Humas Universitas Mulia, 1 Agustus 2025 — Di tengah derasnya arus digitalisasi global, kesenjangan literasi teknologi di tingkat dasar masih menjadi persoalan krusial. Berangkat dari kenyataan tersebut, sekelompok mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Mulia melaksanakan pelatihan dasar Microsoft Office dan desain grafis berbasis Canva kepada siswa kelas VI di SDN 003 Balikpapan Selatan. Alih-alih sekadar pengabdian formalitas, kegiatan ini menghadirkan pertemuan substansial antara kebutuhan lapangan dan pendekatan pendidikan berbasis problem nyata.

Dosen Pembimbing Lapangan M. Asyharuddin, S.H., M.H., memberikan arahan kepada mahasiswa Universitas Mulia sebelum pelaksanaan program KKN 2025 di Balikpapan Selatan.

Pelatihan ini tidak berdiri di ruang hampa. Ketua kelompok KKN 18, Khusnul Hasanah, menyatakan bahwa tema sosialisasi melek teknologi dipilih sebagai respons terhadap minimnya akses langsung siswa SD terhadap perangkat digital yang selama ini hanya diperkenalkan secara teoritis. “Kami ingin mereka familiar menggunakan teknologi secara positif dan produktif, bukan hanya sebagai penonton pasif perkembangan zaman,” ujarnya.

Pendekatan Pedagogis yang Kontekstual

Kegiatan berlangsung dengan pendekatan pedagogis berbasis pengalaman—gabungan antara demonstrasi langsung, pendampingan individual, dan metode belajar sambil bermain. “Kami tidak hanya mengajar, tapi membangun suasana yang membuat anak-anak nyaman bereksperimen dan tidak takut mencoba,” tutur Khusnul.

Dua mahasiswi KKN UM 2025 berfoto bersama siswa SDN 003 Balikpapan Selatan di sela-sela sesi pelatihan literasi digital.

Respons siswa pun menunjukkan indikator keberhasilan yang menjanjikan. Selain antusias mengikuti setiap sesi, para siswa bahkan mencoba kembali di rumah dengan aplikasi yang telah mereka kenal, terutama Canva dan Microsoft Word. Guru di SDN 003 mengonfirmasi bahwa sebelumnya belum pernah ada pelatihan teknologi semacam ini di sekolah tersebut. “Dampaknya jelas terasa: anak-anak bukan hanya tertarik, tapi juga menunjukkan keberanian untuk mencoba hal baru,” kata salah satu guru.

Mahasiswi KKN bersama beberapa siswa menunjukkan hasil desain grafis yang dibuat menggunakan aplikasi Canva dalam sesi pelatihan kreatif.

Relevansi terhadap Merdeka Belajar dan Profil Pelajar Pancasila

Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), M. Asyharuddin, S.H., M.H., menilai kegiatan ini sebagai contoh nyata penerapan prinsip Merdeka Belajar yang tidak berhenti pada jargon. Menurutnya, mahasiswa terlibat secara langsung dalam dinamika sosial masyarakat, mengalami pembelajaran kontekstual, dan menanamkan nilai-nilai kepemimpinan serta empati dalam praktik. “Mereka belajar bukan dari modul, tapi dari kehidupan nyata—ini adalah proses pendidikan karakter yang otentik,” tegasnya.

Seorang mahasiswi KKN Universitas Mulia 2025 tengah membimbing siswa dalam memahami dasar-dasar literasi digital di ruang kelas.

Lebih dari itu, kegiatan ini dinilai relevan dalam membentuk dimensi Profil Pelajar Pancasila, terutama pada aspek kreativitas, bernalar kritis, dan kemampuan beradaptasi. Mahasiswa juga dituntut untuk tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga merancang strategi komunikasi yang sesuai dengan kapasitas kognitif anak-anak usia sekolah dasar.

Bukan Sekadar Pelatihan

Yang menarik, sekolah tempat kegiatan berlangsung menunjukkan komitmen untuk menindaklanjuti inisiatif ini melalui program kokurikuler dan pengenalan coding sebagai bagian dari kurikulum pendamping. Hal ini menunjukkan bahwa pelatihan tersebut bukan sekadar intervensi temporer, melainkan berpotensi menjadi katalisator perubahan jangka panjang.

Para mahasiswi KKN antusias membimbing siswa SDN 003 Balikpapan Selatan dalam praktik desain grafis menggunakan Canva.

Khusnul sendiri menilai pengalaman ini sebagai proses pembelajaran dua arah. “Kami belajar bahwa dengan pendekatan yang tepat, anak-anak cepat tanggap terhadap teknologi. Yang penting bukan canggihnya materi, tapi relevansi dan kesiapan kami dalam membimbing,” ungkapnya.

Beberapa siswa berfoto bersama dua mahasiswi KKN Universitas Mulia usai mengikuti pelatihan teknologi di kelas.

Ketika mahasiswa universitas mampu menyentuh ekosistem pendidikan dasar secara substansial, maka pengabdian masyarakat tidak lagi sekadar memenuhi kewajiban akademik, tetapi bertransformasi menjadi bentuk kepemimpinan transformatif. Dalam konteks ini, Canva dan Microsoft Word bukan lagi sekadar aplikasi—melainkan pintu masuk bagi anak-anak untuk mengenali peran mereka dalam dunia digital yang semakin kompleks.

