Tag Archive for: IKN

Narasumber Simposium Ketahanan Pangan dan Teknologi Informasi 2024 bersama para undangan, berlangsung di Hotel Grand Senyiur Balikpapan, Sabtu (25/11/2023). Foto: Nadya/Media Kreatif

UM – Universitas Mulia menggelar Simposium Ketahanan Pangan dan Teknologi Informasi 2024 bersama dengan narasumber para guru besar dalam rangka menghadapi krisis pangan. Simposium dibuka secara resmi ditandai dengan gong oleh perwakilan Pj. Gubernur Kaltim, Kepala UPTD Tekkom dan Infodik Muhammad Awaludin, bertempat di Hotel Gran Senyiur Balikpapan, Sabtu (25/11).

Sebagai narasumber, Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si selaku pakar Ilmu Kelautan dan Perikanan, Prof. Dr. rer. nat. Achmad Benny Mutiara Q.N, S.Si., S.Kom pakar Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi, Prof. Dr. Engkos Achmad Kuncoro, M.M pakar Manajemen Strategik, dan Prof. Dr. Deni SB Yuherawan, S.H., M.H pakar Hukum Pidana.

HM Rizal Effendi, S.E, Wali Kota Balikpapan dua periode, yakni periode 2011-2016 dan 2016-2021, tampil sebagai moderator satu. Moderator dua Dr. Agung Sakti Pribadi, S.H., M.H, Direktur Eksekutif Yayasan Airlangga dan pembawa acara Drs. Suprijadi, M.Pd.

Turut hadir Wakil Ketua DPRD Kaltim Sigit Wibowo, mewakili Rektor Universitas Mulawarman Dekan Fakultas Pertanian Prof. Dr. Ir. H. Rusdiansyah, M.Si, Ketua STMIK Widya Cipta Dharma H. Tommy Bustomi, S.Kom., M.Kom, perwakilan pemerintah Kota Balikpapan, partai politik, akademisi perguruan tinggi serta undangan lainnya.

Ketua Panitia Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I mengatakan bahwa latar belakang digelarnya simposium adalah salah satu wujud dari peran perguruan tinggi di tengah masyarakat.

“Perguruan tinggi tidak cukup hanya fokus pada kegiatan pembelajaran dan menghasilkan lulusan, tetapi haruslah menjadi tempat tumbuhnya pemikiran-pemikiran kritis terhadap fenomena yang terjadi pada kehidupan,” tutur Yusuf Wibisono.

Dibuka secara resmi ditandai dengan gong oleh perwakilan Pj. Gubernur Kaltim, Kepala UPTD Tekkom dan Infodik Muhammad Awaludin, bertempat di Hotel Gran Senyiur Balikpapan, Sabtu (25/11). Foto: Nadya/Media Kreatif

Dibuka secara resmi ditandai dengan gong oleh perwakilan Pj. Gubernur Kaltim, Kepala UPTD Tekkom dan Infodik Muhammad Awaludin, bertempat di Hotel Gran Senyiur Balikpapan, Sabtu (25/11). Foto: Nadya/Media Kreatif

Dari kiri ke kanan Ketua Panitia Yusuf Wibono, Dr. Agung Sakti Pribadi, S.H., M.H, Muhammad Awaludin S.E.,M.M, Prof. Dr. Deni SB Yuherawan, S.H., M.H, Prof. Dr. Engkos Achmad Kuncoro, M.M, Prof. Dr. rer. nat. Achmad Benny Mutiara Q.N, S.Si., S.Kom, Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si dan HM Rizal Effendi, S.E,. Foto: Nadya/Media Kreatif

Dari kiri ke kanan Ketua Panitia Yusuf Wibono, Dr. Agung Sakti Pribadi, S.H., M.H, Muhammad Awaludin S.E.,M.M, Prof. Dr. Deni SB Yuherawan, S.H., M.H, Prof. Dr. Engkos Achmad Kuncoro, M.M, Prof. Dr. rer. nat. Achmad Benny Mutiara Q.N, S.Si., S.Kom, Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si dan HM Rizal Effendi, S.E,. Foto: Nadya/Media Kreatif

