Balikpapan 30 Oktober 2025 – Sebagai bagian dari upaya membangun kesadaran kesehatan masyarakat, Program Studi Farmasi Universitas Mulia berkolaborasi dengan Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Cabang Balikpapan menggelar Kuliah Umum Pencegahan Kanker di Ballroom Cheng Hoo, Rabu (29/10).

Kegiatan ini juga melibatkan tiga perguruan tinggi mitra, yakni Universitas Balikpapan, Politeknik Nusantara, dan Politeknik Borneo Medistra, dengan total peserta mencapai 215 orang. Melalui kegiatan bersama ini, Universitas Mulia menegaskan peran aktifnya dalam memperkuat edukasi publik melalui kegiatan akademik yang berdampak langsung bagi masyarakat.

Ketua YKI Cabang Balikpapan, drg. Dyah Muryani, MARS, memberikan sambutan pada seremonial pembukaan Kuliah Umum Pencegahan Kanker di Ballroom Cheng Hoo, Rabu (29/10).

Kuliah umum menghadirkan tiga pemateri dengan latar keahlian berbeda, yaitu dr. Daniel Y.P., Sp.OG., MKed.Klin, dr. Martin Ayuningtyas Wulandari, M.Kes., Sp.GK, dan dr. Maurits Marpaung, Sp.P(K). Ketiganya memaparkan berbagai aspek pencegahan kanker, mulai dari pentingnya deteksi dini hingga peran gaya hidup sehat dalam mengurangi risiko penyakit.

Ketua YKI Cabang Balikpapan, drg. Dyah Muryani, MARS, menjelaskan bahwa kolaborasi dengan perguruan tinggi menjadi strategi penting dalam memperluas jangkauan edukasi pencegahan kanker di kalangan muda.

“YKI Balikpapan ingin mengampanyekan pencegahan kanker secara dini kepada mahasiswa dan civitas akademika, khususnya di lingkungan Prodi Farmasi Universitas Mulia,” ujarnya.

Ia mengungkapkan bahwa kesadaran masyarakat Balikpapan terhadap pentingnya deteksi dini kanker kini semakin meningkat.

“Masyarakat sudah semakin mengerti tentang pentingnya deteksi dini sebagai langkah pencegahan. Setiap tahun kami bekerja sama dengan puskesmas, klinik TNI dan Polri, serta organisasi wanita seperti PKK untuk melakukan pemeriksaan IVA test dan metode SADARI. Rata-rata hampir seribu sasaran kami jangkau setiap tahun,” jelasnya.

Para narasumber, pimpinan perguruan tinggi mitra, panitia, dan peserta berfoto bersama seusai seremonial pembukaan Kuliah Umum Pencegahan Kanker.

Melalui kegiatan bersama perguruan tinggi, YKI berharap pesan tentang pencegahan kanker dapat menjangkau kalangan muda secara lebih luas.

“Kami ingin pesan pencegahan kanker menjangkau generasi muda. Karena itu, kami aktif bekerja sama dengan perguruan tinggi dan kelompok pemuda untuk kegiatan penyuluhan serta deteksi dini menggunakan metode SADARI,” terangnya.

Dyah juga menekankan pentingnya peran mahasiswa dalam menyebarkan semangat hidup sehat kepada lingkungannya.

“Kami berharap mahasiswa yang mengikuti kuliah umum ini bisa menyebarkan kembali pesan pencegahan kanker kepada keluarga, teman, dan masyarakat, termasuk melalui media sosial mereka,” katanya.

Ia menutup dengan pesan reflektif agar generasi muda mampu menjadi teladan dalam menjalankan pola hidup sehat.

“Generasi muda diharapkan disiplin terhadap diri sendiri dan mengajak lingkungannya untuk hidup sehat — mulai dari pola makan, olahraga teratur, tidak merokok, serta aktif melakukan pencegahan kanker sedini mungkin,” pesan Dyah.

Sejumlah mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Balikpapan tampak antusias mengikuti Kuliah Umum Pencegahan Kanker yang digelar di Ballroom Cheng Hoo.

Kegiatan ini mencerminkan cara Universitas Mulia memaknai peran pendidikan tinggi bukan hanya sebatas ruang kuliah, tetapi juga sebagai sarana membangun kesadaran dan tanggung jawab sosial di kalangan mahasiswa. Bagi Universitas Mulia, kuliah umum ini bukan sekadar agenda akademik, melainkan bagian dari proses pembentukan karakter mahasiswa agar peka terhadap persoalan kesehatan masyarakat. Melalui kolaborasi dengan YKI Balikpapan, universitas berupaya menanamkan kepedulian ilmiah dan menghubungkan pengetahuan yang diperoleh di ruang kelas dengan realitas kehidupan, sehingga ilmu yang dipelajari benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat. (YMN)

Nusantara, 28 Oktober 2025 — Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Universitas Mulia, Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I., berpartisipasi dalam Seminar Nasional Kebahasaan bertema “Mendaulatkan Bahasa, Merajut Bangsa, Menembus Dunia” yang diselenggarakan di Ruang Serbaguna Kemenko 3, Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP), Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur, pada 24–25 Oktober 2025.

Kegiatan ini merupakan inisiatif Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, melalui Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Timur, dengan dukungan penuh dari Otorita IKN. Sekitar 300 peserta dari berbagai sektor hadir dalam kegiatan tersebut, mencakup unsur pemerintahan pusat dan daerah, kalangan akademik, praktisi kebahasaan dan kesastraan, komunitas literasi, mahasiswa, serta pimpinan Balai Bahasa dan Kantor Bahasa dari seluruh Indonesia.

Bahasa Indonesia dalam Era Kecerdasan Buatan

Dalam refleksinya, Wibisono menilai bahwa seminar ini memiliki relevansi yang kuat dengan dinamika perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI) yang kian memengaruhi cara manusia berinteraksi dan berkomunikasi. Ia menekankan perlunya bahasa Indonesia memperkuat posisi dan kedaulatannya di tengah transformasi digital global.

“Bahasa Indonesia tidak semestinya hanya berfungsi sebagai pelengkap, tetapi harus berkembang menjadi bahasa ilmu pengetahuan, bahasa budaya, dan bahasa kemajuan yang sejajar dengan bahasa internasional lain,” ujar Wibisono.

