Tag Archive for: IKN

IKN, 29 Desember 2025 — Universitas Mulia melalui Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Robotik mengikuti kegiatan Nusantara TechnoFest: Festival AI, Coding, dan Robotik Nusantara yang diselenggarakan oleh Direktorat Pengembangan Ekosistem Digital, Deputi Bidang Transformasi Hijau dan Digital, Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN).

Kegiatan tersebut dilaksanakan di Multifunction Hall Gedung Kemenko 4, Kawasan Inti Pusat Pemerintahan IKN, pada Kamis (18/12/2025). Dalam kegiatan ini, UKM Robotik Universitas Mulia berpartisipasi sebagai exhibitor dengan menampilkan hasil pengembangan mahasiswa di bidang robotika.

Pada ajang yang sama, kegiatan pameran juga diikuti oleh tim robotik dari sejumlah perguruan tinggi lain, antara lain Universitas Indonesia (TRUI), Politeknik Negeri Samarinda, dan Universitas Mulawarman. Kehadiran Universitas Mulia pada forum tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan teknologi yang melibatkan berbagai institusi pendidikan tinggi.

UKM Robotik Universitas Mulia, di bawah pembimbingan Muhamad Safi’i, S.Kom., M.Kom., menampilkan beberapa karya mahasiswa, di antaranya robot soccer, robot line follower analog, serta robot pemadam api berkaki. Karya-karya tersebut ditampilkan sebagai hasil aktivitas pengembangan keterampilan dan praktik teknologi yang dilakukan mahasiswa melalui kegiatan kemahasiswaan.

Selain pameran, Nusantara TechnoFest juga diisi dengan sesi talkshow dan workshop yang mengangkat tema “Masa Depan Teknologi dan Perannya untuk Generasi Nusantara” serta “Mencetak Generasi Inovator melalui Sinergi Coding dan Robotik dengan Pendampingan Guru Inspiratif.” Rangkaian agenda tersebut menjadi bagian dari keseluruhan kegiatan festival yang berlangsung di kawasan Ibu Kota Nusantara.

Muhamad Safi’i, S.Kom., M.Kom., selaku dosen pembimbing UKM Robotik Universitas Mulia, menyampaikan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan ini memberikan kesempatan untuk memperkenalkan karya yang dikembangkan dalam aktivitas UKM kepada khalayak yang lebih luas.

“Melalui keikutsertaan ini, mahasiswa Universitas Mulia dapat memperlihatkan hasil pengembangan yang telah dilakukan sekaligus menjalin komunikasi dengan peserta dan pengunjung kegiatan,” ujarnya.

Partisipasi Universitas Mulia dalam Nusantara TechnoFest 2025 menunjukkan keterlibatan kampus dalam kegiatan pameran teknologi yang diselenggarakan di lingkungan Ibu Kota Nusantara, khususnya melalui aktivitas kemahasiswaan di bidang AI, coding, dan robotika. (YMN)

 

Nusantara, 28 Oktober 2025 — Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Universitas Mulia, Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I., berpartisipasi dalam Seminar Nasional Kebahasaan bertema “Mendaulatkan Bahasa, Merajut Bangsa, Menembus Dunia” yang diselenggarakan di Ruang Serbaguna Kemenko 3, Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP), Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur, pada 24–25 Oktober 2025.

Kegiatan ini merupakan inisiatif Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, melalui Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Timur, dengan dukungan penuh dari Otorita IKN. Sekitar 300 peserta dari berbagai sektor hadir dalam kegiatan tersebut, mencakup unsur pemerintahan pusat dan daerah, kalangan akademik, praktisi kebahasaan dan kesastraan, komunitas literasi, mahasiswa, serta pimpinan Balai Bahasa dan Kantor Bahasa dari seluruh Indonesia.

Bahasa Indonesia dalam Era Kecerdasan Buatan

Dalam refleksinya, Wibisono menilai bahwa seminar ini memiliki relevansi yang kuat dengan dinamika perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI) yang kian memengaruhi cara manusia berinteraksi dan berkomunikasi. Ia menekankan perlunya bahasa Indonesia memperkuat posisi dan kedaulatannya di tengah transformasi digital global.

“Bahasa Indonesia tidak semestinya hanya berfungsi sebagai pelengkap, tetapi harus berkembang menjadi bahasa ilmu pengetahuan, bahasa budaya, dan bahasa kemajuan yang sejajar dengan bahasa internasional lain,” ujar Wibisono.

Ia juga menilai bahwa penyelenggaraan seminar di IKN memiliki signifikansi strategis. Sebagai pusat pemerintahan masa depan, IKN diharapkan menjadi ruang simbolik bagi penguatan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara dan bahasa peradaban.

“IKN bukan hanya pusat administrasi pemerintahan, tetapi juga manifestasi dari peradaban Indonesia di masa depan. Karena itu, bahasa Indonesia harus hadir sebagai simbol identitas nasional yang kokoh dan berwibawa,” tambahnya.

Para peserta, pemakalah, dan panitia berfoto bersama usai pelaksanaan Seminar Nasional Kebahasaan di Ruang Serbaguna Kemenko 3, Kawasan Inti Pusat Pemerintahan Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur.

Meluruskan Narasi Keliru tentang IKN

Wibisono menyampaikan apresiasi kepada Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikdasmen RI, Hafidz Muksin, S.Sos., M.Si., atas kebijakan strategisnya yang menghadirkan para Kepala Balai Bahasa dari berbagai provinsi untuk melakukan observasi langsung terhadap progres pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN). Menurutnya, langkah tersebut memiliki signifikansi penting dalam membangun narasi berbasis data empirik sekaligus menanggulangi diseminasi informasi yang tidak akurat di ruang publik. Ia menyoroti masih maraknya pandangan negatif di ruang publik yang menggambarkan pembangunan IKN terhenti dan kawasan tersebut tidak terurus.

“Fakta di lapangan sangat berbeda. Pembangunan terus berlangsung, dan infrastruktur yang telah rampung dipelihara dengan baik. Seminar nasional yang kami hadiri pun diselenggarakan di gedung yang sangat representatif,” jelasnya.

Wibisono juga menekankan bahwa konsep IKN sebagai kota hijau (green city) secara sengaja menempatkan elemen vegetasi sebagai bagian dari rancangan kota. Penghijauan di sekitar gedung dan jalur pedestrian merupakan implementasi nyata dari prinsip pembangunan berkelanjutan yang ramah lingkungan.

“Pernyataan bahwa IKN terbengkalai dan dipenuhi tanaman liar jelas tidak berdasar. Narasi semacam itu muncul dari pihak yang belum pernah melakukan kunjungan langsung ke lokasi,” tegasnya.

Duta Informasi IKN dari Seluruh Indonesia

Menurut Wibisono, kehadiran para kepala Balai Bahasa dan peserta dari berbagai daerah memiliki dimensi strategis yang melampaui kegiatan seminar. Mereka berpotensi menjadi duta informasi, yang menyampaikan gambaran faktual mengenai kemajuan IKN kepada masyarakat di wilayah masing-masing.

“Kunjungan langsung memberikan pengalaman empiris yang tidak bisa digantikan oleh informasi sekunder. Ini penting agar masyarakat memperoleh persepsi yang objektif tentang pembangunan IKN,” ujarnya.

Penghargaan untuk Peserta Aktif

Sebagai bentuk penghargaan terhadap kontribusi dalam diskusi seminar, Wibisono menerima buku Kamus Bahasa Bulungan karya Suindah Sari dkk., terbitan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi tahun 2024. Buku tersebut diberikan kepada peserta yang menunjukkan partisipasi aktif dalam sesi tanya jawab dan pertukaran gagasan.