Humas UM (YMN)

Humas Universitas Mulia, 30 Juli 2025 Matakuliah Wajib Kurikulum (MKWK) tidak lagi hanya menjadi wahana penyampaian materi normatif, tetapi harus ditransformasi menjadi arena pendidikan karakter berbasis proyek dan kolaborasi. Hal ini ditegaskan oleh Wakil Rektor Bidang Akademik dan Sistem Informasi Universitas Mulia, Wisnu Hera Pamungkas, S.T.P., M.Eng., dalam sesi pembukaan workshop integrasi OBE, PBL, dan Design Thinking dalam MKWK yang digelar pada Rabu, 30 Juli 2025 di Ruang Townhall Midtown Express Hotel, Balikpapan.

Dalam paparannya, Wisnu menekankan bahwa MKWK bukan sekadar keharusan administratif dalam kurikulum perguruan tinggi. Sebaliknya, ia adalah fondasi ideologis, etis, dan komunikatif yang harus ditanamkan dengan pendekatan yang relevan dengan konteks zaman. “Substansi kajian MKWK perlu dikembangkan oleh dosen, dengan menggali isu-isu kontemporer seperti kearifan lokal, radikalisme, kesadaran pajak, hingga kesetiaan pada ideologi bangsa,” tegasnya.

Seluruh peserta workshop berdiri menyanyikan Mars Universitas Mulia dalam suasana khidmat saat seremonial pembukaan kegiatan di Ruang Townhall Midtown Express Hotel, Rabu (30/7/2025).

Lebih lanjut, Wisnu menyampaikan bahwa Universitas Mulia telah menata ulang strategi pembelajaran melalui penerapan Outcome-Based Education (OBE) dan Project-Based Learning (PBL). Siklus OBE, menurutnya, mengharuskan penyesuaian materi, metode, asesmen, dan evaluasi berbasis capaian. PBL diposisikan bukan sekadar metode, melainkan filosofi pembelajaran yang menuntut keaktifan, orisinalitas, kolaborasi, dan refleksi mahasiswa.

“Mahasiswa tidak cukup diajarkan teori toleransi, tapi harus menciptakan proyek yang menyuarakan nilai toleransi itu dalam bentuk kreatif dan berdampak,” ujarnya. Ia mencontohkan produk pembelajaran seperti video refleksi, infografis nilai Pancasila, hingga kampanye media sosial tentang kebhinekaan sebagai bentuk konkret integrasi nilai dan proyek.

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Sistem Informasi, Wisnu Hera Pamungkas, S.T.P., M.Eng., menyampaikan materi pembuka yang memetakan arah kebijakan pengembangan MKWK di Universitas Mulia.

Selain MKWK yang terdiri dari matakuliah Agama, Pancasila, Kewarganegaraan, dan Bahasa Indonesia, Wisnu juga menekankan pentingnya penguatan pada Mata Kuliah Universitas seperti Pendidikan Anti Korupsi, Technopreneurship, Bahasa Inggris Bisnis, serta Kuliah Kerja Nyata dan Skripsi yang mendukung praktik nilai di lapangan.

Sesi doa bersama pembukaan workshop berlangsung dalam suasana tenang dan penuh kekhusyukan.

Tak kalah strategis, Wisnu memperkenalkan pentingnya literasi terhadap Generative Artificial Intelligence (GenAI) dalam ekosistem pendidikan tinggi. Menurutnya, GenAI dapat menjadi alat yang memberdayakan atau merusak, tergantung pada cara institusi dan individu mengelolanya. “Universitas harus memandu pemanfaatan GenAI secara etis dan bertanggung jawab, menjaga integritas akademik tanpa menutup peluang inovasi,” tandasnya.

Materi yang disampaikan Wakil Rektor Akademik dan Sistem Informasi ini menjadi landasan penting dalam diskusi-diskusi lanjutan para dosen pengampu MKWK selama workshop berlangsung. Mereka tidak hanya menyusun RPS atau RPL, tetapi juga ditantang untuk menyematkan nilai, menyusun skenario proyek, dan merancang asesmen yang kontekstual, kolaboratif, dan inklusif.

Humas UM (YMN)

 

“Sertifikasi di Universitas Mulia bukan program tambahan, tetapi bagian dari desain kurikulum. Mahasiswa dipersiapkan bukan hanya untuk lulus, melainkan untuk diuji dan diakui secara nasional, dan hasil sertifikasi akan kami tempatkan sebagai bukti sahih ketercapaian pembelajaran.”—Wisnu Hera Pamungkas, S.T.P., M.Eng. (Wakil Rektor Bidang Akademik dan Sistem Informasi)

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Sistem Informasi Universitas Mulia, Wisnu Hera Pamungkas, S.T.P., M.Eng., memberikan arahan dalam seremonial pembukaan Uji Materi Kompetensi (MUK) sebagai bagian dari proses integrasi sertifikasi dalam pembelajaran.

Humas Universitas Mulia, 29 Juli 2025 — Di Universitas Mulia, sertifikasi profesi tidak ditempatkan sebagai program pelengkap. Ia disusun dan ditanamkan sejak awal proses belajar, dirancang menyatu dalam sistem pembelajaran. Hal ini ditegaskan langsung oleh Wakil Rektor Bidang Akademik, Wisnu Hera Pamungkas, S.T.P., M.Eng.

“Kami menyelaraskan materi kuliah, proyek tugas akhir, hingga praktik lapangan dengan skema-skema kompetensi yang dirancang dan diajukan ke BNSP,” ujarnya. “Artinya, mahasiswa tidak belajar hal yang terpisah dari dunia kerja—mereka justru belajar untuk bersertifikat.”

