Balikpapan, 29 Juni 2026 – Mengapa buah yang telah dipotong berubah menjadi kecokelatan? Bagaimana proses fermentasi menghasilkan yoghurt atau tempe? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu menjadi bagian dari cara mahasiswa Program Studi Teknologi Hasil Pertanian dan Pangan (TPHP) Universitas Mulia menghadapi Ujian Akhir Semester (UAS) Mata Kuliah Biologi Dasar pada hari pertama pelaksanaan UAS hari ini, Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026. Berlangsung di Gedung Teknik ruang D203 pukul 08:00 wita, ujian dirancang untuk mengukur kemampuan mahasiswa menerapkan konsep biologi dalam menganalisis berbagai fenomena yang dijumpai pada proses pengolahan pangan.

Bagi mahasiswa TPHP, Biologi Dasar bukan sekadar mata kuliah pengantar. Mata kuliah ini menjadi fondasi yang membentuk cara berpikir ilmiah sebelum mereka mempelajari bidang yang lebih spesifik, seperti mikrobiologi pangan, keamanan pangan, hingga teknologi pengolahan pangan.

Kaprodi TPHP sekaligus dosen pengampu Mata Kuliah Biologi Dasar, Rafika Dyah Maharani, S.Pi., M.M., menjelaskan bahwa mahasiswa perlu memahami hubungan antara konsep biologi dengan berbagai proses yang mereka temui dalam industri pangan.

“Kompetensi yang ingin dibangun melalui Biologi Dasar adalah menjadi dasar berpikir mahasiswa dalam memahami proses pengolahan pangan dari sisi biologis. Misalnya, ketika mempelajari fermentasi, mahasiswa mengetahui bahwa proses pembuatan yoghurt melibatkan pertumbuhan bakteri. Dengan memahami konsep tersebut, mereka dapat menjelaskan mengapa suatu proses pengolahan pangan dapat terjadi,” ujarnya.

Menurut Rafika, penempatan mata kuliah ini pada semester awal bukan tanpa alasan. Selain memetakan pengetahuan dasar mahasiswa, Biologi Dasar menjadi pijakan untuk membangun pola pikir analitis yang akan terus digunakan pada mata kuliah-mata kuliah berikutnya.

Pendekatan tersebut juga tercermin dalam penyusunan soal UAS. Ia menegaskan bahwa evaluasi tidak diarahkan untuk mengukur kemampuan menghafal istilah atau definisi semata, melainkan kemampuan mahasiswa menerapkan konsep biologi dalam menjelaskan persoalan nyata yang berkaitan dengan bahan pangan.

“Mahasiswa tidak hanya mengerjakan soal konseptual, tetapi juga dihadapkan pada studi kasus sederhana. Misalnya, mereka diminta menganalisis mengapa buah mengalami pencokelatan setelah dipotong, mengapa makanan dapat mengalami fermentasi, mengapa bahan pangan membusuk, atau bagaimana peran mikroorganisme dalam menghasilkan produk pangan,” jelasnya.

Model evaluasi tersebut selaras dengan metode pembelajaran yang telah diterapkan selama satu semester. Rafika mengungkapkan bahwa mahasiswa lebih banyak diberikan tugas yang mendorong mereka mengamati fenomena di sekitar, kemudian menggambarkan sekaligus menjelaskan proses biologis yang terjadi.

“Mahasiswa kami terbiasa menggambar dan menjelaskan proses reaksi biologis yang mereka jumpai dalam kehidupan sehari-hari, seperti fermentasi tape, tempe, yoghurt maupun proses pembusukan buah. Dengan cara itu, mereka belajar menghubungkan teori dengan kondisi nyata sehingga konsep biologi tidak berhenti sebagai materi di ruang kelas, tetapi menjadi dasar dalam mengambil keputusan pada proses produksi dan pengolahan pangan,” katanya.

Pendekatan pembelajaran tersebut, lanjut Rafika, memberikan perubahan positif terhadap proses belajar mahasiswa. Salah satu perkembangan yang paling terlihat adalah meningkatnya rasa ingin tahu mereka selama mengikuti perkuliahan.

“Melalui tugas-tugas tersebut, pembelajaran menjadi lebih menarik. Mahasiswa tidak hanya membaca teori, tetapi juga mengamati fenomena yang mereka temukan di sekitar. Dari situ terlihat bahwa pemahaman mereka semakin kuat karena mereka memahami alasan di balik setiap proses biologis yang terjadi,” tuturnya.

Mahasiswa Program Studi Teknologi Hasil Pertanian dan Pangan (TPHP) Universitas Mulia mengikuti Ujian Akhir Semester Mata Kuliah Biologi Dasar di bawah pengawasan Kaprodi TPHP sekaligus dosen pengampu, Rafika Dyah Maharani, S.Pi., M.M., di Gedung Teknik ruang D203, Senin (29/6).

Pelaksanaan UAS juga menjadi bagian dari evaluasi berkelanjutan bagi program studi. Hasil yang diperoleh mahasiswa akan dianalisis untuk melihat sejauh mana penguasaan konsep dasar sebelum mereka memasuki mata kuliah yang lebih kompleks.

“Nilai Biologi Dasar menjadi salah satu indikator untuk melihat kesiapan mahasiswa sebelum mempelajari mata kuliah lanjutan, seperti mikrobiologi pangan, keamanan pangan, dan teknologi pengolahan pangan. Jadi, hasil UAS bukan hanya menjadi nilai akhir mahasiswa, tetapi juga bahan evaluasi kami dalam proses pembelajaran setiap semester,” jelas Rafika.

Salah seorang peserta UAS, M. Dava Riski P., mengaku bahwa proses pembelajaran selama satu semester membantunya memahami materi yang diujikan. Ia memanfaatkan penjelasan dosen di kelas, tugas-tugas perkuliahan, video pembelajaran, serta kisi-kisi yang diberikan sebagai bekal menghadapi ujian.

“Pengalaman belajar yang paling membantu saya adalah mengikuti penjelasan materi di kelas, mengerjakan tugas, menyimak video pembelajaran di YouTube, serta mempelajari kisi-kisi yang diberikan dosen. Semua itu sangat membantu saya memahami materi sebelum UAS,” ungkapnya.

Ia mengakui bahwa beberapa materi Biologi Dasar cukup menantang karena memerlukan pemahaman konsep yang mendalam. Namun, menurutnya, konsistensi belajar menjadi cara terbaik untuk mengatasi kesulitan tersebut.

“Tantangan terbesar saya adalah memahami beberapa materi yang cukup kompleks. Cara mengatasinya adalah terus belajar dan mengulang materi sampai benar-benar paham,” katanya.

Menutup pelaksanaan UAS hari pertama tersebut, Rafika berpesan agar mahasiswa memandang ujian sebagai sarana untuk mengukur perkembangan kompetensi, bukan semata-mata mengejar nilai.

“Jangan melihat UAS hanya sebagai nilai akhir. Jadikan UAS sebagai latihan untuk mengukur kesiapan diri. Pemahaman Biologi Dasar akan menjadi bekal penting ketika mahasiswa mempelajari proses pengolahan, fermentasi, pengendalian mutu, keamanan pangan, hingga menghadapi berbagai tantangan nyata di industri pangan,” pungkasnya. (YMN)

 

Balikpapan, 26 Juni 2026 – Inkubator Bisnis Universitas Mulia (UM) kembali membuka Open Recruitment Angkatan 2026–2027 bagi mahasiswa yang memiliki minat berwirausaha, ingin mengembangkan ide bisnis, maupun sedang merintis usaha. Program ini menjadi wadah pembinaan bagi mahasiswa untuk mengembangkan ide menjadi produk atau layanan yang memiliki nilai bisnis melalui pendampingan yang terstruktur.

Kepala Inkubator Bisnis Universitas Mulia, Dicky Satria, S.Kom., M.Kom., mengatakan bahwa program inkubasi dirancang tidak hanya untuk mendorong mahasiswa memulai usaha, tetapi juga membangun kemampuan berwirausaha berbasis inovasi dan teknologi sejak masih menempuh pendidikan.

“Visi kami adalah melahirkan technopreneur muda yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga mampu membangun kemandirian ekonomi melalui bisnis berbasis inovasi dan teknologi. Selain itu, kami ingin menjadikan Inkubator Bisnis Universitas Mulia sebagai pusat pengembangan startup dan bisnis inovatif yang dapat berkontribusi terhadap perkembangan ekonomi di Balikpapan dan Kalimantan Timur,” ujarnya.

