Judul: Kecerdasan Buatan untuk Laut Indonesia: Inovasi Teknologi dalam Konservasi Ekosistem Kelautan
Penulis: Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i, Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I., dan Dr. Hadiratul Kudsiah
Editor: Dyah Ayu Noor Afifah
Desain Sampul: Syifa
Tata Letak Isi: Nara Apta
Ukuran: 14,8 x 21 cm | Halaman: xix + 480
Edisi: I (25 Juli 2025)
ISBN: 978-634-7174-77-2
Penerbit: Filosofi Indonesia Press, Yogyakarta

Laut sebagai Ruang Pengetahuan dan Data

Buku Kecerdasan Buatan untuk Laut Indonesia membuka wacana baru tentang bagaimana laut tidak hanya dilihat sebagai bentang geografis, tetapi juga sebagai ruang pengetahuan dan sumber data. Digarap oleh tiga penulis lintas bidang—Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si. (Rektor Universitas Mulia), Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I. (Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Universitas Mulia), dan Dr. Hadiratul Kudsiah (Universitas Hasanuddin)—buku ini menggeser cara pandang konservasi dari kerja manual menjadi kerja berbasis algoritma, sensor, dan pembelajaran mesin.

Buku setebal hampir lima ratus halaman ini bukan kumpulan teori, melainkan kerangka kerja yang hidup: bagaimana ilmu kelautan, teknologi, dan kebijakan publik bisa disatukan dalam satu tujuan—menyelamatkan ekosistem laut dengan kecerdasan buatan.

Kerja Kolaboratif Lintas Disiplin

Kolaborasi tiga penulis dengan latar belakang berbeda menjadi kekuatan utama karya ini. Prof. Ahsin Rifa’i, dengan ketajaman akademiknya di bidang lingkungan dan teknologi, memetakan arah konseptual. Yusuf Wibisono menulis dengan detail teknis yang presisi, membumikan konsep AI dan big data ke dalam konteks ekosistem laut Indonesia. Sementara Dr. Hadiratul Kudsiah menghadirkan lapisan empiris dari sisi biologi kelautan dan kebijakan konservasi.

Hasilnya adalah teks yang tegas dan berimbang: sains tidak kehilangan kedalaman, dan teknologi tidak kehilangan arah moralnya.

Ekosistem Laut: Dari Biodiversitas ke Tantangan Kebijakan

Bab IV menjadi tulang punggung penjelasan ekologis. Keanekaragaman hayati laut, mulai dari terumbu karang hingga lamun dan mangrove, dipaparkan dengan pendekatan ilmiah yang ringkas dan faktual. Bab ini menegaskan bahwa laut Indonesia menyimpan modal biologis dan ekonomi yang luar biasa, namun rapuh akibat polusi, eksploitasi, dan lemahnya tata kelola.

Regulasi nasional dan internasional, serta peran masyarakat sipil, ditampilkan bukan sebagai daftar formal, melainkan sebagai bagian dari sistem sosial yang menentukan keberhasilan konservasi.

Teknologi sebagai Instrumen Etika

Mulai Bab VI, pembaca diajak masuk ke wilayah yang jarang disentuh oleh literatur kelautan di Indonesia: penggunaan sensor, bioakustik, citra satelit, dan drone laut. Bagian ini menunjukkan bagaimana pengawasan laut dapat berpindah dari laporan manual ke sistem berbasis data waktu nyata.

Yusuf Wibisono menulis dengan pendekatan teknologis yang efisien namun tidak kering. Ia menekankan bahwa teknologi hanyalah instrumen—etika dan kesadaran ekologis manusia tetap menjadi pengendalinya.

Di titik ini, buku ini menolak glorifikasi teknologi. AI, sebagaimana ditegaskan oleh Prof. Ahsin Rifa’i dalam salah satu kutipan, harus “ditempatkan untuk kemaslahatan laut, bukan untuk mempercepat eksploitasinya.”

AI dan Laut sebagai Subjek Analisis

Bab VII dan VIII merupakan bagian paling kuat dari keseluruhan buku. Di sinilah kecerdasan buatan diperlakukan bukan sekadar alat bantu, melainkan subjek analisis konservasi. Algoritma diposisikan sebagai entitas yang mampu belajar dari pola ekosistem laut—mendeteksi anomali suhu, perubahan arus, mikroplastik, hingga pergerakan populasi ikan.

Pendekatan ini menandai pergeseran besar dalam paradigma konservasi Indonesia: dari konservasi berbasis pengamatan lapangan menuju konservasi berbasis prediksi dan simulasi data.

Lebih jauh, buku ini membahas integrasi AI dengan kebijakan publik, pencegahan illegal fishing, dan pembangunan ekonomi biru yang etis. Semuanya dijabarkan tanpa jargon berlebihan, menjadikan konsep yang kompleks terasa dapat diakses.

