Tag Archive for: Rektor Universitas Mulia

Balikpapan, 21 Maret 2026—Idulfitri bukan sekadar penanda berakhirnya Ramadan, tetapi momentum untuk menata ulang cara kita memaknai ilmu, kerja, dan pengabdian. Dalam keheningan yang lahir dari latihan menahan diri, kita diajak untuk kembali pada esensi: kejujuran dalam berpikir, integritas dalam bertindak, dan ketulusan dalam memberi manfaat.

Keluarga besar Universitas Mulia memaknai Idulfitri sebagai titik temu antara kecerdasan intelektual dan kedewasaan spiritual. Di ruang-ruang kelas, laboratorium, hingga pengabdian kepada masyarakat, nilai-nilai tersebut menjadi fondasi yang menjaga agar ilmu tidak kehilangan arah, dan kemajuan tidak tercerabut dari kemanusiaan.

Atas nama pimpinan Universitas Mulia, kami mengucapkan Selamat Idulfitri 1 Syawal 1447 H. Semoga kejernihan hati yang kita rawat selama Ramadan dapat berlanjut menjadi etos baru dalam berkarya—lebih jujur, lebih bertanggung jawab, dan lebih bermakna bagi sesama. (YMN)

 

Balikpapan, 2 Februari 2026 — Rektor Universitas Mulia, Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifai, M.Si., menyampaikan sambutan dalam kegiatan Sosialisasi Program Gratis Pol Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur yang berlangsung di Ballroom Cheng Hoo Universitas Mulia Kamis kemarin, 29 Januari 2026. Dalam forum tersebut, ia menegaskan posisi strategis kebijakan pendidikan gratis daerah dalam mendukung agenda nasional menuju Indonesia Emas 2045.

Prof. Ahsin Rifai mengungkapkan bahwa Universitas Mulia merasa terhormat dipercaya sebagai tuan rumah kegiatan sosialisasi yang telah memasuki tahun kedua pelaksanaannya. Ia menilai Program Gratis Pol sebagai kebijakan yang sejalan dengan arah pembangunan jangka panjang bangsa, terutama dalam membangun sumber daya manusia unggul yang mampu menggerakkan inovasi, industrialisasi, dan hilirisasi produk.

Menurutnya, target Indonesia Emas pada 2045—sekitar 19 tahun mendatang—bukan sekadar slogan pembangunan, melainkan visi konkret menjadikan Indonesia sebagai negara maju dengan kekuatan ekonomi besar, daya cipta tinggi, serta kapasitas produksi yang mandiri. “Jika kita ingin sampai pada titik itu, maka generasi emas harus dipersiapkan sejak sekarang. Pendidikan menjadi kuncinya,” ujarnya.

Dalam konteks tersebut, ia menilai kebijakan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur sebagai langkah yang cermat. Program Gratis Pol, lanjutnya, membuka akses pendidikan tinggi bagi masyarakat luas dan memperkuat basis sumber daya manusia daerah. Ia juga mengenang fase awal peluncuran program, ketika regulasi belum sepenuhnya terbit dan publik masih meragukan implementasinya.

Prof. Ahsin Rifai menceritakan bahwa Universitas Mulia bahkan sempat mengundang para ketua RT se-Kota Balikpapan untuk menyosialisasikan program tersebut, meskipun informasi yang tersedia kala itu masih terbatas. Keraguan masyarakat, menurutnya, merupakan hal wajar dalam sebuah kebijakan baru yang lintas sektor dan belum memiliki preseden sebelumnya. Namun pihak kampus memilih menyampaikan keyakinan bahwa pemerintah provinsi memiliki komitmen kuat untuk menjalankannya secara berkelanjutan.

Para pimpinan Universitas Mulia bersama Tim Pengelola Pendidikan Gratis Pol Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur berfoto bersama di atas panggung Ballroom Cheng Hoo Universitas Mulia usai kegiatan sosialisasi.

“Program baru pasti tidak sempurna di awal. Yang penting ada ruang perbaikan dan evaluasi. Itu yang kami sampaikan kepada masyarakat waktu itu,” tuturnya.

Ia menyampaikan apresiasi atas keberlanjutan Program Gratis Pol yang telah berjalan selama satu tahun dan kembali dilanjutkan pada tahun kedua. Kehadiran para kepala program studi perguruan tinggi se-Kota Balikpapan, Se-Kota Penajam dan Sekota Tanah Grogot dalam sosialisasi kali ini, menurutnya, sangat relevan karena kaprodi kerap menjadi rujukan utama mahasiswa dan orang tua dalam mencari kejelasan kebijakan. Ia berharap pemaparan tim pengelola dapat memberikan kepastian atas berbagai pertanyaan yang selama ini berkembang di lingkungan akademik.

Dalam sambutannya, Prof. Ahsin Rifai juga memaparkan dampak nyata Program Gratis Pol terhadap dinamika penerimaan mahasiswa di Universitas Mulia. Ia menyebutkan bahwa pada 2025 terjadi peningkatan jumlah mahasiswa secara signifikan seiring implementasi kebijakan tersebut. Sementara pada awal 2026, tercatat sekitar 480 calon mahasiswa telah mendaftar, dengan lebih dari 400-an di antaranya melakukan daftar ulang, meskipun proses kelulusan SMA/SMK belum berlangsung.

Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan kuatnya pengaruh Program Gratis Pol dalam memperluas akses pendidikan tinggi bagi generasi muda Kalimantan Timur. Ia menutup sambutan dengan harapan agar kebijakan tersebut terus memberi kesempatan kepada masyarakat untuk menempuh pendidikan tinggi, sekaligus menyiapkan generasi yang kelak memimpin dan berkontribusi dalam mewujudkan Indonesia Emas. (YMN)

 

Balikpapan, 19 Desember 2025 — Universitas Mulia memasuki usia tujuh tahun dengan menandai fase transisi pengembangan institusi yang diarahkan pada penguatan riset, hilirisasi inovasi, serta peningkatan mutu akademik secara berkelanjutan. Arah tersebut disampaikan Rektor Universitas Mulia, Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si., dalam Dies Natalis ke-7 yang diselenggarakan pada Kamis (18/12/2025) dengan tema “Mulia dalam Riset, Unggul dalam Inovasi.”

Dalam sambutannya, Rektor memaknai usia tujuh tahun sebagai tahap penting dalam siklus pertumbuhan institusi. Ia mengibaratkan fase ini sebagai perkembangan seorang anak yang telah melampaui tahap dasar dan mulai membangun nalar, karakter, serta orientasi hidup yang lebih terarah. Pada titik tersebut, Universitas Mulia dinilai telah meninggalkan fase perintisan dan memasuki tahap pemantapan jati diri serta percepatan kualitas.

Rektor Universitas Mulia bersama para dekan berpose dengan Kepala BRIDA Kalimantan Timur usai penandatanganan naskah Memorandum of Agreement (MoA) sebagai dasar kerja sama penguatan riset dan inovasi.

Rektor menjelaskan bahwa arah pengembangan Universitas Mulia disusun secara sistematis melalui Roadmap Rencana Induk Pengembangan (RIP). Pada fase awal, universitas berfokus pada penguatan tata kelola, peningkatan mutu pembelajaran, dan konsolidasi sumber daya. Memasuki usia ke-7, Universitas Mulia diposisikan sebagai Teaching University yang telah mapan dan secara bertahap diarahkan menuju transformasi sebagai Research-Based University.

Tema Dies Natalis tahun ini, menurut Rektor, merepresentasikan orientasi strategis jangka menengah dan panjang universitas. Riset ditempatkan sebagai fondasi peningkatan mutu akademik sekaligus reputasi institusi. “Mulia dalam Riset” dimaknai sebagai komitmen untuk mengembangkan riset yang bermutu, beretika, dan relevan, serta memiliki daya guna bagi pengembangan ilmu pengetahuan, penyelesaian persoalan masyarakat, dan pembangunan daerah.

Sementara itu, “Unggul dalam Inovasi” dipahami sebagai kelanjutan dari riset yang produktif. Rektor menekankan pentingnya hilirisasi hasil riset ke dalam berbagai bentuk inovasi, baik berupa produk, teknologi tepat guna, model layanan, solusi sosial, maupun rekomendasi kebijakan. Inovasi diposisikan sebagai penghubung antara kapasitas akademik kampus dan kebutuhan riil masyarakat.

Pada kesempatan tersebut, Rektor juga menyampaikan perkembangan mutakhir institusi. Ia mengungkapkan bahwa hasil akreditasi institusi Universitas Mulia yang baru saja diumumkan oleh BAN-PT memperoleh predikat Baik Sekali.
“Alhamdulillah, hasil akreditasi institusi Universitas Mulia telah diumumkan dan kita meraih predikat Baik Sekali. Ini menjadi pijakan penting untuk melangkah ke tahap peningkatan mutu berikutnya,” ujarnya.

Lebih lanjut, Rektor menyampaikan target peningkatan akreditasi program studi pada periode 2026–2030. Ia menargetkan sejumlah program studi yang saat ini telah terakreditasi Baik Sekali untuk meningkat menjadi Unggul, di antaranya Program Studi Informatika, