Tag Archive for: Literasi Digital

Balikpapan, 18 Februari 2026 – Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika (HimaTI) Universitas Mulia melaksanakan kegiatan Goes to School bertajuk Beyond Networking: Menjelajahi Cakrawala Keamanan Siber pada 24 November 2025 di SMK Negeri 6 Balikpapan. Kegiatan ini menjadi bagian dari pengabdian institusi dalam memperluas wawasan teknologi informasi bagi siswa sekolah menengah kejuruan.

Program ini dirancang untuk memperkenalkan dimensi yang lebih luas dari bidang Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ). Tidak hanya membahas konfigurasi jaringan, pelatihan juga menyoroti keamanan informasi, pemrograman, arsitektur perangkat keras, hingga relevansinya dengan perkembangan komputasi awan dan Internet of Things (IoT). Pendekatan tersebut diambil untuk memberikan gambaran utuh mengenai kompetensi yang dibutuhkan dalam ekosistem industri digital.

Kegiatan berlangsung dalam format interaktif di lingkungan sekolah. Sesi awal memuat pemaparan konseptual mengenai keamanan sistem komputer dan jaringan, termasuk prinsip dasar perlindungan data serta potensi kerentanan yang kerap dimanfaatkan dalam serangan siber. Materi disampaikan secara aplikatif agar mudah dipahami oleh siswa jurusan TKJ.

Untuk menjaga partisipasi aktif, rangkaian kegiatan diselingi sesi interaksi yang mendorong konsentrasi dan respons cepat peserta. Dinamika ini menjadi pengantar menuju sesi utama berupa simulasi praktik dalam lingkungan virtual.

Pada tahap praktik, siswa menggunakan VirtualBox dan sistem operasi Kali Linux untuk memahami mekanisme keamanan sistem secara terkontrol. Simulasi ini memberikan pengalaman langsung mengenai bagaimana suatu sistem diuji keamanannya tanpa menimbulkan risiko pada perangkat asli. Pendekatan berbasis praktik tersebut dirancang agar siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga melihat penerapannya secara nyata.

Melalui kegiatan ini, Universitas Mulia mempertegas kontribusinya dalam membangun kesiapan teknologi generasi muda. Program Goes to School menjadi ruang kolaboratif yang mempertemukan pendidikan tinggi dan sekolah kejuruan dalam penguatan literasi digital yang lebih kontekstual dan relevan dengan kebutuhan industri. (YMN)

Balikpapan, 18 Februari 2026 – Himpunan Mahasiswa Teknologi Informasi (HimaTI) Universitas Mulia melaksanakan program Goes to School pada 17 Desember 2025 di Laboratorium Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) SMK Negeri 1 Balikpapan. Kegiatan ini difokuskan pada penguatan pemahaman keamanan siber melalui pendekatan simulasi terkontrol berbasis lingkungan virtual.

Program Goes to School merupakan bagian dari kontribusi akademik Universitas Mulia dalam menjembatani materi perkuliahan dengan kebutuhan praktik di lapangan. Dalam konteks pendidikan kejuruan, penguasaan konsep keamanan sistem menjadi krusial, terutama bagi siswa yang telah memiliki dasar pengoperasian sistem Linux seperti Debian. Bekal tersebut memungkinkan pelatihan diarahkan pada tahapan yang lebih aplikatif.

Kegiatan diawali dengan pengantar mengenai posisi keamanan informasi dalam ekosistem teknologi digital. Peserta kemudian diperkenalkan pada konsep dasar cyber security, termasuk pentingnya pengawasan sistem, identifikasi kerentanan, serta risiko penyalahgunaan akses dalam jaringan komputer.

Bagian utama pelatihan berupa simulasi penyerangan dan pemantauan sistem dalam lingkungan virtual. Dengan memanfaatkan VirtualBox, peserta menjalankan skenario penggunaan Kali Linux sebagai sistem penguji terhadap mesin berbasis Windows. Simulasi ini memperlihatkan bagaimana aktivitas sistem dapat dimonitor melalui mekanisme yang menyerupai teknik serangan nyata, namun tetap berada dalam kondisi aman dan terkendali.

Selain memahami alur kerja malware dalam konteks pengujian, siswa juga dilatih mengonfigurasi perangkat lunak virtualisasi, termasuk pengaturan jaringan IP Host-Only. Tahap ini menekankan ketelitian teknis sekaligus pemahaman arsitektur jaringan sederhana yang mendukung proses simulasi.