Keadilan Digital dan Ketimpangan Akses

Penulis tidak menutup mata terhadap persoalan struktural. Bab IX membedah hambatan yang sering diabaikan: infrastruktur digital yang timpang antara wilayah pesisir dan pusat kota, kesenjangan sumber daya manusia, hingga dilema etis dalam pengumpulan dan pemanfaatan data laut.

Sikap reflektif ini membuat buku ini lebih dari sekadar dokumentasi ilmiah—ia menjadi cermin sosial dan politik ilmu pengetahuan. Buku ini menegaskan bahwa tanpa keadilan digital, inovasi teknologi hanya akan memperluas ketimpangan.

Kasus dan Pembelajaran Nyata

Bab X menampilkan studi kasus, baik dari Indonesia maupun negara lain. Dari proyek pemantauan terumbu karang di Raja Ampat Papua Barat hingga penerapan drone bawah laut di Norwegia, penulis menempatkan Indonesia dalam peta global inovasi konservasi.

Kelebihan bagian ini terletak pada keseimbangan antara optimisme dan realisme. Penulis tidak memuja keberhasilan, tetapi menimbangnya dengan kejujuran akademik: bahwa setiap teknologi membawa risiko, dan setiap kemajuan memerlukan kebijakan yang matang.

Penutup

Kecerdasan Buatan untuk Laut Indonesia adalah peta intelektual tentang hubungan manusia, laut, dan teknologi. Ia menyatukan disiplin yang jarang bersinggungan dan melahirkan percakapan baru dalam dunia akademik Indonesia: bahwa laut bukan hanya ruang eksploitasi ekonomi, tetapi ruang moral, pengetahuan, dan inovasi.

Buku ini menegaskan bahwa konservasi laut masa depan tidak hanya bergantung pada niat baik manusia, melainkan pada kemampuan bangsa ini mengelola pengetahuan dan teknologi dengan nurani. (YMN)

Balikpapan, 10 Oktober 2025 — Laut Indonesia, kendati kaya keanekaragaman hayati, kini berada di bawah tekanan eksploitasi, polusi, dan perubahan iklim. Di tengah tantangan itu, Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si., Rektor Universitas Mulia, menggagas cara pandang baru melalui buku Kecerdasan Buatan untuk Laut Indonesia: Inovasi Teknologi dalam Konservasi Ekosistem Kelautan, yang ia tulis bersama Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I. (Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Universitas Mulia) dan Dr. Hadiratul Kudsiah dosen Universitas Hasanuddin Makassar.

Sampul buku “Kecerdasan Buatan untuk Laut Indonesia: Inovasi Teknologi dalam Konservasi Ekosistem Kelautan” karya Prof. Dr. Muhammad Ahsin Rifa’i dan Yusuf Wibisono.

“Indonesia adalah negara maritim superkaya biodiversitas, namun tertekan oleh eksploitasi berlebih, polusi, dan dampak iklim. Metode konservasi konvensional saja tidak cukup, karena itu kami menulis buku ini untuk mendorong adopsi teknologi terutama AI agar pemantauan, analisis, dan pengambilan keputusan konservasi menjadi lebih cepat, presisi, dan berbasis bukti,” ungkap Prof. Ahsin.

Dari Keterbatasan Lapangan ke Gagasan Humanistik Teknologi

Ide buku ini berangkat dari kesenjangan antara kebutuhan konservasi real-time dan keterbatasan instrumen di lapangan. Prof. Ahsin menegaskan, Universitas Mulia membawa visi technopreneurship yang berpusat pada manusia (human-centered technopreneurship) dengan semangat “AI untuk kemaslahatan manusia dan laut.”

Baginya, teknologi harus menempati posisi etis: bukan sekadar perangkat mekanis, melainkan sarana pemulihan ekosistem, pemberdayaan masyarakat pesisir, dan penguatan kebijakan publik berbasis data.

Tiga Ancaman Nyata dan Satu Masalah Pokok

Prof. Ahsin menyoroti tiga persoalan paling mendesak di laut Indonesia: praktik penangkapan destruktif dan IUU fishing, polusi plastik dan mikroplastik, serta dampak perubahan iklim seperti pemutihan karang dan kenaikan muka air laut.
Namun di balik itu, ia menegaskan adanya akar sistemik: kesenjangan data dan lemahnya infrastruktur pemantauan, yang membuat kebijakan konservasi sering tertinggal dari dinamika kerusakan di lapangan.

Kampus sebagai Ruang Orkestrasi Pengetahuan

Dalam pandangan Prof. Ahsin, perguruan tinggi memiliki peran yang tak tergantikan dalam merangkai disiplin yang tampak berjauhan—dari AI dan data science, hingga ekologi, kebijakan publik, dan sosial maritim.

