Balikpapan, 26 Mei 2026 – Di tengah dominasi tren startup dan bisnis digital di kalangan generasi muda, koperasi mahasiswa sering kali dipandang sebagai organisasi lama yang kehilangan daya tarik. Namun, pandangan itu justru ingin dipatahkan oleh Program Studi Manajemen Universitas Mulia melalui pengembangan koperasi mahasiswa (Kopma) sebagai ruang belajar bisnis modern yang relevan dengan kebutuhan zaman.

Langkah tersebut diperkuat melalui program pemerintah yang digagas oleh Dinas Koperasi, UKM dan Perindustrian Kota Balikpapan dengan menunjuk tiga perguruan tinggi sebagai kampus percontohan pendirian koperasi mahasiswa, yakni Universitas Mulia, Universitas Balikpapan, dan STIE PAN Balikpapan.

Kepala Program Studi Manajemen Dr. Pudjiati menilai, keterlibatan Universitas Mulia dalam program tersebut bukan tanpa alasan. Menurutnya, Prodi Manajemen memiliki komitmen kuat dalam pengembangan kewirausahaan, kepemimpinan, dan praktik manajemen bagi mahasiswa.

\

“Program ini menjadi sarana pembelajaran nyata agar mahasiswa mampu mengelola organisasi dan usaha secara profesional serta mandiri,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa tantangan terbesar koperasi saat ini bukan terletak pada sistemnya, melainkan pada cara generasi muda memandang koperasi itu sendiri. Selama ini koperasi kerap diasosiasikan sebagai organisasi konvensional yang kurang menarik dan hanya berfokus pada simpan pinjam.

Padahal, menurutnya, koperasi memiliki potensi besar sebagai wadah kreativitas, pengembangan bisnis, dan pembelajaran kewirausahaan bagi mahasiswa. Karena itu, koperasi mahasiswa harus bertransformasi menjadi lebih modern, inovatif, dan dekat dengan dunia anak muda.

“Melalui digitalisasi layanan, pengelolaan profesional, dan program usaha yang relevan, koperasi bisa menjadi ruang belajar, berjejaring, sekaligus berwirausaha bagi mahasiswa,” jelasnya.

Dalam pandangannya, koperasi mahasiswa yang hanya sekadar formalitas organisasi kampus tidak akan memberikan dampak signifikan. Perbedaan mendasar terletak pada orientasi dan pengelolaannya. Kopma yang berkembang, kata dia, harus aktif menjalankan usaha nyata sehingga mahasiswa memperoleh pengalaman langsung dalam mengelola bisnis, membangun kepemimpinan, hingga menyelesaikan persoalan organisasi.

“Koperasi mahasiswa harus menjadi laboratorium praktik, bukan hanya organisasi administratif,” tegasnya.

Pandangan tersebut semakin diperkuat melalui kehadiran narasumber dari dua koperasi mahasiswa besar di Indonesia, yakni Ketua Umum Kopma Universitas Negeri Yogyakarta Sesa Nugroho Sativa dan Ketua Umum Kopma Universitas Gadjah Mada Faisal Agymnastiar Rahmad. Kehadiran keduanya menjadi bukti bahwa koperasi mahasiswa mampu berkembang menjadi unit usaha profesional dan mandiri.

Prodi Manajemen Universitas Mulia pun memiliki visi agar Kopma tidak hanya aktif secara organisasi, tetapi juga menjadi pusat pembelajaran bisnis dan kewirausahaan yang berkelanjutan. Dengan pendampingan yang tepat, koperasi mahasiswa diyakini dapat menjadi wadah pengembangan kompetensi, kreativitas, sekaligus membangun kemandirian ekonomi mahasiswa.

Lebih jauh, Dr. Pudjiati melihat koperasi mahasiswa memiliki nilai yang jauh lebih besar dibanding sekadar aktivitas ekonomi kampus. Di tengah budaya instan dan individualisme yang semakin kuat, koperasi dinilai mampu menjadi ruang pembentukan karakter mahasiswa.

“Mahasiswa belajar tentang tanggung jawab, kerja sama, kejujuran, disiplin, dan kepemimpinan. Nilai-nilai ini sangat penting untuk membentuk generasi muda yang profesional dan memiliki kepedulian sosial,” katanya.

Menurutnya, pembelajaran teori di ruang kelas saja tidak cukup untuk membentuk lulusan yang siap menghadapi dunia kerja dan dunia usaha. Karena itu, koperasi mahasiswa dipandang sebagai laboratorium praktik yang memungkinkan mahasiswa menerapkan langsung ilmu manajemen, pemasaran, keuangan, pelayanan, hingga pengambilan keputusan organisasi.

Sebagai bentuk komitmen nyata, dalam kegiatan tersebut juga dilakukan penandatanganan kerja sama antara Dinas Koperasi, UKM dan Perindustrian Kota Balikpapan dengan Program Studi Manajemen Universitas Mulia. Kerja sama itu diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi berlanjut pada pendampingan koperasi, pelatihan manajemen, seminar, praktik lapangan, hingga pengembangan usaha berbasis mahasiswa.

Ke depan, Prodi Manajemen berharap koperasi mahasiswa mampu melahirkan mahasiswa yang tidak hanya siap bekerja, tetapi juga siap menciptakan peluang usaha dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.

“Jadikan koperasi mahasiswa sebagai ruang belajar dan ruang tumbuh bersama. Jika dikelola dengan baik dan penuh komitmen, koperasi mahasiswa dapat menjadi kebanggaan kampus sekaligus bekal berharga bagi masa depan mahasiswa,” pungkasnya. (YMN)

 

Balikpapan, 26 Mei 2026—Aroma rumput basah dan suara percakapan panitia mulai terasa berbeda ketika bulan Dzulhijjah tiba di lingkungan Universitas Mulia. Di balik aktivitas akademik yang padat, ada tradisi yang diam-diam terus tumbuh selama lebih dari satu dekade: qurban yang dibangun dari gotong royong dosen dan karyawan kampus.

Tahun ini menjadi penanda perjalanan ke-12 pelaksanaan qurban di lingkungan kampus tersebut. Bukan sekadar rutinitas tahunan, program ini perlahan menjelma menjadi ruang pertemuan antara nilai ibadah, solidaritas, dan kepedulian sosial.

