Pos

Edi S. Mulyanta dari Penerbit Andi Yogyakarta saat memaparkan presentasinya. Foto: Tangkapan layar

UM – Lembaga Pengembangan Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (LP3M) Universitas Mulia menggandeng Penerbit Andi Yogyakarta menggelar Workshop Penulisan Buku Ajar untuk dosen. Workshop berlangsung daring Zoom Meeting diikuti 50 orang dosen, Rabu (22/12).

Ketua LP3M Richki Hardi, S.T., M.Eng. mengatakan bahwa workshop atau pelatihan Buku Ajar ini merupakan yang kedua setelah tahun 2020 lalu digelar dengan narasumber yang sama, Edi S Mulyanta dari Penerbit Andi.

“Ini adalah yang kedua lanjutan tahun kemarin karena permintaan cukup banyak berasal dari para Ibu Bapak dosen. Dengan pelatihan ini, Bapak Ibu memiliki kesempatan menulis Buku Ajar dengan penerbit yang baik,” tutur Richki Hardi.

Richki berharap, pelatihan ini memberikan tips dan trik serta strategi menyusun Buku Ajar sehingga diharapkan tahun 2022 mendatang sudah ada buku yang diterbitkan yang dibuat oleh para dosen Universitas Mulia.

“Kalau di organisasi guru itu ada satu guru satu buku. Nah, mudah-mudahan di sini juga ada satu dosen satu Buku Ajar,” tuturnya sambil tersenyum.

Sementara itu, Edi Mulyanta mengatakan bahwa adanya perubahan Kurikulum Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) mendorong mahasiswa benar-benar merdeka untuk belajar. Merdeka Belajar memungkinkan mahasiswa memiliki banyak pilihan media belajar maupun guru.

Edi S. Mulyanta dari Penerbit Andi Yogyakarta saat memaparkan presentasinya. Foto: Tangkapan layar

Edi S. Mulyanta dari Penerbit Andi Yogyakarta saat memaparkan presentasinya. Foto: Tangkapan layar

Sebagian Peserta Workshop Penulisan Buku Ajar yang digelar LP3M Universitas Mulia, Rabu (22/12). Foto: Tangkapan layar

Sebagian Peserta Workshop Penulisan Buku Ajar yang digelar LP3M Universitas Mulia, Rabu (22/12). Foto: Tangkapan layar

“Konsep pendidikan saat ini berubah dengan adanya kebijakan MBKM yang mengatur 80% pendidikan berasal dari internal kampus, sedangkan 20% sisanya berasal dari luar kampus. Nah, inilah peluang kesempatan kita sebagai dosen untuk mengambil peran profesional,” tutur Edi Mulyanta.

Pasalnya, menurut Edi, berdasarkan Undang-Undang No. 12 Tahun 2021 tentang Pendidikan Tinggi disebutkan bahwa Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi melalui Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian kepada Masyarakat.

Disebutkan pula, dosen secara perseorangan atau berkelompok wajib menulis buku ajar atau buku teks, yang diterbitkan oleh Perguruan Tinggi dan/atau publikasi ilmiah sebagai salah satu sumber belajar dan untuk pengembangan budaya akademik serta pembudayaan kegiatan baca tulis bagi Sivitas Akademika.

Atas dasar itulah, Edi mengingatkan luaran Perguruan Tinggi salah satunya adalah berupa Buku seperti Buku Ajar, Buku Praktikum atau Buku Panduan selain produk lain seperti jurnal dan hasil Iptek.

“Tugas kami adalah tugas industri, tugas Bapak Ibu dosen adalah menyiapkan materi sebaik mungkin,” ungkap Edi.

Menurutnya, untuk mendorong daya ungkit kepangkatan dosen muda yang masih Asisten Ahli 150, misalnya, menulis buku mampu mengangkat nilai Kum sampai 60 apabila memiliki paten. Apabila hasil karya buku dosen makin banyak, maka mampu membawa jenjang kepangkatan Lektor Kepala.

Untuk memotivasi dosen menulis buku, Edi memberikan sedikit tips dan trik menulis Buku Ajar pada Perguruan Tinggi berdasarkan Peraturan Pemerintah no. 75 tahun 2019 pelaksanaan UU no. 3 tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan.

Bagi penerbit, Buku Ajar termasuk yang paling laku di pasar. “Buku Ajar market-nya besar. Jangan lupa Bapak Ibu singgung juga persoalan softskill, misalnya, bagaimana pada saat guru mengajar daring siswa bisa fokus memperhatikan guru,” ungkapnya.

Edi juga mendorong dosen untuk menulis yang ringan saja lebih dulu. “Tulislah buku yang simple saja supaya ada kepercayaan diri, tulis kulit-kulitnya saja,” ungkapnya.

Menurutnya, menyusun Buku Ajar lebih mudah menggunakan alur sesuai dengan urutan kurikulum pengambilan mata kuliah.

Untuk itu, dalam MBKM, penerbit akan mencari topik atau trend terkait digitalisasi dan luaran yang diharapkan dari MBKM.

Ia menerangkan bahwa MBKM terkait 6 C for HOTS, yaitu Communication, Collaboration, Compassion, Critical Thinking, Creative Thinking, Computation Logic, Adaptive, Flexible, Leadership, Reading Skill, Writing Skill, kemampuan bahasa Inggris dan Teknologi Informasi,”

Lalu, bagaimana memulainya membuat Buku Ajar? Edi memberikan langkah-langkah antara lain, pertama mengikuti Standar Penulisan berdasarkan PP no. 75 tahun 2019.

Kedua, terapkan lima tahapan untuk meningkatkan produktivitas dalam menulis dengan menggunakan rumus S-P-E-E-D, yaitu S berarti Select Topic, pilih topik yang hendak ditulis.

P berarti Prepare your facts atau menyiapkan fakta dan data. E pertama berarti Establish a Structure atau tentukan strukturnya. E kedua adalah Eliminate Distraction, yaitu menghilangkan gangguan. Dan D adalah Dash, Dash to the finish, segera diselesaikan.

“Tahun depan dari seluruh peserta ini diharapkan sudah terbit, minimal 2-3 buku. Trend-nya tentang digitalisasi,” pungkas Edi Mulyanta menantang peserta.

