Oleh: Yamani, S.S., M.Pd.
Pengurus PC DMI Balikpapan Kota | Pengurus  MUI Kecamatan Balikpapan Kota | Dosen Universitas Mulia

 

Pagi ini orang-orang berbicara tentang angka. Tentang rupiah yang bertambah di papan harga SPBU. Tentang biaya perjalanan yang membengkak. Tentang pengeluaran yang kembali harus disesuaikan.

Namun sesungguhnya ada sesuatu yang jarang diperbincangkan setiap kali harga-harga naik. Yaitu tentang orang-orang yang selama ini hidup tepat di batas kemampuannya.

Mereka yang tidak memiliki cadangan untuk menghadapi kejutan-kejutan kecil dalam hidup. Mereka yang jika pengeluarannya bertambah dua puluh ribu rupiah sehari, harus mengurangi sesuatu yang lain. Mungkin uang jajan anak. Mungkin lauk makan malam. Mungkin tabungan yang sebenarnya memang sudah lama tidak ada.

Bagi sebagian orang, kenaikan harga BBM hanyalah perubahan angka. Tetapi bagi sebagian lainnya, itu adalah keputusan-keputusan kecil yang menyakitkan yang harus dibuat setiap hari.

Cobalah sesekali memperhatikan halaman parkir masjid setelah shalat Subuh. Ada motor tua yang datang paling awal dan pulang paling akhir. Tidak ada yang tahu siapa pemiliknya. Mungkin seorang buruh. Mungkin seorang satpam. Mungkin seorang pengemudi ojek. Mungkin seseorang yang sepanjang malam memikirkan bagaimana membayar kebutuhan keluarganya pekan depan.

Ia berdiri di saf yang sama. Mengucapkan amin yang sama. Membaca doa yang sama. Tetapi beban yang dibawanya pulang belum tentu sama. Dan sering kali, tidak seorang pun bertanya.

Yang membuat saya khawatir bukanlah kenaikan harga Pertamax. Umat ini sudah berkali-kali melewati masa sulit. Yang lebih mengkhawatirkan adalah jika masjid kehilangan kepekaannya terhadap luka-luka kecil yang dialami jamaahnya. Karena luka terbesar dalam kehidupan bukan selalu kemiskinan.

Sering kali yang paling menyakitkan adalah merasa kesulitan seorang diri di tengah keramaian. Datang ke masjid setiap hari. Bersalaman dengan banyak orang. Tetapi tidak ada seorang pun yang mengetahui bahwa dirinya sedang berjuang agar dapur tetap berasap.

Mungkin inilah saatnya pengurus masjid berhenti hanya menghitung jumlah jamaah. Dan mulai mengenali siapa jamaahnya. Siapa yang baru kehilangan pekerjaan. Siapa yang motornya digunakan untuk mencari nafkah dari pagi sampai malam. Siapa yang diam-diam menunggak biaya sekolah anaknya. Siapa yang mulai mengurangi frekuensi hadir dalam kegiatan masjid karena biaya perjalanan terasa semakin berat.

Karena angka kehadiran tidak pernah mampu menceritakan kesulitan manusia. Yang bisa membacanya hanyalah hati yang mau peduli.

Saya membayangkan suatu malam, seorang marbot pulang ke rumah dengan wajah letih. Harga bensin naik. Biaya hidup naik. Penghasilannya tetap. Ia membuka pintu rumah dan berusaha tersenyum kepada anak-anaknya. Anak-anak itu tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya. Mereka hanya tahu ayahnya selalu pulang membawa ketenangan.

Padahal mungkin di dalam dadanya sedang berlangsung perang yang tidak terlihat. Perang antara kebutuhan yang terus bertambah dan kemampuan yang tidak bertambah.

Berapa banyak orang seperti ini yang ada di sekitar kita? Berapa banyak yang duduk tepat di samping kita ketika salat Jumat? Berapa banyak yang mengucapkan “Alhamdulillah” sambil menyembunyikan kecemasan yang tidak pernah diceritakan kepada siapa pun?

Masjid tidak selalu harus menjawab persoalan bangsa. Kadang-kadang cukup menjawab persoalan satu keluarga. Kadang-kadang cukup memastikan seorang ayah tidak pulang dengan kepala tertunduk karena merasa tidak mampu memenuhi kebutuhan rumahnya. Kadang-kadang cukup memastikan seorang guru ngaji tetap bisa datang mengajar tanpa harus memikirkan isi tangki motornya. Kadang-kadang cukup memastikan ada seseorang yang berkata, “Pak, kalau ada kesulitan, jangan hadapi sendirian.”

Kalimat sederhana seperti itu mungkin tidak mengubah keadaan ekonomi. Tetapi bisa mengubah cara seseorang memandang hidupnya.

Harga Pertamax mungkin akan turun suatu saat nanti. Seperti banyak peristiwa ekonomi lainnya yang datang dan pergi. Tetapi sejarah masjid tidak pernah ditulis oleh harga bahan bakar.

Sejarah masjid selalu ditulis oleh orang-orang yang memilih peduli ketika orang lain sibuk menghitung kepentingannya sendiri.

Kelak, ketika kita berdiri di hadapan Allah, sangat mungkin yang ditanyakan bukan berapa kali kita mengeluhkan kenaikan harga. Melainkan apakah kita sempat menjadi alasan mengapa seseorang tetap kuat menjalani hidup pada masa yang sulit.

Karena pada akhirnya, yang paling dikenang manusia bukan orang yang mampu menjelaskan krisis. Melainkan orang yang hadir ketika krisis itu terjadi.

Semoga kenaikan harga hari ini tidak hanya melahirkan keluhan. Tetapi melahirkan gelombang kepedulian baru dari masjid-masjid kita. Karena umat ini tidak akan kuat hanya dengan ekonomi. Umat ini akan kuat ketika hati-hatinya saling menguatkan. Dan ketika itu terjadi, tidak ada krisis yang mampu mengalahkan persaudaraan yang dibangun karena Allah. Jika harga-harga terus naik, maka pastikan kepedulian kita naik lebih tinggi lagi. (YMN)

 

 

Balikpapan, 5 Juni 2026 – Puluhan mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Mulia mengunjungi Koperasi Wanita Patra yang berlokasi di Jalan Sport, Kelurahan Prapatan, Kecamatan Balikpapan Kota, Jumat (5/6). Kegiatan yang dilaksanakan bersama Career Development Center (CDC) Universitas Mulia tersebut menjadi bagian dari upaya mempertemukan mahasiswa dengan praktik tata kelola organisasi dan bisnis yang berlangsung secara nyata di lapangan.

Kunjungan ini memiliki arti penting karena dilakukan di tengah komitmen Program Studi Manajemen Universitas Mulia untuk mendorong lahirnya koperasi mahasiswa sebagai laboratorium bisnis modern. Melalui interaksi langsung dengan pengelola koperasi, mahasiswa memperoleh gambaran mengenai bagaimana tata kelola organisasi, pelayanan anggota, pengelolaan keuangan, hingga pengembangan usaha dijalankan secara profesional.

Rombongan Universitas Mulia diterima langsung oleh Ketua Koperasi Wanita Patra, Pramadha Wardhani, bersama Manajer Koperasi Wanita Patra, Rusli Usman. Dalam sesi pemaparan dan diskusi, mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk mempelajari perjalanan koperasi, model pengelolaan usaha, serta strategi yang diterapkan dalam menjaga keberlanjutan organisasi dan pelayanan kepada anggota.

Bagi Kepala Career Development Center Universitas Mulia, Dr. Linda Fauziyah Ariyani, S.Pd., M.Pd., pengalaman belajar langsung di lapangan menjadi bagian penting dalam mempersiapkan mahasiswa menghadapi dunia kerja yang semakin dinamis.

