Tag Archive for: Literasi Digital

Balikpapan 11 Juni 2026 – Ketika kata “programmer” disebut, banyak orang langsung membayangkan sosok yang mahir matematika, dikelilingi layar penuh kode, dan mampu membuat aplikasi canggih dalam waktu singkat. Gambaran itu sering kali membuat sebagian pelajar merasa dunia pemrograman terlalu rumit untuk dijangkau.

Pandangan tersebut justru ingin dipatahkan dalam pelatihan “Start Your Coding with Python” yang menjadi bagian dari GENCODE 2026, kegiatan yang diselenggarakan Program Studi Informatika Universitas Mulia bagi pelajar SMA dan SMK di Balikpapan.

Bagi pemateri, Tri Sudinugraha, S.Kom., M.Kom., yang juga menjabat sebagai Wakil Dekan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Mulia, tantangan terbesar saat seseorang mulai belajar coding bukan terletak pada sulitnya bahasa pemrograman, melainkan pada ketakutan untuk melakukan kesalahan.

“Banyak pemula berpikir programmer harus langsung bisa membuat program yang sempurna. Padahal coding adalah proses mencoba, gagal, memperbaiki, dan belajar kembali,” ujarnya.

Pandangan tersebut menjadi alasan mengapa Python dipilih sebagai pintu masuk bagi peserta yang baru mengenal dunia pemrograman. Dibandingkan banyak bahasa pemrograman lain yang memiliki aturan penulisan lebih kompleks, Python dikenal memiliki sintaks yang sederhana dan mudah dipahami.

Menurut Tri, kesederhanaan itu memungkinkan peserta memusatkan perhatian pada hal yang lebih mendasar, yaitu memahami logika di balik sebuah program.

Pilihan tersebut juga relevan dengan perkembangan industri teknologi saat ini. Python digunakan secara luas dalam berbagai bidang, mulai dari kecerdasan buatan (AI), data science, pengembangan web, automasi, hingga keamanan siber. Dengan kata lain, bahasa yang dipelajari peserta hari itu bukan sekadar materi pelatihan, melainkan salah satu fondasi teknologi yang saat ini menggerakkan banyak inovasi digital di dunia.

Namun Tri menegaskan bahwa kemampuan teknis hanyalah sebagian kecil dari proses menjadi seorang programmer.

Menurutnya, banyak pemula terjebak pada upaya menghafal sintaks tanpa benar-benar memahami cara menyelesaikan masalah. Padahal, inti dari pemrograman bukan terletak pada seberapa banyak perintah yang dihafal, melainkan pada kemampuan memecah persoalan menjadi langkah-langkah yang logis dan terstruktur.

“Belajar sintaks hanya memahami cara menulis kode, sedangkan pola pikir programmer adalah kemampuan berpikir logis, sistematis, dan mampu memecahkan masalah menjadi langkah-langkah kecil yang terstruktur,” jelasnya.

Karena itu, selama pelatihan berlangsung, peserta tidak hanya mendengarkan penjelasan teori. Mereka langsung diajak menulis kode, menemukan kesalahan, memperbaikinya, lalu mencoba kembali. Pendekatan berbasis praktik tersebut sengaja digunakan agar peserta mengalami sendiri proses belajar yang sesungguhnya.

Di dunia pemrograman, error sering kali dianggap sebagai bagian dari perjalanan, bukan kegagalan yang harus dihindari.

Pesan ini menjadi semakin relevan ketika perkembangan kecerdasan buatan memunculkan pertanyaan baru: apakah programmer masih akan dibutuhkan ketika AI mampu menghasilkan kode secara otomatis?

Menurut Tri, pertanyaan tersebut berangkat dari pemahaman yang kurang utuh tentang bagaimana teknologi bekerja.

AI memang mampu membantu mempercepat proses pengembangan perangkat lunak. Namun teknologi tersebut tetap memerlukan manusia yang memahami kebutuhan pengguna, menentukan tujuan, mengevaluasi hasil, serta mengambil keputusan yang tidak dapat dilakukan mesin secara mandiri.

“Justru di era AI, programmer yang mampu memanfaatkan AI akan memiliki keunggulan yang lebih besar. Bukan tergantikan, tetapi cara kerjanya menjadi lebih produktif dan strategis,” katanya.

Pandangan itu menunjukkan bahwa masa depan dunia teknologi bukan tentang persaingan antara manusia dan mesin, melainkan tentang bagaimana manusia memanfaatkan teknologi untuk memperluas kemampuannya.

Melihat antusiasme peserta selama pelatihan, Tri optimistis terhadap potensi generasi muda Balikpapan di bidang teknologi. Menurutnya, banyak peserta aktif bertanya, mencoba langsung praktik coding, dan menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi terhadap perkembangan teknologi modern.

Potensi tersebut, katanya, perlu terus dipupuk melalui ruang belajar, pendampingan, dan kesempatan praktik yang memadai.

Bagi peserta yang ingin menekuni dunia pemrograman, Tri memberikan pesan yang sederhana tetapi penting. Langkah pertama bukanlah membangun aplikasi besar atau menguasai teknologi yang rumit, melainkan memahami dasar logika pemrograman dan membiasakan diri untuk terus berlatih.

Ia menyarankan agar pelajar mulai dari proyek-proyek sederhana, seperti membuat kalkulator, aplikasi catatan, atau program kecil lainnya. Dari sana, kemampuan teknis akan berkembang seiring bertambahnya pengalaman.