(SA/PSI)

Pelatihan Aplikasi Office Tenaga Kependidikan Universitas Mulia oleh instruktur internal Tri Sudinugraha, S.Kom., M.Kom. bertempat di Laboratorium Komputer C Fakultas Ilmu Komputer, Kamis (2/12). Foto: Annisa

UM – Tenaga Kependidikan (Tendik) Universitas Mulia mengikuti pelatihan penggunaan Aplikasi Office untuk mengasah keterampilan mengelola data seiring dengan kebutuhan pekerjaan dan perkembangan teknologi informasi. Pelatihan berlangsung di Laboratorium Komputer Fakultas Ilmu Komputer selama dua hari, 2-3 Desember 2021.

Tuntutan mengelola pertumbuhan data dan kebutuhan sumber daya manusia yang memiliki keterampilan tinggi di perguruan tinggi mendorong Bidang Ketenagaan dan SDM melakukan penyesuaian dan adaptasi. Kecepatan pertumbuhan data dalam bilangan detik, dari waktu ke waktu bertambah semakin tinggi. Hal ini harus diimbangi dengan keterampilan tinggi di bidang pengelolaan data.

Pengelolaan data yang dulu mengandalkan kekuatan tenaga dan pikiran manusia yang terbatas, kini lambat laun mulai bergeser. Pekerjaan yang memiliki pola yang berulang, bersifat rutin, menerima data, melakukan proses, dan menghasilkan luaran yang sama akan bergeser mengalami otomatisasi dan disrupsi.

Sekretaris panitia kegiatan Annisa Y. Primasari, S.E. mengatakan bahwa tujuan diselenggarakannya pelatihan adalah untuk mengenalkan kepada para tenaga kependidikan tentang pentingnya penguasaan teknologi informasi saat ini.

Pelatihan Aplikasi Office Tenaga Kependidikan Universitas Mulia oleh instruktur internal Tri Sudinugraha, S.Kom., M.Kom. bertempat di Laboratorium Komputer C Fakultas Ilmu Komputer,  Kamis (2/12). Foto: Annisa

Pelatihan Aplikasi Office Tenaga Kependidikan Universitas Mulia oleh instruktur internal Tri Sudinugraha, S.Kom., M.Kom. bertempat di Laboratorium Komputer C Fakultas Ilmu Komputer, Kamis (2/12). Foto: Annisa

Tendik dituntut tidak hanya melakukan rutinitas pekerjaan yang berulang, tetapi juga melakukan perencanaan strategis dan mampu belajar menerapkan pola dan keterampilan yang baru.

“Pelatihan ini bertujuan agar tendik belajar bagaimana Aplikasi Office digunakan untuk membantu proses pekerjaan mereka,” ungkap Annisa. Menurutnya, dengan berlatih, tendik diharapkan akan memiliki keterampilan yang tinggi, misalnya, mampu mengelola dan menata arsip-arsip dokumen pekerjaan dengan mudah dan cepat.

Sementara itu, dihubungi terpisah, instruktur pelatihan Aplikasi Office Tri Sudinugraha, S.Kom., M.Kom. mengatakan bahwa waktu yang tersedia dirasa sangat terbatas. Meski demikian, ia mengaku menggunakan aplikasi Office yang disediakan Google untuk membantu otomatisasi pekerjaan mengelola data.

“Saya biasa menggunakan aplikasi Google Docs untuk membantu pekerjaan. Cukup mudah jika dihubungkan dengan aplikasi di Smartphone ini jika dibanding Aplikasi Office yang lain. Selesai pelatihan ini, mereka diharapkan mampu menggunakannya untuk mempermudah pekerjaan,” tutur Tri Sudinugraha, yang saat ini tengah melanjutkan belajar S3 di Universiti Malaysia Sabah atau Unimas.

Sedangkan materi pelatihan pengelolaan data diasuh oleh Yeyen Dwi Atma, M.Kom. Pengalamannya dalam mengelola basis data akademik untuk melengkapi pelaporan PDPT atau Pangkalan Data Pendidikan Tinggi di Kemedikbudristek, ia bagikan kepada teman-temannya sesama tenaga kependidikan.

“Sederhana saja menggunakan Microsoft Access bagaimana merancang data lalu menerapkannya ke dalam aplikasi,” tutur Yeyen Dwi. Menurutnya, waktu yang disediakan panitia sangat terbatas apabila mengikuti kemampuan masing-masing peserta. Ia berharap panitia dapat menyusun jadwal kembali dengan memperhitungkan kemampuan dasar masing-masing peserta.

Pelatihan Aplikasi Office ini diikuti 24 orang peserta tenaga kependidikan Universitas Mulia.

Peserta Pelatihan Asesor Kompetensi yang diselenggarakan LSP Universitas Mulia. Foto: Murtasyah

UM – LSP atau Lembaga Sertifikasi Profesi Universitas Mulia menggelar Pelatihan Asesor Kompetensi selama lima hari. Pelatihan ini berlangsung di sebuah hotel dan White Campus Universitas Mulia, mulai Selasa (30/11) sampai dengan Sabtu (4/12) .

Wakil Rektor Bidang Akademik Yusuf Wibisono mengatakan bahwa salah satu masalah SDM atau Sumber Daya Manusia di Indonesia adalah terkait dengan kompetensi.

“Di kalangan dunia usaha, di perusahaan, itu banyak sekali kawan-kawan yang memiliki keahlian yang berbeda dengan kualifikasi. Ada juga orang-orang yang memiliki kompetensi melampaui dengan ijazahnya. Ini tidak mudah jika berkarir di tempat lain,” tutur Yusuf Wibisono.

Di dunia akademik, ia melihat transkrip nilai lulusan tampak seragam dari program studi yang sama. “Sarjana yang berasal dari satu program studi itu seolah-olah memiliki keahlian yang sama dengan yang lain. Walaupun berbeda mungkin hanya konsentrasi tertentu,” ungkapnya.

Namun, dirinya memberikan perhatian bahwa di antara lulusan tersebut sangat mungkin memiliki keahlian dan kompetensi tertentu. “Jika tidak dibedakan dengan sertifikasi, tentu tidak mudah membedakan satu lulusan dengan lulusan yang lain,” terangnya.

“Nah, untuk mendapatkan sertifikasi dengan kualifikasi tertentu membutuhkan assessment dengan baik melalui asesor-asesor yang kompeten. Karena itulah, kita bersyukur bisa menyelenggarakan rangkaian kegiatan untuk menyiapkan asesor-asesor yang berkompeten yang diakui oleh BNSP,” terang Yusuf Wibisono.

Dengan pelatihan asesor berkompeten ini dirinya berharap seluruh peserta bisa melewati rangkaian pelatihan dengan baik sehingga akan berimbas pada peningkatan SDM di wilayah Kalimantan Timur.

Ketua BNSP Kunjung Masehat saat memberikan sambutan Pelatihan Asesor Kompetensi yang diselenggarakan LSP Universitas Mulia, Selasa (30/11). Foto: Zoom Meeting

Ketua BNSP Kunjung Masehat saat memberikan sambutan Pelatihan Asesor Kompetensi yang diselenggarakan LSP Universitas Mulia, Selasa (30/11). Foto: Zoom Meeting

Peserta Pelatihan Asesor Kompetensi yang diselenggarakan LSP Universitas Mulia. Foto: Murtasyah

Peserta Pelatihan Asesor Kompetensi yang diselenggarakan LSP Universitas Mulia tahun 2021. Foto: Murtasyah

Sementara itu, senada dengan Yusuf Wibisono, Ketua Badan Nasional Sertifikasi Profesi BNSP Kunjung Masehat, S.H., M.H. melihat bagaimana penyiapan SDM di Kalimantan Timur seiring dengan rencana perpindahan Ibu Kota Negara (IKN) di tempat yang baru.

Menurutnya, Balikpapan memiliki berbagai macam industri besar di bidang pertambangan, minyak dan gas bumi. “Menurut Kami, penting bagi Kita bagaimana meningkatkan daya saing SDM di Kalimantan Timur,” tutur Kunjung Masehat.

Ia mengatakan bahwa saat ini, berdasarkan data BPS Sakernas Februari 2021 yang lalu menunjukkan bahwa jumlah pengangguran terbuka secara nasional masih tinggi, yakni mencapai 8.75 juta orang dari angkatan kerja sejumlah 139,81 juta. Ini berarti jumlah penduduk yang bekerja sejumlah 131.06 juta orang.

“Maka ini bagaimana meningkatkan daya saing SDM kita, dengan melihat perkembangan saat ini, kita siapkan pengembangan SDM,” tuturnya.

Namun, yang menjadi masalah adalah produktivitas tenaga kerja Indonesia tergolong rendah jika dibanding negara Asia lainnya. Berdasarkan data yang diterbitkan Institute for Management Development (IMD) World Competitiveness Ranking 2020, daya saing tenaga kerja Indonesia berada di urutan 32 dari 63 negara yang disurvei.

Dikatakan bahwa tingkat pengangguran terbuka berdasarkan pendidikan juga masih terbilang tinggi. Lembaga pendidikan vokasi dinilai belum mampu menghasilkan lulusan untuk memenuhi pekerjaan dengan keterampilan tinggi. Lembaga pendidikan juga dinilai tidak sejalan dengan kebutuhan industri serta belum merespon kebutuhan pasar.

Meski demikian, Masehat tidak menampik peluang yang masih terbuka lebar dalam pengembangan sumber daya manusia untuk memenuhi kebutuhan Kalimantan Timur.

“Pemerintah sangat konsen dengan pengembangan SDM. Visi Presiden tahun 2019-2024 tentang Pengembangan Sumber Daya Manusia sangat dibutuhkan saat ini,” tuturnya.

Menurutnya, selain Visi Presiden, tantangan program pengembangan SDM Indonesia profesional, kompetitif, dan kompeten saat ini adalah bagaimana melakukan adaptasi dengan munculnya wabah Covid-19. Di samping itu, tingkat persaingan global di antara negara-negara Internasional yang cukup tinggi serta hadirnya Era Industri 4.0.

“Semua negara saat ini persaingannya ada di situ. Bukan ijazahmu apa, bukan adu ijazah sekarang, adu keterampilan, adu skill, adu kompetensi,” tuturnya mengutip pernyataan Presiden Joko Widodo ketika memberikan sambutan peresmian Balai Latihan Kerja (BLK) Komunitas se-Indonesia di Pesantren Al-Fadlu 2, Kendal, Jawa Tengah, Senin (30/12/2019).

Tuntutan persyaratan kompetensi itu sendiri tercakup dalam Perjanjian Moda 4 Gats bahwa untuk melaksanakan Pasal 20 ayat 3 Undang Undang nomor 7 tahun 2014 tentang Perdagangan, yang diperkuat Peraturan Pemerintah RI nomor 83 tahun 2014 tentang Penyediaan Tenaga Teknis yang Kompeten di Bidang Perdagangan dan Jasa.

Adapun Sertifikat Kompetensi merupakan produk hukum yang menjadi legitimasi atau bukti pengakuan terhadap capaian kemampuan seseorang dalam melakukan pekerjaan tertentu yang ditetapkan oleh otoritas yang berwenang, berbasis pada standar kompetensi yang telah disepakati dan ditetapkan.

Pelatihan asesor kompetensi ini diselenggarakan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Universitas Mulia. Diikuti sekira 20 orang peserta, terdiri dari sembilan orang dosen Universitas Mulia dan beberapa lembaga maupun instansi.

(SA/PSI)

Peserta Pelatihan Training for Trainers SI APIK yang diselenggarakan KPw BI Balikpapan, Sabtu (13/11). Foto: Ivan

UM – Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia Balikpapan menyelenggarakan Training for Trainers Pendamping Sistem Informasi Aplikasi Pencatatan Informasi Keuangan (SI APIK) Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) untuk 50 orang dosen dan guru bidang ekonomi di Kota Balikpapan. Kegiatan ini berlangsung di Ballroom Hotel Novotel, Sabtu (13/11).

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Ivan Armawan, S.E., M.M. mengatakan bahwa pelatihan bagi pendamping SI APIK ini diikuti dosen-dosen dari FEB maupun dari Fakultas Ilmu Komputer (FIKOM). Pelatihan ini ditujukan untuk mendampingi KPw Bank Indonesia Balikpapan dalam mensosialisasikan pemanfaatan SI APIK bagi UMKM di Kota Balikpapan.

“Selamat bagi dosen FEB dan FIKOM yang telah mengikuti pelatihan SI APIK dari Bank Indonesia. Mudahan setelah ini siap mendampingi UMKM di Kota Balikpapan,” tutur Ivan Armawan.

