Kamis, 19 Februari 2026—Yayasan Airlangga menggelar kegiatan Silaturahmi Keluarga Besar Yayasan Airlangga dalam rangka menyambut Bulan Suci Ramadhan 1447 H. Kegiatan yang mengusung tema “Sucikan Hati, Pererat Tali Silaturahmi Menuju Ramadhan yang Berkah” ini dilaksanakan di Ballroom Cheng Hoo, mulai pukul 09.00 WITA hingga 12.00 WITA.

Acara tersebut dihadiri oleh unsur SMK Airlangga, SMK IT Airlangga, SMP Plus Airlangga, Universitas Mulia, para guru, dosen, karyawan, serta para pimpinan institusi di bawah naungan Yayasan Airlangga.

Dalam momentum menyambut Ramadhan tersebut, Direktur Eksekutif BPH Yayasan Airlangga, Dr. Agung Sakti Pribadi, S.H., M.H. menyampaikan pandangannya terkait sikap Universitas Mulia dalam menyongsong bulan suci, khususnya dalam penguatan karakter sivitas akademika.

“Dari perspektif Yayasan, Ramadhan merupakan momentum strategis untuk memperkuat nilai integritas, amanah, dan budaya kerja profesional di lingkungan Universitas Mulia,” ujarnya.

Dr. Agung menyampaikan muhasabah dalam rangka Silaturahmi Keluarga Besar Yayasan Airlangga menyambut Ramadan 1447 H di Ballroom Cheng Hoo, Rabu (18/2/2026).

Ia menegaskan bahwa nilai-nilai yang diajarkan Ramadhan memiliki relevansi langsung dengan kehidupan kerja dan akademik. “Ramadhan mengajarkan kita tentang kesabaran, ketekunan, dan keikhlasan dalam beramal. Oleh karena itu, kami mengajak seluruh sivitas akademika Universitas Mulia untuk memanfaatkan momentum Ramadhan ini untuk meningkatkan kualitas diri, memperkuat integritas, dan meningkatkan kepedulian sosial,” jelasnya.

Menurutnya, penguatan karakter tersebut penting agar lingkungan akademik semakin tertata dan profesional. “Dengan demikian, kita dapat menciptakan lingkungan akademik yang lebih profesional, amanah, dan berintegritas,” tambahnya.

Dalam pesannya kepada sivitas akademika menjelang Ramadhan 1447 H, Dr. Agung kembali menekankan pentingnya etos kerja dan kepedulian sosial. “Pesan saya kepada sivitas akademika Universitas Mulia dalam menyambut Ramadhan tahun ini adalah untuk terus meningkatkan etos kerja, integritas, dan kepedulian sosial,” ungkapnya.

Suasana silaturahmi Keluarga Besar Yayasan Airlangga yang dihadiri unsur SMK Airlangga, SMK IT Airlangga, SMP Plus Airlangga, Universitas Mulia, serta para guru, dosen, karyawan, dan pimpinan institusi.

Ia juga mengajak seluruh unsur kampus menjadikan Ramadhan sebagai ruang perbaikan diri dan peningkatan kualitas kinerja. “Mari kita jadikan Ramadhan sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri, meningkatkan kualitas kerja, dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat,” tuturnya.

Di akhir pernyataannya, ia berharap Ramadhan tahun ini membawa dampak positif bagi seluruh keluarga besar Universitas Mulia. “Semoga Ramadhan tahun ini dapat membawa berkah dan kebaikan bagi kita semua, dan menjadikan Universitas Mulia sebagai institusi pendidikan yang lebih baik dan berintegritas,” pungkasnya. (YMN)

Balikpapam, 18 Februari 2026-Dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah, keluarga besar Universitas Mulia menyampaikan ucapan selamat menunaikan ibadah puasa kepada seluruh sivitas akademika dan masyarakat luas.

Rektor Universitas Mulia, Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si., menyampaikan bahwa Ramadhan merupakan momentum strategis untuk memperkuat integritas spiritual sekaligus meningkatkan kualitas kinerja akademik.

“Ramadhan tidak hanya menghadirkan dimensi ibadah personal, tetapi juga membentuk karakter disiplin, kejujuran, dan tanggung jawab. Nilai-nilai inilah yang menjadi fondasi utama dalam membangun budaya akademik yang unggul dan beretika,” ujar beliau.

Lebih lanjut, Rektor menekankan bahwa puasa melatih ketahanan diri (self-restraint) yang selaras dengan prinsip-prinsip tata kelola perguruan tinggi yang profesional. Dalam konteks pendidikan tinggi, spirit Ramadhan mendorong lahirnya insan akademik yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan sosial.