Ia juga menilai bahwa penyelenggaraan seminar di IKN memiliki signifikansi strategis. Sebagai pusat pemerintahan masa depan, IKN diharapkan menjadi ruang simbolik bagi penguatan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara dan bahasa peradaban.

“IKN bukan hanya pusat administrasi pemerintahan, tetapi juga manifestasi dari peradaban Indonesia di masa depan. Karena itu, bahasa Indonesia harus hadir sebagai simbol identitas nasional yang kokoh dan berwibawa,” tambahnya.

Para peserta, pemakalah, dan panitia berfoto bersama usai pelaksanaan Seminar Nasional Kebahasaan di Ruang Serbaguna Kemenko 3, Kawasan Inti Pusat Pemerintahan Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur.

Meluruskan Narasi Keliru tentang IKN

Wibisono menyampaikan apresiasi kepada Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikdasmen RI, Hafidz Muksin, S.Sos., M.Si., atas kebijakan strategisnya yang menghadirkan para Kepala Balai Bahasa dari berbagai provinsi untuk melakukan observasi langsung terhadap progres pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN). Menurutnya, langkah tersebut memiliki signifikansi penting dalam membangun narasi berbasis data empirik sekaligus menanggulangi diseminasi informasi yang tidak akurat di ruang publik. Ia menyoroti masih maraknya pandangan negatif di ruang publik yang menggambarkan pembangunan IKN terhenti dan kawasan tersebut tidak terurus.

“Fakta di lapangan sangat berbeda. Pembangunan terus berlangsung, dan infrastruktur yang telah rampung dipelihara dengan baik. Seminar nasional yang kami hadiri pun diselenggarakan di gedung yang sangat representatif,” jelasnya.

Wibisono juga menekankan bahwa konsep IKN sebagai kota hijau (green city) secara sengaja menempatkan elemen vegetasi sebagai bagian dari rancangan kota. Penghijauan di sekitar gedung dan jalur pedestrian merupakan implementasi nyata dari prinsip pembangunan berkelanjutan yang ramah lingkungan.

“Pernyataan bahwa IKN terbengkalai dan dipenuhi tanaman liar jelas tidak berdasar. Narasi semacam itu muncul dari pihak yang belum pernah melakukan kunjungan langsung ke lokasi,” tegasnya.

Duta Informasi IKN dari Seluruh Indonesia

Menurut Wibisono, kehadiran para kepala Balai Bahasa dan peserta dari berbagai daerah memiliki dimensi strategis yang melampaui kegiatan seminar. Mereka berpotensi menjadi duta informasi, yang menyampaikan gambaran faktual mengenai kemajuan IKN kepada masyarakat di wilayah masing-masing.

“Kunjungan langsung memberikan pengalaman empiris yang tidak bisa digantikan oleh informasi sekunder. Ini penting agar masyarakat memperoleh persepsi yang objektif tentang pembangunan IKN,” ujarnya.

Penghargaan untuk Peserta Aktif

Sebagai bentuk penghargaan terhadap kontribusi dalam diskusi seminar, Wibisono menerima buku Kamus Bahasa Bulungan karya Suindah Sari dkk., terbitan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi tahun 2024. Buku tersebut diberikan kepada peserta yang menunjukkan partisipasi aktif dalam sesi tanya jawab dan pertukaran gagasan.

Ia menyambut penghargaan tersebut dengan antusias dan menilai bahwa penerbitan kamus bahasa daerah merupakan bagian penting dari upaya pelestarian keragaman linguistik Nusantara.

“Bahasa daerah merupakan identitas kultural bangsa. Menjaganya berarti melestarikan keberagaman yang menjadi fondasi Indonesia,” ungkapnya.

Peran Universitas Mulia dalam Penguatan Bahasa

Dalam kesempatan yang sama, Wibisono menyoroti peran Universitas Mulia dalam mendukung kebijakan nasional di bidang kebahasaan. Meskipun kampus belum memiliki Program Studi Bahasa Indonesia, ia menegaskan bahwa penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar tetap harus menjadi standar dalam seluruh aktivitas akademik.

Ia menambahkan bahwa penerapan bahasa Indonesia yang baku dan ilmiah perlu tercermin dalam pelaksanaan tridarma perguruan tinggi—pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat—termasuk dalam seluruh bentuk publikasi ilmiah.

“Bahasa Indonesia bukan sekadar sarana komunikasi, tetapi juga penanda identitas akademik sekaligus nasional,” ujarnya.

Bahasa Indonesia sebagai Pilar Peradaban IKN

Seminar Nasional Kebahasaan di IKN menandai momentum penting bagi reafirmasi peran bahasa Indonesia sebagai fondasi peradaban bangsa. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penandatanganan Prasasti Trigatra Bangun Bahasa, yang memuat tiga butir prinsip utama:

  1. Utamakan Bahasa Indonesia
  2. Lestarikan Bahasa Daerah
  3. Kuasai Bahasa Asing

Melalui komitmen ini, pembangunan IKN diarahkan tidak semata pada dimensi fisik, tetapi juga pada penguatan nilai-nilai budaya dan identitas nasional. Bahasa Indonesia berperan sebagai instrumen kohesi sosial yang mempersatukan keragaman dan menegaskan posisi Indonesia di tataran global. (YMN)

 

Laporan berdasarkan tulisan Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I. (Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Universitas Mulia). Naskah disusun ulang oleh Yamani (Humas)

Balikpapan 28 Oktober 2025 — Rektor Universitas Mulia Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si. menghadiri upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-97 di Balai Kota Balikpapan, Selasa (28/10). Upacara dipimpin langsung oleh Wali Kota Balikpapan Rahmad Mas’ud dan diikuti oleh berbagai unsur masyarakat, pelajar, aparatur sipil negara, hingga pimpinan perguruan tinggi se-Kota Balikpapan.

Dengan tema nasional “Pemuda Pemudi Bergerak, Indonesia Bersatu,” peringatan tahun ini menegaskan semangat kolaborasi generasi muda dalam membangun negeri di tengah tantangan era digital. Para peserta upacara tampil mengenakan beragam busana adat, seragam sekolah, dan jas almamater yang menggambarkan kebinekaan dalam satu semangat persatuan.

