Balikpapan, 7 Mei 2026—Deretan kendaraan yang keluar masuk area layanan Daihatsu Balikpapan pada 7 Mei 2026 menjadi pemandangan yang berbeda bagi mahasiswa kelas MAN4C Universitas Mulia. Di tempat itu, mereka tidak hanya melihat aktivitas bengkel otomotif, tetapi juga menyaksikan bagaimana sebuah industri membangun ritme pelayanan, menjaga kepercayaan pelanggan, dan menyesuaikan diri dengan perubahan teknologi yang terus bergerak.

Kunjungan industri yang difasilitasi Career Development Center (CDC) Universitas Mulia tersebut membawa mahasiswa berkeliling ke berbagai area layanan Daihatsu Balikpapan. Dari ruang operasional hingga pelayanan pelanggan, mahasiswa diperlihatkan bahwa industri otomotif modern tidak lagi semata berbicara tentang kendaraan, melainkan tentang bagaimana teknologi, manajemen layanan, dan pengalaman konsumen saling terhubung dalam satu sistem bisnis.

Bagi Universitas Mulia, kunjungan ke industri otomotif memiliki makna yang lebih luas dibanding sekadar observasi lapangan. Sebagai perguruan tinggi yang lahir dari basis ilmu teknologi di Balikpapan, kampus dinilai perlu menjaga lingkungan pembelajaran yang terus peka terhadap perubahan teknologi dan perkembangan industri.

Dr. Linda Fauziah, Kepala Career Development Center Universitas Mulia, menjelaskan bahwa Daihatsu dipilih karena dipandang sebagai perusahaan yang mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi secara konsisten. Menurutnya, keberadaan perusahaan otomotif asal Jepang yang telah bertahan lebih dari enam dekade di Indonesia menjadi contoh penting tentang bagaimana industri menjaga relevansi di tengah perubahan zaman.

Di hadapan mahasiswa, konsep inovasi juga diperlihatkan dalam bentuk yang lebih luas. Selama ini, inovasi sering dipahami sebatas penciptaan produk baru. Padahal, di dunia industri modern, inovasi justru banyak hadir melalui sistem pelayanan, pengelolaan operasional, hingga bagaimana perusahaan membangun pengalaman pelanggan.

Karena itu, mahasiswa tidak hanya diajak melihat kendaraan atau proses teknis bengkel, tetapi juga mempelajari bagaimana layanan dibangun sebagai bagian dari strategi bisnis. Dari pola komunikasi dengan konsumen hingga pengelolaan area layanan, mahasiswa diperlihatkan bahwa pengalaman pelanggan menjadi bagian penting dari daya saing industri.

Menurut Dr. Linda, pembelajaran seperti ini penting karena mahasiswa perlu memahami aplikasi nyata dari teori yang dipelajari di ruang kuliah. Dunia kerja modern tidak hanya membutuhkan kemampuan teknis, tetapi juga kemampuan membaca perubahan dan memahami budaya profesional yang berkembang di lingkungan industri.

“Pembelajaran mendalam dan kontekstual perlu terus dihadirkan untuk meningkatkan mutu lulusan,” ujarnya.

Mahasiswa Universitas Mulia bersama Dr. Linda Fauziah selaku Kepala Career Development Center Universitas Mulia dan pimpinan Daihatsu Balikpapan usai kegiatan kunjungan industri yang membahas inovasi layanan, budaya kerja profesional, dan dinamika industri otomotif modern.

Pandangan tersebut berkaitan dengan kebutuhan dunia kerja yang semakin dinamis. Perusahaan tidak lagi hanya mencari individu yang menguasai teori, tetapi juga mereka yang mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi, ritme operasional, dan pola pelayanan yang terus berkembang.

Bagi CDC Universitas Mulia, kunjungan industri menjadi salah satu cara untuk mempertemukan proses akademik dengan realitas profesional secara lebih langsung. Melalui interaksi di lapangan, kampus dapat membaca kebutuhan industri secara lebih konkret, termasuk kompetensi seperti apa yang dibutuhkan perusahaan terhadap calon tenaga kerja di masa mendatang.

Di titik inilah kunjungan ke Daihatsu Balikpapan memperoleh maknanya yang lebih mendalam. Mahasiswa tidak sekadar datang melihat industri otomotif, tetapi belajar memahami bagaimana sebuah perusahaan bertahan melalui kemampuan beradaptasi, menjaga kualitas layanan, dan terus membaca perubahan yang terjadi di sekitarnya.

Bagi mahasiswa, pengalaman tersebut mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Namun bagi Universitas Mulia, pengalaman lapangan seperti ini merupakan bagian dari upaya membangun lulusan yang tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki kepekaan terhadap dunia profesional yang terus berubah. (YMN)

 

Balikpapan, 8 Mei 2026—Di balik produk air mineral yang sehari-hari terlihat sederhana di rak konsumsi, terdapat rangkaian operasional bisnis yang kompleks. Hal itulah yang dipelajari mahasiswa kelas MAN4A Universitas Mulia saat melakukan kunjungan industri ke DC Balikpapan pada Jumat, 8 Mei 2026.

Bagi sebagian mahasiswa, kunjungan tersebut menjadi pengalaman pertama melihat secara langsung ritme kerja industri manufaktur. Balikpapan sendiri tidak memiliki banyak industri manufaktur berskala besar seperti kota-kota industri di Pulau Jawa. Karena itu, kesempatan memasuki lingkungan operasional perusahaan menjadi pengalaman yang tidak mudah diperoleh dari ruang kelas semata.

Career Development Center (CDC) Universitas Mulia memandang pengalaman lapangan seperti ini sebagai bagian penting dari pembelajaran mendalam mahasiswa. Menurut Dr. Linda Fauziah, Kepala Career Development Center Universitas Mulia, interaksi langsung dengan industri memberi dimensi pembelajaran yang berbeda dibanding pendekatan teoritis yang selama ini dominan di kelas.

Kepala CDC UM, Dr. Linda Fauziah menerima penghargaan dari pihak DC Balikpapan sebagai bentuk apresiasi atas kunjungan industri dan penguatan kolaborasi pembelajaran antara dunia kampus dan industri manufaktur.

“Industri manufaktur di Balikpapan sangat terbatas dibanding di Jawa. Karena itu, pengalaman seperti ini menjadi sangat berharga bagi mahasiswa,” ujarnya.

