Tag Archive for: PG PAUD Universitas Mulia

Balikpapan, 7 Mei 2026 — Ketika banyak taman penitipan anak berfokus pada layanan pengasuhan harian, Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG PAUD) Universitas Mulia justru mengembangkan pendekatan berbeda. Daycare Ananda Mulia tidak hanya dibangun sebagai tempat penitipan anak, tetapi sebagai living lab yang menghubungkan praktik pengasuhan, pembelajaran akademik, dan riset pendidikan anak usia dini dalam satu ekosistem.

Model inilah yang mendorong Institut Teknologi Kalimantan melakukan studi tiru ke Prodi PG PAUD Universitas Mulia dalam rangka pengembangan layanan daycare berbasis kampus di lingkungan ITK.

Kaprodi PG PAUD Universitas Mulia, Bety Vitriana, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa kekuatan utama Daycare Ananda Mulia bukan terletak pada fasilitas fisik semata, melainkan pada sistem yang dibangun secara terukur dan berkelanjutan.

Kaprodi PG PAUD Universitas Mulia, Bety Vitriana, S.Pd., M.Pd., memaparkan konsep Daycare Ananda Mulia sebagai living lab pendidikan anak usia dini di hadapan tim studi tiru ITK.

“Daycare kami memiliki SOP, kurikulum pembelajaran mulai usia bayi tiga bulan hingga pra sekolah enam tahun, dokumentasi perkembangan anak yang sistematis, serta keterlibatan aktif mahasiswa dan orang tua sebagai mitra pengasuhan. Keberhasilannya tidak hanya terlihat secara kasat mata, tetapi terdokumentasi dalam perkembangan tumbuh kembang anak,” ujarnya.

Berbeda dengan daycare konvensional yang berfokus pada pengawasan dan keselamatan anak, Daycare Ananda Mulia dikembangkan dengan tiga fungsi utama sekaligus: layanan pengasuhan, laboratorium observasi bagi mahasiswa, dan ruang uji coba inovasi pendidikan anak usia dini.

Di ruang inilah teori tidak berhenti sebagai materi kuliah. Aktivitas harian anak justru menjadi bagian dari proses akademik yang terus dianalisis dan diperbaiki.

“Living lab ini terintegrasi langsung dengan kurikulum. Mata kuliah seperti Strategi Pembelajaran Anak Usia Dini, Bermain dan Permainan, hingga Manajemen PAUD memiliki aktivitas yang tersinkronisasi dengan kegiatan daycare. Bahkan data kegiatan harian anak dapat menjadi bahan penelitian dan skripsi mahasiswa,” jelas Bety.

Salah satu praktik yang menjadi kekuatan Daycare Ananda Mulia adalah budaya dokumentasi dan refleksi yang dilakukan secara rutin. Guru, mahasiswa, dan dosen tidak hanya menjalankan kegiatan, tetapi mencatat perkembangan anak melalui catatan anekdot, buku penghubung, hingga forum refleksi mingguan.

Menurut Bety, pola kerja seperti ini membuat mahasiswa tidak belajar dari simulasi, melainkan dari dinamika nyata yang terus berkembang di lapangan.

“Hasil refleksi langsung digunakan untuk memperbaiki metode pengasuhan dan pembelajaran. Jadi mahasiswa belajar memahami anak dari kasus nyata, bukan sekadar teori di kelas,” katanya.

Tim PG PAUD Universitas Mulia dan Institut Teknologi Kalimantan berfoto bersama usai sesi pemaparan dan diskusi pengembangan daycare berbasis kampus.

Keberadaan daycare ini juga memperkuat posisi Universitas Mulia dalam pengembangan pendidikan anak usia dini di Kalimantan. Daycare Ananda Mulia dipandang bukan sekadar fasilitas pendukung kampus, tetapi bagian dari laboratorium pendidikan yang terintegrasi dengan proses akademik.

“Universitas Mulia menjadi salah satu pionir kampus yang membuka layanan daycare berbasis akademik di Kalimantan. Ini bukan hanya tentang layanan pengasuhan, tetapi tentang bagaimana kampus hadir sebagai ruang belajar sekaligus ruang tumbuh bagi anak,” tambahnya.

Dalam studi tiru tersebut, tim ITK mempelajari berbagai aspek pengelolaan daycare berbasis kampus, mulai dari tata kelola layanan, integrasi kurikulum, penyiapan sumber daya manusia, hingga proses pengurusan izin operasional dan sarana prasarana.

Ketua Tim Kerja Perencanaan ITK, Riza Hadi Saputra, S.T., M.T., menyampaikan bahwa kunjungan tersebut memberikan banyak gambaran praktis bagi pengembangan daycare di lingkungan kampus mereka.