Menurut Dicky, salah satu tujuan utama program ini adalah membantu mahasiswa mengubah ide yang dimiliki menjadi produk yang dapat diuji dan dikembangkan sesuai kebutuhan pasar. Oleh karena itu, peserta tidak langsung diarahkan untuk menjalankan usaha, tetapi terlebih dahulu dibimbing memahami permasalahan yang ingin diselesaikan, mengenali kebutuhan calon pengguna, hingga menyusun model bisnis yang tepat.

Dalam proses tersebut, mahasiswa akan didampingi melakukan validasi ide, menyusun Business Model Canvas, serta mengembangkan Minimum Viable Product (MVP) sebagai produk awal yang dapat diuji kepada calon pengguna. Pendekatan tersebut diharapkan membantu peserta memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai potensi bisnis yang sedang dikembangkan.

Selain pembinaan terhadap pengembangan produk, peserta juga memperoleh pelatihan kewirausahaan, pendampingan dari mentor dan praktisi bisnis, serta kesempatan memperluas jejaring dengan pelaku industri dan investor. Mahasiswa juga berkesempatan mengikuti berbagai kompetisi bisnis sebagai bagian dari pengembangan usaha yang dijalankan.

Dicky menjelaskan bahwa proses inkubasi disusun dalam beberapa tahapan. Kegiatan diawali dengan bootcamp dan pengembangan ide, dilanjutkan dengan pembuatan prototipe serta validasi produk. Setelah itu, peserta mengikuti business coaching dan pendampingan pengembangan bisnis secara digital sebelum memperoleh kesempatan memperluas akses pasar dan mengikuti sesi investor matching. Pada tahap akhir, Inkubator Bisnis tetap melakukan monitoring untuk mendampingi perkembangan usaha yang telah dijalankan.

Melalui tahapan tersebut, mahasiswa diharapkan tidak hanya memahami teori kewirausahaan, tetapi juga memiliki pengalaman mengembangkan bisnis secara bertahap, mulai dari penyusunan ide hingga memperoleh masukan dari calon pengguna maupun mitra usaha.

Open Recruitment Inkubator Bisnis Universitas Mulia Angkatan 2026–2027 terbuka bagi mahasiswa aktif Universitas Mulia yang membentuk tim beranggotakan tiga hingga lima orang. Setiap mahasiswa hanya diperbolehkan mengajukan satu proposal dan proposal yang diajukan tidak sedang memperoleh pendanaan dari program lain. Selain itu, peserta diharapkan memiliki akun media sosial yang aktif, seperti Instagram, Facebook, dan TikTok.

Mahasiswa yang berminat dapat mendaftarkan timnya melalui tautan https://bit.ly/FPP_InkubatorBisnis. Informasi lebih lanjut juga dapat diperoleh melalui email inkubator@universitasmulia.ac.id, akun Instagram @inkubatorbisnis.mulia_, atau nomor WhatsApp +62 896 7254 9453. (YMN)

 

Balikpapan, 24 Juni 2026 – Pelatihan Strategic Review Balanced Scorecard yang digelar Universitas Mulia tidak hanya menjadi forum untuk menyelaraskan visi dan arah pengembangan institusi, tetapi juga menjadi momentum bagi setiap fakultas untuk menegaskan kontribusinya dalam mewujudkan Universitas Mulia 2045.

Di tengah percepatan transformasi digital dan hadirnya Ibu Kota Nusantara (IKN), Fakultas Ilmu Komputer (FIKOM) Universitas Mulia memandang bahwa pengembangan talenta digital, inovasi teknologi, dan technopreneurship menjadi salah satu pilar penting dalam mendukung masa depan universitas sekaligus pembangunan kawasan Kalimantan Timur.

Wakil Dekan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Mulia, Tri Sudinugraha, S.Kom., M.Kom., menilai bahwa berbagai pembahasan dalam Strategic Review Balanced Scorecard semakin memperjelas peran strategis FIKOM sebagai salah satu motor penggerak transformasi institusi.

Menurutnya, teknologi dan technopreneurship tidak hanya menjadi identitas Universitas Mulia, tetapi juga harus diwujudkan dalam proses pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan pengembangan inovasi yang memberikan manfaat nyata.

“FIKOM memandang bahwa teknologi dan technopreneurship bukan hanya identitas institusi, tetapi juga pondasi dalam membentuk lulusan yang relevan dengan kebutuhan masa depan,” ujarnya.

Berangkat dari pemahaman tersebut, FIKOM mengarahkan strategi pengembangannya pada tiga fokus utama, yaitu penguatan kompetensi digital, pengembangan inovasi berbasis teknologi, dan peningkatan kolaborasi dengan dunia industri serta masyarakat.

Strategi tersebut diwujudkan melalui penerapan pembelajaran berbasis Outcome-Based Education (OBE), project-based learning, serta berbagai kegiatan kompetitif yang mendorong mahasiswa menghasilkan solusi nyata melalui pemanfaatan teknologi.

Pendekatan tersebut sejalan dengan semangat Strategic Review Balanced Scorecard yang menekankan pentingnya keterhubungan antara visi institusi, program kerja, dan dampak yang dihasilkan.

Tidak hanya berfokus pada proses pembelajaran di dalam kelas, FIKOM juga memperkuat kolaborasi dengan berbagai mitra melalui program magang, praktisi mengajar, dan penyelarasan kurikulum yang disusun sesuai kebutuhan dunia kerja.

Di sisi lain, kontribusi kepada masyarakat terus diperluas melalui berbagai kegiatan pengabdian, seperti pelatihan literasi digital, pemanfaatan teknologi informasi, serta pendampingan transformasi digital bagi sekolah, UMKM, dan lembaga pemerintahan.

“Melalui pendekatan tersebut, FIKOM berupaya menjadi pusat pengembangan talenta digital yang tidak hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga menciptakan inovasi yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat,” katanya.

Menyiapkan Kompetensi yang Dibutuhkan Masa Depan

Dalam berbagai sesi pelatihan Strategic Review Balanced Scorecard, peserta diajak untuk mengidentifikasi peluang dan tantangan yang akan dihadapi perguruan tinggi pada masa mendatang.

Bagi FIKOM, salah satu tantangan terbesar adalah memastikan bahwa kompetensi lulusan selalu relevan dengan perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat.

Karena itu, fakultas secara berkala melakukan peninjauan dan penyelarasan kurikulum dengan melibatkan industri, alumni, serta asosiasi profesi.

Saat ini, pengembangan kompetensi mahasiswa diarahkan pada berbagai bidang strategis yang memiliki prospek besar di masa depan, seperti Artificial Intelligence, Data Analytics, Cloud Computing, Cybersecurity, Software Development, Digital Business, dan Creative Technology.

Selain penguatan kurikulum, peningkatan kapasitas dosen juga menjadi perhatian penting. Berbagai sertifikasi profesional, pelatihan teknologi terkini, serta penelitian kolaboratif terus didorong agar kualitas pembelajaran mampu mengikuti perkembangan industri.

Tri menjelaskan bahwa pengalaman belajar mahasiswa juga diperkuat melalui berbagai program sertifikasi kompetensi, baik yang difasilitasi oleh dosen bersertifikat profesional maupun melalui kerja sama dengan berbagai lembaga eksternal seperti Digital Talent Scholarship Komdigi, DQLab, dan Dicoding.

Mahasiswa juga didorong untuk terlibat dalam proyek nyata melalui program magang industri dan kegiatan Mahasiswa Mengajar yang rutin dilaksanakan oleh program studi di lingkungan FIKOM.

Melalui pendekatan tersebut, lulusan diharapkan tidak hanya memiliki penguasaan teori, tetapi juga pengalaman praktis, kemampuan beradaptasi, dan kesiapan menghadapi perubahan dunia kerja yang semakin dinamis.

Dari Program Kerja Menuju Dampak yang Terukur

Salah satu pesan utama yang mengemuka dalam pelatihan Strategic Review Balanced Scorecard adalah bahwa keberhasilan organisasi tidak dapat diukur hanya dari banyaknya program yang dijalankan.

Keberhasilan harus dilihat dari sejauh mana program tersebut berkontribusi terhadap pencapaian tujuan strategis institusi.

Menurut Tri, Balanced Scorecard memberikan kerangka yang jelas untuk memastikan setiap program kerja fakultas memiliki hubungan langsung dengan target universitas.

Karena itu, seluruh program kerja FIKOM dirancang berdasarkan indikator kinerja yang kemudian diterjemahkan ke dalam target-target yang terukur pada tingkat fakultas maupun program studi.

Fokus tersebut mencakup peningkatan kualitas kurikulum, akreditasi, kompetensi lulusan, implementasi pembelajaran berbasis OBE, peningkatan publikasi ilmiah, hak kekayaan intelektual, produk inovasi, hingga kolaborasi riset dengan berbagai mitra eksternal.