Ia menyambut penghargaan tersebut dengan antusias dan menilai bahwa penerbitan kamus bahasa daerah merupakan bagian penting dari upaya pelestarian keragaman linguistik Nusantara.

“Bahasa daerah merupakan identitas kultural bangsa. Menjaganya berarti melestarikan keberagaman yang menjadi fondasi Indonesia,” ungkapnya.

Peran Universitas Mulia dalam Penguatan Bahasa

Dalam kesempatan yang sama, Wibisono menyoroti peran Universitas Mulia dalam mendukung kebijakan nasional di bidang kebahasaan. Meskipun kampus belum memiliki Program Studi Bahasa Indonesia, ia menegaskan bahwa penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar tetap harus menjadi standar dalam seluruh aktivitas akademik.

Ia menambahkan bahwa penerapan bahasa Indonesia yang baku dan ilmiah perlu tercermin dalam pelaksanaan tridarma perguruan tinggi—pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat—termasuk dalam seluruh bentuk publikasi ilmiah.

“Bahasa Indonesia bukan sekadar sarana komunikasi, tetapi juga penanda identitas akademik sekaligus nasional,” ujarnya.

Bahasa Indonesia sebagai Pilar Peradaban IKN

Seminar Nasional Kebahasaan di IKN menandai momentum penting bagi reafirmasi peran bahasa Indonesia sebagai fondasi peradaban bangsa. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penandatanganan Prasasti Trigatra Bangun Bahasa, yang memuat tiga butir prinsip utama:

  1. Utamakan Bahasa Indonesia
  2. Lestarikan Bahasa Daerah
  3. Kuasai Bahasa Asing

Melalui komitmen ini, pembangunan IKN diarahkan tidak semata pada dimensi fisik, tetapi juga pada penguatan nilai-nilai budaya dan identitas nasional. Bahasa Indonesia berperan sebagai instrumen kohesi sosial yang mempersatukan keragaman dan menegaskan posisi Indonesia di tataran global. (YMN)

 

Laporan berdasarkan tulisan Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I. (Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Universitas Mulia). Naskah disusun ulang oleh Yamani (Humas)

Deputi Sosial Budaya dan Pemberdayaan Masyarakat Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) Drs. Alimuddin, M.Si, memberikan orasi inspiratif di hadapan para wisudawan Universitas Mulia pada acara wisuda sarjana yang berlangsung di Ballroom Hotel Novotel, Balikpapan, Senin (18/11). Foto: Media kreatif

Dalam Orasi Ilmiah Wisuda Sarjana dan Diploma III ke-6 Tahun 2024

UM – Deputi Sosial Budaya dan Pemberdayaan Masyarakat Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) Drs. Alimuddin, M.Si, memberikan orasi inspiratif di hadapan para wisudawan Universitas Mulia pada acara wisuda sarjana yang berlangsung di Ballroom Hotel Novotel, Balikpapan, Senin (18/11).

Dalam orasinya, Alimuddin menekankan pentingnya mempersiapkan diri menghadapi tantangan kehidupan pasca-kampus.

“Gelarnya hari ini hanyalah langkah awal. Kehidupan sesungguhnya baru dimulai ketika Anda berbaur dengan masyarakat dan berbagai kelompok,” kata Alimuddin kepada para wisudawan.

Alimuddin menekankan bahwa kesuksesan tidak bisa dipisahkan dari peran doa dan restu orang tua.

“Keberhasilan kita, termasuk saya, tidak akan pernah lepas dari doa-doa suci orang tua kita,” ujarnya. Ia juga berbagi kisah perjuangannya, mulai dari bekerja sebagai buruh hingga menjadi Deputi IKN.

Alimuddin kemudian membagikan prinsip hidup yang menjadi pedoman hidupnya. “Jangan ganggu keluarga, jangan ganggu almamater, dan jangan ganggu harga diri. Kita harus punya prinsip dalam hidup,” tegasnya.

Kepada para wisudawan, Alimuddin juga mengingatkan agar memperkuat keterampilan komunikasi dan karakter, yang menurutnya sangat dibutuhkan di dunia kerja saat ini.

“Banyak pekerja Gen Z dianggap kurang memiliki komunikasi yang baik. Ini menunjukkan pentingnya karakter dan keterampilan interpersonal,” ungkapnya.

Ia memaparkan berbagai peluang yang hadir berkat pembangunan IKN, mulai dari pekerjaan hingga sektor UMKM.

“Jumlah penduduk IKN pada tahun 2045 diproyeksikan maksimum 2 juta orang, dengan target menjadi wilayah zero emisi karbon. Kita harus memanfaatkan peluang ini,” jelasnya.

Alimuddin juga menekankan bahwa pembangunan IKN terus berjalan dan membuka lapangan kerja baru. “Perkantoran dan infrastruktur yang akan dilelang pada 2025 memberikan kesempatan besar bagi para lulusan untuk terlibat,” tambahnya.

Untuk menyambut tantangan ini, Alimuddin menyoroti pentingnya pendidikan yang relevan. Ia mendorong generasi muda untuk menguasai bahasa Inggris. IKN adalah kota dunia untuk semua.

Oleh karena itu, anak-anak dan generasi muda diharapkan mampu berbicara bahasa Inggris agar tidak gagap berkomunikasi dengan dunia luar.

“Mulai hari ini, tim saya sudah turun ke sekolah-sekolah untuk mengajarkan anak-anak berbicara bahasa Inggris, bukan belajar bahasa Inggris. Belajar bahasa Inggris itu susah, kita harus pahami lagi 16 tenses dan lain-lain,” ujarnya.

Menurut Alimuddin, pendidikan tidak hanya tentang nilai akademis, tetapi juga penguasaan keterampilan dan karakter.

“Kita perlu mengubah paradigma bahwa anak pintar hanya yang unggul di matematika atau fisika. Anak-anak dengan keahlian khusus sering kali lebih cepat berhasil,” katanya.

Ia bahkan berbagi inisiatifnya dalam menciptakan kelas khusus olahraga di Penajam Paser Utara.

“Hari ini, atlet-atlet kami di PPU telah berhasil juara nasional. Ini bukti bahwa kecerdasan non-akademik juga penting,” tambahnya.

Investasi Swasta dan BUMN pada Grounbreaking 1-7. Foto: Orasi Drs. Alimuddin

Investasi Swasta dan BUMN pada Grounbreaking 1-7. Foto: Orasi Drs. Alimuddin

Progres Pembangunan Sarana Pendidikan dan Kesehatan Instansi Pemerintah di luar KIPP. Foto: Orasi Drs. Alimuddin

Progres Pembangunan Sarana Pendidikan dan Kesehatan Instansi Pemerintah di luar KIPP. Foto: Orasi Drs. Alimuddin

Program Pelatihan Kompetensi Kerja yang dilaksanakan Direktorat Pemberdayaan Masyarakat. Foto: Orasi Drs, Alimuddin

Program Pelatihan Kompetensi Kerja yang dilaksanakan Direktorat Pemberdayaan Masyarakat. Foto: Orasi Drs, Alimuddin

Peran Ekonomi Kalimantan Timur

Alimuddin menyoroti dampak positif pembangunan IKN terhadap perekonomian Kalimantan Timur, termasuk peningkatan pertumbuhan ekonomi menjadi 7,22 persen.