“Kami merasa sangat terbantu dengan agenda studi tiru ini karena membuka banyak pemahaman baru terkait proses membuka layanan daycare berbasis kampus, mulai dari penyiapan SDM, manajerial, tata kelola sarana prasarana, kurikulum, hingga proses pengurusan izin,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa komunikasi lanjutan antarkedua institusi akan terus dibangun untuk membuka peluang kerja sama lain yang saling mendukung.

“Ke depan kami berencana membangun komunikasi lebih lanjut terkait beberapa bentuk kerja sama yang dapat saling menguntungkan bagi kedua belah pihak,” lanjutnya.

Bagi PG PAUD Universitas Mulia, pengembangan daycare berbasis living lab juga menjadi bagian dari visi jangka panjang. Dalam dua hingga lima tahun mendatang, prodi menargetkan penguatan layanan pelatihan bagi guru TPA dan daycare di Balikpapan, publikasi riset internasional berbasis daycare, hingga pengembangan aplikasi dokumentasi digital yang dapat digunakan oleh lembaga mitra.

Di balik seluruh pengembangan tersebut, Bety menyebut ada satu gagasan besar yang ingin terus dijaga.

“Daycare adalah jembatan antara ilmu dan kasih sayang. Pengasuhan tidak anti-riset, dan riset tidak boleh kehilangan sisi manusianya,” tutupnya.

Menurutnya, model ini sekaligus menunjukkan bahwa kampus dapat menjadi ruang publik yang tidak hanya mencetak pendidik masa depan, tetapi juga mendukung terwujudnya Kota Balikpapan sebagai kota ramah anak. (YMN)

 

Balikpapan, 5 Mei 2026 – Universitas Mulia mendorong mahasiswa PG PAUD untuk membaca kurikulum bukan sebagai kumpulan format administratif, tetapi sebagai rancangan strategis yang menentukan kualitas pengalaman belajar anak usia dini. Perspektif tersebut mengemuka dalam kuliah tamu bertema “Bedah & Penyusunan Rencana Pembelajaran Mendalam PAUD” yang digelar Program Studi PG PAUD Universitas Mulia di Ballroom Cheng Hoo, Selasa (5/5).

Wakil Dekan Fakultas Humaniora dan Kesehatan (FHK) Universitas Mulia, Sri Purwanti, S.Pd., M.Pd., menilai kemampuan menyusun rencana pembelajaran mendalam menjadi fondasi penting dalam pendidikan calon guru PAUD. Menurutnya, di titik itulah mahasiswa belajar menerjemahkan arah kurikulum menjadi keputusan pembelajaran yang benar-benar bekerja di kelas.

“Rencana pembelajaran adalah bentuk nyata penerjemahan kurikulum ke dalam praktik pembelajaran. Mahasiswa tidak cukup hanya memahami tujuan dan capaian perkembangan secara teoritis, tetapi harus mampu menghubungkannya dengan strategi, media, asesmen, dan kebutuhan perkembangan anak,” ujarnya.

Dalam pandangan Sri Purwanti, persoalan utama dalam pendidikan calon guru sering kali muncul ketika mahasiswa memahami kurikulum hanya sebatas isi dokumen. Padahal, kurikulum seharusnya dibaca sebagai alat untuk membangun pengalaman belajar yang sesuai dengan karakteristik anak usia dini yang dinamis dan terus berkembang.

Melalui kuliah tamu ini, mahasiswa diajak melihat bagaimana kurikulum harus diterjemahkan secara fleksibel berdasarkan tahap perkembangan anak, konteks lingkungan belajar, serta perubahan kebijakan pendidikan yang terus bergerak. Pendekatan tersebut dinilai penting agar calon guru tidak tumbuh menjadi pelaksana kurikulum yang kaku.

“Kurikulum bukan sekadar dokumen administratif, tetapi instrumen strategis untuk membentuk pengalaman belajar anak. Guru harus mampu menerjemahkannya secara adaptif agar pembelajaran benar-benar bermakna dan mendukung tumbuh kembang anak secara holistik,” jelasnya.

Kegiatan ini juga dirancang untuk memecahkan persoalan klasik dalam pendidikan tinggi: kuat di teori, tetapi lemah saat implementasi. Karena itu, mahasiswa tidak hanya menerima pemaparan konsep, melainkan diajak menganalisis perangkat pembelajaran, mendiskusikan studi kasus, dan memahami pengalaman implementatif langsung dari praktisi pendidikan.