Menurut Wisnu, pendekatan ini dilakukan agar proses belajar di kampus tidak berhenti pada pemahaman teoretis semata, tetapi sejak awal diarahkan untuk menghasilkan kompetensi yang dapat diuji dan diakui secara formal. Sertifikasi tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi jalur utama yang ditempuh mahasiswa dalam meraih pengakuan keterampilan kerja.

Langkah selanjutnya, Universitas Mulia sedang menyelaraskan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) agar hasil asesmen dari skema LSP dapat digunakan sebagai tolok ukur kompetensi. “Kami sedang mengaitkan hasil uji skema langsung dengan CPL, terutama dalam aspek keterampilan khusus dan kesiapan kerja,” jelasnya. Ia menambahkan, “Dengan demikian, sertifikat bukan hanya bonus kelulusan, tetapi bagian dari pengakuan formal atas apa yang benar-benar telah dikuasai oleh mahasiswa selama studi.”

Pemerataan akses menjadi perhatian penting. Sertifikasi tidak hanya dilaksanakan di kampus utama Balikpapan. Wisnu mencontohkan keterlibatan mahasiswa dari Program Studi Sistem Informasi di Kampus Samarinda yang kini mengembangkan skema dan Materi Uji Kompetensi (MUK) mereka sendiri. “Mahasiswa di Samarinda juga menyiapkan skema yang akan diajukan ke BNSP dan digunakan untuk mensertifikasi mereka. Kami pastikan kesempatan ini merata,” ungkapnya.

Kalimantan yang kini berkembang sebagai kawasan strategis Ibu Kota Nusantara (IKN) turut menjadi konteks penting dalam strategi sertifikasi Universitas Mulia. Wisnu menyebut bahwa lulusan bersertifikat harus mampu langsung bekerja dan menjawab kebutuhan yang tumbuh di wilayah ini.

“Kami melihat sertifikasi kompetensi sebagai salah satu kunci utama kesiapan SDM lokal menghadapi transformasi besar di kawasan Kalimantan dan IKN,” ucapnya. “Lulusan kami diposisikan sebagai talenta siap pakai—baik untuk industri, sektor pemerintahan, maupun kegiatan wirausaha yang berkembang.”

Untuk memastikan keselarasan antara skema sertifikasi dan kebutuhan nyata di lapangan, Universitas Mulia melalui LSP juga menjalin berbagai kolaborasi lintas sektor. Wisnu menyampaikan bahwa koordinasi dan kerja sama dengan industri, lembaga pendidikan, BUMN, dan instansi lain selalu dibuka agar skema yang disusun tidak hanya memenuhi standar administratif, tetapi benar-benar mencerminkan kebutuhan dunia kerja.

Humas UM (YMN)

Humas Universitas Mulia, 29 Juli 2025Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Universitas Mulia menggelar uji coba Materi Uji Kompetensi (MUK) sebagai tahapan wajib dalam proses pengajuan penambahan skema sertifikasi ke Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Kegiatan ini bukan sekadar formalitas administratif, melainkan pengujian langsung atas validitas dan ketepatan materi uji yang dirancang untuk mengukur kemampuan nyata calon peserta sertifikasi.

Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Mulia, Wisnu Hera Pamungkas, S.T.P., M.Eng. (kanan), bersama Dekan Fakultas Ilmu Komputer, Djumhadi, S.T., M.Kom. (kiri), memantau langsung proses uji coba Materi Uji Kompetensi (MUK) di lingkungan kampus.

“Uji coba ini kami perlakukan sebagai pengujian kritis terhadap isi materi. Apakah instrumen ini memang layak digunakan untuk menilai kompetensi secara objektif dan akurat? Itu yang kami uji,” ujar Kepala UPT LSP Universitas Mulia, Dr. Mada Aditia Wardhana, S.Sos., M.M.

Seluruh materi uji dikembangkan dengan mengacu pada Skema Sertifikasi dan unit kompetensi yang sudah ditetapkan dalam standar nasional, yakni SKKNI (Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia). Tidak ada improvisasi di luar kerangka, sebab yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar kelulusan, tetapi legitimasi profesional atas kemampuan teknis dan sikap kerja peserta.

Irfan Ananda Pratama, S.A., M.A., melakukan monitoring pelaksanaan uji coba Materi Uji Kompetensi (MUK) sebagai bagian dari proses validasi skema sertifikasi.

Menurut penanggung jawab kegiatan, proses uji coba ini menjadi semacam stress test terhadap sistem evaluasi kompetensi yang disusun. Jika MUK yang diuji tidak mampu secara presisi membedakan antara peserta yang kompeten dan tidak kompeten, maka materi tersebut harus direvisi. “Kami tidak ingin menghasilkan materi yang kabur secara penilaian atau tidak sesuai kebutuhan lapangan kerja,” tegasnya.

Lebih jauh, kegiatan ini juga mencerminkan arah kebijakan Universitas Mulia dalam memosisikan sertifikasi sebagai bagian integral dari proses pembelajaran. Sertifikasi bukan ditempelkan di akhir proses, tetapi dirancang sejak awal sebagai capaian yang terukur dan berbasis standar. Ini menjadi bukti bahwa universitas tidak hanya mendidik, tetapi juga mengkalibrasi capaian mahasiswa dengan tolok ukur yang diakui secara nasional.

Dr. Hety Devita, S.E., M.M., C.Med., C.P.Arb., tampak membagikan soal kepada peserta dalam pelaksanaan uji coba Materi Uji Kompetensi (MUK) di Universitas Mulia.

