Humas Universitas Mulia, 2 Mei 2025 – Dalam rangka memperkuat kapasitas administratif pendidik anak usia dini, Program Studi Pendidikan Guru PAUD (PGPAUD) Universitas Mulia menggelar Workshop Pelaporan SPT Pajak untuk Lembaga dan Individu pada Jumat (2/5/2025) di Kampus Universitas Mulia. Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Prodi PGPAUD dari Fakultas Humaniora dan Kesehatan (FHK) dan Prodi Akuntansi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Mulia sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat, khususnya mitra-mitra lembaga PAUD di Kota Balikpapan.

Para peserta workshop tampak antusias mengikuti pelatihan pelaporan SPT Pajak untuk lembaga dan individu di lingkungan PAUD.

Workshop ini diikuti oleh dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, serta para pengelola lembaga PAUD. Para peserta dibekali dengan keterampilan teknis pelaporan SPT baik secara lembaga maupun individu, termasuk penggunaan aplikasi pajak digital dan studi kasus nyata.

Ketua Program Studi PGPAUD Bety Vitriana, S.Pd., M.Pd. menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan agenda rutin tahunan dan refleksi dari kebutuhan nyata di masyarakat.

“Kami memiliki tanggung jawab untuk memfasilitasi peningkatan kapasitas para pendidik PAUD secara holistik, termasuk dalam aspek administrasi dan kepatuhan hukum,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa manfaat kegiatan ini terasa luas: dosen memperoleh pengayaan materi perkuliahan, mahasiswa mendapatkan pemahaman praktis sebelum terjun ke dunia kerja, dan tenaga kependidikan dapat meningkatkan kualitas tata kelola lembaga yang sesuai dengan regulasi.

Dekan Fakultas Humaniora dan Kesehatan Universitas Mulia, Dr. Mada Aditia Wardhana, S.Sos., M.M., membuka kegiatan pelatihan dengan menyampaikan pentingnya literasi pajak bagi pengelola lembaga PAUD.

Dekan FHK, Dr. Mada Aditia Wardhana, S.Sos., M.M., menekankan bahwa pelatihan ini bukan hanya kegiatan akademik, tetapi juga wujud nyata pengabdian masyarakat dari Prodi PGPAUD Universitas Mulia.

“Kegiatan ini dilaksanakan bersama Prodi Akuntansi UM. Dari sisi keilmuan, konten utama memang disampaikan oleh dosen Prodi Akuntansi, sedangkan PGPAUD fokus pada peningkatan kapasitas pengelola PAUD,” jelasnya.

Ia juga mengisyaratkan bahwa FHK akan menjajaki kemitraan lanjutan terkait literasi pajak. “Insya Allah FHK akan mengembangkan kemitraan dengan lembaga terkait. Literasi pajak ini krusial bagi lembaga maupun personal,” tegasnya. Dr. Mada berharap, setelah mengikuti pelatihan ini, para peserta dapat langsung menerapkan pengetahuan yang diperoleh dalam pelaporan pajak lembaga mereka.

Peserta melakukan simulasi langsung pengisian SPT Pajak lembaga dan perorangan dengan bimbingan narasumber.

Narasumber workshop, Dr. Hety Devita, S.E., M.M., C.Med., C.P.Arb. menyampaikan berbagai materi penting, mulai dari dasar-dasar kewajiban perpajakan untuk berbagai bentuk lembaga PAUD, penghitungan PPh Pasal 21, hingga strategi dokumentasi transaksi keuangan yang efektif. Ia juga memaparkan kesalahan-kesalahan umum dalam pelaporan pajak yang masih banyak dijumpai, seperti ketidaktepatan klasifikasi badan hukum atau penghasilan guru.

Narasumber Dr. Hety Devita, S.E., M.M., C.Med., C.P.Arb. dari Prodi Akuntansi Universitas Mulia memaparkan materi terkait regulasi dan praktik pelaporan pajak.

Menariknya, antusiasme peserta sangat tinggi. Meskipun banyak peserta harus mengajar di pagi hari dan mengikuti upacara Hardiknas terlebih dahulu, mereka tetap hadir tepat waktu dan aktif dalam praktik simulasi pelaporan pajak. Bahkan, terbentuk jejaring informal antar-pengelola PAUD untuk saling membantu menyelesaikan persoalan pajak di kemudian hari.

Kegiatan ini menjadi bukti bahwa Universitas Mulia tidak hanya mencetak pendidik yang cakap secara pedagogis, tetapi juga berupaya menyiapkan lulusan dan mitra yang sadar hukum, paham administrasi, dan siap menghadapi tantangan tata kelola pendidikan di era modern.

Humas UM (YMN)

Drs. Suprijadi, M.Pd, Dosen Universitas Mulia, Dewan Pendidikan Provinsi Kalimantan Timur, PA - Fasilitator Program Sekolah Penggerak. Foto: Media Kreatif

Refleksi Hari Pendidikan Nasional dan Tantangan Kurikulum Deep Learning

Oleh: Drs. Suprijadi, M.Pd
Dosen Universitas Mulia, Dewan Pendidikan Provinsi Kalimantan Timur, PA – Fasilitator Program Sekolah Penggerak

Setiap tanggal 2 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) sebagai momentum reflektif untuk melihat sejauh mana pendidikan kita berjalan menuju cita-cita bangsa: mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagaimana termaktub dalam Pembukaan UUD 1945.

Namun, apakah kita sudah berada di jalur yang tepat? Atau justru pendidikan kita kini berada di persimpangan jalan yang membingungkan?

Dalam konteks Hari Pendidikan Nasional 2025 ini, pertanyaan-pertanyaan itu menjadi semakin relevan. Pendidikan kita tidak hanya menghadapi tantangan struktural dan kebijakan, tetapi juga ideologis dan filosofis, terutama dalam mengaktualisasikan kurikulum baru yang disebut Kurikulum Deep Learning.

Menguji Kualitas Sekolah Rakyat dan Ancaman Diskriminasi Struktural

Dalam beberapa tahun terakhir, muncul kebijakan “Sekolah Rakyat” yang bertujuan memberi akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin. Meskipun niatnya mulia, pelaksanaannya menimbulkan kekhawatiran. Alih-alih menjadi solusi, sekolah rakyat justru berpotensi melanggengkan dualisme dan diskriminasi pendidikan.