Dari perspektif kemahasiswaan dan pemangku kepentingan, perhatian juga diarahkan pada peningkatan prestasi mahasiswa, kualitas layanan akademik, dan penguatan kerja sama dengan dunia usaha dan dunia industri.

Seluruh capaian tersebut dievaluasi secara berkala melalui mekanisme monitoring dan evaluasi berbasis indikator kinerja utama sehingga kontribusi FIKOM terhadap pencapaian visi Universitas Mulia dapat diukur secara objektif dan berkelanjutan.

“Dengan pendekatan ini, FIKOM tidak hanya menjalankan program, tetapi memastikan setiap program memberikan dampak nyata bagi pengembangan institusi,” tegasnya.

Menyambut Peluang Besar di Ibu Kota Nusantara

Dalam pelatihan Strategic Review Balanced Scorecard, pembangunan Ibu Kota Nusantara juga menjadi salah satu faktor strategis yang banyak dibahas sebagai peluang besar bagi pengembangan Universitas Mulia.

Bagi FIKOM, keberadaan IKN membuka ruang yang sangat luas untuk berkontribusi dalam penyediaan sumber daya manusia dan inovasi teknologi yang dibutuhkan pada masa depan.

Tri menilai bahwa pembangunan IKN akan membutuhkan talenta yang memiliki kompetensi tinggi di bidang teknologi digital, keamanan siber, kecerdasan buatan, analitik data, sistem informasi, hingga ekonomi kreatif.

Merespons peluang tersebut, FIKOM terus memperkuat program studi, kurikulum, laboratorium, dan jejaring kerja sama yang relevan dengan kebutuhan pembangunan IKN.

Selain itu, fakultas juga mendorong lahirnya pusat inovasi dan inkubasi digital yang dapat menjadi ruang kolaborasi antara mahasiswa, dosen, industri, dan pemerintah dalam menghasilkan solusi berbasis teknologi.

Ke depan, bidang smart city, digital governance, cybersecurity, artificial intelligence, data analytics, industri kreatif digital, dan technopreneurship dipandang sebagai sektor yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan.

Dengan posisi Universitas Mulia yang berada di Balikpapan sebagai gerbang utama menuju IKN, FIKOM optimistis dapat mengambil peran penting dalam menyiapkan talenta digital sekaligus menghasilkan inovasi yang mendukung transformasi digital Indonesia.

Pandangan tersebut menunjukkan bagaimana hasil Strategic Review Balanced Scorecard mulai diterjemahkan hingga ke tingkat fakultas. Jika visi Universitas Mulia 2045 menjadi arah besar yang ingin dicapai, maka FIKOM berupaya menghadirkannya melalui penguatan kompetensi digital, inovasi teknologi, kolaborasi industri, dan pengembangan talenta yang siap menjawab kebutuhan masa depan.

Dengan demikian, strategic review yang sedang dijalankan Universitas Mulia bukan sekadar proses penyusunan strategi institusi, melainkan langkah bersama untuk memastikan setiap fakultas, program studi, dan unit kerja bergerak dalam satu arah menuju universitas yang unggul, adaptif, dan berdampak. (YMN)

 

Balikpapan, 11 Juni 2026 Di tengah derasnya arus kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), otomatisasi, dan perubahan dunia kerja yang berlangsung nyaris tanpa jeda, satu pertanyaan mulai mengemuka: keterampilan apa yang akan tetap dibutuhkan manusia ketika teknologi mampu mengerjakan semakin banyak hal?

Bagi Dr. Pudjiati, Kaprodi Manajemen Universitas Mulia, jawabannya tidak terletak pada kecakapan teknis semata. Ada kemampuan lain yang justru semakin bernilai ketika teknologi berkembang semakin canggih, yaitu kepemimpinan.

Gagasan itu mengemuka dalam Seminar Leadership bertema “Leadership Menuju Profesional dan Entrepreneur” yang digelar Himpunan Mahasiswa Manajemen (HMM) Universitas Mulia di Ballroom Cheng Ho, Kamis (11/6/2026). Ratusan calon mahasiswa baru bersama masyarakat umum memenuhi ruangan untuk menyimak pemaparan yang disampaikan Dr. Pudjiati.

Menurutnya, banyak anak muda masih memahami kepemimpinan secara keliru. Kepemimpinan sering dipersepsikan sebagai posisi, jabatan, atau kekuasaan. Padahal, akar dari kepemimpinan justru tumbuh jauh sebelum seseorang memimpin orang lain.

“Kesalahan mendasar yang sering terjadi adalah menganggap pemimpin hanya tentang jabatan atau hasil akhir. Padahal kepemimpinan dimulai dari kemampuan memimpin diri sendiri, memiliki tanggung jawab, integritas, disiplin, dan mampu memberikan pengaruh positif bagi orang lain,” ujarnya.

Di tengah budaya media sosial yang sering menampilkan kesuksesan secara instan, pemahaman tersebut menjadi semakin relevan. Banyak orang ingin berada di garis depan, tetapi tidak semua siap menjalani proses panjang yang membentuk karakter seorang pemimpin.

Bagi Pudjiati, pemimpin sejati bukan diukur dari banyaknya pengikut yang dimiliki, melainkan dari kemampuan menciptakan perubahan dan membantu orang lain berkembang.

Ketika AI Tidak Bisa Menggantikan Manusia

Perkembangan AI dalam beberapa tahun terakhir telah mengubah cara manusia bekerja. Banyak tugas administratif, analisis data, hingga pekerjaan kreatif kini dapat dilakukan dengan bantuan teknologi.

Namun, di balik kemajuan tersebut, Pudjiati melihat adanya ruang yang tetap menjadi domain manusia.

Teknologi dapat membantu menyelesaikan pekerjaan dengan lebih cepat, tetapi belum mampu menggantikan kemampuan membangun kepercayaan, mengelola hubungan antarmanusia, mengambil keputusan dalam situasi kompleks, maupun memberikan inspirasi kepada orang lain.

Karena itulah, menurutnya, kemampuan leadership justru semakin penting dimiliki mahasiswa.

“Mahasiswa harus mampu beradaptasi dengan perubahan, berpikir kritis, bekerja sama, dan menjadi penggerak inovasi di tengah perkembangan teknologi,” katanya.

Pandangan tersebut sejalan dengan kebutuhan dunia kerja modern yang kini tidak lagi hanya mencari lulusan dengan nilai akademik tinggi, tetapi juga individu yang mampu bekerja dalam tim, berkomunikasi dengan baik, dan menghadapi perubahan secara cepat.

Antara Nilai Akademik dan Realitas Dunia Kerja

Pudjiati mengakui masih terdapat kesenjangan antara kompetensi akademik dan kompetensi kepemimpinan yang dimiliki sebagian lulusan perguruan tinggi.

Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) memang mencerminkan kemampuan seseorang memahami ilmu pengetahuan. Namun ketika memasuki dunia kerja, perusahaan juga menuntut kemampuan lain yang tidak selalu tercermin dalam angka-angka akademik.

Kemampuan berkomunikasi, memecahkan masalah, mengambil keputusan, bekerja sama, hingga menghadapi tekanan menjadi bagian dari kompetensi yang semakin diperhitungkan.

“Pendidikan tidak hanya perlu mencetak lulusan yang pintar secara akademik, tetapi juga membangun karakter, sikap profesional, dan jiwa kepemimpinan,” tegasnya.

Karena itu, menurutnya, kampus tidak boleh hanya menjadi ruang transfer pengetahuan. Kampus harus menjadi tempat mahasiswa belajar menghadapi tantangan nyata, memahami dinamika organisasi, serta mengembangkan karakter yang dibutuhkan dalam kehidupan profesional.

Belajar dari Kegagalan

Dalam dunia bisnis maupun karier profesional, kegagalan hampir tidak pernah bisa dihindari. Namun justru pada titik itulah kualitas kepemimpinan diuji.

Pudjiati menilai ketangguhan atau resilience merupakan salah satu karakter terpenting yang harus dimiliki generasi muda.

Menurutnya, pemimpin yang baik bukanlah mereka yang tidak pernah gagal, melainkan mereka yang mampu bangkit setelah mengalami kegagalan.

Kemampuan mengevaluasi diri, belajar dari kesalahan, beradaptasi terhadap perubahan, dan terus mencari solusi menjadi modal yang menentukan keberhasilan seseorang dalam jangka panjang.

“Kegagalan bukan akhir dari perjalanan. Kegagalan adalah bagian dari proses pembelajaran untuk menjadi pribadi yang lebih kuat dan lebih matang dalam mengambil keputusan,” jelasnya.