Dengan menggelar uji coba MUK secara terbuka dan ketat, Universitas Mulia mengirimkan pesan jelas: sertifikasi kompetensi bukan program pelengkap, melainkan sistem yang dibangun secara sistematis, diuji, dan dipertanggungjawabkan.

Humas UM (YMN)

“Melalui MKWK, Universitas Mulia berkesempatan merumuskan model pembelajaran dan pengabdian berbasis proyek yang menitikberatkan pada internalisasi nilai kebangsaan, penyelesaian konflik sosial, penguatan moderasi beragama, serta pengembangan inovasi sosial yang didukung teknologi. Langkah ini diharapkan menjadi kontribusi konkret dalam membangun ekosistem masyarakat Ibu Kota Nusantara yang inklusif, menjunjung toleransi, dan memiliki daya saing sosial,”—Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifai, M.Si. (Rektor Universitas Mulia)

Humas Universitas Mulia, 25 Juli 2025— Di tengah dominasi kampus-kampus besar di Jawa, Universitas Mulia menegaskan eksistensinya sebagai satu-satunya wakil Kalimantan yang lolos hibah Program Pengembangan Model Pembelajaran Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) 2025. Program di bawah Direktorat Pendidikan Tinggi ini menjadi pintu strategis untuk membumikan nilai kebangsaan, toleransi, dan keberagaman lewat pendekatan berbasis proyek.

“Ini bukan sekadar pengakuan, tetapi momentum penting untuk memperkuat reputasi UM sebagai kampus technopreneur yang tidak hanya unggul dalam inovasi dan teknologi, tetapi juga berkomitmen terhadap nilai-nilai kebangsaan, moderasi, dan keberagaman,” tegas Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si., Rektor Universitas Mulia.

Bagi Prof Ahsin, keterlibatan ini menjadi peluang membuka kolaborasi akademik lintas wilayah. Baginya, pengakuan ini harus terhubung dengan agenda jangka panjang: Indonesia Emas 2045. “Keterlibatan ini membuka peluang kolaborasi nasional, memperluas jejaring akademik lintas wilayah, serta menjadi pijakan penting dalam arah pengembangan UM menuju perguruan tinggi unggul yang relevan dengan agenda Indonesia Emas 2045,” ujarnya.

Program MKWK, yang kerap dipandang sekadar kewajiban administrasi, menurutnya harus menembus sekat formalitas. Integrasi ke dokumen resmi seperti RPS dan kalender akademik, pembentukan komunitas dosen pengampu, evaluasi berkelanjutan, hingga pameran hasil proyek menjadi cara Universitas Mulia memastikan MKWK benar-benar hidup di kelas dan lapangan.

“Universitas Mulia perlu mengintegrasikannya ke dalam dokumen akademik resmi, melibatkan seluruh elemen kampus, membentuk komunitas dosen pengampu, serta menerapkan evaluasi berkelanjutan berbasis siklus Penetapan, Pelaksanaan, Evaluasi, Pengendalian, dan Peningkatan (PPEPP),” terangnya. Diseminasi proyek melalui pameran atau festival, sambungnya, adalah cara menjaga semangat mahasiswa agar tetap kritis pada persoalan sekitar.

Untuk memastikan napas program tidak padam di tahun berjalan, Prof Ahsin menegaskan pentingnya kebijakan insentif. Dosen mendapat pengakuan beban kerja dan poin jabatan. Mahasiswa berhak konversi SKS atau sertifikat. Baginya, tanpa dukungan regulasi konkret, program semacam ini hanya akan singgah sebentar lalu hilang arah.

Sebagai kampus technopreneur, Universitas Mulia memilih jalur berbeda. Inovasi teknologi ditautkan dengan tantangan sosial. “Inovasi teknologi harus membawa manfaat sosial dan menjawab tantangan bangsa. Mahasiswa didorong untuk menciptakan solusi yang berdampak bagi masyarakat lokal, menjunjung etika, keadaban digital, dan nilai Pancasila,” jelasnya.

Konsep ini akan dituangkan ke proyek-proyek berbasis masalah sosial, etika digital di kurikulum, hingga technopreneurship yang berpihak pada kepentingan publik, bukan sekadar bisnis.

Sebagai kampus di Balikpapan, penyangga utama Ibu Kota Nusantara, Universitas Mulia memanfaatkan posisi geografis dan kultural ini untuk ikut merawat keberagaman IKN yang multikultural. Baginya, MKWK bisa menjadi jalur awal Universitas Mulia terlibat aktif di ranah pendidikan nilai, resolusi konflik, moderasi beragama, hingga inovasi sosial di kawasan penyangga IKN.

“Melalui MKWK, UM dapat mengembangkan model pembelajaran dan pengabdian berbasis proyek yang fokus pada pendidikan nilai, resolusi konflik, moderasi beragama, serta inovasi sosial berbasis teknologi. Ini bisa menjadi kontribusi nyata dalam membangun ekosistem masyarakat IKN yang inklusif, toleran, dan berdaya,” pungkas Ahsin.

Bagi Universitas Mulia, jalur technopreneurship hanya akan lengkap bila memegang erat akar kebangsaan. Dan di tangan mahasiswa, gagasan itu dirancang untuk tidak sekadar selesai di meja kelas — tetapi menjejak nyata di Balikpapan dan Ibu Kota Nusantara.

