“Melalui MKWK, Universitas Mulia berkesempatan merumuskan model pembelajaran dan pengabdian berbasis proyek yang menitikberatkan pada internalisasi nilai kebangsaan, penyelesaian konflik sosial, penguatan moderasi beragama, serta pengembangan inovasi sosial yang didukung teknologi. Langkah ini diharapkan menjadi kontribusi konkret dalam membangun ekosistem masyarakat Ibu Kota Nusantara yang inklusif, menjunjung toleransi, dan memiliki daya saing sosial,”—Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifai, M.Si. (Rektor Universitas Mulia)

Humas Universitas Mulia, 25 Juli 2025— Di tengah dominasi kampus-kampus besar di Jawa, Universitas Mulia menegaskan eksistensinya sebagai satu-satunya wakil Kalimantan yang lolos hibah Program Pengembangan Model Pembelajaran Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) 2025. Program di bawah Direktorat Pendidikan Tinggi ini menjadi pintu strategis untuk membumikan nilai kebangsaan, toleransi, dan keberagaman lewat pendekatan berbasis proyek.

“Ini bukan sekadar pengakuan, tetapi momentum penting untuk memperkuat reputasi UM sebagai kampus technopreneur yang tidak hanya unggul dalam inovasi dan teknologi, tetapi juga berkomitmen terhadap nilai-nilai kebangsaan, moderasi, dan keberagaman,” tegas Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si., Rektor Universitas Mulia.

Bagi Prof Ahsin, keterlibatan ini menjadi peluang membuka kolaborasi akademik lintas wilayah. Baginya, pengakuan ini harus terhubung dengan agenda jangka panjang: Indonesia Emas 2045. “Keterlibatan ini membuka peluang kolaborasi nasional, memperluas jejaring akademik lintas wilayah, serta menjadi pijakan penting dalam arah pengembangan UM menuju perguruan tinggi unggul yang relevan dengan agenda Indonesia Emas 2045,” ujarnya.

Program MKWK, yang kerap dipandang sekadar kewajiban administrasi, menurutnya harus menembus sekat formalitas. Integrasi ke dokumen resmi seperti RPS dan kalender akademik, pembentukan komunitas dosen pengampu, evaluasi berkelanjutan, hingga pameran hasil proyek menjadi cara Universitas Mulia memastikan MKWK benar-benar hidup di kelas dan lapangan.

“Universitas Mulia perlu mengintegrasikannya ke dalam dokumen akademik resmi, melibatkan seluruh elemen kampus, membentuk komunitas dosen pengampu, serta menerapkan evaluasi berkelanjutan berbasis siklus Penetapan, Pelaksanaan, Evaluasi, Pengendalian, dan Peningkatan (PPEPP),” terangnya. Diseminasi proyek melalui pameran atau festival, sambungnya, adalah cara menjaga semangat mahasiswa agar tetap kritis pada persoalan sekitar.

Untuk memastikan napas program tidak padam di tahun berjalan, Prof Ahsin menegaskan pentingnya kebijakan insentif. Dosen mendapat pengakuan beban kerja dan poin jabatan. Mahasiswa berhak konversi SKS atau sertifikat. Baginya, tanpa dukungan regulasi konkret, program semacam ini hanya akan singgah sebentar lalu hilang arah.

Sebagai kampus technopreneur, Universitas Mulia memilih jalur berbeda. Inovasi teknologi ditautkan dengan tantangan sosial. “Inovasi teknologi harus membawa manfaat sosial dan menjawab tantangan bangsa. Mahasiswa didorong untuk menciptakan solusi yang berdampak bagi masyarakat lokal, menjunjung etika, keadaban digital, dan nilai Pancasila,” jelasnya.

Konsep ini akan dituangkan ke proyek-proyek berbasis masalah sosial, etika digital di kurikulum, hingga technopreneurship yang berpihak pada kepentingan publik, bukan sekadar bisnis.

Sebagai kampus di Balikpapan, penyangga utama Ibu Kota Nusantara, Universitas Mulia memanfaatkan posisi geografis dan kultural ini untuk ikut merawat keberagaman IKN yang multikultural. Baginya, MKWK bisa menjadi jalur awal Universitas Mulia terlibat aktif di ranah pendidikan nilai, resolusi konflik, moderasi beragama, hingga inovasi sosial di kawasan penyangga IKN.

“Melalui MKWK, UM dapat mengembangkan model pembelajaran dan pengabdian berbasis proyek yang fokus pada pendidikan nilai, resolusi konflik, moderasi beragama, serta inovasi sosial berbasis teknologi. Ini bisa menjadi kontribusi nyata dalam membangun ekosistem masyarakat IKN yang inklusif, toleran, dan berdaya,” pungkas Ahsin.

Bagi Universitas Mulia, jalur technopreneurship hanya akan lengkap bila memegang erat akar kebangsaan. Dan di tangan mahasiswa, gagasan itu dirancang untuk tidak sekadar selesai di meja kelas — tetapi menjejak nyata di Balikpapan dan Ibu Kota Nusantara.

Humas UM (YMN)

Himpunan Mahasiswa S1 Teknologi Informasi (HIMATI) Universitas Mulia membawa pengalaman belajar praktis ke lingkungan SMA Islam Terpadu (SMAIT) Al-Auliya Balikpapan, Selasa (23/7/2025). Foto: Istimewa

UM – Himpunan Mahasiswa S1 Teknologi Informasi (HIMATI) Universitas Mulia membawa pengalaman belajar praktis ke lingkungan SMA Islam Terpadu (SMAIT) Al-Auliya Balikpapan, Selasa (23/7/2025).

Melalui program HIMATI Goes to School, sebanyak 94 siswa kelas 12 tidak hanya belajar teori dasar jaringan komputer, tetapi juga mendapatkan keterampilan langsung merakit kabel UTP (Unshielded Twisted Pair), sebuah keahlian esensial di era digital.

Kegiatan ini dibuka oleh Ketua HIMATI, Aqilah Aulya, yang memberikan pencerahan mengenai dunia perkuliahan dan pentingnya organisasi mahasiswa.

Aqilah menggambarkan bahwa menjadi mahasiswa Teknologi Informasi (TI) bukan sekadar belajar di kelas, melainkan juga aktif berkontribusi dan mengasah soft skill.

“Kami ingin menunjukkan, dunia TI itu sangat aplikatif dan menyenangkan. Ini adalah kesempatan bagi adik-adik di SMA untuk melihat langsung apa yang akan mereka pelajari dan lakukan jika bergabung dengan kami di Universitas Mulia,” ujar Aqilah, memberikan motivasi kepada para siswa.