“Kampus menyediakan metodologi, validasi ilmiah, dan integrasi lintas-disiplin agar solusi tidak spekulatif. Publikasi seperti buku ini merangkum bukti, mengonversinya menjadi strategi yang bisa diadopsi pemerintah, LSM, dan komunitas pesisir,” ujarnya.

Universitas Mulia, lanjutnya, tengah menyiapkan pendekatan pembelajaran dan riset yang menghubungkan laboratorium data laut, sistem IoT dan citra satelit, bioakustik, serta etika dan tata kelola AI, agar teknologi diadopsi secara aman, inklusif, dan berkelanjutan.

Kolaborasi Tiga Ilmuwan Lintas Disiplin

Dalam proses penulisan, masing-masing penulis berkontribusi sesuai kepakaran. Prof. Ahsin dan Hadiratul Kudsiah menyusun fondasi ekosistem dan peta ancaman lingkungan laut, sedangkan Yusuf Wibisono, pakar teknologi dan data dari Universitas Mulia, mengembangkan kerangka machine learning, sensor, dan penerapan AI untuk deteksi IUU fishing, pemantauan mikroplastik, serta prediksi iklim laut.

“Kami menyatukan hasilnya melalui tinjauan bersama agar narasi ilmiah, kebijakan, dan praktik lapangan klop. Hasilnya adalah peta jalan integrasi teknologi kelautan yang aplikatif, bukan sekadar konseptual,” kata Prof. Ahsin.

Rektor Universitas Mulia, Prof. Dr. Muhammad Ahsin Rifa’i, menunjukkan buku karyanya bersama Yusuf Wibisono berjudul “Kecerdasan Buatan untuk Laut Indonesia” saat wawancara eksklusif di ruang kerjanya

Menuju Konservasi Berbasis Kecerdasan

Buku ini bukan sekadar panduan akademik, melainkan ajakan reflektif: bagaimana kecerdasan buatan dapat menjadi bagian dari etika lingkungan dan masa depan konservasi Indonesia.

“Laut Indonesia adalah laboratorium hidup yang membutuhkan kecerdasan manusia dan mesin sekaligus,” tutup Prof. Ahsin. “Kita harus memastikan bahwa teknologi yang kita kembangkan benar-benar berpihak pada kehidupan.” (YMN)

Dua buah buku diterima oleh Azhar Shofiyah, petugas Perpustakaan Satria Dharma, di lantai 4 Gedung White Campus, Kampus Utama Balikpapan, Senin (6/10/2025). Foto: SA/Kontributor

UM – Sebuah risalah penting yang mengupas tuntas permasalahan dan solusi kelangkaan air bersih di Kota Balikpapan kini telah terbit dalam bentuk buku.

Dengan judul “Forum Group Discussion (FGD) Kelangkaan Air Bersih di Kota Balikpapan”, buku setebal 161 halaman ini merupakan hasil kolaborasi strategis para narasumber, atas kerjasama Balikpapan Water Forum (BWF) dengan Universitas Mulia.

Buku yang disusun oleh CEO Balikpapan Water Forum, Dr. Agung Sakti Pribadi, S.H., M.H., ini merangkum pemikiran, analisis, dan rekomendasi dari para ahli yang berkumpul dalam Focus Group Discussion (FGD) yang digelar di Ballroom Cheng Ho Universitas Mulia pada Rabu, 31 Juli 2024 lalu.

Dalam kata pengantarnya, Dr. Agung Sakti Pribadi menegaskan bahwa buku ini bukan sekadar catatan diskusi, melainkan sebuah komitmen bersama untuk masa depan air di kota penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN) ini. Ia menekankan bahwa air adalah isu peradaban yang fundamental.

“Semoga risalah pemikiran dalam buku ini menjadi penggugah bahwa air tidak dapat dicipta ulang, namun dapat dijaga, ditata, dan dipulihkan dengan pengetahuan, kerja keras, dan kesungguhan kita,” tulis Dr. Agung. Ia berharap buku ini dapat menjadi pemantik gagasan baru yang lebih solutif dan membumi untuk mengatasi krisis air.

Sampul depan Buku Kelangkaan Air Bersih di Kota Balikpapan. Foto: SA/Kontributor

Sampul depan Buku Kelangkaan Air Bersih di Kota Balikpapan. Foto: SA/Kontributor

Kata Pengantar dari CEO Balikpapan Water Forum Dr. Agung Sakti Pribadi. Foto: SA/Kontributor

Kata Pengantar dari CEO Balikpapan Water Forum Dr. Agung Sakti Pribadi. Foto: SA/Kontributor

Dukungan penuh atas terbitnya buku ini juga tersirat dari sambutan Wali Kota Balikpapan, H. Rahmad Mas’ud, S.E., M.E., yang termuat di dalamnya. Wali Kota mengapresiasi inisiatif tersebut sebagai langkah konkret untuk mencari solusi atas permasalahan krusial yang dihadapi kota.