Menurut teori Equal Opportunity in Education (Bowles & Gintis, 1976), sistem pendidikan yang baik adalah sistem yang tidak hanya membuka akses, tetapi juga menjamin kesetaraan kualitas. Mendirikan sekolah khusus untuk masyarakat miskin berisiko menciptakan segregasi sosial.

Hal ini sejalan dengan kritik Paulo Freire dalam Pedagogy of the Oppressed (1970), bahwa pendidikan yang membebaskan adalah pendidikan yang mengintegrasikan semua anak bangsa dalam satu sistem yang adil, bukan memisahkannya berdasarkan status ekonomi.

Solusinya bukan dengan membuka sekolah baru, melainkan memperkuat kolaborasi antar kementerian. Kementerian Sosial dapat bekerja sama dengan Kemendikdasmen untuk memastikan peserta didik dari keluarga miskin bisa diterima di sekolah negeri berkualitas tanpa seleksi.

Semua biaya pendidikan ditanggung negara, dengan tetap menjamin mutu sarana, prasarana, dan SDM pendidik. Ini jauh lebih hemat dan adil dibanding membuka sekolah baru dengan infrastruktur dan anggaran baru.

Kurikulum Deep Learning Menjanjikan, Tapi Belum Menjawab Semua Tantangan

Kurikulum selalu menjadi ladang eksperimen dalam sistem pendidikan Indonesia. Dalam sejarahnya, Indonesia telah mengganti kurikulum lebih dari 12 kali.

Kini, kita dihadapkan pada Kurikulum Deep Learning, yang diklaim mampu menjawab tantangan abad ke-21 melalui tiga pendekatan, yakni Pemahaman Mendalam, Mindful Learning, dan Joyful Learning.

Pendekatan ini selaras dengan teori konstruktivisme Vygotsky, yang menekankan pentingnya scaffolding (bantuan terstruktur) untuk membangun pemahaman melalui pengalaman yang bermakna.

Selain itu, Joyful Learning dan Mindfulness juga sejalan dengan pendekatan neuro-edukatif modern yang menekankan keseimbangan antara emosi dan kognisi.

Namun ada yang terlupakan: pentingnya Rote Learning (strategi hafalan) sebagai fondasi memori jangka panjang. Dalam konteks psikologi kognitif (Anderson, 1980), rote memorization masih relevan, terutama pada tahap awal belajar.

Tanpa penguasaan dasar yang otomatis dalam memori jangka panjang, kemampuan berpikir tingkat tinggi (HOTS) justru tidak bisa berkembang optimal.

Kurikulum Deep Learning yang ideal haruslah sintesis antara pemahaman mendalam dan penguasaan fakta-fakta dasar. Tanpa itu, kita hanya akan melahirkan generasi yang merasa “senang belajar” tetapi miskin pengetahuan.

Kebijakan Pendidikan Butuh Konsistensi, Bukan Ganti Menteri Ganti Kurikulum

Salah satu tantangan besar dalam pendidikan kita adalah inkonsistensi kebijakan. Setiap kali terjadi pergantian menteri, seringkali kurikulum juga ikut berubah. Ini menunjukkan lemahnya arah dan haluan pendidikan nasional.

Sudah saatnya Indonesia memiliki Garis-Garis Besar Haluan Pendidikan Nasional (GBHPN) yang bersifat jangka panjang, lintas rezim pemerintahan, dan disusun berbasis data, teori pendidikan, serta praktik terbaik global.

GBHPN harus menjadi “konstitusi pendidikan” yang memandu pengambilan kebijakan, bukan sekadar peta jalan jangka pendek seperti Roadmap 2045 yang kini ada.

Guru, Orang Tua, dan Masa Depan Pendidikan

Pendidikan bukan hanya urusan negara, tetapi juga tanggung jawab semua elemen bangsa. Hari Pendidikan Nasional adalah momen yang tepat untuk memberikan penghormatan tertinggi kepada guru – pahlawan tanpa tanda jasa – yang telah membentuk karakter dan intelektualitas anak bangsa di tengah berbagai keterbatasan.

Namun, keluarga juga harus menjadi aktor utama. Orang tua perlu menjadi guru pertama dan utama di rumah. Jika orang tua hanya menyerahkan anak sepenuhnya pada sekolah, maka upaya mencerdaskan kehidupan bangsa akan berjalan pincang.

Dirgahayu Hari Pendidikan Nasional. Mari kita kawal masa depan pendidikan Indonesia agar tidak terus berada di persimpangan jalan. Pendidikan yang berkualitas, adil, dan berkesinambungan adalah satu-satunya jalan menuju Indonesia yang benar-benar maju dan berdaulat dalam kecerdasan.

Editor: Subur Anugerah

Humas UM, 30 April 2025 – Agung Widiyanto, mahasiswa Universitas Mulia sekaligus Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Mulia Balikpapan, terpilih dan dipercaya oleh Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) Kota Balikpapan sebagai delegasi yang akan mewakili Kota Balikpapan dalam Forum Nasional Youth City Changers (YCC) 2025. Forum bergengsi ini akan digelar pada 5–7 Mei 2025 di Surabaya.

Prestasi membanggakan ini disampaikan langsung oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Universitas Mulia Balikpapan dalam keterangan resminya kepada media pada Minggu (27/4).

“Terpilihnya Agung sebagai delegasi Youth City Changers merupakan bukti nyata komitmen dan kapasitas mahasiswa Universitas Mulia dalam berkontribusi pada pengembangan kota. Ini adalah kesempatan emas bagi mahasiswa kami untuk terlibat dalam forum nasional dan menyuarakan aspirasi pemuda Balikpapan,” ujar Sumardi, S.Kom., M.Kom., Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni.

Youth City Changers merupakan inisiatif yang dimandatkan dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI). Program ini bertujuan mendekatkan pemerintah kota dengan generasi muda serta mendorong keterlibatan pemuda dalam menangani isu-isu perkotaan.

Forum YCC 2025 yang mengusung tema “Orang Muda untuk Negeri” akan menghadirkan delegasi muda terbaik dari berbagai kota di Indonesia. Para peserta akan berkesempatan berbagi ide, saling menginspirasi, dan berkolaborasi demi membangun kota yang lebih baik.