Menyiapkan Pemimpin di Tengah Peluang IKN

Bagi Kalimantan Timur, perubahan besar sedang berlangsung. Kehadiran Ibu Kota Nusantara (IKN) membuka ruang ekonomi baru yang akan terus berkembang dalam beberapa tahun mendatang.

Pudjiati melihat momentum tersebut sebagai peluang strategis bagi generasi muda, khususnya mahasiswa Manajemen Universitas Mulia.

Peluang tersebut hadir dalam berbagai sektor, mulai dari bisnis berbasis teknologi, ekonomi kreatif, pariwisata, jasa profesional, hingga pengembangan usaha yang berorientasi pada keberlanjutan.

Namun peluang hanya akan menjadi cerita bagi mereka yang tidak siap.

Karena itu, mahasiswa perlu membekali diri dengan kemampuan manajemen, kepemimpinan, literasi digital, kreativitas, serta keberanian melihat peluang yang belum banyak dilirik orang lain.

“Mahasiswa harus mempersiapkan diri agar tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga mampu menciptakan lapangan kerja dan memberikan kontribusi bagi pembangunan daerah,” katanya.

Integritas sebagai Fondasi

Di antara berbagai kompetensi yang dibutuhkan masa depan, Pudjiati menempatkan satu nilai di posisi paling mendasar: integritas.

Menurutnya, kemampuan dapat dipelajari, teknologi akan terus berubah, dan ilmu pengetahuan akan terus berkembang. Namun tanpa integritas, seluruh kemampuan tersebut kehilangan pijakan.

Integritas menjadi fondasi yang memungkinkan seseorang dipercaya, bertanggung jawab atas keputusan yang diambil, dan tetap memegang prinsip ketika menghadapi tekanan.

Pesan itulah yang ingin ditanamkan kepada mahasiswa Universitas Mulia.

“Jadikan masa kuliah sebagai proses untuk bertumbuh, bukan hanya mengejar nilai atau gelar. Bangun kompetensi, karakter, jaringan, dan pengalaman sebanyak mungkin,” pesannya.

Sebab pada akhirnya, dunia tidak hanya membutuhkan orang-orang yang cerdas. Dunia membutuhkan pribadi yang mampu memimpin dirinya sendiri, berani menghadapi perubahan, dan tetap menjaga integritas ketika kesempatan datang menghampiri. (YMN)

Oleh: Yamani, S.S., M.Pd.
Pengurus PC DMI Balikpapan Kota | Pengurus  MUI Kecamatan Balikpapan Kota | Dosen Universitas Mulia

 

Pagi ini orang-orang berbicara tentang angka. Tentang rupiah yang bertambah di papan harga SPBU. Tentang biaya perjalanan yang membengkak. Tentang pengeluaran yang kembali harus disesuaikan.

Namun sesungguhnya ada sesuatu yang jarang diperbincangkan setiap kali harga-harga naik. Yaitu tentang orang-orang yang selama ini hidup tepat di batas kemampuannya.

Mereka yang tidak memiliki cadangan untuk menghadapi kejutan-kejutan kecil dalam hidup. Mereka yang jika pengeluarannya bertambah dua puluh ribu rupiah sehari, harus mengurangi sesuatu yang lain. Mungkin uang jajan anak. Mungkin lauk makan malam. Mungkin tabungan yang sebenarnya memang sudah lama tidak ada.

Bagi sebagian orang, kenaikan harga BBM hanyalah perubahan angka. Tetapi bagi sebagian lainnya, itu adalah keputusan-keputusan kecil yang menyakitkan yang harus dibuat setiap hari.

Cobalah sesekali memperhatikan halaman parkir masjid setelah shalat Subuh. Ada motor tua yang datang paling awal dan pulang paling akhir. Tidak ada yang tahu siapa pemiliknya. Mungkin seorang buruh. Mungkin seorang satpam. Mungkin seorang pengemudi ojek. Mungkin seseorang yang sepanjang malam memikirkan bagaimana membayar kebutuhan keluarganya pekan depan.

Ia berdiri di saf yang sama. Mengucapkan amin yang sama. Membaca doa yang sama. Tetapi beban yang dibawanya pulang belum tentu sama. Dan sering kali, tidak seorang pun bertanya.

Yang membuat saya khawatir bukanlah kenaikan harga Pertamax. Umat ini sudah berkali-kali melewati masa sulit. Yang lebih mengkhawatirkan adalah jika masjid kehilangan kepekaannya terhadap luka-luka kecil yang dialami jamaahnya. Karena luka terbesar dalam kehidupan bukan selalu kemiskinan.

Sering kali yang paling menyakitkan adalah merasa kesulitan seorang diri di tengah keramaian. Datang ke masjid setiap hari. Bersalaman dengan banyak orang. Tetapi tidak ada seorang pun yang mengetahui bahwa dirinya sedang berjuang agar dapur tetap berasap.

Mungkin inilah saatnya pengurus masjid berhenti hanya menghitung jumlah jamaah. Dan mulai mengenali siapa jamaahnya. Siapa yang baru kehilangan pekerjaan. Siapa yang motornya digunakan untuk mencari nafkah dari pagi sampai malam. Siapa yang diam-diam menunggak biaya sekolah anaknya. Siapa yang mulai mengurangi frekuensi hadir dalam kegiatan masjid karena biaya perjalanan terasa semakin berat.

Karena angka kehadiran tidak pernah mampu menceritakan kesulitan manusia. Yang bisa membacanya hanyalah hati yang mau peduli.

Saya membayangkan suatu malam, seorang marbot pulang ke rumah dengan wajah letih. Harga bensin naik. Biaya hidup naik. Penghasilannya tetap. Ia membuka pintu rumah dan berusaha tersenyum kepada anak-anaknya. Anak-anak itu tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya. Mereka hanya tahu ayahnya selalu pulang membawa ketenangan.

Padahal mungkin di dalam dadanya sedang berlangsung perang yang tidak terlihat. Perang antara kebutuhan yang terus bertambah dan kemampuan yang tidak bertambah.

Berapa banyak orang seperti ini yang ada di sekitar kita? Berapa banyak yang duduk tepat di samping kita ketika salat Jumat? Berapa banyak yang mengucapkan “Alhamdulillah” sambil menyembunyikan kecemasan yang tidak pernah diceritakan kepada siapa pun?

Masjid tidak selalu harus menjawab persoalan bangsa. Kadang-kadang cukup menjawab persoalan satu keluarga. Kadang-kadang cukup memastikan seorang ayah tidak pulang dengan kepala tertunduk karena merasa tidak mampu memenuhi kebutuhan rumahnya. Kadang-kadang cukup memastikan seorang guru ngaji tetap bisa datang mengajar tanpa harus memikirkan isi tangki motornya. Kadang-kadang cukup memastikan ada seseorang yang berkata, “Pak, kalau ada kesulitan, jangan hadapi sendirian.”

Kalimat sederhana seperti itu mungkin tidak mengubah keadaan ekonomi. Tetapi bisa mengubah cara seseorang memandang hidupnya.

Harga Pertamax mungkin akan turun suatu saat nanti. Seperti banyak peristiwa ekonomi lainnya yang datang dan pergi. Tetapi sejarah masjid tidak pernah ditulis oleh harga bahan bakar.

Sejarah masjid selalu ditulis oleh orang-orang yang memilih peduli ketika orang lain sibuk menghitung kepentingannya sendiri.

Kelak, ketika kita berdiri di hadapan Allah, sangat mungkin yang ditanyakan bukan berapa kali kita mengeluhkan kenaikan harga. Melainkan apakah kita sempat menjadi alasan mengapa seseorang tetap kuat menjalani hidup pada masa yang sulit.

Karena pada akhirnya, yang paling dikenang manusia bukan orang yang mampu menjelaskan krisis. Melainkan orang yang hadir ketika krisis itu terjadi.

Semoga kenaikan harga hari ini tidak hanya melahirkan keluhan. Tetapi melahirkan gelombang kepedulian baru dari masjid-masjid kita. Karena umat ini tidak akan kuat hanya dengan ekonomi. Umat ini akan kuat ketika hati-hatinya saling menguatkan. Dan ketika itu terjadi, tidak ada krisis yang mampu mengalahkan persaudaraan yang dibangun karena Allah. Jika harga-harga terus naik, maka pastikan kepedulian kita naik lebih tinggi lagi. (YMN)

 

 

Balikpapan, 5 Juni 2026 – Puluhan mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Mulia mengunjungi Koperasi Wanita Patra yang berlokasi di Jalan Sport, Kelurahan Prapatan, Kecamatan Balikpapan Kota, Jumat (5/6). Kegiatan yang dilaksanakan bersama Career Development Center (CDC) Universitas Mulia tersebut menjadi bagian dari upaya mempertemukan mahasiswa dengan praktik tata kelola organisasi dan bisnis yang berlangsung secara nyata di lapangan.