Humas UM (YMN)

BALIKPAPAN – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Mulia Balikpapan menggelar Musyawarah Besar (Mubes) pada Senin-Selasa, 15-16 Juli 2025, di Ruang Eksekutif Universitas Mulia. Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh pengurus BEM, perwakilan mahasiswa dari berbagai fakultas, serta jajaran pimpinan universitas.

Mubes yang berlangsung 2 hari ini sejak pagi hingga malam hari mengangkat tema “Mewujudkan Regenerasi Progresif untuk Kepemimpinan Berkelanjutan yang Berintegritas dan Berdampak”. Agenda utama meliputi evaluasi program kerja periode sebelumnya, pembahasan rencana strategis organisasi, serta penetapan arah kebijakan kemahasiswaan untuk tahun akademik mendatang.


Dalam sambutannya, Ketua BEM Universitas Mulia Agung Widianto menyampaikan pentingnya regenerasi progresif dalam membangun kepemimpinan yang berintegritas. “Tema yang kami angkat mencerminkan komitmen kami untuk melahirkan pemimpin masa depan yang tidak hanya berkompeten, tetapi juga berintegritas tinggi dan mampu memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar,” ujarnya.
Riski Zulkarnain Kepala Bagian Kemahasiswaan dan Alumni Universitas Mulia yang turut hadir dalam acara tersebut menekankan pentingnya regenerasi progresif dalam organisasi kemahasiswaan. “Regenerasi progresif bukan hanya sekedar pergantian kepengurusan, tetapi transformasi menyeluruh dalam pola pikir dan tindakan mahasiswa menuju kepemimpinan yang berkelanjutan dan berdampak,” ungkapnya.
Beberapa poin penting yang dibahas dalam Mubes meliputi strategi pengembangan kepemimpinan berintegritas, implementasi program berkelanjutan yang berdampak, sistem regenerasi yang progresif, serta penguatan nilai-nilai moral dalam setiap kegiatan organisasi. Peserta juga merumuskan roadmap kepemimpinan jangka panjang yang mengintegrasikan aspek akademik, sosial, dan moral.
Rektor Universitas Mulia dalam pesannya menyampaikan apresiasi terhadap dinamika organisasi kemahasiswaan yang terus berkembang. “Kegiatan seperti Mubes ini mencerminkan kedewasaan berorganisasi mahasiswa dalam mengambil keputusan strategis melalui musyawarah dan mufakat,” ungkapnya.
Universitas Mulia Balikpapan sebagai salah satu perguruan tinggi swasta terkemuka di Kalimantan Timur terus berkomitmen menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki jiwa kepemimpinan dan kepedulian sosial yang tinggi.Mubes BEM Universitas Mulia ini diharapkan dapat menghasilkan rumusan program yang lebih inovatif dan berdampak positif bagi kemajuan institusi serta masyarakat luas.

“Pembekalan ini bukan hanya soal administrasi. Para Kaprodi harus memahami peran strategis mereka sebagai penggerak peningkatan mutu tridarma secara berkelanjutan. Karena itu, kami menyiapkan strategi pendampingan empat pilar: adaptasi budaya akademik, literasi regulasi, manajemen mutu, dan koordinasi lintas unit serta mitra industri.”
Wisnu Hera Pamungkas, Wakil Rektor I Bidang Akademik Universitas Mulia

 

Humas Universitas Mulia, 18 Juli 2025 — Universitas Mulia menggelar pembekalan bagi para Ketua Program Studi (Kaprodi) baru dari empat prodi yang resmi dibuka tahun ini, yaitu Teknik Sipil, Teknik Industri, Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian (TPHP), serta Desain Komunikasi Visual (DKV). Agenda ini diarahkan untuk mempersiapkan para Kaprodi memahami peran strategis mereka dalam menggerakkan tridarma perguruan tinggi sejak masa perintisan.

Wakil Rektor I Bidang Akademik, Wisnu Hera Pamungkas, , S.T.P., M.Eng. menyerahkan Surat Keputusan (SK) Kaprodi Desain Komunikasi Visual sebagai simbol dimulainya tanggung jawab akademik prodi baru.

“Pembekalan hari ini difokuskan untuk membekali para Kaprodi baru dengan pemahaman menyeluruh terkait peran strategis mereka sebagai pemimpin program studi, khususnya dalam konteks pelaksanaan tridarma perguruan tinggi,” jelas Wakil Rektor I Bidang Akademik Universitas Mulia, Wisnu Hera Pamungkas, S.T.P., M.Eng.

Materi disusun secara berlapis, meliputi aspek akademik, tata kelola kelembagaan, kemahasiswaan, hingga penguasaan sistem informasi yang mendukung manajemen prodi dan aktivitas pengajaran dosen. Wisnu menekankan, peran Kaprodi tidak berhenti pada tugas administratif. “Harapannya, para Kaprodi tidak hanya memahami tugas administratif, tetapi juga mampu menjadi penggerak utama dalam meningkatkan kualitas tridarma secara berkelanjutan,” ujarnya.

Empat Kaprodi baru Universitas Mulia menyimak materi pembekalan yang difokuskan pada penguatan peran strategis dalam pelaksanaan tridarma perguruan tinggi.

Untuk mendampingi para Kaprodi baru dalam merancang kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE) maupun Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), bidang akademik merumuskan strategi empat pilar. Pilar pertama adalah pembiasaan pada budaya akademik kampus agar visi prodi selaras dengan arah universitas. Pilar kedua mencakup penguatan literasi kebijakan akademik pada level nasional dan internal. Pilar ketiga menekankan pembekalan manajemen administrasi dan penjaminan mutu. Sementara pilar keempat mendorong koordinasi lintas unit, termasuk dengan Lembaga Penjaminan Mutu (LPM), Biro Administrasi Akademik dan Kemahasiswaan (BAAK), hingga mitra industri.

