Tag Archive for: Fakultas Ilmu Komputer

Balikpapan 11 Juni 2026 – Ketika kata “programmer” disebut, banyak orang langsung membayangkan sosok yang mahir matematika, dikelilingi layar penuh kode, dan mampu membuat aplikasi canggih dalam waktu singkat. Gambaran itu sering kali membuat sebagian pelajar merasa dunia pemrograman terlalu rumit untuk dijangkau.

Pandangan tersebut justru ingin dipatahkan dalam pelatihan “Start Your Coding with Python” yang menjadi bagian dari GENCODE 2026, kegiatan yang diselenggarakan Program Studi Informatika Universitas Mulia bagi pelajar SMA dan SMK di Balikpapan.

Bagi pemateri, Tri Sudinugraha, S.Kom., M.Kom., yang juga menjabat sebagai Wakil Dekan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Mulia, tantangan terbesar saat seseorang mulai belajar coding bukan terletak pada sulitnya bahasa pemrograman, melainkan pada ketakutan untuk melakukan kesalahan.

“Banyak pemula berpikir programmer harus langsung bisa membuat program yang sempurna. Padahal coding adalah proses mencoba, gagal, memperbaiki, dan belajar kembali,” ujarnya.

Pandangan tersebut menjadi alasan mengapa Python dipilih sebagai pintu masuk bagi peserta yang baru mengenal dunia pemrograman. Dibandingkan banyak bahasa pemrograman lain yang memiliki aturan penulisan lebih kompleks, Python dikenal memiliki sintaks yang sederhana dan mudah dipahami.

Menurut Tri, kesederhanaan itu memungkinkan peserta memusatkan perhatian pada hal yang lebih mendasar, yaitu memahami logika di balik sebuah program.

Pilihan tersebut juga relevan dengan perkembangan industri teknologi saat ini. Python digunakan secara luas dalam berbagai bidang, mulai dari kecerdasan buatan (AI), data science, pengembangan web, automasi, hingga keamanan siber. Dengan kata lain, bahasa yang dipelajari peserta hari itu bukan sekadar materi pelatihan, melainkan salah satu fondasi teknologi yang saat ini menggerakkan banyak inovasi digital di dunia.

Namun Tri menegaskan bahwa kemampuan teknis hanyalah sebagian kecil dari proses menjadi seorang programmer.

Menurutnya, banyak pemula terjebak pada upaya menghafal sintaks tanpa benar-benar memahami cara menyelesaikan masalah. Padahal, inti dari pemrograman bukan terletak pada seberapa banyak perintah yang dihafal, melainkan pada kemampuan memecah persoalan menjadi langkah-langkah yang logis dan terstruktur.

“Belajar sintaks hanya memahami cara menulis kode, sedangkan pola pikir programmer adalah kemampuan berpikir logis, sistematis, dan mampu memecahkan masalah menjadi langkah-langkah kecil yang terstruktur,” jelasnya.

Karena itu, selama pelatihan berlangsung, peserta tidak hanya mendengarkan penjelasan teori. Mereka langsung diajak menulis kode, menemukan kesalahan, memperbaikinya, lalu mencoba kembali. Pendekatan berbasis praktik tersebut sengaja digunakan agar peserta mengalami sendiri proses belajar yang sesungguhnya.

Di dunia pemrograman, error sering kali dianggap sebagai bagian dari perjalanan, bukan kegagalan yang harus dihindari.

Pesan ini menjadi semakin relevan ketika perkembangan kecerdasan buatan memunculkan pertanyaan baru: apakah programmer masih akan dibutuhkan ketika AI mampu menghasilkan kode secara otomatis?

Menurut Tri, pertanyaan tersebut berangkat dari pemahaman yang kurang utuh tentang bagaimana teknologi bekerja.

AI memang mampu membantu mempercepat proses pengembangan perangkat lunak. Namun teknologi tersebut tetap memerlukan manusia yang memahami kebutuhan pengguna, menentukan tujuan, mengevaluasi hasil, serta mengambil keputusan yang tidak dapat dilakukan mesin secara mandiri.

“Justru di era AI, programmer yang mampu memanfaatkan AI akan memiliki keunggulan yang lebih besar. Bukan tergantikan, tetapi cara kerjanya menjadi lebih produktif dan strategis,” katanya.

Pandangan itu menunjukkan bahwa masa depan dunia teknologi bukan tentang persaingan antara manusia dan mesin, melainkan tentang bagaimana manusia memanfaatkan teknologi untuk memperluas kemampuannya.

Melihat antusiasme peserta selama pelatihan, Tri optimistis terhadap potensi generasi muda Balikpapan di bidang teknologi. Menurutnya, banyak peserta aktif bertanya, mencoba langsung praktik coding, dan menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi terhadap perkembangan teknologi modern.

