Balikpapan, 21 April 2026 — Peringatan Hari Kartini di Daycare Ananda Mulia Universitas Mulia berlangsung tanpa panggung seremoni yang kaku. Tidak ada sekadar parade busana atau sesi foto simbolik. Yang tampak justru proses belajar yang hidup—anak-anak bermain peran, bercerita, menyusun kolase, hingga menyuarakan pendapat mereka dengan cara yang sederhana namun bermakna.

Kegiatan ini digagas oleh guru Daycare Ananda Mulia yang berada di bawah Laboratorium (living lab) Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG PAUD) Universitas Mulia. Dalam kerangka ini, peringatan Hari Kartini tidak ditempatkan sebagai agenda tahunan semata, melainkan sebagai bagian dari praktik pendidikan yang terstruktur dan berkelanjutan.

Kaprodi PG PAUD Universitas Mulia, Bety Vitriana, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk konkret dari pendekatan experiential learning yang dikembangkan di lingkungan prodi. Living lab, menurutnya, menjadi ruang temu antara konsep perkuliahan dengan realitas pengasuhan anak.

“Living lab atau Daycare Ananda Mulia menjadi jembatan antara konsep di kelas—seperti bermain sambil belajar, pengembangan karakter, hingga pendidikan berbasis kearifan lokal—dengan praktik sehari-hari di daycare. Ketika guru memaknai Kartini tidak hanya melalui pakaian adat, tetapi melalui aktivitas bermakna, di situlah prinsip developmentally appropriate practice benar-benar terjadi,” ujarnya.

Langkah-langkah kecil itu menyusuri catwalk sederhana di Daycare Ananda Mulia—bukan sekadar berjalan, tetapi belajar percaya diri sejak usia dini.

Dalam perspektif prodi, sosok Kartini tidak diposisikan semata sebagai simbol emansipasi, melainkan sebagai sumber nilai yang relevan bagi dunia anak. Nilai keberanian, kesetaraan, dan kebebasan berekspresi diterjemahkan ke dalam aktivitas yang dekat dengan pengalaman anak.

Anak-anak diajak memahami bahwa permainan tidak memiliki batasan gender. Anak laki-laki bebas bermain masak-masakan, sementara anak perempuan dapat berlari dan bermain bola. Melalui cerita bergambar dan interaksi sederhana, mereka belajar bahwa setiap anak memiliki hak yang sama untuk bermain, berekspresi, dan bermimpi.

Pendekatan ini menjadi pembeda dibandingkan peringatan Hari Kartini yang bersifat seremonial. Di Daycare Ananda Mulia, setiap kegiatan dirancang melalui tahapan pedagogis yang jelas: pengenalan melalui cerita dan lagu, pelaksanaan melalui bermain peran dan berkarya, hingga refleksi melalui percakapan bersama anak.

Guru Daycare Ananda Mulia, Novi Nurdiana, S.Pd., menyebut bahwa setiap aktivitas memiliki capaian pembelajaran yang terukur. Anak tidak hanya mengikuti kegiatan, tetapi belajar mengekspresikan diri, melatih motorik halus, serta memahami konsep keadilan secara sederhana.

Dengan balutan blangkon dan busana adat Jawa hitam, si kecil tampil menggemaskan—mengenal budaya sejak usia satu tahun, dengan caranya sendiri.

Peran living lab tidak berhenti pada pelaksanaan kegiatan. Kepala Laboratorium PG PAUD, Merlina, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa setiap kegiatan selalu diikuti dengan proses lesson learned yang melibatkan dosen, mahasiswa, dan guru. Hasil refleksi tersebut kemudian didokumentasikan sebagai praktik baik (best practice) yang dapat digunakan kembali dalam pembelajaran di kelas.

“Dokumentasi ini menjadi bahan ajar dalam mata kuliah seperti Bermain dan Permainan atau Strategi Pembelajaran PAUD. Bahkan bisa dikembangkan untuk tema lain seperti Hari Pahlawan atau Hari Ibu,” jelasnya.

Keterlibatan mahasiswa menjadi bagian penting dalam ekosistem ini. Mahasiswa tidak hanya hadir sebagai pengamat, tetapi terlibat sejak tahap perencanaan hingga evaluasi—mulai dari menyusun narasi cerita, merancang alat peraga, memandu kegiatan, hingga melakukan observasi perilaku anak.

“Living lab menjadi ruang bagi mahasiswa untuk belajar menjadi guru yang reflektif. Mereka tidak hanya belajar mengajar, tetapi juga belajar memahami anak secara utuh,” kata Bety.

Dari sisi penguatan karakter, Kepala Sekolah Daycare Ananda Mulia, Ratna Pangalima, melihat bahwa nilai-nilai Kartini justru paling efektif ditanamkan melalui aktivitas yang menyenangkan. Anak-anak belajar menyampaikan pendapat, menghargai teman, dan bekerja sama tanpa merasa sedang diajarkan.

“Di akhir kegiatan, ada anak yang berkata, ‘Hari ini aku bisa jalan seperti model pakai kebaya.’ Ada juga yang bilang ingin bermain masak-masakan lagi bersama temannya. Dari situ terlihat bahwa mereka menyerap pengalaman itu dengan cara mereka sendiri,” tuturnya.

Bagi prodi, kegiatan ini sekaligus menjadi ruang evaluasi. Indikator yang digunakan tidak bersifat administratif, melainkan berangkat dari respons alami anak—mulai dari antusiasme, interaksi sosial, hingga cerita yang mereka bawa pulang ke rumah.

“Kalau anak pulang lalu bercerita ke orang tuanya bahwa ia ingin belajar seperti Kartini, itu indikator paling jujur bahwa pembelajaran berhasil,” ujar Bety.

Daycare Ananda Mulia sendiri telah mengantongi Izin Pendirian Nomor 421.2/92/DPMPTSP dan Izin Operasional Nomor 400.3/2711/DISDIKBUD, serta mulai berkembang sebagai rujukan praktik pendidikan anak usia dini berbasis kampus di tingkat lokal. Hal ini tercermin dari adanya permintaan studi tiru dari Institut Teknologi Kalimantan (ITK) yang tengah mengembangkan daycare serupa.

Senyum percaya diri terpancar dari wajah anak-anak di perayaan Hari Kartini—cantik dalam ekspresi, bebas dalam berekspresi.

Di sisi lain, kekuatan utama Daycare Ananda Mulia tidak hanya terletak pada layanan pengasuhan, tetapi pada pendekatannya yang menjadikan setiap momentum pembelajaran—termasuk peringatan hari besar nasional—sebagai sarana pembentukan karakter anak. Setiap kegiatan didokumentasikan dan direfleksikan sebagai praktik baik (best practice) yang kemudian dimanfaatkan sebagai bahan ajar di lingkungan prodi. Guru-guru juga dibiasakan melakukan observasi perkembangan anak secara berkelanjutan, sehingga pendekatan pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan individual.

Meski telah menjadi rujukan di tingkat lokal, pengembangan ke arah regional tengah disiapkan melalui penyusunan panduan kegiatan tematik, penguatan jejaring dengan lembaga PAUD, serta pembukaan ruang berbagi praktik bagi pendidik dari berbagai daerah.

Menutup pernyataannya, Bety menyampaikan refleksi yang melampaui konteks peringatan Hari Kartini itu sendiri. Ia menekankan bahwa pendidikan anak usia dini bukan sekadar membentuk peran sosial, tetapi membangun manusia seutuhnya.

“Kita tidak sedang membesarkan anak laki-laki atau perempuan. Kita sedang membesarkan generasi masa depan,” tutupnya. (YMN)

 

Oleh: Wahyu Nur Alimyaningtias, S.Kom., M.Kom.

Balikpapan, 21 April 2026— Di sebuah ruang kelas sederhana di Universitas Mulia, cahaya lampu menerangi wajah-wajah penuh harapan. Duduk di depan, dosen dan beberapa mahasiswa wanita duduk dengan senyum hangat—sosok yang bukan hanya pengajar, tetapi juga inspirasi. Di belakang mereka, berdiri para mahasiswa dengan penuh semangat, sebagian mengepalkan tangan, sebagian lagi tersenyum percaya diri. Sebuah potret kecil, namun menyimpan cerita besar tentang perjuangan, mimpi, dan masa depan.

Hari itu terasa Istimewa, semangat Hari Kartini hidup dalam ruangan tersebut. Kartini pernah berkata bahwa perempuan harus berani berpikir dan maju. Semangat itulah yang kini menjelma dalam diri para akademisi wanita di Universitas Mulia. Mereka hadir bukan sekadar mengajar teori, tetapi menjadi jembatan bagi generasi muda—terutama generasi Z—untuk memahami dunia yang terus berubah dengan cepat.

Di tengah tantangan era digital, para dosen wanita Universitas Mulia membuktikan bahwa kelembutan bisa berjalan berdampingan dengan ketegasan, dan empati bisa menjadi kekuatan dalam mendidik. Mereka tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga menanamkan nilai: disiplin, keberanian, dan kepercayaan diri. Mereka memahami bahwa mahasiswa hari ini membutuhkan lebih dari sekadar materi—mereka butuh arah, motivasi, dan teladan.

Sementara itu, para mahasiswa berdiri sebagai simbol harapan masa depan. Dengan gaya khas generasi Z dinamis, kreatif, dan penuh ekspresi , mereka menunjukkan bahwa belajar bukan lagi sekadar kewajiban, tetapi sebuah perjalanan menuju cita-cita. Kepalan tangan mereka bukan hanya gaya, tetapi simbol tekad: tekad untuk sukses, untuk membanggakan keluarga, dan untuk memberikan kontribusi nyata bagi bangsa.