Koordinator pelaksana qurban, Drs. Achmad Prijanto, menyebut bahwa sejak awal program ini tidak pernah dibangun hanya untuk menyembelih hewan qurban semata. Ada nilai yang ingin dirawat bersama.

“Menjalankan syariat dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT menjadi tujuan utama. Qurban menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah sekaligus melatih keikhlasan dalam menyisihkan sebagian harta,” ujarnya.

Namun di tengah tekanan ekonomi yang dirasakan banyak kalangan, menjaga semangat kolektif bukan perkara mudah. Tidak semua dosen dan karyawan dapat langsung ikut serta. Karena itu, panitia memilih pendekatan yang sederhana tetapi efektif: menabung sedikit demi sedikit setiap bulan.

Bagi sebagian orang, skema itu mungkin terlihat biasa. Tetapi di lingkungan kampus, cara tersebut justru menjadi jembatan yang memungkinkan niat berqurban tetap hidup di tengah banyak kebutuhan lain yang harus diprioritaskan.

Achmad menjelaskan, transparansi dan akuntabilitas menjadi kunci utama agar kepercayaan peserta tetap terjaga dari tahun ke tahun. Panitia berusaha memastikan seluruh proses berjalan terbuka sehingga dosen dan karyawan merasa nyaman menitipkan amanah qurbannya.

Di sisi lain, qurban di lingkungan kampus ini juga membangun kultur kerja yang tidak banyak terlihat di ruang rapat atau administrasi akademik. Ada kebersamaan yang lahir dari proses menabung bersama, berdiskusi bersama, hingga mendistribusikan daging qurban secara langsung kepada masyarakat.

“Nilai-nilai qurban seperti kebersamaan, rela berkorban, dan disiplin ikut membentuk lingkungan kerja yang lebih harmonis, produktif, dan profesional,” katanya.

Tahun ini, jumlah hewan qurban mengalami peningkatan signifikan. Jika sebelumnya terdapat empat ekor hewan qurban, kini meningkat menjadi tujuh ekor atau naik sekitar 75 persen.

Menurut Achmad, peningkatan itu tidak lepas dari dukungan keluarga besar Yayasan Airlangga yang terus ikut menyuburkan kegiatan qurban di lingkungan kampus.

“Alhamdulillah, tiap tahun kami menargetkan minimal tiga ekor. Tahun ini meningkat dari empat menjadi tujuh ekor,” ungkapnya.

Tetapi denyut utama qurban kampus sesungguhnya terasa ketika proses distribusi dimulai. Daging qurban tidak berhenti di lingkungan internal kampus. Panitia turun langsung menyasar masyarakat sekitar kampus, petugas kebersihan Kota Balikpapan, hingga tiga panti asuhan.

Bagi warga sekitar, kehadiran qurban dari Universitas Mulia ternyata sudah menjadi sesuatu yang ditunggu setiap tahun. Bukan karena besarnya jumlah daging yang diterima, melainkan karena ada hubungan sosial yang terus dipelihara tanpa banyak publikasi berlebihan.

Achmad bahkan menegaskan bahwa program ini tidak dibangun untuk pencitraan institusi.

“Dampaknya dirasakan masyarakat dan itu yang paling penting. Daging qurban Universitas Mulia selalu ditunggu masyarakat dari tahun ke tahun,” tuturnya.

Di tengah banyaknya program kampus yang berorientasi pada capaian akademik dan teknologi, qurban justru menghadirkan wajah lain perguruan tinggi: hadir sebagai bagian dari denyut sosial masyarakat di sekitarnya.

Bagi Universitas Mulia, qurban tampaknya bukan hanya tentang penyembelihan hewan. Ia menjadi cara sederhana untuk menjaga hubungan antarmanusia tetap hangat di tengah dunia yang semakin sibuk dan individual. (YMN)

 

Balikpapam, 25 Mei 2026— Aroma kopi dan percakapan tentang usaha memenuhi ruangan Koperasi Hitam Manis ketika mahasiswa kelas MAN6J Universitas Mulia mulai mendengarkan cerita tentang bagaimana sebuah usaha lokal bertahan menghadapi perubahan pasar. Bukan kisah tentang perusahaan raksasa atau bisnis bernilai miliaran rupiah, melainkan perjalanan usaha yang tumbuh perlahan dari Balikpapan hingga akhirnya membuka cabang di Samarinda dan Yogyakarta.

Di tempat itu, mahasiswa tidak hanya melihat sebuah merek yang berkembang, tetapi juga membaca proses panjang di baliknya—tentang keputusan bisnis, keberanian mengambil risiko, menjaga kualitas, hingga menghadapi masa-masa ketika usaha harus tetap berjalan di tengah tekanan persaingan.

Kegiatan studi lapangan mata kuliah Manajemen Koperasi dan UMKM tersebut difasilitasi oleh Career Development Center (CDC) Universitas Mulia sebagai bagian dari upaya mempertemukan mahasiswa dengan praktik kewirausahaan secara langsung. Dalam sesi diskusi bersama pengelola Hitam Manis, mahasiswa diperlihatkan bahwa pertumbuhan usaha tidak hanya ditentukan oleh ide bisnis, tetapi juga oleh kemampuan menjaga konsistensi pengelolaan usaha dari waktu ke waktu.

Mahasiswa Universitas Mulia mengikuti sesi diskusi bersama pengelola Kopi Hitam Manis untuk mempelajari pengelolaan UMKM, pengembangan usaha, dan tantangan mempertahankan bisnis lokal di tengah persaingan pasar.

Dr. Linda Fauziah, Kepala Career Development Center Universitas Mulia, menjelaskan bahwa perjalanan usaha seperti Hitam Manis penting dipelajari mahasiswa karena memperlihatkan bahwa inovasi usaha dapat tumbuh dari daerah seperti Balikpapan dan berkembang ke kota-kota lain.

“Dari daerah seperti Balikpapan pun inovasi bisa terus bertumbuh bahkan sampai merambah ke kota-kota lain,” ujarnya.

