Balikpapan 8 Oktober 2025—Pasar Pagi Mulia kembali digelar di Bay Park Plaza Balikpapan. Kegiatan ini diinisiasi oleh Domain Creative Bureau bersama sivitas Universitas Mulia dan telah terselenggara sebanyak empat kali dalam sembilan bulan terakhir. Tiga edisi sebelumnya berlangsung di lingkungan kampus dan satu edisi di Plaza Balikpapan.

Menurut panitia, kegiatan ini berangkat dari gagasan Domain Creative Bureau yang ingin mempertemukan mahasiswa dengan komunitas lokal dan pelaku UMKM. Pasar Pagi Mulia berkembang menjadi kegiatan yang membuka ruang interaksi antara kampus dan masyarakat.

Pada penyelenggaraan kali ini, lebih dari 30 tenant lokal dan sejumlah komunitas seni terlibat. Sepuluh band dari Balikpapan dan Samarinda tampil di panggung utama, di antaranya The Bani, Gaharu, Daffa & The Kuncoros, Leonora, Here to Stay, Justicia, Renaldy Rizky, Paw’s Letter, MARA, dan Murphy Radio.

Murphy Radio menjadi salah satu penampil yang menarik perhatian. Band ini sebelumnya telah melakukan tur di Eropa, dan usai kegiatan ini dijadwalkan tampil di China dan Jepang.

Selain menampilkan musik dan bazar, kegiatan ini juga melibatkan mahasiswa dari berbagai fakultas. Fakultas Ilmu Komputer membuka booth warkom yang menjual camilan buatan mahasiswa. Program Studi PG PAUD mengadakan lomba mewarnai untuk 50 anak, sementara 10 anggota BEM Universitas Mulia membantu operasional kegiatan dari awal hingga selesai. (YMN)

 

Balikpapan, 15 September 2025 – Suasana perkuliahan di Fakultas Ilmu Komputer Universitas Mulia kembali bergeliat pada Senin (15/9), menandai dimulainya semester ganjil tahun akademik 2025–2026. Di antara wajah-wajah baru mahasiswa angkatan 2025, dosen-dosen pun tampak bersemangat membuka lembaran baru perjalanan akademik.

Salah satunya adalah Wahyu Nur Alimyaningtias, S.Kom., M.Kom., dosen FIKOM, yang mengaku selalu menantikan momen kuliah perdana. “Awal semester selalu menyenangkan. Kita bisa bertemu lagi dengan mahasiswa lama sekaligus menyambut mahasiswa baru. Ini waktu yang tepat untuk menanamkan motivasi dan membangun energi positif sejak hari pertama,” ungkapnya.

Ia menekankan bahwa pertemuan pertama bukan sekadar rutinitas, melainkan kesempatan untuk membantu mahasiswa, khususnya angkatan baru, mulai beradaptasi dengan lingkungan kampus dan menyusun rencana studi sesuai target yang mereka harapkan.

Dosen FIKOM Universitas Mulia, Wahyu Nur Alimyaningtias, S.Kom., M.Kom., saat mengajar mata kuliah Pemodelan Data di hari pertama perkuliahan semester ganjil 2025–2026.

Sebagai pengampu beberapa mata kuliah di FIKOM, Wahyu menuturkan telah menyiapkan Rencana Pembelajaran Semester (RPS) dengan pendekatan yang lebih kontekstual. “Materi ajar kami sesuaikan dengan kebutuhan terkini, dengan tambahan elemen pembelajaran berbasis teknologi agar lebih interaktif. Yang tidak kalah penting, kami membangun komunikasi dua arah sehingga mahasiswa merasa terlibat penuh dalam proses belajar,” jelasnya.

Meski penuh optimisme, ia tidak menutup mata terhadap berbagai tantangan yang menanti mahasiswa. Manajemen waktu, adaptasi terhadap mata kuliah baru yang semakin kompleks, hingga konsistensi belajar menjadi persoalan yang kerap muncul. “Tugas dosen adalah menjadi fasilitator dan menciptakan lingkungan belajar yang kondusif agar mahasiswa tetap fokus dan termotivasi. Tantangan lain, mahasiswa harus siap dengan perubahan teknologi yang kian masif. Karena itu metode belajar harus variatif dan berorientasi pada implementasi di lapangan,” tegasnya.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Wahyu menyiapkan blended learning dengan paduan tatap muka dan daring, ditambah penerapan project-based learning. Metode ini, menurutnya, tidak hanya memperkaya pengalaman belajar mahasiswa, tetapi juga melatih mereka menyelesaikan studi kasus nyata yang berdampak langsung pada masyarakat. “Mahasiswa perlu menyadari bahwa dunia perkuliahan berbeda dengan sekolah menengah. Mereka harus siap mengeksplorasi variasi keilmuan dan berani menerapkannya dalam kehidupan nyata,” tambahnya.

Di akhir wawancara, Wahyu menitipkan harapan bagi seluruh mahasiswa agar lebih aktif, kreatif, dan membangun karakter positif. Secara khusus, ia menekankan kepada mahasiswa baru untuk menjaga norma di lingkungan kampus, membangun hubungan yang sehat dengan kakak tingkat, serta berani melaporkan jika menemukan tindakan negatif, termasuk bullying. “Lingkungan kelas harus tetap aman dan nyaman agar semua bisa berkembang,” tuturnya.