Wali Kota Rahmad Mas’ud mengakui bahwa Balikpapan, dengan pertumbuhan penduduk dan ekonomi yang pesat, memiliki tantangan besar dalam penyediaan air bersih.

“Hal ini berbanding lurus dengan meningkatnya kebutuhan akan air bersih, sementara ketersediaan sumber daya air bersih di kota kita masih sangat terbatas,” ujar Wali Kota dalam sambutannya.

Wali Kota berharap forum dan buku yang dihasilkannya dapat melahirkan rekomendasi konstruktif.

“Saya sangat mengapresiasi inisiatif Universitas Mulia Balikpapan dalam menyelenggarakan FGD ini. Saya berharap, melalui forum ini, kita dapat bertukar pikiran, berbagi pengetahuan, dan menghasilkan rekomendasi yang konstruktif untuk mengatasi masalah kelangkaan air di Kota Balikpapan,” tambahnya.

Buku ini memuat berbagai isu strategis, mulai dari ketergantungan pada air permukaan, dampak limbah domestik dan industri, hingga risiko bencana seperti banjir dan kekeringan.

Dengan pemaparan yang komprehensif, buku ini sangat relevan untuk dijadikan bahan kajian ilmiah, referensi bagi para pembuat kebijakan, serta sumber pengetahuan bagi mahasiswa dan masyarakat umum yang peduli terhadap isu lingkungan perkotaan.

Bagi masyarakat, akademisi, dan para pemangku kepentingan yang ingin mendalami lebih lanjut hasil pemikiran para pakar mengenai krisis air di Balikpapan, buku ini sudah dapat diakses.

Buku Forum Group Discussion (FGD) Kelangkaan Air Bersih di Kota Balikpapan bisa dipinjam di Perpustakaan Satria Dharma, Gedung White Campus, Universitas Mulia pada jam kerja.

(SA/Kontributor)

Balikpapan, 8 Oktober 2025 — Pelaksanaan Pasar Pagi Mulia di Bay Park Plaza tidak hanya menghadirkan bazar dan pertunjukan musik, tetapi juga sejumlah kegiatan kreatif bagi masyarakat dan mahasiswa.

Salah satunya adalah Yoga & Sound Bath Class, sesi relaksasi yang dipandu instruktur yoga dan fasilitator sound bath. Kegiatan ini memberi kesempatan bagi pengunjung untuk merasakan suasana tenang di tengah keramaian acara.

Selain itu, Workshop Beads & Craft menjadi ruang bagi peserta untuk belajar membuat perhiasan manik-manik dan aksesori buatan tangan. Kegiatan ini menarik minat pengunjung dari berbagai kalangan.

 

Program Studi PG PAUD Universitas Mulia juga terlibat dengan menggelar Lomba Mewarnai Anak-anak yang diikuti lebih dari 50 peserta dari berbagai sekolah di Balikpapan.

Dari kalangan muda, K-Pop Dance Competition & Coswalk Parade menjadi salah satu bagian acara yang paling ramai dikunjungi. Komunitas pecinta budaya populer dari Balikpapan berpartisipasi aktif menampilkan kreativitas mereka.

Selain itu, kegiatan SMADA.COM Wanted hasil kolaborasi dengan SMA Negeri 2 Balikpapan menampilkan karya siswa SMA/SMK. Kegiatan ini memberi ruang bagi generasi muda untuk memperlihatkan karya mereka di luar lingkungan sekolah.

Keseluruhan kegiatan tersebut menunjukkan keterlibatan aktif mahasiswa dan masyarakat dalam satu ruang kegiatan yang terbuka dan kreatif. (YMN)

Balikpapan 8 Oktober 2025— Penyelenggaraan Pasar Pagi Mulia mendapat dukungan dari Yayasan Airlangga dan Universitas Mulia. Dukungan tersebut menjadi salah satu faktor penting keberhasilan kegiatan yang melibatkan banyak mahasiswa dan komunitas lokal.

Panitia berharap dukungan serupa juga dapat diberikan oleh Rektorat dan tim Marketing kampus pada kegiatan berikutnya. Menurut panitia, Pasar Pagi Mulia memiliki potensi besar dalam memperkuat hubungan eksternal dan memperluas jangkauan promosi Universitas Mulia di masyarakat.

Kegiatan ini memberi pengalaman langsung bagi mahasiswa untuk bekerja dalam tim lintas bidang dan berinteraksi dengan pelaku usaha kecil. UMKM lokal juga mendapatkan manfaat ekonomi dan promosi dari tingginya jumlah pengunjung setiap harinya.