Dalam kunjungan tersebut, mahasiswa tidak hanya melihat proses produksi air mineral, tetapi juga diperkenalkan pada bagaimana perusahaan mengelola rantai pasok serta mempertahankan keberlanjutan bisnis melalui diversifikasi produk. Pembahasan mengenai supply chain menjadi salah satu titik penting karena mahasiswa diajak memahami bahwa produk konsumsi yang terlihat sederhana sesungguhnya bergantung pada sistem distribusi dan pengelolaan operasional yang kompleks.

Menurut Dr. Linda, pemahaman mengenai manajemen rantai pasok menjadi semakin penting bagi mahasiswa yang akan memasuki dunia profesional. Industri modern tidak lagi hanya membutuhkan tenaga kerja yang memahami produk, tetapi juga individu yang mampu membaca hubungan antarproses di balik sebuah bisnis.

“Inovasi diversifikasi produk untuk menjaga keberlanjutan bisnis juga perlu dipahami mahasiswa,” jelasnya.

Selama ini, banyak mahasiswa mengenal industri hanya dari produk akhirnya—apa yang dijual, bagaimana mereknya dikenal, atau bagaimana produk itu dikonsumsi masyarakat. Padahal, keputusan bisnis lahir dari rangkaian proses yang jauh lebih rumit: efisiensi produksi, pengendalian distribusi, pemetaan pasar, hingga strategi mempertahankan keberlangsungan usaha di tengah persaingan.

Mahasiswa Universitas Mulia menyerahkan souvenir kepada pihak DC Balikpapan sebagai simbol apresiasi dan terjalinnya hubungan pembelajaran antara mahasiswa dan dunia industri.

Karena itu, kunjungan industri dipandang CDC Universitas Mulia sebagai cara mempertemukan mahasiswa dengan realitas operasional yang sesungguhnya. Di ruang produksi, mahasiswa belajar bahwa keputusan bisnis tidak berdiri sendiri, melainkan terhubung dengan sistem kerja yang saling memengaruhi.

Dr. Linda menilai pengalaman seperti ini masih belum banyak dijadikan pendekatan pembelajaran oleh perguruan tinggi. Menurutnya, Universitas Mulia melalui CDC berupaya menghadirkan pengalaman belajar yang memberi mahasiswa kesempatan melihat langsung dinamika industri di luar lingkungan akademik.

Semakin sering mahasiswa berinteraksi dengan dunia industri, semakin besar pula peluang mereka memahami perubahan yang terjadi di luar kampus. Dari perkembangan teknologi produksi hingga dinamika pasar, mahasiswa didorong untuk membangun sensitivitas terhadap perubahan yang akan mereka hadapi setelah memasuki dunia kerja.

Di titik inilah kunjungan industri memperoleh maknanya yang lebih dalam. Ia bukan sekadar agenda observasi perusahaan, tetapi ruang untuk membentuk cara berpikir mahasiswa agar mampu membaca dunia profesional secara lebih utuh—bahwa sebuah produk tidak hanya lahir dari mesin produksi, melainkan dari keputusan, strategi, dan kemampuan beradaptasi yang terus bergerak mengikuti perubahan zaman. (YMN)

 

Balikpapan, 25 Mei 2026—Suasana pagi yang cerah menyelimuti halaman kampus Universitas Mulia usai pelaksanaan apel pagi, Senin 25/5/2016. Hangat matahari yang belum terlalu terik berpadu dengan semangat para dosen dan tenaga kependidikan yang berkumpul mengikuti pelatihan penggunaan fire extinguisher atau Alat Pemadam Api Ringan (APAR).

Satu per satu peserta tampak maju mendekati titik simulasi kebakaran. Dengan penuh antusias, mereka mempraktikkan langsung cara memadamkan api menggunakan APAR di bawah arahan tim pendamping. Sesekali terdengar tepuk tangan dan sorak semangat ketika semburan serbuk pemadam berhasil melumpuhkan kobaran api dalam hitungan detik.

Kegiatan yang diinisiasi bagian Sarana dan Prasarana tersebut bukan sekadar pelatihan teknis biasa. Di balik praktik pemadaman api itu, tersimpan pesan penting tentang kesiapsiagaan, keselamatan, dan budaya sadar risiko di lingkungan perguruan tinggi.

Kepala Sarana dan Prasarana Universitas Mulia, Muhammad Fahmi Abdillah, S.Kom., M.Kom. menegaskan bahwa pelatihan tersebut merupakan bentuk komitmen kampus dalam meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat, khususnya kebakaran.

“Lingkungan kampus memiliki banyak aktivitas akademik maupun operasional yang melibatkan penggunaan listrik dan berbagai peralatan lainnya, sehingga potensi risiko kebakaran harus diantisipasi sejak dini melalui edukasi dan pelatihan yang tepat,” ujarnya.

Menurutnya, pengelolaan sarana dan prasarana tidak hanya berfokus pada penyediaan fasilitas, tetapi juga memastikan seluruh fasilitas aman digunakan dan memiliki sistem mitigasi risiko yang baik. Ia menilai, keberadaan APAR di lingkungan kampus belum cukup apabila sivitas akademika tidak memahami cara penggunaannya.

“Memiliki APAR saja tidak cukup apabila pengguna tidak memahami cara pengoperasiannya. Karena itu, pelatihan ini bertujuan memberikan pemahaman praktis agar sivitas akademika mampu menggunakan APAR dengan benar dan cepat ketika menghadapi situasi darurat,” jelasnya.

Saat ini, Universitas Mulia telah menempatkan APAR di sejumlah titik strategis kampus, dilengkapi jalur evakuasi serta prosedur tanggap darurat yang terus dievaluasi secara berkala. Tim sarpras juga rutin melakukan pengecekan terhadap tekanan, masa berlaku, hingga penempatan unit APAR agar selalu dalam kondisi siap pakai.

Di tengah praktik pelatihan, antusiasme peserta terlihat begitu tinggi. Beberapa dosen dan karyawan tampak bergantian mencoba teknik pemadaman api. Tidak sedikit peserta yang awalnya ragu berubah menjadi lebih percaya diri setelah berhasil mengendalikan api secara langsung.

Fahmi menyebut, pengalaman praktik lapangan seperti ini penting untuk mengurangi kepanikan saat menghadapi situasi darurat yang sebenarnya.

“Risiko terbesar dalam kondisi kebakaran adalah kepanikan. Kurangnya pemahaman dapat memperburuk situasi dan meningkatkan potensi korban jiwa maupun kerugian material,” katanya.

