Balikpapan, 16 Oktober 2025 – Seminar Farmasi Nasional (SAFANA) 2025 yang digelar di Ballroom Cheng Hoo Universitas Mulia, Kamis (16/10), menjadi ajang bertemunya akademisi, peneliti, dan praktisi farmasi dari berbagai perguruan tinggi Indonesia. Tahun ini, SAFANA mengangkat tema “Eksplorasi Bahan Alam dengan Nanoteknologi: Menjawab Tantangan Kesehatan Masa Depan.”

Ketua Panitia, Sapri, M.Farm., dalam sambutannya menekankan bahwa pemanfaatan teknologi nano merupakan langkah strategis untuk memperkuat riset bahan alam di Indonesia. Menurutnya, tumbuhan dan mikroba memiliki potensi bioaktif yang dapat dimaksimalkan melalui pendekatan nanoteknologi, sehingga mampu meningkatkan efektivitas terapi sekaligus meminimalkan efek samping.

Apt. Warrantia Citta Citti Putri, S.Farm., M.Sc., Ketua Program Studi Farmasi Universitas Mulia, memberikan sambutan pada pembukaan Seminar Farmasi Nasional (SAFANA) 2025 di Ballroom Cheng Hoo, Kamis (16/10).

“Rekayasa skala nano memberi peluang baru dalam pengembangan produk farmasi yang lebih presisi. Pendekatan ini penting untuk menghadapi berbagai tantangan kesehatan, mulai dari resistensi antimikroba, penyakit degeneratif, hingga ancaman pandemi global,” ujar Sapri di hadapan peserta seminar.

Ia juga menggarisbawahi bahwa arah kebijakan nasional telah menempatkan nanoteknologi sebagai bagian penting dari masa depan industri farmasi Indonesia. “Pemerintah melalui Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 7 Tahun 2022 mendorong integrasi teknologi nano dalam pengembangan obat berbasis bahan alam. Ini menunjukkan bahwa riset farmasi tidak bisa lagi berdiri sendiri, melainkan harus bergerak dalam kolaborasi lintas disiplin,” tambahnya.

Lebih jauh, Sapri mengaitkan tema SAFANA dengan target Sustainable Development Goals (SDGs) 2030, khususnya pada aspek kesehatan yang berkelanjutan. Ia menyebut bahwa perubahan iklim, polusi, dan munculnya penyakit baru menuntut model riset yang tidak hanya fokus pada inovasi ilmiah, tetapi juga keberlanjutan ekosistem kesehatan secara global.

Melalui SAFANA 2025, panitia menegaskan tiga tujuan utama: memfasilitasi pertukaran pengetahuan tentang inovasi bahan alam berskala nano; memperkuat jejaring antara akademisi, praktisi, dan industri; serta meningkatkan kesadaran publik akan peran teknologi nano dalam sistem kesehatan nasional.

Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber utama, Prof. apt. Muchtaridi, Ph.D. dan Prof. Dr. apt. Yandi Syukri, S.Si., M.Si., serta diikuti peserta dari berbagai perguruan tinggi, baik secara luring maupun daring. Sebanyak 25 makalah dipresentasikan — terdiri atas 11 pemakalah luring, 12 pemakalah daring, dan 2 poster ilmiah.

Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Mulia, Wisnu Hera Pamungkas, S.T.P., M.Eng., menyampaikan sambutan mewakili Rektor yang berhalangan hadir pada acara pembukaan SAFANA 2025 di Kampus Cheng Hoo, Balikpapan.

Institusi yang berpartisipasi antara lain Politeknik Nusantara Balikpapan, Institut Teknologi Sumatra, Universitas Padjadjaran, Universitas Mulawarman, Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA, Universitas Islam Indonesia, Universitas Hang Tuah, Universitas Sam Ratulangi, dan Universitas Indraprasta PGRI.

Penyelenggaraan SAFANA tahun ini merupakan hasil kolaborasi Universitas Mulia, Politeknik Nusantara Balikpapan, dan Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) Provinsi Kalimantan Timur. Dukungan sponsor juga datang dari sejumlah lembaga dan perusahaan, di antaranya Yayasan Airlangga Balikpapan, PT Ganda Alam Makmur, PT Promed Nusantara Jaya, Apotek Arka Medika, PT Ubylab Medika Pratama, Pertamina Hulu Mahakam, SKK Migas, Squadesh, Entrasol, Klinik Laboratorium Cito, Natasha, dan PT Eralika Mitra Buana.

uasana Seminar Farmasi Nasional (SAFANA) 2025 yang berlangsung di Ballroom Cheng Hoo Universitas Mulia, diikuti oleh peserta dari berbagai perguruan tinggi secara luring dan daring.

Di akhir sambutannya, Sapri menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang berkontribusi dalam penyelenggaraan seminar. “Terima kasih kepada panitia, sponsor, dan seluruh peserta yang telah hadir. Semoga diskusi ilmiah hari ini menghasilkan gagasan yang dapat memperkuat riset farmasi Indonesia dan membawa manfaat bagi masyarakat luas,” tuturnya.

SAFANA 2025 menjadi ruang ilmiah yang menegaskan posisi Universitas Mulia sebagai institusi yang aktif mendorong riset terapan dan kolaborasi multidisiplin di bidang kesehatan. Melalui pendekatan bahan alam dan teknologi nano, seminar ini membuka arah baru bagi pengembangan farmasi Indonesia yang berorientasi pada keberlanjutan dan daya saing global. (YMN)

 

BALIKPAPAN, 15 Oktober 2025 — Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Universitas Mulia, Sumardi, S.Kom., M.Kom., menegaskan pentingnya peran mahasiswa dalam menjaga marwah demokrasi, dimulai dari ruang-ruang akademik di kampus hingga kehidupan sosial di masyarakat. Hal itu disampaikan dalam sambutannya pada kegiatan Penguatan Demokrasi melalui Sosialisasi Pendidikan Politik yang digelar di Ballroom Cheng Hoo Universitas Mulia, Rabu (15/10).