Kunjungan ini memiliki arti penting karena dilakukan di tengah komitmen Program Studi Manajemen Universitas Mulia untuk mendorong lahirnya koperasi mahasiswa sebagai laboratorium bisnis modern. Melalui interaksi langsung dengan pengelola koperasi, mahasiswa memperoleh gambaran mengenai bagaimana tata kelola organisasi, pelayanan anggota, pengelolaan keuangan, hingga pengembangan usaha dijalankan secara profesional.

Rombongan Universitas Mulia diterima langsung oleh Ketua Koperasi Wanita Patra, Pramadha Wardhani, bersama Manajer Koperasi Wanita Patra, Rusli Usman. Dalam sesi pemaparan dan diskusi, mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk mempelajari perjalanan koperasi, model pengelolaan usaha, serta strategi yang diterapkan dalam menjaga keberlanjutan organisasi dan pelayanan kepada anggota.

Bagi Kepala Career Development Center Universitas Mulia, Dr. Linda Fauziyah Ariyani, S.Pd., M.Pd., pengalaman belajar langsung di lapangan menjadi bagian penting dalam mempersiapkan mahasiswa menghadapi dunia kerja yang semakin dinamis.

Menurutnya, perusahaan saat ini tidak hanya membutuhkan lulusan yang menguasai teori, tetapi juga individu yang memahami bagaimana organisasi bekerja, bagaimana keputusan bisnis diambil, dan bagaimana sebuah lembaga mampu menciptakan nilai bagi para pemangku kepentingannya.

“Koperasi Pertamina menjadi contoh yang sangat baik karena tidak hanya menjalankan fungsi ekonomi, tetapi juga mengelola tata kelola organisasi, pelayanan, keuangan, dan pengembangan usaha secara profesional,” ujarnya.

Mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Mulia mengamati berbagai produk dan merchandise yang dikelola Koperasi Wanita Patra. Melalui observasi langsung ini, mahasiswa mempelajari bagaimana koperasi mengembangkan produk, melayani kebutuhan anggota, serta membangun unit usaha yang berkelanjutan.

Melalui kunjungan tersebut, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan baru mengenai dunia koperasi, tetapi juga menyaksikan secara langsung bagaimana berbagai konsep manajemen yang dipelajari selama perkuliahan diterapkan dalam aktivitas organisasi dan bisnis sehari-hari.

Dalam sesi berbagi pengalaman, Rusli Usman menjelaskan bahwa koperasi pada hakikatnya hadir untuk memberikan manfaat yang seluas-luasnya bagi anggota dan masyarakat. Menurutnya, keberhasilan koperasi tidak hanya diukur dari kemampuan menghasilkan keuntungan, tetapi juga dari kemampuannya menjawab kebutuhan nyata para anggotanya.

Ia juga memberikan pandangan terkait rencana pengembangan koperasi mahasiswa di lingkungan Universitas Mulia. Menurutnya, koperasi yang dibangun di lingkungan kampus harus mampu membaca kebutuhan mahasiswa sebagai pasar utama sekaligus anggota koperasi.

“Ketika membuka koperasi di kampus, sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan dan pangsa pasar di kampus itu sendiri,” ujar Rusli.

Pandangan tersebut menjadi pelajaran penting bagi mahasiswa karena menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah usaha tidak hanya ditentukan oleh semangat berorganisasi, tetapi juga oleh kemampuan memahami kebutuhan konsumen dan menghadirkan solusi yang relevan.

Linda menjelaskan bahwa ekosistem koperasi yang dikelola secara profesional merupakan ruang belajar yang kaya akan pengalaman praktis. Mahasiswa dapat mengamati bagaimana proses kepemimpinan berjalan, bagaimana tim bekerja sama mencapai tujuan organisasi, serta bagaimana keputusan diambil untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang muncul dalam operasional usaha.

Manajer Koperasi Wanita Patra Rusli Usman (tengah) berfoto bersama Kepala Career Development Center Universitas Mulia Dr. Linda Fauziyah Ariyani, S.Pd., M.Pd. (kanan), Kepala Program Studi Manajemen Dr. Pudjiati (kiri), serta jajaran pengurus koperasi usai sesi diskusi dan berbagi pengalaman mengenai tata kelola koperasi profesional.

Selain itu, mahasiswa juga dapat belajar mengenai integritas, tanggung jawab, serta orientasi pelayanan yang menjadi fondasi penting dalam membangun organisasi yang sehat dan berkelanjutan.

“Kompetensi-kompetensi inilah yang saat ini menjadi nilai tambah utama bagi lulusan ketika bersaing di dunia kerja,” katanya.

Namun, menurut Linda, manfaat kunjungan industri tidak akan optimal apabila berhenti pada tahap observasi semata. Karena itu, Career Development Center mendorong mahasiswa untuk melakukan refleksi terhadap pengalaman yang diperoleh selama kegiatan berlangsung.

Mahasiswa diharapkan mampu mengidentifikasi kompetensi yang dibutuhkan industri, menemukan ruang pengembangan diri, serta mengadopsi praktik-praktik baik yang dapat diterapkan dalam organisasi kemahasiswaan maupun aktivitas kewirausahaan.

Ke depan, pengalaman lapangan seperti ini akan terus diintegrasikan dengan berbagai program pengembangan karier lainnya, mulai dari pelatihan kesiapan kerja, magang, mentoring karier, hingga penguatan keterampilan nonteknis yang dibutuhkan dunia profesional.

Sementara itu, Kepala Program Studi Manajemen Universitas Mulia, Dr. Pudjiati, melihat kunjungan ke Koperasi Wanita Patra sebagai kesempatan bagi mahasiswa untuk memahami bahwa keberhasilan sebuah koperasi tidak hanya dibangun oleh semangat organisasi, tetapi juga ditentukan oleh kualitas tata kelola dan profesionalisme pengelolaannya.

Ia menjelaskan bahwa salah satu praktik yang paling relevan untuk diadopsi dalam pengembangan koperasi mahasiswa Universitas Mulia adalah tata kelola yang profesional, pengelolaan usaha yang berorientasi pada kebutuhan anggota, serta pemanfaatan teknologi digital dalam operasional dan pelayanan.

Pengurus Koperasi Wanita Patra menyampaikan materi dalam sesi sharing bersama mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Mulia. Mahasiswa tampak antusias menyimak penjelasan mengenai pengelolaan organisasi, pelayanan anggota, dan strategi pengembangan usaha koperasi.

Selain itu, budaya kewirausahaan juga menjadi aspek penting yang perlu ditanamkan sejak dini agar mahasiswa tidak hanya menjadi anggota koperasi, tetapi juga mampu belajar mengelola bisnis secara langsung.

“Dengan pendekatan tersebut, koperasi mahasiswa dapat berkembang menjadi laboratorium bisnis yang profesional, inovatif, dan berkelanjutan,” jelasnya.

Menurut Dr. Pudjiati, pengalaman yang diperoleh mahasiswa selama kunjungan memberikan perspektif baru mengenai peran koperasi di era modern. Koperasi tidak lagi dapat dipandang hanya sebagai organisasi administratif, melainkan sebagai badan usaha yang mampu tumbuh secara profesional, kompetitif, dan adaptif terhadap perubahan zaman.

Perhatian mahasiswa tertuju pada pemaparan pengurus Koperasi Wanita Patra yang membagikan pengalaman membangun dan mengembangkan usaha koperasi. Bagi peserta, sesi ini menjadi kesempatan untuk melihat bagaimana prinsip-prinsip manajemen diterapkan dalam praktik sehari-hari.

Melalui pengamatan langsung terhadap praktik pengelolaan koperasi, mahasiswa dapat melihat bagaimana perencanaan bisnis dilakukan, bagaimana keputusan strategis diambil, bagaimana keuangan dikelola, serta bagaimana pelayanan kepada anggota menjadi bagian penting dari keberhasilan organisasi.

“Pengalaman seperti ini memberikan pembelajaran praktis yang sering kali tidak diperoleh secara utuh di ruang kelas, sekaligus membentuk jiwa kepemimpinan, integritas, dan kewirausahaan yang dibutuhkan di dunia kerja maupun bisnis,” ungkapnya.

Komitmen pengembangan koperasi mahasiswa sendiri menjadi salah satu agenda strategis Program Studi Manajemen Universitas Mulia. Dalam lima tahun ke depan, koperasi mahasiswa diharapkan berkembang menjadi wadah yang tidak hanya aktif secara organisasi, tetapi juga mampu mengelola unit usaha yang berkelanjutan, memanfaatkan teknologi digital, dan menjadi sarana pengembangan kepemimpinan mahasiswa.