Menurutnya, perusahaan saat ini tidak hanya membutuhkan lulusan yang menguasai teori, tetapi juga individu yang memahami bagaimana organisasi bekerja, bagaimana keputusan bisnis diambil, dan bagaimana sebuah lembaga mampu menciptakan nilai bagi para pemangku kepentingannya.

“Koperasi Pertamina menjadi contoh yang sangat baik karena tidak hanya menjalankan fungsi ekonomi, tetapi juga mengelola tata kelola organisasi, pelayanan, keuangan, dan pengembangan usaha secara profesional,” ujarnya.

Mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Mulia mengamati berbagai produk dan merchandise yang dikelola Koperasi Wanita Patra. Melalui observasi langsung ini, mahasiswa mempelajari bagaimana koperasi mengembangkan produk, melayani kebutuhan anggota, serta membangun unit usaha yang berkelanjutan.

Melalui kunjungan tersebut, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan baru mengenai dunia koperasi, tetapi juga menyaksikan secara langsung bagaimana berbagai konsep manajemen yang dipelajari selama perkuliahan diterapkan dalam aktivitas organisasi dan bisnis sehari-hari.

Dalam sesi berbagi pengalaman, Rusli Usman menjelaskan bahwa koperasi pada hakikatnya hadir untuk memberikan manfaat yang seluas-luasnya bagi anggota dan masyarakat. Menurutnya, keberhasilan koperasi tidak hanya diukur dari kemampuan menghasilkan keuntungan, tetapi juga dari kemampuannya menjawab kebutuhan nyata para anggotanya.

Ia juga memberikan pandangan terkait rencana pengembangan koperasi mahasiswa di lingkungan Universitas Mulia. Menurutnya, koperasi yang dibangun di lingkungan kampus harus mampu membaca kebutuhan mahasiswa sebagai pasar utama sekaligus anggota koperasi.

“Ketika membuka koperasi di kampus, sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan dan pangsa pasar di kampus itu sendiri,” ujar Rusli.

Pandangan tersebut menjadi pelajaran penting bagi mahasiswa karena menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah usaha tidak hanya ditentukan oleh semangat berorganisasi, tetapi juga oleh kemampuan memahami kebutuhan konsumen dan menghadirkan solusi yang relevan.

Linda menjelaskan bahwa ekosistem koperasi yang dikelola secara profesional merupakan ruang belajar yang kaya akan pengalaman praktis. Mahasiswa dapat mengamati bagaimana proses kepemimpinan berjalan, bagaimana tim bekerja sama mencapai tujuan organisasi, serta bagaimana keputusan diambil untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang muncul dalam operasional usaha.

Manajer Koperasi Wanita Patra Rusli Usman (tengah) berfoto bersama Kepala Career Development Center Universitas Mulia Dr. Linda Fauziyah Ariyani, S.Pd., M.Pd. (kanan), Kepala Program Studi Manajemen Dr. Pudjiati (kiri), serta jajaran pengurus koperasi usai sesi diskusi dan berbagi pengalaman mengenai tata kelola koperasi profesional.

Selain itu, mahasiswa juga dapat belajar mengenai integritas, tanggung jawab, serta orientasi pelayanan yang menjadi fondasi penting dalam membangun organisasi yang sehat dan berkelanjutan.

“Kompetensi-kompetensi inilah yang saat ini menjadi nilai tambah utama bagi lulusan ketika bersaing di dunia kerja,” katanya.

Namun, menurut Linda, manfaat kunjungan industri tidak akan optimal apabila berhenti pada tahap observasi semata. Karena itu, Career Development Center mendorong mahasiswa untuk melakukan refleksi terhadap pengalaman yang diperoleh selama kegiatan berlangsung.

Mahasiswa diharapkan mampu mengidentifikasi kompetensi yang dibutuhkan industri, menemukan ruang pengembangan diri, serta mengadopsi praktik-praktik baik yang dapat diterapkan dalam organisasi kemahasiswaan maupun aktivitas kewirausahaan.

Ke depan, pengalaman lapangan seperti ini akan terus diintegrasikan dengan berbagai program pengembangan karier lainnya, mulai dari pelatihan kesiapan kerja, magang, mentoring karier, hingga penguatan keterampilan nonteknis yang dibutuhkan dunia profesional.

Sementara itu, Kepala Program Studi Manajemen Universitas Mulia, Dr. Pudjiati, melihat kunjungan ke Koperasi Wanita Patra sebagai kesempatan bagi mahasiswa untuk memahami bahwa keberhasilan sebuah koperasi tidak hanya dibangun oleh semangat organisasi, tetapi juga ditentukan oleh kualitas tata kelola dan profesionalisme pengelolaannya.

Ia menjelaskan bahwa salah satu praktik yang paling relevan untuk diadopsi dalam pengembangan koperasi mahasiswa Universitas Mulia adalah tata kelola yang profesional, pengelolaan usaha yang berorientasi pada kebutuhan anggota, serta pemanfaatan teknologi digital dalam operasional dan pelayanan.

Pengurus Koperasi Wanita Patra menyampaikan materi dalam sesi sharing bersama mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Mulia. Mahasiswa tampak antusias menyimak penjelasan mengenai pengelolaan organisasi, pelayanan anggota, dan strategi pengembangan usaha koperasi.

Selain itu, budaya kewirausahaan juga menjadi aspek penting yang perlu ditanamkan sejak dini agar mahasiswa tidak hanya menjadi anggota koperasi, tetapi juga mampu belajar mengelola bisnis secara langsung.

“Dengan pendekatan tersebut, koperasi mahasiswa dapat berkembang menjadi laboratorium bisnis yang profesional, inovatif, dan berkelanjutan,” jelasnya.

Menurut Dr. Pudjiati, pengalaman yang diperoleh mahasiswa selama kunjungan memberikan perspektif baru mengenai peran koperasi di era modern. Koperasi tidak lagi dapat dipandang hanya sebagai organisasi administratif, melainkan sebagai badan usaha yang mampu tumbuh secara profesional, kompetitif, dan adaptif terhadap perubahan zaman.

Perhatian mahasiswa tertuju pada pemaparan pengurus Koperasi Wanita Patra yang membagikan pengalaman membangun dan mengembangkan usaha koperasi. Bagi peserta, sesi ini menjadi kesempatan untuk melihat bagaimana prinsip-prinsip manajemen diterapkan dalam praktik sehari-hari.

Melalui pengamatan langsung terhadap praktik pengelolaan koperasi, mahasiswa dapat melihat bagaimana perencanaan bisnis dilakukan, bagaimana keputusan strategis diambil, bagaimana keuangan dikelola, serta bagaimana pelayanan kepada anggota menjadi bagian penting dari keberhasilan organisasi.

“Pengalaman seperti ini memberikan pembelajaran praktis yang sering kali tidak diperoleh secara utuh di ruang kelas, sekaligus membentuk jiwa kepemimpinan, integritas, dan kewirausahaan yang dibutuhkan di dunia kerja maupun bisnis,” ungkapnya.

Komitmen pengembangan koperasi mahasiswa sendiri menjadi salah satu agenda strategis Program Studi Manajemen Universitas Mulia. Dalam lima tahun ke depan, koperasi mahasiswa diharapkan berkembang menjadi wadah yang tidak hanya aktif secara organisasi, tetapi juga mampu mengelola unit usaha yang berkelanjutan, memanfaatkan teknologi digital, dan menjadi sarana pengembangan kepemimpinan mahasiswa.