“Saya merasa terhormat bisa mewakili Balikpapan dalam forum nasional ini. Ini kesempatan untuk berbagi perspektif dan gagasan pemuda Balikpapan, sekaligus belajar dari rekan-rekan dari kota lain. Saya berharap dapat membawa pulang inspirasi dan inovasi yang dapat diimplementasikan demi kemajuan kota tercinta,” ungkap Agung.

Selama tiga hari pelaksanaan, forum YCC akan diisi dengan berbagai kegiatan seperti diskusi ide (Idea Exchange Forum), kunjungan ke situs-situs bersejarah kota (Historical City Tour), serta Motivational Talk dari tokoh-tokoh inspiratif tingkat nasional.

Pelaksanaan YCC sejalan dengan paradigma baru pembangunan kota yang menekankan partisipasi aktif generasi muda. APEKSI bersama Pemerintah Kota Surabaya selaku tuan rumah, meyakini pentingnya memberi ruang kepada kaum muda untuk menunjukkan kemampuan mereka dalam berinovasi dan berkolaborasi.

“Kami percaya bahwa pemuda harus dilibatkan dalam setiap kebijakan dan program yang memengaruhi kehidupan mereka. Pemerintah kota perlu membuka ruang bagi suara muda karena mereka memiliki ide-ide segar, semangat, dan perspektif unik yang dapat membawa perubahan positif,” tambah Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si., Rektor Universitas Mulia.

Keikutsertaan mahasiswa Universitas Mulia dalam forum nasional ini juga menegaskan komitmen institusi dalam mendorong mahasiswanya untuk aktif berpartisipasi dalam kegiatan strategis tingkat nasional, serta membangun jejaring dengan pemuda dari berbagai daerah di Indonesia.

Universitas Mulia Balikpapan terus mendukung keterlibatan mahasiswa dalam berbagai forum pengembangan kapasitas kepemimpinan dan inovasi. Hal ini sejalan dengan visi universitas untuk melahirkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki kepekaan sosial serta mampu berkontribusi nyata bagi pembangunan daerah dan nasional.

Keberhasilan Agung Widiyanto sebagai delegasi YCC diharapkan dapat menginspirasi mahasiswa lain di Universitas Mulia, serta seluruh pemuda Balikpapan, untuk lebih aktif dalam berkontribusi membangun kota dan bangsa.

Humas UM- WN

Sadam Rizata (paling kanan) foto bersama dengan teman-temannya satu kelompok dari SMA lainnya. Foto: Istimewa

UM – “Pelatihan ini bukan cuma nambah ilmu, tapi juga menumbuhkan semangat baru untuk jadi pemimpin yang berdampak.

Itulah kesan yang diungkapkan oleh Sadam Rizata, siswa dari SMAIT Tri Sukses Generus, usai mengikuti kegiatan Latihan Kepemimpinan dan Manajemen Organisasi, yang diselenggarakan oleh Airlangga Training Center (ATC) bekerja sama dengan BEM Universitas Mulia.

Pelatihan ini berlangsung selama dua hari, 28-29 April 2025, dan diikuti oleh 47 pengurus OSIS dari SMA/SMK di Balikpapan, Penajam Paser Utara, dan Muara Jawa. Kegiatan bertempat di Gedung Cheng Ho, Universitas Mulia Balikpapan.

Belajar Jurnalistik dan Leadership Sekaligus

Salah satu sesi yang paling berkesan bagi Sadam adalah pelatihan jurnalistik yang dipandu oleh Tri Widodo, wartawan senior dengan pengalaman panjang di dunia media.

“Alhamdulillah, menarik pelatihannya, lumayan banget buat nambah wawasan,” ujar Sadam. Ia juga menyebut sesi pelatihan teknik wawancara cepat atau doorstop interview sebagai pengalaman yang membuka pandangannya tentang dunia media dan komunikasi massa.

Menariknya, Sadam tidak hanya menjadi peserta pasif. Ia juga menghasilkan liputan bergaya Straight News lengkap dengan judul, lead, body, hingga conclusion serta dokumentasi foto wawancaranya sendiri. Ini membuktikan bahwa pelatihan ini benar-benar aplikatif.

Hasil liputan doorstop yang dipamerkan kepada media ini untuk dibagi. Menarik ya!

Hasil liputan doorstop yang dipamerkan kepada media ini untuk dibagi. Menarik ya!

Menjadi Pemimpin Tak Cukup Aktif, Tapi Juga Matang dan Tangguh

Bagi Sadam, pelatihan ini memberikan pemahaman mendalam tentang kepemimpinan sejati, bukan sekadar soal jabatan, tapi bagaimana membentuk karakter dan pengaruh positif.

“Materi tentang komunikasi efektif, manajemen waktu, dan pengelolaan tim sangat membantu saya memahami potensi diri, sekaligus menyadari kelemahan yang harus saya perbaiki,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa pelatihan ini membuatnya memahami bahwa kepemimpinan bukan hanya soal menjadi ketua, tetapi bagaimana menjadi pribadi yang bisa menginspirasi dan membangun lingkungan yang lebih baik.

Inspirasi dari Pemateri Favorit

Saat ditanya siapa pemateri yang paling berkesan, Sadam menyebut nama Dr. Pudjiati tanpa ragu.

“Cara beliau menyampaikan materi sangat membekas. Bukan cuma teori, tapi juga kisah-kisah nyata yang menginspirasi,” ujarnya.

Dari Dr. Pudjiati, ia belajar pentingnya manajemen waktu dan konsistensi dalam memimpin, dua hal yang akan ia terapkan dalam kegiatan OSIS di sekolahnya.

Dari Ilmu ke Aksi, Bertekad Membangun Budaya Kolaborasi di Sekolah

Pelatihan ini rupanya tak hanya berhenti di hari terakhir. Sadam sudah menyiapkan langkah nyata:

“Saya dan teman-teman berencana menggelar pelatihan serupa di sekolah. Kami ingin berbagi ilmu kepada teman-teman lain yang belum sempat ikut,” ujarnya antusias.

Tak hanya itu, ia juga ingin mendorong budaya diskusi dan kolaborasi sehat di lingkungan siswa. Menurutnya, kepemimpinan yang ideal adalah yang inklusif, yakni bukan hanya dimiliki satu orang, tapi menjadi tanggung jawab bersama.

