Tag Archive for: Pendidikan Tinggi

Balikpapan, 13 Juni 2026 – Jika hari pertama Workshop Standardisasi dan Pendampingan e-Journal Menuju Akreditasi dan Indeksasi Global diwarnai hujan lebat dan diskusi tentang standar tata kelola jurnal, maka hari kedua menghadirkan suasana yang berbeda. Sabtu pagi, 13 Juni 2026, hujan yang sejak subuh mengguyur Balikpapan mulai mereda. Hanya tersisa rintik-rintik tipis yang sesekali jatuh di halaman Gedung Fakultas Teknik Universitas Mulia.

Udara terasa lebih dingin ketika peserta memasuki Ruang 202. Namun bukan suhu ruangan yang pertama kali menarik perhatian. Deretan meja dan kursi yang sehari sebelumnya ditata dalam format kelas konvensional telah berubah. Bangku-bangku disusun membentuk huruf U. Para peserta yang terdiri dari pengelola jurnal berbagai program studi tampak saling membantu menggeser meja dan kursi, kemudian duduk berkelompok berdasarkan program studi masing-masing.

Hari kedua bukan lagi tentang mendengarkan. Hari kedua adalah tentang mengerjakan.

Laptop mulai terbuka. Template jurnal ditampilkan di layar. Berkas-berkas desain sampul muncul satu per satu. Diskusi yang sehari sebelumnya banyak berbicara tentang konsep, standar akreditasi, dan tata kelola jurnal, kini berubah menjadi sesi bedah jurnal secara langsung.

Di tengah suasana itulah Prof. Dr. Irwansyah mengajak peserta melihat jurnal dari sudut pandang yang berbeda.

Menurutnya, banyak pengelola jurnal terlalu sibuk memikirkan indeksasi, tetapi lupa membangun fondasi yang menjadi syarat utama sebuah jurnal dapat bertahan dan berkembang.

Prof. Dr. Irwansyah membedah satu per satu unsur yang menentukan kualitas sebuah jurnal ilmiah. Berbekal pengalaman mengelola jurnal bereputasi internasional, ia tidak hanya menjelaskan standar akreditasi, tetapi juga menunjukkan bagaimana konsistensi, kualitas naskah, dan tata kelola menjadi fondasi yang membedakan jurnal yang berkembang dengan jurnal yang berhenti di tengah jalan.

Dalam pemaparannya, Editor in Chief Hasanuddin Law Review yang telah terindeks Scopus Q1 tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan jurnal tidak ditentukan oleh satu faktor tunggal. Kualitas naskah, kompetensi editor dan reviewer, standar tata kelola, serta dukungan kebijakan institusi merupakan empat elemen yang saling berkaitan.

“Jurnal tidak bisa berdiri sendiri. Ia harus menjadi bagian dari ekosistem akademik program studi dan institusi,” demikian salah satu pesan yang berulang kali ditekankan selama sesi pendampingan.

Pesan tersebut terasa relevan bagi Universitas Mulia yang saat ini memiliki jurnal dengan tingkat kematangan yang beragam. Sebagian telah berjalan cukup baik, sementara sebagian lainnya masih menghadapi tantangan keberkalaan, kualitas artikel, hingga penguatan tim editorial.

Bagi Prof. Irwansyah, persoalan terbesar sering kali bukan terletak pada teknologi ataupun platform OJS.

Justru tantangan yang paling sering ditemukan adalah kualitas manuskrip, ketersediaan reviewer yang kompeten, konsistensi penerbitan, dan kebijakan institusi yang belum sepenuhnya mendukung budaya publikasi ilmiah.

Ia mencontohkan bagaimana akreditasi jurnal saat ini tidak hanya menilai tampilan website atau kelengkapan administrasi. Penamaan jurnal, kualitas dewan editor, keterlibatan reviewer internasional, kebaruan artikel, konsistensi penerbitan, hingga jumlah kunjungan pembaca menjadi bagian dari indikator yang diperhatikan.

“Jurnal yang baik bukan sekadar memiliki artikel. Jurnal yang baik memiliki identitas keilmuan yang jelas,” ujarnya saat menjelaskan pentingnya fokus dan scope jurnal.

Menurutnya, jurnal yang terlalu umum justru akan kesulitan membangun reputasi ilmiah. Karena itu, setiap program studi perlu merancang jurnal yang memiliki karakter keilmuan yang tegas dan konsisten.

Suasana pelatihan berubah menjadi ruang kerja kreatif ketika setiap program studi mulai merancang identitas jurnalnya masing-masing. Berbagai ide dituangkan ke dalam desain sampul, mulai dari pemilihan nama jurnal, warna, tipografi, hingga karakter visual yang mencerminkan bidang keilmuan. Di balik setiap desain, tersimpan harapan agar jurnal tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memiliki identitas akademik yang kuat.

Salah satu sesi yang paling menarik perhatian peserta justru muncul ketika Rektor Universitas Mulia menginisiasi sebuah lomba sederhana namun sarat makna: kompetisi desain sampul jurnal.

Setiap program studi diminta merancang identitas visual jurnalnya masing-masing. Tidak ada peserta yang tinggal diam. Ruangan yang semula tenang mendadak berubah menjadi studio kreatif dadakan.

Ada yang sibuk memilih warna. Ada yang memperdebatkan tipografi. Ada yang mengutak-atik tata letak judul. Sebagian lainnya berdiskusi mengenai nama jurnal yang dianggap paling representatif terhadap disiplin ilmu program studi.

Persaingan berlangsung dalam suasana yang cair namun serius.

Prof. Irwansyah kemudian berkeliling dari satu kelompok ke kelompok lain memberikan koreksi secara langsung. Ia mengomentari berbagai aspek, mulai dari pemilihan nama jurnal, kesesuaian warna, garis selingkung, tata letak identitas penerbit, hingga unsur visual yang dianggap mampu memperkuat karakter jurnal.

Beberapa desain yang semula dianggap menarik justru mendapatkan banyak catatan perbaikan. Sebaliknya, desain yang sederhana tetapi memiliki identitas keilmuan yang kuat memperoleh apresiasi.

Di sinilah peserta mulai memahami bahwa sampul jurnal bukan sekadar persoalan estetika.

Sampul adalah representasi identitas akademik.

Dalam materi yang disampaikan, Prof. Irwansyah juga menjelaskan bahwa salah satu aspek yang dinilai dalam akreditasi adalah konsistensi tampilan dan desain jurnal. Jurnal yang baik harus memiliki ciri khas yang mudah dikenali serta mampu merepresentasikan bidang ilmu yang diusungnya.

Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa tujuan akhir pengelolaan jurnal bukanlah sekadar memperoleh nilai akreditasi yang tinggi.

Yang jauh lebih penting adalah membangun ruang ilmiah yang mampu melahirkan pengetahuan baru.

Karena itulah peserta diajak memahami konsep state of the art, research gap, dan novelty sebagai fondasi artikel ilmiah yang berkualitas. Menurutnya, artikel yang baik tidak hanya menjawab pertanyaan penelitian, tetapi juga memberikan kontribusi baru terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.

Pendekatan tersebut memberikan perspektif baru bagi banyak peserta. Mereka tidak lagi melihat jurnal sebagai kewajiban administratif untuk memenuhi kebutuhan akreditasi program studi, melainkan sebagai instrumen strategis yang dapat memperkuat reputasi akademik universitas.

