Tag Archive for: Universitas Mulia Balikpapan

Balikpapan 11 Juni 2026 – Ketika kata “programmer” disebut, banyak orang langsung membayangkan sosok yang mahir matematika, dikelilingi layar penuh kode, dan mampu membuat aplikasi canggih dalam waktu singkat. Gambaran itu sering kali membuat sebagian pelajar merasa dunia pemrograman terlalu rumit untuk dijangkau.

Pandangan tersebut justru ingin dipatahkan dalam pelatihan “Start Your Coding with Python” yang menjadi bagian dari GENCODE 2026, kegiatan yang diselenggarakan Program Studi Informatika Universitas Mulia bagi pelajar SMA dan SMK di Balikpapan.

Bagi pemateri, Tri Sudinugraha, S.Kom., M.Kom., yang juga menjabat sebagai Wakil Dekan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Mulia, tantangan terbesar saat seseorang mulai belajar coding bukan terletak pada sulitnya bahasa pemrograman, melainkan pada ketakutan untuk melakukan kesalahan.

“Banyak pemula berpikir programmer harus langsung bisa membuat program yang sempurna. Padahal coding adalah proses mencoba, gagal, memperbaiki, dan belajar kembali,” ujarnya.

Pandangan tersebut menjadi alasan mengapa Python dipilih sebagai pintu masuk bagi peserta yang baru mengenal dunia pemrograman. Dibandingkan banyak bahasa pemrograman lain yang memiliki aturan penulisan lebih kompleks, Python dikenal memiliki sintaks yang sederhana dan mudah dipahami.

Menurut Tri, kesederhanaan itu memungkinkan peserta memusatkan perhatian pada hal yang lebih mendasar, yaitu memahami logika di balik sebuah program.

Pilihan tersebut juga relevan dengan perkembangan industri teknologi saat ini. Python digunakan secara luas dalam berbagai bidang, mulai dari kecerdasan buatan (AI), data science, pengembangan web, automasi, hingga keamanan siber. Dengan kata lain, bahasa yang dipelajari peserta hari itu bukan sekadar materi pelatihan, melainkan salah satu fondasi teknologi yang saat ini menggerakkan banyak inovasi digital di dunia.

Namun Tri menegaskan bahwa kemampuan teknis hanyalah sebagian kecil dari proses menjadi seorang programmer.

Menurutnya, banyak pemula terjebak pada upaya menghafal sintaks tanpa benar-benar memahami cara menyelesaikan masalah. Padahal, inti dari pemrograman bukan terletak pada seberapa banyak perintah yang dihafal, melainkan pada kemampuan memecah persoalan menjadi langkah-langkah yang logis dan terstruktur.

“Belajar sintaks hanya memahami cara menulis kode, sedangkan pola pikir programmer adalah kemampuan berpikir logis, sistematis, dan mampu memecahkan masalah menjadi langkah-langkah kecil yang terstruktur,” jelasnya.

Karena itu, selama pelatihan berlangsung, peserta tidak hanya mendengarkan penjelasan teori. Mereka langsung diajak menulis kode, menemukan kesalahan, memperbaikinya, lalu mencoba kembali. Pendekatan berbasis praktik tersebut sengaja digunakan agar peserta mengalami sendiri proses belajar yang sesungguhnya.

Di dunia pemrograman, error sering kali dianggap sebagai bagian dari perjalanan, bukan kegagalan yang harus dihindari.

Pesan ini menjadi semakin relevan ketika perkembangan kecerdasan buatan memunculkan pertanyaan baru: apakah programmer masih akan dibutuhkan ketika AI mampu menghasilkan kode secara otomatis?

Menurut Tri, pertanyaan tersebut berangkat dari pemahaman yang kurang utuh tentang bagaimana teknologi bekerja.

AI memang mampu membantu mempercepat proses pengembangan perangkat lunak. Namun teknologi tersebut tetap memerlukan manusia yang memahami kebutuhan pengguna, menentukan tujuan, mengevaluasi hasil, serta mengambil keputusan yang tidak dapat dilakukan mesin secara mandiri.

“Justru di era AI, programmer yang mampu memanfaatkan AI akan memiliki keunggulan yang lebih besar. Bukan tergantikan, tetapi cara kerjanya menjadi lebih produktif dan strategis,” katanya.

Pandangan itu menunjukkan bahwa masa depan dunia teknologi bukan tentang persaingan antara manusia dan mesin, melainkan tentang bagaimana manusia memanfaatkan teknologi untuk memperluas kemampuannya.

Melihat antusiasme peserta selama pelatihan, Tri optimistis terhadap potensi generasi muda Balikpapan di bidang teknologi. Menurutnya, banyak peserta aktif bertanya, mencoba langsung praktik coding, dan menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi terhadap perkembangan teknologi modern.

Potensi tersebut, katanya, perlu terus dipupuk melalui ruang belajar, pendampingan, dan kesempatan praktik yang memadai.

Bagi peserta yang ingin menekuni dunia pemrograman, Tri memberikan pesan yang sederhana tetapi penting. Langkah pertama bukanlah membangun aplikasi besar atau menguasai teknologi yang rumit, melainkan memahami dasar logika pemrograman dan membiasakan diri untuk terus berlatih.

Ia menyarankan agar pelajar mulai dari proyek-proyek sederhana, seperti membuat kalkulator, aplikasi catatan, atau program kecil lainnya. Dari sana, kemampuan teknis akan berkembang seiring bertambahnya pengalaman.

Lebih jauh, ia menilai bahwa indikator terpenting seorang calon programmer bukanlah seberapa cepat memahami materi, melainkan seberapa kuat rasa ingin tahu yang dimiliki dan seberapa konsisten ia belajar ketika menghadapi kesulitan.

“Programmer hebat bukan selalu yang paling cepat memahami materi, tetapi yang mau terus mencoba dan belajar dari kesalahan,” ujarnya.

Di tengah perubahan teknologi yang berlangsung hampir setiap hari, mungkin itulah pelajaran paling penting yang dibawa pulang peserta GENCODE 2026. Bahwa belajar coding sesungguhnya bukan hanya belajar berbicara dengan komputer, melainkan belajar melatih cara berpikir, menyelesaikan masalah, dan membangun keberanian untuk terus belajar sepanjang hayat. (YMN)

Balikpapan, 11 Juni 2026 – Ketika seseorang membuka aplikasi media sosial, memesan transportasi daring, atau menggunakan sistem operasi di telepon genggamnya, yang terlihat hanyalah produk akhir yang bekerja dengan mulus. Yang jarang terlihat adalah ribuan perubahan kode, ratusan diskusi, dan kerja sama banyak orang yang berlangsung di belakang layar.

Dunia teknologi modern tidak dibangun oleh satu orang yang bekerja sendirian di depan komputer. Ia dibangun oleh kolaborasi.

Gagasan itulah yang menjadi inti materi “Coding Collaboration with Git” dalam kegiatan GENCODE 2026 yang diselenggarakan Program Studi Informatika Universitas Mulia bagi pelajar SMA dan SMK di Balikpapan.

Dalam sesi pelatihan tersebut, peserta tidak hanya diperkenalkan pada Git sebagai sebuah perangkat lunak, tetapi juga pada budaya kerja yang menjadi fondasi pengembangan teknologi modern.

Pemateri sekaligus Wakil Dekan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Mulia, Tri Sudinugraha, S.Kom., M.Kom., menjelaskan bahwa hampir seluruh pengembangan perangkat lunak saat ini dilakukan secara kolaboratif. Di sinilah Git memainkan peran penting.

“Git membantu programmer mengelola perubahan kode, melacak riwayat pekerjaan, dan bekerja bersama tim tanpa takut kehilangan data atau menimpa pekerjaan orang lain,” ujarnya.

Bagi banyak pelajar, konsep tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun di dunia industri, kemampuan menggunakan Git telah berkembang menjadi standar profesional yang hampir tidak terpisahkan dari pekerjaan seorang pengembang perangkat lunak.

Sebelum sistem kontrol versi seperti Git digunakan secara luas, pengembang perangkat lunak sering bertukar file secara manual. Cara tersebut tidak jarang menimbulkan persoalan. Versi program menjadi sulit dilacak, perubahan yang dilakukan anggota tim saling bertabrakan, bahkan data dapat hilang ketika file tertimpa oleh versi yang lebih baru.

Git mengubah pola kerja tersebut secara mendasar.