“Kami telah menyiapkan strategi pendampingan berbasis empat pilar utama,” terang Wisnu. “Pertama, penanaman pemahaman dan adaptasi terhadap budaya akademik kampus, agar kaprodi dapat menyelaraskan visi prodi dengan arah institusi. Kedua, penguatan literasi terhadap kebijakan dan regulasi akademik, baik yang bersifat nasional maupun internal kampus. Ketiga, pembekalan manajemen administrasi dan penjaminan mutu akademik sebagai fondasi utama tata kelola. Dan keempat, fasilitasi koordinasi dengan para pemangku kepentingan seperti LPM, BAAK, hingga mitra industri, guna memastikan kurikulum OBE dan MBKM dapat diimplementasikan dengan efektif dan kontekstual sesuai kebutuhan zaman.”

Dari sisi akreditasi, Wisnu menjelaskan penjaminan mutu dilakukan sejak tahap awal. Saat ini, dua prodi baru — Teknik Sipil dan Teknik Industri — telah mengantongi akreditasi dari LAM Teknik, sedangkan TPHP dan DKV masih dalam tahap pengajuan ke BAN-PT. “Penjaminan mutu sejak awal menjadi prioritas penting, karena berkaitan langsung dengan arah capaian akreditasi,” ungkapnya. Ia menambahkan, dokumen akademik dan pelaksanaan tridarma pada tiap prodi disusun menyesuaikan standar akreditasi sejak pendirian.

Indikator keberhasilan prodi baru, menurut Wisnu, terletak pada seberapa jauh kepercayaan publik berhasil dibangun di tiga tahun pertama. “Indikator utama keberhasilan program studi baru dalam jangka pendek adalah sejauh mana prodi mampu membangun kepercayaan publik,” tegasnya. Ia menyadari keterbatasan rekam jejak kerap memengaruhi jumlah mahasiswa pada tahun pertama. Namun demikian, eksistensi prodi harus diupayakan melalui forum-forum eksternal, lomba, seminar, maupun kemitraan.

Dari ruang monitoring, pola evaluasi tidak hanya bergantung pada mekanisme formal audit mutu. “Secara umum, monitoring dan evaluasi dilaksanakan melalui Lembaga Penjaminan Mutu dan Pengembangan Pendidikan (LPMPP), dengan instrumen utama berupa Audit Mutu Internal (AMI) setiap semester dan penelaahan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) program kerja tahunan,” terang Wisnu. Untuk keempat prodi baru ini, pola monev dibuat lebih intensif. Diskusi rutin, koordinasi informal, dan pendampingan teknis menjadi saluran untuk membaca hambatan sejak dini, terutama pada aspek inovasi pembelajaran dan adaptasi teknologi digital.

Di tengah dinamika ini, para Kaprodi baru dituntut tidak hanya membaca dokumen rencana, tetapi aktif memastikan bahwa tridarma, penjaminan mutu, kurikulum OBE-MBKM, serta pembaruan digital berjalan pada jalur yang kontekstual dengan kebutuhan pendidikan tinggi hari ini.

Humas UM (YMN)

“KKN bukan hanya tentang menyelesaikan kewajiban akademik, tetapi tentang merajut empati, membangun kolaborasi, dan menciptakan kebermanfaatan nyata bagi masyarakat.”
— Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si., Rektor Universitas Mulia

Humas Universitas Mulia, 24 Juni 2025 – Sebagai wujud komitmen terhadap implementasi Tridharma Perguruan Tinggi, Universitas Mulia menyelenggarakan kegiatan Pembekalan Kuliah Kerja Nyata (KKN) bagi mahasiswa Tahun Akademik 2024/2025. Acara yang berlangsung di Ballroom Cheng Hoo ini dibuka secara resmi oleh Rektor Universitas Mulia, Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si., dengan sambutan penuh makna yang menegaskan urgensi peran mahasiswa sebagai agen pengabdian sosial.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Sumardi, S.Kom., M.Kom., Rektor Universitas Mulia Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i, dan Kaprodi Manajemen Dr. Pudjiati, S.E., M.M. berdiri di atas panggung saat menyanyikan Mars Universitas Mulia pada pembukaan kegiatan Pembekalan KKN Tahun Akademik 2024/2025.

Dalam sambutannya, Rektor menegaskan bahwa KKN bukan sekadar tugas akademik atau formalitas kelulusan, melainkan sebuah proses pembelajaran holistik yang mengasah kemampuan adaptasi, kepekaan sosial, dan kepemimpinan mahasiswa di tengah masyarakat.

“Saudara sekalian akan menjadi duta Universitas Mulia—mewakili nilai-nilai intelektual, integritas, dan inovasi yang kita tanamkan bersama selama perkuliahan,” tegas beliau.

Rektor menjabarkan bahwa pembekalan ini merupakan fase strategis untuk memperkuat pemahaman mahasiswa mengenai tugas, peran, etika, dan pendekatan sosial yang relevan. Ia mendorong peserta KKN untuk menyusun program kerja yang tidak hanya kontekstual dan relevan dengan kebutuhan masyarakat, namun juga memiliki keberlanjutan dampak setelah masa KKN berakhir.