Ivan Armawan juga menyampaikan selamat kepada Lidia Rohana Silitonga, S.E., M.Ak., dosen FEB yang telah diganjar panitia sebagai peserta terbaik Training SIAPIK dari Bank Indonesia. “Selamat kepada Bu Lidia R Silitonga,” ujarnya.

SI APIK adalah aplikasi akuntansi berbasis Android dan iOS yang berfungsi sebagai sarana untuk melakukan pencatatan informasi dan transaksi keuangan sederhana serta dapat menyajikan laporan keuangan dan laporan kinerja keuangan bagi usaha mikro dan usaha kecil (UMK).

SI APIK dapat diunduh di Google Play Store bagi smartphone Android, dan App Store bagi pengguna iPhone secara gratis. Adapun pengguna atau user SI APIK bisa setiap perseorangan atau badan usaha yang terdaftar dan memiliki hak akses.

Peserta Pelatihan Training for Trainers SI APIK yang diselenggarakan KPw BI Balikpapan, Sabtu (13/11). Foto: Ivan

Peserta Pelatihan Training for Trainers SI APIK yang diselenggarakan KPw BI Balikpapan, Sabtu (13/11). Foto: Ivan

Dosen FEB Lidia Rohana Silitonga menerima penghargaan sebagai peserta pelatihan terbaik SI APIK. Foto: Ivan

Dosen FEB Lidia Rohana Silitonga menerima penghargaan sebagai peserta pelatihan terbaik SI APIK. Foto: Ivan

Pendaftaran pengguna dan badan usaha hanya dapat dilakukan dengan aplikasi mobile tersebut dan seluruh pencatatan transaksi keuangan akan diproses melalui aplikasi mobile.

Sebagai bagian pada proses inisialisasi/pendaftaran, individu wajib menginformasikan Nomor KTP dan/atau Nomor NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak).

Setelah melakukan inisialisasi/pendaftaran, pengguna/user dapat mendaftarkan lebih dari 1 (satu) usaha yang dimiliki, dengan jenis usaha meliputi Perorangan, Pertanian, Perdagangan, Manufaktur, Jasa, Peternakan dan Perikanan Tangkap, dan Perikanan Budidaya.

Pengguna SI APIK terbagi atas admin dan operator. Admin memiliki kewenangan untuk melakukan input transaksi, melihat hasil penginputan transaksi, merubah transaksi, melihat laporan, backup dan restore transaksi, membuat dan merubah aturan kewenangan operator.

Sedangkan pengguna operator memiliki kewenangan terbatas yang mencakup input transaksi, melihat hasil transaksi dan melihat laporan, terkecuali pengguna/user admin memberikan kewenangan lainnya.

(SA/PSI)

Peserta pelatihan dari SMK Ibnu Khaldun foto bersama Dosen Prodi Manajemen Ibu Linda Fauziyah Ariyani, S.Pd., M.Pd., Ibu Murtasiyah, S.E, M.M., Ibu Endah Lestari, S.E, M.M di Gedung Chengho, Kamis (11/11)

UM– Program Studi (Prodi) S1 Manajemen Universitas Mulia Balikpapan kembali melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat pada Kamis (11/11). Dipusatkan di Kampus Cheng Ho, kegiatan itu berupa pelatihan pengolahan hasil laut untuk masyarakat pesisir Balikpapan.

Ketua Panitia Endah Lestari, S.E, M.M menjelaskan, program pelatihan ini merupakan tindak lanjut dari penerima hibah internal DIPA LP3M yang diberikan kepada Prodi Manajemen untuk pengabdian masyarakat.

“Jadi kegiatan ini salah satu bagian dari pengabdian kita dibidang Pengembangan Potensi Wirausaha untuk masyarakat sekitar pesisir Balikpapan,” jelas Endah.

Adapun yang terlibat dalam program ini katanya, yakni para dosen Prodi Manajemen yang terdiri dari Linda Fauziyah Ariyani, S.Pd, M.Pd, Nandha Narendra, S.E, M.M, Made Ayu, S.E, M.M dan Murtasiyah, S.E, M.M.

“Dalam program ini kita bekerjasama dengan SMK Ibnu Khaldun. Ada 12 peserta dimana mereka adalah para remaja yang ingin mengembangkan diri mereka menciptakan produk secara mandiri,” ujarnya.

Dirinya menyebut, pelatihan pengolahan hasil laut dipilih karena menurutnya di Balikpapan saat ini masih sedikit yang mengoptimalkan olahan hasil laut, untuk itu pihaknya pun berinisiatif melatih masyarakat pesisir Balikpapan untuk pengolahan hasil laut dengan tujuan meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar pesisir.

Antusias peserta pelatihan dari SMK Ibnu Khaldun praktik membuat Cireng Ikan, Empek Empek, Bakso Ikan hingga Krupuk Ikan di Gedung Chengho, Kamis (11/11)

Antusias peserta pelatihan dari SMK Ibnu Khaldun praktik membuat Cireng Ikan, Empek Empek, Bakso Ikan hingga Krupuk Ikan di Gedung Chengho, Kamis (11/11)

Selain pemberian materi dalam pelatihan itu juga diajarkan langsung secara praktik membuat olahan hasil laut. “Mereka membuat Cireng Ikan, Empek Empek, Bakso Ikan hingga Krupuk Ikan,” sebutnya.

Selain praktik membuat olahan, dalam pelatihan itu juga, katanya, diajarkan pula terkait Digital Marketing, Branding produk hingga packingan produk. “Ini dilakukan agar setelah mereka dapat menghasilkan olahan, mereka dapat langsung dapat memasarkan hasilnya dengan metode marketing yang baik sehingga dapat lebih mudah diterima oleh masyarakat,” katanya.

Endah menerangkan, dari hasil pelatihan itu, tampak para peserta sangat senang dengan hasil yang didapatkan. “Nantinya mereka ingin bila produk itu berhasil mereka akan kembali memangil tim kita untuk membantu pengembangan selanjutnya, seperti membuat event expo untuk produk-produk mereka,” terangnya.

“Intinya kita akan terus memantau semua pihak yang sudah bekerjasama dengan kita. Sebab sesuai dengan tag line Universitas Mulia yakni Global Technopreneurship Campus, dimana kita fokus dengan pengembangan wirausaha mahasiswa dan bukan hanya mahasiswa, sebagai wujud kepedulian kita terhadap pengembangan UMKM dan bisnis baru yang akan bermunculan di Balikpapan,” tambahnya.