Wahyu Nur Alimyaningtias, S.Kom., M.Kom. berfoto bersama mahasiswa dan mahasiswinya usai perkuliahan, merekam momen kebersamaan yang hangat sekaligus mencerminkan semangat kolaborasi dan inspirasi di lingkungan Universitas Mulia.

Di ruangan itu, tidak ada batas antara dosen dan mahasiswa, yang ada adalah kolaborasi. Perjuangan akademisi wanita dan semangat belajar mahasiswa berpadu menjadi satu energi besar. Energi yang akan melahirkan inovasi, membentuk karakter, dan menciptakan masa depan yang lebih baik.

Cerita ini mengajarkan satu hal:
bahwa perjuangan tidak pernah sia-sia ketika dilakukan dengan hati.
Bahwa pendidikan adalah cahaya, dan perempuan adalah salah satu penjaga nyalanya.
Dan bahwa setiap mahasiswa, dengan semangat dan kerja kerasnya, sedang menulis kisah suksesnya sendiri.

Di Hari Kartini ini, semangat itu terus hidup di kelas-kelas, di pikiran, dan di hati mereka yang percaya bahwa mimpi bukan untuk ditunda, tetapi untuk diwujudkan.n (WN)

Balikpapan, 21 April 2026 – Universitas Mulia melakukan penataan pada layanan pengembangan karier mahasiswa melalui penguatan fungsi Career Development Center (CDC). Langkah ini diarahkan untuk memastikan kesiapan lulusan menghadapi kebutuhan dunia kerja yang terus berubah, sekaligus memperjelas peran CDC dalam sistem pendukung akademik di tingkat universitas.

Berdasarkan Surat Keputusan Rektor Universitas Mulia Nomor: 038/SK/REKTOR/UM/IV/2026, terhitung sejak 10 April 2026, Dr. Linda Fauziyah Ariyani, S.Pd., M.Pd ditetapkan sebagai Kepala Bagian Career Development Center Universitas Mulia.

Penetapan ini menjadi bagian dari upaya institusi dalam menata kembali fungsi CDC agar tidak berhenti pada penyediaan informasi lowongan kerja, tetapi berkembang sebagai pusat layanan yang mengintegrasikan pembinaan kompetensi, pemetaan minat karier, dan koneksi dengan dunia industri.

Dalam pernyataannya, Dr. Linda menyampaikan bahwa CDC akan diarahkan untuk memperkuat kesiapan mahasiswa melalui pendekatan yang lebih terukur dan berorientasi kebutuhan lapangan kerja.

“Career Development Center perlu hadir sebagai ruang pengembangan yang membantu mahasiswa memahami arah kariernya. Tidak hanya mengakses informasi pekerjaan, tetapi juga menyiapkan kompetensi dan kepercayaan diri untuk memasuki dunia profesional,” ujarnya.

Sejalan dengan itu, CDC Universitas Mulia akan mengembangkan sejumlah program yang berfokus pada peningkatan kesiapan karier mahasiswa, di antaranya pelatihan career readiness, penguatan personal branding, layanan career coaching, serta mekanisme job matching yang lebih sistematis, disertai perluasan kerja sama dengan dunia usaha dan industri.

Selain penguatan program, keterlibatan alumni juga akan dioptimalkan sebagai bagian dari ekosistem pembelajaran karier. Peran alumni diarahkan tidak hanya sebagai jejaring, tetapi juga sebagai sumber pengalaman yang dapat diakses mahasiswa dalam memahami dinamika dunia kerja secara lebih nyata.

Melalui penataan ini, CDC Universitas Mulia diposisikan sebagai penghubung antara proses akademik dan kebutuhan profesional, sekaligus memperluas peran mahasiswa sebagai individu yang tidak hanya mencari peluang kerja, tetapi juga memiliki kapasitas untuk menciptakan peluang.

Langkah ini menjadi bagian dari penguatan sistem pembelajaran di Universitas Mulia yang menempatkan kesiapan karier sebagai salah satu indikator penting dalam proses pendidikan tinggi.

Dengan arah pengembangan tersebut, CDC Universitas Mulia diarahkan untuk berfungsi sebagai pusat layanan karier yang responsif terhadap kebutuhan mahasiswa serta perkembangan dunia kerja yang terus bergerak. (YMN)

 

Balikpapan, 21 April 2026—Di tengah percepatan perkembangan teknologi dan kompleksitas isu digital, Program Studi Teknologi Informasi Universitas Mulia menempatkan kemampuan komunikasi sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kompetensi akademik. PRISMATALK 2026 disusun sebagai respons atas persoalan yang kerap muncul di dunia kerja: kuat secara teknis, namun lemah dalam menyampaikan gagasan.