Memasuki sesi inti, mahasiswa Aljosa Maynardian dan Ghina Nur Madina mengambil alih panggung. Mereka mengedukasi para siswa tentang fondasi konektivitas internet, mulai dari fungsi switch dan router hingga perbedaan kabel straight-through dan crossover.

Suasana menjadi semakin hidup saat sesi praktik dimulai. Para siswa, yang dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil, dibimbing untuk menyusun, mengupas, dan melakukan crimping kabel UTP.

Salah seorang siswa, Fikri, mengaku sangat antusias. “Biasanya kami hanya tahu cara memakai internet. Hari ini kami jadi tahu bagaimana ‘resep’ di balik kabelnya. Ini pengalaman baru yang sangat bermanfaat,” tuturnya.

Pengalaman ini memberikan pemberdayaan kepada siswa, mengubah mereka dari sekadar pengguna pasif menjadi individu yang memahami teknologi secara lebih mendalam.

Kegiatan ini ditutup dengan kuis interaktif dan ice breaking yang tidak hanya menguji pemahaman, tetapi juga memberikan pengayaan materi yang telah disampaikan dalam suasana yang santai dan kompetitif.

Himpunan Mahasiswa S1 Teknologi Informasi (HIMATI) Universitas Mulia membawa pengalaman belajar praktis ke lingkungan SMA Islam Terpadu (SMAIT) Al-Auliya Balikpapan, Selasa (23/7/2025). Foto: Istimewa

Himpunan Mahasiswa S1 Teknologi Informasi (HIMATI) Universitas Mulia membawa pengalaman belajar praktis ke lingkungan SMA Islam Terpadu (SMAIT) Al-Auliya Balikpapan, Selasa (23/7/2025). Foto: Istimewa

Salah seorang mahasiswa memperkenalkan tools untuk memastikan kabel terpasang dengan benar. Foto: Istimewa

Salah seorang mahasiswa memperkenalkan tools untuk memastikan kabel terpasang dengan benar. Foto: Istimewa

Para siswa sedang praktek merakit kabel UTP (Unshielded Twisted Pair). Foto: Istimewa

Para siswa sedang praktek merakit kabel UTP (Unshielded Twisted Pair). Foto: Istimewa

Ketua HIMATI, Aqilah Aulya, yang memberikan pencerahan mengenai dunia perkuliahan dan pentingnya organisasi mahasiswa. Foto: Istimewa

Ketua HIMATI, Aqilah Aulya, yang memberikan pencerahan mengenai dunia perkuliahan dan pentingnya organisasi mahasiswa. Foto: Istimewa

Program Mahasiswa Berdampak (PM-BEM)

Jika dikaitkan dengan Panduan Mahasiswa Berdampak (PM-BEM) Kemdiktisaintek, kegiatan HIMATI Goes to School ini dapat dilihat sebagai embrio atau langkah awal yang sangat positif dan sejalan dengan semangat program tersebut.

Hal ini lantaran kegiatan ini merupakan inisiatif himpunan mahasiswa. Program ini digerakkan sepenuhnya oleh mahasiswa (HIMATI) yang berperan sebagai inisiator dan pelaksana, sesuai dengan esensi PM-BEM.

Kegiatan ini juga berbasis Ilmu Pengetahuan. Materi yang disampaikan (jaringan komputer) merupakan penerapan langsung dari ilmu yang dipelajari di program studi Teknologi Informasi.

Dan yang lebih penting adalah berdampak nyata. Memberikan keterampilan praktis (merakit kabel UTP) kepada siswa merupakan bentuk dampak yang terukur dan aplikatif.

Meskipun semangatnya sejalan, langkah awal atau embrio ini terus dikembangkan untuk memenuhi kriteria formal PM-BEM secara penuh. Beberapa poin perbedaannya adalah:

  1. Skala dan Durasi: PM-BEM adalah program terstruktur selama 6 bulan (160 JKEM), sementara HIMATI Goes to School merupakan kegiatan jangka pendek.
  2. Target Lokasi: PM-BEM memprioritaskan daerah 3T, wilayah kemiskinan ekstrem, atau rawan bencana. Kegiatan ini dilaksanakan di sekolah perkotaan.
  3. Inovasi dan Anggaran: PM-BEM menuntut penerapan teknologi hasil riset dosen dengan alokasi anggaran minimal 60% untuk inovasi berwujud. Kegiatan ini lebih fokus pada transfer pengetahuan dan skill dasar.

Secara keseluruhan, HIMATI Goes to School adalah wujud nyata dari pengabdian masyarakat yang inspiratif.

Lewat kegiatan ini, mahasiswa Teknologi Informasi Universitas Mulia tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan keinginan kuat untuk berbagi ilmu.

Bagi calon mahasiswa baru, ini adalah gambaran nyata bahwa kuliah di prodi TI Universitas Mulia membuka pintu untuk belajar, berkarya, dan memberikan dampak positif bagi masyarakat sejak dini.

(SA/Kontributor)

Oleh: Wisnu Hera Pamungkas, S.T.P., M.Eng.
Wakil Rektor Bidang Akademik & Sistem Informasi
Universitas Mulia

Universitas Mulia tercatat sebagai satu-satunya perguruan tinggi dari Kalimantan yang lolos dalam Program Bantuan Pengembangan Model Pembelajaran Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) Berbasis Proyek Tahun 2025. Dari 40 kampus se-Indonesia yang terpilih, sebagian besar memang berasal dari Pulau Jawa. Keikutsertaan Universitas Mulia menjadi penanda bahwa semangat penguatan nilai kebangsaan dapat tumbuh merata di semua wilayah, termasuk di Kalimantan.

Program ini digagas Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, sebagai salah satu upaya menanamkan nilai-nilai kebangsaan dengan pendekatan yang lebih hidup. MKWK—yang memuat Pendidikan Agama, Pancasila, Kewarganegaraan, dan Bahasa Indonesia—diarahkan untuk tidak sekadar menjadi ruang hafalan atau ceramah, melainkan menjadi ruang dialektik yang kontekstual, aktif, dan kolaboratif.

Dalam konteks Universitas Mulia, gagasan ini diterjemahkan melalui pendekatan Project-Based Learning yang terintegrasi dengan Outcome-Based Education (OBE) dan kerangka Design Thinking. Mahasiswa lintas program studi dirangsang untuk menelaah isu sosial dan kebangsaan di sekitar kampus, merumuskan masalah, lalu merancang solusi nyata melalui proyek bersama. Ruang lingkupnya pun dekat: Balikpapan dan kawasan penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN).

