Tag Archive for: Pelatihan

Muhammad Yani saat bersama Kepala SMK Negeri 2 Sangatta Utara Puji Rahayu Effendi, M.Pd bersama Wakil Kepala Sekolah dan para guru. Foto: dok. Muhammad Yani

UM – Dosen Program Studi Di luar Kampus Utama (PSDKU) Samarinda Muhammad Yani, S.Kom., M.T.I menjadi narasumber Workshop Pembuatan Media Pembelajaran Menyenangkan berbasis Teknologi Informasi, bertempat di SMK Negeri 2 Sangatta Utara, Kamis (5/10).

Workshop diikuti 40 orang guru SMK Negeri 2 Sangatta Utara yang juga merupakan SMK Pusat Keunggulan (SMKPK) di Kabupaten Kutai Timur.

Untuk melaksanakan kegiatan tersebut, Muhammad Yani mengatakan dirinya mendapatkan penugasan untuk melaksanakan pengabdian kepada masyarakat menjadi narasumber workshop pembuatan media pembelajaran di sekolah tersebut.

Muhammad Yani merasakan surprise lantaran untuk pertama kalinya dirinya menumpangi kendaraan hybrid yang mulai banyak digunakan di daerah pelosok di Kalimantan Timur.

“Saya dijemput dari Samarinda. Berangkat hari Rabu (4/10) siang, pulang Kamis (5/10) sore kemarin. Alhamdulillah, merasakan naik mobil hybrid,” kata Muhammad Yani sembari tersenyum.

Sebagaimana diketahui, mobil hybrid merupakan kendaraan yang menggunakan sistem penggerak dari dua sumber energi, yaitu bahan bakar yang diolah pada mesin pembakaran dalam dan listrik dari baterai yang diproses motor listrik.

Sampai di lokasi kegiatan, dirinya disambut hangat Kepala SMKN 2 Sangatta Utara Puji Rahayu Effendi, M.Pd bersama para guru. “Sambutan sangat baik,” ujar Muhammad Yani.

Saat pelaksanaan workshop pembuatan media pembelajjaran. Foto: dok. Muhammad Yani

Saat pelaksanaan workshop pembuatan media pembelajjaran. Foto: dok. Muhammad Yani

Muhammad Yani bersama Abdul Rahman Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum, saat menggunakan mobil hybrid. Foto: dok. Muhammad Yani

Muhammad Yani bersama Abdul Rahman Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum dan mobil hybrid. Foto: dok. Muhammad Yani

Pada workshop tersebut, Yani memberikan materi pelatihan seputar bagaimana membuat presentasi dan video pembelajaran menggunakan perangkat lunak Canva.

“Kami optimalisasikan akun belajar.id yang telah difasilitasi oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Guru-guru di Indonesia, termasuk kepala sekolah, dan siswa-siswi mulai jenjang TK sampai dengan SMA dan yang sederajat menggunakan platform belajar.id,” terang Muhammad Yani.

Hasil pembuatan video pembelajaran masing-masing guru pada workshop tersebut kemudian disimpan di YouTube dan dibagikan pada Platform Merdeka Mengajar Kemdikbudristek RI.

“Kami upload di YouTube, selanjutnya dibagikan ke dalam Platform Merdeka Mengajar (PMM) dalam bentuk Bahan Ajar Digital. Dari PMM, para guru bisa belajar, mengajar, dan berkarya,” tutur Yani.

Meski demikian, Yani menerangkan bahwa karya video pembelajaran tersebut hanya dapat dilihat atau diakses oleh pengguna atau user yang telah memasang (install) atau memiliki akses PMM. “Alhamdulillah,” pungkas Yani.

(SA/Puskomjar)

Pelatihan Pemanfaatan AI untuk Bahan Ajar Guru. Foto: Humas

UM, Humas – Sabtu, 2 September 2023 Universitas Mulia bekerjasama dengan Ikatan Alumni Universitas Negeri Malang Wilayah Balikpapan telah melaksanakan kegiatan Pelatihan Pemanfaatan Teknologi Artificial Intelegence (AI) Untuk Pengembangan Bahan Ajar Guru . Kegiatan ini dibuka oleh Direktur Eksekutif Pendidikan Yayasan Airlangga Balikpapan, Bapak Dr. Agung Sakti Pribadi, S.H., M.H dan Ketua IKA  – Universitas Negeri Malang Wilayah Balikpapan, Ibu Dra, Ririen Friedayati. Harapan bapak Agung Sakti Pribadi terhadap Kerjasama yang berjalan antara universitas mulia Balikpapan dan Ikatan alumni Universitas Negeri Malang dapat menciptakan sinergi dan saling melengkapi dalam Tri Dharma perguruan tinggi.

Tema yang disampaikan pada kegiatan pelatihan ini diterima dengan penuh antusias oleh seluruh peserta dan sangat diperlukan dalam pengembangan bahan ajar di Era teknologi masa kini .Pelatihan ini  Terdapat dua pemateri atau narasumber  yakni Dr. Linda Fauziyah Ariyani, S.Pd., M.Pd (Praktisi Pendidikan sekaligus Kepala LSP dan Pengembangan Pendidikan Universitas Mulia) dan pemateri kedua oleh Mundzir, S.Kom., M.T (IT Manager dan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Univ.Mulia) , Dalam implementasi pendidikan masa kini tidak lepas terhadap teknologi terutama dalam penyampaian materi bahan ajar banyak para guru dan dosen menggunakan fasilitas AI dan berbasis online . Murid -murid dan mahasiswa juga terbantu dengan media ajar yang inovatif dan mudah didapatkan. Selain itu pemateri berharap agar hasil dari kegiatan ini dapat diimplementasikan dalam pengembangan belajar mengajar dilingkungan sekolah dan perguruan tinggi masing-masing serta dapat menjadi bahan pengetahuan kepada peserta yang hadir dari lingkup Pendidikan.