Hasil wawancara dengan ketua penyelenggara, Aljosa Maynardian, menunjukkan bahwa kegiatan ini berangkat dari realitas tersebut. Banyak praktisi teknologi mengalami kesulitan ketika harus berbicara di depan publik, menjelaskan solusi, atau bernegosiasi lintas bidang. Kondisi ini kemudian diterjemahkan ke dalam desain kegiatan yang tidak hanya menghadirkan materi, tetapi juga ruang latihan bagi mahasiswa untuk mengasah keberanian dan ketepatan berkomunikasi.

PRISMATALK menghadirkan perspektif ganda—komunikasi profesional dan praktik industri—yang memperlihatkan bahwa persoalan di dunia kerja tidak selalu bersifat teknis. Dalam banyak kasus, kemampuan menjelaskan ide secara sederhana justru menjadi penentu apakah sebuah solusi dapat diterima atau tidak. Di sinilah mahasiswa didorong untuk melampaui batas pembelajaran di kelas.

Lebih jauh, kegiatan ini mencerminkan pendekatan pembelajaran yang berbasis pengalaman. Diskusi interaktif dan tanya jawab kritis menjadi medium untuk melatih retorika, menyusun argumen, serta membangun kepercayaan diri di ruang publik. Dengan cara ini, mahasiswa tidak hanya memahami konsep, tetapi juga menguji bagaimana konsep tersebut dikomunikasikan.

Dari sisi internal, PRISMATALK juga berfungsi sebagai ruang belajar organisasi. Proses perencanaan yang berlangsung dalam waktu terbatas, dinamika koordinasi tim, hingga penyelesaian berbagai kendala teknis menjadi pengalaman langsung dalam manajemen proyek. Hal ini memperlihatkan bahwa penguatan kapasitas mahasiswa tidak hanya terjadi di forum seminar, tetapi juga dalam proses penyelenggaraan kegiatan itu sendiri.

Ke depan, PRISMATALK diproyeksikan sebagai bagian dari PRISMA—sebuah inisiatif berkelanjutan yang diarahkan untuk membangun literasi digital di lingkungan akademik. Orientasinya tidak berhenti pada pelaksanaan tahunan, tetapi pada upaya membentuk budaya riset, inovasi, serta komunikasi ilmiah yang lebih matang di kalangan mahasiswa Teknologi Informasi Universitas Mulia. (YMN)

 

Balikpapan, 21 April 2026—Program Studi Teknologi Informasi Universitas Mulia menyelenggarakan PRISMATALK 2026 di Ballroom Cheng Hoo sebagai bagian dari rangkaian Dies Natalis. Kegiatan ini diinisiasi oleh Himpunan Mahasiswa Teknologi Informasi dan dirancang sebagai forum akademik yang menghubungkan penguatan kompetensi mahasiswa dengan kebutuhan dunia industri.

Acara dibuka melalui sambutan Oleh Kepala BAAK FIKOM Universitas Mulia, Muhammad Safi’i, S.Kom., M.Kom., yang menegaskan pentingnya pengembangan kapasitas mahasiswa tidak hanya pada aspek teknis, tetapi juga pada kemampuan adaptasi dan komunikasi di tengah dinamika teknologi yang terus berkembang. Prosesi pemotongan tumpeng menjadi penanda simbolis peringatan Dies Natalis Program Studi Teknologi Informasi.

Memasuki sesi utama, PRISMATALK menghadirkan narasumber dari kalangan praktisi industri, yaitu Ahmad Maulana Rismadin (Technical Writer & QA Annotator Minergo System), Rifandi Adi Yudha Tama (Corporate Communications Telkomsel Kalimantan), serta Ondo Harinduan Putra (Manager Mobile Consumer Telkomsel Branch Balikpapan). Ketiganya mengulas pengalaman profesional dalam menghadapi tantangan komunikasi di lingkungan kerja teknologi yang menuntut ketepatan, kejelasan, dan kemampuan menjembatani aspek teknis dengan kebutuhan bisnis.

Diskusi berlangsung interaktif, dengan peserta terlibat dalam tanya jawab yang mengangkat persoalan aktual, mulai dari penyampaian ide teknis hingga strategi menjelaskan solusi kompleks kepada audiens non-teknis. Forum ini memperlihatkan bagaimana komunikasi menjadi bagian integral dalam praktik teknologi, bukan sekadar pelengkap.

Kegiatan dilanjutkan dengan lomba cerdas cermat yang diikuti oleh perwakilan tiga sekolah sebagai finalis. Kehadiran peserta dari luar kampus menjadi bagian dari upaya memperluas jangkauan akademik serta memperkenalkan lingkungan pembelajaran Teknologi Informasi Universitas Mulia kepada pelajar.

