Balikpapan, 22 Oktober 2025 – Kegiatan Penguatan Hak Asasi Manusia (HAM) bagi Mahasiswa yang digelar oleh Fakultas Hukum Universitas Mulia bersama Kantor Wilayah Kementerian HAM Kalimantan Timur menjadi ruang refleksi penting bagi pengembangan keilmuan hukum di lingkungan kampus.

Kepala Program Studi Hukum, M. Asyharuddin, S.H., M.H., menegaskan bahwa urgensi kegiatan ini tidak hanya terletak pada aspek akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter kemanusiaan mahasiswa hukum.

Dari kiri: Rektor Universitas Mulia Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si., Kaprodi Hukum M. Asyharuddin, S.H., M.H., mendampingi Dekan Fakultas Hukum, Budiarsih, S.H., M.Hum., Ph.D., dan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Kalimantan Timur, Dr. Umi Laili, S.H., M.H., saat penandatanganan dokumen kerja sama (MoA) antara Fakultas Hukum UM dan Kanwil Kemenham Kaltim.

“Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya dibekali pemahaman terhadap aspek hukum positif, tetapi juga ditanamkan nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi dasar dari seluruh sistem hukum,” ujarnya.

Menurutnya, pendidikan hukum yang hanya berorientasi pada norma dan pasal akan menghasilkan lulusan yang kaku dan teknis. Padahal, tantangan hukum modern menuntut lulusan yang memiliki kepekaan sosial, empati, dan integritas moral tinggi.

Asyharuddin mengungkapkan bahwa mahasiswa hukum Universitas Mulia umumnya telah memiliki pemahaman dasar yang cukup baik mengenai konsep dan prinsip umum HAM, baik dalam konteks hukum nasional maupun internasional. Namun, ia menilai masih dibutuhkan pembinaan lebih intensif untuk memperdalam pemahaman mahasiswa terhadap isu-isu aktual HAM di Indonesia.

“Sebagian besar mahasiswa masih memerlukan pembinaan yang lebih dalam mengenai isu-isu seperti pelanggaran HAM masa lalu, kebebasan berpendapat, diskriminasi gender, dan perlindungan kelompok rentan,” tuturnya.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian HAM Kalimantan Timur, Dr. Umi Laili, S.H., M.H., memaparkan materi penguatan nilai-nilai Hak Asasi Manusia (HAM) kepada mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Mulia.

Ia menambahkan, tantangan terbesar dalam pembelajaran HAM di perguruan tinggi hukum adalah menjembatani teori dengan realitas lapangan. Banyak mahasiswa yang memahami pasal, konvensi, dan prinsip, tetapi belum sepenuhnya mampu menerjemahkan nilai-nilai HAM dalam tindakan nyata di lingkungan sosial mereka.

Sebagai tindak lanjut penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) antara Fakultas Hukum Universitas Mulia dan Kanwil Kemenham Kaltim, Asyharuddin menyebutkan bahwa program studi telah menyusun sejumlah rencana konkret.

“Kami akan mendorong pelaksanaan program pendampingan hukum bagi masyarakat, terutama kelompok rentan, dengan bimbingan dari pihak Kemenham. Kegiatan ini tidak hanya memperkaya pengalaman mahasiswa, tetapi juga menjadi bentuk nyata pengabdian Universitas Mulia dalam mewujudkan keadilan sosial,” paparnya.

Ia menilai, kolaborasi antara dunia akademik dan instansi pemerintah seperti Kemenham memiliki peran strategis dalam memperkaya pengalaman belajar mahasiswa hukum. Mahasiswa, katanya, akan memperoleh pemahaman teoretis sekaligus pengalaman praktis yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja dan penegakan hukum di lapangan.

Dalam konteks akademik, mata kuliah HAM telah menjadi bagian dari kurikulum inti di Program Studi Hukum Universitas Mulia. Materi tersebut mencakup prinsip dasar, instrumen nasional dan internasional, serta penerapannya dalam konteks hukum Indonesia. Nilai-nilai HAM juga diintegrasikan ke dalam mata kuliah lain seperti Hukum Pidana, Hukum Tata Negara, dan Etika Profesi Hukum.

Dekan Fakultas Hukum Universitas Mulia, Budiarsih, S.H., M.Hum., Ph.D., memberikan sambutan pembuka pada kegiatan seminar penguatan nilai-nilai HAM yang dihadiri mahasiswa dan civitas akademika.

Selain pendidikan, nilai-nilai HAM turut diimplementasikan melalui penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Dosen dan mahasiswa didorong untuk mengangkat tema-tema keadilan sosial, kesetaraan, dan perlindungan hak-hak warga negara.

“Penelitian kami tidak hanya normatif, tetapi juga analisis empiris yang menggambarkan realitas penegakan HAM di masyarakat. Hasilnya diharapkan bisa menjadi rekomendasi akademik bagi pemerintah dan lembaga sosial dalam merumuskan kebijakan yang berkeadilan,” jelasnya.

Pada akhir wawancara, Asyharuddin menekankan pentingnya kesadaran moral bagi setiap calon sarjana hukum.

Dari kiri: Kaprodi Hukum M. Asyharuddin, S.H., M.H., Rektor Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si., Dekan Fakultas Hukum Budiarsih, S.H., M.Hum., Ph.D., dan Kepala Kantor Wilayah Kemenham Kalimantan Timur, Dr. Umi Laili, S.H., M.H., berpose bersama usai penandatanganan kerja sama dan seminar penguatan HAM.

“Mahasiswa hukum harus menanamkan kesadaran bahwa setiap pasal dan norma hukum memiliki ruh kemanusiaan di dalamnya. Memahami dan memperjuangkan HAM berarti belajar menjadi manusia yang adil, empatik, dan berani membela kebenaran,” pesannya.

Ia berharap mahasiswa hukum Universitas Mulia tumbuh menjadi pribadi yang berintegritas, kritis, dan humanis—mereka yang tidak hanya pandai menafsirkan hukum, tetapi juga mampu menghadirkan keadilan yang berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan.

“Keberhasilan seorang sarjana hukum bukan diukur dari seberapa banyak pasal yang ia hafal, tetapi sejauh mana ia mampu menegakkan hukum dengan hati nurani,” pungkasnya. (YMN)

Balikpapan, 22 Oktober 2025 – Fakultas Hukum Universitas Mulia dan Kantor Wilayah Kementerian HAM Kalimantan Timur menandatangani Memorandum of Agreement (MoA) sebagai bentuk komitmen memperkuat pelaksanaan kebijakan, perlindungan, dan penegakan hukum berbasis Hak Asasi Manusia (HAM). Kolaborasi ini dirancang tidak sekadar sebagai seremoni kelembagaan, tetapi sebagai kerja strategis yang menyentuh jantung Tridarma Perguruan Tinggi: pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat.

Dekan Fakultas Hukum Universitas Mulia, Budiarsih, S.H., M.Hum., Ph.D., menyampaikan sambutan pada seremonial pembukaan seminar Penguatan Hak Asasi Manusia bagi Mahasiswa dengan penuh semangat dan refleksi akademik.

