Tana Paser, 10 Mei 2026 — Universitas Mulia membawa agenda pendidikan berbasis kebutuhan daerah ke ruang kebijakan Pemerintah Kabupaten Paser melalui audiensi bersama Wakil Bupati Paser H. Ikhwan Antasari, S.Sos., di ruang kerja Bupati Paser. Pertemuan ini membahas bagaimana pendidikan tinggi dapat dirancang lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat, struktur pembangunan daerah, dan arah penguatan sumber daya manusia Kabupaten Paser.

Dialog antara Pemerintah Kabupaten Paser dan Universitas Mulia berfokus pada sejumlah isu mendasar: perluasan akses pendidikan tinggi, peningkatan kualitas SDM daerah, optimalisasi implementasi program pendidikan gratis, serta pengembangan model pendidikan yang disusun berdasarkan kebutuhan wilayah hingga desa binaan.

Pemerintah Kabupaten Paser memaparkan bahwa pembangunan SDM menjadi salah satu poros utama kebijakan daerah, termasuk melalui program “Ayo Sekolah” dan target “1 Desa 1 Sarjana” yang menjangkau 139 desa dan 5 kelurahan. Bagi Universitas Mulia, arah ini menghadirkan ruang kerja akademik yang jelas: pendidikan tinggi perlu diterjemahkan menjadi sistem yang mampu membaca potensi wilayah, menyiapkan kompetensi spesifik, dan menghasilkan lulusan yang kembali memberi dampak pada daerah asalnya.

Pendekatan tersebut sejalan dengan orientasi Universitas Mulia yang menempatkan pendidikan bukan sekadar proses memperoleh gelar, tetapi sebagai instrumen untuk membangun kapasitas sosial, ekonomi, dan kelembagaan masyarakat. Kebutuhan kawasan pesisir, penguatan desa, tata kelola pemerintahan lokal, hingga pengembangan sektor produktif menjadi ruang di mana perguruan tinggi dapat bekerja lebih relevan melalui pendidikan, riset, dan pengabdian.

Dalam pembahasan tersebut, Pemerintah Kabupaten Paser juga mendorong keterlibatan Universitas Mulia dalam memperluas pemahaman masyarakat terhadap program pendidikan gratis agar akses terhadap perguruan tinggi tidak terhambat persoalan ekonomi. Posisi ini menempatkan kampus bukan hanya sebagai penyelenggara pendidikan, tetapi sebagai bagian dari mekanisme perluasan kesempatan sosial.

Pembahasan tidak berhenti pada mahasiswa. Penguatan kapasitas perangkat desa dan RT melalui pelatihan maupun pendidikan lanjutan turut menjadi perhatian. Bagi Universitas Mulia, konteks ini membuka ruang kontribusi yang lebih luas: kampus dapat berfungsi sebagai penyedia pengetahuan terapan bagi penguatan tata kelola masyarakat dari tingkat lokal.

Pertemuan ini juga membuka kemungkinan penyelenggaraan program perkuliahan di luar kampus utama, pendidikan yang terkoneksi dengan kebutuhan dunia kerja, serta skema kolaborasi yang dirancang berdasarkan kebutuhan riil Kabupaten Paser. Dengan demikian, pendidikan tinggi ditempatkan sebagai bagian dari desain pembangunan, bukan sekadar layanan akademik.

Kehadiran jajaran Universitas Mulia yang terdiri atas Wakil Ketua MBI Drs. Tatang Setyawan, Koordinator Bidang Amrico Yuliasnarto, Anggota Bidang Branding Dr. Pudjiati, S.E., M.M., serta Anggota Bidang Inovasi Titin Yuliana menunjukkan keseriusan institusi dalam membaca kebutuhan daerah sebagai dasar pengembangan kolaborasi.

Melalui audiensi ini, Universitas Mulia tidak sekadar membangun relasi kelembagaan, tetapi menempatkan kapasitas akademiknya dalam percakapan yang lebih substansial: bagaimana pendidikan tinggi dapat disusun selaras dengan kebutuhan daerah, memperluas mobilitas sosial masyarakat, dan berkontribusi langsung pada pembentukan masa depan Kabupaten Paser. (YMN)

 

Balikpapan, 6 Mei 2026—Air bukan lagi sekadar kebutuhan domestik bagi Balikpapan. Di tengah posisinya sebagai penyangga utama kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN), air menjelma menjadi penentu apakah kota ini mampu bertahan sebagai ruang hidup yang layak di bawah tekanan urbanisasi, keterbatasan sumber air baku, ancaman banjir, serta perubahan iklim yang kian nyata. Ketika pertumbuhan kota bergerak lebih cepat daripada kesiapan ekologinya, ketahanan air menjadi persoalan mendasar yang menyangkut keberlanjutan ekonomi, stabilitas lingkungan, dan kualitas hidup generasi mendatang.

Kesadaran atas besarnya taruhan tersebut mendorong Pemerintah Kota Balikpapan menggelar Deep Dive Workshop pembangunan ketahanan air perkotaan pada 5–6 Mei 2026 di Kantor Bappeda Kota Balikpapan. Kegiatan ini difasilitasi oleh Bank Dunia melalui Singapore Water Center dengan melibatkan berbagai unsur pemerintah, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya. Dari unsur perguruan tinggi, hanya tiga universitas yang diundang dan Universitas Mulia menjadi salah satu institusi yang dipercaya untuk turut terlibat dalam forum strategis tersebut.

Delegasi Universitas Mulia terdiri atas Rektor Universitas Mulia Dr. Agung Sakti Pribadi, Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Yusuf Wibisono, M.T.I., serta Dekan Fakultas Teknik Dr. Pascarianto. Kehadiran Universitas Mulia menunjukkan komitmen institusi akademik dalam mendukung pembangunan kota yang berkelanjutan melalui kontribusi pemikiran ilmiah, kolaborasi lintas sektor, dan penguatan peran perguruan tinggi dalam penyelesaian persoalan strategis daerah.

Workshop ini menghadirkan berbagai pakar internasional dari Bank Dunia, Singapore Water Center, National University of Singapore (NUS), serta Singapore’s National Water Agency yang memiliki pengalaman panjang dalam membangun sistem ketahanan air perkotaan modern. Delegasi internasional tersebut terdiri dari Ms. Irma Magdalena Setiono sebagai Senior Water Supply and Sanitation Specialist, Mr. Jean-Martin Brault sebagai Lead Water Specialist and Head of Singapore Water Center, Mr. Georges Comair sebagai Senior Water Specialist, Ms. Joey Jiayun Zou sebagai Program Analyst, serta Mr. Arief Mulya Ramadhian sebagai Governance Specialist. Selain itu turut hadir pula Prof. Khoo Teng Chye sebagai Strategic Advisor for Balikpapan JIT, NUS yang mengikuti kegiatan secara virtual, Mr. Tan Nguan Sen sebagai Technical Advisor for Balikpapan JIT, Singapore’s National Water Agency, dan Prof. Zhou Yimin sebagai Operational Advisor for Balikpapan JIT, NUS.