Menurutnya, pengalaman tersebut diharapkan dapat memberi motivasi kepada mahasiswa bahwa peluang membangun usaha tetap terbuka, termasuk dari lingkungan lokal yang selama ini dekat dengan kehidupan mereka sendiri.

Dalam kegiatan itu, mahasiswa juga mempelajari berbagai tantangan yang dihadapi pelaku UMKM, mulai dari pengelolaan operasional hingga menjaga keberlanjutan usaha. CDC Universitas Mulia menilai mahasiswa perlu memahami bahwa keberhasilan usaha tidak hanya terlihat dari tampilan bisnis yang berkembang, tetapi juga dari proses panjang yang dijalani pelaku usaha dalam mempertahankan bisnisnya.

Mahasiswa Universitas Mulia bersama Dr. Linda Fauziah selaku Kepala Career Development Center Universitas Mulia dan pengelola Kopi Hitam Manis usai kegiatan studi lapangan mata kuliah Manajemen Koperasi dan UMKM.

“Mahasiswa perlu mengetahui perjuangan besar dan mental wirausaha yang terus dibangun oleh pemiliknya,” kata Dr. Linda.

Diskusi tersebut juga membahas kecenderungan generasi muda yang saat ini lebih banyak tertarik pada bisnis berbasis teknologi dan startup digital. Meski demikian, usaha berbasis UMKM tetap dipandang memiliki posisi penting karena mampu menyerap lebih banyak tenaga kerja dan lebih dekat dengan aktivitas ekonomi masyarakat sehari-hari.

Bagi Universitas Mulia, memperkenalkan mahasiswa pada usaha lokal seperti Hitam Manis menjadi bagian dari upaya memperluas cara pandang mereka terhadap dunia usaha. Mahasiswa diajak memahami bahwa bisnis tidak selalu harus dimulai dari skala besar atau teknologi tinggi, tetapi juga dapat berkembang melalui kemampuan menjaga kualitas, memahami pasar, dan membangun hubungan dengan konsumen.

Karena itu, studi lapangan semacam ini tidak ditempatkan sekadar sebagai pelengkap pembelajaran di kelas. CDC Universitas Mulia memaknainya sebagai ruang pembelajaran yang memperlihatkan secara langsung bagaimana pelaku usaha menghadapi risiko, menjaga konsistensi usaha, dan terus menyesuaikan diri dengan perkembangan pasar.

Melalui kunjungan ke Koperasi Hitam Manis, mahasiswa Universitas Mulia tidak hanya belajar tentang UMKM, tetapi juga melihat bagaimana sebuah usaha lokal dapat berkembang secara bertahap hingga memperluas jangkauan usahanya ke berbagai kota. (YMN)

 

Balikpapan, 25 Mei 2026—Ketika banyak percakapan bisnis di ruang kuliah lebih akrab dengan startup dan perusahaan besar, mahasiswa kelas MAN6A Universitas Mulia justru diajak masuk ke ruang ekonomi yang tumbuh dari kerja kolektif: koperasi. Melalui kunjungan lapangan ke Koperasi Mulawarman, mahasiswa tidak hanya mempelajari struktur kelembagaan koperasi sekunder, tetapi juga melihat bagaimana sistem tersebut bekerja melalui jaringan usaha, relasi antaranggota, dan keterhubungannya dengan aktivitas UMKM di masyarakat.

Kunjungan yang difasilitasi Career Development Center (CDC) Universitas Mulia itu disambut langsung oleh Ketua Umum Koperasi Mulawarman, Kolonel Inf. Cecep Agus Boediono. Dalam forum diskusi yang berlangsung terbuka, mahasiswa diajak memahami bagaimana koperasi menjalankan fungsi ekonomi yang berbeda dibanding perusahaan konvensional yang selama ini lebih sering mereka temui dalam pembelajaran bisnis.

Bagi sebagian mahasiswa, koperasi mungkin hanya dikenal sebagai bentuk badan usaha yang dibahas dalam teori manajemen atau ekonomi kerakyatan. Namun di Koperasi Mulawarman, mereka melihat bahwa koperasi memiliki mekanisme operasional, pola tata kelola, dan pengaruh ekonomi yang nyata terhadap usaha-usaha kecil di sekitarnya.

Dr. Linda Fauziah, Kepala Career Development Center Universitas Mulia, menjelaskan bahwa pengenalan terhadap koperasi menjadi penting karena mahasiswa perlu memahami kembali bagaimana model usaha berbasis kolektif tetap memiliki ruang dalam struktur ekonomi hari ini. Apalagi pemerintah saat ini kembali mendorong penguatan koperasi desa melalui program Koperasi Merah Putih.

“Mahasiswa perlu diperkuat wawasannya secara langsung terkait operasional kegiatan koperasi,” ujarnya.

Selama kunjungan berlangsung, mahasiswa juga berkesempatan melihat aktivitas beberapa outlet mitra Koperasi Mulawarman. Dari pengamatan tersebut, mahasiswa mempelajari bagaimana koperasi dapat terhubung dengan pelaku UMKM dan membentuk perputaran ekonomi yang tidak selalu terlihat dari luar.

Mahasiswa Universitas Mulia bersama Kepala Career Development Center Universitas Mulia, Dr. Linda Fauziah, dan pimpinan Koperasi Mulawarman berfoto di depan gedung Koperasi Mulawarman usai kegiatan studi lapangan mengenai pengelolaan koperasi, penguatan UMKM, dan ekonomi berbasis kolaborasi.

Pengalaman lapangan seperti ini memberi dimensi pembelajaran yang berbeda dibanding ruang kelas. Mahasiswa tidak hanya membaca konsep pengelolaan koperasi dari buku ajar, tetapi melihat bagaimana keputusan operasional, hubungan kemitraan, dan aktivitas usaha berjalan dalam praktik sehari-hari.

Dalam diskusi tersebut, mahasiswa juga diperkenalkan pada karakter koperasi sekunder yang menaungi sejumlah koperasi primer di bawahnya. Struktur seperti ini memperlihatkan bahwa pengaruh koperasi tidak selalu hadir secara langsung di tingkat masyarakat, tetapi bekerja melalui jejaring kelembagaan yang saling terhubung.