Beberapa kendala teknis pada proses instalasi dan konfigurasi menjadi bagian dari dinamika pembelajaran. Situasi tersebut dimanfaatkan sebagai sarana pemecahan masalah secara langsung, sehingga siswa tidak hanya mengikuti prosedur, tetapi juga memahami logika di balik setiap langkah teknis.

Melalui kegiatan ini, Universitas Mulia memperkuat perannya dalam membangun literasi keamanan digital yang berbasis praktik. Pendekatan simulatif yang diterapkan dalam program Goes to School diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran kritis sekaligus kesiapan teknis siswa dalam menghadapi tantangan keamanan informasi di lingkungan teknologi yang terus berkembang. (YMN)

 

 

Balikpapan, 13 Februari 2026 – Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika (HimaTI) Universitas Mulia melaksanakan kegiatan sosialisasi dan pelatihan keamanan siber bertajuk Guardians of the Cyber: Menempa Generasi Tangguh Keamanan Informasi pada 9 Desember 2025 di Laboratorium Komputer SMK Negeri 3 Balikpapan. Kegiatan ini merupakan bagian dari penguatan peran institusi dalam membangun literasi keamanan informasi di tingkat pendidikan menengah.

Pelatihan diselenggarakan sebagai tindak lanjut arahan akademik Program Studi Teknologi Informasi Universitas Mulia untuk memperluas edukasi keamanan siber kepada pelajar. Inisiatif ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya risiko kejahatan siber serta pentingnya pemahaman sejak dini mengenai perlindungan data pribadi dan mekanisme serangan digital yang umum terjadi.

Kegiatan terbagi dalam dua sesi utama yang diikuti siswa jurusan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ). Sesi awal memuat pemaparan konsep dasar keamanan informasi, klasifikasi ancaman siber, serta pola serangan yang kerap dimanfaatkan peretas. Materi difokuskan pada pemahaman struktural mengenai bagaimana sistem dapat dieksploitasi dan bagaimana mitigasinya dirancang.

Bagian inti kegiatan berlangsung dalam bentuk simulasi praktik di lingkungan virtual. Dengan memanfaatkan perangkat lunak VirtualBox, peserta melakukan skenario terkontrol menggunakan sistem operasi Kali Linux untuk menguji kerentanan mesin berbasis Windows 7. Dalam simulasi tersebut, siswa mengamati bagaimana sebuah file backdoor dapat membuka akses pemantauan sistem dari jarak jauh. Pendekatan ini dirancang agar peserta tidak hanya memahami konsep serangan, tetapi juga menyadari konsekuensi teknis dan etis dari penyalahgunaan akses sistem.

Meskipun terdapat kendala teknis pada tahap instalasi perangkat lunak, dinamika pembelajaran tetap terjaga. Siswa menunjukkan kemampuan kolaboratif dengan saling membantu menyelesaikan tahapan konfigurasi hingga simulasi berjalan sesuai skenario. Proses ini sekaligus memperlihatkan pentingnya kerja tim dalam praktik keamanan siber.

Melalui kegiatan ini, Universitas Mulia mempertegas kontribusinya dalam pengembangan kapasitas generasi muda di bidang teknologi informasi. Pelatihan keamanan siber tidak hanya membekali keterampilan teknis, tetapi juga menanamkan kesadaran kritis terhadap tanggung jawab penggunaan teknologi di ruang digital.

Kolaborasi antara Universitas Mulia dan SMK Negeri 3 Balikpapan diharapkan dapat berlanjut dalam bentuk program edukasi berkelanjutan, sehingga kesiapan siswa menghadapi tantangan keamanan informasi semakin terstruktur dan berbasis kompetensi. (YMN)

Balikpapan, 13 Februari 2026 – Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika (HimaTI) Universitas Mulia melaksanakan program Goes to School melalui pelatihan keamanan siber bagi siswa jurusan TKJ dan RPL SMK Kartika V-1 Balikpapan pada 15 Desember 2025. Kegiatan ini merupakan bagian dari pengabdian kepada masyarakat yang diarahkan untuk memperluas literasi keamanan informasi di tingkat pendidikan menengah kejuruan.

Perkembangan teknologi digital yang semakin cepat membawa konsekuensi pada meningkatnya risiko kebocoran data, serangan siber, dan penyalahgunaan sistem informasi. Melalui program ini, Universitas Mulia mendorong transfer pengetahuan yang lebih aplikatif guna menjembatani materi pembelajaran di sekolah dengan dinamika ancaman di ruang digital.

Kegiatan diawali dengan pembukaan dan sambutan dari pihak sekolah yang menyambut baik kolaborasi edukatif tersebut. Selanjutnya, peserta mendapatkan pemaparan konseptual mengenai lanskap keamanan siber, termasuk klasifikasi peretas—black hat, white hat, dan gray hat—serta ragam perangkat lunak berbahaya seperti virus, ransomware, dan spyware.