Setiap perubahan tercatat, setiap revisi memiliki jejak yang jelas, dan setiap anggota tim dapat bekerja secara paralel tanpa harus saling menunggu. Apa yang sebelumnya berpotensi menimbulkan kekacauan kini dapat dikelola secara sistematis dan terstruktur.

Namun bagi Tri, pelajaran terpenting dari Git bukan sekadar kemampuan teknis menggunakan perintah-perintah tertentu.

Yang lebih penting adalah pemahaman bahwa keberhasilan sebuah proyek teknologi bergantung pada kemampuan manusia untuk bekerja bersama.

Ia menjelaskan bahwa sebuah aplikasi modern biasanya melibatkan banyak peran sekaligus, mulai dari programmer, perancang antarmuka pengguna, analis sistem, penguji perangkat lunak, hingga manajer proyek. Setiap pihak membawa perspektif dan tanggung jawab yang berbeda.

Dalam kondisi seperti itu, kemampuan berkomunikasi menjadi sama pentingnya dengan kemampuan teknis.

“Industri saat ini mencari programmer yang tidak hanya pintar coding, tetapi juga mampu berdiskusi, menerima masukan, dan bekerja sama dalam tim lintas bidang,” jelasnya.

Karena itu, pengenalan Git kepada siswa sekolah menengah bukan semata-mata untuk mengajarkan teknologi yang digunakan industri. Di baliknya terdapat upaya memperkenalkan disiplin dokumentasi, manajemen proyek, serta budaya kerja profesional sejak dini.

Menurut Tri, salah satu kesalahan yang paling sering dilakukan pemula dalam proyek kolaboratif adalah kurangnya komunikasi. Banyak anggota tim melakukan perubahan tanpa dokumentasi yang jelas atau tidak memperhatikan pekerjaan yang telah dilakukan rekan lainnya.

Akibatnya, pekerjaan yang seharusnya saling melengkapi justru dapat saling mengganggu.

Git hadir sebagai alat yang membantu membangun keteraturan tersebut. Setiap perubahan memiliki catatan, setiap kontribusi dapat ditelusuri, dan setiap anggota tim memiliki tanggung jawab yang dapat dipertanggungjawabkan.

“Git mencatat siapa yang melakukan perubahan, kapan perubahan dilakukan, dan apa yang diubah. Hal ini menciptakan budaya kerja yang transparan, rapi, dan bertanggung jawab,” katanya.

Prinsip itu pula yang membuat Git digunakan dalam berbagai proyek teknologi berskala besar di dunia. Sistem operasi Android, Linux, framework Flutter, hingga berbagai platform digital yang digunakan miliaran orang setiap hari dikembangkan melalui mekanisme kolaborasi berbasis Git dan GitHub.

Menariknya, ribuan pengembang dari berbagai negara dapat bekerja pada proyek yang sama tanpa harus berada di tempat yang sama. Mereka terhubung oleh sistem kolaborasi yang memungkinkan setiap kontribusi tercatat dan terkelola dengan baik.

Bagi mahasiswa maupun pelajar yang ingin berkarier di bidang teknologi, pengalaman mengenal Git sejak dini memberikan keuntungan tersendiri. Mereka tidak hanya belajar membuat program, tetapi juga memahami bagaimana sebuah produk digital dibangun secara profesional.

Kemampuan tersebut menjadi semakin penting ketika proyek yang dikerjakan semakin kompleks dan melibatkan banyak orang.

Pada akhirnya, pelajaran yang dibawa pulang peserta GENCODE 2026 mungkin bukan hanya tentang cara menggunakan Git atau GitHub.

Mereka belajar bahwa teknologi tidak pernah benar-benar tumbuh dari kerja individu semata. Di balik setiap aplikasi yang digunakan jutaan orang, selalu ada proses belajar bersama, berbagi tanggung jawab, menerima masukan, dan menyatukan berbagai ide menjadi satu solusi.

“Teknologi bukan hanya tentang membuat program, tetapi tentang bagaimana kita belajar, berkolaborasi, dan terus berkembang bersama,” tutur Tri.

Sebuah pesan yang relevan, bukan hanya bagi calon programmer, tetapi bagi siapa pun yang akan hidup dan bekerja di dunia yang semakin terhubung. (YMN)

Balikpapan, 11 Juni 2026 – Di tengah derasnya arus kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang mengubah cara manusia belajar, bekerja, dan berinteraksi, muncul satu pertanyaan penting: apakah generasi muda hanya akan menjadi pengguna teknologi, atau justru menjadi pihak yang menciptakannya?

Pertanyaan itulah yang menjadi benang merah dalam pelaksanaan GENCODE 2026 yang diselenggarakan Program Studi Informatika Fakultas Ilmu Komputer Universitas Mulia pada Kamis (11/6/2026) di Laboratorium A FIKOM Universitas Mulia.

Mengusung tema “Coding Collaboration with Git”, kegiatan ini diikuti 32 pelajar dari berbagai sekolah di Balikpapan, di antaranya SMK Negeri 3 Balikpapan, SMK Pertiwi Balikpapan, SMK Kartika V-1 Balikpapan, SMK Adzkiya Balikpapan, SMK Airlangga Balikpapan, SMA Negeri 3 Balikpapan, hingga SMP Negeri 7 Balikpapan.

Bagi sebagian peserta, ini mungkin menjadi pertemuan pertama mereka dengan dunia pemrograman. Namun bagi Prodi Informatika Universitas Mulia, GENCODE bukan sekadar pelatihan teknis. Di balik baris-baris kode yang ditampilkan di layar komputer, terdapat upaya menanamkan cara berpikir yang akan menentukan bagaimana generasi muda menghadapi masa depan.

“Kami ingin generasi muda tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga memahami bagaimana teknologi itu diciptakan dan dikembangkan,” ujar Kaprodi Informatika Universitas Mulia, Isa Rosita, S.Kom., M.Cs.

Menurutnya, perkembangan AI dan transformasi digital telah mengubah hampir seluruh sektor kehidupan, mulai dari pendidikan, bisnis, kesehatan, hingga industri kreatif. Kondisi tersebut menuntut lahirnya generasi yang tidak sekadar akrab dengan teknologi, tetapi juga memiliki kemampuan untuk berkontribusi dalam proses penciptaannya.

Karena itulah GENCODE kembali diselenggarakan setelah pelaksanaan perdananya pada tahun sebelumnya. Kegiatan ini menjadi salah satu upaya Prodi Informatika untuk memperkenalkan keilmuan informatika kepada pelajar sekaligus membuka ruang eksplorasi bagi mereka yang ingin mengenal dunia teknologi lebih jauh.

Menariknya, materi yang dipilih tidak hanya berfokus pada kemampuan membuat program. Selain Python yang dikenal sebagai salah satu bahasa pemrograman paling ramah bagi pemula, peserta juga diperkenalkan dengan Git, sebuah sistem kontrol versi yang menjadi standar dalam pengembangan perangkat lunak modern.

Pilihan tersebut bukan tanpa alasan.

Dalam industri teknologi saat ini, keberhasilan sebuah produk digital tidak hanya ditentukan oleh kemampuan individu menulis kode, tetapi juga kemampuan tim untuk berkolaborasi, mengelola perubahan, dan menjaga kualitas proyek secara berkelanjutan.

“Pengembangan teknologi bukan hanya soal menulis kode, tetapi juga tentang bekerja sama, mengelola perubahan, dan menjaga kualitas proyek secara terstruktur,” jelas Isa.

Pandangan tersebut sekaligus menjawab salah satu kesenjangan yang masih sering ditemukan antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri. Banyak pelajar telah mengenal berbagai aplikasi digital dalam kehidupan sehari-hari, namun belum banyak yang memiliki pengalaman membangun solusi digital secara kolaboratif, menggunakan perangkat kerja yang lazim dipakai di industri, atau menyelesaikan persoalan nyata melalui pendekatan teknologi.

Menurut Isa, kemampuan teknis saja tidak lagi cukup.

Dunia kerja digital membutuhkan individu yang mampu berpikir komputasional, mendokumentasikan pekerjaannya dengan baik, berkomunikasi secara efektif, serta mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi yang berlangsung sangat cepat.

Karena itu, tujuan utama GENCODE tidak berhenti pada penguasaan sintaks pemrograman.

“Kami ingin menanamkan pola pikir seorang problem solver. Peserta belajar menganalisis masalah, menyusun langkah penyelesaian secara sistematis, bekerja sama dalam tim, berkomunikasi secara efektif, dan memiliki keberanian untuk mencoba serta belajar dari kesalahan,” tuturnya.