Pengalaman belajar seperti ini bukan hanya menghubungkan teori dengan praktik, tetapi juga menajamkan kepekaan mahasiswa. Toleransi, keberagaman, etika digital, hingga literasi publik tidak lagi berhenti di ruang kuliah. Mahasiswa dilibatkan langsung ke lapangan, mengamati, berdialog, menguji gagasan, hingga mengimplementasikan langkah kecil di tengah masyarakat.

Seyogianya, Mata Kuliah Wajib kurikulum (MKWK) ini menjadi ruang untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan secara kontekstual, bukan sekadar wacana. Penanaman nilai melalui tindakan nyata diharapkan dapat membekas lebih dalam dibanding hanya lewat ceramah. Semangat ini selaras dengan visi Universitas Mulia sebagai kampus technopreneur yang menekankan penguasaan teknologi sekaligus kebermanfaatan sosial.

Sebagai penanggung jawab program, saya memandang bahwa kepercayaan ini sekaligus menjadi tantangan. Kampus tidak boleh hanya berpuas diri sebagai “satu-satunya wakil Kalimantan” di antara 40 kampus. Justru di sinilah letak tanggung jawab kami untuk membuktikan bahwa pembelajaran karakter dan kebangsaan bisa tumbuh kuat di luar Jawa, tumbuh dari konteks lokal, dan menjawab persoalan riil masyarakat.

Mata kuliah kebangsaan harus menjadi ruang hidup. Mahasiswa perlu mengalami nilai, bukan hanya mendengar dan mencatat. Nilai-nilai kebangsaan tidak berhenti di buku, tetapi menjejak di tindakan.

Editor: Humas UM (YMN)

 

BALIKPAPAN – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Mulia Balikpapan menggelar Musyawarah Besar (Mubes) pada Senin-Selasa, 15-16 Juli 2025, di Ruang Eksekutif Universitas Mulia. Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh pengurus BEM, perwakilan mahasiswa dari berbagai fakultas, serta jajaran pimpinan universitas.

Mubes yang berlangsung 2 hari ini sejak pagi hingga malam hari mengangkat tema “Mewujudkan Regenerasi Progresif untuk Kepemimpinan Berkelanjutan yang Berintegritas dan Berdampak”. Agenda utama meliputi evaluasi program kerja periode sebelumnya, pembahasan rencana strategis organisasi, serta penetapan arah kebijakan kemahasiswaan untuk tahun akademik mendatang.


Dalam sambutannya, Ketua BEM Universitas Mulia Agung Widianto menyampaikan pentingnya regenerasi progresif dalam membangun kepemimpinan yang berintegritas. “Tema yang kami angkat mencerminkan komitmen kami untuk melahirkan pemimpin masa depan yang tidak hanya berkompeten, tetapi juga berintegritas tinggi dan mampu memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar,” ujarnya.
Riski Zulkarnain Kepala Bagian Kemahasiswaan dan Alumni Universitas Mulia yang turut hadir dalam acara tersebut menekankan pentingnya regenerasi progresif dalam organisasi kemahasiswaan. “Regenerasi progresif bukan hanya sekedar pergantian kepengurusan, tetapi transformasi menyeluruh dalam pola pikir dan tindakan mahasiswa menuju kepemimpinan yang berkelanjutan dan berdampak,” ungkapnya.
Beberapa poin penting yang dibahas dalam Mubes meliputi strategi pengembangan kepemimpinan berintegritas, implementasi program berkelanjutan yang berdampak, sistem regenerasi yang progresif, serta penguatan nilai-nilai moral dalam setiap kegiatan organisasi. Peserta juga merumuskan roadmap kepemimpinan jangka panjang yang mengintegrasikan aspek akademik, sosial, dan moral.
Rektor Universitas Mulia dalam pesannya menyampaikan apresiasi terhadap dinamika organisasi kemahasiswaan yang terus berkembang. “Kegiatan seperti Mubes ini mencerminkan kedewasaan berorganisasi mahasiswa dalam mengambil keputusan strategis melalui musyawarah dan mufakat,” ungkapnya.
Universitas Mulia Balikpapan sebagai salah satu perguruan tinggi swasta terkemuka di Kalimantan Timur terus berkomitmen menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki jiwa kepemimpinan dan kepedulian sosial yang tinggi.Mubes BEM Universitas Mulia ini diharapkan dapat menghasilkan rumusan program yang lebih inovatif dan berdampak positif bagi kemajuan institusi serta masyarakat luas.

“Indikator terkuat keberhasilan KKN itu bukan laporan di atas kertas, tapi ketika program diadopsi warga, masuk ke rencana pembangunan kelurahan, dan direplikasi secara berkelanjutan. Kalau hanya seremonial, itu gagal.”— Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Ahsin Rifai, M.Si.

Rektor Universitas Mulia, Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Ahsin Rifai, M.Si., memberikan pengarahan tentang pentingnya KKN Berdampak kepada mahasiswa Angkatan 5 sebelum diterjunkan ke 21 kelurahan mitra.

Humas Universitas Mulia, 21 Juli 2025 — Bagi Universitas Mulia, Kuliah Kerja Nyata (KKN) bukan sekadar syarat kelulusan. KKN harus menjadi jembatan antara teori akademik dengan kebutuhan nyata masyarakat, sekaligus melahirkan perubahan terukur di lapangan. Penegasan ini disampaikan Rektor Universitas Mulia, Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Ahsin Rifai, M.Si., dalam wawancara usai pelepasan 420 mahasiswa KKN Angkatan ke-5 Tahun 2025 di Ballroom Cheng Hoo Universitas Mulia.

Dampak Harus Terukur di Empat Ranah

Prof. Ahsin menegaskan bahwa tolok ukur keberhasilan KKN tidak boleh berhenti pada laporan seremonial semata. Ia merumuskan empat indikator dampak yang harus dihasilkan: sosial, ekonomi, lingkungan, dan kelembagaan.

“Indikatornya bukan sekadar kegiatan berjalan, tapi betul-betul tampak perubahan konkret,” ujarnya. Pada aspek sosial, keberhasilan tercermin dari meningkatnya partisipasi warga, bertambahnya pengetahuan, hingga perubahan perilaku positif. Sementara di sektor ekonomi, munculnya UMKM, naiknya pendapatan warga, serta penerapan teknologi tepat guna menjadi penanda penting.

Prosesi pelepasan KKN Angkatan 5 Tahun 2025 Universitas Mulia ditandai dengan penyerahan berita acara resmi dari Rektor kepada 21 lurah mitra sebagai simbol sinergi pengabdian.