Dalam sambutannya, beliau menggambarkan kampus sebagai miniatur negara—sebuah ruang di mana gagasan, perbedaan pandangan, dan semangat kritis seharusnya tumbuh dengan sehat. Kampus, katanya, bukan hanya tempat mencetak sarjana, tetapi juga melahirkan warga negara yang bertanggung jawab dan sadar akan peran sosial-politiknya.

“Mahasiswa adalah Agent of Change, sebuah gelar yang tidak lahir dari klaim, tetapi dari tanggung jawab moral. Menjadi agen perubahan berarti menjaga integritas berpikir dan keberanian untuk menyuarakan kebenaran,” ujarnya.

Beliau menekankan bahwa demokrasi tidak boleh dipahami semata sebagai rutinitas pemilu atau kontestasi lima tahunan. Demokrasi, menurutnya, adalah kualitas dalam mengambil keputusan, keadilan dalam kebijakan, dan transparansi dalam kepemimpinan. Karena itu, penguatan nilai-nilai demokrasi harus dimulai dari kampus sebagai benteng intelektual bangsa.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Sumardi, S. Kom., M.Kom., saat ditemui usai seremonial pembukaan kegiatan untuk sesi wawancara bersama tim Humas Universitas Mulia.

Ia mengurai tiga dimensi penting dalam mengawal demokrasi di lingkungan akademik:
pertama, menghidupkan nalar kritis untuk melawan hoaks dan budaya pasif berpikir;
kedua, menjaga kebebasan akademik agar setiap suara dapat dihargai; dan
ketiga, mempraktikkan demokrasi melalui organisasi kemahasiswaan sebagai laboratorium awal bagi kepemimpinan dan tanggung jawab sosial.

“Kampus harus menjadi ruang bernapas bagi kejujuran intelektual. Jika nalar kritis mati, maka demokrasi pun kehilangan nadinya,” tegasnya.

Lebih jauh, Wakil Rektor menyoroti pentingnya keberlanjutan peran mahasiswa setelah lulus dari perguruan tinggi. Menurutnya, mahasiswa tidak boleh berhenti pada tataran wacana, tetapi perlu hadir di tengah masyarakat sebagai pendidik politik, pengawas kebijakan, dan motor inovasi sosial.

Ia mencontohkan, mahasiswa dapat mengedukasi masyarakat tentang hak-hak politiknya, mengawal kebijakan publik dengan pendekatan akademik, serta berperan aktif dalam menciptakan solusi terhadap persoalan sosial dan lingkungan.

“Kritik yang cerdas harus diiringi dengan solusi yang nyata. Di situlah nilai seorang intelektual sejati,” ujarnya menegaskan.

Mengakhiri sambutannya, ia menyerukan agar mahasiswa tidak menjadikan ijazah semata sebagai tiket karier, tetapi sebagai mandat moral untuk mengabdi kepada bangsa dan negara.
Ia menegaskan, demokrasi yang sehat bukanlah warisan yang datang dengan sendirinya, melainkan hasil dari konsistensi dan keberanian generasi muda dalam menjaga idealisme.

“Demokrasi yang sehat adalah warisan terbaik yang dapat kita berikan kepada generasi mendatang. Dan sebagai Agent of Change, mahasiswa adalah garda terdepannya,” pungkasnya.

Acara yang digelar melalui kolaborasi Universitas Mulia dan Badan Kesbangpol Kota Balikpapan ini dihadiri oleh pejabat Kesbangpol, dosen, dan ratusan mahasiswa dari berbagai program studi. Kegiatan ini menjadi ruang reflektif bagi mahasiswa untuk memahami kembali makna politik sebagai sarana memperjuangkan nilai, bukan sekadar perebutan kekuasaan. (YMN)

Balikpapan, 14 Oktober 2025 – Di tengah meningkatnya minat generasi muda terhadap investasi digital, MNC Sekuritas menilai pentingnya membangun kebiasaan investasi yang berbasis pengetahuan dan bukan sekadar mengikuti tren sesaat. Hal itu disampaikan oleh Surya Darma Hakim, PIC MNC Sekuritas Cabang Balikpapan, dalam wawancara usai kegiatan Kuliah Umum Pasar Modal 2025 di Universitas Mulia, Selasa (14/10).

Surya menuturkan, profil investor muda di Balikpapan dan sekitarnya menunjukkan perkembangan positif. Antusiasme tinggi terlihat tidak hanya di kalangan mahasiswa, tetapi juga pelajar SMA dan SMK yang mulai tertarik menjadikan saham sebagai sarana belajar bisnis dengan modal kecil. “Anak muda sekarang tidak lagi melihat investasi sebagai sesuatu yang eksklusif. Mereka ingin terlibat, belajar, dan mencoba sejak dini,” ujarnya.

Surya Darma Hakim, PIC MNC Sekuritas Cabang Balikpapan, saat memberikan pemaparan materi dalam Kuliah Umum Pasar Modal 2025 di Universitas Mulia.

