Balikpapan, 8 Mei 2026 – Suasana Domain Space Universitas Mulia pada Jumat (8/5/2026) tampak berbeda dari biasanya. Sejumlah pelajar SMA dan SMK bergantian berdiri di depan peserta lain, mencoba memperkenalkan diri menggunakan bahasa Inggris. Sebagian masih terdengar ragu-ragu, beberapa kali tertawa kecil karena salah pengucapan, tetapi ruangan tetap dipenuhi tepuk tangan dan dukungan dari peserta lain.

Momen tersebut menjadi bagian dari workshop “The Next Level: Public Speaking with English Club Universitas Mulia” yang diselenggarakan UKM English Club Universitas Mulia. Sebanyak 28 pelajar dari berbagai sekolah di Kota Balikpapan mengikuti kegiatan yang berfokus pada pelatihan public speaking dan penguatan kepercayaan diri dalam berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris.

Berbeda dari seminar satu arah, workshop ini dikemas dengan pendekatan yang lebih interaktif. Peserta tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga langsung mempraktikkan cara berbicara di depan publik melalui simulasi presentasi, perkenalan diri, diskusi kelompok, hingga evaluasi sederhana terhadap performa masing-masing peserta.

Narasumber workshop, Ahmad Sya’bana, mahasiswa Program Studi Akuntansi angkatan 2023 yang aktif di UKM English Club, menyampaikan materi menggunakan bahasa Inggris. Ia menjelaskan bahwa kemampuan berbicara di depan umum saat ini menjadi salah satu keterampilan yang semakin dibutuhkan, baik dalam dunia akademik maupun lingkungan kerja profesional.

“Public speaking bukan hanya tentang berbicara di depan banyak orang, tetapi bagaimana seseorang mampu menyampaikan gagasan dengan jelas, terstruktur, dan mampu memengaruhi audiens secara positif,” ujarnya.

Ahmad Sya’bana saat membawakan materi public speaking berbahasa Inggris dalam workshop “The Next Level” yang digelar UKM English Club Universitas Mulia. Melalui sesi interaktif dan praktik langsung, peserta diajak membangun keberanian berbicara di depan publik sejak usia sekolah.

Menurut Ahmad, banyak pelajar sebenarnya memiliki ide dan kemampuan, tetapi sering kesulitan menyampaikannya karena kurang terbiasa berbicara di depan umum. Karena itu, latihan komunikasi perlu dimulai sejak dini agar rasa percaya diri dapat tumbuh bersamaan dengan kemampuan akademik.

Ketua UKM English Club, Gita Khairunnisa, mengatakan kegiatan tersebut memang dirancang untuk menciptakan ruang belajar bahasa Inggris yang lebih santai dan aplikatif bagi generasi muda. Ia menilai masih banyak pelajar yang merasa takut menggunakan bahasa Inggris karena khawatir melakukan kesalahan saat berbicara.

“Kami ingin peserta merasa bahwa belajar bahasa Inggris tidak harus selalu tegang. Yang penting berani mencoba dulu dan mau terus belajar,” katanya.

Selama kegiatan berlangsung, suasana workshop beberapa kali berubah menjadi lebih cair ketika panitia menghadirkan sesi ice breaking dan games edukatif. Peserta yang awalnya terlihat pasif mulai aktif berdiskusi dan saling memberi dukungan saat sesi praktik berlangsung.

Pembina UKM English Club, Riski Zulkarnain, S.Pd., M.Pd., menilai kegiatan semacam ini penting karena dunia pendidikan saat ini tidak hanya menuntut kemampuan akademik, tetapi juga kemampuan komunikasi, berpikir kritis, dan keberanian tampil di depan publik.

Ia menyebut organisasi mahasiswa memiliki ruang yang cukup besar untuk menghadirkan kegiatan yang memberi dampak langsung kepada masyarakat, termasuk pelajar sekolah menengah yang sedang mempersiapkan diri menghadapi dunia perkuliahan dan kerja.

“Mahasiswa dan pelajar sekarang perlu membiasakan diri menyampaikan ide dengan baik. Kemampuan itu akan sangat dibutuhkan di berbagai bidang,” ujarnya.

Seluruh rangkaian workshop dipersiapkan oleh mahasiswa anggota UKM English Club Universitas Mulia. Keterlibatan mahasiswa sebagai panitia sekaligus fasilitator menunjukkan bagaimana organisasi kemahasiswaan tidak hanya menjadi ruang berkegiatan, tetapi juga tempat belajar mengelola program edukatif secara langsung.

Melalui kegiatan ini, Universitas Mulia mencoba menghadirkan pendekatan pembelajaran yang lebih dekat dengan kebutuhan generasi muda saat ini—tidak hanya mengasah kemampuan akademik, tetapi juga membangun keberanian untuk berbicara, menyampaikan ide, dan tampil percaya diri di ruang publik. (YMN)

 

Balikpapan — Universitas Mulia menerima kunjungan silaturahmi dari tim Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) dalam rangka inisiasi kerja sama pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Kegiatan ini juga menjadi momentum untuk memperkenalkan program internasional Doctorate in Business dan Master of Business Administration (MBA) yang dikelola oleh FEB UGM.

Kunjungan tersebut dihadiri langsung oleh Prof. Nurul Indarti, S.E., Sivilokonom, Cand.Merc., Ph.D., selaku Ketua Departemen Manajemen FEB UGM; Prof. Gugup Kismono, Ph.D., selaku Direktur MBA FEB UGM Kampus Jakarta; Gumilang Aryo Sahadewo, Ph.D.; serta Sari Sitalaksmi, Ph.D., didampingi jajaran tim dari FEB UGM.

Kunjungan FEB UGM Ke Universitas Mulia

para Pejabat FEB UGM sebelah kiri , Para Pejabat Universitas Mulia Sebelah kanan

Kehadiran rombongan disambut hangat oleh Wakil Rektor Bidang Sumber Daya dan Kerja Sama Universitas Mulia, Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I., serta Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Sumardi, S.Kom., M.Kom. Turut hadir pula Dekan Fakultas Hukum ibu Budiarsih, S.H., M.H., Ph.D , Kaprodi Akutansi bapak Eko Edy Susanto, S.E., M.AK, Kepala Bagian Kerja Sama dan Humas Universitas Mulia Wahyu Nur Alimyaningtias, S.Kom., M.Kom., beserta para dosen dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mulia.

