Balikpapan, 13 Februari 2026 – Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika (HimaTI) Universitas Mulia melaksanakan kegiatan sosialisasi dan pelatihan keamanan siber bertajuk Guardians of the Cyber: Menempa Generasi Tangguh Keamanan Informasi pada 9 Desember 2025 di Laboratorium Komputer SMK Negeri 3 Balikpapan. Kegiatan ini merupakan bagian dari penguatan peran institusi dalam membangun literasi keamanan informasi di tingkat pendidikan menengah.

Pelatihan diselenggarakan sebagai tindak lanjut arahan akademik Program Studi Teknologi Informasi Universitas Mulia untuk memperluas edukasi keamanan siber kepada pelajar. Inisiatif ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya risiko kejahatan siber serta pentingnya pemahaman sejak dini mengenai perlindungan data pribadi dan mekanisme serangan digital yang umum terjadi.

Kegiatan terbagi dalam dua sesi utama yang diikuti siswa jurusan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ). Sesi awal memuat pemaparan konsep dasar keamanan informasi, klasifikasi ancaman siber, serta pola serangan yang kerap dimanfaatkan peretas. Materi difokuskan pada pemahaman struktural mengenai bagaimana sistem dapat dieksploitasi dan bagaimana mitigasinya dirancang.

Bagian inti kegiatan berlangsung dalam bentuk simulasi praktik di lingkungan virtual. Dengan memanfaatkan perangkat lunak VirtualBox, peserta melakukan skenario terkontrol menggunakan sistem operasi Kali Linux untuk menguji kerentanan mesin berbasis Windows 7. Dalam simulasi tersebut, siswa mengamati bagaimana sebuah file backdoor dapat membuka akses pemantauan sistem dari jarak jauh. Pendekatan ini dirancang agar peserta tidak hanya memahami konsep serangan, tetapi juga menyadari konsekuensi teknis dan etis dari penyalahgunaan akses sistem.

Meskipun terdapat kendala teknis pada tahap instalasi perangkat lunak, dinamika pembelajaran tetap terjaga. Siswa menunjukkan kemampuan kolaboratif dengan saling membantu menyelesaikan tahapan konfigurasi hingga simulasi berjalan sesuai skenario. Proses ini sekaligus memperlihatkan pentingnya kerja tim dalam praktik keamanan siber.

Melalui kegiatan ini, Universitas Mulia mempertegas kontribusinya dalam pengembangan kapasitas generasi muda di bidang teknologi informasi. Pelatihan keamanan siber tidak hanya membekali keterampilan teknis, tetapi juga menanamkan kesadaran kritis terhadap tanggung jawab penggunaan teknologi di ruang digital.

Kolaborasi antara Universitas Mulia dan SMK Negeri 3 Balikpapan diharapkan dapat berlanjut dalam bentuk program edukasi berkelanjutan, sehingga kesiapan siswa menghadapi tantangan keamanan informasi semakin terstruktur dan berbasis kompetensi. (YMN)

Balikpapan, 13 Februari 2026 – Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika (HimaTI) Universitas Mulia melaksanakan program Goes to School melalui pelatihan keamanan siber bagi siswa jurusan TKJ dan RPL SMK Kartika V-1 Balikpapan pada 15 Desember 2025. Kegiatan ini merupakan bagian dari pengabdian kepada masyarakat yang diarahkan untuk memperluas literasi keamanan informasi di tingkat pendidikan menengah kejuruan.

Perkembangan teknologi digital yang semakin cepat membawa konsekuensi pada meningkatnya risiko kebocoran data, serangan siber, dan penyalahgunaan sistem informasi. Melalui program ini, Universitas Mulia mendorong transfer pengetahuan yang lebih aplikatif guna menjembatani materi pembelajaran di sekolah dengan dinamika ancaman di ruang digital.

Kegiatan diawali dengan pembukaan dan sambutan dari pihak sekolah yang menyambut baik kolaborasi edukatif tersebut. Selanjutnya, peserta mendapatkan pemaparan konseptual mengenai lanskap keamanan siber, termasuk klasifikasi peretas—black hat, white hat, dan gray hat—serta ragam perangkat lunak berbahaya seperti virus, ransomware, dan spyware.

Untuk mengukur pemahaman awal dan akhir peserta, pelatihan dilengkapi dengan pre-test dan post-test. Sesi interaktif dan ice-breaking turut dihadirkan guna menjaga partisipasi aktif siswa selama kegiatan berlangsung.

