Oleh: Wisnu Hera Pamungkas, S.T.P., M.Eng.
Wakil Rektor Bidang Akademik & Sistem Informasi
Universitas Mulia

Universitas Mulia tercatat sebagai satu-satunya perguruan tinggi dari Kalimantan yang lolos dalam Program Bantuan Pengembangan Model Pembelajaran Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) Berbasis Proyek Tahun 2025. Dari 40 kampus se-Indonesia yang terpilih, sebagian besar memang berasal dari Pulau Jawa. Keikutsertaan Universitas Mulia menjadi penanda bahwa semangat penguatan nilai kebangsaan dapat tumbuh merata di semua wilayah, termasuk di Kalimantan.

Program ini digagas Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, sebagai salah satu upaya menanamkan nilai-nilai kebangsaan dengan pendekatan yang lebih hidup. MKWK—yang memuat Pendidikan Agama, Pancasila, Kewarganegaraan, dan Bahasa Indonesia—diarahkan untuk tidak sekadar menjadi ruang hafalan atau ceramah, melainkan menjadi ruang dialektik yang kontekstual, aktif, dan kolaboratif.

Dalam konteks Universitas Mulia, gagasan ini diterjemahkan melalui pendekatan Project-Based Learning yang terintegrasi dengan Outcome-Based Education (OBE) dan kerangka Design Thinking. Mahasiswa lintas program studi dirangsang untuk menelaah isu sosial dan kebangsaan di sekitar kampus, merumuskan masalah, lalu merancang solusi nyata melalui proyek bersama. Ruang lingkupnya pun dekat: Balikpapan dan kawasan penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN).

Pengalaman belajar seperti ini bukan hanya menghubungkan teori dengan praktik, tetapi juga menajamkan kepekaan mahasiswa. Toleransi, keberagaman, etika digital, hingga literasi publik tidak lagi berhenti di ruang kuliah. Mahasiswa dilibatkan langsung ke lapangan, mengamati, berdialog, menguji gagasan, hingga mengimplementasikan langkah kecil di tengah masyarakat.

Seyogianya, Mata Kuliah Wajib kurikulum (MKWK) ini menjadi ruang untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan secara kontekstual, bukan sekadar wacana. Penanaman nilai melalui tindakan nyata diharapkan dapat membekas lebih dalam dibanding hanya lewat ceramah. Semangat ini selaras dengan visi Universitas Mulia sebagai kampus technopreneur yang menekankan penguasaan teknologi sekaligus kebermanfaatan sosial.

Sebagai penanggung jawab program, saya memandang bahwa kepercayaan ini sekaligus menjadi tantangan. Kampus tidak boleh hanya berpuas diri sebagai “satu-satunya wakil Kalimantan” di antara 40 kampus. Justru di sinilah letak tanggung jawab kami untuk membuktikan bahwa pembelajaran karakter dan kebangsaan bisa tumbuh kuat di luar Jawa, tumbuh dari konteks lokal, dan menjawab persoalan riil masyarakat.

Mata kuliah kebangsaan harus menjadi ruang hidup. Mahasiswa perlu mengalami nilai, bukan hanya mendengar dan mencatat. Nilai-nilai kebangsaan tidak berhenti di buku, tetapi menjejak di tindakan.

Editor: Humas UM (YMN)

 

BALIKPAPAN – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Mulia Balikpapan menggelar Musyawarah Besar (Mubes) pada Senin-Selasa, 15-16 Juli 2025, di Ruang Eksekutif Universitas Mulia. Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh pengurus BEM, perwakilan mahasiswa dari berbagai fakultas, serta jajaran pimpinan universitas.

Mubes yang berlangsung 2 hari ini sejak pagi hingga malam hari mengangkat tema “Mewujudkan Regenerasi Progresif untuk Kepemimpinan Berkelanjutan yang Berintegritas dan Berdampak”. Agenda utama meliputi evaluasi program kerja periode sebelumnya, pembahasan rencana strategis organisasi, serta penetapan arah kebijakan kemahasiswaan untuk tahun akademik mendatang.


Dalam sambutannya, Ketua BEM Universitas Mulia Agung Widianto menyampaikan pentingnya regenerasi progresif dalam membangun kepemimpinan yang berintegritas. “Tema yang kami angkat mencerminkan komitmen kami untuk melahirkan pemimpin masa depan yang tidak hanya berkompeten, tetapi juga berintegritas tinggi dan mampu memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar,” ujarnya.
Riski Zulkarnain Kepala Bagian Kemahasiswaan dan Alumni Universitas Mulia yang turut hadir dalam acara tersebut menekankan pentingnya regenerasi progresif dalam organisasi kemahasiswaan. “Regenerasi progresif bukan hanya sekedar pergantian kepengurusan, tetapi transformasi menyeluruh dalam pola pikir dan tindakan mahasiswa menuju kepemimpinan yang berkelanjutan dan berdampak,” ungkapnya.
Beberapa poin penting yang dibahas dalam Mubes meliputi strategi pengembangan kepemimpinan berintegritas, implementasi program berkelanjutan yang berdampak, sistem regenerasi yang progresif, serta penguatan nilai-nilai moral dalam setiap kegiatan organisasi. Peserta juga merumuskan roadmap kepemimpinan jangka panjang yang mengintegrasikan aspek akademik, sosial, dan moral.
Rektor Universitas Mulia dalam pesannya menyampaikan apresiasi terhadap dinamika organisasi kemahasiswaan yang terus berkembang. “Kegiatan seperti Mubes ini mencerminkan kedewasaan berorganisasi mahasiswa dalam mengambil keputusan strategis melalui musyawarah dan mufakat,” ungkapnya.
Universitas Mulia Balikpapan sebagai salah satu perguruan tinggi swasta terkemuka di Kalimantan Timur terus berkomitmen menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki jiwa kepemimpinan dan kepedulian sosial yang tinggi.Mubes BEM Universitas Mulia ini diharapkan dapat menghasilkan rumusan program yang lebih inovatif dan berdampak positif bagi kemajuan institusi serta masyarakat luas.

“Indikator terkuat keberhasilan KKN itu bukan laporan di atas kertas, tapi ketika program diadopsi warga, masuk ke rencana pembangunan kelurahan, dan direplikasi secara berkelanjutan. Kalau hanya seremonial, itu gagal.”— Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Ahsin Rifai, M.Si.

Rektor Universitas Mulia, Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Ahsin Rifai, M.Si., memberikan pengarahan tentang pentingnya KKN Berdampak kepada mahasiswa Angkatan 5 sebelum diterjunkan ke 21 kelurahan mitra.

