Balikpapan, 5 Juni 2026 – Puluhan mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Mulia mengunjungi Koperasi Wanita Patra yang berlokasi di Jalan Sport, Kelurahan Prapatan, Kecamatan Balikpapan Kota, Jumat (5/6). Kegiatan yang dilaksanakan bersama Career Development Center (CDC) Universitas Mulia tersebut menjadi bagian dari upaya mempertemukan mahasiswa dengan praktik tata kelola organisasi dan bisnis yang berlangsung secara nyata di lapangan.

Kunjungan ini memiliki arti penting karena dilakukan di tengah komitmen Program Studi Manajemen Universitas Mulia untuk mendorong lahirnya koperasi mahasiswa sebagai laboratorium bisnis modern. Melalui interaksi langsung dengan pengelola koperasi, mahasiswa memperoleh gambaran mengenai bagaimana tata kelola organisasi, pelayanan anggota, pengelolaan keuangan, hingga pengembangan usaha dijalankan secara profesional.

Rombongan Universitas Mulia diterima langsung oleh Ketua Koperasi Wanita Patra, Pramadha Wardhani, bersama Manajer Koperasi Wanita Patra, Rusli Usman. Dalam sesi pemaparan dan diskusi, mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk mempelajari perjalanan koperasi, model pengelolaan usaha, serta strategi yang diterapkan dalam menjaga keberlanjutan organisasi dan pelayanan kepada anggota.

Bagi Kepala Career Development Center Universitas Mulia, Dr. Linda Fauziyah Ariyani, S.Pd., M.Pd., pengalaman belajar langsung di lapangan menjadi bagian penting dalam mempersiapkan mahasiswa menghadapi dunia kerja yang semakin dinamis.

Menurutnya, perusahaan saat ini tidak hanya membutuhkan lulusan yang menguasai teori, tetapi juga individu yang memahami bagaimana organisasi bekerja, bagaimana keputusan bisnis diambil, dan bagaimana sebuah lembaga mampu menciptakan nilai bagi para pemangku kepentingannya.

“Koperasi Pertamina menjadi contoh yang sangat baik karena tidak hanya menjalankan fungsi ekonomi, tetapi juga mengelola tata kelola organisasi, pelayanan, keuangan, dan pengembangan usaha secara profesional,” ujarnya.

Mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Mulia mengamati berbagai produk dan merchandise yang dikelola Koperasi Wanita Patra. Melalui observasi langsung ini, mahasiswa mempelajari bagaimana koperasi mengembangkan produk, melayani kebutuhan anggota, serta membangun unit usaha yang berkelanjutan.

Melalui kunjungan tersebut, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan baru mengenai dunia koperasi, tetapi juga menyaksikan secara langsung bagaimana berbagai konsep manajemen yang dipelajari selama perkuliahan diterapkan dalam aktivitas organisasi dan bisnis sehari-hari.

Dalam sesi berbagi pengalaman, Rusli Usman menjelaskan bahwa koperasi pada hakikatnya hadir untuk memberikan manfaat yang seluas-luasnya bagi anggota dan masyarakat. Menurutnya, keberhasilan koperasi tidak hanya diukur dari kemampuan menghasilkan keuntungan, tetapi juga dari kemampuannya menjawab kebutuhan nyata para anggotanya.

Ia juga memberikan pandangan terkait rencana pengembangan koperasi mahasiswa di lingkungan Universitas Mulia. Menurutnya, koperasi yang dibangun di lingkungan kampus harus mampu membaca kebutuhan mahasiswa sebagai pasar utama sekaligus anggota koperasi.

“Ketika membuka koperasi di kampus, sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan dan pangsa pasar di kampus itu sendiri,” ujar Rusli.

Pandangan tersebut menjadi pelajaran penting bagi mahasiswa karena menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah usaha tidak hanya ditentukan oleh semangat berorganisasi, tetapi juga oleh kemampuan memahami kebutuhan konsumen dan menghadirkan solusi yang relevan.

Linda menjelaskan bahwa ekosistem koperasi yang dikelola secara profesional merupakan ruang belajar yang kaya akan pengalaman praktis. Mahasiswa dapat mengamati bagaimana proses kepemimpinan berjalan, bagaimana tim bekerja sama mencapai tujuan organisasi, serta bagaimana keputusan diambil untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang muncul dalam operasional usaha.

Manajer Koperasi Wanita Patra Rusli Usman (tengah) berfoto bersama Kepala Career Development Center Universitas Mulia Dr. Linda Fauziyah Ariyani, S.Pd., M.Pd. (kanan), Kepala Program Studi Manajemen Dr. Pudjiati (kiri), serta jajaran pengurus koperasi usai sesi diskusi dan berbagi pengalaman mengenai tata kelola koperasi profesional.

Selain itu, mahasiswa juga dapat belajar mengenai integritas, tanggung jawab, serta orientasi pelayanan yang menjadi fondasi penting dalam membangun organisasi yang sehat dan berkelanjutan.

“Kompetensi-kompetensi inilah yang saat ini menjadi nilai tambah utama bagi lulusan ketika bersaing di dunia kerja,” katanya.

Namun, menurut Linda, manfaat kunjungan industri tidak akan optimal apabila berhenti pada tahap observasi semata. Karena itu, Career Development Center mendorong mahasiswa untuk melakukan refleksi terhadap pengalaman yang diperoleh selama kegiatan berlangsung.

Mahasiswa diharapkan mampu mengidentifikasi kompetensi yang dibutuhkan industri, menemukan ruang pengembangan diri, serta mengadopsi praktik-praktik baik yang dapat diterapkan dalam organisasi kemahasiswaan maupun aktivitas kewirausahaan.

Ke depan, pengalaman lapangan seperti ini akan terus diintegrasikan dengan berbagai program pengembangan karier lainnya, mulai dari pelatihan kesiapan kerja, magang, mentoring karier, hingga penguatan keterampilan nonteknis yang dibutuhkan dunia profesional.

Sementara itu, Kepala Program Studi Manajemen Universitas Mulia, Dr. Pudjiati, melihat kunjungan ke Koperasi Wanita Patra sebagai kesempatan bagi mahasiswa untuk memahami bahwa keberhasilan sebuah koperasi tidak hanya dibangun oleh semangat organisasi, tetapi juga ditentukan oleh kualitas tata kelola dan profesionalisme pengelolaannya.

Ia menjelaskan bahwa salah satu praktik yang paling relevan untuk diadopsi dalam pengembangan koperasi mahasiswa Universitas Mulia adalah tata kelola yang profesional, pengelolaan usaha yang berorientasi pada kebutuhan anggota, serta pemanfaatan teknologi digital dalam operasional dan pelayanan.

Pengurus Koperasi Wanita Patra menyampaikan materi dalam sesi sharing bersama mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Mulia. Mahasiswa tampak antusias menyimak penjelasan mengenai pengelolaan organisasi, pelayanan anggota, dan strategi pengembangan usaha koperasi.