Bagian utama pelatihan difokuskan pada simulasi praktik dalam lingkungan virtual. Dengan memanfaatkan VirtualBox, peserta diperkenalkan pada skenario serangan dan pertahanan sistem secara terkendali. Siswa mempraktikkan pembuatan skrip monitoring pada sistem operasi Kali Linux dan mengamati dampaknya pada sistem Windows sebagai target simulasi. Pendekatan ini memberikan pengalaman langsung mengenai bagaimana mekanisme serangan terjadi sekaligus bagaimana sistem dapat dipantau dan diamankan.

Melalui kegiatan ini, Universitas Mulia menegaskan peran strategisnya dalam penguatan kapasitas generasi muda di bidang teknologi informasi. Pelatihan keamanan siber tidak hanya memperluas wawasan teknis siswa, tetapi juga memperkenalkan pentingnya etika dan tanggung jawab dalam pemanfaatan teknologi.

Program Goes to School HimaTI menjadi salah satu bentuk kontribusi institusi dalam membangun kesiapan sumber daya manusia yang adaptif terhadap tantangan keamanan digital yang terus berkembang. (YMN)

Balikpapan, 12 Februari 2026 – Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Mulia melaksanakan kegiatan Monitoring dan Evaluasi (MONEV) Hibah DIPA Tahun Anggaran 2025 pada Kamis, 12 Februari 2026, melalui platform Zoom Meeting. Kegiatan ini merupakan tahapan penting dalam siklus pengelolaan hibah penelitian internal setelah pengumuman penerima hibah yang telah disampaikan sebelumnya.

MONEV dilaksanakan untuk menilai kesesuaian pelaksanaan penelitian dengan proposal yang diajukan, sekaligus memastikan capaian luaran berjalan sesuai standar mutu yang ditetapkan. Melalui proses ini, LPPM melakukan pengendalian akademik terhadap substansi, metodologi, serta progres penelitian yang sedang berlangsung.

Kepala LPPM Universitas Mulia, Dr. Mada Aditia Wardhana, S.Sos., M.M., menyampaikan sambutan sekaligus arahan pada kegiatan MONEV Hibah DIPA Tahun Anggaran 2025 yang dilaksanakan secara daring.

Kegiatan dibuka oleh Kepala LPPM Universitas Mulia, Dr. Mada Aditia Wardhana, S.Sos., M.M., yang menegaskan bahwa monitoring dan evaluasi bukan sekadar agenda administratif, melainkan instrumen akademik untuk menjaga kualitas riset institusi.

Selanjutnya, Sekretaris LPPM, Henny Okta Piyani, S.E., M.Ak., memaparkan informasi teknis terkait rubrik penilaian yang digunakan dalam proses evaluasi. Penjelasan tersebut mencakup indikator capaian penelitian, kesesuaian penggunaan anggaran, serta perkembangan luaran yang dijanjikan dalam proposal.

Sekretaris LPPM Universitas Mulia, Henny Okta Piyani, S.E., M.Ak., memaparkan informasi teknis dan rubrik penilaian dalam rangkaian Monitoring dan Evaluasi Hibah DIPA 2025.

Pelaksanaan evaluasi dilakukan dalam sesi breakout room dengan menghadirkan dua reviewer, yaitu Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I., dan Nishia Waya Meray, S.Si., M.Si. Pada sesi ini, para penerima hibah mempresentasikan perkembangan penelitian masing-masing dan menerima masukan substantif terkait metodologi, analisis data, hingga potensi publikasi hasil riset.

Sebagai agenda rutin LPPM, MONEV Hibah DIPA menjadi mekanisme evaluatif yang menjaga akuntabilitas penelitian sekaligus mendorong peningkatan kualitas luaran ilmiah dosen Universitas Mulia. Proses ini diharapkan memperkuat budaya riset yang terukur, sistematis, dan relevan dengan kebutuhan pengembangan ilmu pengetahuan maupun kontribusi terhadap masyarakat. (YMN)

 

Balikpapan, 12 Februari 2026 – Inkubator Bisnis Universitas Mulia menyelenggarakan kegiatan Business Coaching: Cooking Class with Sania pada Kamis, 12 Februari 2026, di Ballroom Cheng Hoo. Kegiatan ini dirancang bukan sekadar kelas memasak, melainkan sebagai ruang pembelajaran terpadu yang menggabungkan keterampilan produksi, strategi pemasaran, hingga pengelolaan keuangan digital dalam konteks kewirausahaan modern.

Peserta mengikuti sesi ice breaking sebagai pembuka kegiatan Business Coaching untuk membangun interaksi dan kerja sama sebelum memasuki materi inti.

Menghadirkan Coach Inkubator Bisnis Universitas Mulia, Chef Sania, Hakasima Houseware, serta perwakilan Bank Mandiri, kegiatan ini mengangkat pendekatan praktik langsung (experiential learning) untuk memperkenalkan siklus usaha secara menyeluruh—dari proses produksi hingga tata kelola finansial.

