Balikpapan, 30 April 2026— Suasana perkuliahan Bahasa Inggris Bisnis bagi mahasiswa semester 2 Program Studi Hukum Universitas Mulia kali ini menghadirkan pengalaman berbeda. Melalui kuliah tamu bertopik “Build Your LinkedIn Profile,” mahasiswa tidak hanya mengikuti pembelajaran di ruang kelas, tetapi juga diajak membaca lebih awal peta persiapan menuju dunia profesional bersama narasumber Rizky Wijayanti, S.AP.

Kegiatan yang telah terintegrasi dalam Rencana Pembelajaran Semester (RPS) ini dirancang sebagai langkah strategis agar mahasiswa memiliki kesadaran sejak dini mengenai berbagai bekal yang perlu dipersiapkan sebelum lulus. Fokusnya bukan sekadar akademik, tetapi juga bagaimana mahasiswa mulai mengenali potensi diri, menggali keterampilan, serta membangun citra profesional sebelum benar-benar memasuki dunia kerja.

Dalam pemaparannya, Rizky Wijayanti menekankan bahwa LinkedIn bukan hanya platform formalitas pencari kerja, melainkan ruang personal branding yang dapat merepresentasikan kapasitas, pengalaman, dan arah karier seseorang. Mahasiswa diperkenalkan pada pentingnya menyusun profil yang kuat melalui headline yang tepat, deskripsi diri yang terarah, hingga penyajian pengalaman akademik maupun organisasi secara profesional.

Bagi mahasiswa hukum yang tengah berada di fase awal perkuliahan, materi ini menjadi pengingat bahwa kesiapan karier tidak dibangun secara instan menjelang kelulusan. Sebaliknya, proses tersebut harus dimulai dari sekarang—dengan menyiapkan kompetensi, memperluas pengalaman, dan membangun jejak digital yang kredibel.

Sesi tanya jawab berlangsung aktif, menandakan tingginya rasa ingin tahu mahasiswa terhadap dunia profesional yang selama ini mungkin terasa masih jauh. Berbagai pertanyaan muncul, mulai dari cara menampilkan pengalaman organisasi, menulis profil yang menarik, hingga strategi membangun koneksi profesional yang relevan.

Kuliah tamu semakin menarik saat memasuki sesi quick review, di mana nara sumber meninjau secara langsung beberapa profil LinkedIn mahasiswa. Melalui evaluasi tersebut, mahasiswa dapat melihat secara nyata bagaimana detail kecil seperti foto profil, narasi personal, maupun struktur informasi dapat memengaruhi kesan profesional di mata publik.

Dari sesi ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh teori, tetapi juga pengalaman reflektif tentang posisi mereka saat ini dan apa yang perlu diperbaiki untuk masa depan. Mata kuliah Bahasa Inggris Bisnis pun tampil sebagai ruang belajar yang tidak berhenti pada kemampuan linguistik, melainkan berkembang menjadi wadah pembentukan kesiapan karier yang lebih realistis.

Melalui pendekatan seperti ini, Universitas Mulia menunjukkan bahwa pendidikan tinggi tidak hanya berbicara tentang kelulusan akademik, tetapi juga tentang bagaimana mahasiswa dipersiapkan menghadapi ekosistem profesional yang terus berubah. Sebab di era digital, reputasi dan kesiapan bukan dibangun saat mencari pekerjaan—melainkan sejak seseorang mulai menyiapkan dirinya. (YMN)

 

Samarinda, 18 april 2026 — Sejumlah mahasiswa Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Mulia menghadiri kegiatan Industrial Visit & Study Program yang dirangkaikan dengan Illustration & Graphic Memoir Exhibition 2026 pada 18 April 2026 di kawasan Jl. Wahid H II, Komplek TVRI Graha Asri, Samarinda. Kegiatan yang diselenggarakan oleh komunitas kreatif Samarinda Design Hub ini menjadi ruang temu antara praktik industri dan proses pembelajaran akademik yang tengah dijalani mahasiswa.

Kehadiran mahasiswa dalam kegiatan tersebut merupakan bagian dari implementasi indikator kinerja program studi, khususnya pada aspek kunjungan ke industri. Namun, aktivitas ini tidak berhenti pada pemenuhan target administratif. Mahasiswa berinteraksi langsung dengan karya ilustrasi, komik, dan graphic memoir yang mengangkat lanskap kota, dinamika sosial, hingga narasi personal kreator—membuka kesempatan untuk memahami bagaimana gagasan berkembang menjadi bahasa visual yang komunikatif.

Pendiri Samarinda Design Hub sekaligus kurator pameran, Ramadhan S. Pernyata, menyambut kehadiran mahasiswa sebagai bagian dari pertemuan yang produktif antara dunia pendidikan dan komunitas kreatif. Ia menilai ruang pamer tidak hanya berfungsi sebagai tempat presentasi karya, tetapi juga sebagai medium belajar yang memperlihatkan proses kreatif secara terbuka—mulai dari perumusan ide, pengolahan cerita, hingga eksekusi visual.

Menelusuri satu per satu karya, mahasiswa DKV Universitas Mulia tidak hanya melihat visual, tetapi membaca cerita yang tersembunyi di balik setiap ilustrasi.

Bagi Kaprodi DKV Universitas Mulia, Assaidatul Husna, S.Sn., M.Sn., kunjungan ini bukan sekadar agenda akademik, melainkan upaya membawa mahasiswa berhadapan langsung dengan realitas kerja kreatif. Ia menyebutkan bahwa meskipun program studi DKV Universitas Mulia baru berjalan dua semester dengan satu angkatan, langkah ini menjadi upaya awal untuk mempertemukan mahasiswa dengan realitas industri kreatif di Kalimantan Timur.