Pendekatan tersebut menjadi semakin relevan ketika perkembangan AI memunculkan kekhawatiran bahwa berbagai pekerjaan akan digantikan oleh mesin. Bagi Isa, masa depan justru akan semakin membutuhkan kemampuan-kemampuan yang tidak dimiliki mesin.

Ia menilai bahwa dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan, generasi muda perlu memperkuat kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah, literasi digital dan data, kemampuan beradaptasi, serta keterampilan kolaborasi.

“Di era AI, manusia tidak bersaing dengan mesin dalam hal kecepatan menghitung, tetapi dalam kreativitas, empati, pengambilan keputusan, dan kemampuan menciptakan inovasi,” katanya.

Pandangan tersebut menjadi pengingat bahwa teknologi bukanlah tujuan akhir. Teknologi hanyalah alat. Yang menentukan arah pemanfaatannya tetaplah manusia.

Melalui GENCODE 2026, Universitas Mulia berupaya mengambil peran dalam membangun ekosistem talenta digital di Kalimantan Timur. Upaya tersebut dilakukan dengan memperkenalkan standar kompetensi dan budaya kerja yang relevan dengan perkembangan industri global sejak usia sekolah.

Sebab di masa depan, tantangan terbesar mungkin bukan lagi soal akses terhadap teknologi. Hampir semua informasi dapat ditemukan hanya dengan beberapa sentuhan jari. Tantangan yang sesungguhnya adalah keberanian untuk mulai belajar, mencoba, gagal, lalu bangkit kembali.

Pesan itulah yang disampaikan Isa kepada para peserta.

“Jangan takut memulai karena merasa belum bisa. Semua programmer dan praktisi teknologi yang sukses hari ini juga pernah menjadi pemula. Yang membedakan adalah mereka berani mencoba, berani gagal, dan terus belajar,” ujarnya.

Di Laboratorium A FIKOM sore itu, para peserta memang sedang belajar menulis kode program. Namun lebih dari itu, mereka sedang belajar satu hal yang jauh lebih penting: bagaimana menulis masa depan mereka sendiri di tengah dunia yang terus berubah. (YMN)

Balikpapan, 13 Juni 2026 – Jika hari pertama Workshop Standardisasi dan Pendampingan e-Journal Menuju Akreditasi dan Indeksasi Global diwarnai hujan lebat dan diskusi tentang standar tata kelola jurnal, maka hari kedua menghadirkan suasana yang berbeda. Sabtu pagi, 13 Juni 2026, hujan yang sejak subuh mengguyur Balikpapan mulai mereda. Hanya tersisa rintik-rintik tipis yang sesekali jatuh di halaman Gedung Fakultas Teknik Universitas Mulia.

Udara terasa lebih dingin ketika peserta memasuki Ruang 202. Namun bukan suhu ruangan yang pertama kali menarik perhatian. Deretan meja dan kursi yang sehari sebelumnya ditata dalam format kelas konvensional telah berubah. Bangku-bangku disusun membentuk huruf U. Para peserta yang terdiri dari pengelola jurnal berbagai program studi tampak saling membantu menggeser meja dan kursi, kemudian duduk berkelompok berdasarkan program studi masing-masing.

Hari kedua bukan lagi tentang mendengarkan. Hari kedua adalah tentang mengerjakan.

Laptop mulai terbuka. Template jurnal ditampilkan di layar. Berkas-berkas desain sampul muncul satu per satu. Diskusi yang sehari sebelumnya banyak berbicara tentang konsep, standar akreditasi, dan tata kelola jurnal, kini berubah menjadi sesi bedah jurnal secara langsung.

Di tengah suasana itulah Prof. Dr. Irwansyah mengajak peserta melihat jurnal dari sudut pandang yang berbeda.

Menurutnya, banyak pengelola jurnal terlalu sibuk memikirkan indeksasi, tetapi lupa membangun fondasi yang menjadi syarat utama sebuah jurnal dapat bertahan dan berkembang.

Prof. Dr. Irwansyah membedah satu per satu unsur yang menentukan kualitas sebuah jurnal ilmiah. Berbekal pengalaman mengelola jurnal bereputasi internasional, ia tidak hanya menjelaskan standar akreditasi, tetapi juga menunjukkan bagaimana konsistensi, kualitas naskah, dan tata kelola menjadi fondasi yang membedakan jurnal yang berkembang dengan jurnal yang berhenti di tengah jalan.

Dalam pemaparannya, Editor in Chief Hasanuddin Law Review yang telah terindeks Scopus Q1 tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan jurnal tidak ditentukan oleh satu faktor tunggal. Kualitas naskah, kompetensi editor dan reviewer, standar tata kelola, serta dukungan kebijakan institusi merupakan empat elemen yang saling berkaitan.

“Jurnal tidak bisa berdiri sendiri. Ia harus menjadi bagian dari ekosistem akademik program studi dan institusi,” demikian salah satu pesan yang berulang kali ditekankan selama sesi pendampingan.

Pesan tersebut terasa relevan bagi Universitas Mulia yang saat ini memiliki jurnal dengan tingkat kematangan yang beragam. Sebagian telah berjalan cukup baik, sementara sebagian lainnya masih menghadapi tantangan keberkalaan, kualitas artikel, hingga penguatan tim editorial.

Bagi Prof. Irwansyah, persoalan terbesar sering kali bukan terletak pada teknologi ataupun platform OJS.

Justru tantangan yang paling sering ditemukan adalah kualitas manuskrip, ketersediaan reviewer yang kompeten, konsistensi penerbitan, dan kebijakan institusi yang belum sepenuhnya mendukung budaya publikasi ilmiah.

Ia mencontohkan bagaimana akreditasi jurnal saat ini tidak hanya menilai tampilan website atau kelengkapan administrasi. Penamaan jurnal, kualitas dewan editor, keterlibatan reviewer internasional, kebaruan artikel, konsistensi penerbitan, hingga jumlah kunjungan pembaca menjadi bagian dari indikator yang diperhatikan.

“Jurnal yang baik bukan sekadar memiliki artikel. Jurnal yang baik memiliki identitas keilmuan yang jelas,” ujarnya saat menjelaskan pentingnya fokus dan scope jurnal.

Menurutnya, jurnal yang terlalu umum justru akan kesulitan membangun reputasi ilmiah. Karena itu, setiap program studi perlu merancang jurnal yang memiliki karakter keilmuan yang tegas dan konsisten.

Suasana pelatihan berubah menjadi ruang kerja kreatif ketika setiap program studi mulai merancang identitas jurnalnya masing-masing. Berbagai ide dituangkan ke dalam desain sampul, mulai dari pemilihan nama jurnal, warna, tipografi, hingga karakter visual yang mencerminkan bidang keilmuan. Di balik setiap desain, tersimpan harapan agar jurnal tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memiliki identitas akademik yang kuat.

Salah satu sesi yang paling menarik perhatian peserta justru muncul ketika Rektor Universitas Mulia menginisiasi sebuah lomba sederhana namun sarat makna: kompetisi desain sampul jurnal.

Setiap program studi diminta merancang identitas visual jurnalnya masing-masing. Tidak ada peserta yang tinggal diam. Ruangan yang semula tenang mendadak berubah menjadi studio kreatif dadakan.

Ada yang sibuk memilih warna. Ada yang memperdebatkan tipografi. Ada yang mengutak-atik tata letak judul. Sebagian lainnya berdiskusi mengenai nama jurnal yang dianggap paling representatif terhadap disiplin ilmu program studi.

Persaingan berlangsung dalam suasana yang cair namun serius.

Prof. Irwansyah kemudian berkeliling dari satu kelompok ke kelompok lain memberikan koreksi secara langsung. Ia mengomentari berbagai aspek, mulai dari pemilihan nama jurnal, kesesuaian warna, garis selingkung, tata letak identitas penerbit, hingga unsur visual yang dianggap mampu memperkuat karakter jurnal.

Beberapa desain yang semula dianggap menarik justru mendapatkan banyak catatan perbaikan. Sebaliknya, desain yang sederhana tetapi memiliki identitas keilmuan yang kuat memperoleh apresiasi.

Di sinilah peserta mulai memahami bahwa sampul jurnal bukan sekadar persoalan estetika.

Sampul adalah representasi identitas akademik.

Dalam materi yang disampaikan, Prof. Irwansyah juga menjelaskan bahwa salah satu aspek yang dinilai dalam akreditasi adalah konsistensi tampilan dan desain jurnal. Jurnal yang baik harus memiliki ciri khas yang mudah dikenali serta mampu merepresentasikan bidang ilmu yang diusungnya.

Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa tujuan akhir pengelolaan jurnal bukanlah sekadar memperoleh nilai akreditasi yang tinggi.

Yang jauh lebih penting adalah membangun ruang ilmiah yang mampu melahirkan pengetahuan baru.

Karena itulah peserta diajak memahami konsep state of the art, research gap, dan novelty sebagai fondasi artikel ilmiah yang berkualitas. Menurutnya, artikel yang baik tidak hanya menjawab pertanyaan penelitian, tetapi juga memberikan kontribusi baru terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.

Pendekatan tersebut memberikan perspektif baru bagi banyak peserta. Mereka tidak lagi melihat jurnal sebagai kewajiban administratif untuk memenuhi kebutuhan akreditasi program studi, melainkan sebagai instrumen strategis yang dapat memperkuat reputasi akademik universitas.

Menjelang penutupan kegiatan, suasana ruangan masih dipenuhi diskusi. Beberapa kelompok terus menyempurnakan desain jurnal mereka. Sebagian lainnya mencatat daftar pekerjaan yang harus segera diselesaikan setelah kembali ke program studi masing-masing.

Usai rangkaian workshop, Rektor Universitas Mulia bersama pimpinan LP3M dan narasumber berfoto bersama sebagai penanda berakhirnya kegiatan. Di balik bingkai kebersamaan tersebut tersimpan komitmen yang sama: membangun jurnal-jurnal yang lebih berkualitas, terkelola secara profesional, dan mampu memperluas jejak akademik Universitas Mulia hingga tingkat nasional maupun internasional.

Di luar gedung, hujan telah benar-benar berhenti.

Namun di dalam ruangan, sebuah pekerjaan yang jauh lebih panjang baru saja dimulai.

Membangun jurnal yang terbit tepat waktu mungkin dapat dilakukan dalam satu atau dua tahun. Akan tetapi membangun budaya akademik yang melahirkan artikel berkualitas, reviewer yang aktif, editor yang kompeten, dan jurnal yang dipercaya komunitas ilmiah membutuhkan ketekunan yang jauh lebih panjang.

Dan dari ruang 202 Fakultas Teknik Universitas Mulia pada Sabtu pagi itu, langkah kecil menuju tujuan tersebut sedang disusun, satu jurnal demi satu jurnal. (YMN)

Balikpapan, 5 Juni 2026 – Puluhan mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Mulia mengunjungi Koperasi Wanita Patra yang berlokasi di Jalan Sport, Kelurahan Prapatan, Kecamatan Balikpapan Kota, Jumat (5/6). Kegiatan yang dilaksanakan bersama Career Development Center (CDC) Universitas Mulia tersebut menjadi bagian dari upaya mempertemukan mahasiswa dengan praktik tata kelola organisasi dan bisnis yang berlangsung secara nyata di lapangan.

Kunjungan ini memiliki arti penting karena dilakukan di tengah komitmen Program Studi Manajemen Universitas Mulia untuk mendorong lahirnya koperasi mahasiswa sebagai laboratorium bisnis modern. Melalui interaksi langsung dengan pengelola koperasi, mahasiswa memperoleh gambaran mengenai bagaimana tata kelola organisasi, pelayanan anggota, pengelolaan keuangan, hingga pengembangan usaha dijalankan secara profesional.

Rombongan Universitas Mulia diterima langsung oleh Ketua Koperasi Wanita Patra, Pramadha Wardhani, bersama Manajer Koperasi Wanita Patra, Rusli Usman. Dalam sesi pemaparan dan diskusi, mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk mempelajari perjalanan koperasi, model pengelolaan usaha, serta strategi yang diterapkan dalam menjaga keberlanjutan organisasi dan pelayanan kepada anggota.

Bagi Kepala Career Development Center Universitas Mulia, Dr. Linda Fauziyah Ariyani, S.Pd., M.Pd., pengalaman belajar langsung di lapangan menjadi bagian penting dalam mempersiapkan mahasiswa menghadapi dunia kerja yang semakin dinamis.

Menurutnya, perusahaan saat ini tidak hanya membutuhkan lulusan yang menguasai teori, tetapi juga individu yang memahami bagaimana organisasi bekerja, bagaimana keputusan bisnis diambil, dan bagaimana sebuah lembaga mampu menciptakan nilai bagi para pemangku kepentingannya.

“Koperasi Pertamina menjadi contoh yang sangat baik karena tidak hanya menjalankan fungsi ekonomi, tetapi juga mengelola tata kelola organisasi, pelayanan, keuangan, dan pengembangan usaha secara profesional,” ujarnya.

Mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Mulia mengamati berbagai produk dan merchandise yang dikelola Koperasi Wanita Patra. Melalui observasi langsung ini, mahasiswa mempelajari bagaimana koperasi mengembangkan produk, melayani kebutuhan anggota, serta membangun unit usaha yang berkelanjutan.

Melalui kunjungan tersebut, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan baru mengenai dunia koperasi, tetapi juga menyaksikan secara langsung bagaimana berbagai konsep manajemen yang dipelajari selama perkuliahan diterapkan dalam aktivitas organisasi dan bisnis sehari-hari.

Dalam sesi berbagi pengalaman, Rusli Usman menjelaskan bahwa koperasi pada hakikatnya hadir untuk memberikan manfaat yang seluas-luasnya bagi anggota dan masyarakat. Menurutnya, keberhasilan koperasi tidak hanya diukur dari kemampuan menghasilkan keuntungan, tetapi juga dari kemampuannya menjawab kebutuhan nyata para anggotanya.

Ia juga memberikan pandangan terkait rencana pengembangan koperasi mahasiswa di lingkungan Universitas Mulia. Menurutnya, koperasi yang dibangun di lingkungan kampus harus mampu membaca kebutuhan mahasiswa sebagai pasar utama sekaligus anggota koperasi.

“Ketika membuka koperasi di kampus, sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan dan pangsa pasar di kampus itu sendiri,” ujar Rusli.

Pandangan tersebut menjadi pelajaran penting bagi mahasiswa karena menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah usaha tidak hanya ditentukan oleh semangat berorganisasi, tetapi juga oleh kemampuan memahami kebutuhan konsumen dan menghadirkan solusi yang relevan.

Linda menjelaskan bahwa ekosistem koperasi yang dikelola secara profesional merupakan ruang belajar yang kaya akan pengalaman praktis. Mahasiswa dapat mengamati bagaimana proses kepemimpinan berjalan, bagaimana tim bekerja sama mencapai tujuan organisasi, serta bagaimana keputusan diambil untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang muncul dalam operasional usaha.

Manajer Koperasi Wanita Patra Rusli Usman (tengah) berfoto bersama Kepala Career Development Center Universitas Mulia Dr. Linda Fauziyah Ariyani, S.Pd., M.Pd. (kanan), Kepala Program Studi Manajemen Dr. Pudjiati (kiri), serta jajaran pengurus koperasi usai sesi diskusi dan berbagi pengalaman mengenai tata kelola koperasi profesional.

Selain itu, mahasiswa juga dapat belajar mengenai integritas, tanggung jawab, serta orientasi pelayanan yang menjadi fondasi penting dalam membangun organisasi yang sehat dan berkelanjutan.

“Kompetensi-kompetensi inilah yang saat ini menjadi nilai tambah utama bagi lulusan ketika bersaing di dunia kerja,” katanya.

Namun, menurut Linda, manfaat kunjungan industri tidak akan optimal apabila berhenti pada tahap observasi semata. Karena itu, Career Development Center mendorong mahasiswa untuk melakukan refleksi terhadap pengalaman yang diperoleh selama kegiatan berlangsung.

Mahasiswa diharapkan mampu mengidentifikasi kompetensi yang dibutuhkan industri, menemukan ruang pengembangan diri, serta mengadopsi praktik-praktik baik yang dapat diterapkan dalam organisasi kemahasiswaan maupun aktivitas kewirausahaan.

Ke depan, pengalaman lapangan seperti ini akan terus diintegrasikan dengan berbagai program pengembangan karier lainnya, mulai dari pelatihan kesiapan kerja, magang, mentoring karier, hingga penguatan keterampilan nonteknis yang dibutuhkan dunia profesional.

Sementara itu, Kepala Program Studi Manajemen Universitas Mulia, Dr. Pudjiati, melihat kunjungan ke Koperasi Wanita Patra sebagai kesempatan bagi mahasiswa untuk memahami bahwa keberhasilan sebuah koperasi tidak hanya dibangun oleh semangat organisasi, tetapi juga ditentukan oleh kualitas tata kelola dan profesionalisme pengelolaannya.