Selain itu, budaya kewirausahaan juga menjadi aspek penting yang perlu ditanamkan sejak dini agar mahasiswa tidak hanya menjadi anggota koperasi, tetapi juga mampu belajar mengelola bisnis secara langsung.

“Dengan pendekatan tersebut, koperasi mahasiswa dapat berkembang menjadi laboratorium bisnis yang profesional, inovatif, dan berkelanjutan,” jelasnya.

Menurut Dr. Pudjiati, pengalaman yang diperoleh mahasiswa selama kunjungan memberikan perspektif baru mengenai peran koperasi di era modern. Koperasi tidak lagi dapat dipandang hanya sebagai organisasi administratif, melainkan sebagai badan usaha yang mampu tumbuh secara profesional, kompetitif, dan adaptif terhadap perubahan zaman.

Perhatian mahasiswa tertuju pada pemaparan pengurus Koperasi Wanita Patra yang membagikan pengalaman membangun dan mengembangkan usaha koperasi. Bagi peserta, sesi ini menjadi kesempatan untuk melihat bagaimana prinsip-prinsip manajemen diterapkan dalam praktik sehari-hari.

Melalui pengamatan langsung terhadap praktik pengelolaan koperasi, mahasiswa dapat melihat bagaimana perencanaan bisnis dilakukan, bagaimana keputusan strategis diambil, bagaimana keuangan dikelola, serta bagaimana pelayanan kepada anggota menjadi bagian penting dari keberhasilan organisasi.

“Pengalaman seperti ini memberikan pembelajaran praktis yang sering kali tidak diperoleh secara utuh di ruang kelas, sekaligus membentuk jiwa kepemimpinan, integritas, dan kewirausahaan yang dibutuhkan di dunia kerja maupun bisnis,” ungkapnya.

Komitmen pengembangan koperasi mahasiswa sendiri menjadi salah satu agenda strategis Program Studi Manajemen Universitas Mulia. Dalam lima tahun ke depan, koperasi mahasiswa diharapkan berkembang menjadi wadah yang tidak hanya aktif secara organisasi, tetapi juga mampu mengelola unit usaha yang berkelanjutan, memanfaatkan teknologi digital, dan menjadi sarana pengembangan kepemimpinan mahasiswa.

Bagi Dr. Pudjiati, koperasi justru memiliki peluang besar untuk tetap relevan di tengah maraknya startup digital dan model bisnis berbasis teknologi. Menurutnya, koperasi menawarkan nilai yang berbeda karena memadukan aktivitas ekonomi dengan semangat kolaborasi dan pemberdayaan bersama.

Jika dikelola secara modern, koperasi dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan inovasi, membangun jejaring, sekaligus menciptakan peluang ekonomi secara kolektif.

“Justru di era saat ini, koperasi dapat menjadi model bisnis masa depan yang mengedepankan keberlanjutan, kebersamaan, dan kesejahteraan anggota, sekaligus tetap kompetitif dalam menghadapi perubahan ekonomi digital,” tegasnya.

Melalui kunjungan ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh wawasan mengenai tata kelola koperasi profesional, tetapi juga mendapatkan pelajaran penting tentang bagaimana membangun usaha yang relevan dengan kebutuhan pasar. Bagi Universitas Mulia, pengalaman tersebut menjadi bagian dari upaya mempersiapkan mahasiswa agar tidak hanya siap memasuki dunia kerja, tetapi juga mampu menciptakan peluang usaha yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Kami percaya bahwa karier yang hebat tidak dibangun hanya di ruang kelas. Karier yang hebat dibangun melalui pengalaman, kolaborasi, dan keberanian untuk terus belajar dari dunia nyata,” pungkas Dr. Linda. (YMN)

Balikpapam, 25 Mei 2026— Aroma kopi dan percakapan tentang usaha memenuhi ruangan Koperasi Hitam Manis ketika mahasiswa kelas MAN6J Universitas Mulia mulai mendengarkan cerita tentang bagaimana sebuah usaha lokal bertahan menghadapi perubahan pasar. Bukan kisah tentang perusahaan raksasa atau bisnis bernilai miliaran rupiah, melainkan perjalanan usaha yang tumbuh perlahan dari Balikpapan hingga akhirnya membuka cabang di Samarinda dan Yogyakarta.

Di tempat itu, mahasiswa tidak hanya melihat sebuah merek yang berkembang, tetapi juga membaca proses panjang di baliknya—tentang keputusan bisnis, keberanian mengambil risiko, menjaga kualitas, hingga menghadapi masa-masa ketika usaha harus tetap berjalan di tengah tekanan persaingan.

Kegiatan studi lapangan mata kuliah Manajemen Koperasi dan UMKM tersebut difasilitasi oleh Career Development Center (CDC) Universitas Mulia sebagai bagian dari upaya mempertemukan mahasiswa dengan praktik kewirausahaan secara langsung. Dalam sesi diskusi bersama pengelola Hitam Manis, mahasiswa diperlihatkan bahwa pertumbuhan usaha tidak hanya ditentukan oleh ide bisnis, tetapi juga oleh kemampuan menjaga konsistensi pengelolaan usaha dari waktu ke waktu.

Mahasiswa Universitas Mulia mengikuti sesi diskusi bersama pengelola Kopi Hitam Manis untuk mempelajari pengelolaan UMKM, pengembangan usaha, dan tantangan mempertahankan bisnis lokal di tengah persaingan pasar.

Dr. Linda Fauziah, Kepala Career Development Center Universitas Mulia, menjelaskan bahwa perjalanan usaha seperti Hitam Manis penting dipelajari mahasiswa karena memperlihatkan bahwa inovasi usaha dapat tumbuh dari daerah seperti Balikpapan dan berkembang ke kota-kota lain.

“Dari daerah seperti Balikpapan pun inovasi bisa terus bertumbuh bahkan sampai merambah ke kota-kota lain,” ujarnya.

Menurutnya, pengalaman tersebut diharapkan dapat memberi motivasi kepada mahasiswa bahwa peluang membangun usaha tetap terbuka, termasuk dari lingkungan lokal yang selama ini dekat dengan kehidupan mereka sendiri.

Dalam kegiatan itu, mahasiswa juga mempelajari berbagai tantangan yang dihadapi pelaku UMKM, mulai dari pengelolaan operasional hingga menjaga keberlanjutan usaha. CDC Universitas Mulia menilai mahasiswa perlu memahami bahwa keberhasilan usaha tidak hanya terlihat dari tampilan bisnis yang berkembang, tetapi juga dari proses panjang yang dijalani pelaku usaha dalam mempertahankan bisnisnya.

Mahasiswa Universitas Mulia bersama Dr. Linda Fauziah selaku Kepala Career Development Center Universitas Mulia dan pengelola Kopi Hitam Manis usai kegiatan studi lapangan mata kuliah Manajemen Koperasi dan UMKM.