Potensi tersebut, katanya, perlu terus dipupuk melalui ruang belajar, pendampingan, dan kesempatan praktik yang memadai.

Bagi peserta yang ingin menekuni dunia pemrograman, Tri memberikan pesan yang sederhana tetapi penting. Langkah pertama bukanlah membangun aplikasi besar atau menguasai teknologi yang rumit, melainkan memahami dasar logika pemrograman dan membiasakan diri untuk terus berlatih.

Ia menyarankan agar pelajar mulai dari proyek-proyek sederhana, seperti membuat kalkulator, aplikasi catatan, atau program kecil lainnya. Dari sana, kemampuan teknis akan berkembang seiring bertambahnya pengalaman.

Lebih jauh, ia menilai bahwa indikator terpenting seorang calon programmer bukanlah seberapa cepat memahami materi, melainkan seberapa kuat rasa ingin tahu yang dimiliki dan seberapa konsisten ia belajar ketika menghadapi kesulitan.

“Programmer hebat bukan selalu yang paling cepat memahami materi, tetapi yang mau terus mencoba dan belajar dari kesalahan,” ujarnya.

Di tengah perubahan teknologi yang berlangsung hampir setiap hari, mungkin itulah pelajaran paling penting yang dibawa pulang peserta GENCODE 2026. Bahwa belajar coding sesungguhnya bukan hanya belajar berbicara dengan komputer, melainkan belajar melatih cara berpikir, menyelesaikan masalah, dan membangun keberanian untuk terus belajar sepanjang hayat. (YMN)

Balikpapan, 11 Juni 2026 – Ketika seseorang membuka aplikasi media sosial, memesan transportasi daring, atau menggunakan sistem operasi di telepon genggamnya, yang terlihat hanyalah produk akhir yang bekerja dengan mulus. Yang jarang terlihat adalah ribuan perubahan kode, ratusan diskusi, dan kerja sama banyak orang yang berlangsung di belakang layar.

Dunia teknologi modern tidak dibangun oleh satu orang yang bekerja sendirian di depan komputer. Ia dibangun oleh kolaborasi.

Gagasan itulah yang menjadi inti materi “Coding Collaboration with Git” dalam kegiatan GENCODE 2026 yang diselenggarakan Program Studi Informatika Universitas Mulia bagi pelajar SMA dan SMK di Balikpapan.

Dalam sesi pelatihan tersebut, peserta tidak hanya diperkenalkan pada Git sebagai sebuah perangkat lunak, tetapi juga pada budaya kerja yang menjadi fondasi pengembangan teknologi modern.

Pemateri sekaligus Wakil Dekan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Mulia, Tri Sudinugraha, S.Kom., M.Kom., menjelaskan bahwa hampir seluruh pengembangan perangkat lunak saat ini dilakukan secara kolaboratif. Di sinilah Git memainkan peran penting.

“Git membantu programmer mengelola perubahan kode, melacak riwayat pekerjaan, dan bekerja bersama tim tanpa takut kehilangan data atau menimpa pekerjaan orang lain,” ujarnya.

Bagi banyak pelajar, konsep tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun di dunia industri, kemampuan menggunakan Git telah berkembang menjadi standar profesional yang hampir tidak terpisahkan dari pekerjaan seorang pengembang perangkat lunak.

Sebelum sistem kontrol versi seperti Git digunakan secara luas, pengembang perangkat lunak sering bertukar file secara manual. Cara tersebut tidak jarang menimbulkan persoalan. Versi program menjadi sulit dilacak, perubahan yang dilakukan anggota tim saling bertabrakan, bahkan data dapat hilang ketika file tertimpa oleh versi yang lebih baru.

Git mengubah pola kerja tersebut secara mendasar.

Setiap perubahan tercatat, setiap revisi memiliki jejak yang jelas, dan setiap anggota tim dapat bekerja secara paralel tanpa harus saling menunggu. Apa yang sebelumnya berpotensi menimbulkan kekacauan kini dapat dikelola secara sistematis dan terstruktur.

Namun bagi Tri, pelajaran terpenting dari Git bukan sekadar kemampuan teknis menggunakan perintah-perintah tertentu.

Yang lebih penting adalah pemahaman bahwa keberhasilan sebuah proyek teknologi bergantung pada kemampuan manusia untuk bekerja bersama.

Ia menjelaskan bahwa sebuah aplikasi modern biasanya melibatkan banyak peran sekaligus, mulai dari programmer, perancang antarmuka pengguna, analis sistem, penguji perangkat lunak, hingga manajer proyek. Setiap pihak membawa perspektif dan tanggung jawab yang berbeda.

Dalam kondisi seperti itu, kemampuan berkomunikasi menjadi sama pentingnya dengan kemampuan teknis.