Kegiatan yang dilaksanakan di Hotel Zurich Balikpapan ini mendapatkan antusiasme yang besar dari  peserta  yang dihadiri oleh 33  institusi sekolah dan perguruan tinggi di Kota Balikpapan, Kota Samarinda, Kab.PPU, Kab.Paser sangat beragam dan memiliki kesan yang baik terhadap kegiatan yang berlangsung salah satu nya adalah testimoni yang disampaikan oleh salah satu peserta yang mengikuti acara ini bahwa kegiatan yang diikuti sangat  inspiratif dan sangat bermanfaat sehingga akan  dipraktekan dalam membuat bahan ajar di sekolah masing-masing.

(WN/ Humas UM)

Narasumber BRIN Raden Cecep Erwan Andriansyah, S.T., M.Si memberikan pelatihan bagaimana megnolah Ikan Tuna menjadi Nugget yang siap dijual. Foto: Nadya/Media Kreatif

Kesan Peserta Pelaku UMKM Mengikuti Pelatihan

UM – FEB Universitas Mulia dan Direktorat Pemanfaatan Riset dan Inovasi pada K/L Masyarakat dan UMKM BRIN menggelar pelatihan Pengolahan Ikan Laut untuk UMKM Balikpapan, Jumat (11/8). Narasumber BRIN Raden Cecep Erwan Andriansyah, S.T., M.Si memberikan pelatihan bagaimana mengolah Ikan Tuna menjadi Nugget Ikan yang siap dijual.

“Bawang putih dihaluskan dagingnya dicampur maizena ada wortel dicampur. Kemudian ditambahkan bumbu sampai pemotongan, tapi kita tidak melakukan proses pemanggangan. Pemanggangan hanya dilakukan untuk di pabrik, biasanya di pabrik tertentu dilakukan proses pemanggangan,” kata Cecep kepada para peserta.

Hal ini disampaikan mengingat keterbatasan waktu dan kelengkapan sarana sehingga tidak semua materi yang dipresentasikan dapat dipraktekkan pengolahannya.

“Kalau kita kan nanti maunya langsung dimakan ya, langsung dicicipin. Jadi, setelah itu digoreng dan jadilah nugget ikan,” terangnya.

Nugget merupakan produk olahan daging berbentuk emulsi minyak di dalam air, seperti sosis dan bakso. Nugget dibuat dari daging giling yang diberi bumbu, dicampur bahan pengikat, dicetak menjadi bentuk tertentu, dikukus, dipotong, diselimuti putih telur dan dilumuri tepung roti.

Tampak di meja tersedia bahan-bahan seperti daging ikan, tepung maizena, tepung terigu, bawang putih, bawang bombay, garam, lada atau merica, pala, air es, wortel, putih telur dan tepung roti.

Proses pengolahan Ikan Tuna menjadi Nugget pun dimulai. Langkah-langkahnya mengikuti tahapan seperti yang dijelaskan pada layar slide. Pada tahap pengukusan, Cecep mengatakan waktu yang dibutuhkan cukup 40 menit. Hingga proses penggorengan dan siap untuk disantap.

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Sistem Informasi Yusuf Wibisono mendapat kesempatan mencicip Nugget Ikan. “Kegiatan ini dapat melahirkan berbagai ide menarik dalam pengolahan ikan laut. Seperti nugget tuna ini. Niatnya tadi saya mau incip saja, tapi ternyata habis 5 nugget,” tuturnya seraya tertawa.

Bahan-bahan untuk membuat Nugget Ikan Tuna. Foto: Nadya/Media Kreatif

Bahan-bahan untuk membuat Nugget Ikan Tuna. Foto: Nadya/Media Kreatif

Proses membuat Nugget Ikan Tuna. Foto: Tangkapan layar slide

Proses membuat Nugget Ikan Tuna. Foto: Tangkapan layar slide

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Sistem Informasi Yusuf Wibisono mendapat kesempatan mencicip Nugget Ikan. "Saya cuma incip, tapi habis lima Nugget," tuturnya seraya tertawa.

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Sistem Informasi Yusuf Wibisono mendapat kesempatan mencicip Nugget Ikan. “… Niatnya tadi saya mau incip saja, tapi ternyata habis 5 nugget,,” tuturnya seraya tertawa.

Suryanti, salah seorang peserta pelaku usaha UMKM Fambi yang bergerak di bidang perikanan dan obat herbal di Kel. Sepinggan Balikpapan. Foto: Nadya/Media Kreatif

Suryanti, salah seorang peserta pelaku usaha UMKM Fambi yang bergerak di bidang perikanan dan obat herbal di Kel. Sepinggan Balikpapan. Foto: Nadya/Media Kreatif

Sementara itu, Suryanti, salah seorang peserta pelaku usaha UMKM yang bergerak di bidang perikanan dan olahan herbal sangat senang mengikuti pelatihan.

“Nama UMKM saya Fambi, berdiri sejak tahun 2017 yang lalu,” tuturnya kepada media ini. Ia sendiri mengaku memiliki akun media sosial di Instagram dan WhatsApp yang digunakannya untuk pemasaran.

“Jadi, kalau ada pelanggan yang order lewat online, ya saya layani, tapi sebelumnya harus sehari atau dua hari pesan lebih dulu, kalau kalau kapasitas pembeliannya banyak, ya itu saya harus pesan lebih dulu,” kata Suryanti.

Ia sendiri memutar modal sekitar 250 ribu per hari dengan keuntungan antara 200 ribu sampai dengan 300 ribu. “Sejak ada pandemi kemarin tuh memang agak berkurang, tapi tetep saja istiqomah, saya berapa saja saya terima,” tuturnya.

Dengan mengikuti pelatihan di Universitas Mulia, dirinya sangat bersyukur bisa ikut belajar mengembangkan minat dan ketertarikannya pada produk olahan ikan.

“Alhamdulillah, saya senang sekali, karena saya suka dengan olahan ikan. Kesan saya itu memang masyarakat ini memang harus banyak-banyak tahu tentang pengelolaan ikan, karena banyak ikan ya di sini, di pinggir laut,” tutur Ibu yang bekerja seorang diri ini.

“Jadi pintar-pintar kita mengolahnya bagaimana biar menambah omset ke kita sendiri gitu,” tambahnya.

“Harapan saya setelah ikut pelatihan ini, saya ingin menambah omset saya dengan olahan berbagai macam ikan seperti nugget, pengasapan, bakso ikan, seperti itu ke depan,” pungkasnya.