Namun, ia mengingatkan bahwa di balik semangat itu terdapat kesalahan umum yang kerap dilakukan investor pemula, terutama mahasiswa. Banyak yang terjun ke pasar modal tanpa memahami risiko, hanya karena ikut-ikutan atau tergoda tren media sosial. “Ada yang trading hanya karena ramai. Padahal tanpa bekal ilmu, risiko kehilangan modal sangat besar,” tegasnya.

Untuk menekan perilaku spekulatif semacam itu, MNC Sekuritas bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) Kaltim aktif melakukan sosialisasi dan edukasi, termasuk melalui kegiatan di kampus. Surya menekankan bahwa edukasi pasar modal harus dilakukan bertahap agar mahasiswa memahami perbedaan antara trading dan investing serta mampu mengelola risiko dengan rasional.

Menurutnya, kebiasaan investasi tidak bisa dibangun secara instan. “Kalau mau investasi jadi budaya, lakukan terus menerus. Konsisten. Dari hal kecil,” katanya. Melalui program GEMESIN (Gemar Menabung Saham Indonesia), MNC Sekuritas mendorong masyarakat untuk mulai berinvestasi dari nominal kecil — bahkan Rp100 ribu per bulan — sebagai langkah awal menuju kebebasan finansial yang berkelanjutan.

Lebih lanjut, ia menilai kampus memiliki peran penting dalam membentuk pola pikir investasi yang cerdas. Kurikulum yang memuat materi pasar modal, ditambah peran Galeri Investasi BEI, dapat menjadi ruang praktik langsung bagi mahasiswa. “Mahasiswa bisa belajar teori sekaligus praktik. Dari situ mereka terbiasa berpikir rasional, bukan emosional, dalam mengambil keputusan investasi,” jelasnya.

Tantangan terbesar, lanjutnya, justru datang dari pola pikir “cepat kaya” yang tumbuh subur di kalangan muda. Surya menyebut fenomena FOMO (fear of missing out) sebagai hambatan utama dalam membangun disiplin investasi jangka panjang. “Banyak yang ingin hasil besar dalam waktu singkat. Ini yang perlu diluruskan melalui edukasi berulang. Aset besar itu dibangun sedikit demi sedikit, bukan dari spekulasi,” tuturnya.

Dalam menjalankan perannya, MNC Sekuritas tidak hanya menjadi perantara transaksi saham, tetapi juga pelindung bagi investor muda agar terhindar dari risiko dan penipuan digital. Edukasi diberikan secara berkelanjutan, baik melalui Galeri Investasi BEI, kunjungan ke kampus, maupun berbagai platform digital seperti YouTube, Instagram, TikTok, dan media sosial lainnya. “Kami ingin investor belajar secara mandiri, tumbuh menjadi investor yang bijak, aman, dan berkelanjutan,” ujarnya.

Suasana antusias peserta saat Surya Darma Hakim, PIC MNC Sekuritas Cabang Balikpapan, menyampaikan materi tentang investasi cerdas dan pengenalan pasar modal.

Surya juga mengungkapkan bahwa MNC Sekuritas tengah menyiapkan kerja sama tiga pihak dengan Universitas Mulia dan BEI Kaltim untuk membentuk Galeri Investasi Kampus Universitas Mulia. Melalui program ini, mahasiswa akan mendapatkan pelatihan berkelanjutan, pendampingan praktikum pasar modal, serta kesempatan membangun jejaring dengan pelaku industri keuangan.

Ia mengaku optimistis dengan potensi mahasiswa Akuntansi Universitas Mulia yang menunjukkan antusiasme tinggi dalam mengikuti Sekolah Pasar Modal tahap awal. “Saya melihat semangatnya luar biasa. Mereka cepat menangkap konsep dan punya keinginan kuat untuk maju. Kalau ini dijaga, saya yakin mereka akan jadi investor muda yang sukses,” ucapnya.

Di akhir wawancara, Surya menyampaikan pesan sederhana namun kuat kepada mahasiswa. “Mahasiswa hari ini adalah investor dan pemimpin ekonomi masa depan. Jangan tunggu lulus untuk mulai cerdas finansial. Mulailah sekarang, sekecil apa pun langkahnya. Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?” katanya menutup perbincangan. (YMN)

 

Balikpapan, 14 Oktober 2025 — Program Studi Akuntansi Universitas Mulia mengarahkan fokus kuliah umum tahun ini pada tema pasar modal. Bukan sekadar mengikuti tren, langkah ini lahir dari kebutuhan akademik yang mendesak: menghubungkan teori akuntansi dengan dinamika nyata dunia keuangan modern.

Ketua Program Studi Akuntansi, Eko Edy Susanto, S.E., M.Ak., menilai pasar modal kini menjadi ruang belajar paling relevan untuk melatih daya analisis dan tanggung jawab profesional calon akuntan. “Akuntansi tidak berhenti di pencatatan dan pelaporan. Ia menjadi alat baca untuk menilai kesehatan perusahaan, memahami arah ekonomi, dan mengambil keputusan investasi secara rasional,” ujarnya.

Menurutnya, kuliah umum ini dirancang bukan untuk menambah agenda seremonial, tetapi untuk menguji sejauh mana mahasiswa dapat mengaitkan laporan keuangan, rasio keuangan, dan analisis fundamental dengan praktik investasi nyata. Melalui interaksi langsung bersama praktisi Bursa Efek Indonesia (BEI) dan PT MNC Sekuritas, mahasiswa diajak memahami bagaimana angka di laporan keuangan bisa berubah menjadi keputusan investasi yang berdampak.

