Humas Universitas Mulia, 5 Agustus 2025 — Pelantikan kepengurusan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang berlangsung di Ballroom Cheng Hoo tidak sekadar menjadi peristiwa administratif yang berlangsung dalam balutan protokoler. Di balik formalitas itu, tersirat dimulainya fase baru peran kepemimpinan mahasiswa sebagai elemen penggerak dalam dinamika kehidupan kampus. Simbolisasi penyerahan Surat Keputusan (SK) bukan hanya representasi struktur organisasi, tetapi juga peneguhan mandat moral dan tanggung jawab kolektif yang akan dijalankan sepanjang masa bakti ke depan.

Rektor Universitas Mulia, Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifai, M.Si., menyampaikan sambutan inspiratif yang menekankan pentingnya kepemimpinan mahasiswa sebagai agen perubahan di tengah dinamika zaman.

Kepengurusan mahasiswa kali ini tidak berdiri sendiri. Di balik struktur organisasi yang baru dilantik, ada peran penting para dosen pembina yang akan menjadi mitra sekaligus kompas arah gerak setiap unit. Sinergi antara mahasiswa dan dosen inilah yang diharapkan dapat memperkuat iklim organisasi yang sehat, inklusif, dan berorientasi pada pengembangan karakter serta potensi individu.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Sumardi, S.Kom., M.Kom., menegaskan komitmen kampus dalam mendampingi tumbuhnya semangat organisasi dan kolaborasi antar-BEM, HIMA, UKM, Dosen dan Kampus.

Adapun 13 Unit Kegiatan Mahasiswa dari beragam bidang minat dan keahlian yang turut dilantik bersama Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) untuk masa jabatan 2025–2026, berikut nama-nama pembina yang mendampingi masing-masing UKM:

  • UKM Musik – Drs. Suprijadi, M.Pd.
  • UKM Paduan Suara – Yustian Servanda, S.Kom., M.Kom
  • UKM Tari – Lisda Agustina, S.Ag., M.Pd.
  • UKM Bola Voli – Isnawati, S.H., M.H.
  • UKM Badminton – Yeyen Dwi Atma, S.Kom., M.Kom.
  • UKM E-Sport – Zona Septa Pratama, S.Kom.
  • UKM English Club – Riski Zulkarnain, S.Pd., M.Pd.
  • UKM GDSC (Google Developer Student Club) – Nasruddin Bin Idris, S.Kom., M.Kom.
  • UKM Robotic / DIC (Digital Innovation Club) – Muhammad Safi’i, S.Kom., M.Kom.
  • UKM Broadcasting dan Film – Hasnawi, S.Kom.
  • UKM Mishubunken (Bahasa Jepang) – Wury Damayantie, S.Farm., M.Farm.
  • UKM Al-Izzah – Isa Rosita, S.Kom., M.Cs. & Wahyu Nur Alimyaningtias, S.Kom., M.Kom.
  • UKM PMK (Persekutuan Mahasiswa Kristen) – Isti Prabawani, S.E.

Rektor Universitas Mulia menyerahkan SK kepengurusan BEM 2025–2026 secara simbolis, disaksikan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan sebagai bentuk dukungan penuh terhadap regenerasi kepemimpinan mahasiswa.

Melihat daftar ini, jelas bahwa kehidupan kampus di Universitas Mulia bukan hanya tentang indeks prestasi dan ujian akhir semester, tetapi juga ruang tumbuh untuk hasrat berekspresi, berkolaborasi, dan mengorganisasi diri.

Rektor, “Jangan Cuma Pandai Bicara, Tapi Punya Arah dan Etika”.

Di hadapan seluruh peserta, Rektor Universitas Mulia, Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifai, M.Si., menyampaikan pandangan yang tidak bersifat seremonial belaka, melainkan sarat dengan visi strategis dan dorongan etis yang membumi. Dalam orasinya, beliau tidak memosisikan mahasiswa sekadar sebagai objek atau penerima manfaat dari sistem pendidikan tinggi, melainkan sebagai subjek aktif—aktor strategis yang memiliki peran signifikan dalam mengarahkan haluan institusi menuju masa depan yang berorientasi pada kemajuan ilmu pengetahuan, pengabdian, dan kemanusiaan. Dengan narasi yang lugas dan reflektif, beliau mengajak seluruh sivitas untuk memahami bahwa kampus adalah ekosistem kolaboratif yang hanya dapat berkembang jika digerakkan bersama, bukan sekadar dijalani.

Satu per satu pengurus UKM menerima SK Kepengurusan baru, menandai dimulainya amanah baru dalam menghidupkan dinamika kehidupan mahasiswa di kampus Universitas Mulia.

 “Hakikat kepemimpinan tidak terletak pada volume suara atau gaya komunikasi, melainkan pada keberanian mengambil keputusan yang benar dan bertanggung jawab, meskipun keputusan tersebut tidak selalu mendapat dukungan mayoritas,” tegas Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifai, M.Si.

Momentum pelantikan tidak hanya menjadi simbol formal, tetapi juga titik awal lahirnya semangat baru bagi para pengurus UKM Universitas Mulia untuk berkarya dan berinovasi di bidangnya masing-masing.

Bagi Rektor, BEM bukan hanya struktur organisasi, tapi instrumen budaya yang bisa menggerakkan cara berpikir kolektif mahasiswa ke arah yang lebih reflektif, kritis, namun tetap produktif. Ia juga menegaskan agar BEM menjadi bagian dari ekosistem technopreneurship kampus—sebuah konsep yang bukan hanya tren, tapi kebutuhan zaman.

Wakil Rektor, “Satu Tahun Itu Terlalu Singkat”

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Sumardi, S.Kom., M.Kom., dengan nada jujur menyampaikan kegelisahannya,  masa jabatan satu tahun untuk BEM terasa seperti lomba lari yang dibatasi waktu terlalu singkat.

“Belum sempat lari kencang, sudah harus berhenti. Tapi kami juga terikat AD/ART. Kalau bisa, ke depan masa jabatan ini diperpanjang menjadi dua tahun,” tegasnya.