Kegiatan strategis ini juga dihadiri unsur pemerintah pusat, yaitu Direktur Sungai dan Pantai Mochammad Dian Alma’ruf. Kehadiran perwakilan pemerintah pusat menunjukkan bahwa isu ketahanan air Balikpapan tidak hanya menjadi perhatian pemerintah daerah, tetapi juga menjadi bagian penting dari agenda pembangunan nasional, khususnya dalam konteks penguatan infrastruktur sumber daya air dan keberlanjutan kawasan penyangga Ibu Kota Nusantara.

Kehadiran seluruh narasumber dan pemangku kepentingan tersebut memberikan perspektif yang sangat komprehensif, mulai dari aspek teknis pengelolaan air, pembangunan infrastruktur, tata kelola pemerintahan, integrasi kebijakan perkotaan, hingga strategi penguatan kelembagaan dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan urbanisasi. Workshop berlangsung secara intensif melalui diskusi teknis, kajian kebijakan, simulasi perencanaan, dan analisis studi kasus yang relevan dengan kondisi Balikpapan.

Belajar dari Transformasi Singapura

Dalam workshop tersebut, Singapura dipandang sebagai salah satu contoh terbaik dunia dalam pengelolaan air perkotaan. Meskipun memiliki keterbatasan sumber daya air alami dan luas wilayah yang relatif kecil, negara tersebut berhasil membangun sistem ketahanan air yang terintegrasi dan berkelanjutan. Kondisi ini dinilai relevan dengan Balikpapan yang juga menghadapi keterbatasan sumber air baku sekaligus tekanan pembangunan perkotaan yang terus meningkat.

Singapura memiliki luas daratan sekitar 744 km² dengan jumlah penduduk mencapai 6,1 juta jiwa dan tingkat pendapatan domestik bruto (GDP) sekitar USD 89 ribu. Sementara itu Balikpapan memiliki luas perkotaan sekitar 511 km² dengan karakteristik wilayah yang didominasi 85% kawasan perbukitan dan 15% lahan datar. Jumlah penduduk Balikpapan saat ini mencapai sekitar 757 ribu jiwa dengan GDP sekitar USD 12 ribu. Perbedaan kondisi tersebut menunjukkan bahwa tantangan geografis Balikpapan justru relatif lebih kompleks dalam konteks pengelolaan air dan drainase perkotaan.

Salah satu pelajaran penting yang dibagikan dalam workshop adalah keberhasilan Singapura melakukan pembersihan Sungai Singapura selama periode 1977–1987. Program tersebut berlangsung selama sepuluh tahun dan melibatkan kolaborasi 14 lembaga pemerintah secara terpadu. Pendekatan yang dilakukan tidak hanya fokus pada aspek teknis drainase dan sanitasi, tetapi juga mencakup penataan penggunaan lahan, relokasi permukiman, pengendalian industri, pengelolaan limbah, hingga pengendalian banjir dan sampah. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa ketahanan air bukan sekadar persoalan infrastruktur, melainkan bagian dari transformasi tata kelola kota secara menyeluruh.

Selain itu, Singapura juga memperkenalkan konsep Active, Beautiful, Clean Waters (ABC Waters) yang mengubah fungsi kawasan air menjadi ruang publik yang nyaman, sehat, dan produktif. Melalui pendekatan ini, embung, saluran air, dan kawasan retensi tidak hanya dipandang sebagai infrastruktur pengendali banjir, tetapi juga sebagai ruang sosial, kawasan hijau, sarana rekreasi, serta bagian dari identitas kota modern yang berkelanjutan.

Alkaff Lake sebagai Inspirasi Pengembangan Kota

Salah satu studi kasus yang banyak dibahas dalam workshop adalah pembangunan Alkaff Lake di kawasan Bidadari Estate Singapura. Danau retensi ini dirancang bukan hanya untuk mengendalikan banjir, tetapi juga menjadi ruang publik yang terintegrasi dengan taman kota dan kawasan hunian.

Alkaff Lake memiliki kapasitas tampung sekitar 40.000 meter kubik atau setara dengan 16 kolam renang Olimpiade. Pada kondisi normal, kawasan ini berfungsi sebagai ruang terbuka hijau dan area rekreasi masyarakat. Namun ketika hujan deras terjadi, danau akan berfungsi sebagai kolam retensi yang menampung limpasan air hujan dari wilayah sekitarnya. Sistem tersebut dirancang secara cerdas dengan memanfaatkan gravitasi karena posisi danau berada pada titik terendah kawasan.

Yang menarik, infrastruktur tersebut juga dilengkapi teknologi sensor ketinggian air, sistem peringatan otomatis, aerator untuk menjaga kualitas air, hingga Gross Pollutant Traps (GPT) untuk menangkap sampah dan polutan sebelum masuk ke danau. Pendekatan ini menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur air modern tidak hanya fokus pada aspek teknis, tetapi juga pada aspek keselamatan publik, kualitas lingkungan, estetika kota, dan keberlanjutan ekologi.

Konsep tersebut dinilai sangat relevan bagi Balikpapan yang saat ini mulai mengembangkan beberapa kawasan retensi seperti Wonorejo Retention Basin dan Ampal Hulu Retention Basin. Pemerintah Kota Balikpapan bahkan telah menyiapkan Detailed Engineering Design serta dokumen lingkungan untuk mendukung pengembangan kawasan tersebut sebagai bagian dari strategi pengendalian banjir dan penguatan sumber air baku kota.

Komitmen Balikpapan terhadap Kota Berkelanjutan

Dalam workshop juga dipaparkan berbagai komitmen Pemerintah Kota Balikpapan dalam menjaga keberlanjutan lingkungan. Kota Balikpapan selama ini dikenal memiliki komitmen kuat terhadap pelestarian kawasan lindung, termasuk Hutan Lindung Sungai Wain, Daerah Aliran Sungai Manggar, kawasan mangrove, hingga koridor migrasi satwa liar.

Salah satu kebijakan yang mendapat perhatian peserta workshop adalah komitmen Balikpapan untuk tidak membuka aktivitas pertambangan batu bara di wilayah kota meskipun lebih dari 60% wilayahnya memiliki potensi cadangan batu bara. Kebijakan tersebut menunjukkan keberanian pemerintah daerah dalam menempatkan keberlanjutan lingkungan sebagai prioritas utama pembangunan jangka panjang.