“Mahasiswa perlu mengetahui perjuangan besar dan mental wirausaha yang terus dibangun oleh pemiliknya,” kata Dr. Linda.

Diskusi tersebut juga membahas kecenderungan generasi muda yang saat ini lebih banyak tertarik pada bisnis berbasis teknologi dan startup digital. Meski demikian, usaha berbasis UMKM tetap dipandang memiliki posisi penting karena mampu menyerap lebih banyak tenaga kerja dan lebih dekat dengan aktivitas ekonomi masyarakat sehari-hari.

Bagi Universitas Mulia, memperkenalkan mahasiswa pada usaha lokal seperti Hitam Manis menjadi bagian dari upaya memperluas cara pandang mereka terhadap dunia usaha. Mahasiswa diajak memahami bahwa bisnis tidak selalu harus dimulai dari skala besar atau teknologi tinggi, tetapi juga dapat berkembang melalui kemampuan menjaga kualitas, memahami pasar, dan membangun hubungan dengan konsumen.

Karena itu, studi lapangan semacam ini tidak ditempatkan sekadar sebagai pelengkap pembelajaran di kelas. CDC Universitas Mulia memaknainya sebagai ruang pembelajaran yang memperlihatkan secara langsung bagaimana pelaku usaha menghadapi risiko, menjaga konsistensi usaha, dan terus menyesuaikan diri dengan perkembangan pasar.

Melalui kunjungan ke Koperasi Hitam Manis, mahasiswa Universitas Mulia tidak hanya belajar tentang UMKM, tetapi juga melihat bagaimana sebuah usaha lokal dapat berkembang secara bertahap hingga memperluas jangkauan usahanya ke berbagai kota. (YMN)

 

Balikpapan, 25 Mei 2026—Ketika banyak percakapan bisnis di ruang kuliah lebih akrab dengan startup dan perusahaan besar, mahasiswa kelas MAN6A Universitas Mulia justru diajak masuk ke ruang ekonomi yang tumbuh dari kerja kolektif: koperasi. Melalui kunjungan lapangan ke Koperasi Mulawarman, mahasiswa tidak hanya mempelajari struktur kelembagaan koperasi sekunder, tetapi juga melihat bagaimana sistem tersebut bekerja melalui jaringan usaha, relasi antaranggota, dan keterhubungannya dengan aktivitas UMKM di masyarakat.

Kunjungan yang difasilitasi Career Development Center (CDC) Universitas Mulia itu disambut langsung oleh Ketua Umum Koperasi Mulawarman, Kolonel Inf. Cecep Agus Boediono. Dalam forum diskusi yang berlangsung terbuka, mahasiswa diajak memahami bagaimana koperasi menjalankan fungsi ekonomi yang berbeda dibanding perusahaan konvensional yang selama ini lebih sering mereka temui dalam pembelajaran bisnis.

Bagi sebagian mahasiswa, koperasi mungkin hanya dikenal sebagai bentuk badan usaha yang dibahas dalam teori manajemen atau ekonomi kerakyatan. Namun di Koperasi Mulawarman, mereka melihat bahwa koperasi memiliki mekanisme operasional, pola tata kelola, dan pengaruh ekonomi yang nyata terhadap usaha-usaha kecil di sekitarnya.

Dr. Linda Fauziah, Kepala Career Development Center Universitas Mulia, menjelaskan bahwa pengenalan terhadap koperasi menjadi penting karena mahasiswa perlu memahami kembali bagaimana model usaha berbasis kolektif tetap memiliki ruang dalam struktur ekonomi hari ini. Apalagi pemerintah saat ini kembali mendorong penguatan koperasi desa melalui program Koperasi Merah Putih.

“Mahasiswa perlu diperkuat wawasannya secara langsung terkait operasional kegiatan koperasi,” ujarnya.

Selama kunjungan berlangsung, mahasiswa juga berkesempatan melihat aktivitas beberapa outlet mitra Koperasi Mulawarman. Dari pengamatan tersebut, mahasiswa mempelajari bagaimana koperasi dapat terhubung dengan pelaku UMKM dan membentuk perputaran ekonomi yang tidak selalu terlihat dari luar.

Mahasiswa Universitas Mulia bersama Kepala Career Development Center Universitas Mulia, Dr. Linda Fauziah, dan pimpinan Koperasi Mulawarman berfoto di depan gedung Koperasi Mulawarman usai kegiatan studi lapangan mengenai pengelolaan koperasi, penguatan UMKM, dan ekonomi berbasis kolaborasi.

Pengalaman lapangan seperti ini memberi dimensi pembelajaran yang berbeda dibanding ruang kelas. Mahasiswa tidak hanya membaca konsep pengelolaan koperasi dari buku ajar, tetapi melihat bagaimana keputusan operasional, hubungan kemitraan, dan aktivitas usaha berjalan dalam praktik sehari-hari.

Dalam diskusi tersebut, mahasiswa juga diperkenalkan pada karakter koperasi sekunder yang menaungi sejumlah koperasi primer di bawahnya. Struktur seperti ini memperlihatkan bahwa pengaruh koperasi tidak selalu hadir secara langsung di tingkat masyarakat, tetapi bekerja melalui jejaring kelembagaan yang saling terhubung.

Menurut Dr. Linda, pemahaman mengenai koperasi penting agar mahasiswa tidak tumbuh dengan perspektif usaha yang terlalu sempit. Selama ini, bentuk badan usaha seperti PT atau CV lebih akrab di kalangan mahasiswa, sementara koperasi kerap dipandang sebagai sistem ekonomi lama yang kurang relevan dengan perkembangan bisnis modern.

Padahal, melalui koperasi, mahasiswa dapat melihat bagaimana usaha dibangun melalui prinsip kolaborasi, distribusi manfaat, dan keterlibatan anggota secara bersama. Karena itu, CDC Universitas Mulia juga mendorong mahasiswa untuk memahami jalur kemandirian ekonomi melalui berbagai bentuk usaha, termasuk model berbasis koperasi.

Bagi CDC, forum semacam ini tidak berhenti sebagai agenda studi lapangan akademik. Yang sedang dibangun adalah cara pandang mahasiswa terhadap kemungkinan ekonomi yang lebih luas—bahwa aktivitas usaha tidak selalu bertumpu pada kepemilikan individual atau modal besar, tetapi juga dapat tumbuh melalui struktur kolektif yang mampu menopang banyak pihak sekaligus.

Melalui kunjungan ke Koperasi Mulawarman, mahasiswa Universitas Mulia tidak hanya belajar tentang tata kelola lembaga. Mereka juga melihat bagaimana kerja sama, jaringan usaha, dan keberlanjutan ekonomi dijalankan dalam bentuk yang tetap hidup di tengah perubahan pola bisnis masyarakat hari ini. (YMN)

 

Balikpapan, 7 Mei 2026—Deretan kendaraan yang keluar masuk area layanan Daihatsu Balikpapan pada 7 Mei 2026 menjadi pemandangan yang berbeda bagi mahasiswa kelas MAN4C Universitas Mulia. Di tempat itu, mereka tidak hanya melihat aktivitas bengkel otomotif, tetapi juga menyaksikan bagaimana sebuah industri membangun ritme pelayanan, menjaga kepercayaan pelanggan, dan menyesuaikan diri dengan perubahan teknologi yang terus bergerak.