Dalam suasana penuh keakraban, kedua institusi mendiskusikan berbagai peluang kolaborasi strategis, khususnya dalam penguatan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang mencakup pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Selain itu, kerja sama juga diarahkan untuk mendukung peningkatan kapasitas dosen, pengembangan kurikulum, riset kolaboratif, serta penyelenggaraan kegiatan akademik bersama.

Prof. Nurul Indarti, S.E., Sivilokonom, Cand.Merc., Ph.D.(kiri), Sumardi, S.Kom., M.Kom (kanan)

Pada kesempatan tersebut, Prof. Nurul Indarti dan Prof. Gugup Kismono  memperkenalkan program internasional Doctorate in Business dan MBA FEB UGM yang dirancang untuk mencetak pemimpin dan akademisi bisnis berwawasan global. Program ini menawarkan pendekatan pembelajaran yang berorientasi pada riset, inovasi, serta jejaring internasional yang kuat.

Gumilang Aryo Sahadewo, Ph.D.(kiri), Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I.(kanan)

Wakil Rektor Bidang Sumber Daya dan Kerja Sama Universitas Mulia, Yusuf Wibisono, menyampaikan apresiasi atas kunjungan FEB UGM dan menyambut baik inisiatif kerja sama ini.

“Kami sangat mengapresiasi kunjungan dari tim FEB UGM. Pertemuan ini membuka peluang kolaborasi yang sangat strategis, baik dalam pengembangan sumber daya manusia, peningkatan kualitas akademik, maupun perluasan jejaring internasional Universitas Mulia,” ujarnya.

Prof. Gugup Kismono, Ph.D.(kiri) dan Budiarsih, S.H., M.H., Ph.D. (kanan)

Senada dengan itu, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Sumardi, menilai bahwa kerja sama dengan FEB UGM akan memberikan manfaat besar bagi mahasiswa dan alumni Universitas Mulia, khususnya dalam memperluas akses terhadap pendidikan berkualitas dan program-program unggulan bertaraf internasional.

Sari Sitalaksmi, Ph.D.(kiri), Wahyu Nur Alimyaningtias, S.Kom., M.Kom. (kanan)

Kepala Bagian Kerja Sama dan Humas Universitas Mulia Wahyu Nur Alimyaningtias, S.Kom., M.Kom., akan menindaklanjuti hasil pertemuan ini melalui komunikasi yang lebih teknis dengan pihak FEB UGM guna mematangkan rencana kerja sama dan menyusun program-program implementatif yang dapat segera direalisasikan.

Melalui pertemuan ini, Universitas Mulia berharap hubungan baik dengan FEB UGM dapat ditindaklanjuti ke dalam program-program konkret yang memberikan dampak nyata bagi peningkatan mutu pendidikan tinggi, khususnya di bidang ekonomi dan bisnis.

Kunjungan ini menegaskan komitmen Universitas Mulia untuk terus memperluas jejaring kerja sama dengan perguruan tinggi terkemuka di Indonesia guna mendukung terwujudnya visi sebagai universitas unggul, inovatif, dan berdaya saing global. WN

Balikpapan, 7 Mei 2026 – Universitas Mulia melalui Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) menyelenggarakan diskusi publik bertajuk “Kampus atau Barak? Militer Masuk Ranah Pendidikan” pada 7 Mei 2026 di Universitas Mulia Balikpapan sebagai bagian dari penguatan budaya akademik yang menempatkan kampus sebagai ruang dialog, pertukaran gagasan, dan pengembangan nalar kritis mahasiswa terhadap isu-isu kebangsaan kontemporer.

Kegiatan ini dirancang sebagai forum intelektual untuk membahas dinamika hubungan antara pendidikan, demokrasi, dan kebebasan akademik dari beragam perspektif. Melalui tema tersebut, mahasiswa diajak menelaah secara kritis berbagai pendekatan dalam sistem pendidikan, termasuk pentingnya menjaga perguruan tinggi sebagai ruang ilmiah yang bertumpu pada independensi berpikir, kebebasan akademik, serta tanggung jawab sosial.

Rangkaian acara diawali dengan pembukaan dan sambutan dari unsur pimpinan universitas serta perwakilan organisasi kemahasiswaan yang menekankan pentingnya diskusi akademik sebagai bagian dari tradisi perguruan tinggi. Kehadiran Presiden dan Wakil Presiden BEM se-Balikpapan turut memperluas spektrum dialog, menjadikan forum ini tidak hanya sebagai agenda internal kampus, tetapi juga ruang konsolidasi pemikiran mahasiswa lintas perguruan tinggi.

Sesi utama menghadirkan pemaparan mengenai perkembangan isu keterlibatan militer dalam ranah pendidikan sebagai bahan kajian demokrasi dan tata kelola pendidikan tinggi. Materi diskusi menyoroti pentingnya memahami perbedaan karakter pendidikan sipil dan pendidikan berbasis komando dalam konteks pembentukan budaya akademik, sekaligus mendorong mahasiswa untuk mengembangkan literasi konstitusional, kesadaran hukum, dan kepekaan terhadap prinsip-prinsip kebebasan berpikir.

Forum ini juga membahas bagaimana mahasiswa sebagai komunitas intelektual memiliki peran strategis dalam merawat tradisi dialogis di perguruan tinggi. Dalam suasana akademik, peserta diajak melihat bahwa kampus bukan sekadar ruang pembelajaran formal, melainkan lingkungan yang membentuk kapasitas analitis, keberanian berpendapat, serta kemampuan membaca perubahan sosial secara rasional dan bertanggung jawab.

Salah satu gagasan yang mengemuka dalam diskusi menyoroti bahwa berbagai bentuk pendekatan terhadap mahasiswa perlu dipahami secara kritis dengan mempertimbangkan kondisi psikologis, sosial, dan struktural yang memengaruhi kehidupan pendidikan. Pandangan tersebut memperkaya forum dengan perspektif sosial-politik yang memberi ruang refleksi tanpa melepaskan pijakan akademik.

Sesi dialog dan tanya jawab berlangsung dinamis dengan melibatkan peserta dari berbagai organisasi mahasiswa. Pertukaran gagasan yang berkembang menunjukkan bahwa perguruan tinggi memiliki fungsi strategis sebagai ruang perdebatan ilmiah yang sehat, tempat berbagai pandangan dapat diuji melalui argumentasi, data, dan kerangka berpikir demokratis.