Bagi Dr. Pudjiati, koperasi justru memiliki peluang besar untuk tetap relevan di tengah maraknya startup digital dan model bisnis berbasis teknologi. Menurutnya, koperasi menawarkan nilai yang berbeda karena memadukan aktivitas ekonomi dengan semangat kolaborasi dan pemberdayaan bersama.

Jika dikelola secara modern, koperasi dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan inovasi, membangun jejaring, sekaligus menciptakan peluang ekonomi secara kolektif.

“Justru di era saat ini, koperasi dapat menjadi model bisnis masa depan yang mengedepankan keberlanjutan, kebersamaan, dan kesejahteraan anggota, sekaligus tetap kompetitif dalam menghadapi perubahan ekonomi digital,” tegasnya.

Melalui kunjungan ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh wawasan mengenai tata kelola koperasi profesional, tetapi juga mendapatkan pelajaran penting tentang bagaimana membangun usaha yang relevan dengan kebutuhan pasar. Bagi Universitas Mulia, pengalaman tersebut menjadi bagian dari upaya mempersiapkan mahasiswa agar tidak hanya siap memasuki dunia kerja, tetapi juga mampu menciptakan peluang usaha yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Kami percaya bahwa karier yang hebat tidak dibangun hanya di ruang kelas. Karier yang hebat dibangun melalui pengalaman, kolaborasi, dan keberanian untuk terus belajar dari dunia nyata,” pungkas Dr. Linda. (YMN)

Balikpapan, 4 Juni 2026 – Banyak perguruan tinggi berbicara tentang internasionalisasi. Namun tidak sedikit yang berhenti pada penandatanganan kerja sama, logo mitra luar negeri di laman website, atau penyematan istilah “kelas internasional” tanpa perubahan yang berarti dalam pengalaman belajar mahasiswa.

Pandangan itu menjadi salah satu benang merah yang disampaikan Dr. Rosa Ristawati, S.H., LL.M., saat menjadi narasumber Focus Group Discussion (FGD) Fakultas Hukum Universitas Mulia, Kamis (4/6).

Akademisi Fakultas Hukum Universitas Airlangga yang saat ini menjabat sebagai Koordinator International Undergraduate Program (IUP) tersebut menegaskan bahwa internasionalisasi pendidikan hukum harus dibangun melalui aktivitas yang nyata, terukur, dan berkelanjutan.

Dalam paparannya bertajuk “Pendidikan Hukum Indonesia dan Networking Internasional”, Rosa menjelaskan bahwa salah satu fondasi utama internasionalisasi adalah kemampuan membangun jejaring akademik.

Menurutnya, networking tidak hanya menjadi tanggung jawab institusi. Dosen dan mahasiswa juga memiliki peran yang sama pentingnya.

“Siapa yang bisa melakukan networking? Dosen sebagai individu, institusi atau fakultas, dan mahasiswa sebagai individu,” jelasnya.

Ia menjelaskan bahwa jejaring internasional dapat dibangun melalui berbagai jalur, mulai dari konferensi, seminar, kompetisi internasional, kunjungan akademik, benchmarking, hingga komunikasi digital melalui email dan platform konferensi daring.

Yang lebih penting, kata Rosa, networking tidak boleh berhenti pada tahap perkenalan. Jejaring harus ditindaklanjuti menjadi kolaborasi nyata dalam bentuk kuliah tamu, penelitian bersama, publikasi ilmiah, maupun program pengabdian masyarakat.

Dalam konteks pendidikan hukum, Rosa menyoroti perlunya perubahan pendekatan pembelajaran. Menurutnya, mahasiswa hukum masa kini membutuhkan pengalaman belajar yang lebih mandiri dan interaktif.

Ia mendorong penerapan metode problem-based learning, project-based learning, dan case-based learning yang memungkinkan mahasiswa belajar melalui penyelesaian persoalan nyata.

“Pembelajaran harus didukung modul dan manual yang sistematis, bukan hanya dokumen administratif seperti RPS,” jelasnya.

Menyimak pengalaman, menyiapkan masa depan. Kuliah tamu bersama Dr. Rosa Ristawati, S.H., LL.M. menghadirkan diskusi tentang networking internasional, kelas internasional, dan penguatan daya saing pendidikan hukum. Dosen Prodi Hukum Universitas Mulia mengikuti sesi ini sebagai bagian dari upaya memperluas wawasan dan jejaring akademik.

Rosa juga mengajak perguruan tinggi untuk memikirkan kembali desain kelas internasional. Baginya, internasionalisasi bukan hanya persoalan bahasa pengantar, tetapi juga bagaimana mahasiswa mendapatkan pengalaman global melalui pertukaran pelajar, kompetisi internasional, magang, dosen tamu dari luar negeri, serta berbagai program akademik lintas negara.

Dalam paparannya, ia mengungkap sejumlah tantangan yang kerap dihadapi program internasional, mulai dari persepsi bahwa kelas internasional sama dengan kelas reguler, keterbatasan atmosfer akademik global, hingga minimnya keterlibatan mahasiswa dalam agenda internasionalisasi.

Sebagai contoh praktik baik, Rosa memaparkan pengalaman Project LEAP-OKP, program peningkatan kapasitas pendidikan hukum yang didukung Pemerintah Belanda melalui kolaborasi Fakultas Hukum Universitas Airlangga dan Maastricht University.

Program tersebut tidak hanya berfokus pada pengembangan kurikulum dan metode pembelajaran, tetapi juga memperluas networking internasional, memperkuat kolaborasi publikasi, meningkatkan akses terhadap jurnal internasional, hingga membuka peluang pengembangan joint degree dan double degree.

Menurut Rosa, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa transformasi pendidikan hukum membutuhkan kolaborasi lintas negara, lintas institusi, dan lintas disiplin.

Di tengah perubahan teknologi, globalisasi, dan perkembangan kecerdasan buatan yang semakin cepat, fakultas hukum tidak lagi cukup hanya menghasilkan lulusan yang memahami peraturan perundang-undangan. Perguruan tinggi harus mampu menciptakan lingkungan akademik yang membentuk kemampuan berpikir kritis, berjejaring, dan beradaptasi dengan perubahan global.

Pesan itulah yang dibawa Rosa ke Fakultas Hukum Universitas Mulia: bahwa jalan menuju daya saing internasional tidak selalu dimulai dari program yang besar, melainkan dari keberanian membuka diri, membangun hubungan, dan mengubah cara belajar untuk menjawab tantangan zaman. (YMN)

 

Balikpapan, 21 Mei 2026 – Ketika sebagian kalangan masih memandang bahasa Inggris sebagai mata pelajaran yang sulit dan menegangkan, puluhan pelajar di Kota Balikpapan justru menunjukkan hal sebaliknya. Mereka berdiri di hadapan dewan juri dan audiens untuk menyampaikan gagasan tentang isu-isu yang dekat dengan kehidupan generasi muda, mulai dari kesehatan mental hingga perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence).

Fenomena tersebut terlihat dalam Speech Competition 2026 tingkat SMA/SMK se-Kota Balikpapan yang diselenggarakan oleh UKM English Club Universitas Mulia pada 21 Mei 2026 di Ruang Eksekutif Universitas Mulia. Kegiatan yang mengusung tema “Speak Your Mind, Inspire the World” itu diikuti sembilan peserta dari berbagai sekolah menengah di Balikpapan dengan pendampingan guru dan orang tua.

Lebih dari sekadar kompetisi pidato berbahasa Inggris, kegiatan ini memperlihatkan bagaimana pelajar memanfaatkan bahasa sebagai sarana untuk menyampaikan gagasan terhadap berbagai persoalan yang berkembang di tengah masyarakat. Dalam sejumlah penampilan, peserta tidak hanya menunjukkan kemampuan linguistik, tetapi juga keberanian menyampaikan pandangan mengenai isu pendidikan, teknologi, dan kesehatan mental yang saat ini banyak menjadi perhatian generasi muda.

Menurut Ketua UKM English Club Universitas Mulia, Gita Khairunnisa, kompetisi ini lahir dari kegelisahan terhadap pandangan yang masih berkembang di kalangan pelajar bahwa bahasa Inggris merupakan sesuatu yang sulit, membosankan, dan tidak menyenangkan untuk dipelajari.

“Kami melihat masih ada anggapan bahwa bahasa Inggris itu susah dan tidak menarik. Melalui kompetisi ini kami ingin menunjukkan bahwa bahasa Inggris bisa menjadi media yang menyenangkan untuk mengembangkan diri. Kami ingin membuktikan bahwa English is fun, sesuai dengan semangat yang selama ini dibangun oleh UKM English Club,” ujarnya.