Acara diawali dengan sesi ice breaking yang membangun dinamika kolaboratif antar peserta. Suasana kemudian beralih ke praktik pembuatan roti kopi dan serabi Solo. Pada tahap ini, peserta tidak hanya mempelajari teknik baking, tetapi juga memahami standar kualitas produk dan efisiensi proses sebagai bagian dari manajemen usaha kuliner.

Chef Sania memperagakan teknik pembuatan adonan roti kopi dalam sesi praktik sebagai bagian dari pembelajaran produksi kuliner.

Pembahasan berlanjut pada aspek branding dan packaging produk. Peserta diajak melihat kemasan bukan sekadar pelindung, melainkan instrumen komunikasi nilai produk kepada konsumen. Sesi marketing digital memberikan gambaran tentang pemanfaatan media sosial dan platform daring sebagai saluran distribusi yang terukur.

Melengkapi rangkaian materi, Bank Mandiri memaparkan pengelolaan keuangan digital untuk usaha, termasuk pencatatan transaksi dan optimalisasi layanan perbankan guna mendukung keberlanjutan bisnis. Penekanan diberikan pada pentingnya literasi finansial sebagai fondasi pertumbuhan usaha yang akuntabel.

Kepala Inkubator Bisnis Universitas Mulia, Dr. Linda Fauziyah Ariyani, M.Pd., menyampaikan materi penguatan kewirausahaan kepada peserta kegiatan.

Rezkika Ramadhani, salah satu peserta, menyampaikan kesannya, “Saya dapat belajar membuat roti dengan teman-teman. Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi saya dan teman-teman, dan saya mendapatkan pengalaman baking yang sangat seru.”

Sementara itu, Kepala Inkubator Bisnis Universitas Mulia, Linda, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya membangun ekosistem kewirausahaan kampus. “Kegiatan ini diharapkan bisa memperkuat komunitas wirausaha di lingkungan Universitas Mulia,” ujarnya.

Melalui kegiatan ini, Inkubator Bisnis Universitas Mulia menempatkan kewirausahaan tidak hanya sebagai keterampilan teknis, tetapi sebagai kompetensi strategis yang memadukan kreativitas, manajemen, dan literasi keuangan dalam satu kesatuan praktik. (YMN)

 

Oleh: Yamani, S.S., M.Pd.
Pengurus PC DMI Balikpapan Kota | Dosen Universitas Mulia


Balikpapan, 12 Februari 2026—
Beberapa hari lagi, mungkin Kamis depan, kita akan memasuki gerbang yang setiap tahun Allah bukakan dengan cara yang berbeda: bukan sekadar lewat hitungan kalender, tetapi lewat panggilan dari langit. Ramadhan bukan hanya pergantian bulan. Ia adalah momentum ketika Allah sendiri mengumumkan ampunan-Nya, membuka pintu-pintu surga, menutup pintu-pintu neraka, dan membelenggu para setan. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa pada malam pertama Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka dan tidak ada satu pun yang ditutup selama sebulan penuh, pintu-pintu neraka ditutup dan tidak ada satu pun yang dibuka, lalu setiap malam terdengar seruan: “Wahai yang menghendaki kebaikan, menghadaplah. Wahai yang menghendaki keburukan, berhentilah.”

Bayangkan, setiap malam langit memanggil. Pertanyaannya bukan apakah seruan itu ada, tetapi apakah hati kita masih peka untuk menjawabnya.

Bagi para dosen, Ramadhan adalah saat paling jujur untuk menilai kembali makna ilmu yang kita ajarkan. Kita berdiri di depan kelas, menjelaskan teori, memaparkan metodologi, membimbing penelitian, memberi nilai, dan membentuk cara berpikir mahasiswa. Namun Ramadhan datang untuk bertanya dengan lembut sekaligus tegas: sudahkah ilmu itu mengalir menjadi teladan? Sudahkah mahasiswa bukan hanya memahami konsep, tetapi melihat akhlak dalam diri pengajarnya? Mengajar bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan amanah yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Jika pintu surga benar-benar dibuka selama sebulan penuh, bukankah kita ingin masuk bersama generasi yang pernah kita bimbing, bukan sendirian membawa gelar dan reputasi?

Bagi mahasiswa, Ramadhan adalah cermin paling jernih bagi masa muda. Di usia yang penuh semangat, penuh cita-cita, dan sering kali juga penuh godaan, Ramadhan mengajarkan integritas yang paling dalam. Puasa adalah ibadah yang sunyi; tidak ada yang tahu kecuali Allah. Di ruang-ruang kampus, mungkin kita bisa tampil cerdas, aktif, dan percaya diri. Di media sosial, kita bisa terlihat sempurna. Tetapi ketika lapar dan dahaga datang, ketika tidak ada yang mengawasi, hanya iman yang berbicara. Ramadhan melatih kejujuran yang tidak bisa dipalsukan. Ia membentuk karakter yang tidak dibangun oleh sorotan publik, tetapi oleh kesadaran bahwa Allah selalu melihat.