Untuk mengukur pemahaman awal dan akhir peserta, pelatihan dilengkapi dengan pre-test dan post-test. Sesi interaktif dan ice-breaking turut dihadirkan guna menjaga partisipasi aktif siswa selama kegiatan berlangsung.

Bagian utama pelatihan difokuskan pada simulasi praktik dalam lingkungan virtual. Dengan memanfaatkan VirtualBox, peserta diperkenalkan pada skenario serangan dan pertahanan sistem secara terkendali. Siswa mempraktikkan pembuatan skrip monitoring pada sistem operasi Kali Linux dan mengamati dampaknya pada sistem Windows sebagai target simulasi. Pendekatan ini memberikan pengalaman langsung mengenai bagaimana mekanisme serangan terjadi sekaligus bagaimana sistem dapat dipantau dan diamankan.

Melalui kegiatan ini, Universitas Mulia menegaskan peran strategisnya dalam penguatan kapasitas generasi muda di bidang teknologi informasi. Pelatihan keamanan siber tidak hanya memperluas wawasan teknis siswa, tetapi juga memperkenalkan pentingnya etika dan tanggung jawab dalam pemanfaatan teknologi.

Program Goes to School HimaTI menjadi salah satu bentuk kontribusi institusi dalam membangun kesiapan sumber daya manusia yang adaptif terhadap tantangan keamanan digital yang terus berkembang. (YMN)

Balikpapan, 10 November 2025 – Bagi Fiqri Maulana Nuzulianto, S.IP., M.IP., dosen tamu mata kuliah Pancasila di Fakultas Hukum Universitas Mulia, bulan November merupakan ruang refleksi kolektif tentang makna perjuangan dan kebangsaan. Ia memandang 10 November bukan sekadar perayaan seremonial, tetapi momentum untuk menakar kembali kesetiaan generasi kini terhadap nilai-nilai pengorbanan dan keberanian moral.

Menurutnya, kepahlawanan di masa kini tidak lagi diwujudkan melalui senjata, melainkan lewat upaya menjaga nalar etik bangsa. “Menegakkan Pancasila hari ini berarti melawan korupsi, menolak penyalahgunaan wewenang, dan menumbuhkan empati sosial,” tuturnya. Ia menyebut krisis moral dan individualisme sebagai bentuk penjajahan baru dalam makna sosial-budaya yang menggerogoti rasa kebersamaan.

Fiqri berpendapat, nilai kepahlawanan berbasis Pancasila harus menjadi mekanisme pertahanan moral bangsa — mendorong warga menempatkan kepentingan publik di atas kepentingan pribadi, memperkuat integritas personal, serta menghidupkan kembali solidaritas sosial yang mulai melemah di ruang publik digital.

Ia juga mengingatkan bahwa generasi muda kini berisiko kehilangan ruh kepahlawanan, karena nilai-nilai idealisme mulai terkikis oleh budaya instan dan pragmatisme sosial. “Pahlawan masa kini adalah mereka yang berani mengambil sikap, berinovasi, dan berkorban tanpa pamrih di ruang sosial maupun digital,” ujarnya. Fiqri mencontohkan bentuk kepahlawanan baru seperti mengawasi jalannya demokrasi melalui media digital, mendorong kesetaraan sosial, dan menjadi relawan di isu-isu kemanusiaan. “Mereka adalah pahlawan digital, sosial, dan intelektual — berjuang dengan data, nalar, dan kolaborasi,” tambahnya.

Menurutnya, penanaman nilai Pancasila dalam pendidikan tidak cukup bersifat kognitif, tetapi harus dilakukan secara transformasional. Ia mendorong agar kampus memberi ruang bagi tokoh dan aktivis muda sebagai teladan moral bagi mahasiswa. “Nilai tidak tumbuh dari hafalan, melainkan dari pengalaman dan interaksi dengan figur yang hidup dengan nilai itu,” jelasnya.

Model pembelajaran berbasis proyek, lanjutnya, dapat digunakan untuk menumbuhkan kesadaran kritis mahasiswa terhadap tantangan Pancasila di masyarakat. Ia juga menekankan pentingnya literasi digital yang berakar pada etika Pancasila, agar ruang maya tidak menjadi sarang hoaks dan ujaran kebencian. Dengan demikian, mahasiswa tidak berhenti pada “pengetahuan tentang Pancasila”, tetapi menjadikannya “sikap hidup Pancasila”.