“Industri saat ini mencari programmer yang tidak hanya pintar coding, tetapi juga mampu berdiskusi, menerima masukan, dan bekerja sama dalam tim lintas bidang,” jelasnya.

Karena itu, pengenalan Git kepada siswa sekolah menengah bukan semata-mata untuk mengajarkan teknologi yang digunakan industri. Di baliknya terdapat upaya memperkenalkan disiplin dokumentasi, manajemen proyek, serta budaya kerja profesional sejak dini.

Menurut Tri, salah satu kesalahan yang paling sering dilakukan pemula dalam proyek kolaboratif adalah kurangnya komunikasi. Banyak anggota tim melakukan perubahan tanpa dokumentasi yang jelas atau tidak memperhatikan pekerjaan yang telah dilakukan rekan lainnya.

Akibatnya, pekerjaan yang seharusnya saling melengkapi justru dapat saling mengganggu.

Git hadir sebagai alat yang membantu membangun keteraturan tersebut. Setiap perubahan memiliki catatan, setiap kontribusi dapat ditelusuri, dan setiap anggota tim memiliki tanggung jawab yang dapat dipertanggungjawabkan.

“Git mencatat siapa yang melakukan perubahan, kapan perubahan dilakukan, dan apa yang diubah. Hal ini menciptakan budaya kerja yang transparan, rapi, dan bertanggung jawab,” katanya.

Prinsip itu pula yang membuat Git digunakan dalam berbagai proyek teknologi berskala besar di dunia. Sistem operasi Android, Linux, framework Flutter, hingga berbagai platform digital yang digunakan miliaran orang setiap hari dikembangkan melalui mekanisme kolaborasi berbasis Git dan GitHub.

Menariknya, ribuan pengembang dari berbagai negara dapat bekerja pada proyek yang sama tanpa harus berada di tempat yang sama. Mereka terhubung oleh sistem kolaborasi yang memungkinkan setiap kontribusi tercatat dan terkelola dengan baik.

Bagi mahasiswa maupun pelajar yang ingin berkarier di bidang teknologi, pengalaman mengenal Git sejak dini memberikan keuntungan tersendiri. Mereka tidak hanya belajar membuat program, tetapi juga memahami bagaimana sebuah produk digital dibangun secara profesional.

Kemampuan tersebut menjadi semakin penting ketika proyek yang dikerjakan semakin kompleks dan melibatkan banyak orang.

Pada akhirnya, pelajaran yang dibawa pulang peserta GENCODE 2026 mungkin bukan hanya tentang cara menggunakan Git atau GitHub.

Mereka belajar bahwa teknologi tidak pernah benar-benar tumbuh dari kerja individu semata. Di balik setiap aplikasi yang digunakan jutaan orang, selalu ada proses belajar bersama, berbagi tanggung jawab, menerima masukan, dan menyatukan berbagai ide menjadi satu solusi.

“Teknologi bukan hanya tentang membuat program, tetapi tentang bagaimana kita belajar, berkolaborasi, dan terus berkembang bersama,” tutur Tri.

Sebuah pesan yang relevan, bukan hanya bagi calon programmer, tetapi bagi siapa pun yang akan hidup dan bekerja di dunia yang semakin terhubung. (YMN)

Balikpapan, 11 Juni 2026 – Di tengah derasnya arus kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang mengubah cara manusia belajar, bekerja, dan berinteraksi, muncul satu pertanyaan penting: apakah generasi muda hanya akan menjadi pengguna teknologi, atau justru menjadi pihak yang menciptakannya?

Pertanyaan itulah yang menjadi benang merah dalam pelaksanaan GENCODE 2026 yang diselenggarakan Program Studi Informatika Fakultas Ilmu Komputer Universitas Mulia pada Kamis (11/6/2026) di Laboratorium A FIKOM Universitas Mulia.

Mengusung tema “Coding Collaboration with Git”, kegiatan ini diikuti 32 pelajar dari berbagai sekolah di Balikpapan, di antaranya SMK Negeri 3 Balikpapan, SMK Pertiwi Balikpapan, SMK Kartika V-1 Balikpapan, SMK Adzkiya Balikpapan, SMK Airlangga Balikpapan, SMA Negeri 3 Balikpapan, hingga SMP Negeri 7 Balikpapan.

Bagi sebagian peserta, ini mungkin menjadi pertemuan pertama mereka dengan dunia pemrograman. Namun bagi Prodi Informatika Universitas Mulia, GENCODE bukan sekadar pelatihan teknis. Di balik baris-baris kode yang ditampilkan di layar komputer, terdapat upaya menanamkan cara berpikir yang akan menentukan bagaimana generasi muda menghadapi masa depan.