Ia menjelaskan bahwa salah satu praktik yang paling relevan untuk diadopsi dalam pengembangan koperasi mahasiswa Universitas Mulia adalah tata kelola yang profesional, pengelolaan usaha yang berorientasi pada kebutuhan anggota, serta pemanfaatan teknologi digital dalam operasional dan pelayanan.

Pengurus Koperasi Wanita Patra menyampaikan materi dalam sesi sharing bersama mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Mulia. Mahasiswa tampak antusias menyimak penjelasan mengenai pengelolaan organisasi, pelayanan anggota, dan strategi pengembangan usaha koperasi.

Selain itu, budaya kewirausahaan juga menjadi aspek penting yang perlu ditanamkan sejak dini agar mahasiswa tidak hanya menjadi anggota koperasi, tetapi juga mampu belajar mengelola bisnis secara langsung.

“Dengan pendekatan tersebut, koperasi mahasiswa dapat berkembang menjadi laboratorium bisnis yang profesional, inovatif, dan berkelanjutan,” jelasnya.

Menurut Dr. Pudjiati, pengalaman yang diperoleh mahasiswa selama kunjungan memberikan perspektif baru mengenai peran koperasi di era modern. Koperasi tidak lagi dapat dipandang hanya sebagai organisasi administratif, melainkan sebagai badan usaha yang mampu tumbuh secara profesional, kompetitif, dan adaptif terhadap perubahan zaman.

Perhatian mahasiswa tertuju pada pemaparan pengurus Koperasi Wanita Patra yang membagikan pengalaman membangun dan mengembangkan usaha koperasi. Bagi peserta, sesi ini menjadi kesempatan untuk melihat bagaimana prinsip-prinsip manajemen diterapkan dalam praktik sehari-hari.

Melalui pengamatan langsung terhadap praktik pengelolaan koperasi, mahasiswa dapat melihat bagaimana perencanaan bisnis dilakukan, bagaimana keputusan strategis diambil, bagaimana keuangan dikelola, serta bagaimana pelayanan kepada anggota menjadi bagian penting dari keberhasilan organisasi.

“Pengalaman seperti ini memberikan pembelajaran praktis yang sering kali tidak diperoleh secara utuh di ruang kelas, sekaligus membentuk jiwa kepemimpinan, integritas, dan kewirausahaan yang dibutuhkan di dunia kerja maupun bisnis,” ungkapnya.

Komitmen pengembangan koperasi mahasiswa sendiri menjadi salah satu agenda strategis Program Studi Manajemen Universitas Mulia. Dalam lima tahun ke depan, koperasi mahasiswa diharapkan berkembang menjadi wadah yang tidak hanya aktif secara organisasi, tetapi juga mampu mengelola unit usaha yang berkelanjutan, memanfaatkan teknologi digital, dan menjadi sarana pengembangan kepemimpinan mahasiswa.

Bagi Dr. Pudjiati, koperasi justru memiliki peluang besar untuk tetap relevan di tengah maraknya startup digital dan model bisnis berbasis teknologi. Menurutnya, koperasi menawarkan nilai yang berbeda karena memadukan aktivitas ekonomi dengan semangat kolaborasi dan pemberdayaan bersama.

Jika dikelola secara modern, koperasi dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan inovasi, membangun jejaring, sekaligus menciptakan peluang ekonomi secara kolektif.

“Justru di era saat ini, koperasi dapat menjadi model bisnis masa depan yang mengedepankan keberlanjutan, kebersamaan, dan kesejahteraan anggota, sekaligus tetap kompetitif dalam menghadapi perubahan ekonomi digital,” tegasnya.

Melalui kunjungan ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh wawasan mengenai tata kelola koperasi profesional, tetapi juga mendapatkan pelajaran penting tentang bagaimana membangun usaha yang relevan dengan kebutuhan pasar. Bagi Universitas Mulia, pengalaman tersebut menjadi bagian dari upaya mempersiapkan mahasiswa agar tidak hanya siap memasuki dunia kerja, tetapi juga mampu menciptakan peluang usaha yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Kami percaya bahwa karier yang hebat tidak dibangun hanya di ruang kelas. Karier yang hebat dibangun melalui pengalaman, kolaborasi, dan keberanian untuk terus belajar dari dunia nyata,” pungkas Dr. Linda. (YMN)

Balikpapan, 4 Juni 2026 – Sebuah pertanyaan mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) Fakultas Hukum Universitas Mulia yang digelar Kamis (4/6): bagaimana sebuah fakultas hukum yang masih bertumbuh dapat menembus batas-batas geografis dan membangun reputasi di tingkat nasional hingga internasional?

Pertanyaan itu tidak dijawab dengan retorika. Sebaliknya, ia dibedah melalui diskusi panjang yang menghadirkan Dr. Rosa Ristawati, S.H., LL.M., akademisi Fakultas Hukum Universitas Airlangga yang berpengalaman mengelola program internasional dan berbagai kerja sama global.

Bagi Fakultas Hukum Universitas Mulia, tema “Menjadikan Fakultas Hukum Universitas Mulia Berdaya Saing Nasional dan Internasional” bukan sekadar jargon pengembangan institusi. Tema tersebut lahir dari kesadaran bahwa peta persaingan pendidikan tinggi telah berubah. Reputasi kampus tidak lagi dibangun hanya dari ruang kuliah, tetapi juga dari kualitas jejaring, produktivitas akademik, dan kemampuan beradaptasi dengan standar global.

Dekan Fakultas Hukum Universitas Mulia, Budiarsih, S.H., M.Hum., Ph.D., mengatakan bahwa fakultas yang dipimpinnya saat ini berada pada fase penting penguatan kualitas akademik dan tata kelola.

“Di tengah dinamika pendidikan tinggi yang semakin kompetitif, kami memandang bahwa fakultas hukum tidak cukup hanya unggul di tingkat lokal, tetapi juga harus mampu beradaptasi dengan standar nasional dan internasional,” ujarnya.

Menurutnya, pengalaman Fakultas Hukum Universitas Airlangga dalam mengelola program internasional menjadi referensi penting bagi Universitas Mulia untuk merumuskan langkah pengembangan di masa mendatang.

Meski mengakui masih banyak ruang untuk berkembang, Budiarsih melihat Fakultas Hukum Universitas Mulia memiliki modal yang tidak kecil. Semangat inovasi, dukungan institusi, serta komitmen dosen dan mahasiswa menjadi fondasi yang terus diperkuat.

Namun tantangan yang dihadapi juga tidak ringan. Perluasan jejaring akademik, peningkatan produktivitas penelitian, serta penguatan kapasitas sumber daya manusia menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan apabila fakultas ingin berdiri sejajar dengan institusi yang telah lebih dahulu memiliki reputasi nasional.

Karena itu, internasionalisasi menurutnya harus diwujudkan melalui langkah-langkah yang konkret dan terukur.

“Kami terus mendorong peningkatan kerja sama akademik, penguatan kompetensi bahasa asing, keterlibatan dosen dan mahasiswa dalam kegiatan ilmiah internasional, serta pengembangan kurikulum yang responsif terhadap isu-isu global,” jelasnya.

Lebih jauh, Fakultas Hukum Universitas Mulia juga membuka peluang pengembangan program pertukaran akademik, kolaborasi penelitian, hingga kerja sama internasional lainnya yang memungkinkan mahasiswa dan dosen memperoleh pengalaman global secara langsung.

Pandangan serupa disampaikan Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Universitas Mulia, Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I. Menurutnya, FGD tersebut bukan hanya penting bagi Fakultas Hukum, melainkan juga bagi pengembangan universitas secara keseluruhan.

Ia menilai pemaparan Dr. Rosa memberikan perspektif bahwa keberhasilan membangun jejaring internasional tidak semata ditentukan oleh besarnya anggaran, melainkan oleh strategi, konsistensi, dan kemampuan membaca peluang.

“Perkembangan teknologi membuat kerja sama internasional menjadi lebih fleksibel karena tidak semua kegiatan harus dilakukan secara fisik. Banyak aktivitas akademik dapat dilaksanakan secara daring maupun hybrid,” ungkapnya.

Wibisono menilai langkah yang paling relevan untuk segera dilakukan adalah memperkuat peta jalan kerja sama pada tingkat fakultas dan program studi. Bentuknya dapat berupa kuliah tamu, visiting lecturer, penelitian bersama, publikasi kolaboratif, hingga pengembangan kurikulum.