(SA/Puskomjar)

Foto bersama Wakil Rektor dan Instruktur BRIN serta peserta pelaku UMKM Balikpapan. Foto: Nadya/Media Kreatif

UM – Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Mulia bersama dengan Direktorat Pemanfaatan Riset dan Inovasi pada K/L Masyarakat dan UMKM, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggelar pelatihan untuk UMKM Balikpapan, Jumat (11/8). Pelatihan tentang Pengolahan Ikan Laut ini berlangsung sehari diikuti 30 peserta pelaku usaha UMKM.

Pada kesempatan ini, turut mendampingi Wakil Rektor Bidang Akademik dan Sistem Informasi Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I dan perwakilan dosen FEB Nanda Narendra Muvano, S.E., M.M. Hadir perwakilan BRIN yakni Raden Cecep Erwan Andriansyah, S.T., M.Si yang juga menjadi Instruktur Pelatihan, Ananda Prakoso, S.Kom dan Uci Sri Sundari, S.E., M.M.

“Jadi kita itu kan punya payung besarnya, punya MoU dengan BRIN. Kemudian MoU yang dijalankan lebih dulu saat ini adalah MoA (Memorandum of Agreement) atau Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Direktorat Pemanfaatan Riset dan Inovasi di BRIN dengan Fakultas Ekonomi dan Bisnis, fokusnya adalah pengabdian masyarakat,” tutur Yusuf Wibisono.

Menurutnya, Universitas Mulia seperti menjadi kepanjangan tangan BRIN untuk wilayah Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara, khususnya untuk pembinaan atau pemberdayaan UMKM. Dengan kerja sama tersebut, lanjutnya, Universitas Mulia menjadi jembatan untuk mempertemukan BRIN dengan UMKM.

“Berikutnya, kita akan bergeser ke fakultas lain, misalkan, tadi sudah ada diskusi untuk kerjasama antara pusat riset di BRIN dengan Farmasi dan Teknologi Informasi. Itu porgram kita berikutnya,” tutur Yusuf Wibisono.

Sementara itu, Raden Cecep Erwan Andriansyah atau yang biasa dipanggil Pak Cecep, dalam sambutannya mengatakan bahwa hasil-hasil riset dam inovasi BRIN diupayakan tidak berhenti di laboratorium dan publikasi saja.

Serah terima cenderamata Universitas Mulia oleh Wakil Rektor Yusuf Wibisono, Wakil Dekan FEB Nandha Narendra Muvano, dan perwakilan BRIN Raden Cecep Erwan Andriansyah dan Ananda Prakoso. Foto: Nadya/Media Kreatif

Serah terima cenderamata Universitas Mulia oleh Wakil Rektor Yusuf Wibisono, Wakil Dosen FEB Nandha Narendra Muvano, dan perwakilan BRIN Raden Cecep Erwan Andriansyah dan Ananda Prakoso. Foto: Nadya/Media Kreatif

Raden Cecep Erwan Andriansyah, S.T., M.Si dari BRIN saat memberikan pelatihan Pengolahan Ikan Laut untuk para pelaku usaha UMKM Balikpapan di Universitas Mulia, Jumat (11/8). Foto: Nadya/Media Kreatif

Raden Cecep Erwan Andriansyah, S.T., M.Si dari BRIN saat memberikan pelatihan Pengolahan Ikan Laut untuk para pelaku usaha UMKM Balikpapan di Universitas Mulia, Jumat (11/8). Foto: Nadya/Media Kreatif

“Hasil-hasil tersebut perlu dilanjutkan dengan pemanfaatannya di ranah industri, masyarakat, UMKM, untuk menjawab tantangan Connecting Research and Industry, menjadi jembatan kesenjangan atau Bridging the Gap,” tutur Cecep.

Menurutnya, riset dan dan inovasi harus mampu memberikan solusi melalui identifikasi celah kesenjangan (gap), co-creating, dan sharing bagi permasalahan yang dihadapi industri maupun UMKM.

Pada kesempatan ini, Cepep memberikan pelatihan terkait Pengolahan Ikan Laut untuk 30 peserta pelaku usaha UMKM. Menurutnya, berdasarkan statistik, 75% hasil perikanan di Indonesia berasal dari perikanan laut. Sisanya, 25% dari perikanan air tawar.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 53% hasil perikanan dipasarkan dalam bentuk ikan segar. 9,8% diolah dalam bentuk beku dan kaleng, 27,2% diolah kering atau ikan asin.

“Nah, sisanya diolah dalam bentuk pindang, asap, dendeng, abon, dan lain-lain. 3,6% produk olahan untuk diekspor. Sisanya untuk pasar dalam negeri,” tutur Cepep.

Artinya, selain terkait teknologi pangan dan untuk meningkatkan nilai ekonomis, ada potensi lokal hasil perikanan untuk menjadi Diversifikasi Produk.

Diversifikasi produk hasil perikanan tersebut antara lain olahan ikan bisa menjadi abon ikan, dendeng ikan, bakso ikan, nugget, kerupuk, dan lain-lain selain pindang, ikan asap, dan ikan asin.

(SA/Puskomjar)

Pelatihan pemanfaatan e-Learning Lentera untuk dosen-dosen Program Studi S1 Farmasi Universitas Mulia, Rabu (26/7). Foto: Tangkapan layar

UM – Pengelola e-Learning Lentera Universitas Mulia menggelar pelatihan pemanfaatan e-Learning bagi dosen-dosen Program Studi S1 Farmasi, Rabu (26/7). Pelatihan yang digelar daring ini dibuka resmi oleh Wakil Rektor Bidang Akademik dan Sistem Informasi Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I.

“Pelatihan dilaksanakan full-online. Mulai pukul 08.30 WITA sampai dengan 15.00 WITA. Pemateri Pak Thami Rusdi Agus, Kepala Bagian E-Learning dan Pengembangan Sistem Informasi,” tutur Muhammad Yani, S.Kom., M.T.I, Manajer E-Learning.