Ia juga menekankan bahwa keselamatan bukan hanya tanggung jawab satu unit kerja semata, melainkan budaya bersama yang harus dibangun di lingkungan kampus. Karena itu, pihak Sarpras berencana melaksanakan simulasi evakuasi kebakaran secara berkala serta memperkuat koordinasi antarunit dalam penanganan kondisi darurat.

“Keselamatan berkaitan langsung dengan nyawa manusia. Pelatihan seperti ini harus dipahami sebagai kebutuhan penting, bukan sekadar kegiatan seremonial,” tegasnya.

Melalui pelatihan tersebut, Universitas Mulia tidak hanya menunjukkan perhatian terhadap pengembangan fasilitas kampus, tetapi juga memperlihatkan keseriusan dalam membangun lingkungan akademik yang aman, tanggap, dan siap menghadapi berbagai risiko kedaruratan. Di bawah langit pagi yang cerah itu, pelatihan pemadaman api seolah menjadi pengingat bahwa kewaspadaan adalah bagian penting dari budaya kampus modern. (YMN)

Balikpapan, 25 Mei 2026—Di tengah perubahan pola rekrutmen kerja yang semakin dipengaruhi kemampuan adaptasi, komunikasi, dan penguasaan teknologi, Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mulia menghadirkan seminar Smart Skill for Smart Career bekerja sama dengan HR Forum Balikpapan. Forum yang diikuti 110 mahasiswa itu membedah satu persoalan yang kerap luput dibicarakan di ruang kuliah: banyak lulusan memiliki nilai akademik baik, tetapi belum cukup siap menghadapi kultur, tekanan, dan ritme kerja industri yang terus berubah.

Seminar menghadirkan Wahyu Ratnasari, S.E., M.M., dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mulia, bersama Adi Firdaus selaku HR Head PT Gorontalo Sejahtera Mining dan Chairman HR Forum Balikpapan. Kehadiran praktisi HR dalam forum tersebut memberi mahasiswa kesempatan mendengar secara langsung bagaimana perusahaan membaca kualitas calon tenaga kerja, termasuk alasan mengapa banyak pelamar gagal bukan karena kurang pintar, melainkan karena tidak mampu menunjukkan sikap kerja dan kemampuan beradaptasi.

Ketua Program Studi Manajemen Universitas Mulia, Dr. Pudjiati, S.E., M.M., menilai persoalan utama mahasiswa hari ini bukan semata lemahnya penguasaan teori, melainkan ketidaksiapan menghadapi dinamika kerja yang menuntut respons cepat, kemampuan berkomunikasi, dan keberanian mengambil keputusan.

“Dunia kerja saat ini tidak hanya membutuhkan lulusan yang pintar secara akademik, tetapi juga siap bekerja, mampu belajar cepat, dan memiliki soft skill yang baik,” ujarnya.

Menurutnya, banyak mahasiswa masih kesulitan membangun kepercayaan diri, bekerja dalam tim, menyampaikan gagasan secara jelas, hingga menyelesaikan persoalan secara efektif. Padahal, ruang kerja modern bergerak jauh lebih cepat dibanding ritme pembelajaran konvensional di kelas.

Ia juga menyinggung perubahan cara perusahaan menilai calon pekerja. Jika dahulu IPK sering menjadi perhatian utama, kini perusahaan lebih tertarik melihat karakter, etika kerja, disiplin, dan kemampuan seseorang menyesuaikan diri terhadap perubahan teknologi maupun budaya kerja.

“Perusahaan percaya kemampuan teknis masih bisa dipelajari, tetapi attitude, kemauan belajar, dan kemampuan adaptasi jauh lebih sulit dibentuk,” jelasnya.

Karena itu, kerja sama dengan HR Forum Balikpapan tidak ditempatkan sekadar sebagai agenda seminar tahunan. Prodi Manajemen ingin membuka jalur yang lebih dekat antara mahasiswa dan dunia industri, agar mahasiswa tidak hanya mengenal teori manajemen dari buku, tetapi juga memahami ekspektasi nyata perusahaan terhadap calon tenaga kerja muda.

Dalam sesi diskusi, isu kecerdasan buatan (AI) dan digitalisasi kerja menjadi salah satu topik yang paling banyak memancing perhatian peserta. Mahasiswa mempertanyakan bagaimana masa depan profesi manajemen ketika pekerjaan administratif mulai digantikan sistem otomatis.

Mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Mulia berfoto bersama narasumber seminar Smart Skill for Smart Career, Wahyu Ratnasari, S.E., M.M. dan Adi Firdaus selaku HR Head PT Gorontalo Sejahtera Mining sekaligus Chairman HR Forum Balikpapan, didampingi Ketua Prodi Manajemen Dr. Pudjiati, S.E., M.M., usai kegiatan seminar yang membahas kesiapan karier dan penguatan soft skill di era AI dan digitalisasi kerja.

Menanggapi hal tersebut, Dr. Pudjiati menegaskan bahwa teknologi tidak semestinya dipandang sebagai ancaman, melainkan alat yang harus dikuasai. Menurutnya, kemampuan yang akan tetap dibutuhkan industri adalah kemampuan berpikir kritis, membaca situasi, memimpin tim, berkomunikasi, dan mengambil keputusan di tengah perubahan.

Ia menjelaskan bahwa konsep smart skill bukan sekadar kecakapan menggunakan teknologi, tetapi perpaduan antara kompetensi akademik, literasi digital, kemampuan interpersonal, kreativitas, dan ketahanan menghadapi tekanan kerja.

“Mahasiswa dituntut menjadi pribadi yang fleksibel, kreatif, profesional, dan siap menghadapi tantangan kerja yang terus berkembang,” katanya.

Suasana seminar berlangsung hidup ketika mahasiswa mulai mengaitkan materi dengan kegelisahan mereka menjelang dunia kerja. Pertanyaan tentang personal branding, pengalaman organisasi, strategi menghadapi wawancara kerja, hingga cara membangun networking muncul silih berganti sepanjang sesi diskusi.

Bagi Prodi Manajemen Universitas Mulia, antusiasme tersebut menunjukkan perubahan cara pandang mahasiswa terhadap masa depan karier mereka. Kampus tidak lagi cukup hanya menjadi tempat memperoleh ijazah, tetapi juga ruang membangun kesiapan mental, keterampilan, dan jejaring profesional sejak dini.