Menurut Sri Purwanti, pendekatan seperti ini penting untuk melatih mahasiswa mengambil keputusan pedagogik secara sadar dan kontekstual, bukan sekadar mengikuti pola yang sudah tersedia.

“Mahasiswa perlu dilatih berpikir aplikatif dan reflektif. Mereka harus mampu membaca kebutuhan anak, memahami situasi belajar, lalu menentukan strategi pembelajaran yang tepat berdasarkan kerangka kurikulum yang ada,” katanya.

Kehadiran narasumber dengan pengalaman implementatif juga memberi dimensi lain dalam proses pembelajaran mahasiswa. Bagi Sri Purwanti, pengalaman lapangan yang dibagikan praktisi membantu mahasiswa memahami bahwa pengembangan kurikulum bukan pekerjaan statis, melainkan proses yang terus berubah mengikuti kebutuhan pendidikan.

Dari situ, mahasiswa diperkenalkan pada berbagai pendekatan inovatif, strategi diferensiasi, hingga cara merancang pembelajaran kreatif yang tetap berpijak pada tujuan perkembangan anak usia dini.

“Mahasiswa perlu melihat langsung bahwa implementasi kurikulum di lapangan membutuhkan fleksibilitas, kreativitas, dan kemampuan menyesuaikan diri terhadap berbagai situasi pembelajaran,” tambahnya.

Lebih jauh, Sri Purwanti menilai kuliah tamu semacam ini menjadi bagian penting dari penguatan identitas akademik PG PAUD Universitas Mulia. Program studi tidak hanya membentuk mahasiswa agar patuh terhadap struktur kurikulum, tetapi juga melatih mereka memiliki keberanian intelektual untuk menganalisis, mengevaluasi, dan mengembangkan pembelajaran sesuai kebutuhan zaman.

Dengan pendekatan tersebut, Universitas Mulia sedang membangun pola pendidikan guru yang menempatkan mahasiswa sebagai perancang pembelajaran, bukan sekadar pengguna perangkat ajar. Di tengah perubahan kebijakan pendidikan dan tantangan perkembangan anak yang semakin kompleks, kemampuan membaca kurikulum secara kritis menjadi kompetensi yang tidak bisa ditawar.

Melalui ruang akademik seperti ini, PG PAUD Universitas Mulia memperlihatkan bahwa pengembangan kurikulum bukan sekadar membahas dokumen pendidikan, tetapi membentuk cara berpikir calon guru dalam memahami anak, merancang pengalaman belajar, dan mengambil keputusan pedagogik yang bertanggung jawab. (YMN)

 

Balikpapan, 6 Mei 2026 – Program Studi PG PAUD Universitas Mulia tidak membiarkan mahasiswa berhenti pada penguasaan teori strategi pembelajaran di ruang kelas. Melalui kuliah umum bertema “Bedah & Penyusunan Rencana Pembelajaran Mendalam PAUD”, mahasiswa diarahkan untuk membongkar cara lama memandang perencanaan pembelajaran—dari sekadar pengisian format administratif menuju kemampuan merancang pengalaman belajar yang benar-benar hidup di ruang anak usia dini.

Bagi dosen pengampu Mata Kuliah Strategi Pembelajaran PAUD, Merlina, S.Pd.,M.Pd , kuliah umum ini lahir dari kebutuhan akademik yang sangat konkret: adanya jarak antara teori yang dipelajari mahasiswa dengan tantangan implementasi di lapangan. Menurutnya, mahasiswa selama ini mempelajari berbagai pendekatan seperti pembelajaran interaktif, bermain, inquiry, hingga tematik, tetapi perubahan kebijakan menuju RPM (Rancangan Pembelajaran Mendalam) berbasis deep learning menuntut kesiapan yang lebih dari sekadar memahami konsep.

“Di kelas, mahasiswa belajar teori, tetapi realitas di lapangan sering berbeda. Banyak guru PAUD masih kesulitan menerjemahkan teori ke dalam RPPH yang konkret, apalagi dengan format RPM berbasis deep learning yang relatif baru. Karena itu, kuliah umum ini menjadi titik temu antara teori kampus dan praktik nyata,” ujarnya.

Universitas Mulia merancang kegiatan ini dengan pendekatan bertahap yang menempatkan mahasiswa sebagai peserta aktif dalam proses transformasi berpikir. Sebelum sesi utama, mahasiswa diminta membaca dan membandingkan RPPH konvensional dengan pendekatan pembelajaran mendalam. Saat kegiatan berlangsung, narasumber tidak hanya menyampaikan materi, tetapi membedah langsung dokumen RPM sekaligus menunjukkan bagaimana pengalaman belajar dibangun dari eksplorasi anak.