Dengan semangat itu, FIKOM Universitas Mulia berharap semester ganjil 2025–2026 bukan hanya menjadi awal perkuliahan baru, tetapi juga pijakan penting dalam menyiapkan generasi muda yang tangguh menghadapi dinamika teknologi dan masyarakat. (YMN)

Balikpapan, 12 September 2025 – Pengesahan Kurikulum 2025 Universitas Mulia menjadi momentum penting bagi seluruh program studi, termasuk Program Studi Informatika. Kepala Program Studi Informatika, Isa Rosita, S.Kom., M.Cs., menegaskan bahwa kurikulum baru ini bukan sekadar dokumen administratif, melainkan fondasi arah pembelajaran yang akan dijalankan di prodi.

“Pengesahan kurikulum 2025 yang dilaksanakan Hari Jumat, 12 September 2025 di Ruang Eksekutif, Gedung White Campus Universitas Mulia ini, menjadi tonggak penting bagi prodi Informatika, karena menjadi dasar arah pembelajaran di prodi. Kurikulum ini adalah wujud komitmen kami dalam menyiapkan lulusan yang kompetitif, adaptif, dan memiliki keunggulan sesuai profil lulusan yang sudah dirancang,” ujarnya.

Isa menjelaskan, tindak lanjut dari pengesahan ini akan langsung masuk ke dalam seluruh kegiatan akademik sehari-hari. “Prodi akan memastikan kurikulum baru ini segera diintegrasikan ke dalam seluruh proses pembelajaran, mulai dari perencanaan pembelajaran, evaluasi, hingga kegiatan kemahasiswaan,” terangnya.

Kepala Program Studi Informatika Universitas Mulia, Isa Rosita, S.Kom., M.Cs., di ruang kerjanya saat menyampaikan pandangan mengenai implementasi Kurikulum 2025.

Kesiapan dosen menjadi aspek yang tidak diabaikan. Menurutnya, implementasi Rencana Pembelajaran Semester (RPS) hasil pengesahan membutuhkan kerja sama yang erat. “Kami menyadari implementasi RPS membutuhkan kolaborasi, oleh karena itu prodi siap mendampingi melalui monitoring, evaluasi, serta membantu menyediakan sumber daya yang dibutuhkan, tentu saja dengan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait,” jelasnya.

Suasana khidmat saat Rektor Universitas Mulia, Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si., memberikan sambutan pada acara pengesahan Kurikulum 2025 di White Campus, Universitas Mulia

Lebih jauh, Isa menekankan bahwa pengelolaan kurikulum tidak bisa dipandang tunggal dari sisi regulasi. “Kami menempatkan kurikulum nasional sebagai standar utama, kemudian mengadaptasikannya dengan visi universitas, serta menambahkan muatan-muatan keilmuan yang sesuai dengan arah keilmuan informatika dan kebutuhan mahasiswa serta pengguna lulusan. Sebelum kurikulum ini dirumuskan, kami telah melakukan dialog dengan stakeholder dan pengguna lulusan, alumni, dan mahasiswa, dengan harapan kurikulum yang kami bentuk tidak hanya patuh pada regulasi, tetapi juga relevan, aplikatif, dan kontekstual,” paparnya.

Untuk target jangka pendek, Prodi Informatika fokus memastikan implementasi kurikulum berjalan efektif mulai semester ganjil tahun ini. “Target utama kami adalah memastikan kurikulum ini berjalan dengan baik, karena semester ganjil ini sudah mulai diimplementasikan ke mahasiswa baru. Melakukan sosialisasi dan melengkapi perangkat pembelajaran juga menjadi target terdekat kami,” pungkasnya.

Pengesahan Kurikulum 2025 Universitas Mulia sendiri menjadi bagian dari langkah strategis kampus dalam mengintegrasikan Outcome-Based Education (OBE), Project-Based Learning (PBL), dan Design Thinking ke dalam mata kuliah wajib kurikulum (MKWK) dan mata kuliah universitas (MKU), yang ditargetkan mampu memperkuat daya saing lulusan di era kompetitif. (YMN)

Balikpapan, 11 September 2025 – Dekan Fakultas Ilmu Komputer (FIKOM) Universitas Mulia, Djumhadi, S.T., M.Kom., menegaskan bahwa pelatihan sertifikasi Auditor Mutu Internal (AMI) yang tengah berlangsung di kampus merupakan langkah strategis untuk memperkuat sistem penjaminan mutu di seluruh program studi di bawah naungan fakultas.

Menurutnya, sertifikasi AMI bukan sekadar formalitas, melainkan sebuah investasi jangka panjang. “Dengan asesor yang tersertifikasi, proses audit mutu internal menjadi lebih profesional, sistematis, dan obyektif. Hasil audit bisa memberikan masukan nyata untuk memperbaiki kurikulum, pembelajaran, maupun layanan akademik di setiap prodi. Jadi, sertifikasi ini membantu fakultas menjaga standar mutu yang konsisten,” ujarnya.

Tantangan utama dalam menjaga mutu akademik, lanjut Djumhadi, terletak pada konsistensi penerapan standar mutu. Ia menilai bahwa sering kali standar hanya dipenuhi menjelang akreditasi, padahal semestinya menjadi praktik sehari-hari. “Pelatihan AMI membantu dengan memberi pemahaman metodologi audit yang tepat, sehingga asesor bisa mengidentifikasi celah mutu sejak dini dan memberikan rekomendasi yang realistis,” jelasnya.

Peserta mengikuti pemaparan materi Pelatihan Sertifikasi Auditor Mutu Internal (AMI) di Universitas Mulia dengan penuh perhatian.

Hasil audit mutu internal di tingkat fakultas, kata Djumhadi, ditindaklanjuti melalui rapat evaluasi yang melibatkan dekanat, kaprodi, dan unit terkait. Dari temuan auditor, fakultas menyusun corrective action plan yang kemudian dimonitor pelaksanaannya secara rutin agar tidak berhenti pada dokumen semata.