Deputi Bidang Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) Dr. Myrna Asnawati Safitri, S.H., M.A yang dalam hal ini mewakili Kepala OIKN Bambang Susantono. Foto: Nadya/Media Kreatif

Deputi Bidang Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) Dr. Myrna Asnawati Safitri, S.H., M.A yang dalam hal ini mewakili Kepala OIKN Bambang Susantono. Foto: Nadya/Media Kreatif

Tentu saja, tambahnya, tidak sekedar pikiran untuk mengkritisi, tetapi juga diharapkan melahirkan gagasan-gagasan solusi yang konstruktif dan rasional.

Menurutnya, dalam dua tahun belakangan dunia dikejutkan dengan perkembangan terkini dari kecerdasan buatan. Di sisi lain, berdasarkan laporan Global Report and Food Crisis 2023, sebanyak 258 juta orang di 58 negara dalam krisis pangan.

“Namun, Bapak Ibu yang kami hormati, di saat kita berada dalam euforia kecerdasan buatan, ternyata bumi Kita tidak sedang baik-baik saja,” ujarnya.

Lebih lanjut, jumlah tersebut meningkat 123 juta dibandingkan pada tahun 2019. Dan pada September 2023 telah ada 22 negara yang telah menghentikan ekspor pangan ke negara lain lantaran pemenuhan kebutuhan dalam negeri mereka sendiri sedang terancam.

“Pertanyaan sederhana yang muncul adalah mampukah kecerdasan buatan menjadi penyelamat dalam mengatasi ancaman bencana krisis pangan ini? Apakah kecerdasan buatan dapat menjadi katalisator solusi atau hanya menjadi saksi bisu dari bencana kelaparan manusia ini?” ujar kandidat Ph.D dari Universitas Malaysia Sarawak ini.

Senada, Rektor Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i mengatakan bahwa mengapa topik ini sangat penting. “Kenapa ini sangat penting, karena saat ini, seperti yang disampaikan oleh ketua panitia bahwa dunia ini tidak baik-baik saja,” tuturnya.

“Saya ingin menyampaikan info terbaru atau pembicaraan yang sangat hangat di tingkat nasional pada saat ini, yaitu tentang perdagangan karbon atau carbon trading,” tutur Prof. Ahsin.

“Ini adalah gas karbon, gas yang tidak ada bendanya, tapi ini diperdagangkan saat ini di tingkat nasional dan global. Mengapa demikian?” tambah Prof. Ahsin.

Menurutnya, hal ini ada kaitannya dengan ketahanan pangan. “Tidak lain akibat dari efek gas rumah kaca yang dihasilkan oleh sektor-sektor industri, kemudian sektor agroindustri, kemudian yang dihasilkan oleh pengolahan-pengolahan limbah yang menyebabkan emisi gas rumah kaca,” ujarnya.

Pemerintah telah melakukan pembatasan dengan membuat regulasi, tetapi dinilainya kurang berhasil. “Oleh sebab itu, sekarang karbon itu diperdagangkan, carbon trading namanya,” tutur Prof. Ahsin.

Oleh sebab itu, ke depan yang paling penting adalah bagaimana caranya agar emisi gas rumah kaca tersebut diturunkan sehingga memenuhi standar nasional dan internasional. “Kebetulan Indonesia meratifikasi penurunan ini hingga sekian persen,” ujarnya.

“Nah, apakah itu bisa kita lakukan?” tanya Prof. Ahsin.

Sementara itu, Deputi Bidang Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) Dr. Myrna Asnawati Safitri, S.H., M.A yang dalam hal ini mewakili Kepala OIKN Bambang Susantono, mengatakan bahwa pembangunan pertanian dan ketahanan pangan di IKN harus dikaitkan dengan tujuan dan prinsip penting pembangunan IKN.

“Prinsip pertama, yaitu bahwa pembangunan IKN harus selaras dengan alam, tangguh, dan rendah emisi karbon. Kemudian yang kedua bahwa pembangunan IKN itu adalah rendah emisi karbon, dan yang ketiga pembangunan IKN itu sifatnya harus resilien,” tuturnya.