Para pimpinan Universitas Mulia, narasumber, dan mahasiswa peserta Kuliah Umum Pasar Modal 2025 berfoto bersama usai prosesi pembukaan kegiatan di Ballroom Cheng Hoo.

Pendekatan ini, lanjutnya, menuntut mahasiswa keluar dari kebiasaan belajar pasif. Prodi menerapkan experiential learning, di mana mahasiswa diminta menganalisis kasus nyata, berdiskusi kritis dengan narasumber, dan melakukan simulasi trading melalui aplikasi pasar modal yang terhubung dengan BEI. “Mereka tidak hanya mendengar, tetapi juga bereksperimen, menguji asumsi, dan berlatih mengambil keputusan,” katanya.

Kegiatan ini juga akan ditindaklanjuti di dalam kurikulum. Materi pasar modal dan investasi akan diintegrasikan ke sejumlah mata kuliah seperti Analisis Laporan Keuangan, Akuntansi Keuangan Lanjutan, dan Akuntansi Manajemen. Prodi juga menyiapkan workshop tematik, riset kolaboratif, serta lomba simulasi investasi agar mahasiswa memiliki ruang eksplorasi berkelanjutan.

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Dr. Ivan Armawan, S.E., M.M., membacakan Surat Keputusan Pelantikan Kelompok Studi Pasar Modal Universitas Mulia pada prosesi pelantikan.

Tidak berhenti di ruang kelas, Prodi Akuntansi tengah mempersiapkan pembentukan Kelompok Studi Pasar Modal (KSPM). Komunitas ini akan menjadi wadah pembinaan mahasiswa investor muda dan mitra strategis bagi BEI serta OJK dalam mengembangkan Galeri Investasi Kampus. Melalui KSPM, mahasiswa diharapkan dapat belajar menganalisis saham, memahami perilaku pasar, dan membangun jejaring dengan pelaku industri keuangan.

Namun, Eko tidak menutup mata terhadap tantangan yang dihadapi. Menurutnya, banyak mahasiswa yang terpengaruh oleh narasi instan di media sosial tentang “cepat kaya lewat trading.” Padahal, pasar modal menuntut literasi dan disiplin tinggi. “Tugas akademik adalah meluruskan persepsi itu. Kami ingin mahasiswa memahami investasi sebagai proses jangka panjang, bukan perjudian spekulatif,” tegasnya.

Ia menambahkan, Prodi berkomitmen menanamkan nilai investasi yang rasional dan beretika, dengan menempatkan tanggung jawab sosial sebagai dasar setiap keputusan finansial. Tema kuliah umum “Investasi Cerdas, Masa Depan Berkualitas” mencerminkan nilai itu — bahwa investasi tidak semata mencari keuntungan pribadi, tetapi juga berkontribusi pada keberlanjutan ekonomi nasional.

Suasana khidmat saat berlangsungnya sesi pemaparan materi pada Kuliah Umum Pasar Modal 2025 di Universitas Mulia.

Eko berharap, setelah mengikuti kuliah umum ini, mahasiswa memiliki pandangan yang lebih luas tentang pasar modal dan peran akuntan di dalamnya. “Kami ingin mereka keluar dari ruang kuliah dengan kesadaran baru — bahwa akuntan bukan sekadar penyusun laporan, melainkan pembaca arah ekonomi dan penjaga transparansi. Mereka harus hadir sebagai aktor intelektual dalam ekosistem keuangan yang sehat dan berkeadilan,” tutupnya. (YMN)

Balikpapan, 14 Oktober 2025 – Universitas Mulia menggelar Kuliah Umum Pasar Modal 2025 dengan tema “Investasi Cerdas, Masa Depan Berkualitas: Menumbuhkan Minat dan Pengetahuan Pasar Saham di Kalangan Mahasiswa Universitas Mulia”, Selasa (14/10/2025) pagi, bertempat di Ballroom Cheng Hoo Universitas Mulia.

Kegiatan ini diawali dengan pelantikan Kelompok Studi Pasar Modal (KSPM) Universitas Mulia periode 2025–2026, kemudian dilanjutkan dengan kuliah umum menghadirkan dua narasumber dari dunia pasar modal, yakni Aldila Bandaro, Deputi Kepala Wilayah Bursa Efek Indonesia Kalimantan Timur, dan Surya Darma Hakim, PIC PT MNC Sekuritas Balikpapan.

Mewakili Rektor, Wakil Rektor Bidang Sumber Daya, Wibisono Wibisono, S.E., M.T.I., dalam sambutannya menekankan pentingnya memanfaatkan kemudahan teknologi di era digital secara bijak dan produktif. Ia mengajak mahasiswa untuk bersyukur karena hidup di masa yang penuh kemudahan, di mana akses informasi dan peluang belajar terbuka sangat luas.

“Mahasiswa hari ini hidup di era dengan banyak kemudahan. Dulu, mahasiswa tahun 80-an harus mengetik skripsi dengan mesin ketik. Era 90-an sudah mulai menggunakan komputer. Tahun 1996, internet baru masuk Kalimantan Timur, dan Balikpapan adalah kota pertama yang memiliki ISP. Sekarang, cukup buka ponsel, semuanya bisa diakses dengan mudah,” tutur Wibisono.

Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Universitas Mulia, Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I., saat memberikan sambutan pada kegiatan Kuliah Umum Pasar Modal 2025 di Ballroom Cheng Hoo, Selasa (14/10).

Beliau kemudian menelusuri perjalanan generasi akademik dari masa ke masa — mulai dari era mesin ketik, kemunculan komputer dan internet, hadirnya mesin pencari seperti Yahoo dan Google, hingga kini memasuki era Artificial Intelligence (AI).