“Kami ingin generasi muda tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga memahami bagaimana teknologi itu diciptakan dan dikembangkan,” ujar Kaprodi Informatika Universitas Mulia, Isa Rosita, S.Kom., M.Cs.

Menurutnya, perkembangan AI dan transformasi digital telah mengubah hampir seluruh sektor kehidupan, mulai dari pendidikan, bisnis, kesehatan, hingga industri kreatif. Kondisi tersebut menuntut lahirnya generasi yang tidak sekadar akrab dengan teknologi, tetapi juga memiliki kemampuan untuk berkontribusi dalam proses penciptaannya.

Karena itulah GENCODE kembali diselenggarakan setelah pelaksanaan perdananya pada tahun sebelumnya. Kegiatan ini menjadi salah satu upaya Prodi Informatika untuk memperkenalkan keilmuan informatika kepada pelajar sekaligus membuka ruang eksplorasi bagi mereka yang ingin mengenal dunia teknologi lebih jauh.

Menariknya, materi yang dipilih tidak hanya berfokus pada kemampuan membuat program. Selain Python yang dikenal sebagai salah satu bahasa pemrograman paling ramah bagi pemula, peserta juga diperkenalkan dengan Git, sebuah sistem kontrol versi yang menjadi standar dalam pengembangan perangkat lunak modern.

Pilihan tersebut bukan tanpa alasan.

Dalam industri teknologi saat ini, keberhasilan sebuah produk digital tidak hanya ditentukan oleh kemampuan individu menulis kode, tetapi juga kemampuan tim untuk berkolaborasi, mengelola perubahan, dan menjaga kualitas proyek secara berkelanjutan.

“Pengembangan teknologi bukan hanya soal menulis kode, tetapi juga tentang bekerja sama, mengelola perubahan, dan menjaga kualitas proyek secara terstruktur,” jelas Isa.

Pandangan tersebut sekaligus menjawab salah satu kesenjangan yang masih sering ditemukan antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri. Banyak pelajar telah mengenal berbagai aplikasi digital dalam kehidupan sehari-hari, namun belum banyak yang memiliki pengalaman membangun solusi digital secara kolaboratif, menggunakan perangkat kerja yang lazim dipakai di industri, atau menyelesaikan persoalan nyata melalui pendekatan teknologi.

Menurut Isa, kemampuan teknis saja tidak lagi cukup.

Dunia kerja digital membutuhkan individu yang mampu berpikir komputasional, mendokumentasikan pekerjaannya dengan baik, berkomunikasi secara efektif, serta mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi yang berlangsung sangat cepat.

Karena itu, tujuan utama GENCODE tidak berhenti pada penguasaan sintaks pemrograman.

“Kami ingin menanamkan pola pikir seorang problem solver. Peserta belajar menganalisis masalah, menyusun langkah penyelesaian secara sistematis, bekerja sama dalam tim, berkomunikasi secara efektif, dan memiliki keberanian untuk mencoba serta belajar dari kesalahan,” tuturnya.

Pendekatan tersebut menjadi semakin relevan ketika perkembangan AI memunculkan kekhawatiran bahwa berbagai pekerjaan akan digantikan oleh mesin. Bagi Isa, masa depan justru akan semakin membutuhkan kemampuan-kemampuan yang tidak dimiliki mesin.

Ia menilai bahwa dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan, generasi muda perlu memperkuat kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah, literasi digital dan data, kemampuan beradaptasi, serta keterampilan kolaborasi.

“Di era AI, manusia tidak bersaing dengan mesin dalam hal kecepatan menghitung, tetapi dalam kreativitas, empati, pengambilan keputusan, dan kemampuan menciptakan inovasi,” katanya.

Pandangan tersebut menjadi pengingat bahwa teknologi bukanlah tujuan akhir. Teknologi hanyalah alat. Yang menentukan arah pemanfaatannya tetaplah manusia.

Melalui GENCODE 2026, Universitas Mulia berupaya mengambil peran dalam membangun ekosistem talenta digital di Kalimantan Timur. Upaya tersebut dilakukan dengan memperkenalkan standar kompetensi dan budaya kerja yang relevan dengan perkembangan industri global sejak usia sekolah.

Sebab di masa depan, tantangan terbesar mungkin bukan lagi soal akses terhadap teknologi. Hampir semua informasi dapat ditemukan hanya dengan beberapa sentuhan jari. Tantangan yang sesungguhnya adalah keberanian untuk mulai belajar, mencoba, gagal, lalu bangkit kembali.

Pesan itulah yang disampaikan Isa kepada para peserta.

“Jangan takut memulai karena merasa belum bisa. Semua programmer dan praktisi teknologi yang sukses hari ini juga pernah menjadi pemula. Yang membedakan adalah mereka berani mencoba, berani gagal, dan terus belajar,” ujarnya.