Lebih lanjut, sertifikasi AMI dipandang mendukung secara langsung pencapaian akreditasi unggul di program studi. “Akreditasi unggul menuntut bukti penerapan sistem penjaminan mutu yang konsisten. Dengan asesor tersertifikasi, audit mutu internal menjadi lebih kredibel dan berkualitas. Hasil audit bisa menjadi data dukung yang kuat saat prodi mengajukan akreditasi, sekaligus menunjukkan bahwa budaya mutu benar-benar berjalan,” tegasnya.

Djumhadi juga menekankan pentingnya kolaborasi dengan LPMPP Universitas Mulia. Bentuk kerja sama itu meliputi koordinasi jadwal audit, penyusunan instrumen, hingga pendampingan tindak lanjut. Menurutnya, LPMPP berperan dalam supervisi dan fasilitasi, sementara fakultas memastikan implementasi hasil audit di tingkat prodi.

Dari sisi penguatan budaya mutu, pelatihan ini dinilai memberi dampak langsung bagi dosen dan mahasiswa. “Pelatihan ini menumbuhkan kesadaran bahwa mutu bukan hanya tanggung jawab lembaga penjaminan mutu, tetapi juga semua dosen dan mahasiswa. Dosen lebih disiplin menyusun dokumen pembelajaran sesuai standar, dan mahasiswa terbiasa mendapatkan layanan akademik yang terukur. Lama-kelamaan, hal ini membentuk budaya mutu yang melekat dalam keseharian akademik,” ungkapnya.

Lebih jauh, ia memandang auditor mutu internal memiliki kontribusi nyata dengan berfungsi sebagai “cermin” bagi fakultas. “Dengan audit yang jujur dan obyektif, fakultas punya dasar yang jelas untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, penelitian, dan layanan. Ini lebih dari sekadar administrasi; auditor membantu fakultas tetap berada di jalur menuju visi unggul,” tutur Djumhadi.

Menutup wawancara, ia menyampaikan pesan khusus bagi seluruh civitas akademika FIKOM. “Budaya mutu adalah tanggung jawab bersama. Dosen diharapkan konsisten memberikan pembelajaran terbaik sesuai standar, dan mahasiswa diharapkan disiplin serta aktif berpartisipasi. Dengan semangat bersama menjaga mutu, fakultas kita bisa menghasilkan lulusan yang tidak hanya kompeten, tetapi juga siap bersaing secara nasional maupun internasional,” pungkasnya. (YMN)

Balikpapan, 27 Agustus 2025 – Fakultas Ilmu Komputer (FIKOM) Universitas Mulia menjadikan program Vocational School Graduate Academy (VSGA) sebagai bagian penting dari strategi akademik dalam memperkuat kompetensi mahasiswa di bidang teknologi informasi dan komunikasi. Dekan FIKOM, Djumhadi, S.T., M.Kom., menegaskan bahwa VSGA bukan sekadar pelatihan tambahan, tetapi diintegrasikan langsung dengan kurikulum agar manfaatnya lebih nyata bagi mahasiswa.

“Capaian pembelajaran di program studi kami dipetakan dengan unit-unit kompetensi VSGA yang berbasis SKKNI. Dengan begitu, mata kuliah seperti Jaringan Komputer, Pemrograman, Basis Data, Analisis Sistem, maupun Keamanan Informasi bisa langsung terhubung dengan standar sertifikasi,” jelas Djumhadi.

Melalui pemetaan ini, mahasiswa tidak hanya menyelesaikan perkuliahan dengan teori dan praktikum, tetapi juga diarahkan untuk mendapatkan bukti kompetensi yang berlaku nasional. Sebagai contoh, mahasiswa yang menuntaskan mata kuliah Administrasi Jaringan dapat langsung mengikuti pelatihan dan uji sertifikasi Junior Network Administrator.

Menurut Djumhadi, strategi integrasi ini membawa beberapa keuntungan. Sertifikat resmi yang diperoleh mahasiswa memperkuat daya saing saat memasuki dunia kerja. Kurikulum juga menjadi lebih link and match dengan industri karena modul VSGA memang disusun berdasarkan kebutuhan sektor TIK. “Portofolio mahasiswa otomatis lebih kuat. Mereka tidak hanya membawa ijazah, tetapi juga bukti keterampilan yang diakui industri,” ujarnya.

Selain hard skill, VSGA juga menumbuhkan soft skill penting seperti komunikasi, problem solving, dan teamwork. Ujian sertifikasi menuntut kedisiplinan dan konsistensi, yang akhirnya memacu mahasiswa untuk memiliki standar kompetensi yang jelas. “Kegiatan ini mendorong spirit kompetitif mahasiswa. Mereka belajar menetapkan target, mengukur kemampuan, dan berjuang melewati standar nasional. Itu pengalaman berharga yang tidak mereka dapatkan hanya dari ujian kampus,” tambahnya.

Lebih jauh, kegiatan VSGA membuka kesempatan mahasiswa untuk berinteraksi dengan instruktur dari industri, asosiasi profesi, maupun lembaga sertifikasi. Menurut Djumhadi, jejaring profesional yang terbentuk dari proses ini menjadi modal penting bagi mahasiswa ketika mereka memasuki dunia kerja. “Relasi yang dibangun sejak masa kuliah bisa berlanjut menjadi peluang magang, kerja sama riset, hingga akses rekrutmen,” terangnya.