Dekan Fakultas Hukum Universitas Mulia, Budiarsih, S.H., M.Hum., Ph.D., menyebut kerja sama tersebut sebagai “langkah simultan” untuk menanamkan nilai-nilai HAM ke dalam seluruh aspek kehidupan akademik mahasiswa hukum.

“Kami tidak ingin mahasiswa sekadar tahu pasal dan teori. Mereka harus hidup dengan nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi dasar hukum itu sendiri,” ujarnya.

Menurutnya, integrasi nilai HAM di Fakultas Hukum akan dilakukan secara menyeluruh dan terstruktur. Kurikulum akan direvisi agar lebih eksplisit menempatkan HAM sebagai fondasi berpikir hukum di berbagai cabang studi. Dalam Hukum Pidana, misalnya, mahasiswa akan diajak memahami hak-hak tersangka dan korban secara seimbang; dalam Hukum Tata Negara, ditekankan konstitusionalisme dan perlindungan warga negara; sedangkan dalam Hukum Perdata, ditekankan pada pemajuan hak-hak perempuan, anak, dan kelompok rentan.

Pendekatan pembelajaran juga akan dibuat kontekstual melalui studi kasus pelanggaran HAM di Indonesia dan dunia. Fakultas bahkan berencana bekerja sama dengan Komnas HAM dalam penyusunan modul dan bahan ajar yang lebih aktual, berbasis jurnal ilmiah, putusan pengadilan, dan laporan lembaga HAM internasional.

Dekan Fakultas Hukum Universitas Mulia, Budiarsih, S.H., M.Hum., Ph.D., menerima cendera mata dari Kepala Kantor Wilayah Kemenkumham Kalimantan Timur, Dr. Umi Laili, S.H., M.H., sebagai simbol kolaborasi dalam penguatan nilai-nilai hukum dan HAM di lingkungan kampus.

Tidak berhenti di kelas, Budiarsih menjelaskan bahwa fakultas akan membangun pusat kajian dan pusat bantuan hukum yang fokus menangani kasus-kasus HAM. Pusat tersebut nantinya menjadi laboratorium bagi mahasiswa untuk berlatih advokasi dan penelitian sosial hukum yang langsung bersentuhan dengan masyarakat.

“Mahasiswa harus merasakan sendiri realitas hukum yang berhadapan dengan persoalan kemanusiaan. Di situ karakter mereka terbentuk,” katanya.

Kegiatan akademik berbasis riset dan publikasi juga menjadi perhatian utama. Fakultas Hukum mendorong dosen dan mahasiswa menulis serta memublikasikan hasil penelitian tentang isu-isu HAM dalam jurnal ilmiah dan forum konferensi nasional maupun internasional. Tak hanya itu, universitas juga tengah menyiapkan jurnal mahasiswa hukum yang dikhususkan untuk memuat kajian dan refleksi kritis mahasiswa terhadap isu-isu kemanusiaan kontemporer.

Namun, di balik semangat itu, Budiarsih mengakui bahwa menumbuhkan kesadaran HAM di tengah arus informasi digital bukan perkara mudah. Tantangan terbesar, katanya, justru datang dari disinformasi dan intoleransi yang menyebar cepat di ruang digital.

Pimpinan Universitas Mulia bersama jajaran Kantor Wilayah Kemenkumham Kalimantan Timur berfoto bersama usai seremonial pembukaan, menandai komitmen bersama untuk memperkuat pendidikan dan advokasi HAM di Kalimantan Timur.

“Kesulitan terbesar mahasiswa sekarang adalah membedakan fakta dengan informasi yang menyesatkan. Kecepatan media sosial sering mengalahkan kedalaman berpikir,” ujarnya dengan nada reflektif.

Karena itu, kegiatan Penguatan HAM hari ini juga diarahkan untuk membangun literasi kritis digital mahasiswa hukum — kemampuan untuk membaca peristiwa hukum secara jernih, bukan emosional.

Selain magang, riset bersama, dan pengabdian masyarakat, Fakultas Hukum bersama Kanwil Kemenham juga tengah menyiapkan beberapa inisiatif baru, di antaranya penyuluhan hukum bersama di masyarakat. Mahasiswa akan berperan sebagai paralegal muda untuk mendampingi kelompok rentan dalam memahami hak-hak dasar mereka.

Program ini akan dijalankan melalui desa tematik terdampak pelanggaran HAM, sekaligus membuka ruang bagi dosen dan mahasiswa Fakultas Hukum untuk memberikan pelatihan bagi staf Kemenham terkait isu-isu hukum terbaru. Sebaliknya, para praktisi Kemenham akan diundang menjadi pengajar tamu di kampus.

“Kolaborasi dua arah ini penting agar mahasiswa belajar langsung dari praktik, sementara birokrasi hukum juga mendapat perspektif akademik yang segar,” ungkapnya.

 

Ratusan mahasiswa tampak antusias menyimak paparan narasumber dalam seminar Penguatan HAM bagi Mahasiswa, yang menghadirkan suasana akademik penuh semangat dan rasa ingin tahu.

Di luar kerja sama formal, Budiarsih menekankan bahwa Fakultas Hukum Universitas Mulia telah lama memainkan peran penting dalam advokasi dan pendidikan hukum masyarakat di Balikpapan dan Kalimantan Timur. Salah satunya melalui kegiatan sosialisasi anti-perundungan di sekolah-sekolah dan pelatihan hukum bagi ketua RT se-Kota Balikpapan melalui program Kelas Eksekutif Hukum.

“Kami berangkat dari gagasan sederhana: hukum bukan hanya urusan pengadilan, tapi urusan manusia dalam kehidupan sehari-hari,” tutur Budiarsih.

Menutup wawancara, ia menegaskan bahwa mahasiswa hukum harus tampil sebagai agen perubahan yang menyuarakan nilai kemanusiaan di tengah masyarakat. Melalui pemahaman HAM, mahasiswa diharapkan tumbuh menjadi calon penegak hukum yang berintegritas dan humanis.

“Mahasiswa hukum harus mampu memahami hak dasar manusia, menghormati perbedaan, dan menjunjung martabat setiap individu. Itulah makna sejati menjadi sarjana hukum,” pungkasnya. (YMN)

Balikpapan, 22 Oktober 2025 – Fakultas Hukum Universitas Mulia resmi menandatangani nota kesepahaman (MoA) dengan Kantor Wilayah Kementerian HAM Kalimantan Timur dalam kegiatan bertajuk Penguatan Hak Asasi Manusia bagi Mahasiswa, yang digelar di Ballroom Cheng Hoo, Rabu (22/10).

Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Kepala Kantor Wilayah Kemenham Kaltim, Dr. Umi Laili, S.H., M.H., beserta jajaran, serta civitas akademika Universitas Mulia. Tujuan kegiatan ini tidak hanya memperluas kerja sama kelembagaan, tetapi juga memperkuat kesadaran mahasiswa terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan.

Dalam sambutannya, Dr. Umi Laili menekankan bahwa penegakan HAM tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab negara, tetapi juga tanggung jawab seluruh elemen masyarakat, termasuk mahasiswa.