“Kalau dulu search engine hanya membantu mencari informasi, kini AI bisa membantu berpikir dan bahkan mengambil keputusan. Tapi ini pisau bermata dua — bisa meningkatkan kecerdasan mahasiswa, tapi juga bisa menurunkannya jika disalahgunakan. AI bisa mematikan kreativitas kalau mahasiswa terlalu bergantung padanya,” tegasnya.

Menurutnya, kemajuan teknologi seharusnya tidak membuat mahasiswa malas berpikir, melainkan menjadi alat bantu untuk meningkatkan daya nalar, kreativitas, dan efisiensi belajar.

Memasuki pembahasan inti, Wibisono mengaitkan tema kuliah umum dengan realitas ekonomi digital saat ini. Ia menjelaskan bahwa aktivitas perdagangan saham di pasar modal sejatinya merupakan bentuk modern dari kegiatan berdagang tradisional, hanya saja dilakukan melalui teknologi.

“Dulu berdagang itu harus punya tempat, menata barang, mengangkut dagangan. Sekarang, cukup di depan komputer sudah bisa stock trading. Ini bukan judi, karena bukan menebak angka. Ini sama seperti berdagang di pasar — memilih mana yang memberi keuntungan terbaik,” jelasnya.

Sebagai contoh menarik, Wibisono menuturkan logika sederhana agar mahasiswa lebih memahami makna kepemilikan saham.

“Kalau kalian setiap hari pakai pasta gigi Pepsodent, berarti kalian menggunakan produk Unilever. Bayangkan kalau kalian punya saham Unilever, itu artinya kalian memakai produk dari perusahaan kalian sendiri,” ujarnya disambut tawa dan tepuk tangan peserta.

Melalui contoh tersebut, Wibisono ingin menanamkan kesadaran bahwa investasi bukan sekadar mencari keuntungan, tetapi juga bentuk partisipasi dalam ekosistem ekonomi yang produktif. Ia mendorong mahasiswa untuk belajar berinvestasi sejak dini dengan disiplin dan konsisten.

“Belajarlah dari skala kecil. Kalau kalian bisa konsisten profit 2% per hari, dari modal 1 juta itu hanya 20 ribu. Tapi kalau nanti modal kalian 100 juta, hasilnya bisa 2 juta per hari. Yang penting adalah belajar dengan baik dan konsisten,” pesan beliau.

Kegiatan ini dihadiri oleh pimpinan fakultas, dosen, serta ratusan mahasiswa dari Program Studi Akuntansi dan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mulia. Melalui kegiatan ini, diharapkan mahasiswa mampu memahami dunia pasar modal secara lebih mendalam dan menumbuhkan budaya investasi yang cerdas, etis, dan produktif. (YMN)

Judul: Kecerdasan Buatan untuk Laut Indonesia: Inovasi Teknologi dalam Konservasi Ekosistem Kelautan
Penulis: Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i, Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I., dan Dr. Hadiratul Kudsiah
Editor: Dyah Ayu Noor Afifah
Desain Sampul: Syifa
Tata Letak Isi: Nara Apta
Ukuran: 14,8 x 21 cm | Halaman: xix + 480
Edisi: I (25 Juli 2025)
ISBN: 978-634-7174-77-2
Penerbit: Filosofi Indonesia Press, Yogyakarta

Laut sebagai Ruang Pengetahuan dan Data

Buku Kecerdasan Buatan untuk Laut Indonesia membuka wacana baru tentang bagaimana laut tidak hanya dilihat sebagai bentang geografis, tetapi juga sebagai ruang pengetahuan dan sumber data. Digarap oleh tiga penulis lintas bidang—Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si. (Rektor Universitas Mulia), Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I. (Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Universitas Mulia), dan Dr. Hadiratul Kudsiah (Universitas Hasanuddin)—buku ini menggeser cara pandang konservasi dari kerja manual menjadi kerja berbasis algoritma, sensor, dan pembelajaran mesin.

Buku setebal hampir lima ratus halaman ini bukan kumpulan teori, melainkan kerangka kerja yang hidup: bagaimana ilmu kelautan, teknologi, dan kebijakan publik bisa disatukan dalam satu tujuan—menyelamatkan ekosistem laut dengan kecerdasan buatan.

Kerja Kolaboratif Lintas Disiplin

Kolaborasi tiga penulis dengan latar belakang berbeda menjadi kekuatan utama karya ini. Prof. Ahsin Rifa’i, dengan ketajaman akademiknya di bidang lingkungan dan teknologi, memetakan arah konseptual. Yusuf Wibisono menulis dengan detail teknis yang presisi, membumikan konsep AI dan big data ke dalam konteks ekosistem laut Indonesia. Sementara Dr. Hadiratul Kudsiah menghadirkan lapisan empiris dari sisi biologi kelautan dan kebijakan konservasi.

Hasilnya adalah teks yang tegas dan berimbang: sains tidak kehilangan kedalaman, dan teknologi tidak kehilangan arah moralnya.

Ekosistem Laut: Dari Biodiversitas ke Tantangan Kebijakan

Bab IV menjadi tulang punggung penjelasan ekologis. Keanekaragaman hayati laut, mulai dari terumbu karang hingga lamun dan mangrove, dipaparkan dengan pendekatan ilmiah yang ringkas dan faktual. Bab ini menegaskan bahwa laut Indonesia menyimpan modal biologis dan ekonomi yang luar biasa, namun rapuh akibat polusi, eksploitasi, dan lemahnya tata kelola.