Lebih jauh, ia menilai bahwa indikator terpenting seorang calon programmer bukanlah seberapa cepat memahami materi, melainkan seberapa kuat rasa ingin tahu yang dimiliki dan seberapa konsisten ia belajar ketika menghadapi kesulitan.

“Programmer hebat bukan selalu yang paling cepat memahami materi, tetapi yang mau terus mencoba dan belajar dari kesalahan,” ujarnya.

Di tengah perubahan teknologi yang berlangsung hampir setiap hari, mungkin itulah pelajaran paling penting yang dibawa pulang peserta GENCODE 2026. Bahwa belajar coding sesungguhnya bukan hanya belajar berbicara dengan komputer, melainkan belajar melatih cara berpikir, menyelesaikan masalah, dan membangun keberanian untuk terus belajar sepanjang hayat. (YMN)

Balikpapan, 11 Juni 2026 – Ketika seseorang membuka aplikasi media sosial, memesan transportasi daring, atau menggunakan sistem operasi di telepon genggamnya, yang terlihat hanyalah produk akhir yang bekerja dengan mulus. Yang jarang terlihat adalah ribuan perubahan kode, ratusan diskusi, dan kerja sama banyak orang yang berlangsung di belakang layar.

Dunia teknologi modern tidak dibangun oleh satu orang yang bekerja sendirian di depan komputer. Ia dibangun oleh kolaborasi.

Gagasan itulah yang menjadi inti materi “Coding Collaboration with Git” dalam kegiatan GENCODE 2026 yang diselenggarakan Program Studi Informatika Universitas Mulia bagi pelajar SMA dan SMK di Balikpapan.

Dalam sesi pelatihan tersebut, peserta tidak hanya diperkenalkan pada Git sebagai sebuah perangkat lunak, tetapi juga pada budaya kerja yang menjadi fondasi pengembangan teknologi modern.

Pemateri sekaligus Wakil Dekan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Mulia, Tri Sudinugraha, S.Kom., M.Kom., menjelaskan bahwa hampir seluruh pengembangan perangkat lunak saat ini dilakukan secara kolaboratif. Di sinilah Git memainkan peran penting.

“Git membantu programmer mengelola perubahan kode, melacak riwayat pekerjaan, dan bekerja bersama tim tanpa takut kehilangan data atau menimpa pekerjaan orang lain,” ujarnya.

Bagi banyak pelajar, konsep tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun di dunia industri, kemampuan menggunakan Git telah berkembang menjadi standar profesional yang hampir tidak terpisahkan dari pekerjaan seorang pengembang perangkat lunak.

Sebelum sistem kontrol versi seperti Git digunakan secara luas, pengembang perangkat lunak sering bertukar file secara manual. Cara tersebut tidak jarang menimbulkan persoalan. Versi program menjadi sulit dilacak, perubahan yang dilakukan anggota tim saling bertabrakan, bahkan data dapat hilang ketika file tertimpa oleh versi yang lebih baru.

Git mengubah pola kerja tersebut secara mendasar.

Setiap perubahan tercatat, setiap revisi memiliki jejak yang jelas, dan setiap anggota tim dapat bekerja secara paralel tanpa harus saling menunggu. Apa yang sebelumnya berpotensi menimbulkan kekacauan kini dapat dikelola secara sistematis dan terstruktur.

Namun bagi Tri, pelajaran terpenting dari Git bukan sekadar kemampuan teknis menggunakan perintah-perintah tertentu.

Yang lebih penting adalah pemahaman bahwa keberhasilan sebuah proyek teknologi bergantung pada kemampuan manusia untuk bekerja bersama.

Ia menjelaskan bahwa sebuah aplikasi modern biasanya melibatkan banyak peran sekaligus, mulai dari programmer, perancang antarmuka pengguna, analis sistem, penguji perangkat lunak, hingga manajer proyek. Setiap pihak membawa perspektif dan tanggung jawab yang berbeda.

Dalam kondisi seperti itu, kemampuan berkomunikasi menjadi sama pentingnya dengan kemampuan teknis.

“Industri saat ini mencari programmer yang tidak hanya pintar coding, tetapi juga mampu berdiskusi, menerima masukan, dan bekerja sama dalam tim lintas bidang,” jelasnya.

Karena itu, pengenalan Git kepada siswa sekolah menengah bukan semata-mata untuk mengajarkan teknologi yang digunakan industri. Di baliknya terdapat upaya memperkenalkan disiplin dokumentasi, manajemen proyek, serta budaya kerja profesional sejak dini.

Menurut Tri, salah satu kesalahan yang paling sering dilakukan pemula dalam proyek kolaboratif adalah kurangnya komunikasi. Banyak anggota tim melakukan perubahan tanpa dokumentasi yang jelas atau tidak memperhatikan pekerjaan yang telah dilakukan rekan lainnya.

Akibatnya, pekerjaan yang seharusnya saling melengkapi justru dapat saling mengganggu.

Git hadir sebagai alat yang membantu membangun keteraturan tersebut. Setiap perubahan memiliki catatan, setiap kontribusi dapat ditelusuri, dan setiap anggota tim memiliki tanggung jawab yang dapat dipertanggungjawabkan.

“Git mencatat siapa yang melakukan perubahan, kapan perubahan dilakukan, dan apa yang diubah. Hal ini menciptakan budaya kerja yang transparan, rapi, dan bertanggung jawab,” katanya.

Prinsip itu pula yang membuat Git digunakan dalam berbagai proyek teknologi berskala besar di dunia. Sistem operasi Android, Linux, framework Flutter, hingga berbagai platform digital yang digunakan miliaran orang setiap hari dikembangkan melalui mekanisme kolaborasi berbasis Git dan GitHub.