Menjelang penutupan kegiatan, suasana ruangan masih dipenuhi diskusi. Beberapa kelompok terus menyempurnakan desain jurnal mereka. Sebagian lainnya mencatat daftar pekerjaan yang harus segera diselesaikan setelah kembali ke program studi masing-masing.

Usai rangkaian workshop, Rektor Universitas Mulia bersama pimpinan LP3M dan narasumber berfoto bersama sebagai penanda berakhirnya kegiatan. Di balik bingkai kebersamaan tersebut tersimpan komitmen yang sama: membangun jurnal-jurnal yang lebih berkualitas, terkelola secara profesional, dan mampu memperluas jejak akademik Universitas Mulia hingga tingkat nasional maupun internasional.

Di luar gedung, hujan telah benar-benar berhenti.

Namun di dalam ruangan, sebuah pekerjaan yang jauh lebih panjang baru saja dimulai.

Membangun jurnal yang terbit tepat waktu mungkin dapat dilakukan dalam satu atau dua tahun. Akan tetapi membangun budaya akademik yang melahirkan artikel berkualitas, reviewer yang aktif, editor yang kompeten, dan jurnal yang dipercaya komunitas ilmiah membutuhkan ketekunan yang jauh lebih panjang.

Dan dari ruang 202 Fakultas Teknik Universitas Mulia pada Sabtu pagi itu, langkah kecil menuju tujuan tersebut sedang disusun, satu jurnal demi satu jurnal. (YMN)

Balikpapan, 5 Juni 2026 – Puluhan mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Mulia mengunjungi Koperasi Wanita Patra yang berlokasi di Jalan Sport, Kelurahan Prapatan, Kecamatan Balikpapan Kota, Jumat (5/6). Kegiatan yang dilaksanakan bersama Career Development Center (CDC) Universitas Mulia tersebut menjadi bagian dari upaya mempertemukan mahasiswa dengan praktik tata kelola organisasi dan bisnis yang berlangsung secara nyata di lapangan.

Kunjungan ini memiliki arti penting karena dilakukan di tengah komitmen Program Studi Manajemen Universitas Mulia untuk mendorong lahirnya koperasi mahasiswa sebagai laboratorium bisnis modern. Melalui interaksi langsung dengan pengelola koperasi, mahasiswa memperoleh gambaran mengenai bagaimana tata kelola organisasi, pelayanan anggota, pengelolaan keuangan, hingga pengembangan usaha dijalankan secara profesional.

Rombongan Universitas Mulia diterima langsung oleh Ketua Koperasi Wanita Patra, Pramadha Wardhani, bersama Manajer Koperasi Wanita Patra, Rusli Usman. Dalam sesi pemaparan dan diskusi, mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk mempelajari perjalanan koperasi, model pengelolaan usaha, serta strategi yang diterapkan dalam menjaga keberlanjutan organisasi dan pelayanan kepada anggota.

Bagi Kepala Career Development Center Universitas Mulia, Dr. Linda Fauziyah Ariyani, S.Pd., M.Pd., pengalaman belajar langsung di lapangan menjadi bagian penting dalam mempersiapkan mahasiswa menghadapi dunia kerja yang semakin dinamis.

Menurutnya, perusahaan saat ini tidak hanya membutuhkan lulusan yang menguasai teori, tetapi juga individu yang memahami bagaimana organisasi bekerja, bagaimana keputusan bisnis diambil, dan bagaimana sebuah lembaga mampu menciptakan nilai bagi para pemangku kepentingannya.

“Koperasi Pertamina menjadi contoh yang sangat baik karena tidak hanya menjalankan fungsi ekonomi, tetapi juga mengelola tata kelola organisasi, pelayanan, keuangan, dan pengembangan usaha secara profesional,” ujarnya.

Mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Mulia mengamati berbagai produk dan merchandise yang dikelola Koperasi Wanita Patra. Melalui observasi langsung ini, mahasiswa mempelajari bagaimana koperasi mengembangkan produk, melayani kebutuhan anggota, serta membangun unit usaha yang berkelanjutan.

Melalui kunjungan tersebut, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan baru mengenai dunia koperasi, tetapi juga menyaksikan secara langsung bagaimana berbagai konsep manajemen yang dipelajari selama perkuliahan diterapkan dalam aktivitas organisasi dan bisnis sehari-hari.

Dalam sesi berbagi pengalaman, Rusli Usman menjelaskan bahwa koperasi pada hakikatnya hadir untuk memberikan manfaat yang seluas-luasnya bagi anggota dan masyarakat. Menurutnya, keberhasilan koperasi tidak hanya diukur dari kemampuan menghasilkan keuntungan, tetapi juga dari kemampuannya menjawab kebutuhan nyata para anggotanya.

Ia juga memberikan pandangan terkait rencana pengembangan koperasi mahasiswa di lingkungan Universitas Mulia. Menurutnya, koperasi yang dibangun di lingkungan kampus harus mampu membaca kebutuhan mahasiswa sebagai pasar utama sekaligus anggota koperasi.

“Ketika membuka koperasi di kampus, sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan dan pangsa pasar di kampus itu sendiri,” ujar Rusli.

Pandangan tersebut menjadi pelajaran penting bagi mahasiswa karena menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah usaha tidak hanya ditentukan oleh semangat berorganisasi, tetapi juga oleh kemampuan memahami kebutuhan konsumen dan menghadirkan solusi yang relevan.

Linda menjelaskan bahwa ekosistem koperasi yang dikelola secara profesional merupakan ruang belajar yang kaya akan pengalaman praktis. Mahasiswa dapat mengamati bagaimana proses kepemimpinan berjalan, bagaimana tim bekerja sama mencapai tujuan organisasi, serta bagaimana keputusan diambil untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang muncul dalam operasional usaha.

Manajer Koperasi Wanita Patra Rusli Usman (tengah) berfoto bersama Kepala Career Development Center Universitas Mulia Dr. Linda Fauziyah Ariyani, S.Pd., M.Pd. (kanan), Kepala Program Studi Manajemen Dr. Pudjiati (kiri), serta jajaran pengurus koperasi usai sesi diskusi dan berbagi pengalaman mengenai tata kelola koperasi profesional.

Selain itu, mahasiswa juga dapat belajar mengenai integritas, tanggung jawab, serta orientasi pelayanan yang menjadi fondasi penting dalam membangun organisasi yang sehat dan berkelanjutan.

“Kompetensi-kompetensi inilah yang saat ini menjadi nilai tambah utama bagi lulusan ketika bersaing di dunia kerja,” katanya.

Namun, menurut Linda, manfaat kunjungan industri tidak akan optimal apabila berhenti pada tahap observasi semata. Karena itu, Career Development Center mendorong mahasiswa untuk melakukan refleksi terhadap pengalaman yang diperoleh selama kegiatan berlangsung.

Mahasiswa diharapkan mampu mengidentifikasi kompetensi yang dibutuhkan industri, menemukan ruang pengembangan diri, serta mengadopsi praktik-praktik baik yang dapat diterapkan dalam organisasi kemahasiswaan maupun aktivitas kewirausahaan.

Ke depan, pengalaman lapangan seperti ini akan terus diintegrasikan dengan berbagai program pengembangan karier lainnya, mulai dari pelatihan kesiapan kerja, magang, mentoring karier, hingga penguatan keterampilan nonteknis yang dibutuhkan dunia profesional.