Regulasi nasional dan internasional, serta peran masyarakat sipil, ditampilkan bukan sebagai daftar formal, melainkan sebagai bagian dari sistem sosial yang menentukan keberhasilan konservasi.

Teknologi sebagai Instrumen Etika

Mulai Bab VI, pembaca diajak masuk ke wilayah yang jarang disentuh oleh literatur kelautan di Indonesia: penggunaan sensor, bioakustik, citra satelit, dan drone laut. Bagian ini menunjukkan bagaimana pengawasan laut dapat berpindah dari laporan manual ke sistem berbasis data waktu nyata.

Yusuf Wibisono menulis dengan pendekatan teknologis yang efisien namun tidak kering. Ia menekankan bahwa teknologi hanyalah instrumen—etika dan kesadaran ekologis manusia tetap menjadi pengendalinya.

Di titik ini, buku ini menolak glorifikasi teknologi. AI, sebagaimana ditegaskan oleh Prof. Ahsin Rifa’i dalam salah satu kutipan, harus “ditempatkan untuk kemaslahatan laut, bukan untuk mempercepat eksploitasinya.”

AI dan Laut sebagai Subjek Analisis

Bab VII dan VIII merupakan bagian paling kuat dari keseluruhan buku. Di sinilah kecerdasan buatan diperlakukan bukan sekadar alat bantu, melainkan subjek analisis konservasi. Algoritma diposisikan sebagai entitas yang mampu belajar dari pola ekosistem laut—mendeteksi anomali suhu, perubahan arus, mikroplastik, hingga pergerakan populasi ikan.

Pendekatan ini menandai pergeseran besar dalam paradigma konservasi Indonesia: dari konservasi berbasis pengamatan lapangan menuju konservasi berbasis prediksi dan simulasi data.

Lebih jauh, buku ini membahas integrasi AI dengan kebijakan publik, pencegahan illegal fishing, dan pembangunan ekonomi biru yang etis. Semuanya dijabarkan tanpa jargon berlebihan, menjadikan konsep yang kompleks terasa dapat diakses.

Keadilan Digital dan Ketimpangan Akses

Penulis tidak menutup mata terhadap persoalan struktural. Bab IX membedah hambatan yang sering diabaikan: infrastruktur digital yang timpang antara wilayah pesisir dan pusat kota, kesenjangan sumber daya manusia, hingga dilema etis dalam pengumpulan dan pemanfaatan data laut.

Sikap reflektif ini membuat buku ini lebih dari sekadar dokumentasi ilmiah—ia menjadi cermin sosial dan politik ilmu pengetahuan. Buku ini menegaskan bahwa tanpa keadilan digital, inovasi teknologi hanya akan memperluas ketimpangan.

Kasus dan Pembelajaran Nyata

Bab X menampilkan studi kasus, baik dari Indonesia maupun negara lain. Dari proyek pemantauan terumbu karang di Raja Ampat Papua Barat hingga penerapan drone bawah laut di Norwegia, penulis menempatkan Indonesia dalam peta global inovasi konservasi.

Kelebihan bagian ini terletak pada keseimbangan antara optimisme dan realisme. Penulis tidak memuja keberhasilan, tetapi menimbangnya dengan kejujuran akademik: bahwa setiap teknologi membawa risiko, dan setiap kemajuan memerlukan kebijakan yang matang.

Penutup

Kecerdasan Buatan untuk Laut Indonesia adalah peta intelektual tentang hubungan manusia, laut, dan teknologi. Ia menyatukan disiplin yang jarang bersinggungan dan melahirkan percakapan baru dalam dunia akademik Indonesia: bahwa laut bukan hanya ruang eksploitasi ekonomi, tetapi ruang moral, pengetahuan, dan inovasi.

Buku ini menegaskan bahwa konservasi laut masa depan tidak hanya bergantung pada niat baik manusia, melainkan pada kemampuan bangsa ini mengelola pengetahuan dan teknologi dengan nurani. (YMN)

Balikpapan, 10 Oktober 2025 — Laut Indonesia, kendati kaya keanekaragaman hayati, kini berada di bawah tekanan eksploitasi, polusi, dan perubahan iklim. Di tengah tantangan itu, Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si., Rektor Universitas Mulia, menggagas cara pandang baru melalui buku Kecerdasan Buatan untuk Laut Indonesia: Inovasi Teknologi dalam Konservasi Ekosistem Kelautan, yang ia tulis bersama Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I. (Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Universitas Mulia) dan Dr. Hadiratul Kudsiah dosen Universitas Hasanuddin Makassar.

Sampul buku “Kecerdasan Buatan untuk Laut Indonesia: Inovasi Teknologi dalam Konservasi Ekosistem Kelautan” karya Prof. Dr. Muhammad Ahsin Rifa’i dan Yusuf Wibisono.

“Indonesia adalah negara maritim superkaya biodiversitas, namun tertekan oleh eksploitasi berlebih, polusi, dan dampak iklim. Metode konservasi konvensional saja tidak cukup, karena itu kami menulis buku ini untuk mendorong adopsi teknologi terutama AI agar pemantauan, analisis, dan pengambilan keputusan konservasi menjadi lebih cepat, presisi, dan berbasis bukti,” ungkap Prof. Ahsin.

Dari Keterbatasan Lapangan ke Gagasan Humanistik Teknologi

Ide buku ini berangkat dari kesenjangan antara kebutuhan konservasi real-time dan keterbatasan instrumen di lapangan. Prof. Ahsin menegaskan, Universitas Mulia membawa visi technopreneurship yang berpusat pada manusia (human-centered technopreneurship) dengan semangat “AI untuk kemaslahatan manusia dan laut.”