Rektor Universitas Mulia Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si. secara resmi membuka kegiatan Pembekalan KKN melalui pidato akademik yang menekankan pentingnya integritas, kolaborasi, dan kebermanfaatan sosial mahasiswa di masyarakat.

Dalam pidato akademiknya, Rektor menyampaikan tiga poin utama yang harus menjadi prinsip kerja mahasiswa selama menjalankan KKN:

  1. Integritas dan Etika Personal – Mahasiswa diminta menjaga nama baik pribadi, keluarga, dan universitas melalui sikap santun dalam berpakaian, bersikap, dan berinteraksi dengan masyarakat.

  2. Kolaborasi dan Partisipasi Aktif – Mahasiswa harus melibatkan masyarakat secara langsung dalam seluruh proses kegiatan, menjadikan mereka subjek, bukan objek dalam pembangunan sosial.

  3. Kreativitas dan Kebermanfaatan Program – Mahasiswa diimbau untuk merancang program-program inovatif yang meskipun sederhana, mampu memberikan dampak nyata dan berkelanjutan bagi komunitas setempat.

Tak lupa, Rektor juga memberi pesan kepada para Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) dan tim LPPM untuk aktif memberikan pendampingan dan membuka ruang dialog dua arah yang mendorong terbentuknya inovasi sosial maupun penelitian terapan.

“Jadikan KKN ini bukan hanya sekadar catatan akademik, tetapi pengalaman hidup yang memperkaya perspektif, membentuk karakter, dan memantapkan komitmen Saudara sebagai insan akademik yang berpihak pada masyarakat,” ujar Prof. Ahsin menutup sambutannya.

Acara pembekalan KKN ini turut dihadiri oleh jajaran pimpinan universitas, Ketua LPPM, para Dosen Pembimbing Lapangan, serta panitia pelaksana dan ratusan mahasiswa dari berbagai program studi yang akan diterjunkan ke sejumlah wilayah mitra.

Suasana kegiatan pembekalan KKN Universitas Mulia. Para peserta terlihat antusias menyimak materi sebagai bekal sebelum diterjunkan ke lokasi pengabdian.

Dengan semangat integritas, kolaborasi, dan inovasi, Universitas Mulia kembali mengukuhkan peran strategisnya dalam mencetak generasi muda yang mampu menjawab tantangan zaman melalui kontribusi nyata di tengah masyarakat.

Humas UM (YMN)

Rektor: Dari “Aku Sudah Belajar Apa?” ke “Aku Bisa Apa?” Fokus pada Kompetensi dan Relevansi Kerja

Humas Universitas Mulia, 3 Juni 2025 – Universitas Mulia kembali menegaskan komitmennya dalam menjawab tantangan pendidikan abad ke-21 melalui reformasi kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE). Dalam wawancara bersama Rektor UM, Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i, terungkap bahwa pendekatan ini bukan sekadar pembaruan dokumen, melainkan transformasi mendasar dalam cara mempersiapkan lulusan menghadapi dunia kerja dan perubahan sosial global.

“Selama ini, kita masih menggunakan kurikulum model lama yang bersifat tradisional, di mana proses belajar lebih menekankan pada pemenuhan silabus dan penguasaan materi, tanpa jaminan bahwa mahasiswa benar-benar menguasai kompetensi yang dibutuhkan di dunia kerja,” ungkap Prof. Ahsin.

Rektor Universitas Mulia, Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i, saat memberikan keterangan kepada humas kampus terkait urgensi reformasi kurikulum berbasis OBE.

Ia menilai bahwa kurikulum lama cenderung menghasilkan lulusan yang hanya dibekali transkrip nilai, namun belum tentu mampu menjawab kebutuhan industri. Penilaian pun cenderung bersifat umum dan tidak berbasis pada CPMK (Capaian Pembelajaran Mata Kuliah) dan CPL (Capaian Pembelajaran Lulusan).

“Kita harus bergeser dari paradigma ‘aku sudah belajar apa?’ menjadi ‘aku bisa apa?’,” tegasnya.

Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i, Rektor Universitas Mulia, memberikan arahan strategis dalam pembukaan Workshop Penyusunan Kurikulum Berbasis Outcome-Based Education.

Integrasi OBE, KKNI, dan SKKNI: Membangun Lulusan Kompeten dan Siap Kerja

Lebih lanjut, Prof. Ahsin menekankan bahwa pendekatan OBE bukanlah konsep baru yang berdiri sendiri, melainkan integrasi dari Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) dan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI).

“Dengan mengacu pada KKNI dan SKKNI, kurikulum kita akan mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya siap memasuki dunia kerja, tetapi juga menciptakan pasar kerja melalui kompetensi yang relevan dan terstandar,” tuturnya.

Suasana khidmat dan antusias mewarnai pembukaan Workshop Penyusunan Kurikulum OBE di lingkungan Universitas Mulia.

OBE dirancang untuk menjawab empat pertanyaan mendasar:

  1. Kemampuan apa yang harus dikuasai mahasiswa?
  2. Bagaimana cara terbaik membantu mahasiswa mencapai kemampuan tersebut?
  3. Bagaimana kita mengetahui capaian itu telah tercapai?
  4. Bagaimana melakukan perbaikan berkelanjutan (Continuous Quality Improvement)?

Sinergi Akademik dalam Workshop Penyusunan Kurikulum

Melalui pelatihan intensif selama empat hari yang melibatkan para dekan, ketua program studi, dan unit-unit pendukung, UM berupaya menyusun ulang seluruh dokumen kurikulum berbasis OBE. Dalam kegiatan ini, narasumber berperan aktif memandu proses penyusunan agar setiap program studi memiliki dokumen kurikulum yang terukur, relevan, dan implementatif.