Untuk mewujudkan semua itu, terangnya, kebijakan pembangunan pertanian yang akan dilakukan di IKN adalah pertanian berkelanjutan, pertanian yang cerdas iklim.

“Artinya, pertanian yang mampu melakukan mitigasi terhadap emisi gas rumah kaca dan juga melakukan upaya-upaya adaptif terhadap kondisi iklim yang sedang berubah,” tutur Ketua IKA Universitas Brawijaya Kalimantan Timur ini.

Pj. Gubernur Kalimantan Timur, melalui Kepala UPTD Tekkom dan Infodik Muhammad Awaludin mengatakan bahwa pada prinsipnya ketahanan pangan juga menjadi perhatian khusus bagi pemerintah Provinsi Kalimantan Timur.

“Tentunya bersama dengan DPRD Kaltim, bagaimana membuat ekosistem ketahanan pangan itu bisa berjalan dengan baik di Kalimantan Timur,” tutur Awaludin.

Untuk itu, ia mendorong Kaltim harus memperkuat SDM-nya melalui pembekalan kompetensi-kompetensi yang dibutuhkan. “Karena sekarang semua profesi itu harus dibekali oleh kompetensi-kompetensi,” ujarnya.

Usai sambutan-sambutan, acara kemudian disusul dengan simposium yang diikuti 87 peserta yang hadir di lokasi. Simposium juga disiarkan melalui kanal YouTube Universitas Mulia. Dibuka tepat pukul 8.30 WITA dan berakhir pukul 13.00 WITA.

(SA/Puskomjar)

Rektor Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa'i saat menerima tamu di ruang kerjanya, Kamis (5/10). Foto: Media Kreatif

UM – Rektor Universitas Mulia Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si memberikan masukan untuk pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) dan kawasan penyangga. Masukan untuk menanggapi berita yang dimuat media Kaltim Post berjudul Kesenjangan Pembangunan Bikin Was-was, yang terbit pada Jumat (27/10) yang lalu.

“Judul itu merupakan hasil ulasan pernyataan Pj. Gubernur Kalimantan Timur, Bapak Akmal Malik, pada saat membuka acara Seminar Nasional Strategi dan Kebijakan Penyelenggara Pembangunan IKN terkait Peran Serta Pelaku Jasa Konstruksi di Provinsi Kaltim, Jumat (27/10),” tutur Prof. Ahsin.

Menurutnya, Pj. Gubernur Kaltim menyebut koneksitas antara IKN baru dengan kawasan penyangga menjadi hal krusial agar disparitas pembangunan tidak menimbulkan gejolak sosial di kemudian hari.

“Saya sangat sependapat dengan Bapak Gubernur, jangan sampai ketika IKN sudah dipindahkan dari Jakarta ke Nusantara (nama ibu kota baru) menimbulkan masalah-masalah sosial kemasyarakatan yang dapat menjadi api dalam sekam atau istilah Bapak Gubernur akan menimbulkan gejolak sosial,” tuturnya.

Pasalnya, warga Kaltim tentu tidak menginginkan pembangunan IKN yang digagas dengan konsep Smart City tersebut akan menemukan kendala dalam implementasinya untuk menyelaraskan pembangunan IKN dengan wilayah penyangga (Buffer Area).

Prof. Ahsin berharap kepindahan IKN harus mampu menyelaraskan pembangunan dan memberikan jaminan kesejahteraan bagi masyarakat sekitar. Oleh karena itu, Prof. Ahsin mengusulkan adanya Blueprint pembangunan IKN dan wilayah penyangga.

“Blueprint pembangunan IKN yang terkoneksi dengan wilayah penyangga adalah sebuah kedigjayaan, agar ketika IKN sudah pindah tidak akan menimbulkan konflik-konflik sosial atau minimal dapat dimitigasi,” ungkapnya.

Hal ini mengingat pernyataan Pj. Gubernur Kaltim pada berita yang dimaksud Blueprint belum ada, padahal IKN menurut rencana akan ditempati mulai tahun depan, tahun 2024.