Siap seperti Sadam? Mulailah dari sekarang! Karena masa depan bangsa ada di tangan mereka yang berani belajar dan berbagi.

(SA/Kontributor)

Transformasi Pemikiran Pengurus OSIS dalam Pelatihan Kepemimpinan

Humas Universitas Mulia, 29 April 2025 – Pelatihan Kepemimpinan OSIS tingkat SMA/SMK yang digelar selama dua hari di Universitas Mulia bukan sekadar transfer ilmu organisasi. Kegiatan ini menjadi ruang transformasi karakter dan refleksi mendalam bagi para peserta tentang esensi menjadi pemimpin muda yang inklusif, komunikatif, dan beretika.

Kegiatan ini melibatkan berbagai pemateri berpengalaman dari kalangan akademisi, psikolog, hingga praktisi organisasi kemahasiswaan. Para peserta diajak memahami bukan hanya struktur dan fungsi organisasi, tetapi juga pentingnya nilai, etika, empati, dan kerja kolaboratif dalam menjalankan roda organisasi pelajar.

Belajar Kepemimpinan Lewat Interaksi dan Praktik Langsung

Darel, siswa SMK Antasari, mengaku awalnya tertarik untuk memperluas relasi. Namun, setelah mengikuti sesi demi sesi, ia justru menemukan bahwa pelatihan ini memberi pemahaman mendalam tentang kepemimpinan dan cara praktis menjalankannya.

“Saya jadi tahu apa yang harus saya lakukan ketika ditunjuk sebagai ketua acara. Saya belajar manajemen, cara berkomunikasi dengan anggota tim, sampai menyatukan pendapat yang berbeda tanpa menjatuhkan siapa pun,” jelasnya.

Darel, siswa SMK Antasari, berfoto bersama narasumber utama pelatihan, Bapak Adjat Sudradjat, S.Psi., Psikolog, usai sesi pelatihan kepemimpinan.

Materi yang paling membekas baginya adalah sesi manajemen yang dibawakan oleh Dr. Pudjianti. Ia menyadari bahwa keberhasilan sebuah acara bergantung pada proses koordinasi, pembagian tugas, dan komunikasi yang terstruktur—sesuatu yang sering luput dalam praktik organisasi sekolah.

Kepemimpinan Sebagai Pengalaman yang Mengubah Cara Pandang

Bagas dari SMK Kartika merasakan hal serupa. Ia menyebut pelatihan ini sebagai ruang untuk menumbuhkan rasa percaya diri dan membuka perspektif baru dalam kepemimpinan.

“Materinya padat, tapi sangat mudah dipahami. Saya jadi tahu pentingnya manajemen, tidak hanya dalam organisasi tapi juga dalam kehidupan pribadi. Dan saya belajar menyatukan banyak kepala dengan isi pikiran yang berbeda-beda,” ujarnya.

Bagas dari SMK Kartika berfoto bersama Bapak Adjat Sudradjat, S.Psi., Psikolog, di sela-sela waktu istirahat pelatihan.

Pelatihan ini tidak hanya menyajikan teori, tetapi juga praktik yang menantang. Simulasi dan diskusi kelompok yang dinamis menjadikan proses belajar terasa hidup dan bermakna.

Wawasan Baru tentang Kolaborasi dan Refleksi Organisasi

Fadli dari SMA Negeri 2 menyebut pelatihan ini sebagai momen pencerahan. Ia mengaku awalnya tidak terlalu memahami bagaimana cara menjalankan organisasi dengan baik.

“Tapi setelah ikut kegiatan ini, saya jadi tahu hal-hal penting yang sebelumnya tidak saya pikirkan. Materinya membuka wawasan baru, dan sangat membantu peran saya sebagai pengurus OSIS,” tuturnya.

Fadli, siswa SMA Negeri 2 Kota Balikpapan, berpose bersama rekannya satu sekolah di atas panggung setelah mengikuti sesi kegiatan.

Ia berharap pelatihan seperti ini bisa menjangkau lebih banyak siswa agar nilai-nilai organisasi yang sehat dan kolaboratif bisa ditanamkan sejak dini.

Pelatihan yang Membangkitkan Kesadaran Kolektif

Sementara itu, Ibrahim dari SMA Auliya memberikan refleksi yang sangat dalam. Ia mengikuti pelatihan ini dengan semangat untuk mengevaluasi kondisi organisasinya.

“Kegiatan ini membuat saya merasa benar-benar diperhatikan. Saya tidak pernah merasa seterayomi ini dalam sebuah sosialisasi,” ungkapnya.

Ibrahim, siswa SMA Auliya, berpose di atas panggung sebagai bagian dari dokumentasi kegiatan pelatihan kepemimpinan OSIS.

Menurutnya, metode pelatihan yang melibatkan pembentukan kelompok secara acak justru mencerminkan realitas organisasi yang sebenarnya—di mana keberhasilan tidak bergantung pada banyaknya anggota, melainkan pada satu kesepahaman tujuan.

“Saya belajar bagaimana menyatukan perbedaan untuk mencapai satu visi bersama. Semua sesi menjadi bagian favorit saya karena saling melengkapi,” katanya.

Dorongan untuk Konsistensi dan Pemberdayaan Pelajar

Para peserta sepakat bahwa pelatihan seperti ini sangat penting untuk diadakan secara berkala. Mereka menilai pelatihan ini bukan hanya membekali peserta dengan teori kepemimpinan, tapi juga memberi ruang untuk belajar dari sesama siswa dari sekolah lain, membangun jejaring, dan yang paling penting—melatih empati, kesadaran diri, dan tanggung jawab sosial.

Meski sempat memberikan catatan kecil soal teknis waktu pelaksanaan, mereka tetap mengapresiasi panitia dan berharap pelatihan semacam ini bisa menjadi agenda rutin yang dinanti para pengurus OSIS di Balikpapan dan sekitarnya.

Humas UM (YMN)

Kenapa OSIS Gagal? Ini Jawaban dan Solusinya dari Pakar Psikologi Universitas Mulia

Humas Universitas Mulia, 29 April 2025 – Dalam upaya memperkuat kapasitas kepemimpinan siswa, Universitas Mulia Balikpapan menyelenggarakan Pelatihan Kepemimpinan dan Manajemen Organisasi untuk pengurus OSIS SMA dan SMK se-Kota Balikpapan. Salah satu narasumber dalam pelatihan ini, Adjat Sudradjat, S.Psi., Psikolog, memaparkan materi penting bertajuk “Mengapa Organisasi (OSIS) Gagal Mencapai Targetnya?” sekaligus membahas konsep dasar kepemimpinan dan sumber pengaruh seorang pemimpin.