Humas Universitas Mulia, 21 Juli 2025 — Bagi Universitas Mulia, Kuliah Kerja Nyata (KKN) bukan sekadar syarat kelulusan. KKN harus menjadi jembatan antara teori akademik dengan kebutuhan nyata masyarakat, sekaligus melahirkan perubahan terukur di lapangan. Penegasan ini disampaikan Rektor Universitas Mulia, Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Ahsin Rifai, M.Si., dalam wawancara usai pelepasan 420 mahasiswa KKN Angkatan ke-5 Tahun 2025 di Ballroom Cheng Hoo Universitas Mulia.

Dampak Harus Terukur di Empat Ranah

Prof. Ahsin menegaskan bahwa tolok ukur keberhasilan KKN tidak boleh berhenti pada laporan seremonial semata. Ia merumuskan empat indikator dampak yang harus dihasilkan: sosial, ekonomi, lingkungan, dan kelembagaan.

“Indikatornya bukan sekadar kegiatan berjalan, tapi betul-betul tampak perubahan konkret,” ujarnya. Pada aspek sosial, keberhasilan tercermin dari meningkatnya partisipasi warga, bertambahnya pengetahuan, hingga perubahan perilaku positif. Sementara di sektor ekonomi, munculnya UMKM, naiknya pendapatan warga, serta penerapan teknologi tepat guna menjadi penanda penting.

Prosesi pelepasan KKN Angkatan 5 Tahun 2025 Universitas Mulia ditandai dengan penyerahan berita acara resmi dari Rektor kepada 21 lurah mitra sebagai simbol sinergi pengabdian.

Di bidang lingkungan, Prof. Ahsin menyoroti pentingnya program pengelolaan sampah, penghijauan kawasan, dan tumbuhnya kesadaran ekologis. Sedangkan dari sisi kelembagaan, tolok ukurnya adalah penguatan organisasi lokal, perbaikan sistem administrasi, dan keberlanjutan program setelah mahasiswa pulang.

“Indikator terkuat justru ketika program KKN diadopsi masyarakat, masuk ke rencana pembangunan kelurahan, dan direplikasi,” tegasnya.

Menjamin Keberlanjutan Setelah KKN Usai

Ia menyadari tantangan terbesar KKN seringkali muncul setelah mahasiswa kembali ke kampus. Agar program tidak berhenti di tengah jalan, Prof. Ahsin menekankan lima strategi utama: pendampingan lanjutan melalui dosen atau alumni, kemitraan formal dengan kelurahan, integrasi hasil KKN ke program riset dan pengabdian dosen, penyusunan dokumentasi lengkap, serta kaderisasi lokal sejak awal pelaksanaan.

Foto bersama pimpinan Universitas Mulia bersama para lurah dan camat se-Kota Balikpapan usai penyerahan dokumen berita acara KKN Angkatan V 2025.

“Kalau ada kader lokal yang diberdayakan sejak awal, maka ketika mahasiswa pulang, program tetap berjalan. Itu yang harus kita dorong,” ujarnya.

Anggaran Bukan Sekadar Formalitas

Komitmen pendanaan juga diatur secara strategis. Rektor menjelaskan bahwa Universitas Mulia menyiapkan tiga jalur pendanaan: anggaran khusus di RKAT untuk KKN tematik yang mendukung prioritas pembangunan daerah, insentif berbasis capaian bagi dosen dan mahasiswa, serta dukungan logistik dan dana pendamping untuk program eksternal seperti Saintek Berdampak dan Kosabangsa.

“Dengan pola ini, KKN bukan cuma kegiatan rutin, tetapi instrumen aktif mendukung pembangunan daerah,” kata Prof. Ahsin.

Peran Dosen Tak Boleh Pasif

Ia juga menyoroti peran Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) yang kerap hanya memeriksa laporan. Bagi Prof. Ahsin, DPL idealnya menjadi penghubung langsung antara teori akademik dan praktik pengabdian.

“DPL harus mendampingi sejak perencanaan, membantu mahasiswa memetakan masalah, merancang program inovatif, memberi pembinaan, hingga mendorong keluaran berupa publikasi atau HKI,” jelasnya.

Sinergi Konkret dengan Aparat Wilayah

Agar kehadiran mahasiswa tidak menjadi beban administratif, kampus menyiapkan pola kerja sama dengan lurah dan camat. Sejumlah langkah dijalankan: melibatkan aparat sejak perencanaan, menyusun MoU atau PKS, membentuk forum koordinasi, menyiapkan tim pendukung teknis, serta memastikan program memberi manfaat riil, seperti digitalisasi layanan atau pelatihan warga.

“Kalau ini dijalankan, KKN menjadi kolaborasi pembangunan, bukan beban birokrasi,” tegasnya.

Laboratorium Nilai Karakter

Selain output program, Prof. Ahsin memandang KKN sebagai ruang penggemblengan karakter. Mahasiswa diharapkan menginternalisasi nilai empati, kepedulian sosial, gotong royong, kemandirian, tanggung jawab, kreativitas, disiplin, integritas, hingga cinta tanah air.

“Semua itu lahir dari pengalaman langsung di masyarakat, bukan di ruang kelas,” ujarnya.

Kesalahan yang Harus Dihindari

Ia menegaskan, KKN harus lepas dari pola lama yang hanya berorientasi formalitas. Prof. Ahsin memetakan bentuk kegagalan yang wajib dihindari: perencanaan dangkal tanpa pemetaan masalah, minimnya peran dosen pembimbing, program seremonial tanpa inovasi, pelaksanaan tanpa monitoring yang rapi, dan absennya tindak lanjut pasca-KKN.

“Kalau program berhenti begitu mahasiswa pulang, itu artinya gagal. KKN tidak boleh jadi rutinitas kosong,” pungkasnya.

Humas UM (YMN)

Humas Universitas Mulia, 21 Juli 2025 — Universitas Mulia (UM) secara resmi melepas 420 mahasiswa untuk melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Angkatan 5 Tahun 2025. Kegiatan pelepasan berlangsung hari ini, ditandai dengan penyerahan berita acara dari Rektor Universitas Mulia Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Ahsin Rifai, M.Si. kepada para lurah dari 21 kelurahan mitra di Kota Balikpapan.