Thami Rusdi mengatakan, materi pelatihan meliputi tutorial bagaimana memanfaatkan Lentera untuk memfasilitasi kegiatan pembelajaran dalam jaringan (daring). “Betul, mulai dari login, materi pembelajaran, quiz, ujian, bank soal, hingga backup,” tutur Thami.

Ketika ditanya apakah seluruh dosen saat ini sudah bisa menggunakan Lentera, Thami mengatakan sebagian dosen sudah menerapkan penggunaan Lentera.

“Dosen-dosen yang ikut pelatihan sebagian sudah menerapkan di kelas Semester Antara saat ini,” katanya.

Sementara itu, salah satu dosen Prodi S1 Farmasi Apt. Warrantia Citta Citti Putri, M.Sc, usai mengikuti pelatihan mengatakan dirinya telah memanfaatkan Lentera untuk pembelajaran di Semester Antara saat ini.

“Yup, sudah (menggunakan Lentera),” tutur Citta saat ditanya media ini.

Selaku Ketua Program Studi S1 Farmasi, dirinya meminta seluruh dosen-dosennya bisa memanfaatkan Lentera untuk mendukung kegiatan pembelajaran, baik daring maupun luring.

“Ini pelatihan e-Learning untuk dosen Farmasi. Karena target mulai Semester Antara ini Kita memaksimalkan penggunaan e-Learning, terutama pelaksanaan Kuis, UTS dan UAS,” ungkapnya.

Dirinya mengakui meski belum semua dosen menggunakan Lentera, namun ke depan secara bertahap mau tak mau seluruh dosen akan menerapkannya apabila tidak ingin tertinggal.

Ketika ditanya apakah ada mahasiswanya yang kesulitan menggunakan Lentera, Citta mengatakan hingga saat berita ini ditulis, dirinya belum menerima keluhan dari mahasiswanya.

“Hingga saat ini belum ada laporan dari mahasiswa. Cuman yang saya pantau terkait penggunaan e-Learning ini memudahkan mahasiswa dan dosen dalam melaksanakan remedial,” tuturnya.

Menurutnya, remedial menjadi kewajiban bagi para dosen yang diberikan kepada mahasiswanya untuk memperbaiki hasil pembelajaran. “Sehingga akan berpengaruh pada kelulusan mata kuliah mahasiswa dan peningkatan IPS,” pungkas Citta.

(SA/Puskomjar)

Foto bersama daring saat pembukaan Workshop Fundamental Data Sains kerjasama Universitas Mulia dan Universitas Gunadarma, Senin (3/7). Foto: Tangkapan layar

UM – Universitas Mulia bekerja sama dengan Universitas Gunadarma menggelar Workshop Fundamental Data Sains untuk Dosen, 3 – 22 Juli 2023. Workshop yang digelar daring selama 9 hari atau 38 jam ini memanfaatkan mesin super komputer Nvidia DGX yang ada di Universitas Gunadarma.

Rektor Universitas Mulia Dr. Muhammad Rusli, M.T yang berhalangan hadir dan diwakili oleh Wakil Rektor Bidang Akademik dan Sistem Informasi Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I, mengucapkan terima kasih atas terselenggaranya workshop ini.

“Ini luar biasa dan sangat kami tunggu-tunggu. Mudah-mudahan ini menjadi rangkaian kerjasama yang saling memberi manfaat antara Universitas Gunadarma dengan Universitas Mulia,” tutur Yusuf Wibisono.

Yusuf Wibisono mengatakan, minat para dosen mengikuti workshop Data Sains ini cukup banyak. Tercatat 31 orang peserta terdaftar yang berasal dari lintas bidang dan program studi di Universitas Mulia, baik dari kampus Balikpapan dan Samarinda.

“Kami lihat, tidak semuanya datang dari background teknologi informasi. Tapi kami percaya bahwa tim instruktur Universitas Gunadarma sudah menyiapkan materi sedemikian rupa sehingga materi ini bisa diikuti oleh bidang ilmu apapun yang memang memiliki minat di bidang data sains,” terang Yusuf.

Foto bersama daring saat pembukaan Workshop Fundamental Data Sains kerjasama Universitas Mulia dan Universitas Gunadarma, Senin (3/7). Foto: Tangkapan layar

Foto bersama daring saat pembukaan Workshop Fundamental Data Sains kerjasama Universitas Mulia dan Universitas Gunadarma, Senin (3/7). Foto: Tangkapan layar

Dr. Detty Purnamasari instruktur Universitas Gunadarma pada Workshop Data Sains untuk Dosen. Foto: Tangkapan layar

Dr. Detty Purnamasari instruktur Universitas Gunadarma pada Workshop Data Sains untuk Dosen. Foto: Tangkapan layar

Jadwal Workshop selama 38 jam.

Jadwal Workshop selama 38 jam.

Lebih lanjut, Yusuf Wibisono mengatakan bahwa di era saat ini, Data Sains tidak lagi menjadi monopoli orang IT. “Di situ ada keilmuan Statistika, yang juga harus kuat Matematika dan lain-lain,” tuturnya.

Untuk itu, ia meminta para peserta untuk lebih serius dan berkomitmen mengikuti dan menyelesaikan Workshop hingga pertemuan akhir nanti. “Harus kita sadari bahwa teman-teman dari Gunadarma sudah meluangkan waktu yang luar biasa untuk memberikan kesempatan kita mengikuti workshop ini untuk mencoba super komputer yang super cerdas,” pesannya.

Senada dengan Yusuf Wibisono, Prof. Didin Mukodim, Wakil Rektor IV Universitas Gunadarma mengatakan bahwa salah satu wujud implementasi kerjasama kedua perguruan tinggi adalah terselenggaranya pelatihan data sains dengan super komputer ini.

“Mudah-mudahan kerjasama ini bermanfaat. Mudah-mudahan para dosen tidak berhenti belajar, karena tugas dosen itu tidak ada yang namanya berhenti belajar,” tutur Prof. Didin.

Prof. Didin juga mengucapkan terima kasih kepada panitia yang telah mempersiapkan segala sesuatunya hingga akhir pelaksanaan workshop dan diikuti seluruh peserta sampai selesai dan memperoleh hasil yang maksimal dan merasakan manfaat super komputer.