Di Laboratorium A FIKOM sore itu, para peserta memang sedang belajar menulis kode program. Namun lebih dari itu, mereka sedang belajar satu hal yang jauh lebih penting: bagaimana menulis masa depan mereka sendiri di tengah dunia yang terus berubah. (YMN)

Proses uji coba AutoCAD di salah satu PC Lab A berhasil dan berjalan baik tanpa gangguan berarti. Foto: SA/Kontributor

UM – Program Studi (Prodi) S1 Teknik Sipil Fakultas Teknik terus menunjukkan komitmennya dalam menghasilkan lulusan yang kompeten. Salah satu langkah yang diambil adalah dengan memastikan mahasiswa menguasai perangkat lunak desain rekayasa terkemuka, AutoCAD.

Baru-baru ini, Prodi Teknik Sipil Fakultas Teknik bekerja sama dengan Lab. Komputer Fakultas Ilmu Komputer, berhasil melakukan instalasi dan uji coba software AutoCAD 2026 di Laboratorium A, Kamis (23/10/2025).

Kegiatan yang diinisiasi oleh Ketua Program Studi Teknik Sipil, Rahman Satrio Prasojo, dan didukung penuh oleh Dekan Fakultas Teknik, Dr. Pascarianto Putra Bura, ini bertujuan untuk mempersiapkan praktikum mata kuliah Menggambar Teknik.

Uji coba ini sekaligus untuk memastikan bahwa spesifikasi perangkat komputer di Lab A telah memenuhi persyaratan minimal yang dibutuhkan untuk menjalankan AutoCAD dengan lancar, termasuk rendering 3D dan dukungan koneksi internet yang memadai.

Dalam prosesnya, Kepala Laboratorium Fakultas Ilmu Komputer, Subur Anugerah, turut serta menyaksikan jalannya uji coba dan memberikan dukungan teknis.

“Kolaborasi antar fakultas ini sangat penting untuk memastikan mahasiswa kita mendapatkan fasilitas terbaik. Dengan adanya AutoCAD 2026, mahasiswa Teknik Sipil dapat belajar dengan menggunakan teknologi terkini yang relevan dengan industri,” ujar Subur Anugerah.

Menurutnya, untuk sementara penggunaan lab Fakultas Ilmu Komputer digunakan sambil menunggu pengadaan lab komputer yang baru Fakultas Teknik. “Ya, mudahan tahun depan bisa terwujud,” tambah Dr. Pascarianto.

Dengan demikian, praktikum mata kuliah Menggambar Teknik Prodi Teknik Sipil dijadwalkan akan berlangsung di Lab A untuk semester yang akan datang dan akan masuk penjadwalan praktikum di lab komputer.

Manfaat Lisensi Pendidikan

Salah satu poin penting dalam pengadaan software ini adalah penggunaan lisensi Education dari Autodesk.

Lisensi ini memungkinkan penggunaan AutoCAD 2026 secara sah dan legal untuk tujuan pendidikan. Dengan lisensi ini, Universitas Mulia dapat menyediakan akses hingga untuk ratusan hingga ribuan pengguna, yang mencakup mahasiswa dan dosen.

Dr. Pascarianto Putra Bura menekankan pentingnya penggunaan perangkat lunak berlisensi. “Ini adalah bagian dari edukasi kepada mahasiswa tentang pentingnya menghargai hak kekayaan intelektual. Selain itu, dengan lisensi resmi, kita mendapatkan dukungan penuh dan pembaruan terkini dari Autodesk,” jelasnya.

Mahasiswa yang menggunakan akun email dengan domain universitas dapat memanfaatkan lisensi ini secara gratis selama tiga tahun, dengan kemudahan pembaruan data setiap tahunnya.

Hal ini memberikan kesempatan emas bagi mahasiswa untuk mendalami AutoCAD tanpa perlu khawatir dengan biaya lisensi yang mahal.

Dekan Fakultas Teknik Dr. Pascarianto Putra Bura menyaksikan Kaprodi Teknik Sipil Rahman Satrio Prasojo sedang mengunduh software AutoCAD dari situs Autodesk. Foto: SA/Kontributor

Dekan Fakultas Teknik Dr. Pascarianto Putra Bura menyaksikan Kaprodi Teknik Sipil Rahman Satrio Prasojo sedang mengunduh software AutoCAD dari situs Autodesk. Foto: SA/Kontributor

Proses uji coba AutoCAD di salah satu PC Lab A berhasil dan berjalan baik tanpa gangguan berarti. Foto: SA/Kontributor

Proses uji coba AutoCAD di salah satu PC Lab A berhasil dan berjalan baik tanpa gangguan berarti. Foto: SA/Kontributor

Mempersiapkan Mahasiswa untuk Masa Depan

Penguasaan AutoCAD merupakan salah satu kompetensi wajib bagi seorang insinyur sipil. Perangkat lunak ini tidak hanya digunakan untuk menggambar desain 2D, tetapi juga untuk pemodelan 3D yang sangat penting dalam perencanaan dan analisis proyek konstruksi.