Bagi Dr. Pudjiati, koperasi justru memiliki peluang besar untuk tetap relevan di tengah maraknya startup digital dan model bisnis berbasis teknologi. Menurutnya, koperasi menawarkan nilai yang berbeda karena memadukan aktivitas ekonomi dengan semangat kolaborasi dan pemberdayaan bersama.

Jika dikelola secara modern, koperasi dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan inovasi, membangun jejaring, sekaligus menciptakan peluang ekonomi secara kolektif.

“Justru di era saat ini, koperasi dapat menjadi model bisnis masa depan yang mengedepankan keberlanjutan, kebersamaan, dan kesejahteraan anggota, sekaligus tetap kompetitif dalam menghadapi perubahan ekonomi digital,” tegasnya.

Melalui kunjungan ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh wawasan mengenai tata kelola koperasi profesional, tetapi juga mendapatkan pelajaran penting tentang bagaimana membangun usaha yang relevan dengan kebutuhan pasar. Bagi Universitas Mulia, pengalaman tersebut menjadi bagian dari upaya mempersiapkan mahasiswa agar tidak hanya siap memasuki dunia kerja, tetapi juga mampu menciptakan peluang usaha yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Kami percaya bahwa karier yang hebat tidak dibangun hanya di ruang kelas. Karier yang hebat dibangun melalui pengalaman, kolaborasi, dan keberanian untuk terus belajar dari dunia nyata,” pungkas Dr. Linda. (YMN)

Balikpapan, 4 Juni 2026 – Banyak perguruan tinggi berbicara tentang internasionalisasi. Namun tidak sedikit yang berhenti pada penandatanganan kerja sama, logo mitra luar negeri di laman website, atau penyematan istilah “kelas internasional” tanpa perubahan yang berarti dalam pengalaman belajar mahasiswa.

Pandangan itu menjadi salah satu benang merah yang disampaikan Dr. Rosa Ristawati, S.H., LL.M., saat menjadi narasumber Focus Group Discussion (FGD) Fakultas Hukum Universitas Mulia, Kamis (4/6).

Akademisi Fakultas Hukum Universitas Airlangga yang saat ini menjabat sebagai Koordinator International Undergraduate Program (IUP) tersebut menegaskan bahwa internasionalisasi pendidikan hukum harus dibangun melalui aktivitas yang nyata, terukur, dan berkelanjutan.

Dalam paparannya bertajuk “Pendidikan Hukum Indonesia dan Networking Internasional”, Rosa menjelaskan bahwa salah satu fondasi utama internasionalisasi adalah kemampuan membangun jejaring akademik.

Menurutnya, networking tidak hanya menjadi tanggung jawab institusi. Dosen dan mahasiswa juga memiliki peran yang sama pentingnya.

“Siapa yang bisa melakukan networking? Dosen sebagai individu, institusi atau fakultas, dan mahasiswa sebagai individu,” jelasnya.

Ia menjelaskan bahwa jejaring internasional dapat dibangun melalui berbagai jalur, mulai dari konferensi, seminar, kompetisi internasional, kunjungan akademik, benchmarking, hingga komunikasi digital melalui email dan platform konferensi daring.

Yang lebih penting, kata Rosa, networking tidak boleh berhenti pada tahap perkenalan. Jejaring harus ditindaklanjuti menjadi kolaborasi nyata dalam bentuk kuliah tamu, penelitian bersama, publikasi ilmiah, maupun program pengabdian masyarakat.

Dalam konteks pendidikan hukum, Rosa menyoroti perlunya perubahan pendekatan pembelajaran. Menurutnya, mahasiswa hukum masa kini membutuhkan pengalaman belajar yang lebih mandiri dan interaktif.

Ia mendorong penerapan metode problem-based learning, project-based learning, dan case-based learning yang memungkinkan mahasiswa belajar melalui penyelesaian persoalan nyata.

“Pembelajaran harus didukung modul dan manual yang sistematis, bukan hanya dokumen administratif seperti RPS,” jelasnya.

Menyimak pengalaman, menyiapkan masa depan. Kuliah tamu bersama Dr. Rosa Ristawati, S.H., LL.M. menghadirkan diskusi tentang networking internasional, kelas internasional, dan penguatan daya saing pendidikan hukum. Dosen Prodi Hukum Universitas Mulia mengikuti sesi ini sebagai bagian dari upaya memperluas wawasan dan jejaring akademik.

Rosa juga mengajak perguruan tinggi untuk memikirkan kembali desain kelas internasional. Baginya, internasionalisasi bukan hanya persoalan bahasa pengantar, tetapi juga bagaimana mahasiswa mendapatkan pengalaman global melalui pertukaran pelajar, kompetisi internasional, magang, dosen tamu dari luar negeri, serta berbagai program akademik lintas negara.

Dalam paparannya, ia mengungkap sejumlah tantangan yang kerap dihadapi program internasional, mulai dari persepsi bahwa kelas internasional sama dengan kelas reguler, keterbatasan atmosfer akademik global, hingga minimnya keterlibatan mahasiswa dalam agenda internasionalisasi.

Sebagai contoh praktik baik, Rosa memaparkan pengalaman Project LEAP-OKP, program peningkatan kapasitas pendidikan hukum yang didukung Pemerintah Belanda melalui kolaborasi Fakultas Hukum Universitas Airlangga dan Maastricht University.

Program tersebut tidak hanya berfokus pada pengembangan kurikulum dan metode pembelajaran, tetapi juga memperluas networking internasional, memperkuat kolaborasi publikasi, meningkatkan akses terhadap jurnal internasional, hingga membuka peluang pengembangan joint degree dan double degree.

Menurut Rosa, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa transformasi pendidikan hukum membutuhkan kolaborasi lintas negara, lintas institusi, dan lintas disiplin.

Di tengah perubahan teknologi, globalisasi, dan perkembangan kecerdasan buatan yang semakin cepat, fakultas hukum tidak lagi cukup hanya menghasilkan lulusan yang memahami peraturan perundang-undangan. Perguruan tinggi harus mampu menciptakan lingkungan akademik yang membentuk kemampuan berpikir kritis, berjejaring, dan beradaptasi dengan perubahan global.

Pesan itulah yang dibawa Rosa ke Fakultas Hukum Universitas Mulia: bahwa jalan menuju daya saing internasional tidak selalu dimulai dari program yang besar, melainkan dari keberanian membuka diri, membangun hubungan, dan mengubah cara belajar untuk menjawab tantangan zaman. (YMN)

 

Balikpapan, 21 Mei 2026 – Ketika sebagian kalangan masih memandang bahasa Inggris sebagai mata pelajaran yang sulit dan menegangkan, puluhan pelajar di Kota Balikpapan justru menunjukkan hal sebaliknya. Mereka berdiri di hadapan dewan juri dan audiens untuk menyampaikan gagasan tentang isu-isu yang dekat dengan kehidupan generasi muda, mulai dari kesehatan mental hingga perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence).

Fenomena tersebut terlihat dalam Speech Competition 2026 tingkat SMA/SMK se-Kota Balikpapan yang diselenggarakan oleh UKM English Club Universitas Mulia pada 21 Mei 2026 di Ruang Eksekutif Universitas Mulia. Kegiatan yang mengusung tema “Speak Your Mind, Inspire the World” itu diikuti sembilan peserta dari berbagai sekolah menengah di Balikpapan dengan pendampingan guru dan orang tua.

Lebih dari sekadar kompetisi pidato berbahasa Inggris, kegiatan ini memperlihatkan bagaimana pelajar memanfaatkan bahasa sebagai sarana untuk menyampaikan gagasan terhadap berbagai persoalan yang berkembang di tengah masyarakat. Dalam sejumlah penampilan, peserta tidak hanya menunjukkan kemampuan linguistik, tetapi juga keberanian menyampaikan pandangan mengenai isu pendidikan, teknologi, dan kesehatan mental yang saat ini banyak menjadi perhatian generasi muda.