“Balikpapan dan sekitarnya sangat diuntungkan. Tidak pernah ada hotel yang kosong, dan aktivitas ekonomi semakin meningkat,” ungkapnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya memanfaatkan peluang lokal, khususnya untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat IKN.

“Kita baru mampu memenuhi 40 persen kebutuhan pangan. Ini adalah peluang besar untuk kita,” katanya.

Dalam akhir orasinya, Alimuddin berpesan kepada para wisudawan untuk terus belajar dan berinovasi.

“Hari ini bukan akhir, tetapi awal dari perjalanan. Manfaatkan keterampilan dan potensi Anda untuk masa depan yang lebih baik,” tutupnya.

Acara wisuda yang dihadiri oleh 428 wisudawan dan tamu undangan ini berlangsung meriah dan penuh inspirasi, mencerminkan semangat baru untuk menyambut masa depan yang penuh peluang di era Ibu Kota Nusantara.

(SA/Kontributor)

Rektor Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa'i berfoto di depan Istana Garuda IKN usai mengikuti Upacara Penurunan Bendera Pusaka Merah Putih, Sabtu (17/8). Foto: dok. pribadi

UM – Upacara Peringatan Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan dalam rangka HUT ke-79 RI untuk pertama kalinya dalam sejarah diselenggarakan di halaman Istana Garuda IKN, Sabtu (17/8). Presiden Joko Widodo bertindak sebagai Inspektur Upacara dan memimpin langsung jalannya upacara.

Turut mendampingi Presiden, Ibu Negara Iriana Joko Widodo. Tampak pula duduk sejajar, Presiden Terpilih Prabowo Subianto.

Peringatan HUT Kemerdekaan RI tahun ini mengusung tema Nusantara Baru Indonesia Maju. Tema ini dimaksudkan untuk menggambarkan momen pembuka bagi tiga transisi besar Indonesia, yakni penyambutan ibu kota baru, pergantian pemimpin serta menyongsong Indonesia Emas 2045.

Upacara yang berlangsung di IKN Kalimantan Timur ini juga diikuti secara hybrid dari halaman Istana Merdeka Jakarta, yang diikuti Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin bersama istri. Tampak pula Wakil Presiden Terpilih Gibran Rakabuming Raka.

Prosesi upacara yang disiarkan kanal YouTube Sekretariat Presiden ini, baik yang berlangsung di Jakarta dan IKN secara bersamaan berjalan dengan khidmat dan lancar.

Pemenang busana adat terbaik menerima hadiah sepeda dari Presiden Joko Widodo. Foto: Sekretariat Presiden

Pemenang busana adat terbaik menerima hadiah sepeda dari Presiden Joko Widodo. Foto: Sekretariat Presiden

Prof. Ahsin berfoto bersama paspampres yang sedang bertugas di Istana Garuda IKN. Foto: dok. pribadi

Prof. Ahsin berfoto bersama paspampres yang sedang bertugas di Istana Garuda IKN. Foto: dok. pribadi

Undangan yang diterima Rektor Universitas Mulia. Foto: dok. pribadi

Mendapatkan kehormatan undangan Presiden Joko Widodo yang diterima Rektor Universitas Mulia Prof Muhammad Ahsin Rifa’i. Foto: dok. pribadi

Sementara itu, Rektor Universitas Mulia Prof Dr Ir Muhammad Ahsin Rifa’i turut menghadiri undangan mengikuti Peringatan Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan RI di IKN.

Prof Ahsin mengikuti jalannya upacara dari awal sampai selesai, baik pada saat pengibaran bendera pusaka merah putih sampai dengan penurunan.

Tampak Prof Ahsin yang memakai udeng corak ungu, berpakaian adat berwarna hitam dan ikat sarung warna senada, berfoto dengan para undangan yang juga mengenakan pakaian adat daerah masing-masing.

Pakaian adat mencerminkan beragam warna dan budaya masyarakat Indonesia. Sebagaimana dengan semboyan bangsa Indonesia Bhinneka Tunggal Ika, yang bermakna meskipun berbeda-beda, tetapi pada hakikatnya bangsa Indonesia tetap satu kesatuan.

“Bhinneka Tunggal Ika membuktikan perbedaan adalah sesuatu kekuatan yang harus kita jaga. Indonesia memiliki berbagai suku bangsa, bahasa, dan agama yang tidak dimiliki oleh negara lain. Nusantara Baru, Indonesia Maju. Dirgahayu RI ke-79,” tutur Prof Ahsin.

Perayaan HUT ke-79 RI dimeriahkan dengan pagelaran seni dan unsur kebudayaan. Pagelaran ini mendorong kebangkitan dan pelestarian warisan budaya bangsa yang beraneka ragam mulai dari Sabang sampai Merauke.

Di IKN, kemegahan budaya Nusantara dihadirkan dalam bentuk yang modern, tanpa kehilangan esensi tradisional. Pagelaran seni menampilkan lagu spesial Puspa Warni yang dipadukan dengan tarian Natana Borneo.

Dirgahayu Republik Indonesia!

(SA/Kontributor)

Rektor Prof Dr Muhammad Ahsin Rifa'i saat memberikan sambutan Kuliah Umum dengan narasumber Prof Dr Jimly Asshiddiqie di Ballroom Cheng Ho, Rabu (26/6). Foto: Media Kreatif

Kuliah Umum Bersama Ketua Mahkamah Konstitusi RI 2003-2008 Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie

UM – Universitas Mulia menggelar Kuliah Umum tentang Peran Perguruan Tinggi Menyambut Ibu Kota Nusantara (IKN), dengan narasumber Ketua Mahkamah Konstitusi RI 2003-2008 Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, S.H, yang berlangsung di Ballroom Cheng Ho, Rabu (26/6).

Rektor Universitas Mulia Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i dalam sambutannya mengatakan, sebagai warga Kalimantan patut bersyukur pemerintah RI telah menetapkan IKN berada di Provinsi Kalimantan Timur.

“Sebagaimana tadi malam diskusi, yang disampaikan oleh Prof Jimly sebenarnya banyak sekali provinsi yang menginginkan agar IKN itu ditempatkan di provinsinya, tetapi pemerintah menetapkan Kaltim sebagai lokasi IKN,” tutur Prof Ahsin.

“Saya tadi malam baru mendengar, terungkap ya, dari Gubernur periode sebelumnya, Pak Isran Noor, itu tidak serta-merta jadi IKN, tetapi melalui perjuangan dan lobi yang intensif sehingga Kalimantan Timur ditetapkan sebagai IKN,” tambahnya.

Dari penuturan Isran Noor, peringkat penentuan lokasi IKN itu adalah di Kalimantan Tengah, kemudian yang kedua Kalimantan Selatan, dan yang ketiga adalah baru di Kalimantan Timur.

“Jadi, sebenarnya Kalimantan Timur adalah urutan ketiga untuk lokasi Ibukota Negara Nusantara, atas lobi yang sangat piawai yang disampaikan oleh Gubernur pada saat itu, dengan menyampaikan berbagai fakta sosial sehingga Kalimantan Timur dipilih oleh pemerintah,” terangnya.

Menurut Prof Ahsin, salah satu yang dikatakan Isran Noor, Kalimantan Timur memiliki keunggulan tidak pernah ada konflik SARA (Suku Agama Ras dan Antar Golongan) jika dibandingkan dengan Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, dan Kalimantan Tengah.