Kepala Kantor Wilayah Kemenham Kalimantan Timur, Dr. Umi Laili, S.H., M.H., saat memberikan sambutan penuh semangat pada kegiatan Penguatan HAM bagi Mahasiswa di Ballroom Cheng Hoo, Rabu (22/10).

“Mahasiswa hukum harus menjadi agen yang menegakkan nilai kemanusiaan di lingkungannya. Pemahaman terhadap HAM harus hidup dalam perilaku, bukan sekadar dalam teori,” ujarnya.

Beliau menambahkan, kerja sama antara Kemenham dan Universitas Mulia akan menjadi wadah bagi mahasiswa untuk belajar langsung mengenai praktik penegakan hukum dan HAM, baik melalui program magang, penelitian, maupun advokasi sosial.

“Kami ingin mahasiswa hukum menjadi bagian dari solusi, bukan hanya pengamat. Karena masa depan keadilan ada di tangan generasi muda,” tegasnya.

Sementara itu, Rektor Universitas Mulia, Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si., dalam sambutannya menegaskan bahwa kekuatan moral bangsa sesungguhnya terletak pada mahasiswa. Ia menekankan bahwa sejarah panjang perjalanan bangsa menunjukkan bahwa perubahan besar selalu dimotori oleh kaum muda yang berpikir kritis dan berjiwa idealis.

“Kekuatan moral itu sebenarnya ada di mahasiswa. Kalau kita melihat sejarah pergerakan bangsa, setiap perubahan besar di Indonesia selalu dimotori oleh mahasiswa,” ujar Prof. Ahsin.

Rektor Universitas Mulia, Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si., menyampaikan sambutan inspiratif tentang peran mahasiswa sebagai motor perubahan dalam sejarah bangsa.

Ia kemudian menelusuri jejak sejarah perjuangan mahasiswa sejak Boedi Oetomo (1908), Sumpah Pemuda (1928), Gerakan 1966, hingga Reformasi 1998. Semua momentum itu, katanya, menjadi bukti bahwa mahasiswa adalah lokomotif perubahan yang lahir dari idealisme dan kesadaran kebangsaan yang tinggi.

“Gerakan mahasiswa ini penuh dengan idealisme yang tidak tercemar oleh kepentingan politik pragmatis. Karena itu, mahasiswa harus terus menjadi agent of change,” tegasnya.

Prof. Ahsin juga mengaitkan penguatan nilai HAM dengan pentingnya menumbuhkan kepekaan terhadap pelanggaran kemanusiaan di berbagai bentuknya — baik fisik maupun psikis.

“HAM itu bukan sekadar kekerasan fisik. Kekerasan psikis juga pelanggaran HAM. Bahkan di lingkungan kampus pun potensi pelanggaran bisa terjadi,” ujarnya.

Rektor menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi ruang aman bagi semua sivitas akademika. Ia menyebut tiga dosa besar kampus — bullying, kekerasan seksual, dan intoleransi — sebagai bentuk nyata pelanggaran HAM di dunia pendidikan.

Suasana hangat seminar Penguatan Hak Asasi Manusia bagi Mahasiswa yang diikuti antusias oleh civitas akademika Fakultas Hukum Universitas Mulia.

Sebagai langkah preventif, Universitas Mulia telah membentuk Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (Satgas PPKS) guna memastikan lingkungan akademik yang aman, sehat, dan berkeadaban.

Selain itu, Prof. Ahsin juga menyoroti semangat demokrasi mahasiswa dalam kegiatan pemilihan Presiden BEM yang berlangsung jujur dan terbuka.

“Saya senang melihat mahasiswa beradu argumentasi dan memaparkan programnya secara terbuka. Itulah laboratorium demokrasi yang sesungguhnya — tanpa intervensi politik, murni karena idealisme,” ungkapnya.

Momen penandatanganan naskah Memorandum of Agreement (MoA) antara Fakultas Hukum Universitas Mulia yang diwakili Dekan Budiarsih, S.H., M.Hum., Ph.D., dengan Kantor Wilayah Kemenkumham Kalimantan Timur yang diwakili Dr. Umi Laili, S.H., M.H.

Menutup sambutannya, Rektor berpesan agar mahasiswa hukum tidak hanya menjadi penegak hukum yang cakap secara akademik, tetapi juga penjaga nurani bangsa yang menegakkan nilai kemanusiaan di atas segala kepentingan.

“Kalian bukan hanya calon penegak hukum, tapi juga calon pelopor kemanusiaan. Tugas kalian bukan sekadar memahami hukum, tetapi menegakkan nilai-nilai kemanusiaan di tengah masyarakat,” pungkasnya. (YMN)

Mahasiswa PG-PAUD UM Ciptakan Dongeng Digital: Gerakan Literasi dari Layar ke Hati

Balikpapan, 20 Oktober 2025 – Di tengah derasnya gelombang digitalisasi pendidikan, mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG-PAUD) Universitas Mulia memilih jalannya sendiri: melestarikan budaya bercerita melalui teknologi. Melalui kegiatan Workshop Pembuatan Buku Dongeng Digital, mereka menghidupkan kembali tradisi lisan dalam bentuk karya interaktif yang bisa diakses dari layar mana pun.

Ketua Himpunan Mahasiswa (HIMA) PG-PAUD, Nur Wahida, menjelaskan bahwa gagasan kegiatan ini lahir bukan sekadar untuk memenuhi program kerja organisasi, tetapi sebagai respon terhadap perubahan besar dalam dunia pendidikan anak.

“Awalnya kegiatan ini merupakan program kerja HIMA periode 2024–2025, namun kami melihat tren pendidikan yang kini semakin kuat dengan konten digital. Dari situ muncul ide untuk mengembangkan dongeng tradisional agar masuk dalam dunia digitalisasi,” ujarnya.

Tema “Membangun Kreativitas Guru AUD melalui Karya Buku Dongeng Digital yang Interaktif dan Edukatif” dipilih bukan tanpa alasan. Bagi HIMA PG-PAUD, kreativitas guru bukan hanya kemampuan mencipta cerita, tetapi kemampuan menjembatani nilai-nilai budaya dengan teknologi yang akrab di tangan anak-anak.

Foto bersama usai workshop pembuatan buku dongeng digital di ruang eksekutif White Campus Universitas Mulia, Sabtu (19/10/2025).

“Tema ini menjadi bentuk harapan agar guru PAUD mampu menciptakan karya yang bisa digunakan dalam pembelajaran, yang tetap interaktif dan edukatif,” jelasnya.

Respons peserta pun melampaui ekspektasi. Mahasiswa mengaku antusias karena untuk pertama kalinya mereka menghasilkan karya digital yang bisa dibaca dan dibagikan secara luas.

“Workshop ini jadi pengalaman pertama bagi banyak mahasiswa. Mereka membuat karya asli, mempublikasikannya secara online, dan menyadari bahwa hasil kreativitas mereka bisa diakses oleh banyak orang,” katanya.

 Suasana workshop di Laboratorium A White Campus saat peserta antusias membuat buku dongeng digital interaktif sebagai hasil praktik pembelajaran.