Pandangan tersebut menjadi salah satu alasan Universitas Mulia melalui UKM English Club terus menghadirkan ruang-ruang pembelajaran yang memungkinkan pelajar berinteraksi dengan bahasa Inggris dalam konteks yang lebih aplikatif. Alih-alih hanya berfokus pada aspek tata bahasa dan kosakata, peserta didorong untuk menggunakan bahasa Inggris sebagai alat untuk mengomunikasikan ide, gagasan, dan perspektif mereka terhadap berbagai fenomena yang sedang berkembang.

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan, kemampuan menyampaikan gagasan secara efektif dinilai tetap memiliki nilai strategis. Menurut Gita, perkembangan AI maupun media sosial justru semakin memperlihatkan pentingnya penguasaan bahasa Inggris karena sebagian besar perkembangan teknologi global masih menggunakan bahasa tersebut sebagai bahasa utama komunikasi dan pengembangan pengetahuan.

Tema “Speak Your Mind, Inspire the World” yang diangkat dalam kompetisi tahun ini juga dipilih untuk merespons perubahan yang sedang berlangsung di bidang pendidikan dan teknologi. Melalui tema tersebut, peserta didorong untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menyampaikan pemikiran yang dapat berkontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Menariknya, proses kompetisi juga memberikan gambaran mengenai potensi pelajar Balikpapan yang selama ini mungkin belum banyak terekspos. Dari hasil pengamatan panitia, banyak peserta menunjukkan kemampuan berbahasa Inggris yang baik dengan muatan pidato yang tidak sekadar retoris, tetapi juga memuat analisis dan gagasan yang relevan dengan kondisi saat ini.

“Kami menemukan banyak pelajar yang sangat fasih berbicara dalam bahasa Inggris. Yang lebih menarik lagi, isi pidato mereka cukup berbobot dan mengangkat isu-isu yang sedang berkembang seperti mental health, artificial intelligence, dan pendidikan,” jelasnya.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa ruang pengembangan kemampuan komunikasi tidak hanya berfungsi sebagai sarana kompetisi, tetapi juga menjadi medium untuk membaca cara generasi muda memandang perubahan sosial dan teknologi yang terjadi di sekitar mereka.

Meski demikian, panitia mencatat masih terdapat satu aspek yang perlu terus diperkuat, yakni kepercayaan diri saat tampil di hadapan publik. Menurut panitia, kemampuan bahasa yang baik tidak selalu diikuti dengan keberanian menyampaikan gagasan di depan audiens yang lebih luas.

Karena itu, penyelenggaraan kompetisi ini juga diarahkan untuk membantu pelajar membangun keberanian berbicara di ruang publik. Bahkan sebelum kegiatan berlangsung, salah satu tantangan yang dihadapi panitia adalah meyakinkan calon peserta bahwa kompetisi ini dapat menjadi batu loncatan untuk mengikuti ajang yang lebih tinggi di masa mendatang.

“Kami ingin peserta melihat bahwa kompetisi tingkat kota ini bukan tujuan akhir, tetapi langkah awal untuk mengembangkan potensi mereka dan berani tampil pada kompetisi yang lebih besar,” katanya.

Kompetisi diikuti oleh peserta dari berbagai sekolah, antara lain SMKN 2 Balikpapan, SMA Nasional KPS Balikpapan, SMA Kartika V-1 Balikpapan, SMK Airlangga Balikpapan, SMK Kesehatan Airlangga Balikpapan, serta beberapa sekolah lainnya. Penilaian dilakukan berdasarkan lima aspek utama, yaitu Pronunciation, Fluency, Content and Organization, Performance and Confidence, serta Grammar and Vocabulary.

Berdasarkan hasil penilaian dewan juri, Fiorenza Adelia R.H. dari SMA Nasional KPS Balikpapan berhasil meraih Juara I dengan skor 89,6. Posisi Juara II diraih Salvin Meltisha dari SMKN 2 Balikpapan dengan skor 88,7, sedangkan Juara III diraih Sakinah Cahaya Namira dari SMKN 2 Balikpapan dengan skor 85,6.

Melalui kegiatan ini, Universitas Mulia tidak hanya menghadirkan kompetisi bagi pelajar, tetapi juga membangun ruang pertemuan antara pendidikan menengah dan pendidikan tinggi dalam satu ekosistem pembelajaran. Ketika pelajar diberi kesempatan untuk menyampaikan gagasan, yang muncul bukan sekadar kemampuan berbahasa Inggris, melainkan potret generasi muda yang mulai berani berbicara tentang masa depan yang mereka hadapi dan ingin mereka bentuk. (YMN)

 

Balikpapan, 6 April 2026 – Integrasi materi dan laboratorium virtual EC-Council ke dalam kurikulum Program Studi Teknologi Informasi Universitas Mulia resmi dimulai melalui implementasi Program EC-Council Academia yang digelar secara daring pada 6 April 2026.

Melalui program tersebut, sejumlah materi sertifikasi EC-Council diintegrasikan ke dalam Kurikulum 2023 dan Kurikulum 2025, di antaranya Digital Forensics Essentials (DFE), Ethical Hacking Essentials (EHE), dan Network Defense Essentials (NDE). Selain mempelajari materi sertifikasi, mahasiswa dan dosen dapat mengakses virtual lab EC-Council untuk melakukan simulasi investigasi forensik digital, pengujian keamanan sistem, dan pertahanan jaringan.

Kepala Program Studi Teknologi Informasi, Agus Wijayanto, S.Kom., M.Kom., menyampaikan bahwa program ini memberi mahasiswa akses terhadap materi dan lingkungan praktik yang digunakan dalam berbagai skema sertifikasi EC-Council sehingga mahasiswa dapat mempelajari materi yang selaras dengan skema sertifikasi yang digunakan dalam program EC-Council.

Pemanfaatan virtual lab juga telah digunakan mahasiswa dalam pembelajaran Digital Forensics Essentials pada mata kuliah Komputer Forensik. Ketua Himpunan Mahasiswa Teknologi Informasi, Aqilah Aulya Maulidah, menilai materi dan virtual lab EC-Council membantu mahasiswa memahami praktik forensik digital secara lebih aplikatif.

Integrasi materi DFE, EHE, dan NDE ke dalam kurikulum membuat mahasiswa dapat mengakses materi pembelajaran dan laboratorium virtual yang digunakan dalam program sertifikasi EC-Council. (YMN)

Balikpapan, 3 Juni 2026 – Jarum jam mendekati pukul 14.30 WITA ketika sebuah undangan singkat mengarahkan langkah menuju Laboratorium Fakultas Teknik Universitas Mulia. Siang itu matahari masih menyisakan panas setelah sejak tengah hari menyengat Kota Balikpapan. Namun sinarnya mulai melemah, membuat perjalanan dari White Campus menuju gedung Fakultas Teknik terasa lebih bersahabat.

Di sepanjang jalan, gedung Cheng Hoo berdiri tenang di sisi kampus. Beberapa meter berikutnya, hamparan lapangan pickleball yang baru dibangun tampak mencuri perhatian. Sekilas bentuknya menyerupai lapangan tenis, meski dengan net yang lebih rendah. Debu tipis yang beterbangan di jalur penghubung gedung menjadi penanda bahwa kawasan kampus masih terus bertumbuh.

Memasuki gedung Fakultas Teknik yang berarsitektur berbeda dari bangunan kampus lainnya, suasana akademik langsung terasa. Di sisi kiri lantai dasar, Laboratorium Teknik terbuka menyambut tamu. Ruangan itu cukup luas dengan meja panjang yang telah disiapkan. Beberapa mahasiswa mengenakan jas laboratorium putih tampak sibuk mempersiapkan sampel uji yang akan dinilai para panelis.

Hari itu bukan sekadar kegiatan mencicipi makanan. Mahasiswa Program Studi Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian (TPHP) sedang melaksanakan pengujian sensori terhadap produk pentol bakso yang mereka kembangkan melalui berbagai formulasi bahan.

Tiga varian disajikan kepada panelis. Varian pertama menggunakan daging ayam dengan komposisi lebih dominan, sementara dua varian lainnya memadukan daging ayam dengan tahu dalam proporsi berbeda. Setiap panelis diminta memberikan penilaian terhadap rasa, aroma, tekstur, dan tingkat kekenyalan produk.

Di balik sepiring pentol bakso yang tampak sederhana, tersimpan proses pembelajaran yang jauh lebih kompleks.

Ketua Program Studi Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian, Rafika Dyah Maharani, S.Pi., M.T.P., menjelaskan bahwa praktikum semacam ini bertujuan memperlihatkan kepada mahasiswa bagaimana perubahan kecil dalam formulasi dapat menghasilkan karakteristik produk yang berbeda.