Kiri Wali Kota Balikpapan Rahmad Mas’ud, Rektor Universitas Mulia Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si., dan Agung perwakilan mahasiswa Universitas Mulia berfoto bersama usai upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda di Balai Kota Balikpapan.

Wali Kota Balikpapan Rahmad Mas’ud dalam amanatnya mengingatkan bahwa peran pemuda kini tidak lagi diukur dari perjuangan fisik, melainkan dari kemahiran menguasai teknologi. “Siapa yang menguasai teknologi berarti bertransformasi dalam perkembangan zaman,” ujarnya.

Usai upacara, Humas Universitas Mulia berkesempatan mewawancarai Rektor Prof. Ahsin Rifa’i mengenai makna Sumpah Pemuda dan relevansinya dengan dunia pendidikan tinggi.

Menurut Rektor, tema tahun ini menjadi penegasan bahwa kampus bukan sekadar ruang belajar, melainkan ruang produksi nilai dan kolaborasi. “Di Universitas Mulia, bergerak berarti berkolaborasi lintas program studi, mengubah ide menjadi solusi technopreneurship yang inklusif,” ungkapnya. Persatuan, lanjutnya, hadir ketika kerja nyata mampu menembus sekat identitas dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat luas.

Rektor menilai, tantangan generasi kampus saat ini bukan pada kurangnya ide, melainkan pada polarisasi dan arus informasi yang menumpulkan empati. Ia menegaskan pentingnya literasi digital, etika berdialog, dan keberanian untuk bekerja lintas kelompok. “Kepemimpinan berintegritas adalah menempatkan kepentingan bangsa di atas pribadi dan kelompok. Persatuan justru memperkaya, bukan memecah,” ujarnya.

Universitas Mulia, kata Prof. Ahsin, telah menanamkan nilai kebangsaan dan kepemimpinan mahasiswa melalui berbagai program berbasis aksi nyata. Mulai dari MKWK berbasis proyek, MBKM, KKN tematik Kaltim–IKN, hingga riset terapan dan desa binaan. “Prinsip kami sederhana: do first, talk later. Mahasiswa bergerak, mengukur dampak, lalu merefleksikan pembelajaran berbasis data dan akhlak,” tuturnya.

Rektor Universitas Mulia Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si. bersama mahasiswa Universitas Mulia berfoto usai upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda di Balai Kota Balikpapan.

Komitmen tersebut diwujudkan dalam sejumlah program unggulan seperti UM Technopreneurship Sprint, Green & Smart Campus, relawan literasi digital, magang industri MBKM, hingga inkubasi startup mahasiswa. Setiap kegiatan diwajibkan memiliki luaran terukur berupa produk, prototipe, publikasi, atau dampak sosial yang dapat diaudit dan direplikasi.

“Semangat Sumpah Pemuda kami terjemahkan menjadi kinerja yang dapat diverifikasi. Bukan sekadar slogan, tapi kontribusi yang nyata bagi masyarakat,” tegasnya.

Lebih lanjut, Prof. Ahsin menyebut bahwa kekuatan generasi Universitas Mulia terletak pada kemampuan mengubah masalah lokal menjadi inovasi bernilai tambah. “Api perjuangan generasi UM adalah kemampuan menciptakan aplikasi, usaha rintisan, atau gerakan sosial yang berkelanjutan dan berbasis bukti. Ukurannya sederhana: kemanfaatan nyata, bukan sekadar viral,” jelasnya.

Prof. Ahsin dan Mahasiswa Universitas Mulia berfoto di halaman Balai Kota Balikpapan usai mengikuti upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda.

Menutup wawancara, Rektor mengajak seluruh sivitas akademika untuk terus menjaga integritas dan semangat kebersamaan. “Berbeda pandangan itu biasa, tujuan kita sama: Indonesia maju. Jadikan kampus laboratorium solusi bagi Kaltim dan Indonesia 2045. Bergerak bersama, rendah hati dalam proses, tinggi prestasi dalam hasil,” pesannya.

Melalui partisipasi aktif dalam peringatan Hari Sumpah Pemuda dan implementasi nilai-nilai kebangsaan di lingkungan akademik, Universitas Mulia menegaskan perannya sebagai kampus inovatif yang melahirkan generasi technopreneur berkarakter, berdaya saing, dan berkomitmen bagi kemajuan bangsa. (YMN)

 

Balikpapan, 22 Oktober 2025 – Fakultas Hukum Universitas Mulia resmi menandatangani nota kesepahaman (MoA) dengan Kantor Wilayah Kementerian HAM Kalimantan Timur dalam kegiatan bertajuk Penguatan Hak Asasi Manusia bagi Mahasiswa, yang digelar di Ballroom Cheng Hoo, Rabu (22/10).

Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Kepala Kantor Wilayah Kemenham Kaltim, Dr. Umi Laili, S.H., M.H., beserta jajaran, serta civitas akademika Universitas Mulia. Tujuan kegiatan ini tidak hanya memperluas kerja sama kelembagaan, tetapi juga memperkuat kesadaran mahasiswa terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan.

Dalam sambutannya, Dr. Umi Laili menekankan bahwa penegakan HAM tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab negara, tetapi juga tanggung jawab seluruh elemen masyarakat, termasuk mahasiswa.

Kepala Kantor Wilayah Kemenham Kalimantan Timur, Dr. Umi Laili, S.H., M.H., saat memberikan sambutan penuh semangat pada kegiatan Penguatan HAM bagi Mahasiswa di Ballroom Cheng Hoo, Rabu (22/10).

“Mahasiswa hukum harus menjadi agen yang menegakkan nilai kemanusiaan di lingkungannya. Pemahaman terhadap HAM harus hidup dalam perilaku, bukan sekadar dalam teori,” ujarnya.

Beliau menambahkan, kerja sama antara Kemenham dan Universitas Mulia akan menjadi wadah bagi mahasiswa untuk belajar langsung mengenai praktik penegakan hukum dan HAM, baik melalui program magang, penelitian, maupun advokasi sosial.

“Kami ingin mahasiswa hukum menjadi bagian dari solusi, bukan hanya pengamat. Karena masa depan keadilan ada di tangan generasi muda,” tegasnya.