Senada dengan itu, para Wakil Rektor Universitas Mulia mengajak seluruh dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa untuk menjadikan Ramadhan sebagai ruang refleksi kolektif. Momentum ini diharapkan mampu memperkuat etos kerja, meningkatkan produktivitas ilmiah, serta memperdalam kepedulian sosial melalui berbagai aktivitas pengabdian kepada masyarakat.

“Puasa adalah madrasah karakter. Di dalamnya terdapat latihan konsistensi, pengendalian diri, dan empati terhadap sesama. Nilai-nilai tersebut sangat relevan dalam membangun ekosistem akademik yang humanis dan berkelanjutan,” demikian disampaikan dalam pernyataan bersama jajaran pimpinan universitas.

Universitas Mulia juga mengajak seluruh sivitas akademika untuk tetap menjaga keseimbangan antara aktivitas perkuliahan, penelitian, pengabdian, dan ibadah selama bulan suci. Dengan manajemen waktu yang baik, Ramadhan justru menjadi penguat produktivitas dan kualitas kinerja.

Mengakhiri pernyataannya, Rektor dan para Wakil Rektor menyampaikan doa agar Ramadhan tahun ini menjadi sarana peningkatan iman dan takwa, serta menghadirkan keberkahan bagi keluarga besar Universitas Mulia.

“Semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita, menguatkan komitmen kita dalam menuntut dan mengembangkan ilmu, serta menjadikan Universitas Mulia sebagai institusi pendidikan yang memberi manfaat luas bagi umat dan bangsa.”

Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan 1447 H.
Semoga setiap langkah akademik yang kita tempuh bernilai ibadah dan menghadirkan kemaslahatan. (YMN)

Balikpapan, 18 Februari 2026 – Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika (HimaTI) Universitas Mulia melaksanakan kegiatan Goes to School bertajuk Beyond Networking: Menjelajahi Cakrawala Keamanan Siber pada 24 November 2025 di SMK Negeri 6 Balikpapan. Kegiatan ini menjadi bagian dari pengabdian institusi dalam memperluas wawasan teknologi informasi bagi siswa sekolah menengah kejuruan.

Program ini dirancang untuk memperkenalkan dimensi yang lebih luas dari bidang Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ). Tidak hanya membahas konfigurasi jaringan, pelatihan juga menyoroti keamanan informasi, pemrograman, arsitektur perangkat keras, hingga relevansinya dengan perkembangan komputasi awan dan Internet of Things (IoT). Pendekatan tersebut diambil untuk memberikan gambaran utuh mengenai kompetensi yang dibutuhkan dalam ekosistem industri digital.

Kegiatan berlangsung dalam format interaktif di lingkungan sekolah. Sesi awal memuat pemaparan konseptual mengenai keamanan sistem komputer dan jaringan, termasuk prinsip dasar perlindungan data serta potensi kerentanan yang kerap dimanfaatkan dalam serangan siber. Materi disampaikan secara aplikatif agar mudah dipahami oleh siswa jurusan TKJ.

Untuk menjaga partisipasi aktif, rangkaian kegiatan diselingi sesi interaksi yang mendorong konsentrasi dan respons cepat peserta. Dinamika ini menjadi pengantar menuju sesi utama berupa simulasi praktik dalam lingkungan virtual.

Pada tahap praktik, siswa menggunakan VirtualBox dan sistem operasi Kali Linux untuk memahami mekanisme keamanan sistem secara terkontrol. Simulasi ini memberikan pengalaman langsung mengenai bagaimana suatu sistem diuji keamanannya tanpa menimbulkan risiko pada perangkat asli. Pendekatan berbasis praktik tersebut dirancang agar siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga melihat penerapannya secara nyata.

Melalui kegiatan ini, Universitas Mulia mempertegas kontribusinya dalam membangun kesiapan teknologi generasi muda. Program Goes to School menjadi ruang kolaboratif yang mempertemukan pendidikan tinggi dan sekolah kejuruan dalam penguatan literasi digital yang lebih kontekstual dan relevan dengan kebutuhan industri. (YMN)

Balikpapan, 18 Februari 2026 – Himpunan Mahasiswa Teknologi Informasi (HimaTI) Universitas Mulia melaksanakan program Goes to School pada 17 Desember 2025 di Laboratorium Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) SMK Negeri 1 Balikpapan. Kegiatan ini difokuskan pada penguatan pemahaman keamanan siber melalui pendekatan simulasi terkontrol berbasis lingkungan virtual.