Visi pembangunan Kota Balikpapan menuju tahun 2045 sebagai “Balikpapan Nyaman untuk Semua” dengan semangat kota global yang berkelanjutan juga memperlihatkan arah pembangunan yang sejalan dengan konsep ketahanan air modern. Dalam konteks ini, pengelolaan air tidak lagi dipandang secara sektoral, tetapi menjadi bagian dari pembangunan kota yang terintegrasi dengan transportasi publik, ruang terbuka hijau, sanitasi, pariwisata, hingga pertumbuhan ekonomi baru.

Peran Strategis Universitas Mulia

Sebagai perguruan tinggi yang berada di Kota Balikpapan, Universitas Mulia menyadari bahwa tantangan ketahanan air merupakan persoalan multidisiplin yang membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, masyarakat, dan sektor industri. Oleh karena itu, keterlibatan Universitas Mulia dalam workshop ini menjadi bagian dari komitmen institusi untuk turut berkontribusi dalam pembangunan daerah berbasis ilmu pengetahuan dan inovasi.

Dalam forum diskusi kelompok, delegasi Universitas Mulia berperan aktif bersama berbagai unsur lainnya untuk mengkaji tantangan yang dihadapi Balikpapan serta merumuskan berbagai alternatif solusi yang dapat diterapkan sesuai karakteristik lokal kota. Diskusi mencakup berbagai aspek seperti tata kelola air, penguatan kelembagaan, pemanfaatan teknologi, integrasi dengan pembangunan IKN, pengendalian banjir, hingga pengembangan ruang kota yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim.

Kehadiran Universitas Mulia dalam forum ini memperlihatkan bahwa perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam menghubungkan pengetahuan ilmiah dengan kebutuhan nyata pembangunan kota. Kampus merupakan pusat pengembangan pengetahuan, penelitian, dan pengabdian masyarakat yang memiliki tanggung jawab moral maupun intelektual untuk turut menjawab persoalan nyata kota. Di tengah tantangan perkotaan yang kian kompleks—mulai dari krisis air, ancaman banjir, hingga tekanan pembangunan—sinergi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat menjadi landasan penting dalam merancang masa depan Balikpapan yang tangguh, layak huni, dan berkelanjutan.

Dalam konteks itulah kampus tidak dapat berhenti sebagai menara akademik yang berjarak dari realitas sosial. Perguruan tinggi dituntut hadir sebagai ruang pemikiran yang aktif, kritis, dan solutif; bukan hanya membaca persoalan, tetapi juga ikut menyusun arah penyelesaiannya. Ketika kota berhadapan dengan ancaman ekologis dan kebutuhan pembangunan yang terus meningkat, kontribusi akademik menjadi bagian penting dalam memastikan kebijakan tidak kehilangan pijakan ilmiah dan keberpihakan pada kepentingan publik.

Pada akhirnya, ketahanan air tidak semata berbicara tentang bendungan, drainase, atau kolam retensi sebagai infrastruktur fisik. Lebih jauh, ia menyangkut hak dasar warga atas lingkungan yang sehat, keberlangsungan sebuah kota, serta kepastian bahwa generasi mendatang tetap memiliki ruang hidup yang bermartabat. Di titik inilah keterlibatan Universitas Mulia memperoleh arti strategisnya: bukan sekadar hadir dalam forum, melainkan ikut mengambil bagian dalam ikhtiar kolektif menjaga Balikpapan agar tetap memiliki masa depan. (YMN)

 

Balikpapan — Universitas Mulia menerima kunjungan silaturahmi dari tim Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) dalam rangka inisiasi kerja sama pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Kegiatan ini juga menjadi momentum untuk memperkenalkan program internasional Doctorate in Business dan Master of Business Administration (MBA) yang dikelola oleh FEB UGM.

Kunjungan tersebut dihadiri langsung oleh Prof. Nurul Indarti, S.E., Sivilokonom, Cand.Merc., Ph.D., selaku Ketua Departemen Manajemen FEB UGM; Prof. Gugup Kismono, Ph.D., selaku Direktur MBA FEB UGM Kampus Jakarta; Gumilang Aryo Sahadewo, Ph.D.; serta Sari Sitalaksmi, Ph.D., didampingi jajaran tim dari FEB UGM.

Kunjungan FEB UGM Ke Universitas Mulia

para Pejabat FEB UGM sebelah kiri , Para Pejabat Universitas Mulia Sebelah kanan

Kehadiran rombongan disambut hangat oleh Wakil Rektor Bidang Sumber Daya dan Kerja Sama Universitas Mulia, Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I., serta Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Sumardi, S.Kom., M.Kom. Turut hadir pula Dekan Fakultas Hukum ibu Budiarsih, S.H., M.H., Ph.D , Kaprodi Akutansi bapak Eko Edy Susanto, S.E., M.AK, Kepala Bagian Kerja Sama dan Humas Universitas Mulia Wahyu Nur Alimyaningtias, S.Kom., M.Kom., beserta para dosen dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mulia.

Dalam suasana penuh keakraban, kedua institusi mendiskusikan berbagai peluang kolaborasi strategis, khususnya dalam penguatan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang mencakup pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Selain itu, kerja sama juga diarahkan untuk mendukung peningkatan kapasitas dosen, pengembangan kurikulum, riset kolaboratif, serta penyelenggaraan kegiatan akademik bersama.

Prof. Nurul Indarti, S.E., Sivilokonom, Cand.Merc., Ph.D.(kiri), Sumardi, S.Kom., M.Kom (kanan)

Pada kesempatan tersebut, Prof. Nurul Indarti dan Prof. Gugup Kismono  memperkenalkan program internasional Doctorate in Business dan MBA FEB UGM yang dirancang untuk mencetak pemimpin dan akademisi bisnis berwawasan global. Program ini menawarkan pendekatan pembelajaran yang berorientasi pada riset, inovasi, serta jejaring internasional yang kuat.

Gumilang Aryo Sahadewo, Ph.D.(kiri), Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I.(kanan)

Wakil Rektor Bidang Sumber Daya dan Kerja Sama Universitas Mulia, Yusuf Wibisono, menyampaikan apresiasi atas kunjungan FEB UGM dan menyambut baik inisiatif kerja sama ini.

“Kami sangat mengapresiasi kunjungan dari tim FEB UGM. Pertemuan ini membuka peluang kolaborasi yang sangat strategis, baik dalam pengembangan sumber daya manusia, peningkatan kualitas akademik, maupun perluasan jejaring internasional Universitas Mulia,” ujarnya.

Prof. Gugup Kismono, Ph.D.(kiri) dan Budiarsih, S.H., M.H., Ph.D. (kanan)

Senada dengan itu, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Sumardi, menilai bahwa kerja sama dengan FEB UGM akan memberikan manfaat besar bagi mahasiswa dan alumni Universitas Mulia, khususnya dalam memperluas akses terhadap pendidikan berkualitas dan program-program unggulan bertaraf internasional.