Ke depan, Program Studi Manajemen berencana memperluas kolaborasi dengan HR Forum Balikpapan dan berbagai mitra industri melalui program pelatihan, mentoring karier, seminar lanjutan, hingga peluang magang mahasiswa. Langkah itu diarahkan agar lulusan tidak gagap ketika memasuki dunia kerja, sekaligus mampu membaca perubahan industri yang bergerak semakin cepat dari tahun ke tahun. (YMN)

Balikpapan, 8 Mei 2026 – Suasana Domain Space Universitas Mulia pada Jumat (8/5/2026) tampak berbeda dari biasanya. Sejumlah pelajar SMA dan SMK bergantian berdiri di depan peserta lain, mencoba memperkenalkan diri menggunakan bahasa Inggris. Sebagian masih terdengar ragu-ragu, beberapa kali tertawa kecil karena salah pengucapan, tetapi ruangan tetap dipenuhi tepuk tangan dan dukungan dari peserta lain.

Momen tersebut menjadi bagian dari workshop “The Next Level: Public Speaking with English Club Universitas Mulia” yang diselenggarakan UKM English Club Universitas Mulia. Sebanyak 28 pelajar dari berbagai sekolah di Kota Balikpapan mengikuti kegiatan yang berfokus pada pelatihan public speaking dan penguatan kepercayaan diri dalam berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris.

Berbeda dari seminar satu arah, workshop ini dikemas dengan pendekatan yang lebih interaktif. Peserta tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga langsung mempraktikkan cara berbicara di depan publik melalui simulasi presentasi, perkenalan diri, diskusi kelompok, hingga evaluasi sederhana terhadap performa masing-masing peserta.

Narasumber workshop, Ahmad Sya’bana, mahasiswa Program Studi Akuntansi angkatan 2023 yang aktif di UKM English Club, menyampaikan materi menggunakan bahasa Inggris. Ia menjelaskan bahwa kemampuan berbicara di depan umum saat ini menjadi salah satu keterampilan yang semakin dibutuhkan, baik dalam dunia akademik maupun lingkungan kerja profesional.

“Public speaking bukan hanya tentang berbicara di depan banyak orang, tetapi bagaimana seseorang mampu menyampaikan gagasan dengan jelas, terstruktur, dan mampu memengaruhi audiens secara positif,” ujarnya.

Ahmad Sya’bana saat membawakan materi public speaking berbahasa Inggris dalam workshop “The Next Level” yang digelar UKM English Club Universitas Mulia. Melalui sesi interaktif dan praktik langsung, peserta diajak membangun keberanian berbicara di depan publik sejak usia sekolah.

Menurut Ahmad, banyak pelajar sebenarnya memiliki ide dan kemampuan, tetapi sering kesulitan menyampaikannya karena kurang terbiasa berbicara di depan umum. Karena itu, latihan komunikasi perlu dimulai sejak dini agar rasa percaya diri dapat tumbuh bersamaan dengan kemampuan akademik.

Ketua UKM English Club, Gita Khairunnisa, mengatakan kegiatan tersebut memang dirancang untuk menciptakan ruang belajar bahasa Inggris yang lebih santai dan aplikatif bagi generasi muda. Ia menilai masih banyak pelajar yang merasa takut menggunakan bahasa Inggris karena khawatir melakukan kesalahan saat berbicara.

“Kami ingin peserta merasa bahwa belajar bahasa Inggris tidak harus selalu tegang. Yang penting berani mencoba dulu dan mau terus belajar,” katanya.

Selama kegiatan berlangsung, suasana workshop beberapa kali berubah menjadi lebih cair ketika panitia menghadirkan sesi ice breaking dan games edukatif. Peserta yang awalnya terlihat pasif mulai aktif berdiskusi dan saling memberi dukungan saat sesi praktik berlangsung.

Pembina UKM English Club, Riski Zulkarnain, S.Pd., M.Pd., menilai kegiatan semacam ini penting karena dunia pendidikan saat ini tidak hanya menuntut kemampuan akademik, tetapi juga kemampuan komunikasi, berpikir kritis, dan keberanian tampil di depan publik.

Ia menyebut organisasi mahasiswa memiliki ruang yang cukup besar untuk menghadirkan kegiatan yang memberi dampak langsung kepada masyarakat, termasuk pelajar sekolah menengah yang sedang mempersiapkan diri menghadapi dunia perkuliahan dan kerja.

“Mahasiswa dan pelajar sekarang perlu membiasakan diri menyampaikan ide dengan baik. Kemampuan itu akan sangat dibutuhkan di berbagai bidang,” ujarnya.

Seluruh rangkaian workshop dipersiapkan oleh mahasiswa anggota UKM English Club Universitas Mulia. Keterlibatan mahasiswa sebagai panitia sekaligus fasilitator menunjukkan bagaimana organisasi kemahasiswaan tidak hanya menjadi ruang berkegiatan, tetapi juga tempat belajar mengelola program edukatif secara langsung.

Melalui kegiatan ini, Universitas Mulia mencoba menghadirkan pendekatan pembelajaran yang lebih dekat dengan kebutuhan generasi muda saat ini—tidak hanya mengasah kemampuan akademik, tetapi juga membangun keberanian untuk berbicara, menyampaikan ide, dan tampil percaya diri di ruang publik. (YMN)

 

Balikpapan — Universitas Mulia menerima kunjungan silaturahmi dari tim Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) dalam rangka inisiasi kerja sama pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Kegiatan ini juga menjadi momentum untuk memperkenalkan program internasional Doctorate in Business dan Master of Business Administration (MBA) yang dikelola oleh FEB UGM.

Kunjungan tersebut dihadiri langsung oleh Prof. Nurul Indarti, S.E., Sivilokonom, Cand.Merc., Ph.D., selaku Ketua Departemen Manajemen FEB UGM; Prof. Gugup Kismono, Ph.D., selaku Direktur MBA FEB UGM Kampus Jakarta; Gumilang Aryo Sahadewo, Ph.D.; serta Sari Sitalaksmi, Ph.D., didampingi jajaran tim dari FEB UGM.

Kunjungan FEB UGM Ke Universitas Mulia

para Pejabat FEB UGM sebelah kiri , Para Pejabat Universitas Mulia Sebelah kanan

Kehadiran rombongan disambut hangat oleh Wakil Rektor Bidang Sumber Daya dan Kerja Sama Universitas Mulia, Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I., serta Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Sumardi, S.Kom., M.Kom. Turut hadir pula Dekan Fakultas Hukum ibu Budiarsih, S.H., M.H., Ph.D , Kaprodi Akutansi bapak Eko Edy Susanto, S.E., M.AK, Kepala Bagian Kerja Sama dan Humas Universitas Mulia Wahyu Nur Alimyaningtias, S.Kom., M.Kom., beserta para dosen dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mulia.