Menariknya, ribuan pengembang dari berbagai negara dapat bekerja pada proyek yang sama tanpa harus berada di tempat yang sama. Mereka terhubung oleh sistem kolaborasi yang memungkinkan setiap kontribusi tercatat dan terkelola dengan baik.

Bagi mahasiswa maupun pelajar yang ingin berkarier di bidang teknologi, pengalaman mengenal Git sejak dini memberikan keuntungan tersendiri. Mereka tidak hanya belajar membuat program, tetapi juga memahami bagaimana sebuah produk digital dibangun secara profesional.

Kemampuan tersebut menjadi semakin penting ketika proyek yang dikerjakan semakin kompleks dan melibatkan banyak orang.

Pada akhirnya, pelajaran yang dibawa pulang peserta GENCODE 2026 mungkin bukan hanya tentang cara menggunakan Git atau GitHub.

Mereka belajar bahwa teknologi tidak pernah benar-benar tumbuh dari kerja individu semata. Di balik setiap aplikasi yang digunakan jutaan orang, selalu ada proses belajar bersama, berbagi tanggung jawab, menerima masukan, dan menyatukan berbagai ide menjadi satu solusi.

“Teknologi bukan hanya tentang membuat program, tetapi tentang bagaimana kita belajar, berkolaborasi, dan terus berkembang bersama,” tutur Tri.

Sebuah pesan yang relevan, bukan hanya bagi calon programmer, tetapi bagi siapa pun yang akan hidup dan bekerja di dunia yang semakin terhubung. (YMN)

Balikpapan, 11 Juni 2026 – Di tengah derasnya arus kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang mengubah cara manusia belajar, bekerja, dan berinteraksi, muncul satu pertanyaan penting: apakah generasi muda hanya akan menjadi pengguna teknologi, atau justru menjadi pihak yang menciptakannya?

Pertanyaan itulah yang menjadi benang merah dalam pelaksanaan GENCODE 2026 yang diselenggarakan Program Studi Informatika Fakultas Ilmu Komputer Universitas Mulia pada Kamis (11/6/2026) di Laboratorium A FIKOM Universitas Mulia.

Mengusung tema “Coding Collaboration with Git”, kegiatan ini diikuti 32 pelajar dari berbagai sekolah di Balikpapan, di antaranya SMK Negeri 3 Balikpapan, SMK Pertiwi Balikpapan, SMK Kartika V-1 Balikpapan, SMK Adzkiya Balikpapan, SMK Airlangga Balikpapan, SMA Negeri 3 Balikpapan, hingga SMP Negeri 7 Balikpapan.

Bagi sebagian peserta, ini mungkin menjadi pertemuan pertama mereka dengan dunia pemrograman. Namun bagi Prodi Informatika Universitas Mulia, GENCODE bukan sekadar pelatihan teknis. Di balik baris-baris kode yang ditampilkan di layar komputer, terdapat upaya menanamkan cara berpikir yang akan menentukan bagaimana generasi muda menghadapi masa depan.

“Kami ingin generasi muda tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga memahami bagaimana teknologi itu diciptakan dan dikembangkan,” ujar Kaprodi Informatika Universitas Mulia, Isa Rosita, S.Kom., M.Cs.

Menurutnya, perkembangan AI dan transformasi digital telah mengubah hampir seluruh sektor kehidupan, mulai dari pendidikan, bisnis, kesehatan, hingga industri kreatif. Kondisi tersebut menuntut lahirnya generasi yang tidak sekadar akrab dengan teknologi, tetapi juga memiliki kemampuan untuk berkontribusi dalam proses penciptaannya.

Karena itulah GENCODE kembali diselenggarakan setelah pelaksanaan perdananya pada tahun sebelumnya. Kegiatan ini menjadi salah satu upaya Prodi Informatika untuk memperkenalkan keilmuan informatika kepada pelajar sekaligus membuka ruang eksplorasi bagi mereka yang ingin mengenal dunia teknologi lebih jauh.

Menariknya, materi yang dipilih tidak hanya berfokus pada kemampuan membuat program. Selain Python yang dikenal sebagai salah satu bahasa pemrograman paling ramah bagi pemula, peserta juga diperkenalkan dengan Git, sebuah sistem kontrol versi yang menjadi standar dalam pengembangan perangkat lunak modern.

Pilihan tersebut bukan tanpa alasan.

Dalam industri teknologi saat ini, keberhasilan sebuah produk digital tidak hanya ditentukan oleh kemampuan individu menulis kode, tetapi juga kemampuan tim untuk berkolaborasi, mengelola perubahan, dan menjaga kualitas proyek secara berkelanjutan.

“Pengembangan teknologi bukan hanya soal menulis kode, tetapi juga tentang bekerja sama, mengelola perubahan, dan menjaga kualitas proyek secara terstruktur,” jelas Isa.

Pandangan tersebut sekaligus menjawab salah satu kesenjangan yang masih sering ditemukan antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri. Banyak pelajar telah mengenal berbagai aplikasi digital dalam kehidupan sehari-hari, namun belum banyak yang memiliki pengalaman membangun solusi digital secara kolaboratif, menggunakan perangkat kerja yang lazim dipakai di industri, atau menyelesaikan persoalan nyata melalui pendekatan teknologi.

Menurut Isa, kemampuan teknis saja tidak lagi cukup.

Dunia kerja digital membutuhkan individu yang mampu berpikir komputasional, mendokumentasikan pekerjaannya dengan baik, berkomunikasi secara efektif, serta mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi yang berlangsung sangat cepat.

