Tag Archive for: balikpapan

Balikpapan, 3 Juni 2026 – Jarum jam mendekati pukul 14.30 WITA ketika sebuah undangan singkat mengarahkan langkah menuju Laboratorium Fakultas Teknik Universitas Mulia. Siang itu matahari masih menyisakan panas setelah sejak tengah hari menyengat Kota Balikpapan. Namun sinarnya mulai melemah, membuat perjalanan dari White Campus menuju gedung Fakultas Teknik terasa lebih bersahabat.

Di sepanjang jalan, gedung Cheng Hoo berdiri tenang di sisi kampus. Beberapa meter berikutnya, hamparan lapangan pickleball yang baru dibangun tampak mencuri perhatian. Sekilas bentuknya menyerupai lapangan tenis, meski dengan net yang lebih rendah. Debu tipis yang beterbangan di jalur penghubung gedung menjadi penanda bahwa kawasan kampus masih terus bertumbuh.

Memasuki gedung Fakultas Teknik yang berarsitektur berbeda dari bangunan kampus lainnya, suasana akademik langsung terasa. Di sisi kiri lantai dasar, Laboratorium Teknik terbuka menyambut tamu. Ruangan itu cukup luas dengan meja panjang yang telah disiapkan. Beberapa mahasiswa mengenakan jas laboratorium putih tampak sibuk mempersiapkan sampel uji yang akan dinilai para panelis.

Hari itu bukan sekadar kegiatan mencicipi makanan. Mahasiswa Program Studi Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian (TPHP) sedang melaksanakan pengujian sensori terhadap produk pentol bakso yang mereka kembangkan melalui berbagai formulasi bahan.

Tiga varian disajikan kepada panelis. Varian pertama menggunakan daging ayam dengan komposisi lebih dominan, sementara dua varian lainnya memadukan daging ayam dengan tahu dalam proporsi berbeda. Setiap panelis diminta memberikan penilaian terhadap rasa, aroma, tekstur, dan tingkat kekenyalan produk.

Di balik sepiring pentol bakso yang tampak sederhana, tersimpan proses pembelajaran yang jauh lebih kompleks.

Ketua Program Studi Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian, Rafika Dyah Maharani, S.Pi., M.T.P., menjelaskan bahwa praktikum semacam ini bertujuan memperlihatkan kepada mahasiswa bagaimana perubahan kecil dalam formulasi dapat menghasilkan karakteristik produk yang berbeda.

“Dari praktikum eksperimen dengan formulasi yang berbeda, mahasiswa jadi tahu bahwa perubahan formulasi sedikit akan berpengaruh terhadap rasa, aroma, kekenyalan, dan tekstur,” ujarnya.

Pemahaman tersebut menjadi fondasi penting dalam pengembangan produk pangan. Dalam industri, perubahan beberapa gram bahan tertentu dapat menentukan apakah suatu produk diterima atau ditolak konsumen.

Lebih jauh, mahasiswa juga diperkenalkan pada realitas bahwa inovasi pangan tidak selalu identik dengan bahan baku mahal. Menurut Rafika, salah satu pelajaran penting yang ingin ditanamkan adalah kemampuan menciptakan produk bernilai tanpa harus bergantung pada biaya produksi tinggi.

“Mahasiswa dilatih bahwa tidak semua produk pangan yang bergizi bernilai mahal. Ternyata dari bahan yang harganya terjangkau dapat menghasilkan produk yang tidak kalah dengan yang dijual di pasaran,” katanya.

Pemanfaatan tahu dalam formulasi bakso yang diuji bukan sekadar upaya menekan biaya produksi. Di balik pilihan bahan tersebut terdapat pertimbangan yang lebih luas, mulai dari aspek ketahanan pangan hingga pemanfaatan potensi bahan baku lokal.

Rafika menjelaskan bahwa melalui praktikum evaluasi sensori, mahasiswa diajak memahami bagaimana bahan pangan lokal dapat menjadi alternatif yang layak untuk mengurangi ketergantungan pada bahan baku tertentu yang harganya lebih mahal atau ketersediaannya terbatas.

“Dalam praktikum evaluasi sensori yang sudah terlaksana, bakso ayam dibuat dengan penambahan atau penggantian sebagian bahan menggunakan tahu. Mahasiswa belajar bagaimana bahan lokal seperti tahu dapat dimanfaatkan untuk mengurangi ketergantungan pada bahan baku yang lebih mahal atau terbatas ketersediaannya,” jelasnya.

Menurutnya, pendekatan tersebut penting karena industri pangan tidak hanya dituntut menghasilkan produk yang disukai konsumen, tetapi juga mampu beradaptasi terhadap dinamika ketersediaan bahan baku. Melalui kegiatan praktikum, mahasiswa dilatih untuk melihat potensi bahan lokal yang memiliki fungsi dan karakteristik serupa sehingga ketergantungan terhadap satu jenis bahan dapat dikurangi.

Sejumlah mahasiswa TPHP Universitas Mulia menyiapkan sampel pengujian di Laboratorium Fakultas Teknik sebelum kegiatan evaluasi sensori dimulai.

Dari sisi ekonomi, penggunaan tahu juga memberikan keuntungan tersendiri. Harga tahu relatif lebih terjangkau dibandingkan beberapa bahan tambahan lain yang umum digunakan dalam produk olahan pangan. Sementara dari sisi gizi, tahu merupakan sumber protein nabati yang dapat melengkapi kebutuhan nutrisi masyarakat.

“Dari segi ekonomi harga tahu lebih murah dibanding bahan tambahan lain seperti udang. Dari segi gizi, tahu merupakan sumber protein nabati sehingga penambahan tahu dalam bakso ayam dapat mendukung konsumsi pangan masyarakat yang lebih beragam melalui variasi sumber protein,” ujarnya.

Lebih jauh, Rafika menilai bahwa pengembangan produk pangan berbasis sumber daya lokal masih menghadapi sejumlah tantangan. Banyak produk potensial yang belum dikelola secara optimal, sementara sebagian lainnya masih menghadapi persoalan mutu dan konsistensi kualitas.

“Pengembangan produk pangan berbasis lokal masih minim dikelola dengan baik. Kalaupun sudah dikelola dengan baik, mutu produknya sering kali belum terpenuhi sehingga kepercayaan masyarakat terhadap produk lokal masih rendah,” katanya.

Karena itu, melalui kegiatan praktikum, mahasiswa tidak hanya diarahkan untuk menciptakan produk yang memiliki cita rasa baik, tetapi juga memahami pentingnya standar mutu, keamanan pangan, dan daya saing produk.

“Ke depannya mahasiswa diharapkan mampu menghasilkan produk pangan yang bermutu, aman dikonsumsi, dan memiliki daya saing yang kuat di masyarakat,” tambahnya.

Harapan tersebut sejalan dengan kebutuhan industri pangan yang terus menuntut inovasi produk berbasis bahan baku yang efisien tanpa mengabaikan kualitas. Salah satu contoh yang diperkenalkan dalam praktikum adalah pemanfaatan tahu sebagai bahan campuran bakso ayam. Selain memberikan keuntungan dari sisi ekonomi, penggunaan bahan lokal tersebut juga membuka peluang pengembangan karakteristik produk yang berbeda sesuai kebutuhan konsumen.