Melalui penyelenggaraan diskusi publik ini, Universitas Mulia menegaskan komitmennya dalam mendukung ekosistem pendidikan tinggi yang mendorong keterbukaan intelektual, kedewasaan berpikir, dan partisipasi mahasiswa dalam merespons isu-isu strategis secara akademik. Di tengah perubahan sosial yang terus berlangsung, kampus dituntut tetap menjadi ruang yang memungkinkan lahirnya pemikiran kritis, dialog konstruktif, dan kontribusi nyata bagi kehidupan demokrasi. (YMN)

Balikpapan, 7 Mei 2026 – Di tengah derasnya wacana inovasi yang kerap berhenti sebagai istilah akademik di ruang kuliah, Universitas Mulia memilih membawa mahasiswanya langsung ke titik di mana inovasi bekerja sebagai budaya: lantai industri. Melalui visit industry mata kuliah Manajemen Inovasi ke Toyota AUTO2000 MT Haryono Balikpapan, mahasiswa diajak menelusuri bagaimana prinsip perbaikan berkelanjutan dijalankan bukan sebagai slogan perusahaan, melainkan sebagai disiplin kerja yang menjaga relevansi bisnis selama puluhan tahun.

Langkah ini memperlihatkan cara Universitas Mulia memaknai pendidikan bukan sebatas transfer teori, tetapi sebagai proses mempertemukan mahasiswa dengan praktik, sistem, dan pola pikir yang bekerja nyata di dunia profesional. Di ruang industri, mahasiswa tidak sekadar mendengar konsep inovasi, melainkan menyaksikan bagaimana perubahan kecil yang dilakukan terus-menerus dapat membentuk kekuatan organisasi berskala global.

Mahasiswa Universitas Mulia tiba di Toyota AUTO2000 MT Haryono Balikpapan untuk memulai pembelajaran lapangan tentang budaya inovasi dan praktik industri otomotif.

Toyota dipilih karena reputasinya tidak dibangun hanya melalui produk, tetapi melalui kemampuan merawat budaya Kaizen sebagai mesin pembaruan yang bekerja dari level operasional hingga strategi bisnis. Bagi mahasiswa, kunjungan ini menjadi kesempatan untuk membaca langsung bagaimana sebuah perusahaan besar mempertahankan daya hidupnya melalui kebiasaan memperbaiki proses secara konsisten.

Kepala Career Development Center Universitas Mulia sekaligus dosen pengampu mata kuliah Manajemen Inovasi, Dr. Linda Fauziyah Ariyani, S.Pd., M.Pd., menilai pengalaman lapangan semacam ini penting agar mahasiswa memahami inovasi dalam bentuk yang lebih utuh.

“Toyota adalah salah satu perusahaan otomotif terkemuka di dunia yang memiliki budaya organisasi kuat melalui Kaizen. Mahasiswa perlu melihat langsung bagaimana perubahan kecil yang dilakukan terus-menerus dapat menjadi fondasi besar bagi keberlanjutan perusahaan,” ujarnya.

Pihak Toyota AUTO2000 MT Haryono Balikpapan memberikan pemaparan langsung mengenai budaya Kaizen, operasional perusahaan, dan strategi inovasi berkelanjutan.

Melalui pengamatan langsung, mahasiswa diajak membongkar satu pemahaman penting: inovasi bukan selalu soal menciptakan sesuatu yang baru, melainkan tentang keberanian membaca masalah, menemukan celah perbaikan, lalu menjaga solusi itu tetap relevan. Perspektif ini penting di tengah kecenderungan memahami inovasi sebatas teknologi atau produk baru.

Bagi Universitas Mulia, pembelajaran semacam ini menjadi ruang untuk menggeser cara pandang mahasiswa dari sekadar penghafal teori menuju pembaca persoalan. Inovasi yang bertahan, sebagaimana ditekankan dalam pembelajaran lapangan tersebut, lahir dari kebutuhan nyata dan kemampuan menjawabnya secara berkelanjutan.

Selama kunjungan berlangsung, mahasiswa menyigi bagaimana Toyota mempertahankan eksistensinya bukan melalui perubahan besar yang sesekali, tetapi lewat pembaruan yang berlangsung terus-menerus. Dari sana, teori manajemen inovasi yang dipelajari di kelas menemukan bentuk konkretnya: keberlanjutan bisnis bertumpu pada budaya adaptif, bukan sekadar pada ide besar.

“Mahasiswa menjadi lebih memahami bahwa inovasi berkelanjutan lahir dari upaya perbaikan terus-menerus. Ini penting agar mereka melihat hubungan nyata antara teori yang dipelajari dengan praktik industri,” jelasnya.

Mahasiswa Universitas Mulia menyimak secara serius pemaparan industri sebagai bagian dari proses memahami implementasi nyata manajemen inovasi di dunia kerja

Bacaan paling penting dari kunjungan ini terletak pada satu hal mendasar: perusahaan yang mampu bertahan dalam perubahan eksternal adalah perusahaan yang menjadikan inovasi sebagai kebiasaan, bukan proyek sesaat. Dalam konteks itu, eksistensi menjadi indikator paling jujur dari kuat atau lemahnya budaya inovasi.

Perubahan lanskap industri yang bergerak ke arah digitalisasi juga menuntut mahasiswa membangun kelincahan berpikir sejak masa kuliah. Karena itu, proses belajar di Universitas Mulia diarahkan agar mahasiswa terbiasa menguji gagasan, membaca kebutuhan, dan beradaptasi dengan perubahan, bukan menunggu realitas kerja mengubah mereka secara mendadak.

Bagi kampus, membawa mahasiswa ke lapangan berarti memperluas ruang belajar ke situasi yang tidak selalu ideal, tempat teori diuji oleh kompleksitas nyata. Di ruang seperti inilah kemampuan problem solving, observasi, dan nalar kritis lebih mungkin tumbuh dibanding hanya dari simulasi akademik.

“Belajar di Universitas Mulia tidak sekadar mengejar nilai akademik, tetapi juga membangun pengalaman belajar yang membentuk daya saing mahasiswa,” ungkapnya.

Mahasiswa juga memperoleh pemaparan langsung dari Kepala Bengkel Toyota AUTO2000 MT Haryono Balikpapan, Jaka Mulyana, mengenai budaya perbaikan berkelanjutan, serta wawasan strategi pemasaran dari Supervisor Sales, Nur Kholis. Paparan tersebut memperlihatkan bahwa inovasi bekerja lintas lini—dari pelayanan teknis hingga strategi membaca pasar.

Dalam lanskap bisnis modern, pemahaman terhadap kebutuhan konsumen muncul sebagai fondasi penting. Inovasi yang lahir dari kebutuhan pasar memberi kemungkinan hidup lebih panjang dibanding sekadar meluncurkan sesuatu yang baru tanpa relevansi yang jelas.