Karena itu, tujuan utama GENCODE tidak berhenti pada penguasaan sintaks pemrograman.

“Kami ingin menanamkan pola pikir seorang problem solver. Peserta belajar menganalisis masalah, menyusun langkah penyelesaian secara sistematis, bekerja sama dalam tim, berkomunikasi secara efektif, dan memiliki keberanian untuk mencoba serta belajar dari kesalahan,” tuturnya.

Pendekatan tersebut menjadi semakin relevan ketika perkembangan AI memunculkan kekhawatiran bahwa berbagai pekerjaan akan digantikan oleh mesin. Bagi Isa, masa depan justru akan semakin membutuhkan kemampuan-kemampuan yang tidak dimiliki mesin.

Ia menilai bahwa dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan, generasi muda perlu memperkuat kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah, literasi digital dan data, kemampuan beradaptasi, serta keterampilan kolaborasi.

“Di era AI, manusia tidak bersaing dengan mesin dalam hal kecepatan menghitung, tetapi dalam kreativitas, empati, pengambilan keputusan, dan kemampuan menciptakan inovasi,” katanya.

Pandangan tersebut menjadi pengingat bahwa teknologi bukanlah tujuan akhir. Teknologi hanyalah alat. Yang menentukan arah pemanfaatannya tetaplah manusia.

Melalui GENCODE 2026, Universitas Mulia berupaya mengambil peran dalam membangun ekosistem talenta digital di Kalimantan Timur. Upaya tersebut dilakukan dengan memperkenalkan standar kompetensi dan budaya kerja yang relevan dengan perkembangan industri global sejak usia sekolah.

Sebab di masa depan, tantangan terbesar mungkin bukan lagi soal akses terhadap teknologi. Hampir semua informasi dapat ditemukan hanya dengan beberapa sentuhan jari. Tantangan yang sesungguhnya adalah keberanian untuk mulai belajar, mencoba, gagal, lalu bangkit kembali.

Pesan itulah yang disampaikan Isa kepada para peserta.

“Jangan takut memulai karena merasa belum bisa. Semua programmer dan praktisi teknologi yang sukses hari ini juga pernah menjadi pemula. Yang membedakan adalah mereka berani mencoba, berani gagal, dan terus belajar,” ujarnya.

Di Laboratorium A FIKOM sore itu, para peserta memang sedang belajar menulis kode program. Namun lebih dari itu, mereka sedang belajar satu hal yang jauh lebih penting: bagaimana menulis masa depan mereka sendiri di tengah dunia yang terus berubah. (YMN)

Balikpapan, 18 Februari 2026 – Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika (HimaTI) Universitas Mulia melaksanakan kegiatan Goes to School bertajuk Beyond Networking: Menjelajahi Cakrawala Keamanan Siber pada 24 November 2025 di SMK Negeri 6 Balikpapan. Kegiatan ini menjadi bagian dari pengabdian institusi dalam memperluas wawasan teknologi informasi bagi siswa sekolah menengah kejuruan.

Program ini dirancang untuk memperkenalkan dimensi yang lebih luas dari bidang Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ). Tidak hanya membahas konfigurasi jaringan, pelatihan juga menyoroti keamanan informasi, pemrograman, arsitektur perangkat keras, hingga relevansinya dengan perkembangan komputasi awan dan Internet of Things (IoT). Pendekatan tersebut diambil untuk memberikan gambaran utuh mengenai kompetensi yang dibutuhkan dalam ekosistem industri digital.

Kegiatan berlangsung dalam format interaktif di lingkungan sekolah. Sesi awal memuat pemaparan konseptual mengenai keamanan sistem komputer dan jaringan, termasuk prinsip dasar perlindungan data serta potensi kerentanan yang kerap dimanfaatkan dalam serangan siber. Materi disampaikan secara aplikatif agar mudah dipahami oleh siswa jurusan TKJ.

Untuk menjaga partisipasi aktif, rangkaian kegiatan diselingi sesi interaksi yang mendorong konsentrasi dan respons cepat peserta. Dinamika ini menjadi pengantar menuju sesi utama berupa simulasi praktik dalam lingkungan virtual.

Pada tahap praktik, siswa menggunakan VirtualBox dan sistem operasi Kali Linux untuk memahami mekanisme keamanan sistem secara terkontrol. Simulasi ini memberikan pengalaman langsung mengenai bagaimana suatu sistem diuji keamanannya tanpa menimbulkan risiko pada perangkat asli. Pendekatan berbasis praktik tersebut dirancang agar siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga melihat penerapannya secara nyata.

Melalui kegiatan ini, Universitas Mulia mempertegas kontribusinya dalam membangun kesiapan teknologi generasi muda. Program Goes to School menjadi ruang kolaboratif yang mempertemukan pendidikan tinggi dan sekolah kejuruan dalam penguatan literasi digital yang lebih kontekstual dan relevan dengan kebutuhan industri. (YMN)

Balikpapan, 18 Februari 2026 – Himpunan Mahasiswa Teknologi Informasi (HimaTI) Universitas Mulia melaksanakan program Goes to School pada 17 Desember 2025 di Laboratorium Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) SMK Negeri 1 Balikpapan. Kegiatan ini difokuskan pada penguatan pemahaman keamanan siber melalui pendekatan simulasi terkontrol berbasis lingkungan virtual.

Program Goes to School merupakan bagian dari kontribusi akademik Universitas Mulia dalam menjembatani materi perkuliahan dengan kebutuhan praktik di lapangan. Dalam konteks pendidikan kejuruan, penguasaan konsep keamanan sistem menjadi krusial, terutama bagi siswa yang telah memiliki dasar pengoperasian sistem Linux seperti Debian. Bekal tersebut memungkinkan pelatihan diarahkan pada tahapan yang lebih aplikatif.