Sari Sitalaksmi, Ph.D.(kiri), Wahyu Nur Alimyaningtias, S.Kom., M.Kom. (kanan)

Kepala Bagian Kerja Sama dan Humas Universitas Mulia Wahyu Nur Alimyaningtias, S.Kom., M.Kom., akan menindaklanjuti hasil pertemuan ini melalui komunikasi yang lebih teknis dengan pihak FEB UGM guna mematangkan rencana kerja sama dan menyusun program-program implementatif yang dapat segera direalisasikan.

Melalui pertemuan ini, Universitas Mulia berharap hubungan baik dengan FEB UGM dapat ditindaklanjuti ke dalam program-program konkret yang memberikan dampak nyata bagi peningkatan mutu pendidikan tinggi, khususnya di bidang ekonomi dan bisnis.

Kunjungan ini menegaskan komitmen Universitas Mulia untuk terus memperluas jejaring kerja sama dengan perguruan tinggi terkemuka di Indonesia guna mendukung terwujudnya visi sebagai universitas unggul, inovatif, dan berdaya saing global. WN

Balikpapan, 11 Mei 2026—Pelaksanaan Walk-in Interview Batch 2 Career Development Center (CDC) Universitas Mulia bersama SNS sebagai distributor resmi Garudafood memperlihatkan perluasan orientasi kampus dalam membaca masa depan lulusannya. Setelah sebelumnya bergerak di sektor perbankan melalui BBAP Bank BRI, Universitas Mulia kini mulai menempatkan mahasiswa dan alumni pada spektrum industri yang lebih beragam—mulai dari distribusi hingga manufaktur—sebagai respons terhadap realitas pasar kerja yang tidak sesederhana satu jalur profesi.

Perluasan ini penting, terutama ketika preferensi kerja banyak lulusan masih terkonsentrasi pada sektor-sektor tertentu yang dianggap paling prestisius, seperti pertambangan. Padahal, struktur ekonomi nasional bertumpu pada banyak lini usaha lain yang menawarkan jenjang karier, stabilitas bisnis, dan peluang profesional yang sama seriusnya. Dalam konteks tersebut, CDC Universitas Mulia sedang berupaya menggeser cara pandang lulusan: dari orientasi sektor tunggal menuju pembacaan karier yang lebih luas dan rasional.

Linda Fauziah, Kepala Bagian Career Development Center Universitas Mulia, menempatkan fase awal lembaganya pada pembukaan jejaring industri seluas mungkin. Mengingat usia CDC yang masih sangat muda, prioritas pertama diarahkan pada penguatan relasi dengan berbagai perusahaan agar alumni memiliki titik masuk yang lebih banyak ke pasar kerja. Setelah fondasi akses tersebut terbentuk, agenda berikutnya akan bergerak pada pengembangan kompetensi melalui pelatihan dan program magang yang lebih terstruktur.

Kerangka ini memperlihatkan bahwa CDC tidak dibangun sebagai pusat distribusi informasi lowongan semata. Yang sedang dirancang adalah jalur konektivitas—sebuah mekanisme yang mempertemukan kualitas lulusan dengan kebutuhan tenaga kerja secara lebih terukur. Artinya, akses kerja dipahami bukan sebagai hasil kebetulan individual, melainkan sebagai bagian dari desain kelembagaan.

Walk-in interview dalam konteks ini memperoleh makna yang lebih substantif. Ia bukan hanya ruang seleksi, tetapi juga medium representasi. Bagi Universitas Mulia, memperkenalkan profil lulusan kepada dunia usaha merupakan pekerjaan strategis, terutama ketika pengenalan publik terhadap kualitas lulusan masih memerlukan penguatan. Karena itu, kehadiran industri di kampus sekaligus menjadi ruang negosiasi reputasi—bahwa lulusan Universitas Mulia hadir dengan kapasitas yang layak dibaca oleh pasar profesional.

CDC juga memperluas fungsi tersebut melalui platform digital, termasuk website dan media sosial, yang digunakan sebagai kanal edukasi karier. Informasi yang dibangun tidak berhenti pada pengumuman rekrutmen, tetapi diarahkan pada pembentukan literasi profesional: bagaimana mahasiswa membaca peluang, memahami kebutuhan industri, dan menyiapkan diri lebih awal sebelum memasuki proses seleksi.

Dr. Linda Fauziah, Kepala Career Development Center Universitas Mulia, bersama tim SNS distributor resmi Garudafood dalam pelaksanaan Walk-in Interview Batch 2 di Universitas Mulia, menandai perluasan jejaring kampus ke sektor distribusi dan manufaktur nasional.

Pada level yang lebih mendasar, Linda menegaskan bahwa kualitas akhir lulusan tidak bertumpu pada CDC semata. Program studi, fakultas, dan rektorat tetap menjadi pusat pembentukan kompetensi akademik. CDC hadir sebagai struktur pendukung yang memperkuat daya tembus lulusan setelah keluar dari sistem pembelajaran formal. Dengan posisi ini, CDC bekerja pada wilayah transisi—menghubungkan hasil pendidikan dengan arena profesional yang sesungguhnya.

Cara pandang semacam ini menempatkan Career Development Center bukan sebagai unit administratif pelengkap, melainkan sebagai instrumen institusional yang membaca satu pertanyaan penting: ke mana lulusan bergerak setelah wisuda? Dari pertanyaan itulah CDC Universitas Mulia mulai menyusun perannya—membuka akses, memperluas horizon sektor, dan membangun pengenalan industri terhadap profil lulusan secara lebih sistematis.

Melalui Walk-in Interview Batch 2 bersama SNS–Garudafood, Universitas Mulia sedang menegaskan bahwa masa depan lulusan tidak semestinya dibatasi oleh sektor yang sedang populer. Yang dibutuhkan adalah keberanian institusi untuk memperluas peta, membaca potensi lintas industri, lalu memastikan lulusan memiliki lebih banyak pintu masuk menuju dunia profesional. Pada titik itulah kampus tidak hanya menghasilkan sarjana, tetapi juga menata kemungkinan. (YMN)

Balikpapan, 8 Mei 2026 – Kerja sama Universitas Mulia dengan lembaga pemasyarakatan dan pembimbingan kemasyarakatan di Kalimantan Timur diarahkan untuk menghubungkan proses pendidikan hukum dengan perubahan cara pandang terhadap pemidanaan, dari pendekatan penghukuman menuju pemulihan sosial.

Dekan Fakultas Hukum Universitas Mulia, Budiarsih, menyebut perubahan tersebut tidak terlepas dari pergeseran sistem hukum pidana nasional yang mulai meninggalkan warisan kolonial dan bergerak menuju model peradilan yang lebih adaptif dan berorientasi pada keadilan korektif.

