatifitas di media sosial.

Ini adalah jenis eksperimen digital kreatif yang sangat dibutuhkan saat ini. Dan eksperimen ini datang pada saat dibutuhkan lebih dari apa pun sebelumnya. Dengan adanya larangan berkumpul, tentu memicu terciptanya lebih banyak ruang virtual yang dapat menopang dahaga ilmu dan kebutuhan bersosialisasi.

Melalui program studi (Prodi) S1 Farmasi, eksperimen penyuluhan itu pun dibahas dalam webinar. Dengan mengusung tema “Kreatifitas Komunikasi Penyuluhan pada Masa new Normal” menghadirkan para ahli dibidang kesehatan, Rabu (26/8).

Mereka adalah Agent of change GeMa CerMat Balikpapan Bapak Apt. Rida Saputra, S.Farm serta Ketua PD PAFI Kaltim Bapak H.M. Faisal, S.Sos., M.Si. Dipandu oleh moderator Ibu Wury Damayanti, S.Farm., M.Farm yang juga sebagai dosen Farmasi Universitas Mulia.

Kepala Prodi S1 Farmasi Ibu Apt. Warrantia Citta, S.Farm., M.Cs. menjelaskan, dipilihnya tema webinar tersebut karena komunikasi penyuluhan atau promosi kesehatan (promkes) merupakan bagian yang paling krusial saat ini, terlebih disaat masih dalam pandemi Covid-19. “Apalagi kesehatan saat ini begitu sangat amat penting diperhatikan masyarakat. Maka terkait informasi memilih, mendapatkan, menggunakan hingga menyimpan obat perlu diperhatikan masyarakat,” jelasnya.

Dia menyebut, di tengah keterbatasan, sebagai pihak yang berkecimpung dibidang ini, perlu adanya pengembangan dalam memberikan informasi kepada masyarakat. Agar walau tanpa bertatap muka, komunikasi atau penyuluhan itu tetap bisa dilakukan. Yakni dengan menciptakan kreatifitas dalam komunikasi penyuluhan.

“Dengan webinar  ini, kita mencoba untuk mempersiapkan penyuluhan promkes yang lebih menarik. Karena dengan didukung perkembangan teknologi, maka materi penyuluhan harus lebih menarik, mudah diingat khususnya saat pertemuan yang bisa dilakukan melalui media sosial,” terangnya.

Walau saat ini, prodi Farmasi UM, kata dia belum melakukan penyuluhan, tetapi dari webinar ini, pihaknya sudah mendapatkan gambaran pengembangan kedepan. “Karena kami juga memiliki rencana untuk membuat hasil diskusi ini menjadi materi dalam mata kuliah. Sebagai tantangan untuk mahasiswa, bagaimana mereka nantinya dapat menciptakan promkes yang menarik, walau dengan konten yang terbatas namun pesan tetap tersampaikan dengan baik,” ujarnya.

Namun, untuk menciptakan sebuah komunikasi penyuluhan yang menarik, sebut Citta dibutuhkan keterampilan dan pelatihan yang cukup. “Karena cara menuangkan apa yang biasa kami komunikasikan secara verbal menjadi bentuk konten menarik baik untuk di media sosial atau lainnya dibutuhkan keterampilan khusus. Maka saat ini, dengan adanya webinar ini, langkah lanjutan yang akan kami lakukan adalah pendalaman kurikulum yang mengedepankan komunikasi yang lebih tajam terlebih dahulu. Kita kembangkan dulu untuk masuk dalam kurikulum, serta rancangan studi. Bisa juga nantinya saat tugas akhir kami lakukan kolaborasi dengan Teknik Informatika,” katanya.

Citta melanjutkan, masukan-masukan yang diberikan oleh para narasumber dapat menjadi acuan untuk pengembangan kedepan. “Seperti yang disampaikan bapak Faisal menjadi PR bagi kita untuk membuat sebuah promosi kesehatan yang lebih menarik sehingga dapat lebih dikenal. Dalam artian gampang diingat, mudah dipahami dengan waktu yang singkat. Dengan isi yang padat dan jelas namun mampu dipahami. Dan ini memerlukan teknik mendalam,” bebernya.