Menurut Dr. Linda, pemahaman mengenai koperasi penting agar mahasiswa tidak tumbuh dengan perspektif usaha yang terlalu sempit. Selama ini, bentuk badan usaha seperti PT atau CV lebih akrab di kalangan mahasiswa, sementara koperasi kerap dipandang sebagai sistem ekonomi lama yang kurang relevan dengan perkembangan bisnis modern.

Padahal, melalui koperasi, mahasiswa dapat melihat bagaimana usaha dibangun melalui prinsip kolaborasi, distribusi manfaat, dan keterlibatan anggota secara bersama. Karena itu, CDC Universitas Mulia juga mendorong mahasiswa untuk memahami jalur kemandirian ekonomi melalui berbagai bentuk usaha, termasuk model berbasis koperasi.

Bagi CDC, forum semacam ini tidak berhenti sebagai agenda studi lapangan akademik. Yang sedang dibangun adalah cara pandang mahasiswa terhadap kemungkinan ekonomi yang lebih luas—bahwa aktivitas usaha tidak selalu bertumpu pada kepemilikan individual atau modal besar, tetapi juga dapat tumbuh melalui struktur kolektif yang mampu menopang banyak pihak sekaligus.

Melalui kunjungan ke Koperasi Mulawarman, mahasiswa Universitas Mulia tidak hanya belajar tentang tata kelola lembaga. Mereka juga melihat bagaimana kerja sama, jaringan usaha, dan keberlanjutan ekonomi dijalankan dalam bentuk yang tetap hidup di tengah perubahan pola bisnis masyarakat hari ini. (YMN)

 

Balikpapan, 7 Mei 2026—Deretan kendaraan yang keluar masuk area layanan Daihatsu Balikpapan pada 7 Mei 2026 menjadi pemandangan yang berbeda bagi mahasiswa kelas MAN4C Universitas Mulia. Di tempat itu, mereka tidak hanya melihat aktivitas bengkel otomotif, tetapi juga menyaksikan bagaimana sebuah industri membangun ritme pelayanan, menjaga kepercayaan pelanggan, dan menyesuaikan diri dengan perubahan teknologi yang terus bergerak.

Kunjungan industri yang difasilitasi Career Development Center (CDC) Universitas Mulia tersebut membawa mahasiswa berkeliling ke berbagai area layanan Daihatsu Balikpapan. Dari ruang operasional hingga pelayanan pelanggan, mahasiswa diperlihatkan bahwa industri otomotif modern tidak lagi semata berbicara tentang kendaraan, melainkan tentang bagaimana teknologi, manajemen layanan, dan pengalaman konsumen saling terhubung dalam satu sistem bisnis.

Bagi Universitas Mulia, kunjungan ke industri otomotif memiliki makna yang lebih luas dibanding sekadar observasi lapangan. Sebagai perguruan tinggi yang lahir dari basis ilmu teknologi di Balikpapan, kampus dinilai perlu menjaga lingkungan pembelajaran yang terus peka terhadap perubahan teknologi dan perkembangan industri.

Dr. Linda Fauziah, Kepala Career Development Center Universitas Mulia, menjelaskan bahwa Daihatsu dipilih karena dipandang sebagai perusahaan yang mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi secara konsisten. Menurutnya, keberadaan perusahaan otomotif asal Jepang yang telah bertahan lebih dari enam dekade di Indonesia menjadi contoh penting tentang bagaimana industri menjaga relevansi di tengah perubahan zaman.

Di hadapan mahasiswa, konsep inovasi juga diperlihatkan dalam bentuk yang lebih luas. Selama ini, inovasi sering dipahami sebatas penciptaan produk baru. Padahal, di dunia industri modern, inovasi justru banyak hadir melalui sistem pelayanan, pengelolaan operasional, hingga bagaimana perusahaan membangun pengalaman pelanggan.

Karena itu, mahasiswa tidak hanya diajak melihat kendaraan atau proses teknis bengkel, tetapi juga mempelajari bagaimana layanan dibangun sebagai bagian dari strategi bisnis. Dari pola komunikasi dengan konsumen hingga pengelolaan area layanan, mahasiswa diperlihatkan bahwa pengalaman pelanggan menjadi bagian penting dari daya saing industri.

Menurut Dr. Linda, pembelajaran seperti ini penting karena mahasiswa perlu memahami aplikasi nyata dari teori yang dipelajari di ruang kuliah. Dunia kerja modern tidak hanya membutuhkan kemampuan teknis, tetapi juga kemampuan membaca perubahan dan memahami budaya profesional yang berkembang di lingkungan industri.

“Pembelajaran mendalam dan kontekstual perlu terus dihadirkan untuk meningkatkan mutu lulusan,” ujarnya.

Mahasiswa Universitas Mulia bersama Dr. Linda Fauziah selaku Kepala Career Development Center Universitas Mulia dan pimpinan Daihatsu Balikpapan usai kegiatan kunjungan industri yang membahas inovasi layanan, budaya kerja profesional, dan dinamika industri otomotif modern.

Pandangan tersebut berkaitan dengan kebutuhan dunia kerja yang semakin dinamis. Perusahaan tidak lagi hanya mencari individu yang menguasai teori, tetapi juga mereka yang mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi, ritme operasional, dan pola pelayanan yang terus berkembang.

Bagi CDC Universitas Mulia, kunjungan industri menjadi salah satu cara untuk mempertemukan proses akademik dengan realitas profesional secara lebih langsung. Melalui interaksi di lapangan, kampus dapat membaca kebutuhan industri secara lebih konkret, termasuk kompetensi seperti apa yang dibutuhkan perusahaan terhadap calon tenaga kerja di masa mendatang.

Di titik inilah kunjungan ke Daihatsu Balikpapan memperoleh maknanya yang lebih mendalam. Mahasiswa tidak sekadar datang melihat industri otomotif, tetapi belajar memahami bagaimana sebuah perusahaan bertahan melalui kemampuan beradaptasi, menjaga kualitas layanan, dan terus membaca perubahan yang terjadi di sekitarnya.

Bagi mahasiswa, pengalaman tersebut mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Namun bagi Universitas Mulia, pengalaman lapangan seperti ini merupakan bagian dari upaya membangun lulusan yang tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki kepekaan terhadap dunia profesional yang terus berubah. (YMN)

 

Balikpapan, 8 Mei 2026—Di balik produk air mineral yang sehari-hari terlihat sederhana di rak konsumsi, terdapat rangkaian operasional bisnis yang kompleks. Hal itulah yang dipelajari mahasiswa kelas MAN4A Universitas Mulia saat melakukan kunjungan industri ke DC Balikpapan pada Jumat, 8 Mei 2026.

Bagi sebagian mahasiswa, kunjungan tersebut menjadi pengalaman pertama melihat secara langsung ritme kerja industri manufaktur. Balikpapan sendiri tidak memiliki banyak industri manufaktur berskala besar seperti kota-kota industri di Pulau Jawa. Karena itu, kesempatan memasuki lingkungan operasional perusahaan menjadi pengalaman yang tidak mudah diperoleh dari ruang kelas semata.

Career Development Center (CDC) Universitas Mulia memandang pengalaman lapangan seperti ini sebagai bagian penting dari pembelajaran mendalam mahasiswa. Menurut Dr. Linda Fauziah, Kepala Career Development Center Universitas Mulia, interaksi langsung dengan industri memberi dimensi pembelajaran yang berbeda dibanding pendekatan teoritis yang selama ini dominan di kelas.

Kepala CDC UM, Dr. Linda Fauziah menerima penghargaan dari pihak DC Balikpapan sebagai bentuk apresiasi atas kunjungan industri dan penguatan kolaborasi pembelajaran antara dunia kampus dan industri manufaktur.

“Industri manufaktur di Balikpapan sangat terbatas dibanding di Jawa. Karena itu, pengalaman seperti ini menjadi sangat berharga bagi mahasiswa,” ujarnya.

Dalam kunjungan tersebut, mahasiswa tidak hanya melihat proses produksi air mineral, tetapi juga diperkenalkan pada bagaimana perusahaan mengelola rantai pasok serta mempertahankan keberlanjutan bisnis melalui diversifikasi produk. Pembahasan mengenai supply chain menjadi salah satu titik penting karena mahasiswa diajak memahami bahwa produk konsumsi yang terlihat sederhana sesungguhnya bergantung pada sistem distribusi dan pengelolaan operasional yang kompleks.

Menurut Dr. Linda, pemahaman mengenai manajemen rantai pasok menjadi semakin penting bagi mahasiswa yang akan memasuki dunia profesional. Industri modern tidak lagi hanya membutuhkan tenaga kerja yang memahami produk, tetapi juga individu yang mampu membaca hubungan antarproses di balik sebuah bisnis.

“Inovasi diversifikasi produk untuk menjaga keberlanjutan bisnis juga perlu dipahami mahasiswa,” jelasnya.

Selama ini, banyak mahasiswa mengenal industri hanya dari produk akhirnya—apa yang dijual, bagaimana mereknya dikenal, atau bagaimana produk itu dikonsumsi masyarakat. Padahal, keputusan bisnis lahir dari rangkaian proses yang jauh lebih rumit: efisiensi produksi, pengendalian distribusi, pemetaan pasar, hingga strategi mempertahankan keberlangsungan usaha di tengah persaingan.

Mahasiswa Universitas Mulia menyerahkan souvenir kepada pihak DC Balikpapan sebagai simbol apresiasi dan terjalinnya hubungan pembelajaran antara mahasiswa dan dunia industri.

Karena itu, kunjungan industri dipandang CDC Universitas Mulia sebagai cara mempertemukan mahasiswa dengan realitas operasional yang sesungguhnya. Di ruang produksi, mahasiswa belajar bahwa keputusan bisnis tidak berdiri sendiri, melainkan terhubung dengan sistem kerja yang saling memengaruhi.

Dr. Linda menilai pengalaman seperti ini masih belum banyak dijadikan pendekatan pembelajaran oleh perguruan tinggi. Menurutnya, Universitas Mulia melalui CDC berupaya menghadirkan pengalaman belajar yang memberi mahasiswa kesempatan melihat langsung dinamika industri di luar lingkungan akademik.

Semakin sering mahasiswa berinteraksi dengan dunia industri, semakin besar pula peluang mereka memahami perubahan yang terjadi di luar kampus. Dari perkembangan teknologi produksi hingga dinamika pasar, mahasiswa didorong untuk membangun sensitivitas terhadap perubahan yang akan mereka hadapi setelah memasuki dunia kerja.

Di titik inilah kunjungan industri memperoleh maknanya yang lebih dalam. Ia bukan sekadar agenda observasi perusahaan, tetapi ruang untuk membentuk cara berpikir mahasiswa agar mampu membaca dunia profesional secara lebih utuh—bahwa sebuah produk tidak hanya lahir dari mesin produksi, melainkan dari keputusan, strategi, dan kemampuan beradaptasi yang terus bergerak mengikuti perubahan zaman. (YMN)

 

Balikpapan, 25 Mei 2026—Suasana pagi yang cerah menyelimuti halaman kampus Universitas Mulia usai pelaksanaan apel pagi, Senin 25/5/2016. Hangat matahari yang belum terlalu terik berpadu dengan semangat para dosen dan tenaga kependidikan yang berkumpul mengikuti pelatihan penggunaan fire extinguisher atau Alat Pemadam Api Ringan (APAR).

Satu per satu peserta tampak maju mendekati titik simulasi kebakaran. Dengan penuh antusias, mereka mempraktikkan langsung cara memadamkan api menggunakan APAR di bawah arahan tim pendamping. Sesekali terdengar tepuk tangan dan sorak semangat ketika semburan serbuk pemadam berhasil melumpuhkan kobaran api dalam hitungan detik.

Kegiatan yang diinisiasi bagian Sarana dan Prasarana tersebut bukan sekadar pelatihan teknis biasa. Di balik praktik pemadaman api itu, tersimpan pesan penting tentang kesiapsiagaan, keselamatan, dan budaya sadar risiko di lingkungan perguruan tinggi.