Salah satu contoh yang ditekankan adalah perubahan orientasi dari sekadar “anak mengenal warna” menjadi “anak menemukan warna melalui pengalaman eksperimen.” Perubahan kecil dalam desain ini menunjukkan pergeseran besar dalam cara guru memandang pembelajaran.

Bagi Merlina, di sinilah mahasiswa mulai memahami bahwa strategi pembelajaran bukan daftar prosedur teknis, melainkan seni intelektual dalam merancang pengalaman belajar.

“Mahasiswa harus memahami bahwa strategi mengajar bukan sekadar langkah-langkah kegiatan, tetapi seni merancang pengalaman belajar bermakna. Karena itu, mereka juga diminta menuliskan alasan di balik setiap rancangan yang dibuat,” jelasnya.

Dekan FHK Universitas Mulia Dr. Mada Aditia Wardhana, S.Sos., M.M., Wakil Dekan FHK Sri Purwanti, S.Pd., M.Pd., Kaprodi PG PAUD Bety Viatriana, S.Pd., M.Pd., dosen Merlina, S.Pd., M.Pd., narasumber Shinta Anggraeni, S.Pd., M.Pd., dan peserta berfoto bersama usai kuliah umum PG PAUD sebagai bagian dari penguatan akademik mahasiswa dalam penyusunan pembelajaran mendalam PAUD.

Dalam proses tersebut, tantangan terbesar justru muncul dari kebiasaan lama mahasiswa yang terlalu fokus pada struktur administratif dokumen. Banyak mahasiswa, menurut Mei, sibuk mengisi kolom demi kolom tanpa benar-benar melihat bahwa dokumen tersebut seharusnya menjadi peta perjalanan perkembangan anak.

Kuliah umum ini kemudian membongkar pola pikir tersebut dengan menghadirkan realitas lapangan yang lebih dinamis. Mahasiswa diperlihatkan bahwa rencana pembelajaran dapat berubah ketika anak menunjukkan minat baru yang tak terduga—misalnya ketika perhatian mereka tiba-tiba tertuju pada kupu-kupu di sekitar kelas. Dari situ, mahasiswa belajar bahwa perencanaan bukan struktur kaku, melainkan rancangan adaptif yang harus responsif terhadap dunia anak.

“RPPH atau RPM itu bukan dokumen mati. Ia harus hidup bersama kebutuhan anak. Karena namanya rencana, kita sudah berusaha maksimal, tetapi proses di lapangan bisa berkembang sesuai situasi,” ungkapnya.

Kehadiran narasumber dengan rekam jejak prestasi nasional juga diposisikan bukan sekadar untuk memberi inspirasi, tetapi untuk mematahkan asumsi sempit tentang profesi guru PAUD. Mahasiswa diperlihatkan bahwa profesionalisme lahir dari keberanian bereksperimen, kemampuan berinovasi, dan komitmen memperbaiki kualitas pembelajaran secara terus-menerus.

Melalui pendekatan tersebut, PG PAUD Universitas Mulia sedang membangun standar baru: calon guru tidak cukup hanya mampu mengikuti template lama, tetapi harus berani menyusun pembelajaran yang relevan dengan konteks anak, lingkungan, dan perubahan zaman.

Secara kelembagaan, kuliah umum ini juga terhubung langsung dengan desain kurikulum berbasis OBE (Outcome-Based Education), project-based learning, dan pengalaman lapangan terbimbing yang diterapkan Universitas Mulia. Artinya, kegiatan ini bukan forum sesaat, melainkan bagian dari rantai pembelajaran berkelanjutan yang berlanjut ke micro teaching hingga implementasi magang di satuan PAUD mitra.

“Setelah kuliah umum, mahasiswa tidak berhenti di pemahaman. Mereka melanjutkan ke micro teaching, lalu mengimplementasikan RPM saat magang. Jadi ini bukan acara seremonial, tetapi pemicu agar mahasiswa terus berlatih, merefleksikan, dan menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan anak,” tegas Mei.

Melalui desain semacam ini, Universitas Mulia memperlihatkan bahwa kualitas pendidikan tinggi tidak hanya terletak pada transfer teori, tetapi pada kemampuan institusi membangun sistem pembelajaran yang melatih mahasiswa berpikir, merancang, menguji, dan beradaptasi. Di PG PAUD Universitas Mulia, mahasiswa tidak sedang disiapkan menjadi pengisi format pembelajaran, melainkan calon pendidik yang mampu membaca anak, memahami perubahan, dan menyusun pembelajaran mendalam dalam kondisi apa pun.