Kunjungan industri yang difasilitasi Career Development Center (CDC) Universitas Mulia tersebut membawa mahasiswa berkeliling ke berbagai area layanan Daihatsu Balikpapan. Dari ruang operasional hingga pelayanan pelanggan, mahasiswa diperlihatkan bahwa industri otomotif modern tidak lagi semata berbicara tentang kendaraan, melainkan tentang bagaimana teknologi, manajemen layanan, dan pengalaman konsumen saling terhubung dalam satu sistem bisnis.

Bagi Universitas Mulia, kunjungan ke industri otomotif memiliki makna yang lebih luas dibanding sekadar observasi lapangan. Sebagai perguruan tinggi yang lahir dari basis ilmu teknologi di Balikpapan, kampus dinilai perlu menjaga lingkungan pembelajaran yang terus peka terhadap perubahan teknologi dan perkembangan industri.

Dr. Linda Fauziah, Kepala Career Development Center Universitas Mulia, menjelaskan bahwa Daihatsu dipilih karena dipandang sebagai perusahaan yang mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi secara konsisten. Menurutnya, keberadaan perusahaan otomotif asal Jepang yang telah bertahan lebih dari enam dekade di Indonesia menjadi contoh penting tentang bagaimana industri menjaga relevansi di tengah perubahan zaman.

Di hadapan mahasiswa, konsep inovasi juga diperlihatkan dalam bentuk yang lebih luas. Selama ini, inovasi sering dipahami sebatas penciptaan produk baru. Padahal, di dunia industri modern, inovasi justru banyak hadir melalui sistem pelayanan, pengelolaan operasional, hingga bagaimana perusahaan membangun pengalaman pelanggan.

Karena itu, mahasiswa tidak hanya diajak melihat kendaraan atau proses teknis bengkel, tetapi juga mempelajari bagaimana layanan dibangun sebagai bagian dari strategi bisnis. Dari pola komunikasi dengan konsumen hingga pengelolaan area layanan, mahasiswa diperlihatkan bahwa pengalaman pelanggan menjadi bagian penting dari daya saing industri.

Menurut Dr. Linda, pembelajaran seperti ini penting karena mahasiswa perlu memahami aplikasi nyata dari teori yang dipelajari di ruang kuliah. Dunia kerja modern tidak hanya membutuhkan kemampuan teknis, tetapi juga kemampuan membaca perubahan dan memahami budaya profesional yang berkembang di lingkungan industri.

“Pembelajaran mendalam dan kontekstual perlu terus dihadirkan untuk meningkatkan mutu lulusan,” ujarnya.

Mahasiswa Universitas Mulia bersama Dr. Linda Fauziah selaku Kepala Career Development Center Universitas Mulia dan pimpinan Daihatsu Balikpapan usai kegiatan kunjungan industri yang membahas inovasi layanan, budaya kerja profesional, dan dinamika industri otomotif modern.

Pandangan tersebut berkaitan dengan kebutuhan dunia kerja yang semakin dinamis. Perusahaan tidak lagi hanya mencari individu yang menguasai teori, tetapi juga mereka yang mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi, ritme operasional, dan pola pelayanan yang terus berkembang.

Bagi CDC Universitas Mulia, kunjungan industri menjadi salah satu cara untuk mempertemukan proses akademik dengan realitas profesional secara lebih langsung. Melalui interaksi di lapangan, kampus dapat membaca kebutuhan industri secara lebih konkret, termasuk kompetensi seperti apa yang dibutuhkan perusahaan terhadap calon tenaga kerja di masa mendatang.

Di titik inilah kunjungan ke Daihatsu Balikpapan memperoleh maknanya yang lebih mendalam. Mahasiswa tidak sekadar datang melihat industri otomotif, tetapi belajar memahami bagaimana sebuah perusahaan bertahan melalui kemampuan beradaptasi, menjaga kualitas layanan, dan terus membaca perubahan yang terjadi di sekitarnya.

Bagi mahasiswa, pengalaman tersebut mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Namun bagi Universitas Mulia, pengalaman lapangan seperti ini merupakan bagian dari upaya membangun lulusan yang tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki kepekaan terhadap dunia profesional yang terus berubah. (YMN)

 

Balikpapan, 8 Mei 2026—Di balik produk air mineral yang sehari-hari terlihat sederhana di rak konsumsi, terdapat rangkaian operasional bisnis yang kompleks. Hal itulah yang dipelajari mahasiswa kelas MAN4A Universitas Mulia saat melakukan kunjungan industri ke DC Balikpapan pada Jumat, 8 Mei 2026.

Bagi sebagian mahasiswa, kunjungan tersebut menjadi pengalaman pertama melihat secara langsung ritme kerja industri manufaktur. Balikpapan sendiri tidak memiliki banyak industri manufaktur berskala besar seperti kota-kota industri di Pulau Jawa. Karena itu, kesempatan memasuki lingkungan operasional perusahaan menjadi pengalaman yang tidak mudah diperoleh dari ruang kelas semata.

Career Development Center (CDC) Universitas Mulia memandang pengalaman lapangan seperti ini sebagai bagian penting dari pembelajaran mendalam mahasiswa. Menurut Dr. Linda Fauziah, Kepala Career Development Center Universitas Mulia, interaksi langsung dengan industri memberi dimensi pembelajaran yang berbeda dibanding pendekatan teoritis yang selama ini dominan di kelas.

Kepala CDC UM, Dr. Linda Fauziah menerima penghargaan dari pihak DC Balikpapan sebagai bentuk apresiasi atas kunjungan industri dan penguatan kolaborasi pembelajaran antara dunia kampus dan industri manufaktur.

“Industri manufaktur di Balikpapan sangat terbatas dibanding di Jawa. Karena itu, pengalaman seperti ini menjadi sangat berharga bagi mahasiswa,” ujarnya.

Dalam kunjungan tersebut, mahasiswa tidak hanya melihat proses produksi air mineral, tetapi juga diperkenalkan pada bagaimana perusahaan mengelola rantai pasok serta mempertahankan keberlanjutan bisnis melalui diversifikasi produk. Pembahasan mengenai supply chain menjadi salah satu titik penting karena mahasiswa diajak memahami bahwa produk konsumsi yang terlihat sederhana sesungguhnya bergantung pada sistem distribusi dan pengelolaan operasional yang kompleks.

Menurut Dr. Linda, pemahaman mengenai manajemen rantai pasok menjadi semakin penting bagi mahasiswa yang akan memasuki dunia profesional. Industri modern tidak lagi hanya membutuhkan tenaga kerja yang memahami produk, tetapi juga individu yang mampu membaca hubungan antarproses di balik sebuah bisnis.

“Inovasi diversifikasi produk untuk menjaga keberlanjutan bisnis juga perlu dipahami mahasiswa,” jelasnya.

Selama ini, banyak mahasiswa mengenal industri hanya dari produk akhirnya—apa yang dijual, bagaimana mereknya dikenal, atau bagaimana produk itu dikonsumsi masyarakat. Padahal, keputusan bisnis lahir dari rangkaian proses yang jauh lebih rumit: efisiensi produksi, pengendalian distribusi, pemetaan pasar, hingga strategi mempertahankan keberlangsungan usaha di tengah persaingan.

Mahasiswa Universitas Mulia menyerahkan souvenir kepada pihak DC Balikpapan sebagai simbol apresiasi dan terjalinnya hubungan pembelajaran antara mahasiswa dan dunia industri.

Karena itu, kunjungan industri dipandang CDC Universitas Mulia sebagai cara mempertemukan mahasiswa dengan realitas operasional yang sesungguhnya. Di ruang produksi, mahasiswa belajar bahwa keputusan bisnis tidak berdiri sendiri, melainkan terhubung dengan sistem kerja yang saling memengaruhi.

Dr. Linda menilai pengalaman seperti ini masih belum banyak dijadikan pendekatan pembelajaran oleh perguruan tinggi. Menurutnya, Universitas Mulia melalui CDC berupaya menghadirkan pengalaman belajar yang memberi mahasiswa kesempatan melihat langsung dinamika industri di luar lingkungan akademik.

Semakin sering mahasiswa berinteraksi dengan dunia industri, semakin besar pula peluang mereka memahami perubahan yang terjadi di luar kampus. Dari perkembangan teknologi produksi hingga dinamika pasar, mahasiswa didorong untuk membangun sensitivitas terhadap perubahan yang akan mereka hadapi setelah memasuki dunia kerja.

Di titik inilah kunjungan industri memperoleh maknanya yang lebih dalam. Ia bukan sekadar agenda observasi perusahaan, tetapi ruang untuk membentuk cara berpikir mahasiswa agar mampu membaca dunia profesional secara lebih utuh—bahwa sebuah produk tidak hanya lahir dari mesin produksi, melainkan dari keputusan, strategi, dan kemampuan beradaptasi yang terus bergerak mengikuti perubahan zaman. (YMN)

 

Balikpapan, 7 Mei 2026 – Di tengah derasnya wacana inovasi yang kerap berhenti sebagai istilah akademik di ruang kuliah, Universitas Mulia memilih membawa mahasiswanya langsung ke titik di mana inovasi bekerja sebagai budaya: lantai industri. Melalui visit industry mata kuliah Manajemen Inovasi ke Toyota AUTO2000 MT Haryono Balikpapan, mahasiswa diajak menelusuri bagaimana prinsip perbaikan berkelanjutan dijalankan bukan sebagai slogan perusahaan, melainkan sebagai disiplin kerja yang menjaga relevansi bisnis selama puluhan tahun.

Langkah ini memperlihatkan cara Universitas Mulia memaknai pendidikan bukan sebatas transfer teori, tetapi sebagai proses mempertemukan mahasiswa dengan praktik, sistem, dan pola pikir yang bekerja nyata di dunia profesional. Di ruang industri, mahasiswa tidak sekadar mendengar konsep inovasi, melainkan menyaksikan bagaimana perubahan kecil yang dilakukan terus-menerus dapat membentuk kekuatan organisasi berskala global.

Mahasiswa Universitas Mulia tiba di Toyota AUTO2000 MT Haryono Balikpapan untuk memulai pembelajaran lapangan tentang budaya inovasi dan praktik industri otomotif.

Toyota dipilih karena reputasinya tidak dibangun hanya melalui produk, tetapi melalui kemampuan merawat budaya Kaizen sebagai mesin pembaruan yang bekerja dari level operasional hingga strategi bisnis. Bagi mahasiswa, kunjungan ini menjadi kesempatan untuk membaca langsung bagaimana sebuah perusahaan besar mempertahankan daya hidupnya melalui kebiasaan memperbaiki proses secara konsisten.

Kepala Career Development Center Universitas Mulia sekaligus dosen pengampu mata kuliah Manajemen Inovasi, Dr. Linda Fauziyah Ariyani, S.Pd., M.Pd., menilai pengalaman lapangan semacam ini penting agar mahasiswa memahami inovasi dalam bentuk yang lebih utuh.

“Toyota adalah salah satu perusahaan otomotif terkemuka di dunia yang memiliki budaya organisasi kuat melalui Kaizen. Mahasiswa perlu melihat langsung bagaimana perubahan kecil yang dilakukan terus-menerus dapat menjadi fondasi besar bagi keberlanjutan perusahaan,” ujarnya.

Pihak Toyota AUTO2000 MT Haryono Balikpapan memberikan pemaparan langsung mengenai budaya Kaizen, operasional perusahaan, dan strategi inovasi berkelanjutan.

Melalui pengamatan langsung, mahasiswa diajak membongkar satu pemahaman penting: inovasi bukan selalu soal menciptakan sesuatu yang baru, melainkan tentang keberanian membaca masalah, menemukan celah perbaikan, lalu menjaga solusi itu tetap relevan. Perspektif ini penting di tengah kecenderungan memahami inovasi sebatas teknologi atau produk baru.

Bagi Universitas Mulia, pembelajaran semacam ini menjadi ruang untuk menggeser cara pandang mahasiswa dari sekadar penghafal teori menuju pembaca persoalan. Inovasi yang bertahan, sebagaimana ditekankan dalam pembelajaran lapangan tersebut, lahir dari kebutuhan nyata dan kemampuan menjawabnya secara berkelanjutan.

Selama kunjungan berlangsung, mahasiswa menyigi bagaimana Toyota mempertahankan eksistensinya bukan melalui perubahan besar yang sesekali, tetapi lewat pembaruan yang berlangsung terus-menerus. Dari sana, teori manajemen inovasi yang dipelajari di kelas menemukan bentuk konkretnya: keberlanjutan bisnis bertumpu pada budaya adaptif, bukan sekadar pada ide besar.

“Mahasiswa menjadi lebih memahami bahwa inovasi berkelanjutan lahir dari upaya perbaikan terus-menerus. Ini penting agar mereka melihat hubungan nyata antara teori yang dipelajari dengan praktik industri,” jelasnya.

Mahasiswa Universitas Mulia menyimak secara serius pemaparan industri sebagai bagian dari proses memahami implementasi nyata manajemen inovasi di dunia kerja

Bacaan paling penting dari kunjungan ini terletak pada satu hal mendasar: perusahaan yang mampu bertahan dalam perubahan eksternal adalah perusahaan yang menjadikan inovasi sebagai kebiasaan, bukan proyek sesaat. Dalam konteks itu, eksistensi menjadi indikator paling jujur dari kuat atau lemahnya budaya inovasi.