Bagi para akademisi, yang terbiasa dengan diskursus, publikasi, dan perdebatan ilmiah, Ramadhan menghadirkan pertanyaan yang lebih dalam daripada sekadar argumen: sudahkah hati kita tunduk? Kita mungkin piawai menjelaskan epistemologi, metodologi, dan teori peradaban. Kita bisa berbicara tentang krisis kemanusiaan global, ketimpangan sosial, dan transformasi digital. Namun Ramadhan mengajak kita untuk duduk sendirian di sepertiga malam, menundukkan kepala, dan mengakui bahwa setinggi apa pun pengetahuan, kita tetap hamba. Ada saatnya kecerdasan berhenti berbicara dan air mata yang mengambil alih. Di situlah ilmu menemukan ruhnya.

Para pengurus masjid pun akan memasuki bulan tersibuk dalam setahun. Jadwal disusun, imam ditentukan, penceramah dihubungi, konsumsi diatur, agenda dirapikan. Masjid akan ramai oleh suara dan aktivitas. Tetapi Ramadhan tidak hanya meminta kerapian program; ia menuntut keikhlasan hati. Masjid bukan sekadar pusat kegiatan, melainkan pusat perubahan. Jangan sampai ia megah oleh dekorasi tetapi miskin oleh ketulusan. Jangan sampai ia penuh oleh manusia tetapi kosong oleh doa yang sungguh-sungguh. Ramadhan mengingatkan bahwa tugas memakmurkan masjid bukan hanya menghidupkan acara, melainkan menghidupkan jiwa-jiwa yang datang dengan luka, dosa, dan harapan.

Bagi remaja masjid, Ramadhan adalah panggilan keberanian. Mungkin ada di antara kalian yang merasa belum layak, masih bergulat dengan kesalahan, atau merasa kecil dibandingkan orang-orang yang tampak lebih saleh. Namun seruan langit itu tidak memilih usia dan tidak mensyaratkan kesempurnaan. Ia memanggil siapa pun yang ingin menjadi lebih baik. Menjadi remaja masjid bukan tentang terlihat religius di hadapan orang lain, tetapi tentang berani melawan diri sendiri ketika tak ada yang melihat. Ramadhan adalah kesempatan untuk membuktikan bahwa masa muda bukan alasan untuk menunda taubat, melainkan alasan untuk mempercepatnya.

Di atas semua itu, ada satu pertanyaan yang mungkin membuat dada kita sesak: bagaimana jika ini Ramadhan terakhir? Tahun lalu kita masih bersama banyak orang yang kini hanya tinggal nama dalam doa. Tidak ada satu pun dari kita yang memegang jaminan akan bertemu Ramadhan berikutnya. Setiap kali bulan ini datang, ia tidak pernah berjanji akan kembali kepada jiwa yang sama. Maka menunda taubat adalah kerugian yang tidak masuk akal. Menunda memaafkan adalah kesombongan yang berbahaya. Menunda kebaikan adalah perjudian yang terlalu mahal.

Setiap malam Ramadhan, langit bertanya: adakah yang memohon ampun sehingga ia akan diampuni? Adakah yang ingin bertaubat sehingga taubatnya diterima? Adakah yang berdoa sehingga doanya dikabulkan? Betapa menyedihkan jika pertanyaan itu menggema, sementara hati kita tetap diam dan sibuk oleh urusan dunia yang tidak pernah benar-benar selesai.

Beberapa hari lagi, mungkin Kamis depan, pintu-pintu surga akan dibuka. Jangan biarkan hati kita tetap tertutup. Sambutlah Ramadhan bukan hanya dengan ucapan dan spanduk, tetapi dengan tekad yang sunyi namun nyata: menjadi dosen yang lebih jujur, mahasiswa yang lebih bersih, akademisi yang lebih rendah hati, pengurus masjid yang lebih ikhlas, dan remaja yang lebih berani menaklukkan dirinya sendiri.

Jika Ramadhan ini mampu membuat kita menangis dalam sujud dan merasa kecil di hadapan Allah, maka itu lebih berharga daripada segala pencapaian yang pernah kita banggakan. Semoga ketika Ramadhan berlalu, yang pergi bukan hanya bulannya, tetapi juga dosa-dosa kita, dan yang tersisa adalah hati yang lebih hidup daripada sebelumnya.