Sementara itu, dosen Fakultas Hukum Universitas Mulia, Shafyra Amalia Fitriany, S.Sosio., M.HP., melihat FGD tersebut sebagai ruang yang menghadirkan realitas dunia akademik yang lebih luas.

Menurutnya, kampus yang sedang berkembang tidak boleh merasa cukup dengan capaian yang sudah ada. Justru melalui forum seperti inilah peluang-peluang baru dapat ditemukan dan dikembangkan.

Ia menekankan bahwa dosen perlu menjadi pusat lahirnya networking akademik melalui penguatan kepakaran dan keterlibatan aktif dalam berbagai forum di luar kampus.

“Karena pada akhirnya kampuslah yang akan merasakan dampaknya, termasuk dalam penguatan kerja sama nasional dan internasional serta peningkatan kualitas institusi,” katanya.

FGD yang diikuti Wakil Rektor Bidang Sumber Daya, Dekan Fakultas Hukum, dan sembilan dosen Fakultas Hukum tersebut juga menghasilkan rencana tindak lanjut berupa sharing resources dengan mitra internasional Fakultas Hukum Universitas Airlangga, salah satunya melalui penyelenggaraan kuliah umum metodologi penelitian.

Bagi Fakultas Hukum Universitas Mulia, perjalanan menuju daya saing internasional mungkin masih panjang. Namun dari ruang diskusi sederhana di White Campus, satu langkah penting telah dimulai: membangun kesadaran bahwa reputasi tidak lahir dari klaim, melainkan dari jejaring, kolaborasi, dan keberanian untuk terus belajar. (YMN)

 

Balikpapan, 21 Mei 2026 – Ketika sebagian kalangan masih memandang bahasa Inggris sebagai mata pelajaran yang sulit dan menegangkan, puluhan pelajar di Kota Balikpapan justru menunjukkan hal sebaliknya. Mereka berdiri di hadapan dewan juri dan audiens untuk menyampaikan gagasan tentang isu-isu yang dekat dengan kehidupan generasi muda, mulai dari kesehatan mental hingga perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence).

Fenomena tersebut terlihat dalam Speech Competition 2026 tingkat SMA/SMK se-Kota Balikpapan yang diselenggarakan oleh UKM English Club Universitas Mulia pada 21 Mei 2026 di Ruang Eksekutif Universitas Mulia. Kegiatan yang mengusung tema “Speak Your Mind, Inspire the World” itu diikuti sembilan peserta dari berbagai sekolah menengah di Balikpapan dengan pendampingan guru dan orang tua.

Lebih dari sekadar kompetisi pidato berbahasa Inggris, kegiatan ini memperlihatkan bagaimana pelajar memanfaatkan bahasa sebagai sarana untuk menyampaikan gagasan terhadap berbagai persoalan yang berkembang di tengah masyarakat. Dalam sejumlah penampilan, peserta tidak hanya menunjukkan kemampuan linguistik, tetapi juga keberanian menyampaikan pandangan mengenai isu pendidikan, teknologi, dan kesehatan mental yang saat ini banyak menjadi perhatian generasi muda.

Menurut Ketua UKM English Club Universitas Mulia, Gita Khairunnisa, kompetisi ini lahir dari kegelisahan terhadap pandangan yang masih berkembang di kalangan pelajar bahwa bahasa Inggris merupakan sesuatu yang sulit, membosankan, dan tidak menyenangkan untuk dipelajari.

“Kami melihat masih ada anggapan bahwa bahasa Inggris itu susah dan tidak menarik. Melalui kompetisi ini kami ingin menunjukkan bahwa bahasa Inggris bisa menjadi media yang menyenangkan untuk mengembangkan diri. Kami ingin membuktikan bahwa English is fun, sesuai dengan semangat yang selama ini dibangun oleh UKM English Club,” ujarnya.

Pandangan tersebut menjadi salah satu alasan Universitas Mulia melalui UKM English Club terus menghadirkan ruang-ruang pembelajaran yang memungkinkan pelajar berinteraksi dengan bahasa Inggris dalam konteks yang lebih aplikatif. Alih-alih hanya berfokus pada aspek tata bahasa dan kosakata, peserta didorong untuk menggunakan bahasa Inggris sebagai alat untuk mengomunikasikan ide, gagasan, dan perspektif mereka terhadap berbagai fenomena yang sedang berkembang.

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan, kemampuan menyampaikan gagasan secara efektif dinilai tetap memiliki nilai strategis. Menurut Gita, perkembangan AI maupun media sosial justru semakin memperlihatkan pentingnya penguasaan bahasa Inggris karena sebagian besar perkembangan teknologi global masih menggunakan bahasa tersebut sebagai bahasa utama komunikasi dan pengembangan pengetahuan.

Tema “Speak Your Mind, Inspire the World” yang diangkat dalam kompetisi tahun ini juga dipilih untuk merespons perubahan yang sedang berlangsung di bidang pendidikan dan teknologi. Melalui tema tersebut, peserta didorong untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menyampaikan pemikiran yang dapat berkontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Menariknya, proses kompetisi juga memberikan gambaran mengenai potensi pelajar Balikpapan yang selama ini mungkin belum banyak terekspos. Dari hasil pengamatan panitia, banyak peserta menunjukkan kemampuan berbahasa Inggris yang baik dengan muatan pidato yang tidak sekadar retoris, tetapi juga memuat analisis dan gagasan yang relevan dengan kondisi saat ini.

“Kami menemukan banyak pelajar yang sangat fasih berbicara dalam bahasa Inggris. Yang lebih menarik lagi, isi pidato mereka cukup berbobot dan mengangkat isu-isu yang sedang berkembang seperti mental health, artificial intelligence, dan pendidikan,” jelasnya.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa ruang pengembangan kemampuan komunikasi tidak hanya berfungsi sebagai sarana kompetisi, tetapi juga menjadi medium untuk membaca cara generasi muda memandang perubahan sosial dan teknologi yang terjadi di sekitar mereka.

Meski demikian, panitia mencatat masih terdapat satu aspek yang perlu terus diperkuat, yakni kepercayaan diri saat tampil di hadapan publik. Menurut panitia, kemampuan bahasa yang baik tidak selalu diikuti dengan keberanian menyampaikan gagasan di depan audiens yang lebih luas.

Karena itu, penyelenggaraan kompetisi ini juga diarahkan untuk membantu pelajar membangun keberanian berbicara di ruang publik. Bahkan sebelum kegiatan berlangsung, salah satu tantangan yang dihadapi panitia adalah meyakinkan calon peserta bahwa kompetisi ini dapat menjadi batu loncatan untuk mengikuti ajang yang lebih tinggi di masa mendatang.

“Kami ingin peserta melihat bahwa kompetisi tingkat kota ini bukan tujuan akhir, tetapi langkah awal untuk mengembangkan potensi mereka dan berani tampil pada kompetisi yang lebih besar,” katanya.

Kompetisi diikuti oleh peserta dari berbagai sekolah, antara lain SMKN 2 Balikpapan, SMA Nasional KPS Balikpapan, SMA Kartika V-1 Balikpapan, SMK Airlangga Balikpapan, SMK Kesehatan Airlangga Balikpapan, serta beberapa sekolah lainnya. Penilaian dilakukan berdasarkan lima aspek utama, yaitu Pronunciation, Fluency, Content and Organization, Performance and Confidence, serta Grammar and Vocabulary.

Berdasarkan hasil penilaian dewan juri, Fiorenza Adelia R.H. dari SMA Nasional KPS Balikpapan berhasil meraih Juara I dengan skor 89,6. Posisi Juara II diraih Salvin Meltisha dari SMKN 2 Balikpapan dengan skor 88,7, sedangkan Juara III diraih Sakinah Cahaya Namira dari SMKN 2 Balikpapan dengan skor 85,6.

Melalui kegiatan ini, Universitas Mulia tidak hanya menghadirkan kompetisi bagi pelajar, tetapi juga membangun ruang pertemuan antara pendidikan menengah dan pendidikan tinggi dalam satu ekosistem pembelajaran. Ketika pelajar diberi kesempatan untuk menyampaikan gagasan, yang muncul bukan sekadar kemampuan berbahasa Inggris, melainkan potret generasi muda yang mulai berani berbicara tentang masa depan yang mereka hadapi dan ingin mereka bentuk. (YMN)

 

Balikpapan, 8 Mei 2026 —Penghargaan Gender Champion dari DP3A Kalimantan Timur menempatkan Sukmawati bukan semata sebagai penerima apresiasi, tetapi sebagai representasi bagaimana kompetensi manajerial yang dibangun melalui proses akademik dapat dikonversi menjadi mekanisme penyelesaian persoalan sosial. Sebagai mahasiswi Program Studi Manajemen kelas eksekutif Universitas Mulia, capaian tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan tinggi dapat berfungsi sebagai basis perancangan sistem pemberdayaan yang menjawab isu lingkungan dan relasi gender secara simultan.