Menurutnya, momentum ini selaras dengan mata kuliah yang sedang ditempuh mahasiswa, yakni Proses Kreatif dan Ilustrasi. Pameran tersebut dinilai relevan sebagai referensi visual dalam memahami bagaimana memori personal dan narasi lokal diolah menjadi karya yang memiliki kekuatan visual sekaligus kedalaman cerita. Melalui observasi langsung, mahasiswa didorong untuk mengasah sensitivitas estetika serta kemampuan visual storytelling, yang nantinya ditransformasikan menjadi output akademik yang lebih konkret.

Ia juga menekankan pentingnya kesadaran mahasiswa terhadap potensi identitas lokal. Dalam pandangannya, tema-tema yang berangkat dari konteks lokal tidak hanya memiliki nilai kultural, tetapi juga berpeluang menembus pasar global ketika dikemas secara profesional. Meski hingga saat ini belum terjalin kerja sama formal antara program studi dan Samarinda Design Hub, interaksi semacam ini dinilai sebagai tahap awal untuk mengukur kesiapan mahasiswa sebelum memasuki rangkaian Capstone Project.

“Tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana mahasiswa mampu menerjemahkan hasil observasi lapangan menjadi konsep desain yang matang. Namun, melalui kurikulum yang adaptif dan berbasis designpreneur, kesenjangan tersebut perlahan dapat dijembatani,” ujarnya. Ia berharap pengalaman ini dapat langsung diolah mahasiswa menjadi portofolio awal, sehingga sejak dini mereka terbiasa memposisikan diri sebagai desainer yang responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

Di hadapan sebuah karya, ruang menjadi sunyi—menyisakan dialog antara imajinasi, pengalaman, dan makna yang perlahan terbaca.

Dari sudut pandang mahasiswa, pengalaman ini juga menghadirkan kesan yang kuat. Ketua Himpunan Mahasiswa (HIMA) DKV Universitas Mulia, Natanael Ferdinand, menilai pameran tersebut tidak hanya menghadirkan karya berkualitas, tetapi juga menunjukkan cara apresiasi terhadap seniman yang dikemas secara serius. Ia mengungkapkan bahwa penggunaan postcard berbasis ilustrasi tangan para seniman yang telah dipindai dan dijadikan koleksi menjadi salah satu pendekatan menarik, sekaligus membuka ruang bagi pengunjung untuk turut berkontribusi melalui pembelian karya dengan harga terjangkau.

Ia juga mencermati penataan ruang pamer yang menyerupai galeri profesional, mulai dari area masuk hingga ruang utama yang dipenuhi cergam (cerita bergambar), lengkap dengan narasi dan pernyataan dari masing-masing kreator. Ragam bentuk karya—dari lembar ilustrasi hingga buku yang telah diterbitkan—memberikan perspektif baru bagi mahasiswa mengenai kemungkinan pengembangan karya ilustrasi ke dalam berbagai medium. Pengalaman tersebut, menurutnya, memberi dorongan bagi mahasiswa untuk lebih serius dalam mengapresiasi sekaligus memproduksi karya ilustrasi.

Hal senada disampaikan oleh salah satu mahasiswa DKV, Ali Asykari. Ia menilai kehadiran dalam kegiatan tersebut memberikan pengalaman yang tidak hanya berkesan, tetapi juga memperluas cara pandang terhadap dunia desain. Menurutnya, melihat langsung karya-karya desainer lokal membuka pemahaman bahwa ide kreatif dapat berangkat dari hal-hal sederhana di sekitar, seperti kehidupan sehari-hari dan lingkungan sosial.

Ia juga menyoroti suasana pameran yang interaktif serta adanya kesempatan berdiskusi dengan para pelaku industri. Bagi mahasiswa, interaksi semacam ini menghadirkan pengalaman belajar yang lebih bermakna dibandingkan sekadar memahami teori di ruang kelas. “Kami tidak hanya melihat karya, tetapi juga memahami proses dan latar belakangnya. Itu yang membuat pengalaman ini terasa relevan dan bermanfaat,” ujarnya.

Setiap karya bukan sekadar gambar, melainkan potongan memori yang merekam Samarinda melalui garis, warna, dan cerita yang personal.

Melalui kegiatan ini, relasi antara dunia akademik dan komunitas kreatif tidak hanya terbangun sebagai kunjungan sesaat, tetapi sebagai proses belajar yang membuka kemungkinan dialog berkelanjutan. Di tengah perkembangan industri kreatif yang semakin dinamis, pengalaman semacam ini menjadi penting untuk memastikan bahwa pembelajaran desain tetap terhubung dengan praktik, sekaligus mendorong mahasiswa untuk mengembangkan karya yang berpijak pada realitas sosial di sekitarnya. (YMN)

Oleh: Yamani, S.S., M.Pd.
Pengurus PC DMI Balikpapan Kota | Pengurus  MUI Kecamatan Balikpapan Kota | Dosen Universitas Mulia

 

Balikpapan, 24 April 2026— Ada masjid yang lantainya mengilap. Keramiknya serasi dengan warna dinding. Lampunya terang, bahkan terlalu terang untuk sekadar membaca mushaf. Semua tampak rapi, bersih, dan menenangkan mata.

Namun di sela-sela keindahan itu, ada sesuatu yang pelan-pelan menghilang. Tidak terdengar lagi riuh anak-anak belajar mengaji selepas magrib. Jarang terlihat remaja duduk berlama-lama, berdiskusi tentang hidup, tentang masa depan, atau sekadar mencari tempat pulang. Masjid tetap berdiri megah, tetapi terasa sunyi—bukan karena tidak ada orang, melainkan karena tidak ada kehidupan di dalamnya selain yang lima waktu.