Menurut Ketua UKM English Club Universitas Mulia, Gita Khairunnisa, kompetisi ini lahir dari kegelisahan terhadap pandangan yang masih berkembang di kalangan pelajar bahwa bahasa Inggris merupakan sesuatu yang sulit, membosankan, dan tidak menyenangkan untuk dipelajari.

“Kami melihat masih ada anggapan bahwa bahasa Inggris itu susah dan tidak menarik. Melalui kompetisi ini kami ingin menunjukkan bahwa bahasa Inggris bisa menjadi media yang menyenangkan untuk mengembangkan diri. Kami ingin membuktikan bahwa English is fun, sesuai dengan semangat yang selama ini dibangun oleh UKM English Club,” ujarnya.

Pandangan tersebut menjadi salah satu alasan Universitas Mulia melalui UKM English Club terus menghadirkan ruang-ruang pembelajaran yang memungkinkan pelajar berinteraksi dengan bahasa Inggris dalam konteks yang lebih aplikatif. Alih-alih hanya berfokus pada aspek tata bahasa dan kosakata, peserta didorong untuk menggunakan bahasa Inggris sebagai alat untuk mengomunikasikan ide, gagasan, dan perspektif mereka terhadap berbagai fenomena yang sedang berkembang.

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan, kemampuan menyampaikan gagasan secara efektif dinilai tetap memiliki nilai strategis. Menurut Gita, perkembangan AI maupun media sosial justru semakin memperlihatkan pentingnya penguasaan bahasa Inggris karena sebagian besar perkembangan teknologi global masih menggunakan bahasa tersebut sebagai bahasa utama komunikasi dan pengembangan pengetahuan.

Tema “Speak Your Mind, Inspire the World” yang diangkat dalam kompetisi tahun ini juga dipilih untuk merespons perubahan yang sedang berlangsung di bidang pendidikan dan teknologi. Melalui tema tersebut, peserta didorong untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menyampaikan pemikiran yang dapat berkontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Menariknya, proses kompetisi juga memberikan gambaran mengenai potensi pelajar Balikpapan yang selama ini mungkin belum banyak terekspos. Dari hasil pengamatan panitia, banyak peserta menunjukkan kemampuan berbahasa Inggris yang baik dengan muatan pidato yang tidak sekadar retoris, tetapi juga memuat analisis dan gagasan yang relevan dengan kondisi saat ini.

“Kami menemukan banyak pelajar yang sangat fasih berbicara dalam bahasa Inggris. Yang lebih menarik lagi, isi pidato mereka cukup berbobot dan mengangkat isu-isu yang sedang berkembang seperti mental health, artificial intelligence, dan pendidikan,” jelasnya.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa ruang pengembangan kemampuan komunikasi tidak hanya berfungsi sebagai sarana kompetisi, tetapi juga menjadi medium untuk membaca cara generasi muda memandang perubahan sosial dan teknologi yang terjadi di sekitar mereka.

Meski demikian, panitia mencatat masih terdapat satu aspek yang perlu terus diperkuat, yakni kepercayaan diri saat tampil di hadapan publik. Menurut panitia, kemampuan bahasa yang baik tidak selalu diikuti dengan keberanian menyampaikan gagasan di depan audiens yang lebih luas.

Karena itu, penyelenggaraan kompetisi ini juga diarahkan untuk membantu pelajar membangun keberanian berbicara di ruang publik. Bahkan sebelum kegiatan berlangsung, salah satu tantangan yang dihadapi panitia adalah meyakinkan calon peserta bahwa kompetisi ini dapat menjadi batu loncatan untuk mengikuti ajang yang lebih tinggi di masa mendatang.

“Kami ingin peserta melihat bahwa kompetisi tingkat kota ini bukan tujuan akhir, tetapi langkah awal untuk mengembangkan potensi mereka dan berani tampil pada kompetisi yang lebih besar,” katanya.

Kompetisi diikuti oleh peserta dari berbagai sekolah, antara lain SMKN 2 Balikpapan, SMA Nasional KPS Balikpapan, SMA Kartika V-1 Balikpapan, SMK Airlangga Balikpapan, SMK Kesehatan Airlangga Balikpapan, serta beberapa sekolah lainnya. Penilaian dilakukan berdasarkan lima aspek utama, yaitu Pronunciation, Fluency, Content and Organization, Performance and Confidence, serta Grammar and Vocabulary.

Berdasarkan hasil penilaian dewan juri, Fiorenza Adelia R.H. dari SMA Nasional KPS Balikpapan berhasil meraih Juara I dengan skor 89,6. Posisi Juara II diraih Salvin Meltisha dari SMKN 2 Balikpapan dengan skor 88,7, sedangkan Juara III diraih Sakinah Cahaya Namira dari SMKN 2 Balikpapan dengan skor 85,6.

Melalui kegiatan ini, Universitas Mulia tidak hanya menghadirkan kompetisi bagi pelajar, tetapi juga membangun ruang pertemuan antara pendidikan menengah dan pendidikan tinggi dalam satu ekosistem pembelajaran. Ketika pelajar diberi kesempatan untuk menyampaikan gagasan, yang muncul bukan sekadar kemampuan berbahasa Inggris, melainkan potret generasi muda yang mulai berani berbicara tentang masa depan yang mereka hadapi dan ingin mereka bentuk. (YMN)

 

Balikpapan, 6 April 2026 – Integrasi materi dan laboratorium virtual EC-Council ke dalam kurikulum Program Studi Teknologi Informasi Universitas Mulia resmi dimulai melalui implementasi Program EC-Council Academia yang digelar secara daring pada 6 April 2026.

Melalui program tersebut, sejumlah materi sertifikasi EC-Council diintegrasikan ke dalam Kurikulum 2023 dan Kurikulum 2025, di antaranya Digital Forensics Essentials (DFE), Ethical Hacking Essentials (EHE), dan Network Defense Essentials (NDE). Selain mempelajari materi sertifikasi, mahasiswa dan dosen dapat mengakses virtual lab EC-Council untuk melakukan simulasi investigasi forensik digital, pengujian keamanan sistem, dan pertahanan jaringan.

Kepala Program Studi Teknologi Informasi, Agus Wijayanto, S.Kom., M.Kom., menyampaikan bahwa program ini memberi mahasiswa akses terhadap materi dan lingkungan praktik yang digunakan dalam berbagai skema sertifikasi EC-Council sehingga mahasiswa dapat mempelajari materi yang selaras dengan skema sertifikasi yang digunakan dalam program EC-Council.

Pemanfaatan virtual lab juga telah digunakan mahasiswa dalam pembelajaran Digital Forensics Essentials pada mata kuliah Komputer Forensik. Ketua Himpunan Mahasiswa Teknologi Informasi, Aqilah Aulya Maulidah, menilai materi dan virtual lab EC-Council membantu mahasiswa memahami praktik forensik digital secara lebih aplikatif.

Integrasi materi DFE, EHE, dan NDE ke dalam kurikulum membuat mahasiswa dapat mengakses materi pembelajaran dan laboratorium virtual yang digunakan dalam program sertifikasi EC-Council. (YMN)

Balikpapan, 3 Juni 2026 – Jarum jam mendekati pukul 14.30 WITA ketika sebuah undangan singkat mengarahkan langkah menuju Laboratorium Fakultas Teknik Universitas Mulia. Siang itu matahari masih menyisakan panas setelah sejak tengah hari menyengat Kota Balikpapan. Namun sinarnya mulai melemah, membuat perjalanan dari White Campus menuju gedung Fakultas Teknik terasa lebih bersahabat.