Sementara itu, Kepala Program Studi Manajemen Universitas Mulia, Dr. Pudjiati, melihat kunjungan ke Koperasi Wanita Patra sebagai kesempatan bagi mahasiswa untuk memahami bahwa keberhasilan sebuah koperasi tidak hanya dibangun oleh semangat organisasi, tetapi juga ditentukan oleh kualitas tata kelola dan profesionalisme pengelolaannya.

Ia menjelaskan bahwa salah satu praktik yang paling relevan untuk diadopsi dalam pengembangan koperasi mahasiswa Universitas Mulia adalah tata kelola yang profesional, pengelolaan usaha yang berorientasi pada kebutuhan anggota, serta pemanfaatan teknologi digital dalam operasional dan pelayanan.

Pengurus Koperasi Wanita Patra menyampaikan materi dalam sesi sharing bersama mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Mulia. Mahasiswa tampak antusias menyimak penjelasan mengenai pengelolaan organisasi, pelayanan anggota, dan strategi pengembangan usaha koperasi.

Selain itu, budaya kewirausahaan juga menjadi aspek penting yang perlu ditanamkan sejak dini agar mahasiswa tidak hanya menjadi anggota koperasi, tetapi juga mampu belajar mengelola bisnis secara langsung.

“Dengan pendekatan tersebut, koperasi mahasiswa dapat berkembang menjadi laboratorium bisnis yang profesional, inovatif, dan berkelanjutan,” jelasnya.

Menurut Dr. Pudjiati, pengalaman yang diperoleh mahasiswa selama kunjungan memberikan perspektif baru mengenai peran koperasi di era modern. Koperasi tidak lagi dapat dipandang hanya sebagai organisasi administratif, melainkan sebagai badan usaha yang mampu tumbuh secara profesional, kompetitif, dan adaptif terhadap perubahan zaman.

Perhatian mahasiswa tertuju pada pemaparan pengurus Koperasi Wanita Patra yang membagikan pengalaman membangun dan mengembangkan usaha koperasi. Bagi peserta, sesi ini menjadi kesempatan untuk melihat bagaimana prinsip-prinsip manajemen diterapkan dalam praktik sehari-hari.

Melalui pengamatan langsung terhadap praktik pengelolaan koperasi, mahasiswa dapat melihat bagaimana perencanaan bisnis dilakukan, bagaimana keputusan strategis diambil, bagaimana keuangan dikelola, serta bagaimana pelayanan kepada anggota menjadi bagian penting dari keberhasilan organisasi.

“Pengalaman seperti ini memberikan pembelajaran praktis yang sering kali tidak diperoleh secara utuh di ruang kelas, sekaligus membentuk jiwa kepemimpinan, integritas, dan kewirausahaan yang dibutuhkan di dunia kerja maupun bisnis,” ungkapnya.

Komitmen pengembangan koperasi mahasiswa sendiri menjadi salah satu agenda strategis Program Studi Manajemen Universitas Mulia. Dalam lima tahun ke depan, koperasi mahasiswa diharapkan berkembang menjadi wadah yang tidak hanya aktif secara organisasi, tetapi juga mampu mengelola unit usaha yang berkelanjutan, memanfaatkan teknologi digital, dan menjadi sarana pengembangan kepemimpinan mahasiswa.

Bagi Dr. Pudjiati, koperasi justru memiliki peluang besar untuk tetap relevan di tengah maraknya startup digital dan model bisnis berbasis teknologi. Menurutnya, koperasi menawarkan nilai yang berbeda karena memadukan aktivitas ekonomi dengan semangat kolaborasi dan pemberdayaan bersama.

Jika dikelola secara modern, koperasi dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan inovasi, membangun jejaring, sekaligus menciptakan peluang ekonomi secara kolektif.

“Justru di era saat ini, koperasi dapat menjadi model bisnis masa depan yang mengedepankan keberlanjutan, kebersamaan, dan kesejahteraan anggota, sekaligus tetap kompetitif dalam menghadapi perubahan ekonomi digital,” tegasnya.

Melalui kunjungan ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh wawasan mengenai tata kelola koperasi profesional, tetapi juga mendapatkan pelajaran penting tentang bagaimana membangun usaha yang relevan dengan kebutuhan pasar. Bagi Universitas Mulia, pengalaman tersebut menjadi bagian dari upaya mempersiapkan mahasiswa agar tidak hanya siap memasuki dunia kerja, tetapi juga mampu menciptakan peluang usaha yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Kami percaya bahwa karier yang hebat tidak dibangun hanya di ruang kelas. Karier yang hebat dibangun melalui pengalaman, kolaborasi, dan keberanian untuk terus belajar dari dunia nyata,” pungkas Dr. Linda. (YMN)

Balikpapan, 3 Juni 2026 – Jarum jam mendekati pukul 14.30 WITA ketika sebuah undangan singkat mengarahkan langkah menuju Laboratorium Fakultas Teknik Universitas Mulia. Siang itu matahari masih menyisakan panas setelah sejak tengah hari menyengat Kota Balikpapan. Namun sinarnya mulai melemah, membuat perjalanan dari White Campus menuju gedung Fakultas Teknik terasa lebih bersahabat.

Di sepanjang jalan, gedung Cheng Hoo berdiri tenang di sisi kampus. Beberapa meter berikutnya, hamparan lapangan pickleball yang baru dibangun tampak mencuri perhatian. Sekilas bentuknya menyerupai lapangan tenis, meski dengan net yang lebih rendah. Debu tipis yang beterbangan di jalur penghubung gedung menjadi penanda bahwa kawasan kampus masih terus bertumbuh.

Memasuki gedung Fakultas Teknik yang berarsitektur berbeda dari bangunan kampus lainnya, suasana akademik langsung terasa. Di sisi kiri lantai dasar, Laboratorium Teknik terbuka menyambut tamu. Ruangan itu cukup luas dengan meja panjang yang telah disiapkan. Beberapa mahasiswa mengenakan jas laboratorium putih tampak sibuk mempersiapkan sampel uji yang akan dinilai para panelis.

Hari itu bukan sekadar kegiatan mencicipi makanan. Mahasiswa Program Studi Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian (TPHP) sedang melaksanakan pengujian sensori terhadap produk pentol bakso yang mereka kembangkan melalui berbagai formulasi bahan.

Tiga varian disajikan kepada panelis. Varian pertama menggunakan daging ayam dengan komposisi lebih dominan, sementara dua varian lainnya memadukan daging ayam dengan tahu dalam proporsi berbeda. Setiap panelis diminta memberikan penilaian terhadap rasa, aroma, tekstur, dan tingkat kekenyalan produk.

Di balik sepiring pentol bakso yang tampak sederhana, tersimpan proses pembelajaran yang jauh lebih kompleks.

Ketua Program Studi Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian, Rafika Dyah Maharani, S.Pi., M.T.P., menjelaskan bahwa praktikum semacam ini bertujuan memperlihatkan kepada mahasiswa bagaimana perubahan kecil dalam formulasi dapat menghasilkan karakteristik produk yang berbeda.

“Dari praktikum eksperimen dengan formulasi yang berbeda, mahasiswa jadi tahu bahwa perubahan formulasi sedikit akan berpengaruh terhadap rasa, aroma, kekenyalan, dan tekstur,” ujarnya.

Pemahaman tersebut menjadi fondasi penting dalam pengembangan produk pangan. Dalam industri, perubahan beberapa gram bahan tertentu dapat menentukan apakah suatu produk diterima atau ditolak konsumen.