Barangkali di titik ini kita perlu berhenti sejenak. Bukan untuk menyalahkan siapa pun, melainkan untuk bertanya dengan jujur: apakah kita sedang merawat masjid, atau tanpa sadar justru sedang mengosongkannya?

Dalam bayangan yang lebih utuh, masjid tidak hanya menjadi tempat untuk menunaikan shalat. Ia adalah ruang hidup. Tempat iman bertumbuh bersama ilmu. Tempat seorang anak pertama kali mengenal huruf-huruf Al-Qur’an. Tempat seorang pemuda yang gelisah menemukan arah. Tempat di mana yang lemah dikuatkan dan yang kebingungan dipeluk oleh kebersamaan.

Sejarah pernah menunjukkan itu. Di Masjid Nabawi pada masa Nabi Muhammad SAW, masjid bukan hanya ruang ibadah, tetapi pusat kehidupan umat. Di sana orang belajar, bermusyawarah, menyusun strategi, bahkan menyelesaikan persoalan sosial. Masjid menjadi jantung peradaban.

Lalu kita melihat keadaan hari ini. Banyak masjid tetap ramai saat waktu shalat, tetapi kembali lengang setelahnya. Dana kas terkumpul, bahkan tidak sedikit yang melimpah, tetapi penggunaannya sering berputar pada hal-hal yang serupa: memperindah bangunan, menyempurnakan tampilan, merapikan yang sebenarnya masih layak.

Tempat wudhu diganti bukan karena rusak, melainkan karena warnanya tidak lagi selaras. Keramik dibongkar bukan karena pecah, tetapi karena dianggap kurang sedap dipandang. Sementara itu, di luar pagar masjid, ada anak-anak yang belum tersentuh pembinaan, ada remaja yang mencari jati diri di tempat lain, ada keluarga yang membutuhkan uluran tangan tetapi tidak tahu harus ke mana.

Ini bukan semata-mata soal benar atau salah. Tidak ada yang keliru dalam keinginan memuliakan rumah Allah dengan tampilan terbaik. Tetapi ada sesuatu yang perlu diluruskan: ukuran keberhasilan masjid tidak seharusnya berhenti pada apa yang terlihat oleh mata.

Kita cenderung memilih sesuatu yang hasilnya langsung tampak. Mengganti keramik itu jelas hasilnya. Mengecat ulang dinding, memperbaiki plafon, menambah ornamen—semuanya memberi rasa puas yang cepat. Sementara membangun manusia adalah pekerjaan sunyi. Tidak selalu terlihat. Tidak selalu bisa diukur dalam waktu dekat.

Padahal, lantai yang mengilap tidak pernah bisa menggantikan kosongnya hati seorang pemuda yang tidak pernah disentuh pembinaan. Dinding yang rapi tidak akan menjawab kegelisahan seorang anak yang tumbuh tanpa arah.

Di sinilah letak amanah yang sering luput kita sadari. Dana masjid bukan sekadar angka yang harus dihabiskan atau disimpan. Ia adalah titipan kepercayaan. Setiap rupiah yang masuk membawa harapan agar masjid menjadi lebih hidup, lebih bermanfaat, lebih dekat dengan umat.

Maka pertanyaan yang semestinya kita ajukan bukan hanya, “Apakah ini boleh dilakukan?” tetapi juga, “Apakah ini yang paling dibutuhkan?”

Ada bagian yang mungkin paling sunyi dari semua ini: ketika remaja tidak lagi merasa masjid sebagai ruangnya. Mereka datang, menunaikan shalat, lalu pergi. Tidak ada alasan untuk tinggal. Tidak ada kegiatan yang memanggil. Tidak ada peran yang membuat mereka merasa dibutuhkan.

Masjid tetap berdiri. Tetapi generasi perlahan menjauh.

Perubahan ini tidak terjadi dalam satu malam. Ia datang perlahan, hampir tanpa suara. Hingga suatu hari kita menyadari bahwa yang tersisa hanya barisan yang semakin menua, sementara yang muda memilih mencari tempat lain untuk bertumbuh.

Mungkin yang perlu kita ubah bukan hanya program, tetapi cara pandang. Dari melihat masjid sebagai bangunan yang harus selalu tampak indah, menjadi ruang yang harus selalu terasa hidup. Dari fokus pada fisik, menjadi perhatian pada manusia yang datang dan pergi di dalamnya.

Renovasi tetap penting, tetapi ia seharusnya mengikuti kebutuhan, bukan sekadar selera. Ia menjadi pelengkap, bukan pusat dari segala perhatian.

Bayangkan sebuah masjid yang siangnya diisi suara anak-anak belajar membaca Al-Qur’an, sorenya dipenuhi remaja yang berdiskusi dan berkegiatan, malamnya menghadirkan kajian yang menenangkan hati, dan di sela-selanya ada tangan-tangan yang diam-diam membantu mereka yang kesulitan.

Mungkin tidak semua sudutnya sempurna. Mungkin catnya tidak selalu baru. Tetapi setiap bagiannya hidup.

Orang-orang datang bukan hanya untuk menunaikan kewajiban, tetapi karena mereka merasa di sanalah mereka bertumbuh.

Tulisan ini tidak sedang menunjuk siapa yang salah. Hampir semua pengurus masjid bekerja dengan niat yang tulus. Namun niat baik, tanpa arah yang tepat, kadang tidak cukup.

Barangkali yang kita butuhkan hari ini adalah keberanian untuk bertanya, dengan jujur dan tanpa defensif: apakah yang kita lakukan selama ini benar-benar menghidupkan umat?