Bagi Fiqri, perjuangan mahasiswa hari ini adalah perjuangan karakter dan integritas. Mahasiswa, katanya, harus menjadi penggerak perubahan, pengontrol sosial, dan pewaris idealisme bangsa. “Tugas mereka bukan lagi merebut kemerdekaan, tetapi menjaga agar ilmu digunakan dengan tanggung jawab dan idealisme tetap dijaga dari kepentingan sesaat,” tegasnya.

Ia juga menyoroti pentingnya peran kampus dalam membentuk generasi berjiwa kepahlawanan. Menurutnya, perguruan tinggi sebaiknya menjadi ruang yang memberi kesempatan bagi ekspresi kritis dan konstruktif mahasiswa. “Kampus idealnya menjadi laboratorium demokrasi yang sehat, tempat tumbuhnya dialog, kolaborasi, dan keberanian moral,” ujarnya.

Fiqri menutup pandangannya dengan ajakan agar semangat Pancasila benar-benar menjadi kebudayaan kampus yang hidup, tidak berhenti pada tataran kognitif semata. Ia menilai Pancasila perlu dijadikan pisau analisis dalam proyek akademik, pengabdian masyarakat, dan riset sosial. “Mahasiswa yang berintegritas dan berkontribusi sosial seharusnya mendapat penghargaan yang sama dengan mereka yang berprestasi akademik,” ujarnya. Baginya, itulah cara kampus menyalakan kembali semangat kepahlawanan — dengan ilmu, integritas, dan keberanian moral. (YMN)

Balikpapan, 31 Oktober 2025 — Universitas Mulia melaksanakan program pendampingan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kelurahan Gunung Sari Ulu sebagai bagian dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Program ini berfokus pada penguatan literasi digital dan strategi pemasaran berbasis teknologi untuk memperluas jangkauan usaha lokal.

Kegiatan bertema “Kreatif, Kolaboratif, dan Kompetitif: Kunci UMKM Naik Kelas” ini dirancang untuk membantu pelaku usaha memahami cara memanfaatkan media digital dalam memperkenalkan produk dan memperluas pasar. Tim dosen yang terlibat terdiri dari Dr. Linda Fauziyah Ariyani, S.Pd., M.Pd., Wury Damayantie, S.Farm., M.Farm., dan Muhammad Safi’i, S.Kom., M.Kom. Mereka bekerja bersama mahasiswa dalam proses pendampingan, sehingga kegiatan ini juga menjadi ruang penerapan pembelajaran berbasis proyek di luar kelas.

Para narasumber, Lurah Gunung Sari Ulu, Babinkamtibmas, Babinsa, dan perangkat kelurahan berpose bersama peserta pelatihan dengan gaya simbol “UM, Mulia, dan Jaya” sebagai penanda semangat kolaborasi.

Dalam sesi pelatihan, Dr. Linda menjelaskan bahwa sebagian besar usaha kecil gagal bertahan melewati lima tahun pertama bukan karena kurang modal, melainkan karena pelaku usaha belum memahami arah pasar dan perubahan perilaku konsumen. Ia mengajak peserta untuk memulai strategi dari fondasi yang sederhana namun penting: mengenali produk, memahami konsumen, dan menyesuaikan cara komunikasi melalui media digital.

Peserta berlatih membuat video promosi, mengelola akun media sosial, serta menata etalase daring di marketplace dengan pendekatan visual yang lebih terarah. Metode praktik ini memungkinkan pelaku usaha mengamati langsung hasil dari strategi yang diterapkan dan menyesuaikannya dengan karakter produk masing-masing.

Dr. Linda Fauziyah Ariyani, S.Pd., M.Pd., mengambil swafoto di tengah suasana praktik peserta, saat sesi pembuatan konten promosi digital berlangsung.

Dosen dari bidang farmasi dan informatika turut memberikan materi pendukung berupa digitalisasi pencatatan keuangan dan sistem pembayaran daring. Langkah ini dimaksudkan agar pelaku usaha memiliki catatan transaksi yang rapi dan siap digunakan sebagai dasar perencanaan atau pengajuan modal usaha.

Melalui kegiatan ini, Universitas Mulia menautkan hasil pembelajaran dan penelitian kampus dengan kebutuhan riil masyarakat. Pendekatan lintas bidang yang diterapkan memungkinkan proses akademik berjalan berdampingan dengan pemberdayaan sosial. Model seperti ini digunakan Universitas Mulia untuk menguji efektivitas pembelajaran berbasis praktik sekaligus menilai dampaknya terhadap masyarakat.