Adjat Sudradjat, S.Psi., Psikolog, Pemateri Utama Pelatihan, saat menyampaikan materi tentang konsep dasar kepemimpinan dan faktor kegagalan organisasi.

Dalam sesi wawancara, Bapak Adjat Sudradjat, S.Psi. menekankan bahwa keberadaan OSIS memiliki fungsi strategis, baik dalam pengembangan diri siswa maupun dalam membangun citra positif sekolah di masyarakat. Menurutnya, efektivitas kinerja OSIS sangat bergantung pada kualitas kepemimpinan para pengurusnya.

“Kualitas organisasi sebanding lurus dengan kualitas pemimpinnya. Tanpa pemahaman yang baik tentang peran kepemimpinan, OSIS akan sulit mencapai targetnya,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Bapak Adjat Sudradjat, S.Psi. menjelaskan bahwa salah satu faktor utama penyebab kegagalan organisasi OSIS adalah ketidakjelasan dalam menjalankan leadership roles. Tanpa kepemimpinan yang efektif, kegiatan organisasi cenderung tidak terarah, tidak terkelola dengan baik, dan akhirnya gagal mencapai tujuan yang telah direncanakan.

Peserta pelatihan mempresentasikan hasil brainstorming secara berkelompok di atas panggung, memaparkan analisis tentang efektivitas organisasi.

Pelatihan ini, menurut Bapak Adjat Sudradjat, S.Psi., sangat penting untuk diberikan sejak dini. Ia menekankan bahwa energi besar yang dimiliki remaja harus diarahkan kepada aktivitas positif. Pola perilaku positif yang dibangun sejak masa remaja akan berdampak besar terhadap perilaku di masa dewasa.

Salah satu kelompok peserta saat menerangkan hasil diskusi di atas panggung, membahas strategi kepemimpinan dan manajemen organisasi.

Dalam materinya, Bapak Adjat Sudradjat, S.Psi. juga menguraikan berbagai konsep penting, mulai dari prinsip-prinsip manajemen organisasi, peran serta tanggung jawab seorang pemimpin, gaya kepemimpinan, hingga pemanfaatan media sosial untuk promosi dan edukasi kegiatan OSIS.

Simulasi kolaborasi tim yang interaktif dan menarik, menggambarkan pentingnya kerja sama dalam membangun team work yang sukses.

Selama sesi pelatihan, ia mengamati bahwa para peserta menunjukkan respons yang antusias. Mereka merasa senang karena mendapatkan pengetahuan yang aplikatif untuk menunjang peran mereka sebagai pemimpin muda di sekolah masing-masing. Selain itu, interaksi antar peserta dari berbagai sekolah membuka ruang tukar pikiran dan pengalaman yang memperkaya wawasan mereka.

Suasana diskusi kelompok yang penuh semangat, menunjukkan antusiasme peserta dalam mendalami konsep kepemimpinan dan manajemen organisasi.

Namun, Bapak Adjat juga mengakui bahwa dalam menumbuhkan jiwa kepemimpinan di kalangan generasi muda, salah satu tantangan terbesar adalah kreativitas dalam memilih topik dan metode penyampaian materi agar tetap relevan dan menarik bagi siswa.

Sebagai pesan penutupnya kepada para peserta, Bapak Adjat menegaskan pentingnya penerapan ilmu yang diperoleh dalam pelatihan ke dalam praktik nyata.

“Pengetahuan yang sudah dipelajari di dalam kelas pelatihan harus diterapkan dalam pelaksanaan tugas sehari-hari. Hanya dengan demikian mereka akan mampu menjadi pemimpin yang efektif,” tegasnya.

Program pelatihan ini sekaligus menjadi bagian dari misi pengabdian masyarakat Universitas Mulia, berkontribusi aktif dalam membangun generasi muda Balikpapan yang berkarakter, visioner, dan siap berperan di tengah masyarakat.

Humas UM (YMN)

“Lewat latihan implementatif, peserta OSIS didorong mengasah kepemimpinan dan kolaborasi melalui pengalaman langsung dalam organisasi mereka.”

Humas Universitas Mulia, 28 April 2025 – Universitas Mulia kembali menunjukkan komitmennya dalam mencetak generasi muda yang berkualitas dengan menggelar Pelatihan Kepemimpinan dan Manajemen Organisasi bagi pengurus OSIS SMA dan SMK se-Kota Balikpapan, pada Senin, 28 April 2025.
Kegiatan ini bertujuan membekali para siswa dengan keterampilan kepemimpinan, pengelolaan organisasi, serta pengembangan karakter sejak usia dini.

Salah satu sesi pelatihan diisi oleh Dr. Pudjiati, S.E., M.M., dosen Universitas Mulia, yang membawakan materi bertajuk “Penerapan Manajemen dalam Pengelolaan Organisasi (OSIS)”.
Dalam pemaparannya, Dr. Pudjiati menggarisbawahi pentingnya pemahaman konsep dasar manajemen, tidak hanya dalam organisasi seperti OSIS, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.

“Manajemen dibutuhkan untuk mencapai tujuan, dengan melaksanakan fungsi-fungsi dasar manajemen yaitu POAC: Planning, Organizing, Actuating, dan Controlling,” jelasnya.

Dr. Pudjiati, S.E., M.M. saat menyampaikan materi “Penerapan Manajemen dalam Pengelolaan Organisasi (OSIS)” dalam Pelatihan Kepemimpinan dan Manajemen OSIS se-Kota Balikpapan di Universitas Mulia.

Selain itu, beliau menekankan prinsip-prinsip penting dalam manajemen seperti koordinasi, komunikasi, delegasi tugas, serta kepemimpinan yang efektif.
Menurutnya, keterampilan ini akan menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter siswa di masa pembentukan kepribadian mereka.