Dalam praktiknya, Sukmawati tidak menempatkan proses akademik sebagai akumulasi teori semata. Perkuliahan justru menjadi perangkat konseptual untuk membaca persoalan sosial secara lebih sistematis, termasuk dalam merancang pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Balikpapan.

Sukmawati menerima piagam Gender Champion sebagai pengakuan atas formulasi gerakan pengelolaan sampah dan pemberdayaan perempuan berbasis masyarakat.

“Menjalani perkuliahan di kelas eksekutif Manajemen Universitas Mulia telah merubah cara pandang saya dalam melihat gerakan sosial. Di sini, saya belajar bahwa niat baik saja tidak cukup, gerakan lingkungan harus dikelola dengan manajemen strategis yang matang,” ujarnya.

Pernyataan tersebut tercermin dari bagaimana ia menerapkan analisis SWOT terhadap potensi lokal dan tantangan lingkungan di sekitarnya. Sampah tidak lagi dibaca semata sebagai residu rumah tangga, tetapi sebagai variabel strategis dalam membangun ekosistem ekonomi sirkular yang berdampak pada penguatan kapasitas perempuan.

Kerangka akademik itu kemudian dioperasionalkan melalui pengembangan Bank Sampah dan program Jelita Emas. Keduanya tidak berhenti pada aktivitas ekologis, melainkan dirancang sebagai sistem sosial-ekonomi yang menghubungkan pengelolaan limbah dengan kemandirian finansial perempuan berbasis komunitas.

Bagi Sukmawati, Universitas Mulia menyediakan ruang pembelajaran yang mempertemukan teori manajemen dengan dinamika pengambilan keputusan di lapangan.

“Universitas Mulia bukan sekadar tempat mengejar gelar, melainkan laboratorium kepemimpinan,” katanya.

Melalui perspektif tersebut, pendidikan tinggi berfungsi sebagai medium penguatan kapasitas kepemimpinan, terutama dalam mengorganisir sumber daya manusia, membangun tata kelola program, dan menyusun keputusan berbasis data di tengah kompleksitas persoalan masyarakat.

Dalam program Jelita Emas, pendekatan manajemen perubahan diterapkan dengan menempatkan psikologi sosial masyarakat sebagai elemen utama. Sukmawati merancang sistem administrasi yang memastikan setiap proses pemilahan sampah memiliki konversi ekonomi yang presisi, sehingga aktivitas domestik perempuan dapat bergeser menjadi instrumen produktivitas ekonomi keluarga.

Model ini menunjukkan bahwa disiplin manajemen, ketika diterapkan secara kontekstual, tidak hanya relevan untuk korporasi atau bisnis formal, tetapi juga efektif sebagai perangkat rekonstruksi sosial berbasis komunitas.

“Dalam program Jelita Emas, saya menerapkan pendekatan manajemen perubahan dengan menyentuh sisi psikologi sosial masyarakat,” jelasnya.

Pendekatan tersebut menghasilkan transformasi yang lebih substansial daripada sekadar pengurangan volume sampah. Ia membangun perubahan paradigma—bahwa pengelolaan sampah dapat menjadi fondasi bagi distribusi nilai ekonomi, ketahanan keluarga, dan reposisi perempuan dalam pembangunan sosial.

Penghargaan Gender Champion yang diraih Sukmawati pada akhirnya juga merepresentasikan dimensi yang lebih luas: bagaimana mahasiswa Universitas Mulia mampu menempatkan keilmuan sebagai respons terhadap problem nyata.

Sukmawati menunjukkan piagam Gender Champion yang merepresentasikan kiprah akademik dan praktik sosialnya dalam membangun model pemberdayaan lingkungan berkelanjutan.

“Penghargaan Gender Champion ini adalah bukti bahwa mahasiswa Universitas Mulia bukan sekadar penonton perubahan, melainkan aktor utama transformasi,” tuturnya.

Dalam konteks tersebut, Universitas Mulia terlihat melalui kapasitas mahasiswanya dalam menerjemahkan disiplin akademik menjadi solusi sosial. Capaian Sukmawati memperlihatkan bahwa kurikulum, pengalaman belajar, dan keberanian praksis dapat beririsan dalam bentuk inovasi yang relevan bagi masyarakat.

Di tengah orientasi pendidikan tinggi yang kerap diukur melalui indeks akademik semata, Sukmawati menawarkan perspektif berbeda mengenai makna keberhasilan mahasiswa.

“Gelar sarjana memang sebuah target, namun kebermanfaatan adalah sebuah tujuan.”

Pernyataan ini menghadirkan kritik sekaligus refleksi bahwa pendidikan tidak cukup berhenti pada sertifikasi formal. Relevansi pendidikan tinggi justru diuji ketika pengetahuan mampu bekerja di tengah persoalan konkret masyarakat, membangun sistem, dan menghasilkan perubahan yang dapat diukur.

Melalui formulasi tersebut, Sukmawati memperlihatkan bahwa mahasiswa tidak harus menunggu lulus untuk memproduksi dampak sosial. Ketika teori bertemu keberanian implementasi, ruang akademik dapat berkembang menjadi pusat produksi solusi—dan pada titik itulah universitas menunjukkan signifikansinya yang paling strategis. (YMN)

Balikpapan, 7 Mei 2026 — Ketika banyak taman penitipan anak berfokus pada layanan pengasuhan harian, Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG PAUD) Universitas Mulia justru mengembangkan pendekatan berbeda. Daycare Ananda Mulia tidak hanya dibangun sebagai tempat penitipan anak, tetapi sebagai living lab yang menghubungkan praktik pengasuhan, pembelajaran akademik, dan riset pendidikan anak usia dini dalam satu ekosistem.

Model inilah yang mendorong Institut Teknologi Kalimantan melakukan studi tiru ke Prodi PG PAUD Universitas Mulia dalam rangka pengembangan layanan daycare berbasis kampus di lingkungan ITK.

Kaprodi PG PAUD Universitas Mulia, Bety Vitriana, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa kekuatan utama Daycare Ananda Mulia bukan terletak pada fasilitas fisik semata, melainkan pada sistem yang dibangun secara terukur dan berkelanjutan.

Kaprodi PG PAUD Universitas Mulia, Bety Vitriana, S.Pd., M.Pd., memaparkan konsep Daycare Ananda Mulia sebagai living lab pendidikan anak usia dini di hadapan tim studi tiru ITK.

“Daycare kami memiliki SOP, kurikulum pembelajaran mulai usia bayi tiga bulan hingga pra sekolah enam tahun, dokumentasi perkembangan anak yang sistematis, serta keterlibatan aktif mahasiswa dan orang tua sebagai mitra pengasuhan. Keberhasilannya tidak hanya terlihat secara kasat mata, tetapi terdokumentasi dalam perkembangan tumbuh kembang anak,” ujarnya.

Berbeda dengan daycare konvensional yang berfokus pada pengawasan dan keselamatan anak, Daycare Ananda Mulia dikembangkan dengan tiga fungsi utama sekaligus: layanan pengasuhan, laboratorium observasi bagi mahasiswa, dan ruang uji coba inovasi pendidikan anak usia dini.

Di ruang inilah teori tidak berhenti sebagai materi kuliah. Aktivitas harian anak justru menjadi bagian dari proses akademik yang terus dianalisis dan diperbaiki.

“Living lab ini terintegrasi langsung dengan kurikulum. Mata kuliah seperti Strategi Pembelajaran Anak Usia Dini, Bermain dan Permainan, hingga Manajemen PAUD memiliki aktivitas yang tersinkronisasi dengan kegiatan daycare. Bahkan data kegiatan harian anak dapat menjadi bahan penelitian dan skripsi mahasiswa,” jelas Bety.

Salah satu praktik yang menjadi kekuatan Daycare Ananda Mulia adalah budaya dokumentasi dan refleksi yang dilakukan secara rutin. Guru, mahasiswa, dan dosen tidak hanya menjalankan kegiatan, tetapi mencatat perkembangan anak melalui catatan anekdot, buku penghubung, hingga forum refleksi mingguan.

Menurut Bety, pola kerja seperti ini membuat mahasiswa tidak belajar dari simulasi, melainkan dari dinamika nyata yang terus berkembang di lapangan.