Kegiatan diawali dengan pengantar mengenai posisi keamanan informasi dalam ekosistem teknologi digital. Peserta kemudian diperkenalkan pada konsep dasar cyber security, termasuk pentingnya pengawasan sistem, identifikasi kerentanan, serta risiko penyalahgunaan akses dalam jaringan komputer.

Bagian utama pelatihan berupa simulasi penyerangan dan pemantauan sistem dalam lingkungan virtual. Dengan memanfaatkan VirtualBox, peserta menjalankan skenario penggunaan Kali Linux sebagai sistem penguji terhadap mesin berbasis Windows. Simulasi ini memperlihatkan bagaimana aktivitas sistem dapat dimonitor melalui mekanisme yang menyerupai teknik serangan nyata, namun tetap berada dalam kondisi aman dan terkendali.

Selain memahami alur kerja malware dalam konteks pengujian, siswa juga dilatih mengonfigurasi perangkat lunak virtualisasi, termasuk pengaturan jaringan IP Host-Only. Tahap ini menekankan ketelitian teknis sekaligus pemahaman arsitektur jaringan sederhana yang mendukung proses simulasi.

Beberapa kendala teknis pada proses instalasi dan konfigurasi menjadi bagian dari dinamika pembelajaran. Situasi tersebut dimanfaatkan sebagai sarana pemecahan masalah secara langsung, sehingga siswa tidak hanya mengikuti prosedur, tetapi juga memahami logika di balik setiap langkah teknis.

Melalui kegiatan ini, Universitas Mulia memperkuat perannya dalam membangun literasi keamanan digital yang berbasis praktik. Pendekatan simulatif yang diterapkan dalam program Goes to School diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran kritis sekaligus kesiapan teknis siswa dalam menghadapi tantangan keamanan informasi di lingkungan teknologi yang terus berkembang. (YMN)

 

 

Balikpapan, 13 Februari 2026 – Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika (HimaTI) Universitas Mulia melaksanakan kegiatan sosialisasi dan pelatihan keamanan siber bertajuk Guardians of the Cyber: Menempa Generasi Tangguh Keamanan Informasi pada 9 Desember 2025 di Laboratorium Komputer SMK Negeri 3 Balikpapan. Kegiatan ini merupakan bagian dari penguatan peran institusi dalam membangun literasi keamanan informasi di tingkat pendidikan menengah.

Pelatihan diselenggarakan sebagai tindak lanjut arahan akademik Program Studi Teknologi Informasi Universitas Mulia untuk memperluas edukasi keamanan siber kepada pelajar. Inisiatif ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya risiko kejahatan siber serta pentingnya pemahaman sejak dini mengenai perlindungan data pribadi dan mekanisme serangan digital yang umum terjadi.

Kegiatan terbagi dalam dua sesi utama yang diikuti siswa jurusan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ). Sesi awal memuat pemaparan konsep dasar keamanan informasi, klasifikasi ancaman siber, serta pola serangan yang kerap dimanfaatkan peretas. Materi difokuskan pada pemahaman struktural mengenai bagaimana sistem dapat dieksploitasi dan bagaimana mitigasinya dirancang.

Bagian inti kegiatan berlangsung dalam bentuk simulasi praktik di lingkungan virtual. Dengan memanfaatkan perangkat lunak VirtualBox, peserta melakukan skenario terkontrol menggunakan sistem operasi Kali Linux untuk menguji kerentanan mesin berbasis Windows 7. Dalam simulasi tersebut, siswa mengamati bagaimana sebuah file backdoor dapat membuka akses pemantauan sistem dari jarak jauh. Pendekatan ini dirancang agar peserta tidak hanya memahami konsep serangan, tetapi juga menyadari konsekuensi teknis dan etis dari penyalahgunaan akses sistem.

Meskipun terdapat kendala teknis pada tahap instalasi perangkat lunak, dinamika pembelajaran tetap terjaga. Siswa menunjukkan kemampuan kolaboratif dengan saling membantu menyelesaikan tahapan konfigurasi hingga simulasi berjalan sesuai skenario. Proses ini sekaligus memperlihatkan pentingnya kerja tim dalam praktik keamanan siber.

Melalui kegiatan ini, Universitas Mulia mempertegas kontribusinya dalam pengembangan kapasitas generasi muda di bidang teknologi informasi. Pelatihan keamanan siber tidak hanya membekali keterampilan teknis, tetapi juga menanamkan kesadaran kritis terhadap tanggung jawab penggunaan teknologi di ruang digital.

Kolaborasi antara Universitas Mulia dan SMK Negeri 3 Balikpapan diharapkan dapat berlanjut dalam bentuk program edukasi berkelanjutan, sehingga kesiapan siswa menghadapi tantangan keamanan informasi semakin terstruktur dan berbasis kompetensi. (YMN)

Balikpapan, 13 Februari 2026 – Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika (HimaTI) Universitas Mulia melaksanakan program Goes to School melalui pelatihan keamanan siber bagi siswa jurusan TKJ dan RPL SMK Kartika V-1 Balikpapan pada 15 Desember 2025. Kegiatan ini merupakan bagian dari pengabdian kepada masyarakat yang diarahkan untuk memperluas literasi keamanan informasi di tingkat pendidikan menengah kejuruan.