Perubahan lanskap industri yang bergerak ke arah digitalisasi juga menuntut mahasiswa membangun kelincahan berpikir sejak masa kuliah. Karena itu, proses belajar di Universitas Mulia diarahkan agar mahasiswa terbiasa menguji gagasan, membaca kebutuhan, dan beradaptasi dengan perubahan, bukan menunggu realitas kerja mengubah mereka secara mendadak.

Bagi kampus, membawa mahasiswa ke lapangan berarti memperluas ruang belajar ke situasi yang tidak selalu ideal, tempat teori diuji oleh kompleksitas nyata. Di ruang seperti inilah kemampuan problem solving, observasi, dan nalar kritis lebih mungkin tumbuh dibanding hanya dari simulasi akademik.

“Belajar di Universitas Mulia tidak sekadar mengejar nilai akademik, tetapi juga membangun pengalaman belajar yang membentuk daya saing mahasiswa,” ungkapnya.

Mahasiswa juga memperoleh pemaparan langsung dari Kepala Bengkel Toyota AUTO2000 MT Haryono Balikpapan, Jaka Mulyana, mengenai budaya perbaikan berkelanjutan, serta wawasan strategi pemasaran dari Supervisor Sales, Nur Kholis. Paparan tersebut memperlihatkan bahwa inovasi bekerja lintas lini—dari pelayanan teknis hingga strategi membaca pasar.

Dalam lanskap bisnis modern, pemahaman terhadap kebutuhan konsumen muncul sebagai fondasi penting. Inovasi yang lahir dari kebutuhan pasar memberi kemungkinan hidup lebih panjang dibanding sekadar meluncurkan sesuatu yang baru tanpa relevansi yang jelas.

Suasana dialog berlangsung hangat saat mahasiswa Universitas Mulia dan pihak Toyota AUTO2000 berdiskusi dalam sesi tanya jawab seputar inovasi, pelayanan, dan dinamika industri.

Melalui pola pembelajaran semacam ini, Universitas Mulia sedang menanamkan satu kebiasaan intelektual penting: melihat perubahan bukan sebagai ancaman, tetapi sebagai ruang untuk merumuskan solusi. Visit industry ini pada akhirnya bukan sekadar perjalanan akademik, melainkan proses menautkan pengetahuan dengan realitas, sekaligus mengajak mahasiswa memahami bahwa inovasi terbesar sering kali dimulai dari keberanian memperbaiki hal-hal kecil secara konsisten. (YMN)

 

Balikpapam, 6 Mei 2026— Pelaksanaan Walk-in Interview Batch 1 BRILian Banking Associate Program (BBAP) bersama Bank BRI di Universitas Mulia memperlihatkan bagaimana fungsi kampus berkembang melampaui ruang kuliah. Melalui Career Development Center Universitas Mulia, agenda ini ditempatkan bukan sekadar sebagai pembukaan akses kerja, tetapi sebagai bagian dari rancangan institusional untuk mempertemukan kapasitas lulusan dengan kebutuhan sektor profesional yang terus bergerak.

Dr. Linda Fauziyah Ariyani, S.Pd., M.Pd., Kepala Bagian Career Development Center Universitas Mulia, menjelaskan bahwa keterhubungan dengan industri dibangun melalui pendekatan yang lebih aktif, yakni membaca kebutuhan pasar tenaga kerja, memahami karakter mitra profesional, lalu menerjemahkannya ke dalam penguatan kesiapan mahasiswa dan alumni. Menurutnya, relasi dengan dunia kerja tidak diposisikan sebagai respons pasif terhadap lowongan, melainkan sebagai proses penyesuaian kompetensi yang dirancang lebih sadar sejak awal.

Karena itu, persiapan yang diberikan kepada alumni tidak berhenti pada distribusi informasi rekrutmen. Career Development Center Universitas Mulia menempatkan pembinaan, pendampingan, dan penguatan kesiapan personal sebagai bagian penting sebelum lulusan memasuki arena seleksi. Soft skill, daya adaptasi, pemahaman terhadap kultur profesional, hingga strategi menghadapi proses perekrutan menjadi elemen yang terus diasah agar alumni tidak datang sebagai pelamar biasa, tetapi sebagai kandidat yang memahami lanskap kerja yang akan mereka masuki.

Pendekatan semacam ini menunjukkan bahwa Universitas Mulia berupaya menjaga relevansi pendidikan dengan realitas industri. Dunia perbankan, misalnya, tidak hanya menuntut kemampuan administratif, tetapi juga integritas, kecakapan interpersonal, dan kesiapan menghadapi ritme profesional yang kompetitif. Dalam konteks itulah, Career Development Center berperan sebagai simpul transisi—mengubah pengalaman akademik menjadi kesiapan kerja yang lebih terukur.

Pelaksanaan Walk-in Interview BRILian Banking Associate Program (BBAP) Bank BRI bersama Pusat Karir Universitas Mulia di Ruang Executive White Campus menjadi ruang temu antara kesiapan lulusan dan kebutuhan industri perbankan.

Dari pelaksanaan walk-in interview tersebut, sejumlah alumni diketahui melanjutkan ke tahap seleksi berikutnya. Capaian ini menjadi indikator bahwa proses pembekalan yang dilakukan kampus memiliki keterhubungan dengan ekspektasi industri. Bagi Universitas Mulia, keberhasilan semacam itu bukan semata persoalan diterima bekerja, melainkan penanda bahwa lulusan mampu memasuki sistem seleksi eksternal dengan fondasi yang memadai.

Ke depan, Career Development Center Universitas Mulia memandang kolaborasi dengan Bank BRI sebagai hubungan strategis yang perlu dirawat secara berkelanjutan. Orientasinya tidak berhenti pada penyelenggaraan wawancara kerja, tetapi diarahkan pada terbentuknya jalur konektivitas yang lebih kuat antara alumni dan kebutuhan industri, termasuk melalui pelatihan, pembekalan kompetensi, serta pengembangan sumber daya manusia yang lebih selaras dengan dinamika sektor profesional.

Langkah tersebut memperlihatkan arah yang semakin jelas: Universitas Mulia tidak hanya berfokus pada proses akademik di dalam kampus, tetapi juga pada bagaimana lulusan bergerak setelahnya. Di tengah persaingan tenaga kerja yang semakin selektif, kekuatan institusi tidak hanya diukur dari jumlah wisudawan, melainkan dari kemampuannya menyiapkan lulusan agar mampu memasuki dunia profesional dengan kesiapan, pemahaman, dan posisi tawar yang lebih baik.

Melalui peran Career Development Center Universitas Mulia bagai representasi mutu institusi di hadapan dunia industri. (YMN)

Samarinda, 18 april 2026 — Sejumlah mahasiswa Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Mulia menghadiri kegiatan Industrial Visit & Study Program yang dirangkaikan dengan Illustration & Graphic Memoir Exhibition 2026 pada 18 April 2026 di kawasan Jl. Wahid H II, Komplek TVRI Graha Asri, Samarinda. Kegiatan yang diselenggarakan oleh komunitas kreatif Samarinda Design Hub ini menjadi ruang temu antara praktik industri dan proses pembelajaran akademik yang tengah dijalani mahasiswa.