Di sepanjang jalan, gedung Cheng Hoo berdiri tenang di sisi kampus. Beberapa meter berikutnya, hamparan lapangan pickleball yang baru dibangun tampak mencuri perhatian. Sekilas bentuknya menyerupai lapangan tenis, meski dengan net yang lebih rendah. Debu tipis yang beterbangan di jalur penghubung gedung menjadi penanda bahwa kawasan kampus masih terus bertumbuh.

Memasuki gedung Fakultas Teknik yang berarsitektur berbeda dari bangunan kampus lainnya, suasana akademik langsung terasa. Di sisi kiri lantai dasar, Laboratorium Teknik terbuka menyambut tamu. Ruangan itu cukup luas dengan meja panjang yang telah disiapkan. Beberapa mahasiswa mengenakan jas laboratorium putih tampak sibuk mempersiapkan sampel uji yang akan dinilai para panelis.

Hari itu bukan sekadar kegiatan mencicipi makanan. Mahasiswa Program Studi Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian (TPHP) sedang melaksanakan pengujian sensori terhadap produk pentol bakso yang mereka kembangkan melalui berbagai formulasi bahan.

Tiga varian disajikan kepada panelis. Varian pertama menggunakan daging ayam dengan komposisi lebih dominan, sementara dua varian lainnya memadukan daging ayam dengan tahu dalam proporsi berbeda. Setiap panelis diminta memberikan penilaian terhadap rasa, aroma, tekstur, dan tingkat kekenyalan produk.

Di balik sepiring pentol bakso yang tampak sederhana, tersimpan proses pembelajaran yang jauh lebih kompleks.

Ketua Program Studi Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian, Rafika Dyah Maharani, S.Pi., M.T.P., menjelaskan bahwa praktikum semacam ini bertujuan memperlihatkan kepada mahasiswa bagaimana perubahan kecil dalam formulasi dapat menghasilkan karakteristik produk yang berbeda.

“Dari praktikum eksperimen dengan formulasi yang berbeda, mahasiswa jadi tahu bahwa perubahan formulasi sedikit akan berpengaruh terhadap rasa, aroma, kekenyalan, dan tekstur,” ujarnya.

Pemahaman tersebut menjadi fondasi penting dalam pengembangan produk pangan. Dalam industri, perubahan beberapa gram bahan tertentu dapat menentukan apakah suatu produk diterima atau ditolak konsumen.

Lebih jauh, mahasiswa juga diperkenalkan pada realitas bahwa inovasi pangan tidak selalu identik dengan bahan baku mahal. Menurut Rafika, salah satu pelajaran penting yang ingin ditanamkan adalah kemampuan menciptakan produk bernilai tanpa harus bergantung pada biaya produksi tinggi.

“Mahasiswa dilatih bahwa tidak semua produk pangan yang bergizi bernilai mahal. Ternyata dari bahan yang harganya terjangkau dapat menghasilkan produk yang tidak kalah dengan yang dijual di pasaran,” katanya.

Pemanfaatan tahu dalam formulasi bakso yang diuji bukan sekadar upaya menekan biaya produksi. Di balik pilihan bahan tersebut terdapat pertimbangan yang lebih luas, mulai dari aspek ketahanan pangan hingga pemanfaatan potensi bahan baku lokal.

Rafika menjelaskan bahwa melalui praktikum evaluasi sensori, mahasiswa diajak memahami bagaimana bahan pangan lokal dapat menjadi alternatif yang layak untuk mengurangi ketergantungan pada bahan baku tertentu yang harganya lebih mahal atau ketersediaannya terbatas.

“Dalam praktikum evaluasi sensori yang sudah terlaksana, bakso ayam dibuat dengan penambahan atau penggantian sebagian bahan menggunakan tahu. Mahasiswa belajar bagaimana bahan lokal seperti tahu dapat dimanfaatkan untuk mengurangi ketergantungan pada bahan baku yang lebih mahal atau terbatas ketersediaannya,” jelasnya.

Menurutnya, pendekatan tersebut penting karena industri pangan tidak hanya dituntut menghasilkan produk yang disukai konsumen, tetapi juga mampu beradaptasi terhadap dinamika ketersediaan bahan baku. Melalui kegiatan praktikum, mahasiswa dilatih untuk melihat potensi bahan lokal yang memiliki fungsi dan karakteristik serupa sehingga ketergantungan terhadap satu jenis bahan dapat dikurangi.

Sejumlah mahasiswa TPHP Universitas Mulia menyiapkan sampel pengujian di Laboratorium Fakultas Teknik sebelum kegiatan evaluasi sensori dimulai.

Dari sisi ekonomi, penggunaan tahu juga memberikan keuntungan tersendiri. Harga tahu relatif lebih terjangkau dibandingkan beberapa bahan tambahan lain yang umum digunakan dalam produk olahan pangan. Sementara dari sisi gizi, tahu merupakan sumber protein nabati yang dapat melengkapi kebutuhan nutrisi masyarakat.

“Dari segi ekonomi harga tahu lebih murah dibanding bahan tambahan lain seperti udang. Dari segi gizi, tahu merupakan sumber protein nabati sehingga penambahan tahu dalam bakso ayam dapat mendukung konsumsi pangan masyarakat yang lebih beragam melalui variasi sumber protein,” ujarnya.

Lebih jauh, Rafika menilai bahwa pengembangan produk pangan berbasis sumber daya lokal masih menghadapi sejumlah tantangan. Banyak produk potensial yang belum dikelola secara optimal, sementara sebagian lainnya masih menghadapi persoalan mutu dan konsistensi kualitas.

“Pengembangan produk pangan berbasis lokal masih minim dikelola dengan baik. Kalaupun sudah dikelola dengan baik, mutu produknya sering kali belum terpenuhi sehingga kepercayaan masyarakat terhadap produk lokal masih rendah,” katanya.

Karena itu, melalui kegiatan praktikum, mahasiswa tidak hanya diarahkan untuk menciptakan produk yang memiliki cita rasa baik, tetapi juga memahami pentingnya standar mutu, keamanan pangan, dan daya saing produk.

“Ke depannya mahasiswa diharapkan mampu menghasilkan produk pangan yang bermutu, aman dikonsumsi, dan memiliki daya saing yang kuat di masyarakat,” tambahnya.

Harapan tersebut sejalan dengan kebutuhan industri pangan yang terus menuntut inovasi produk berbasis bahan baku yang efisien tanpa mengabaikan kualitas. Salah satu contoh yang diperkenalkan dalam praktikum adalah pemanfaatan tahu sebagai bahan campuran bakso ayam. Selain memberikan keuntungan dari sisi ekonomi, penggunaan bahan lokal tersebut juga membuka peluang pengembangan karakteristik produk yang berbeda sesuai kebutuhan konsumen.

Dalam proses pengembangan produk pangan, penilaian konsumen menjadi aspek yang tidak dapat diabaikan. Namun demikian, penerimaan pasar bukan satu-satunya ukuran keberhasilan.

Rafika menegaskan bahwa mahasiswa diajarkan untuk menyeimbangkan hasil analisis laboratorium dengan hasil pengujian sensori.

“Analisis laboratorium dan pengujian sensori keduanya berada dalam penilaian penting. Dari mata kuliah Evaluasi Sensori, mahasiswa diajarkan bagaimana produk dapat diterima oleh konsumen. Mahasiswa belajar menyeimbangkan keduanya sehingga produk yang dihasilkan aman, bergizi, dan disukai konsumen,” jelasnya.