Perkembangan teknologi digital yang semakin cepat membawa konsekuensi pada meningkatnya risiko kebocoran data, serangan siber, dan penyalahgunaan sistem informasi. Melalui program ini, Universitas Mulia mendorong transfer pengetahuan yang lebih aplikatif guna menjembatani materi pembelajaran di sekolah dengan dinamika ancaman di ruang digital.

Kegiatan diawali dengan pembukaan dan sambutan dari pihak sekolah yang menyambut baik kolaborasi edukatif tersebut. Selanjutnya, peserta mendapatkan pemaparan konseptual mengenai lanskap keamanan siber, termasuk klasifikasi peretas—black hat, white hat, dan gray hat—serta ragam perangkat lunak berbahaya seperti virus, ransomware, dan spyware.

Untuk mengukur pemahaman awal dan akhir peserta, pelatihan dilengkapi dengan pre-test dan post-test. Sesi interaktif dan ice-breaking turut dihadirkan guna menjaga partisipasi aktif siswa selama kegiatan berlangsung.

Bagian utama pelatihan difokuskan pada simulasi praktik dalam lingkungan virtual. Dengan memanfaatkan VirtualBox, peserta diperkenalkan pada skenario serangan dan pertahanan sistem secara terkendali. Siswa mempraktikkan pembuatan skrip monitoring pada sistem operasi Kali Linux dan mengamati dampaknya pada sistem Windows sebagai target simulasi. Pendekatan ini memberikan pengalaman langsung mengenai bagaimana mekanisme serangan terjadi sekaligus bagaimana sistem dapat dipantau dan diamankan.

Melalui kegiatan ini, Universitas Mulia menegaskan peran strategisnya dalam penguatan kapasitas generasi muda di bidang teknologi informasi. Pelatihan keamanan siber tidak hanya memperluas wawasan teknis siswa, tetapi juga memperkenalkan pentingnya etika dan tanggung jawab dalam pemanfaatan teknologi.

Program Goes to School HimaTI menjadi salah satu bentuk kontribusi institusi dalam membangun kesiapan sumber daya manusia yang adaptif terhadap tantangan keamanan digital yang terus berkembang. (YMN)

Balikpapan, 10 November 2025 – Bagi Fiqri Maulana Nuzulianto, S.IP., M.IP., dosen tamu mata kuliah Pancasila di Fakultas Hukum Universitas Mulia, bulan November merupakan ruang refleksi kolektif tentang makna perjuangan dan kebangsaan. Ia memandang 10 November bukan sekadar perayaan seremonial, tetapi momentum untuk menakar kembali kesetiaan generasi kini terhadap nilai-nilai pengorbanan dan keberanian moral.

Menurutnya, kepahlawanan di masa kini tidak lagi diwujudkan melalui senjata, melainkan lewat upaya menjaga nalar etik bangsa. “Menegakkan Pancasila hari ini berarti melawan korupsi, menolak penyalahgunaan wewenang, dan menumbuhkan empati sosial,” tuturnya. Ia menyebut krisis moral dan individualisme sebagai bentuk penjajahan baru dalam makna sosial-budaya yang menggerogoti rasa kebersamaan.

Fiqri berpendapat, nilai kepahlawanan berbasis Pancasila harus menjadi mekanisme pertahanan moral bangsa — mendorong warga menempatkan kepentingan publik di atas kepentingan pribadi, memperkuat integritas personal, serta menghidupkan kembali solidaritas sosial yang mulai melemah di ruang publik digital.

Ia juga mengingatkan bahwa generasi muda kini berisiko kehilangan ruh kepahlawanan, karena nilai-nilai idealisme mulai terkikis oleh budaya instan dan pragmatisme sosial. “Pahlawan masa kini adalah mereka yang berani mengambil sikap, berinovasi, dan berkorban tanpa pamrih di ruang sosial maupun digital,” ujarnya. Fiqri mencontohkan bentuk kepahlawanan baru seperti mengawasi jalannya demokrasi melalui media digital, mendorong kesetaraan sosial, dan menjadi relawan di isu-isu kemanusiaan. “Mereka adalah pahlawan digital, sosial, dan intelektual — berjuang dengan data, nalar, dan kolaborasi,” tambahnya.

Menurutnya, penanaman nilai Pancasila dalam pendidikan tidak cukup bersifat kognitif, tetapi harus dilakukan secara transformasional. Ia mendorong agar kampus memberi ruang bagi tokoh dan aktivis muda sebagai teladan moral bagi mahasiswa. “Nilai tidak tumbuh dari hafalan, melainkan dari pengalaman dan interaksi dengan figur yang hidup dengan nilai itu,” jelasnya.

Model pembelajaran berbasis proyek, lanjutnya, dapat digunakan untuk menumbuhkan kesadaran kritis mahasiswa terhadap tantangan Pancasila di masyarakat. Ia juga menekankan pentingnya literasi digital yang berakar pada etika Pancasila, agar ruang maya tidak menjadi sarang hoaks dan ujaran kebencian. Dengan demikian, mahasiswa tidak berhenti pada “pengetahuan tentang Pancasila”, tetapi menjadikannya “sikap hidup Pancasila”.

Bagi Fiqri, perjuangan mahasiswa hari ini adalah perjuangan karakter dan integritas. Mahasiswa, katanya, harus menjadi penggerak perubahan, pengontrol sosial, dan pewaris idealisme bangsa. “Tugas mereka bukan lagi merebut kemerdekaan, tetapi menjaga agar ilmu digunakan dengan tanggung jawab dan idealisme tetap dijaga dari kepentingan sesaat,” tegasnya.