Dr. Pudjiati juga mengungkapkan alasan mengapa pelatihan kepemimpinan sejak dini sangat penting. Di antaranya adalah untuk membangun keterampilan dasar, meningkatkan rasa percaya diri, mempersiapkan siswa menghadapi dunia kerja dan kehidupan bermasyarakat, mengasah kemampuan berkolaborasi, serta mendorong partisipasi aktif dalam berbagai kegiatan ekstrakurikuler seperti OSIS.

“Siswa yang aktif berorganisasi akan memperkaya pengalaman mereka dan memperluas jaringan sosial, yang sangat berguna bagi masa depan mereka,” tambahnya.

Sesi tanya jawab antara pemateri Dr. Pudjiati, S.E., M.M. dan peserta, dipandu oleh moderator Mas Agung, dalam Pelatihan Kepemimpinan dan Manajemen Organisasi OSIS di Universitas Mulia.

Selama sesi pelatihan, respons peserta sangat antusias. Materi yang disampaikan Dr. Pudjiati dirancang langsung berorientasi pada implementasi nyata dalam kegiatan OSIS sehari-hari, sehingga mudah dipahami dan langsung bisa diaplikasikan.

Sebagai penutup, Dr. Pudjiati berpesan kepada seluruh peserta agar tidak berhenti pada pemahaman teori saja, melainkan harus mampu mengimplementasikan teori tersebut ke dalam praktik nyata.

“Dengan menerapkan apa yang didapatkan secara teori, siswa dapat membuktikan kebenaran sebuah konsep dalam pengalaman nyata,” ujarnya.

Ia juga memberikan apresiasi tinggi terhadap kontribusi Universitas Mulia dalam pengembangan kepemimpinan muda di Balikpapan.

“Manfaat yang diberikan Universitas Mulia sangat besar bagi pengembangan kepemimpinan generasi muda, terlihat dari konsistensi kegiatan-kegiatan yang berfokus pada pengembangan soft skills anak-anak muda,” tutur Dr. Pudjiati.

Melalui pelatihan ini, Universitas Mulia tidak hanya membekali siswa dengan keterampilan teknis, tetapi juga menanamkan nilai-nilai karakter kepemimpinan yang diperlukan untuk membangun masa depan bangsa.

Foto bersama para pemateri dan peserta Pelatihan Kepemimpinan dan Manajemen OSIS se-Kota Balikpapan yang diselenggarakan di Universitas Mulia.

Dengan terselenggaranya pelatihan ini, Universitas Mulia berharap dapat terus menjadi mitra strategis dalam pengembangan sumber daya manusia yang unggul di Balikpapan.
Tidak hanya memperkuat kemampuan teknis, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kepemimpinan, tanggung jawab sosial, dan etika organisasi sejak dini.

Ke depan, Universitas Mulia berkomitmen untuk terus menyelenggarakan program-program serupa yang menjangkau lebih banyak siswa, memperluas jejaring, serta berkontribusi nyata terhadap pembangunan karakter generasi muda di tingkat lokal maupun nasional.

Humas UM (YMN)

Mahasiswa mengerjakan ujian tulis tanpa gadget atau Close Internet/Close Book. Foto: SA/Kontributor

UM – Pekan ini sesuai Kalender Akademik berlangsung Ujian Tengah Semester (UTS). Beberapa kelas tampak berlangsung ujian, baik ujian praktek di laboratorium maupun ujian teori di kelas, seperti tampak di White Campus, Fakultas Ilmu Komputer (FIKOM), Senin (28/4) pagi.

Tampak mahasiswa datang lebih pagi dengan mengenakan atribut jas almamater merah marun, duduk di kursi sedang mengerjakan soal ujian. Mahasiswa serius mengerjakan secara manual, menulis jawaban di lembar kertas yang diberikan.

Beberapa kelas terlihat mahasiswa yang hanya menggunakan alat tulis saja untuk menulis jawaban, tanpa perangkat teknologi apapun, termasuk laptop maupun telepon seluler. Mereka harus menyimpan telepon seluler di dalam tas yang diletakkan di depan kelas.

Tetapi juga ada yang dibebaskan menggunakan telepon seluler yang terhubung jaringan Internet. Mereka boleh menggunakan perangkat teknologi untuk menjawab soal.

“Ya, betul. Untuk ujian yang mencegah penggunaan teknologi seperti laptop maupun telepon seluler, biasanya bentuknya rekognisi atau hafalan. Tapi sebenarnya bukan hafalan, lebih ke penguasaan konsep,” tutur seorang dosen.

Dengan menguasai konsep, lanjutnya, maka mahasiswa akan mampu menceritakan atau menarasikan dalam menjawab soal.

“Jawaban konsep biasanya lebih deskriptif, lebih jelas menggunakan gaya bahasa sendiri, tidak selalu tekstual persis seperti teks yang ada di buku,” tuturnya.

Menurutnya, hal ini sesuai dengan kaidah assessment dalam teori pendidikan, terutama untuk menilai penguasaan konsep dasar dan kemampuan menguraikan ide dengan bahasa sendiri.

Berdasarkan Taksonomi Bloom, dalam pengajaran ada ranah remembering, understanding, dan applying. Ujian manual ini fokus ke understanding, yakni mahasiswa menarasikan konsep, bukan sekadar menghafal teks.

Sedangkan ujian yang menggunakan perangkat teknologi Internet dan boleh buka buku, biasanya dalam bentuk analisis.

“Jawaban yang butuh analisis dan perancangan itu biasanya tidak bisa hanya sekadar hafalan, atau menulis berdasarkan contekan. Dipastikan setiap mahasiswa akan memiliki pemikiran yang berbeda,” ujarnya.

Berdasarkan teori konstruktivisme, pembelajaran dan evaluasi sebaiknya berbasis pada kemampuan mahasiswa membangun pengetahuan baru, bukan sekadar mengulang informasi.

Oleh karena itu, ujian berbasis analisis memerlukan higher-order thinking skills (HOTS), dan penggunaan sumber daya teknologi bukan cheat, jika soal menguji analisis, sintesis, dan evaluasi.

Meski menggunakan AI, mahasiswa harus memahami panduan etis, misalnya, menyebutkan sumber AI, memahami isi yang diberikan, dan tetap mengolah dengan pikirannya sendiri.

“Kalau mahasiswa sudah belajar sebelumnya, atau minimal mengerjakan materi sebelumnya, dia akan cepat menyelesaikan soal dengan cepat. Jadi, bisa dilihat nanti jawabannya seperti apa,” tambah dosen ini.