Dalam suasana penuh keakraban, kedua institusi mendiskusikan berbagai peluang kolaborasi strategis, khususnya dalam penguatan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang mencakup pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Selain itu, kerja sama juga diarahkan untuk mendukung peningkatan kapasitas dosen, pengembangan kurikulum, riset kolaboratif, serta penyelenggaraan kegiatan akademik bersama.

Prof. Nurul Indarti, S.E., Sivilokonom, Cand.Merc., Ph.D.(kiri), Sumardi, S.Kom., M.Kom (kanan)

Pada kesempatan tersebut, Prof. Nurul Indarti dan Prof. Gugup Kismono  memperkenalkan program internasional Doctorate in Business dan MBA FEB UGM yang dirancang untuk mencetak pemimpin dan akademisi bisnis berwawasan global. Program ini menawarkan pendekatan pembelajaran yang berorientasi pada riset, inovasi, serta jejaring internasional yang kuat.

Gumilang Aryo Sahadewo, Ph.D.(kiri), Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I.(kanan)

Wakil Rektor Bidang Sumber Daya dan Kerja Sama Universitas Mulia, Yusuf Wibisono, menyampaikan apresiasi atas kunjungan FEB UGM dan menyambut baik inisiatif kerja sama ini.

“Kami sangat mengapresiasi kunjungan dari tim FEB UGM. Pertemuan ini membuka peluang kolaborasi yang sangat strategis, baik dalam pengembangan sumber daya manusia, peningkatan kualitas akademik, maupun perluasan jejaring internasional Universitas Mulia,” ujarnya.

Prof. Gugup Kismono, Ph.D.(kiri) dan Budiarsih, S.H., M.H., Ph.D. (kanan)

Senada dengan itu, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Sumardi, menilai bahwa kerja sama dengan FEB UGM akan memberikan manfaat besar bagi mahasiswa dan alumni Universitas Mulia, khususnya dalam memperluas akses terhadap pendidikan berkualitas dan program-program unggulan bertaraf internasional.

Sari Sitalaksmi, Ph.D.(kiri), Wahyu Nur Alimyaningtias, S.Kom., M.Kom. (kanan)

Kepala Bagian Kerja Sama dan Humas Universitas Mulia Wahyu Nur Alimyaningtias, S.Kom., M.Kom., akan menindaklanjuti hasil pertemuan ini melalui komunikasi yang lebih teknis dengan pihak FEB UGM guna mematangkan rencana kerja sama dan menyusun program-program implementatif yang dapat segera direalisasikan.

Melalui pertemuan ini, Universitas Mulia berharap hubungan baik dengan FEB UGM dapat ditindaklanjuti ke dalam program-program konkret yang memberikan dampak nyata bagi peningkatan mutu pendidikan tinggi, khususnya di bidang ekonomi dan bisnis.

Kunjungan ini menegaskan komitmen Universitas Mulia untuk terus memperluas jejaring kerja sama dengan perguruan tinggi terkemuka di Indonesia guna mendukung terwujudnya visi sebagai universitas unggul, inovatif, dan berdaya saing global. WN

Balikpapan, 7 Mei 2026 – Universitas Mulia melalui Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) menyelenggarakan diskusi publik bertajuk “Kampus atau Barak? Militer Masuk Ranah Pendidikan” pada 7 Mei 2026 di Universitas Mulia Balikpapan sebagai bagian dari penguatan budaya akademik yang menempatkan kampus sebagai ruang dialog, pertukaran gagasan, dan pengembangan nalar kritis mahasiswa terhadap isu-isu kebangsaan kontemporer.

Kegiatan ini dirancang sebagai forum intelektual untuk membahas dinamika hubungan antara pendidikan, demokrasi, dan kebebasan akademik dari beragam perspektif. Melalui tema tersebut, mahasiswa diajak menelaah secara kritis berbagai pendekatan dalam sistem pendidikan, termasuk pentingnya menjaga perguruan tinggi sebagai ruang ilmiah yang bertumpu pada independensi berpikir, kebebasan akademik, serta tanggung jawab sosial.

Rangkaian acara diawali dengan pembukaan dan sambutan dari unsur pimpinan universitas serta perwakilan organisasi kemahasiswaan yang menekankan pentingnya diskusi akademik sebagai bagian dari tradisi perguruan tinggi. Kehadiran Presiden dan Wakil Presiden BEM se-Balikpapan turut memperluas spektrum dialog, menjadikan forum ini tidak hanya sebagai agenda internal kampus, tetapi juga ruang konsolidasi pemikiran mahasiswa lintas perguruan tinggi.

Sesi utama menghadirkan pemaparan mengenai perkembangan isu keterlibatan militer dalam ranah pendidikan sebagai bahan kajian demokrasi dan tata kelola pendidikan tinggi. Materi diskusi menyoroti pentingnya memahami perbedaan karakter pendidikan sipil dan pendidikan berbasis komando dalam konteks pembentukan budaya akademik, sekaligus mendorong mahasiswa untuk mengembangkan literasi konstitusional, kesadaran hukum, dan kepekaan terhadap prinsip-prinsip kebebasan berpikir.

Forum ini juga membahas bagaimana mahasiswa sebagai komunitas intelektual memiliki peran strategis dalam merawat tradisi dialogis di perguruan tinggi. Dalam suasana akademik, peserta diajak melihat bahwa kampus bukan sekadar ruang pembelajaran formal, melainkan lingkungan yang membentuk kapasitas analitis, keberanian berpendapat, serta kemampuan membaca perubahan sosial secara rasional dan bertanggung jawab.

Salah satu gagasan yang mengemuka dalam diskusi menyoroti bahwa berbagai bentuk pendekatan terhadap mahasiswa perlu dipahami secara kritis dengan mempertimbangkan kondisi psikologis, sosial, dan struktural yang memengaruhi kehidupan pendidikan. Pandangan tersebut memperkaya forum dengan perspektif sosial-politik yang memberi ruang refleksi tanpa melepaskan pijakan akademik.

Sesi dialog dan tanya jawab berlangsung dinamis dengan melibatkan peserta dari berbagai organisasi mahasiswa. Pertukaran gagasan yang berkembang menunjukkan bahwa perguruan tinggi memiliki fungsi strategis sebagai ruang perdebatan ilmiah yang sehat, tempat berbagai pandangan dapat diuji melalui argumentasi, data, dan kerangka berpikir demokratis.