Ia juga menyoroti pentingnya peran kampus dalam membentuk generasi berjiwa kepahlawanan. Menurutnya, perguruan tinggi sebaiknya menjadi ruang yang memberi kesempatan bagi ekspresi kritis dan konstruktif mahasiswa. “Kampus idealnya menjadi laboratorium demokrasi yang sehat, tempat tumbuhnya dialog, kolaborasi, dan keberanian moral,” ujarnya.

Fiqri menutup pandangannya dengan ajakan agar semangat Pancasila benar-benar menjadi kebudayaan kampus yang hidup, tidak berhenti pada tataran kognitif semata. Ia menilai Pancasila perlu dijadikan pisau analisis dalam proyek akademik, pengabdian masyarakat, dan riset sosial. “Mahasiswa yang berintegritas dan berkontribusi sosial seharusnya mendapat penghargaan yang sama dengan mereka yang berprestasi akademik,” ujarnya. Baginya, itulah cara kampus menyalakan kembali semangat kepahlawanan — dengan ilmu, integritas, dan keberanian moral. (YMN)

Balikpapan, 31 Oktober 2025 — Universitas Mulia melaksanakan program pendampingan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kelurahan Gunung Sari Ulu sebagai bagian dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Program ini berfokus pada penguatan literasi digital dan strategi pemasaran berbasis teknologi untuk memperluas jangkauan usaha lokal.

Kegiatan bertema “Kreatif, Kolaboratif, dan Kompetitif: Kunci UMKM Naik Kelas” ini dirancang untuk membantu pelaku usaha memahami cara memanfaatkan media digital dalam memperkenalkan produk dan memperluas pasar. Tim dosen yang terlibat terdiri dari Dr. Linda Fauziyah Ariyani, S.Pd., M.Pd., Wury Damayantie, S.Farm., M.Farm., dan Muhammad Safi’i, S.Kom., M.Kom. Mereka bekerja bersama mahasiswa dalam proses pendampingan, sehingga kegiatan ini juga menjadi ruang penerapan pembelajaran berbasis proyek di luar kelas.

Para narasumber, Lurah Gunung Sari Ulu, Babinkamtibmas, Babinsa, dan perangkat kelurahan berpose bersama peserta pelatihan dengan gaya simbol “UM, Mulia, dan Jaya” sebagai penanda semangat kolaborasi.

Dalam sesi pelatihan, Dr. Linda menjelaskan bahwa sebagian besar usaha kecil gagal bertahan melewati lima tahun pertama bukan karena kurang modal, melainkan karena pelaku usaha belum memahami arah pasar dan perubahan perilaku konsumen. Ia mengajak peserta untuk memulai strategi dari fondasi yang sederhana namun penting: mengenali produk, memahami konsumen, dan menyesuaikan cara komunikasi melalui media digital.

Peserta berlatih membuat video promosi, mengelola akun media sosial, serta menata etalase daring di marketplace dengan pendekatan visual yang lebih terarah. Metode praktik ini memungkinkan pelaku usaha mengamati langsung hasil dari strategi yang diterapkan dan menyesuaikannya dengan karakter produk masing-masing.

Dr. Linda Fauziyah Ariyani, S.Pd., M.Pd., mengambil swafoto di tengah suasana praktik peserta, saat sesi pembuatan konten promosi digital berlangsung.

Dosen dari bidang farmasi dan informatika turut memberikan materi pendukung berupa digitalisasi pencatatan keuangan dan sistem pembayaran daring. Langkah ini dimaksudkan agar pelaku usaha memiliki catatan transaksi yang rapi dan siap digunakan sebagai dasar perencanaan atau pengajuan modal usaha.

Melalui kegiatan ini, Universitas Mulia menautkan hasil pembelajaran dan penelitian kampus dengan kebutuhan riil masyarakat. Pendekatan lintas bidang yang diterapkan memungkinkan proses akademik berjalan berdampingan dengan pemberdayaan sosial. Model seperti ini digunakan Universitas Mulia untuk menguji efektivitas pembelajaran berbasis praktik sekaligus menilai dampaknya terhadap masyarakat.

Mahasiswa yang terlibat berperan mendampingi peserta dalam tahap-tahap penerapan teknologi digital, seperti pengaturan konten promosi, analisis unggahan, dan evaluasi jangkauan media. Dengan cara ini, proses belajar mahasiswa menjadi relevan dengan kondisi nyata di lapangan, sementara pelaku UMKM memperoleh dukungan teknis yang sesuai dengan kebutuhan usaha mereka.

Dalam penyampaian materinya, Dr. Linda menyisipkan refleksi singkat yang memantik semangat peserta untuk terus bergerak maju.

“Bukan di mana kita berdiri, tapi ke arah mana kita menuju,” ujarnya.

Dr. Linda, yang merupakan peraih sejumlah beasiswa unggulan nasional — termasuk BUDI-DN LPDP dan Beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik (PPA) — menutup sesinya dengan pesan reflektif:

“Bisnis akan selalu mengajarimu dua hal: kegagalannya memberi pelajaran hidup, keberhasilannya memberi kebahagiaan hidup.”

Lurah Gunung Sari Ulu menyampaikan sambutan pada pembukaan pelatihan pendampingan digital bagi pelaku UMKM, menekankan pentingnya adaptasi teknologi dalam pengembangan usaha lokal.

Ia juga menegaskan makna berproses dalam berwirausaha:

“Bisnis tidak hanya tentang laba, tetapi juga tentang kemampuan untuk belajar dan beradaptasi.”