Berlangsung penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding) antara Yayasan Airlangga dengan Yayasan Jimly School of Law and Governance, yang ditandatangani oleh Direktur Eksekutif Yayasan Airlangga Dr. Agung Sakti Pribadi dan Ketua Umum Yayasan Jimly School of Law and Governance Muzayyin Machbub. Dari kiri Rektor Universitas Balikpapan Dr. Isradi Zainal, Prof Muhammad Ahsin, Dr Agung Sakti, Prof Jimly Asshiddiqie, Muzayyin Machbub, Wakil Rektor Wisnu Hera, dan Wakil Rektor Yusuf Wibisono. Foto: Media Kreatif

Berlangsung penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding) antara Yayasan Airlangga dengan Yayasan Jimly School of Law and Governance. Dari kiri Rektor Universitas Balikpapan Dr. Isradi Zainal, Prof Muhammad Ahsin, Dr Agung Sakti, Prof Jimly Asshiddiqie, Muzayyin Machbub, Wakil Rektor Wisnu Hera, dan Wakil Rektor Yusuf Wibisono. Foto: Media Kreatif


Ketua Mahkamah Konstitusi RI 2003-2008 Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, S.H saat memberikan Kuliah Umum di hadapan perwakilan dari perguruan tinggi se-Balikpapan. Foto: Media Kreatif

Ketua Mahkamah Konstitusi RI 2003-2008 Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, S.H saat memberikan Kuliah Umum di hadapan perwakilan dari perguruan tinggi se-Balikpapan. Foto: Media Kreatif

“Nah, jadi inilah sebenarnya yang harus kita syukuri bahwa penempatan IKN itu sebenarnya bukan hadiah, meskipun itu adalah hasil dari penelitian yang mendalam terhadap kelayakannya, tetapi ada andil pemerintah provinsi Kalimantan Timur sehingga IKN ini ditentukan di Kalimantan Timur,” tuturnya.

Oleh karenanya, menurutnya, hal ini hendaknya dicatat dalam sejarah terbentuknya IKN, karena pemilihan IKN lantaran bukan berawal di Kalimantan Timur saja.

Untuk itu, Prof Ahsin mengajak para mahasiswa dan sivitas dari 14 perguruan tinggi se-Balikpapan tersebut tidak lagi meragukan keberadaan IKN di Kalimantan Timur lantaran berbeda pilihan politik.

“Karena kemarin tidak memilih orang yang pro dengan IKN, mulai sekarang kita warga Kalimantan Timur, mari kita ubah pemikiran kita itu. Mari kita dukung IKN ini agar nanti menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kesejahteraan masyarakat, khususnya masyarakat Kalimantan Timur,” ajaknya.

Ia mengajak bersama-sama memikirkan bagaimana mengisi pembangunan IKN yang lebih mengutamakan kepentingan peran masyarakat Kaltim.

Menurutnya, pembangunan IKN membutuhkan waktu yang lama. Dikutip dari buku saku yang dikeluarkan oleh otoritas IKN, pembangunan IKN itu ini memiliki lima tonggak.

Tonggak yang pertama, tahun 2022 sampai 2024 adalah masa pemindahan tahap awal. Kemudian tahun 2025 sampai 2029 adalah masa membangun IKN sebagai area inti yang tangguh.

“Jadi, saat ini sebenarnya masih proses pembangunan IKN sampai tahun 2024,” tuturnya.

Kemudian tahun 2030 sampai 2034 itu adalah melanjutkan pembangunan IKN yang lebih progresif 2035 sampai 2039 membangun seluruh infrastruktur dan ekosistem tiga kota untuk mempercantik pembangunan Kalimantan.

Terakhir adalah 2040 sampai 2045, mengokohkan reputasi sebagai Kota Dunia untuk semua.

“Nah, jika kita melihat dari tahapan ini atau tonggak ini, maka kita dapat mengambil peran. Pada tahapan ketiga dan kelima, yaitu pada tahun 2035 hingga tahun 2045, kurang lebih 10 tahun atau 11 tahun yang akan datang,” ujarnya.

“Nah, ini milik siapa? Ini adalah milik adik-adik mahasiswa semua, karena pada tahun 2045 itu penduduk Indonesia, kita mendapat bonus demografi hampir 60%-nya adalah usia produktif dan itu adalah milik para mahasiswa yang sekarang ini untuk mengisinya,” lanjutnya.

Diharapkan, menjadi mahasiswa perguruan tinggi di Kalimantan Timur tidak saja berpangku tangan, tetapi diharapkan lebih aktif melakukan kajian-kajian untuk memberikan rekomendasi kepada pemerintah IKN yang akan datang.

“Oleh sebab itu, kita perlu memiliki pemahaman dan kesepakatan bersama agar langkah-langkah apa yang harus kita lakukan, agar kita dapat mengambil peran yang lebih besar dibandingkan dengan perguruan tinggi-perguruan tinggi dari luar Kalimantan,” tuturnya.

Melalui paparan kuliah umum yang disampaikan Prof Jimly Asshiddiqie, Prof Ahsin berharap mahasiswa mendengarkan dengan seksama pemikiran-pemikiran Prof Jimly.

Senada, Direktur Eksekutif Yayasan Airlangga Dr. Agung Sakti Pribadi mengatakan, kehadiran Prof Jimly menjadi berkah untuk Universitas Mulia.

Selain kuliah umum, Dr. Agung berencana ke depan akan mengundang mahasiswa seluruh Balikpapan dalam kegiatan Jambore Mahasiswa se-Balikpapan.

“Untuk kegiatan Jambore Mahasiswa se-Balikpapan itu, kalau ketemuan sesama perguruan tinggi itu share perguruan tinggi kalian seperti apa, juga boleh nanti seni budaya dan olahraga ketemu kita, sebagai sesama mahasiswa mahasiswa Balikpapan di Kaltim, mahasiswa Balikpapan yang saling bertemu,” tuturnya.

Pada kesempatan ini, berlangsung penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding) antara Yayasan Airlangga dengan Yayasan Jimly School of Law and Governance, yang ditandatangani oleh Direktur Eksekutif Yayasan Airlangga Dr. Agung Sakti Pribadi dan Ketua Umum Yayasan Jimly School of Law and Governance Muzayyin Machbub. Turut menyaksikan, Rektor Universitas Balikpapan Dr. Isradi Zainal.

(SA/Kontributor)

Foto bersama peserta FGD tentang Pencegahan Penanggulangan Pekerja Anak di Provinsi Kalimantan Timur, bertempat di Hall and Covention Platinum Hotel Balikpapan, Selasa (11/6). Foto: Istimewa

UM – Keberadaan Ibu Kota Nusantara di Kalimantan Timur tidak hanya akan mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dikhawatirkan akan meningkatkan jumlah pekerja anak dan masalah kesejahteraan sosial.

Hal inilah menjadi perhatian, terutama oleh dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Mulia sehingga memberikan rekomendasi pada Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Pencegahan Penanggulangan Pekerja Anak di Provinsi Kalimantan Timur tahun 2025 mendatang.

Rekomendasi disampaikan dalam Forum Group Discussion (FGD) dengan tema Pencegahan dan Penanggulangan Pekerja Anak di Kalimantan Timur, yang digelar Bapemperda DPRD Provinsi Kalimantan Timur di Platinum Hotel and Convention Hall, Balikpapan, Selasa (11/6).

FGD dipimpin oleh Wakil Ketua Bapemperda Muhammad Samsun didampingi Wakil Ketua Salehuddin serta Anggota Bapemperda lainnya.