Dalam proses pengembangan produk pangan, penilaian konsumen menjadi aspek yang tidak dapat diabaikan. Namun demikian, penerimaan pasar bukan satu-satunya ukuran keberhasilan.

Rafika menegaskan bahwa mahasiswa diajarkan untuk menyeimbangkan hasil analisis laboratorium dengan hasil pengujian sensori.

“Analisis laboratorium dan pengujian sensori keduanya berada dalam penilaian penting. Dari mata kuliah Evaluasi Sensori, mahasiswa diajarkan bagaimana produk dapat diterima oleh konsumen. Mahasiswa belajar menyeimbangkan keduanya sehingga produk yang dihasilkan aman, bergizi, dan disukai konsumen,” jelasnya.

Pendekatan tersebut sekaligus menjawab pertanyaan yang kerap muncul di masyarakat mengenai perbedaan antara seseorang yang pandai memasak dengan lulusan teknologi pangan.

Menurut Rafika, titik pembeda terletak pada landasan ilmiah yang digunakan dalam proses pengembangan produk.

Dengan lembar penilaian di tangan, para panelis mencicipi setiap sampel pentol bakso untuk menentukan formulasi yang paling diterima dari segi rasa, aroma, tekstur, dan kekenyalan.

“Orang yang terbiasa memasak biasanya fokus pada hasil akhir bahwa rasanya enak dan bisa dikonsumsi. Sedangkan sarjana teknologi pangan membuat dan mengembangkan produk pangan berdasarkan ilmu, data, standar mutu, keamanan, dan kebutuhan konsumen,” ungkapnya.

Karena itu, pembelajaran di TPHP tidak berhenti pada kemampuan menghasilkan makanan yang lezat. Mahasiswa juga dibekali pemahaman mengenai keamanan pangan, kandungan gizi, standar mutu, hingga perilaku konsumen yang terus berubah mengikuti perkembangan zaman.

Rafika menilai keterbukaan terhadap tren menjadi kebutuhan penting bagi mahasiswa saat ini. Perubahan gaya hidup masyarakat turut memengaruhi preferensi pangan yang mereka konsumsi.

“Mahasiswa saat ini harus sangat terbuka dengan tren. Hal ini membantu dalam praktikum untuk membuat dan mengembangkan produk yang sesuai dengan lifestyle saat ini,” katanya.

Ke depan, hasil-hasil praktikum mahasiswa tidak direncanakan berhenti sebagai laporan akademik yang tersimpan di rak laboratorium. Program studi telah menyiapkan langkah lanjutan agar inovasi mahasiswa dapat diuji dalam lingkungan yang lebih luas.

“Rencana prodi yaitu pengembangan produk hasil praktikum dengan memasarkan ke lingkungan universitas, kemudian bekerja sama dengan UMKM daerah dan memberikan pelatihan kepada masyarakat sekitar,” jelas Rafika.

Sebelum sampai ke tahap pemasaran, setiap produk tetap harus melalui serangkaian pengujian ilmiah untuk memastikan kualitasnya.

“Sebelum dipasarkan kami akan melakukan uji laboratorium untuk menentukan produk tersebut memiliki nilai gizi yang baik, sehingga produk yang kami pasarkan tidak hanya enak dan bisa dikonsumsi,” tambahnya.

Di atas meja laboratorium sore itu, tiga piring pentol bakso mungkin terlihat sebagai hasil praktikum biasa. Namun bagi mahasiswa TPHP, produk tersebut merupakan pertemuan antara sains, kreativitas, dan kebutuhan pasar. Dari perubahan formulasi yang tampak sederhana, mereka belajar bahwa masa depan industri pangan sering kali ditentukan oleh kemampuan memahami satu hal yang paling mendasar: apa yang diinginkan konsumen, tanpa melupakan keamanan dan kualitas yang harus dijaga. (YMN)

 

Balikpapan, 8 Mei 2026 – Suasana Domain Space Universitas Mulia pada Jumat (8/5/2026) tampak berbeda dari biasanya. Sejumlah pelajar SMA dan SMK bergantian berdiri di depan peserta lain, mencoba memperkenalkan diri menggunakan bahasa Inggris. Sebagian masih terdengar ragu-ragu, beberapa kali tertawa kecil karena salah pengucapan, tetapi ruangan tetap dipenuhi tepuk tangan dan dukungan dari peserta lain.

Momen tersebut menjadi bagian dari workshop “The Next Level: Public Speaking with English Club Universitas Mulia” yang diselenggarakan UKM English Club Universitas Mulia. Sebanyak 28 pelajar dari berbagai sekolah di Kota Balikpapan mengikuti kegiatan yang berfokus pada pelatihan public speaking dan penguatan kepercayaan diri dalam berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris.

Berbeda dari seminar satu arah, workshop ini dikemas dengan pendekatan yang lebih interaktif. Peserta tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga langsung mempraktikkan cara berbicara di depan publik melalui simulasi presentasi, perkenalan diri, diskusi kelompok, hingga evaluasi sederhana terhadap performa masing-masing peserta.

Narasumber workshop, Ahmad Sya’bana, mahasiswa Program Studi Akuntansi angkatan 2023 yang aktif di UKM English Club, menyampaikan materi menggunakan bahasa Inggris. Ia menjelaskan bahwa kemampuan berbicara di depan umum saat ini menjadi salah satu keterampilan yang semakin dibutuhkan, baik dalam dunia akademik maupun lingkungan kerja profesional.

“Public speaking bukan hanya tentang berbicara di depan banyak orang, tetapi bagaimana seseorang mampu menyampaikan gagasan dengan jelas, terstruktur, dan mampu memengaruhi audiens secara positif,” ujarnya.

Ahmad Sya’bana saat membawakan materi public speaking berbahasa Inggris dalam workshop “The Next Level” yang digelar UKM English Club Universitas Mulia. Melalui sesi interaktif dan praktik langsung, peserta diajak membangun keberanian berbicara di depan publik sejak usia sekolah.

Menurut Ahmad, banyak pelajar sebenarnya memiliki ide dan kemampuan, tetapi sering kesulitan menyampaikannya karena kurang terbiasa berbicara di depan umum. Karena itu, latihan komunikasi perlu dimulai sejak dini agar rasa percaya diri dapat tumbuh bersamaan dengan kemampuan akademik.

Ketua UKM English Club, Gita Khairunnisa, mengatakan kegiatan tersebut memang dirancang untuk menciptakan ruang belajar bahasa Inggris yang lebih santai dan aplikatif bagi generasi muda. Ia menilai masih banyak pelajar yang merasa takut menggunakan bahasa Inggris karena khawatir melakukan kesalahan saat berbicara.

“Kami ingin peserta merasa bahwa belajar bahasa Inggris tidak harus selalu tegang. Yang penting berani mencoba dulu dan mau terus belajar,” katanya.