Ia menjelaskan bahwa implementasi Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) baru mencerminkan arah kebijakan negara dalam merespons perkembangan sosial serta tuntutan perlindungan hak asasi manusia.

“Reformasi hukum pidana hari ini menunjukkan pergeseran menuju sistem yang lebih humanis dan berorientasi pada keadilan korektif atau restorative justice,” ujarnya.

Budiarsih menyoroti bahwa salah satu persoalan utama dalam sistem pemasyarakatan adalah kecenderungan pendekatan yang masih bertumpu pada aspek legalistik, sementara dimensi kemanusiaan belum sepenuhnya terintegrasi secara kuat.

Menurutnya, pembinaan warga binaan tidak dapat berdiri sendiri tanpa keterlibatan akademisi dan masyarakat dalam satu ekosistem yang saling terhubung.

“Pemasyarakatan yang humanis hanya bisa berjalan jika ada sinergi antara petugas, akademisi, dan masyarakat. Di dalamnya ada kebutuhan untuk memahami manusia yang kerap dibebani stigma,” katanya.

Dekan Fakultas Hukum Budiarsih menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) sebagai bagian dari penguatan kolaborasi akademik di bidang hukum dan pemasyarakatan.

Dalam kerja sama ini, Fakultas Hukum juga menempatkan mahasiswa sebagai bagian dari proses pembelajaran berbasis pengalaman langsung, khususnya dalam memahami praktik keadilan restoratif.

Ia menjelaskan bahwa keadilan restoratif memandang tindak pidana bukan hanya sebagai pelanggaran terhadap negara, tetapi juga sebagai kerusakan hubungan sosial yang perlu dipulihkan.

“Fokusnya bukan sekadar pada hukuman, tetapi pada pemulihan hubungan antara pelaku, korban, dan lingkungan sosial yang terdampak,” jelasnya.

Melalui keterlibatan di lembaga pemasyarakatan dan balai pemasyarakatan, mahasiswa diharapkan dapat melihat langsung bagaimana konsep tersebut diterapkan dalam proses pembinaan warga binaan maupun klien pemasyarakatan.

Selain aspek pembelajaran, Fakultas Hukum juga menekankan pentingnya kajian akademik mengenai hak-hak warga binaan dan reformasi sistem pemidanaan.

Budiarsih menilai kajian tersebut diperlukan sebagai dasar penyusunan rekomendasi akademik bagi lembaga pemasyarakatan agar pelaksanaan pembinaan tetap berada dalam koridor hak asasi manusia dan ketentuan hukum yang berlaku.

Rektor Universitas Mulia Dr. Agung Sakti Pribadi, S.H., M. H., menandatangani nota kesepahaman (MoU) bersama mitra kerja sama sebagai langkah awal penguatan sinergi kelembagaan.

Ia merujuk pada prinsip bahwa warga binaan tetap memiliki hak untuk diperlakukan secara manusiawi, meskipun sedang menjalani pembatasan kebebasan.

“Warga binaan tetap harus diposisikan sebagai manusia yang memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri dan kembali ke masyarakat,” ujarnya.

Budiarsih juga menekankan pentingnya keseimbangan antara penegakan hukum dan penghormatan terhadap nilai kemanusiaan dalam sistem peradilan pidana.

Menurutnya, kejahatan tidak dapat dipandang sebagai persoalan yang dapat dihapus sepenuhnya, tetapi harus dikelola melalui sistem yang mampu menjaga ketertiban sekaligus keadilan sosial.

“Penegakan hukum harus tetap berjalan, tetapi tidak boleh mengabaikan dimensi kemanusiaan yang menjadi dasar sistem hukum berbasis Pancasila dan hak asasi manusia,” tutupnya. (YMN)

Balikpapan, 5 Mei 2026– Universitas Mulia mulai menyiapkan sejumlah program pelatihan keterampilan dan pemberdayaan produktif bagi warga binaan melalui kerja sama antara Fakultas Teknik dan Deddy Eduar Eka Saputra selaku Kepala Bapas Kelas I Balikpapan.

Program tersebut menjadi bagian dari penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Fakultas Teknik Universitas Mulia dan pihak pemasyarakatan dalam rangka penguatan pembinaan berbasis pendidikan dan keterampilan.

Dekan Fakultas Teknik Dr. Pascarianto Putra Bura, S.T., M.Eng. mengatakan kontribusi Fakultas Teknik akan dijalankan melalui tiga program studi, yakni Teknik Industri, Teknik Sipil, serta Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian.

Menurutnya, masing-masing program studi memiliki ruang kontribusi yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan minat warga binaan.

“Teknik Industri dapat membantu dalam pelatihan manajemen kerja, kewirausahaan, dan peningkatan keterampilan produktif. Teknik Sipil dapat mendukung pelatihan keterampilan konstruksi dan perawatan fasilitas umum. Sementara Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian dapat memberikan pelatihan pengolahan pangan dan pemanfaatan hasil pertanian yang bernilai ekonomi,” ujarnya.

Ia menilai peluang pengembangan teknologi tepat guna dan pelatihan keterampilan teknis di lingkungan pemasyarakatan cukup besar karena setiap warga binaan memiliki kemampuan dan latar belakang yang berbeda.

Karena itu, Fakultas Teknik ingin menghadirkan program yang tidak hanya bersifat teoritis, tetapi dapat menjadi ruang bagi warga binaan untuk mengembangkan keterampilan yang berguna setelah menyelesaikan masa pembinaan.

“Pelatihan yang diberikan diharapkan dapat menjadi wadah bagi warga binaan untuk mengembangkan ide, keterampilan, dan soft skill yang mereka miliki sehingga dapat diterapkan dalam kegiatan sosial maupun kehidupan setelah masa pembinaan,” katanya.

Selain berfokus pada pembinaan warga binaan, kerja sama tersebut juga membuka ruang pembelajaran lapangan bagi mahasiswa Fakultas Teknik.

Pascarianto menyebut lingkungan pemasyarakatan dapat menjadi ruang belajar kontekstual bagi mahasiswa untuk memahami persoalan sosial sekaligus menerapkan ilmu yang dipelajari di kampus.

Mahasiswa nantinya dapat terlibat dalam praktikum lapangan, pendampingan program, hingga penyusunan solusi berbasis rekayasa sesuai bidang keilmuan masing-masing program studi.

“Mahasiswa dapat belajar langsung memahami kondisi masyarakat dan kebutuhan warga binaan melalui pelatihan keterampilan maupun pendampingan program sesuai bidangnya,” jelasnya.

Ia juga menekankan bahwa pendekatan teknologi dan infrastruktur memiliki peran penting dalam mendukung proses pembinaan karena dapat membantu warga binaan mengembangkan kemampuan produktif dan meningkatkan kesiapan sosial mereka.