Jika pertanyaan itu mulai kita rawat, mungkin perubahan tidak akan datang dengan gegap gempita. Ia akan hadir pelan-pelan, dalam langkah kecil yang konsisten. Dan suatu hari nanti, kita tidak lagi bangga hanya karena masjid kita indah, tetapi karena masjid itu benar-benar hidup—menghidupkan. (YMN)

 

Oleh: Yamani, S.S., M.Pd.
Pengurus PC DMI Balikpapan Kota | Pengurus  MUI Kecamatan Balikpapan Kota | Dosen Universitas Mulia

Balikpapan, 22 April 2026 — Di tengah maraknya masjid yang sibuk dengan pembangunan fisik megah namun minim aksi sosial, Masjid As-Salam justru tampil sebagai pengecualian. Masjid ini bukan hanya menjadi tempat ibadah formal lima waktu, tetapi juga menjadi episentrum distribusi keadilan sosial melalui aksi konkret—membagikan hewan kurban ke masjid dan musholla yang kekurangan.

Program ini tidak sekadar amal tahunan, melainkan bentuk keberpihakan: pada masjid kecil, pada jamaah yang tidak mampu berkurban, pada musholla yang selama ini tertinggal dalam arus sentralisasi kegiatan keagamaan. Di sinilah Masjid As-Salam menunjukkan fungsinya sebagai masjid progresif, yang tidak hanya membangun menara, tetapi juga membangun sesama.

Para pengurus DKM As-Salam tampaknya mengerti betul, bahwa hakikat kurban bukan terletak pada berapa banyak sapi yang disembelih di halaman masjid sendiri, bukan pula pada ramai dan megahnya suasana penyembelihan. Kurban adalah tentang menjangkau mereka yang nyaris tak pernah mencicipi daging kurban di Hari Raya, yang sering luput dari radar kepedulian kita. Di sanalah mereka hadir—bukan sebagai pemberi semata, tetapi sebagai penghubung kasih sayang antar sesama, menjembatani kesenjangan yang kadang tak terlihat mata, namun terasa dalam hati yang peka.

Ironisnya, di kota-kota besar, masih banyak masjid besar berlomba menyembelih sebanyak mungkin hewan kurban—seringkali hanya untuk konsumsi lokal yang sebenarnya sudah berkecukupan. Sementara di gang-gang sempit, di pinggir kota, ada musholla-musholla yang bertahun-tahun tidak pernah menyelenggarakan kurban. Di sinilah peran Masjid As-Salam menjadi signifikan dan menyentuh jantung problem struktural umat: kesenjangan distribusi keberkahan.

Masjid As-Salam tidak berhenti pada ritual dan keramaian seremonial. Mereka memilih untuk melangkah lebih jauh—melintasi batas-batas geografis dan sosial, menyusuri masjid-masjid kecil di pinggiran, musholla sederhana yang nyaris tak terdengar namanya, hingga ke sudut-sudut pelosok yang hanya dikenal oleh mereka yang peduli. Yang dibawa bukan sekadar daging kurban, tetapi harapan dan pengakuan: bahwa saudara-saudara kita di sana tidak dilupakan. Bahwa Idul Adha bukan milik segelintir, tapi milik semua. Melalui tindakan itu, Masjid As-Salam seakan berbisik dengan kasih, “Kami datang karena kami peduli. Anda bagian dari kami. Kebahagiaan hari raya ini pun hak Anda.”

Takmir Masjid As-Salam menyebut, program ini juga menjadi sarana pendidikan bagi jamaahnya sendiri. Bahwa nilai kurban tidak berhenti di bilah pisau, melainkan pada ketulusan untuk meniadakan batas-batas ego wilayah dan struktur masjid. Bahwa daging bukan hanya soal asupan, tetapi juga tentang pengakuan dan penghargaan atas keberadaan saudara seiman yang tersembunyi dari sorotan pusat kota.

Apakah model Masjid As-Salam ini bisa direplikasi? Bukan hanya bisa—harusnya menjadi keharusan moral. Bahkan lebih jauh, inilah seharusnya standar baru bagi masjid-masjid kita: tidak hanya megah dalam arsitektur dan penuh saat salat Jumat, tetapi juga hidup dalam nadi kepedulian sosial. Sebab fungsi sosial masjid sejatinya bukan sekadar wacana dalam kitab atau materi ceramah—ia baru sah disebut masjid umat ketika mampu menyambung yang lemah, bukan hanya memanjakan yang kuat. Ketika ada masjid yang merasa cukup hanya dengan ramai dan gemerlap di tengah kota, Masjid As-Salam justru memilih menengok yang sunyi dan tersisih. Dan di sanalah, ruh sejati Idul Adha dan makna masjid itu sendiri menemukan bentuk terbaiknya.

Kurban yang ideal bukan diukur dari berapa banyak hewan yang dipotong di satu lokasi, atau seberapa viral suasana penyembelihannya. Kurban yang sejati adalah yang manfaatnya menjangkau lebih luas—menemukan mereka yang selama ini hanya bisa menonton dari jauh, menanti dengan harap yang sering tak terjawab. Dalam hal ini, Masjid As-Salam memberi kita pelajaran penting: bahwa keadilan sosial umat tak selalu dimulai dari program besar, tetapi dari niat tulus untuk berbagi, dan keberanian untuk berpihak pada yang nyaris tak terdengar suaranya. Ironisnya, justru banyak masjid yang lebih sibuk mengelola citra dan keramaian, tetapi melupakan esensi: bahwa kurban adalah tentang siapa yang disantuni, bukan tentang siapa yang dipameri. (YMN)

Balikpapan, 21 April 2026 — Peringatan Hari Kartini di Daycare Ananda Mulia Universitas Mulia berlangsung tanpa panggung seremoni yang kaku. Tidak ada sekadar parade busana atau sesi foto simbolik. Yang tampak justru proses belajar yang hidup—anak-anak bermain peran, bercerita, menyusun kolase, hingga menyuarakan pendapat mereka dengan cara yang sederhana namun bermakna.