Ketertarikan juga datang dari kalangan pendidik PAUD di luar kampus. Beberapa kepala sekolah dan Bunda PAUD Balikpapan Selatan turut hadir meninjau jalannya workshop.

“Dari kunjungan itu, beberapa kepala sekolah bahkan tertarik memasukkan karya mahasiswa ke galeri pustaka digital Bunda PAUD Balikpapan Selatan,” ungkapnya.

Dalam kegiatan yang berlangsung selama dua hari itu, setiap peserta wajib menulis dan merancang satu buku dongeng digital secara mandiri. Setiap naskah dibuat dari ide orisinal peserta dan dipublikasikan melalui platform FlipHTML5, agar bisa dibaca publik secara daring.

“Kami ingin setiap peserta benar-benar menulis cerita mereka sendiri, bukan menyalin. Semua karya dipublikasikan agar bisa menjadi bagian dari literasi digital anak,” jelasnya.

HIMA PG-PAUD juga berkolaborasi dengan narasumber profesional di bidang mendongeng dan pembuatan konten digital agar peserta dapat belajar langsung dari praktisi.

Ketua HIMA PGPAUD Universitas Mulia, Nur Wahida, menyerahkan sertifikat penghargaan kepada narasumber pertama, Kak Eri, pendongeng Balikpapan yang inspiratif.

“Kami menyiapkan pemateri yang kompeten di setiap sesi agar peserta tidak hanya paham teori, tapi juga mampu menerapkannya dalam karya,” katanya.

Bagi pengurus HIMA, kegiatan ini menjadi laboratorium organisasi yang nyata — tempat belajar manajemen acara, kolaborasi eksternal, hingga kepemimpinan dalam dunia akademik.

“Pelajaran paling berharga bagi kami adalah bagaimana menyelenggarakan kegiatan secara sistematis dan bekerja sama dengan berbagai pihak. Itu pengalaman penting,” ujarnya.

Tak berhenti di situ, seluruh karya mahasiswa yang terkumpul akan dikurasi untuk diterbitkan dalam Galeri Pustaka Digital PG-PAUD Universitas Mulia, dan ke depan direncanakan memperoleh sertifikat HAKI sebagai bentuk penghargaan terhadap kreativitas mahasiswa.

“Kami berharap karya-karya ini bisa diseleksi dan mendapat HAKI, bahkan dicetak menjadi satu buku kumpulan dongeng. Itu bentuk nyata bahwa mahasiswa bisa menghasilkan karya yang bermakna,” pungkasnya.

Kak Eri menampilkan praktik mendongeng yang memukau dan interaktif di hadapan peserta workshop, memancing tawa dan imajinasi mahasiswa PGPAUD.

 

Melalui langkah sederhana namun visioner ini, mahasiswa PG-PAUD Universitas Mulia telah menegaskan satu hal: bahwa teknologi bukan lawan dari tradisi, melainkan ruang baru untuk membuat nilai-nilai budaya tetap hidup dan dapat disentuh oleh generasi yang tumbuh di depan layar. (YMN)

 

Balikpapan, 20 Oktober 2025– Di tengah derasnya arus digitalisasi yang mengubah cara anak belajar dan berinteraksi dengan dunia, Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG-PAUD) Universitas Mulia mengambil langkah berani: menyiapkan calon guru yang tidak hanya piawai bercerita, tetapi juga mampu menghadirkan dongeng dalam bentuk digital yang interaktif dan bernilai lokal.

Kegiatan Workshop Pembuatan Buku Dongeng Digital yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa (HIMA) PG-PAUD pada 18–19 Oktober 2025 di ruang Eksekutif dan Laboratorium A White Campus Universitas Mulia menjadi ruang eksplorasi bagi mahasiswa calon guru untuk berkreasi sekaligus meneguhkan peran baru mereka di tengah transformasi teknologi pendidikan.

Dari kiri: Wakil Dekan FHK Sri Purwanti, S.Pd., M.Pd.; Kaprodi PG-PAUD Bety Vitriana, S.Pd., M.Pd.; Dekan FHK Dr. Mada Aditia Wardhana, S.Sos., M.M.; dan Erikariyani, S.E., M.M., pendongeng asal Balikpapan yang dikenal luas dengan nama Kak Eri, saat menghadiri pembukaan Workshop Pembuatan Buku Dongeng Digital di White Campus Universitas Mulia, Sabtu (18/10).

Kaprodi PG-PAUD, Bety Vitriana, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa HIMA PG-PAUD hadir bukan sekadar menyelenggarakan pelatihan teknis, melainkan mengusung misi kebudayaan dan literasi digital yang lebih luas.

“Kami ingin mengajak mahasiswa sekaligus calon guru PAUD menjadi guru yang mampu melestarikan budaya Indonesia dan menciptakan konten lokal dalam format digital yang interaktif. Tanpa langkah ini, kita akan kehilangan generasi pembaca karena guru tidak mampu menawarkan cerita di ‘layar’—tempat anak-anak kini bernaung,” ujarnya.

Mahasiswa PG-PAUD tampak antusias mengikuti sesi praktik pembuatan buku dongeng digital di ruang Laboratorium A White Campus Universitas Mulia.

Menurut Bety, guru PAUD masa kini tidak lagi cukup hanya menjadi pencerita yang menuturkan kisah di depan kelas. Mereka harus naik peran menjadi kurator konten dan pendongeng digital (digital storyteller) yang mampu memadukan nilai-nilai budaya dengan medium teknologi yang akrab dengan dunia anak-anak.

“Guru bukan sekadar pencerita, tapi content curator dan digital storyteller. Ia harus mampu memilah aplikasi, meramu dongeng lisan nenek moyang menjadi file digital yang bisa diklik, dan tetap menjadi filter agar anak tidak hanya jadi konsumen pasif,” jelasnya.

Pendongeng Balikpapan Kak Eri berbagi pengalaman dan teknik mendongeng interaktif di era digital kepada peserta workshop.

Bety menekankan bahwa di tengah derasnya arus konten digital global, guru memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan anak-anak tetap tumbuh dengan akar budaya sendiri. Buku dongeng digital yang diciptakan mahasiswa diharapkan menjadi jembatan antara nilai-nilai lokal dan dunia digital tempat anak belajar.

“Guru tetap menjadi jantung, hanya saja kini berdetak dalam ritme digital untuk menyesuaikan kebutuhan zaman. Melalui karya buku dongeng digital, guru dapat menghadirkan tontonan yang mendidik dan bermuatan pesan moral bagi generasi emas,” tambahnya.

Ketua HIMA PG-PAUD menyerahkan sertifikat penghargaan kepada Kak Eri sebagai bentuk apresiasi atas kontribusinya dalam kegiatan Workshop Pembuatan Buku Dongeng Digital.