Balikpapan, 6 Mei 2026 – Program Studi PG PAUD Universitas Mulia menggeser pembelajaran mahasiswa dari sekadar memahami teori menuju kemampuan menguji, membedah, dan merancang strategi belajar yang benar-benar dapat bekerja di ruang pendidikan anak usia dini. Melalui kuliah tamu bertema “Bedah & Penyusunan Rencana Pembelajaran Mendalam PAUD” yang berlangsung di Ballroom Cheng Hoo, Selasa (5/5), mahasiswa tidak ditempatkan sebagai pendengar materi, tetapi sebagai calon pendidik yang harus mampu menghubungkan konsep kampus dengan kebutuhan nyata perkembangan anak.

Bagi Kaprodi PG PAUD Universitas Mulia, Ibu Bety Viatriana, S.Pd., M.Pd., kegiatan ini bukan pelengkap akademik, melainkan instrumen untuk menguji apakah teori deep learning yang dipelajari mahasiswa benar-benar dapat diterjemahkan menjadi rancangan pembelajaran yang hidup di lapangan. Menurutnya, kualitas pedagogik tidak diukur dari hafalan konsep, tetapi dari kemampuan membangun pengalaman belajar yang kontekstual, adaptif, dan berdaya guna.

“Kuliah tamu ini menjadi jembatan penting antara teori deep learning di kelas dengan praktik menyusun rencana pembelajaran kontekstual. Mahasiswa tidak hanya belajar konsep, tetapi melihat langsung bagaimana pembelajaran bermakna dirancang di lapangan. Ini mempercepat penguatan kompetensi pedagogik secara aplikatif,” ujarnya.

Struktur kegiatan disusun dengan pendekatan bertahap: mahasiswa terlebih dahulu membedah fondasi konseptual, kemudian masuk pada analisis langsung RPPH, berdialog kritis dengan narasumber, hingga menyusun ulang desain pembelajaran berdasarkan hasil evaluasi. Pola ini menunjukkan cara Universitas Mulia membangun kultur akademik yang menuntut mahasiswa berpikir, mengoreksi, dan memproduksi gagasan, bukan sekadar menerima pengetahuan jadi.

Dalam skema tersebut, mahasiswa diajak melihat bahwa rancangan pembelajaran bukan produk final, melainkan dokumen kerja yang harus siap diuji oleh perubahan kebijakan, kebutuhan anak, dan dinamika praktik pendidikan. Di titik inilah proses akademik bergerak dari ruang kelas menuju latihan profesional.

“Mahasiswa kami dorong membandingkan teori dengan praktik riil, lalu merevisi rencana pembelajarannya secara adaptif terhadap kebijakan nasional. Hasilnya, mereka membangun pemahaman akademik yang kritis, bukan sekadar antusiasme sesaat,” jelas Bety.

Mahasiswa PG PAUD Universitas Mulia mengikuti sesi kuliah tamu dengan penuh perhatian saat mendalami penyusunan rencana pembelajaran PAUD yang kontekstual, reflektif, dan adaptif terhadap kebutuhan perkembangan anak.

Orientasi tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana PG PAUD Universitas Mulia memaknai rencana pembelajaran sebagai proses intelektual yang terus bergerak. Mahasiswa dibiasakan membaca kebutuhan anak secara menyeluruh, mengevaluasi efektivitas strategi, lalu menyesuaikan desain belajar berdasarkan refleksi akademik. Dengan demikian, penyusunan pembelajaran tidak jatuh menjadi rutinitas administratif, tetapi menjadi keputusan pedagogik yang sadar tujuan.

Bety menilai proses seperti ini penting untuk membentuk calon guru yang tidak sekadar mampu mengajar, tetapi juga memiliki disiplin reflektif dalam setiap keputusan pembelajarannya.

“Kuliah tamu ini menjadi ruang refleksi terbimbing, di mana mahasiswa menguji rencana pembelajarannya terhadap kebutuhan holistik anak. Karena rencana pembelajaran adalah hipotesis kerja yang harus terus dievaluasi, bukan sekadar dokumen administratif. Ini membentuk calon guru yang reflektif dan berpusat pada anak,” tuturnya.

Lebih jauh, kegiatan ini juga memperlihatkan arah pengembangan institusional PG PAUD Universitas Mulia yang tidak berhenti pada pencetakan tenaga pendidik konvensional. Program studi ini sedang membangun kapasitas mahasiswa agar mampu membaca transisi PAUD ke SD secara strategis, memahami arah Merdeka Belajar, serta menghasilkan pendekatan pembelajaran yang relevan dengan perubahan zaman.