Dalam implementasinya, FIKOM juga menerapkan model praktikum berbasis modul VSGA, tugas proyek yang menghasilkan portofolio sesuai standar, serta rekognisi SKS bagi mahasiswa yang lulus sertifikasi. Dengan cara ini, sertifikat tidak sekadar menjadi dokumen tambahan, tetapi diakui secara akademik.

Relevansi VSGA semakin terasa di tengah tuntutan revolusi industri 4.0 dan society 5.0. Skema-skema seperti Junior Mobile Programmer, Data Management Staff, Junior Web Developer, hingga Digital Marketing dianggap selaras dengan kompetensi inti era digital. “VSGA tidak hanya membekali keterampilan teknis, tetapi juga memperkuat literasi digital mahasiswa. Mereka paham infrastruktur, mampu mengembangkan solusi digital, dan mengerti bagaimana teknologi digunakan untuk meningkatkan kualitas hidup,” papar Djumhadi.

Meski demikian, ia mengakui ada tantangan yang harus dihadapi mahasiswa. Kesiapan teknis perlu ditempa lewat praktikum intensif, kesiapan mental ditumbuhkan melalui kepercayaan diri dan disiplin, sementara dukungan institusi diwujudkan melalui fasilitas laboratorium, instruktur pendamping, dan pengakuan hasil sertifikasi dalam kurikulum. “Keberhasilan sertifikasi bukan hanya tanggung jawab mahasiswa, tetapi hasil dari sinergi antara usaha mereka dan dukungan kampus,” tegasnya.

Ke depan, FIKOM Universitas Mulia merancang langkah yang lebih sistematis. Rencana jangka panjang mencakup pemetaan jalur sertifikasi sejak awal kuliah, pembangunan Test Center di kampus yang terakreditasi, perluasan kerja sama dengan Kominfo, industri TIK, serta lembaga sertifikasi. Sertifikat yang diperoleh mahasiswa juga akan dikonversi ke dalam SKS agar benar-benar menjadi bagian dari capaian akademik.

“Budaya belajar berkelanjutan yang kami dorong akan membuat mahasiswa terbiasa meningkatkan kompetensinya seiring perkembangan teknologi. Dengan begitu, lulusan FIKOM tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki sertifikat kompetensi yang diakui nasional dan global,” pungkas Djumhadi.(YMN)

Dekan Fakultas Ilmu Komputer Djumhadi, S.T., M.Kom. berfoto bersama Kaprodi dan staf serta undangan dan Mahasiswa Baru 2025. Foto: Media Kreatif

UM – Suasana Ballroom Cheng Ho bergemuruh oleh pekik semangat mahasiswa baru pada Jumat (22/8/2025). Yel-yel “Siapa kita? Fakultas Ilmu Komputer! Di mana kita? Universitas Mulia!” menjadi penanda dimulainya babak baru bagi ratusan generasi penerus bangsa yang resmi bergabung dengan keluarga besar Fakultas Ilmu Komputer  Universitas Mulia.

Kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) dibuka dengan sambutan hangat dari Dekan Fakultas Ilmu Komputer, Djumhadi, S.T., M.Kom.

Dalam pidatonya, ia tidak hanya menyambut, tetapi juga memberikan pencerahan dan bekal fundamental bagi para mahasiswa untuk menavigasi perjalanan akademis mahasiswa.

“Kalian di sini bukan hanya sekadar mengejar gelar sarjana,” tegas Djumhadi. “Kalian adalah generasi penerus bangsa yang akan mengisi dan mewarnai perjalanan fakultas ini. Peran kalian lebih dari itu, yaitu turut serta menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi,” tambahnya.

Pesan ini menjadi inti dari unsur edukasi yang disampaikannya. Ia menekankan bahwa mahasiswa memiliki tanggung jawab dalam tiga pilar utama: Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian kepada Masyarakat.

Hal ini akan diwujudkan melalui berbagai kegiatan seperti kerja praktik, Kuliah Kerja Nyata (KKN), dan kolaborasi penelitian dengan para dosen.

Dekan Fakultas Ilmu Komputer Djumhadi, S.T., M.Kom. berfoto bersama Kaprodi dan staf serta undangan dan Mahasiswa Baru 2025. Foto: Media Kreatif

Dekan Fakultas Ilmu Komputer Djumhadi, S.T., M.Kom. berfoto bersama Kaprodi dan staf serta undangan dan Mahasiswa Baru 2025. Foto: Media Kreatif

Tampak dari belakang Mahasiswa Baru 2025 berbaris mengikuti instruksi panitia. Foto: Media Kreatif

Tampak dari belakang Mahasiswa Baru 2025 berbaris mengikuti instruksi panitia. Foto: Media Kreatif

Empat Kunci Emas Menuju Kesuksesan

Untuk memperkuat mental dan semangat mahasiswa baru, Djumhadi membagikan empat kunci utama yang harus dipegang teguh selama menempuh studi di Fakultas Ilmu Komputer Universitas Mulia:

1. Manajemen Waktu yang Baik

Mahasiswa didorong untuk pandai menyeimbangkan antara waktu belajar, berorganisasi, dan kegiatan pribadi. Kemampuan ini adalah fondasi utama untuk meraih prestasi akademis tanpa mengorbankan pengembangan diri.

2. Keaktifan dalam Berorganisasi

Bergabung dengan Himpunan Mahasiswa (Hima) atau unit kegiatan lainnya bukan sekadar pilihan, melainkan sebuah kebutuhan untuk mengasah soft skill, kepemimpinan, dan memperluas jaringan.

3. Membangun Jaringan Belajar

Djumhadi mengingatkan agar mahasiswa tidak menjadi “Superman” yang belajar sendiri. “Utamakan belajar kelompok. Di dunia perkuliahan, kolaborasi adalah kunci untuk memecahkan masalah dan meraih pemahaman yang lebih dalam,” ujarnya.