Program Goes to School merupakan bagian dari kontribusi akademik Universitas Mulia dalam menjembatani materi perkuliahan dengan kebutuhan praktik di lapangan. Dalam konteks pendidikan kejuruan, penguasaan konsep keamanan sistem menjadi krusial, terutama bagi siswa yang telah memiliki dasar pengoperasian sistem Linux seperti Debian. Bekal tersebut memungkinkan pelatihan diarahkan pada tahapan yang lebih aplikatif.

Kegiatan diawali dengan pengantar mengenai posisi keamanan informasi dalam ekosistem teknologi digital. Peserta kemudian diperkenalkan pada konsep dasar cyber security, termasuk pentingnya pengawasan sistem, identifikasi kerentanan, serta risiko penyalahgunaan akses dalam jaringan komputer.

Bagian utama pelatihan berupa simulasi penyerangan dan pemantauan sistem dalam lingkungan virtual. Dengan memanfaatkan VirtualBox, peserta menjalankan skenario penggunaan Kali Linux sebagai sistem penguji terhadap mesin berbasis Windows. Simulasi ini memperlihatkan bagaimana aktivitas sistem dapat dimonitor melalui mekanisme yang menyerupai teknik serangan nyata, namun tetap berada dalam kondisi aman dan terkendali.

Selain memahami alur kerja malware dalam konteks pengujian, siswa juga dilatih mengonfigurasi perangkat lunak virtualisasi, termasuk pengaturan jaringan IP Host-Only. Tahap ini menekankan ketelitian teknis sekaligus pemahaman arsitektur jaringan sederhana yang mendukung proses simulasi.

Beberapa kendala teknis pada proses instalasi dan konfigurasi menjadi bagian dari dinamika pembelajaran. Situasi tersebut dimanfaatkan sebagai sarana pemecahan masalah secara langsung, sehingga siswa tidak hanya mengikuti prosedur, tetapi juga memahami logika di balik setiap langkah teknis.

Melalui kegiatan ini, Universitas Mulia memperkuat perannya dalam membangun literasi keamanan digital yang berbasis praktik. Pendekatan simulatif yang diterapkan dalam program Goes to School diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran kritis sekaligus kesiapan teknis siswa dalam menghadapi tantangan keamanan informasi di lingkungan teknologi yang terus berkembang. (YMN)

 

 

Oleh: Yamani, S.S., M.Pd.

Pengurus PC DMI Balikpapan Kota | Pengurus MUI Balikpapan Kota | Dosen Universitas Mulia

Balikpapan, 17 Februari 2026—Malam ini, umat Islam di Indonesia kembali menanti hasil sidang isbat yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia. Sebagian saudara kita mungkin sudah menetapkan awal Ramadhan berdasarkan perhitungan hisab, sebagian lagi menunggu keputusan resmi pemerintah setelah laporan rukyat dari berbagai titik pengamatan. Setiap tahun suasana ini berulang, dan setiap tahun pula pertanyaan yang sama muncul: mengapa awal Ramadhan bisa berbeda?

Perbedaan itu bukan lahir dari ego, bukan pula dari keinginan untuk menyelisihi. Ia berakar pada cara membaca langit. Secara astronomi, awal bulan hijriah ditandai dengan kemunculan hilal, yaitu bulan sabit pertama setelah fase bulan baru. Prosesnya dimulai dengan ijtima’ atau konjungsi, ketika matahari dan bulan berada pada satu garis bujur langit. Namun pada saat itu, bulan sama sekali belum terlihat. Ia baru saja “lahir” dan masih sangat dekat dengan matahari. Untuk bisa tampak sebagai hilal, bulan harus bergerak menjauh, memiliki jarak sudut tertentu dari matahari, dan cukup tinggi di atas ufuk saat matahari terbenam.

Di sinilah letak persoalannya. Secara matematis, posisi bulan bisa dihitung dengan sangat presisi. Kita bisa mengetahui dengan akurat kapan konjungsi terjadi, berapa derajat ketinggian bulan saat magrib, dan berapa jarak sudutnya dari matahari. Metode ini disebut hisab, dan digunakan oleh organisasi seperti Muhammadiyah. Prinsip yang dipakai adalah wujudul hilal: jika saat matahari terbenam bulan sudah berada di atas ufuk, walau sangat tipis, maka bulan baru dianggap telah masuk. Ini adalah pendekatan ilmiah yang konsisten dan dapat diprediksi jauh hari.