Suasana dialog berlangsung hangat saat mahasiswa Universitas Mulia dan pihak Toyota AUTO2000 berdiskusi dalam sesi tanya jawab seputar inovasi, pelayanan, dan dinamika industri.

Melalui pola pembelajaran semacam ini, Universitas Mulia sedang menanamkan satu kebiasaan intelektual penting: melihat perubahan bukan sebagai ancaman, tetapi sebagai ruang untuk merumuskan solusi. Visit industry ini pada akhirnya bukan sekadar perjalanan akademik, melainkan proses menautkan pengetahuan dengan realitas, sekaligus mengajak mahasiswa memahami bahwa inovasi terbesar sering kali dimulai dari keberanian memperbaiki hal-hal kecil secara konsisten. (YMN)

 

Balikpapan, 7 Mei 2026 — Ketika banyak taman penitipan anak berfokus pada layanan pengasuhan harian, Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG PAUD) Universitas Mulia justru mengembangkan pendekatan berbeda. Daycare Ananda Mulia tidak hanya dibangun sebagai tempat penitipan anak, tetapi sebagai living lab yang menghubungkan praktik pengasuhan, pembelajaran akademik, dan riset pendidikan anak usia dini dalam satu ekosistem.

Model inilah yang mendorong Institut Teknologi Kalimantan melakukan studi tiru ke Prodi PG PAUD Universitas Mulia dalam rangka pengembangan layanan daycare berbasis kampus di lingkungan ITK.

Kaprodi PG PAUD Universitas Mulia, Bety Vitriana, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa kekuatan utama Daycare Ananda Mulia bukan terletak pada fasilitas fisik semata, melainkan pada sistem yang dibangun secara terukur dan berkelanjutan.

Kaprodi PG PAUD Universitas Mulia, Bety Vitriana, S.Pd., M.Pd., memaparkan konsep Daycare Ananda Mulia sebagai living lab pendidikan anak usia dini di hadapan tim studi tiru ITK.

“Daycare kami memiliki SOP, kurikulum pembelajaran mulai usia bayi tiga bulan hingga pra sekolah enam tahun, dokumentasi perkembangan anak yang sistematis, serta keterlibatan aktif mahasiswa dan orang tua sebagai mitra pengasuhan. Keberhasilannya tidak hanya terlihat secara kasat mata, tetapi terdokumentasi dalam perkembangan tumbuh kembang anak,” ujarnya.

Berbeda dengan daycare konvensional yang berfokus pada pengawasan dan keselamatan anak, Daycare Ananda Mulia dikembangkan dengan tiga fungsi utama sekaligus: layanan pengasuhan, laboratorium observasi bagi mahasiswa, dan ruang uji coba inovasi pendidikan anak usia dini.

Di ruang inilah teori tidak berhenti sebagai materi kuliah. Aktivitas harian anak justru menjadi bagian dari proses akademik yang terus dianalisis dan diperbaiki.

“Living lab ini terintegrasi langsung dengan kurikulum. Mata kuliah seperti Strategi Pembelajaran Anak Usia Dini, Bermain dan Permainan, hingga Manajemen PAUD memiliki aktivitas yang tersinkronisasi dengan kegiatan daycare. Bahkan data kegiatan harian anak dapat menjadi bahan penelitian dan skripsi mahasiswa,” jelas Bety.

Salah satu praktik yang menjadi kekuatan Daycare Ananda Mulia adalah budaya dokumentasi dan refleksi yang dilakukan secara rutin. Guru, mahasiswa, dan dosen tidak hanya menjalankan kegiatan, tetapi mencatat perkembangan anak melalui catatan anekdot, buku penghubung, hingga forum refleksi mingguan.

Menurut Bety, pola kerja seperti ini membuat mahasiswa tidak belajar dari simulasi, melainkan dari dinamika nyata yang terus berkembang di lapangan.

“Hasil refleksi langsung digunakan untuk memperbaiki metode pengasuhan dan pembelajaran. Jadi mahasiswa belajar memahami anak dari kasus nyata, bukan sekadar teori di kelas,” katanya.

Tim PG PAUD Universitas Mulia dan Institut Teknologi Kalimantan berfoto bersama usai sesi pemaparan dan diskusi pengembangan daycare berbasis kampus.

Keberadaan daycare ini juga memperkuat posisi Universitas Mulia dalam pengembangan pendidikan anak usia dini di Kalimantan. Daycare Ananda Mulia dipandang bukan sekadar fasilitas pendukung kampus, tetapi bagian dari laboratorium pendidikan yang terintegrasi dengan proses akademik.

“Universitas Mulia menjadi salah satu pionir kampus yang membuka layanan daycare berbasis akademik di Kalimantan. Ini bukan hanya tentang layanan pengasuhan, tetapi tentang bagaimana kampus hadir sebagai ruang belajar sekaligus ruang tumbuh bagi anak,” tambahnya.

Dalam studi tiru tersebut, tim ITK mempelajari berbagai aspek pengelolaan daycare berbasis kampus, mulai dari tata kelola layanan, integrasi kurikulum, penyiapan sumber daya manusia, hingga proses pengurusan izin operasional dan sarana prasarana.

Ketua Tim Kerja Perencanaan ITK, Riza Hadi Saputra, S.T., M.T., menyampaikan bahwa kunjungan tersebut memberikan banyak gambaran praktis bagi pengembangan daycare di lingkungan kampus mereka.

“Kami merasa sangat terbantu dengan agenda studi tiru ini karena membuka banyak pemahaman baru terkait proses membuka layanan daycare berbasis kampus, mulai dari penyiapan SDM, manajerial, tata kelola sarana prasarana, kurikulum, hingga proses pengurusan izin,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa komunikasi lanjutan antarkedua institusi akan terus dibangun untuk membuka peluang kerja sama lain yang saling mendukung.

“Ke depan kami berencana membangun komunikasi lebih lanjut terkait beberapa bentuk kerja sama yang dapat saling menguntungkan bagi kedua belah pihak,” lanjutnya.

Bagi PG PAUD Universitas Mulia, pengembangan daycare berbasis living lab juga menjadi bagian dari visi jangka panjang. Dalam dua hingga lima tahun mendatang, prodi menargetkan penguatan layanan pelatihan bagi guru TPA dan daycare di Balikpapan, publikasi riset internasional berbasis daycare, hingga pengembangan aplikasi dokumentasi digital yang dapat digunakan oleh lembaga mitra.

Di balik seluruh pengembangan tersebut, Bety menyebut ada satu gagasan besar yang ingin terus dijaga.