Turut hadir dari DKP3A Prov. Kaltim, Dinas Sosial Prov. Kaltim, Dinas Sosial Prov. Kaltim, Dinas Tenaga Kerja Prov. Kaltim, Satuan Polisi Pamong Praja Prov. Kaltim, Dinas Kependudukan, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Balikpapan, Badan Pusat Statistik Prov. Kaltim, Komisi Perlindungan Anak Daerah Prov. Kaltim, Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia, Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak (TRC PPA) Prov. Kaltim.

Dari kalangan perguruan tinggi, hadir utusan dari LP2M Universitas Mulia Balikpapan, yakni Dr. Mada Aditia dan Pudjiati, S.E., MM, kemudian utusan LP2M Universitas Balikpapan dan utusan LP2M Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT).

Dr. Mada Aditia Wardhana saat mengikuti FGD. Foto: Istimewa

Dr. Mada Aditia Wardhana saat mengikuti FGD. Foto: Istimewa

Tampak dua dari kanan dosen Prodi S1 Manajemen FEB Pudjiati, S.E., M.M menyimak diskusi. Foto: Istimewa

Tampak dua dari kanan dosen Prodi S1 Manajemen FEB Pudjiati, S.E., M.M menyimak diskusi. Foto: Istimewa

Dosen FEB Dr. Mada Aditia Wardhana dalam paparannya mengatakan, munculnya pekerja anak didasarkan pada aksioma kemewahan, yakni untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat itu sendiri.

Hal ini mendorong masyarakat mengirimkan anak-anak ke pasar tenaga kerja ketika pendapatan rumah tangga orang dewasa rendah dan tidak mencukupi kebutuhan dasar. Namun, ketika pendapatan kembali meningkat, anak-anak ini ditarik kembali.

“Kemiskinan merupakan penyebab utama munculnya pekerja anak, terutama yang terjadi di rumah tangga miskin di negara-negara berkembang dan kurang berkembang dengan tingkat upah yang rendah,” tutur Mada.

Oleh karena itu, berdasarkan pengamatannya sepanjang tahun 1990 sampai dengan 2024, Mada memperhatikan beberapa aspek yang menjadi dasar untuk rekomendasi Raperda tersebut.

Setidaknya, menurut Mada, ada delapan area yang menjadi perhatian dalam Raperda, antara lain dinamika pekerja anak, norma sosial, transfer tunai, distribusi pendapatan, dampak kesehatan, rancangan kebijakan, konteks historis dan kerangka hukum.

Pada aspek dinamika pekerja anak, misalnya, Mada menyoroti anak laki-laki seringkali mengambil peran lebih banyak tanggung jawab. Bukan hanya itu, dinamika usia juga berperan penting sesuai dengan norma budaya masyarakat yang berbeda.

Mada juga menyoroti bantuan tunai atau transfer tunai. “Bantuan tunai, baik bersyarat maupun tidak bersyarat, tidak menurunkan jumlah pekerja anak, namun secara umum mengurangi partisipasi dan jam kerja,” ujarnya.

Namun, katanya, bantuan tunai ini membantu rumah tangga memitigasi kendala ekonomi, menjadikannya instrumen kebijakan yang aman untuk meningkatkan kesejahteraan anak.

“Penting untuk memikirkan kembali kebijakan pekerja anak, mengembangkan intervensi normatif, menerapkan bantuan tunai untuk mengurangi partisipasi pekerja anak dan jam kerja, dan mengintegrasikan intervensi tambahan dengan strategi pengentasan kemiskinan,” tuturnya.

Dari diskusi ini, Mada memberikan empat rekomendasi, diantaranya tentang perlindungan anak, penghapusan pekerjaan buruk, program aksi pemerintah daerah, dan peran dan tanggung jawab pemerintah untuk meninjau kembali upaya melawan pekerja anak.

“Pemerintah daerah melakukan studi longitudinal lebih lanjut, dan menggunakan metode umum untuk menilai dampak kesehatan dan ekonomi serta menginformasikan pembuatan kebijakan yang melibatkan semua pihak terkait,” pungkasnya.

(SA/Kontributor)

Rektor Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa'i (dua dari kiri) bersama sejumlah pimpinan perguruan menunjukkan Nota Kesepahaman dengan Kepala OIKN bambang Susantono di Aula HM Ardans Untag Samarinda, Rabu (29/5). Foto: Yusuf Wibisono

UM – Universitas Mulia bersama sejumlah perguruan tinggi melakukan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dengan Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN), untuk mendukung pembangunan inovatif di IKN. Seremoni penandatanganan dilakukan di Auditorium HM. Ardans, Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Samarinda, Rabu (29/5).

Pada kesempatan ini, Rektor Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i bersama sejumlah pimpinan perguruan tinggi lainnya menandatangani Nota Kesepahaman dengan Kepala OIKN Prof. (H.C) Ir. Bambang Susantono, MCP., MSCE., Ph.D.

Sejumlah pimpinan perguruan tinggi tersebut antara lain dari Untag Samarinda, Institut Teknologi Kalimantan, Universitas Kutai Kartanegara, Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur, Universitas Balikpapan, Universitas Nahdlatul Ulama Kalimantan Timur, Universitas Widya Gama Mahakam Samarinda serta Universitas Negeri Surabaya.

Prof. Ahsin mengatakan, isi kerjasama meliputi komitmen kedua belah pihak untuk membangun kerangka hukum yang mendukung kerjasama di berbagai bidang, khususnya pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Selain itu, kerjasama juga mencakup aspek pembangunan Ibu Kota Nusantara sebagai pusat percontohan inovasi dan teknologi.

Dengan kerjasama ini, tambahnya, diharapkan seluruh perguruan tinggi di Kalimantan Timur dapat memberikan kontribusi nyata dalam pembangunan IKN, terutama dalam melakukan transformasi di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

Foto bersama di Auditorium HM Ardans Untag Samarinda, Rabu (29/5). Foto: Untag

Foto bersama di Auditorium HM Ardans Untag Samarinda, Rabu (29/5). Foto: Untag

Rektor Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa'i bersama Kepala OIKN Prof. (H.C) Bambang Susantono. Foto: Istimewa

Rektor Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i bersama Kepala OIKN Prof. (H.C) Bambang Susantono. Foto: Istimewa

“Kami dari Universitas Mulia dalam kerjasama ini optimis siap dengan riset-riset dan inovasi, baik di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat,” tutur Prof. Ahsin.

Sebelumnya, Prof. Ahsin berharap Universitas Mulia bersama perguruan tinggi lainnya di Kalimantan Timur tidak hanya menjadi penonton saja, tetapi menjadi bagian dalam sejarah pembangunan IKN.

Sementara itu, Bambang Susantono berharap kerjasama ini dapat memantapkan pengetahuan yang akan diperoleh dalam pembangunan IKN, yang dapat dikurasi bersama dengan perguruan tinggi.

“Ada tiga hal yang kami titipkan: pertama, pengetahuan sains dan teknologi sebagai kekuatan utama dalam pembangunan IKN; kedua, penerapan metode pendekatan baru seperti Smart City, dan ketiga, perencanaan yang berkesinambungan, karena perencanaan adalah pondasi dari segalanya,” pungkasnya.

(SA/Kontributor)

Foto bersama usai Kuliah Umum tentang IKN untuk Indonesia di Universitas Mulia, rabu (24/4). Foto: Media Kreatif

UM – Sivitas Universitas Mulia menggelar Kuliah Umum bersama tiga orang narasumber guru besar membahas pengembangan Ibu Kota Nusantara (IKN) untuk Indonesia, Rabu (24/4). Ketiga guru besar tersebut antara lain Prof. Dr. Juajir Sumardi, SH. MH, Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si dan Prof. Dr. Suhartono, M.M serta moderator Dr. Agung Sakti Pribadi.