Kepala Sarana dan Prasarana Universitas Mulia, Muhammad Fahmi Abdillah, S.Kom., M.Kom. menegaskan bahwa pelatihan tersebut merupakan bentuk komitmen kampus dalam meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat, khususnya kebakaran.

“Lingkungan kampus memiliki banyak aktivitas akademik maupun operasional yang melibatkan penggunaan listrik dan berbagai peralatan lainnya, sehingga potensi risiko kebakaran harus diantisipasi sejak dini melalui edukasi dan pelatihan yang tepat,” ujarnya.

Menurutnya, pengelolaan sarana dan prasarana tidak hanya berfokus pada penyediaan fasilitas, tetapi juga memastikan seluruh fasilitas aman digunakan dan memiliki sistem mitigasi risiko yang baik. Ia menilai, keberadaan APAR di lingkungan kampus belum cukup apabila sivitas akademika tidak memahami cara penggunaannya.

“Memiliki APAR saja tidak cukup apabila pengguna tidak memahami cara pengoperasiannya. Karena itu, pelatihan ini bertujuan memberikan pemahaman praktis agar sivitas akademika mampu menggunakan APAR dengan benar dan cepat ketika menghadapi situasi darurat,” jelasnya.

Saat ini, Universitas Mulia telah menempatkan APAR di sejumlah titik strategis kampus, dilengkapi jalur evakuasi serta prosedur tanggap darurat yang terus dievaluasi secara berkala. Tim sarpras juga rutin melakukan pengecekan terhadap tekanan, masa berlaku, hingga penempatan unit APAR agar selalu dalam kondisi siap pakai.

Di tengah praktik pelatihan, antusiasme peserta terlihat begitu tinggi. Beberapa dosen dan karyawan tampak bergantian mencoba teknik pemadaman api. Tidak sedikit peserta yang awalnya ragu berubah menjadi lebih percaya diri setelah berhasil mengendalikan api secara langsung.

Fahmi menyebut, pengalaman praktik lapangan seperti ini penting untuk mengurangi kepanikan saat menghadapi situasi darurat yang sebenarnya.

“Risiko terbesar dalam kondisi kebakaran adalah kepanikan. Kurangnya pemahaman dapat memperburuk situasi dan meningkatkan potensi korban jiwa maupun kerugian material,” katanya.

Ia juga menekankan bahwa keselamatan bukan hanya tanggung jawab satu unit kerja semata, melainkan budaya bersama yang harus dibangun di lingkungan kampus. Karena itu, pihak Sarpras berencana melaksanakan simulasi evakuasi kebakaran secara berkala serta memperkuat koordinasi antarunit dalam penanganan kondisi darurat.

“Keselamatan berkaitan langsung dengan nyawa manusia. Pelatihan seperti ini harus dipahami sebagai kebutuhan penting, bukan sekadar kegiatan seremonial,” tegasnya.

Melalui pelatihan tersebut, Universitas Mulia tidak hanya menunjukkan perhatian terhadap pengembangan fasilitas kampus, tetapi juga memperlihatkan keseriusan dalam membangun lingkungan akademik yang aman, tanggap, dan siap menghadapi berbagai risiko kedaruratan. Di bawah langit pagi yang cerah itu, pelatihan pemadaman api seolah menjadi pengingat bahwa kewaspadaan adalah bagian penting dari budaya kampus modern. (YMN)

Balikpapan, 25 Mei 2026—Di tengah perubahan pola rekrutmen kerja yang semakin dipengaruhi kemampuan adaptasi, komunikasi, dan penguasaan teknologi, Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mulia menghadirkan seminar Smart Skill for Smart Career bekerja sama dengan HR Forum Balikpapan. Forum yang diikuti 110 mahasiswa itu membedah satu persoalan yang kerap luput dibicarakan di ruang kuliah: banyak lulusan memiliki nilai akademik baik, tetapi belum cukup siap menghadapi kultur, tekanan, dan ritme kerja industri yang terus berubah.

Seminar menghadirkan Wahyu Ratnasari, S.E., M.M., dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mulia, bersama Adi Firdaus selaku HR Head PT Gorontalo Sejahtera Mining dan Chairman HR Forum Balikpapan. Kehadiran praktisi HR dalam forum tersebut memberi mahasiswa kesempatan mendengar secara langsung bagaimana perusahaan membaca kualitas calon tenaga kerja, termasuk alasan mengapa banyak pelamar gagal bukan karena kurang pintar, melainkan karena tidak mampu menunjukkan sikap kerja dan kemampuan beradaptasi.

Ketua Program Studi Manajemen Universitas Mulia, Dr. Pudjiati, S.E., M.M., menilai persoalan utama mahasiswa hari ini bukan semata lemahnya penguasaan teori, melainkan ketidaksiapan menghadapi dinamika kerja yang menuntut respons cepat, kemampuan berkomunikasi, dan keberanian mengambil keputusan.

“Dunia kerja saat ini tidak hanya membutuhkan lulusan yang pintar secara akademik, tetapi juga siap bekerja, mampu belajar cepat, dan memiliki soft skill yang baik,” ujarnya.

Menurutnya, banyak mahasiswa masih kesulitan membangun kepercayaan diri, bekerja dalam tim, menyampaikan gagasan secara jelas, hingga menyelesaikan persoalan secara efektif. Padahal, ruang kerja modern bergerak jauh lebih cepat dibanding ritme pembelajaran konvensional di kelas.

Ia juga menyinggung perubahan cara perusahaan menilai calon pekerja. Jika dahulu IPK sering menjadi perhatian utama, kini perusahaan lebih tertarik melihat karakter, etika kerja, disiplin, dan kemampuan seseorang menyesuaikan diri terhadap perubahan teknologi maupun budaya kerja.

“Perusahaan percaya kemampuan teknis masih bisa dipelajari, tetapi attitude, kemauan belajar, dan kemampuan adaptasi jauh lebih sulit dibentuk,” jelasnya.

Karena itu, kerja sama dengan HR Forum Balikpapan tidak ditempatkan sekadar sebagai agenda seminar tahunan. Prodi Manajemen ingin membuka jalur yang lebih dekat antara mahasiswa dan dunia industri, agar mahasiswa tidak hanya mengenal teori manajemen dari buku, tetapi juga memahami ekspektasi nyata perusahaan terhadap calon tenaga kerja muda.