Dengan membekali mahasiswa dengan keterampilan ini sejak dini, Prodi Teknik Sipil berharap dapat mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga siap kerja.

“Praktikum Menggambar Teknik tidak lagi hanya sebatas gambar manual di atas kertas kalkir. Mahasiswa harus mampu mentransformasikan ide mereka ke dalam bentuk digital yang presisi dan akurat. AutoCAD memberikan semua perangkat yang mereka butuhkan untuk itu,” tambah Rahman Prasojo.

Ayo Bergabung dengan Fakultas Teknik!

Dengan fasilitas laboratorium yang modern dan dukungan perangkat lunak berstandar industri, Prodi Teknik Sipil Fakultas Teknik menjadi pilihan yang tepat bagi calon mahasiswa yang ingin berkarir di bidang rekayasa sipil.

Bagi para siswa-siswi yang akan lulus pada tahun 2026 dan memiliki minat di bidang teknik, ini adalah kesempatan untuk bergabung dengan komunitas akademik yang dinamis dan berorientasi pada masa depan.

Fakultas Teknik berkomitmen untuk terus berinovasi dan menyediakan pendidikan berkualitas yang relevan dengan perkembangan zaman.

Jangan lewatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari generasi insinyur masa depan yang siap membangun negeri. Daftarkan diri Anda di Prodi Teknik Sipil Fakultas Teknik pada penerimaan mahasiswa baru tahun 2026

(SA/Kontributor)

Balikpapan, 8 Oktober 2025 — Pelaksanaan Pasar Pagi Mulia di Bay Park Plaza tidak hanya menghadirkan bazar dan pertunjukan musik, tetapi juga sejumlah kegiatan kreatif bagi masyarakat dan mahasiswa.

Salah satunya adalah Yoga & Sound Bath Class, sesi relaksasi yang dipandu instruktur yoga dan fasilitator sound bath. Kegiatan ini memberi kesempatan bagi pengunjung untuk merasakan suasana tenang di tengah keramaian acara.

Selain itu, Workshop Beads & Craft menjadi ruang bagi peserta untuk belajar membuat perhiasan manik-manik dan aksesori buatan tangan. Kegiatan ini menarik minat pengunjung dari berbagai kalangan.

 

Program Studi PG PAUD Universitas Mulia juga terlibat dengan menggelar Lomba Mewarnai Anak-anak yang diikuti lebih dari 50 peserta dari berbagai sekolah di Balikpapan.

Dari kalangan muda, K-Pop Dance Competition & Coswalk Parade menjadi salah satu bagian acara yang paling ramai dikunjungi. Komunitas pecinta budaya populer dari Balikpapan berpartisipasi aktif menampilkan kreativitas mereka.

Selain itu, kegiatan SMADA.COM Wanted hasil kolaborasi dengan SMA Negeri 2 Balikpapan menampilkan karya siswa SMA/SMK. Kegiatan ini memberi ruang bagi generasi muda untuk memperlihatkan karya mereka di luar lingkungan sekolah.

Keseluruhan kegiatan tersebut menunjukkan keterlibatan aktif mahasiswa dan masyarakat dalam satu ruang kegiatan yang terbuka dan kreatif. (YMN)

Balikpapan 8 Oktober 2025— Penyelenggaraan Pasar Pagi Mulia mendapat dukungan dari Yayasan Airlangga dan Universitas Mulia. Dukungan tersebut menjadi salah satu faktor penting keberhasilan kegiatan yang melibatkan banyak mahasiswa dan komunitas lokal.

Panitia berharap dukungan serupa juga dapat diberikan oleh Rektorat dan tim Marketing kampus pada kegiatan berikutnya. Menurut panitia, Pasar Pagi Mulia memiliki potensi besar dalam memperkuat hubungan eksternal dan memperluas jangkauan promosi Universitas Mulia di masyarakat.

Kegiatan ini memberi pengalaman langsung bagi mahasiswa untuk bekerja dalam tim lintas bidang dan berinteraksi dengan pelaku usaha kecil. UMKM lokal juga mendapatkan manfaat ekonomi dan promosi dari tingginya jumlah pengunjung setiap harinya.

Panitia menyampaikan bahwa tidak ada kendala besar selama kegiatan berlangsung. Semua tahapan, mulai dari persiapan hingga pelaksanaan, berjalan lancar karena dikerjakan bersama oleh panitia dan relawan mahasiswa.