Di bidang lingkungan, Prof. Ahsin menyoroti pentingnya program pengelolaan sampah, penghijauan kawasan, dan tumbuhnya kesadaran ekologis. Sedangkan dari sisi kelembagaan, tolok ukurnya adalah penguatan organisasi lokal, perbaikan sistem administrasi, dan keberlanjutan program setelah mahasiswa pulang.

“Indikator terkuat justru ketika program KKN diadopsi masyarakat, masuk ke rencana pembangunan kelurahan, dan direplikasi,” tegasnya.

Menjamin Keberlanjutan Setelah KKN Usai

Ia menyadari tantangan terbesar KKN seringkali muncul setelah mahasiswa kembali ke kampus. Agar program tidak berhenti di tengah jalan, Prof. Ahsin menekankan lima strategi utama: pendampingan lanjutan melalui dosen atau alumni, kemitraan formal dengan kelurahan, integrasi hasil KKN ke program riset dan pengabdian dosen, penyusunan dokumentasi lengkap, serta kaderisasi lokal sejak awal pelaksanaan.

Foto bersama pimpinan Universitas Mulia bersama para lurah dan camat se-Kota Balikpapan usai penyerahan dokumen berita acara KKN Angkatan V 2025.

“Kalau ada kader lokal yang diberdayakan sejak awal, maka ketika mahasiswa pulang, program tetap berjalan. Itu yang harus kita dorong,” ujarnya.

Anggaran Bukan Sekadar Formalitas

Komitmen pendanaan juga diatur secara strategis. Rektor menjelaskan bahwa Universitas Mulia menyiapkan tiga jalur pendanaan: anggaran khusus di RKAT untuk KKN tematik yang mendukung prioritas pembangunan daerah, insentif berbasis capaian bagi dosen dan mahasiswa, serta dukungan logistik dan dana pendamping untuk program eksternal seperti Saintek Berdampak dan Kosabangsa.

“Dengan pola ini, KKN bukan cuma kegiatan rutin, tetapi instrumen aktif mendukung pembangunan daerah,” kata Prof. Ahsin.

Peran Dosen Tak Boleh Pasif

Ia juga menyoroti peran Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) yang kerap hanya memeriksa laporan. Bagi Prof. Ahsin, DPL idealnya menjadi penghubung langsung antara teori akademik dan praktik pengabdian.

“DPL harus mendampingi sejak perencanaan, membantu mahasiswa memetakan masalah, merancang program inovatif, memberi pembinaan, hingga mendorong keluaran berupa publikasi atau HKI,” jelasnya.

Sinergi Konkret dengan Aparat Wilayah

Agar kehadiran mahasiswa tidak menjadi beban administratif, kampus menyiapkan pola kerja sama dengan lurah dan camat. Sejumlah langkah dijalankan: melibatkan aparat sejak perencanaan, menyusun MoU atau PKS, membentuk forum koordinasi, menyiapkan tim pendukung teknis, serta memastikan program memberi manfaat riil, seperti digitalisasi layanan atau pelatihan warga.

“Kalau ini dijalankan, KKN menjadi kolaborasi pembangunan, bukan beban birokrasi,” tegasnya.

Laboratorium Nilai Karakter

Selain output program, Prof. Ahsin memandang KKN sebagai ruang penggemblengan karakter. Mahasiswa diharapkan menginternalisasi nilai empati, kepedulian sosial, gotong royong, kemandirian, tanggung jawab, kreativitas, disiplin, integritas, hingga cinta tanah air.

“Semua itu lahir dari pengalaman langsung di masyarakat, bukan di ruang kelas,” ujarnya.

Kesalahan yang Harus Dihindari

Ia menegaskan, KKN harus lepas dari pola lama yang hanya berorientasi formalitas. Prof. Ahsin memetakan bentuk kegagalan yang wajib dihindari: perencanaan dangkal tanpa pemetaan masalah, minimnya peran dosen pembimbing, program seremonial tanpa inovasi, pelaksanaan tanpa monitoring yang rapi, dan absennya tindak lanjut pasca-KKN.

“Kalau program berhenti begitu mahasiswa pulang, itu artinya gagal. KKN tidak boleh jadi rutinitas kosong,” pungkasnya.

Humas UM (YMN)

Humas Universitas Mulia, 21 Juli 2025 — Universitas Mulia (UM) secara resmi melepas 420 mahasiswa untuk melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Angkatan 5 Tahun 2025. Kegiatan pelepasan berlangsung hari ini, ditandai dengan penyerahan berita acara dari Rektor Universitas Mulia Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Ahsin Rifai, M.Si. kepada para lurah dari 21 kelurahan mitra di Kota Balikpapan.

Dr. Pudjiati, S.E., M.M., Ketua Panitia KKN Angkatan ke-5 Tahun 2025, saat menyampaikan laporan pelaksanaan dan pesan pengabdian kepada para mahasiswa Universitas Mulia

Dalam laporan ketua panitia, Dr. Pudjiati, S.E., M.M., disampaikan bahwa para mahasiswa akan didampingi 21 dosen pembimbing lapangan dan ditempatkan di 21 kelurahan. “Kegiatan ini merupakan bentuk pengabdian mahasiswa kepada masyarakat sekaligus pelaksanaan tridarma perguruan tinggi, khususnya pada darma ketiga yaitu pengabdian kepada masyarakat,” tegas Pudjiati.

Ia menekankan empat pesan utama kepada seluruh mahasiswa: menjaga nama baik diri dan almamater Universitas Mulia, membangun komunikasi yang baik dengan masyarakat dan aparat kelurahan, menerapkan ilmu secara bijak sesuai potensi lokal, serta bekerja dengan hati karena pengabdian, menurutnya, lahir dari ketulusan.

Dr. Pudji juga menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Kota Balikpapan dan seluruh kelurahan mitra yang membuka ruang bagi mahasiswa untuk belajar langsung di tengah masyarakat. “Kami titip anak-anak kami untuk dibina dan diarahkan agar dapat melaksanakan kegiatannya selama satu bulan ke depan,” katanya.

Dalam sambutannya, Rektor Universitas Mulia Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Ahsin Rifai, M.Si., menggarisbawahi bahwa KKN bukan sekadar syarat akademik. Ia menegaskan, KKN harus menjembatani ilmu yang diperoleh di bangku kuliah dengan kondisi nyata di masyarakat.

Rektor Universitas Mulia, Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Ahsin Rifai, M.Si., memberikan sambutan sekaligus membuka secara resmi pelepasan KKN Angkatan ke-5 Tahun 2025.

“KKN ini bukan seremoni. Jangan hanya dianggap sebagai kewajiban akademik untuk menjadi sarjana. KKN adalah sarana agar ilmu yang didapatkan di kampus dapat dimanfaatkan oleh masyarakat,” tegasnya di hadapan para camat, lurah, dosen pembimbing, dan mahasiswa.