Namun ada pendekatan lain yang juga ilmiah. Hilal bukan hanya soal angka, tetapi juga soal visibilitas. Ia dipengaruhi oleh ketebalan cahaya senja, kelembaban udara, polusi, dan kemampuan optik manusia maupun teleskop. Karena itu, dalam sidang isbat pemerintah bersama para ulama dan pakar astronomi mempertimbangkan kriteria kemungkinan terlihatnya hilal (imkanur rukyat). Pendekatan ini juga digunakan oleh ormas seperti Nahdlatul Ulama. Jika secara hitungan bulan memang sudah ada, tetapi secara ilmiah hampir mustahil terlihat, maka bulan berjalan disempurnakan menjadi tiga puluh hari. Perbedaannya bukan pada sainsnya, melainkan pada batas minimal yang dianggap cukup untuk menetapkan awal bulan.

Dari sisi fikih, perbedaan ini sama sekali bukan hal baru. Hadis Nabi ﷺ menyebutkan, “Berpuasalah karena melihatnya dan berbukalah karena melihatnya.” Mayoritas ulama dari Mazhab Syafi’i, Mazhab Maliki, dan Mazhab Hanbali memahami hadis ini secara literal: rukyat menjadi dasar utama. Namun sebagian ulama lain seperti Taqi al-Din al-Subki membuka ruang penggunaan hisab ketika telah mencapai tingkat kepastian ilmiah. Artinya, sejak berabad-abad lalu para ulama telah berbeda pendapat dalam bingkai ijtihad, bukan dalam bingkai permusuhan.

Di sinilah kita perlu menundukkan hati. Rasulullah ﷺ telah memberi kaidah yang menenteramkan: “Jika seorang mujtahid berijtihad lalu benar, ia mendapat dua pahala; jika ia berijtihad lalu keliru, ia mendapat satu pahala.” Betapa indahnya agama ini. Tidak ada yang sia-sia dalam usaha mencari kebenaran. Yang menghitung dengan ilmu astronomi mendapatkan pahala atas ijtihadnya. Yang menunggu rukyat dan keputusan sidang isbat pun mendapatkan pahala atas ijtihadnya. Semua berjalan di atas kaidah ilmiah dan syar’i. Tidak ada yang rugi.

Yang sungguh merugi bukanlah mereka yang berbeda dalam menentukan satu hari, melainkan mereka yang membiarkan perbedaan itu membelah hati. Betapa menyedihkan jika hilal yang begitu tipis justru melahirkan prasangka yang tebal. Betapa pilu jika Ramadhan yang datang membawa ampunan dan rahmat malah disambut dengan kecurigaan dan caci maki. Bulan sabit itu hadir dengan kelembutan cahaya, namun jangan sampai cahaya yang lembut itu berubah menjadi api yang menghanguskan ukhuwah. Padahal Allah telah menjanjikan pahala bagi setiap ijtihad yang tulus. Tidak ada yang sia-sia dalam upaya mencari kebenaran. Yang benar mendapat dua pahala, yang keliru tetap mendapat satu pahala. Semua bernilai di sisi-Nya. Yang menjadi musibah bukanlah perbedaan metode, tetapi ketika hati memilih untuk merobek persaudaraan yang seharusnya dijaga.

Malam ini sidang isbat akan dilaksanakan. Sebagian mungkin telah mantap dengan keyakinannya, sebagian lainnya menanti keputusan resmi dengan harap dan doa. Namun apa pun hasilnya, semoga yang kita jaga bukan hanya angka pada kalender, melainkan keutuhan jiwa sebagai satu umat. Mungkin kita berbeda dalam memulai puasa, tetapi kita tetap berdiri menghadap kiblat yang sama. Kita tetap membaca ayat-ayat yang sama. Kita tetap memohon ampunan kepada Tuhan yang sama dengan air mata yang sama. Allah tidak pernah memerintahkan kita untuk bersatu dalam metode, melainkan bersatu dalam iman. Di situlah rahmat Islam memancar—memberi ruang bagi ilmu untuk berpikir, bagi ijtihad untuk bekerja, dan bagi perbedaan untuk hidup tanpa harus melahirkan kebencian. Jika Ramadhan adalah bulan penyucian hati, maka jangan biarkan ia datang ketika hati masih menyimpan bara. Biarlah hilal berbeda satu malam, tetapi jangan biarkan kita berjarak seumur hidup.

Jika kita memulai Ramadhan dengan hati yang lapang, maka satu hari perbedaan tidak akan mengurangi pahala sedikit pun. Namun jika kita memulai dengan kemarahan dan kesombongan, kita bisa kehilangan keberkahan yang jauh lebih besar. Biarlah para ahli berijtihad dengan ilmu mereka, dan biarlah kita menyambut Ramadhan dengan hati yang lembut. Sebab pada akhirnya, yang Allah lihat bukan seberapa cepat kita berpuasa, tetapi seberapa bersih jiwa kita ketika menyambutnya.