“Daycare adalah jembatan antara ilmu dan kasih sayang. Pengasuhan tidak anti-riset, dan riset tidak boleh kehilangan sisi manusianya,” tutupnya.

Menurutnya, model ini sekaligus menunjukkan bahwa kampus dapat menjadi ruang publik yang tidak hanya mencetak pendidik masa depan, tetapi juga mendukung terwujudnya Kota Balikpapan sebagai kota ramah anak. (YMN)

 

Balikpapan, 5 Mei 2026 – Universitas Mulia mendorong mahasiswa PG PAUD untuk membaca kurikulum bukan sebagai kumpulan format administratif, tetapi sebagai rancangan strategis yang menentukan kualitas pengalaman belajar anak usia dini. Perspektif tersebut mengemuka dalam kuliah tamu bertema “Bedah & Penyusunan Rencana Pembelajaran Mendalam PAUD” yang digelar Program Studi PG PAUD Universitas Mulia di Ballroom Cheng Hoo, Selasa (5/5).

Wakil Dekan Fakultas Humaniora dan Kesehatan (FHK) Universitas Mulia, Sri Purwanti, S.Pd., M.Pd., menilai kemampuan menyusun rencana pembelajaran mendalam menjadi fondasi penting dalam pendidikan calon guru PAUD. Menurutnya, di titik itulah mahasiswa belajar menerjemahkan arah kurikulum menjadi keputusan pembelajaran yang benar-benar bekerja di kelas.

“Rencana pembelajaran adalah bentuk nyata penerjemahan kurikulum ke dalam praktik pembelajaran. Mahasiswa tidak cukup hanya memahami tujuan dan capaian perkembangan secara teoritis, tetapi harus mampu menghubungkannya dengan strategi, media, asesmen, dan kebutuhan perkembangan anak,” ujarnya.

Dalam pandangan Sri Purwanti, persoalan utama dalam pendidikan calon guru sering kali muncul ketika mahasiswa memahami kurikulum hanya sebatas isi dokumen. Padahal, kurikulum seharusnya dibaca sebagai alat untuk membangun pengalaman belajar yang sesuai dengan karakteristik anak usia dini yang dinamis dan terus berkembang.

Melalui kuliah tamu ini, mahasiswa diajak melihat bagaimana kurikulum harus diterjemahkan secara fleksibel berdasarkan tahap perkembangan anak, konteks lingkungan belajar, serta perubahan kebijakan pendidikan yang terus bergerak. Pendekatan tersebut dinilai penting agar calon guru tidak tumbuh menjadi pelaksana kurikulum yang kaku.

“Kurikulum bukan sekadar dokumen administratif, tetapi instrumen strategis untuk membentuk pengalaman belajar anak. Guru harus mampu menerjemahkannya secara adaptif agar pembelajaran benar-benar bermakna dan mendukung tumbuh kembang anak secara holistik,” jelasnya.

Kegiatan ini juga dirancang untuk memecahkan persoalan klasik dalam pendidikan tinggi: kuat di teori, tetapi lemah saat implementasi. Karena itu, mahasiswa tidak hanya menerima pemaparan konsep, melainkan diajak menganalisis perangkat pembelajaran, mendiskusikan studi kasus, dan memahami pengalaman implementatif langsung dari praktisi pendidikan.

Menurut Sri Purwanti, pendekatan seperti ini penting untuk melatih mahasiswa mengambil keputusan pedagogik secara sadar dan kontekstual, bukan sekadar mengikuti pola yang sudah tersedia.

“Mahasiswa perlu dilatih berpikir aplikatif dan reflektif. Mereka harus mampu membaca kebutuhan anak, memahami situasi belajar, lalu menentukan strategi pembelajaran yang tepat berdasarkan kerangka kurikulum yang ada,” katanya.

Kehadiran narasumber dengan pengalaman implementatif juga memberi dimensi lain dalam proses pembelajaran mahasiswa. Bagi Sri Purwanti, pengalaman lapangan yang dibagikan praktisi membantu mahasiswa memahami bahwa pengembangan kurikulum bukan pekerjaan statis, melainkan proses yang terus berubah mengikuti kebutuhan pendidikan.

Dari situ, mahasiswa diperkenalkan pada berbagai pendekatan inovatif, strategi diferensiasi, hingga cara merancang pembelajaran kreatif yang tetap berpijak pada tujuan perkembangan anak usia dini.

“Mahasiswa perlu melihat langsung bahwa implementasi kurikulum di lapangan membutuhkan fleksibilitas, kreativitas, dan kemampuan menyesuaikan diri terhadap berbagai situasi pembelajaran,” tambahnya.

Lebih jauh, Sri Purwanti menilai kuliah tamu semacam ini menjadi bagian penting dari penguatan identitas akademik PG PAUD Universitas Mulia. Program studi tidak hanya membentuk mahasiswa agar patuh terhadap struktur kurikulum, tetapi juga melatih mereka memiliki keberanian intelektual untuk menganalisis, mengevaluasi, dan mengembangkan pembelajaran sesuai kebutuhan zaman.

Dengan pendekatan tersebut, Universitas Mulia sedang membangun pola pendidikan guru yang menempatkan mahasiswa sebagai perancang pembelajaran, bukan sekadar pengguna perangkat ajar. Di tengah perubahan kebijakan pendidikan dan tantangan perkembangan anak yang semakin kompleks, kemampuan membaca kurikulum secara kritis menjadi kompetensi yang tidak bisa ditawar.

Melalui ruang akademik seperti ini, PG PAUD Universitas Mulia memperlihatkan bahwa pengembangan kurikulum bukan sekadar membahas dokumen pendidikan, tetapi membentuk cara berpikir calon guru dalam memahami anak, merancang pengalaman belajar, dan mengambil keputusan pedagogik yang bertanggung jawab. (YMN)

 

Balikpapan, 6 Mei 2026 – Program Studi PG PAUD Universitas Mulia tidak membiarkan mahasiswa berhenti pada penguasaan teori strategi pembelajaran di ruang kelas. Melalui kuliah umum bertema “Bedah & Penyusunan Rencana Pembelajaran Mendalam PAUD”, mahasiswa diarahkan untuk membongkar cara lama memandang perencanaan pembelajaran—dari sekadar pengisian format administratif menuju kemampuan merancang pengalaman belajar yang benar-benar hidup di ruang anak usia dini.