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Ahsin juga menyampaikan arah kebijakan Kementerian Pendidikan Tinggi Saintek yang kini menekankan KKN Berdampak. Program tridarma perguruan tinggi, menurutnya, tidak boleh berhenti pada proses, tetapi harus memberikan dampak konkret.

Rektor Universitas Mulia, Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Ahsin Rifai, M.Si., menyerahkan berita acara pelepasan KKN kepada perwakilan 21 lurah mitra sebagai simbol sinergi perguruan tinggi dan pemerintah kelurahan.

Rektor mencontohkan program Kosa Bangsa yang didanai pemerintah sebesar 300 juta rupiah, yang mewajibkan dosen berkolaborasi dengan kelurahan sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa atau Kelurahan (RPJMDes). Ia membuka peluang kerja sama dengan kelurahan untuk mendukung program tersebut. “Dosen kami punya dana sendiri sebesar 300 juta per wilayah. Silakan nanti kita bicara, RPJMDes atau kelurahan mau ke mana, kita akan sesuaikan,” katanya.

Foto bersama Rektor Universitas Mulia, para camat dan lurah mitra dari 21 kelurahan se-Kota Balikpapan, serta jajaran pimpinan Universitas Mulia usai seremoni pelepasan KKN.

Untuk para mahasiswa, Rektor kembali mengingatkan agar model KKN tidak lagi terpaku pada kegiatan rutin tanpa keberlanjutan. Ia menolak pola KKN lama seperti membuat batas desa, peta, atau nama jalan semata. “Model KKN sekarang, mahasiswa harus turun ke lapangan, menyerap aspirasi, menyusun program yang benar-benar dibutuhkan masyarakat dan memberikan dampak berkelanjutan,” tegasnya.

Para tamu undangan yang terdiri dari camat, lurah, pimpinan Universitas Mulia, dosen pembimbing, tenaga kependidikan, dan mahasiswa peserta KKN berdiri khidmat menyanyikan Lagu Indonesia Raya dan Hymne Balikpapan.

Rektor juga mengajak seluruh dosen pembimbing lapangan dan mahasiswa agar memastikan program KKN terhubung dengan kebutuhan nyata pembangunan di tiap kelurahan. “Belajar di masyarakat adalah kesempatan berharga. Bangun komunikasi, kolaborasi, dan inovasi yang benar-benar bisa memperbaiki persoalan mendasar di lokasi KKN,” ujarnya.

Suasana pelepasan mahasiswa KKN Angkatan ke-5 Tahun 2025 Universitas Mulia bersama tamu undangan yang turut mendukung pengabdian nyata di tengah masyarakat.

Sebagai penutup, pelepasan mahasiswa ditandai dengan penyerahan berita acara kepada 21 lurah mitra, di antaranya Lurah Sumber Rejo, Gunung Sari Ilir, Kariangau, Gunung Samarinda Baru, Baru Ilir, Baru Ulu, Karang Rejo, Telagasari, Klandasan Ilir, Sepinggan Baru, Manggar, Manggar Baru, Karang Joang, Graha Indah, Batu Ampar, Lamaru, Margo Mulyo, Tritip, Sepinggan Raya, Sungai Nangka, dan Sepinggan. Mahasiswa dijadwalkan akan melaksanakan KKN mulai 22 Juli hingga 25 Agustus 2025.

Humas UM (YMN)

Foto Ilustrasi. Sumber: chatGPT

UM – Lembaga Pengembangan, Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) terus mendorong Universitas Mulia sebagai Global Technopreneur Campus, dengan mengumumkan 55 proposal penelitian dan pengabdian masyarakat yang berhasil lolos seleksi pendanaan internal DIPA tahun 2025.

Pengumuman yang tertuang dalam Surat No. 127/Int-UM/LPPM/VII/2025, tanggal 17 Juli 2025 ini bukan sekadar daftar penerima, melainkan peta jalan inovasi yang akan dijalankan oleh para dosen.

Melalui pendanaan ini, Universitas Mulia secara nyata memberdayakan para akademisinya untuk mewujudkan gagasannya menjadi karya inovasi yang berdampak.

Dari total 36 judul penelitian dan 19 program pengabdian, terlihat jelas fokus universitas pada topik-topik mutakhir yang relevan dengan tantangan global dan kebutuhan lokal.

Dari Keamanan Siber hingga Bahasa Isyarat Berbasis AI

Analisis mendalam terhadap judul-judul yang didanai menunjukkan betapa Universitas Mulia mendorong riset yang memiliki kebaruan dan potensi kontribusi internasional. Beberapa judul bahkan secara eksplisit ditargetkan untuk menembus jurnal internasional bereputasi tinggi yang terindeks Scopus.

Di antara riset unggulan tersebut, terdapat penelitian di bidang teknologi yang sangat menjanjikan, seperti:

  • A Proactive ARP Spoofing Detection Model using Machine Learning” yang berfokus pada keamanan siber.
  • Empowering Educators in the AI Era” yang mengkaji pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam skala besar untuk pelatihan guru.
  • Penelitian dengan potensi kebaruan, yaitu “Indonesian Sign Language (BISINDO) Recognition based on Deep Learning“, yang menggunakan teknologi AI untuk mengembangkan pengenalan bahasa isyarat Indonesia.

Riset-riset ini tidak hanya mengedukasi publik tentang kemajuan teknologi, tetapi juga memberikan pencerahan bahwa solusi dari kampus di Balikpapan mampu berkontribusi dan berdampak kepada masyarakat..

Mendorong Kultur Riset

Pendanaan ini dirancang untuk memperkaya khazanah ilmu pengetahuan melalui luaran wajib yang ditetapkan, mulai dari diseminasi dan publikasi di jurnal terindeks SINTA hingga Scopus serta pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Langkah ini diharapkan akan meningkatkan reputasi akademik universitas dan para penelitinya..

Lebih dari itu, hibah ini diharapkan menjadi motivasi kuat bagi seluruh sivitas akademika. Mahasiswa diajak untuk terlibat sebagai anggota. Ini adalah pesan bahwa institusi berkomitmen penuh mendukung penelitian dan pengabdian yang berkualitas.

Pada program pengabdian kepada masyarakat, seperti “Pelatihan Peningkatan Daya Saing UMKM Melalui Media Sosial“, “Pemberdayaan Orang Tua dalam Mendukung Anak Berkebutuhan Khusus“, dan “Transformasi Pembelajaran Berbasis AI bagi Guru Sekolah” menunjukkan komitmen universitas untuk tidak hanya berada di menara gading, tetapi juga turun langsung memberdayakan dan memperkaya kehidupan masyarakat sekitar.