Kegiatan ini memperlihatkan bagaimana Universitas Mulia menempatkan kerja akademik sebagai sarana penguatan kapasitas masyarakat. Melalui pendampingan yang berbasis pengetahuan dan praktik lapangan, kampus ini terus membangun hubungan yang produktif antara ilmu pengetahuan dan kebutuhan sosial di wilayahnya. (YMN)

Balikpapan, 30 Oktober 2025 — Tiga dosen Universitas Mulia turun langsung mendampingi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kelurahan Gunung Sari Ulu untuk memperkuat kemampuan mereka dalam pemasaran digital. Sekitar lima puluh pelaku usaha mengikuti pelatihan yang dikemas interaktif, memadukan praktik langsung dengan pendampingan mahasiswa di lapangan.

Kegiatan ini menjadi bagian dari program pengabdian masyarakat yang melibatkan dosen lintas disiplin: Dr. Linda Fauziyah Ariyani, S.Pd., M.Pd., Wury Damayantie, S.Farm., M.Farm., dan Muhammad Safi’i, S.Kom., M.Kom. Ketiganya berperan membantu pelaku usaha memahami strategi pemasaran berbasis teknologi, sekaligus memberi pendampingan dalam mengelola media sosial, marketplace, dan konten promosi produk.

Dr. Linda Fauziyah Ariyani, S.Pd., M.Pd. saat menyampaikan materi kepada peserta pelatihan pelaku UMKM di Kelurahan Gunung Sari Ulu, Rabu (29/10

Menurut Dr. Linda Fauziyah Ariyani, sebagian besar pelaku UMKM di Gunung Sari Ulu belum memiliki bekal pengelolaan usaha yang memadai dan masih terbatas dalam penggunaan teknologi.

“Sebagian besar pelaku UMKM belum mengoptimalkan teknologi digital dalam kegiatan usahanya. Mereka perlu dibekali dengan wawasan dan keterampilan terkait pengelolaan usaha di era digital,” jelasnya.

Dari hasil pendampingan, hampir seluruh peserta sebenarnya telah memiliki akun media sosial, namun pemanfaatannya masih sebatas untuk hiburan. Melalui pelatihan ini, peserta belajar menjadikan media sosial sebagai alat pengembangan usaha — mulai dari membangun citra produk, membuat konten video marketing, hingga memahami algoritma promosi di marketplace, Instagram, dan TikTok.

Para peserta menilai pelatihan kali ini berbeda dari kegiatan serupa sebelumnya karena disajikan dengan praktik langsung dan disertai kisah-kisah inspiratif yang membuat suasana belajar lebih hidup.

Pelatihan juga menekankan pendekatan praktis melalui Value Proposition Canvas, sebuah metode yang membantu peserta mengenali kebutuhan konsumen dan menilai keunggulan produk mereka.

“Peserta belajar mengenali masalah konsumen dan menjawabnya melalui inovasi produk, varian, kemasan, layanan, bahkan cara pemasaran. Model ini membuat mereka lebih mudah memahami posisi dan potensi usahanya,” ujar Dr. Linda.

Selama pelatihan, tim dosen menemukan beragam potensi lokal yang dapat dikembangkan lebih jauh melalui strategi digital.

Wury Damayantie, S.Farm., M.Farm. memaparkan strategi branding produk dan pentingnya kemasan menarik bagi pelaku UMKM.

“Ada produk kriya seperti buket bunga dan berbagai jenis makanan yang jika direbranding akan jauh lebih menarik. Lebih dari sepuluh pelaku usaha berhasil membangun mereknya selama pelatihan. Bahkan ada peserta berusia 72 tahun yang masih bersemangat belajar promosi digital,” tambahnya.

Dalam kegiatan ini, mahasiswa Universitas Mulia berperan aktif membantu peserta membuat akun media sosial dan melatih mereka menggunakan platform digital untuk memasarkan produk.

“Mahasiswa sangat senang dilibatkan dalam kegiatan ini. Mereka belajar langsung bagaimana menerapkan teori komunikasi digital untuk membantu masyarakat,” tutur Dr. Linda.

Pelatihan juga difasilitasi dengan pembuatan QRIS bekerja sama dengan Bank Mandiri. Lebih dari sepuluh pelaku usaha berhasil memiliki sistem pembayaran digital yang memudahkan transaksi.

“Digitalisasi keuangan penting karena memudahkan pengelolaan keuangan dan memberi kenyamanan bagi konsumen. QRIS kini menjadi kebutuhan dasar bagi pelaku usaha kecil,” katanya.

Salah seorang mahasiswi Universitas Mulia mendampingi peserta dalam praktik digital marketing, termasuk pembuatan konten promosi untuk media sosial.

Dr. Linda berharap pelaku UMKM yang telah mengikuti pelatihan dapat terus mengembangkan keterampilan digital mereka secara berkelanjutan.

“Saya berharap para pelaku usaha tetap konsisten berproduksi dan memanfaatkan platform digital untuk memperluas pasar mereka,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya keberlanjutan program serupa sebagai bagian dari tanggung jawab institusi terhadap masyarakat.

“Kegiatan ini merupakan inisiatif mitra. Ke depan, saya berharap Universitas Mulia dapat menginisiasi program serupa dengan dukungan yang lebih luas, sebagai wujud kontribusi kampus terhadap penguatan ekonomi masyarakat sekitar,” pungkasnya.

Melalui pelatihan ini, Universitas Mulia menegaskan perannya sebagai kampus yang aktif dan berorientasi pada solusi, menghadirkan dosen dan mahasiswa yang tidak berhenti di ruang akademik, tetapi hadir di tengah masyarakat untuk memberi dampak nyata bagi penguatan ekonomi lokal di era digital. (YMN)