Ia juga tak menutupi kenyataan bahwa sinergi antar organisasi mahasiswa masih lemah. Bahkan soal fasilitas olahraga pun ia soroti dengan nada getir:

 “Kadang kami sedih, baru disiapkan fasilitasnya, sudah pindah lagi karena pembangunan. Kita perlu stabilitas, bukan sekadar improvisasi darurat.”

Tiga hal ia tekankan secara gamblang kepada kepengurusan baru:

  1. Bangun kolaborasi, bukan kompetisi kosong.
  2. Susun program yang terasa dampaknya, bukan hanya ramai di laporan.
  3. Bersuara dengan data, bukan sekadar asumsi dan emosi.

Pesan-pesan ini bukan basa-basi birokratik. Ia menggambarkan lanskap nyata tentang bagaimana organisasi mahasiswa bisa—atau gagal—menjadi representasi suara kampus.

 Ruang Tumbuh, Bukan Sekadar Jabatan

Momentum pelantikan ini bukan hanya tentang siapa duduk di mana dan berkuasa atas apa. Ia adalah kesempatan untuk menata ulang cara pandang kita terhadap organisasi kemahasiswaan. Bahwa menjadi ketua bukan soal gaya bicara di depan mic, tapi soal tanggung jawab atas arah gerak kolektif.

Kampus ini tidak butuh pahlawan tunggal. Ia butuh ekosistem yang saling percaya dan saling dorong maju. Di tengah era digital yang penuh distraksi, organisasi mahasiswa menjadi ruang langka untuk belajar fokus, bertahan, dan menyusun langkah berdasarkan kenyataan.

Dengan pelantikan ini, Universitas Mulia memperkuat posisinya sebagai kampus technopreneur yang tidak hanya mencetak sarjana unggul, tetapi juga pemimpin masa depan yang siap berkontribusi bagi bangsa.

Humas UM (YMN)

Humas Universitas Mulia, 2 Agustus 2025 Rabu, 30 Juli 2025, bukan sekadar tanggal dalam kalender akademik Universitas Mulia. Di ruang Townhall Hotel Midtown Express, berlangsung diskusi yang mengguncang cara berpikir lama tentang pembelajaran di perguruan tinggi. Prof. Dr. Lambang Subagiyo hadir bukan hanya sebagai narasumber, tapi sebagai pembuka jalan: membawa pendekatan design thinking yang selama ini akrab di dunia startup, ke dalam ranah mata kuliah wajib kurikulum (MKWK) seperti Pancasila, Kewarganegaraan, Agama, dan Bahasa Indonesia.

Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I., bersama Pramudya Prima Insan Prayitno, S.Kom., M.Kom—keduanya dosen MKU—tengah menyusun ulang RPS dengan pendekatan integratif berbasis OBE, PBL, PjBL, dan Design Thinking sebagai bagian dari upaya transformasi pembelajaran di Universitas Mulia.

Alih-alih mengulang narasi lama tentang pentingnya pendidikan karakter, Prof. Lambang memulai dengan sebuah pertanyaan mengusik: “Mengapa mahasiswa bisa cerdas secara teknologi, tapi gamang secara moral dan kebangsaan?” Pertanyaan itu menghantar para dosen MKWK dan MKU pada satu kesadaran bersama—bahwa metode ceramah dan hafalan tidak lagi memadai untuk menjawab tantangan era super smart society.

Yeyen Dwi Atma, S.Kom., M.Kom., tampak terlibat dalam diskusi intens bersama Prof. Dr. Lambang Subagiyo, membahas strategi integrasi pendekatan OBE, PBL, PjBL, dan Design Thinking ke dalam dokumen RPS.

Dalam paparannya, Prof. Lambang tidak banyak menggunakan jargon. Ia bicara tentang mahasiswa yang kehilangan jati diri karena terlalu lama diajak duduk mendengarkan, tanpa pernah diminta menyelesaikan masalah nyata. Ia menyodorkan design thinking sebagai metode yang menuntut empati, mendorong kreasi, dan memancing keberanian untuk menawarkan solusi.

Kepala Inkubator Bisnis Universitas Mulia, Dr. Linda Fauziyah Ariyani, S.Pd., M.Pd., terlihat tengah merefleksikan ulang pendekatan pembelajaran bisnis berbasis proyek dan solusi, dengan mengadopsi kerangka OBE, PBL, PjBL, dan Design Thinking.

“Kalau kita ingin mahasiswa punya nilai, maka mereka harus belajar dari persoalan yang bernilai,” tegasnya. “Bukan dari soal pilihan ganda, tapi dari isu di sekitar mereka: intoleransi, ujaran kebencian, etika digital, dan krisis moral publik.”

Lisda Agustia, S.Ag., M.Pd., mempresentasikan RPS Mata Kuliah Agama Islam yang telah diperbarui untuk mencerminkan pendekatan OBE, PBL, PjBL, dan Design Thinking sebagai respons terhadap kebutuhan pembelajaran abad ke-21.

Materi beliau membuka cara pandang baru tentang bagaimana MKWK bisa menjadi ruang transformasi, bukan sekadar ruang transmisi pengetahuan. Dengan menekankan proses berpikir kreatif dan kolaboratif, mahasiswa diajak untuk tidak hanya memahami Pancasila sebagai teks, tapi menerjemahkannya dalam aksi nyata—seperti merancang kampanye toleransi digital, membuat video edukasi tentang etika media sosial, atau menyusun solusi atas konflik sosial berbasis nilai-nilai kebangsaan.

Prof. Dr. Lambang Subagiyo terlihat bersemangat menyampaikan materi pada sesi pelatihan, sementara peserta tampak menyimak dengan antusias, mencerminkan suasana intelektual yang hidup dan penuh keterlibatan.

Design Thinking bukan satu-satunya alat yang ia tawarkan. Dalam sesi tersebut, Prof. Lambang juga menegaskan bahwa Outcome Based Education (OBE) adalah fondasi yang tak bisa diabaikan. OBE menuntut bukti nyata dari capaian pembelajaran, bukan sekadar nilai di akhir semester. Karena itu, pendekatan seperti PBL (problem-based learning) dan PjBL (project-based learning) harus diintegrasikan ke dalam MKWK agar mahasiswa tidak hanya “tahu”, tetapi juga “mampu” dan “mau”.