Melalui kegiatan ini, Prodi PG-PAUD Universitas Mulia berupaya membangun ekosistem belajar yang menumbuhkan kreativitas digital berbasis budaya. Setiap karya yang lahir diharapkan bukan hanya menjadi produk akademik, tetapi juga kontribusi nyata untuk literasi anak usia dini Indonesia di era layar. (YMN)

Balikpapan, 20 Oktober 2025—Sebagai perwujudan kepedulian terhadap pelestarian lingkungan dan pembangunan berkelanjutan, mahasiswa Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Mulia Balikpapan melaksanakan kegiatan penanaman 100 bibit mangrove di kawasan Direktorat Polisi Air dan Udara (Polairud) Polda Kalimantan Timur, pada Sabtu (18/10).

Kegiatan yang mengusung tema “Manajemen Peduli Lingkungan” ini merupakan hasil kolaborasi antara institusi pendidikan tinggi dan aparat penegak hukum dalam mendukung upaya konservasi ekosistem laut dan pesisir. Kolaborasi tersebut mencerminkan sinergi strategis antara dunia akademik dan praktisi lapangan dalam mewujudkan tanggung jawab sosial dan lingkungan sebagai bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Kaprodi Manajemen Universitas Mulia, Dr. Pudjiati, S.E., M.M., memimpin langsung mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis dalam kegiatan penanaman 100 bibit mangrove di kawasan Direktorat Polisi Air dan Udara (Polairud) Polda Kalimantan Timur, Sabtu (18/10).

Ketua Program Studi Manajemen, Dr. Pudjiati, S.E., M.M., dalam keterangannya menyampaikan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai media pembelajaran karakter sekaligus implementasi nilai-nilai keberlanjutan bagi mahasiswa. Menurutnya, mahasiswa perlu memiliki kesadaran ekologis dan rasa tanggung jawab sosial yang tinggi sebagai calon pemimpin masa depan.

“Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan memahami bahwa ilmu manajemen tidak semata-mata berkaitan dengan aspek bisnis dan profitabilitas, tetapi juga dengan pengelolaan sumber daya alam dan sosial secara berkelanjutan. Penanaman mangrove ini memberikan pengalaman langsung bagi mahasiswa untuk berpartisipasi aktif dalam menjaga keseimbangan ekosistem,” ujar Dr. Pudjiati.

Foto bersama civitas akademika Universitas Mulia dan jajaran Polairud Polda Kalimantan Timur di gerbang utama kawasan Polairud, Sabtu (18/10), sesaat sebelum kegiatan penanaman bibit mangrove dimulai.

Dari pihak Polairud Polda Kalimantan Timur, Wendy Eka Saputra, S.H., selaku PS. Kanit 2 Si Binmas Air Dit Polairud, memberikan apresiasi atas keterlibatan mahasiswa Universitas Mulia dalam kegiatan pelestarian lingkungan. Ia menilai kolaborasi lintas lembaga seperti ini penting dalam membangun kesadaran publik terhadap pentingnya menjaga ekosistem laut dan wilayah pesisir.

Momen kebersamaan civitas akademika Universitas Mulia dan aparat Polairud Polda Kaltim di kawasan pesisir Polairud, Sabtu (18/10), diambil sesaat sebelum dimulainya kegiatan penanaman bibit mangrove.

“Kami sangat mengapresiasi inisiatif yang dilakukan mahasiswa Universitas Mulia. Sinergi antara akademisi dan aparat kepolisian merupakan langkah positif untuk menumbuhkan budaya peduli lingkungan di kalangan generasi muda,” ungkapnya.

Penanaman dilakukan di wilayah pesisir yang tergolong rawan abrasi. Selain melakukan kegiatan tanam, para peserta juga memperoleh materi edukatif mengenai fungsi ekologis mangrove, termasuk peranannya dalam menahan abrasi pantai, menjaga habitat biota laut, serta mendukung penyerapan karbon yang berkontribusi terhadap mitigasi perubahan iklim.

Lebih lanjut, Dr. Pudjiati menegaskan bahwa kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya Universitas Mulia dalam mengimplementasikan visi “Green and Sustainable Campus.” Ia berharap kegiatan serupa dapat menumbuhkan jiwa kepemimpinan hijau (green leadership) dan memperkuat kesadaran mahasiswa akan pentingnya prinsip People, Planet, and Profit dalam praktik manajemen modern.

“Keberhasilan seorang manajer di masa depan tidak hanya diukur dari kemampuannya mengelola sumber daya ekonomi, tetapi juga dari sejauh mana ia mampu menjaga keseimbangan antara keuntungan, kemanusiaan, dan kelestarian lingkungan,” tutupnya.

Foto bersama di atas jembatan kawasan Direktorat Polisi Air dan Udara (Polairud) Polda Kalimantan Timur, Sabtu (18/10), menjadi penutup kegiatan penanaman mangrove sebagai simbol komitmen bersama dalam menjaga kelestarian ekosistem pesisir.

 

Melalui kegiatan ini, Universitas Mulia menunjukkan komitmen akademiknya dalam mengintegrasikan pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning) dengan nilai-nilai keberlanjutan lingkungan, sekaligus memperkuat peran mahasiswa sebagai agen perubahan dalam mewujudkan masyarakat yang peduli terhadap kelestarian alam. (YMN)

 

Yehezkiel Dio Sinolungan sedang menjelaskan makna baris-baris code C++. Foto: UKM DSC

UM – Suasana berbeda terasa di ruang ekstrakurikuler IT Club SMA Negeri 7 Balikpapan pada Sabtu (11/10/2025) lalu. Bukan guru, melainkan seorang mahasiswa dari Universitas Mulia yang berdiri di depan, memandu para siswa menyelami dunia pemrograman.

Tampil sebagai pembicara adalah Yehezkiel Dio Sinolungan, mahasiswa Program Studi S1 Informatika dan anggota Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Developer Student Club (DSC) Universitas Mulia di bawah bimbingan dosen Nasruddin, S.Kom., M.Kom.

Dalam sesi yang berlangsung selama kurang lebih dua jam tersebut, Yehezkiel membawakan modul Software Programming dengan fokus pada pengenalan dasar-dasar bahasa pemrograman C++.

Namun, ini bukanlah sesi belajar biasa. Para siswa tidak hanya disuguhkan teori, tetapi juga diajak langsung untuk “mengotori tangan” mereka dengan kode melalui sesi guided live coding.

Foto bersama dengan guru dan siswa SMAN 7 Balikpapan. Foto: UKM DSC

Foto bersama dengan guru dan siswa SMAN 7 Balikpapan. Foto: UKM DSC

Para siswa SMAN 7 Balikpapan menyimak pemaparan mahasiswa. Foto: UKM DSC

Para siswa SMAN 7 Balikpapan menyimak pemaparan mahasiswa. Foto: UKM DSC

Yehezkiel Dio Sinolungan, mahasiswa Program Studi S1 Informatika tahun 2023, dan anggota Developer Student Club (DSC) . Foto: UKM DSC

Yehezkiel Dio Sinolungan, mahasiswa Program Studi S1 Informatika tahun 2023, dan anggota Developer Student Club (DSC) . Foto: UKM DSC

Mahasiswa anggota UKM DSC sedang memandu siswa belajar pemrograman C++. Foto: UKM DSC

Mahasiswa anggota UKM DSC sedang memandu siswa belajar pemrograman C++. Foto: UKM DSC

Dari Teori ke Praktik Langsung

Dengan pendekatan live coding, Yehezkiel memandu para peserta untuk memahami konsep-konsep fundamental dalam pemrograman melalui studi kasus sederhana.