Sementara itu, Rektor Universitas Mulia, Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si., dalam sambutannya menegaskan bahwa kekuatan moral bangsa sesungguhnya terletak pada mahasiswa. Ia menekankan bahwa sejarah panjang perjalanan bangsa menunjukkan bahwa perubahan besar selalu dimotori oleh kaum muda yang berpikir kritis dan berjiwa idealis.

“Kekuatan moral itu sebenarnya ada di mahasiswa. Kalau kita melihat sejarah pergerakan bangsa, setiap perubahan besar di Indonesia selalu dimotori oleh mahasiswa,” ujar Prof. Ahsin.

Rektor Universitas Mulia, Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si., menyampaikan sambutan inspiratif tentang peran mahasiswa sebagai motor perubahan dalam sejarah bangsa.

Ia kemudian menelusuri jejak sejarah perjuangan mahasiswa sejak Boedi Oetomo (1908), Sumpah Pemuda (1928), Gerakan 1966, hingga Reformasi 1998. Semua momentum itu, katanya, menjadi bukti bahwa mahasiswa adalah lokomotif perubahan yang lahir dari idealisme dan kesadaran kebangsaan yang tinggi.

“Gerakan mahasiswa ini penuh dengan idealisme yang tidak tercemar oleh kepentingan politik pragmatis. Karena itu, mahasiswa harus terus menjadi agent of change,” tegasnya.

Prof. Ahsin juga mengaitkan penguatan nilai HAM dengan pentingnya menumbuhkan kepekaan terhadap pelanggaran kemanusiaan di berbagai bentuknya — baik fisik maupun psikis.

“HAM itu bukan sekadar kekerasan fisik. Kekerasan psikis juga pelanggaran HAM. Bahkan di lingkungan kampus pun potensi pelanggaran bisa terjadi,” ujarnya.

Rektor menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi ruang aman bagi semua sivitas akademika. Ia menyebut tiga dosa besar kampus — bullying, kekerasan seksual, dan intoleransi — sebagai bentuk nyata pelanggaran HAM di dunia pendidikan.

Suasana hangat seminar Penguatan Hak Asasi Manusia bagi Mahasiswa yang diikuti antusias oleh civitas akademika Fakultas Hukum Universitas Mulia.

Sebagai langkah preventif, Universitas Mulia telah membentuk Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (Satgas PPKS) guna memastikan lingkungan akademik yang aman, sehat, dan berkeadaban.

Selain itu, Prof. Ahsin juga menyoroti semangat demokrasi mahasiswa dalam kegiatan pemilihan Presiden BEM yang berlangsung jujur dan terbuka.

“Saya senang melihat mahasiswa beradu argumentasi dan memaparkan programnya secara terbuka. Itulah laboratorium demokrasi yang sesungguhnya — tanpa intervensi politik, murni karena idealisme,” ungkapnya.

Momen penandatanganan naskah Memorandum of Agreement (MoA) antara Fakultas Hukum Universitas Mulia yang diwakili Dekan Budiarsih, S.H., M.Hum., Ph.D., dengan Kantor Wilayah Kemenkumham Kalimantan Timur yang diwakili Dr. Umi Laili, S.H., M.H.

Menutup sambutannya, Rektor berpesan agar mahasiswa hukum tidak hanya menjadi penegak hukum yang cakap secara akademik, tetapi juga penjaga nurani bangsa yang menegakkan nilai kemanusiaan di atas segala kepentingan.

“Kalian bukan hanya calon penegak hukum, tapi juga calon pelopor kemanusiaan. Tugas kalian bukan sekadar memahami hukum, tetapi menegakkan nilai-nilai kemanusiaan di tengah masyarakat,” pungkasnya. (YMN)

Balikpapan, 16 Oktober 2025 – Seminar Farmasi Nasional (SAFANA) 2025 di Universitas Mulia tidak sekadar menjadi forum ilmiah, tetapi juga ruang untuk memperkuat arah riset farmasi Indonesia menuju kemandirian. Ketua Panitia, Sapri, M.Farm., dalam wawancara bersama Humas UM, menjelaskan bahwa inspirasi utama tema SAFANA tahun ini berakar pada kekayaan biodiversitas Indonesia, khususnya Kalimantan Timur.

Menurutnya, daerah ini menyimpan potensi besar bahan alam seperti bawang Dayak, jahe Balikpapan, dan propolis lebah kelulut, yang sejak lama dikenal memiliki khasiat obat tradisional. Namun, pemanfaatannya kerap terhambat oleh masalah bioavailabilitas, kelarutan rendah, dan stabilitas yang buruk. “Nanoteknologi menawarkan solusi ilmiah untuk mengatasi keterbatasan itu,” ujar Sapri. Ia menambahkan, arah penelitian ini sejalan dengan visi nasional dalam Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2016 tentang Percepatan Pengembangan Industri Farmasi.

Ketua Panitia SAFANA 2025, Sapri, M.Farm., saat menyampaikan laporan kegiatan di hadapan peserta seminar di Ballroom Cheng Hoo Universitas Mulia.

Lebih jauh, Sapri menjelaskan bahwa peran nanoteknologi dalam bidang farmasi sangat fundamental. Dengan kemampuan memanipulasi material pada skala di bawah 200 nanometer, teknologi ini mampu meningkatkan solubilitas, stabilitas, dan penargetan spesifik bahan alam. “Kita bisa meningkatkan bioavailabilitas senyawa seperti kurkumin dari kunyit hingga 10–20 kali lipat. Dosis bisa ditekan, efek samping berkurang, dan kerja obat menjadi lebih cepat,” paparnya.

Ia mencontohkan penerapan konsep targeted drug delivery, di mana nanopartikel mengantarkan zat aktif langsung ke sel sasaran, menghindari toksisitas sistemik, dan bahkan dapat dipantau secara real-time menggunakan nanomaterial cerdas. Pendekatan ini, lanjutnya, sangat menjanjikan untuk terapi penyakit kronis seperti diabetes dan kanker, sebagaimana telah diteliti oleh berbagai universitas di Indonesia.

Sebagai bentuk komitmen pengembangan riset, Program Studi Farmasi Universitas Mulia telah melibatkan mahasiswa dalam penelitian berbasis nanoteknologi. Salah satu riset yang sedang berjalan adalah pengembangan nanoemulsi ekstrak propolis lebah kelulut, hasil kerja sama dengan peternak Kampung Lebah Madsant di Kelurahan Margomulyo, Balikpapan Barat. Melalui riset ini, mahasiswa tidak hanya belajar formulasi, tetapi juga memahami rantai nilai bahan alam dari sumbernya.