Dirinya pun berharap dengan pelatihan ini dapat membantu menigkatkan ekonomi masyarakat dan bertumbuhnya bisnis-bisnis baru yang ada di masyarakat yang diplopori oleh anak muda. (mra)

Himpunan Mahasiswa Informatika foto bersama para siswa di Balai Latihan Kerja (BLK) Sepinggan setelah memberikan "Pelatihan Himatika Society Education (HSE)" pada Jumat (5/11).

UM– Himpunan Mahasiswa Informatika (Himatika) Universitas Mulia Balikpapan kembali menggelar kegiatan pengabdian masyarakat dengan menggelar Pelatihan untuk para pencari kerja di Balikpapan. Pelatihan yang diberi nama Himatika Society Education (HSE) itu diikuti para siswa di Balai Latihan Kerja (BLK) Sepinggan pada Jumat (5/11).

Ketua Panitia Muhammad Mujahid Putra Fadillah saat memberikan sertifikat kepada pihak Balai Latihan Kerja sebagai media partner Himatika Society Education (HSE).

Ketua Panitia Muhammad Mujahid Putra Fadillah saat memberikan sertifikat kepada pihak Balai Latihan Kerja sebagai media partner Himatika Society Education (HSE).

Ketua Panitia HSE, Muhammad Mujahid Putra Fadillah menjelaskan, HSE merupakan salah satu program kerja Himatika. Dimana untuk kali ini mengangkat tema Kewirausahaan dan menyasar para lulusan yang sedang mencari pekerjaan. “HSE ini diikuti 16 peserta yang mana mereka adalah siswa Administrasi Perkantoran,” jelas Putra.

Dirinya mengatakan tema Kewirausahaan diangat untuk menyesuaikan kebutuhan yang ada di BLK. “Jadi kita menyesuaikan yang diminta oleh BLK. Karena kami memang menyasar para siswa yang ada di BLK maka materi yang diberikan juga harus sesuai dengan apa yang dibutuhkan para siswa,” katanya.

“Karena tergetnya kita agar selain para lulusan BLK dapat bekerja juga dapat membuat peluang usaha sendiri. Jadi materi kewirausahan sangat pas untuk mereka,” tambahnya.

Ia menyebut, adapun materi langsung diberikan oleh para mahasiswa Himatika. Dimana materi yang diangkat mulai dari pengenalan kewirausahaan, kemudian bisnis model kanvas hingga membuat packingan produk yang menarik.

“Sebelumnya edukasi seperti ini kita dilakukan dengan menargetkan para siswa sekolah SMK/SMA dengan materi yang berbeda dan baru kali ini dilakukan untuk mereka yang sudah lulus dan siap mencari pekerjaan dengan tema kewirausahaan,” sebut Putra.

Dalam pelatihan terang Putra para peserta tampak antusias, ini terbukti dengan banyaknya pertanyaan yang diajukan oleh peserta. “Kami berharap, semoga dari pelatihan ini dapat menumbuhkan semangat para peserta untuk menciptakan produknya sendiri dan dapat memaksimalkan produk dalam negeri,” pungkasnya. (mra)

Prof. Dr. Sri Umi Mintarti W dari Universitas Negeri Malang saat memberikan paparan tentang Pembelajaran Inovatif di Universitas Mulia. Foto: Tangkapan layar

UM – Fakultas Ekonomi dan Bisnis Program Studi Manajemen menggelar pelatihan Pembelajaran Inovatif bagi dosen Universitas Mulia. Tampil sebagai narasumber Prof. Dr. Sri Umi Mintarti W., S.E., M.P.,Ak, Guru Besar Universitas Negeri Malang, Sabtu (18/9) yang lalu.

“Sebagai dosen, kita tentu wajib untuk meningkatkan keilmuan kita, tidak sedikit dosen yang pintar dan sangat menguasai keilmuannya, tetapi kurang mampu melakukan transfer ilmu, delivery ke mahasiswa. Ini tentu menjadi masalah sendiri, karena kita sebagai dosen pendidik, bukan ilmuwan,” tutur Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I., Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Mulia mengawali sambutan.

Menurut Yusuf Wibisono, hal ini diibaratkan seperti kue yang berhasil dibuat dengan baik, tetapi saat melalui proses pengiriman kepada pelanggan kue dalam kondisi berantakan.

Kedua, menurutnya, sebenarnya dosen sudah memiliki berbagai macam metode yang selama ini digunakan untuk mengajar. “Tetapi karena tidak adanya pembaruan, dan metode yang digunakan itu-itu saja, maka mahasiswa boleh jadi akan bosan, karena caranya tidak pernah ganti, tidak ada variasi,” tuturnya.

Ia berharap, dengan pelatihan Pembelajaran Inovatif ini akan membuka cakrawala bagi para dosen, selain memiliki kemampuan keilmuan dengan baik, dosen juga memiliki keahlian untuk melakukan delivery kepada mahasiswa dengan baik.

Sementara itu, Prof. Umi Mintarti mengatakan bahwa kegiatan ini bukan pelatihan, tetapi sharing ilmu terkait pembelajaran inovatif. Menurutnya, pembelajaran inovatif diawali dengan pembelajaran efektif.

Prof. Dr. Sri Umi Mintarti W dari Universitas Negeri Malang saat memberikan paparan tentang Pembelajaran Inovatif di Universitas Mulia. Foto: Tangkapan layar

Prof. Dr. Sri Umi Mintarti W dari Universitas Negeri Malang saat memberikan paparan tentang Pembelajaran Inovatif di Universitas Mulia. Foto: Tangkapan layar

Prof. Mintarti mengatakan bahwa pembelajaran efektif bagaimana pembelajaran efektif. “Nah, pembelajaran inovatif itu barangkali ibu bapak akan menggabungkan atau membuat yang lebih bagus, yang inovatif dari pembelajaran efektif sehingga akan menjadi pembalajaran inovatif,” tuturnya.

“Jadi tidak berdiri sendiri, misalnya, hanya satu pembelajaran efektif, tetapi efektif yang mana yang bisa kita kolaborasi atau yang kita modif sehingga menjadi pembelajaran yang lebih inovatif dari pembelajaran efektif,” tutur Pakar Pendidikan dari Kota Malang ini.