4. Menjaga Akhlak dan Etika

Di atas semua kecerdasan akademis, karakter adalah yang utama. Ia berpesan agar mahasiswa menjaga etika dalam berpakaian, bertutur kata, dan berinteraksi, baik di dalam maupun di luar lingkungan kampus. “Panggil teman kalian dengan nama yang baik, bukan dengan panggilan yang merendahkan,” pesannya dengan tegas.

Peluang Karir Cemerlang di Fakultas Ilmu Komputer

Sambutan ini juga menjadi ajang promosi yang efektif bagi calon mahasiswa baru. Djumhadi memaparkan keunggulan program studi di Fakultas Ilmu Komputer yang sangat relevan dengan kebutuhan industri digital saat ini, antara lain:

  1. Informatika (S1): Fokus pada Software Engineering, Kecerdasan Buatan (AI), dan Mobile Application Development.
  2. Sistem Informasi (S1): Mengintegrasikan teknologi dengan kebutuhan bisnis, mencetak Data Analyst dan Software Developer System.
  3. Teknologi Informasi (S1): Menjawab tantangan zaman dengan konsentrasi pada Cyber Security dan Arsitektur Jaringan.
  4. Desain Komunikasi Visual (S1): Wadah bagi talenta kreatif untuk berkembang di industri visual dan multimedia.

Dengan kurikulum yang terus diperbarui dan dosen yang kompeten, lulusan Fakultas Ilmu Komputer disiapkan untuk menjadi profesional yang siap bersaing di kancah global.

Kegiatan ditutup dengan sebuah pantun yang membangkitkan semangat, “Mari rangkai mimpi dengan semangat membara,” yang disambut tepuk tangan meriah dari seluruh hadirin.

Bagi Anda yang ingin menjadi bagian dari generasi unggul di bidang teknologi dan informatika, Universitas Mulia masih membuka pendaftaran calon mahasiswa baru untuk tahun akademik 2025.

Pendaftaran akan ditutup pada 31 Agustus 2025 mendatang. Segera daftarkan diri Anda dan raih masa depan gemilang bersama Fakultas Ilmu Komputer Universitas Mulia

(SA/Kontributor)

Balikpapan, 11 Agustus 2026 – Program Studi Teknologi Informasi Universitas Mulia memperoleh dukungan fasilitas Digital Sandbox Lab melalui hibah PP-PTS 2025. Fasilitas ini diharapkan mampu memperkuat ekosistem pembelajaran dan riset di bidang teknologi informasi, khususnya dalam simulasi kasus nyata seperti keamanan siber dan cloud computing.

Kaprodi Teknologi Informasi, Agus Wijayanto, S.Kom., M.Kom., menyampaikan bahwa Digital Sandbox Lab memberikan ruang isolasi yang memungkinkan mahasiswa melakukan simulasi dan eksperimen berbasis kasus nyata tanpa mengganggu sistem lain. “Ekosistem atau lingkungan Digital Sandbox Lab ini bisa dimanfaatkan dalam pembelajaran seperti pada kasus simulasi keamanan siber atau cloud computing yang memerlukan ruang isolasi,” jelasnya.

Menurut Agus Wijayanto, fokus riset yang harus dicapai Prodi Teknologi Informasi mengacu pada profil lulusan, yaitu pada bidang network and cloud architecture serta cybersecurity. Sandbox Lab memberikan fleksibilitas bagi mahasiswa untuk melakukan eksperimen, seperti penetration testing, incident response, maupun digital forensics. Fasilitas ini mempermudah mahasiswa melakukan berbagai inovasi tanpa khawatir akan kerusakan sistem lain.

“Kami berharap, dengan adanya fasilitas ini mahasiswa dapat terdorong untuk membangun startup. Sandbox Lab dapat digunakan untuk proof of concept dan prototyping produk, mulai dari aplikasi berbasis cloud hingga solusi keamanan jaringan yang siap pakai,” tambahnya.

Lebih lanjut, Agus Wijayanto menekankan bahwa fokus saat ini adalah menyiapkan mahasiswa menghadapi revolusi industri dengan peningkatan kemampuan teknis, khususnya dalam cybersecurity serta network and cloud architecture, sekaligus meningkatkan kemampuan inovasi.

Selain itu, hibah ini membuka peluang kolaborasi lintas program studi di Fakultas Ilmu Komputer. Contohnya, mahasiswa dari program studi Informatika dengan fokus pada artificial intelligence (AI) atau data science dapat memanfaatkan fasilitas ini untuk mengelola dataset besar, melatih model machine learning, dan menguji deployment aplikasi AI di lingkungan cloud.

“Pada dasarnya kami berharap fasilitas hibah ini dapat dimanfaatkan untuk kebaikan mahasiswa Universitas Mulia,” tutup Agus Wijayanto. (YMN)

 

Permasalahan utama bukan semata pada perolehan sarana, melainkan pada bagaimana sarana tersebut dapat diintegrasikan secara menyeluruh ke dalam struktur kurikulum sehingga secara efektif memperkuat pencapaian kompetensi lulusan.”
— Wisnu Hera Pamungkas, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Sistem Informasi Universitas Mulia

Balikpapan, 11 Agustus 2025 – Program Penguatan Perguruan Tinggi Swasta (PP-PTS) dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menjadi salah satu instrumen utama untuk memperkuat kapasitas akademik dan sarana prasarana perguruan tinggi swasta di Indonesia. Tahun ini, Universitas Mulia (UM) memperoleh hibah hampir setengah miliar rupiah untuk mendukung dua program studi kunci: Farmasi dan Teknologi Informasi.