Workshop ini bukan hanya sesi pelatihan teknis. Ia menjadi forum reflektif bagi para dosen yang selama ini berkutat di ruang-ruang kelas dengan bahan ajar klasik. Di akhir sesi, bukan hanya catatan yang dibawa pulang, tapi juga kegelisahan produktif: bagaimana mengajar dengan cara yang membentuk manusia, bukan hanya mengisi kepala.

Humas UM (YMN)

 

Humas Universitas Mulia, 1 Agustus 2025 Di tengah arus perubahan zaman dan tantangan era Revolusi Industri 4.0 serta Society 5.0, pendidikan tinggi dituntut menghadirkan pengalaman belajar yang lebih otentik, kritis, dan solutif. Hal ini disampaikan oleh Prof. Dr. Lambang Subagiyo dalam Workshop Implementasi OBE, PBL, dan Design Thinking dalam Integrasi Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) yang diselenggarakan Universitas Mulia pada Rabu, 30 Juli 2025 di Ruang Townhall, Midtown Express Hotel, Balikpapan.

Lisda Hermagustina, S.Ag., M.Pd., dosen MK Agama Islam, memimpin lagu kebangsaan Indonesia Raya sebagai dirigen dalam prosesi seremonial pembukaan Workshop OBE, PBL, dan Design Thinking.

Dalam sesi bertajuk “Implementasi Project Based Learning (PjBL), Problem Based Learning (PBL), dan Case Method pada MKWK”, Prof. Lambang menekankan pentingnya transformasi pendekatan pembelajaran dari sekadar penyampaian materi menjadi proses pembentukan karakter berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills).

“Belajar berenang tidak bisa hanya dari membaca buku. Demikian pula mahasiswa, mereka harus belajar langsung dari kasus nyata, bekerja dalam tim, dan menyelesaikan proyek yang kontekstual,” ujar Prof. Lambang mengutip pemikiran John Dewey dan Whitehead sebagai dasar pendekatan learning by doing.

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Sistem Informasi, Wisnu Hera Pamungkas, S.T.P., M.Eng., bersama Drs. Suprijadi, M.Pd. Dosen Pengampu MK Pancasila, tampak khusyuk berdoa sebelum acara workshop dimulai sebagai bentuk harapan atas kelancaran kegiatan.

Menurutnya, pembelajaran melalui PBL, PjBL, dan Case Method sangat relevan diterapkan pada MKWK karena tidak hanya membentuk pengetahuan kognitif, tetapi juga sikap, kolaborasi, kreativitas, serta keterampilan berpikir kritis dan pemecahan masalah kompleks.

Workshop ini dihadiri oleh dosen-dosen pengampu MKWK dan MKU Universitas Mulia dari berbagai program studi. Mereka diajak untuk menyusun kembali desain pembelajaran berdasarkan prinsip Outcome-Based Education (OBE), yang menempatkan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) sebagai poros utama desain kurikulum.

Dari kiri ke kanan: Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I., Ketua Panitia Workshop Yeyen Dwi Atma, S.Kom., M.Kom., keynote speaker Prof. Dr. Lambang Subagiyo, dan Wakil Rektor Bidang Akademik dan Sistem Informasi Wisnu Hera Pamungkas, S.T.P., M.Eng., berpose bersama usai prosesi penyerahan cinderamata.

Lebih lanjut, Prof. Lambang memaparkan langkah-langkah konkret penerapan metode Project Based Learning dan Problem Based Learning, mulai dari merancang pertanyaan dasar, membentuk tim, menjalankan proyek, menyusun laporan, hingga merefleksikan pengalaman belajar.

“Dengan PjBL dan PBL, mahasiswa dilatih tidak hanya untuk tahu, tetapi untuk bisa berpikir, bertindak, dan mencipta. Ini adalah kompetensi utama di abad 21,” jelasnya.

Salah satu contoh implementasi yang diangkat adalah proyek pencegahan demam berdarah yang melibatkan mahasiswa sebagai pengambil data lapangan dan pencetus solusi berbasis nilai Pancasila. Pembelajaran seperti ini, menurut Prof. Lambang, akan membuat MKWK menjadi lebih bermakna dan berdampak langsung pada masyarakat.

Dari kiri: Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I., Wakil Rektor Bidang Sumber Daya, dan Prof. Dr. Lambang Subagiyo menyanyikan lagu Indonesia Raya dalam prosesi pembukaan Workshop Integrasi OBE, PBL, dan Design Thinking.

Melalui kegiatan ini, Universitas Mulia menegaskan komitmennya dalam membekali dosen dengan pendekatan pedagogis modern yang menumbuhkan pembelajaran aktif, reflektif, dan berorientasi pada dunia nyata.

Humas UM (YMN)

Humas Universitas Mulia, 1 Agustus 2025 — Di tengah derasnya arus digitalisasi global, kesenjangan literasi teknologi di tingkat dasar masih menjadi persoalan krusial. Berangkat dari kenyataan tersebut, sekelompok mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Mulia melaksanakan pelatihan dasar Microsoft Office dan desain grafis berbasis Canva kepada siswa kelas VI di SDN 003 Balikpapan Selatan. Alih-alih sekadar pengabdian formalitas, kegiatan ini menghadirkan pertemuan substansial antara kebutuhan lapangan dan pendekatan pendidikan berbasis problem nyata.

Dosen Pembimbing Lapangan M. Asyharuddin, S.H., M.H., memberikan arahan kepada mahasiswa Universitas Mulia sebelum pelaksanaan program KKN 2025 di Balikpapan Selatan.

Pelatihan ini tidak berdiri di ruang hampa. Ketua kelompok KKN 18, Khusnul Hasanah, menyatakan bahwa tema sosialisasi melek teknologi dipilih sebagai respons terhadap minimnya akses langsung siswa SD terhadap perangkat digital yang selama ini hanya diperkenalkan secara teoritis. “Kami ingin mereka familiar menggunakan teknologi secara positif dan produktif, bukan hanya sebagai penonton pasif perkembangan zaman,” ujarnya.