Baginya, teknologi harus menempati posisi etis: bukan sekadar perangkat mekanis, melainkan sarana pemulihan ekosistem, pemberdayaan masyarakat pesisir, dan penguatan kebijakan publik berbasis data.

Tiga Ancaman Nyata dan Satu Masalah Pokok

Prof. Ahsin menyoroti tiga persoalan paling mendesak di laut Indonesia: praktik penangkapan destruktif dan IUU fishing, polusi plastik dan mikroplastik, serta dampak perubahan iklim seperti pemutihan karang dan kenaikan muka air laut.
Namun di balik itu, ia menegaskan adanya akar sistemik: kesenjangan data dan lemahnya infrastruktur pemantauan, yang membuat kebijakan konservasi sering tertinggal dari dinamika kerusakan di lapangan.

Kampus sebagai Ruang Orkestrasi Pengetahuan

Dalam pandangan Prof. Ahsin, perguruan tinggi memiliki peran yang tak tergantikan dalam merangkai disiplin yang tampak berjauhan—dari AI dan data science, hingga ekologi, kebijakan publik, dan sosial maritim.

“Kampus menyediakan metodologi, validasi ilmiah, dan integrasi lintas-disiplin agar solusi tidak spekulatif. Publikasi seperti buku ini merangkum bukti, mengonversinya menjadi strategi yang bisa diadopsi pemerintah, LSM, dan komunitas pesisir,” ujarnya.

Universitas Mulia, lanjutnya, tengah menyiapkan pendekatan pembelajaran dan riset yang menghubungkan laboratorium data laut, sistem IoT dan citra satelit, bioakustik, serta etika dan tata kelola AI, agar teknologi diadopsi secara aman, inklusif, dan berkelanjutan.

Kolaborasi Tiga Ilmuwan Lintas Disiplin

Dalam proses penulisan, masing-masing penulis berkontribusi sesuai kepakaran. Prof. Ahsin dan Hadiratul Kudsiah menyusun fondasi ekosistem dan peta ancaman lingkungan laut, sedangkan Yusuf Wibisono, pakar teknologi dan data dari Universitas Mulia, mengembangkan kerangka machine learning, sensor, dan penerapan AI untuk deteksi IUU fishing, pemantauan mikroplastik, serta prediksi iklim laut.

“Kami menyatukan hasilnya melalui tinjauan bersama agar narasi ilmiah, kebijakan, dan praktik lapangan klop. Hasilnya adalah peta jalan integrasi teknologi kelautan yang aplikatif, bukan sekadar konseptual,” kata Prof. Ahsin.

Rektor Universitas Mulia, Prof. Dr. Muhammad Ahsin Rifa’i, menunjukkan buku karyanya bersama Yusuf Wibisono berjudul “Kecerdasan Buatan untuk Laut Indonesia” saat wawancara eksklusif di ruang kerjanya

Menuju Konservasi Berbasis Kecerdasan

Buku ini bukan sekadar panduan akademik, melainkan ajakan reflektif: bagaimana kecerdasan buatan dapat menjadi bagian dari etika lingkungan dan masa depan konservasi Indonesia.

“Laut Indonesia adalah laboratorium hidup yang membutuhkan kecerdasan manusia dan mesin sekaligus,” tutup Prof. Ahsin. “Kita harus memastikan bahwa teknologi yang kita kembangkan benar-benar berpihak pada kehidupan.” (YMN)

Dua buah buku diterima oleh Azhar Shofiyah, petugas Perpustakaan Satria Dharma, di lantai 4 Gedung White Campus, Kampus Utama Balikpapan, Senin (6/10/2025). Foto: SA/Kontributor

UM – Sebuah risalah penting yang mengupas tuntas permasalahan dan solusi kelangkaan air bersih di Kota Balikpapan kini telah terbit dalam bentuk buku.

Dengan judul “Forum Group Discussion (FGD) Kelangkaan Air Bersih di Kota Balikpapan”, buku setebal 161 halaman ini merupakan hasil kolaborasi strategis para narasumber, atas kerjasama Balikpapan Water Forum (BWF) dengan Universitas Mulia.

Buku yang disusun oleh CEO Balikpapan Water Forum, Dr. Agung Sakti Pribadi, S.H., M.H., ini merangkum pemikiran, analisis, dan rekomendasi dari para ahli yang berkumpul dalam Focus Group Discussion (FGD) yang digelar di Ballroom Cheng Ho Universitas Mulia pada Rabu, 31 Juli 2024 lalu.

Dalam kata pengantarnya, Dr. Agung Sakti Pribadi menegaskan bahwa buku ini bukan sekadar catatan diskusi, melainkan sebuah komitmen bersama untuk masa depan air di kota penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN) ini. Ia menekankan bahwa air adalah isu peradaban yang fundamental.

“Semoga risalah pemikiran dalam buku ini menjadi penggugah bahwa air tidak dapat dicipta ulang, namun dapat dijaga, ditata, dan dipulihkan dengan pengetahuan, kerja keras, dan kesungguhan kita,” tulis Dr. Agung. Ia berharap buku ini dapat menjadi pemantik gagasan baru yang lebih solutif dan membumi untuk mengatasi krisis air.