Para siswa dapat melihat secara langsung bagaimana baris-baris kode ditulis, dieksekusi, dan menghasilkan sebuah program. Metode ini terbukti efektif untuk menjembatani pemahaman dari konsep teoritis ke penerapan praktis.

Kegiatan ini merupakan bagian dari kolaborasi antara UKM DSC Universitas Mulia dan IT Club SMA Negeri 7 Balikpapan.

Ini adalah pertemuan pertama dari dua rangkaian yang telah dirancang untuk memberikan pengalaman nyata bagi siswa dalam menulis kode dan mengasah logika berpikir yang menjadi dasar dari pengembangan perangkat lunak.

Antusiasme Tinggi Generasi Muda Teknologi

Inisiatif ini disambut dengan antusiasme yang luar biasa dari para siswa SMA Negeri 7 Balikpapan. Mereka tampak bersemangat dan penuh rasa ingin tahu, tidak hanya dalam mempelajari cara kerja sebuah program, tetapi juga saat mencoba menulis baris kode mereka sendiri.

“Melihat rasa ingin tahu mereka sungguh menyenangkan. Ini menunjukkan bahwa generasi muda kita siap untuk berkreasi di dunia teknologi,” ungkap Yehezkiel setelah sesi berakhir. Ia menambahkan bahwa semangat para siswa menjadi motivasi tersendiri baginya.

Kolaborasi ini diharapkan tidak hanya berhenti sebagai kegiatan ekstrakurikuler semata. Lebih jauh, program ini bertujuan untuk menumbuhkan minat dan semangat generasi muda di Balikpapan terhadap dunia pengembangan perangkat lunak.

Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan dapat menjadi bekal awal bagi para siswa yang berminat untuk terjun ke kompetisi seperti Olimpiade Sains Nasional (OSN) Bidang Informatika atau bahkan meniti karir di industri teknologi di masa depan.

Sesi perdana ini menjadi langkah awal yang menjanjikan bagi sinergi dunia kampus dengan sekolah untuk mencetak talenta-talenta digital masa depan.

(SA/Kontributor)

Subur Anugerah saat mempresentasikan makalah dalam sesi Seminar Farmasi Nasional (SAFANA) 2025 di Ballroom Cheng Ho Universitas Mulia, Kamis (16/10). Foto: Istimewa

UM – Inovasi garapan dosen dan mahasiswa berupa prototipe Sistem Informasi Holistik untuk manajemen terapi jangka panjang pasien pasca-stroke, sukses mengantarkan Subur Anugerah, S.T., M.Eng meraih Best Presenter Award, dalam Seminar Farmasi Nasional (SAFANA) 2025, yang diselenggarakan Program Studi Farmasi Universitas Mulia, Kamis (16/10).

Hal ini disampaikan oleh Ketua Program Studi S1 Farmasi Apt. Warrantia Citta Citti Putri, S.Farm., M.Sc. “Sertifikatnya menyusul, Pak. Dapat bingkisan sebagai presenter terbaik,” ujarnya seraya tersenyum.

Ia berharap, SAFANA akan menjadi agenda rutin setiap tahun. Pada kegiatan yang akan datang diharapkan akan semakin banyak yang terlibat, baik para peneliti, dosen, praktisi kesehatan hingga mahasiswa untuk submit makalah, poster, maupun sebagai partisipan.

Selain itu, ia berharap ke depan akan ada lebih banyak kolaborasi, baik dari pemerintahan, lembaga kesehatan, perguruan tinggi, perusahaan farmasi dan kesehatan serta lebih banyak sponsor pendukung lainnya.

Dua orang pakar berbicara di SAFANA 2025 sebagai narasumber, antara lain Prof. apt. Muchtaridi, Ph.D dari Universitas Padjajaran dan Prof. Dr. apt. Yandi Syukri, S.Si., M.Si. dari Universitas Islam Indonesia sebagai pakar Nanoteknologi Farmasi.

Dalam kesempatan ini, tercatat 13 pemakalah presentasi luring di Ballroom Cheng Ho Universitas Mulia, 12 pemakalah presentasi daring lewat aplikasi Zoom, dan tiga orang penyusun poster. Peserta berasal dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Presenter makalah terbaik diraih oleh Subur Anugerah dari Universitas Mulia dengan judul Implementasi Sistem Informasi Holistik Berbasis Community-Based Rehabilitation (CBR) untuk Manajemen Terapi Jangka Panjang Pasien Pasca-Stroke di Balikpapan.

Sedangkan poster terbaik diraih oleh Apt. Dian Parwati, S.Farm., M.Farm dari Universitas Sam Ratulangi dengan judul Analisis Pengaruh Strategi Bauran Pemasaran dan Implementasi Pharmaceutical Care Terhadap Kepuasan Pasien di Apotek Pelengkap RSUP Prof. DR. R.D. Kandou Manado.

Foto bersama undangan dan peserta Seminar Farmasi Nasional (SAFANA) 2025 yang diselenggarakana Prodi S1 Farmasi Universitas Mulia di Ballroom Cheng Ho, Kamis (16/10). Foto: Media Kreatif

Foto bersama undangan dan peserta Seminar Farmasi Nasional (SAFANA) 2025 yang diselenggarakana Prodi S1 Farmasi Universitas Mulia di Ballroom Cheng Ho, Kamis (16/10). Foto: Media Kreatif

Subur Anugerah menerima bingkisan dari sponsor sebagai presenter terbaik dari Ketua Panitia SAFANA 2025 Sapri, S.Si., M.Farm. Foto: Media Kreatif

Subur Anugerah menerima bingkisan dari sponsor sebagai presenter terbaik dari Ketua Panitia SAFANA 2025 Sapri, S.Si., M.Farm. Foto: Media Kreatif

Berangkat dari Kebutuhan Nyata di Komunitas

Sementara itu, Subur Anugerah mengatakan, pencapaiannya merupakan hasil kolaborasi lintas disiplin dan generasi, yang mampu menghasilkan solusi nyata untuk tantangan kompleks di bidang kesehatan, khususnya bagi para pejuang pasca-stroke di Balikpapan.

Dalam presentasinya, ia memaparkan, ide pengembangan sistem berawal dari masalah riil di lapangan. Pasien pasca-stroke memerlukan perawatan jangka panjang yang melibatkan dokter, terapis, psikolog, ahli gizi, dan keluarga. Hal ini menyebabkan data klinis sering tersebar (terfragmentasi).

“Manajemen terapi jangka panjang untuk pasien pasca-stroke membutuhkan perawatan yang kontinu. Namun, seringkali terjadi kesulitan komunikasi antardokter, terapis, dan keluarga serta data yang tidak terpusat. Hal ini dikhawatirkan akan berisiko menurunkan efektivitas terapi,” jelasnya saat presentasi.