Selama kegiatan berlangsung, suasana workshop beberapa kali berubah menjadi lebih cair ketika panitia menghadirkan sesi ice breaking dan games edukatif. Peserta yang awalnya terlihat pasif mulai aktif berdiskusi dan saling memberi dukungan saat sesi praktik berlangsung.

Pembina UKM English Club, Riski Zulkarnain, S.Pd., M.Pd., menilai kegiatan semacam ini penting karena dunia pendidikan saat ini tidak hanya menuntut kemampuan akademik, tetapi juga kemampuan komunikasi, berpikir kritis, dan keberanian tampil di depan publik.

Ia menyebut organisasi mahasiswa memiliki ruang yang cukup besar untuk menghadirkan kegiatan yang memberi dampak langsung kepada masyarakat, termasuk pelajar sekolah menengah yang sedang mempersiapkan diri menghadapi dunia perkuliahan dan kerja.

“Mahasiswa dan pelajar sekarang perlu membiasakan diri menyampaikan ide dengan baik. Kemampuan itu akan sangat dibutuhkan di berbagai bidang,” ujarnya.

Seluruh rangkaian workshop dipersiapkan oleh mahasiswa anggota UKM English Club Universitas Mulia. Keterlibatan mahasiswa sebagai panitia sekaligus fasilitator menunjukkan bagaimana organisasi kemahasiswaan tidak hanya menjadi ruang berkegiatan, tetapi juga tempat belajar mengelola program edukatif secara langsung.

Melalui kegiatan ini, Universitas Mulia mencoba menghadirkan pendekatan pembelajaran yang lebih dekat dengan kebutuhan generasi muda saat ini—tidak hanya mengasah kemampuan akademik, tetapi juga membangun keberanian untuk berbicara, menyampaikan ide, dan tampil percaya diri di ruang publik. (YMN)

 

Balikpapan, 7 Mei 2026 – Di tengah derasnya wacana inovasi yang kerap berhenti sebagai istilah akademik di ruang kuliah, Universitas Mulia memilih membawa mahasiswanya langsung ke titik di mana inovasi bekerja sebagai budaya: lantai industri. Melalui visit industry mata kuliah Manajemen Inovasi ke Toyota AUTO2000 MT Haryono Balikpapan, mahasiswa diajak menelusuri bagaimana prinsip perbaikan berkelanjutan dijalankan bukan sebagai slogan perusahaan, melainkan sebagai disiplin kerja yang menjaga relevansi bisnis selama puluhan tahun.

Langkah ini memperlihatkan cara Universitas Mulia memaknai pendidikan bukan sebatas transfer teori, tetapi sebagai proses mempertemukan mahasiswa dengan praktik, sistem, dan pola pikir yang bekerja nyata di dunia profesional. Di ruang industri, mahasiswa tidak sekadar mendengar konsep inovasi, melainkan menyaksikan bagaimana perubahan kecil yang dilakukan terus-menerus dapat membentuk kekuatan organisasi berskala global.

Mahasiswa Universitas Mulia tiba di Toyota AUTO2000 MT Haryono Balikpapan untuk memulai pembelajaran lapangan tentang budaya inovasi dan praktik industri otomotif.

Toyota dipilih karena reputasinya tidak dibangun hanya melalui produk, tetapi melalui kemampuan merawat budaya Kaizen sebagai mesin pembaruan yang bekerja dari level operasional hingga strategi bisnis. Bagi mahasiswa, kunjungan ini menjadi kesempatan untuk membaca langsung bagaimana sebuah perusahaan besar mempertahankan daya hidupnya melalui kebiasaan memperbaiki proses secara konsisten.

Kepala Career Development Center Universitas Mulia sekaligus dosen pengampu mata kuliah Manajemen Inovasi, Dr. Linda Fauziyah Ariyani, S.Pd., M.Pd., menilai pengalaman lapangan semacam ini penting agar mahasiswa memahami inovasi dalam bentuk yang lebih utuh.

“Toyota adalah salah satu perusahaan otomotif terkemuka di dunia yang memiliki budaya organisasi kuat melalui Kaizen. Mahasiswa perlu melihat langsung bagaimana perubahan kecil yang dilakukan terus-menerus dapat menjadi fondasi besar bagi keberlanjutan perusahaan,” ujarnya.

Pihak Toyota AUTO2000 MT Haryono Balikpapan memberikan pemaparan langsung mengenai budaya Kaizen, operasional perusahaan, dan strategi inovasi berkelanjutan.

Melalui pengamatan langsung, mahasiswa diajak membongkar satu pemahaman penting: inovasi bukan selalu soal menciptakan sesuatu yang baru, melainkan tentang keberanian membaca masalah, menemukan celah perbaikan, lalu menjaga solusi itu tetap relevan. Perspektif ini penting di tengah kecenderungan memahami inovasi sebatas teknologi atau produk baru.

Bagi Universitas Mulia, pembelajaran semacam ini menjadi ruang untuk menggeser cara pandang mahasiswa dari sekadar penghafal teori menuju pembaca persoalan. Inovasi yang bertahan, sebagaimana ditekankan dalam pembelajaran lapangan tersebut, lahir dari kebutuhan nyata dan kemampuan menjawabnya secara berkelanjutan.

Selama kunjungan berlangsung, mahasiswa menyigi bagaimana Toyota mempertahankan eksistensinya bukan melalui perubahan besar yang sesekali, tetapi lewat pembaruan yang berlangsung terus-menerus. Dari sana, teori manajemen inovasi yang dipelajari di kelas menemukan bentuk konkretnya: keberlanjutan bisnis bertumpu pada budaya adaptif, bukan sekadar pada ide besar.

“Mahasiswa menjadi lebih memahami bahwa inovasi berkelanjutan lahir dari upaya perbaikan terus-menerus. Ini penting agar mereka melihat hubungan nyata antara teori yang dipelajari dengan praktik industri,” jelasnya.

Mahasiswa Universitas Mulia menyimak secara serius pemaparan industri sebagai bagian dari proses memahami implementasi nyata manajemen inovasi di dunia kerja

Bacaan paling penting dari kunjungan ini terletak pada satu hal mendasar: perusahaan yang mampu bertahan dalam perubahan eksternal adalah perusahaan yang menjadikan inovasi sebagai kebiasaan, bukan proyek sesaat. Dalam konteks itu, eksistensi menjadi indikator paling jujur dari kuat atau lemahnya budaya inovasi.

Perubahan lanskap industri yang bergerak ke arah digitalisasi juga menuntut mahasiswa membangun kelincahan berpikir sejak masa kuliah. Karena itu, proses belajar di Universitas Mulia diarahkan agar mahasiswa terbiasa menguji gagasan, membaca kebutuhan, dan beradaptasi dengan perubahan, bukan menunggu realitas kerja mengubah mereka secara mendadak.

Bagi kampus, membawa mahasiswa ke lapangan berarti memperluas ruang belajar ke situasi yang tidak selalu ideal, tempat teori diuji oleh kompleksitas nyata. Di ruang seperti inilah kemampuan problem solving, observasi, dan nalar kritis lebih mungkin tumbuh dibanding hanya dari simulasi akademik.