“Kita masyarakat Kalimantan Timur tidak boleh tinggal diam dan harus mendesak agar Blueprint IKN yang terkoneksi dengan wilayah penyangga segera dirampungkan oleh Pemerintah Pusat,” tutur Prof. Ahsin.

Dengan selesainya Blueprint, selanjutnya perlu disosialisasikan kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, khususnya Kabupaten-kabupaten di wilayah penyangga, seperti Kabupaten Panajam Pasar Utara dan Kabupaten Kutai Kertanegara.

Termasuk disosialisasikan untuk Kota Samarinda sebagai ibukota Provinsi dan Balikpapan sebagai Kota yang memiliki infrastruktur pendukung utama IKN seperti Bandara Internasional, Pelabuhan Internasional, industri strategis nasional, dan lainnya.

Menurutnya, Blueprint IKN sangat penting bagi Pementah Provinsi dan Kabupaten Kota di kawasan penyangga sebagai rujukan penyusunan Blueprint pembangunan daerahnya masing-masing.

Hal ini diharapkan agar dapat terkoneksi dan terintegrasi sehingga segala potensi resiko disparitas atau kesenjangan IKN dengan Kabupaten Kota di wilayah penyangga tidak akan terjadi atau dapat diminimalkan.

Untuk itu, Prof. Ahsin mengusulkan Badan Otorita IKN menggandeng para pakar, tokoh masyarakat, tokoh adat yang ada di daerah Kalimantan Timur agar duduk bersama agar Blueprint yang dibuat nantinya dapat mengakomodir kearifan lokal, sosio kultural, kondisi geografis dan demografis bumi dan masyarakat Kalimantan yang spesifik.

“Tentunya mereka, para tokoh, lebih banyak merasakan dan mengetahui daerahnya ketimbang para pakar luar daerah yang kadang-kadang mendapatkan informasi hanya dari referensi-referensi,” tutur Prof. Ahsin.

Konsep Smart City dan Pembangunan Terintegrasi

Smart City merupakan konsep dalam pembangunan IKN yang diharapkan mampu mengatasi isu dan permasalahan dalam pembangunan perkotaan di masa yang akan datang.

Untuk mewujudkan konsep tersebut, menurut Prof. Ahsin, diperlukan data wilayah penyangga yang valid dan akurat serta teknologi inovatif berbasis potensi wilayah.

Dirinya menyarankan pembangunan Smart City sebaiknya diikuti dengan keberhasilan pembenahan di wilayah penyangganya. Penerapan standar dalam pembangunan infrastruktur baik dalam pembangunan IKN maupun infrastruktur pendukung di daerah penyangga akan membantu pencapaian kondisi ideal IKN dan wilayah penyangganya.

“Menurut hemat saya, beberapa elemen penting untuk mengintegrasikan pembangunan IKN dengan kawasan penyangga yang dapat dilakukan antara lain pembangunan sarana fisik seperti jaringan jalan, listrik, air dan telekomunikasi yang mendukung pengembangan potensi ekonomi potensial yang akan dikembangkan sebagai penyangga IKN,” tuturnya.

Berikutnya adalah pembangunan kelembagaan formal dan informal yang akan mendukung berkembangnya sektor ekonomi baru untuk menyangga IKN serta mengembangan pusat ekonomi baru sesuai potensi daerah yang kelak diharapkan mampu memberikan dukungan sandang dan pangan, termasuk ekowisata kepada penduduk baru IKN.

“Dan yang terakhir adalah memberikan perlindungan dan kepastian hukum terhadap hukum adat dan kearifan lokal masyarakat yang ada di wilayah penyangga IKN,” sebut Prof. Ahsin.

Ia mengatakan, pembenahan wilayah penyangga IKN, menurut para ahli yang ditulis di berbagai jurnal dan media, dapat dilakukan melalui pembangunan terintegrasi antar berbagai level pemerintahan, antar tata ruang, antar fungsi, dan antar sektor.

Meski demikian, pembangunan terintegrasi memerlukan komunikasi, koordinasi dan kerjasama berbagai sektor di tingkat berbagai level pemerintahan.