Penyerahan cendera mata kepada narasumber Prof. apt. Muchtaridi, Ph.D. sebagai bentuk apresiasi atas penyampaian materi dalam Seminar Farmasi Nasional (SAFANA) 2025 di Universitas Mulia.

Sapri menilai, agar hasil penelitian benar-benar berdampak, hilirisasi harus diperkuat. “Riset yang baik tidak boleh berhenti di laboratorium. Perlu ada sinergi pentahelix antara akademisi, industri, pemerintah, masyarakat, dan media,” tegasnya. Ia menyebut sejumlah mitra yang telah menjalin kolaborasi dengan Universitas Mulia, antara lain BRIDA Kaltim, BRIN, BPSI Samboja, Kebun Raya Balikpapan, Universitas Islam Indonesia, dan Kampung Lebah Madsant.

Dalam aspek akademik, kurikulum Prodi Farmasi UM telah dirancang berbasis KKNI, KBK APTFI, dan Outcome-Based Education (OBE). Kurikulum tersebut mengintegrasikan mata kuliah inti seperti Farmakognosi, Bioteknologi Farmasi, serta Formulasi dan Teknologi Sediaan Farmasi untuk membangun landasan ilmiah yang kuat. “Kami ingin membentuk cara berpikir saintifik sekaligus kreatif. Komposisi pembelajarannya sekitar 60 persen teori dan 40 persen inovasi praktis,” jelasnya.

Pendekatan Research-Based Learning (RBL) diterapkan sejak semester lima, di mana mahasiswa diarahkan merancang eksperimen mandiri berbasis bahan lokal. Salah satunya pengembangan sistem penghantaran nano dari ekstrak propolis. Kegiatan ini diintegrasikan langsung dengan penelitian dosen sehingga mahasiswa mendapat pengalaman riset yang nyata dan relevan dengan isu kesehatan kontemporer.

Sapri menambahkan, Prodi Farmasi UM juga memfasilitasi mahasiswa dengan akses penuh ke laboratorium, bahan, dan peralatan penelitian. “Mereka tidak hanya mengamati, tetapi juga terlibat langsung dalam formulasi sediaan farmasi dengan bimbingan dosen. Proses ini penting untuk menanamkan budaya ilmiah dan kemandirian riset sejak dini,” ujarnya.

Di akhir wawancara, Sapri menegaskan bahwa penyelenggaraan SAFANA 2025 diharapkan menjadi katalis bagi peningkatan kualitas riset dan publikasi ilmiah di lingkungan Universitas Mulia. “Kami ingin mendorong dosen dan mahasiswa agar hasil risetnya tidak berhenti di laporan internal, tetapi dapat terpublikasi di jurnal nasional terakreditasi, bahkan terindeks Scopus,” katanya. (YMN)

Balikpapan, 16 Oktober 2025 – Seminar Farmasi Nasional (SAFANA) 2025 yang digelar di Ballroom Cheng Hoo Universitas Mulia, Kamis (16/10), menjadi ajang bertemunya akademisi, peneliti, dan praktisi farmasi dari berbagai perguruan tinggi Indonesia. Tahun ini, SAFANA mengangkat tema “Eksplorasi Bahan Alam dengan Nanoteknologi: Menjawab Tantangan Kesehatan Masa Depan.”

Ketua Panitia, Sapri, M.Farm., dalam sambutannya menekankan bahwa pemanfaatan teknologi nano merupakan langkah strategis untuk memperkuat riset bahan alam di Indonesia. Menurutnya, tumbuhan dan mikroba memiliki potensi bioaktif yang dapat dimaksimalkan melalui pendekatan nanoteknologi, sehingga mampu meningkatkan efektivitas terapi sekaligus meminimalkan efek samping.

Apt. Warrantia Citta Citti Putri, S.Farm., M.Sc., Ketua Program Studi Farmasi Universitas Mulia, memberikan sambutan pada pembukaan Seminar Farmasi Nasional (SAFANA) 2025 di Ballroom Cheng Hoo, Kamis (16/10).

“Rekayasa skala nano memberi peluang baru dalam pengembangan produk farmasi yang lebih presisi. Pendekatan ini penting untuk menghadapi berbagai tantangan kesehatan, mulai dari resistensi antimikroba, penyakit degeneratif, hingga ancaman pandemi global,” ujar Sapri di hadapan peserta seminar.

Ia juga menggarisbawahi bahwa arah kebijakan nasional telah menempatkan nanoteknologi sebagai bagian penting dari masa depan industri farmasi Indonesia. “Pemerintah melalui Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 7 Tahun 2022 mendorong integrasi teknologi nano dalam pengembangan obat berbasis bahan alam. Ini menunjukkan bahwa riset farmasi tidak bisa lagi berdiri sendiri, melainkan harus bergerak dalam kolaborasi lintas disiplin,” tambahnya.

Lebih jauh, Sapri mengaitkan tema SAFANA dengan target Sustainable Development Goals (SDGs) 2030, khususnya pada aspek kesehatan yang berkelanjutan. Ia menyebut bahwa perubahan iklim, polusi, dan munculnya penyakit baru menuntut model riset yang tidak hanya fokus pada inovasi ilmiah, tetapi juga keberlanjutan ekosistem kesehatan secara global.

Melalui SAFANA 2025, panitia menegaskan tiga tujuan utama: memfasilitasi pertukaran pengetahuan tentang inovasi bahan alam berskala nano; memperkuat jejaring antara akademisi, praktisi, dan industri; serta meningkatkan kesadaran publik akan peran teknologi nano dalam sistem kesehatan nasional.

Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber utama, Prof. apt. Muchtaridi, Ph.D. dan Prof. Dr. apt. Yandi Syukri, S.Si., M.Si., serta diikuti peserta dari berbagai perguruan tinggi, baik secara luring maupun daring. Sebanyak 25 makalah dipresentasikan — terdiri atas 11 pemakalah luring, 12 pemakalah daring, dan 2 poster ilmiah.

Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Mulia, Wisnu Hera Pamungkas, S.T.P., M.Eng., menyampaikan sambutan mewakili Rektor yang berhalangan hadir pada acara pembukaan SAFANA 2025 di Kampus Cheng Hoo, Balikpapan.

Institusi yang berpartisipasi antara lain Politeknik Nusantara Balikpapan, Institut Teknologi Sumatra, Universitas Padjadjaran, Universitas Mulawarman, Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA, Universitas Islam Indonesia, Universitas Hang Tuah, Universitas Sam Ratulangi, dan Universitas Indraprasta PGRI.

Penyelenggaraan SAFANA tahun ini merupakan hasil kolaborasi Universitas Mulia, Politeknik Nusantara Balikpapan, dan Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) Provinsi Kalimantan Timur. Dukungan sponsor juga datang dari sejumlah lembaga dan perusahaan, di antaranya Yayasan Airlangga Balikpapan, PT Ganda Alam Makmur, PT Promed Nusantara Jaya, Apotek Arka Medika, PT Ubylab Medika Pratama, Pertamina Hulu Mahakam, SKK Migas, Squadesh, Entrasol, Klinik Laboratorium Cito, Natasha, dan PT Eralika Mitra Buana.

uasana Seminar Farmasi Nasional (SAFANA) 2025 yang berlangsung di Ballroom Cheng Hoo Universitas Mulia, diikuti oleh peserta dari berbagai perguruan tinggi secara luring dan daring.

Di akhir sambutannya, Sapri menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang berkontribusi dalam penyelenggaraan seminar. “Terima kasih kepada panitia, sponsor, dan seluruh peserta yang telah hadir. Semoga diskusi ilmiah hari ini menghasilkan gagasan yang dapat memperkuat riset farmasi Indonesia dan membawa manfaat bagi masyarakat luas,” tuturnya.

SAFANA 2025 menjadi ruang ilmiah yang menegaskan posisi Universitas Mulia sebagai institusi yang aktif mendorong riset terapan dan kolaborasi multidisiplin di bidang kesehatan. Melalui pendekatan bahan alam dan teknologi nano, seminar ini membuka arah baru bagi pengembangan farmasi Indonesia yang berorientasi pada keberlanjutan dan daya saing global. (YMN)

 

Balikpapan, 14 Oktober 2025 — Program Studi Akuntansi Universitas Mulia mengarahkan fokus kuliah umum tahun ini pada tema pasar modal. Bukan sekadar mengikuti tren, langkah ini lahir dari kebutuhan akademik yang mendesak: menghubungkan teori akuntansi dengan dinamika nyata dunia keuangan modern.

Ketua Program Studi Akuntansi, Eko Edy Susanto, S.E., M.Ak., menilai pasar modal kini menjadi ruang belajar paling relevan untuk melatih daya analisis dan tanggung jawab profesional calon akuntan. “Akuntansi tidak berhenti di pencatatan dan pelaporan. Ia menjadi alat baca untuk menilai kesehatan perusahaan, memahami arah ekonomi, dan mengambil keputusan investasi secara rasional,” ujarnya.

Menurutnya, kuliah umum ini dirancang bukan untuk menambah agenda seremonial, tetapi untuk menguji sejauh mana mahasiswa dapat mengaitkan laporan keuangan, rasio keuangan, dan analisis fundamental dengan praktik investasi nyata. Melalui interaksi langsung bersama praktisi Bursa Efek Indonesia (BEI) dan PT MNC Sekuritas, mahasiswa diajak memahami bagaimana angka di laporan keuangan bisa berubah menjadi keputusan investasi yang berdampak.

Para pimpinan Universitas Mulia, narasumber, dan mahasiswa peserta Kuliah Umum Pasar Modal 2025 berfoto bersama usai prosesi pembukaan kegiatan di Ballroom Cheng Hoo.

Pendekatan ini, lanjutnya, menuntut mahasiswa keluar dari kebiasaan belajar pasif. Prodi menerapkan experiential learning, di mana mahasiswa diminta menganalisis kasus nyata, berdiskusi kritis dengan narasumber, dan melakukan simulasi trading melalui aplikasi pasar modal yang terhubung dengan BEI. “Mereka tidak hanya mendengar, tetapi juga bereksperimen, menguji asumsi, dan berlatih mengambil keputusan,” katanya.

Kegiatan ini juga akan ditindaklanjuti di dalam kurikulum. Materi pasar modal dan investasi akan diintegrasikan ke sejumlah mata kuliah seperti Analisis Laporan Keuangan, Akuntansi Keuangan Lanjutan, dan Akuntansi Manajemen. Prodi juga menyiapkan workshop tematik, riset kolaboratif, serta lomba simulasi investasi agar mahasiswa memiliki ruang eksplorasi berkelanjutan.

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Dr. Ivan Armawan, S.E., M.M., membacakan Surat Keputusan Pelantikan Kelompok Studi Pasar Modal Universitas Mulia pada prosesi pelantikan.

Tidak berhenti di ruang kelas, Prodi Akuntansi tengah mempersiapkan pembentukan Kelompok Studi Pasar Modal (KSPM). Komunitas ini akan menjadi wadah pembinaan mahasiswa investor muda dan mitra strategis bagi BEI serta OJK dalam mengembangkan Galeri Investasi Kampus. Melalui KSPM, mahasiswa diharapkan dapat belajar menganalisis saham, memahami perilaku pasar, dan membangun jejaring dengan pelaku industri keuangan.

Namun, Eko tidak menutup mata terhadap tantangan yang dihadapi. Menurutnya, banyak mahasiswa yang terpengaruh oleh narasi instan di media sosial tentang “cepat kaya lewat trading.” Padahal, pasar modal menuntut literasi dan disiplin tinggi. “Tugas akademik adalah meluruskan persepsi itu. Kami ingin mahasiswa memahami investasi sebagai proses jangka panjang, bukan perjudian spekulatif,” tegasnya.

Ia menambahkan, Prodi berkomitmen menanamkan nilai investasi yang rasional dan beretika, dengan menempatkan tanggung jawab sosial sebagai dasar setiap keputusan finansial. Tema kuliah umum “Investasi Cerdas, Masa Depan Berkualitas” mencerminkan nilai itu — bahwa investasi tidak semata mencari keuntungan pribadi, tetapi juga berkontribusi pada keberlanjutan ekonomi nasional.