“Belajar di Universitas Mulia tidak sekadar mengejar nilai akademik, tetapi juga membangun pengalaman belajar yang membentuk daya saing mahasiswa,” ungkapnya.

Mahasiswa juga memperoleh pemaparan langsung dari Kepala Bengkel Toyota AUTO2000 MT Haryono Balikpapan, Jaka Mulyana, mengenai budaya perbaikan berkelanjutan, serta wawasan strategi pemasaran dari Supervisor Sales, Nur Kholis. Paparan tersebut memperlihatkan bahwa inovasi bekerja lintas lini—dari pelayanan teknis hingga strategi membaca pasar.

Dalam lanskap bisnis modern, pemahaman terhadap kebutuhan konsumen muncul sebagai fondasi penting. Inovasi yang lahir dari kebutuhan pasar memberi kemungkinan hidup lebih panjang dibanding sekadar meluncurkan sesuatu yang baru tanpa relevansi yang jelas.

Suasana dialog berlangsung hangat saat mahasiswa Universitas Mulia dan pihak Toyota AUTO2000 berdiskusi dalam sesi tanya jawab seputar inovasi, pelayanan, dan dinamika industri.

Melalui pola pembelajaran semacam ini, Universitas Mulia sedang menanamkan satu kebiasaan intelektual penting: melihat perubahan bukan sebagai ancaman, tetapi sebagai ruang untuk merumuskan solusi. Visit industry ini pada akhirnya bukan sekadar perjalanan akademik, melainkan proses menautkan pengetahuan dengan realitas, sekaligus mengajak mahasiswa memahami bahwa inovasi terbesar sering kali dimulai dari keberanian memperbaiki hal-hal kecil secara konsisten. (YMN)

 

Balikpapan, 5 Mei 2026 – Universitas Mulia resmi menjalin kerja sama dengan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kalimantan Timur melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) yang dirangkaikan dengan penandatanganan perjanjian kerja sama (PKS) oleh lima fakultas di lingkungan Universitas Mulia.

Dalam kesempatan tersebut, para dekan di lingkungan Universitas Mulia juga menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) bersama Kepala Bapas Kelas I Balikpapan, Deddy Eduar Eka Saputra, guna memperkuat implementasi program pendidikan, pemberdayaan, dan pengabdian masyarakat di lingkungan pemasyarakatan.

Kolaborasi tersebut menjadi langkah strategis dalam memperkuat peran perguruan tinggi tidak hanya sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai mitra transformasi sosial dan kemanusiaan di tengah masyarakat.

Adapun lima fakultas yang turut menandatangani PKS meliputi Fakultas Ilmu Komputer, Fakultas Hukum, Fakultas Humaniora dan Kesehatan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, serta Fakultas Teknik.

Atas arahan Rektor Universitas Mulia, Dr. Agung Sakti Pribadi, S.H., M.H., penjelasan terkait arah dan substansi kerja sama disampaikan oleh Kepala Bagian Kerja Sama Universitas Mulia, Wahyu Nur Alimyaningtias, S.Kom., M.Kom.

Wahyu Nur Alimyaningtias, S.Kom., M.Kom., selaku Kepala Bagian Kerja Sama Universitas Mulia berfoto bersama Jusmianti dan tim Balai Pemasyarakatan usai kegiatan penandatanganan kerja sama.

Wahyu menjelaskan bahwa kerja sama tersebut memiliki urgensi strategis karena tantangan pembangunan sumber daya manusia saat ini tidak hanya berada pada ruang pendidikan formal, tetapi juga menyentuh kelompok masyarakat yang membutuhkan reintegrasi sosial.

“Lembaga pemasyarakatan merupakan bagian penting dalam proses pembinaan manusia agar mampu kembali produktif di tengah masyarakat. Kampus hadir bukan hanya sebagai pusat ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai mitra transformasi sosial yang dapat mendukung peningkatan kualitas SDM, literasi, keterampilan, kesehatan mental, hingga penguatan program pemberdayaan warga binaan secara berkelanjutan,” ujarnya.

Menurutnya, Universitas Mulia memandang lembaga pemasyarakatan bukan sekadar institusi hukum, melainkan ruang rehabilitasi sosial dan kemanusiaan yang memiliki keterkaitan erat dengan nilai-nilai pendidikan tinggi modern.

Rektor Universitas Mulia Dr. Agung Sakti Pribadi, S.H.,M.H., Wali Kota Balikpapan Rahmad Mas’ud, S.E.,M.E., Kepala Bapas, dan jajaran berfoto bersama usai penandatanganan MoU.

“Pemasyarakatan memiliki fungsi rehabilitatif dan edukatif yang sangat relevan dengan nilai pendidikan. Kampus melihat warga binaan sebagai individu yang memiliki potensi untuk berkembang, memperoleh kesempatan kedua, dan dipersiapkan kembali menjadi bagian produktif dalam masyarakat,” katanya.

Ia menegaskan, Universitas Mulia berkomitmen agar kerja sama tersebut tidak berhenti pada seremoni administratif semata. Implementasi program akan diarahkan pada kegiatan konkret, terukur, dan berkelanjutan yang menyentuh kebutuhan langsung di lingkungan pemasyarakatan.

Program tersebut meliputi pelatihan keterampilan, pendampingan psikososial, penelitian terapan, kuliah praktisi, penguatan literasi digital, literasi bantuan hukum, hingga berbagai bentuk pengabdian masyarakat berbasis problem solving.

“Setiap program akan memiliki target capaian dan evaluasi berkala, serta melibatkan dosen dan mahasiswa agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat pemasyarakatan,” jelasnya.

Keterlibatan lima fakultas di lingkungan Universitas Mulia juga diharapkan mampu menghadirkan pendekatan multidisipliner dalam mendukung penguatan sistem pemasyarakatan di Kalimantan Timur.

Fakultas Ilmu Komputer akan berkontribusi dalam penguatan literasi dan teknologi digital, Fakultas Hukum pada aspek bantuan hukum dan edukasi hukum, Fakultas Humaniora dan Kesehatan melalui pendekatan psikososial dan kesehatan masyarakat, Fakultas Ekonomi dan Bisnis dalam pemberdayaan kewirausahaan, serta Fakultas Teknik melalui pengembangan keterampilan dan inovasi teknologi tepat guna.

Para dekan di lingkungan Universitas Mulia bersama jajaran pemasyarakatan berfoto bersama usai penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS).

Lebih jauh, Wahyu menyebut kerja sama tersebut sangat relevan dengan implementasi tridarma perguruan tinggi, khususnya dalam membangun pembelajaran kontekstual berbasis realitas sosial.

Mahasiswa nantinya berpeluang terlibat dalam program magang, penelitian lapangan, pendampingan masyarakat, hingga berbagai kegiatan sosial-edukatif di lingkungan pemasyarakatan.

“Pengalaman tersebut penting untuk membentuk kompetensi profesional sekaligus sensitivitas sosial mahasiswa, sehingga lulusan tidak hanya unggul secara akademik tetapi juga memiliki empati dan kemampuan menyelesaikan persoalan nyata di masyarakat,” ungkapnya.