Pendekatan Pedagogis yang Kontekstual

Kegiatan berlangsung dengan pendekatan pedagogis berbasis pengalaman—gabungan antara demonstrasi langsung, pendampingan individual, dan metode belajar sambil bermain. “Kami tidak hanya mengajar, tapi membangun suasana yang membuat anak-anak nyaman bereksperimen dan tidak takut mencoba,” tutur Khusnul.

Dua mahasiswi KKN UM 2025 berfoto bersama siswa SDN 003 Balikpapan Selatan di sela-sela sesi pelatihan literasi digital.

Respons siswa pun menunjukkan indikator keberhasilan yang menjanjikan. Selain antusias mengikuti setiap sesi, para siswa bahkan mencoba kembali di rumah dengan aplikasi yang telah mereka kenal, terutama Canva dan Microsoft Word. Guru di SDN 003 mengonfirmasi bahwa sebelumnya belum pernah ada pelatihan teknologi semacam ini di sekolah tersebut. “Dampaknya jelas terasa: anak-anak bukan hanya tertarik, tapi juga menunjukkan keberanian untuk mencoba hal baru,” kata salah satu guru.

Mahasiswi KKN bersama beberapa siswa menunjukkan hasil desain grafis yang dibuat menggunakan aplikasi Canva dalam sesi pelatihan kreatif.

Relevansi terhadap Merdeka Belajar dan Profil Pelajar Pancasila

Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), M. Asyharuddin, S.H., M.H., menilai kegiatan ini sebagai contoh nyata penerapan prinsip Merdeka Belajar yang tidak berhenti pada jargon. Menurutnya, mahasiswa terlibat secara langsung dalam dinamika sosial masyarakat, mengalami pembelajaran kontekstual, dan menanamkan nilai-nilai kepemimpinan serta empati dalam praktik. “Mereka belajar bukan dari modul, tapi dari kehidupan nyata—ini adalah proses pendidikan karakter yang otentik,” tegasnya.

Seorang mahasiswi KKN Universitas Mulia 2025 tengah membimbing siswa dalam memahami dasar-dasar literasi digital di ruang kelas.

Lebih dari itu, kegiatan ini dinilai relevan dalam membentuk dimensi Profil Pelajar Pancasila, terutama pada aspek kreativitas, bernalar kritis, dan kemampuan beradaptasi. Mahasiswa juga dituntut untuk tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga merancang strategi komunikasi yang sesuai dengan kapasitas kognitif anak-anak usia sekolah dasar.

Bukan Sekadar Pelatihan

Yang menarik, sekolah tempat kegiatan berlangsung menunjukkan komitmen untuk menindaklanjuti inisiatif ini melalui program kokurikuler dan pengenalan coding sebagai bagian dari kurikulum pendamping. Hal ini menunjukkan bahwa pelatihan tersebut bukan sekadar intervensi temporer, melainkan berpotensi menjadi katalisator perubahan jangka panjang.

Para mahasiswi KKN antusias membimbing siswa SDN 003 Balikpapan Selatan dalam praktik desain grafis menggunakan Canva.

Khusnul sendiri menilai pengalaman ini sebagai proses pembelajaran dua arah. “Kami belajar bahwa dengan pendekatan yang tepat, anak-anak cepat tanggap terhadap teknologi. Yang penting bukan canggihnya materi, tapi relevansi dan kesiapan kami dalam membimbing,” ungkapnya.

Beberapa siswa berfoto bersama dua mahasiswi KKN Universitas Mulia usai mengikuti pelatihan teknologi di kelas.

Ketika mahasiswa universitas mampu menyentuh ekosistem pendidikan dasar secara substansial, maka pengabdian masyarakat tidak lagi sekadar memenuhi kewajiban akademik, tetapi bertransformasi menjadi bentuk kepemimpinan transformatif. Dalam konteks ini, Canva dan Microsoft Word bukan lagi sekadar aplikasi—melainkan pintu masuk bagi anak-anak untuk mengenali peran mereka dalam dunia digital yang semakin kompleks.

Humas UM (YMN)

Humas Universitas Mulia, 31 Juli 2025 “Kurikulum bukanlah sekadar template, tetapi sebuah konsep dinamis yang mengarahkan mahasiswa pada pencapaian peran profesionalnya di tengah tantangan Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0.” Demikian penegasan Prof. Dr. Lambang Subagiyo, M.Si., saat menjadi narasumber utama dalam Workshop Integrasi OBE, PBL, dan Design Thinking dalam Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) yang diselenggarakan Rabu, 30 Juli 2025 di Ruang Townhall Midtown Express Hotel, Balikpapan.

Workshop ini dihadiri oleh dosen-dosen pengampu MKWK (Mata Kuliah Wajib kurikulum) dan MKU (Mata Kuliah Umum) Universitas Mulia, sebagai bagian dari upaya peningkatan mutu dan penyelarasan pembelajaran dengan capaian pembelajaran lulusan berbasis Outcome-Based Education (OBE).

Dalam paparannya yang bertajuk “Teknik Menyusun RPS Berbasis OBE”, Prof. Lambang menekankan pentingnya membangun kurikulum yang tidak hanya berorientasi pada penyampaian materi, tetapi pada pencapaian kompetensi lulusan yang relevan dengan kebutuhan zaman.

“RPS itu bukan hanya formalitas. Ia harus berfungsi korektif, preventif, direktif, dan konstruktif. RPS memberi kepastian bahwa mahasiswa mendapatkan pengalaman belajar sebagaimana yang telah dirancang,” jelas Guru Besar yang juga aktif dalam pengembangan kurikulum nasional tersebut.

Mengawali kegiatan dengan kekhidmatan, para peserta workshop mengangkat tangan dalam doa bersama—sebagai refleksi spiritual dan bentuk ikhtiar agar rangkaian pelatihan berlangsung lancar, bermakna, dan penuh keberkahan.

Menurutnya, desain kurikulum yang efektif dimulai dari perumusan peran lulusan di masyarakat, yang kemudian dijabarkan dalam Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL), diturunkan ke dalam mata kuliah dan bobot SKS, lalu diimplementasikan dalam Rencana Pembelajaran Semester (RPS).