Kehadiran mahasiswa dalam kegiatan tersebut merupakan bagian dari implementasi indikator kinerja program studi, khususnya pada aspek kunjungan ke industri. Namun, aktivitas ini tidak berhenti pada pemenuhan target administratif. Mahasiswa berinteraksi langsung dengan karya ilustrasi, komik, dan graphic memoir yang mengangkat lanskap kota, dinamika sosial, hingga narasi personal kreator—membuka kesempatan untuk memahami bagaimana gagasan berkembang menjadi bahasa visual yang komunikatif.

Pendiri Samarinda Design Hub sekaligus kurator pameran, Ramadhan S. Pernyata, menyambut kehadiran mahasiswa sebagai bagian dari pertemuan yang produktif antara dunia pendidikan dan komunitas kreatif. Ia menilai ruang pamer tidak hanya berfungsi sebagai tempat presentasi karya, tetapi juga sebagai medium belajar yang memperlihatkan proses kreatif secara terbuka—mulai dari perumusan ide, pengolahan cerita, hingga eksekusi visual.

Menelusuri satu per satu karya, mahasiswa DKV Universitas Mulia tidak hanya melihat visual, tetapi membaca cerita yang tersembunyi di balik setiap ilustrasi.

Bagi Kaprodi DKV Universitas Mulia, Assaidatul Husna, S.Sn., M.Sn., kunjungan ini bukan sekadar agenda akademik, melainkan upaya membawa mahasiswa berhadapan langsung dengan realitas kerja kreatif. Ia menyebutkan bahwa meskipun program studi DKV Universitas Mulia baru berjalan dua semester dengan satu angkatan, langkah ini menjadi upaya awal untuk mempertemukan mahasiswa dengan realitas industri kreatif di Kalimantan Timur.

Menurutnya, momentum ini selaras dengan mata kuliah yang sedang ditempuh mahasiswa, yakni Proses Kreatif dan Ilustrasi. Pameran tersebut dinilai relevan sebagai referensi visual dalam memahami bagaimana memori personal dan narasi lokal diolah menjadi karya yang memiliki kekuatan visual sekaligus kedalaman cerita. Melalui observasi langsung, mahasiswa didorong untuk mengasah sensitivitas estetika serta kemampuan visual storytelling, yang nantinya ditransformasikan menjadi output akademik yang lebih konkret.

Ia juga menekankan pentingnya kesadaran mahasiswa terhadap potensi identitas lokal. Dalam pandangannya, tema-tema yang berangkat dari konteks lokal tidak hanya memiliki nilai kultural, tetapi juga berpeluang menembus pasar global ketika dikemas secara profesional. Meski hingga saat ini belum terjalin kerja sama formal antara program studi dan Samarinda Design Hub, interaksi semacam ini dinilai sebagai tahap awal untuk mengukur kesiapan mahasiswa sebelum memasuki rangkaian Capstone Project.

“Tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana mahasiswa mampu menerjemahkan hasil observasi lapangan menjadi konsep desain yang matang. Namun, melalui kurikulum yang adaptif dan berbasis designpreneur, kesenjangan tersebut perlahan dapat dijembatani,” ujarnya. Ia berharap pengalaman ini dapat langsung diolah mahasiswa menjadi portofolio awal, sehingga sejak dini mereka terbiasa memposisikan diri sebagai desainer yang responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

Di hadapan sebuah karya, ruang menjadi sunyi—menyisakan dialog antara imajinasi, pengalaman, dan makna yang perlahan terbaca.

Dari sudut pandang mahasiswa, pengalaman ini juga menghadirkan kesan yang kuat. Ketua Himpunan Mahasiswa (HIMA) DKV Universitas Mulia, Natanael Ferdinand, menilai pameran tersebut tidak hanya menghadirkan karya berkualitas, tetapi juga menunjukkan cara apresiasi terhadap seniman yang dikemas secara serius. Ia mengungkapkan bahwa penggunaan postcard berbasis ilustrasi tangan para seniman yang telah dipindai dan dijadikan koleksi menjadi salah satu pendekatan menarik, sekaligus membuka ruang bagi pengunjung untuk turut berkontribusi melalui pembelian karya dengan harga terjangkau.

Ia juga mencermati penataan ruang pamer yang menyerupai galeri profesional, mulai dari area masuk hingga ruang utama yang dipenuhi cergam (cerita bergambar), lengkap dengan narasi dan pernyataan dari masing-masing kreator. Ragam bentuk karya—dari lembar ilustrasi hingga buku yang telah diterbitkan—memberikan perspektif baru bagi mahasiswa mengenai kemungkinan pengembangan karya ilustrasi ke dalam berbagai medium. Pengalaman tersebut, menurutnya, memberi dorongan bagi mahasiswa untuk lebih serius dalam mengapresiasi sekaligus memproduksi karya ilustrasi.

Hal senada disampaikan oleh salah satu mahasiswa DKV, Ali Asykari. Ia menilai kehadiran dalam kegiatan tersebut memberikan pengalaman yang tidak hanya berkesan, tetapi juga memperluas cara pandang terhadap dunia desain. Menurutnya, melihat langsung karya-karya desainer lokal membuka pemahaman bahwa ide kreatif dapat berangkat dari hal-hal sederhana di sekitar, seperti kehidupan sehari-hari dan lingkungan sosial.

Ia juga menyoroti suasana pameran yang interaktif serta adanya kesempatan berdiskusi dengan para pelaku industri. Bagi mahasiswa, interaksi semacam ini menghadirkan pengalaman belajar yang lebih bermakna dibandingkan sekadar memahami teori di ruang kelas. “Kami tidak hanya melihat karya, tetapi juga memahami proses dan latar belakangnya. Itu yang membuat pengalaman ini terasa relevan dan bermanfaat,” ujarnya.

Setiap karya bukan sekadar gambar, melainkan potongan memori yang merekam Samarinda melalui garis, warna, dan cerita yang personal.

Melalui kegiatan ini, relasi antara dunia akademik dan komunitas kreatif tidak hanya terbangun sebagai kunjungan sesaat, tetapi sebagai proses belajar yang membuka kemungkinan dialog berkelanjutan. Di tengah perkembangan industri kreatif yang semakin dinamis, pengalaman semacam ini menjadi penting untuk memastikan bahwa pembelajaran desain tetap terhubung dengan praktik, sekaligus mendorong mahasiswa untuk mengembangkan karya yang berpijak pada realitas sosial di sekitarnya. (YMN)

Universitas Mulia mengucapkan selamat ulang tahun ke-38 Kaltim Post.
Dalam momentum tersebut, jajaran Universitas Mulia diterima langsung oleh Direktur Kaltim Post, Erwin D. Nugraha, dan Wakil Direktur Kaltim Post, Supriyono.
Pertemuan ini menjadi ruang silaturahmi sekaligus penguatan relasi strategis antara perguruan tinggi dan media dalam mendukung ekosistem informasi yang kredibel, berimbang, dan mencerdaskan publik di Kalimantan Timur.