Dr. Pudjiati, S.E., M.M., Ketua Panitia KKN Angkatan ke-5 Tahun 2025, saat menyampaikan laporan pelaksanaan dan pesan pengabdian kepada para mahasiswa Universitas Mulia

Dalam laporan ketua panitia, Dr. Pudjiati, S.E., M.M., disampaikan bahwa para mahasiswa akan didampingi 21 dosen pembimbing lapangan dan ditempatkan di 21 kelurahan. “Kegiatan ini merupakan bentuk pengabdian mahasiswa kepada masyarakat sekaligus pelaksanaan tridarma perguruan tinggi, khususnya pada darma ketiga yaitu pengabdian kepada masyarakat,” tegas Pudjiati.

Ia menekankan empat pesan utama kepada seluruh mahasiswa: menjaga nama baik diri dan almamater Universitas Mulia, membangun komunikasi yang baik dengan masyarakat dan aparat kelurahan, menerapkan ilmu secara bijak sesuai potensi lokal, serta bekerja dengan hati karena pengabdian, menurutnya, lahir dari ketulusan.

Dr. Pudji juga menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Kota Balikpapan dan seluruh kelurahan mitra yang membuka ruang bagi mahasiswa untuk belajar langsung di tengah masyarakat. “Kami titip anak-anak kami untuk dibina dan diarahkan agar dapat melaksanakan kegiatannya selama satu bulan ke depan,” katanya.

Dalam sambutannya, Rektor Universitas Mulia Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Ahsin Rifai, M.Si., menggarisbawahi bahwa KKN bukan sekadar syarat akademik. Ia menegaskan, KKN harus menjembatani ilmu yang diperoleh di bangku kuliah dengan kondisi nyata di masyarakat.

Rektor Universitas Mulia, Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Ahsin Rifai, M.Si., memberikan sambutan sekaligus membuka secara resmi pelepasan KKN Angkatan ke-5 Tahun 2025.

“KKN ini bukan seremoni. Jangan hanya dianggap sebagai kewajiban akademik untuk menjadi sarjana. KKN adalah sarana agar ilmu yang didapatkan di kampus dapat dimanfaatkan oleh masyarakat,” tegasnya di hadapan para camat, lurah, dosen pembimbing, dan mahasiswa.

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Ahsin juga menyampaikan arah kebijakan Kementerian Pendidikan Tinggi Saintek yang kini menekankan KKN Berdampak. Program tridarma perguruan tinggi, menurutnya, tidak boleh berhenti pada proses, tetapi harus memberikan dampak konkret.

Rektor Universitas Mulia, Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Ahsin Rifai, M.Si., menyerahkan berita acara pelepasan KKN kepada perwakilan 21 lurah mitra sebagai simbol sinergi perguruan tinggi dan pemerintah kelurahan.

Rektor mencontohkan program Kosa Bangsa yang didanai pemerintah sebesar 300 juta rupiah, yang mewajibkan dosen berkolaborasi dengan kelurahan sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa atau Kelurahan (RPJMDes). Ia membuka peluang kerja sama dengan kelurahan untuk mendukung program tersebut. “Dosen kami punya dana sendiri sebesar 300 juta per wilayah. Silakan nanti kita bicara, RPJMDes atau kelurahan mau ke mana, kita akan sesuaikan,” katanya.

Foto bersama Rektor Universitas Mulia, para camat dan lurah mitra dari 21 kelurahan se-Kota Balikpapan, serta jajaran pimpinan Universitas Mulia usai seremoni pelepasan KKN.

Untuk para mahasiswa, Rektor kembali mengingatkan agar model KKN tidak lagi terpaku pada kegiatan rutin tanpa keberlanjutan. Ia menolak pola KKN lama seperti membuat batas desa, peta, atau nama jalan semata. “Model KKN sekarang, mahasiswa harus turun ke lapangan, menyerap aspirasi, menyusun program yang benar-benar dibutuhkan masyarakat dan memberikan dampak berkelanjutan,” tegasnya.

Para tamu undangan yang terdiri dari camat, lurah, pimpinan Universitas Mulia, dosen pembimbing, tenaga kependidikan, dan mahasiswa peserta KKN berdiri khidmat menyanyikan Lagu Indonesia Raya dan Hymne Balikpapan.

Rektor juga mengajak seluruh dosen pembimbing lapangan dan mahasiswa agar memastikan program KKN terhubung dengan kebutuhan nyata pembangunan di tiap kelurahan. “Belajar di masyarakat adalah kesempatan berharga. Bangun komunikasi, kolaborasi, dan inovasi yang benar-benar bisa memperbaiki persoalan mendasar di lokasi KKN,” ujarnya.

Suasana pelepasan mahasiswa KKN Angkatan ke-5 Tahun 2025 Universitas Mulia bersama tamu undangan yang turut mendukung pengabdian nyata di tengah masyarakat.

Sebagai penutup, pelepasan mahasiswa ditandai dengan penyerahan berita acara kepada 21 lurah mitra, di antaranya Lurah Sumber Rejo, Gunung Sari Ilir, Kariangau, Gunung Samarinda Baru, Baru Ilir, Baru Ulu, Karang Rejo, Telagasari, Klandasan Ilir, Sepinggan Baru, Manggar, Manggar Baru, Karang Joang, Graha Indah, Batu Ampar, Lamaru, Margo Mulyo, Tritip, Sepinggan Raya, Sungai Nangka, dan Sepinggan. Mahasiswa dijadwalkan akan melaksanakan KKN mulai 22 Juli hingga 25 Agustus 2025.

Humas UM (YMN)

Foto Ilustrasi. Sumber: chatGPT

UM – Lembaga Pengembangan, Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) terus mendorong Universitas Mulia sebagai Global Technopreneur Campus, dengan mengumumkan 55 proposal penelitian dan pengabdian masyarakat yang berhasil lolos seleksi pendanaan internal DIPA tahun 2025.

Pengumuman yang tertuang dalam Surat No. 127/Int-UM/LPPM/VII/2025, tanggal 17 Juli 2025 ini bukan sekadar daftar penerima, melainkan peta jalan inovasi yang akan dijalankan oleh para dosen.

Melalui pendanaan ini, Universitas Mulia secara nyata memberdayakan para akademisinya untuk mewujudkan gagasannya menjadi karya inovasi yang berdampak.

Dari total 36 judul penelitian dan 19 program pengabdian, terlihat jelas fokus universitas pada topik-topik mutakhir yang relevan dengan tantangan global dan kebutuhan lokal.

Dari Keamanan Siber hingga Bahasa Isyarat Berbasis AI

Analisis mendalam terhadap judul-judul yang didanai menunjukkan betapa Universitas Mulia mendorong riset yang memiliki kebaruan dan potensi kontribusi internasional. Beberapa judul bahkan secara eksplisit ditargetkan untuk menembus jurnal internasional bereputasi tinggi yang terindeks Scopus.