Oleh: Yamani, S.S., M.Pd.
Pengurus PC DMI Balikpapan Kota | Dosen Universitas Mulia

Balikpapan, 8 Februari 2026—Di banyak sudut Kota Balikpapan, kubah-kubah masjid menjulang anggun, pengeras suara lantang mengumandangkan adzan lima kali sehari, dan spanduk peringatan hari besar Islam berganti saban musim hijriah. Namun di balik semarak itu, sebuah pertanyaan mendesak mengetuk nurani kita: apakah masjid sungguh telah menjadi pusat kehidupan umat, ataukah hanya sesekali menjadi panggung seremonial keagamaan?

Fakta yang patut direnungkan bersama menunjukkan bahwa sebagian besar pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) masih menempatkan Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) sebagai poros utama aktivitas kelembagaan. Bahkan, secara struktural, dibentuk seksi khusus untuk mengurusi perayaan-perayaan tersebut. Tidak ada yang keliru dengan PHBI—ia adalah bagian dari syiar, ruang edukasi publik, sekaligus perekat sosial. Namun persoalan muncul ketika syiar direduksi menjadi seremoni, ketika kalender kegiatan masjid nyaris berhenti di lima momentum besar: Tahun Baru Islam, Maulid Nabi, Isra Mi‘raj, Ramadhan–Idul Fitri, serta Idul Adha.

Di luar hari-hari itu, masjid kembali lengang. Rapat pengurus jarang digelar—kadang tak lebih dari lima kali setahun—seakan roda organisasi hanya berputar ketika ada spanduk yang harus dicetak dan penceramah yang harus diundang. Padahal dalam teori manajemen organisasi nirlaba berbasis komunitas, intensitas pertemuan pengelola adalah indikator vital dari kesehatan institusi. Rapat bukan sekadar forum administratif, melainkan ruang lahirnya visi, evaluasi, inovasi, dan keberanian untuk berubah.

Masjid, dalam sejarah Islam klasik, tidak pernah sesempit itu. Ia adalah pusat pendidikan, rumah musyawarah, ruang advokasi sosial, sentra ekonomi umat, dan kawah candradimuka kepemimpinan generasi muda. Di Madinah, Rasulullah ﷺ menjadikan masjid bukan hanya tempat sujud, tetapi juga tempat membentuk peradaban. Dari lantainya yang sederhana lahir strategi sosial, solidaritas ekonomi, dan kader-kader umat yang tangguh secara spiritual sekaligus sosial.

Pertanyaannya kini: mengapa kita mereduksi warisan agung itu menjadi sebatas panggung perayaan tahunan?

Lebih menggetarkan lagi, alokasi dana masjid sering kali terkuras untuk kebutuhan seremonial: dekorasi, konsumsi, honor penceramah, dan panggung acara. Semua itu sah dan dibutuhkan. Tetapi menjadi ironi ketika hampir tidak tersisa anggaran—dan lebih penting lagi, gagasan—untuk program pembinaan pemuda masjid, pelatihan keterampilan hidup, kelas kepemimpinan, penguatan ekonomi jamaah, atau pendampingan keluarga yang terjerat kesulitan.

Di sudut saf belakang, mungkin ada ayah yang menunduk karena kehilangan pekerjaan. Di teras masjid, barangkali ada remaja yang mencari makna hidup tetapi tidak menemukan ruang dialog. Di perumahan sekitar, mungkin ada janda yang berjuang sendiri membiayai sekolah anaknya. Pertanyaannya kembali menghantam hati kita: apakah masjid telah hadir untuk mereka—atau hanya ramai ketika hari raya tiba?

Krisis ini bukan sekadar soal program; ia adalah krisis orientasi. Masjid yang hidup bukan diukur dari meriahnya panggung PHBI, melainkan dari ramainya shaf shalat berjamaah di hari biasa, dari wajah-wajah pemuda yang betah berdiskusi selepas Isya, dari jamaah yang merasakan bahwa masjid adalah tempat pulang—bukan hanya tempat singgah.

Pemuda, khususnya, tidak bisa dirangkul hanya dengan undangan menghadiri tabligh akbar setahun sekali. Mereka membutuhkan ruang aktualisasi, mentoring, pelatihan digital, kewirausahaan, diskusi intelektual, dan proyek sosial nyata. Tanpa itu, masjid akan terus menua bersama pengurusnya, sementara generasi penerus tumbuh di luar pagar spiritual yang seharusnya menaungi mereka.

Tulisan ini bukan gugatan dari luar, melainkan jeritan cinta dari dalam. Sebab mengkritik masjid dengan kejujuran adalah bentuk kesetiaan tertinggi terhadapnya. Kita tidak sedang kekurangan bangunan megah; kita kekurangan keberanian untuk mentransformasikan masjid menjadi pusat pemberdayaan umat.