Bagi dosen pengampu Mata Kuliah Strategi Pembelajaran PAUD, Merlina, S.Pd.,M.Pd , kuliah umum ini lahir dari kebutuhan akademik yang sangat konkret: adanya jarak antara teori yang dipelajari mahasiswa dengan tantangan implementasi di lapangan. Menurutnya, mahasiswa selama ini mempelajari berbagai pendekatan seperti pembelajaran interaktif, bermain, inquiry, hingga tematik, tetapi perubahan kebijakan menuju RPM (Rancangan Pembelajaran Mendalam) berbasis deep learning menuntut kesiapan yang lebih dari sekadar memahami konsep.

“Di kelas, mahasiswa belajar teori, tetapi realitas di lapangan sering berbeda. Banyak guru PAUD masih kesulitan menerjemahkan teori ke dalam RPPH yang konkret, apalagi dengan format RPM berbasis deep learning yang relatif baru. Karena itu, kuliah umum ini menjadi titik temu antara teori kampus dan praktik nyata,” ujarnya.

Universitas Mulia merancang kegiatan ini dengan pendekatan bertahap yang menempatkan mahasiswa sebagai peserta aktif dalam proses transformasi berpikir. Sebelum sesi utama, mahasiswa diminta membaca dan membandingkan RPPH konvensional dengan pendekatan pembelajaran mendalam. Saat kegiatan berlangsung, narasumber tidak hanya menyampaikan materi, tetapi membedah langsung dokumen RPM sekaligus menunjukkan bagaimana pengalaman belajar dibangun dari eksplorasi anak.

Salah satu contoh yang ditekankan adalah perubahan orientasi dari sekadar “anak mengenal warna” menjadi “anak menemukan warna melalui pengalaman eksperimen.” Perubahan kecil dalam desain ini menunjukkan pergeseran besar dalam cara guru memandang pembelajaran.

Bagi Merlina, di sinilah mahasiswa mulai memahami bahwa strategi pembelajaran bukan daftar prosedur teknis, melainkan seni intelektual dalam merancang pengalaman belajar.

“Mahasiswa harus memahami bahwa strategi mengajar bukan sekadar langkah-langkah kegiatan, tetapi seni merancang pengalaman belajar bermakna. Karena itu, mereka juga diminta menuliskan alasan di balik setiap rancangan yang dibuat,” jelasnya.

Dekan FHK Universitas Mulia Dr. Mada Aditia Wardhana, S.Sos., M.M., Wakil Dekan FHK Sri Purwanti, S.Pd., M.Pd., Kaprodi PG PAUD Bety Viatriana, S.Pd., M.Pd., dosen Merlina, S.Pd., M.Pd., narasumber Shinta Anggraeni, S.Pd., M.Pd., dan peserta berfoto bersama usai kuliah umum PG PAUD sebagai bagian dari penguatan akademik mahasiswa dalam penyusunan pembelajaran mendalam PAUD.

Dalam proses tersebut, tantangan terbesar justru muncul dari kebiasaan lama mahasiswa yang terlalu fokus pada struktur administratif dokumen. Banyak mahasiswa, menurut Mei, sibuk mengisi kolom demi kolom tanpa benar-benar melihat bahwa dokumen tersebut seharusnya menjadi peta perjalanan perkembangan anak.

Kuliah umum ini kemudian membongkar pola pikir tersebut dengan menghadirkan realitas lapangan yang lebih dinamis. Mahasiswa diperlihatkan bahwa rencana pembelajaran dapat berubah ketika anak menunjukkan minat baru yang tak terduga—misalnya ketika perhatian mereka tiba-tiba tertuju pada kupu-kupu di sekitar kelas. Dari situ, mahasiswa belajar bahwa perencanaan bukan struktur kaku, melainkan rancangan adaptif yang harus responsif terhadap dunia anak.

“RPPH atau RPM itu bukan dokumen mati. Ia harus hidup bersama kebutuhan anak. Karena namanya rencana, kita sudah berusaha maksimal, tetapi proses di lapangan bisa berkembang sesuai situasi,” ungkapnya.

Kehadiran narasumber dengan rekam jejak prestasi nasional juga diposisikan bukan sekadar untuk memberi inspirasi, tetapi untuk mematahkan asumsi sempit tentang profesi guru PAUD. Mahasiswa diperlihatkan bahwa profesionalisme lahir dari keberanian bereksperimen, kemampuan berinovasi, dan komitmen memperbaiki kualitas pembelajaran secara terus-menerus.

Melalui pendekatan tersebut, PG PAUD Universitas Mulia sedang membangun standar baru: calon guru tidak cukup hanya mampu mengikuti template lama, tetapi harus berani menyusun pembelajaran yang relevan dengan konteks anak, lingkungan, dan perubahan zaman.

Secara kelembagaan, kuliah umum ini juga terhubung langsung dengan desain kurikulum berbasis OBE (Outcome-Based Education), project-based learning, dan pengalaman lapangan terbimbing yang diterapkan Universitas Mulia. Artinya, kegiatan ini bukan forum sesaat, melainkan bagian dari rantai pembelajaran berkelanjutan yang berlanjut ke micro teaching hingga implementasi magang di satuan PAUD mitra.

“Setelah kuliah umum, mahasiswa tidak berhenti di pemahaman. Mereka melanjutkan ke micro teaching, lalu mengimplementasikan RPM saat magang. Jadi ini bukan acara seremonial, tetapi pemicu agar mahasiswa terus berlatih, merefleksikan, dan menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan anak,” tegas Mei.

Melalui desain semacam ini, Universitas Mulia memperlihatkan bahwa kualitas pendidikan tinggi tidak hanya terletak pada transfer teori, tetapi pada kemampuan institusi membangun sistem pembelajaran yang melatih mahasiswa berpikir, merancang, menguji, dan beradaptasi. Di PG PAUD Universitas Mulia, mahasiswa tidak sedang disiapkan menjadi pengisi format pembelajaran, melainkan calon pendidik yang mampu membaca anak, memahami perubahan, dan menyusun pembelajaran mendalam dalam kondisi apa pun.

Balikpapan, 6 Mei 2026 – Program Studi PG PAUD Universitas Mulia menggeser pembelajaran mahasiswa dari sekadar memahami teori menuju kemampuan menguji, membedah, dan merancang strategi belajar yang benar-benar dapat bekerja di ruang pendidikan anak usia dini. Melalui kuliah tamu bertema “Bedah & Penyusunan Rencana Pembelajaran Mendalam PAUD” yang berlangsung di Ballroom Cheng Hoo, Selasa (5/5), mahasiswa tidak ditempatkan sebagai pendengar materi, tetapi sebagai calon pendidik yang harus mampu menghubungkan konsep kampus dengan kebutuhan nyata perkembangan anak.