Panitia menyampaikan bahwa tidak ada kendala besar selama kegiatan berlangsung. Semua tahapan, mulai dari persiapan hingga pelaksanaan, berjalan lancar karena dikerjakan bersama oleh panitia dan relawan mahasiswa.

Pasar Pagi Mulia menunjukkan peran kampus dalam membuka ruang keterlibatan mahasiswa dan masyarakat dalam satu kegiatan yang produktif. (YMN)

 

 

Balikpapan 8 Oktober 2025—Pasar Pagi Mulia kembali digelar di Bay Park Plaza Balikpapan. Kegiatan ini diinisiasi oleh Domain Creative Bureau bersama sivitas Universitas Mulia dan telah terselenggara sebanyak empat kali dalam sembilan bulan terakhir. Tiga edisi sebelumnya berlangsung di lingkungan kampus dan satu edisi di Plaza Balikpapan.

Menurut panitia, kegiatan ini berangkat dari gagasan Domain Creative Bureau yang ingin mempertemukan mahasiswa dengan komunitas lokal dan pelaku UMKM. Pasar Pagi Mulia berkembang menjadi kegiatan yang membuka ruang interaksi antara kampus dan masyarakat.

Pada penyelenggaraan kali ini, lebih dari 30 tenant lokal dan sejumlah komunitas seni terlibat. Sepuluh band dari Balikpapan dan Samarinda tampil di panggung utama, di antaranya The Bani, Gaharu, Daffa & The Kuncoros, Leonora, Here to Stay, Justicia, Renaldy Rizky, Paw’s Letter, MARA, dan Murphy Radio.

Murphy Radio menjadi salah satu penampil yang menarik perhatian. Band ini sebelumnya telah melakukan tur di Eropa, dan usai kegiatan ini dijadwalkan tampil di China dan Jepang.

Selain menampilkan musik dan bazar, kegiatan ini juga melibatkan mahasiswa dari berbagai fakultas. Fakultas Ilmu Komputer membuka booth warkom yang menjual camilan buatan mahasiswa. Program Studi PG PAUD mengadakan lomba mewarnai untuk 50 anak, sementara 10 anggota BEM Universitas Mulia membantu operasional kegiatan dari awal hingga selesai. (YMN)

 

Balikpapan, 30 September 2025 – Universitas Mulia kini semakin memperkuat langkahnya dalam membangun budaya mutu dan tata kelola pendidikan tinggi yang berkualitas. Sebanyak 16 dosen resmi dinyatakan lulus sebagai Auditor Mutu Internal (AMI) setelah mengikuti pelatihan intensif selama dua hari pada 10–11 September 2025 dan menempuh serangkaian uji sertifikasi yang mencakup uji kompetensi teknis dan psikotest khusus auditor.

Pelatihan ini menjadi bagian penting dari strategi universitas dalam meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di bidang penjaminan mutu. Selama proses pelatihan, para peserta mendapatkan pembekalan menyeluruh mulai dari pemahaman regulasi dan standar mutu pendidikan tinggi, teknik audit dan penyusunan laporan, hingga simulasi audit lapangan. Materi disampaikan oleh para praktisi dan narasumber berpengalaman di bidang penjaminan mutu perguruan tinggi, sehingga peserta tidak hanya dibekali pengetahuan teoretis, tetapi juga keterampilan praktis yang relevan dengan kebutuhan audit di lingkungan universitas.

Wakil Rektor Bidang Sumber Daya, Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I., menyampaikan bahwa keberhasilan ini merupakan momentum penting bagi Universitas Mulia dalam memperkuat komitmen terhadap mutu tridharma perguruan tinggi. “Fokus kita bukan pada skor individu, tetapi pada kenyataan bahwa sekarang Universitas Mulia memiliki 16 auditor bersertifikat yang siap bekerja memastikan mutu tridharma berjalan sesuai standar,” ujarnya. Ia menambahkan, keberadaan para auditor baru ini akan memperkuat pelaksanaan audit di seluruh fakultas, program studi, dan unit kerja, sekaligus memastikan bahwa hasil audit dapat dijadikan dasar pengambilan keputusan dan perencanaan perbaikan berkelanjutan.

Lebih jauh, Wibisono menjelaskan bahwa keberadaan auditor internal merupakan salah satu elemen vital dalam penerapan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) di perguruan tinggi. SPMI merupakan instrumen utama untuk memastikan seluruh proses pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat berjalan sesuai standar nasional dan visi institusi. Implementasinya dilakukan melalui siklus PPEPP (Penetapan, Pelaksanaan, Evaluasi, Pengendalian, dan Peningkatan) yang harus dijalankan secara berkelanjutan. Dalam konteks ini, audit mutu internal menempati posisi strategis pada tahap Evaluasi, yaitu memeriksa sejauh mana standar telah diterapkan secara efektif dan konsisten.