Barangkali sudah saatnya DKM di Balikpapan—dan di kota-kota lain—berani melakukan pergeseran paradigma: dari event organizer keagamaan menjadi arsitek peradaban lokal. Dari pengelola agenda tahunan menjadi perancang masa depan jamaahnya.

Mari bertanya dengan jujur pada diri sendiri: berapa kali kita duduk bersama tahun ini untuk memikirkan bagaimana shalat berjamaah Subuh bisa penuh? Berapa jam kita habiskan untuk mendesain program kaderisasi pemuda? Berapa rupiah yang dialokasikan untuk mengangkat ekonomi jamaah yang terpuruk?

Jika pertanyaan-pertanyaan itu membuat dada kita sesak, mungkin itulah tanda bahwa hati kita masih hidup.

Masjid tidak membutuhkan pengurus yang hanya pandai menata acara; ia membutuhkan penjaga ruh, perancang perubahan, dan pemimpin yang rela begadang memikirkan umatnya. Sebab suatu hari kelak, bukan spanduk PHBI yang akan ditanya di hadapan Allah, melainkan: apa yang telah kita lakukan agar rumah-Ku ini benar-benar memakmurkan hamba-hamba-Ku?

Dan semoga, dari kegelisahan ini, lahir keberanian baru—keberanian untuk menghidupkan masjid bukan hanya pada hari raya, tetapi pada setiap hari kehidupan. (YMN)

Oleh: Yamani, S.S., M.Pd.

Balikpapan, 22 Desember 2025— Hari ini, umat Islam kehilangan seorang penjaga masjid yang sejati. Bukan penjaga pintu, bukan penjaga bangunan—tetapi penjaga ruh masjid.

Berpulangnya Ustadz Muhammad Jazir, S.Pd. bukan sekadar kabar duka, melainkan peringatan sunyi bagi kita semua: bahwa hidup adalah amanah, dan masjid adalah ladang pengabdian.

Beliau mengajarkan kepada kita bahwa masjid tidak boleh berdiri megah sendiri namun sepi dari kepedulian. Bahwa masjid bukan tempat menyimpan uang, melainkan tempat menyalurkan harapan umat. Dengan keteladanan, bukan retorika, beliau menunjukkan bagaimana infak menjadi solusi, bukan angka laporan.

Kalimat beliau yang sederhana namun menghantam nurani, “Masjid tidak boleh kaya sementara jamaahnya miskin.”

Itu bukan slogan. Itu teguran bagi takmir, cambuk bagi pengurus, dan cermin bagi setiap DKM yang masih merasa aman dengan saldo, tetapi abai terhadap tangis jamaah.

Masjid Jogokariyan menjadi saksi bahwa masjid bisa hadir di saat rakyat lapar, bisa mengetuk pintu rumah jamaahnya, bisa memeluk anak muda, bisa menjadi rumah kedua bagi yang tak punya siapa-siapa.

Kini beliau telah kembali kepada Pemilik masjid yang sesungguhnya—Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. Namun pertanyaannya bukan lagi tentang beliau. Pertanyaannya tentang kita. Apakah masjid yang kita urus sudah benar-benar hidup? Apakah DKM kita hanya sibuk rapat dan laporan, atau sungguh-sungguh turun melayani umat? Apakah mimbar kita hanya lantang berbicara, atau masjid kita juga hadir memberi solusi?

Pengurus Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Balikpapan berfoto bersama almarhum KH. Muhammad Jazir dari Masjid Jogokariyan dalam kegiatan Pelatihan Manajemen Masjid Bersinar.

Wafatnya Ustadz Muhammad Jazir adalah amanah terakhir bagi para pengurus masjid:
jangan biarkan masjid kehilangan ruhnya. Jangan biarkan masjid jauh dari umatnya. Jangan biarkan masjid megah tetapi asing bagi jamaahnya.

Beliau mengajarkan bahwa dana masjid bukan sekadar untuk dihabiskan, melainkan untuk dihadirkan maknanya dalam kehidupan umat. Bahwa sebuah kegiatan, sekecil apa pun, menjadi sangat bernilai ketika mampu meringankan beban jamaah, menenangkan hati mereka, dan membuat masjid terasa dekat dan memeluk. Melalui teladan beliau, kita diajak untuk menata kembali niat—agar setiap program bukan sekadar berjalan, tetapi menghidupkan; bukan sekadar terlihat, tetapi terasa; bukan sekadar selesai, tetapi bermakna bagi jamaah yang kita layani.

Semoga Allah menerima seluruh amal jariyah beliau, melipatgandakan pahala dari setiap masjid yang tergerak karena teladannya, dan menjadikan kita—para pengurus DKM—sebagai penerus yang jujur, berani, dan amanah.