Pendekatan tersebut sekaligus menjawab pertanyaan yang kerap muncul di masyarakat mengenai perbedaan antara seseorang yang pandai memasak dengan lulusan teknologi pangan.

Menurut Rafika, titik pembeda terletak pada landasan ilmiah yang digunakan dalam proses pengembangan produk.

Dengan lembar penilaian di tangan, para panelis mencicipi setiap sampel pentol bakso untuk menentukan formulasi yang paling diterima dari segi rasa, aroma, tekstur, dan kekenyalan.

“Orang yang terbiasa memasak biasanya fokus pada hasil akhir bahwa rasanya enak dan bisa dikonsumsi. Sedangkan sarjana teknologi pangan membuat dan mengembangkan produk pangan berdasarkan ilmu, data, standar mutu, keamanan, dan kebutuhan konsumen,” ungkapnya.

Karena itu, pembelajaran di TPHP tidak berhenti pada kemampuan menghasilkan makanan yang lezat. Mahasiswa juga dibekali pemahaman mengenai keamanan pangan, kandungan gizi, standar mutu, hingga perilaku konsumen yang terus berubah mengikuti perkembangan zaman.

Rafika menilai keterbukaan terhadap tren menjadi kebutuhan penting bagi mahasiswa saat ini. Perubahan gaya hidup masyarakat turut memengaruhi preferensi pangan yang mereka konsumsi.

“Mahasiswa saat ini harus sangat terbuka dengan tren. Hal ini membantu dalam praktikum untuk membuat dan mengembangkan produk yang sesuai dengan lifestyle saat ini,” katanya.

Ke depan, hasil-hasil praktikum mahasiswa tidak direncanakan berhenti sebagai laporan akademik yang tersimpan di rak laboratorium. Program studi telah menyiapkan langkah lanjutan agar inovasi mahasiswa dapat diuji dalam lingkungan yang lebih luas.

“Rencana prodi yaitu pengembangan produk hasil praktikum dengan memasarkan ke lingkungan universitas, kemudian bekerja sama dengan UMKM daerah dan memberikan pelatihan kepada masyarakat sekitar,” jelas Rafika.

Sebelum sampai ke tahap pemasaran, setiap produk tetap harus melalui serangkaian pengujian ilmiah untuk memastikan kualitasnya.

“Sebelum dipasarkan kami akan melakukan uji laboratorium untuk menentukan produk tersebut memiliki nilai gizi yang baik, sehingga produk yang kami pasarkan tidak hanya enak dan bisa dikonsumsi,” tambahnya.

Di atas meja laboratorium sore itu, tiga piring pentol bakso mungkin terlihat sebagai hasil praktikum biasa. Namun bagi mahasiswa TPHP, produk tersebut merupakan pertemuan antara sains, kreativitas, dan kebutuhan pasar. Dari perubahan formulasi yang tampak sederhana, mereka belajar bahwa masa depan industri pangan sering kali ditentukan oleh kemampuan memahami satu hal yang paling mendasar: apa yang diinginkan konsumen, tanpa melupakan keamanan dan kualitas yang harus dijaga. (YMN)

 

Balikpapan, 26 Mei 2026 – Di tengah dominasi tren startup dan bisnis digital di kalangan generasi muda, koperasi mahasiswa sering kali dipandang sebagai organisasi lama yang kehilangan daya tarik. Namun, pandangan itu justru ingin dipatahkan oleh Program Studi Manajemen Universitas Mulia melalui pengembangan koperasi mahasiswa (Kopma) sebagai ruang belajar bisnis modern yang relevan dengan kebutuhan zaman.

Langkah tersebut diperkuat melalui program pemerintah yang digagas oleh Dinas Koperasi, UKM dan Perindustrian Kota Balikpapan dengan menunjuk tiga perguruan tinggi sebagai kampus percontohan pendirian koperasi mahasiswa, yakni Universitas Mulia, Universitas Balikpapan, dan STIE PAN Balikpapan.

Kepala Program Studi Manajemen Dr. Pudjiati menilai, keterlibatan Universitas Mulia dalam program tersebut bukan tanpa alasan. Menurutnya, Prodi Manajemen memiliki komitmen kuat dalam pengembangan kewirausahaan, kepemimpinan, dan praktik manajemen bagi mahasiswa.

\

“Program ini menjadi sarana pembelajaran nyata agar mahasiswa mampu mengelola organisasi dan usaha secara profesional serta mandiri,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa tantangan terbesar koperasi saat ini bukan terletak pada sistemnya, melainkan pada cara generasi muda memandang koperasi itu sendiri. Selama ini koperasi kerap diasosiasikan sebagai organisasi konvensional yang kurang menarik dan hanya berfokus pada simpan pinjam.

Padahal, menurutnya, koperasi memiliki potensi besar sebagai wadah kreativitas, pengembangan bisnis, dan pembelajaran kewirausahaan bagi mahasiswa. Karena itu, koperasi mahasiswa harus bertransformasi menjadi lebih modern, inovatif, dan dekat dengan dunia anak muda.

“Melalui digitalisasi layanan, pengelolaan profesional, dan program usaha yang relevan, koperasi bisa menjadi ruang belajar, berjejaring, sekaligus berwirausaha bagi mahasiswa,” jelasnya.

Dalam pandangannya, koperasi mahasiswa yang hanya sekadar formalitas organisasi kampus tidak akan memberikan dampak signifikan. Perbedaan mendasar terletak pada orientasi dan pengelolaannya. Kopma yang berkembang, kata dia, harus aktif menjalankan usaha nyata sehingga mahasiswa memperoleh pengalaman langsung dalam mengelola bisnis, membangun kepemimpinan, hingga menyelesaikan persoalan organisasi.

“Koperasi mahasiswa harus menjadi laboratorium praktik, bukan hanya organisasi administratif,” tegasnya.

Pandangan tersebut semakin diperkuat melalui kehadiran narasumber dari dua koperasi mahasiswa besar di Indonesia, yakni Ketua Umum Kopma Universitas Negeri Yogyakarta Sesa Nugroho Sativa dan Ketua Umum Kopma Universitas Gadjah Mada Faisal Agymnastiar Rahmad. Kehadiran keduanya menjadi bukti bahwa koperasi mahasiswa mampu berkembang menjadi unit usaha profesional dan mandiri.

Prodi Manajemen Universitas Mulia pun memiliki visi agar Kopma tidak hanya aktif secara organisasi, tetapi juga menjadi pusat pembelajaran bisnis dan kewirausahaan yang berkelanjutan. Dengan pendampingan yang tepat, koperasi mahasiswa diyakini dapat menjadi wadah pengembangan kompetensi, kreativitas, sekaligus membangun kemandirian ekonomi mahasiswa.

Lebih jauh, Dr. Pudjiati melihat koperasi mahasiswa memiliki nilai yang jauh lebih besar dibanding sekadar aktivitas ekonomi kampus. Di tengah budaya instan dan individualisme yang semakin kuat, koperasi dinilai mampu menjadi ruang pembentukan karakter mahasiswa.

“Mahasiswa belajar tentang tanggung jawab, kerja sama, kejujuran, disiplin, dan kepemimpinan. Nilai-nilai ini sangat penting untuk membentuk generasi muda yang profesional dan memiliki kepedulian sosial,” katanya.

Menurutnya, pembelajaran teori di ruang kelas saja tidak cukup untuk membentuk lulusan yang siap menghadapi dunia kerja dan dunia usaha. Karena itu, koperasi mahasiswa dipandang sebagai laboratorium praktik yang memungkinkan mahasiswa menerapkan langsung ilmu manajemen, pemasaran, keuangan, pelayanan, hingga pengambilan keputusan organisasi.