Rangkaian acara ditutup dengan penyerahan penghargaan kepada para pemenang lomba dan peserta terpilih. Secara keseluruhan, PRISMATALK 2026 tidak hanya menjadi agenda peringatan, tetapi juga berfungsi sebagai medium penguatan ekosistem akademik yang mendorong interaksi antara mahasiswa, praktisi, dan calon mahasiswa dalam satu ruang pembelajaran yang terintegrasi. (YMN)

 

Oleh: Dr. Linda Fauziyah Ariyani, M.Pd.

Balikpapan, 21 April 2026—Hari Kartini bukan sekadar seremoni tahunan yang diperingati setiap 21 April. Lebih dari itu, Kartini adalah simbol keberanian untuk melampaui batas—batas budaya, batas pemikiran, bahkan batas yang seringkali diciptakan oleh diri sendiri. Semangat inilah yang relevan hingga hari ini, terutama di tengah dunia yang terus berubah dan menuntut setiap individu untuk adaptif, tangguh, dan berdaya.

Kartini masa kini bukan lagi hanya tentang perjuangan emansipasi dalam arti sempit, tetapi tentang bagaimana perempuan mampu hadir sebagai pribadi yang mandiri, berdaya, dan memberi kontribusi nyata. Kemandirian menjadi fondasi utama. Dari kemandirian lahir keberanian, dari keberanian lahir karya, dan dari karya lahir dampak. Perempuan yang mandiri tidak hanya mampu berdiri untuk dirinya sendiri, tetapi juga mampu menjadi sumber kekuatan bagi lingkungan di sekitarnya.

Dalam konteks saat ini, kebutuhan dunia kerja dan masyarakat tidak lagi melihat gender sebagai batas, melainkan kompetensi, karakter, dan kontribusi. Oleh karena itu, perempuan—khususnya mahasiswa—perlu mempersiapkan diri sejak dini. Tidak cukup hanya unggul secara akademik, tetapi juga harus memiliki keterampilan, kepercayaan diri, serta kemampuan untuk terus belajar dan berkembang. Dunia hari ini membutuhkan perempuan yang tidak hanya cerdas, tetapi juga tangguh dan solutif.

Bagi mahasiswa Universitas Mulia, momentum Hari Kartini harus menjadi pengingat bahwa masa depan tidak ditentukan oleh siapa kita hari ini, tetapi oleh apa yang kita lakukan mulai sekarang. Beranilah mencoba, beranilah gagal, dan beranilah bangkit kembali. Jangan menunggu sempurna untuk memulai, karena setiap langkah kecil yang dilakukan dengan konsisten akan membawa pada perubahan besar.

Peran dosen dan tenaga kependidikan juga sangat penting dalam menumbuhkan semangat Kartini masa kini. Lingkungan akademik harus menjadi ruang yang aman dan suportif bagi setiap mahasiswa untuk berkembang tanpa rasa takut atau ragu. Memberikan dukungan, membuka ruang diskusi, serta menjadi teladan dalam integritas dan profesionalisme adalah bagian dari kontribusi nyata dalam melahirkan generasi yang berdaya.

Secara pribadi, saya memaknai Kartini sebagai sumber inspirasi untuk tidak pernah menyerah dalam kondisi apa pun. Perjalanan hidup mengajarkan bahwa tantangan akan selalu ada, tetapi pilihan untuk tetap melangkah adalah kekuatan terbesar yang kita miliki. Saya percaya bahwa perempuan memiliki kemampuan luar biasa untuk bertahan, bangkit, dan terus berkarya.

Saya juga meyakini bahwa setiap individu memiliki peran untuk memberikan dampak, sekecil apa pun itu. Prinsip hidup yang saya pegang hingga hari ini adalah berusaha menjadikan setiap orang yang saya temui menjadi lebih baik atau setidaknya lebih bahagia. Karena pada akhirnya, keberhasilan sejati bukan hanya tentang apa yang kita capai, tetapi tentang seberapa banyak kebaikan yang bisa kita sebarkan.

Semangat Kartini hari ini adalah tentang keberanian untuk menjadi versi terbaik dari diri sendiri dan keberanian untuk memberi arti bagi orang lain. Inilah saatnya kita semua—mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan—bersama-sama melanjutkan semangat tersebut. Bukan dengan kata-kata, tetapi dengan tindakan nyata.

Selamat Hari Kartini. Saatnya kita berkarya, berdaya, dan memberi dampak. (YMN)

Oleh: Yamani, S.S., M.Pd.

 

Balikpapan, 21 April 2026—Pagi itu, rumah kami berubah menjadi ruang ganti kecil yang riuh. Anak saya—yang masih di PAUD—berdiri di depan cermin dengan mata berbinar. Ia belum benar-benar memahami siapa Raden Ajeng Kartini, tapi ia tahu satu hal: hari itu ia harus tampil “cantik” dengan pakaian adat.

Ibunya mengambil peran dengan kesungguhan yang tidak main-main. Mencari, memilih, lalu menyewa baju adat Bugis yang menurutnya paling anggun. Kainnya jatuh rapi, warnanya lembut, dan ketika dikenakan, anak kami tampak seperti versi kecil dari masa lalu yang dipinjam sebentar untuk difoto. Ia tersenyum lebar. Kami pun, tanpa sadar, ikut larut dalam kebahagiaan yang sederhana itu.