Menurutnya, dukungan fasilitas, pelatihan, dan penerapan teknologi sederhana yang sesuai kebutuhan dapat membantu warga binaan menjadi lebih mandiri dan siap kembali ke tengah masyarakat.

Di akhir wawancara, Pascarianto berharap kolaborasi lintas sektor tersebut dapat membuka ruang kontribusi nyata perguruan tinggi dalam mendukung pengembangan kemampuan teknis maupun soft skill warga binaan.

“Kami berharap program ini dapat membantu warga binaan memiliki keterampilan yang bermanfaat, meningkatkan rasa percaya diri, serta lebih siap menghadapi kehidupan sosial dan dunia kerja setelah menyelesaikan masa pembinaan,” tutupnya. (YMN)

 

Balikpapan, 5 Mei 2026 – Universitas Mulia resmi menjalin kerja sama dengan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kalimantan Timur melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) yang dirangkaikan dengan penandatanganan perjanjian kerja sama (PKS) oleh lima fakultas di lingkungan Universitas Mulia.

Dalam kesempatan tersebut, para dekan di lingkungan Universitas Mulia juga menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) bersama Kepala Bapas Kelas I Balikpapan, Deddy Eduar Eka Saputra, guna memperkuat implementasi program pendidikan, pemberdayaan, dan pengabdian masyarakat di lingkungan pemasyarakatan.

Kolaborasi tersebut menjadi langkah strategis dalam memperkuat peran perguruan tinggi tidak hanya sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai mitra transformasi sosial dan kemanusiaan di tengah masyarakat.

Adapun lima fakultas yang turut menandatangani PKS meliputi Fakultas Ilmu Komputer, Fakultas Hukum, Fakultas Humaniora dan Kesehatan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, serta Fakultas Teknik.

Atas arahan Rektor Universitas Mulia, Dr. Agung Sakti Pribadi, S.H., M.H., penjelasan terkait arah dan substansi kerja sama disampaikan oleh Kepala Bagian Kerja Sama Universitas Mulia, Wahyu Nur Alimyaningtias, S.Kom., M.Kom.

Wahyu Nur Alimyaningtias, S.Kom., M.Kom., selaku Kepala Bagian Kerja Sama Universitas Mulia berfoto bersama Jusmianti dan tim Balai Pemasyarakatan usai kegiatan penandatanganan kerja sama.

Wahyu menjelaskan bahwa kerja sama tersebut memiliki urgensi strategis karena tantangan pembangunan sumber daya manusia saat ini tidak hanya berada pada ruang pendidikan formal, tetapi juga menyentuh kelompok masyarakat yang membutuhkan reintegrasi sosial.

“Lembaga pemasyarakatan merupakan bagian penting dalam proses pembinaan manusia agar mampu kembali produktif di tengah masyarakat. Kampus hadir bukan hanya sebagai pusat ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai mitra transformasi sosial yang dapat mendukung peningkatan kualitas SDM, literasi, keterampilan, kesehatan mental, hingga penguatan program pemberdayaan warga binaan secara berkelanjutan,” ujarnya.

Menurutnya, Universitas Mulia memandang lembaga pemasyarakatan bukan sekadar institusi hukum, melainkan ruang rehabilitasi sosial dan kemanusiaan yang memiliki keterkaitan erat dengan nilai-nilai pendidikan tinggi modern.

Rektor Universitas Mulia Dr. Agung Sakti Pribadi, S.H.,M.H., Wali Kota Balikpapan Rahmad Mas’ud, S.E.,M.E., Kepala Bapas, dan jajaran berfoto bersama usai penandatanganan MoU.

“Pemasyarakatan memiliki fungsi rehabilitatif dan edukatif yang sangat relevan dengan nilai pendidikan. Kampus melihat warga binaan sebagai individu yang memiliki potensi untuk berkembang, memperoleh kesempatan kedua, dan dipersiapkan kembali menjadi bagian produktif dalam masyarakat,” katanya.

Ia menegaskan, Universitas Mulia berkomitmen agar kerja sama tersebut tidak berhenti pada seremoni administratif semata. Implementasi program akan diarahkan pada kegiatan konkret, terukur, dan berkelanjutan yang menyentuh kebutuhan langsung di lingkungan pemasyarakatan.

Program tersebut meliputi pelatihan keterampilan, pendampingan psikososial, penelitian terapan, kuliah praktisi, penguatan literasi digital, literasi bantuan hukum, hingga berbagai bentuk pengabdian masyarakat berbasis problem solving.

“Setiap program akan memiliki target capaian dan evaluasi berkala, serta melibatkan dosen dan mahasiswa agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat pemasyarakatan,” jelasnya.

Keterlibatan lima fakultas di lingkungan Universitas Mulia juga diharapkan mampu menghadirkan pendekatan multidisipliner dalam mendukung penguatan sistem pemasyarakatan di Kalimantan Timur.

Fakultas Ilmu Komputer akan berkontribusi dalam penguatan literasi dan teknologi digital, Fakultas Hukum pada aspek bantuan hukum dan edukasi hukum, Fakultas Humaniora dan Kesehatan melalui pendekatan psikososial dan kesehatan masyarakat, Fakultas Ekonomi dan Bisnis dalam pemberdayaan kewirausahaan, serta Fakultas Teknik melalui pengembangan keterampilan dan inovasi teknologi tepat guna.

Para dekan di lingkungan Universitas Mulia bersama jajaran pemasyarakatan berfoto bersama usai penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS).

Lebih jauh, Wahyu menyebut kerja sama tersebut sangat relevan dengan implementasi tridarma perguruan tinggi, khususnya dalam membangun pembelajaran kontekstual berbasis realitas sosial.

Mahasiswa nantinya berpeluang terlibat dalam program magang, penelitian lapangan, pendampingan masyarakat, hingga berbagai kegiatan sosial-edukatif di lingkungan pemasyarakatan.

“Pengalaman tersebut penting untuk membentuk kompetensi profesional sekaligus sensitivitas sosial mahasiswa, sehingga lulusan tidak hanya unggul secara akademik tetapi juga memiliki empati dan kemampuan menyelesaikan persoalan nyata di masyarakat,” ungkapnya.

Universitas Mulia juga telah menyiapkan indikator keberhasilan kerja sama yang mencakup aspek akademik dan sosial, mulai dari jumlah program implementatif, keterlibatan dosen dan mahasiswa, luaran penelitian, hingga peningkatan kapasitas dan keterampilan warga binaan.

Di akhir keterangannya, Wahyu menegaskan bahwa pendekatan humanis menjadi prinsip utama dalam seluruh pelaksanaan program kerja sama tersebut.