Kegiatan ini digagas oleh guru Daycare Ananda Mulia yang berada di bawah Laboratorium (living lab) Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG PAUD) Universitas Mulia. Dalam kerangka ini, peringatan Hari Kartini tidak ditempatkan sebagai agenda tahunan semata, melainkan sebagai bagian dari praktik pendidikan yang terstruktur dan berkelanjutan.

Kaprodi PG PAUD Universitas Mulia, Bety Vitriana, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk konkret dari pendekatan experiential learning yang dikembangkan di lingkungan prodi. Living lab, menurutnya, menjadi ruang temu antara konsep perkuliahan dengan realitas pengasuhan anak.

“Living lab atau Daycare Ananda Mulia menjadi jembatan antara konsep di kelas—seperti bermain sambil belajar, pengembangan karakter, hingga pendidikan berbasis kearifan lokal—dengan praktik sehari-hari di daycare. Ketika guru memaknai Kartini tidak hanya melalui pakaian adat, tetapi melalui aktivitas bermakna, di situlah prinsip developmentally appropriate practice benar-benar terjadi,” ujarnya.

Langkah-langkah kecil itu menyusuri catwalk sederhana di Daycare Ananda Mulia—bukan sekadar berjalan, tetapi belajar percaya diri sejak usia dini.

Dalam perspektif prodi, sosok Kartini tidak diposisikan semata sebagai simbol emansipasi, melainkan sebagai sumber nilai yang relevan bagi dunia anak. Nilai keberanian, kesetaraan, dan kebebasan berekspresi diterjemahkan ke dalam aktivitas yang dekat dengan pengalaman anak.

Anak-anak diajak memahami bahwa permainan tidak memiliki batasan gender. Anak laki-laki bebas bermain masak-masakan, sementara anak perempuan dapat berlari dan bermain bola. Melalui cerita bergambar dan interaksi sederhana, mereka belajar bahwa setiap anak memiliki hak yang sama untuk bermain, berekspresi, dan bermimpi.

Pendekatan ini menjadi pembeda dibandingkan peringatan Hari Kartini yang bersifat seremonial. Di Daycare Ananda Mulia, setiap kegiatan dirancang melalui tahapan pedagogis yang jelas: pengenalan melalui cerita dan lagu, pelaksanaan melalui bermain peran dan berkarya, hingga refleksi melalui percakapan bersama anak.

Guru Daycare Ananda Mulia, Novi Nurdiana, S.Pd., menyebut bahwa setiap aktivitas memiliki capaian pembelajaran yang terukur. Anak tidak hanya mengikuti kegiatan, tetapi belajar mengekspresikan diri, melatih motorik halus, serta memahami konsep keadilan secara sederhana.

Dengan balutan blangkon dan busana adat Jawa hitam, si kecil tampil menggemaskan—mengenal budaya sejak usia satu tahun, dengan caranya sendiri.

Peran living lab tidak berhenti pada pelaksanaan kegiatan. Kepala Laboratorium PG PAUD, Merlina, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa setiap kegiatan selalu diikuti dengan proses lesson learned yang melibatkan dosen, mahasiswa, dan guru. Hasil refleksi tersebut kemudian didokumentasikan sebagai praktik baik (best practice) yang dapat digunakan kembali dalam pembelajaran di kelas.

“Dokumentasi ini menjadi bahan ajar dalam mata kuliah seperti Bermain dan Permainan atau Strategi Pembelajaran PAUD. Bahkan bisa dikembangkan untuk tema lain seperti Hari Pahlawan atau Hari Ibu,” jelasnya.

Keterlibatan mahasiswa menjadi bagian penting dalam ekosistem ini. Mahasiswa tidak hanya hadir sebagai pengamat, tetapi terlibat sejak tahap perencanaan hingga evaluasi—mulai dari menyusun narasi cerita, merancang alat peraga, memandu kegiatan, hingga melakukan observasi perilaku anak.

“Living lab menjadi ruang bagi mahasiswa untuk belajar menjadi guru yang reflektif. Mereka tidak hanya belajar mengajar, tetapi juga belajar memahami anak secara utuh,” kata Bety.

Dari sisi penguatan karakter, Kepala Sekolah Daycare Ananda Mulia, Ratna Pangalima, melihat bahwa nilai-nilai Kartini justru paling efektif ditanamkan melalui aktivitas yang menyenangkan. Anak-anak belajar menyampaikan pendapat, menghargai teman, dan bekerja sama tanpa merasa sedang diajarkan.

“Di akhir kegiatan, ada anak yang berkata, ‘Hari ini aku bisa jalan seperti model pakai kebaya.’ Ada juga yang bilang ingin bermain masak-masakan lagi bersama temannya. Dari situ terlihat bahwa mereka menyerap pengalaman itu dengan cara mereka sendiri,” tuturnya.

Bagi prodi, kegiatan ini sekaligus menjadi ruang evaluasi. Indikator yang digunakan tidak bersifat administratif, melainkan berangkat dari respons alami anak—mulai dari antusiasme, interaksi sosial, hingga cerita yang mereka bawa pulang ke rumah.

“Kalau anak pulang lalu bercerita ke orang tuanya bahwa ia ingin belajar seperti Kartini, itu indikator paling jujur bahwa pembelajaran berhasil,” ujar Bety.

Daycare Ananda Mulia sendiri telah mengantongi Izin Pendirian Nomor 421.2/92/DPMPTSP dan Izin Operasional Nomor 400.3/2711/DISDIKBUD, serta mulai berkembang sebagai rujukan praktik pendidikan anak usia dini berbasis kampus di tingkat lokal. Hal ini tercermin dari adanya permintaan studi tiru dari Institut Teknologi Kalimantan (ITK) yang tengah mengembangkan daycare serupa.

Senyum percaya diri terpancar dari wajah anak-anak di perayaan Hari Kartini—cantik dalam ekspresi, bebas dalam berekspresi.