“Oleh karena itu, diperlukan strategi koordinasi yang efektif untuk pengintegrasian pembangunan antara wilayah IKN dengan wilayah penyangga. Semoga IKN jaya menuju Kota terbaik dunia,” pungkasnya.

(SA/Puskomjar)

Rektor Universitas Mulia Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa'i, M.Si saat memberikan pengarahan kepada dosen dan staf di Parkir Timur White Campus, Senin (2/10). Foto: Puskomjar

UM – Universitas Mulia siap mendukung pendirian Pusat Riset dan Pemberdayaan Masyarakat di Ibu Kota Nusantara (IKN). Hal ini dikatakan Rektor Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i di ruang kerjanya Sabtu, (30/9), untuk merespons Kepala Otorita IKN yang membentuk pusat riset Nusantara Institute bersama lima perguruan tinggi lainnya.

Kelima perguruan tinggi tersebut antara lain Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), dan Universitas Brawijaya (UB). Pimpinan perguruan tinggi tersebut telah bertemu Kepala Otorita Bambang Susantono dan berkunjung ke IKN, Jumat (4/8).

Disebutkan, menurut Bambang Susantono, dirinya telah menjalin kerja sama dengan para rektor perguruan tinggi tersebut untuk bersama-sama mengolah pengembangan atau pembangunan IKN, yaitu di bidang sains dan penelitian.

IKN ke depan diharapkan memiliki konsep pembangunan yang futuristik, mulai saat ini sampai tahun 2045 mendatang. Selain itu, kawasan IKN di Kalimantan Timur diharapkan memiliki kekayaan budaya serta kesenian yang menjadi warisan leluhur bangsa.

“Kemarin kan ada pembicaraan juga dengan rektor-rektor dari ISI (Institut Seni Indonesia) dan juga IKJ (Institut Kesenian Jakarta). Itu dari sisi art and culture, seni dan budaya,” tutur Bambang Susantono.

Menanggapi hal ini, Rektor Universitas Mulia Prof. Ahsin mengatakan siap mendukung pendirian Pusat Riset dan Pemberdayaan Masyarakat di IKN. Pasalnya, di Kalimantan sangat banyak Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta yang memiliki mutu tidak jauh berbeda dengan kelima perguruan tinggi tersebut.

Tercatat, beberapa PTN yang memiliki peringkat Akredirasi Unggul/A dan Baik Sekali antara lain Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, Universitas Tanjungpura Pontianak, Universitas Mulawarman Samarinda, Universtas Borneo Tarakan, dan Universitas Palangkaraya.

“Di Kalimantan Timur sendiri memiliki kurang lebih 10 Universitas, 29 Sekolah Tinggi, 6 Politeknik, 4 Institusi, 23 Akademi yang tersebar di berbagai Kabupaten dan Kota bahkan terletak di IKN sendiri,” tutur Prof. Ahsin.

Untuk itu, Prof. Ahsin memandang pembangunan IKN ke depan tidak akan terlepas dari pentingnya memberdayakan penduduk lokal. “Mereka akan menjadi bagian penting dan tak terpisahkan dari pembangunan dan pengembangan IKN ke depan,” tuturnya.

Menurutnya, penduduk lokal harus dibekali dengan berbagai pengetahuan dan keterampilan serta memiliki kesempatan bekerja dan berwirausaha di kawasan IKN.

“Pemberdayaan penduduk lokal melalui riset dan pelatihan-pelatihan/pemberdayaan sebaiknya menggunakan tenaga ahli lokal yang memahami betul adat istiadat, budaya, kearifan lokal. Bukan tenaga ahli luar daerah yang didatangkan dan hanya memotretnya hanya beberapa saat,” terang Prof. Ahsin.

Hal ini, tambahnya, sejalan dengan semangat Indonesiasentris dan bukan Jawasentris seperti yang sering dikatakan Presiden Joko Widodo beberapa waktu silam.

“Maka, pemerataan riset dan pemberdayaan masyarakat sebaiknya tidak dimonopoli perguruan tinggi dari Jawa saja, tetapi juga dari luar Jawa, terutama perguruan tinggi di Kalimantan Timur,” ujarnya.