Bagi Kaprodi PG PAUD Universitas Mulia, Ibu Bety Viatriana, S.Pd., M.Pd., kegiatan ini bukan pelengkap akademik, melainkan instrumen untuk menguji apakah teori deep learning yang dipelajari mahasiswa benar-benar dapat diterjemahkan menjadi rancangan pembelajaran yang hidup di lapangan. Menurutnya, kualitas pedagogik tidak diukur dari hafalan konsep, tetapi dari kemampuan membangun pengalaman belajar yang kontekstual, adaptif, dan berdaya guna.

“Kuliah tamu ini menjadi jembatan penting antara teori deep learning di kelas dengan praktik menyusun rencana pembelajaran kontekstual. Mahasiswa tidak hanya belajar konsep, tetapi melihat langsung bagaimana pembelajaran bermakna dirancang di lapangan. Ini mempercepat penguatan kompetensi pedagogik secara aplikatif,” ujarnya.

Struktur kegiatan disusun dengan pendekatan bertahap: mahasiswa terlebih dahulu membedah fondasi konseptual, kemudian masuk pada analisis langsung RPPH, berdialog kritis dengan narasumber, hingga menyusun ulang desain pembelajaran berdasarkan hasil evaluasi. Pola ini menunjukkan cara Universitas Mulia membangun kultur akademik yang menuntut mahasiswa berpikir, mengoreksi, dan memproduksi gagasan, bukan sekadar menerima pengetahuan jadi.

Dalam skema tersebut, mahasiswa diajak melihat bahwa rancangan pembelajaran bukan produk final, melainkan dokumen kerja yang harus siap diuji oleh perubahan kebijakan, kebutuhan anak, dan dinamika praktik pendidikan. Di titik inilah proses akademik bergerak dari ruang kelas menuju latihan profesional.

“Mahasiswa kami dorong membandingkan teori dengan praktik riil, lalu merevisi rencana pembelajarannya secara adaptif terhadap kebijakan nasional. Hasilnya, mereka membangun pemahaman akademik yang kritis, bukan sekadar antusiasme sesaat,” jelas Bety.

Mahasiswa PG PAUD Universitas Mulia mengikuti sesi kuliah tamu dengan penuh perhatian saat mendalami penyusunan rencana pembelajaran PAUD yang kontekstual, reflektif, dan adaptif terhadap kebutuhan perkembangan anak.

Orientasi tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana PG PAUD Universitas Mulia memaknai rencana pembelajaran sebagai proses intelektual yang terus bergerak. Mahasiswa dibiasakan membaca kebutuhan anak secara menyeluruh, mengevaluasi efektivitas strategi, lalu menyesuaikan desain belajar berdasarkan refleksi akademik. Dengan demikian, penyusunan pembelajaran tidak jatuh menjadi rutinitas administratif, tetapi menjadi keputusan pedagogik yang sadar tujuan.

Bety menilai proses seperti ini penting untuk membentuk calon guru yang tidak sekadar mampu mengajar, tetapi juga memiliki disiplin reflektif dalam setiap keputusan pembelajarannya.

“Kuliah tamu ini menjadi ruang refleksi terbimbing, di mana mahasiswa menguji rencana pembelajarannya terhadap kebutuhan holistik anak. Karena rencana pembelajaran adalah hipotesis kerja yang harus terus dievaluasi, bukan sekadar dokumen administratif. Ini membentuk calon guru yang reflektif dan berpusat pada anak,” tuturnya.

Lebih jauh, kegiatan ini juga memperlihatkan arah pengembangan institusional PG PAUD Universitas Mulia yang tidak berhenti pada pencetakan tenaga pendidik konvensional. Program studi ini sedang membangun kapasitas mahasiswa agar mampu membaca transisi PAUD ke SD secara strategis, memahami arah Merdeka Belajar, serta menghasilkan pendekatan pembelajaran yang relevan dengan perubahan zaman.

Di tengah kebutuhan pendidikan yang terus bergerak, keterhubungan antara kampus, praktisi, dan kebijakan menjadi faktor penting dalam menjaga relevansi lulusan. Karena itu, kehadiran narasumber dengan rekam jejak implementatif diposisikan bukan sebagai simbol seremonial, tetapi sebagai sumber pembanding antara desain akademik dan praktik unggul.

“Mahasiswa kami dibekali kemampuan merancang transisi PAUD ke SD secara strategis, adaptif terhadap kebijakan Merdeka Belajar. Kuliah tamu dengan praktisi unggul membangun reputasi prodi yang relevan, dinamis, dan solutif. Inilah modal mencetak lulusan yang mampu menjawab tantangan zaman secara bijak,” pungkasnya.

Melalui pendekatan semacam ini, Universitas Mulia menunjukkan bahwa pendidikan tinggi dapat memainkan peran lebih substantif daripada sekadar transfer materi. Di PG PAUD, mahasiswa dipersiapkan untuk memasuki profesi pendidikan dengan perangkat berpikir yang lebih matang: mampu menghubungkan teori, praktik, kebijakan, dan kebutuhan anak dalam satu rancangan pembelajaran yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik maupun sosial. Di situlah institusi tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi membangun arsitek pembelajaran masa depan. (YMN)

Balikpapam, 6 Mei 2026— Pelaksanaan Walk-in Interview Batch 1 BRILian Banking Associate Program (BBAP) bersama Bank BRI di Universitas Mulia memperlihatkan bagaimana fungsi kampus berkembang melampaui ruang kuliah. Melalui Career Development Center Universitas Mulia, agenda ini ditempatkan bukan sekadar sebagai pembukaan akses kerja, tetapi sebagai bagian dari rancangan institusional untuk mempertemukan kapasitas lulusan dengan kebutuhan sektor profesional yang terus bergerak.

Dr. Linda Fauziyah Ariyani, S.Pd., M.Pd., Kepala Bagian Career Development Center Universitas Mulia, menjelaskan bahwa keterhubungan dengan industri dibangun melalui pendekatan yang lebih aktif, yakni membaca kebutuhan pasar tenaga kerja, memahami karakter mitra profesional, lalu menerjemahkannya ke dalam penguatan kesiapan mahasiswa dan alumni. Menurutnya, relasi dengan dunia kerja tidak diposisikan sebagai respons pasif terhadap lowongan, melainkan sebagai proses penyesuaian kompetensi yang dirancang lebih sadar sejak awal.