Universitas Mulia juga telah menyiapkan indikator keberhasilan kerja sama yang mencakup aspek akademik dan sosial, mulai dari jumlah program implementatif, keterlibatan dosen dan mahasiswa, luaran penelitian, hingga peningkatan kapasitas dan keterampilan warga binaan.

Di akhir keterangannya, Wahyu menegaskan bahwa pendekatan humanis menjadi prinsip utama dalam seluruh pelaksanaan program kerja sama tersebut.

“Setiap program akan dirancang dengan prinsip inklusif, edukatif, dan humanis, sehingga kerja sama ini tidak hanya menghasilkan capaian administratif, tetapi juga memberikan dampak sosial yang bermakna bagi kehidupan manusia dan masyarakat secara luas,” tutupnya. (YMN)

BALIKPAPAN, 30 Maret 2026— Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Mulia melaksanakan kegiatan Bakti Sosial Gerakan Mahasiswa Mengabdi pada Sabtu, 14 Maret 2026, di Kampung Tumaritis, Kelurahan Graha Indah, Kota Balikpapan.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat yang diselenggarakan Universitas Mulia dalam momentum Ramadan 1446 H. Program tersebut menyasar warga prasejahtera yang sebagian besar bekerja di sektor informal, seperti buruh harian lepas dan pemulung.

BEM Universitas Mulia menyalurkan bantuan sosial kepada warga serta melakukan interaksi langsung melalui dialog dengan masyarakat setempat. Selain penyaluran bantuan, kegiatan juga diisi dengan pendekatan komunikasi untuk menggali kondisi dan kebutuhan warga.

Pelaksanaan kegiatan mendapat pendampingan dari unit terkait di lingkungan Universitas Mulia, yang terlibat dalam koordinasi lapangan, komunikasi dengan masyarakat, serta dukungan layanan sosial. Keterlibatan lintas unit ini menjadi bagian dari upaya institusi dalam memastikan program berjalan terarah dan sesuai kebutuhan masyarakat.

Tokoh masyarakat setempat, Ruslan, turut hadir dalam kegiatan tersebut dan memberikan dukungan terhadap pelaksanaan program. Keterlibatan unsur masyarakat dinilai penting untuk menjaga relevansi kegiatan dengan kondisi riil di lapangan.

Warga Kampung Tumaritis menyambut kegiatan ini dengan antusias. Sejumlah warga hadir di lokasi sejak siang hari untuk mengikuti rangkaian kegiatan dan menerima bantuan yang disalurkan.

Melalui kegiatan ini, Universitas Mulia menjalankan peran pengabdian kepada masyarakat sebagai bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. Program tersebut sekaligus menjadi ruang bagi mahasiswa untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat dan memahami kondisi sosial di lingkungan sekitar kampus. (YMN)

Balikpapan, 3 Maret 2026 – Himpunan Mahasiswa Manajemen Universitas Mulia menyelenggarakan kegiatan sosial bertajuk “Manajemen Berbagi” pada Minggu, 8 Maret 2026. Kegiatan ini dilaksanakan di tiga titik berbeda, yakni kawasan Universitas Mulia, Bandara Sepinggan, serta wilayah Balikpapan Permai. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa menginisiasi gerakan berbagi paket takjil kepada masyarakat yang masih beraktivitas menjelang waktu berbuka puasa.

Mahasiswa Manajemen Universitas Mulia membagikan paket takjil kepada pengendara di depan gerbang Universitas Mulia dalam kegiatan “Manajemen Berbagi”, Minggu (8/3/2026).

Kegiatan ini dirancang sebagai ruang pembelajaran sosial bagi mahasiswa manajemen agar tidak hanya memahami konsep pengelolaan organisasi di ruang kelas, tetapi juga mengaplikasikan nilai kepedulian sosial di tengah masyarakat. Momentum Ramadan dimanfaatkan sebagai medium untuk memperkuat sensitivitas mahasiswa terhadap kondisi lingkungan sekitar, terutama bagi masyarakat yang menjalankan aktivitas di ruang publik saat waktu berbuka semakin dekat.

Mahasiswa Manajemen Universitas Mulia membagikan paket takjil kepada pengendara di kawasan Balikpapan Permai sebagai bagian dari kegiatan “Manajemen Berbagi”, Minggu (8/3/2026).

Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan yang dilaksanakan di lingkungan Universitas Mulia, dilanjutkan dengan pengumpulan donasi dari mahasiswa serta proses pemesanan paket takjil yang akan didistribusikan. Setelah itu, peserta mengikuti doa bersama sebagai bentuk refleksi dan harapan agar kegiatan yang dilaksanakan membawa keberkahan serta manfaat bagi masyarakat.

Distribusi paket berbagi kemudian dilakukan secara serentak di tiga lokasi strategis, yaitu gerbang Universitas Mulia, pintu masuk area kargo Bandara Sepinggan, serta kawasan bundaran lampu merah Markoni di Balikpapan Permai. Ketiga titik tersebut dipilih karena menjadi jalur mobilitas masyarakat yang cukup tinggi pada waktu menjelang berbuka puasa, sehingga paket takjil dapat diterima langsung oleh para pengendara, pekerja, maupun masyarakat yang sedang dalam perjalanan.

Mahasiswa Manajemen Universitas Mulia membagikan paket takjil kepada masyarakat di kawasan Bandara Sepinggan Balikpapan dalam rangka kegiatan “Manajemen Berbagi”, Minggu (8/3/2026).

Melalui kegiatan ini, Universitas Mulia mendorong mahasiswa untuk memahami bahwa praktik manajemen tidak hanya berkaitan dengan pengelolaan sumber daya dalam organisasi formal, tetapi juga menyentuh aspek tanggung jawab sosial dan kepekaan terhadap kebutuhan masyarakat. Pengalaman terlibat langsung dalam perencanaan hingga distribusi bantuan menjadi bagian dari proses pembelajaran yang memperkaya perspektif mahasiswa mengenai peran ilmu manajemen dalam kehidupan sosial.

Kegiatan “Manajemen Berbagi” sekaligus memperlihatkan bagaimana organisasi kemahasiswaan di Universitas Mulia dapat menjadi ruang praktik kepemimpinan, kolaborasi, serta pengambilan keputusan secara nyata. Melalui inisiatif tersebut, mahasiswa belajar mengelola program sosial secara terstruktur—mulai dari penggalangan donasi, pengorganisasian relawan, hingga pendistribusian bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan. (YMN)

Balikpapan, 5 Maret 2026—Pelaksanaan peringatan Milad ke-79 Himpunan Mahasiswa Islam pada 18 Februari 2026 turut diisi dengan Lomba Poster Digital tingkat nasional yang diselenggarakan oleh HMI Komisariat Fekon. Kegiatan ini dilaksanakan secara daring melalui mekanisme pengumpulan dan seleksi karya berbasis online, sehingga memungkinkan partisipasi mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia.