Lebih jauh, mahasiswa juga diperkenalkan pada realitas bahwa inovasi pangan tidak selalu identik dengan bahan baku mahal. Menurut Rafika, salah satu pelajaran penting yang ingin ditanamkan adalah kemampuan menciptakan produk bernilai tanpa harus bergantung pada biaya produksi tinggi.

“Mahasiswa dilatih bahwa tidak semua produk pangan yang bergizi bernilai mahal. Ternyata dari bahan yang harganya terjangkau dapat menghasilkan produk yang tidak kalah dengan yang dijual di pasaran,” katanya.

Pemanfaatan tahu dalam formulasi bakso yang diuji bukan sekadar upaya menekan biaya produksi. Di balik pilihan bahan tersebut terdapat pertimbangan yang lebih luas, mulai dari aspek ketahanan pangan hingga pemanfaatan potensi bahan baku lokal.

Rafika menjelaskan bahwa melalui praktikum evaluasi sensori, mahasiswa diajak memahami bagaimana bahan pangan lokal dapat menjadi alternatif yang layak untuk mengurangi ketergantungan pada bahan baku tertentu yang harganya lebih mahal atau ketersediaannya terbatas.

“Dalam praktikum evaluasi sensori yang sudah terlaksana, bakso ayam dibuat dengan penambahan atau penggantian sebagian bahan menggunakan tahu. Mahasiswa belajar bagaimana bahan lokal seperti tahu dapat dimanfaatkan untuk mengurangi ketergantungan pada bahan baku yang lebih mahal atau terbatas ketersediaannya,” jelasnya.

Menurutnya, pendekatan tersebut penting karena industri pangan tidak hanya dituntut menghasilkan produk yang disukai konsumen, tetapi juga mampu beradaptasi terhadap dinamika ketersediaan bahan baku. Melalui kegiatan praktikum, mahasiswa dilatih untuk melihat potensi bahan lokal yang memiliki fungsi dan karakteristik serupa sehingga ketergantungan terhadap satu jenis bahan dapat dikurangi.

Sejumlah mahasiswa TPHP Universitas Mulia menyiapkan sampel pengujian di Laboratorium Fakultas Teknik sebelum kegiatan evaluasi sensori dimulai.

Dari sisi ekonomi, penggunaan tahu juga memberikan keuntungan tersendiri. Harga tahu relatif lebih terjangkau dibandingkan beberapa bahan tambahan lain yang umum digunakan dalam produk olahan pangan. Sementara dari sisi gizi, tahu merupakan sumber protein nabati yang dapat melengkapi kebutuhan nutrisi masyarakat.

“Dari segi ekonomi harga tahu lebih murah dibanding bahan tambahan lain seperti udang. Dari segi gizi, tahu merupakan sumber protein nabati sehingga penambahan tahu dalam bakso ayam dapat mendukung konsumsi pangan masyarakat yang lebih beragam melalui variasi sumber protein,” ujarnya.

Lebih jauh, Rafika menilai bahwa pengembangan produk pangan berbasis sumber daya lokal masih menghadapi sejumlah tantangan. Banyak produk potensial yang belum dikelola secara optimal, sementara sebagian lainnya masih menghadapi persoalan mutu dan konsistensi kualitas.

“Pengembangan produk pangan berbasis lokal masih minim dikelola dengan baik. Kalaupun sudah dikelola dengan baik, mutu produknya sering kali belum terpenuhi sehingga kepercayaan masyarakat terhadap produk lokal masih rendah,” katanya.

Karena itu, melalui kegiatan praktikum, mahasiswa tidak hanya diarahkan untuk menciptakan produk yang memiliki cita rasa baik, tetapi juga memahami pentingnya standar mutu, keamanan pangan, dan daya saing produk.

“Ke depannya mahasiswa diharapkan mampu menghasilkan produk pangan yang bermutu, aman dikonsumsi, dan memiliki daya saing yang kuat di masyarakat,” tambahnya.

Harapan tersebut sejalan dengan kebutuhan industri pangan yang terus menuntut inovasi produk berbasis bahan baku yang efisien tanpa mengabaikan kualitas. Salah satu contoh yang diperkenalkan dalam praktikum adalah pemanfaatan tahu sebagai bahan campuran bakso ayam. Selain memberikan keuntungan dari sisi ekonomi, penggunaan bahan lokal tersebut juga membuka peluang pengembangan karakteristik produk yang berbeda sesuai kebutuhan konsumen.

Dalam proses pengembangan produk pangan, penilaian konsumen menjadi aspek yang tidak dapat diabaikan. Namun demikian, penerimaan pasar bukan satu-satunya ukuran keberhasilan.

Rafika menegaskan bahwa mahasiswa diajarkan untuk menyeimbangkan hasil analisis laboratorium dengan hasil pengujian sensori.

“Analisis laboratorium dan pengujian sensori keduanya berada dalam penilaian penting. Dari mata kuliah Evaluasi Sensori, mahasiswa diajarkan bagaimana produk dapat diterima oleh konsumen. Mahasiswa belajar menyeimbangkan keduanya sehingga produk yang dihasilkan aman, bergizi, dan disukai konsumen,” jelasnya.

Pendekatan tersebut sekaligus menjawab pertanyaan yang kerap muncul di masyarakat mengenai perbedaan antara seseorang yang pandai memasak dengan lulusan teknologi pangan.

Menurut Rafika, titik pembeda terletak pada landasan ilmiah yang digunakan dalam proses pengembangan produk.

Dengan lembar penilaian di tangan, para panelis mencicipi setiap sampel pentol bakso untuk menentukan formulasi yang paling diterima dari segi rasa, aroma, tekstur, dan kekenyalan.

“Orang yang terbiasa memasak biasanya fokus pada hasil akhir bahwa rasanya enak dan bisa dikonsumsi. Sedangkan sarjana teknologi pangan membuat dan mengembangkan produk pangan berdasarkan ilmu, data, standar mutu, keamanan, dan kebutuhan konsumen,” ungkapnya.

Karena itu, pembelajaran di TPHP tidak berhenti pada kemampuan menghasilkan makanan yang lezat. Mahasiswa juga dibekali pemahaman mengenai keamanan pangan, kandungan gizi, standar mutu, hingga perilaku konsumen yang terus berubah mengikuti perkembangan zaman.

Rafika menilai keterbukaan terhadap tren menjadi kebutuhan penting bagi mahasiswa saat ini. Perubahan gaya hidup masyarakat turut memengaruhi preferensi pangan yang mereka konsumsi.

“Mahasiswa saat ini harus sangat terbuka dengan tren. Hal ini membantu dalam praktikum untuk membuat dan mengembangkan produk yang sesuai dengan lifestyle saat ini,” katanya.

Ke depan, hasil-hasil praktikum mahasiswa tidak direncanakan berhenti sebagai laporan akademik yang tersimpan di rak laboratorium. Program studi telah menyiapkan langkah lanjutan agar inovasi mahasiswa dapat diuji dalam lingkungan yang lebih luas.

“Rencana prodi yaitu pengembangan produk hasil praktikum dengan memasarkan ke lingkungan universitas, kemudian bekerja sama dengan UMKM daerah dan memberikan pelatihan kepada masyarakat sekitar,” jelas Rafika.

Sebelum sampai ke tahap pemasaran, setiap produk tetap harus melalui serangkaian pengujian ilmiah untuk memastikan kualitasnya.

“Sebelum dipasarkan kami akan melakukan uji laboratorium untuk menentukan produk tersebut memiliki nilai gizi yang baik, sehingga produk yang kami pasarkan tidak hanya enak dan bisa dikonsumsi,” tambahnya.