Pasar Pagi Mulia menunjukkan peran kampus dalam membuka ruang keterlibatan mahasiswa dan masyarakat dalam satu kegiatan yang produktif. (YMN)

 

 

Balikpapan 8 Oktober 2025—Pasar Pagi Mulia kembali digelar di Bay Park Plaza Balikpapan. Kegiatan ini diinisiasi oleh Domain Creative Bureau bersama sivitas Universitas Mulia dan telah terselenggara sebanyak empat kali dalam sembilan bulan terakhir. Tiga edisi sebelumnya berlangsung di lingkungan kampus dan satu edisi di Plaza Balikpapan.

Menurut panitia, kegiatan ini berangkat dari gagasan Domain Creative Bureau yang ingin mempertemukan mahasiswa dengan komunitas lokal dan pelaku UMKM. Pasar Pagi Mulia berkembang menjadi kegiatan yang membuka ruang interaksi antara kampus dan masyarakat.

Pada penyelenggaraan kali ini, lebih dari 30 tenant lokal dan sejumlah komunitas seni terlibat. Sepuluh band dari Balikpapan dan Samarinda tampil di panggung utama, di antaranya The Bani, Gaharu, Daffa & The Kuncoros, Leonora, Here to Stay, Justicia, Renaldy Rizky, Paw’s Letter, MARA, dan Murphy Radio.

Murphy Radio menjadi salah satu penampil yang menarik perhatian. Band ini sebelumnya telah melakukan tur di Eropa, dan usai kegiatan ini dijadwalkan tampil di China dan Jepang.

Selain menampilkan musik dan bazar, kegiatan ini juga melibatkan mahasiswa dari berbagai fakultas. Fakultas Ilmu Komputer membuka booth warkom yang menjual camilan buatan mahasiswa. Program Studi PG PAUD mengadakan lomba mewarnai untuk 50 anak, sementara 10 anggota BEM Universitas Mulia membantu operasional kegiatan dari awal hingga selesai. (YMN)

 

Rektor Universitas Mulia Prof. Dr. Ir., Muhammad Ahsin Rifai, M.S.I.  menerima buku hasil penelitian mahasiswa fakultas Ilmu Komputer atas nama Gray Hansen Limantoro dengan NIM 2113004 pada tanggal 10 Oktober 2023 yang berjudul Japanese Typography – 日本タイポグラフィ、過去と現在  dengan no ISBN: 978-623-09-5379-8 .

Buku ini berisi tentang Tipografi yang  merupakan ilmu pengaturan dan desain huruf dalam desain grafis. Jepang sendiri memiliki konsep tipografi yang berbeda dengan huruf latin, dimana sistem penulisan Jepang terdiri dari hiragana, katakana, dan kanji. Setiap jenis huruf ini memiliki karakteristik dan penggunaan yang berbeda dalam tipografi. Mengenal tipografi Jepang merupakan sesuatu yang baru terutama bagi masyarakat Indonesia. Buku ini berisikan hasil penelitian penulis mengenai tipografi Jepang dari zaman dahulu saat menggunakan Kinzoku Katsuji, hingga di zaman sekarang menggunakan Digital Publisher. Hal ini tidak lepas dari penataan huruf, namun juga berbagai jenis wajah huruf yang digunakan di Jepang. Selama perkembangannya, tipografi di Jepang juga mengadopsi pengaruh dan teknik dari tipografi barat atau tipografi berbasis latin. Kombinasi antara estetika tradisional Jepang dan elemen-elemen modern memberikan kesempatan untuk eksperimen dan inovasi dalam desain tipografi di Jepang.

Buku ini telah diterbitkan oleh CV. Hosting Rakyat Media dan telah didistribusikan ke Perpustakaan Universitas Mulia, perpustakaan daerah  dan Perpustakaan Nasional. Rektor Universitas Mulia Prof. Dr. Ir., Muhammad Ahsin Rifai, M.S.I.  berharap dari prestasi yang telah diberikan oleh mahasiswa program studi Sistem informasi S1 Fakultas ilmu Komputer dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa lain untuk dapat terus berkarya serta memunculkan prestasi-prestasi lain nya dan dapat menunjang keilmuan dari mahasiswa .

WN- Humas UM

Foto bersama peserta Yudisium Tahun 2021. Foto: Media Kreatif

UM – Fakultas Ilmu Komputer dan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mulia menggelar Rapat Yudisium Sarjana dan Diploma Tahun 2021. Rapat Yudisium mengikuti protokol kesehatan ketat, bertempat di Aula Kampus Cheng Ho Kampus Utama Balikpapan dan Kampus PSDKU Samarinda, Selasa (31/8).

Rektor DR. Agung Sakti Pribadi, S.H., M.H. mengatakan bahwa bersyukur mahasiswa mampu menyelesaikan studinya di tengah keterbatasan akibat pandemik Covid-19. Rektor mengungkapkan kebanggaannya sejumlah mahasiswa telah bekerja sesuai dengan kompetensinya.

Di antara peserta Yudisium tersebut ada yang sudah bekerja sesuai dengan program pendidikan selama belajar di Universitas Mulia. “Saya bangga banyak lulusan yang sudah bekerja, bahkan sesuai dengan kompetensi mereka,” tutur DR. Agung Sakti Pribadi.

Meski demikian, Rektor mengingatkan agar para lulusan tidak berpuas diri dan merasa dirinya selesai seiring dengan selesainya prosesi wisuda dan mendapatkan ijazah Sarjana nanti.

“Saya berpesan agar kalian tetap belajar dan meningkatkan kompetensi di tempat kerja,” tuturnya. Hal ini diungkapkan mengingat perkembangan ilmu pengetahuan, permasalahan sosial, sains dan data serta perkembangan teknologi terus mengalami peningkatan yang sangat pesat.

Nadya, salah satu peserta Yudisium dari Program Studi Informatika ini berhasil menyelesaikan kuliah sambil bekerja. Ketika dihubungi media ini, ia mengatakan bahwa dirinya bersyukur telah berhasil menyelesaikan pendidikan S1 dengan baik. “Rasa senang dan bangga bisa menjadi bagian dari lulusan Universitas Mulia,” tuturnya.

Bukan tanpa alasan, menjalani kuliah sambil bekerja bukanlah perkara mudah bagi kebanyakan orang. Namun di sinilah ia mampu belajar menempa diri bagaimana mengelola waktu, terus berusaha mengasah keahlian, menyelesaikan tanggung jawab sekaligus belajar berinteraksi dengan berbagai macam karakter, baik berinteraksi dengan orang-orang di tempatnya bekerja, dengan sesama teman, hingga berinteraksi dengan dosen maupun staf administrasi.

Tak heran, dengan beban yang begitu banyak, pada akhirnya selesai juga meski dengan waktu studi yang tidak sebentar.

“Rasa lelah selama ini terbayarkan karena saya kuliah malam dan kerja di pagi hari, tapi saya bangga bisa tetap fokus mengikuti perkuliahan dengan dukungan dan doa dari kedua orang tua saya,” tutur Nadya usai mengikuti Yudisium.

Rektor Universitas Mulia DR. Agung Sakti Pribadi, S.H., M.H. saat mengawali sambutan Rapat Yudisium sesi pertama di Aula Kampus Cheng Ho, Selasa (31/8). Foto: Media Kreatif

Rektor Universitas Mulia DR. Agung Sakti Pribadi, S.H., M.H. saat mengawali sambutan Rapat Yudisium sesi pertama di Aula Kampus Cheng Ho, Selasa (31/8). Foto: Media Kreatif

Foto bersama sebagian peserta Yudisium Tahun 2021. Foto: Media Kreatif

Foto bersama sebagian peserta Yudisium Tahun 2021. Foto: Media Kreatif

Foto peserta Yudisium Tahun 2021. Foto: Media Kreatif

Foto peserta Yudisium Tahun 2021. Foto: Media Kreatif

Foto peserta Yudisium Tahun 2021. Foto: Media Kreatif

Foto peserta Yudisium Tahun 2021. Foto: Media Kreatif

Rapat Yudisium hari itu digelar dalam tiga kali sesi untuk menghindari kerumunan dan menjaga protokol kesehatan. Usai mengikuti Rapat Yudisium, lulusan akan menjalani Prosesi Wisuda yang akan digelar dalam waktu satu bulan ke depan. Lulusan yang akan mengikuti Wisuda diharapkan mempersiapkan diri.

Yudisium merupakan bagian akhir dari kegiatan akademik terkait penerapan nilai dan kelulusan mahasiswa dari seluruh kegiatan akademik. Yudisium juga mengumumkan nilai kepada mahasiswa sebagai proses penilaian akhir dari seluruh mata kuliah yang telah diambil mahasiswa dan penetapan nilai dalam transkrip akademik.

Keputusan kelulusan setelah menempuh studi selama jangka waktu tertentu ditetapkan oleh pejabat berwenang yang dihasilkan dari keputusan Rapat Yudisium. Rapat Yudisium diselenggarakan oleh Senat Fakultas. Keputusan Yudisium dinyatakan dengan keputusan Dekan Universitas Mulia.

Sedangkan Wisuda merupakan tanda pengukuhan atas selesainya studi. Prosesi Wisuda berisi pelantikan melalui Rapat Senat Terbuka Universitas Mulia. Prosesi Wisuda dipimpin Rektor dan diikuti oleh semua lulusan program studi dari beberapa Fakultas yang ada di Universitas Mulia.

(SA/PSI)