Dalam sesi diskusi, isu kecerdasan buatan (AI) dan digitalisasi kerja menjadi salah satu topik yang paling banyak memancing perhatian peserta. Mahasiswa mempertanyakan bagaimana masa depan profesi manajemen ketika pekerjaan administratif mulai digantikan sistem otomatis.

Mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Mulia berfoto bersama narasumber seminar Smart Skill for Smart Career, Wahyu Ratnasari, S.E., M.M. dan Adi Firdaus selaku HR Head PT Gorontalo Sejahtera Mining sekaligus Chairman HR Forum Balikpapan, didampingi Ketua Prodi Manajemen Dr. Pudjiati, S.E., M.M., usai kegiatan seminar yang membahas kesiapan karier dan penguatan soft skill di era AI dan digitalisasi kerja.

Menanggapi hal tersebut, Dr. Pudjiati menegaskan bahwa teknologi tidak semestinya dipandang sebagai ancaman, melainkan alat yang harus dikuasai. Menurutnya, kemampuan yang akan tetap dibutuhkan industri adalah kemampuan berpikir kritis, membaca situasi, memimpin tim, berkomunikasi, dan mengambil keputusan di tengah perubahan.

Ia menjelaskan bahwa konsep smart skill bukan sekadar kecakapan menggunakan teknologi, tetapi perpaduan antara kompetensi akademik, literasi digital, kemampuan interpersonal, kreativitas, dan ketahanan menghadapi tekanan kerja.

“Mahasiswa dituntut menjadi pribadi yang fleksibel, kreatif, profesional, dan siap menghadapi tantangan kerja yang terus berkembang,” katanya.

Suasana seminar berlangsung hidup ketika mahasiswa mulai mengaitkan materi dengan kegelisahan mereka menjelang dunia kerja. Pertanyaan tentang personal branding, pengalaman organisasi, strategi menghadapi wawancara kerja, hingga cara membangun networking muncul silih berganti sepanjang sesi diskusi.

Bagi Prodi Manajemen Universitas Mulia, antusiasme tersebut menunjukkan perubahan cara pandang mahasiswa terhadap masa depan karier mereka. Kampus tidak lagi cukup hanya menjadi tempat memperoleh ijazah, tetapi juga ruang membangun kesiapan mental, keterampilan, dan jejaring profesional sejak dini.

Ke depan, Program Studi Manajemen berencana memperluas kolaborasi dengan HR Forum Balikpapan dan berbagai mitra industri melalui program pelatihan, mentoring karier, seminar lanjutan, hingga peluang magang mahasiswa. Langkah itu diarahkan agar lulusan tidak gagap ketika memasuki dunia kerja, sekaligus mampu membaca perubahan industri yang bergerak semakin cepat dari tahun ke tahun. (YMN)

Balikpapan, 8 Mei 2026 – Suasana Domain Space Universitas Mulia pada Jumat (8/5/2026) tampak berbeda dari biasanya. Sejumlah pelajar SMA dan SMK bergantian berdiri di depan peserta lain, mencoba memperkenalkan diri menggunakan bahasa Inggris. Sebagian masih terdengar ragu-ragu, beberapa kali tertawa kecil karena salah pengucapan, tetapi ruangan tetap dipenuhi tepuk tangan dan dukungan dari peserta lain.

Momen tersebut menjadi bagian dari workshop “The Next Level: Public Speaking with English Club Universitas Mulia” yang diselenggarakan UKM English Club Universitas Mulia. Sebanyak 28 pelajar dari berbagai sekolah di Kota Balikpapan mengikuti kegiatan yang berfokus pada pelatihan public speaking dan penguatan kepercayaan diri dalam berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris.

Berbeda dari seminar satu arah, workshop ini dikemas dengan pendekatan yang lebih interaktif. Peserta tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga langsung mempraktikkan cara berbicara di depan publik melalui simulasi presentasi, perkenalan diri, diskusi kelompok, hingga evaluasi sederhana terhadap performa masing-masing peserta.

Narasumber workshop, Ahmad Sya’bana, mahasiswa Program Studi Akuntansi angkatan 2023 yang aktif di UKM English Club, menyampaikan materi menggunakan bahasa Inggris. Ia menjelaskan bahwa kemampuan berbicara di depan umum saat ini menjadi salah satu keterampilan yang semakin dibutuhkan, baik dalam dunia akademik maupun lingkungan kerja profesional.

“Public speaking bukan hanya tentang berbicara di depan banyak orang, tetapi bagaimana seseorang mampu menyampaikan gagasan dengan jelas, terstruktur, dan mampu memengaruhi audiens secara positif,” ujarnya.

Ahmad Sya’bana saat membawakan materi public speaking berbahasa Inggris dalam workshop “The Next Level” yang digelar UKM English Club Universitas Mulia. Melalui sesi interaktif dan praktik langsung, peserta diajak membangun keberanian berbicara di depan publik sejak usia sekolah.

Menurut Ahmad, banyak pelajar sebenarnya memiliki ide dan kemampuan, tetapi sering kesulitan menyampaikannya karena kurang terbiasa berbicara di depan umum. Karena itu, latihan komunikasi perlu dimulai sejak dini agar rasa percaya diri dapat tumbuh bersamaan dengan kemampuan akademik.

Ketua UKM English Club, Gita Khairunnisa, mengatakan kegiatan tersebut memang dirancang untuk menciptakan ruang belajar bahasa Inggris yang lebih santai dan aplikatif bagi generasi muda. Ia menilai masih banyak pelajar yang merasa takut menggunakan bahasa Inggris karena khawatir melakukan kesalahan saat berbicara.

“Kami ingin peserta merasa bahwa belajar bahasa Inggris tidak harus selalu tegang. Yang penting berani mencoba dulu dan mau terus belajar,” katanya.

Selama kegiatan berlangsung, suasana workshop beberapa kali berubah menjadi lebih cair ketika panitia menghadirkan sesi ice breaking dan games edukatif. Peserta yang awalnya terlihat pasif mulai aktif berdiskusi dan saling memberi dukungan saat sesi praktik berlangsung.