Sampul depan Buku Kelangkaan Air Bersih di Kota Balikpapan. Foto: SA/Kontributor

Sampul depan Buku Kelangkaan Air Bersih di Kota Balikpapan. Foto: SA/Kontributor

Kata Pengantar dari CEO Balikpapan Water Forum Dr. Agung Sakti Pribadi. Foto: SA/Kontributor

Kata Pengantar dari CEO Balikpapan Water Forum Dr. Agung Sakti Pribadi. Foto: SA/Kontributor

Dukungan penuh atas terbitnya buku ini juga tersirat dari sambutan Wali Kota Balikpapan, H. Rahmad Mas’ud, S.E., M.E., yang termuat di dalamnya. Wali Kota mengapresiasi inisiatif tersebut sebagai langkah konkret untuk mencari solusi atas permasalahan krusial yang dihadapi kota.

Wali Kota Rahmad Mas’ud mengakui bahwa Balikpapan, dengan pertumbuhan penduduk dan ekonomi yang pesat, memiliki tantangan besar dalam penyediaan air bersih.

“Hal ini berbanding lurus dengan meningkatnya kebutuhan akan air bersih, sementara ketersediaan sumber daya air bersih di kota kita masih sangat terbatas,” ujar Wali Kota dalam sambutannya.

Wali Kota berharap forum dan buku yang dihasilkannya dapat melahirkan rekomendasi konstruktif.

“Saya sangat mengapresiasi inisiatif Universitas Mulia Balikpapan dalam menyelenggarakan FGD ini. Saya berharap, melalui forum ini, kita dapat bertukar pikiran, berbagi pengetahuan, dan menghasilkan rekomendasi yang konstruktif untuk mengatasi masalah kelangkaan air di Kota Balikpapan,” tambahnya.

Buku ini memuat berbagai isu strategis, mulai dari ketergantungan pada air permukaan, dampak limbah domestik dan industri, hingga risiko bencana seperti banjir dan kekeringan.

Dengan pemaparan yang komprehensif, buku ini sangat relevan untuk dijadikan bahan kajian ilmiah, referensi bagi para pembuat kebijakan, serta sumber pengetahuan bagi mahasiswa dan masyarakat umum yang peduli terhadap isu lingkungan perkotaan.

Bagi masyarakat, akademisi, dan para pemangku kepentingan yang ingin mendalami lebih lanjut hasil pemikiran para pakar mengenai krisis air di Balikpapan, buku ini sudah dapat diakses.

Buku Forum Group Discussion (FGD) Kelangkaan Air Bersih di Kota Balikpapan bisa dipinjam di Perpustakaan Satria Dharma, Gedung White Campus, Universitas Mulia pada jam kerja.

(SA/Kontributor)

Balikpapan, 8 Oktober 2025 — Pelaksanaan Pasar Pagi Mulia di Bay Park Plaza tidak hanya menghadirkan bazar dan pertunjukan musik, tetapi juga sejumlah kegiatan kreatif bagi masyarakat dan mahasiswa.

Salah satunya adalah Yoga & Sound Bath Class, sesi relaksasi yang dipandu instruktur yoga dan fasilitator sound bath. Kegiatan ini memberi kesempatan bagi pengunjung untuk merasakan suasana tenang di tengah keramaian acara.

Selain itu, Workshop Beads & Craft menjadi ruang bagi peserta untuk belajar membuat perhiasan manik-manik dan aksesori buatan tangan. Kegiatan ini menarik minat pengunjung dari berbagai kalangan.

 

Program Studi PG PAUD Universitas Mulia juga terlibat dengan menggelar Lomba Mewarnai Anak-anak yang diikuti lebih dari 50 peserta dari berbagai sekolah di Balikpapan.

Dari kalangan muda, K-Pop Dance Competition & Coswalk Parade menjadi salah satu bagian acara yang paling ramai dikunjungi. Komunitas pecinta budaya populer dari Balikpapan berpartisipasi aktif menampilkan kreativitas mereka.

Selain itu, kegiatan SMADA.COM Wanted hasil kolaborasi dengan SMA Negeri 2 Balikpapan menampilkan karya siswa SMA/SMK. Kegiatan ini memberi ruang bagi generasi muda untuk memperlihatkan karya mereka di luar lingkungan sekolah.

Keseluruhan kegiatan tersebut menunjukkan keterlibatan aktif mahasiswa dan masyarakat dalam satu ruang kegiatan yang terbuka dan kreatif. (YMN)

Balikpapan 8 Oktober 2025— Penyelenggaraan Pasar Pagi Mulia mendapat dukungan dari Yayasan Airlangga dan Universitas Mulia. Dukungan tersebut menjadi salah satu faktor penting keberhasilan kegiatan yang melibatkan banyak mahasiswa dan komunitas lokal.

Panitia berharap dukungan serupa juga dapat diberikan oleh Rektorat dan tim Marketing kampus pada kegiatan berikutnya. Menurut panitia, Pasar Pagi Mulia memiliki potensi besar dalam memperkuat hubungan eksternal dan memperluas jangkauan promosi Universitas Mulia di masyarakat.

Kegiatan ini memberi pengalaman langsung bagi mahasiswa untuk bekerja dalam tim lintas bidang dan berinteraksi dengan pelaku usaha kecil. UMKM lokal juga mendapatkan manfaat ekonomi dan promosi dari tingginya jumlah pengunjung setiap harinya.

Panitia menyampaikan bahwa tidak ada kendala besar selama kegiatan berlangsung. Semua tahapan, mulai dari persiapan hingga pelaksanaan, berjalan lancar karena dikerjakan bersama oleh panitia dan relawan mahasiswa.

Pasar Pagi Mulia menunjukkan peran kampus dalam membuka ruang keterlibatan mahasiswa dan masyarakat dalam satu kegiatan yang produktif. (YMN)