Di atas meja laboratorium sore itu, tiga piring pentol bakso mungkin terlihat sebagai hasil praktikum biasa. Namun bagi mahasiswa TPHP, produk tersebut merupakan pertemuan antara sains, kreativitas, dan kebutuhan pasar. Dari perubahan formulasi yang tampak sederhana, mereka belajar bahwa masa depan industri pangan sering kali ditentukan oleh kemampuan memahami satu hal yang paling mendasar: apa yang diinginkan konsumen, tanpa melupakan keamanan dan kualitas yang harus dijaga. (YMN)

 

Tana Paser, 10 Mei 2026 — Universitas Mulia membawa agenda pendidikan berbasis kebutuhan daerah ke ruang kebijakan Pemerintah Kabupaten Paser melalui audiensi bersama Wakil Bupati Paser H. Ikhwan Antasari, S.Sos., di ruang kerja Bupati Paser. Pertemuan ini membahas bagaimana pendidikan tinggi dapat dirancang lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat, struktur pembangunan daerah, dan arah penguatan sumber daya manusia Kabupaten Paser.

Dialog antara Pemerintah Kabupaten Paser dan Universitas Mulia berfokus pada sejumlah isu mendasar: perluasan akses pendidikan tinggi, peningkatan kualitas SDM daerah, optimalisasi implementasi program pendidikan gratis, serta pengembangan model pendidikan yang disusun berdasarkan kebutuhan wilayah hingga desa binaan.

Pemerintah Kabupaten Paser memaparkan bahwa pembangunan SDM menjadi salah satu poros utama kebijakan daerah, termasuk melalui program “Ayo Sekolah” dan target “1 Desa 1 Sarjana” yang menjangkau 139 desa dan 5 kelurahan. Bagi Universitas Mulia, arah ini menghadirkan ruang kerja akademik yang jelas: pendidikan tinggi perlu diterjemahkan menjadi sistem yang mampu membaca potensi wilayah, menyiapkan kompetensi spesifik, dan menghasilkan lulusan yang kembali memberi dampak pada daerah asalnya.

Pendekatan tersebut sejalan dengan orientasi Universitas Mulia yang menempatkan pendidikan bukan sekadar proses memperoleh gelar, tetapi sebagai instrumen untuk membangun kapasitas sosial, ekonomi, dan kelembagaan masyarakat. Kebutuhan kawasan pesisir, penguatan desa, tata kelola pemerintahan lokal, hingga pengembangan sektor produktif menjadi ruang di mana perguruan tinggi dapat bekerja lebih relevan melalui pendidikan, riset, dan pengabdian.

Dalam pembahasan tersebut, Pemerintah Kabupaten Paser juga mendorong keterlibatan Universitas Mulia dalam memperluas pemahaman masyarakat terhadap program pendidikan gratis agar akses terhadap perguruan tinggi tidak terhambat persoalan ekonomi. Posisi ini menempatkan kampus bukan hanya sebagai penyelenggara pendidikan, tetapi sebagai bagian dari mekanisme perluasan kesempatan sosial.

Pembahasan tidak berhenti pada mahasiswa. Penguatan kapasitas perangkat desa dan RT melalui pelatihan maupun pendidikan lanjutan turut menjadi perhatian. Bagi Universitas Mulia, konteks ini membuka ruang kontribusi yang lebih luas: kampus dapat berfungsi sebagai penyedia pengetahuan terapan bagi penguatan tata kelola masyarakat dari tingkat lokal.

Pertemuan ini juga membuka kemungkinan penyelenggaraan program perkuliahan di luar kampus utama, pendidikan yang terkoneksi dengan kebutuhan dunia kerja, serta skema kolaborasi yang dirancang berdasarkan kebutuhan riil Kabupaten Paser. Dengan demikian, pendidikan tinggi ditempatkan sebagai bagian dari desain pembangunan, bukan sekadar layanan akademik.

Kehadiran jajaran Universitas Mulia yang terdiri atas Wakil Ketua MBI Drs. Tatang Setyawan, Koordinator Bidang Amrico Yuliasnarto, Anggota Bidang Branding Dr. Pudjiati, S.E., M.M., serta Anggota Bidang Inovasi Titin Yuliana menunjukkan keseriusan institusi dalam membaca kebutuhan daerah sebagai dasar pengembangan kolaborasi.

Melalui audiensi ini, Universitas Mulia tidak sekadar membangun relasi kelembagaan, tetapi menempatkan kapasitas akademiknya dalam percakapan yang lebih substansial: bagaimana pendidikan tinggi dapat disusun selaras dengan kebutuhan daerah, memperluas mobilitas sosial masyarakat, dan berkontribusi langsung pada pembentukan masa depan Kabupaten Paser. (YMN)

 

Oleh: Wahyu Nur Alimyaningtias, S.Kom., M.Kom.

Balikpapan, 21 April 2026— Di sebuah ruang kelas sederhana di Universitas Mulia, cahaya lampu menerangi wajah-wajah penuh harapan. Duduk di depan, dosen dan beberapa mahasiswa wanita duduk dengan senyum hangat—sosok yang bukan hanya pengajar, tetapi juga inspirasi. Di belakang mereka, berdiri para mahasiswa dengan penuh semangat, sebagian mengepalkan tangan, sebagian lagi tersenyum percaya diri. Sebuah potret kecil, namun menyimpan cerita besar tentang perjuangan, mimpi, dan masa depan.

Hari itu terasa Istimewa, semangat Hari Kartini hidup dalam ruangan tersebut. Kartini pernah berkata bahwa perempuan harus berani berpikir dan maju. Semangat itulah yang kini menjelma dalam diri para akademisi wanita di Universitas Mulia. Mereka hadir bukan sekadar mengajar teori, tetapi menjadi jembatan bagi generasi muda—terutama generasi Z—untuk memahami dunia yang terus berubah dengan cepat.

Di tengah tantangan era digital, para dosen wanita Universitas Mulia membuktikan bahwa kelembutan bisa berjalan berdampingan dengan ketegasan, dan empati bisa menjadi kekuatan dalam mendidik. Mereka tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga menanamkan nilai: disiplin, keberanian, dan kepercayaan diri. Mereka memahami bahwa mahasiswa hari ini membutuhkan lebih dari sekadar materi—mereka butuh arah, motivasi, dan teladan.

Sementara itu, para mahasiswa berdiri sebagai simbol harapan masa depan. Dengan gaya khas generasi Z dinamis, kreatif, dan penuh ekspresi , mereka menunjukkan bahwa belajar bukan lagi sekadar kewajiban, tetapi sebuah perjalanan menuju cita-cita. Kepalan tangan mereka bukan hanya gaya, tetapi simbol tekad: tekad untuk sukses, untuk membanggakan keluarga, dan untuk memberikan kontribusi nyata bagi bangsa.

Wahyu Nur Alimyaningtias, S.Kom., M.Kom. berfoto bersama mahasiswa dan mahasiswinya usai perkuliahan, merekam momen kebersamaan yang hangat sekaligus mencerminkan semangat kolaborasi dan inspirasi di lingkungan Universitas Mulia.

Di ruangan itu, tidak ada batas antara dosen dan mahasiswa, yang ada adalah kolaborasi. Perjuangan akademisi wanita dan semangat belajar mahasiswa berpadu menjadi satu energi besar. Energi yang akan melahirkan inovasi, membentuk karakter, dan menciptakan masa depan yang lebih baik.