Pembina UKM English Club, Riski Zulkarnain, S.Pd., M.Pd., menilai kegiatan semacam ini penting karena dunia pendidikan saat ini tidak hanya menuntut kemampuan akademik, tetapi juga kemampuan komunikasi, berpikir kritis, dan keberanian tampil di depan publik.

Ia menyebut organisasi mahasiswa memiliki ruang yang cukup besar untuk menghadirkan kegiatan yang memberi dampak langsung kepada masyarakat, termasuk pelajar sekolah menengah yang sedang mempersiapkan diri menghadapi dunia perkuliahan dan kerja.

“Mahasiswa dan pelajar sekarang perlu membiasakan diri menyampaikan ide dengan baik. Kemampuan itu akan sangat dibutuhkan di berbagai bidang,” ujarnya.

Seluruh rangkaian workshop dipersiapkan oleh mahasiswa anggota UKM English Club Universitas Mulia. Keterlibatan mahasiswa sebagai panitia sekaligus fasilitator menunjukkan bagaimana organisasi kemahasiswaan tidak hanya menjadi ruang berkegiatan, tetapi juga tempat belajar mengelola program edukatif secara langsung.

Melalui kegiatan ini, Universitas Mulia mencoba menghadirkan pendekatan pembelajaran yang lebih dekat dengan kebutuhan generasi muda saat ini—tidak hanya mengasah kemampuan akademik, tetapi juga membangun keberanian untuk berbicara, menyampaikan ide, dan tampil percaya diri di ruang publik. (YMN)

 

Balikpapan — Universitas Mulia menerima kunjungan silaturahmi dari tim Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) dalam rangka inisiasi kerja sama pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Kegiatan ini juga menjadi momentum untuk memperkenalkan program internasional Doctorate in Business dan Master of Business Administration (MBA) yang dikelola oleh FEB UGM.

Kunjungan tersebut dihadiri langsung oleh Prof. Nurul Indarti, S.E., Sivilokonom, Cand.Merc., Ph.D., selaku Ketua Departemen Manajemen FEB UGM; Prof. Gugup Kismono, Ph.D., selaku Direktur MBA FEB UGM Kampus Jakarta; Gumilang Aryo Sahadewo, Ph.D.; serta Sari Sitalaksmi, Ph.D., didampingi jajaran tim dari FEB UGM.

Kunjungan FEB UGM Ke Universitas Mulia

para Pejabat FEB UGM sebelah kiri , Para Pejabat Universitas Mulia Sebelah kanan

Kehadiran rombongan disambut hangat oleh Wakil Rektor Bidang Sumber Daya dan Kerja Sama Universitas Mulia, Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I., serta Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Sumardi, S.Kom., M.Kom. Turut hadir pula Dekan Fakultas Hukum ibu Budiarsih, S.H., M.H., Ph.D , Kaprodi Akutansi bapak Eko Edy Susanto, S.E., M.AK, Kepala Bagian Kerja Sama dan Humas Universitas Mulia Wahyu Nur Alimyaningtias, S.Kom., M.Kom., beserta para dosen dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mulia.

Dalam suasana penuh keakraban, kedua institusi mendiskusikan berbagai peluang kolaborasi strategis, khususnya dalam penguatan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang mencakup pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Selain itu, kerja sama juga diarahkan untuk mendukung peningkatan kapasitas dosen, pengembangan kurikulum, riset kolaboratif, serta penyelenggaraan kegiatan akademik bersama.

Prof. Nurul Indarti, S.E., Sivilokonom, Cand.Merc., Ph.D.(kiri), Sumardi, S.Kom., M.Kom (kanan)

Pada kesempatan tersebut, Prof. Nurul Indarti dan Prof. Gugup Kismono  memperkenalkan program internasional Doctorate in Business dan MBA FEB UGM yang dirancang untuk mencetak pemimpin dan akademisi bisnis berwawasan global. Program ini menawarkan pendekatan pembelajaran yang berorientasi pada riset, inovasi, serta jejaring internasional yang kuat.

Gumilang Aryo Sahadewo, Ph.D.(kiri), Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I.(kanan)

Wakil Rektor Bidang Sumber Daya dan Kerja Sama Universitas Mulia, Yusuf Wibisono, menyampaikan apresiasi atas kunjungan FEB UGM dan menyambut baik inisiatif kerja sama ini.

“Kami sangat mengapresiasi kunjungan dari tim FEB UGM. Pertemuan ini membuka peluang kolaborasi yang sangat strategis, baik dalam pengembangan sumber daya manusia, peningkatan kualitas akademik, maupun perluasan jejaring internasional Universitas Mulia,” ujarnya.

Prof. Gugup Kismono, Ph.D.(kiri) dan Budiarsih, S.H., M.H., Ph.D. (kanan)

Senada dengan itu, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Sumardi, menilai bahwa kerja sama dengan FEB UGM akan memberikan manfaat besar bagi mahasiswa dan alumni Universitas Mulia, khususnya dalam memperluas akses terhadap pendidikan berkualitas dan program-program unggulan bertaraf internasional.

Sari Sitalaksmi, Ph.D.(kiri), Wahyu Nur Alimyaningtias, S.Kom., M.Kom. (kanan)

Kepala Bagian Kerja Sama dan Humas Universitas Mulia Wahyu Nur Alimyaningtias, S.Kom., M.Kom., akan menindaklanjuti hasil pertemuan ini melalui komunikasi yang lebih teknis dengan pihak FEB UGM guna mematangkan rencana kerja sama dan menyusun program-program implementatif yang dapat segera direalisasikan.

Melalui pertemuan ini, Universitas Mulia berharap hubungan baik dengan FEB UGM dapat ditindaklanjuti ke dalam program-program konkret yang memberikan dampak nyata bagi peningkatan mutu pendidikan tinggi, khususnya di bidang ekonomi dan bisnis.

Kunjungan ini menegaskan komitmen Universitas Mulia untuk terus memperluas jejaring kerja sama dengan perguruan tinggi terkemuka di Indonesia guna mendukung terwujudnya visi sebagai universitas unggul, inovatif, dan berdaya saing global. WN