Mahasiswa yang terlibat berperan mendampingi peserta dalam tahap-tahap penerapan teknologi digital, seperti pengaturan konten promosi, analisis unggahan, dan evaluasi jangkauan media. Dengan cara ini, proses belajar mahasiswa menjadi relevan dengan kondisi nyata di lapangan, sementara pelaku UMKM memperoleh dukungan teknis yang sesuai dengan kebutuhan usaha mereka.

Dalam penyampaian materinya, Dr. Linda menyisipkan refleksi singkat yang memantik semangat peserta untuk terus bergerak maju.

“Bukan di mana kita berdiri, tapi ke arah mana kita menuju,” ujarnya.

Dr. Linda, yang merupakan peraih sejumlah beasiswa unggulan nasional — termasuk BUDI-DN LPDP dan Beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik (PPA) — menutup sesinya dengan pesan reflektif:

“Bisnis akan selalu mengajarimu dua hal: kegagalannya memberi pelajaran hidup, keberhasilannya memberi kebahagiaan hidup.”

Lurah Gunung Sari Ulu menyampaikan sambutan pada pembukaan pelatihan pendampingan digital bagi pelaku UMKM, menekankan pentingnya adaptasi teknologi dalam pengembangan usaha lokal.

Ia juga menegaskan makna berproses dalam berwirausaha:

“Bisnis tidak hanya tentang laba, tetapi juga tentang kemampuan untuk belajar dan beradaptasi.”

Kegiatan ini memperlihatkan bagaimana Universitas Mulia menempatkan kerja akademik sebagai sarana penguatan kapasitas masyarakat. Melalui pendampingan yang berbasis pengetahuan dan praktik lapangan, kampus ini terus membangun hubungan yang produktif antara ilmu pengetahuan dan kebutuhan sosial di wilayahnya. (YMN)

Balikpapan, 30 Oktober 2025 — Tiga dosen Universitas Mulia turun langsung mendampingi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kelurahan Gunung Sari Ulu untuk memperkuat kemampuan mereka dalam pemasaran digital. Sekitar lima puluh pelaku usaha mengikuti pelatihan yang dikemas interaktif, memadukan praktik langsung dengan pendampingan mahasiswa di lapangan.

Kegiatan ini menjadi bagian dari program pengabdian masyarakat yang melibatkan dosen lintas disiplin: Dr. Linda Fauziyah Ariyani, S.Pd., M.Pd., Wury Damayantie, S.Farm., M.Farm., dan Muhammad Safi’i, S.Kom., M.Kom. Ketiganya berperan membantu pelaku usaha memahami strategi pemasaran berbasis teknologi, sekaligus memberi pendampingan dalam mengelola media sosial, marketplace, dan konten promosi produk.

Dr. Linda Fauziyah Ariyani, S.Pd., M.Pd. saat menyampaikan materi kepada peserta pelatihan pelaku UMKM di Kelurahan Gunung Sari Ulu, Rabu (29/10

Menurut Dr. Linda Fauziyah Ariyani, sebagian besar pelaku UMKM di Gunung Sari Ulu belum memiliki bekal pengelolaan usaha yang memadai dan masih terbatas dalam penggunaan teknologi.

“Sebagian besar pelaku UMKM belum mengoptimalkan teknologi digital dalam kegiatan usahanya. Mereka perlu dibekali dengan wawasan dan keterampilan terkait pengelolaan usaha di era digital,” jelasnya.

Dari hasil pendampingan, hampir seluruh peserta sebenarnya telah memiliki akun media sosial, namun pemanfaatannya masih sebatas untuk hiburan. Melalui pelatihan ini, peserta belajar menjadikan media sosial sebagai alat pengembangan usaha — mulai dari membangun citra produk, membuat konten video marketing, hingga memahami algoritma promosi di marketplace, Instagram, dan TikTok.

Para peserta menilai pelatihan kali ini berbeda dari kegiatan serupa sebelumnya karena disajikan dengan praktik langsung dan disertai kisah-kisah inspiratif yang membuat suasana belajar lebih hidup.

Pelatihan juga menekankan pendekatan praktis melalui Value Proposition Canvas, sebuah metode yang membantu peserta mengenali kebutuhan konsumen dan menilai keunggulan produk mereka.

“Peserta belajar mengenali masalah konsumen dan menjawabnya melalui inovasi produk, varian, kemasan, layanan, bahkan cara pemasaran. Model ini membuat mereka lebih mudah memahami posisi dan potensi usahanya,” ujar Dr. Linda.

Selama pelatihan, tim dosen menemukan beragam potensi lokal yang dapat dikembangkan lebih jauh melalui strategi digital.