Sebagai bentuk komitmen nyata, dalam kegiatan tersebut juga dilakukan penandatanganan kerja sama antara Dinas Koperasi, UKM dan Perindustrian Kota Balikpapan dengan Program Studi Manajemen Universitas Mulia. Kerja sama itu diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi berlanjut pada pendampingan koperasi, pelatihan manajemen, seminar, praktik lapangan, hingga pengembangan usaha berbasis mahasiswa.

Ke depan, Prodi Manajemen berharap koperasi mahasiswa mampu melahirkan mahasiswa yang tidak hanya siap bekerja, tetapi juga siap menciptakan peluang usaha dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.

“Jadikan koperasi mahasiswa sebagai ruang belajar dan ruang tumbuh bersama. Jika dikelola dengan baik dan penuh komitmen, koperasi mahasiswa dapat menjadi kebanggaan kampus sekaligus bekal berharga bagi masa depan mahasiswa,” pungkasnya. (YMN)

 

Balikpapan, 26 Mei 2026—Aroma rumput basah dan suara percakapan panitia mulai terasa berbeda ketika bulan Dzulhijjah tiba di lingkungan Universitas Mulia. Di balik aktivitas akademik yang padat, ada tradisi yang diam-diam terus tumbuh selama lebih dari satu dekade: qurban yang dibangun dari gotong royong dosen dan karyawan kampus.

Tahun ini menjadi penanda perjalanan ke-12 pelaksanaan qurban di lingkungan kampus tersebut. Bukan sekadar rutinitas tahunan, program ini perlahan menjelma menjadi ruang pertemuan antara nilai ibadah, solidaritas, dan kepedulian sosial.

Koordinator pelaksana qurban, Drs. Achmad Prijanto, menyebut bahwa sejak awal program ini tidak pernah dibangun hanya untuk menyembelih hewan qurban semata. Ada nilai yang ingin dirawat bersama.

“Menjalankan syariat dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT menjadi tujuan utama. Qurban menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah sekaligus melatih keikhlasan dalam menyisihkan sebagian harta,” ujarnya.

Namun di tengah tekanan ekonomi yang dirasakan banyak kalangan, menjaga semangat kolektif bukan perkara mudah. Tidak semua dosen dan karyawan dapat langsung ikut serta. Karena itu, panitia memilih pendekatan yang sederhana tetapi efektif: menabung sedikit demi sedikit setiap bulan.

Bagi sebagian orang, skema itu mungkin terlihat biasa. Tetapi di lingkungan kampus, cara tersebut justru menjadi jembatan yang memungkinkan niat berqurban tetap hidup di tengah banyak kebutuhan lain yang harus diprioritaskan.

Achmad menjelaskan, transparansi dan akuntabilitas menjadi kunci utama agar kepercayaan peserta tetap terjaga dari tahun ke tahun. Panitia berusaha memastikan seluruh proses berjalan terbuka sehingga dosen dan karyawan merasa nyaman menitipkan amanah qurbannya.

Di sisi lain, qurban di lingkungan kampus ini juga membangun kultur kerja yang tidak banyak terlihat di ruang rapat atau administrasi akademik. Ada kebersamaan yang lahir dari proses menabung bersama, berdiskusi bersama, hingga mendistribusikan daging qurban secara langsung kepada masyarakat.

“Nilai-nilai qurban seperti kebersamaan, rela berkorban, dan disiplin ikut membentuk lingkungan kerja yang lebih harmonis, produktif, dan profesional,” katanya.

Tahun ini, jumlah hewan qurban mengalami peningkatan signifikan. Jika sebelumnya terdapat empat ekor hewan qurban, kini meningkat menjadi tujuh ekor atau naik sekitar 75 persen.

Menurut Achmad, peningkatan itu tidak lepas dari dukungan keluarga besar Yayasan Airlangga yang terus ikut menyuburkan kegiatan qurban di lingkungan kampus.

“Alhamdulillah, tiap tahun kami menargetkan minimal tiga ekor. Tahun ini meningkat dari empat menjadi tujuh ekor,” ungkapnya.

Tetapi denyut utama qurban kampus sesungguhnya terasa ketika proses distribusi dimulai. Daging qurban tidak berhenti di lingkungan internal kampus. Panitia turun langsung menyasar masyarakat sekitar kampus, petugas kebersihan Kota Balikpapan, hingga tiga panti asuhan.

Bagi warga sekitar, kehadiran qurban dari Universitas Mulia ternyata sudah menjadi sesuatu yang ditunggu setiap tahun. Bukan karena besarnya jumlah daging yang diterima, melainkan karena ada hubungan sosial yang terus dipelihara tanpa banyak publikasi berlebihan.

Achmad bahkan menegaskan bahwa program ini tidak dibangun untuk pencitraan institusi.

“Dampaknya dirasakan masyarakat dan itu yang paling penting. Daging qurban Universitas Mulia selalu ditunggu masyarakat dari tahun ke tahun,” tuturnya.

Di tengah banyaknya program kampus yang berorientasi pada capaian akademik dan teknologi, qurban justru menghadirkan wajah lain perguruan tinggi: hadir sebagai bagian dari denyut sosial masyarakat di sekitarnya.

Bagi Universitas Mulia, qurban tampaknya bukan hanya tentang penyembelihan hewan. Ia menjadi cara sederhana untuk menjaga hubungan antarmanusia tetap hangat di tengah dunia yang semakin sibuk dan individual. (YMN)

 

Balikpapam, 25 Mei 2026— Aroma kopi dan percakapan tentang usaha memenuhi ruangan Koperasi Hitam Manis ketika mahasiswa kelas MAN6J Universitas Mulia mulai mendengarkan cerita tentang bagaimana sebuah usaha lokal bertahan menghadapi perubahan pasar. Bukan kisah tentang perusahaan raksasa atau bisnis bernilai miliaran rupiah, melainkan perjalanan usaha yang tumbuh perlahan dari Balikpapan hingga akhirnya membuka cabang di Samarinda dan Yogyakarta.

Di tempat itu, mahasiswa tidak hanya melihat sebuah merek yang berkembang, tetapi juga membaca proses panjang di baliknya—tentang keputusan bisnis, keberanian mengambil risiko, menjaga kualitas, hingga menghadapi masa-masa ketika usaha harus tetap berjalan di tengah tekanan persaingan.

Kegiatan studi lapangan mata kuliah Manajemen Koperasi dan UMKM tersebut difasilitasi oleh Career Development Center (CDC) Universitas Mulia sebagai bagian dari upaya mempertemukan mahasiswa dengan praktik kewirausahaan secara langsung. Dalam sesi diskusi bersama pengelola Hitam Manis, mahasiswa diperlihatkan bahwa pertumbuhan usaha tidak hanya ditentukan oleh ide bisnis, tetapi juga oleh kemampuan menjaga konsistensi pengelolaan usaha dari waktu ke waktu.

Mahasiswa Universitas Mulia mengikuti sesi diskusi bersama pengelola Kopi Hitam Manis untuk mempelajari pengelolaan UMKM, pengembangan usaha, dan tantangan mempertahankan bisnis lokal di tengah persaingan pasar.

Dr. Linda Fauziah, Kepala Career Development Center Universitas Mulia, menjelaskan bahwa perjalanan usaha seperti Hitam Manis penting dipelajari mahasiswa karena memperlihatkan bahwa inovasi usaha dapat tumbuh dari daerah seperti Balikpapan dan berkembang ke kota-kota lain.

“Dari daerah seperti Balikpapan pun inovasi bisa terus bertumbuh bahkan sampai merambah ke kota-kota lain,” ujarnya.