Tidak ada yang salah di sana. Bahkan terasa hangat.

Namun, siang harinya—sekitar pukul 14:44 wita, realitas saya bergerak di jalur yang berbeda.

Sebuah pesan masuk dari kampus—terlambat, —memberitahukan bahwa dalam rangka Hari Kartini, seluruh civitas diminta mengenakan baju adat atau batik. Masalahnya sederhana: saya tidak punya. Batik lama telah lama menjadi kenangan yang tidak lagi muat di badan yang, entah sejak kapan, mulai bernegosiasi dengan gravitasi.

Waktu pun tidak berpihak. Dari sore hingga malam, saya mengajar. Tidak ada ruang untuk berbelanja, bahkan sekadar mencari pinjaman. Di tengah situasi itu, saya berdiri di depan lemari, menatap pilihan yang semakin menyempit, hingga akhirnya menemukan satu potong “jalan keluar”: batik organisasi Dewan Masjid.

Saya memakainya. Sedikit longgar di beberapa bagian, sedikit aneh di bagian lain. Tapi cukup untuk memenuhi syarat administratif yang tidak tertulis: yang penting terlihat ikut merayakan.

Di titik itulah, saya mulai bertanya—pelan, tapi mengganggu: apa sebenarnya yang sedang kita rayakan?

Jika kita kembali membaca surat-surat Raden Ajeng Kartini, kita tidak akan menemukan satu pun paragraf yang membicarakan kebaya sebagai alat perjuangan. Yang kita temukan justru kegelisahan intelektual, kritik terhadap keterbatasan akses pendidikan, dan hasrat yang nyaris radikal untuk berpikir merdeka.

Kartini tidak sedang memperjuangkan pakaian. Ia memperjuangkan kemungkinan.

Namun hari ini, kemungkinan itu sering direduksi menjadi simbol. Kebaya dan baju adat menjelma menjadi semacam “bahasa cepat” untuk menunjukkan bahwa kita sedang mengingatnya. Sebuah kode visual yang mudah dikenali, mudah direplikasi, dan—sayangnya—mudah pula kehilangan makna.

Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Dalam kajian budaya, ada kecenderungan yang disebut sebagai simbolisasi dangkal: ketika sesuatu yang kompleks dipadatkan menjadi tanda yang sederhana, lalu diulang terus-menerus hingga terasa cukup. Dalam konteks ini, kebaya menjadi tanda itu. Ia menggantikan diskursus.

Padahal, mengganti diskursus dengan simbol adalah bentuk kemalasan intelektual yang paling halus.

Di sekolah anak saya, kebaya itu berhasil menghadirkan kegembiraan. Anak-anak tertawa, berfoto, dan merasa istimewa. Itu penting. Masa kanak-kanak memang membutuhkan momen-momen seperti itu.

Tetapi di ruang yang lebih dewasa—kampus, misalnya—kita seharusnya bergerak lebih jauh dari sekadar estetika. Ketika mahasiswa dan dosen diminta mengenakan batik tanpa ruang dialog tentang gagasan Kartini, yang terjadi bukan internalisasi nilai, melainkan kepatuhan administratif yang dibungkus budaya.

Lebih jauh lagi, ada ironi yang sulit diabaikan.

Kita merayakan kebebasan yang Raden Ajeng Kartini perjuangkan, namun dalam cara-cara yang diam-diam membatasi ruang untuk menjadi diri sendiri. Tanpa disadari, peringatan ini belum sepenuhnya memberi tempat bagi semangat kritis yang pernah ia nyalakan. Dalam kondisi seperti itu, kebaya tidak lagi menjadi simbol budaya. Ia berubah menjadi kostum.

Apakah ini berarti kita harus berhenti memakai kebaya atau baju adat saat Hari Kartini?

Tidak sesederhana itu.

Simbol tetap punya tempat. Ia bisa menjadi pintu masuk, terutama bagi anak-anak. Ia bisa menjadi cara awal untuk mengenal identitas dan sejarah. Namun masalah muncul ketika pintu itu tidak pernah dibuka lebih lebar—ketika orang berhenti di ambang, merasa sudah sampai tujuan.

Yang kita butuhkan bukan penghapusan simbol, melainkan pemulihan makna.

Bayangkan jika di sekolah anak saya, setelah memakai baju adat, guru mengajak mereka—dengan cara yang sederhana—untuk memahami bahwa perempuan boleh bercita-cita setinggi apa pun. Bayangkan jika di kampus, alih-alih sekadar instruksi berpakaian, ada ruang diskusi tentang bagaimana gagasan Kartini masih relevan dalam isu akses pendidikan, kesetaraan kerja, atau bahkan dinamika rumah tangga modern.