Wury Damayantie, S.Farm., M.Farm. memaparkan strategi branding produk dan pentingnya kemasan menarik bagi pelaku UMKM.

“Ada produk kriya seperti buket bunga dan berbagai jenis makanan yang jika direbranding akan jauh lebih menarik. Lebih dari sepuluh pelaku usaha berhasil membangun mereknya selama pelatihan. Bahkan ada peserta berusia 72 tahun yang masih bersemangat belajar promosi digital,” tambahnya.

Dalam kegiatan ini, mahasiswa Universitas Mulia berperan aktif membantu peserta membuat akun media sosial dan melatih mereka menggunakan platform digital untuk memasarkan produk.

“Mahasiswa sangat senang dilibatkan dalam kegiatan ini. Mereka belajar langsung bagaimana menerapkan teori komunikasi digital untuk membantu masyarakat,” tutur Dr. Linda.

Pelatihan juga difasilitasi dengan pembuatan QRIS bekerja sama dengan Bank Mandiri. Lebih dari sepuluh pelaku usaha berhasil memiliki sistem pembayaran digital yang memudahkan transaksi.

“Digitalisasi keuangan penting karena memudahkan pengelolaan keuangan dan memberi kenyamanan bagi konsumen. QRIS kini menjadi kebutuhan dasar bagi pelaku usaha kecil,” katanya.

Salah seorang mahasiswi Universitas Mulia mendampingi peserta dalam praktik digital marketing, termasuk pembuatan konten promosi untuk media sosial.

Dr. Linda berharap pelaku UMKM yang telah mengikuti pelatihan dapat terus mengembangkan keterampilan digital mereka secara berkelanjutan.

“Saya berharap para pelaku usaha tetap konsisten berproduksi dan memanfaatkan platform digital untuk memperluas pasar mereka,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya keberlanjutan program serupa sebagai bagian dari tanggung jawab institusi terhadap masyarakat.

“Kegiatan ini merupakan inisiatif mitra. Ke depan, saya berharap Universitas Mulia dapat menginisiasi program serupa dengan dukungan yang lebih luas, sebagai wujud kontribusi kampus terhadap penguatan ekonomi masyarakat sekitar,” pungkasnya.

Melalui pelatihan ini, Universitas Mulia menegaskan perannya sebagai kampus yang aktif dan berorientasi pada solusi, menghadirkan dosen dan mahasiswa yang tidak berhenti di ruang akademik, tetapi hadir di tengah masyarakat untuk memberi dampak nyata bagi penguatan ekonomi lokal di era digital. (YMN)

 

Balikpapan, 28 Oktober 2025— Universitas Mulia memperluas peran akademiknya dalam penguatan kapasitas etika dan profesionalisme aparatur kepolisian. Melalui keterlibatan Wakil Rektor Bidang Sumber Daya, Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I., sebagai salah satu narasumber pada Post Assessment Center Polda Kalimantan Timur Tahun Anggaran 2025, universitas ini berkontribusi dalam memperkuat budaya integritas di lingkungan Biro Sumber Daya Manusia (SDM) Polda Kaltim. Kegiatan berlangsung di Hotel Grand Jatra Balikpapan, Kamis (23/10).

Dalam sesi bertema “Peningkatan Kompetensi Integritas Polri dan Komitmen terhadap Organisasi Polri,” Universitas Mulia menampilkan kekuatan akademik melalui pendekatan konseptual dan etis terhadap pembangunan karakter institusi kepolisian. Yusuf Wibisono menyampaikan bahwa profesionalisme dalam pelayanan publik harus berakar pada kesadaran moral, bukan semata pada kepatuhan administratif.

“Integritas bukan slogan institusi, melainkan napas kepercayaan publik,” ujarnya. Ia menekankan bahwa di era keterbukaan digital, setiap tindakan aparat dapat direkam dan dinilai masyarakat, sehingga penguatan karakter menjadi syarat utama bagi keberlangsungan kepercayaan publik terhadap Polri.

Para narasumber dan peserta Post Assessment Center Polda Kalimantan Timur Tahun Anggaran 2025 berfoto bersama usai sesi pembekalan di Hotel Grand Jatra Balikpapan.

Integritas dan Literasi Digital Sebagai Pilar Reputasi Institusi

Dalam pemaparannya, Wibisono memperkenalkan konsep Emotional Bank Account (EBA), sebuah metafora tentang “tabungan kepercayaan” antara Polri dan masyarakat. Ia menjelaskan bahwa sikap sopan, pelayanan yang adil, dan empati merupakan setoran positif bagi kepercayaan publik, sedangkan penyalahgunaan wewenang atau perilaku arogan menjadi penarikan besar yang menggerus legitimasi moral institusi.