“Evaluasi yang objektif tidak dapat dilakukan oleh pimpinan unitnya sendiri. Di sinilah peran auditor dari unit lain menjadi penting untuk memastikan proses evaluasi berlangsung secara independen, profesional, dan dapat dipertanggungjawabkan,” terang Wibisono.

Meski demikian, pelaksanaan AMI di perguruan tinggi tidak lepas dari tantangan. Salah satunya adalah membangun kesadaran dan sikap positif di setiap unit kerja terhadap kehadiran auditor. Menurut Wibisono, paradigma berpikir tentang audit harus bergeser dari kesan pengawasan yang menakutkan menjadi kemitraan yang konstruktif. “Auditor tidak datang untuk mencari kesalahan, tetapi membantu unit kerja melihat sejauh mana standar telah diterapkan dan di mana peluang perbaikannya. Audit seharusnya disambut sebagai upaya kolaboratif dalam memperkuat kualitas institusi,” ujarnya.

Wibisono juga menekankan bahwa kompetensi teknis saja tidak cukup untuk menjadi auditor. Integritas, sikap profesional, dan sensitivitas terhadap konteks kerja menjadi faktor yang tidak kalah penting. Seorang auditor dituntut tidak bersikap arogan atau menghakimi, namun tetap tegas, objektif, dan berpegang pada fakta. “Peran normatif auditor adalah memastikan bahwa seluruh standar yang telah ditetapkan benar-benar dilaksanakan. Namun pada saat yang sama, auditor juga perlu memiliki kepekaan untuk melihat peluang perbaikan dalam semangat continuous improvement,” tegasnya.

Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Universitas Mulia, Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I., saat berdiskusi pada sesi tanya jawab dalam pelatihan Sertifikasi Auditor Mutu Internal (AMI) beberapa waktu lalu.

Ia menambahkan bahwa jika auditor menemukan bahwa suatu standar terlalu mudah dicapai, hal itu dapat menjadi indikasi perlunya peningkatan standar tersebut agar proses pelaksanaan tridharma maupun layanan institusi terus terdorong ke arah yang lebih baik. “Proses perbaikan ini tidak boleh berhenti. Justru harus terus berlanjut agar memberikan dampak nyata terhadap peningkatan mutu institusi secara menyeluruh,” tambahnya.

Kehadiran 16 auditor baru ini tidak hanya menjadi capaian administratif, tetapi juga langkah strategis yang menguatkan fondasi tata kelola Universitas Mulia. Hal ini semakin relevan mengingat pada tahun 2026, universitas akan memasuki fase transformasi menjadi Research and Innovation University, setelah sebelumnya berfokus pada peran sebagai Teaching University. Perubahan orientasi ini menuntut standar mutu yang lebih tinggi, pengelolaan yang lebih sistematis, dan budaya perbaikan berkelanjutan di seluruh lini organisasi.

“Para auditor ini akan menjadi bagian dari ekosistem mutu yang memastikan seluruh proses berjalan sesuai standar, terus diperbarui, dan memberikan dampak nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan, inovasi, serta pengabdian kepada masyarakat. Ini adalah langkah awal yang penting untuk membawa Universitas Mulia ke level yang lebih tinggi,” pungkas Wibisono. (YMN)

Hari Kesaktian Pancasila bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum untuk menghayati nilai persatuan yang lahir dari peristiwa G30S/PKI, sebagai pengingat bahwa hanya dengan pengamalan Pancasila bangsa ini mampu menghadapi ancaman ideologi apa pun.”—Dr. Agung Sakti Pribadi, S.H., M.H.

Balikpapan 1 Oktober 2025 Peristiwa Gerakan 30 September 1965 atau yang dikenal sebagai G30S/PKI masih menjadi salah satu catatan kelam perjalanan bangsa. Menurut Dr. Agung Sakti Pribadi, dosen Pancasila Universitas Mulia, peristiwa itu merupakan upaya kudeta yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) untuk menggulingkan pemerintahan Presiden Soekarno dan menjadikan Indonesia sebagai negara komunis.

“Upaya tersebut berhasil diredam oleh TNI, dan peristiwa ini diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila untuk mengenang gugurnya pahlawan revolusi serta mengingatkan masyarakat tentang pentingnya Pancasila sebagai dasar negara. Dengan demikian, peristiwa G30S/PKI menjadi momentum penting untuk memperkuat nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” ujarnya.

Dr. Agung menegaskan bahwa istilah “Hari Kesaktian Pancasila” memiliki arti simbolik yang mendalam. Menurutnya, peringatan ini bukan sekadar upaya mengenang peristiwa sejarah, tetapi juga sarana untuk meningkatkan nasionalisme dan patriotisme generasi muda.