Karena sejatinya, takmir masjid bukan jabatan, tetapi jalan sunyi menuju akhirat.

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

Oleh: Yamani, S.S., M.Pd.

Balikpapan, 30 Januari 2026—Tanggal  31 Januari selalu memiliki makna istimewa bagi warga Nahdlatul Ulama. Di hari itulah, pada tahun 1926, NU lahir sebagai ikhtiar para ulama—dipimpin Hadratus Syaik Hasyim Asy’ari bersama KH. Abdul Wahab Hasbullah dan KH. Bisri Syansuri— menjaga ajaran Islam Ahlussunnah wal Jama‘ah sekaligus merawat harmoni sosial bangsa. Hampir satu abad kemudian, denyut perjuangan itu terus hidup—salah satunya melalui masjid-masjid yang menjadi pusat ibadah, pendidikan, dan pelayanan umat.

Bagi para pengurus masjid, Milad NU bukan sekadar seremoni tahunan. Ia adalah momentum muhasabah: sejauh mana masjid telah berfungsi bukan hanya sebagai tempat shalat, tetapi juga sebagai ruang pembinaan akhlak, penguatan ukhuwah, dan pengabdian sosial. Di tangan takmir, imam, khatib, dan relawan masjidlah nilai-nilai tawassuth (moderat), tasamuh (toleran), tawazun (seimbang), dan i‘tidal (adil) diwujudkan dalam praktik nyata.

NU sejak awal memandang masjid sebagai jantung kehidupan umat. Dari mimbar masjid, dakwah yang sejuk disuarakan. Dari serambi masjid, anak-anak belajar mengaji. Dari halaman masjid, solidaritas sosial digerakkan—menggalang bantuan, merawat fakir miskin, dan menguatkan yang lemah. Semua itu adalah wajah Islam rahmatan lil ‘alamin yang terus diperjuangkan NU hingga hari ini.

Peringatan Milad NU menjadi ajakan kepada seluruh pengurus masjid untuk memperbarui niat khidmat. Mengelola masjid bukan semata soal administrasi atau fisik bangunan, melainkan amanah peradaban: menumbuhkan generasi berilmu, beradab, dan cinta tanah air. Di era digital dan tantangan sosial yang kian kompleks, masjid juga dituntut adaptif—menjadi pusat literasi keislaman, ruang dialog, serta benteng dari paham ekstrem dan perpecahan.

Melalui Milad NU, para pengurus masjid diajak meneguhkan kembali perannya sebagai penjaga nilai, perawat tradisi ulama, dan penggerak persatuan umat. Dari masjidlah semangat kebangsaan dipupuk, dari masjid pula kedamaian sosial dirawat.

Semoga peringatan Milad Nahdlatul Ulama ini menjadi penguat langkah seluruh pengurus masjid untuk terus berkhidmat dengan ikhlas, istiqamah, dan penuh kebijaksanaan—menghidupkan masjid, memuliakan jamaah, serta menjaga Indonesia tetap rukun dalam bingkai Islam yang rahmatan lil ‘alamiin.

Balikpapan, 26 Januari 2026—Program Studi Sistem Informasi Universitas Mulia menyelenggarakan Class Champion League, sebuah kompetisi antar kelas yang dirancang sebagai bagian dari strategi pembelajaran berbasis praktik. Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa dari mata kuliah Computational Thinking, Pemrograman Berorientasi Objek, dan Literasi Gen AI, serta berlangsung pada Rabu, 21 Januari 2026, pukul 08.00–15.40 WITA di Ballroom Cheng Ho dan beberapa ruang kelas pendukung.

Kompetisi ini disusun untuk memfasilitasi mahasiswa dalam mengintegrasikan penguasaan konsep akademik dengan keterampilan komunikasi, kerja kolaboratif, serta presentasi solusi berbasis teknologi. Melalui rangkaian tantangan yang diberikan, mahasiswa diuji dalam merumuskan pendekatan pemecahan masalah, menyampaikan argumen teknis, dan bekerja secara sistematis dalam tim.

Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh tim pengajar Program Studi Sistem Informasi, dengan koordinasi akademik berada di bawah Rahmat Saudi Al Fathir, A.S., selaku dosen pengampu pada sejumlah mata kuliah yang terlibat. Untuk menjaga mutu penilaian, program studi melibatkan panel juri dengan latar belakang rekayasa perangkat lunak, yakni Muhammad Kharisma Mahardika, Zikri Suanda, dan Pramudya Prima Insan Prayitno.

Pada akhir kompetisi, sejumlah tim mahasiswa dinyatakan meraih peringkat terbaik pada masing-masing kategori lomba. Pada cabang Computational Thinking, penghargaan diberikan kepada tim Adalah Pokoknya. Kategori Literasi Gen AI dimenangkan oleh tim Regu Tulip, sementara cabang Pemrograman Berorientasi Objek diraih oleh tim Nasihuyy.