Melalui penyelenggaraan diskusi publik ini, Universitas Mulia menegaskan komitmennya dalam mendukung ekosistem pendidikan tinggi yang mendorong keterbukaan intelektual, kedewasaan berpikir, dan partisipasi mahasiswa dalam merespons isu-isu strategis secara akademik. Di tengah perubahan sosial yang terus berlangsung, kampus dituntut tetap menjadi ruang yang memungkinkan lahirnya pemikiran kritis, dialog konstruktif, dan kontribusi nyata bagi kehidupan demokrasi. (YMN)

Balikpapan, 7 Mei 2026 – Di tengah derasnya wacana inovasi yang kerap berhenti sebagai istilah akademik di ruang kuliah, Universitas Mulia memilih membawa mahasiswanya langsung ke titik di mana inovasi bekerja sebagai budaya: lantai industri. Melalui visit industry mata kuliah Manajemen Inovasi ke Toyota AUTO2000 MT Haryono Balikpapan, mahasiswa diajak menelusuri bagaimana prinsip perbaikan berkelanjutan dijalankan bukan sebagai slogan perusahaan, melainkan sebagai disiplin kerja yang menjaga relevansi bisnis selama puluhan tahun.

Langkah ini memperlihatkan cara Universitas Mulia memaknai pendidikan bukan sebatas transfer teori, tetapi sebagai proses mempertemukan mahasiswa dengan praktik, sistem, dan pola pikir yang bekerja nyata di dunia profesional. Di ruang industri, mahasiswa tidak sekadar mendengar konsep inovasi, melainkan menyaksikan bagaimana perubahan kecil yang dilakukan terus-menerus dapat membentuk kekuatan organisasi berskala global.

Mahasiswa Universitas Mulia tiba di Toyota AUTO2000 MT Haryono Balikpapan untuk memulai pembelajaran lapangan tentang budaya inovasi dan praktik industri otomotif.

Toyota dipilih karena reputasinya tidak dibangun hanya melalui produk, tetapi melalui kemampuan merawat budaya Kaizen sebagai mesin pembaruan yang bekerja dari level operasional hingga strategi bisnis. Bagi mahasiswa, kunjungan ini menjadi kesempatan untuk membaca langsung bagaimana sebuah perusahaan besar mempertahankan daya hidupnya melalui kebiasaan memperbaiki proses secara konsisten.

Kepala Career Development Center Universitas Mulia sekaligus dosen pengampu mata kuliah Manajemen Inovasi, Dr. Linda Fauziyah Ariyani, S.Pd., M.Pd., menilai pengalaman lapangan semacam ini penting agar mahasiswa memahami inovasi dalam bentuk yang lebih utuh.

“Toyota adalah salah satu perusahaan otomotif terkemuka di dunia yang memiliki budaya organisasi kuat melalui Kaizen. Mahasiswa perlu melihat langsung bagaimana perubahan kecil yang dilakukan terus-menerus dapat menjadi fondasi besar bagi keberlanjutan perusahaan,” ujarnya.

Pihak Toyota AUTO2000 MT Haryono Balikpapan memberikan pemaparan langsung mengenai budaya Kaizen, operasional perusahaan, dan strategi inovasi berkelanjutan.

Melalui pengamatan langsung, mahasiswa diajak membongkar satu pemahaman penting: inovasi bukan selalu soal menciptakan sesuatu yang baru, melainkan tentang keberanian membaca masalah, menemukan celah perbaikan, lalu menjaga solusi itu tetap relevan. Perspektif ini penting di tengah kecenderungan memahami inovasi sebatas teknologi atau produk baru.

Bagi Universitas Mulia, pembelajaran semacam ini menjadi ruang untuk menggeser cara pandang mahasiswa dari sekadar penghafal teori menuju pembaca persoalan. Inovasi yang bertahan, sebagaimana ditekankan dalam pembelajaran lapangan tersebut, lahir dari kebutuhan nyata dan kemampuan menjawabnya secara berkelanjutan.

Selama kunjungan berlangsung, mahasiswa menyigi bagaimana Toyota mempertahankan eksistensinya bukan melalui perubahan besar yang sesekali, tetapi lewat pembaruan yang berlangsung terus-menerus. Dari sana, teori manajemen inovasi yang dipelajari di kelas menemukan bentuk konkretnya: keberlanjutan bisnis bertumpu pada budaya adaptif, bukan sekadar pada ide besar.

“Mahasiswa menjadi lebih memahami bahwa inovasi berkelanjutan lahir dari upaya perbaikan terus-menerus. Ini penting agar mereka melihat hubungan nyata antara teori yang dipelajari dengan praktik industri,” jelasnya.

Mahasiswa Universitas Mulia menyimak secara serius pemaparan industri sebagai bagian dari proses memahami implementasi nyata manajemen inovasi di dunia kerja

Bacaan paling penting dari kunjungan ini terletak pada satu hal mendasar: perusahaan yang mampu bertahan dalam perubahan eksternal adalah perusahaan yang menjadikan inovasi sebagai kebiasaan, bukan proyek sesaat. Dalam konteks itu, eksistensi menjadi indikator paling jujur dari kuat atau lemahnya budaya inovasi.

Perubahan lanskap industri yang bergerak ke arah digitalisasi juga menuntut mahasiswa membangun kelincahan berpikir sejak masa kuliah. Karena itu, proses belajar di Universitas Mulia diarahkan agar mahasiswa terbiasa menguji gagasan, membaca kebutuhan, dan beradaptasi dengan perubahan, bukan menunggu realitas kerja mengubah mereka secara mendadak.

Bagi kampus, membawa mahasiswa ke lapangan berarti memperluas ruang belajar ke situasi yang tidak selalu ideal, tempat teori diuji oleh kompleksitas nyata. Di ruang seperti inilah kemampuan problem solving, observasi, dan nalar kritis lebih mungkin tumbuh dibanding hanya dari simulasi akademik.

“Belajar di Universitas Mulia tidak sekadar mengejar nilai akademik, tetapi juga membangun pengalaman belajar yang membentuk daya saing mahasiswa,” ungkapnya.