Menyampaikan Sejarah secara Objektif

Ia menekankan pentingnya penyampaian kisah G30S/PKI kepada generasi muda secara obyektif. “Informasi tentang peristiwa 1965 harus disajikan akurat dan seimbang, tanpa berpihak pada sudut pandang tertentu. Tujuannya bukan menumbuhkan kebencian, melainkan memperkuat cinta tanah air dengan menekankan nilai-nilai persatuan, menjaga kerukunan, dan menumbuhkan toleransi,” jelasnya.

Pancasila sebagai Pedoman Pencegahan Ideologi yang Mengancam

Menurut Dr. Agung, Pancasila dapat dijadikan pedoman untuk mencegah lahirnya kembali ideologi yang mengancam persatuan bangsa melalui beberapa langkah. Pertama, menginternalisasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, seperti toleransi, keadilan, dan persatuan. Kedua, meningkatkan kesadaran akan pentingnya identitas nasional. Ketiga, mendorong terbentuknya masyarakat yang inklusif dan toleran, di mana setiap orang dapat hidup berdampingan secara damai.

Pesan untuk Mahasiswa dan Masyarakat

Kepada mahasiswa dan masyarakat luas, ia berpesan agar peringatan 1 Oktober tidak berhenti pada seremoni. “Peringatan ini harus dimaknai dengan memahami nilai-nilai yang terkandung, menginternalisasi Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, serta menjadi agen perubahan yang memperkuat persatuan bangsa,” tegasnya.

Mengelola Ingatan Kolektif Bangsa

Dr. Agung juga menyoroti pentingnya negara dalam mengelola ingatan kolektif tentang peristiwa 1965 dengan cara yang adil dan seimbang. Beberapa hal yang perlu dilakukan, menurutnya, adalah mengakui dan menghormati korban, menyajikan informasi yang akurat tanpa keberpihakan, serta meningkatkan kesadaran tentang pentingnya menjaga persatuan dan kerukunan. Selain itu, pendidikan karakter berbasis nilai-nilai Pancasila harus diperkuat, mencakup toleransi, keadilan, dan persatuan.

Pelajaran Besar dari G30S/PKI

Ia menyebut ada tiga pelajaran penting dari peristiwa G30S. Pertama, perlunya menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Kedua, pentingnya penghormatan terhadap hak asasi manusia. Ketiga, urgensi mengembangkan masyarakat inklusif dan toleran sebagai upaya mencegah konflik.

Peran Perguruan Tinggi

Menutup refleksinya, Dr. Agung menekankan peran strategis perguruan tinggi dalam merawat nilai-nilai Pancasila melalui kajian sejarah kritis. “Perguruan tinggi dapat mengembangkan kajian yang membantu memahami peristiwa masa lalu secara akurat dan seimbang, meningkatkan kesadaran akan pentingnya Pancasila, serta mengembangkan pendidikan karakter berbasis nilai-nilai toleransi, keadilan, dan persatuan. Selain itu, perguruan tinggi perlu mencegah politisasi masa lalu dengan tetap menghadirkan kajian sejarah yang objektif,” pungkasnya.

Dengan demikian, menurut Dr. Agung, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab penting dalam merawat nilai-nilai Pancasila dan menjaga semangat persatuan bangsa melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian. (YMN)

Balikpapan, 23 September 2025 – Keberhasilan Universitas Mulia (UM) melangkah ke tahap kedua Anugerah Humas Diktisaintek 2025 tidak lepas dari peran Media Kreatif yang selama ini konsisten mengelola konten di berbagai platform digital. Kepala Media Kreatif UM, Hasnawi, berbagi pandangan mengenai proses kerja timnya dalam mendukung kinerja Humas universitas.

Menurut Hasnawi, Media Kreatif berfungsi menerjemahkan strategi humas menjadi konten yang bercerita sekaligus menyesuaikan diri dengan karakter audiens. “Media kreatif berhasil menerjemahkan strategi humas menjadi konten yang bercerita serta menyesuaikan dengan audiens di berbagai platform yang pastinya tidak terlepas dari tujuan utama yaitu membangun citra profesional yang memberikan dampak nyata,” ujarnya.

Dalam menjaga konsistensi, tim Media Kreatif menerapkan prinsip satu sumber, beragam konten. Website kampus dijadikan rujukan utama, sementara Instagram dan TikTok menampilkan sisi humanis dengan pendekatan visual yang lebih menarik. “Website adalah sumber informasi yang lengkap di Universitas Mulia dan Instagram serta TikTok Media Kreatif berusaha menampilkan sisi humanis dan visual yang menarik. Sumber informasinya sama, tapi kemasannya berbeda,” jelasnya.