Balikpapan, 13 Februari 2026 – Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika (HimaTI) Universitas Mulia melaksanakan kegiatan sosialisasi dan pelatihan keamanan siber bertajuk Guardians of the Cyber: Menempa Generasi Tangguh Keamanan Informasi pada 9 Desember 2025 di Laboratorium Komputer SMK Negeri 3 Balikpapan. Kegiatan ini merupakan bagian dari penguatan peran institusi dalam membangun literasi keamanan informasi di tingkat pendidikan menengah.

Pelatihan diselenggarakan sebagai tindak lanjut arahan akademik Program Studi Teknologi Informasi Universitas Mulia untuk memperluas edukasi keamanan siber kepada pelajar. Inisiatif ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya risiko kejahatan siber serta pentingnya pemahaman sejak dini mengenai perlindungan data pribadi dan mekanisme serangan digital yang umum terjadi.

Kegiatan terbagi dalam dua sesi utama yang diikuti siswa jurusan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ). Sesi awal memuat pemaparan konsep dasar keamanan informasi, klasifikasi ancaman siber, serta pola serangan yang kerap dimanfaatkan peretas. Materi difokuskan pada pemahaman struktural mengenai bagaimana sistem dapat dieksploitasi dan bagaimana mitigasinya dirancang.

Bagian inti kegiatan berlangsung dalam bentuk simulasi praktik di lingkungan virtual. Dengan memanfaatkan perangkat lunak VirtualBox, peserta melakukan skenario terkontrol menggunakan sistem operasi Kali Linux untuk menguji kerentanan mesin berbasis Windows 7. Dalam simulasi tersebut, siswa mengamati bagaimana sebuah file backdoor dapat membuka akses pemantauan sistem dari jarak jauh. Pendekatan ini dirancang agar peserta tidak hanya memahami konsep serangan, tetapi juga menyadari konsekuensi teknis dan etis dari penyalahgunaan akses sistem.

Meskipun terdapat kendala teknis pada tahap instalasi perangkat lunak, dinamika pembelajaran tetap terjaga. Siswa menunjukkan kemampuan kolaboratif dengan saling membantu menyelesaikan tahapan konfigurasi hingga simulasi berjalan sesuai skenario. Proses ini sekaligus memperlihatkan pentingnya kerja tim dalam praktik keamanan siber.

Melalui kegiatan ini, Universitas Mulia mempertegas kontribusinya dalam pengembangan kapasitas generasi muda di bidang teknologi informasi. Pelatihan keamanan siber tidak hanya membekali keterampilan teknis, tetapi juga menanamkan kesadaran kritis terhadap tanggung jawab penggunaan teknologi di ruang digital.

Kolaborasi antara Universitas Mulia dan SMK Negeri 3 Balikpapan diharapkan dapat berlanjut dalam bentuk program edukasi berkelanjutan, sehingga kesiapan siswa menghadapi tantangan keamanan informasi semakin terstruktur dan berbasis kompetensi. (YMN)

Balikpapan, 13 Februari 2026 – Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika (HimaTI) Universitas Mulia melaksanakan program Goes to School melalui pelatihan keamanan siber bagi siswa jurusan TKJ dan RPL SMK Kartika V-1 Balikpapan pada 15 Desember 2025. Kegiatan ini merupakan bagian dari pengabdian kepada masyarakat yang diarahkan untuk memperluas literasi keamanan informasi di tingkat pendidikan menengah kejuruan.

Perkembangan teknologi digital yang semakin cepat membawa konsekuensi pada meningkatnya risiko kebocoran data, serangan siber, dan penyalahgunaan sistem informasi. Melalui program ini, Universitas Mulia mendorong transfer pengetahuan yang lebih aplikatif guna menjembatani materi pembelajaran di sekolah dengan dinamika ancaman di ruang digital.

Kegiatan diawali dengan pembukaan dan sambutan dari pihak sekolah yang menyambut baik kolaborasi edukatif tersebut. Selanjutnya, peserta mendapatkan pemaparan konseptual mengenai lanskap keamanan siber, termasuk klasifikasi peretas—black hat, white hat, dan gray hat—serta ragam perangkat lunak berbahaya seperti virus, ransomware, dan spyware.

Untuk mengukur pemahaman awal dan akhir peserta, pelatihan dilengkapi dengan pre-test dan post-test. Sesi interaktif dan ice-breaking turut dihadirkan guna menjaga partisipasi aktif siswa selama kegiatan berlangsung.

Bagian utama pelatihan difokuskan pada simulasi praktik dalam lingkungan virtual. Dengan memanfaatkan VirtualBox, peserta diperkenalkan pada skenario serangan dan pertahanan sistem secara terkendali. Siswa mempraktikkan pembuatan skrip monitoring pada sistem operasi Kali Linux dan mengamati dampaknya pada sistem Windows sebagai target simulasi. Pendekatan ini memberikan pengalaman langsung mengenai bagaimana mekanisme serangan terjadi sekaligus bagaimana sistem dapat dipantau dan diamankan.