Prof. Mintarti mengatakan dirinya yakin banyak dosen yang telah melakukan pembelajaran inovatif, hanya saja bisa jadi menggunakan cara dengan nama yang lain. “Apalah arti dari sebuah nama, yang penting bapak ibu melakukan aksi transfer ilmu kepada para pembelajar,” tuturnya.

Menurutnya, dengan telah melakukan transfer ilmu tersebut, dosen sudah merasa yakin mahasiswa kan menerima ilmu yang telah disampaikan dosen dengan baik. Tetapi, Prof. Mintarti mengingatkan bahwa mahasiswa juga perlu tahu mengapa sesuatu fenomena itu terjadi.

Hal itu terjadi mengingat dosen sering menganggap mahasiswa memiliki pemahaman yang sama dengan pemahaman diri dosen. “Karena (mahasiswa) disamakan dengan diri kita (dosen), ah (diajari) begini saja (mahasiswa langsung) sudah bisa, nah inilah kelemahan kita (dosen), sama seperti saya, saya juga memiliki pemahaman seperti itu,” tuturnya.

Pada sesi sharing pembelajaran inovatif ini, Prof. Mintarti memberikan paparan terkait tiga hal, yakni hakikat pembelajaran, inovasi pembelajaran, dan role playing inovasi pembelajaran. Dirinya dibantu oleh beberapa dosen muda (mahasiswanya) untuk membantu memaparkan role playing pembelajaran inovatif.

“Di tempat kami ada semacam kompetensi inobel, inovasi pembelajaran, jadi masing-masing mahasiswa membuat proposal inovasi pembelajaran pada masing-masing mata kuliah yang diajarkan,” tuturnya.

Prof. Mintarti mengatakan bahwa pembelajaran masa kini sangat berbeda dengan pembelajaran masa lalu.

“Dulu, murid itu hanya menerima, jadi apa yang diberikan oleh guru, ya itu yang akan diterima, tidak minta yang lainnya. Tetapi, sekarang, murid itu akan minta lebih daripada apa yang kita sampaikan sehingga guru harus mengikuti jalan pikiran peserta didik kita,” terangnya panjang lebar.

Sharing pembelajaran inovatif ini sangat menarik, terutama bagi dosen yang selama ini telah menjalankan pembelajaran di kelas dan tampak berhasil.

Tidak heran, jumlah peserta dalam sesi sharing yang berlangsung lebih dari 3 jam ini diikuti beberapa dosen baik dari Fakultas Ilmu Komputer maupun Fakultas Humaniora dan Kesehatan Universitas Mulia.

Paparan pakar pendidikan tentang pembelajaran inovatif ini sangat menarik. Ikuti lebih lanjut pada rekaman video di Channel YouTube Universitas Mulia ini.

(SA/PSI)

Foto bersama narasumber, peserta, dan panitia Pembekalan Workshop Guru Baru SPS Al-Quran, 6-8 Agustus 2021. Foto: Istimewa

UM – Di masa libur semester tahun ini beberapa dosen Universitas Mulia mengisi kegiatan dengan Penelitian seperti Publikasi Nasional maupun Internasional dan Pengabdian Masyarakat dengan memberikan pelatihan sesuai bidang masing-masing. Seperti yang dilakukan para dosen Program Studi Pendidikan Guru PAUD dalam pembekalan Guru Baru Satuan Pendidikan Anak Usia Dini Sejenis atau SPS, awal Agustus 2021 yang lalu.

Lisda Hani Gustina, M.Pd, salah satu dosen PG PAUD Universitas Mulia ini mengatakan bahwa tujuan Pembekalan Calon Guru PAUD ini adalah agar para calon guru memahami manajemen PAUD serta meningkatkan kompetensi Guru SPS Anak Usia Dini, terutama di bidang keagamaan.

“Dengan pembekalan ini, kita berharap Guru SPS PAUD Al-Quran selain mendapatkan pengetahuan tentang PAUD, juga diharapkan bisa menerapkan di lembaga masing-masing,” tutur Lisda.

Pembekalan dalam bentuk Workshop Guru Baru SPS Al-Quran ke-7 ini memiliki tema Mewujudkan SPS Al-Quran Holistik Integratif berbasis Entrepreneurship melalui Kearifan Lokal. Adapun materi yang diberikan tim dosen PG PAUD antara lain Penyusunan Kurikulum dan Pendampingan Pembuatan Alat Permainan Edukatif bagi Guru PAUD.

Pembekalan berlangsung selama tiga hari, 6-8 Agustus 2021, bertempat di Badan Koordinasi Pendidikan Al-Quran dan Keluarga Sakinah Indonesia (BKPAKSI) Wilayah Kalimantan Timur di Balikpapan. Pembekalan diikuti 60 orang peserta perwakilan dari PAUD se-Balikpapan.

Foto bersama narasumber, peserta, dan panitia Pembekalan Workshop Guru Baru SPS Al-Quran, 6-8 Agustus 2021. Foto: Istimewa

Foto bersama narasumber, peserta, dan panitia Pembekalan Workshop Guru Baru SPS Al-Quran, 6-8 Agustus 2021. Foto: Istimewa

Lisda Hani Gustina, M.Pd di depan peserta Guru Baru SPS. Foto: Istimewa

Lisda Hani Gustina, M.Pd di depan peserta Guru Baru SPS. Foto: Istimewa

Lisda Hani Gustina, M.Pd. Foto: Istimewa

Lisda Hani Gustina, M.Pd. Foto: Istimewa

Tim dosen Prodi PG PAUD yang terlibat dalam kegiatan ini antara lain Sri Purwanti, S.Pd., M.Pd., Beti Vitriana, S.Pd., Baldwine Honest, S.T., M.Pd., Lisda Hani Gustina, S.Ag., M.Pd. serta Noorlaila, S.Pd., M.Pd.

Berdasarkan Peraturan Mendikbud RI no. 84 Tahun 2014 disebutkan bahwa Satuan Pendidikan Anak Usia Dini Sejenis yang selanjutnya disebut SPS adalah salah satu bentuk satuan PAUD jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan bagi anak sejak lahir sampai dengan 6 (enam) tahun secara mandiri atau terintegrasi dengan berbagai layanan kesehatan, gizi, keagamaan, dan atau kesejahteraan sosial.