Cerita ini mengajarkan satu hal:
bahwa perjuangan tidak pernah sia-sia ketika dilakukan dengan hati.
Bahwa pendidikan adalah cahaya, dan perempuan adalah salah satu penjaga nyalanya.
Dan bahwa setiap mahasiswa, dengan semangat dan kerja kerasnya, sedang menulis kisah suksesnya sendiri.

Di Hari Kartini ini, semangat itu terus hidup di kelas-kelas, di pikiran, dan di hati mereka yang percaya bahwa mimpi bukan untuk ditunda, tetapi untuk diwujudkan.n (WN)

Balikpapan, 26 Januari 2026—Program Studi Sistem Informasi Universitas Mulia menyelenggarakan Class Champion League, sebuah kompetisi antar kelas yang dirancang sebagai bagian dari strategi pembelajaran berbasis praktik. Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa dari mata kuliah Computational Thinking, Pemrograman Berorientasi Objek, dan Literasi Gen AI, serta berlangsung pada Rabu, 21 Januari 2026, pukul 08.00–15.40 WITA di Ballroom Cheng Ho dan beberapa ruang kelas pendukung.

Kompetisi ini disusun untuk memfasilitasi mahasiswa dalam mengintegrasikan penguasaan konsep akademik dengan keterampilan komunikasi, kerja kolaboratif, serta presentasi solusi berbasis teknologi. Melalui rangkaian tantangan yang diberikan, mahasiswa diuji dalam merumuskan pendekatan pemecahan masalah, menyampaikan argumen teknis, dan bekerja secara sistematis dalam tim.

Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh tim pengajar Program Studi Sistem Informasi, dengan koordinasi akademik berada di bawah Rahmat Saudi Al Fathir, A.S., selaku dosen pengampu pada sejumlah mata kuliah yang terlibat. Untuk menjaga mutu penilaian, program studi melibatkan panel juri dengan latar belakang rekayasa perangkat lunak, yakni Muhammad Kharisma Mahardika, Zikri Suanda, dan Pramudya Prima Insan Prayitno.

Pada akhir kompetisi, sejumlah tim mahasiswa dinyatakan meraih peringkat terbaik pada masing-masing kategori lomba. Pada cabang Computational Thinking, penghargaan diberikan kepada tim Adalah Pokoknya. Kategori Literasi Gen AI dimenangkan oleh tim Regu Tulip, sementara cabang Pemrograman Berorientasi Objek diraih oleh tim Nasihuyy.

Program Studi Sistem Informasi menilai bahwa pelaksanaan Class Champion League memberikan ruang pembelajaran kontekstual bagi mahasiswa, khususnya dalam mengembangkan kemampuan mengomunikasikan solusi teknis, mengelola kerja kelompok, serta merespons persoalan berbasis studi kasus.

Rangkaian kegiatan berlangsung melalui sesi perlombaan dan presentasi terbuka, disertai diskusi evaluatif yang memungkinkan mahasiswa memperoleh umpan balik langsung dari para juri. Pola ini diharapkan dapat memperkuat proses pembelajaran di kelas melalui pengalaman aplikatif yang terstruktur.

Melalui kegiatan ini, Program Studi Sistem Informasi Universitas Mulia memperluas penerapan pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning) dengan memfasilitasi mahasiswa untuk menguji konsep teoritis dalam konteks kompetitif yang terstruktur. Model kegiatan semacam ini dipandang sebagai sarana evaluatif terhadap capaian pembelajaran mata kuliah sekaligus wahana penguatan keterampilan profesional mahasiswa yang relevan dengan praktik industri teknologi informasi. (YMN)

 

Balikpapan, 26 Januari 2026—Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Mulia melalui Program Studi Manajemen menyelenggarakan seminar bertajuk “Menata Karier dan Masa Depan di Usia 20-an” pada Jumat, 23 Januari 2026. Kegiatan ini diikuti oleh 194 mahasiswa, yang terdiri atas 135 mahasiswa baru angkatan 2026 serta 59 mahasiswa angkatan 2025.

Ketua Program Studi Manajemen Universitas Mulia, Dr. Pudjiati, S.E., M.M., berfoto bersama mahasiswa peserta seminar yang menerima cenderamata atas keaktifan mereka dalam sesi tanya jawab.

Kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai bagian dari upaya fakultas dalam memberikan pembekalan nonkurikuler kepada mahasiswa, khususnya terkait perencanaan karier sejak masa studi. Selain itu, seminar ini juga memperkenalkan program pembentukan Duta Manajemen yang akan mendukung kegiatan Promosi Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Program Studi Manajemen.

Ketua Program Studi Manajemen Universitas Mulia, Dr. Pudjiati, S.E., M.M., menyampaikan materi dalam seminar “Menata Karier dan Masa Depan di Usia 20-an” yang diselenggarakan oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mulia.

Dalam sesi utama, Ketua Program Studi Manajemen Universitas Mulia, Dr. Pudjiati, S.E., M.M., menyampaikan materi mengenai pengenalan potensi diri, perumusan tujuan profesional, serta pentingnya penyusunan langkah yang terarah dalam menyiapkan karier mahasiswa. Ia juga menyoroti perlunya penguatan keterampilan komunikasi, kepemimpinan, kerja sama tim, serta kesiapan menghadapi dinamika dunia kerja.

Mahasiswa diarahkan untuk memanfaatkan kegiatan organisasi, pelatihan, dan aktivitas kemahasiswaan sebagai bagian dari proses pengembangan diri selama menempuh pendidikan di perguruan tinggi, termasuk keterlibatan dalam kegiatan promosi program studi.

Seorang mahasiswa mengajukan pertanyaan dalam sesi diskusi pada seminar perencanaan karier yang digelar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mulia.

Program Duta Manajemen diperkenalkan sebagai wadah partisipasi mahasiswa dalam kegiatan komunikasi publik Program Studi Manajemen kepada calon mahasiswa dan masyarakat. Melalui program tersebut, mahasiswa diharapkan mampu menjalankan peran representatif secara bertanggung jawab serta menunjukkan sikap profesional dalam interaksi publik.

Pelaksanaan kegiatan didukung oleh Himpunan Mahasiswa Manajemen (HMM) yang berperan dalam membantu kelancaran teknis dan koordinasi selama seminar berlangsung.

Rangkaian kegiatan dilaksanakan melalui pemaparan materi dan sesi diskusi. Partisipasi mahasiswa tercermin dari jumlah pertanyaan serta tanggapan yang muncul selama sesi berlangsung.

Mahasiswa peserta seminar berfoto bersama Ketua Program Studi Manajemen Universitas Mulia, Dr. Pudjiati, S.E., M.M., selaku pemateri utama kegiatan.

Melalui kegiatan ini, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mulia bersama Program Studi Manajemen memfasilitasi mahasiswa dalam memahami pentingnya perencanaan masa depan sejak dini, kesiapan menghadapi dunia kerja, serta peran mahasiswa dalam kegiatan representasi program studi di lingkungan universitas. (YMN)

 

Universitas Mulia mengucapkan selamat ulang tahun ke-38 Kaltim Post.
Dalam momentum tersebut, jajaran Universitas Mulia diterima langsung oleh Direktur Kaltim Post, Erwin D. Nugraha, dan Wakil Direktur Kaltim Post, Supriyono.
Pertemuan ini menjadi ruang silaturahmi sekaligus penguatan relasi strategis antara perguruan tinggi dan media dalam mendukung ekosistem informasi yang kredibel, berimbang, dan mencerdaskan publik di Kalimantan Timur.