Karena itu, persiapan yang diberikan kepada alumni tidak berhenti pada distribusi informasi rekrutmen. Career Development Center Universitas Mulia menempatkan pembinaan, pendampingan, dan penguatan kesiapan personal sebagai bagian penting sebelum lulusan memasuki arena seleksi. Soft skill, daya adaptasi, pemahaman terhadap kultur profesional, hingga strategi menghadapi proses perekrutan menjadi elemen yang terus diasah agar alumni tidak datang sebagai pelamar biasa, tetapi sebagai kandidat yang memahami lanskap kerja yang akan mereka masuki.

Pendekatan semacam ini menunjukkan bahwa Universitas Mulia berupaya menjaga relevansi pendidikan dengan realitas industri. Dunia perbankan, misalnya, tidak hanya menuntut kemampuan administratif, tetapi juga integritas, kecakapan interpersonal, dan kesiapan menghadapi ritme profesional yang kompetitif. Dalam konteks itulah, Career Development Center berperan sebagai simpul transisi—mengubah pengalaman akademik menjadi kesiapan kerja yang lebih terukur.

Pelaksanaan Walk-in Interview BRILian Banking Associate Program (BBAP) Bank BRI bersama Pusat Karir Universitas Mulia di Ruang Executive White Campus menjadi ruang temu antara kesiapan lulusan dan kebutuhan industri perbankan.

Dari pelaksanaan walk-in interview tersebut, sejumlah alumni diketahui melanjutkan ke tahap seleksi berikutnya. Capaian ini menjadi indikator bahwa proses pembekalan yang dilakukan kampus memiliki keterhubungan dengan ekspektasi industri. Bagi Universitas Mulia, keberhasilan semacam itu bukan semata persoalan diterima bekerja, melainkan penanda bahwa lulusan mampu memasuki sistem seleksi eksternal dengan fondasi yang memadai.

Ke depan, Career Development Center Universitas Mulia memandang kolaborasi dengan Bank BRI sebagai hubungan strategis yang perlu dirawat secara berkelanjutan. Orientasinya tidak berhenti pada penyelenggaraan wawancara kerja, tetapi diarahkan pada terbentuknya jalur konektivitas yang lebih kuat antara alumni dan kebutuhan industri, termasuk melalui pelatihan, pembekalan kompetensi, serta pengembangan sumber daya manusia yang lebih selaras dengan dinamika sektor profesional.

Langkah tersebut memperlihatkan arah yang semakin jelas: Universitas Mulia tidak hanya berfokus pada proses akademik di dalam kampus, tetapi juga pada bagaimana lulusan bergerak setelahnya. Di tengah persaingan tenaga kerja yang semakin selektif, kekuatan institusi tidak hanya diukur dari jumlah wisudawan, melainkan dari kemampuannya menyiapkan lulusan agar mampu memasuki dunia profesional dengan kesiapan, pemahaman, dan posisi tawar yang lebih baik.

Melalui peran Career Development Center Universitas Mulia bagai representasi mutu institusi di hadapan dunia industri. (YMN)

Balikpapan, 4 Mei 2026— Dalam lanskap industri kreatif yang terus bergerak dinamis, penguasaan desain tidak lagi berhenti pada kemampuan estetis semata, melainkan menuntut kedalaman konseptual dalam membangun identitas visual yang relevan, strategis, dan komunikatif. Berangkat dari kebutuhan tersebut, Himpunan Mahasiswa Desain Komunikasi Visual (HIMA DKV) menggelar kuliah tamu bertajuk “Menghidupkan Ide Lewat Desain Brand” pada 28 April 2026 melalui platform Google Meet sebagai ruang akademik alternatif yang memperluas pembelajaran mahasiswa di luar struktur perkuliahan formal.

Kegiatan ini menjadi bagian dari ikhtiar institusional program studi dalam menghubungkan fondasi teoritis yang dipelajari di kelas dengan realitas profesional di sektor industri kreatif. Melalui forum ini, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk menelaah branding bukan sekadar sebagai produk visual, tetapi sebagai konstruksi identitas yang memadukan riset, strategi komunikasi, serta pemaknaan simbolik dalam setiap elemen desain.

Rangkaian kegiatan berlangsung sistematis melalui pembukaan, sambutan akademik program studi, pengantar materi, pemaparan substansi utama, diskusi interaktif, hingga sesi partisipatif yang mendorong keterlibatan mahasiswa secara aktif. Format tersebut menunjukkan bahwa pengembangan kompetensi mahasiswa DKV tidak hanya diarahkan pada transfer pengetahuan satu arah, tetapi juga pada pembentukan daya analisis, kreativitas, dan keberanian intelektual dalam merespons tantangan profesi.

Fokus utama pembahasan menempatkan branding sebagai inti dari komunikasi visual modern. Dalam pemaparannya, dijelaskan bahwa logo tidak dapat dipahami hanya sebagai elemen grafis yang menarik perhatian, melainkan sebagai medium representasi nilai dan narasi sebuah brand. “Logo bukan sekadar gambar yang terlihat keren, tetapi memiliki nyawa dan cerita di dalamnya,” menjadi salah satu gagasan penting yang menegaskan bahwa identitas visual harus mampu menghadirkan karakter, filosofi, serta pesan yang terbangun melalui komposisi warna, bentuk, dan tipografi secara utuh.

Perspektif tersebut memberikan landasan akademik yang penting bagi mahasiswa untuk memahami bahwa desain brand merupakan proses strategis yang berakar pada pemikiran kritis dan sensitivitas komunikasi. Dalam konteks ini, mahasiswa didorong untuk melihat karya desain bukan hanya sebagai hasil visual, tetapi sebagai instrumen komunikasi yang memiliki daya hidup, arah, dan posisi dalam membangun persepsi publik.

Pelaksanaan kuliah tamu ini juga merefleksikan komitmen HIMA DKV dalam memperkuat ekosistem pembelajaran yang responsif terhadap perkembangan industri. Organisasi kemahasiswaan tidak sekadar berfungsi sebagai wadah aktivitas mahasiswa, tetapi turut berperan sebagai katalisator akademik yang menghadirkan ruang temu antara pengetahuan kampus dan kebutuhan profesional.

Melalui kegiatan semacam ini, penguatan kapasitas mahasiswa DKV diarahkan pada kesiapan menghadapi industri kreatif dengan perspektif yang lebih komprehensif—bahwa desain adalah perpaduan antara kreativitas, strategi, dan kebermaknaan. Dengan demikian, kampus terus menegaskan posisinya sebagai ruang pengembangan intelektual yang tidak hanya menghasilkan desainer, tetapi juga konseptor visual yang mampu menerjemahkan ide menjadi identitas yang bernilai. (YMN)