Ia juga menekankan bahwa pendekatan OBE bukan hanya menyangkut proses pengajaran (Outcome-Based Learning and Teaching/OBLT), tetapi juga pendekatan penilaian dan evaluasi (Outcome-Based Assessment and Evaluation/OBAE) yang berfokus pada penguasaan capaian pembelajaran oleh mahasiswa.

Ketua Panitia Workshop, Yeyen Dwi Atma, S.Kom., M.Kom., menyerahkan cinderamata kepada narasumber Prof. Dr. Lambang Subagiyo, disaksikan oleh Wakil Rektor Bidang Akademik dan Sistem Informasi, Wisnu Hera Pamungkas, S.T.P., M.Eng., serta Wakil Rektor Bidang Sumber Daya, Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I.

“Materi yang kita sampaikan belum tentu bisa dikuasai semua mahasiswa, maka tugas dosen adalah merancang pembelajaran yang memungkinkan mahasiswa mencapai CPL—dengan strategi, metode, dan evaluasi yang sesuai,” tegasnya.

Dengan pendekatan holistik berbasis OBE, dipadukan dengan Problem-Based Learning (PBL) dan Design Thinking, workshop ini menjadi langkah strategis Universitas Mulia dalam menciptakan proses pembelajaran yang kontekstual, aplikatif, dan berpusat pada mahasiswa.

Humas UM (YMN)

Humas Universitas Mulia, 30 Juli 2025 Matakuliah Wajib Kurikulum (MKWK) tidak lagi hanya menjadi wahana penyampaian materi normatif, tetapi harus ditransformasi menjadi arena pendidikan karakter berbasis proyek dan kolaborasi. Hal ini ditegaskan oleh Wakil Rektor Bidang Akademik dan Sistem Informasi Universitas Mulia, Wisnu Hera Pamungkas, S.T.P., M.Eng., dalam sesi pembukaan workshop integrasi OBE, PBL, dan Design Thinking dalam MKWK yang digelar pada Rabu, 30 Juli 2025 di Ruang Townhall Midtown Express Hotel, Balikpapan.

Dalam paparannya, Wisnu menekankan bahwa MKWK bukan sekadar keharusan administratif dalam kurikulum perguruan tinggi. Sebaliknya, ia adalah fondasi ideologis, etis, dan komunikatif yang harus ditanamkan dengan pendekatan yang relevan dengan konteks zaman. “Substansi kajian MKWK perlu dikembangkan oleh dosen, dengan menggali isu-isu kontemporer seperti kearifan lokal, radikalisme, kesadaran pajak, hingga kesetiaan pada ideologi bangsa,” tegasnya.

Seluruh peserta workshop berdiri menyanyikan Mars Universitas Mulia dalam suasana khidmat saat seremonial pembukaan kegiatan di Ruang Townhall Midtown Express Hotel, Rabu (30/7/2025).

Lebih lanjut, Wisnu menyampaikan bahwa Universitas Mulia telah menata ulang strategi pembelajaran melalui penerapan Outcome-Based Education (OBE) dan Project-Based Learning (PBL). Siklus OBE, menurutnya, mengharuskan penyesuaian materi, metode, asesmen, dan evaluasi berbasis capaian. PBL diposisikan bukan sekadar metode, melainkan filosofi pembelajaran yang menuntut keaktifan, orisinalitas, kolaborasi, dan refleksi mahasiswa.

“Mahasiswa tidak cukup diajarkan teori toleransi, tapi harus menciptakan proyek yang menyuarakan nilai toleransi itu dalam bentuk kreatif dan berdampak,” ujarnya. Ia mencontohkan produk pembelajaran seperti video refleksi, infografis nilai Pancasila, hingga kampanye media sosial tentang kebhinekaan sebagai bentuk konkret integrasi nilai dan proyek.

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Sistem Informasi, Wisnu Hera Pamungkas, S.T.P., M.Eng., menyampaikan materi pembuka yang memetakan arah kebijakan pengembangan MKWK di Universitas Mulia.

Selain MKWK yang terdiri dari matakuliah Agama, Pancasila, Kewarganegaraan, dan Bahasa Indonesia, Wisnu juga menekankan pentingnya penguatan pada Mata Kuliah Universitas seperti Pendidikan Anti Korupsi, Technopreneurship, Bahasa Inggris Bisnis, serta Kuliah Kerja Nyata dan Skripsi yang mendukung praktik nilai di lapangan.

Sesi doa bersama pembukaan workshop berlangsung dalam suasana tenang dan penuh kekhusyukan.

Tak kalah strategis, Wisnu memperkenalkan pentingnya literasi terhadap Generative Artificial Intelligence (GenAI) dalam ekosistem pendidikan tinggi. Menurutnya, GenAI dapat menjadi alat yang memberdayakan atau merusak, tergantung pada cara institusi dan individu mengelolanya. “Universitas harus memandu pemanfaatan GenAI secara etis dan bertanggung jawab, menjaga integritas akademik tanpa menutup peluang inovasi,” tandasnya.

Materi yang disampaikan Wakil Rektor Akademik dan Sistem Informasi ini menjadi landasan penting dalam diskusi-diskusi lanjutan para dosen pengampu MKWK selama workshop berlangsung. Mereka tidak hanya menyusun RPS atau RPL, tetapi juga ditantang untuk menyematkan nilai, menyusun skenario proyek, dan merancang asesmen yang kontekstual, kolaboratif, dan inklusif.

Humas UM (YMN)

Kami mengharapkan para dosen peserta workshop mampu menguasai secara komprehensif konsep OBE, PBL, dan Design Thinking serta implementasinya dalam pembelajaran MKWK, dan selanjutnya dapat merancang instrumen pembelajaran—baik RPS maupun RPP—yang layak dijadikan rujukan atau model bagi rekan pengajar lainnya.”  — Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I., Wakil Rektor Bidang Sumber Daya

Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Universitas Mulia, Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I., memberikan sambutan pembuka sekaligus mewakili Rektor dalam membuka secara resmi kegiatan Workshop Integrasi OBE, PBL, dan Design Thinking dalam MKWK, Rabu (30/7), di Townhall Midtown Express Hotel Balikpapan.