Kompetisi tersebut dirancang sebagai ruang ekspresi intelektual generasi muda melalui media visual digital. Poster dipahami sebagai medium argumentasi visual—bukan semata produk estetika—yang memuat gagasan, kritik sosial, serta refleksi kebangsaan sesuai tema Milad ke-79 HMI. Pendekatan ini menempatkan desain sebagai instrumen komunikasi publik yang bertanggung jawab dan berbasis gagasan.

Sebanyak 22 peserta ambil bagian dalam ajang ini, berasal dari berbagai perguruan tinggi lintas provinsi dan lintas pulau. Partisipasi tercatat dari Universitas Jember, UIN Salatiga, Universitas Syiah Kuala, serta sejumlah perguruan tinggi di Kalimantan Timur seperti Universitas Mulawarman, Universitas Kutai Kartanegara, dan Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur. Komposisi peserta ini menunjukkan bahwa kompetisi memiliki daya jangkau nasional dengan tingkat persaingan yang terbuka.

Poster karya mahasiswa Program Studi Teknologi Informasi Universitas Mulia yang meraih Juara 2 pada Lomba Poster Digital Milad HMI ke-79 tingkat nasional (18 Februari 2026).

Proses lomba dimulai dari tahap pendaftaran dan pengunggahan karya sesuai tema yang ditetapkan panitia. Setiap karya dinilai berdasarkan empat parameter utama: orisinalitas ide, ketajaman pesan, kesesuaian dengan tema, serta kualitas visual dan teknis desain. Mekanisme seleksi dilakukan secara bertahap hingga ditetapkan tiga karya terbaik.

Berdasarkan pengumuman resmi panitia, Juara 1 diraih oleh Gilang Permana Aditya dari Politeknik Negeri Balikpapan, Juara 2 diraih oleh Apriliani Wijaya dari Program Studi Teknologi Informasi Universitas Mulia Balikpapan, dan Juara 3 diraih oleh Muhammad Naufal Maulana dari Universitas Balikpapan.

Raihan Juara 2 oleh mahasiswa Universitas Mulia dipandang sebagai representasi capaian akademik institusi dalam membangun kompetensi yang tidak hanya teknis, tetapi juga reflektif. Karya yang dihasilkan dinilai mampu menerjemahkan gagasan ke dalam komposisi visual yang terstruktur dan komunikatif, sekaligus relevan dengan konteks Milad HMI ke-79.

Bagi Universitas Mulia, partisipasi dalam ajang nasional semacam ini merupakan bagian dari proses pembelajaran yang menekankan integrasi antara penguasaan teknologi, kemampuan analisis sosial, dan keberanian menyampaikan ide di ruang publik. Capaian ini memperkuat posisi institusi dalam mendorong mahasiswa untuk aktif berkompetisi serta terlibat dalam diskursus kebangsaan melalui pendekatan akademik dan kreatif. (YMN)

 

 

Oleh: Yamani, S.S., M.Pd.
Pengurus PC DMI Balikpapan Kota | Dosen Universitas Mulia

Balikpapan, 8 Februari 2026—Di banyak sudut Kota Balikpapan, kubah-kubah masjid menjulang anggun, pengeras suara lantang mengumandangkan adzan lima kali sehari, dan spanduk peringatan hari besar Islam berganti saban musim hijriah. Namun di balik semarak itu, sebuah pertanyaan mendesak mengetuk nurani kita: apakah masjid sungguh telah menjadi pusat kehidupan umat, ataukah hanya sesekali menjadi panggung seremonial keagamaan?

Fakta yang patut direnungkan bersama menunjukkan bahwa sebagian besar pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) masih menempatkan Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) sebagai poros utama aktivitas kelembagaan. Bahkan, secara struktural, dibentuk seksi khusus untuk mengurusi perayaan-perayaan tersebut. Tidak ada yang keliru dengan PHBI—ia adalah bagian dari syiar, ruang edukasi publik, sekaligus perekat sosial. Namun persoalan muncul ketika syiar direduksi menjadi seremoni, ketika kalender kegiatan masjid nyaris berhenti di lima momentum besar: Tahun Baru Islam, Maulid Nabi, Isra Mi‘raj, Ramadhan–Idul Fitri, serta Idul Adha.

Di luar hari-hari itu, masjid kembali lengang. Rapat pengurus jarang digelar—kadang tak lebih dari lima kali setahun—seakan roda organisasi hanya berputar ketika ada spanduk yang harus dicetak dan penceramah yang harus diundang. Padahal dalam teori manajemen organisasi nirlaba berbasis komunitas, intensitas pertemuan pengelola adalah indikator vital dari kesehatan institusi. Rapat bukan sekadar forum administratif, melainkan ruang lahirnya visi, evaluasi, inovasi, dan keberanian untuk berubah.

Masjid, dalam sejarah Islam klasik, tidak pernah sesempit itu. Ia adalah pusat pendidikan, rumah musyawarah, ruang advokasi sosial, sentra ekonomi umat, dan kawah candradimuka kepemimpinan generasi muda. Di Madinah, Rasulullah ﷺ menjadikan masjid bukan hanya tempat sujud, tetapi juga tempat membentuk peradaban. Dari lantainya yang sederhana lahir strategi sosial, solidaritas ekonomi, dan kader-kader umat yang tangguh secara spiritual sekaligus sosial.

Pertanyaannya kini: mengapa kita mereduksi warisan agung itu menjadi sebatas panggung perayaan tahunan?

Lebih menggetarkan lagi, alokasi dana masjid sering kali terkuras untuk kebutuhan seremonial: dekorasi, konsumsi, honor penceramah, dan panggung acara. Semua itu sah dan dibutuhkan. Tetapi menjadi ironi ketika hampir tidak tersisa anggaran—dan lebih penting lagi, gagasan—untuk program pembinaan pemuda masjid, pelatihan keterampilan hidup, kelas kepemimpinan, penguatan ekonomi jamaah, atau pendampingan keluarga yang terjerat kesulitan.

Di sudut saf belakang, mungkin ada ayah yang menunduk karena kehilangan pekerjaan. Di teras masjid, barangkali ada remaja yang mencari makna hidup tetapi tidak menemukan ruang dialog. Di perumahan sekitar, mungkin ada janda yang berjuang sendiri membiayai sekolah anaknya. Pertanyaannya kembali menghantam hati kita: apakah masjid telah hadir untuk mereka—atau hanya ramai ketika hari raya tiba?

Krisis ini bukan sekadar soal program; ia adalah krisis orientasi. Masjid yang hidup bukan diukur dari meriahnya panggung PHBI, melainkan dari ramainya shaf shalat berjamaah di hari biasa, dari wajah-wajah pemuda yang betah berdiskusi selepas Isya, dari jamaah yang merasakan bahwa masjid adalah tempat pulang—bukan hanya tempat singgah.

Pemuda, khususnya, tidak bisa dirangkul hanya dengan undangan menghadiri tabligh akbar setahun sekali. Mereka membutuhkan ruang aktualisasi, mentoring, pelatihan digital, kewirausahaan, diskusi intelektual, dan proyek sosial nyata. Tanpa itu, masjid akan terus menua bersama pengurusnya, sementara generasi penerus tumbuh di luar pagar spiritual yang seharusnya menaungi mereka.