Kuliah umum dibuka oleh Direktur Eksekutif Yayasan Airlangga Dr. Agung Sakti Pribadi, S.H., M.H dan diikuti ratusan peserta, terdiri atas dosen dan mahasiswa, bertempat di Ballroom Cheng Ho Universitas Mulia, Jalan Letjen Zaini Azhar Maulani.

Dalam sambutannya, Dr. Agung Sakti Pribadi mengatakan bahwa keberadaan IKN di Provinsi Kalimantan Timur seolah tiba-tiba berdiri.

“Kita ini kan semacam tidak diajak ngobrol, IKN itu punyanya Pusat, atau punyanya Kaltim, atau punyanya Balikpapan, atau punyanya PPU. Kalau memang punyanya Balikpapan, kita ini enggak pernah diajakin ngomong, tiba-tiba jadi,” tutur Dr. Agung.

“Apalagi PPU kemudian tiba-tiba ada yang digusur tanahnya. Jadi ini sebenarnya seperti apa sih?” tambah Dr. Agung.

Oleh karena itu, pada kuliah umum ini, Dr. Agung mengajak para guru besar untuk memberikan sejumlah pandangan terkait pembangunan IKN yang berdampak secara lebih luas di seluruh Indonesia, dan bukan hanya Provinsi Kalimantan Timur saja.

Dalam kesempatan ini, Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin Prof. Dr. Juajir Sumardi mengawali pembahasan tentang keberadaan NKRI berdiri, terutama terkait kebutuhan lahan IKN yang sudah diatur dalam Undang-undang Nomor 3 Tahun 2022 dan perubahannya pada UU Nomor 21 tahun 2023.

“Saya ingin berangkat dengan sebuah statement bahwa sebelum NKRI ini ada, telah ada terlebih dahulu kedaulatan-kedaulatan dari para pemangku-pemangku adat itu. Kami ada sebelum kamu ada. Kamu ada karena kami akui kamu ada,” tutur Prof. Juajir.

“Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi kamu NKRI, untuk tidak mengakui keberadaan kami. Inilah spirit dan semangat masyarakat adat Nusantara. Jangan dinafikan, jangan ditinggalkan bahwa masyarakat adat Nusantara telah ada sebelum Republik ini ada. Oleh karena itu, Republik ini ada karena ada pengakuan dari para masyarakat adat Nusantara,” terangnya.

Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin Makassar Prof. Dr. Juajir Sumardi dan Dr. Agung Sakti Pribadi. Foto: Media Kreatif

Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin Makassar Prof. Dr. Juajir Sumardi dan Dr. Agung Sakti Pribadi. Foto: Media Kreatif

Ketua STIEPAN Prof. Dr. Suhartono saat menjadi narasumber Kuliah Umum di Universitas Mulia. Foto: Media Kreatif

Ketua STIEPAN Prof. Dr. Suhartono saat menjadi narasumber Kuliah Umum di Universitas Mulia. Foto: Media Kreatif

Prof. Dr. Muhammad Ahsin Rifa'i saat memaparkan materi Kuliah Umum tentang Agri Mina Techno Park. Foto: Media Kreatif

Prof. Dr. Muhammad Ahsin Rifa’i saat memaparkan materi Kuliah Umum tentang Agri Mina Techno Park. Foto: Media Kreatif

Foto bersama panitia dan narasumber. Foto: Media Kreatif

Foto bersama panitia dan narasumber. Foto: Media Kreatif

Sedangkan Prof. Dr. Suhartono membahas IKN dalam sudut pandang ekonomi, dampak dan risiko yang ditimbulkannya.

“Tujuan utama IKN itu adalah pemerataan dari sisi ekonomi pembangunan dan penyebaran penduduk. Nah, yang saya garis bawahi itu adalah mengenai sisi ekonomi,” tutur Prof. Suhartono.

Lebih lanjut, Prof. Suhartono kemudian menerangkan perihal gini rasio antara Jakarta, Kalimantan Timur, dan Kota Balikpapan. Gini rasio menggambarkan kesenjangan distribusi pendapatan di masyarakat.

“Artinya, semakin kecil gini rasio, maka kesenjangan itu juga semakin kecil. Angkanya itu antara 0 dan 1,” tutur Prof. Suhartono.

Berdasarkan data kesenjangan yang diperolehnya, gini rasio Kaltim lebih kecil, yakni 0,322 jika dibanding Jakarta yang 0,431 atau Kota Balikpapan 0,325.

“Kemudian kita lihat lagi, angka keparahan kemiskinan Kaltim itu di posisi nomor 4 di Indonesia,” jelasnya. Jadi, lanjutnya, tingkat keparahannya itu lebih kecil jika dibanding Jakarta.

“Saya hanya ingin bahwa ketika kita mulai realistis melihat hal itu, bukan berarti kita itu antipati, kemudian menjadi bagian yang tidak mendukung, bukan, tapi yang jauh lebih penting, apalagi kita dunia pendidikan, kita nanti kalau melihat dampak itu harapannya dunia pendidikan ini harus mampu menjadi inisiator untuk mengatasi risiko tersebut,” terangnya..

Menurutnya, dengan melihat risiko jangka panjang dan jangka pendek, ia mengajak peserta kuliah umum untuk realistis melihat sesuatu, kemudian berpikir konstruktif untuk memitigasi atau meminimalisir risiko.

“Risiko itu kalau dihilangkan nggak mungkin, tapi kita bisa me-minimize. Itu kesiapan kita sebenarnya di sana,” ujar Prof. Suhartono.

Sementara itu, Rektor Universitas Mulia Prof. Dr. Muhammad Ahsin Rifa’i mengapresiasi ulasan Prof. Juajir dan Prof. Suhartono.

“Narasumber pada hari ini luar biasa, Prof Juajir Sumardi dari Unhas, materinya tentang Pertanahan, tentang kebijakan dan konflik Pertanahan. Kemudian Prof. Suhartono ini juga luar biasa memberikan hubungan pembangunan IKN dengan ekonomi yang nanti berdampak terhadap kita semua,” tutur Prof. Ahsin.

Sedangkan Prof. Ahsin mengulas pembahasan yang lebih spesifik tentang Agri Mina Technopark (AMTP) di kawasan pengembangan IKN.

“Mungkinkah? Ini pertanyaannya,” ujar Prof. Ahsin.

Menurut Prof. Ahsin, yang dimaksud Agri adalah kawasan pertanian. Sedangkan Mina itu adalah perikanan. Ia mengusulkan Agri Mina dapat diterapkan di kawasan pengembangan IKN.

Dengan mencermati banyaknya polemik yang terjadi terkait pengembangan kawasan IKN, Prof. Ahsin mengingatkan bahwa suka atau tidak suka, Presiden dan Wakil Presiden terpilih sebentar lagi akan segera dilantik.

“Dan Presiden yang akan dilantik itu berkomitmen akan melanjutkan IKN. Sekarang kita masih suka berpolemik? Lebih baik kita berpikir bersama bagaimana caranya agar kita ini ikut serta berkontribusi terutama untuk pembangunan masyarakat Kalimantan,” terangnya.