Sementara itu, Sekretaris LPPM, Henny Okta Piyani, S.E., M.Ak, dalam surat tersebut menyampaikan bahwa tahapan selanjutnya bagi para penerima hibah adalah penandatanganan kontrak dan pelaksanaan kegiatan sesuai jadwal.

“Kami usahakan secepatnya untuk tahapan tanda tangan kontrak,” ujarnya.

Henny mengingatkan agar para penerima hibah melaksanakan kegiatan sesuai jadwal pelaksanaan LPPM tahun 2025. Ia berharap, para penerima hibah tertib menyampaikan laporan kemajuan dan laporan akhir tepat waktu.

Dengan dukungan penuh ini, Universitas Mulia tidak hanya mencetak lulusan, tetapi juga menjadi inkubator ide dan solusi yang relevan, berdampak, dan mampu menjawab tantangan zaman.

(SA/Kontributor)

Foto bersama seluruh peserta dan pengajar usai pembukaan. Baris depan dari kanan, Wakil Rektor Wisnu Hera Pamungkas, asesor LSP TD Istia Budi, Perwakilan BPSDM Komdigi Banjarmasin Syarifuddin, asesor LSP TD Dedi Priansyah, dan Dekan Fakultas Ilmu Komputer Djumhadi. Foto: Media Kreatif

UM – Sejumlah mahasiswa Universitas Mulia berhasil membuktikan kompetensinya dengan meraih sertifikasi profesi Junior Cyber Security dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

Pencapaian ini diraih setelah mereka mengikuti Uji Kompetensi yang digelar di Laboratorium Fakultas Ilmu Komputer UM pada Kamis (17/7) dan Jumat (18/7), sebagai pelaksanaan dari program Vocational School Graduate Academy (VSGA) Digital Talent Scholarship.

Sertifikasi ini merupakan hasil kerjasama strategis antara Universitas Mulia dengan Balai Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Komunikasi dan Digital (Komdigi) Banjarmasin.

Program ini dirancang khusus untuk membekali mahasiswa dengan keahlian praktis yang relevan dengan kebutuhan industri digital saat ini, terutama di bidang keamanan siber yang permintaannya terus meningkat.

Dekan Fakultas Ilmu Komputer, Djumhadi, S.T., M.Kom., menegaskan bahwa kegiatan sertifikasi ini bukan program insidental, melainkan bagian integral dari kurikulum. Hal ini menjadi komitmen Universitas Mulia memastikan setiap lulusan tidak hanya membawa ijazah, tetapi juga sertifikat keahlian yang diakui secara nasional.

“Ini adalah wujud dari pemberdayaan bagi mahasiswa kami. Kami mendorong agar setiap mata kuliah yang memiliki skema sertifikasi BNSP, seperti Junior Cyber Security ini, diakhiri dengan uji kompetensi. Jadi, lulus dari mata kuliah, mahasiswa langsung punya bekal sertifikasi untuk masuk dunia kerja,” ujar Djumhadi.

Asesor LSP Teknologi Digital Istia Budi foto bersama sebelum pelaksanaan sertifikasi. Foto: Media Kreatif

Asesor LSP Teknologi Digital Istia Budi foto bersama sebelum pelaksanaan sertifikasi. Foto: Media Kreatif

Pelaksanaan sertifikasi skema Keamanan Siber Muda. Foto: Media Kreatif.

Pelaksanaan sertifikasi skema Keamanan Siber Muda. Foto: Media Kreatif.

Peserta sertifikasi kompetensi skema Keamanan Siber Muda (Junior Cuber Security) berfoto bersama pengajar, asesor, dan panitia dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Mulia, Jumat (18/7/2025). Foto: Istimewa

Peserta sertifikasi kompetensi skema Keamanan Siber Muda (Junior Cuber Security) berfoto bersama pengajar, asesor, dan panitia dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Mulia, Jumat (18/7/2025). Foto: Istimewa

Proses Selektif Hasilkan Talenta Kompeten

Proses seleksi dan pelatihan berjalan ketat. Agus Wijayanto, S.Kom., M.Kom., selaku pengajar dan tuan rumah acara, menjelaskan bahwa dari kuota 30 kursi yang tersedia, sebanyak 27 orang mendaftar.

Setelah melalui proses pelatihan, lanjut Agus, 21 orang mengikuti uji sertifikasi, dan 17 diantaranya dinyatakan kompeten, empat orang tidak hadir.

“Angka ini menunjukkan bahwa prosesnya tidak mudah, namun mahasiswa kami mampu membuktikan kualitasnya. Ini adalah bentuk pengayaan skill di luar perkuliahan reguler,” jelas Agus.

Sertifikasi dilaksanakan langsung oleh Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Teknologi Digital yang berlisensi BNSP.

Salah satu asesor, Istia Budi, S.T., M.M., yang juga merupakan dosen Universitas Mulia, menyatakan kebanggaannya.

“Secara umum, mahasiswa memiliki kompetensi Junior Cyber Security. Namun, masih banyak PR buat kampus dan mahasiswa untuk lebih percaya diri terhadap skills yang dimiliki serta banyak meng-explore kemampuannya,” katanya.

Istia Budi berharap, kampus lebih banyak menggelar kegiatan Cyber Security untuk meningkatkan minat mahasiswa. “Sebab, kebutuhan Dunia Industri lumayan tinggi,” tambahnya.

Mengenal Peluang di Balik Sertifikasi Junior Cyber Security

Program ini tidak hanya memberikan sertifikat, tetapi juga membuka wawasan dan peluang karir yang luas. Berikut adalah detail program yang bisa menjadi pertimbangan untuk mengikuti sertifikasi skema ini.

Apa itu Junior Cyber Security?

Seorang Junior Cyber Security bertugas membantu melindungi sistem komputer, jaringan, dan data sebuah organisasi dari ancaman siber. Mereka adalah garda terdepan dalam mendeteksi dan mengelola serangan digital.

Kompetensi utama yang diuji antara lain menerapkan prinsip perlindungan dan keamanan informasi, mengelola log keamanan dan menerapkan kontrol akses, dan mengaplikasikan keamanan pada transaksi elektronik dan penggunaan internet.

Prospek karir lulusan dengan sertifikasi ini memiliki peluang besar untuk berkarir sebagai Cyber Security Administrator, Cyber Risk Specialist, Cyber Security Manager, bahkan hingga posisi strategis seperti Chief Information Officer (CIO).

Kegiatan ini menegaskan posisi Universitas Mulia sebagai institusi yang proaktif dalam menjembatani dunia akademik dengan kebutuhan industri. Dengan membekali mahasiswa sertifikasi profesi, Universitas Mulia berkomitmen mencetak lulusan yang kompeten, berdaya saing tinggi, dan siap kerja.