Di sisi lain, kekuatan utama Daycare Ananda Mulia tidak hanya terletak pada layanan pengasuhan, tetapi pada pendekatannya yang menjadikan setiap momentum pembelajaran—termasuk peringatan hari besar nasional—sebagai sarana pembentukan karakter anak. Setiap kegiatan didokumentasikan dan direfleksikan sebagai praktik baik (best practice) yang kemudian dimanfaatkan sebagai bahan ajar di lingkungan prodi. Guru-guru juga dibiasakan melakukan observasi perkembangan anak secara berkelanjutan, sehingga pendekatan pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan individual.

Meski telah menjadi rujukan di tingkat lokal, pengembangan ke arah regional tengah disiapkan melalui penyusunan panduan kegiatan tematik, penguatan jejaring dengan lembaga PAUD, serta pembukaan ruang berbagi praktik bagi pendidik dari berbagai daerah.

Menutup pernyataannya, Bety menyampaikan refleksi yang melampaui konteks peringatan Hari Kartini itu sendiri. Ia menekankan bahwa pendidikan anak usia dini bukan sekadar membentuk peran sosial, tetapi membangun manusia seutuhnya.

“Kita tidak sedang membesarkan anak laki-laki atau perempuan. Kita sedang membesarkan generasi masa depan,” tutupnya. (YMN)

 

Oleh: Wahyu Nur Alimyaningtias, S.Kom., M.Kom.

Balikpapan, 21 April 2026— Di sebuah ruang kelas sederhana di Universitas Mulia, cahaya lampu menerangi wajah-wajah penuh harapan. Duduk di depan, dosen dan beberapa mahasiswa wanita duduk dengan senyum hangat—sosok yang bukan hanya pengajar, tetapi juga inspirasi. Di belakang mereka, berdiri para mahasiswa dengan penuh semangat, sebagian mengepalkan tangan, sebagian lagi tersenyum percaya diri. Sebuah potret kecil, namun menyimpan cerita besar tentang perjuangan, mimpi, dan masa depan.

Hari itu terasa Istimewa, semangat Hari Kartini hidup dalam ruangan tersebut. Kartini pernah berkata bahwa perempuan harus berani berpikir dan maju. Semangat itulah yang kini menjelma dalam diri para akademisi wanita di Universitas Mulia. Mereka hadir bukan sekadar mengajar teori, tetapi menjadi jembatan bagi generasi muda—terutama generasi Z—untuk memahami dunia yang terus berubah dengan cepat.

Di tengah tantangan era digital, para dosen wanita Universitas Mulia membuktikan bahwa kelembutan bisa berjalan berdampingan dengan ketegasan, dan empati bisa menjadi kekuatan dalam mendidik. Mereka tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga menanamkan nilai: disiplin, keberanian, dan kepercayaan diri. Mereka memahami bahwa mahasiswa hari ini membutuhkan lebih dari sekadar materi—mereka butuh arah, motivasi, dan teladan.

Sementara itu, para mahasiswa berdiri sebagai simbol harapan masa depan. Dengan gaya khas generasi Z dinamis, kreatif, dan penuh ekspresi , mereka menunjukkan bahwa belajar bukan lagi sekadar kewajiban, tetapi sebuah perjalanan menuju cita-cita. Kepalan tangan mereka bukan hanya gaya, tetapi simbol tekad: tekad untuk sukses, untuk membanggakan keluarga, dan untuk memberikan kontribusi nyata bagi bangsa.

Wahyu Nur Alimyaningtias, S.Kom., M.Kom. berfoto bersama mahasiswa dan mahasiswinya usai perkuliahan, merekam momen kebersamaan yang hangat sekaligus mencerminkan semangat kolaborasi dan inspirasi di lingkungan Universitas Mulia.

Di ruangan itu, tidak ada batas antara dosen dan mahasiswa, yang ada adalah kolaborasi. Perjuangan akademisi wanita dan semangat belajar mahasiswa berpadu menjadi satu energi besar. Energi yang akan melahirkan inovasi, membentuk karakter, dan menciptakan masa depan yang lebih baik.

Cerita ini mengajarkan satu hal:
bahwa perjuangan tidak pernah sia-sia ketika dilakukan dengan hati.
Bahwa pendidikan adalah cahaya, dan perempuan adalah salah satu penjaga nyalanya.
Dan bahwa setiap mahasiswa, dengan semangat dan kerja kerasnya, sedang menulis kisah suksesnya sendiri.

Di Hari Kartini ini, semangat itu terus hidup di kelas-kelas, di pikiran, dan di hati mereka yang percaya bahwa mimpi bukan untuk ditunda, tetapi untuk diwujudkan.n (WN)

Balikpapan, 21 April 2026 – Universitas Mulia melakukan penataan pada layanan pengembangan karier mahasiswa melalui penguatan fungsi Career Development Center (CDC). Langkah ini diarahkan untuk memastikan kesiapan lulusan menghadapi kebutuhan dunia kerja yang terus berubah, sekaligus memperjelas peran CDC dalam sistem pendukung akademik di tingkat universitas.

Berdasarkan Surat Keputusan Rektor Universitas Mulia Nomor: 038/SK/REKTOR/UM/IV/2026, terhitung sejak 10 April 2026, Dr. Linda Fauziyah Ariyani, S.Pd., M.Pd ditetapkan sebagai Kepala Bagian Career Development Center Universitas Mulia.

Penetapan ini menjadi bagian dari upaya institusi dalam menata kembali fungsi CDC agar tidak berhenti pada penyediaan informasi lowongan kerja, tetapi berkembang sebagai pusat layanan yang mengintegrasikan pembinaan kompetensi, pemetaan minat karier, dan koneksi dengan dunia industri.