Proses kreatif tim juga berjalan dengan metodologi SMART (Specific, Measurable, Achievable, Relevant, Time-bound) agar setiap strategi terarah dan terukur. “Selama ini kami mencoba menerapkan metodologi SMART untuk memastikan setiap strategi lebih terarah dan efektif,” tutur Hasnawi.

Meski demikian, tantangan tetap hadir, terutama dalam menjaga konsistensi di tengah perubahan tren yang begitu cepat. Ia menyebut ada dua pendekatan yang dilakukan tim. “Sebisa mungkin kami menerapkan sistem kerja yang efisien dengan template dan kalender konten yang telah disiapkan. Selain itu, kami terus melakukan peningkatan kemampuan tim,” ungkapnya.

Hasnawi menilai kontribusi Media Kreatif terhadap citra kampus cukup signifikan. Konten yang dihasilkan tidak lagi sebatas menampilkan gedung, tetapi juga menghadirkan cerita, prestasi, serta keseharian sivitas akademika. “Media kreatif telah memanusiakan brand Universitas Mulia. Saat ini konten tidak lagi hanya menunjukkan gedung, tapi cerita dan prestasi serta keseharian orang-orang di dalamnya. Sebagai kampus yang dinamis dan inovatif baik di luar maupun di dalam,” katanya.

Di balik layar, Nadya bersama tim Media Kreatif UM berkreasi menghadirkan konten IG dan TikTok yang selalu segar dan bermakna.

Terkait keberhasilan UM masuk dalam daftar perguruan tinggi terpilih di ajang nasional ini, Hasnawi mengaku bangga sekaligus bersyukur. “Bangga atas kerja keras dan kreativitas tim, dan bersyukur karena pada akhirnya apa yang dilakukan mendapatkan pengakuan secara nasional. Ini validasi bahwa apa yang dilakukan untuk membangun citra Universitas Mulia berada di jalur yang tepat serta menjadi dorongan motivasi untuk terus lebih baik,” ucapnya.

Dari pengalaman mengikuti ajang ini, ia menekankan pentingnya data dan keberanian bereksperimen. “Pelajaran penting yang bisa diambil adalah pentingnya data serta keberanian dalam bereksperimen. Kreativitas yang hebat harus bisa dibuktikan dengan data, dan tidak boleh takut mencoba hal-hal baru setiap saat untuk menjadi lebih baik ke depannya,” jelasnya.

Menutup wawancara, Hasnawi menyampaikan arah pengembangan Media Kreatif Universitas Mulia. “Ke depan kami akan terus meningkatkan interaktif, kolaboratif, dan berbasis komunitas. Kami ingin menciptakan konten yang lebih banyak melibatkan audiens, mahasiswa, alumni, serta industri, dan mendorong setiap yang terlibat untuk sama-sama ikut berbagi cerita tentang Universitas Mulia,” pungkasnya. (YMN)

Balikpapan, 23 September 2025 – Universitas Mulia (UM) berhasil masuk dalam jajaran perguruan tinggi yang melanjutkan ke tahap kedua ajang Anugerah Humas Diktisaintek 2025. Ajang ini merupakan program apresiasi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi terhadap pengelolaan kehumasan di Perguruan Tinggi Negeri (PTN), Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti), dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di seluruh Indonesia.

Pada tahap awal, seluruh PTN dan PTS di Indonesia menjadi peserta penilaian. Dari proses seleksi tersebut, terpilih 38 PTN, 12 politeknik, dan 33 PTS yang dinyatakan layak melanjutkan ke tahap kedua, termasuk Universitas Mulia di dalamnya.

Tahap kedua akan dilaksanakan pada Rabu, 24 September 2025 pukul 08.30 WITA dengan agenda presentasi. Universitas Mulia akan diwakili oleh Wakil Rektor Bidang Sumberdaya, Yusuf Wibisono, S.E., M.Ti., yang dipercaya untuk menyampaikan paparan mewakili Rektor UM.

Wibisono, menyampaikan bahwa kesempatan ini merupakan ruang belajar dan evaluasi diri. “Kami bersyukur atas amanah ini. Kehumasan bukan hanya wadah penyebaran informasi, tetapi juga cermin nilai dan komitmen universitas untuk melayani masyarakat. Pengakuan ini adalah dorongan agar kami terus menjaga kepercayaan publik,” ujarnya.

Kehadiran Universitas Mulia di antara perguruan tinggi terpilih ini menegaskan komitmen untuk mengembangkan praktik kehumasan yang transparan, akuntabel, dan berlandaskan nilai akademik. Dengan sikap rendah hati, UM menyambut tahap selanjutnya sebagai kesempatan memperkaya pengalaman sekaligus memperkuat kontribusi universitas bagi masyarakat. (YMN)