Suasana khidmat saat berlangsungnya sesi pemaparan materi pada Kuliah Umum Pasar Modal 2025 di Universitas Mulia.

Eko berharap, setelah mengikuti kuliah umum ini, mahasiswa memiliki pandangan yang lebih luas tentang pasar modal dan peran akuntan di dalamnya. “Kami ingin mereka keluar dari ruang kuliah dengan kesadaran baru — bahwa akuntan bukan sekadar penyusun laporan, melainkan pembaca arah ekonomi dan penjaga transparansi. Mereka harus hadir sebagai aktor intelektual dalam ekosistem keuangan yang sehat dan berkeadilan,” tutupnya. (YMN)

Balikpapan, 14 Oktober 2025 – Universitas Mulia menggelar Kuliah Umum Pasar Modal 2025 dengan tema “Investasi Cerdas, Masa Depan Berkualitas: Menumbuhkan Minat dan Pengetahuan Pasar Saham di Kalangan Mahasiswa Universitas Mulia”, Selasa (14/10/2025) pagi, bertempat di Ballroom Cheng Hoo Universitas Mulia.

Kegiatan ini diawali dengan pelantikan Kelompok Studi Pasar Modal (KSPM) Universitas Mulia periode 2025–2026, kemudian dilanjutkan dengan kuliah umum menghadirkan dua narasumber dari dunia pasar modal, yakni Aldila Bandaro, Deputi Kepala Wilayah Bursa Efek Indonesia Kalimantan Timur, dan Surya Darma Hakim, PIC PT MNC Sekuritas Balikpapan.

Mewakili Rektor, Wakil Rektor Bidang Sumber Daya, Wibisono Wibisono, S.E., M.T.I., dalam sambutannya menekankan pentingnya memanfaatkan kemudahan teknologi di era digital secara bijak dan produktif. Ia mengajak mahasiswa untuk bersyukur karena hidup di masa yang penuh kemudahan, di mana akses informasi dan peluang belajar terbuka sangat luas.

“Mahasiswa hari ini hidup di era dengan banyak kemudahan. Dulu, mahasiswa tahun 80-an harus mengetik skripsi dengan mesin ketik. Era 90-an sudah mulai menggunakan komputer. Tahun 1996, internet baru masuk Kalimantan Timur, dan Balikpapan adalah kota pertama yang memiliki ISP. Sekarang, cukup buka ponsel, semuanya bisa diakses dengan mudah,” tutur Wibisono.

Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Universitas Mulia, Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I., saat memberikan sambutan pada kegiatan Kuliah Umum Pasar Modal 2025 di Ballroom Cheng Hoo, Selasa (14/10).

Beliau kemudian menelusuri perjalanan generasi akademik dari masa ke masa — mulai dari era mesin ketik, kemunculan komputer dan internet, hadirnya mesin pencari seperti Yahoo dan Google, hingga kini memasuki era Artificial Intelligence (AI).

“Kalau dulu search engine hanya membantu mencari informasi, kini AI bisa membantu berpikir dan bahkan mengambil keputusan. Tapi ini pisau bermata dua — bisa meningkatkan kecerdasan mahasiswa, tapi juga bisa menurunkannya jika disalahgunakan. AI bisa mematikan kreativitas kalau mahasiswa terlalu bergantung padanya,” tegasnya.

Menurutnya, kemajuan teknologi seharusnya tidak membuat mahasiswa malas berpikir, melainkan menjadi alat bantu untuk meningkatkan daya nalar, kreativitas, dan efisiensi belajar.

Memasuki pembahasan inti, Wibisono mengaitkan tema kuliah umum dengan realitas ekonomi digital saat ini. Ia menjelaskan bahwa aktivitas perdagangan saham di pasar modal sejatinya merupakan bentuk modern dari kegiatan berdagang tradisional, hanya saja dilakukan melalui teknologi.

“Dulu berdagang itu harus punya tempat, menata barang, mengangkut dagangan. Sekarang, cukup di depan komputer sudah bisa stock trading. Ini bukan judi, karena bukan menebak angka. Ini sama seperti berdagang di pasar — memilih mana yang memberi keuntungan terbaik,” jelasnya.

Sebagai contoh menarik, Wibisono menuturkan logika sederhana agar mahasiswa lebih memahami makna kepemilikan saham.

“Kalau kalian setiap hari pakai pasta gigi Pepsodent, berarti kalian menggunakan produk Unilever. Bayangkan kalau kalian punya saham Unilever, itu artinya kalian memakai produk dari perusahaan kalian sendiri,” ujarnya disambut tawa dan tepuk tangan peserta.

Melalui contoh tersebut, Wibisono ingin menanamkan kesadaran bahwa investasi bukan sekadar mencari keuntungan, tetapi juga bentuk partisipasi dalam ekosistem ekonomi yang produktif. Ia mendorong mahasiswa untuk belajar berinvestasi sejak dini dengan disiplin dan konsisten.

“Belajarlah dari skala kecil. Kalau kalian bisa konsisten profit 2% per hari, dari modal 1 juta itu hanya 20 ribu. Tapi kalau nanti modal kalian 100 juta, hasilnya bisa 2 juta per hari. Yang penting adalah belajar dengan baik dan konsisten,” pesan beliau.

Kegiatan ini dihadiri oleh pimpinan fakultas, dosen, serta ratusan mahasiswa dari Program Studi Akuntansi dan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mulia. Melalui kegiatan ini, diharapkan mahasiswa mampu memahami dunia pasar modal secara lebih mendalam dan menumbuhkan budaya investasi yang cerdas, etis, dan produktif. (YMN)

Balikpapan, 10 Oktober 2025 — Laut Indonesia, kendati kaya keanekaragaman hayati, kini berada di bawah tekanan eksploitasi, polusi, dan perubahan iklim. Di tengah tantangan itu, Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si., Rektor Universitas Mulia, menggagas cara pandang baru melalui buku Kecerdasan Buatan untuk Laut Indonesia: Inovasi Teknologi dalam Konservasi Ekosistem Kelautan, yang ia tulis bersama Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I. (Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Universitas Mulia) dan Dr. Hadiratul Kudsiah dosen Universitas Hasanuddin Makassar.