Dalam pernyataannya, Dr. Linda menyampaikan bahwa CDC akan diarahkan untuk memperkuat kesiapan mahasiswa melalui pendekatan yang lebih terukur dan berorientasi kebutuhan lapangan kerja.

“Career Development Center perlu hadir sebagai ruang pengembangan yang membantu mahasiswa memahami arah kariernya. Tidak hanya mengakses informasi pekerjaan, tetapi juga menyiapkan kompetensi dan kepercayaan diri untuk memasuki dunia profesional,” ujarnya.

Sejalan dengan itu, CDC Universitas Mulia akan mengembangkan sejumlah program yang berfokus pada peningkatan kesiapan karier mahasiswa, di antaranya pelatihan career readiness, penguatan personal branding, layanan career coaching, serta mekanisme job matching yang lebih sistematis, disertai perluasan kerja sama dengan dunia usaha dan industri.

Selain penguatan program, keterlibatan alumni juga akan dioptimalkan sebagai bagian dari ekosistem pembelajaran karier. Peran alumni diarahkan tidak hanya sebagai jejaring, tetapi juga sebagai sumber pengalaman yang dapat diakses mahasiswa dalam memahami dinamika dunia kerja secara lebih nyata.

Melalui penataan ini, CDC Universitas Mulia diposisikan sebagai penghubung antara proses akademik dan kebutuhan profesional, sekaligus memperluas peran mahasiswa sebagai individu yang tidak hanya mencari peluang kerja, tetapi juga memiliki kapasitas untuk menciptakan peluang.

Langkah ini menjadi bagian dari penguatan sistem pembelajaran di Universitas Mulia yang menempatkan kesiapan karier sebagai salah satu indikator penting dalam proses pendidikan tinggi.

Dengan arah pengembangan tersebut, CDC Universitas Mulia diarahkan untuk berfungsi sebagai pusat layanan karier yang responsif terhadap kebutuhan mahasiswa serta perkembangan dunia kerja yang terus bergerak. (YMN)

 

Balikpapan, 21 April 2026—Di tengah percepatan perkembangan teknologi dan kompleksitas isu digital, Program Studi Teknologi Informasi Universitas Mulia menempatkan kemampuan komunikasi sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kompetensi akademik. PRISMATALK 2026 disusun sebagai respons atas persoalan yang kerap muncul di dunia kerja: kuat secara teknis, namun lemah dalam menyampaikan gagasan.

Hasil wawancara dengan ketua penyelenggara, Aljosa Maynardian, menunjukkan bahwa kegiatan ini berangkat dari realitas tersebut. Banyak praktisi teknologi mengalami kesulitan ketika harus berbicara di depan publik, menjelaskan solusi, atau bernegosiasi lintas bidang. Kondisi ini kemudian diterjemahkan ke dalam desain kegiatan yang tidak hanya menghadirkan materi, tetapi juga ruang latihan bagi mahasiswa untuk mengasah keberanian dan ketepatan berkomunikasi.

PRISMATALK menghadirkan perspektif ganda—komunikasi profesional dan praktik industri—yang memperlihatkan bahwa persoalan di dunia kerja tidak selalu bersifat teknis. Dalam banyak kasus, kemampuan menjelaskan ide secara sederhana justru menjadi penentu apakah sebuah solusi dapat diterima atau tidak. Di sinilah mahasiswa didorong untuk melampaui batas pembelajaran di kelas.

Lebih jauh, kegiatan ini mencerminkan pendekatan pembelajaran yang berbasis pengalaman. Diskusi interaktif dan tanya jawab kritis menjadi medium untuk melatih retorika, menyusun argumen, serta membangun kepercayaan diri di ruang publik. Dengan cara ini, mahasiswa tidak hanya memahami konsep, tetapi juga menguji bagaimana konsep tersebut dikomunikasikan.

Dari sisi internal, PRISMATALK juga berfungsi sebagai ruang belajar organisasi. Proses perencanaan yang berlangsung dalam waktu terbatas, dinamika koordinasi tim, hingga penyelesaian berbagai kendala teknis menjadi pengalaman langsung dalam manajemen proyek. Hal ini memperlihatkan bahwa penguatan kapasitas mahasiswa tidak hanya terjadi di forum seminar, tetapi juga dalam proses penyelenggaraan kegiatan itu sendiri.

Ke depan, PRISMATALK diproyeksikan sebagai bagian dari PRISMA—sebuah inisiatif berkelanjutan yang diarahkan untuk membangun literasi digital di lingkungan akademik. Orientasinya tidak berhenti pada pelaksanaan tahunan, tetapi pada upaya membentuk budaya riset, inovasi, serta komunikasi ilmiah yang lebih matang di kalangan mahasiswa Teknologi Informasi Universitas Mulia. (YMN)

 

Balikpapan, 21 April 2026—Program Studi Teknologi Informasi Universitas Mulia menyelenggarakan PRISMATALK 2026 di Ballroom Cheng Hoo sebagai bagian dari rangkaian Dies Natalis. Kegiatan ini diinisiasi oleh Himpunan Mahasiswa Teknologi Informasi dan dirancang sebagai forum akademik yang menghubungkan penguatan kompetensi mahasiswa dengan kebutuhan dunia industri.

Acara dibuka melalui sambutan Oleh Kepala BAAK FIKOM Universitas Mulia, Muhammad Safi’i, S.Kom., M.Kom., yang menegaskan pentingnya pengembangan kapasitas mahasiswa tidak hanya pada aspek teknis, tetapi juga pada kemampuan adaptasi dan komunikasi di tengah dinamika teknologi yang terus berkembang. Prosesi pemotongan tumpeng menjadi penanda simbolis peringatan Dies Natalis Program Studi Teknologi Informasi.