Tulisan ini bukan gugatan dari luar, melainkan jeritan cinta dari dalam. Sebab mengkritik masjid dengan kejujuran adalah bentuk kesetiaan tertinggi terhadapnya. Kita tidak sedang kekurangan bangunan megah; kita kekurangan keberanian untuk mentransformasikan masjid menjadi pusat pemberdayaan umat.

Barangkali sudah saatnya DKM di Balikpapan—dan di kota-kota lain—berani melakukan pergeseran paradigma: dari event organizer keagamaan menjadi arsitek peradaban lokal. Dari pengelola agenda tahunan menjadi perancang masa depan jamaahnya.

Mari bertanya dengan jujur pada diri sendiri: berapa kali kita duduk bersama tahun ini untuk memikirkan bagaimana shalat berjamaah Subuh bisa penuh? Berapa jam kita habiskan untuk mendesain program kaderisasi pemuda? Berapa rupiah yang dialokasikan untuk mengangkat ekonomi jamaah yang terpuruk?

Jika pertanyaan-pertanyaan itu membuat dada kita sesak, mungkin itulah tanda bahwa hati kita masih hidup.

Masjid tidak membutuhkan pengurus yang hanya pandai menata acara; ia membutuhkan penjaga ruh, perancang perubahan, dan pemimpin yang rela begadang memikirkan umatnya. Sebab suatu hari kelak, bukan spanduk PHBI yang akan ditanya di hadapan Allah, melainkan: apa yang telah kita lakukan agar rumah-Ku ini benar-benar memakmurkan hamba-hamba-Ku?

Dan semoga, dari kegelisahan ini, lahir keberanian baru—keberanian untuk menghidupkan masjid bukan hanya pada hari raya, tetapi pada setiap hari kehidupan. (YMN)

Balikpapan, 19 Desember 2025 — Universitas Mulia memasuki usia tujuh tahun dengan menandai fase transisi pengembangan institusi yang diarahkan pada penguatan riset, hilirisasi inovasi, serta peningkatan mutu akademik secara berkelanjutan. Arah tersebut disampaikan Rektor Universitas Mulia, Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si., dalam Dies Natalis ke-7 yang diselenggarakan pada Kamis (18/12/2025) dengan tema “Mulia dalam Riset, Unggul dalam Inovasi.”

Dalam sambutannya, Rektor memaknai usia tujuh tahun sebagai tahap penting dalam siklus pertumbuhan institusi. Ia mengibaratkan fase ini sebagai perkembangan seorang anak yang telah melampaui tahap dasar dan mulai membangun nalar, karakter, serta orientasi hidup yang lebih terarah. Pada titik tersebut, Universitas Mulia dinilai telah meninggalkan fase perintisan dan memasuki tahap pemantapan jati diri serta percepatan kualitas.

Rektor Universitas Mulia bersama para dekan berpose dengan Kepala BRIDA Kalimantan Timur usai penandatanganan naskah Memorandum of Agreement (MoA) sebagai dasar kerja sama penguatan riset dan inovasi.

Rektor menjelaskan bahwa arah pengembangan Universitas Mulia disusun secara sistematis melalui Roadmap Rencana Induk Pengembangan (RIP). Pada fase awal, universitas berfokus pada penguatan tata kelola, peningkatan mutu pembelajaran, dan konsolidasi sumber daya. Memasuki usia ke-7, Universitas Mulia diposisikan sebagai Teaching University yang telah mapan dan secara bertahap diarahkan menuju transformasi sebagai Research-Based University.

Tema Dies Natalis tahun ini, menurut Rektor, merepresentasikan orientasi strategis jangka menengah dan panjang universitas. Riset ditempatkan sebagai fondasi peningkatan mutu akademik sekaligus reputasi institusi. “Mulia dalam Riset” dimaknai sebagai komitmen untuk mengembangkan riset yang bermutu, beretika, dan relevan, serta memiliki daya guna bagi pengembangan ilmu pengetahuan, penyelesaian persoalan masyarakat, dan pembangunan daerah.

Sementara itu, “Unggul dalam Inovasi” dipahami sebagai kelanjutan dari riset yang produktif. Rektor menekankan pentingnya hilirisasi hasil riset ke dalam berbagai bentuk inovasi, baik berupa produk, teknologi tepat guna, model layanan, solusi sosial, maupun rekomendasi kebijakan. Inovasi diposisikan sebagai penghubung antara kapasitas akademik kampus dan kebutuhan riil masyarakat.

Pada kesempatan tersebut, Rektor juga menyampaikan perkembangan mutakhir institusi. Ia mengungkapkan bahwa hasil akreditasi institusi Universitas Mulia yang baru saja diumumkan oleh BAN-PT memperoleh predikat Baik Sekali.
“Alhamdulillah, hasil akreditasi institusi Universitas Mulia telah diumumkan dan kita meraih predikat Baik Sekali. Ini menjadi pijakan penting untuk melangkah ke tahap peningkatan mutu berikutnya,” ujarnya.

Lebih lanjut, Rektor menyampaikan target peningkatan akreditasi program studi pada periode 2026–2030. Ia menargetkan sejumlah program studi yang saat ini telah terakreditasi Baik Sekali untuk meningkat menjadi Unggul, di antaranya Program Studi Informatika, Sistem Informasi, Akuntansi, Hukum, dan Manajemen.
“Target kami pada periode 2026–2030 adalah mendorong program studi yang sudah Baik Sekali agar naik menjadi Unggul,” tegasnya.

Rektor Universitas Mulia, Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si., menyerahkan buku hasil kajian tentang kelangkaan air bersih di Kota Balikpapan kepada salah satu mitra kerja Universitas Mulia.

Selain itu, Rektor juga menargetkan peningkatan akreditasi bagi program studi lainnya, yakni Teknik Sipil, Teknik Industri, Desain Komunikasi Visual, Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian, Teknologi Informasi, PGPAUD, dan Farmasi, dari predikat Baik menjadi Baik Sekali.

Dari sisi penguatan kelembagaan, Universitas Mulia pada tahun akademik ini menambah dua fakultas baru, yaitu Fakultas Hukum dan Fakultas Teknik, sebagai bagian dari strategi pengembangan disiplin keilmuan yang relevan dengan kebutuhan wilayah dan nasional. Sejalan dengan itu, Universitas Mulia juga membuka lima program studi baru, yakni Teknik Sipil, Teknik Industri, Desain Komunikasi Visual, serta Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian.

Rektor Universitas Mulia menyerahkan piagam penghargaan kepada Ketua Program Studi PGPAUD, Bety Vitriana, M.Pd., sebagai program studi dengan capaian Audit Mutu Internal (AMI) terbaik.

Rektor juga mengungkapkan rencana pengembangan akademik ke depan. Pada tahun mendatang, Universitas Mulia direncanakan membuka enam program studi baru, meliputi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Pendidikan Guru Matematika, Pendidikan Guru Bahasa Inggris, Psikologi, Hubungan Internasional, dan Ilmu Komunikasi.
“Insyaallah, tahun depan kami akan membuka enam program studi baru sebagai bagian dari penguatan peran Universitas Mulia dalam penyediaan sumber daya manusia yang relevan dan adaptif,” ungkapnya.