Namun, seperti ditegaskan oleh Wakil Rektor Bidang Akademik dan Sistem Informasi UM, Wisnu Hera Pamungkas, S.T.P., M.Eng., keberhasilan pemanfaatan hibah ini lebih dari sekadar angka dana dan peralatan canggih. “Tantangan terbesar bukan hanya mendapatkan peralatan, tetapi bagaimana kita bisa mengintegrasikannya secara penuh ke dalam kurikulum dan memastikan fasilitas ini memperkuat capaian pembelajaran lulusan secara nyata,” ujarnya tegas.

Menerjemahkan Hibah ke Dalam Capaian Pembelajaran

Wisnu menjelaskan, Program Studi Farmasi menerima perangkat laboratorium senilai lebih dari Rp300 juta, termasuk furnace dan hematology analyzer. “Kami harus memastikan bahwa perangkat ini tidak hanya jadi pajangan di laboratorium, melainkan menjadi bagian integral dari RPS dan modul praktikum yang berbasis Outcome Based Education (OBE). Ini juga berarti kami memasukkan prinsip Green Pharmacy dan pharmapreneurship—agar mahasiswa tidak hanya paham teknis, tapi juga sadar akan aspek keberlanjutan dan inovasi kewirausahaan farmasi,” jelasnya.

Di sisi lain, pada Program Studi Teknologi Informasi, pergeseran paradigma praktikum menjadi fokus utama. “Sebelumnya, praktikum lebih banyak bersifat simulasi. Sekarang, dengan keberadaan sandbox lab, mahasiswa bisa langsung berpraktik melakukan simulasi serangan siber, konfigurasi jaringan, hingga deployment cloud nyata. Ini menuntut dosen menyiapkan skenario pembelajaran berbasis proyek yang kompleks dan relevan dengan kebutuhan industri,” tambah Wisnu.

Hibah Sebagai Pemantik Reformasi Kurikulum dan Metode

Hibah PP-PTS bukan sekadar sarana pengadaan peralatan, melainkan pemicu pembaruan kurikulum dan metode pembelajaran. “Di Farmasi, kami akan melakukan revisi RPS dan menambah modul praktikum yang sejalan dengan standar industri farmasi yang terus berkembang,” katanya. “Sedangkan di Teknologi Informasi, perangkat sandbox lab memungkinkan mahasiswa mengakses teknologi terkini dan belajar melalui project-based learning yang menekankan keterampilan aplikatif.”

Dengan pendekatan ini, Universitas Mulia mencoba menjawab kebutuhan zaman yang menuntut lulusan tidak hanya menguasai teori, tetapi juga mampu mengimplementasikan dalam konteks nyata.

Pengawasan Mutu dari Log Book Hingga Evaluasi Capaian Kompetensi

Memastikan fasilitas hibah tidak menjadi simbol semata, UM menerapkan mekanisme monitoring dan evaluasi (monev) yang berlapis. “Kami mulai dari pencatatan penggunaan alat oleh dosen dan laboran lewat log book, survei kepuasan dosen dan mahasiswa, hingga evaluasi capaian kompetensi mata kuliah. Indikator keberhasilan seperti jumlah revisi RPS dan persentase capaian CPL sudah kami tetapkan sejak proposal hibah,” terang Wisnu.

Hal ini menunjukkan komitmen UM untuk menjadikan hibah sebagai investasi nyata dalam kualitas pembelajaran, bukan sekadar pemenuhan administratif.

Meningkatkan Kompetensi Dosen sebagai Kunci Keberhasilan

Dosen dan laboran mendapat perhatian khusus dalam peningkatan kompetensi teknis. “Pelatihan teknis sudah kami rancang agar mereka bukan hanya operator alat, tetapi mampu mengintegrasikan teknologi ini dalam pembelajaran berbasis kasus dan proyek,” kata Wisnu. Di Farmasi, pelatihan fokus pada pengoperasian furnace dan mikroskop trinokuler dengan kamera, serta menggabungkannya dalam modul Problem-Based Learning. Di TI, pelatihan meliputi pengoperasian perangkat keras jaringan, server, dan sandbox lab dengan pengembangan skenario pengajaran berbasis kasus nyata.

Menurut Wisnu, “Keberhasilan fasilitas hibah sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusia yang mengelolanya dan mengoptimalkannya dalam proses belajar mengajar.”

Fasilitas sebagai ‘Living Laboratory’

UM mengambil langkah inovatif menjadikan fasilitas hibah sebagai living laboratory yang melibatkan mahasiswa secara aktif. “Mahasiswa Farmasi akan dilibatkan dalam proyek inovasi produk berbasis bahan alam dari tahap standarisasi hingga uji keamanan,” jelas Wisnu. “Sementara mahasiswa TI akan mengerjakan proyek keamanan siber, konfigurasi jaringan, dan eksperimen cloud computing dalam skenario nyata.”

Melalui berbagai mekanisme seperti tugas proyek, capstone project, dan kompetisi, fasilitas ini diharapkan menjadi ruang eksplorasi dan inovasi mahasiswa, bukan hanya alat bantu pengajaran.

(YMN)

“Ini kondisi istimewa karena para Kaprodi akan memimpin prodi baru yang harus dibangun dari awal. Sebagai dosen dengan jabatan struktural, mereka memikul tanggung jawab ganda untuk memimpin prodi sekaligus menjalankan tridarma. Dalam hal ini, Kaprodi saya anggap sebagai product manager: mengawal keilmuan tetap relevan, pembelajaran bermutu, dan prodi diminati masyarakat.”
Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I. Wakil Rektor II Bidang Sumber Daya Universitas Mulia

Para Kaprodi baru Universitas Mulia berdiri menyanyikan lagu kebangsaan pada seremonial pembukaan pembekalan perdana.