Untuk itulah, Prof. Ahsin mendorong agar Universitas Mulia sebagai salah satu perguruan tinggi berbasis Technopreneurship terkemuka di Kalimantan Timur, siap berpartisipasi dan berkontribusi dalam pembangunan IKN ke depan.

Universitas Mulia, lanjut Prof. Ahsin, saat ini telah memiliki sekitar 160 dosen yang telah berpendidikan S2 dan S3, bahkan sudah ada yang bergelar Profesor.

Lebih lanjut, Prof. Ahsin menerangkan, Universitas Mulia memiliki Program Studi unggulan Strata S1 dan D3 seperti Program Studi Informatika, Sistem Informasi, Teknologi Informasi, Manajemen Informatika, Manajemen, Akuntansi, Manajemen Industri, Administrasi Perkantoran, Hukum, Farmasi, Pendidikan Guru Anak Usia Dini.

“Setiap tahun meluluskan lebih 500 orang Sarjana dan Diploma. Para alumni yang saat ini telah bekerja dan tersebar di seluruh Indonesia,” terangnya.

Ia mendorong para alumni untuk terlibat dalam pembangunan IKN ke depan. “Insya Allah pada tanggal 18 Nopember 2023 nanti, Universitas Mulia kembali akan melaksanakan Wisuda dan akan mengundang Kepala Otorita IKN Bapak Bambang Susantono untuk memberikan Orasi Ilmiah,” tutur Prof. Ahsin.

Ia berharap, kesempatan ini dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. “Semoga Universitas Mulia dan perguruan tinggi lainnya khususnya di Kalimantan Timur, tidak hanya menjadi penonton saja, namun menjadi bagian dalam sejarah pembangunan IKN,” tutup Prof. Ahsin.

(SA/Puskomjar)

Rektor Dr. Muhammad Rusli menerima kunjungan delegasi DTETI FT UGM yang dipimpin Sekretaris Ir. Lesnanto Multa Putranto, S.T., M.Eng., Ph.D., IPM di Ruang Eksekutif Universitas Mulia, Rabu (25/1). Foto: Media Kreatif

UM – Delegasi Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi (DTETI) Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada melakukan kunjungan kerja di Universitas Mulia. Rombongan yang dipimpin Sekretaris Ir. Lesnanto Multa Putranto, S.T., M.Eng., Ph.D., IPM disambut hangat Rektor Dr. Muhammad Rusli, M.T di Ruang Eksekutif, Jalan Letjen Zaini Azhar Maulani Balikpapan, Rabu (25/1).

Tampak hadir Ir. Lukito Edi Nugroho, M.Sc., Ph.D, Syukron Abu Ishaq Alfarozi, S.T., Ph.D, Azkario Rizky Pratama, S.T., M.Eng., Ph.D, Ir. Agus Bejo, S.T., M.Eng., D.Eng., IPM, Dr. Bimo Sunarfri Hantono, S.T., M.Eng, Ir. Sigit Basuki Wibowo, S.T., M.Eng., Ph.D., IPM, Ir. Prapto Nugroho, S.T., M.Eng., D.Eng., IPM, dan Naufal Hilmi Fauzan, S.Si., M.T.

Turut menyambut hangat Wakil Rektor Bidang Akademik dan Sistem Informasi Yusuf Wibisono, M.T.I, Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Wisnu Hera Pamungkas, S.TP., M.Eng, Dekan FHK Dr. Ivan Armawan, Kepala LPPM Richki Hardi, S.T., M.Eng, Ketua Program Studi Teknologi Informasi Djumhadi, S.T., M.Kom, Kepala Biro Pusat Komputer dan Jaringan Subur Anugerah, S.T., M.Eng serta dosen lainnya.

Dalam sambutannya, Rektor berterima kasih atas kunjungan rombongan DTETI UGM Yogyakarta. Rektor kemudian memperkenalkan diri sekaligus mengenalkan beberapa dosen yang juga alumni UGM. “Terima kasih. Semoga perbincangan nanti ada solusi yang lebih bagus,” harap Rektor.