Mahasiswa juga memperoleh pemaparan langsung dari Kepala Bengkel Toyota AUTO2000 MT Haryono Balikpapan, Jaka Mulyana, mengenai budaya perbaikan berkelanjutan, serta wawasan strategi pemasaran dari Supervisor Sales, Nur Kholis. Paparan tersebut memperlihatkan bahwa inovasi bekerja lintas lini—dari pelayanan teknis hingga strategi membaca pasar.

Dalam lanskap bisnis modern, pemahaman terhadap kebutuhan konsumen muncul sebagai fondasi penting. Inovasi yang lahir dari kebutuhan pasar memberi kemungkinan hidup lebih panjang dibanding sekadar meluncurkan sesuatu yang baru tanpa relevansi yang jelas.

Suasana dialog berlangsung hangat saat mahasiswa Universitas Mulia dan pihak Toyota AUTO2000 berdiskusi dalam sesi tanya jawab seputar inovasi, pelayanan, dan dinamika industri.

Melalui pola pembelajaran semacam ini, Universitas Mulia sedang menanamkan satu kebiasaan intelektual penting: melihat perubahan bukan sebagai ancaman, tetapi sebagai ruang untuk merumuskan solusi. Visit industry ini pada akhirnya bukan sekadar perjalanan akademik, melainkan proses menautkan pengetahuan dengan realitas, sekaligus mengajak mahasiswa memahami bahwa inovasi terbesar sering kali dimulai dari keberanian memperbaiki hal-hal kecil secara konsisten. (YMN)

 

Balikpapan, 7 Mei 2026 — Ketika banyak taman penitipan anak berfokus pada layanan pengasuhan harian, Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG PAUD) Universitas Mulia justru mengembangkan pendekatan berbeda. Daycare Ananda Mulia tidak hanya dibangun sebagai tempat penitipan anak, tetapi sebagai living lab yang menghubungkan praktik pengasuhan, pembelajaran akademik, dan riset pendidikan anak usia dini dalam satu ekosistem.

Model inilah yang mendorong Institut Teknologi Kalimantan melakukan studi tiru ke Prodi PG PAUD Universitas Mulia dalam rangka pengembangan layanan daycare berbasis kampus di lingkungan ITK.

Kaprodi PG PAUD Universitas Mulia, Bety Vitriana, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa kekuatan utama Daycare Ananda Mulia bukan terletak pada fasilitas fisik semata, melainkan pada sistem yang dibangun secara terukur dan berkelanjutan.

Kaprodi PG PAUD Universitas Mulia, Bety Vitriana, S.Pd., M.Pd., memaparkan konsep Daycare Ananda Mulia sebagai living lab pendidikan anak usia dini di hadapan tim studi tiru ITK.

“Daycare kami memiliki SOP, kurikulum pembelajaran mulai usia bayi tiga bulan hingga pra sekolah enam tahun, dokumentasi perkembangan anak yang sistematis, serta keterlibatan aktif mahasiswa dan orang tua sebagai mitra pengasuhan. Keberhasilannya tidak hanya terlihat secara kasat mata, tetapi terdokumentasi dalam perkembangan tumbuh kembang anak,” ujarnya.

Berbeda dengan daycare konvensional yang berfokus pada pengawasan dan keselamatan anak, Daycare Ananda Mulia dikembangkan dengan tiga fungsi utama sekaligus: layanan pengasuhan, laboratorium observasi bagi mahasiswa, dan ruang uji coba inovasi pendidikan anak usia dini.

Di ruang inilah teori tidak berhenti sebagai materi kuliah. Aktivitas harian anak justru menjadi bagian dari proses akademik yang terus dianalisis dan diperbaiki.

“Living lab ini terintegrasi langsung dengan kurikulum. Mata kuliah seperti Strategi Pembelajaran Anak Usia Dini, Bermain dan Permainan, hingga Manajemen PAUD memiliki aktivitas yang tersinkronisasi dengan kegiatan daycare. Bahkan data kegiatan harian anak dapat menjadi bahan penelitian dan skripsi mahasiswa,” jelas Bety.

Salah satu praktik yang menjadi kekuatan Daycare Ananda Mulia adalah budaya dokumentasi dan refleksi yang dilakukan secara rutin. Guru, mahasiswa, dan dosen tidak hanya menjalankan kegiatan, tetapi mencatat perkembangan anak melalui catatan anekdot, buku penghubung, hingga forum refleksi mingguan.

Menurut Bety, pola kerja seperti ini membuat mahasiswa tidak belajar dari simulasi, melainkan dari dinamika nyata yang terus berkembang di lapangan.

“Hasil refleksi langsung digunakan untuk memperbaiki metode pengasuhan dan pembelajaran. Jadi mahasiswa belajar memahami anak dari kasus nyata, bukan sekadar teori di kelas,” katanya.

Tim PG PAUD Universitas Mulia dan Institut Teknologi Kalimantan berfoto bersama usai sesi pemaparan dan diskusi pengembangan daycare berbasis kampus.

Keberadaan daycare ini juga memperkuat posisi Universitas Mulia dalam pengembangan pendidikan anak usia dini di Kalimantan. Daycare Ananda Mulia dipandang bukan sekadar fasilitas pendukung kampus, tetapi bagian dari laboratorium pendidikan yang terintegrasi dengan proses akademik.

“Universitas Mulia menjadi salah satu pionir kampus yang membuka layanan daycare berbasis akademik di Kalimantan. Ini bukan hanya tentang layanan pengasuhan, tetapi tentang bagaimana kampus hadir sebagai ruang belajar sekaligus ruang tumbuh bagi anak,” tambahnya.

Dalam studi tiru tersebut, tim ITK mempelajari berbagai aspek pengelolaan daycare berbasis kampus, mulai dari tata kelola layanan, integrasi kurikulum, penyiapan sumber daya manusia, hingga proses pengurusan izin operasional dan sarana prasarana.

Ketua Tim Kerja Perencanaan ITK, Riza Hadi Saputra, S.T., M.T., menyampaikan bahwa kunjungan tersebut memberikan banyak gambaran praktis bagi pengembangan daycare di lingkungan kampus mereka.

“Kami merasa sangat terbantu dengan agenda studi tiru ini karena membuka banyak pemahaman baru terkait proses membuka layanan daycare berbasis kampus, mulai dari penyiapan SDM, manajerial, tata kelola sarana prasarana, kurikulum, hingga proses pengurusan izin,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa komunikasi lanjutan antarkedua institusi akan terus dibangun untuk membuka peluang kerja sama lain yang saling mendukung.