“Di era digital, kehormatan kita tidak hanya dijaga di kantor, tetapi juga di layar ponsel keluarga,” tegasnya. Ia menilai bahwa edukasi digital bagi keluarga anggota Polri merupakan langkah penting dalam menjaga marwah dan kredibilitas lembaga penegak hukum.

Perspektif tersebut sejalan dengan arah pengembangan Universitas Mulia yang menempatkan literasi digital dan etika komunikasi publik sebagai bagian dari pengabdian intelektual. Melalui riset dan pelatihan yang dirancang berbasis kebutuhan sosial, Universitas Mulia terus membangun jembatan antara pengetahuan akademik dan praktik profesional di lapangan.

Refleksi Moral dan Tanggung Jawab Sosial

Dalam bagian lain, Yusuf Wibisono menyoroti prinsip Begin with the End in Mind dari Stephen R. Covey sebagai kerangka berpikir etis dalam pengambilan keputusan. Ia menjelaskan bahwa setiap tindakan anggota Polri harus diarahkan pada tujuan akhir pengabdian, yaitu menjaga rasa aman masyarakat dan martabat institusi hukum.

Begin with the End in Mind berarti bekerja dengan kesadaran moral yang jelas. Polri yang berintegritas adalah Polri yang tahu mengapa ia berdiri dan untuk siapa ia mengabdi,” tuturnya.

Ia juga menggarisbawahi bahwa rasa aman publik tumbuh bukan karena teknologi pengawasan, melainkan karena kedekatan sosial yang dibangun aparat di tengah masyarakat. “Kadang masyarakat merasa aman bukan karena kamera pengawas, tetapi karena tahu tetangganya seorang anggota polisi yang peduli. Itulah bentuk integritas yang hidup,” ujarnya.

Kolaborasi Akademik dan Penguatan Institusi Negara

Kegiatan ini dibuka oleh Karo SDM Polda Kaltim Kombes Pol Dr. Irvan Prawira Satyaputra, S.I.K., M.Si., dan dihadiri oleh para pejabat di lingkungan Biro SDM. Dalam sambutannya, Kombes Irvan menyampaikan bahwa kegiatan Post Assessment Center menjadi sarana pembinaan dan pengembangan karier agar setiap personel dapat bekerja dengan kompeten, profesional, dan berintegritas.

Para narasumber menerima cendera mata berupa plakat penghargaan dari Biro SDM Polda Kalimantan Timur sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi dalam kegiatan pembekalan integritas dan komitmen organisasi Polri.

Selain Universitas Mulia, kegiatan ini turut menghadirkan narasumber dari PT Pertamina, HIMPSI, dan Bank BRI. Keempat lembaga tersebut memberikan kontribusi lintas bidang untuk memperkuat aspek kepemimpinan, motivasi, dan etika kerja di lingkungan Polri.

Keterlibatan Universitas Mulia dalam forum strategis ini mencerminkan kapasitas perguruan tinggi untuk berperan aktif dalam penguatan kelembagaan publik. Melalui kolaborasi akademik dan pendekatan berbasis nilai, Universitas Mulia membuktikan bahwa institusi pendidikan tinggi dapat menjadi mitra penting dalam membangun budaya kerja yang berintegritas dan berorientasi pada pelayanan publik.

Integritas Sebagai Keputusan Harian

Menutup sesi pembekalan, Yusuf Wibisono menegaskan bahwa integritas adalah proses yang menuntut konsistensi dan ketulusan. “Integritas adalah keputusan harian, keputusan untuk tetap jujur, tetap melayani, dan tetap peduli, bahkan ketika tidak ada yang melihat,” ungkapnya.

Partisipasi Universitas Mulia dalam kegiatan ini mempertegas posisi kampus sebagai pusat pengembangan intelektual yang berkomitmen pada pendidikan karakter dan penguatan moral publik. Melalui sinergi antara dunia akademik dan lembaga negara, Universitas Mulia terus mengukuhkan diri sebagai kampus yang aktif, inovatif, dan diisi oleh sumber daya manusia berkualitas yang berkontribusi nyata bagi kemajuan bangsa. (YMN)

Balikpapan, 14 Oktober 2025 – Universitas Mulia menggelar Kuliah Umum Pasar Modal 2025 dengan tema “Investasi Cerdas, Masa Depan Berkualitas: Menumbuhkan Minat dan Pengetahuan Pasar Saham di Kalangan Mahasiswa Universitas Mulia”, Selasa (14/10/2025) pagi, bertempat di Ballroom Cheng Hoo Universitas Mulia.