Memasuki sesi utama, PRISMATALK menghadirkan narasumber dari kalangan praktisi industri, yaitu Ahmad Maulana Rismadin (Technical Writer & QA Annotator Minergo System), Rifandi Adi Yudha Tama (Corporate Communications Telkomsel Kalimantan), serta Ondo Harinduan Putra (Manager Mobile Consumer Telkomsel Branch Balikpapan). Ketiganya mengulas pengalaman profesional dalam menghadapi tantangan komunikasi di lingkungan kerja teknologi yang menuntut ketepatan, kejelasan, dan kemampuan menjembatani aspek teknis dengan kebutuhan bisnis.

Diskusi berlangsung interaktif, dengan peserta terlibat dalam tanya jawab yang mengangkat persoalan aktual, mulai dari penyampaian ide teknis hingga strategi menjelaskan solusi kompleks kepada audiens non-teknis. Forum ini memperlihatkan bagaimana komunikasi menjadi bagian integral dalam praktik teknologi, bukan sekadar pelengkap.

Kegiatan dilanjutkan dengan lomba cerdas cermat yang diikuti oleh perwakilan tiga sekolah sebagai finalis. Kehadiran peserta dari luar kampus menjadi bagian dari upaya memperluas jangkauan akademik serta memperkenalkan lingkungan pembelajaran Teknologi Informasi Universitas Mulia kepada pelajar.

Rangkaian acara ditutup dengan penyerahan penghargaan kepada para pemenang lomba dan peserta terpilih. Secara keseluruhan, PRISMATALK 2026 tidak hanya menjadi agenda peringatan, tetapi juga berfungsi sebagai medium penguatan ekosistem akademik yang mendorong interaksi antara mahasiswa, praktisi, dan calon mahasiswa dalam satu ruang pembelajaran yang terintegrasi. (YMN)

 

Oleh: Dr. Linda Fauziyah Ariyani, M.Pd.

Balikpapan, 21 April 2026—Hari Kartini bukan sekadar seremoni tahunan yang diperingati setiap 21 April. Lebih dari itu, Kartini adalah simbol keberanian untuk melampaui batas—batas budaya, batas pemikiran, bahkan batas yang seringkali diciptakan oleh diri sendiri. Semangat inilah yang relevan hingga hari ini, terutama di tengah dunia yang terus berubah dan menuntut setiap individu untuk adaptif, tangguh, dan berdaya.

Kartini masa kini bukan lagi hanya tentang perjuangan emansipasi dalam arti sempit, tetapi tentang bagaimana perempuan mampu hadir sebagai pribadi yang mandiri, berdaya, dan memberi kontribusi nyata. Kemandirian menjadi fondasi utama. Dari kemandirian lahir keberanian, dari keberanian lahir karya, dan dari karya lahir dampak. Perempuan yang mandiri tidak hanya mampu berdiri untuk dirinya sendiri, tetapi juga mampu menjadi sumber kekuatan bagi lingkungan di sekitarnya.

Dalam konteks saat ini, kebutuhan dunia kerja dan masyarakat tidak lagi melihat gender sebagai batas, melainkan kompetensi, karakter, dan kontribusi. Oleh karena itu, perempuan—khususnya mahasiswa—perlu mempersiapkan diri sejak dini. Tidak cukup hanya unggul secara akademik, tetapi juga harus memiliki keterampilan, kepercayaan diri, serta kemampuan untuk terus belajar dan berkembang. Dunia hari ini membutuhkan perempuan yang tidak hanya cerdas, tetapi juga tangguh dan solutif.

Bagi mahasiswa Universitas Mulia, momentum Hari Kartini harus menjadi pengingat bahwa masa depan tidak ditentukan oleh siapa kita hari ini, tetapi oleh apa yang kita lakukan mulai sekarang. Beranilah mencoba, beranilah gagal, dan beranilah bangkit kembali. Jangan menunggu sempurna untuk memulai, karena setiap langkah kecil yang dilakukan dengan konsisten akan membawa pada perubahan besar.

Peran dosen dan tenaga kependidikan juga sangat penting dalam menumbuhkan semangat Kartini masa kini. Lingkungan akademik harus menjadi ruang yang aman dan suportif bagi setiap mahasiswa untuk berkembang tanpa rasa takut atau ragu. Memberikan dukungan, membuka ruang diskusi, serta menjadi teladan dalam integritas dan profesionalisme adalah bagian dari kontribusi nyata dalam melahirkan generasi yang berdaya.

Secara pribadi, saya memaknai Kartini sebagai sumber inspirasi untuk tidak pernah menyerah dalam kondisi apa pun. Perjalanan hidup mengajarkan bahwa tantangan akan selalu ada, tetapi pilihan untuk tetap melangkah adalah kekuatan terbesar yang kita miliki. Saya percaya bahwa perempuan memiliki kemampuan luar biasa untuk bertahan, bangkit, dan terus berkarya.

Saya juga meyakini bahwa setiap individu memiliki peran untuk memberikan dampak, sekecil apa pun itu. Prinsip hidup yang saya pegang hingga hari ini adalah berusaha menjadikan setiap orang yang saya temui menjadi lebih baik atau setidaknya lebih bahagia. Karena pada akhirnya, keberhasilan sejati bukan hanya tentang apa yang kita capai, tetapi tentang seberapa banyak kebaikan yang bisa kita sebarkan.

Semangat Kartini hari ini adalah tentang keberanian untuk menjadi versi terbaik dari diri sendiri dan keberanian untuk memberi arti bagi orang lain. Inilah saatnya kita semua—mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan—bersama-sama melanjutkan semangat tersebut. Bukan dengan kata-kata, tetapi dengan tindakan nyata.

Selamat Hari Kartini. Saatnya kita berkarya, berdaya, dan memberi dampak. (YMN)