Para dekan dan ketua program studi Universitas Mulia dengan saksama mengikuti materi workshop sebagai langkah konkret menuju kurikulum berbasis capaian pembelajaran.

Rektor menegaskan bahwa keberhasilan reformasi kurikulum ini sangat bergantung pada kepemimpinan para dekan dalam mengkoordinasikan timnya. “Setiap prodi harus serius menyusun dokumennya. Dekan harus aktif memberikan masukan, arahan, dan memastikan seluruh proses berjalan optimal,” tandasnya.

Menjawab Tantangan Industri 4.0 dan Society 5.0

Prof. Ahsin juga menyampaikan bahwa reformasi kurikulum ini menjadi fondasi penting dalam menyiapkan lulusan menghadapi ekosistem kerja yang semakin kompleks. Dalam era Industri 4.0 dan transisi menuju Society 5.0, kompetensi seperti AI, Big Data, IoT, literasi digital, pemikiran kritis, kolaborasi, kreativitas, dan etika menjadi sangat krusial.

“OBE memungkinkan kita mengintegrasikan kompetensi berbasis teknologi dan kemanusiaan ke dalam CPL. Dengan begitu, lulusan UM bukan hanya sarjana, tetapi juga problem solver dan innovator yang mampu menjawab tantangan global,” pungkasnya.

 

Humas UM (YMN)

 

Humas Universitas Mulia, 28 Mei 2025 Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Mulia terus memperluas jejaring kerjasama dengan dunia industri melalui penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) lanjutan bersama Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO). Kerjasama ini merupakan tindak lanjut dari MoU sebelumnya, yang menandai komitmen berkelanjutan untuk memperkuat sinergi antara kampus dan sektor industri, khususnya dalam bidang pariwisata.

Kaprodi Manajemen FEB Universitas Mulia, Dr. Pudjiati, S.E., M.M., menyebutkan bahwa MoA ini memiliki urgensi yang sangat strategis, baik dari sisi akademik maupun praktis.

“Bentuk konkretnya akan kami rancang dalam kegiatan-kegiatan yang langsung berdampak pada penguatan tridharma perguruan tinggi dan peningkatan daya saing lulusan,” ujarnya.

Beberapa bentuk implementasi yang akan dikembangkan antara lain program magang industri terstruktur, kuliah tamu oleh praktisi, riset kolaboratif antara dosen dan pelaku industri, serta penerapan proyek kewirausahaan mahasiswa.

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mulia, Dr. Ivan Hadar, M.Si., saat menandatangani Memorandum of Agreement (MoA) lanjutan bersama Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), sebagai wujud penguatan kolaborasi antara perguruan tinggi dan dunia industri.

Dr. Pudjiati juga mengungkapkan bahwa pihaknya tengah menjajaki kemungkinan pengembangan studi yang lebih aplikatif dan berbasis kebutuhan industri. Salah satu wacana yang tengah disusun adalah membuka konsentrasi atau program studi bisnis pariwisata, yang akan dimasukkan dalam roadmap pengembangan akademik lima tahun ke depan.

“Alasannya jelas, Kalimantan Timur memiliki potensi wisata dan budaya yang sangat besar namun belum dikelola secara optimal. Banyak restoran, hotel, agen perjalanan, dan desa wisata yang membutuhkan manajer serta pelaku usaha yang menguasai manajemen layanan, pemasaran digital, dan pengelolaan destinasi. Sayangnya, masih banyak pelaku usaha pariwisata yang belum memiliki latar belakang manajemen formal,” jelasnya.

Ia menilai potensi lulusan program bisnis pariwisata cukup besar. “Lulusan bisa bekerja sebagai manajer operasional hotel atau resort, konsultan perjalanan, pengelola event dan Meetings, Incentives, Conventions, and Exhibitions (MICE), atau menjadi wirausahawan di bidang wisata,” tambahnya.

Kaprodi Manajemen FEB Universitas Mulia, Dr. Pudjiati, S.E., M.M., memberikan keterangan terkait rencana strategis pengembangan program studi berbasis industri dalam kegiatan penandatanganan MoA bersama APINDO.

Meski begitu, tantangan tetap ada. Salah satunya adalah menjembatani perbedaan orientasi antara dunia akademik dan dunia industri.

“Akademik cenderung fokus pada teori, riset, dan proses pembelajaran, sementara industri lebih menekankan efisiensi, hasil cepat, dan implementasi langsung,” ungkapnya.

Sebagai solusi, pihaknya akan mengembangkan pendekatan problem-based learning dan riset terapan, serta melibatkan pelaku industri dalam penyusunan kurikulum.

“Kami juga menawarkan proyek kolaboratif dengan output konkret, misalnya pembuatan SOP, desain sistem pemasaran, atau pelatihan SDM,” katanya.

Dalam konteks Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), kerjasama ini dimanfaatkan untuk memperkuat kurikulum berbasis industri, mengembangkan program magang industri, projek mandiri mahasiswa, serta mata kuliah proyek kewirausahaan.

Dengan langkah strategis ini, FEB Universitas Mulia berharap dapat mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga siap terjun dan berkontribusi nyata dalam dunia usaha dan industri, khususnya sektor pariwisata yang tengah berkembang pesat di wilayah Kalimantan Timur.

Humas UM (YMN)