Menurutnya, pengalaman tersebut diharapkan dapat memberi motivasi kepada mahasiswa bahwa peluang membangun usaha tetap terbuka, termasuk dari lingkungan lokal yang selama ini dekat dengan kehidupan mereka sendiri.

Dalam kegiatan itu, mahasiswa juga mempelajari berbagai tantangan yang dihadapi pelaku UMKM, mulai dari pengelolaan operasional hingga menjaga keberlanjutan usaha. CDC Universitas Mulia menilai mahasiswa perlu memahami bahwa keberhasilan usaha tidak hanya terlihat dari tampilan bisnis yang berkembang, tetapi juga dari proses panjang yang dijalani pelaku usaha dalam mempertahankan bisnisnya.

Mahasiswa Universitas Mulia bersama Dr. Linda Fauziah selaku Kepala Career Development Center Universitas Mulia dan pengelola Kopi Hitam Manis usai kegiatan studi lapangan mata kuliah Manajemen Koperasi dan UMKM.

“Mahasiswa perlu mengetahui perjuangan besar dan mental wirausaha yang terus dibangun oleh pemiliknya,” kata Dr. Linda.

Diskusi tersebut juga membahas kecenderungan generasi muda yang saat ini lebih banyak tertarik pada bisnis berbasis teknologi dan startup digital. Meski demikian, usaha berbasis UMKM tetap dipandang memiliki posisi penting karena mampu menyerap lebih banyak tenaga kerja dan lebih dekat dengan aktivitas ekonomi masyarakat sehari-hari.

Bagi Universitas Mulia, memperkenalkan mahasiswa pada usaha lokal seperti Hitam Manis menjadi bagian dari upaya memperluas cara pandang mereka terhadap dunia usaha. Mahasiswa diajak memahami bahwa bisnis tidak selalu harus dimulai dari skala besar atau teknologi tinggi, tetapi juga dapat berkembang melalui kemampuan menjaga kualitas, memahami pasar, dan membangun hubungan dengan konsumen.

Karena itu, studi lapangan semacam ini tidak ditempatkan sekadar sebagai pelengkap pembelajaran di kelas. CDC Universitas Mulia memaknainya sebagai ruang pembelajaran yang memperlihatkan secara langsung bagaimana pelaku usaha menghadapi risiko, menjaga konsistensi usaha, dan terus menyesuaikan diri dengan perkembangan pasar.

Melalui kunjungan ke Koperasi Hitam Manis, mahasiswa Universitas Mulia tidak hanya belajar tentang UMKM, tetapi juga melihat bagaimana sebuah usaha lokal dapat berkembang secara bertahap hingga memperluas jangkauan usahanya ke berbagai kota. (YMN)

 

Balikpapan, 25 Mei 2026—Ketika banyak percakapan bisnis di ruang kuliah lebih akrab dengan startup dan perusahaan besar, mahasiswa kelas MAN6A Universitas Mulia justru diajak masuk ke ruang ekonomi yang tumbuh dari kerja kolektif: koperasi. Melalui kunjungan lapangan ke Koperasi Mulawarman, mahasiswa tidak hanya mempelajari struktur kelembagaan koperasi sekunder, tetapi juga melihat bagaimana sistem tersebut bekerja melalui jaringan usaha, relasi antaranggota, dan keterhubungannya dengan aktivitas UMKM di masyarakat.

Kunjungan yang difasilitasi Career Development Center (CDC) Universitas Mulia itu disambut langsung oleh Ketua Umum Koperasi Mulawarman, Kolonel Inf. Cecep Agus Boediono. Dalam forum diskusi yang berlangsung terbuka, mahasiswa diajak memahami bagaimana koperasi menjalankan fungsi ekonomi yang berbeda dibanding perusahaan konvensional yang selama ini lebih sering mereka temui dalam pembelajaran bisnis.

Bagi sebagian mahasiswa, koperasi mungkin hanya dikenal sebagai bentuk badan usaha yang dibahas dalam teori manajemen atau ekonomi kerakyatan. Namun di Koperasi Mulawarman, mereka melihat bahwa koperasi memiliki mekanisme operasional, pola tata kelola, dan pengaruh ekonomi yang nyata terhadap usaha-usaha kecil di sekitarnya.

Dr. Linda Fauziah, Kepala Career Development Center Universitas Mulia, menjelaskan bahwa pengenalan terhadap koperasi menjadi penting karena mahasiswa perlu memahami kembali bagaimana model usaha berbasis kolektif tetap memiliki ruang dalam struktur ekonomi hari ini. Apalagi pemerintah saat ini kembali mendorong penguatan koperasi desa melalui program Koperasi Merah Putih.

“Mahasiswa perlu diperkuat wawasannya secara langsung terkait operasional kegiatan koperasi,” ujarnya.

Selama kunjungan berlangsung, mahasiswa juga berkesempatan melihat aktivitas beberapa outlet mitra Koperasi Mulawarman. Dari pengamatan tersebut, mahasiswa mempelajari bagaimana koperasi dapat terhubung dengan pelaku UMKM dan membentuk perputaran ekonomi yang tidak selalu terlihat dari luar.

Mahasiswa Universitas Mulia bersama Kepala Career Development Center Universitas Mulia, Dr. Linda Fauziah, dan pimpinan Koperasi Mulawarman berfoto di depan gedung Koperasi Mulawarman usai kegiatan studi lapangan mengenai pengelolaan koperasi, penguatan UMKM, dan ekonomi berbasis kolaborasi.

Pengalaman lapangan seperti ini memberi dimensi pembelajaran yang berbeda dibanding ruang kelas. Mahasiswa tidak hanya membaca konsep pengelolaan koperasi dari buku ajar, tetapi melihat bagaimana keputusan operasional, hubungan kemitraan, dan aktivitas usaha berjalan dalam praktik sehari-hari.

Dalam diskusi tersebut, mahasiswa juga diperkenalkan pada karakter koperasi sekunder yang menaungi sejumlah koperasi primer di bawahnya. Struktur seperti ini memperlihatkan bahwa pengaruh koperasi tidak selalu hadir secara langsung di tingkat masyarakat, tetapi bekerja melalui jejaring kelembagaan yang saling terhubung.

Menurut Dr. Linda, pemahaman mengenai koperasi penting agar mahasiswa tidak tumbuh dengan perspektif usaha yang terlalu sempit. Selama ini, bentuk badan usaha seperti PT atau CV lebih akrab di kalangan mahasiswa, sementara koperasi kerap dipandang sebagai sistem ekonomi lama yang kurang relevan dengan perkembangan bisnis modern.

Padahal, melalui koperasi, mahasiswa dapat melihat bagaimana usaha dibangun melalui prinsip kolaborasi, distribusi manfaat, dan keterlibatan anggota secara bersama. Karena itu, CDC Universitas Mulia juga mendorong mahasiswa untuk memahami jalur kemandirian ekonomi melalui berbagai bentuk usaha, termasuk model berbasis koperasi.

Bagi CDC, forum semacam ini tidak berhenti sebagai agenda studi lapangan akademik. Yang sedang dibangun adalah cara pandang mahasiswa terhadap kemungkinan ekonomi yang lebih luas—bahwa aktivitas usaha tidak selalu bertumpu pada kepemilikan individual atau modal besar, tetapi juga dapat tumbuh melalui struktur kolektif yang mampu menopang banyak pihak sekaligus.

Melalui kunjungan ke Koperasi Mulawarman, mahasiswa Universitas Mulia tidak hanya belajar tentang tata kelola lembaga. Mereka juga melihat bagaimana kerja sama, jaringan usaha, dan keberlanjutan ekonomi dijalankan dalam bentuk yang tetap hidup di tengah perubahan pola bisnis masyarakat hari ini. (YMN)