Di tengah kebutuhan pendidikan yang terus bergerak, keterhubungan antara kampus, praktisi, dan kebijakan menjadi faktor penting dalam menjaga relevansi lulusan. Karena itu, kehadiran narasumber dengan rekam jejak implementatif diposisikan bukan sebagai simbol seremonial, tetapi sebagai sumber pembanding antara desain akademik dan praktik unggul.

“Mahasiswa kami dibekali kemampuan merancang transisi PAUD ke SD secara strategis, adaptif terhadap kebijakan Merdeka Belajar. Kuliah tamu dengan praktisi unggul membangun reputasi prodi yang relevan, dinamis, dan solutif. Inilah modal mencetak lulusan yang mampu menjawab tantangan zaman secara bijak,” pungkasnya.

Melalui pendekatan semacam ini, Universitas Mulia menunjukkan bahwa pendidikan tinggi dapat memainkan peran lebih substantif daripada sekadar transfer materi. Di PG PAUD, mahasiswa dipersiapkan untuk memasuki profesi pendidikan dengan perangkat berpikir yang lebih matang: mampu menghubungkan teori, praktik, kebijakan, dan kebutuhan anak dalam satu rancangan pembelajaran yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik maupun sosial. Di situlah institusi tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi membangun arsitek pembelajaran masa depan. (YMN)

Balikpapan, 21 April 2026 — Peringatan Hari Kartini di Daycare Ananda Mulia Universitas Mulia berlangsung tanpa panggung seremoni yang kaku. Tidak ada sekadar parade busana atau sesi foto simbolik. Yang tampak justru proses belajar yang hidup—anak-anak bermain peran, bercerita, menyusun kolase, hingga menyuarakan pendapat mereka dengan cara yang sederhana namun bermakna.

Kegiatan ini digagas oleh guru Daycare Ananda Mulia yang berada di bawah Laboratorium (living lab) Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG PAUD) Universitas Mulia. Dalam kerangka ini, peringatan Hari Kartini tidak ditempatkan sebagai agenda tahunan semata, melainkan sebagai bagian dari praktik pendidikan yang terstruktur dan berkelanjutan.

Kaprodi PG PAUD Universitas Mulia, Bety Vitriana, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk konkret dari pendekatan experiential learning yang dikembangkan di lingkungan prodi. Living lab, menurutnya, menjadi ruang temu antara konsep perkuliahan dengan realitas pengasuhan anak.

“Living lab atau Daycare Ananda Mulia menjadi jembatan antara konsep di kelas—seperti bermain sambil belajar, pengembangan karakter, hingga pendidikan berbasis kearifan lokal—dengan praktik sehari-hari di daycare. Ketika guru memaknai Kartini tidak hanya melalui pakaian adat, tetapi melalui aktivitas bermakna, di situlah prinsip developmentally appropriate practice benar-benar terjadi,” ujarnya.

Langkah-langkah kecil itu menyusuri catwalk sederhana di Daycare Ananda Mulia—bukan sekadar berjalan, tetapi belajar percaya diri sejak usia dini.

Dalam perspektif prodi, sosok Kartini tidak diposisikan semata sebagai simbol emansipasi, melainkan sebagai sumber nilai yang relevan bagi dunia anak. Nilai keberanian, kesetaraan, dan kebebasan berekspresi diterjemahkan ke dalam aktivitas yang dekat dengan pengalaman anak.

Anak-anak diajak memahami bahwa permainan tidak memiliki batasan gender. Anak laki-laki bebas bermain masak-masakan, sementara anak perempuan dapat berlari dan bermain bola. Melalui cerita bergambar dan interaksi sederhana, mereka belajar bahwa setiap anak memiliki hak yang sama untuk bermain, berekspresi, dan bermimpi.

Pendekatan ini menjadi pembeda dibandingkan peringatan Hari Kartini yang bersifat seremonial. Di Daycare Ananda Mulia, setiap kegiatan dirancang melalui tahapan pedagogis yang jelas: pengenalan melalui cerita dan lagu, pelaksanaan melalui bermain peran dan berkarya, hingga refleksi melalui percakapan bersama anak.

Guru Daycare Ananda Mulia, Novi Nurdiana, S.Pd., menyebut bahwa setiap aktivitas memiliki capaian pembelajaran yang terukur. Anak tidak hanya mengikuti kegiatan, tetapi belajar mengekspresikan diri, melatih motorik halus, serta memahami konsep keadilan secara sederhana.

Dengan balutan blangkon dan busana adat Jawa hitam, si kecil tampil menggemaskan—mengenal budaya sejak usia satu tahun, dengan caranya sendiri.