Balikpapan, 29 November 2025 — Universitas Mulia dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Balikpapan menandatangani Memorandum of Agreement (MoA) dalam kegiatan Diskusi Publik yang digelar pada Kamis, 27 November 2025. Diskusi bertema “Sinergi Mahasiswa dan Pemerintah: Upaya Mendukung Kebijakan Pembangunan Berwawasan Lingkungan Berkelanjutan di Balikpapan” tersebut berlangsung di Ballroom Cheng Hoo dan menghadirkan Kepala DLH Balikpapan, Drs. Sudirman Djayaleksana, M.M., bersama akademisi Fakultas Hukum UM, Dr. H. M. Zamhuri, S.H., M.H.

Diskusi publik ini menjadi ruang bagi akademisi, mahasiswa, dan pemerintah untuk mengurai persoalan lingkungan melalui perspektif regulasi, praktik kebijakan, dan kondisi ekologis kota.

Dekan Fakultas Hukum Universitas Mulia, Budiarsih, S.H., M.Hum., Ph.D., menyampaikan sambutan pada pembukaan Diskusi Publik.

Fakultas Hukum: Kolaborasi sebagai Fondasi Program Tri Dharma

Dekan Fakultas Hukum, Budiarsih, S.H., M.Hum., Ph.D., menyampaikan bahwa pelaksanaan Tri Dharma tidak dapat berdiri sendiri. Ia menekankan perlunya kerja sama yang terarah dengan pemangku kepentingan kota.

“Tri Dharma menuntut perguruan tinggi bekerja bersama mitra. DLH adalah salah satu institusi yang relevan karena isu yang mereka tangani beririsan langsung dengan pendidikan hukum dan kebijakan publik,” jelasnya.

Ia juga menegaskan bahwa persoalan lingkungan tidak bisa dibebankan pada satu lembaga. Mahasiswa, akademisi, dan pemerintah memiliki tanggung jawab yang saling terkait dalam menjamin keberlanjutan kota.

Wakil Rektor Bidang Sumber Daya, Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I., mewakili Rektor Universitas Mulia saat memberikan sambutan.

Pesan Rektor: Lingkungan sebagai Tanggung Jawab Lintas-Ilmu

Wakil Rektor Bidang Sumber Daya, Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I., mewakili Rektor Universitas Mulia dalam menyampaikan pandangan institusi. Ia mengangkat persoalan penurunan populasi kupu-kupu dan burung gereja sebagai indikator gangguan ekologi.

“Bunga masih ada di banyak rumah dan taman, tetapi kupu-kupu yang menjadi penandanya justru menurun. Pola merawat tanaman berubah; pestisida menggantikan peran predator alami. Ini contoh konkret bagaimana kebiasaan kecil mempengaruhi ekosistem,” ujarnya.

Wibisono menilai bahwa mahasiswa, khususnya dari bidang hukum, dapat memberi kontribusi melalui analisis regulasi dan tata kelola kebijakan lingkungan yang lebih terukur.

Direktur Eksekutif BPH Yayasan Airlangga, Dr. Agung Sakti Pribadi, S.H., M.H., menyampaikan arahannya dalam kegiatan Diskusi Publik.

Yayasan Airlangga: Kota Butuh Riset yang Tertuju pada Masalah Ekologi

Direktur Eksekutif Yayasan Airlangga, Dr. Agung Sakti Pribadi, S.H., M.H., menyoroti isu kelangkaan air dan pengelolaan sampah sebagai dua persoalan mendesak di Balikpapan.

Ia merujuk kegiatan Balikpapan Water Forum yang pernah digagas yayasan dan menghadirkan perwakilan pemerintah daerah, BRIN, dan lembaga teknis lainnya untuk mencari pendekatan yang lebih berbasis data.

“Riset mahasiswa, baik di bidang manajemen maupun hukum, memberi dasar yang lebih kuat bagi pengambil keputusan. Kajian tentang pola pengelolaan sampah, misalnya, membuka kemungkinan model baru yang lebih efisien,” kata Agung.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Balikpapan, Drs. Sudirman Djayaleksana, M.M., saat memberikan sambutan dan pengantar materi.

DLH: Konsistensi Kebijakan Tidak Boleh Putus di Tengah Jalan

Kepala DLH Balikpapan, Drs. Sudirman Djayaleksana, M.M., menekankan pentingnya kontinuitas kebijakan. Ia mengingatkan kembali keputusan Pemerintah Kota Balikpapan untuk melarang aktivitas tambang batu bara sejak era Wali Kota Imdaad Hamid.

“Larangan tambang bukan keputusan ringan, tetapi terbukti menjaga ruang hidup warga. Kebijakan seperti ini hanya bisa bertahan jika semua pihak ikut menjaga,” ungkapnya.

Ia juga menyebutkan bahwa DLH telah bekerja sama dengan beberapa perguruan tinggi, termasuk ITK, Poltekba, dan Universitas Airlangga, dalam kajian lingkungan. Kerja sama dengan Universitas Mulia akan diarahkan pada kajian hukum, edukasi publik, dan pelibatan mahasiswa dalam program DLH.

Ketua DPC Lawyer Balikpapan, Agus Amri, S.H., menyampaikan pandangan mengenai pentingnya kebijakan lingkungan berkelanjutan.

Perspektif Penegakan Hukum Lingkungan

Ketua DPC Lawyer Balikpapan, Agus Amri, S.H., menyoroti pentingnya kebijakan berbasis sains. Ia mengangkat peristiwa “Kampanye Pembasmian Burung Pipit” (1959–1960) di Tiongkok sebagai contoh kegagalan kebijakan yang mengabaikan masukan ilmiah hingga memicu ledakan hama belalang dan bencana kelaparan.

“Ketika pemerintah berjalan tanpa rujukan akademik, risikonya besar. Karena itu, kampus harus berada di jalur yang sama dengan pembuat kebijakan. Kolaborasi bukan pilihan tambahan, tapi bagian dari kontrol publik,” jelasnya.

Arah Kerja Sama UM–DLH

Melalui MoA yang ditandatangani, kedua institusi akan memfokuskan kerja sama pada:

  • kajian dan analisis kebijakan lingkungan,
  • penelitian lintas-disiplin berbasis data lokal,
  • keterlibatan mahasiswa dalam program edukasi dan kegiatan lapangan DLH,
  • serta pengembangan model tata kelola lingkungan yang lebih adaptif terhadap perkembangan kota.

Kerja sama ini diharapkan memperkuat kapasitas akademik dan teknis dalam membaca persoalan lingkungan kota secara lebih akurat. (YMN)