Program Studi Sistem Informasi menilai bahwa pelaksanaan Class Champion League memberikan ruang pembelajaran kontekstual bagi mahasiswa, khususnya dalam mengembangkan kemampuan mengomunikasikan solusi teknis, mengelola kerja kelompok, serta merespons persoalan berbasis studi kasus.

Rangkaian kegiatan berlangsung melalui sesi perlombaan dan presentasi terbuka, disertai diskusi evaluatif yang memungkinkan mahasiswa memperoleh umpan balik langsung dari para juri. Pola ini diharapkan dapat memperkuat proses pembelajaran di kelas melalui pengalaman aplikatif yang terstruktur.

Melalui kegiatan ini, Program Studi Sistem Informasi Universitas Mulia memperluas penerapan pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning) dengan memfasilitasi mahasiswa untuk menguji konsep teoritis dalam konteks kompetitif yang terstruktur. Model kegiatan semacam ini dipandang sebagai sarana evaluatif terhadap capaian pembelajaran mata kuliah sekaligus wahana penguatan keterampilan profesional mahasiswa yang relevan dengan praktik industri teknologi informasi. (YMN)

 

Balikpapan, 26 Januari 2026—Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Mulia melalui Program Studi Manajemen menyelenggarakan seminar bertajuk “Menata Karier dan Masa Depan di Usia 20-an” pada Jumat, 23 Januari 2026. Kegiatan ini diikuti oleh 194 mahasiswa, yang terdiri atas 135 mahasiswa baru angkatan 2026 serta 59 mahasiswa angkatan 2025.

Ketua Program Studi Manajemen Universitas Mulia, Dr. Pudjiati, S.E., M.M., berfoto bersama mahasiswa peserta seminar yang menerima cenderamata atas keaktifan mereka dalam sesi tanya jawab.

Kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai bagian dari upaya fakultas dalam memberikan pembekalan nonkurikuler kepada mahasiswa, khususnya terkait perencanaan karier sejak masa studi. Selain itu, seminar ini juga memperkenalkan program pembentukan Duta Manajemen yang akan mendukung kegiatan Promosi Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Program Studi Manajemen.

Ketua Program Studi Manajemen Universitas Mulia, Dr. Pudjiati, S.E., M.M., menyampaikan materi dalam seminar “Menata Karier dan Masa Depan di Usia 20-an” yang diselenggarakan oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mulia.

Dalam sesi utama, Ketua Program Studi Manajemen Universitas Mulia, Dr. Pudjiati, S.E., M.M., menyampaikan materi mengenai pengenalan potensi diri, perumusan tujuan profesional, serta pentingnya penyusunan langkah yang terarah dalam menyiapkan karier mahasiswa. Ia juga menyoroti perlunya penguatan keterampilan komunikasi, kepemimpinan, kerja sama tim, serta kesiapan menghadapi dinamika dunia kerja.

Mahasiswa diarahkan untuk memanfaatkan kegiatan organisasi, pelatihan, dan aktivitas kemahasiswaan sebagai bagian dari proses pengembangan diri selama menempuh pendidikan di perguruan tinggi, termasuk keterlibatan dalam kegiatan promosi program studi.

Seorang mahasiswa mengajukan pertanyaan dalam sesi diskusi pada seminar perencanaan karier yang digelar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mulia.

Program Duta Manajemen diperkenalkan sebagai wadah partisipasi mahasiswa dalam kegiatan komunikasi publik Program Studi Manajemen kepada calon mahasiswa dan masyarakat. Melalui program tersebut, mahasiswa diharapkan mampu menjalankan peran representatif secara bertanggung jawab serta menunjukkan sikap profesional dalam interaksi publik.

Pelaksanaan kegiatan didukung oleh Himpunan Mahasiswa Manajemen (HMM) yang berperan dalam membantu kelancaran teknis dan koordinasi selama seminar berlangsung.

Rangkaian kegiatan dilaksanakan melalui pemaparan materi dan sesi diskusi. Partisipasi mahasiswa tercermin dari jumlah pertanyaan serta tanggapan yang muncul selama sesi berlangsung.

Mahasiswa peserta seminar berfoto bersama Ketua Program Studi Manajemen Universitas Mulia, Dr. Pudjiati, S.E., M.M., selaku pemateri utama kegiatan.

Melalui kegiatan ini, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mulia bersama Program Studi Manajemen memfasilitasi mahasiswa dalam memahami pentingnya perencanaan masa depan sejak dini, kesiapan menghadapi dunia kerja, serta peran mahasiswa dalam kegiatan representasi program studi di lingkungan universitas. (YMN)