Balikpapan, 1 Desember 2025 — Universitas Mulia menyelenggarakan Wisuda ke-7 Tahun 2025 pada Senin, 1 Desember 2025 di Hotel Novotel Balikpapan. Acara dihadiri jajaran Pembina, Pengurus, dan Badan Pengelola Harian Yayasan Airlangga, perwakilan Pemerintah Kota Balikpapan, pimpinan perguruan tinggi, serta orang tua wisudawan. Dalam sambutannya, Rektor Universitas Mulia menyampaikan uraian komprehensif mengenai capaian institusi, profil lulusan, serta arah pengembangan kompetensi di era teknologi digital dan kecerdasan buatan.

Rektor Universitas Mulia, Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i, M. Si., menyampaikan sambutan dalam Sidang Terbuka Wisuda ke-7 Universitas Mulia Tahun 2025 di Hotel Novotel Balikpapan.

Penghargaan kepada Wisudawan, Orang Tua, dan Sivitas Akademika

Rektor UM, Prof Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si. membuka sambutan dengan menegaskan bahwa wisuda merupakan tonggak penting bagi para lulusan sekaligus momentum reflektif atas perjalanan akademik yang telah ditempuh. Ucapan selamat disampaikan kepada 361 lulusan dari berbagai program studi, disertai apresiasi eksplisit kepada orang tua dan wali mahasiswa yang disebut sebagai pihak yang menyediakan dukungan moral, finansial, dan spiritual hingga para wisudawan mencapai tahap akhir studinya.

Kepada dosen dan tenaga kependidikan, Rektor menekankan bahwa setiap ijazah yang diterima mahasiswa tidak berdiri sendiri, melainkan hasil dari rangkaian proses panjang mulai dari penyusunan materi, pendampingan akademik, penilaian, hingga dukungan administratif yang konsisten.

Prosesi Wisuda Fakultas Ilmu Komputer (FIKOM): Rektor UM melakukan pemindahan tali toga, sementara Dekan FIKOM, Djumhadi, S.T., M.Kom., bersiap menyerahkan ijazah kepada wisudawan dan wisudawati.

Profil Wisuda 2025

Pada wisuda tahun ini, Universitas Mulia melepas 361 lulusan S1 dengan karakteristik sebagai berikut:

  • Predikat kelulusan: 54% meraih predikat Sangat Memuaskan dan 45% Cum Laude.
  • Rerata IPK: 3,56, meningkat dibanding 2024.
  • Rerata masa studi: 4 tahun 5 bulan.
  • Masa studi tercepat: Wahyu Aji Purnama (S1 Teknik Informatika) dengan masa studi ±3 tahun 4 bulan.
  • Wisudawan tertua: Ratna Arif (S1 Farmasi) berusia sekitar 49 tahun.
  • Wisudawan termuda: Nabila Cantika Anajolla (S1 Sistem Informasi) berusia sekitar 20 tahun.

Rektor menegaskan bahwa beragamnya perjalanan studi para lulusan menunjukkan bahwa setiap mahasiswa memiliki ritme dan tantangan masing-masing, namun seluruhnya tiba pada garis akhir yang sama pada hari wisuda.

Wisudawan dan wisudawati Universitas Mulia berbaris menunggu pemanggilan nama dan gelar akademik untuk mengikuti prosesi pemindahan tali toga oleh Rektor Universitas Mulia.

Peningkatan Kepercayaan Publik dan Capaian Kelembagaan

Rektor memaparkan perkembangan signifikan terkait pertumbuhan mahasiswa dan kinerja institusi dalam tiga tahun terakhir. Jumlah mahasiswa baru meningkat rata-rata 10–11% per tahun, sementara mahasiswa aktif bertambah 3–4% per tahun. Universitas Mulia juga mencatat lebih dari 80 kerja sama tridharma, baik internasional maupun nasional.

Di bidang akademik, kenaikan jabatan fungsional dosen mencapai hampir 50% dalam dua tahun terakhir. Produktivitas ilmiah juga menunjukkan perkembangan melalui 378 karya ilmiah dalam tiga tahun, 88 Hak Kekayaan Intelektual, satu paten, serta 65 buku ber-ISBN dalam lima tahun terakhir.

Tracer Study dan Mutu Lulusan

Laporan tracer study menunjukkan:

  • Waktu tunggu memperoleh pekerjaan: 3,7 bulan.
  • Kesesuaian bidang kerja: 83% bekerja sesuai kompetensi akademik.
  • Penilaian pengguna: 98% puas (80% menilai “Sangat Baik”, 18% “Baik”)

Lulusan Universitas Mulia bekerja pada berbagai sektor, mulai dari perusahaan multinasional, industri nasional, lembaga pemerintah, hingga wirausaha mandiri.

Wisudawan, wisudawati, dan keluarga mengikuti rangkaian Sidang Terbuka Wisuda ke-7 Universitas Mulia Tahun 2025.

Penguatan Ekosistem Technopreneurship

Rektor menguraikan bahwa penguatan ekosistem technopreneurship terus dibangun melalui:

  • Inkubator Bisnis UM yang berfungsi mengubah ide inovatif menjadi produk dan rintisan usaha.
  • LSP UM serta kerja sama Sertifikasi Digital Talent (Kominfo/KomDigi) untuk memperluas akses micro-credentials.
  • Laboratorium berbasis income generator, seperti Rumah Produksi Kosmetik Tipe B (Prodi Farmasi) dan Tempat Penitipan Anak (Prodi PG-PAUD).
  • Dukungan pendanaan riset melalui DIPA internal, BRIDA, dan hibah PP-PTS untuk penguatan pembelajaran PjBL, MKWK, dan aktivitas riset terapan.

AI Generatif: Peluang, Risiko, dan Etika

Salah satu bagian penting dalam sambutan Rektor adalah penekanan mengenai perkembangan kecerdasan buatan generatif seperti ChatGPT, Gemini, Copilot, DALL·E, dan Midjourney. Menurutnya, teknologi ini membawa peluang besar dalam penulisan, penerjemahan, perancangan, hingga pemrograman.

Namun, risiko seperti deepfake, hoaks, penipuan, dan plagiarisme perlu dipahami secara kritis. Rektor menegaskan bahwa AI menggantikan pekerjaan rutin, bukan peran manusia yang memiliki kemampuan kritis, empatik, dan berintegritas. Karena itu, lulusan Universitas Mulia diharapkan tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi pihak yang mampu memimpin pemanfaatan AI secara bertanggung jawab dan etis.

Wisudawati Universitas Mulia memperlihatkan map ijazah sebagai penanda resmi penyelesaian studi sarjana setelah menempuh proses pendidikan tinggi di Universitas Mulia.

Future Skills dan Kurikulum OBE 2025

Rektor memaparkan orientasi kompetensi masa depan (future skills), meliputi literasi AI dan data, analytical and creative thinking, keamanan siber, kepemimpinan, kolaborasi, serta komitmen pada pembelajaran sepanjang hayat. Kurikulum Outcome-Based Education (OBE) Universitas Mulia 2025 disusun selaras dengan kebutuhan tersebut melalui metode pembelajaran berbasis proyek, studi kasus, sertifikasi profesi, micro-credentials, dan program magang industri.