Di antara riset unggulan tersebut, terdapat penelitian di bidang teknologi yang sangat menjanjikan, seperti:

  • A Proactive ARP Spoofing Detection Model using Machine Learning” yang berfokus pada keamanan siber.
  • Empowering Educators in the AI Era” yang mengkaji pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam skala besar untuk pelatihan guru.
  • Penelitian dengan potensi kebaruan, yaitu “Indonesian Sign Language (BISINDO) Recognition based on Deep Learning“, yang menggunakan teknologi AI untuk mengembangkan pengenalan bahasa isyarat Indonesia.

Riset-riset ini tidak hanya mengedukasi publik tentang kemajuan teknologi, tetapi juga memberikan pencerahan bahwa solusi dari kampus di Balikpapan mampu berkontribusi dan berdampak kepada masyarakat..

Mendorong Kultur Riset

Pendanaan ini dirancang untuk memperkaya khazanah ilmu pengetahuan melalui luaran wajib yang ditetapkan, mulai dari diseminasi dan publikasi di jurnal terindeks SINTA hingga Scopus serta pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Langkah ini diharapkan akan meningkatkan reputasi akademik universitas dan para penelitinya..

Lebih dari itu, hibah ini diharapkan menjadi motivasi kuat bagi seluruh sivitas akademika. Mahasiswa diajak untuk terlibat sebagai anggota. Ini adalah pesan bahwa institusi berkomitmen penuh mendukung penelitian dan pengabdian yang berkualitas.

Pada program pengabdian kepada masyarakat, seperti “Pelatihan Peningkatan Daya Saing UMKM Melalui Media Sosial“, “Pemberdayaan Orang Tua dalam Mendukung Anak Berkebutuhan Khusus“, dan “Transformasi Pembelajaran Berbasis AI bagi Guru Sekolah” menunjukkan komitmen universitas untuk tidak hanya berada di menara gading, tetapi juga turun langsung memberdayakan dan memperkaya kehidupan masyarakat sekitar.

Sementara itu, Sekretaris LPPM, Henny Okta Piyani, S.E., M.Ak, dalam surat tersebut menyampaikan bahwa tahapan selanjutnya bagi para penerima hibah adalah penandatanganan kontrak dan pelaksanaan kegiatan sesuai jadwal.

“Kami usahakan secepatnya untuk tahapan tanda tangan kontrak,” ujarnya.

Henny mengingatkan agar para penerima hibah melaksanakan kegiatan sesuai jadwal pelaksanaan LPPM tahun 2025. Ia berharap, para penerima hibah tertib menyampaikan laporan kemajuan dan laporan akhir tepat waktu.

Dengan dukungan penuh ini, Universitas Mulia tidak hanya mencetak lulusan, tetapi juga menjadi inkubator ide dan solusi yang relevan, berdampak, dan mampu menjawab tantangan zaman.

(SA/Kontributor)

Foto bersama seluruh peserta dan pengajar usai pembukaan. Baris depan dari kanan, Wakil Rektor Wisnu Hera Pamungkas, asesor LSP TD Istia Budi, Perwakilan BPSDM Komdigi Banjarmasin Syarifuddin, asesor LSP TD Dedi Priansyah, dan Dekan Fakultas Ilmu Komputer Djumhadi. Foto: Media Kreatif

UM – Sejumlah mahasiswa Universitas Mulia berhasil membuktikan kompetensinya dengan meraih sertifikasi profesi Junior Cyber Security dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

Pencapaian ini diraih setelah mereka mengikuti Uji Kompetensi yang digelar di Laboratorium Fakultas Ilmu Komputer UM pada Kamis (17/7) dan Jumat (18/7), sebagai pelaksanaan dari program Vocational School Graduate Academy (VSGA) Digital Talent Scholarship.

Sertifikasi ini merupakan hasil kerjasama strategis antara Universitas Mulia dengan Balai Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Komunikasi dan Digital (Komdigi) Banjarmasin.

Program ini dirancang khusus untuk membekali mahasiswa dengan keahlian praktis yang relevan dengan kebutuhan industri digital saat ini, terutama di bidang keamanan siber yang permintaannya terus meningkat.

Dekan Fakultas Ilmu Komputer, Djumhadi, S.T., M.Kom., menegaskan bahwa kegiatan sertifikasi ini bukan program insidental, melainkan bagian integral dari kurikulum. Hal ini menjadi komitmen Universitas Mulia memastikan setiap lulusan tidak hanya membawa ijazah, tetapi juga sertifikat keahlian yang diakui secara nasional.

“Ini adalah wujud dari pemberdayaan bagi mahasiswa kami. Kami mendorong agar setiap mata kuliah yang memiliki skema sertifikasi BNSP, seperti Junior Cyber Security ini, diakhiri dengan uji kompetensi. Jadi, lulus dari mata kuliah, mahasiswa langsung punya bekal sertifikasi untuk masuk dunia kerja,” ujar Djumhadi.

Asesor LSP Teknologi Digital Istia Budi foto bersama sebelum pelaksanaan sertifikasi. Foto: Media Kreatif

Asesor LSP Teknologi Digital Istia Budi foto bersama sebelum pelaksanaan sertifikasi. Foto: Media Kreatif

Pelaksanaan sertifikasi skema Keamanan Siber Muda. Foto: Media Kreatif.

Pelaksanaan sertifikasi skema Keamanan Siber Muda. Foto: Media Kreatif.

Peserta sertifikasi kompetensi skema Keamanan Siber Muda (Junior Cuber Security) berfoto bersama pengajar, asesor, dan panitia dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Mulia, Jumat (18/7/2025). Foto: Istimewa

Peserta sertifikasi kompetensi skema Keamanan Siber Muda (Junior Cuber Security) berfoto bersama pengajar, asesor, dan panitia dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Mulia, Jumat (18/7/2025). Foto: Istimewa

Proses Selektif Hasilkan Talenta Kompeten

Proses seleksi dan pelatihan berjalan ketat. Agus Wijayanto, S.Kom., M.Kom., selaku pengajar dan tuan rumah acara, menjelaskan bahwa dari kuota 30 kursi yang tersedia, sebanyak 27 orang mendaftar.

Setelah melalui proses pelatihan, lanjut Agus, 21 orang mengikuti uji sertifikasi, dan 17 diantaranya dinyatakan kompeten, empat orang tidak hadir.