Humas Universitas Mulia, 18 Juli 2025 — Universitas Mulia resmi menyambut kehadiran empat Ketua Program Studi (Kaprodi) baru untuk program studi Teknik Sipil, Teknik Industri, Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian (TPHP), serta Desain Komunikasi Visual (DKV). Kehadiran Kaprodi baru ini menjadi fase penting bagi Universitas Mulia yang tengah memperluas portofolio keilmuan di bidang teknik dan kreatif.

“Selamat datang untuk para Ketua Program Studi Baru di Universitas Mulia: KaProdi Teknik Sipil, Teknik Industri, TPHP, dan DKV. Ini adalah sebuah kondisi yang istimewa. Karena para KaProdi akan memimpin sebuah program studi yang baru berdiri,” ujar Wakil Rektor II Bidang Sumber Daya, Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I.

Wibisono menekankan, tanggung jawab memimpin prodi baru memiliki tantangan tersendiri. Tidak sekadar melanjutkan program kerja yang sudah mapan, tetapi memulai berbagai strategi dasar dari titik awal. Namun demikian, sejumlah praktik baik dari prodi lain di Universitas Mulia tetap dapat dijadikan acuan penyesuaian.

Suasana pembukaan pembekalan empat Kaprodi baru Universitas Mulia bersama jajaran pimpinan universitas dan Direktur Eksekutif BPH Yayasan Airlangga.

“Tentu ada banyak tantangan yang harus dihadapi, sebab ini tidak sekedar melanjutkan strategi atau program kerja yang sudah ada, tetapi harus memulai dari awal. Namun tentu saja beberapa hal dapat dilihat atau disesuaikan dari program studi lain yang ada di Universitas Mulia,” jelasnya.

Dalam struktur organisasi akademik, seorang Kaprodi tidak hanya bertanggung jawab secara administratif, tetapi juga tetap memegang peran sebagai dosen dengan kewajiban menjalankan tridarma perguruan tinggi.

“Menjadi dosen yang memegang jabatan struktural berarti akan mengemban dua tanggung jawab. Pertama, tanggung jawab sebagai pimpinan program studi. Kedua sebagai dosen, juga terikat tanggung jawab untuk melaksanakan tridarma yaitu pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat,” tegas Wibisono.

Keselarasan antara dua peran ini menjadi fokus. Kaprodi diharapkan mampu menjaga keseimbangan fungsi kepemimpinan dengan kewajiban akademik, sekaligus mendorong seluruh dosen di prodi masing-masing menjalankan tridarma dengan kualitas optimal. “Tantangan utama adalah bagaimana bisa menyelaraskan dua hal tersebut agar dapat berjalan secara selaras. Sebagai Kaprodi juga harus mendorong agar semua dosen di prodi tersebut dapat melaksanakan tanggung tridarma dengan baik,” ujarnya.

Wibisono memandang Kaprodi layaknya seorang product manager. Produk yang dikelola adalah program studi itu sendiri. Dalam posisi ini, Kaprodi memikul tiga tanggung jawab utama. Pertama, memastikan keilmuan yang dikembangkan melalui kurikulum selalu mengikuti perkembangan metodologi dan teknologi terkini, khususnya karena keempat prodi baru berkarakter teknik yang dinamis.

“Memastikan bahwa keilmuan yang dikembangkan di Prodi, yang dituangkan ke dalam kurikulum, selalu up to date dengan perkembangan metodologi dan teknologi di Prodi tersebut. Aspek metodologi dan teknologi ini penting, mengingat 4 prodi baru ini adalah prodi yang berbasis teknik yang erat kaitannya dengan perkembangan metodologi dan teknologi,” papar Wibisono.

Direktur Eksekutif BPH Yayasan Airlangga, Dr. Agung Sakti Pribadi, S.H., M.H. menyerahkan Surat Keputusan Kaprodi Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian.

Tanggung jawab kedua terletak pada mutu pelaksanaan pembelajaran, yang harus selaras dengan kebutuhan industri agar lulusan benar-benar relevan dengan medan kerja. Ketiga, prodi harus diterima dan diminati masyarakat. Popularitas dan minat pendaftar mencerminkan bagaimana prodi bersaing dengan program serupa di perguruan tinggi lain. “Memastikan bahwa Prodi tersebut diterima dan disukai oleh masyarakat. Ini tentu tercermin dari antusias mahasiswa yang mendaftar. Ketika Prodi tersebut juga ada di perguruan tinggi lain, maka sebagai wujud tanggung jawab product manager, harus mampu membuatnya lebih menarik dibanding prodi sejenis di tempat lain,” pungkasnya.

Dengan penekanan pada fungsi Kaprodi sebagai product manager, Universitas Mulia menegaskan tanggung jawab kepemimpinan prodi baru tidak berhenti pada urusan administrasi. Tugas Kaprodi terletak pada bagaimana program studi dikelola secara relevan, adaptif, dan memiliki daya tarik tersendiri di mata publik.