Di sana, kebaya akan kembali menjadi simbol yang hidup—bukan sekadar kain yang difoto lalu dilupakan.

Pagi ini ketika saya mengenakan batik Dewan Masjid yang “apa adanya”, saya sempat tersenyum sendiri. Ada sedikit kelucuan, ada sedikit kejanggalan. Tetapi di balik itu, ada kesadaran yang pelan-pelan mengendap: kita sering terlalu sibuk terlihat merayakan, hingga lupa untuk benar-benar memahami apa yang dirayakan.

Anak saya mungkin belum mengerti siapa Kartini. Tapi suatu hari nanti, ia akan bertanya. Dan ketika itu terjadi, saya berharap bisa menjawab lebih dari sekadar, “Dia perempuan yang pakai kebaya.”

Saya ingin mengatakan bahwa ia adalah perempuan yang membuka kemungkinan—dan bahwa kemungkinan itu tidak pernah datang dari pakaian, melainkan dari keberanian untuk berpikir, belajar, dan melampaui batas yang dianggap wajar.

Jika tidak, kita hanya akan mewariskan satu hal: lemari penuh simbol, tetapi pikiran yang tetap sempit. (YMN)

 

BALIKPAPAN, 30 Maret 2026— Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Mulia melaksanakan kegiatan Bakti Sosial Gerakan Mahasiswa Mengabdi pada Sabtu, 14 Maret 2026, di Kampung Tumaritis, Kelurahan Graha Indah, Kota Balikpapan.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat yang diselenggarakan Universitas Mulia dalam momentum Ramadan 1446 H. Program tersebut menyasar warga prasejahtera yang sebagian besar bekerja di sektor informal, seperti buruh harian lepas dan pemulung.

BEM Universitas Mulia menyalurkan bantuan sosial kepada warga serta melakukan interaksi langsung melalui dialog dengan masyarakat setempat. Selain penyaluran bantuan, kegiatan juga diisi dengan pendekatan komunikasi untuk menggali kondisi dan kebutuhan warga.

Pelaksanaan kegiatan mendapat pendampingan dari unit terkait di lingkungan Universitas Mulia, yang terlibat dalam koordinasi lapangan, komunikasi dengan masyarakat, serta dukungan layanan sosial. Keterlibatan lintas unit ini menjadi bagian dari upaya institusi dalam memastikan program berjalan terarah dan sesuai kebutuhan masyarakat.

Tokoh masyarakat setempat, Ruslan, turut hadir dalam kegiatan tersebut dan memberikan dukungan terhadap pelaksanaan program. Keterlibatan unsur masyarakat dinilai penting untuk menjaga relevansi kegiatan dengan kondisi riil di lapangan.

Warga Kampung Tumaritis menyambut kegiatan ini dengan antusias. Sejumlah warga hadir di lokasi sejak siang hari untuk mengikuti rangkaian kegiatan dan menerima bantuan yang disalurkan.

Melalui kegiatan ini, Universitas Mulia menjalankan peran pengabdian kepada masyarakat sebagai bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. Program tersebut sekaligus menjadi ruang bagi mahasiswa untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat dan memahami kondisi sosial di lingkungan sekitar kampus. (YMN)

Balikpapan, 21 Maret 2026—Idulfitri bukan sekadar penanda berakhirnya Ramadan, tetapi momentum untuk menata ulang cara kita memaknai ilmu, kerja, dan pengabdian. Dalam keheningan yang lahir dari latihan menahan diri, kita diajak untuk kembali pada esensi: kejujuran dalam berpikir, integritas dalam bertindak, dan ketulusan dalam memberi manfaat.

Keluarga besar Universitas Mulia memaknai Idulfitri sebagai titik temu antara kecerdasan intelektual dan kedewasaan spiritual. Di ruang-ruang kelas, laboratorium, hingga pengabdian kepada masyarakat, nilai-nilai tersebut menjadi fondasi yang menjaga agar ilmu tidak kehilangan arah, dan kemajuan tidak tercerabut dari kemanusiaan.

Atas nama pimpinan Universitas Mulia, kami mengucapkan Selamat Idulfitri 1 Syawal 1447 H. Semoga kejernihan hati yang kita rawat selama Ramadan dapat berlanjut menjadi etos baru dalam berkarya—lebih jujur, lebih bertanggung jawab, dan lebih bermakna bagi sesama. (YMN)

 

Balikpapan, 19 Maret 2026 — Suasana haru dan kebersamaan menyelimuti Masjid Raudhatul Muta’allimin, Gunung Malang, Kelurahan Klandasan Ilir, Kecamatan Balikpapan Kota, pada Rabu (18/3/2026) sore. Kegiatan Pengabdian Masyarakat Program Studi PGPAUD Universitas Mulia dalam rangka Pesantren Kilat Ramadhan resmi ditutup setelah berlangsung selama hampir dua pekan, sejak 8 hingga 19 Maret 2026.