“Setiap program akan dirancang dengan prinsip inklusif, edukatif, dan humanis, sehingga kerja sama ini tidak hanya menghasilkan capaian administratif, tetapi juga memberikan dampak sosial yang bermakna bagi kehidupan manusia dan masyarakat secara luas,” tutupnya. (YMN)

Balikpapan, 13 Februari 2026 – Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika (HimaTI) Universitas Mulia melaksanakan kegiatan sosialisasi dan pelatihan keamanan siber bertajuk Guardians of the Cyber: Menempa Generasi Tangguh Keamanan Informasi pada 9 Desember 2025 di Laboratorium Komputer SMK Negeri 3 Balikpapan. Kegiatan ini merupakan bagian dari penguatan peran institusi dalam membangun literasi keamanan informasi di tingkat pendidikan menengah.

Pelatihan diselenggarakan sebagai tindak lanjut arahan akademik Program Studi Teknologi Informasi Universitas Mulia untuk memperluas edukasi keamanan siber kepada pelajar. Inisiatif ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya risiko kejahatan siber serta pentingnya pemahaman sejak dini mengenai perlindungan data pribadi dan mekanisme serangan digital yang umum terjadi.

Kegiatan terbagi dalam dua sesi utama yang diikuti siswa jurusan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ). Sesi awal memuat pemaparan konsep dasar keamanan informasi, klasifikasi ancaman siber, serta pola serangan yang kerap dimanfaatkan peretas. Materi difokuskan pada pemahaman struktural mengenai bagaimana sistem dapat dieksploitasi dan bagaimana mitigasinya dirancang.

Bagian inti kegiatan berlangsung dalam bentuk simulasi praktik di lingkungan virtual. Dengan memanfaatkan perangkat lunak VirtualBox, peserta melakukan skenario terkontrol menggunakan sistem operasi Kali Linux untuk menguji kerentanan mesin berbasis Windows 7. Dalam simulasi tersebut, siswa mengamati bagaimana sebuah file backdoor dapat membuka akses pemantauan sistem dari jarak jauh. Pendekatan ini dirancang agar peserta tidak hanya memahami konsep serangan, tetapi juga menyadari konsekuensi teknis dan etis dari penyalahgunaan akses sistem.

Meskipun terdapat kendala teknis pada tahap instalasi perangkat lunak, dinamika pembelajaran tetap terjaga. Siswa menunjukkan kemampuan kolaboratif dengan saling membantu menyelesaikan tahapan konfigurasi hingga simulasi berjalan sesuai skenario. Proses ini sekaligus memperlihatkan pentingnya kerja tim dalam praktik keamanan siber.

Melalui kegiatan ini, Universitas Mulia mempertegas kontribusinya dalam pengembangan kapasitas generasi muda di bidang teknologi informasi. Pelatihan keamanan siber tidak hanya membekali keterampilan teknis, tetapi juga menanamkan kesadaran kritis terhadap tanggung jawab penggunaan teknologi di ruang digital.

Kolaborasi antara Universitas Mulia dan SMK Negeri 3 Balikpapan diharapkan dapat berlanjut dalam bentuk program edukasi berkelanjutan, sehingga kesiapan siswa menghadapi tantangan keamanan informasi semakin terstruktur dan berbasis kompetensi. (YMN)

Balikpapan, 8 Desember 2025— Di tengah situasi kebencanaan di Sumatra, keterlibatan mahasiswa Universitas Mulia melalui UKM LDK Al-Izzah kembali menunjukkan peran kampus sebagai ruang filantropi yang aktif. Selama dua hari penggalangan dana, tim mahasiswa menyisir kelas pagi dan kelas malam dengan pola kerja terorganisasi: koordinasi izin dosen, pembagian tim dokumentasi, dan pemanfaatan QRIS untuk memudahkan partisipasi.

Hasilnya, kontribusi warga kampus terkumpul dalam bentuk donasi tunai sebesar Rp5.032.000 dan transaksi QRIS sebesar Rp2.707.000. Total dana Rp7.739.000 kemudian disalurkan melalui Human Initiative. Sepanjang kegiatan, mahasiswa melaporkan dukungan yang konsisten dari dosen, karyawan, mahasiswa, hingga pedagang kantin. Pada beberapa kesempatan, penyumbang secara spontan memberikan uang dalam jumlah besar, sedangkan yang tidak membawa uang tunai memanfaatkan QRIS dengan ekspresi lega karena tetap dapat berkontribusi.

Rektor UM, Prof. Ahsin, bersama Kabag Kerjasama Wahyu Nur Alimyaningtias dan Aktivis UKM LDK Al-Izzah menerima kunjungan Fadhilur Rohim, Kepala Divisi Retail & Digital Partnership Human Initiative.

Pada Senin pagi, 8 Desember 2025, ruang Rektor di gedung White Campus menjadi titik temu antara Universitas Mulia dan Human Initiative. Rektor Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si., menyerahkan secara langsung dana hasil penggalangan mahasiswa untuk korban bencana di Sumatra. Penyerahan dilakukan tanpa seremoni berlebihan, namun menunjukkan adanya kepahaman bersama bahwa dukungan nyata seringkali dimulai dari ruang-ruang kecil di dalam kampus. Hadir dalam pertemuan tersebut Wakil Rektor Bidang Akademik, Wisnu Hera Pamungkas, S.T.P., M.Eng., Kabag Kerjasama Universitas Mulia, Wahyu Nur Alimyaningtias, S.Kom., M.Kom. dan Sejumlah Aktivis Dakwah UKM LDK Al-Izzah UM serta  perwakilan lembaga kemanusiaan Human Initiative. Pada kesempatan yang sama, Rektor UM menerima sertifikat penghargaan dari Human Initiative.

Dari pihak Human Initiative, Kepala Divisi Retail & Digital Partnership Fadhilur Rohim menjelaskan bahwa kolaborasi dengan lembaga pendidikan tidak hanya dimaknai sebagai penggalangan dana sesaat, tetapi sebagai bagian dari ekosistem respons kebencanaan yang lebih luas. Kampus disebut sebagai pusat energi anak muda yang memiliki kepedulian sosial tinggi, mampu menggerakkan relawan dan mempercepat penyebaran informasi di saat krisis.

Rektor Universitas Mulia menyerahkan dana hasil penggalangan mahasiswa untuk korban bencana Sumatra kepada perwakilan Human Initiative.

Dalam pandangan Human Initiative, strategi bersama kampus berjalan pada beberapa bidang: kapasitas intelektual untuk edukasi kebencanaan, penggunaan jaringan digital seperti grup WhatsApp dan poster QRIS, serta kecepatan respons ketika bencana berskala besar terjadi. Kolaborasi ini dianggap investasi jangka panjang untuk membentuk generasi muda yang siap siaga dan berdaya dalam kerja kemanusiaan.