Humas Universitas Mulia, 30 Juli 2025 – Sebuah transformasi senyap sedang berlangsung di balik meja-meja dosen Universitas Mulia. Rabu pagi, 30 Juli 2025, suasana Townhall Midtown Express Hotel berubah menjadi ruang dialektika akademik. Di sanalah puluhan dosen pengampu Matakuliah Wajib Kurikulum (MKWK) dan Matakuliah Umum (MKU) berkumpul, bukan sekadar mendengarkan ceramah, tapi untuk merancang ulang arah pembelajaran mereka. Workshop integrasi Outcome-Based Education (OBE), Project-Based Learning (PBL), dan Design Thinking diselenggarakan penuh sejak pukul 08.00 hingga 15.30 WITA.

Menghadirkan narasumber dari Universitas Mulawarman Samarinda, Prof. Dr. Lambang Subagiyo, M.Si., kegiatan ini menjadi bagian penting dalam proses pematangan kurikulum berbasis capaian dan proyek yang terus digarap Universitas Mulia.

“Secara prinsip, kampus telah siap untuk mendukung transformasi pembelajaran berbasis OBE,” tegas Wakil Rektor Bidang Sumber Daya, Wibisono Wibisono, S.E., M.T.I., dalam wawancara khusus di sela kegiatan. Menurutnya, kesiapan itu bukan hanya retorika. Ia menyebut dosen yang kompeten, sarana pembelajaran yang tersedia, hingga keberadaan Lentera sebagai Learning Management System (LMS) yang telah dikembangkan secara fungsional sebagai penopang utama OBE.

Yusuf Wibisono menyerahkan cinderamata berupa plakat Universitas Mulia kepada narasumber utama, Prof. Dr. Lambang Subagiyo, M.Si., usai sesi pemaparan materi inti workshop.

Namun bagi Wibisono, kesiapan bukan sekadar soal alat. Ia menekankan pentingnya capaian konkret dari workshop ini. “Setiap dosen ditargetkan mampu menghasilkan RPS yang telah mengintegrasikan pendekatan OBE, PBL, dan Design Thinking. Setelah kegiatan ini, RPS tersebut bisa terus disempurnakan dan dilengkapi dengan instrumen pembelajaran lainnya di bawah koordinasi bagian akademik,” ujarnya.

Para peserta workshop tampak fokus mengikuti rangkaian sesi diskusi dan praktik penyusunan instrumen pembelajaran berbasis OBE, PBL, dan Design Thinking.

Transformasi pendidikan, bagi Universitas Mulia, tidak mungkin dibangun hanya di atas dokumen RPS. Di balik struktur silabus, ada manusia yang harus bergerak: para dosen. Karena itu, kata Wibisono, pengembangan kompetensi dosen diarahkan pada dua jalur: penguatan digital dan penguatan karakter. “Kompetensi dosen dikembangkan melalui studi lanjut sesuai bidang keilmuan dan pelatihan yang fokus pada teknologi digital,” jelasnya. Sementara dari sisi karakter, universitas memperkuat nilai-nilai dasar: inovatif, mandiri, dan humanis—yang disokong oleh program KEJAR (Kesehatan Jasmani dan Rohani) yang rutin dilaksanakan setiap hari Jumat.

Mengenai latar belakang kegiatan, Wibisono menyampaikan urgensinya secara gamblang. “Workshop ini penting untuk memastikan bahwa dosen yang mengajar MKWK memahami secara substantif bagaimana integrasi antara OBE, PBL, dan Design Thinking dapat diterapkan secara aktual dalam pembelajaran,” tuturnya. Dengan kata lain, workshop ini bukan ajang pemaparan satu arah. Dosen ditantang berpikir ulang dan bekerja menyusun instrumen pengajaran seperti RPS dan RPP yang dapat menjadi model standar lintas prodi.

Lebih jauh, Wibisono menyoroti posisi strategis Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) sebagai fondasi karakter mahasiswa lintas disiplin. Ia menyebut bahwa penguasaan teknis saja tidak memadai untuk menjawab tantangan dunia kerja dan masyarakat. “Mahasiswa UM harus didukung dengan karakter yang kuat serta kemampuan komunikasi yang baik,” jelasnya. Sebagai penyeimbang, UM juga mengintegrasikan matakuliah seperti Pendidikan Anti Korupsi, Technopreneurship, dan Bahasa Inggris Bisnis, serta memperkuatnya melalui pembelajaran berbasis pengalaman dalam program KKN dan skripsi.

Menutup keterangannya, Wibisono menegaskan kembali harapan institusional terhadap para dosen peserta workshop. “Kami berharap bahwa seluruh dosen yang mengikuti workshop ini dapat memiliki pemahaman yang baik tentang OBE, PBL, dan Design Thinking dan integrasinya dalam MKWK, serta mampu menyusun instrumen pembelajaran (RPS dan RPP) berbasis hal tersebut yang dapat menjadi contoh atau standar bagi pengajar yang lain.”

Humas UM (YMN)

 

“Sertifikasi di Universitas Mulia bukan program tambahan, tetapi bagian dari desain kurikulum. Mahasiswa dipersiapkan bukan hanya untuk lulus, melainkan untuk diuji dan diakui secara nasional, dan hasil sertifikasi akan kami tempatkan sebagai bukti sahih ketercapaian pembelajaran.”—Wisnu Hera Pamungkas, S.T.P., M.Eng. (Wakil Rektor Bidang Akademik dan Sistem Informasi)

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Sistem Informasi Universitas Mulia, Wisnu Hera Pamungkas, S.T.P., M.Eng., memberikan arahan dalam seremonial pembukaan Uji Materi Kompetensi (MUK) sebagai bagian dari proses integrasi sertifikasi dalam pembelajaran.

Humas Universitas Mulia, 29 Juli 2025 — Di Universitas Mulia, sertifikasi profesi tidak ditempatkan sebagai program pelengkap. Ia disusun dan ditanamkan sejak awal proses belajar, dirancang menyatu dalam sistem pembelajaran. Hal ini ditegaskan langsung oleh Wakil Rektor Bidang Akademik, Wisnu Hera Pamungkas, S.T.P., M.Eng.