Lebih lanjut, Prof. Didin berharap usai pelaksanaan workshop dapat ditingkatkan dengan program-program lainnya. “Mungkin bisa di bidang intelijen, karena sekarang ini juga cukup banyak produk-produk yang dihasilkan pada saat pandemi ataupun saat-saat yang sekarang setelah kita memiliki super komputer ini,” tuturnya.

Dalam kesempatan ini, tampak hadir Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Wisnu Hera Pamungkas beserta dosen lainnya. Tampak juga dari Universitas Gunadarma Dr. I Made Wiryana bersama dosen dan instruktur lainnya.

Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi workshop selama dua jam oleh instruktur Dr Detty Purnamasari. Materi hari pertama meliputi perkenalan penggunaan sarana belajar e-learning, mesin super komputer NVidia DGX A100, instalasi perangkat lunak Anaconda dan Jupyter serta dasar pemrograman Python.

(SA/Puskomjar)

Peserta Percepatan Jabatan Fungsional Dosen Universitas Mulia bersama LLDIKTI 11 Kalimantan, Selasa (13/12). Foto: Media Kreatif

UM – Rektor Dr. Muhammad Rusli, M.T mendorong dosen-dosen Universitas Mulia baik yang baru maupun yang lama untuk memperhatikan Jabatan Fungsional atau Jafung. Hal ini disampaikan pada pertemuan daring dan luring Program Percepatan Jafung bersama LLDIKTI 11 Kalimantan, bertempat di Aula Cheng Ho Universitas Mulia, Selasa (13/12).

Sebagai narasumber dari LLDIKTI 11 Kalimantan Ida Adhiyati, S.E bersama dengan Operator BKD Wilayah Kalimantan Barat Emi Hidayah dan Verifikator Jabatan Fungsional Wilayah Kalimantan Timur, Utara, dan Barat Noorhayati serta Hidayatul Hijrah selaku Tim Verifikator BKD yang telah lulus Sertifikasi Dosen utuk Wilayah Kalimantan Timur dan Riza Rahadian selaku Operator Tim IT Sister LLDIKTI 11.

Tampak hadir Direktur Eksekutif Yayasan Airlangga Dr. Agung Sakti Pribadi, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Sistem Informasi Yusuf Wibisono, M.T.I, Wakil Rektor Bidang Ketenagaan dan Keuangan Wisnu Hera Pamungkas serta Kepala Biro Penjaminan Mutu Internal (BPMI) Mada Aditia Wardana.

“Sehubungan dengan tugas Rektor dalam melaksanakan tridarma perguruan tinggi, yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat harus didukung oleh semua dosen yang ada di sini, baik dosen tetap yang sudah memiliki jafung maupun yang belum,” tutur Dr. Rusli dalam sambutannya.

Rektor mengingatkan bagi dosen yang memiliki NIDN atau Nomor Induk Dosen Nasional berkewajiban melaksanakan tridarma perguruan tinggi. “Dalam pendidikan, minimal Bapak Ibu minimal harus memiliki beban mengajar yang ditunjukkan dengan SK Mengajar, dan itu digunakan untuk mengurus Jafung,” tutur Rektor.

“Kedua, terkait dengan penelitian, diusahakan setiap dosen dalam satu tahun minimal satu jurnal yang terbit, apakah sebagai penulis pertama atau kedua dalam sebuah grup, tapi minimal ada satu jurnal atas namanya sebagai penulis pertama atau utama,” ungkap Rektor.

Berikutnya, dosen juga dituntut untuk melaksanakan pengabdian pada masyarakat. “Jadi, tridarma itu memang harus ada. Harapan saya, ke depan kita sama-sama menata ini lebih baik lagi, baik secara administratif maupun secara dokumen. Kita usahakan semua berbasis IT,” tuturnya.

Ke depan, Rektor berharap dokumen terkait kebutuhan kenaikan Jabatan Fungsional seperti SK Mengajar, Surat Penugasan, dan surat-surat lainnya dapat menggunakan Sistem Informasi dan Aplikasi SISTER sehingga seluruh dokumen dapat dikelola dengan mudah.

“Jadi saya mencoba menata ini lebih baik lagi sehingga tidak ada lagi dosen-dosen yang sudah senior itu ternyata belum mengurus jafungnya,” ungkap Rektor.

Ke depan, Rektor berharap akan menata bersama-sama dengan keterlibatan seluruh dosen dan administrasi agar lebih cepat dan secara administratif lebih tertata.

Salah satu upaya yang dilakukan Rektor adalah ke depan bersama jajaran Wakil Rektor maupun Bidang Ketenagaan Kepegawaian mengontrol dan mengingatkan kepada masing-masing dosen untuk mengurus kepangkatan.

“Setiap tahun itu mengecek dosen-dosen yang sudah waktunya naik pangkat harus diberi Surat Cinta. Jadi, mengingatkan Bapak Ibu yang sudah waktunya untuk mengurus kenaikan pangkat,” tutur Rektor.

Dengan demikian, Rektor berharap bisa mempercepat kenaikan Jafung setiap dosen. Baginya, saat ini terbuka kesempatan dari pemerintah lewat Koordinator Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah 11 Kalimantan untuk mengurus kepangkatan menjadi lebih mudah.

“Untuk mengurus Guru Besar bukanlah suatu hal yang tidak mungkin sepanjang data kita tertib,” tuturnya.

Rektor Dr. Muhammad Rusli bersama Direktur Eksekutif Yayasan Airlangga Dr. Agung Sakti Pribadi, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Sistem Informasi Yusuf Wibisono, M.T.I serta Kepala Biro Penjaminan Mutu Internal (BPMI) Mada Aditia Wardana.

Rektor Dr. Muhammad Rusli bersama Direktur Eksekutif Yayasan Airlangga Dr. Agung Sakti Pribadi, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Sistem Informasi Yusuf Wibisono, M.T.I serta Kepala Biro Penjaminan Mutu Internal (BPMI) Mada Aditia Wardana.