Indikator keberhasilan penyaluran bantuan dirumuskan dalam tiga aspek prioritas: ketepatan sasaran kepada kelompok rentan, kecepatan distribusi kebutuhan dasar, serta dampak jangka menengah melalui pemulihan fasilitas umum dan bantuan psikososial. Dana yang dihimpun dari Universitas Mulia dialokasikan untuk penyediaan kebutuhan dasar, layanan darurat lapangan, dan dukungan pemulihan awal.

Aktivis dakwah UKM LDK Al-Izzah menerima piagam penghargaan atas kontribusi penggalangan dana kemanusiaan.

Ketua LDK Al-Izzah sekaligus koordinator aksi, Qolby Zakin, mencatat bahwa kegiatan di lapangan berlangsung dengan disiplin. Tim masuk kelas hanya ketika suasana memungkinkan, meminta izin secara sopan, dan menyampaikan maksud dengan singkat. Pada beberapa momen, mahasiswa yang tidak membawa uang tunai tampak kecewa, tetapi berubah gembira ketika diberi opsi QRIS. “Ada teriakan syukur hanya karena bisa ikut sedekah,” ujarnya.

Bagi Qolby, solidaritas kemanusiaan dalam konteks ini memiliki dimensi spiritual. Ia mengutip hadis tentang perumpamaan kaum mukmin sebagai satu tubuh; ketika satu bagian tersakiti, bagian lain ikut merasakannya. Penggalangan dana di kampus, menurutnya, bukan sekadar aktivitas sosial tetapi bagian dari pendidikan karakter berlandaskan keimanan dan persaudaraan sebangsa.

Setelah dana diserahkan, Human Initiative akan mengawal proses distribusi di lokasi bencana. Dokumentasi penyaluran akan disampaikan melalui kanal publik, termasuk media sosial, untuk memastikan transparansi. Di internal kampus, relawan tetap dipertahankan melalui kegiatan evaluasi dan kebersamaan, dengan pesan yang berulang: meluruskan niat, bekerja lillahita’ala, dan menjaga semangat. (YMN)

Balikpapan, 25 November 2025— Materi kedua penyuluhan hukum pada Senin, 24 November 2025 menghadirkan perspektif tegas dari Jaksa Kejaksaan Negeri Balikpapan, Yogo Nurcahyo, SH, mengenai “Kejahatan Terhadap Anak di Bawah Umur”. Sejak awal pemaparan, Yogo langsung menyorot persoalan mendasar: semakin kompleksnya pola kriminalitas terhadap anak dan urgensi penanganan hukum yang tidak bisa diselesaikan secara kompromistis. Penyampaian materi berlangsung dinamis, dengan audiens aktif mengajukan pertanyaan mengenai tantangan penegakan hukum di lapangan.

Di awal pemaparan, Yogo menjelaskan dasar hukum perlindungan anak yang menjadi rujukan penegakan, mulai dari UU Nomor 23 Tahun 2002, UU Nomor 35 sebagai perubahan atas UU Perlindungan Anak, hingga Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu). Ia mengajak peserta memahami urgensi struktur perundang-undangan agar masyarakat sadar posisi dan kekuatan hukum dalam melindungi anak.

Dekan Fakultas Hukum, Budiarsih, S.H., M.Hum., Ph.D., menyerahkan cinderamata kepada perwakilan Bapas Kelas I Balikpapan, Imam, sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi dalam kegiatan penyuluhan hukum pada seminar Crimes Against Minors

“Tata urutan perundang-undangan harus dipahami sejak dini karena dialah yang mengatur kehidupan bernegara. Kalau masyarakat tidak tahu hukumnya, bagaimana bisa menuntut perlindungan?” tegasnya.

49 Kasus Anak, 29 Sudah Dieksekusi

Yogo memaparkan data penanganan perkara selama 2025 di Kejaksaan Negeri Balikpapan: 49 kasus dengan status penuntutan, dan 29 di antaranya telah dieksekusi. Menurutnya, percepatan penanganan perkara anak menjadi keharusan karena durasi penahanan yang sangat dibatasi oleh undang-undang.

“Penanganan kasus anak harus cepat, tepat, dan senyap. Terlambat sedikit, anak bisa stres dan sekolah terganggu,” jelasnya.

Restorative Justice Tidak Untuk Semua Kasus

Salah satu poin penting yang mendapat perhatian peserta adalah penerapan diversi dan restorative justice. Meskipun undang-undang mendorong pendekatan keadilan restoratif, Yogo menegaskan bahwa tidak semua jenis kejahatan dapat dimaafkan melalui diversi.

“Saya pribadi tidak pernah melakukan diversi untuk kasus kejahatan seksual. Itu kejahatan luar biasa. Pelaku harus dihukum setinggi-tingginya karena harga diri dan masa depan korban dipertaruhkan,” tegasnya disambut anggukan peserta.

Jaksa Kejaksaan Negeri Balikpapan, Yogo Nurcahyo, SH, memaparkan materi kedua dengan fokus pada urgensi penegakan hukum terhadap kejahatan pada anak di bawah umur.

Kolaborasi Antarinstansi adalah Kunci

Dalam pemeriksaan perkara anak, terdapat sejumlah instansi yang harus bekerja secara terpadu — mulai dari BAPAS, Dinas Sosial, UPTD PPA, hingga psikiater. Setiap anak, baik pelaku maupun korban, akan menjalani asesmen psikologis hingga penentuan tempat pembinaan seperti Balai Latihan Kerja, LPKS, atau Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) di Tenggarong.

Namun, Yogo juga menyoroti lemahnya infrastruktur daerah.

“LPKA hanya satu untuk seluruh Kalimantan Timur. Perjalanan jauh menyulitkan aparat dan berdampak psikologis bagi anak. Idealnya tiap wilayah minimal memiliki satu unit pembinaan.”

Para siswa peserta seminar terlihat menyimak penyampaian materi dengan antusias, mencerminkan kepedulian generasi muda terhadap isu perlindungan anak.

Peradilan Anak Bersifat Khusus

Berbeda dari perkara pidana umum, peradilan anak bersifat tertutup dan seluruh prosesnya mengutamakan pemulihan — termasuk larangan memakai atribut toga bagi hakim dan jaksa demi menciptakan suasana yang tidak mengintimidasi anak.

Yogo menutup sesi dengan pesan reflektif:

“Hukum memang melindungi dari pelanggaran. Tapi pencegahan sejatinya bermula dari keluarga, sekolah, dan masyarakat. Anak rusak bukan karena hukum lemah, tapi karena orang dewasa lalai.”

Iqbal, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Mulia selaku moderator, mendampingi para pemateri selama jalannya sesi diskusi.

Dengan antusiasme peserta yang tinggi dan diskusi yang hidup, penyuluhan ini diharapkan meningkatkan kesadaran publik untuk bersama-sama melindungi anak, baik sebagai generasi penerus maupun aset masa depan bangsa. (YMN)