Usai ujian, dosen langsung melihat ragam jawaban UTS mahasiswa. “Sekilas, ada yang detail, ada yang simple sekali, tidak detail. Nah, yang ini jelas kurang,” jelasnya.

Mahasiswa mengerjakan ujian tulis dibantu dengan gadget masing-masing atau Open Internet/Book. Foto: Sa/Kontributor

Mahasiswa mengerjakan ujian tulis dibantu dengan gadget masing-masing atau Open Internet/Book. Foto: Sa/Kontributor

Laboratorium Komputer FIKOM siap digunakan untuk ujian maupun pelatihan. Foto: Tim Labkomp.

Laboratorium Komputer FIKOM siap digunakan untuk ujian maupun pelatihan. Foto: Tim Labkomp.

Pelaksanaan Ujian di Laboratorium Komputer

Sementara itu, di Laboratorium Komputer FIKOM juga berlangsung UTS berbasis komputer. Tampak dosen duduk di mejanya mengawasi ujian, sedangkan mahasiswa mengerjakan ujian.

Pekan sebelumnya, laboratorium komputer dipersiapkan oleh tim laboratorium FIKOM. Hal ini lantaran akan digunakan untuk pelaksanaan UTS Prodi S1 Farmasi, maupun pelatihan MS Office dan Google Drive siswa-siswi SMK Airlangga Balikpapan.

Dekan FIKOM Djumhadi, S.T., M.Kom mengatakan, pihaknya siap mendukung seluruh kegiatan dosen atau tenaga pendidik yang ingin menggunakan laboratorium komputer.

“Silakan mengajukan permohonan penggunaan laboratorium komputer, baik prodi yang ada di lingkungan FIKOM sendiri, maupun lintas prodi dan fakultas, bahkan antar perguruan tinggi atau komunitas IT Kota Balikpapan,” ujarnya.

Menurutnya, FIKOM terbuka untuk kegiatan akademik maupun non-akademik, selama dimanfaatkan dengan baik, tidak merusak, dan prosedural.

“Insya Allah, Tim Lab FIKOM siap menyukseskan kegiatan belajar mengajar di lingkungan Fakultas Ilmu Komputer dengan baik,” pungkas Subur Anugerah, Kepala Lab. Komputer FIKOM.

(SA/Kontributor)

Direktur ATC Adjat Sudradjat memimpin koordinasi kepanitiaan bersama Ketua BEM Agung Widiyanto dan Brand Ambbasador Muda Mudi Mulia 2025. Foto: Istimewa

UM – Ingin jadi pemimpin hebat di sekolah dan masa depanmu? Ini saatnya! Airlangga Training Center (ATC) bersama BEM Universitas Mulia dan Muda Mudi Mulia 2025 siap menggelar Training Leadership dan Manajemen Organisasi spesial untuk pengurus OSIS tingkat SLTA.

Sebanyak 47 peserta, mayoritas pengurus OSIS dari SMA/SMK di Balikpapan, Penajam Paser Utara, dan Muara Jawa, telah mendaftar untuk mengikuti pelatihan bergengsi ini yang akan digelar selama dua hari, pada Senin dan Selasa, 28 dan 29 April 2025, mulai pukul 8.00 Wita, bertempat di Gedung Cheng Ho, Universitas Mulia.

Direktur ATC, Adjat Sudradjat, S.Psi., Psikolog, mengungkapkan bahwa pelatihan ini berfokus pada membekali para peserta dengan skill penting yang sering menjadi tantangan dalam organisasi sekolah, salah satunya mengapa banyak program OSIS gagal mencapai target.

“Insya Allah, pelatihan ini menjadi momentum penting bagi pengurus OSIS untuk meningkatkan kapasitas kepemimpinan, manajemen organisasi, hingga membangun mentalitas pemenang,” ujar Adjat penuh optimisme.

Apa Saja Materinya?

Selama dua hari, para peserta pengurus OSIS ini akan mendapatkan sesi pembelajaran interaktif dari para ahli, meliputi:

  • Konsep Dasar Kepemimpinan dan bagaimana menjadi pemimpin yang berpengaruh.
  • Sumber Pengaruh Seorang Pemimpin: bagaimana membangun kepercayaan dalam tim.
  • Manajemen Organisasi OSIS: dari perencanaan hingga pelaporan kegiatan.
  • Pemantapan Wawasan Kebangsaan dan Anti Korupsi.
  • Dinamika Organisasi dan Pengembangan Diri.
  • Pembekalan Jurnalistik Sekolah: pentingnya media komunikasi dalam organisasi.

Para pembicara merupakan pengajar dan praktisi profesional, antara lain Adjat Sudradjat, S.Psi., Psikolog selaku Direktur ATC, Dr. Pudjiati, S.E., M.M. Ketua Prodi Manajemen Universitas Mulia.

Kemudian Drs. Suprijadi, M.Pd. dosen senior dan Kepala Biro Kemahasiswaan, Dr. Linda Fauziyah Ariyani, S.Pd., M.Pd. Kepala Inkubator Bisnis dan Tri Widodo Pemimpin Redaksi Smartrt.News.

Untuk menilai hasil peserta, panitia juga telah menunjuk dewan juri berpengalaman dari berbagai bidang, termasuk praktisi pendidikan dan media.

Kenapa Kamu Harus Ikut?

Bagi kamu yang bercita-cita menjadi pemimpin di masa depan, pelatihan ini lebih dari sekadar belajar teori. Ini adalah kesempatan untuk:

  • Mengasah kemampuan berpikir kritis dan kreatif.
  • Belajar manajemen tim dan event.
  • Meningkatkan kemampuan komunikasi publik.
  • Memperluas jaringan dengan teman dari berbagai sekolah.
  • Menambah nilai plus dalam portofolio untuk beasiswa dan kuliah nanti!

“Kami berharap ke depan, pelatihan ini bisa rutin digelar tiap empat bulan dengan lebih banyak peserta dari setiap sekolah, bahkan melibatkan sponsor dari perusahaan besar,” tambah Adjat.

Ayo persiapkan diri. Bergabung dalam pelatihan ini adalah langkah awal untuk menjadi pemimpin muda berintegritas, membawa perubahan positif di lingkungan sekolah, dan membuka jalan menuju Generasi Emas Indonesia 2045.