Narasumber dari LLDIKTI 11 Kalimantan Ida Adhiyati, S.E bersama dengan Operator BKD Wilayah Kalimantan Barat Emi Hidayah dan Verifikator Jabatan Fungsional Wilayah Kalimantan Timur, Utara, dan Barat Noorhayati serta Hidayatul Hijrah selaku Tim Verifikator BKD yang telah lulus Sertifikasi Dosen untuk Wilayah Kalimantan Timur dan Riza Rahadian selaku Operator Tim IT Sister LLDIKTI 11.

Narasumber dari LLDIKTI 11 Kalimantan Ida Adhiyati, S.E bersama dengan Operator BKD Wilayah Kalimantan Barat Emi Hidayah dan Verifikator Jabatan Fungsional Wilayah Kalimantan Timur, Utara, dan Barat Noorhayati serta Hidayatul Hijrah selaku Tim Verifikator BKD yang telah lulus Sertifikasi Dosen untuk Wilayah Kalimantan Timur dan Riza Rahadian selaku Operator Tim IT Sister LLDIKTI 11.

Sistem Informasi Angka Kredit Online milik LLDIKTI 11 Kalimantan yang digunakan untuk mengurus Jabatan Fungsional.

Sistem Informasi Angka Kredit Online milik LLDIKTI 11 Kalimantan yang digunakan untuk mengurus Jabatan Fungsional.

Sementara itu, Ida Adhiyati dari LLDIKTI 11 mengatakan bahwa dipilihnya Universitas Mulia dalam sosialisasi Program Percepatan Jabatan Fungsional mengingat memiliki jumlah dosen yang banyak dan belum memiliki jabatan fungsional.

“Seperti kita diketahui bersama bahwa dengan Jabatan Fungsional seorang dosen dapat meningkatkan karier pada perguruan tinggi dan merupakan syarat utama untuk mendapatkan Sertifikat Pendidik serta meningkatkan akreditasi perguruan tinggi,” tutur Ida Adhiyati.

Beberapa syarat untuk kenaikan Jafung, lanjutnya, di antaranya adalah memiliki Ijazah Magister S2 sesuai dengan bidangnya, diangkat sebagai dosen tetap dan memiliki NIDN atau NIDK serta melaksanakan tugas mengajar paling sedikit satu tahun atau dua semester.

Selain itu, dosen juga harus memiliki karya ilmiah yang dipublikasikan pada jurnal sebagai penulis pertama, telah melaksanakan pengabdian untuk satu kegiatan, dan melaksanakan tugas penunjang sebanyak minimal satu kegiatan.

Ida Adhiyati mengingatkan penghitungan masa penugasan dosen tetap dimulai terhitung mulai tanggal (tmt) diangkat sebagai dosen tetap. “Kalau misalnya dia diangkat duluan, kemudian setelah itu lulus S2, maka penghitungannya dimulai setelah dia lulus S2,” tuturnya.

Ia menambahkan, kegiatan tridarma yang dilakukan sebelum S2 atau sebelum diangkat sebagai dosen tetap, maka kegiatan tersebut belum dapat diakui untuk keperluan Jafung.

Paparan selanjutnya perihal tutorial penggunaan Aplikasi Singkron 2 atau Sistem Informasi Angka Kredit Online untuk mengurus Jabatan Fungsional. Aplikasi tersebut milik LLDIKTI 11 Kalimantan. Dengan mengetahui cara menggunakan aplikasi tersebut diharapkan percepatan kenaikan pangkat jabatan fungsional dosen tercapai.

(SA/Puskomjar)

Perwakilan Dosen setiap Fakultas menerima Sertifikat PEKERTI, yang diserahkan langsung oleh Wakil Rektor II Wsinu Hera Pamungkas, S.T.P, M.Eng di Hall Chang Ho, Jumat (9/12). Foto: Wisnu Hera

UM – Sebanyak 22 orang dosen menerima Sertifikat PEKERTI atau Pelatihan Peningkatan Keterampilan Dasar Teknik Instruksional yang diselenggarakan Universitas Mulia bekerja sama dengan Universitas Mulawarman. Sertifikat diserahkan oleh Wakil Rektor Bidang Ketenagaan dan Keuangan Wisnu Hera Pamungkas, bertempat di Hall Cheng Ho, Jumat (9/12).

“Selamat kami ucapkan kepada Bapak/Ibu penerima sertifikat PEKERTI dan terima kasih kepada para pihak yang telah membantu hingga diterimanya sertifikat kepada para dosen,” tutur Wisnu Hera singkat.

Lantaran tidak semua dosen hadir pada serah terima ini, maka penyerahan Sertifikat PEKERTI diberikan kepada dosen secara simbolis kepada setiap perwakilan Fakultas. Dari Fakultas Ilmu Komputer, sertifikat diwakilkan M. Safii. Dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis oleh Nandha Muvano dan Lisda Hani Gustina dari Fakultas Humaniora Kesehatan.

Pelatihan PEKERTI ini merupakan pelatihan yang ditujukan bagi tenaga pengajar untuk mempersiapkan program pembelajaran sehingga memiliki keterampilan mengajar dan melakukan evaluasi terhadap hasil belajar.

Pelatihan PEKERTI memiliki arti penting bagi peran dosen dalam pengembangan profesionalismenya mengingat kurikulum yang ditetapkan oleh DIKTI sejalan dengan amanat UU No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.

Beban Kerja Dosen atau BKD meliputi kegiatan pokok antara lain dosen harus melakukan perencanaan, pelaksanaan proses, penilaian hasil pembelajaran, pembimbingan dan pelatihan serta melakukan penelitian.

Selain itu, dosen juga mendapatkan tugas tambahan serta melakukan kewajiban untuk melaksanakan pengabdian kepada masyarakat.

Pelatihan PEKERTI saat ini menjadi salah satu syarat pengangkatan dalam jabatan Asisten Ahli Madya/Asisten Ahli bagi dosen pemula. Mengikuti Pelatihan PEKERTI merupakan jalan awal bagi dosen meniti karier dosen profesional.

Beberapa langkah untuk menjadi dosen profesional antara lain harus memiliki Nomor Induk Dosen Nasional (NIDN), memiliki Jabatan Fungsional, memiliki Pangkat/Golongan Ruang atau SK Inpassing, memenuhi BKD selama 2 tahun, memiliki Sertifikat PEKERTI dan AA (Ancangan Aplikasi), memenuhi Passing Grade TKBI, memenuhi Passing Grade TKDA, dan memiliki masa kerja minimal 2 tahun.