Menjawab tantangan tersebut, sistem informasi ini dirancang berbasis CBR, dengan mengambil studi kasus pada komunitas Persatuan Penyintas Stroke Indonesia (PPSI) di Kota Balikpapan.

Tujuannya adalah untuk mengintegrasikan jadwal terapi, memusatkan rekam jejak perawatan, dan memfasilitasi komunikasi yang dapat diakses oleh pasien, keluarga, dan tim medis interdisipliner.

Kolaborasi Lintas Disiplin dan Generasi Kunci Keberhasilan

Subur Anugerah, selaku ketua tim mengatakan, penghargaan Best Presenter ini adalah buah dari kerja keras kolektif. Proyek ini sulit terwujud tanpa kolaborasi berbagai pihak, termasuk praktisi kesehatan seperti dokter, komunitas, dan keterlibatan dosen dan mahasiswa.

“Keberhasilan ini bukan karya satu orang, melainkan buah kerja tim yang solid. Kami berkolaborasi dengan Bapak Ridwansyah dari PPSI Balikpapan untuk mendapatkan data dan wawasan di lapangan, memfasilitasi komunikasi dengan dokter Fajar Qimindra serta dukungan rekan dosen, Bapak Istia Budi dan Bapak Suprijadi,” ungkapnya.

Secara khusus, ia memberikan apresiasi tinggi terhadap peran mahasiswa Informatika dalam tim, yaitu Serlina Kombong, yang ia ajak untuk membantunya.

“Saya sangat mengapresiasi peran vital mahasiswa kami, Serlina Kombong. Keterlibatannya dalam proses pengumpulan data, sosialisasi, dokumentasi, hingga merancang visualisasi presentasi yang komunikatif, sangat krusial,” ujarnya.

Dengan begitu, ia berharap, pengalaman ini menjadikan pelajaran bagaimana mengajak mahasiswa untuk belajar berperan dan dapat berkontribusi langsung dalam proyek yang berdampak bagi masyarakat.

Inovasi Informatika yang Menjawab Tantangan Farmasi Klinis

Meski berasal dari ranah informatika, inovasi ini dinilai sangat relevan dengan dunia farmasi. Salah satu fitur utama sistem adalah modul penjadwalan terintegrasi yang membantu memastikan kepatuhan pasien dalam menjalankan terapi dan berobat, sebagai sebuah aspek krusial dalam farmasi klinis.

Sistem ini juga dirancang untuk mendukung standarisasi dokumen medis menggunakan format SOAP (Subjective, Objective, Assessment, Plan), yang memungkinkan seluruh tim terapis, mulai dari fisioterapis, terapis wicara, hingga psikolog, dapat memahami kondisi pasien secara komprehensif.

Saat ini, sistem tersebut masih dalam tahap prototipe dan diharapkan dapat terus dikembangkan agar dapat dimanfaatkan oleh PPSI, baik di Balikpapan maupun di kota lainnya.

“Harapan kami, prototipe ini bisa menjadi fondasi digital yang kuat untuk mendukung tim medis dan pada akhirnya meningkatkan kualitas hidup para pejuang pasca-stroke,” tutup Subur Anugerah.

(SA/Kontributor)

Balikpapan, 16 Oktober 2025 – Seminar Farmasi Nasional (SAFANA) 2025 di Universitas Mulia tidak sekadar menjadi forum ilmiah, tetapi juga ruang untuk memperkuat arah riset farmasi Indonesia menuju kemandirian. Ketua Panitia, Sapri, M.Farm., dalam wawancara bersama Humas UM, menjelaskan bahwa inspirasi utama tema SAFANA tahun ini berakar pada kekayaan biodiversitas Indonesia, khususnya Kalimantan Timur.

Menurutnya, daerah ini menyimpan potensi besar bahan alam seperti bawang Dayak, jahe Balikpapan, dan propolis lebah kelulut, yang sejak lama dikenal memiliki khasiat obat tradisional. Namun, pemanfaatannya kerap terhambat oleh masalah bioavailabilitas, kelarutan rendah, dan stabilitas yang buruk. “Nanoteknologi menawarkan solusi ilmiah untuk mengatasi keterbatasan itu,” ujar Sapri. Ia menambahkan, arah penelitian ini sejalan dengan visi nasional dalam Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2016 tentang Percepatan Pengembangan Industri Farmasi.

Ketua Panitia SAFANA 2025, Sapri, M.Farm., saat menyampaikan laporan kegiatan di hadapan peserta seminar di Ballroom Cheng Hoo Universitas Mulia.

Lebih jauh, Sapri menjelaskan bahwa peran nanoteknologi dalam bidang farmasi sangat fundamental. Dengan kemampuan memanipulasi material pada skala di bawah 200 nanometer, teknologi ini mampu meningkatkan solubilitas, stabilitas, dan penargetan spesifik bahan alam. “Kita bisa meningkatkan bioavailabilitas senyawa seperti kurkumin dari kunyit hingga 10–20 kali lipat. Dosis bisa ditekan, efek samping berkurang, dan kerja obat menjadi lebih cepat,” paparnya.

Ia mencontohkan penerapan konsep targeted drug delivery, di mana nanopartikel mengantarkan zat aktif langsung ke sel sasaran, menghindari toksisitas sistemik, dan bahkan dapat dipantau secara real-time menggunakan nanomaterial cerdas. Pendekatan ini, lanjutnya, sangat menjanjikan untuk terapi penyakit kronis seperti diabetes dan kanker, sebagaimana telah diteliti oleh berbagai universitas di Indonesia.

Sebagai bentuk komitmen pengembangan riset, Program Studi Farmasi Universitas Mulia telah melibatkan mahasiswa dalam penelitian berbasis nanoteknologi. Salah satu riset yang sedang berjalan adalah pengembangan nanoemulsi ekstrak propolis lebah kelulut, hasil kerja sama dengan peternak Kampung Lebah Madsant di Kelurahan Margomulyo, Balikpapan Barat. Melalui riset ini, mahasiswa tidak hanya belajar formulasi, tetapi juga memahami rantai nilai bahan alam dari sumbernya.

Penyerahan cendera mata kepada narasumber Prof. apt. Muchtaridi, Ph.D. sebagai bentuk apresiasi atas penyampaian materi dalam Seminar Farmasi Nasional (SAFANA) 2025 di Universitas Mulia.

Sapri menilai, agar hasil penelitian benar-benar berdampak, hilirisasi harus diperkuat. “Riset yang baik tidak boleh berhenti di laboratorium. Perlu ada sinergi pentahelix antara akademisi, industri, pemerintah, masyarakat, dan media,” tegasnya. Ia menyebut sejumlah mitra yang telah menjalin kolaborasi dengan Universitas Mulia, antara lain BRIDA Kaltim, BRIN, BPSI Samboja, Kebun Raya Balikpapan, Universitas Islam Indonesia, dan Kampung Lebah Madsant.