“Ke depan kami berencana membangun komunikasi lebih lanjut terkait beberapa bentuk kerja sama yang dapat saling menguntungkan bagi kedua belah pihak,” lanjutnya.

Bagi PG PAUD Universitas Mulia, pengembangan daycare berbasis living lab juga menjadi bagian dari visi jangka panjang. Dalam dua hingga lima tahun mendatang, prodi menargetkan penguatan layanan pelatihan bagi guru TPA dan daycare di Balikpapan, publikasi riset internasional berbasis daycare, hingga pengembangan aplikasi dokumentasi digital yang dapat digunakan oleh lembaga mitra.

Di balik seluruh pengembangan tersebut, Bety menyebut ada satu gagasan besar yang ingin terus dijaga.

“Daycare adalah jembatan antara ilmu dan kasih sayang. Pengasuhan tidak anti-riset, dan riset tidak boleh kehilangan sisi manusianya,” tutupnya.

Menurutnya, model ini sekaligus menunjukkan bahwa kampus dapat menjadi ruang publik yang tidak hanya mencetak pendidik masa depan, tetapi juga mendukung terwujudnya Kota Balikpapan sebagai kota ramah anak. (YMN)

 

Balikpapan, 5 Mei 2026 – Universitas Mulia mendorong mahasiswa PG PAUD untuk membaca kurikulum bukan sebagai kumpulan format administratif, tetapi sebagai rancangan strategis yang menentukan kualitas pengalaman belajar anak usia dini. Perspektif tersebut mengemuka dalam kuliah tamu bertema “Bedah & Penyusunan Rencana Pembelajaran Mendalam PAUD” yang digelar Program Studi PG PAUD Universitas Mulia di Ballroom Cheng Hoo, Selasa (5/5).

Wakil Dekan Fakultas Humaniora dan Kesehatan (FHK) Universitas Mulia, Sri Purwanti, S.Pd., M.Pd., menilai kemampuan menyusun rencana pembelajaran mendalam menjadi fondasi penting dalam pendidikan calon guru PAUD. Menurutnya, di titik itulah mahasiswa belajar menerjemahkan arah kurikulum menjadi keputusan pembelajaran yang benar-benar bekerja di kelas.

“Rencana pembelajaran adalah bentuk nyata penerjemahan kurikulum ke dalam praktik pembelajaran. Mahasiswa tidak cukup hanya memahami tujuan dan capaian perkembangan secara teoritis, tetapi harus mampu menghubungkannya dengan strategi, media, asesmen, dan kebutuhan perkembangan anak,” ujarnya.

Dalam pandangan Sri Purwanti, persoalan utama dalam pendidikan calon guru sering kali muncul ketika mahasiswa memahami kurikulum hanya sebatas isi dokumen. Padahal, kurikulum seharusnya dibaca sebagai alat untuk membangun pengalaman belajar yang sesuai dengan karakteristik anak usia dini yang dinamis dan terus berkembang.

Melalui kuliah tamu ini, mahasiswa diajak melihat bagaimana kurikulum harus diterjemahkan secara fleksibel berdasarkan tahap perkembangan anak, konteks lingkungan belajar, serta perubahan kebijakan pendidikan yang terus bergerak. Pendekatan tersebut dinilai penting agar calon guru tidak tumbuh menjadi pelaksana kurikulum yang kaku.

“Kurikulum bukan sekadar dokumen administratif, tetapi instrumen strategis untuk membentuk pengalaman belajar anak. Guru harus mampu menerjemahkannya secara adaptif agar pembelajaran benar-benar bermakna dan mendukung tumbuh kembang anak secara holistik,” jelasnya.

Kegiatan ini juga dirancang untuk memecahkan persoalan klasik dalam pendidikan tinggi: kuat di teori, tetapi lemah saat implementasi. Karena itu, mahasiswa tidak hanya menerima pemaparan konsep, melainkan diajak menganalisis perangkat pembelajaran, mendiskusikan studi kasus, dan memahami pengalaman implementatif langsung dari praktisi pendidikan.

Menurut Sri Purwanti, pendekatan seperti ini penting untuk melatih mahasiswa mengambil keputusan pedagogik secara sadar dan kontekstual, bukan sekadar mengikuti pola yang sudah tersedia.

“Mahasiswa perlu dilatih berpikir aplikatif dan reflektif. Mereka harus mampu membaca kebutuhan anak, memahami situasi belajar, lalu menentukan strategi pembelajaran yang tepat berdasarkan kerangka kurikulum yang ada,” katanya.

Kehadiran narasumber dengan pengalaman implementatif juga memberi dimensi lain dalam proses pembelajaran mahasiswa. Bagi Sri Purwanti, pengalaman lapangan yang dibagikan praktisi membantu mahasiswa memahami bahwa pengembangan kurikulum bukan pekerjaan statis, melainkan proses yang terus berubah mengikuti kebutuhan pendidikan.

Dari situ, mahasiswa diperkenalkan pada berbagai pendekatan inovatif, strategi diferensiasi, hingga cara merancang pembelajaran kreatif yang tetap berpijak pada tujuan perkembangan anak usia dini.

“Mahasiswa perlu melihat langsung bahwa implementasi kurikulum di lapangan membutuhkan fleksibilitas, kreativitas, dan kemampuan menyesuaikan diri terhadap berbagai situasi pembelajaran,” tambahnya.

Lebih jauh, Sri Purwanti menilai kuliah tamu semacam ini menjadi bagian penting dari penguatan identitas akademik PG PAUD Universitas Mulia. Program studi tidak hanya membentuk mahasiswa agar patuh terhadap struktur kurikulum, tetapi juga melatih mereka memiliki keberanian intelektual untuk menganalisis, mengevaluasi, dan mengembangkan pembelajaran sesuai kebutuhan zaman.

Dengan pendekatan tersebut, Universitas Mulia sedang membangun pola pendidikan guru yang menempatkan mahasiswa sebagai perancang pembelajaran, bukan sekadar pengguna perangkat ajar. Di tengah perubahan kebijakan pendidikan dan tantangan perkembangan anak yang semakin kompleks, kemampuan membaca kurikulum secara kritis menjadi kompetensi yang tidak bisa ditawar.

Melalui ruang akademik seperti ini, PG PAUD Universitas Mulia memperlihatkan bahwa pengembangan kurikulum bukan sekadar membahas dokumen pendidikan, tetapi membentuk cara berpikir calon guru dalam memahami anak, merancang pengalaman belajar, dan mengambil keputusan pedagogik yang bertanggung jawab. (YMN)