“Hasil refleksi langsung digunakan untuk memperbaiki metode pengasuhan dan pembelajaran. Jadi mahasiswa belajar memahami anak dari kasus nyata, bukan sekadar teori di kelas,” katanya.

Tim PG PAUD Universitas Mulia dan Institut Teknologi Kalimantan berfoto bersama usai sesi pemaparan dan diskusi pengembangan daycare berbasis kampus.

Keberadaan daycare ini juga memperkuat posisi Universitas Mulia dalam pengembangan pendidikan anak usia dini di Kalimantan. Daycare Ananda Mulia dipandang bukan sekadar fasilitas pendukung kampus, tetapi bagian dari laboratorium pendidikan yang terintegrasi dengan proses akademik.

“Universitas Mulia menjadi salah satu pionir kampus yang membuka layanan daycare berbasis akademik di Kalimantan. Ini bukan hanya tentang layanan pengasuhan, tetapi tentang bagaimana kampus hadir sebagai ruang belajar sekaligus ruang tumbuh bagi anak,” tambahnya.

Dalam studi tiru tersebut, tim ITK mempelajari berbagai aspek pengelolaan daycare berbasis kampus, mulai dari tata kelola layanan, integrasi kurikulum, penyiapan sumber daya manusia, hingga proses pengurusan izin operasional dan sarana prasarana.

Ketua Tim Kerja Perencanaan ITK, Riza Hadi Saputra, S.T., M.T., menyampaikan bahwa kunjungan tersebut memberikan banyak gambaran praktis bagi pengembangan daycare di lingkungan kampus mereka.

“Kami merasa sangat terbantu dengan agenda studi tiru ini karena membuka banyak pemahaman baru terkait proses membuka layanan daycare berbasis kampus, mulai dari penyiapan SDM, manajerial, tata kelola sarana prasarana, kurikulum, hingga proses pengurusan izin,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa komunikasi lanjutan antarkedua institusi akan terus dibangun untuk membuka peluang kerja sama lain yang saling mendukung.

“Ke depan kami berencana membangun komunikasi lebih lanjut terkait beberapa bentuk kerja sama yang dapat saling menguntungkan bagi kedua belah pihak,” lanjutnya.

Bagi PG PAUD Universitas Mulia, pengembangan daycare berbasis living lab juga menjadi bagian dari visi jangka panjang. Dalam dua hingga lima tahun mendatang, prodi menargetkan penguatan layanan pelatihan bagi guru TPA dan daycare di Balikpapan, publikasi riset internasional berbasis daycare, hingga pengembangan aplikasi dokumentasi digital yang dapat digunakan oleh lembaga mitra.

Di balik seluruh pengembangan tersebut, Bety menyebut ada satu gagasan besar yang ingin terus dijaga.

“Daycare adalah jembatan antara ilmu dan kasih sayang. Pengasuhan tidak anti-riset, dan riset tidak boleh kehilangan sisi manusianya,” tutupnya.

Menurutnya, model ini sekaligus menunjukkan bahwa kampus dapat menjadi ruang publik yang tidak hanya mencetak pendidik masa depan, tetapi juga mendukung terwujudnya Kota Balikpapan sebagai kota ramah anak. (YMN)

 

Balikpapan, 5 Mei 2026 – Universitas Mulia mendorong mahasiswa PG PAUD untuk membaca kurikulum bukan sebagai kumpulan format administratif, tetapi sebagai rancangan strategis yang menentukan kualitas pengalaman belajar anak usia dini. Perspektif tersebut mengemuka dalam kuliah tamu bertema “Bedah & Penyusunan Rencana Pembelajaran Mendalam PAUD” yang digelar Program Studi PG PAUD Universitas Mulia di Ballroom Cheng Hoo, Selasa (5/5).

Wakil Dekan Fakultas Humaniora dan Kesehatan (FHK) Universitas Mulia, Sri Purwanti, S.Pd., M.Pd., menilai kemampuan menyusun rencana pembelajaran mendalam menjadi fondasi penting dalam pendidikan calon guru PAUD. Menurutnya, di titik itulah mahasiswa belajar menerjemahkan arah kurikulum menjadi keputusan pembelajaran yang benar-benar bekerja di kelas.

“Rencana pembelajaran adalah bentuk nyata penerjemahan kurikulum ke dalam praktik pembelajaran. Mahasiswa tidak cukup hanya memahami tujuan dan capaian perkembangan secara teoritis, tetapi harus mampu menghubungkannya dengan strategi, media, asesmen, dan kebutuhan perkembangan anak,” ujarnya.

Dalam pandangan Sri Purwanti, persoalan utama dalam pendidikan calon guru sering kali muncul ketika mahasiswa memahami kurikulum hanya sebatas isi dokumen. Padahal, kurikulum seharusnya dibaca sebagai alat untuk membangun pengalaman belajar yang sesuai dengan karakteristik anak usia dini yang dinamis dan terus berkembang.

Melalui kuliah tamu ini, mahasiswa diajak melihat bagaimana kurikulum harus diterjemahkan secara fleksibel berdasarkan tahap perkembangan anak, konteks lingkungan belajar, serta perubahan kebijakan pendidikan yang terus bergerak. Pendekatan tersebut dinilai penting agar calon guru tidak tumbuh menjadi pelaksana kurikulum yang kaku.

“Kurikulum bukan sekadar dokumen administratif, tetapi instrumen strategis untuk membentuk pengalaman belajar anak. Guru harus mampu menerjemahkannya secara adaptif agar pembelajaran benar-benar bermakna dan mendukung tumbuh kembang anak secara holistik,” jelasnya.

Kegiatan ini juga dirancang untuk memecahkan persoalan klasik dalam pendidikan tinggi: kuat di teori, tetapi lemah saat implementasi. Karena itu, mahasiswa tidak hanya menerima pemaparan konsep, melainkan diajak menganalisis perangkat pembelajaran, mendiskusikan studi kasus, dan memahami pengalaman implementatif langsung dari praktisi pendidikan.

Menurut Sri Purwanti, pendekatan seperti ini penting untuk melatih mahasiswa mengambil keputusan pedagogik secara sadar dan kontekstual, bukan sekadar mengikuti pola yang sudah tersedia.

“Mahasiswa perlu dilatih berpikir aplikatif dan reflektif. Mereka harus mampu membaca kebutuhan anak, memahami situasi belajar, lalu menentukan strategi pembelajaran yang tepat berdasarkan kerangka kurikulum yang ada,” katanya.

Kehadiran narasumber dengan pengalaman implementatif juga memberi dimensi lain dalam proses pembelajaran mahasiswa. Bagi Sri Purwanti, pengalaman lapangan yang dibagikan praktisi membantu mahasiswa memahami bahwa pengembangan kurikulum bukan pekerjaan statis, melainkan proses yang terus berubah mengikuti kebutuhan pendidikan.

Dari situ, mahasiswa diperkenalkan pada berbagai pendekatan inovatif, strategi diferensiasi, hingga cara merancang pembelajaran kreatif yang tetap berpijak pada tujuan perkembangan anak usia dini.

“Mahasiswa perlu melihat langsung bahwa implementasi kurikulum di lapangan membutuhkan fleksibilitas, kreativitas, dan kemampuan menyesuaikan diri terhadap berbagai situasi pembelajaran,” tambahnya.

Lebih jauh, Sri Purwanti menilai kuliah tamu semacam ini menjadi bagian penting dari penguatan identitas akademik PG PAUD Universitas Mulia. Program studi tidak hanya membentuk mahasiswa agar patuh terhadap struktur kurikulum, tetapi juga melatih mereka memiliki keberanian intelektual untuk menganalisis, mengevaluasi, dan mengembangkan pembelajaran sesuai kebutuhan zaman.

Dengan pendekatan tersebut, Universitas Mulia sedang membangun pola pendidikan guru yang menempatkan mahasiswa sebagai perancang pembelajaran, bukan sekadar pengguna perangkat ajar. Di tengah perubahan kebijakan pendidikan dan tantangan perkembangan anak yang semakin kompleks, kemampuan membaca kurikulum secara kritis menjadi kompetensi yang tidak bisa ditawar.

Melalui ruang akademik seperti ini, PG PAUD Universitas Mulia memperlihatkan bahwa pengembangan kurikulum bukan sekadar membahas dokumen pendidikan, tetapi membentuk cara berpikir calon guru dalam memahami anak, merancang pengalaman belajar, dan mengambil keputusan pedagogik yang bertanggung jawab. (YMN)