Sampul buku “Kecerdasan Buatan untuk Laut Indonesia: Inovasi Teknologi dalam Konservasi Ekosistem Kelautan” karya Prof. Dr. Muhammad Ahsin Rifa’i dan Yusuf Wibisono.

“Indonesia adalah negara maritim superkaya biodiversitas, namun tertekan oleh eksploitasi berlebih, polusi, dan dampak iklim. Metode konservasi konvensional saja tidak cukup, karena itu kami menulis buku ini untuk mendorong adopsi teknologi terutama AI agar pemantauan, analisis, dan pengambilan keputusan konservasi menjadi lebih cepat, presisi, dan berbasis bukti,” ungkap Prof. Ahsin.

Dari Keterbatasan Lapangan ke Gagasan Humanistik Teknologi

Ide buku ini berangkat dari kesenjangan antara kebutuhan konservasi real-time dan keterbatasan instrumen di lapangan. Prof. Ahsin menegaskan, Universitas Mulia membawa visi technopreneurship yang berpusat pada manusia (human-centered technopreneurship) dengan semangat “AI untuk kemaslahatan manusia dan laut.”

Baginya, teknologi harus menempati posisi etis: bukan sekadar perangkat mekanis, melainkan sarana pemulihan ekosistem, pemberdayaan masyarakat pesisir, dan penguatan kebijakan publik berbasis data.

Tiga Ancaman Nyata dan Satu Masalah Pokok

Prof. Ahsin menyoroti tiga persoalan paling mendesak di laut Indonesia: praktik penangkapan destruktif dan IUU fishing, polusi plastik dan mikroplastik, serta dampak perubahan iklim seperti pemutihan karang dan kenaikan muka air laut.
Namun di balik itu, ia menegaskan adanya akar sistemik: kesenjangan data dan lemahnya infrastruktur pemantauan, yang membuat kebijakan konservasi sering tertinggal dari dinamika kerusakan di lapangan.

Kampus sebagai Ruang Orkestrasi Pengetahuan

Dalam pandangan Prof. Ahsin, perguruan tinggi memiliki peran yang tak tergantikan dalam merangkai disiplin yang tampak berjauhan—dari AI dan data science, hingga ekologi, kebijakan publik, dan sosial maritim.

“Kampus menyediakan metodologi, validasi ilmiah, dan integrasi lintas-disiplin agar solusi tidak spekulatif. Publikasi seperti buku ini merangkum bukti, mengonversinya menjadi strategi yang bisa diadopsi pemerintah, LSM, dan komunitas pesisir,” ujarnya.

Universitas Mulia, lanjutnya, tengah menyiapkan pendekatan pembelajaran dan riset yang menghubungkan laboratorium data laut, sistem IoT dan citra satelit, bioakustik, serta etika dan tata kelola AI, agar teknologi diadopsi secara aman, inklusif, dan berkelanjutan.

Kolaborasi Tiga Ilmuwan Lintas Disiplin

Dalam proses penulisan, masing-masing penulis berkontribusi sesuai kepakaran. Prof. Ahsin dan Hadiratul Kudsiah menyusun fondasi ekosistem dan peta ancaman lingkungan laut, sedangkan Yusuf Wibisono, pakar teknologi dan data dari Universitas Mulia, mengembangkan kerangka machine learning, sensor, dan penerapan AI untuk deteksi IUU fishing, pemantauan mikroplastik, serta prediksi iklim laut.

“Kami menyatukan hasilnya melalui tinjauan bersama agar narasi ilmiah, kebijakan, dan praktik lapangan klop. Hasilnya adalah peta jalan integrasi teknologi kelautan yang aplikatif, bukan sekadar konseptual,” kata Prof. Ahsin.

Rektor Universitas Mulia, Prof. Dr. Muhammad Ahsin Rifa’i, menunjukkan buku karyanya bersama Yusuf Wibisono berjudul “Kecerdasan Buatan untuk Laut Indonesia” saat wawancara eksklusif di ruang kerjanya

Menuju Konservasi Berbasis Kecerdasan

Buku ini bukan sekadar panduan akademik, melainkan ajakan reflektif: bagaimana kecerdasan buatan dapat menjadi bagian dari etika lingkungan dan masa depan konservasi Indonesia.

“Laut Indonesia adalah laboratorium hidup yang membutuhkan kecerdasan manusia dan mesin sekaligus,” tutup Prof. Ahsin. “Kita harus memastikan bahwa teknologi yang kita kembangkan benar-benar berpihak pada kehidupan.” (YMN)

Balikpapan, 8 Oktober 2025 — Pelaksanaan Pasar Pagi Mulia di Bay Park Plaza tidak hanya menghadirkan bazar dan pertunjukan musik, tetapi juga sejumlah kegiatan kreatif bagi masyarakat dan mahasiswa.

Salah satunya adalah Yoga & Sound Bath Class, sesi relaksasi yang dipandu instruktur yoga dan fasilitator sound bath. Kegiatan ini memberi kesempatan bagi pengunjung untuk merasakan suasana tenang di tengah keramaian acara.

Selain itu, Workshop Beads & Craft menjadi ruang bagi peserta untuk belajar membuat perhiasan manik-manik dan aksesori buatan tangan. Kegiatan ini menarik minat pengunjung dari berbagai kalangan.

 

Program Studi PG PAUD Universitas Mulia juga terlibat dengan menggelar Lomba Mewarnai Anak-anak yang diikuti lebih dari 50 peserta dari berbagai sekolah di Balikpapan.

Dari kalangan muda, K-Pop Dance Competition & Coswalk Parade menjadi salah satu bagian acara yang paling ramai dikunjungi. Komunitas pecinta budaya populer dari Balikpapan berpartisipasi aktif menampilkan kreativitas mereka.

Selain itu, kegiatan SMADA.COM Wanted hasil kolaborasi dengan SMA Negeri 2 Balikpapan menampilkan karya siswa SMA/SMK. Kegiatan ini memberi ruang bagi generasi muda untuk memperlihatkan karya mereka di luar lingkungan sekolah.

Keseluruhan kegiatan tersebut menunjukkan keterlibatan aktif mahasiswa dan masyarakat dalam satu ruang kegiatan yang terbuka dan kreatif. (YMN)