Rektor Dr. Muhammad Rusli menerima cenderamata dari Sekretaris DTETI UGM Sekretaris Ir. Lesnanto Multa Putranto, S.T., M.Eng., Ph.D., IPM. Foto: Media Kreatif

Rektor Dr. Muhammad Rusli menerima cenderamata dari Sekretaris DTETI UGM Ir. Lesnanto Multa Putranto, S.T., M.Eng., Ph.D., IPM. Foto: Media Kreatif

Foto bersama Rektor Universitas Mulia, Wakil Rektor dan dosen bersama dengan jajaran DTETI FT UGM. Foto: Media Kreatif

Foto bersama Rektor Universitas Mulia, Wakil Rektor dan dosen bersama dengan jajaran DTETI FT UGM. Foto: Media Kreatif

Sementara itu, Lesnanto Putranto mengucapkan terima kasih atas sambutan yang hangat. “Pertama kami mengucapkan terima kasih atas sambutan yang hangat. Awalnya komunikasi by wa, sekarang komunikasi zaman canggih, akhirnya bisa ke sini dan kami senang melihat universitas di Balikpapan,” tutur Lesnanto.

Menurutnya, keberadaan perguruan tinggi di Balikpapan merupakan jaminan pengembangan Sumber Daya Manusia di Kalimantan agar semakin baik. Terlebih saat ini, lanjutnya, hadirnya Ibu Kota Nusantara (IKN) yang tengah dalam pembangunan di Kecamatan Sepaku Kabupaten Penajam Paser Utara sudah mulai berjalan.

“Kita sebagai dosen kan punya kewajiban tridarma. Bagaimana kita bisa berkontribusi untuk itu,” tutur Lesnanto. Ia menerangkan, terkait dengan IKN, Rektor UGM Prof. Ova Emilia telah beberapa kali mengunjungi IKN. “Secara umum itu dosen diminta untuk turut mengawal pembangunan dan masa transisi di IKN,” tuturnya.

“Pembangunan fisik merupakan satu hal yang sudah biasa ya, tetapi pembangunan manusia yang juga transisi dari masyarakatnya, sosial, juga hal yang menjadi perhatian,” tuturnya.

Pada tahap awal, menurutnya, yang saat ini dilakukan adalah dengan mengidentifikasi permasalahan sebelum membentuk Smart City dan kelompok-kelompok khusus. “Kebetulan Pak Lukito banyak membidangi Smart City di seluruh Indonesia. Beliau koordinator yang ada di UGM,” tuturnya.

Menurutnya, pembangunan fisik lebih mudah dibanding dengan pembangunan manusia. “Tapi, SDM untuk menjalankan tridarma mengawal proses transisi itu kami tidak mampu. Kita bersama-sama bagaimana menggerakkan SDM yang ada di daerah bisa mengawal proses transisi,” harapnya.

Berdasarkan pengalaman yang dilakukan sebelumnya, dirinya melihat pemahaman masyarakat terkait Smart City, misalnya, masih berbeda. “Ada yang menganggap Smart City itu kota yang sangat canggih sehingga penduduk yang ada di situ akan berubah secara drastis,” ungkapnya.

Dengan asumsi tersebut, muncul kekhawatiran dari masyarakat akibat dampak perubahan drastis yang terjadi apabila Smart City betul-betul diterapkan di IKN. “Nah, hal-hal itu yang kita coba identifikasi,” tutur Lesnanto.

Berbagai masalah yang muncul lainnya, misalnya, UGM melihat masyarakat yang ada di sekitar IKN banyak yang berprofesi sebagai petani sawit. “Setelah lahannya ditebang dijadikan IKN, ya mereka memang dapat kompensasi, tetapi bagaimana mereka melanjutkan kehidupan setelahnya,” ungkapnya.

Meski demikian, secara konsep dirinya mengakui cukup mengerti dan memahami teori yang dipelajari. Namun, merasa kesulitan ketika masuk dalam tahap implementasi. Oleh karena itu, dirinya berharap kerja sama perguruan tinggi di daerah untuk turut mengawal pembangunan IKN ke depan.

(SA/Puskomjar)