“Angka ini menunjukkan bahwa prosesnya tidak mudah, namun mahasiswa kami mampu membuktikan kualitasnya. Ini adalah bentuk pengayaan skill di luar perkuliahan reguler,” jelas Agus.

Sertifikasi dilaksanakan langsung oleh Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Teknologi Digital yang berlisensi BNSP.

Salah satu asesor, Istia Budi, S.T., M.M., yang juga merupakan dosen Universitas Mulia, menyatakan kebanggaannya.

“Secara umum, mahasiswa memiliki kompetensi Junior Cyber Security. Namun, masih banyak PR buat kampus dan mahasiswa untuk lebih percaya diri terhadap skills yang dimiliki serta banyak meng-explore kemampuannya,” katanya.

Istia Budi berharap, kampus lebih banyak menggelar kegiatan Cyber Security untuk meningkatkan minat mahasiswa. “Sebab, kebutuhan Dunia Industri lumayan tinggi,” tambahnya.

Mengenal Peluang di Balik Sertifikasi Junior Cyber Security

Program ini tidak hanya memberikan sertifikat, tetapi juga membuka wawasan dan peluang karir yang luas. Berikut adalah detail program yang bisa menjadi pertimbangan untuk mengikuti sertifikasi skema ini.

Apa itu Junior Cyber Security?

Seorang Junior Cyber Security bertugas membantu melindungi sistem komputer, jaringan, dan data sebuah organisasi dari ancaman siber. Mereka adalah garda terdepan dalam mendeteksi dan mengelola serangan digital.

Kompetensi utama yang diuji antara lain menerapkan prinsip perlindungan dan keamanan informasi, mengelola log keamanan dan menerapkan kontrol akses, dan mengaplikasikan keamanan pada transaksi elektronik dan penggunaan internet.

Prospek karir lulusan dengan sertifikasi ini memiliki peluang besar untuk berkarir sebagai Cyber Security Administrator, Cyber Risk Specialist, Cyber Security Manager, bahkan hingga posisi strategis seperti Chief Information Officer (CIO).

Kegiatan ini menegaskan posisi Universitas Mulia sebagai institusi yang proaktif dalam menjembatani dunia akademik dengan kebutuhan industri. Dengan membekali mahasiswa sertifikasi profesi, Universitas Mulia berkomitmen mencetak lulusan yang kompeten, berdaya saing tinggi, dan siap kerja.

(SA/Kontributor)

Humas Universitas Mulia, 18 Juli 2025— Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Balikpapan (STIEPAN) dan Universitas Mulia resmi mengikat kesepakatan kerjasama melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) di gedung White Campus Universitas Mulia, Jumat, 18 Juli 2025. Kedua perguruan tinggi berkomitmen memperkuat implementasi Tridarma melalui program pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat.

Rektor Universitas Mulia Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si. dan Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Balikpapan (STIEPAN) Prof. Dr. Suhartono, S.E., M.M. saat menandatangani dokumen Nota Kesepahaman (MoU) di Gedung White Campus Universitas Mulia, Jumat (18/7).

Ketua STIEPAN, Prof. Dr. Suhartono, S.E., M.M., menegaskan bahwa kemitraan ini tidak hanya berhenti di level formalitas, melainkan akan diwujudkan melalui kolaborasi nyata di ketiga ranah Tridarma.

“Kami menargetkan kerjasama ini menjangkau aspek pendidikan dan pengajaran, pengabdian kepada masyarakat, hingga penelitian. Dalam pelaksanaannya, kami akan menjajaki peluang pertukaran informasi, potensi, dan program yang memungkinkan untuk dikerjasamakan. Kami menaruh harapan besar pada Universitas Mulia, sebagai institusi yang memiliki pengembangan keilmuan lebih luas, agar dapat menjadi mitra strategis dalam memperluas kapasitas civitas akademika kami, khususnya dalam mendukung implementasi Tridarma secara optimal,” jelas Prof. Suhartono.

Ia menekankan bahwa program prioritas akan dirumuskan secara teknis bersama agar kesepakatan ini segera berlanjut ke tahap implementasi.

Rektor UM Prof. Ahsin dan Ketua STIEPAN Prof. Suhartono bertukar dokumen MoU. Tampak mendampingi, Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Universitas Mulia Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I. (kiri) dan Wakil Ketua III Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama STIEPAN Fitrahnanda Ayubadiah, S.S., M.A. (kanan).

“Terkait program mana yang akan diprioritaskan, tentu akan dibahas lebih mendalam melalui diskusi bersama. Prinsipnya, kami ingin memastikan bahwa kerjasama ini tidak semata simbolis, melainkan harus terwujud dalam langkah nyata. Esensi kerjasama harus saling menguntungkan dan bersifat mutualistik. Karena itu, kami berharap STIEPAN dapat memperoleh pendampingan dan penguatan keilmuan di berbagai bidang yang telah dikembangkan oleh Universitas Mulia,” imbuhnya.

Rektor Universitas Mulia Prof. Ahsin menyambut hangat kedatangan rombongan pimpinan STIEPAN di Ruang Rapat Rektorat Universitas Mulia.

Dirancang Sejak Lama

Rektor Universitas Mulia, Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si., menyebut kesepakatan ini telah melalui proses persiapan panjang sebelum akhirnya terealisasi.

“Inisiasi MoU ini sebenarnya telah lama direncanakan. Namun, baru sekarang dapat difinalisasi. Kami sadar, perguruan tinggi swasta, apalagi di daerah, perlu membangun sinergi untuk memperkuat posisi bersama. Apalagi dengan masuknya kampus-kampus besar dari luar Kalimantan Timur,  kita dituntut untuk berbagi keunggulan agar dapat dikolaborasikan secara nyata,” terang Prof. Ahsin.

Ketua STIEPAN Prof. Suhartono (tengah) bersama Wakil Ketua II Bidang Keuangan Rudy Padjut Harianto, S.S., M.Si. (kiri) dan Wakil Ketua III Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama Fitrahnanda Ayubadiah, S.S., M.A. (kanan) di sela rangkaian penandatanganan MoU.

Pertukaran Dosen dan Kurikulum Terintegrasi Sertifikasi

Salah satu bentuk tindak lanjut yang dinilai paling realistis ialah program pertukaran dosen. Dosen-dosen yang berpengalaman di bidang pengajaran dan riset akan dilibatkan untuk berbagi wawasan praktis kepada mahasiswa kedua kampus.