Dalam aspek akademik, kurikulum Prodi Farmasi UM telah dirancang berbasis KKNI, KBK APTFI, dan Outcome-Based Education (OBE). Kurikulum tersebut mengintegrasikan mata kuliah inti seperti Farmakognosi, Bioteknologi Farmasi, serta Formulasi dan Teknologi Sediaan Farmasi untuk membangun landasan ilmiah yang kuat. “Kami ingin membentuk cara berpikir saintifik sekaligus kreatif. Komposisi pembelajarannya sekitar 60 persen teori dan 40 persen inovasi praktis,” jelasnya.

Pendekatan Research-Based Learning (RBL) diterapkan sejak semester lima, di mana mahasiswa diarahkan merancang eksperimen mandiri berbasis bahan lokal. Salah satunya pengembangan sistem penghantaran nano dari ekstrak propolis. Kegiatan ini diintegrasikan langsung dengan penelitian dosen sehingga mahasiswa mendapat pengalaman riset yang nyata dan relevan dengan isu kesehatan kontemporer.

Sapri menambahkan, Prodi Farmasi UM juga memfasilitasi mahasiswa dengan akses penuh ke laboratorium, bahan, dan peralatan penelitian. “Mereka tidak hanya mengamati, tetapi juga terlibat langsung dalam formulasi sediaan farmasi dengan bimbingan dosen. Proses ini penting untuk menanamkan budaya ilmiah dan kemandirian riset sejak dini,” ujarnya.

Di akhir wawancara, Sapri menegaskan bahwa penyelenggaraan SAFANA 2025 diharapkan menjadi katalis bagi peningkatan kualitas riset dan publikasi ilmiah di lingkungan Universitas Mulia. “Kami ingin mendorong dosen dan mahasiswa agar hasil risetnya tidak berhenti di laporan internal, tetapi dapat terpublikasi di jurnal nasional terakreditasi, bahkan terindeks Scopus,” katanya. (YMN)

Balikpapan, 16 Oktober 2025 – Seminar Farmasi Nasional (SAFANA) 2025 yang digelar di Ballroom Cheng Hoo Universitas Mulia, Kamis (16/10), menjadi ajang bertemunya akademisi, peneliti, dan praktisi farmasi dari berbagai perguruan tinggi Indonesia. Tahun ini, SAFANA mengangkat tema “Eksplorasi Bahan Alam dengan Nanoteknologi: Menjawab Tantangan Kesehatan Masa Depan.”

Ketua Panitia, Sapri, M.Farm., dalam sambutannya menekankan bahwa pemanfaatan teknologi nano merupakan langkah strategis untuk memperkuat riset bahan alam di Indonesia. Menurutnya, tumbuhan dan mikroba memiliki potensi bioaktif yang dapat dimaksimalkan melalui pendekatan nanoteknologi, sehingga mampu meningkatkan efektivitas terapi sekaligus meminimalkan efek samping.

Apt. Warrantia Citta Citti Putri, S.Farm., M.Sc., Ketua Program Studi Farmasi Universitas Mulia, memberikan sambutan pada pembukaan Seminar Farmasi Nasional (SAFANA) 2025 di Ballroom Cheng Hoo, Kamis (16/10).

“Rekayasa skala nano memberi peluang baru dalam pengembangan produk farmasi yang lebih presisi. Pendekatan ini penting untuk menghadapi berbagai tantangan kesehatan, mulai dari resistensi antimikroba, penyakit degeneratif, hingga ancaman pandemi global,” ujar Sapri di hadapan peserta seminar.

Ia juga menggarisbawahi bahwa arah kebijakan nasional telah menempatkan nanoteknologi sebagai bagian penting dari masa depan industri farmasi Indonesia. “Pemerintah melalui Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 7 Tahun 2022 mendorong integrasi teknologi nano dalam pengembangan obat berbasis bahan alam. Ini menunjukkan bahwa riset farmasi tidak bisa lagi berdiri sendiri, melainkan harus bergerak dalam kolaborasi lintas disiplin,” tambahnya.

Lebih jauh, Sapri mengaitkan tema SAFANA dengan target Sustainable Development Goals (SDGs) 2030, khususnya pada aspek kesehatan yang berkelanjutan. Ia menyebut bahwa perubahan iklim, polusi, dan munculnya penyakit baru menuntut model riset yang tidak hanya fokus pada inovasi ilmiah, tetapi juga keberlanjutan ekosistem kesehatan secara global.

Melalui SAFANA 2025, panitia menegaskan tiga tujuan utama: memfasilitasi pertukaran pengetahuan tentang inovasi bahan alam berskala nano; memperkuat jejaring antara akademisi, praktisi, dan industri; serta meningkatkan kesadaran publik akan peran teknologi nano dalam sistem kesehatan nasional.

Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber utama, Prof. apt. Muchtaridi, Ph.D. dan Prof. Dr. apt. Yandi Syukri, S.Si., M.Si., serta diikuti peserta dari berbagai perguruan tinggi, baik secara luring maupun daring. Sebanyak 25 makalah dipresentasikan — terdiri atas 11 pemakalah luring, 12 pemakalah daring, dan 2 poster ilmiah.

Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Mulia, Wisnu Hera Pamungkas, S.T.P., M.Eng., menyampaikan sambutan mewakili Rektor yang berhalangan hadir pada acara pembukaan SAFANA 2025 di Kampus Cheng Hoo, Balikpapan.

Institusi yang berpartisipasi antara lain Politeknik Nusantara Balikpapan, Institut Teknologi Sumatra, Universitas Padjadjaran, Universitas Mulawarman, Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA, Universitas Islam Indonesia, Universitas Hang Tuah, Universitas Sam Ratulangi, dan Universitas Indraprasta PGRI.

Penyelenggaraan SAFANA tahun ini merupakan hasil kolaborasi Universitas Mulia, Politeknik Nusantara Balikpapan, dan Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) Provinsi Kalimantan Timur. Dukungan sponsor juga datang dari sejumlah lembaga dan perusahaan, di antaranya Yayasan Airlangga Balikpapan, PT Ganda Alam Makmur, PT Promed Nusantara Jaya, Apotek Arka Medika, PT Ubylab Medika Pratama, Pertamina Hulu Mahakam, SKK Migas, Squadesh, Entrasol, Klinik Laboratorium Cito, Natasha, dan PT Eralika Mitra Buana.

uasana Seminar Farmasi Nasional (SAFANA) 2025 yang berlangsung di Ballroom Cheng Hoo Universitas Mulia, diikuti oleh peserta dari berbagai perguruan tinggi secara luring dan daring.

Di akhir sambutannya, Sapri menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang berkontribusi dalam penyelenggaraan seminar. “Terima kasih kepada panitia, sponsor, dan seluruh peserta yang telah hadir. Semoga diskusi ilmiah hari ini menghasilkan gagasan yang dapat memperkuat riset farmasi Indonesia dan membawa manfaat bagi masyarakat luas,” tuturnya.

SAFANA 2025 menjadi ruang ilmiah yang menegaskan posisi Universitas Mulia sebagai institusi yang aktif mendorong riset terapan dan kolaborasi multidisiplin di bidang kesehatan. Melalui pendekatan bahan alam dan teknologi nano, seminar ini membuka arah baru bagi pengembangan farmasi Indonesia yang berorientasi pada keberlanjutan dan daya saing global. (YMN)