(SA/Kontributor)

Humas Universitas Mulia, 18 Juli 2025— Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Balikpapan (STIEPAN) dan Universitas Mulia resmi mengikat kesepakatan kerjasama melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) di gedung White Campus Universitas Mulia, Jumat, 18 Juli 2025. Kedua perguruan tinggi berkomitmen memperkuat implementasi Tridarma melalui program pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat.

Rektor Universitas Mulia Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si. dan Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Balikpapan (STIEPAN) Prof. Dr. Suhartono, S.E., M.M. saat menandatangani dokumen Nota Kesepahaman (MoU) di Gedung White Campus Universitas Mulia, Jumat (18/7).

Ketua STIEPAN, Prof. Dr. Suhartono, S.E., M.M., menegaskan bahwa kemitraan ini tidak hanya berhenti di level formalitas, melainkan akan diwujudkan melalui kolaborasi nyata di ketiga ranah Tridarma.

“Kami menargetkan kerjasama ini menjangkau aspek pendidikan dan pengajaran, pengabdian kepada masyarakat, hingga penelitian. Dalam pelaksanaannya, kami akan menjajaki peluang pertukaran informasi, potensi, dan program yang memungkinkan untuk dikerjasamakan. Kami menaruh harapan besar pada Universitas Mulia, sebagai institusi yang memiliki pengembangan keilmuan lebih luas, agar dapat menjadi mitra strategis dalam memperluas kapasitas civitas akademika kami, khususnya dalam mendukung implementasi Tridarma secara optimal,” jelas Prof. Suhartono.

Ia menekankan bahwa program prioritas akan dirumuskan secara teknis bersama agar kesepakatan ini segera berlanjut ke tahap implementasi.

Rektor UM Prof. Ahsin dan Ketua STIEPAN Prof. Suhartono bertukar dokumen MoU. Tampak mendampingi, Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Universitas Mulia Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I. (kiri) dan Wakil Ketua III Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama STIEPAN Fitrahnanda Ayubadiah, S.S., M.A. (kanan).

“Terkait program mana yang akan diprioritaskan, tentu akan dibahas lebih mendalam melalui diskusi bersama. Prinsipnya, kami ingin memastikan bahwa kerjasama ini tidak semata simbolis, melainkan harus terwujud dalam langkah nyata. Esensi kerjasama harus saling menguntungkan dan bersifat mutualistik. Karena itu, kami berharap STIEPAN dapat memperoleh pendampingan dan penguatan keilmuan di berbagai bidang yang telah dikembangkan oleh Universitas Mulia,” imbuhnya.

Rektor Universitas Mulia Prof. Ahsin menyambut hangat kedatangan rombongan pimpinan STIEPAN di Ruang Rapat Rektorat Universitas Mulia.

Dirancang Sejak Lama

Rektor Universitas Mulia, Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si., menyebut kesepakatan ini telah melalui proses persiapan panjang sebelum akhirnya terealisasi.

“Inisiasi MoU ini sebenarnya telah lama direncanakan. Namun, baru sekarang dapat difinalisasi. Kami sadar, perguruan tinggi swasta, apalagi di daerah, perlu membangun sinergi untuk memperkuat posisi bersama. Apalagi dengan masuknya kampus-kampus besar dari luar Kalimantan Timur,  kita dituntut untuk berbagi keunggulan agar dapat dikolaborasikan secara nyata,” terang Prof. Ahsin.

Ketua STIEPAN Prof. Suhartono (tengah) bersama Wakil Ketua II Bidang Keuangan Rudy Padjut Harianto, S.S., M.Si. (kiri) dan Wakil Ketua III Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama Fitrahnanda Ayubadiah, S.S., M.A. (kanan) di sela rangkaian penandatanganan MoU.

Pertukaran Dosen dan Kurikulum Terintegrasi Sertifikasi

Salah satu bentuk tindak lanjut yang dinilai paling realistis ialah program pertukaran dosen. Dosen-dosen yang berpengalaman di bidang pengajaran dan riset akan dilibatkan untuk berbagi wawasan praktis kepada mahasiswa kedua kampus.

“Pada ranah pendidikan, hal paling memungkinkan dilakukan segera adalah pertukaran tenaga pengajar yang memiliki rekam jejak baik dalam kolaborasi maupun riset. Pengalaman praktis ini diharapkan dapat dipetik langsung oleh mahasiswa. Selain itu, kami juga mendiskusikan pengembangan kurikulum yang lebih responsif. Salah satu opsi ialah mengintegrasikan materi sertifikasi kompetensi dari BNSP ke dalam kurikulum agar tidak hanya berhenti pada pola ajar konvensional,” paparnya.

Prof. Ahsin menambahkan, jika STIEPAN telah lebih dahulu merancang kerangka kurikulum serupa, Universitas Mulia juga siap untuk belajar bersama dan mengadopsi pengalaman tersebut.

Sinergi Penelitian dan Dukungan SDM

Di ranah penelitian, kedua kampus bersepakat untuk saling menopang kebutuhan sumber daya manusia. Proyek riset bersama juga dapat melibatkan kerjasama dengan pemerintah daerah maupun mitra industri.

“Kami optimis dapat saling melengkapi. Jika di STIEPAN terdapat proyek riset atau kerjasama dengan pemerintah daerah dan mitra industri, namun terkendala SDM karena keterbatasan program studi, maka kami siap mendukung. Sebaliknya, Universitas Mulia saat ini juga tengah mengembangkan kemitraan strategis dengan pemerintah daerah maupun sektor industri, dan pada titik tertentu kami juga bisa membutuhkan dukungan tenaga ahli atau dosen dari STIEPAN,” jelas Rektor UM.

Implementasi Program Mahasiswa

Wakil Ketua III Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama STIEPAN, Fitrahnanda Ayubadiah, S.S., M.A., menjelaskan bahwa realisasi kerjasama di ranah kegiatan kemahasiswaan sebenarnya telah berlangsung dalam berbagai kegiatan bersama, terutama pada penyelenggaraan seminar lintas kampus.

“Beberapa kegiatan bersama dengan Universitas Mulia sebenarnya sudah sering kami laksanakan, terutama yang terkait organisasi kemahasiswaan. Salah satunya berupa seminar yang mendatangkan narasumber dari kedua belah pihak. Selama ini kami banyak menggandeng dosen-dosen UM di bidang teknologi digital, sedangkan kami bergerak di bidang ekonomi. Dengan adanya MoU, pola kerjasama semacam ini akan semakin terarah dan terstruktur,” jelas Fitrahnanda.