Melalui kegiatan ini, Universitas Mulia menegaskan peran strategisnya dalam penguatan kapasitas generasi muda di bidang teknologi informasi. Pelatihan keamanan siber tidak hanya memperluas wawasan teknis siswa, tetapi juga memperkenalkan pentingnya etika dan tanggung jawab dalam pemanfaatan teknologi.

Program Goes to School HimaTI menjadi salah satu bentuk kontribusi institusi dalam membangun kesiapan sumber daya manusia yang adaptif terhadap tantangan keamanan digital yang terus berkembang. (YMN)

Balikpapan, 12 Februari 2026 – Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Mulia melaksanakan kegiatan Monitoring dan Evaluasi (MONEV) Hibah DIPA Tahun Anggaran 2025 pada Kamis, 12 Februari 2026, melalui platform Zoom Meeting. Kegiatan ini merupakan tahapan penting dalam siklus pengelolaan hibah penelitian internal setelah pengumuman penerima hibah yang telah disampaikan sebelumnya.

MONEV dilaksanakan untuk menilai kesesuaian pelaksanaan penelitian dengan proposal yang diajukan, sekaligus memastikan capaian luaran berjalan sesuai standar mutu yang ditetapkan. Melalui proses ini, LPPM melakukan pengendalian akademik terhadap substansi, metodologi, serta progres penelitian yang sedang berlangsung.

Kepala LPPM Universitas Mulia, Dr. Mada Aditia Wardhana, S.Sos., M.M., menyampaikan sambutan sekaligus arahan pada kegiatan MONEV Hibah DIPA Tahun Anggaran 2025 yang dilaksanakan secara daring.

Kegiatan dibuka oleh Kepala LPPM Universitas Mulia, Dr. Mada Aditia Wardhana, S.Sos., M.M., yang menegaskan bahwa monitoring dan evaluasi bukan sekadar agenda administratif, melainkan instrumen akademik untuk menjaga kualitas riset institusi.

Selanjutnya, Sekretaris LPPM, Henny Okta Piyani, S.E., M.Ak., memaparkan informasi teknis terkait rubrik penilaian yang digunakan dalam proses evaluasi. Penjelasan tersebut mencakup indikator capaian penelitian, kesesuaian penggunaan anggaran, serta perkembangan luaran yang dijanjikan dalam proposal.

Sekretaris LPPM Universitas Mulia, Henny Okta Piyani, S.E., M.Ak., memaparkan informasi teknis dan rubrik penilaian dalam rangkaian Monitoring dan Evaluasi Hibah DIPA 2025.

Pelaksanaan evaluasi dilakukan dalam sesi breakout room dengan menghadirkan dua reviewer, yaitu Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I., dan Nishia Waya Meray, S.Si., M.Si. Pada sesi ini, para penerima hibah mempresentasikan perkembangan penelitian masing-masing dan menerima masukan substantif terkait metodologi, analisis data, hingga potensi publikasi hasil riset.

Sebagai agenda rutin LPPM, MONEV Hibah DIPA menjadi mekanisme evaluatif yang menjaga akuntabilitas penelitian sekaligus mendorong peningkatan kualitas luaran ilmiah dosen Universitas Mulia. Proses ini diharapkan memperkuat budaya riset yang terukur, sistematis, dan relevan dengan kebutuhan pengembangan ilmu pengetahuan maupun kontribusi terhadap masyarakat. (YMN)

 

Balikpapan, 12 Februari 2026 – Inkubator Bisnis Universitas Mulia menyelenggarakan kegiatan Business Coaching: Cooking Class with Sania pada Kamis, 12 Februari 2026, di Ballroom Cheng Hoo. Kegiatan ini dirancang bukan sekadar kelas memasak, melainkan sebagai ruang pembelajaran terpadu yang menggabungkan keterampilan produksi, strategi pemasaran, hingga pengelolaan keuangan digital dalam konteks kewirausahaan modern.

Peserta mengikuti sesi ice breaking sebagai pembuka kegiatan Business Coaching untuk membangun interaksi dan kerja sama sebelum memasuki materi inti.

Menghadirkan Coach Inkubator Bisnis Universitas Mulia, Chef Sania, Hakasima Houseware, serta perwakilan Bank Mandiri, kegiatan ini mengangkat pendekatan praktik langsung (experiential learning) untuk memperkenalkan siklus usaha secara menyeluruh—dari proses produksi hingga tata kelola finansial.