“Kepada Bapak/Ibu yang ingin mengambil sertifikatnya dapat menghubungi Bapak Ahmad,” tutup Wisnu Hera.

(SA/Puskomjar)

Dr. Miguna Astuti, S.Si., MM., MOS, CPM. Foto: Tangkapan layar

UM – Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) tahun ini kembali menggelar Coaching Penulisan Buku secara daring bekerja sama dengan Penerbit Deepublish, Sabtu (19/11). Tampil sebagai narasumber Dr. Miguna Astuti, S.Si., MM., MOS, CPM, penulis buku berpengalaman yang juga aktif mengajar di beberapa perguruan tinggi di Malaysia dan Indonesia.

Coaching atau bimbingan penulisan buku ini diikuti dosen dari berbagai program studi dan dibuka langsung oleh Rektor Dr. Muhammad Rusli, M.T. Kepala LPPM Richki Hardi, S.T., M.Eng mengatakan bahwa sebelumnya pihaknya telah dua kali menggelar pelatihan penulisan buku bersama penerbit Andi Yogyakarta.

“Dan di tahun ketiga ini, tahun 2022, Kita sudah MoU dengan penerbit Deepublish, spesial dengan narasumber Dr. Miguna Astuti,” tutur Rickhi.

Menurutnya, Buku Ajar merupakan salah satu bentuk luaran dosen yang memiliki nilai Kum yang tinggi dalam jabatan fungsional dosen. “Dan buku ajar ini memiliki skor penelitian perguruan tinggi, akreditasi prodi, akreditasi Sinta, dan skor yang ada pada sistem Kemendikbud,” tuturnya.

Melalui pelatihan ini diharapkan dosen semangat dan bersama-sama mencapai target perguruan tinggi. Dirinya mendorong setiap dosen setidaknya menghasilkan satu buah buku dalam setiap semester.

Peserta dan narasumber Coaching Penulisan Buku yang diselenggarakan LPPM Universitas Mulia bekerja sama dengan Penerbit Deepublish yogya, Sabtu (19/11). Foto: Tangkapan layar

Peserta dan narasumber Coaching Penulisan Buku yang diselenggarakan LPPM Universitas Mulia bekerja sama dengan Penerbit Deepublish Yogyakarta, Sabtu (19/11). Foto: Tangkapan layar

How to Publish menurut Dr. Miguna Astuti, S.Si., MM., MOS, CPM. Foto: Tangkapan layar

How to Publish menurut Dr. Miguna Astuti, S.Si., MM., MOS, CPM. Foto: Tangkapan layar

Rektor dalam sambutannya mengatakan bahwa Buku Ajar seyogyanya menjadi kewajiban bagi dosen pengampu mata kuliah.

“Di samping buku-buku yang sifatnya literal, Buku Ajar juga untuk memperkuat literatur tentang sebuah ilmu,” tutur Rektor.

Menurut Dr. Rusli, ada perbedaan antara buku literatur dengan buku ajar. “Buku Ajar itu, menurut saya, dibuat agar enak dibaca dan dipelajari mahasiswa,” tutur Dr. Rusli yang telah berpengalaman menerbitkan beberapa buku ini.

Tujuan pembuatan Buku Ajar, menurut Dr Rusli, adalah agar mahasiswa lebih cepat menerima materi kuliah atau proses transfer knowledge. “Sehingga nanti pada saat pengajaran tinggal lewat diktat atau menambahkan sisi-sisi ilmu yang lain yang belum tercakup di buku,” ungkapnya.

Dr. Rusli berbagi cerita terkait pengalamannya menerbitkan buku tentang pemrograman komputer. Menurutnya, dirinya terdorong menerbitkan buku mengingat telah sekian tahun berprofesi sebagai dosen dan memiliki keahlian di bidang pemrograman maupun di bidang pendidikan.

“Begitu buku pertama terbit, muncul ide-ide dari mata kuliah berikutnya, semangat begitu, artinya dari beberapa mata kuliah yang saya ajar, mulai dari PowerPoint, catatan, saya kumpulkan semua dan seleksi, jadilah buku ajar terbit,” ungkap Doktor di Bidang Pendidikan ini.

Dari beberapa kali menerbitkan buku, Rektor berharap masing-masing dosen dapat mengikutinya dengan menerbitkan minimal satu buah buku. “Yang penting jadi dulu satu buku,” harap Rektor.

Kalaupun saat ini belum mampu menulis sendiri, Rektor berharap dosen dapat menyusunnya dalam sebuah kelompok kerja dengan dosen lainnya.

Sementara itu, senada dengan Rektor, Dr. Astuti, begitu dirinya disapa, setuju dengan pengalaman Dr. Rusli ketika pertama kali dirinya menerbitkan buku.

“Dulu ketika saya menerbitkan buku sama seperti pengalaman Pak Rektor tidak sampai 100 halaman,” tutur Dr. Astuti. Meski demikian, dirinya mengingatkan akan ada batas minimum yang harus dipenuhi untuk menerbitkan sebuah buku saat ini.

Hanya saja, menurutnya, ketika saat perhitungan nilai Kum untuk kenaikan jabatan fungsional dosen, maka nilai Kum untuk buku tersebut tidak maksimal. “Tapi minimal kita sudah berkarya, dan intelektualitas kita sudah diabadikan dalam sebuah karya,” tuturnya memberi semangat peserta Coaching.

Dr. Astuti mengatakan, untuk menerbitkan sebuah buku cukup sederhana. “Yang penting idenya ada, niat menulis dan menerbitkan,” ujarnya.

Meski demikian, Dr. Astuti mengingatkan ketika masuk proses penerbitan, penulis hendaknya berhati-hati. “Dulu SDM sangat mudah, bahkan dulu saya menggunakan kampus saya itu sangat mudah. Sekarang sangat ketat,” ungkapnya.