Pesan bagi Lulusan

Dalam penutup sambutannya, Rektor menekankan empat pesan utama:

  1. Menjaga nama baik diri, keluarga, dan almamater dalam setiap bentuk pengabdian dan pekerjaan.
  2. Mengembangkan kompetensi dan jejaring profesional, mengingat dinamika teknologi dan ilmu pengetahuan bergerak sangat cepat.
  3. Menanamkan jiwa technopreneur dan inovator, agar lulusan tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi pencipta solusi berbasis teknologi.
  4. Berperan aktif dalam perkembangan daerah dan bangsa, terutama pada agenda strategis Kalimantan Timur dan Kota Balikpapan.

Rektor mengapresiasi kerja keras para lulusan yang harus menyeimbangkan studi dengan pekerjaan, kondisi keluarga, atau kendala ekonomi. Ia menegaskan bahwa ketahanan dan kemampuan untuk menyelesaikan proses akademik merupakan modal penting dalam menghadapi dunia profesional.

Acara wisuda diakhiri dengan ajakan kepada para lulusan untuk tetap menjalin hubungan dengan almamater serta turut berkontribusi dalam pengembangan Universitas Mulia di masa mendatang. (YMN)

 

Balikpapan, 23 November 2025 Pelaksanaan asesmen lapangan Akreditasi Institusi Universitas Mulia selama tiga hari, 20–22 November 2025, ditutup dengan suasana haru sekaligus optimisme. Visitasi oleh tim asesor BAN-PT menjadi momentum penting bagi UM untuk menegaskan komitmen dan arah transformasi pendidikan tinggi di Kalimantan Timur.

Rektor Universitas Mulia, Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifai, M.Si., menyampaikan bahwa kehadiran asesor adalah momen yang sangat dinantikan setelah satu tahun mengajukan dokumen borang. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa penantian itu bukan sekadar menunggu hasil akreditasi, tetapi menunggu masukan objektif untuk percepatan pengembangan institusi.

Rektor Universitas Mulia, Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifai, M.Si., menyampaikan sambutan pembuka visitasi Akreditasi Institusi BAN-PT.

“Satu tahun ini seperti menunggu seseorang yang dicintai. Kami sangat menunggu visitasi karena kami meyakini penilaian pihak luar jauh lebih objektif dibanding menilai diri sendiri. Dan ketika kami mendapat kabar kedatangan tiga pakar ini, benar-benar seperti pucuk dicinta ulam pun tiba,” ujar Prof. Ahsin.

Kedatangan tiga asesor BAN-PT pada visitasi tahun ini sekaligus menjadi kehormatan tersendiri bagi Universitas Mulia. Para pakar nasional tersebut—Prof. Dr. Ir. Ansar Suyuti, M.T. dari Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. Pupung Purnamasari, S.E., M.Si., Ak., CA. dari Universitas Islam Bandung, serta Dr. Aan Listiana, S.Pd., M.Pd. dari Universitas Pendidikan Indonesia—memberikan perspektif lintas-disiplin mulai dari tata kelola pendidikan, pengelolaan akademik dan keuangan, hingga peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Interaksi sepanjang visitasi berlangsung hangat, kritis, dan konstruktif sehingga evaluasi yang diberikan tidak hanya terasa sebagai proses penilaian, tetapi sebagai dorongan strategis untuk mengakselerasi mutu Universitas Mulia dalam waktu yang lebih cepat.

Rektor kemudian menegaskan bahwa selama tujuh tahun perjalanan sebagai universitas, UM telah berupaya menyesuaikan seluruh tata kelola pendidikan dengan peraturan nasional dan standar BAN-PT—mulai dari penataan visi-misi, peningkatan mutu SDM, penjaminan mutu, peningkatan layanan akademik dan keuangan, hingga kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Prof. Ahsin menambahkan bahwa akreditasi bukan garis akhir, melainkan pijakan untuk melangkah lebih maju.

“Kami berharap kritik dan saran asesor menjadi kompas bagi pengembangan UM ke depan. Apa yang belum tepat diperbaiki, apa yang kurang dilengkapi, sehingga mutu UM berkembang secara berkelanjutan,” ujarnya.

Yayasan: Perjalanan Panjang dan Rasa Syukur atas Kemajuan UM

Direktur Eksekutif BPH Yayasan Airlangga Balikpapan, Dr. Agung Sakti Probadi, M.H., S.H., menggambarkan akreditasi sebagai “ujian terbuka yang membuka seluruh isi tubuh.” Ia memahami dinamika dan ketegangan yang dihadapi pimpinan universitas, namun menegaskan bahwa akreditasi menjadi instrumen penting untuk menguatkan kepercayaan publik.

Direktur Eksekutif BPH Yayasan Airlangga Balikpapan, Dr. Agung Sakti Probadi, M.H., S.H., memberikan sambutan dan dukungan penuh terhadap penguatan mutu dan pengembangan Universitas Mulia.

 

Dr. Agung kemudian menguraikan perjalanan panjang Yayasan sejak 1993 hingga berkembang menjadi Universitas Mulia pada 2019, beserta ekspansi yang dilakukan hingga hari ini.
“Sejak Prof. Ahsin bersedia memimpin Universitas Mulia, perkembangan sangat terasa. Dalam tahun ketiga kepemimpinan beliau kami sudah bisa mengakuisisi perguruan tinggi di Kolaka, membuka fakultas baru, dan insya Allah enam program studi sedang dalam proses pembukaan,” jelasnya.

Ia menutup sambutan dengan penegasan bahwa kerja keras dalam proses akreditasi bukan untuk dibanggakan, melainkan untuk dituai. Ia berharap Allah membalas seluruh ikhtiar itu dengan kemudahan dan keberkahan bagi pengembangan Universitas Mulia pada fase berikutnya.

Asesor BAN-PT: Kami Datang untuk Membantu, Bukan Menghakimi

Asesor BAN-PT, Prof. Dr. Ansar Suyuti, M.T., menegaskan bahwa kedatangan tim asesor bukan untuk mencari kesalahan, melainkan untuk memotret kondisi objektif dan membuka ruang dialog perbaikan.

“Kami datang sebagai juru potret. Tugas kami bukan memeriksa, tetapi membantu Bapak/Ibu mendapatkan hasil yang optimum. Kalau ada sesuatu yang sudah berubah menjadi lebih baik, itu juga harus diakui,” ucapnya.

Asesor BAN-PT, Prof. Dr. Ansar Suyuti, M.T., memberikan arahan pada sesi pembukaan asesmen lapangan Akreditasi Institusi Universitas Mulia, dengan penekanan pada upaya berkelanjutan peningkatan mutu pendidikan tinggi.

Prof. Ansar juga menyoroti perubahan kebutuhan pendidikan akibat perkembangan teknologi dari era digital menuju era kuantum, serta pentingnya kesiapan perguruan tinggi menghadapi perubahan tersebut.
“Tugas seluruh pimpinan adalah memastikan UM menjadi tempat terbaik bagi masyarakat untuk menuntut ilmu. Tugas itu tidak ringan, tapi sangat mulia,” tegasnya.

Optimisme Pasca Akreditasi

Seluruh rangkaian visitasi ditutup dengan suasana penuh harapan. Bagi Universitas Mulia, akreditasi bukan sekadar evaluasi dokumen, tetapi proses refleksi kolektif mengenai masa depan institusi.

Dengan dukungan penuh Yayasan, pimpinan, sivitas akademika, dan alumni, UM menegaskan arah pengabdian pendidikannya: membangun Balikpapan sebagai fondasi, memperkuat Samarinda sebagai mitra strategis, memperluas Kolaka sebagai kawasan pertumbuhan baru, dan berkontribusi bagi Indonesia sebagai tujuan akhir. (YMN)