Selanjutnya, yang dimaksud Pendidik PAUD adalah guru, tutor, guru pendamping, tutor pendamping, guru pendamping muda, tutor pendamping muda, dan/atau pengasuh pada satuan PAUD yang bertugas merencanakan, melaksanakan proses pembelajaran, dan menilai hasil pembelajaran, serta melakukan pembimbingan, pengasuhan, dan perlindungan anak didik.

(SA/PSI)

Bimbingan Teknis

UM – Dosen Universitas Mulia Muhammad Yani, S.Kom., M.T.I menjadi narasumber pada Bimbingan Teknis Sistem Pembelajaran Teknologi yang diselenggarakan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Timur selama dua hari, Kamis (19/8) dan Jumat (20/8) pekan lalu.

Kegiatan tersebut dalam rangka Peningkatan Kinerja Guru Pendidikan Agama dan Keagamaan Buddha Tahun 2021 dengan tema Memanfaatkan Teknologi Informasi dalam Mendukung Proses Pembelajaran Daring.

Muhammad Yani mengatakan bahwa ia bersyukur mendapat kepercayaan untuk memberikan bimbingan teknis untuk yang kesekian kalinya. “Bersyukur sekali mendapat kesempatan untuk berbagi pengalaman belajar bersama Guru Pendidikan Agama dan Keagamaan Buddha Se-Kalimantan Timur,” tutur Muhammad Yani.

Menurutnya, pelatihan yang diselengarakan daring menggunakan aplikasi Zoom Meeting ini berbeda dengan pelatihan sebelumnya yang diselenggarakan luring tatap muka di kelas dan dibuka pagi hingga berakhir menjelang sore hari.

“Pelatihan ini dilaksanakan daring dengan aplikasi Zoom Meeting selama 2 hari, 19-20 Agustus 2021, masing-masing berlangsung selama dua jam dibuka setiap pukul 19.30 sampai dengan pukul 21.30 WITA,” terangnya.

Pelatihan diikuti 57 Guru Pendidikan Agama Buddha dengan materi terkait pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam proses pembelajaran daring dan seputar teknik dalam pembuatan video pembelajaran.

Bimbingan Teknis Sistem Pembelajaran Teknologi yang diselenggarakan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Timur selama dua hari, Kamis (19/8) dan Jumat (20/8). Foto: Muhammad Yani

Bimbingan Teknis Sistem Pembelajaran Teknologi yang diselenggarakan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Timur selama dua hari, Kamis (19/8) dan Jumat (20/8). Foto: Muhammad Yani

Bimbingan Teknis Sistem Pembelajaran Teknologi yang diselenggarakan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Timur selama dua hari, Kamis (19/8) dan Jumat (20/8). Foto: Muhammad Yani

Bimbingan Teknis Sistem Pembelajaran Teknologi yang diselenggarakan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Timur selama dua hari, Kamis (19/8) dan Jumat (20/8). Foto: Muhammad Yani

Menurut Muhammad Yani, spektrum pembelajaran berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi saat ini dikelompokkan menjadi empat, yakni Video Conference, Video Based Learning, Web/Mobile Learning, dan Blended/Hybrid Learning.

Pada Blended Learning atau yang sering dikenal dengan pembelajaran bauran, yakni menjalankan pembelajaran baik tatap muka maupun daring secara bersamaan.

Dari keempat spektrum tersebut, menurutnya, dibedakan menurut jenis komunikasi yang terjadi, yakni synchronous atau asynchronous.

Synchronous atau singkron, yakni komunikasi yang terjadi dalam pembelajaran bersifat real-time atau belajar terjadi dalam waktu bersamaan antara pengajar dengan peserta didik, seperti halnya tatap muka di kelas. Sedangkan Asynchronous atau asingkron pembelajaran terjadi secara tidak bersamaan, baik waktu dan tempat yang berbeda.

Muhammad Yani merupakan dosen Program Studi Di luar Kampus Utama (PSDKU) Sistem Informasi (S1) Universitas Mulia di Samarinda. Pendidikan S1 diselesaikan di Samarinda dan lulusan S2 Universitas Binus Jakarta. Saat ini tengah melanjutkan pendidikan S3 Bidang Teknologi Informasi di Malaysia dengan beasiswa dari Yayasan Airlangga.

(SA/PSI)

UM – Pelatihan Peningkatan Keterampilan Dasar Teknik Instruksional atau PEKERTi berakhir sukses dan ditutup resmi pada Jumat (6/8). Prof. Lambang Subagiyo, Kepala LP3M Universitas Mulawarman berpesan kepada para dosen perlu mengevaluasi diri sejauh mana persiapan pembelajaran dan instrumen pembelajaran serta mengeksplorasi kegiatan di lapangan nanti.

Rektor Universitas Mulia Dr. Agung Sakti Pribadi, S.H., M.H. yang dalam hal ini berhalangan hadir dan diwakili Wakil Rektor Bidang Ketenagaan dan Keuangan Wisnu Hera Pamungkas, S.TP., M.Eng. mengucapkan terima kasih kepada Prof. Lambang Subagiyo bersama seluruh narasumber, panitia, dan seluruh peserta yang telah melaksanakan pelatihan selama lima hari penuh dengan baik dan lancar.

“Suasana kampus UM di beberapa hari ini sepi, setelah saya intip di masing-masing ruangan pada duduk manis di depan laptop. Suasana itu pada serius sambil terdengar tertawa, mungkin sedang dibencandain Dr. Sudarman,” kata Wisnu sambil tersenyum. Ia mengaku pernah mengikuti pelatihan Pekerti 2018 di STIE Madani Balikpapan.

Ia secara khusus mengucapkan terima kasih kepada Universitas Mulawarman, juga kepada peserta dari perguruan tinggi lainnya yang turut berpartisipasi dalam pelatihan Pekerti. Ia menyebutkan beberapa peserta dari AMIK Putra Buana Indonesia, Universitas Islam Al Azhar, SPI Awang Long Samarinda, Universitas Makassar, Universitas Malikul Saleh, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta, Universitas Terbuka, Universitas Tridharma dan perguruan tinggi lainnya.

“Semoga apa yang sudah disampaikan dalam pelatihan ini tidak menguap. Apalagi ada banyak PR dari Prof. Lambang yang lumayan banyak,” tuturnya sembari mengisahkan pengalaman sebelumnya mengikuti pelatihan Pekerti. Wisnu berharap kerjasama terus dikembangkan di berbagai bidang.