Kedua, lanjutnya, untuk bisa diakui, beberapa penerbit menggunakan kriteria-kriteria yang berhubungan dengan jabatan fungsional. “Jadi apakah benar menurut RPS, apakah benar dipublikasikan disebarluaskan. Ya, link-nya itu dicari oleh reviewer Bapak/Ibu,” ungkapnya.

Dan untuk keperluan ISBN pun, juga terkait dengan luaran buku tersebut apakah diperjualbelikan atau tidak. “Kalau short-link diperjualbelikan itu belum ada, itu ISBN belum bisa keluar,” ungkapnya.

Untuk itu, ia mengingatkan tidak semua penerbit memiliki kemampuan untuk memasarkan ke publik. Hal ini menambah deretan pengalamannya untuk benar-benar selektif dalam memilih kontrak dengan penerbit .

Keuntungan buku yang berhasil diterbitkan dan dipasarkan ke publik berdampak pada Google Scholar dengan jumlah sitasi yang jelas.

Ia juga mengingatkan kepada seluruh dosen agar ketika buku tersebut berhasil terbit agar dicantumkan pada RPS atau Rencana Pembelajaran Semester sebagai salah satu sumber bahan ajar.

(SA/Puskomjar)

Dua orang dosen Universitas Mulia Richki Hardi dan Mundzir (satu dan dua dari kiri) berfoto bersama dengan Kepala Disporapar Ratih Kusuma (tengah) dalam kegiatan Pelatihan Kewirausahaan, Rabu (19/10). Foto: Istimewa

UM – Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kota Balikpapan menyelenggarakan Pelatihan Kewirausahaan Pemuda menggandeng dua orang dosen Universitas Mulia. Kegiatan ini berlangsung di Ballroom Hotel Novotel Balikpapan, Rabu (19 /10).

Wali Kota Balikpapan Rahmad Mas’ud yang diwakilkan Kepala Disporapar Ratih Kusuma W, mengatakan bahwa pelatihan digelar untuk memfasilitasi dan memberikan pelayanan kepemudaan, salah satunya dengan program pengembangan kewirausahaan.

Pelatihan diikuti para pemuda dan pemudi Balikpapan, dengan tujuan menumbuhkembangkan potensi serta menggugah kesadaran pemuda dalam berwirausaha. Pelatihan berlangsung selama dua hari ini dibagi dalam dua sesi.

Sesi pertama, selama satu hari, Rabu (19/10), diberikan pelatihan membuat website dan email, Flyer dan mengelola media sosial yang baik serta berbisnis dengan Marketplace. Marketplace saat ini dinilai cocok diberikan untuk usaha rintisan atau startup.

Sesi berikutnya berlangsung di hari Kamis (20/10), masih di tempat yang sama tentang pelatihan membuat kue atau roti.

Kepala Disporapar CI Ratih Kusuma W memberikan sambutan dalam Pelatihan Kewirausahaan Pemuda  di Hotel Novotel Balikpapan. Kegiatan diselenggarakan dari tanggal 19 sd 20 Oktober 2022. Foto: Istimewa

Kepala Disporapar CI Ratih Kusuma W memberikan sambutan dalam Pelatihan Kewirausahaan Pemuda di Hotel Novotel Balikpapan. Kegiatan diselenggarakan dari tanggal 19 sd 20 Oktober 2022. Foto: Istimewa

Mundzir saat memaparkan materi pelatihan. Foto: Istimewa

Mundzir saat memaparkan materi pelatihan. Foto: Istimewa

Richki Hardi saat memaparkan materi pelatihan. Foto: Istimewa

Richki Hardi saat memaparkan materi pelatihan. Foto: Istimewa

Para peserta dengan menggunakan perangkat komputer dan gadget. Foto: Istimewa

Para peserta dengan menggunakan perangkat komputer dan gadget. Foto: Istimewa

Dua orang Dosen Universitas Mulia, yakni Mundzir, S.Kom., M.T dan Richki Hardi, S.T., M.Eng dipercaya Disporapar ikut memberikan pelatihan Teknologi Informasi.

“Saya memberikan pemaparan tentang Marketplace. Penggunaan Marketplace saat ini cukup besar mengingat jumlah pengguna Internet saat ini mencapai 210 juta jiwa, dari 275,3 juta jiwa penduduk Indonesia,” tutur Mundzir.

“Marketplace ini konsepnya sama dengan pasar tradisional, yang membedakan hanyalah tempatnya,” ungkap Mundzir.

Menurutnya, pasar tradisional bisa dilihat secara fisik, ada toko atau tempat usaha, sedangkan Marketplace, lanjutnya, dilakukan dalam jaringan Internet atau online.

Mundzir menerangkan, usaha bisnis di Marketplace sangat mudah apabila memiliki kesiapan dan pemahaman bagaimana menggunakan Media Sosial.

Dirinya memaparkan pentingnya persiapan, perencanaan, hingga memahami berbagai hambatan dan tantangan yang akan dihadapi sebelum mulai menggunakan Marketplace.

Di akhir paparan, Mundzir memberikan tips bagaimana membangun startup hingga pentingnya menguasai keterampilan Digital Marketing.

Pada kesempatan berikutnya, Richki Hardi memberikan pemaparan tentang bagaimana mengelola Media Sosial. Ia mengatakan, dirinya memulai dengan pembuatan website, email, membuat Flyer kegiatan dan bagaimana cara mengelola website.

Richki mengaku, dirinya berhasil membuat suasana makin semangat dan aktif. Pasalnya, Richki mengatakan sudah berpengalaman di bidang desain dan memiliki sertifikasi desain 3D Illustration, Motion Graphic Artist dan Multimedia dari BNSP.

Menurutnya, materi yang diberikannya mudah dipahami dan mudah diikuti oleh seluruh peserta.

“Membuat peserta penasaran dan langsung praktik pada perangkat mobile yang dimiliki, juga didukung perangkat komputer yang telah disediakan oleh Disporapar Balikpapan,” kata Richki.

Baginya, setiap perkembangan teknologi pasti mudah digunakan dan sangat membantu. “Materi dan praktik pengelolaan media sosial ini diharapkan dapat menjadi pondasi untuk semangat berwirausaha bagi generasi muda,” tutup Richki.

(SA/Puskomjar)