Peran living lab tidak berhenti pada pelaksanaan kegiatan. Kepala Laboratorium PG PAUD, Merlina, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa setiap kegiatan selalu diikuti dengan proses lesson learned yang melibatkan dosen, mahasiswa, dan guru. Hasil refleksi tersebut kemudian didokumentasikan sebagai praktik baik (best practice) yang dapat digunakan kembali dalam pembelajaran di kelas.

“Dokumentasi ini menjadi bahan ajar dalam mata kuliah seperti Bermain dan Permainan atau Strategi Pembelajaran PAUD. Bahkan bisa dikembangkan untuk tema lain seperti Hari Pahlawan atau Hari Ibu,” jelasnya.

Keterlibatan mahasiswa menjadi bagian penting dalam ekosistem ini. Mahasiswa tidak hanya hadir sebagai pengamat, tetapi terlibat sejak tahap perencanaan hingga evaluasi—mulai dari menyusun narasi cerita, merancang alat peraga, memandu kegiatan, hingga melakukan observasi perilaku anak.

“Living lab menjadi ruang bagi mahasiswa untuk belajar menjadi guru yang reflektif. Mereka tidak hanya belajar mengajar, tetapi juga belajar memahami anak secara utuh,” kata Bety.

Dari sisi penguatan karakter, Kepala Sekolah Daycare Ananda Mulia, Ratna Pangalima, melihat bahwa nilai-nilai Kartini justru paling efektif ditanamkan melalui aktivitas yang menyenangkan. Anak-anak belajar menyampaikan pendapat, menghargai teman, dan bekerja sama tanpa merasa sedang diajarkan.

“Di akhir kegiatan, ada anak yang berkata, ‘Hari ini aku bisa jalan seperti model pakai kebaya.’ Ada juga yang bilang ingin bermain masak-masakan lagi bersama temannya. Dari situ terlihat bahwa mereka menyerap pengalaman itu dengan cara mereka sendiri,” tuturnya.

Bagi prodi, kegiatan ini sekaligus menjadi ruang evaluasi. Indikator yang digunakan tidak bersifat administratif, melainkan berangkat dari respons alami anak—mulai dari antusiasme, interaksi sosial, hingga cerita yang mereka bawa pulang ke rumah.

“Kalau anak pulang lalu bercerita ke orang tuanya bahwa ia ingin belajar seperti Kartini, itu indikator paling jujur bahwa pembelajaran berhasil,” ujar Bety.

Daycare Ananda Mulia sendiri telah mengantongi Izin Pendirian Nomor 421.2/92/DPMPTSP dan Izin Operasional Nomor 400.3/2711/DISDIKBUD, serta mulai berkembang sebagai rujukan praktik pendidikan anak usia dini berbasis kampus di tingkat lokal. Hal ini tercermin dari adanya permintaan studi tiru dari Institut Teknologi Kalimantan (ITK) yang tengah mengembangkan daycare serupa.

Senyum percaya diri terpancar dari wajah anak-anak di perayaan Hari Kartini—cantik dalam ekspresi, bebas dalam berekspresi.

Di sisi lain, kekuatan utama Daycare Ananda Mulia tidak hanya terletak pada layanan pengasuhan, tetapi pada pendekatannya yang menjadikan setiap momentum pembelajaran—termasuk peringatan hari besar nasional—sebagai sarana pembentukan karakter anak. Setiap kegiatan didokumentasikan dan direfleksikan sebagai praktik baik (best practice) yang kemudian dimanfaatkan sebagai bahan ajar di lingkungan prodi. Guru-guru juga dibiasakan melakukan observasi perkembangan anak secara berkelanjutan, sehingga pendekatan pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan individual.

Meski telah menjadi rujukan di tingkat lokal, pengembangan ke arah regional tengah disiapkan melalui penyusunan panduan kegiatan tematik, penguatan jejaring dengan lembaga PAUD, serta pembukaan ruang berbagi praktik bagi pendidik dari berbagai daerah.

Menutup pernyataannya, Bety menyampaikan refleksi yang melampaui konteks peringatan Hari Kartini itu sendiri. Ia menekankan bahwa pendidikan anak usia dini bukan sekadar membentuk peran sosial, tetapi membangun manusia seutuhnya.

“Kita tidak sedang membesarkan anak laki-laki atau perempuan. Kita sedang membesarkan generasi masa depan,” tutupnya. (YMN)

 

Balikpapan, 8 Oktober 2025 — Pelaksanaan Pasar Pagi Mulia di Bay Park Plaza tidak hanya menghadirkan bazar dan pertunjukan musik, tetapi juga sejumlah kegiatan kreatif bagi masyarakat dan mahasiswa.