Terkait dengan pelatihan, Prof. Lambang memberikan pesan dan mengingatkan kepada seluruh peserta untuk menerapkan hasil mengikuti pelatihan Pekerti di lapangan nantinya.

“Sejauh mana instrumen yang perlu kita siapkan untuk kebutuhan belajar mengajar kita, ini yang perlu kita evaluasi sehingga kita terus meningkatkan kompetensinya, meningkatkan apa yang bisa kita lakukan sesuai dengan yang kita sepakati dalam 5 hari pelatihan kemarin,” tutur Prof. Lambang saat menutup pelatihan, Jumat (6/8).

Prof. Lambang Subagiyo narasumber Pelatihan PEKERTI. Foto: Tangkapan layar

Prof. Lambang Subagiyo narasumber Pelatihan PEKERTI. Foto: Tangkapan layar

Penutupan Pelatihan Peningkatan Keterampilan Dasar Teknik Instruksional atau PEKERTI kerjasama Universitas Mulia dengan Universitas Mulawaraman, Jumat (6/8). Foto: Dok. PSI

Penutupan Pelatihan Peningkatan Keterampilan Dasar Teknik Instruksional atau PEKERTI kerjasama Universitas Mulia dengan Universitas Mulawaraman, Jumat (6/8). Foto: Dok. PSI

Penutupan Pelatihan Peningkatan Keterampilan Dasar Teknik Instruksional atau PEKERTI kerjasama Universitas Mulia dengan Universitas Mulawaraman, Jumat (6/8). Foto: Dok. PSI

Penutupan Pelatihan Peningkatan Keterampilan Dasar Teknik Instruksional atau PEKERTI kerjasama Universitas Mulia dengan Universitas Mulawaraman, Jumat (6/8). Foto: Dok. PSI

Prof. Lambang menerangkan bahwa beberapa kesekapatan yang telah dicapai dalam pelatihan tersebut antara lain mengubah paradigma pembelajaran berbasis OBE (Outcome Based Education).

“Konsekuensinya adalah instrumen kita bangun dengan baik, prosesnya OBE, semuanya OBE, pasti lulusannya baik, dan kita evaluasi setiap saat,” tuturnya.

Menurutnya, beberapa narasumber telah memaparkan dengan baik materi yang diberikan kepada seluruh peserta. “Kemudian dilanjutkan oleh Pak Dr. Bachtiar bagaimana kita menyiapkan perkuliahan itu dengan kontrak sehingga kita dan mahasiswa punya perjanjian tentang capaian yang harus kita lakukan, bagaimana menyusun analisis kompetensi yang dibutuhkan sesuai dengan kebutuhan” ungkapnya.

“Kemudian dilanjutkan Bu Isna menyusun RPP sesuai dengan kebutuhan, mulai dari awal sampai kegiatan evaluasinya,” tuturnya. Dilanjutkan lagi dengan narasumber yang lain yang memberikan paparan dan penjelasan bagaimana menyiapkan instrumen pembelajaran dengan baik.

Bagi tim narasumber Pekerti, lanjut Prof. Lambang, menunjukkan tidak ada satupun yang ditinggalkan untuk disampaikan kepada seluruh peserta pelatihan. “Sehingga (harapannya) ke depan menjadi lebih baik karena orientasi kita adalah menghasilkan lulusan yang kompetitif di zamannya, kompetitif di lingkungannya, kompetitif di lingkungan global,” ungkapnya.

Baginya, Universitas Mulia tentu memiliki tujuan yang mulia untuk meningkatkan kompetensi dosen dan lulusannya. “Dengan meluluskan sejumlah dosennya (dalam pelatihan) yang didominasi oleh dosen-dosen muda, bersama dengan peserta dari perguruan tinggi lain yang juga masih muda, selama lima hari, setiap kelas aromanya Pekerti, mudah-mudahan nanti setiap kelas itu terinspirasi terus dalam menyiapkan belajar mengajar maupun menyiapkan instrumen,” tuturnya.

Prof. Lambang berharap pelatihan akan membuahkan hasil yang diharapkan. Ia mengucapkan terima kasih kepada Universitas Mulia dan berharap kerjasama terus berlanjut. “Banyak event pengembangan diri yang perlu kita tingkatkan, kerjasama belajar, saling memberi informasi apabila ada yang perlu kita informasikan,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala LP3M Universitas Mulia Richki Hardi, S.T., M.Eng. mengatakan bahwa awalnya pelatihan diikuti 50 orang. Namun dalam perjalanannya masih terdapat peserta yang ingin mengikuti pelatihan sehingga peserta bertambah menjadi 54 orang.

“Selebihnya, panitia dengan berat hati menutup pendaftaran mengingat pelatihan telah berjalan agar pelatihan berjalan efektif,” tutur Richki Hardi.

Pelatihan Pekerti, lanjut Richki, cukup berbeda dibanding pelatihan-pelatihan yang lain mengingat pelaksanaannya secara kontinyu berjalan selama 5 hari penuh. “Setiap saya membuka ruangan dosen, itu pada mengikuti pelatihan. Suasananya seperti dulu, hening, serius,” tutur Richki.

Istia Budi, S.T., M.M. salah satu dosen peserta pelatihan mengungkapkan rasa senangnya berhasil menyelesaikan pelatihan dengan baik. Secara khusus ia mengucapkan terima kasih kepada para mentor dan panitia penyelenggara Universitas Mulia bahwa acara pelatihan PEKERTI berjalan dengan baik.

“Selama 5 hari kami banyak belajar berbagai kisi-kisi dalam menyusun RPS, dan optimalisasi tugas Dosen. Contoh-contoh yang diberikan membantu kami ke depannya dalam menyusun dan memahami RPS yang benar dalam proses pembelajaran,” tutur Istia Budi.

“Kami berharap setelah pelatihan ini untuk proses bimbingan bisa berjalan lancar, karena kami yakin para mentor yang jadwalnya padat untuk berbagai kegiatan yang dijalani oleh Mentor,” harapnya.

Semoga semua peserta bisa menyelesaikan tugas tepat waktu dan mendapatkan sertifikat PEKERTI seperti yang diharapkan.

(SA/PSI)