“Pada ranah pendidikan, hal paling memungkinkan dilakukan segera adalah pertukaran tenaga pengajar yang memiliki rekam jejak baik dalam kolaborasi maupun riset. Pengalaman praktis ini diharapkan dapat dipetik langsung oleh mahasiswa. Selain itu, kami juga mendiskusikan pengembangan kurikulum yang lebih responsif. Salah satu opsi ialah mengintegrasikan materi sertifikasi kompetensi dari BNSP ke dalam kurikulum agar tidak hanya berhenti pada pola ajar konvensional,” paparnya.

Prof. Ahsin menambahkan, jika STIEPAN telah lebih dahulu merancang kerangka kurikulum serupa, Universitas Mulia juga siap untuk belajar bersama dan mengadopsi pengalaman tersebut.

Sinergi Penelitian dan Dukungan SDM

Di ranah penelitian, kedua kampus bersepakat untuk saling menopang kebutuhan sumber daya manusia. Proyek riset bersama juga dapat melibatkan kerjasama dengan pemerintah daerah maupun mitra industri.

“Kami optimis dapat saling melengkapi. Jika di STIEPAN terdapat proyek riset atau kerjasama dengan pemerintah daerah dan mitra industri, namun terkendala SDM karena keterbatasan program studi, maka kami siap mendukung. Sebaliknya, Universitas Mulia saat ini juga tengah mengembangkan kemitraan strategis dengan pemerintah daerah maupun sektor industri, dan pada titik tertentu kami juga bisa membutuhkan dukungan tenaga ahli atau dosen dari STIEPAN,” jelas Rektor UM.

Implementasi Program Mahasiswa

Wakil Ketua III Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama STIEPAN, Fitrahnanda Ayubadiah, S.S., M.A., menjelaskan bahwa realisasi kerjasama di ranah kegiatan kemahasiswaan sebenarnya telah berlangsung dalam berbagai kegiatan bersama, terutama pada penyelenggaraan seminar lintas kampus.

“Beberapa kegiatan bersama dengan Universitas Mulia sebenarnya sudah sering kami laksanakan, terutama yang terkait organisasi kemahasiswaan. Salah satunya berupa seminar yang mendatangkan narasumber dari kedua belah pihak. Selama ini kami banyak menggandeng dosen-dosen UM di bidang teknologi digital, sedangkan kami bergerak di bidang ekonomi. Dengan adanya MoU, pola kerjasama semacam ini akan semakin terarah dan terstruktur,” jelas Fitrahnanda.

Kolaborasi Multidisiplin

Menutup pernyataannya, Prof. Suhartono menekankan bahwa kolaborasi lintas disiplin menjadi salah satu instrumen penting untuk meningkatkan mutu pengajaran dan penelitian di era kebijakan Kampus Merdeka.

“Dalam upaya mendorong kolaborasi, banyak hal dapat dikerjakan bersama. Apalagi Universitas Mulia memiliki spektrum keilmuan multidisiplin. Saat ini, penelitian kolaboratif lintas bidang justru memiliki bobot tinggi untuk mendukung akreditasi perguruan tinggi. Begitu pula di ranah pengajaran, pertukaran dosen menjadi salah satu strategi yang relevan dengan kebijakan Kampus Merdeka. Fleksibilitas mendesain konten dan kurikulum membuka peluang besar untuk mewujudkan link and match. Ketersediaan dosen multidisiplin di UM menjadi peluang yang dapat kami sinergikan,” pungkasnya.

Humas UM (YMN)

“Ini kondisi istimewa karena para Kaprodi akan memimpin prodi baru yang harus dibangun dari awal. Sebagai dosen dengan jabatan struktural, mereka memikul tanggung jawab ganda untuk memimpin prodi sekaligus menjalankan tridarma. Dalam hal ini, Kaprodi saya anggap sebagai product manager: mengawal keilmuan tetap relevan, pembelajaran bermutu, dan prodi diminati masyarakat.”
Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I. Wakil Rektor II Bidang Sumber Daya Universitas Mulia

Para Kaprodi baru Universitas Mulia berdiri menyanyikan lagu kebangsaan pada seremonial pembukaan pembekalan perdana.

Humas Universitas Mulia, 18 Juli 2025 — Universitas Mulia resmi menyambut kehadiran empat Ketua Program Studi (Kaprodi) baru untuk program studi Teknik Sipil, Teknik Industri, Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian (TPHP), serta Desain Komunikasi Visual (DKV). Kehadiran Kaprodi baru ini menjadi fase penting bagi Universitas Mulia yang tengah memperluas portofolio keilmuan di bidang teknik dan kreatif.

“Selamat datang untuk para Ketua Program Studi Baru di Universitas Mulia: KaProdi Teknik Sipil, Teknik Industri, TPHP, dan DKV. Ini adalah sebuah kondisi yang istimewa. Karena para KaProdi akan memimpin sebuah program studi yang baru berdiri,” ujar Wakil Rektor II Bidang Sumber Daya, Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I.

Wibisono menekankan, tanggung jawab memimpin prodi baru memiliki tantangan tersendiri. Tidak sekadar melanjutkan program kerja yang sudah mapan, tetapi memulai berbagai strategi dasar dari titik awal. Namun demikian, sejumlah praktik baik dari prodi lain di Universitas Mulia tetap dapat dijadikan acuan penyesuaian.

Suasana pembukaan pembekalan empat Kaprodi baru Universitas Mulia bersama jajaran pimpinan universitas dan Direktur Eksekutif BPH Yayasan Airlangga.

“Tentu ada banyak tantangan yang harus dihadapi, sebab ini tidak sekedar melanjutkan strategi atau program kerja yang sudah ada, tetapi harus memulai dari awal. Namun tentu saja beberapa hal dapat dilihat atau disesuaikan dari program studi lain yang ada di Universitas Mulia,” jelasnya.

Dalam struktur organisasi akademik, seorang Kaprodi tidak hanya bertanggung jawab secara administratif, tetapi juga tetap memegang peran sebagai dosen dengan kewajiban menjalankan tridarma perguruan tinggi.

“Menjadi dosen yang memegang jabatan struktural berarti akan mengemban dua tanggung jawab. Pertama, tanggung jawab sebagai pimpinan program studi. Kedua sebagai dosen, juga terikat tanggung jawab untuk melaksanakan tridarma yaitu pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat,” tegas Wibisono.