Humas UM (YMN)

“Pembekalan ini bukan hanya soal administrasi. Para Kaprodi harus memahami peran strategis mereka sebagai penggerak peningkatan mutu tridarma secara berkelanjutan. Karena itu, kami menyiapkan strategi pendampingan empat pilar: adaptasi budaya akademik, literasi regulasi, manajemen mutu, dan koordinasi lintas unit serta mitra industri.”
Wisnu Hera Pamungkas, Wakil Rektor I Bidang Akademik Universitas Mulia

 

Humas Universitas Mulia, 18 Juli 2025 — Universitas Mulia menggelar pembekalan bagi para Ketua Program Studi (Kaprodi) baru dari empat prodi yang resmi dibuka tahun ini, yaitu Teknik Sipil, Teknik Industri, Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian (TPHP), serta Desain Komunikasi Visual (DKV). Agenda ini diarahkan untuk mempersiapkan para Kaprodi memahami peran strategis mereka dalam menggerakkan tridarma perguruan tinggi sejak masa perintisan.

Wakil Rektor I Bidang Akademik, Wisnu Hera Pamungkas, , S.T.P., M.Eng. menyerahkan Surat Keputusan (SK) Kaprodi Desain Komunikasi Visual sebagai simbol dimulainya tanggung jawab akademik prodi baru.

“Pembekalan hari ini difokuskan untuk membekali para Kaprodi baru dengan pemahaman menyeluruh terkait peran strategis mereka sebagai pemimpin program studi, khususnya dalam konteks pelaksanaan tridarma perguruan tinggi,” jelas Wakil Rektor I Bidang Akademik Universitas Mulia, Wisnu Hera Pamungkas, S.T.P., M.Eng.

Materi disusun secara berlapis, meliputi aspek akademik, tata kelola kelembagaan, kemahasiswaan, hingga penguasaan sistem informasi yang mendukung manajemen prodi dan aktivitas pengajaran dosen. Wisnu menekankan, peran Kaprodi tidak berhenti pada tugas administratif. “Harapannya, para Kaprodi tidak hanya memahami tugas administratif, tetapi juga mampu menjadi penggerak utama dalam meningkatkan kualitas tridarma secara berkelanjutan,” ujarnya.

Empat Kaprodi baru Universitas Mulia menyimak materi pembekalan yang difokuskan pada penguatan peran strategis dalam pelaksanaan tridarma perguruan tinggi.

Untuk mendampingi para Kaprodi baru dalam merancang kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE) maupun Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), bidang akademik merumuskan strategi empat pilar. Pilar pertama adalah pembiasaan pada budaya akademik kampus agar visi prodi selaras dengan arah universitas. Pilar kedua mencakup penguatan literasi kebijakan akademik pada level nasional dan internal. Pilar ketiga menekankan pembekalan manajemen administrasi dan penjaminan mutu. Sementara pilar keempat mendorong koordinasi lintas unit, termasuk dengan Lembaga Penjaminan Mutu (LPM), Biro Administrasi Akademik dan Kemahasiswaan (BAAK), hingga mitra industri.

“Kami telah menyiapkan strategi pendampingan berbasis empat pilar utama,” terang Wisnu. “Pertama, penanaman pemahaman dan adaptasi terhadap budaya akademik kampus, agar kaprodi dapat menyelaraskan visi prodi dengan arah institusi. Kedua, penguatan literasi terhadap kebijakan dan regulasi akademik, baik yang bersifat nasional maupun internal kampus. Ketiga, pembekalan manajemen administrasi dan penjaminan mutu akademik sebagai fondasi utama tata kelola. Dan keempat, fasilitasi koordinasi dengan para pemangku kepentingan seperti LPM, BAAK, hingga mitra industri, guna memastikan kurikulum OBE dan MBKM dapat diimplementasikan dengan efektif dan kontekstual sesuai kebutuhan zaman.”

Dari sisi akreditasi, Wisnu menjelaskan penjaminan mutu dilakukan sejak tahap awal. Saat ini, dua prodi baru — Teknik Sipil dan Teknik Industri — telah mengantongi akreditasi dari LAM Teknik, sedangkan TPHP dan DKV masih dalam tahap pengajuan ke BAN-PT. “Penjaminan mutu sejak awal menjadi prioritas penting, karena berkaitan langsung dengan arah capaian akreditasi,” ungkapnya. Ia menambahkan, dokumen akademik dan pelaksanaan tridarma pada tiap prodi disusun menyesuaikan standar akreditasi sejak pendirian.

Indikator keberhasilan prodi baru, menurut Wisnu, terletak pada seberapa jauh kepercayaan publik berhasil dibangun di tiga tahun pertama. “Indikator utama keberhasilan program studi baru dalam jangka pendek adalah sejauh mana prodi mampu membangun kepercayaan publik,” tegasnya. Ia menyadari keterbatasan rekam jejak kerap memengaruhi jumlah mahasiswa pada tahun pertama. Namun demikian, eksistensi prodi harus diupayakan melalui forum-forum eksternal, lomba, seminar, maupun kemitraan.

Dari ruang monitoring, pola evaluasi tidak hanya bergantung pada mekanisme formal audit mutu. “Secara umum, monitoring dan evaluasi dilaksanakan melalui Lembaga Penjaminan Mutu dan Pengembangan Pendidikan (LPMPP), dengan instrumen utama berupa Audit Mutu Internal (AMI) setiap semester dan penelaahan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) program kerja tahunan,” terang Wisnu. Untuk keempat prodi baru ini, pola monev dibuat lebih intensif. Diskusi rutin, koordinasi informal, dan pendampingan teknis menjadi saluran untuk membaca hambatan sejak dini, terutama pada aspek inovasi pembelajaran dan adaptasi teknologi digital.

Di tengah dinamika ini, para Kaprodi baru dituntut tidak hanya membaca dokumen rencana, tetapi aktif memastikan bahwa tridarma, penjaminan mutu, kurikulum OBE-MBKM, serta pembaruan digital berjalan pada jalur yang kontekstual dengan kebutuhan pendidikan tinggi hari ini.

Humas UM (YMN)