Kolaborasi Multidisiplin

Menutup pernyataannya, Prof. Suhartono menekankan bahwa kolaborasi lintas disiplin menjadi salah satu instrumen penting untuk meningkatkan mutu pengajaran dan penelitian di era kebijakan Kampus Merdeka.

“Dalam upaya mendorong kolaborasi, banyak hal dapat dikerjakan bersama. Apalagi Universitas Mulia memiliki spektrum keilmuan multidisiplin. Saat ini, penelitian kolaboratif lintas bidang justru memiliki bobot tinggi untuk mendukung akreditasi perguruan tinggi. Begitu pula di ranah pengajaran, pertukaran dosen menjadi salah satu strategi yang relevan dengan kebijakan Kampus Merdeka. Fleksibilitas mendesain konten dan kurikulum membuka peluang besar untuk mewujudkan link and match. Ketersediaan dosen multidisiplin di UM menjadi peluang yang dapat kami sinergikan,” pungkasnya.

Humas UM (YMN)

“Ini kondisi istimewa karena para Kaprodi akan memimpin prodi baru yang harus dibangun dari awal. Sebagai dosen dengan jabatan struktural, mereka memikul tanggung jawab ganda untuk memimpin prodi sekaligus menjalankan tridarma. Dalam hal ini, Kaprodi saya anggap sebagai product manager: mengawal keilmuan tetap relevan, pembelajaran bermutu, dan prodi diminati masyarakat.”
Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I. Wakil Rektor II Bidang Sumber Daya Universitas Mulia

Para Kaprodi baru Universitas Mulia berdiri menyanyikan lagu kebangsaan pada seremonial pembukaan pembekalan perdana.

Humas Universitas Mulia, 18 Juli 2025 — Universitas Mulia resmi menyambut kehadiran empat Ketua Program Studi (Kaprodi) baru untuk program studi Teknik Sipil, Teknik Industri, Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian (TPHP), serta Desain Komunikasi Visual (DKV). Kehadiran Kaprodi baru ini menjadi fase penting bagi Universitas Mulia yang tengah memperluas portofolio keilmuan di bidang teknik dan kreatif.

“Selamat datang untuk para Ketua Program Studi Baru di Universitas Mulia: KaProdi Teknik Sipil, Teknik Industri, TPHP, dan DKV. Ini adalah sebuah kondisi yang istimewa. Karena para KaProdi akan memimpin sebuah program studi yang baru berdiri,” ujar Wakil Rektor II Bidang Sumber Daya, Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I.

Wibisono menekankan, tanggung jawab memimpin prodi baru memiliki tantangan tersendiri. Tidak sekadar melanjutkan program kerja yang sudah mapan, tetapi memulai berbagai strategi dasar dari titik awal. Namun demikian, sejumlah praktik baik dari prodi lain di Universitas Mulia tetap dapat dijadikan acuan penyesuaian.

Suasana pembukaan pembekalan empat Kaprodi baru Universitas Mulia bersama jajaran pimpinan universitas dan Direktur Eksekutif BPH Yayasan Airlangga.

“Tentu ada banyak tantangan yang harus dihadapi, sebab ini tidak sekedar melanjutkan strategi atau program kerja yang sudah ada, tetapi harus memulai dari awal. Namun tentu saja beberapa hal dapat dilihat atau disesuaikan dari program studi lain yang ada di Universitas Mulia,” jelasnya.

Dalam struktur organisasi akademik, seorang Kaprodi tidak hanya bertanggung jawab secara administratif, tetapi juga tetap memegang peran sebagai dosen dengan kewajiban menjalankan tridarma perguruan tinggi.

“Menjadi dosen yang memegang jabatan struktural berarti akan mengemban dua tanggung jawab. Pertama, tanggung jawab sebagai pimpinan program studi. Kedua sebagai dosen, juga terikat tanggung jawab untuk melaksanakan tridarma yaitu pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat,” tegas Wibisono.

Keselarasan antara dua peran ini menjadi fokus. Kaprodi diharapkan mampu menjaga keseimbangan fungsi kepemimpinan dengan kewajiban akademik, sekaligus mendorong seluruh dosen di prodi masing-masing menjalankan tridarma dengan kualitas optimal. “Tantangan utama adalah bagaimana bisa menyelaraskan dua hal tersebut agar dapat berjalan secara selaras. Sebagai Kaprodi juga harus mendorong agar semua dosen di prodi tersebut dapat melaksanakan tanggung tridarma dengan baik,” ujarnya.

Wibisono memandang Kaprodi layaknya seorang product manager. Produk yang dikelola adalah program studi itu sendiri. Dalam posisi ini, Kaprodi memikul tiga tanggung jawab utama. Pertama, memastikan keilmuan yang dikembangkan melalui kurikulum selalu mengikuti perkembangan metodologi dan teknologi terkini, khususnya karena keempat prodi baru berkarakter teknik yang dinamis.

“Memastikan bahwa keilmuan yang dikembangkan di Prodi, yang dituangkan ke dalam kurikulum, selalu up to date dengan perkembangan metodologi dan teknologi di Prodi tersebut. Aspek metodologi dan teknologi ini penting, mengingat 4 prodi baru ini adalah prodi yang berbasis teknik yang erat kaitannya dengan perkembangan metodologi dan teknologi,” papar Wibisono.

Direktur Eksekutif BPH Yayasan Airlangga, Dr. Agung Sakti Pribadi, S.H., M.H. menyerahkan Surat Keputusan Kaprodi Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian.

Tanggung jawab kedua terletak pada mutu pelaksanaan pembelajaran, yang harus selaras dengan kebutuhan industri agar lulusan benar-benar relevan dengan medan kerja. Ketiga, prodi harus diterima dan diminati masyarakat. Popularitas dan minat pendaftar mencerminkan bagaimana prodi bersaing dengan program serupa di perguruan tinggi lain. “Memastikan bahwa Prodi tersebut diterima dan disukai oleh masyarakat. Ini tentu tercermin dari antusias mahasiswa yang mendaftar. Ketika Prodi tersebut juga ada di perguruan tinggi lain, maka sebagai wujud tanggung jawab product manager, harus mampu membuatnya lebih menarik dibanding prodi sejenis di tempat lain,” pungkasnya.

Dengan penekanan pada fungsi Kaprodi sebagai product manager, Universitas Mulia menegaskan tanggung jawab kepemimpinan prodi baru tidak berhenti pada urusan administrasi. Tugas Kaprodi terletak pada bagaimana program studi dikelola secara relevan, adaptif, dan memiliki daya tarik tersendiri di mata publik.

Humas UM (YMN)