“Kami menyelaraskan materi kuliah, proyek tugas akhir, hingga praktik lapangan dengan skema-skema kompetensi yang dirancang dan diajukan ke BNSP,” ujarnya. “Artinya, mahasiswa tidak belajar hal yang terpisah dari dunia kerja—mereka justru belajar untuk bersertifikat.”

Menurut Wisnu, pendekatan ini dilakukan agar proses belajar di kampus tidak berhenti pada pemahaman teoretis semata, tetapi sejak awal diarahkan untuk menghasilkan kompetensi yang dapat diuji dan diakui secara formal. Sertifikasi tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi jalur utama yang ditempuh mahasiswa dalam meraih pengakuan keterampilan kerja.

Langkah selanjutnya, Universitas Mulia sedang menyelaraskan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) agar hasil asesmen dari skema LSP dapat digunakan sebagai tolok ukur kompetensi. “Kami sedang mengaitkan hasil uji skema langsung dengan CPL, terutama dalam aspek keterampilan khusus dan kesiapan kerja,” jelasnya. Ia menambahkan, “Dengan demikian, sertifikat bukan hanya bonus kelulusan, tetapi bagian dari pengakuan formal atas apa yang benar-benar telah dikuasai oleh mahasiswa selama studi.”

Pemerataan akses menjadi perhatian penting. Sertifikasi tidak hanya dilaksanakan di kampus utama Balikpapan. Wisnu mencontohkan keterlibatan mahasiswa dari Program Studi Sistem Informasi di Kampus Samarinda yang kini mengembangkan skema dan Materi Uji Kompetensi (MUK) mereka sendiri. “Mahasiswa di Samarinda juga menyiapkan skema yang akan diajukan ke BNSP dan digunakan untuk mensertifikasi mereka. Kami pastikan kesempatan ini merata,” ungkapnya.

Kalimantan yang kini berkembang sebagai kawasan strategis Ibu Kota Nusantara (IKN) turut menjadi konteks penting dalam strategi sertifikasi Universitas Mulia. Wisnu menyebut bahwa lulusan bersertifikat harus mampu langsung bekerja dan menjawab kebutuhan yang tumbuh di wilayah ini.

“Kami melihat sertifikasi kompetensi sebagai salah satu kunci utama kesiapan SDM lokal menghadapi transformasi besar di kawasan Kalimantan dan IKN,” ucapnya. “Lulusan kami diposisikan sebagai talenta siap pakai—baik untuk industri, sektor pemerintahan, maupun kegiatan wirausaha yang berkembang.”

Untuk memastikan keselarasan antara skema sertifikasi dan kebutuhan nyata di lapangan, Universitas Mulia melalui LSP juga menjalin berbagai kolaborasi lintas sektor. Wisnu menyampaikan bahwa koordinasi dan kerja sama dengan industri, lembaga pendidikan, BUMN, dan instansi lain selalu dibuka agar skema yang disusun tidak hanya memenuhi standar administratif, tetapi benar-benar mencerminkan kebutuhan dunia kerja.

Humas UM (YMN)

Humas Universitas Mulia, 29 Juli 2025Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Universitas Mulia menggelar uji coba Materi Uji Kompetensi (MUK) sebagai tahapan wajib dalam proses pengajuan penambahan skema sertifikasi ke Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Kegiatan ini bukan sekadar formalitas administratif, melainkan pengujian langsung atas validitas dan ketepatan materi uji yang dirancang untuk mengukur kemampuan nyata calon peserta sertifikasi.

Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Mulia, Wisnu Hera Pamungkas, S.T.P., M.Eng. (kanan), bersama Dekan Fakultas Ilmu Komputer, Djumhadi, S.T., M.Kom. (kiri), memantau langsung proses uji coba Materi Uji Kompetensi (MUK) di lingkungan kampus.

“Uji coba ini kami perlakukan sebagai pengujian kritis terhadap isi materi. Apakah instrumen ini memang layak digunakan untuk menilai kompetensi secara objektif dan akurat? Itu yang kami uji,” ujar Kepala UPT LSP Universitas Mulia, Dr. Mada Aditia Wardhana, S.Sos., M.M.

Seluruh materi uji dikembangkan dengan mengacu pada Skema Sertifikasi dan unit kompetensi yang sudah ditetapkan dalam standar nasional, yakni SKKNI (Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia). Tidak ada improvisasi di luar kerangka, sebab yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar kelulusan, tetapi legitimasi profesional atas kemampuan teknis dan sikap kerja peserta.

Irfan Ananda Pratama, S.A., M.A., melakukan monitoring pelaksanaan uji coba Materi Uji Kompetensi (MUK) sebagai bagian dari proses validasi skema sertifikasi.

Menurut penanggung jawab kegiatan, proses uji coba ini menjadi semacam stress test terhadap sistem evaluasi kompetensi yang disusun. Jika MUK yang diuji tidak mampu secara presisi membedakan antara peserta yang kompeten dan tidak kompeten, maka materi tersebut harus direvisi. “Kami tidak ingin menghasilkan materi yang kabur secara penilaian atau tidak sesuai kebutuhan lapangan kerja,” tegasnya.

Lebih jauh, kegiatan ini juga mencerminkan arah kebijakan Universitas Mulia dalam memosisikan sertifikasi sebagai bagian integral dari proses pembelajaran. Sertifikasi bukan ditempelkan di akhir proses, tetapi dirancang sejak awal sebagai capaian yang terukur dan berbasis standar. Ini menjadi bukti bahwa universitas tidak hanya mendidik, tetapi juga mengkalibrasi capaian mahasiswa dengan tolok ukur yang diakui secara nasional.

Dr. Hety Devita, S.E., M.M., C.Med., C.P.Arb., tampak membagikan soal kepada peserta dalam pelaksanaan uji coba Materi Uji Kompetensi (MUK) di Universitas Mulia.

Dengan menggelar uji coba MUK secara terbuka dan ketat, Universitas Mulia mengirimkan pesan jelas: sertifikasi kompetensi bukan program pelengkap, melainkan sistem yang dibangun secara sistematis, diuji, dan dipertanggungjawabkan.