Acara diawali dengan sesi ice breaking yang membangun dinamika kolaboratif antar peserta. Suasana kemudian beralih ke praktik pembuatan roti kopi dan serabi Solo. Pada tahap ini, peserta tidak hanya mempelajari teknik baking, tetapi juga memahami standar kualitas produk dan efisiensi proses sebagai bagian dari manajemen usaha kuliner.

Chef Sania memperagakan teknik pembuatan adonan roti kopi dalam sesi praktik sebagai bagian dari pembelajaran produksi kuliner.

Pembahasan berlanjut pada aspek branding dan packaging produk. Peserta diajak melihat kemasan bukan sekadar pelindung, melainkan instrumen komunikasi nilai produk kepada konsumen. Sesi marketing digital memberikan gambaran tentang pemanfaatan media sosial dan platform daring sebagai saluran distribusi yang terukur.

Melengkapi rangkaian materi, Bank Mandiri memaparkan pengelolaan keuangan digital untuk usaha, termasuk pencatatan transaksi dan optimalisasi layanan perbankan guna mendukung keberlanjutan bisnis. Penekanan diberikan pada pentingnya literasi finansial sebagai fondasi pertumbuhan usaha yang akuntabel.

Kepala Inkubator Bisnis Universitas Mulia, Dr. Linda Fauziyah Ariyani, M.Pd., menyampaikan materi penguatan kewirausahaan kepada peserta kegiatan.

Rezkika Ramadhani, salah satu peserta, menyampaikan kesannya, “Saya dapat belajar membuat roti dengan teman-teman. Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi saya dan teman-teman, dan saya mendapatkan pengalaman baking yang sangat seru.”

Sementara itu, Kepala Inkubator Bisnis Universitas Mulia, Linda, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya membangun ekosistem kewirausahaan kampus. “Kegiatan ini diharapkan bisa memperkuat komunitas wirausaha di lingkungan Universitas Mulia,” ujarnya.

Melalui kegiatan ini, Inkubator Bisnis Universitas Mulia menempatkan kewirausahaan tidak hanya sebagai keterampilan teknis, tetapi sebagai kompetensi strategis yang memadukan kreativitas, manajemen, dan literasi keuangan dalam satu kesatuan praktik. (YMN)

 

Oleh: Yamani, S.S., M.Pd.
Pengurus PC DMI Balikpapan Kota | Dosen Universitas Mulia


Balikpapan, 12 Februari 2026—
Beberapa hari lagi, mungkin Kamis depan, kita akan memasuki gerbang yang setiap tahun Allah bukakan dengan cara yang berbeda: bukan sekadar lewat hitungan kalender, tetapi lewat panggilan dari langit. Ramadhan bukan hanya pergantian bulan. Ia adalah momentum ketika Allah sendiri mengumumkan ampunan-Nya, membuka pintu-pintu surga, menutup pintu-pintu neraka, dan membelenggu para setan. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa pada malam pertama Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka dan tidak ada satu pun yang ditutup selama sebulan penuh, pintu-pintu neraka ditutup dan tidak ada satu pun yang dibuka, lalu setiap malam terdengar seruan: “Wahai yang menghendaki kebaikan, menghadaplah. Wahai yang menghendaki keburukan, berhentilah.”

Bayangkan, setiap malam langit memanggil. Pertanyaannya bukan apakah seruan itu ada, tetapi apakah hati kita masih peka untuk menjawabnya.

Bagi para dosen, Ramadhan adalah saat paling jujur untuk menilai kembali makna ilmu yang kita ajarkan. Kita berdiri di depan kelas, menjelaskan teori, memaparkan metodologi, membimbing penelitian, memberi nilai, dan membentuk cara berpikir mahasiswa. Namun Ramadhan datang untuk bertanya dengan lembut sekaligus tegas: sudahkah ilmu itu mengalir menjadi teladan? Sudahkah mahasiswa bukan hanya memahami konsep, tetapi melihat akhlak dalam diri pengajarnya? Mengajar bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan amanah yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Jika pintu surga benar-benar dibuka selama sebulan penuh, bukankah kita ingin masuk bersama generasi yang pernah kita bimbing, bukan sendirian membawa gelar dan reputasi?

Bagi mahasiswa, Ramadhan adalah cermin paling jernih bagi masa muda. Di usia yang penuh semangat, penuh cita-cita, dan sering kali juga penuh godaan, Ramadhan mengajarkan integritas yang paling dalam. Puasa adalah ibadah yang sunyi; tidak ada yang tahu kecuali Allah. Di ruang-ruang kampus, mungkin kita bisa tampil cerdas, aktif, dan percaya diri. Di media sosial, kita bisa terlihat sempurna. Tetapi ketika lapar dan dahaga datang, ketika tidak ada yang mengawasi, hanya iman yang berbicara. Ramadhan melatih kejujuran yang tidak bisa dipalsukan. Ia membentuk karakter yang tidak dibangun oleh sorotan publik, tetapi oleh kesadaran bahwa Allah selalu melihat.