Salah satunya adalah Yoga & Sound Bath Class, sesi relaksasi yang dipandu instruktur yoga dan fasilitator sound bath. Kegiatan ini memberi kesempatan bagi pengunjung untuk merasakan suasana tenang di tengah keramaian acara.

Selain itu, Workshop Beads & Craft menjadi ruang bagi peserta untuk belajar membuat perhiasan manik-manik dan aksesori buatan tangan. Kegiatan ini menarik minat pengunjung dari berbagai kalangan.

 

Program Studi PG PAUD Universitas Mulia juga terlibat dengan menggelar Lomba Mewarnai Anak-anak yang diikuti lebih dari 50 peserta dari berbagai sekolah di Balikpapan.

Dari kalangan muda, K-Pop Dance Competition & Coswalk Parade menjadi salah satu bagian acara yang paling ramai dikunjungi. Komunitas pecinta budaya populer dari Balikpapan berpartisipasi aktif menampilkan kreativitas mereka.

Selain itu, kegiatan SMADA.COM Wanted hasil kolaborasi dengan SMA Negeri 2 Balikpapan menampilkan karya siswa SMA/SMK. Kegiatan ini memberi ruang bagi generasi muda untuk memperlihatkan karya mereka di luar lingkungan sekolah.

Keseluruhan kegiatan tersebut menunjukkan keterlibatan aktif mahasiswa dan masyarakat dalam satu ruang kegiatan yang terbuka dan kreatif. (YMN)

Balikpapan 8 Oktober 2025— Penyelenggaraan Pasar Pagi Mulia mendapat dukungan dari Yayasan Airlangga dan Universitas Mulia. Dukungan tersebut menjadi salah satu faktor penting keberhasilan kegiatan yang melibatkan banyak mahasiswa dan komunitas lokal.

Panitia berharap dukungan serupa juga dapat diberikan oleh Rektorat dan tim Marketing kampus pada kegiatan berikutnya. Menurut panitia, Pasar Pagi Mulia memiliki potensi besar dalam memperkuat hubungan eksternal dan memperluas jangkauan promosi Universitas Mulia di masyarakat.

Kegiatan ini memberi pengalaman langsung bagi mahasiswa untuk bekerja dalam tim lintas bidang dan berinteraksi dengan pelaku usaha kecil. UMKM lokal juga mendapatkan manfaat ekonomi dan promosi dari tingginya jumlah pengunjung setiap harinya.

Panitia menyampaikan bahwa tidak ada kendala besar selama kegiatan berlangsung. Semua tahapan, mulai dari persiapan hingga pelaksanaan, berjalan lancar karena dikerjakan bersama oleh panitia dan relawan mahasiswa.

Pasar Pagi Mulia menunjukkan peran kampus dalam membuka ruang keterlibatan mahasiswa dan masyarakat dalam satu kegiatan yang produktif. (YMN)

 

 

Balikpapan 8 Oktober 2025—Pasar Pagi Mulia kembali digelar di Bay Park Plaza Balikpapan. Kegiatan ini diinisiasi oleh Domain Creative Bureau bersama sivitas Universitas Mulia dan telah terselenggara sebanyak empat kali dalam sembilan bulan terakhir. Tiga edisi sebelumnya berlangsung di lingkungan kampus dan satu edisi di Plaza Balikpapan.

Menurut panitia, kegiatan ini berangkat dari gagasan Domain Creative Bureau yang ingin mempertemukan mahasiswa dengan komunitas lokal dan pelaku UMKM. Pasar Pagi Mulia berkembang menjadi kegiatan yang membuka ruang interaksi antara kampus dan masyarakat.

Pada penyelenggaraan kali ini, lebih dari 30 tenant lokal dan sejumlah komunitas seni terlibat. Sepuluh band dari Balikpapan dan Samarinda tampil di panggung utama, di antaranya The Bani, Gaharu, Daffa & The Kuncoros, Leonora, Here to Stay, Justicia, Renaldy Rizky, Paw’s Letter, MARA, dan Murphy Radio.

Murphy Radio menjadi salah satu penampil yang menarik perhatian. Band ini sebelumnya telah melakukan tur di Eropa, dan usai kegiatan ini dijadwalkan tampil di China dan Jepang.

Selain menampilkan musik dan bazar, kegiatan ini juga melibatkan mahasiswa dari berbagai fakultas. Fakultas Ilmu Komputer membuka booth warkom yang menjual camilan buatan mahasiswa. Program Studi PG PAUD mengadakan lomba mewarnai untuk 50 anak, sementara 10 anggota BEM Universitas Mulia membantu operasional kegiatan dari awal hingga selesai. (YMN)