Keselarasan antara dua peran ini menjadi fokus. Kaprodi diharapkan mampu menjaga keseimbangan fungsi kepemimpinan dengan kewajiban akademik, sekaligus mendorong seluruh dosen di prodi masing-masing menjalankan tridarma dengan kualitas optimal. “Tantangan utama adalah bagaimana bisa menyelaraskan dua hal tersebut agar dapat berjalan secara selaras. Sebagai Kaprodi juga harus mendorong agar semua dosen di prodi tersebut dapat melaksanakan tanggung tridarma dengan baik,” ujarnya.

Wibisono memandang Kaprodi layaknya seorang product manager. Produk yang dikelola adalah program studi itu sendiri. Dalam posisi ini, Kaprodi memikul tiga tanggung jawab utama. Pertama, memastikan keilmuan yang dikembangkan melalui kurikulum selalu mengikuti perkembangan metodologi dan teknologi terkini, khususnya karena keempat prodi baru berkarakter teknik yang dinamis.

“Memastikan bahwa keilmuan yang dikembangkan di Prodi, yang dituangkan ke dalam kurikulum, selalu up to date dengan perkembangan metodologi dan teknologi di Prodi tersebut. Aspek metodologi dan teknologi ini penting, mengingat 4 prodi baru ini adalah prodi yang berbasis teknik yang erat kaitannya dengan perkembangan metodologi dan teknologi,” papar Wibisono.

Direktur Eksekutif BPH Yayasan Airlangga, Dr. Agung Sakti Pribadi, S.H., M.H. menyerahkan Surat Keputusan Kaprodi Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian.

Tanggung jawab kedua terletak pada mutu pelaksanaan pembelajaran, yang harus selaras dengan kebutuhan industri agar lulusan benar-benar relevan dengan medan kerja. Ketiga, prodi harus diterima dan diminati masyarakat. Popularitas dan minat pendaftar mencerminkan bagaimana prodi bersaing dengan program serupa di perguruan tinggi lain. “Memastikan bahwa Prodi tersebut diterima dan disukai oleh masyarakat. Ini tentu tercermin dari antusias mahasiswa yang mendaftar. Ketika Prodi tersebut juga ada di perguruan tinggi lain, maka sebagai wujud tanggung jawab product manager, harus mampu membuatnya lebih menarik dibanding prodi sejenis di tempat lain,” pungkasnya.

Dengan penekanan pada fungsi Kaprodi sebagai product manager, Universitas Mulia menegaskan tanggung jawab kepemimpinan prodi baru tidak berhenti pada urusan administrasi. Tugas Kaprodi terletak pada bagaimana program studi dikelola secara relevan, adaptif, dan memiliki daya tarik tersendiri di mata publik.

Humas UM (YMN)

“Pembekalan ini bukan hanya soal administrasi. Para Kaprodi harus memahami peran strategis mereka sebagai penggerak peningkatan mutu tridarma secara berkelanjutan. Karena itu, kami menyiapkan strategi pendampingan empat pilar: adaptasi budaya akademik, literasi regulasi, manajemen mutu, dan koordinasi lintas unit serta mitra industri.”
Wisnu Hera Pamungkas, Wakil Rektor I Bidang Akademik Universitas Mulia

 

Humas Universitas Mulia, 18 Juli 2025 — Universitas Mulia menggelar pembekalan bagi para Ketua Program Studi (Kaprodi) baru dari empat prodi yang resmi dibuka tahun ini, yaitu Teknik Sipil, Teknik Industri, Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian (TPHP), serta Desain Komunikasi Visual (DKV). Agenda ini diarahkan untuk mempersiapkan para Kaprodi memahami peran strategis mereka dalam menggerakkan tridarma perguruan tinggi sejak masa perintisan.

Wakil Rektor I Bidang Akademik, Wisnu Hera Pamungkas, , S.T.P., M.Eng. menyerahkan Surat Keputusan (SK) Kaprodi Desain Komunikasi Visual sebagai simbol dimulainya tanggung jawab akademik prodi baru.

“Pembekalan hari ini difokuskan untuk membekali para Kaprodi baru dengan pemahaman menyeluruh terkait peran strategis mereka sebagai pemimpin program studi, khususnya dalam konteks pelaksanaan tridarma perguruan tinggi,” jelas Wakil Rektor I Bidang Akademik Universitas Mulia, Wisnu Hera Pamungkas, S.T.P., M.Eng.

Materi disusun secara berlapis, meliputi aspek akademik, tata kelola kelembagaan, kemahasiswaan, hingga penguasaan sistem informasi yang mendukung manajemen prodi dan aktivitas pengajaran dosen. Wisnu menekankan, peran Kaprodi tidak berhenti pada tugas administratif. “Harapannya, para Kaprodi tidak hanya memahami tugas administratif, tetapi juga mampu menjadi penggerak utama dalam meningkatkan kualitas tridarma secara berkelanjutan,” ujarnya.

Empat Kaprodi baru Universitas Mulia menyimak materi pembekalan yang difokuskan pada penguatan peran strategis dalam pelaksanaan tridarma perguruan tinggi.

Untuk mendampingi para Kaprodi baru dalam merancang kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE) maupun Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), bidang akademik merumuskan strategi empat pilar. Pilar pertama adalah pembiasaan pada budaya akademik kampus agar visi prodi selaras dengan arah universitas. Pilar kedua mencakup penguatan literasi kebijakan akademik pada level nasional dan internal. Pilar ketiga menekankan pembekalan manajemen administrasi dan penjaminan mutu. Sementara pilar keempat mendorong koordinasi lintas unit, termasuk dengan Lembaga Penjaminan Mutu (LPM), Biro Administrasi Akademik dan Kemahasiswaan (BAAK), hingga mitra industri.

“Kami telah menyiapkan strategi pendampingan berbasis empat pilar utama,” terang Wisnu. “Pertama, penanaman pemahaman dan adaptasi terhadap budaya akademik kampus, agar kaprodi dapat menyelaraskan visi prodi dengan arah institusi. Kedua, penguatan literasi terhadap kebijakan dan regulasi akademik, baik yang bersifat nasional maupun internal kampus. Ketiga, pembekalan manajemen administrasi dan penjaminan mutu akademik sebagai fondasi utama tata kelola. Dan keempat, fasilitasi koordinasi dengan para pemangku kepentingan seperti LPM, BAAK, hingga mitra industri, guna memastikan kurikulum OBE dan MBKM dapat diimplementasikan dengan efektif dan kontekstual sesuai kebutuhan zaman.”