Selama pelaksanaan kegiatan, ratusan peserta dari jenjang TK hingga SMP mengikuti berbagai aktivitas pembelajaran yang memadukan nilai-nilai keislaman, pendidikan karakter, serta pengenalan bahasa Inggris untuk anak usia dini. Kehadiran mahasiswa PGPAUD Universitas Mulia sebagai pengajar dan fasilitator memberikan warna tersendiri dalam proses pembelajaran yang berlangsung interaktif dan menyenangkan.

Ketua PC DMI Balikpapan Kota, Ustadz Drs. H. Arbawi, menyampaikan apresiasi atas kontribusi mahasiswa dan pihak Universitas Mulia dalam menyukseskan kegiatan ini. Menurutnya, kolaborasi antara kampus dan masjid merupakan langkah strategis dalam membina generasi muda.

“Kami sangat mengapresiasi keterlibatan mahasiswa PGPAUD Universitas Mulia yang telah berkontribusi langsung dalam membina anak-anak di lingkungan masjid. Kegiatan seperti ini sangat kami harapkan dapat terus berlanjut karena memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” ujarnya.

Hal senada disampaikan oleh Kaprodi PGPAUD Universitas Mulia, Bety Vitriana, S.Pd., M.Pd. Ia menilai kegiatan ini tidak hanya menjadi bagian dari pengabdian masyarakat, tetapi juga ruang pembelajaran kontekstual bagi mahasiswa.

“Kegiatan ini merupakan implementasi nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi sekaligus penerapan kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE). Mahasiswa tidak hanya belajar secara teoritis, tetapi juga mengaplikasikan ilmunya secara langsung, sekaligus membangun empati dan tanggung jawab sosial,” ungkapnya.

Dari sisi peserta, kegiatan ini meninggalkan kesan mendalam. Keisya Novtria Gerung, siswa kelas 5 SD, mengaku senang mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.

“Belajarnya seru, ada game, ada belajar bahasa Inggris, sama diajarkan adab di masjid. Kakak-kakaknya juga baik dan menyenangkan,” tuturnya.

Sementara itu, Muhammad Sirhan, siswa kelas 4 SD, mengungkapkan bahwa dirinya menjadi lebih memahami adab di masjid.

“Saya jadi tahu mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan di masjid. Belajarnya tidak membosankan karena ada permainan juga,” katanya.

Apresiasi juga datang dari orang tua peserta. Ibu Syifa, yang ketiga anaknya mengikuti kegiatan ini, merasakan manfaat langsung dari program tersebut.

“Anak-anak saya pulang dengan cerita yang berbeda setiap hari. Mereka jadi lebih semangat ke masjid, lebih sopan, dan bahkan mulai mempraktikkan apa yang mereka pelajari di rumah. Kami sebagai orang tua sangat bersyukur dengan adanya kegiatan ini,” ujarnya.

Dukungan masyarakat juga disampaikan oleh Ketua RT 44 Klandasan Ilir, Ibu Ida, yang melihat dampak positif kegiatan ini di lingkungan sekitar.

“Kegiatan ini sangat baik dan memberikan dampak nyata bagi anak-anak di lingkungan kami. Mereka tidak hanya mendapatkan ilmu, tetapi juga pembinaan karakter. Kami berharap kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut,” ucapnya.

Dosen pengampu mata kuliah Bahasa Inggris Universitas Mulia, Yamani, S.S., M.Pd., menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk pembelajaran berbasis praktik yang berdampak langsung, sejalan dengan arah kebijakan pendidikan tinggi saat ini.

“Pengabdian ini mencerminkan pembelajaran yang berdampak (impactful learning), di mana mahasiswa tidak hanya belajar untuk memenuhi capaian akademik, tetapi juga memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat. Mereka belajar mengajar secara langsung, memahami karakter anak, serta mengintegrasikan bahasa Inggris dengan nilai-nilai keislaman dalam konteks yang nyata,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa pengalaman ini menjadi bekal penting bagi mahasiswa sebagai calon pendidik, sekaligus memperkuat keterkaitan antara dunia akademik dan kebutuhan masyarakat.

Penutupan kegiatan berlangsung sederhana namun penuh makna, ditandai dengan doa bersama dan kebersamaan antara mahasiswa, peserta, orang tua, serta pengurus masjid. Lebih dari sekadar kegiatan Ramadhan, Pesantren Kilat ini menjadi ruang kolaborasi yang menghadirkan pembelajaran, kebahagiaan, dan pembentukan karakter bagi generasi muda.

Kegiatan ini diharapkan menjadi model pengabdian masyarakat yang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi benar-benar menghadirkan dampak berkelanjutan bagi lingkungan, sejalan dengan semangat pendidikan tinggi yang berorientasi pada kebermanfaatan nyata di tengah masyarakat. (YMN)