Jangan lewatkan! Latih mental juara dan jadilah bagian dari pemimpin masa depan. Yuk, ikuti Training Leadership dan Manajemen OSIS di Universitas Mulia! Bersama kita ciptakan generasi muda yang berani bermimpi, siap beraksi!

(SA/Kontributor)

Foto bersama sivitas Universitas Mulia. Foto: Media Kreatif

UM – Yayasan Airlangga menggelar Family Day yang berlangsung di Kampus Universitas Mulia, Sabtu (26/4). Kegiatan ini dihadiri oleh pimpinan, karyawan serta anggota keluarga, sebagai bagian dari komitmen yayasan memupuk budaya kekeluargaan di lingkungan kerja.

Acara diawali dengan kegiatan senam bersama seluruh peserta. Hadir Rektor Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i beserta Wakil Rektor dan jajaran meramaikan. Turut hadir pula para pimpinan, guru, dan anggota keluarga dari sekolah di bawah naungan Yayasan Airlangga.

Di antaranya, SMK Airlangga Balikpapan, SMKTI Airlangga Samarinda, PSDKU Universitas Mulia Samarinda, SMK Kesehatan Airlangga Balikpapan, SMP Plus Airlangga Balikpapan, dan lainnya.

Usai senam bersama, kegiatan dilanjutkan dengan jalan sehat melewati permukiman di sekitar kampus. Setelahnya, para peserta beserta keluarga menikmati serangkaian kegiatan yang bertujuan mempererat tali silaturahmi.

Direktur Eksekutif Yayasan Airlangga Dr. Agung Sakti Pribadi, dalam sambutannya mengungkapkan rasa syukur atas cuaca pagi yang cerah. Hal ini tentu saja mendukung kelancaran jalannya kegiatan, meskipun hujan sempat mengguyur malam hari.

Dr. Agung menyoroti pentingnya kebersamaan dan keterlibatan keluarga dalam setiap aspek perkembangan yayasan. Ia menceritakan sejarah panjang Yayasan Airlangga yang telah membudayakan lingkungan kerja yang ramah keluarga.

Dicontohkan, pada masa awal pendirian Yayasan Airlangga tahun 1993, pengurus yayasan seperti Ibu Eli dan Ibu Ririn kerap membawa serta anak-anak ke kantor sembari bekerja.

“Bahkan ada yang tidur di bawah meja saat orang tuanya bekerja,” ujar Dr. Agung. Ia memperhatikan bagaimana peran anak-anak turut terlibat dan terintegrasi dalam aktivitas harian yayasan sejak dini.

“Menariknya, anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan tersebut kini telah beranjak dewasa dan bahkan mengambil peran penting, seperti Mas Irfan, putra Ibu Eli, yang menjadi Ketua Panitia kegiatan hari ini, dan Iqbal Arda Pratama,” ungkap Dr. Agung.

Kegiatan ini tidak hanya bertujuan menjaga kebugaran fisik para karyawan, tetapi juga menciptakan suasana kerja yang harmonis dan suportif, yakni karyawan merasa menjadi bagian dari keluarga besar Yayasan Airlangga.

Dr. Agung berharap kegiatan seperti ini dapat terus memperkuat ikatan antar individu dan hubungan kekeluargaan yang semakin erat.

Kegiatan berikutnya diisi dengan pembagian hadiah kepada seluruh peserta yang beruntung. Acara ditutup dengan penyerahan hadiah utama berupa kulkas dua pintu diraih oleh Firmansyah, Kepala SMK Kesehatan Airlangga.

Direktur Eksekutif Yayasan Airlangga Dr. Agung Sakti dan Rektor Prof. Muhammad Ahsin Rifa'i melepas peserta jalan sehat. Foto: Media Kreatif

Direktur Eksekutif Yayasan Airlangga Dr. Agung Sakti dan Rektor Prof. Muhammad Ahsin Rifa’i melepas peserta jalan sehat. Foto: Media Kreatif

Dekan FEB Dr. Ivan Armawan bersama-sama mengikuti jalan sehat. Foto: Media Kreatif

Dekan FEB Dr. Ivan Armawan bersama-sama mengikuti jalan sehat. Foto: Media Kreatif

Hadiah utama kulkas dua pintu yang diundi dan diraih peserta beruntung, Firmansyah, Kepala SMK Kesehatan Airlangga. Foto: Media Kreatif

Hadiah utama kulkas dua pintu yang diundi dan diraih peserta beruntung, Firmansyah, Kepala SMK Kesehatan Airlangga. Foto: Media Kreatif

Siswa-siswi SMK Kesehatan Airlangga di Pasar Pagi Mulia. Mereka menyediakan produk minuman serbuk jahe Kuy Jahe. Foto: SA/Kontributor

Siswa-siswi SMK Kesehatan Airlangga di Pasar Pagi Mulia. Mereka menyediakan produk minuman serbuk jahe Kuy Jahe. Foto: SA/Kontributor

Pasar Pagi Mulia

Pagi itu, di halaman kampus juga terbuka berbagai stand penjual aneka makanan dan minuman serta fashion. Beberapa stand dengan jumlah terbatas ditempati oleh pelaku usaha UMKM, yang berasal dari mahasiswa hingga masyarakat umum.

Stand-stand tersebut disediakan oleh panitia yang tergabung dalam komunitas Pasar Pagi Mulia. Sehari sebelumnya, turut meramaikan guru dan siswa-siswi dari SMK dan SMP di bawah Yayasan Airlangga.

Bahkan, SMK Kesehatan Airlangga turut mengisi stand dan menjual produk komersial minuman Serbuk Jahe Merah Kuy Jahe. Produk ini dikemas cukup apik dan berkelas. Memiliki komposisi jahe merah, gula pasir, serai, kayu manis, dan cengkeh.

Kuy Jahe bisa diseduh langsung dengan air hangat untuk diminum. Aroma dan rasa jahenya yang kuat membuat tubuh terasa hangat. Kuy Jahe dapat dicampur dengan kopi, membuat rasa kopi dan jahe semakin kuat.

Untuk berat 150 gram dijual dengan harga Rp 25 ribu. Pembeli dapat melakukan transaksi secara tunai maupun menggunakan QRIS yang dikelola oleh sekolah.

(SA/Kontributor)