“Dari praktikum eksperimen dengan formulasi yang berbeda, mahasiswa jadi tahu bahwa perubahan formulasi sedikit akan berpengaruh terhadap rasa, aroma, kekenyalan, dan tekstur,” ujarnya.

Pemahaman tersebut menjadi fondasi penting dalam pengembangan produk pangan. Dalam industri, perubahan beberapa gram bahan tertentu dapat menentukan apakah suatu produk diterima atau ditolak konsumen.

Lebih jauh, mahasiswa juga diperkenalkan pada realitas bahwa inovasi pangan tidak selalu identik dengan bahan baku mahal. Menurut Rafika, salah satu pelajaran penting yang ingin ditanamkan adalah kemampuan menciptakan produk bernilai tanpa harus bergantung pada biaya produksi tinggi.

“Mahasiswa dilatih bahwa tidak semua produk pangan yang bergizi bernilai mahal. Ternyata dari bahan yang harganya terjangkau dapat menghasilkan produk yang tidak kalah dengan yang dijual di pasaran,” katanya.

Pemanfaatan tahu dalam formulasi bakso yang diuji bukan sekadar upaya menekan biaya produksi. Di balik pilihan bahan tersebut terdapat pertimbangan yang lebih luas, mulai dari aspek ketahanan pangan hingga pemanfaatan potensi bahan baku lokal.

Rafika menjelaskan bahwa melalui praktikum evaluasi sensori, mahasiswa diajak memahami bagaimana bahan pangan lokal dapat menjadi alternatif yang layak untuk mengurangi ketergantungan pada bahan baku tertentu yang harganya lebih mahal atau ketersediaannya terbatas.

“Dalam praktikum evaluasi sensori yang sudah terlaksana, bakso ayam dibuat dengan penambahan atau penggantian sebagian bahan menggunakan tahu. Mahasiswa belajar bagaimana bahan lokal seperti tahu dapat dimanfaatkan untuk mengurangi ketergantungan pada bahan baku yang lebih mahal atau terbatas ketersediaannya,” jelasnya.

Menurutnya, pendekatan tersebut penting karena industri pangan tidak hanya dituntut menghasilkan produk yang disukai konsumen, tetapi juga mampu beradaptasi terhadap dinamika ketersediaan bahan baku. Melalui kegiatan praktikum, mahasiswa dilatih untuk melihat potensi bahan lokal yang memiliki fungsi dan karakteristik serupa sehingga ketergantungan terhadap satu jenis bahan dapat dikurangi.

Sejumlah mahasiswa TPHP Universitas Mulia menyiapkan sampel pengujian di Laboratorium Fakultas Teknik sebelum kegiatan evaluasi sensori dimulai.

Dari sisi ekonomi, penggunaan tahu juga memberikan keuntungan tersendiri. Harga tahu relatif lebih terjangkau dibandingkan beberapa bahan tambahan lain yang umum digunakan dalam produk olahan pangan. Sementara dari sisi gizi, tahu merupakan sumber protein nabati yang dapat melengkapi kebutuhan nutrisi masyarakat.

“Dari segi ekonomi harga tahu lebih murah dibanding bahan tambahan lain seperti udang. Dari segi gizi, tahu merupakan sumber protein nabati sehingga penambahan tahu dalam bakso ayam dapat mendukung konsumsi pangan masyarakat yang lebih beragam melalui variasi sumber protein,” ujarnya.

Lebih jauh, Rafika menilai bahwa pengembangan produk pangan berbasis sumber daya lokal masih menghadapi sejumlah tantangan. Banyak produk potensial yang belum dikelola secara optimal, sementara sebagian lainnya masih menghadapi persoalan mutu dan konsistensi kualitas.

“Pengembangan produk pangan berbasis lokal masih minim dikelola dengan baik. Kalaupun sudah dikelola dengan baik, mutu produknya sering kali belum terpenuhi sehingga kepercayaan masyarakat terhadap produk lokal masih rendah,” katanya.

Karena itu, melalui kegiatan praktikum, mahasiswa tidak hanya diarahkan untuk menciptakan produk yang memiliki cita rasa baik, tetapi juga memahami pentingnya standar mutu, keamanan pangan, dan daya saing produk.

“Ke depannya mahasiswa diharapkan mampu menghasilkan produk pangan yang bermutu, aman dikonsumsi, dan memiliki daya saing yang kuat di masyarakat,” tambahnya.

Harapan tersebut sejalan dengan kebutuhan industri pangan yang terus menuntut inovasi produk berbasis bahan baku yang efisien tanpa mengabaikan kualitas. Salah satu contoh yang diperkenalkan dalam praktikum adalah pemanfaatan tahu sebagai bahan campuran bakso ayam. Selain memberikan keuntungan dari sisi ekonomi, penggunaan bahan lokal tersebut juga membuka peluang pengembangan karakteristik produk yang berbeda sesuai kebutuhan konsumen.

Dalam proses pengembangan produk pangan, penilaian konsumen menjadi aspek yang tidak dapat diabaikan. Namun demikian, penerimaan pasar bukan satu-satunya ukuran keberhasilan.

Rafika menegaskan bahwa mahasiswa diajarkan untuk menyeimbangkan hasil analisis laboratorium dengan hasil pengujian sensori.

“Analisis laboratorium dan pengujian sensori keduanya berada dalam penilaian penting. Dari mata kuliah Evaluasi Sensori, mahasiswa diajarkan bagaimana produk dapat diterima oleh konsumen. Mahasiswa belajar menyeimbangkan keduanya sehingga produk yang dihasilkan aman, bergizi, dan disukai konsumen,” jelasnya.

Pendekatan tersebut sekaligus menjawab pertanyaan yang kerap muncul di masyarakat mengenai perbedaan antara seseorang yang pandai memasak dengan lulusan teknologi pangan.

Menurut Rafika, titik pembeda terletak pada landasan ilmiah yang digunakan dalam proses pengembangan produk.

Dengan lembar penilaian di tangan, para panelis mencicipi setiap sampel pentol bakso untuk menentukan formulasi yang paling diterima dari segi rasa, aroma, tekstur, dan kekenyalan.

“Orang yang terbiasa memasak biasanya fokus pada hasil akhir bahwa rasanya enak dan bisa dikonsumsi. Sedangkan sarjana teknologi pangan membuat dan mengembangkan produk pangan berdasarkan ilmu, data, standar mutu, keamanan, dan kebutuhan konsumen,” ungkapnya.

Karena itu, pembelajaran di TPHP tidak berhenti pada kemampuan menghasilkan makanan yang lezat. Mahasiswa juga dibekali pemahaman mengenai keamanan pangan, kandungan gizi, standar mutu, hingga perilaku konsumen yang terus berubah mengikuti perkembangan zaman.

Rafika menilai keterbukaan terhadap tren menjadi kebutuhan penting bagi mahasiswa saat ini. Perubahan gaya hidup masyarakat turut memengaruhi preferensi pangan yang mereka konsumsi.

“Mahasiswa saat ini harus sangat terbuka dengan tren. Hal ini membantu dalam praktikum untuk membuat dan mengembangkan produk yang sesuai dengan lifestyle saat ini,” katanya.

Ke depan, hasil-hasil praktikum mahasiswa tidak direncanakan berhenti sebagai laporan akademik yang tersimpan di rak laboratorium. Program studi telah menyiapkan langkah lanjutan agar inovasi mahasiswa dapat diuji dalam lingkungan yang lebih luas.

“Rencana prodi yaitu pengembangan produk hasil praktikum dengan memasarkan ke lingkungan universitas, kemudian bekerja sama dengan UMKM daerah dan memberikan pelatihan kepada masyarakat sekitar,” jelas Rafika.

Sebelum sampai ke tahap pemasaran, setiap produk tetap harus melalui serangkaian pengujian ilmiah untuk memastikan kualitasnya.

“Sebelum dipasarkan kami akan melakukan uji laboratorium untuk menentukan produk tersebut memiliki nilai gizi yang baik, sehingga produk yang kami pasarkan tidak hanya enak dan bisa dikonsumsi,” tambahnya.

Di atas meja laboratorium sore itu, tiga piring pentol bakso mungkin terlihat sebagai hasil praktikum biasa. Namun bagi mahasiswa TPHP, produk tersebut merupakan pertemuan antara sains, kreativitas, dan kebutuhan pasar. Dari perubahan formulasi yang tampak sederhana, mereka belajar bahwa masa depan industri pangan sering kali ditentukan oleh kemampuan memahami satu hal yang paling mendasar: apa yang diinginkan konsumen, tanpa melupakan keamanan dan kualitas yang harus dijaga. (YMN)