Dalam konteks pembangunan wilayah, Universitas Mulia menempatkan diri sebagai bagian dari ekosistem pembangunan Kalimantan Timur. Posisi strategis Kota Balikpapan sebagai penyangga utama Ibu Kota Nusantara (IKN) memperkuat peran universitas, tidak hanya sebagai institusi pendidikan tinggi, tetapi juga sebagai mitra strategis dalam pengembangan riset terapan dan inovasi kebijakan.

Ketua Yayasan Airlangga, Mulia Hayati Devianti, menyerahkan potongan tumpeng kepada Rektor Universitas Mulia sebagai simbol peringatan Dies Natalis ke-7 Universitas Mulia.

Menutup rangkaian sambutannya, Rektor mengajak seluruh sivitas akademika menjadikan Dies Natalis ke-7 sebagai momentum akselerasi institusi. Ia menekankan pentingnya konsistensi dalam penguatan riset, pengembangan inovasi, serta peningkatan mutu akademik secara berkelanjutan.

Pada kesempatan tersebut, Rektor juga menyampaikan apresiasi kepada Yayasan, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni, dan seluruh mitra atas kontribusi dan kerja kolektif dalam perjalanan Universitas Mulia hingga mencapai usia tujuh tahun.

“Dirgahayu Universitas Mulia ke-7. Mulia dalam Riset, Unggul dalam Inovasi,” tutupnya.

(YMN)

Mahasiswa PG-PAUD UM Ciptakan Dongeng Digital: Gerakan Literasi dari Layar ke Hati

Balikpapan, 20 Oktober 2025 – Di tengah derasnya gelombang digitalisasi pendidikan, mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG-PAUD) Universitas Mulia memilih jalannya sendiri: melestarikan budaya bercerita melalui teknologi. Melalui kegiatan Workshop Pembuatan Buku Dongeng Digital, mereka menghidupkan kembali tradisi lisan dalam bentuk karya interaktif yang bisa diakses dari layar mana pun.

Ketua Himpunan Mahasiswa (HIMA) PG-PAUD, Nur Wahida, menjelaskan bahwa gagasan kegiatan ini lahir bukan sekadar untuk memenuhi program kerja organisasi, tetapi sebagai respon terhadap perubahan besar dalam dunia pendidikan anak.

“Awalnya kegiatan ini merupakan program kerja HIMA periode 2024–2025, namun kami melihat tren pendidikan yang kini semakin kuat dengan konten digital. Dari situ muncul ide untuk mengembangkan dongeng tradisional agar masuk dalam dunia digitalisasi,” ujarnya.

Tema “Membangun Kreativitas Guru AUD melalui Karya Buku Dongeng Digital yang Interaktif dan Edukatif” dipilih bukan tanpa alasan. Bagi HIMA PG-PAUD, kreativitas guru bukan hanya kemampuan mencipta cerita, tetapi kemampuan menjembatani nilai-nilai budaya dengan teknologi yang akrab di tangan anak-anak.

Foto bersama usai workshop pembuatan buku dongeng digital di ruang eksekutif White Campus Universitas Mulia, Sabtu (19/10/2025).

“Tema ini menjadi bentuk harapan agar guru PAUD mampu menciptakan karya yang bisa digunakan dalam pembelajaran, yang tetap interaktif dan edukatif,” jelasnya.

Respons peserta pun melampaui ekspektasi. Mahasiswa mengaku antusias karena untuk pertama kalinya mereka menghasilkan karya digital yang bisa dibaca dan dibagikan secara luas.

“Workshop ini jadi pengalaman pertama bagi banyak mahasiswa. Mereka membuat karya asli, mempublikasikannya secara online, dan menyadari bahwa hasil kreativitas mereka bisa diakses oleh banyak orang,” katanya.

 Suasana workshop di Laboratorium A White Campus saat peserta antusias membuat buku dongeng digital interaktif sebagai hasil praktik pembelajaran.

Ketertarikan juga datang dari kalangan pendidik PAUD di luar kampus. Beberapa kepala sekolah dan Bunda PAUD Balikpapan Selatan turut hadir meninjau jalannya workshop.

“Dari kunjungan itu, beberapa kepala sekolah bahkan tertarik memasukkan karya mahasiswa ke galeri pustaka digital Bunda PAUD Balikpapan Selatan,” ungkapnya.

Dalam kegiatan yang berlangsung selama dua hari itu, setiap peserta wajib menulis dan merancang satu buku dongeng digital secara mandiri. Setiap naskah dibuat dari ide orisinal peserta dan dipublikasikan melalui platform FlipHTML5, agar bisa dibaca publik secara daring.

“Kami ingin setiap peserta benar-benar menulis cerita mereka sendiri, bukan menyalin. Semua karya dipublikasikan agar bisa menjadi bagian dari literasi digital anak,” jelasnya.

HIMA PG-PAUD juga berkolaborasi dengan narasumber profesional di bidang mendongeng dan pembuatan konten digital agar peserta dapat belajar langsung dari praktisi.

Ketua HIMA PGPAUD Universitas Mulia, Nur Wahida, menyerahkan sertifikat penghargaan kepada narasumber pertama, Kak Eri, pendongeng Balikpapan yang inspiratif.

“Kami menyiapkan pemateri yang kompeten di setiap sesi agar peserta tidak hanya paham teori, tapi juga mampu menerapkannya dalam karya,” katanya.

Bagi pengurus HIMA, kegiatan ini menjadi laboratorium organisasi yang nyata — tempat belajar manajemen acara, kolaborasi eksternal, hingga kepemimpinan dalam dunia akademik.

“Pelajaran paling berharga bagi kami adalah bagaimana menyelenggarakan kegiatan secara sistematis dan bekerja sama dengan berbagai pihak. Itu pengalaman penting,” ujarnya.

Tak berhenti di situ, seluruh karya mahasiswa yang terkumpul akan dikurasi untuk diterbitkan dalam Galeri Pustaka Digital PG-PAUD Universitas Mulia, dan ke depan direncanakan memperoleh sertifikat HAKI sebagai bentuk penghargaan terhadap kreativitas mahasiswa.

“Kami berharap karya-karya ini bisa diseleksi dan mendapat HAKI, bahkan dicetak menjadi satu buku kumpulan dongeng. Itu bentuk nyata bahwa mahasiswa bisa menghasilkan karya yang bermakna,” pungkasnya.

Kak Eri menampilkan praktik mendongeng yang memukau dan interaktif di hadapan peserta workshop, memancing tawa dan imajinasi mahasiswa PGPAUD.

 

Melalui langkah sederhana namun visioner ini, mahasiswa PG-PAUD Universitas Mulia telah menegaskan satu hal: bahwa teknologi bukan lawan dari tradisi, melainkan ruang baru untuk membuat nilai-nilai budaya tetap hidup dan dapat disentuh oleh generasi yang tumbuh di depan layar. (YMN)