Dirinya pun menegaskan, walau ini menjadi materi pertama yang dibahas dalam prodi Farmasi UM, dan masih banyak materi lanjutan yang harus dibahas, namun pihaknya berusaha untuk mengembangkan kreatifitas dan bersaing dengan kemajuan teknologi. “Dengan memanfaatkan teknologi, peralihan teknik komunikasi di saat pandemi, bagaimana yang biasanya kita tatap muka atau langsung mulut ke mulut, hanya bisa melalui sosial media dan itu harus lebih efektif dibandingkan saat penyuluhan tatap muka,” pungkasnya. (mra)

Indahnya berbagi di Bulan Suci Ramadan, Himpunan Mahasiswa Farmasi (HIMA Farmasi) Universitas Mulia bagikan takjil pada Jumat 08 Mei 2020 / 15 Ramadan 1441 H.

Dengan mengumpulkan donasi secara tunai maupun transfer dari kalangan dosen dan mahasiswa Program Studi Farmasi selama kurang lebih dua minggu dan berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp 1.069.000,00 lalu dana yang terkumpul tersebut digunakan untuk membeli takjil, berbagai macam sembako seperti gula, teh, minyak, sirup, telur, beras dan lain-lain. Kegiatan ini merupakan bentuk inisiatif dan kesadaran Himpunan Mahasiswa Farmasi (HIMA Farmasi) yang diketuai oleh Nayaka Ariya Untara terhadap sesama untuk saling berbagi kepada masyarakat yang membutuhkan.

Pembagian takjil diberikan kepada para pengguna jalan yang lalu lalang melewati lampu merah Rapak dan Kebun Sayur Balikpapan begitu juga pedagang kaki lima yang berjualan di sekitaran daerah tersebut. Tak hanya takjil, bantuan pun tersalurkan dalam bentuk sembako yang akan dilakukan pada hari Minggu esok.

“Kegiatan ini sebagai bentuk kesadaran kita untuk berbagi terhadap sesama dan masyarakat yang benar-benar membutuhkan di Bulan Suci Ramadan,” kata Della Pramudita Mahasiswa Prodi Farmasi

Sabtu 21 Maret 2020, Rektor Universitas Mulia Bapak Dr. Agung Sakti Pribadi, S.H., M.H. Merilis Hand Sanitizer Prodi Farmasi Fakultas Humaniora dan Kesehatan bersama Dosen Program Studi Farmasi Universitas Mulia Ibu Wury Damayantie, S.Farm., M.Farm., yang didampingi Dekan Fakultas Humaniora dan Kesehatan Universitas Mulia Bapak Vidy, S.S., M.Si., serta turut hadir Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Mulia Bapak Yusuf Wibisono, S.E., M.TI.

Langkanya hand sanitizer di pasaran membuat mahasiswa Program Studi Farmasi Fakultas Humaniora dan Kesehatan Universitas Mulia mengambil langkah untuk memproduksi hand sanitizer sendiri. Proses produksi dilakukan pada saat praktikum di Laboratorium Farmasi Gedung Cheng Ho Universitas Mulia pada Kamis, 19 Maret 2020 lalu. “Saat ini, produksi hand sanitizer masih dalam skala kecil dan hanya dipergunakan di lingkungan Universitas Mulia saja”, kata Wury Damayantie, S.Farm., M.Farm Dosen Program Studi Farmasi Universitas Mulia.

Pesan Wury terkait penyebaran virus covid 19, sahabat UM harus meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dengan cara seperti :
1. Hindari kontak/jarak dekat dengan pasien ISPA
2. Gunakan alat pelindung diri
3. Sering cuci tangan terlebih dahulu minimal 20 detik
4. Menerapkan gaya hidup sehat dan jangan lupa makan tinggi akan serat
5. Dan kapan menggunakan hand sanitizer yang efektif? Jika jauh dari tempat hand wash maka baru menggunakan hand sanitizer.

Kamis 19 Maret 2020, bertempat di Laboratorium Farmasi Gedung Cheng Ho, Mahasiswa Program Studi Farmasi Universitas Mulia lakukan praktikum pembuatan hand sanitizer sebagai upaya pencegahan penyebaran virus corona covid-19.

Langkanya hand sanitizer di pasaran membuat mahasiswa program studi Farmasi mengambil langkah untuk memproduksi hand sanitizer sendiri menggunakan bahan-bahan antara lain: Alkohol 70%, Gliserin, Hidrogen Peroksida, Aquadest dan Aloevera dengan bantuan alat-alat khas laboratorium  seperti : Labu Ukur 1000ml, Beaker Glass, Batang Pengaduk dan Gelas Ukur. Mahasiswa sangat teliti dan antusias mengikuti praktikum tersebut.

“Saat ini, produksi hand sanitizer masih dalam skala kecil dan hanya dipergunakan di lingkungan Universitas Mulia”, kata Wury Damayantie, S.Farm., M.Farm Dosen Program Studi Farmasi Universitas Mulia.