Humas UM (YMN)

“Materi Uji Kompetensi (MUK) bukan sekadar alat uji administratif, melainkan instrumen strategis yang memetakan relevansi kurikulum dengan kebutuhan riil dunia kerja. Ketika sertifikasi diintegrasikan ke dalam kurikulum, capaian kompetensi mahasiswa tidak hanya diakui secara internal, tetapi juga mendapat legitimasi formal di tingkat nasional. Inilah komitmen Universitas Mulia: mencetak lulusan yang bukan sekadar bergelar sarjana, melainkan sumber daya unggul yang siap mengisi ruang-ruang strategis pembangunan IKN dan industri masa depan.” — Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si. (Rektor Universitas Mulia)

Rektor Universitas Mulia, Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si, saat menerima kunjungan Tim Humas UM dan menjawab sesi wawancara terkait pelaksanaan uji coba Materi Uji Kompetensi (MUK) di White Campus UM, Balikpapan

Humas Universitas Mulia, 29 Juli 2025 – Di tengah kebutuhan mendesak akan lulusan yang benar-benar kompeten dan relevan dengan kebutuhan industri, Universitas Mulia melaksanakan uji coba Materi Uji Kompetensi (MUK) di gedung white campus, Universitas Mulia Balikpapan, Senin (28/7). Kegiatan ini diselenggarakan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Universitas Mulia sebagai bagian dari proses validasi skema baru yang akan diajukan ke Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

Para asesor LSP Universitas Mulia — Dr. Mada Aditia Wardhana, S.Sos., M.M., Dr. Ivan Armawan, S.E., M.M., dan Nandha Narendra Muvano, S.E., M.M. — berdiskusi santai mengenai instrumen asesmen dalam uji coba MUK

Kepala UPT LSP UM, Dr. Mada Aditia Wardhana, S.Sos., M.M., menyampaikan bahwa uji coba ini bukan sebatas prosedur administratif, melainkan proses evaluatif terhadap ketepatan instrumen asesmen yang digunakan. “Kami menguji apakah instrumen yang dikembangkan betul-betul bisa mengukur kemampuan nyata asesi sesuai standar SKKNI. Ini bukan soal lulus atau tidak, tapi soal memastikan alat ukurnya tepat,” ungkapnya.

MUK, dalam konteks ini, berfungsi bukan hanya sebagai alat ukur teknis, tetapi sebagai instrumen akademik yang merefleksikan apakah kerangka pembelajaran yang disusun benar-benar sejalan dengan kompetensi kerja yang dibutuhkan pasar.

Para peserta (asesi) mengikuti uji coba Materi Uji Kompetensi (MUK) dengan fokus dan serius. Kegiatan ini bertujuan menguji ketepatan instrumen asesmen terhadap standar kompetensi berbasis SKKNI dan OBE.

Rektor Universitas Mulia, Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si, menegaskan bahwa pelaksanaan uji coba ini memiliki nilai strategis dalam memperkuat pendekatan Outcome-Based Education (OBE) yang diterapkan kampus secara sistemik.

“MUK menjadi titik temu antara pendekatan berbasis capaian dan tuntutan riil dunia kerja. Ia bukan hanya mengukur hasil belajar, tetapi juga memvalidasi apakah kurikulum kita cukup relevan dan aplikatif,” tegasnya.

Lebih lanjut, Rektor menyatakan bahwa proses sertifikasi kompetensi semestinya tidak berdiri terpisah dari kurikulum. Integrasi ke dalam pembelajaran formal akan menghasilkan pengakuan eksternal yang kredibel terhadap capaian mahasiswa. Sertifikasi bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian dari arsitektur pembelajaran.

“Ketika sertifikasi menjadi bagian dari penilaian mata kuliah, ia otomatis mendukung Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL), memperkuat keterpakaian lulusan, dan memberikan kontribusi langsung terhadap kualitas pendidikan,” tambahnya.

Selain memperkuat sistem mutu internal, integrasi ini juga memiliki implikasi langsung terhadap penguatan portofolio technopreneur mahasiswa, karena sertifikasi dapat menjadi bukti kompetensi dalam proyek inovasi, proposal bisnis, maupun kemitraan dengan industri.

Menjawab Ketimpangan Akses: Sertifikasi untuk Semua

Salah satu aspek krusial dalam implementasi sistem sertifikasi adalah menjamin pemerataan akses. Mahasiswa dari kampus PSDKU seringkali menghadapi keterbatasan teknis dan administratif. Universitas Mulia tidak menutup mata terhadap masalah ini.

Para Peserta (Asesi) Sedang Melakukan Uji Materi MUK

Rektor menjelaskan bahwa universitas menggunakan pendekatan integratif berbasis data, dengan memperkuat dukungan infrastruktur, skema pembiayaan yang inklusif, pelatihan pendampingan, serta pemantauan berbasis sistem digital yang memungkinkan kendali mutu secara menyeluruh.

“Distribusi akses bukan masalah teknis semata, tapi soal struktur sistem. Maka, solusi kami juga berbasis sistem, bukan sekadar kebijakan lokal,” ujarnya.

IKN dan Posisi Universitas Mulia dalam Peta Kompetensi Nasional

Konteks pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) menjadi latar penting dari transformasi ini. Universitas Mulia menyiapkan diri sebagai penyedia SDM kompeten yang tidak hanya siap kerja, tetapi memiliki legitimasi formal melalui sertifikasi yang diakui nasional.

“Kami ingin memastikan lulusan Universitas Mulia tidak hanya dicatat sebagai sarjana, tetapi sebagai tenaga kompeten yang diakui oleh industri dan dapat bersaing di sektor-sektor strategis IKN,” ungkap Rektor.

Para Peserta (Asesi) Sedang Melakukan Uji Materi MUK

Upaya ini diperkuat dengan pengembangan kemitraan bersama LSP, dunia usaha, dan mitra Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) untuk menciptakan ekosistem pembelajaran yang dinamis dan berbasis kebutuhan lapangan. Sertifikasi dijadikan sebagai pintu masuk, bukan sebagai tujuan akhir.

Humas UM (YMN)