Dari sisi akreditasi, Wisnu menjelaskan penjaminan mutu dilakukan sejak tahap awal. Saat ini, dua prodi baru — Teknik Sipil dan Teknik Industri — telah mengantongi akreditasi dari LAM Teknik, sedangkan TPHP dan DKV masih dalam tahap pengajuan ke BAN-PT. “Penjaminan mutu sejak awal menjadi prioritas penting, karena berkaitan langsung dengan arah capaian akreditasi,” ungkapnya. Ia menambahkan, dokumen akademik dan pelaksanaan tridarma pada tiap prodi disusun menyesuaikan standar akreditasi sejak pendirian.

Indikator keberhasilan prodi baru, menurut Wisnu, terletak pada seberapa jauh kepercayaan publik berhasil dibangun di tiga tahun pertama. “Indikator utama keberhasilan program studi baru dalam jangka pendek adalah sejauh mana prodi mampu membangun kepercayaan publik,” tegasnya. Ia menyadari keterbatasan rekam jejak kerap memengaruhi jumlah mahasiswa pada tahun pertama. Namun demikian, eksistensi prodi harus diupayakan melalui forum-forum eksternal, lomba, seminar, maupun kemitraan.

Dari ruang monitoring, pola evaluasi tidak hanya bergantung pada mekanisme formal audit mutu. “Secara umum, monitoring dan evaluasi dilaksanakan melalui Lembaga Penjaminan Mutu dan Pengembangan Pendidikan (LPMPP), dengan instrumen utama berupa Audit Mutu Internal (AMI) setiap semester dan penelaahan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) program kerja tahunan,” terang Wisnu. Untuk keempat prodi baru ini, pola monev dibuat lebih intensif. Diskusi rutin, koordinasi informal, dan pendampingan teknis menjadi saluran untuk membaca hambatan sejak dini, terutama pada aspek inovasi pembelajaran dan adaptasi teknologi digital.

Di tengah dinamika ini, para Kaprodi baru dituntut tidak hanya membaca dokumen rencana, tetapi aktif memastikan bahwa tridarma, penjaminan mutu, kurikulum OBE-MBKM, serta pembaruan digital berjalan pada jalur yang kontekstual dengan kebutuhan pendidikan tinggi hari ini.

Humas UM (YMN)

Humas Universitas Mulia, 18 Juli 2025 Sejak pagi, ratusan mahasiswa baru Universitas Mulia (UM) memenuhi Ballroom Cheng Hoo, Jumat (18/7). Di antara wajah-wajah baru itu, ada harapan dan gugup yang berbaur dengan keingintahuan. Mereka datang bukan sekadar untuk mendengar sosialisasi, tetapi juga untuk memastikan satu langkah penting: mengamankan subsidi biaya kuliah melalui skema Gratis Pol.

Sebanyak 200 mahasiswa resmi tercatat sebagai peserta batch kedua pendampingan pengisian formulir Gratis Pol. Mereka mengikuti jejak batch pertama yang telah rampung beberapa waktu lalu dengan jumlah peserta serupa. Gelombang ketiga pun telah dijadwalkan, juga menargetkan 200 orang.

“Acara hari ini pada dasarnya mencakup dua hal. Pertama, sosialisasi mengenai program Gratis Pol, dan kedua, pendampingan pengisian formulir bagi mahasiswa yang sudah resmi diterima di Universitas Mulia,” ujar Rektor UM, Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Ahsin Rifai, M.Si., di sela kegiatan.

Skema Gratis Pol menjadi salah satu penopang penting bagi mahasiswa UM. Berbeda dengan beasiswa full, Gratis Pol berfokus pada subsidi Uang Kuliah Tunggal (UKT) selama delapan semester. Di luar farmasi dan kedokteran, setiap mahasiswa berhak memperoleh subsidi hingga Rp5 juta per semester.

“Istilah Gratis Pol memang berbeda dengan Gratis Full. Kalau Gratis Full berarti seluruh komponen biaya kuliah — mulai SPP, biaya hidup (living cost), buku, hingga penelitian — semuanya ditanggung. Sedangkan Pol berarti semaksimal mungkin, dengan fokus pada subsidi UKT,” jelas Prof. Ahsin.

Namun subsidi ini tidak serta-merta turun tanpa prosedur administratif. Formulir daring yang harus diisi menjadi dokumen dasar bagi tim verifikator Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur. Syarat mutlaknya: mahasiswa harus berstatus resmi dengan Nomor Induk Mahasiswa (NIM).

“Tim Gratis Pol di Kalimantan Timur mewajibkan mahasiswa untuk mengisi formulir dengan syarat sudah memiliki NIM. Alhamdulillah, bagian akademik telah melakukan seleksi sehingga mereka dinyatakan lulus dan memiliki NIM. Karena itu, hari ini mereka dibimbing untuk mengisi formulir secara daring,” sambung Prof. Ahsin.

Di antara deretan bangku, beberapa mahasiswa tampak berkutat di gawai masing-masing, dibantu tim pendamping. Suara tanya-jawab terdengar pelan. Bagi sebagian dari mereka, inilah kali pertama benar-benar memahami syarat administratif yang menentukan kelancaran studi delapan semester ke depan.

Sembari pengisian berlangsung, Prof. Ahsin pun menegaskan peran baru mereka. Meskipun Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) resmi baru digelar Agustus mendatang, mahasiswa penerima subsidi ini sudah menyandang status mahasiswa baru UM.

Karena sudah memiliki NIM, status mereka kini resmi sebagai mahasiswa. Jadi meskipun penerimaan formal melalui PKKMB baru dilaksanakan nanti, hari ini mereka tetap kita sambut. Mereka ini akan menjadi duta-duta Universitas Mulia, yang tugasnya bukan hanya belajar, tetapi juga membawa nama baik kampus agar semakin dikenal di masyarakat,” ujar Rektor.

Tak sedikit mahasiswa yang datang bersama orang tua. Beberapa orang tua memilih menunggu di lorong ballroom, memegang map berisi dokumen. Bagi keluarga, skema Gratis Pol menjadi peluang konkret meringankan beban biaya kuliah — namun sekaligus pengingat bahwa tanggung jawab administratif tetap harus dituntaskan dengan teliti.

“Mereka harus segera menyelesaikan pengisian formulir agar prosesnya bisa dirampungkan. Dari situ, tim verifikator provinsi akan memastikan mereka benar-benar disahkan sebagai penerima beasiswa,” tutup Prof. Ahsin.

Gelombang ketiga sudah menanti. Dengan skema Gratis Pol, Universitas Mulia berharap mahasiswa baru bukan sekadar penerima beasiswa, tetapi juga generasi yang sanggup memperluas jangkauan reputasi kampus di mata publik.

Humas UM (YMN)