Kegiatan ini diawali dengan pelantikan Kelompok Studi Pasar Modal (KSPM) Universitas Mulia periode 2025–2026, kemudian dilanjutkan dengan kuliah umum menghadirkan dua narasumber dari dunia pasar modal, yakni Aldila Bandaro, Deputi Kepala Wilayah Bursa Efek Indonesia Kalimantan Timur, dan Surya Darma Hakim, PIC PT MNC Sekuritas Balikpapan.

Mewakili Rektor, Wakil Rektor Bidang Sumber Daya, Wibisono Wibisono, S.E., M.T.I., dalam sambutannya menekankan pentingnya memanfaatkan kemudahan teknologi di era digital secara bijak dan produktif. Ia mengajak mahasiswa untuk bersyukur karena hidup di masa yang penuh kemudahan, di mana akses informasi dan peluang belajar terbuka sangat luas.

“Mahasiswa hari ini hidup di era dengan banyak kemudahan. Dulu, mahasiswa tahun 80-an harus mengetik skripsi dengan mesin ketik. Era 90-an sudah mulai menggunakan komputer. Tahun 1996, internet baru masuk Kalimantan Timur, dan Balikpapan adalah kota pertama yang memiliki ISP. Sekarang, cukup buka ponsel, semuanya bisa diakses dengan mudah,” tutur Wibisono.

Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Universitas Mulia, Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I., saat memberikan sambutan pada kegiatan Kuliah Umum Pasar Modal 2025 di Ballroom Cheng Hoo, Selasa (14/10).

Beliau kemudian menelusuri perjalanan generasi akademik dari masa ke masa — mulai dari era mesin ketik, kemunculan komputer dan internet, hadirnya mesin pencari seperti Yahoo dan Google, hingga kini memasuki era Artificial Intelligence (AI).

“Kalau dulu search engine hanya membantu mencari informasi, kini AI bisa membantu berpikir dan bahkan mengambil keputusan. Tapi ini pisau bermata dua — bisa meningkatkan kecerdasan mahasiswa, tapi juga bisa menurunkannya jika disalahgunakan. AI bisa mematikan kreativitas kalau mahasiswa terlalu bergantung padanya,” tegasnya.

Menurutnya, kemajuan teknologi seharusnya tidak membuat mahasiswa malas berpikir, melainkan menjadi alat bantu untuk meningkatkan daya nalar, kreativitas, dan efisiensi belajar.

Memasuki pembahasan inti, Wibisono mengaitkan tema kuliah umum dengan realitas ekonomi digital saat ini. Ia menjelaskan bahwa aktivitas perdagangan saham di pasar modal sejatinya merupakan bentuk modern dari kegiatan berdagang tradisional, hanya saja dilakukan melalui teknologi.

“Dulu berdagang itu harus punya tempat, menata barang, mengangkut dagangan. Sekarang, cukup di depan komputer sudah bisa stock trading. Ini bukan judi, karena bukan menebak angka. Ini sama seperti berdagang di pasar — memilih mana yang memberi keuntungan terbaik,” jelasnya.

Sebagai contoh menarik, Wibisono menuturkan logika sederhana agar mahasiswa lebih memahami makna kepemilikan saham.

“Kalau kalian setiap hari pakai pasta gigi Pepsodent, berarti kalian menggunakan produk Unilever. Bayangkan kalau kalian punya saham Unilever, itu artinya kalian memakai produk dari perusahaan kalian sendiri,” ujarnya disambut tawa dan tepuk tangan peserta.

Melalui contoh tersebut, Wibisono ingin menanamkan kesadaran bahwa investasi bukan sekadar mencari keuntungan, tetapi juga bentuk partisipasi dalam ekosistem ekonomi yang produktif. Ia mendorong mahasiswa untuk belajar berinvestasi sejak dini dengan disiplin dan konsisten.

“Belajarlah dari skala kecil. Kalau kalian bisa konsisten profit 2% per hari, dari modal 1 juta itu hanya 20 ribu. Tapi kalau nanti modal kalian 100 juta, hasilnya bisa 2 juta per hari. Yang penting adalah belajar dengan baik dan konsisten,” pesan beliau.

Kegiatan ini dihadiri oleh pimpinan fakultas, dosen, serta ratusan mahasiswa dari Program Studi Akuntansi dan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mulia. Melalui kegiatan ini, diharapkan mahasiswa mampu memahami dunia pasar modal secara lebih mendalam dan menumbuhkan budaya investasi yang cerdas, etis, dan produktif. (YMN)