Bagi para akademisi, yang terbiasa dengan diskursus, publikasi, dan perdebatan ilmiah, Ramadhan menghadirkan pertanyaan yang lebih dalam daripada sekadar argumen: sudahkah hati kita tunduk? Kita mungkin piawai menjelaskan epistemologi, metodologi, dan teori peradaban. Kita bisa berbicara tentang krisis kemanusiaan global, ketimpangan sosial, dan transformasi digital. Namun Ramadhan mengajak kita untuk duduk sendirian di sepertiga malam, menundukkan kepala, dan mengakui bahwa setinggi apa pun pengetahuan, kita tetap hamba. Ada saatnya kecerdasan berhenti berbicara dan air mata yang mengambil alih. Di situlah ilmu menemukan ruhnya.

Para pengurus masjid pun akan memasuki bulan tersibuk dalam setahun. Jadwal disusun, imam ditentukan, penceramah dihubungi, konsumsi diatur, agenda dirapikan. Masjid akan ramai oleh suara dan aktivitas. Tetapi Ramadhan tidak hanya meminta kerapian program; ia menuntut keikhlasan hati. Masjid bukan sekadar pusat kegiatan, melainkan pusat perubahan. Jangan sampai ia megah oleh dekorasi tetapi miskin oleh ketulusan. Jangan sampai ia penuh oleh manusia tetapi kosong oleh doa yang sungguh-sungguh. Ramadhan mengingatkan bahwa tugas memakmurkan masjid bukan hanya menghidupkan acara, melainkan menghidupkan jiwa-jiwa yang datang dengan luka, dosa, dan harapan.

Bagi remaja masjid, Ramadhan adalah panggilan keberanian. Mungkin ada di antara kalian yang merasa belum layak, masih bergulat dengan kesalahan, atau merasa kecil dibandingkan orang-orang yang tampak lebih saleh. Namun seruan langit itu tidak memilih usia dan tidak mensyaratkan kesempurnaan. Ia memanggil siapa pun yang ingin menjadi lebih baik. Menjadi remaja masjid bukan tentang terlihat religius di hadapan orang lain, tetapi tentang berani melawan diri sendiri ketika tak ada yang melihat. Ramadhan adalah kesempatan untuk membuktikan bahwa masa muda bukan alasan untuk menunda taubat, melainkan alasan untuk mempercepatnya.

Di atas semua itu, ada satu pertanyaan yang mungkin membuat dada kita sesak: bagaimana jika ini Ramadhan terakhir? Tahun lalu kita masih bersama banyak orang yang kini hanya tinggal nama dalam doa. Tidak ada satu pun dari kita yang memegang jaminan akan bertemu Ramadhan berikutnya. Setiap kali bulan ini datang, ia tidak pernah berjanji akan kembali kepada jiwa yang sama. Maka menunda taubat adalah kerugian yang tidak masuk akal. Menunda memaafkan adalah kesombongan yang berbahaya. Menunda kebaikan adalah perjudian yang terlalu mahal.

Setiap malam Ramadhan, langit bertanya: adakah yang memohon ampun sehingga ia akan diampuni? Adakah yang ingin bertaubat sehingga taubatnya diterima? Adakah yang berdoa sehingga doanya dikabulkan? Betapa menyedihkan jika pertanyaan itu menggema, sementara hati kita tetap diam dan sibuk oleh urusan dunia yang tidak pernah benar-benar selesai.

Beberapa hari lagi, mungkin Kamis depan, pintu-pintu surga akan dibuka. Jangan biarkan hati kita tetap tertutup. Sambutlah Ramadhan bukan hanya dengan ucapan dan spanduk, tetapi dengan tekad yang sunyi namun nyata: menjadi dosen yang lebih jujur, mahasiswa yang lebih bersih, akademisi yang lebih rendah hati, pengurus masjid yang lebih ikhlas, dan remaja yang lebih berani menaklukkan dirinya sendiri.

Jika Ramadhan ini mampu membuat kita menangis dalam sujud dan merasa kecil di hadapan Allah, maka itu lebih berharga daripada segala pencapaian yang pernah kita banggakan. Semoga ketika Ramadhan berlalu, yang pergi bukan hanya bulannya, tetapi juga dosa-dosa kita, dan yang tersisa adalah hati yang lebih hidup daripada sebelumnya.