(SA/Kontributor)

Pakar Ilmu Kelautan dan Perikanan Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa'i saat berbicara sebagai narasumber Simposium Ketahanan Pangan dan Teknologi Informasi 2024 di Gran Senyiur Balikpapan, Sabtu (25/11). Foto Media Kreatif

Simposium Ketahanan Pangan dan Teknologi Informasi 2024

UM – Universitas Mulia menggelar Simposium Ketahanan Pangan dan Teknologi Informasi 2024, bertempat di Ballroom Gran Senyiur Balikpapan, Sabtu (25/11). Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si, pakar Ilmu Kelautan dan Perikanan mengawali pembahasan tentang ketahanan pangan.

“Mengawali materi ini, saya ingin kita sama-sama menyaksikan atau melihat berita-berita di belahan bumi ini tentang bencana kemanusiaan,” tutur Prof. Ahsin saat membuka materi diskusi.

Prof. Ahsin kemudian menyajikan beberapa data dari World Health Organization (WHO) terkait kelaparan di beberapa negara, terutama di Afrika.

Meski demikian, dirinya mengatakan bukan saja terjadi masalah pangan, tetapi juga masalah kekurangan gizi. Menurut laporan Food and Agriculture Organization (FAO), jumlah penduduk yang menderita kekurangan gizi tahun 2019 sebesar 650,3 juta orang.

Dari jumlah tersebut, lebih dari 418 juta tinggal di Asia. Dengan rincian berada di Asia Selatan sebanyak 305,7 juta, diikuti Asia Tenggara sebanyak 48,8 juta, Asia Barat 42,3 juta, dan Asia Tengah 2,6 juta jiwa.

“Jadi, ternyata Asia itu adalah negara yang banyak mengalami kekurangan gizi. Dan, ternyata juga kalau kita lihat angka kelaparan di Asia Tenggara itu secara persentase angka penduduk, ya nomor satu itu adalah Timor Leste, nomor dua Indonesia,” ungkap Guru Besar Ilmu Kelautan dan Perikanan ini.

Berdasarkan fakta atau data tersebut, Prof. Ahsin memberikan perhatian bahwa kondisi pangan, ketahanan pangan, keamanan pangan dunia saat ini tidak sedang baik-baik saja.

Moderator H. Rizal Effendi, S.E, Wali Kota Balikpapan dua periode, 2011-2016 dan 2016-2021 bersama para narasumber Simposium Ketahanan Pangan dan Teknologi Informasi 2024. Foto: Nadya/Media Kreatif

Moderator H. Rizal Effendi, S.E, Wali Kota Balikpapan dua periode, 2011-2016 dan 2016-2021 bersama para narasumber Simposium Ketahanan Pangan dan Teknologi Informasi 2024. Foto: Nadya/Media Kreatif

Simposium Ketahanan Pangan dan Teknologi Informasi 2024 yang diselenggarakan oleh Universitas Mulia, bertempat di Gran Senyiur Balikpapan, Sabtu (25/11). Foto: Media Kreatif

Simposium Ketahanan Pangan dan Teknologi Informasi 2024 yang diselenggarakan oleh Universitas Mulia, bertempat di Gran Senyiur Balikpapan, Sabtu (25/11). Foto: Media Kreatif

Ia pun membeberkan beberapa penyebab bencana kemanusiaan di beberapa negara. “Yang pertama adalah karena kekeringan. Kekeringan ini lebih didominasi oleh yang namanya Elnino dan Lanina,” ungkapnya.

“Di Indonesia, akibat Elnino menyebabkan kemarau yang berkepanjangan, bahkan kalau tingkat parah itu hingga mencapai 9 sampai 12 bulan,” tuturnya.

Dampak Elnino lahan pertanian mengalami kekeringan, gagal panen, terjadi wabah penyakit, kebakaran hutan, juga kebutuhan air tidak cukup untuk keperluan masyarakat sehari-hari.

Masalah pangan yang kedua adalah peperangan atau konflik sehingga negara tidak mampu mengamankan kondisi pangan.

“Sebagai contoh, perang Rusia dan Ukraina. Ini contoh yang paling mudah ya, mereka itu adalah negara-negara pemasok agrikultur di dunia saat ini,” tuturnya.

Berdasarkan data yang diperolehnya, kedua negara tersebut memproduksi 29% gandum, 19% jagung, dan 78% minyak bumi.

Masalah pangan yang ketiga, terganggunya stabilitas nasional seperti gejolak politik.

“Oleh sebab itu, seperti pada saat Pilpres, Pilkada, tentu harus kita jaga tetap kondusif agar stabilitas nasional tetap terjamin dan keamanan pangan, tata niaga stok, dan lain sebagainya itu tidak akan terpengaruh, meskipun kondisinya sangat bergejolak,” tuturnya.

Masalah keempat adalah kemiskinan. Kemiskinan menyebabkan keamanan pangan sangat terganggu mengingat banyak masyarakat yang tidak sanggup untuk memenuhi hajat hidupnya.

Menurut data yang diperolehnya, di Indonesia, tingkat kemiskinan mencapai 9,36%.”Jadi, masih ada 25,9 juta penduduk Indonesia itu berada di bawah garis kemiskinan. Nah, ini harus menjadi perhatian kita bersama,” tuturnya.

Masalah kelima adalah adopsi inovasi teknologi. Menurutnya, untuk menjaga stabilitas ketahanan pangan juga membutuhkan bantuan teknologi.

“Misalkan, kita tidak bisa lagi mengolah tanah dengan hanya mencangkul, menanam dengan menggunakan tangan, tetapi kita harus menggunakan mekanisasi pertanian, kita harus menggunakan IoT ke depannya,” tuturnya.

Oleh sebab itu, ia sependapat dengan kebijakan pemerintah saat ini yang membangun industri pertanian dengan memiliki lahan yang luas. Ia sependapat dengan gagasan Food Estate untuk bisa dilanjutkan.

Masalah keenam adalah program ketahanan pangan nasional. Ia menghendaki adanya ketersediaan akses. Untuk itu, ia mengusulkan harus menyusun sebuah program ketahanan pangan itu yang betul-betul memperhatikan berbagai aspek.

Prof. Ahsin mengingatkan bahwa sektor perikanan, pertanian, perkebunan itu juga bagian yang sangat penting diperhatikan di dalam pengembangan ketahanan pangan.

Terkait dengan produksi pangan di Kalimantan Timur, ia mengatakan data yang digunakan dalam pemaparan berasal dari data dari Biro Statistik Provinsi Kalimantan Timur.

“Jadi, basis saya ini adalah data statistik. Jadi bukan hasil riset,” tuturnya.

Terkait kehadiran IKN, menurutnya, tentu akan membawa dampak terhadap kebutuhan pangan di Kalimantan Timur.

“Saya menyarankan, ke depan agar di sekitar IKN kita akan membangun yang namanya kawasan agropolitan, minapolitan, dan agroindustri,” tuturnya.

Dirinya juga menyarankan pengembangan kawasan pertanian sebaiknya dilakukan di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kabupaten Paser, dan PPU, Berau, Kutai Timur, dan Samarinda.

“Sekali lagi, saya menyatakan ini hanyalah hasil analisis data sekunder ya, bukan hasil riset melakukan aspek teknis,” tuturnya.

Di akhir pemaparan, Prof. Ahsin memberikan tiga saran kepada pemangku kepentingan untuk menuju ketahanan pangan, terutama di IKN dan Provinsi Kalimantan Timur.

“Pertama. Mari kita menyusun blueprint ketahanan pangan di kawasan penyangga, tentunya kebijakan dan program dengan tetap memperhatikan kesejahteraan petani, peternak, dan nelayan,” tuturnya.

Kedua, lanjutnya, menetapkan kawasan pertanian, perikanan, dan industri di buffer-zone sesuai dengan potensi daerah terintegrasi dan berkesinambungan.

Ketiga, membangun embung-embung atau waduk untuk mencegah kekeringan irigasi pertanian, perikanan, dan pengendali banjir.

Selain itu, ia juga menyarankan untuk menurunkan angka kemiskinan, menciptakan suasana nyaman dan kondusif, memberdayakan warga lokal sebagai subjek pembangunan, membangun jaringan infrastruktur yang terkoneksi dengan kawasan bisnis untuk UMKM menjadi spin-off industri sehingga menjadi industri yang mandiri.

“Kemudian membangun sistem pertanian berbasis teknologi IoT, dan yang terakhir adalah menjaga stabilitas harga di tingkat konsumen melalui ketersediaan, keterjangkauan, keamanan, dan kualitas pangan,” pungkasnya.

(SA/Puskomjar)

Deputi Bidang Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) Dr. Myrna Asnawati Safitri, S.H., M.A yang dalam hal ini mewakili Kepala OIKN Bambang Susantono. Foto: Nadya/Media Kreatif

Simposium Ketahanan Pangan dan Teknologi Informasi 2024

UM – Deputi Bidang Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) Dr. Myrna Asnawati Safitri, S.H., M.A hadir lewat video pada Simposium Ketahanan Pangan dan Teknologi Informasi 2024 yang digelar Universitas Mulia. Simposium berlangsung hybrid, bertempat di Hotel Gran Senyiur Balikpapan, Sabtu (25/11).

Myrna dalam pesannya menyampaikan permohonan maaf tidak dapat hadir secara langsung mengingat bersamaan dengan kegiatan lainnya. Dalam kesempatan ini, Myrna Safitri mewakili Kepala Otorita IKN Bambang Susantono.

Dalam sambutannya, Myrna mengatakan bahwa IKN dibangun dengan tujuan untuk menjadikan kota yang selaras dengan alam, tangguh, dan rendah emisi karbon.

“Untuk mencapai tujuan itu, maka salah satunya adalah dengan mengalokasikan minimum 10% dari wilayah IKN untuk menjadi area produksi pangan,” terangnya.

Berbicara tentang pembangunan pertanian dan ketahanan pangan, Myrna mengatakan bahwa hal itu harus dikaitkan dengan tujuan dan prinsip penting pembangunan IKN.

“Prinsip pertama, yaitu bahwa pembangunan IKN harus selaras dengan alam dan tangguh. Kemudian yang kedua bahwa pembangunan IKN itu adalah rendah emisi karbon, dan yang ketiga pembangunan IKN itu sifatnya harus resilien,” tuturnya.

Untuk mewujudkan semua itu, dirinya menerangkan bahwa kebijakan pembangunan pertanian di IKN yang diterapkan adalah pertanian berkelanjutan, pertanian yang cerdas iklim.

“Artinya, pertanian yang mampu melakukan mitigasi terhadap emisi gas rumah kaca dan juga melakukan upaya-upaya adaptif terhadap kondisi iklim yang sedang berubah,” tutur Ketua IKA Universitas Brawijaya Kalimantan Timur ini.

Terhadap sebagian besar areal yang ekosistemnya mengalami kerusakan, maka pembangunan pertanian juga diarahkan kepada pertanian regeneratif.

“Artinya, pembangunan pertanian itu harus mampu untuk juga memulihkan ekosistem lahan yang sudah terlanjur rusak tersebut,” tuturnya.

Dirinya menyadari hal itu bukanlah perkara yang mudah untuk diwujudkan, meski juga tidak mustahil untuk dilakukan sepanjang arah yang sudah ditetapkan dengan jelas.

“Dalam hal ini, Kedeputian Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam yang membawahi Direktorat Ketahanan Pangan mempunyai tugas untuk mengawal agar kebijakan pembangunan pertanian berkelanjutan di IKN dapat dilakukan,” terangnya.

Lebih lanjut, pembangunan pertanian berkelanjutan di IKN tidak hanya dilakukan oleh Otorita IKN saja. Menurutnya, perlu ekosistem pertanian berkelanjutan yang kuat dan melibatkan daerah mitra yang ada di sekitar IKN,

Ia menyebut, beberapa daerah mitra yang telah menjadi area lumbung pangan bagi Provinsi Kalimantan Timur, seperti Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kabupaten Panajam Pasir Utara.

“Kami telah merintis berbagai upaya untuk melakukan koordinasi dan sinergi dengan pemerintah daerah Kalimantan Timur, khususnya pemerintah di dua kabupaten tersebut,” ujar Myrna.

Upaya lain yang dilakukan adalah secara konsisten memastikan input di dalam kegiatan pertanian tidak menimbulkan kerusakan lingkungan dan meminimalkan input yang bersifat kimiawi yang bisa merusak ekosistem.

Kota Cerdas dan Masa Depan Pertanian

Dalam keterangannya, Myrna mengatakan bahwa IKN dibangun sebagai sebuah kota cerdas. Hal ini akan berimbas di dalam kebijakan dan program-program pertanian berkelanjutan.

“Di dunia saat ini, kita sudah melihat bahwa teknologi memainkan peran yang penting untuk memastikan efisiensi di dalam pembangunan pertanian. Karena itu kami sudah mulai merintis agar para petani yang ada di IKN sudah mulai melek teknologi,” terang Myrna.

Berbagai upaya untuk menjadikan pertanian yang efisien, lahan pertanian yang efisien air, monitoring pertanian dilakukan dengan cara yang lebih mudah sudah mulai diperkenalkan. Dari sinilah keberadaan teknologi informasi ini menjadi penting.

Untuk itu, peranan civitas akademika juga menjadi penting dan diperlukan untuk membantu para petani menerapkan teknologi informasi di dalam kegiatan pertanian berkelanjutan.

“Karena itu, kami sangat terbuka dalam berbagai kerjasama dengan para mahasiswa, khususnya mahasiswa-mahasiswa yang mempunyai ketertarikan untuk mengembangkan teknologi informasi di dunia pertanian yang aplikabel, yang dapat diterapkan dengan mudah bagi para petani,” terang Doktor Ilmu Hukum Universitas Leiden Belanda ini.

Ia menambahkan, kegiatan pertanian ke depan akan menjadi sebuah profesi yang penting yang juga dapat digeluti oleh para mahasiswa ketika lulus dari perguruan tinggi.

“Karena ke depan pertanian tidak akan pernah mati sepanjang ada kehidupan dan ada peradaban di dalam masyarakat kita,” tuturnya.

Oleh karena itu, ia mendorong perguruan tinggi dapat mengembangkan berbagai macam teknologi tepat guna yang bermanfaat bagi petani, teknologi informasi yang mampu untuk menyiarkan informasi yang cepat bagi para petani.

“Teknologi yang berkaitan dengan iklim, yang berkaitan dengan produksi pangan, yang berkaitan dengan monitoring terhadap produksi-produksi pangan, yang berkaitan dengan koneksi antara para petani sebagai produsen dengan para konsumen,” terang Myrna.

“Saya berharap bahwa dunia kampus bisa melihat peluang ini dengan baik sehingga kita bisa bersinergi untuk memperkuat ekosistem pertanian berkelanjutan yang cerdas di IKN dan di Kalimantan Timur,” pungkasnya.

(SA/Puskomjar)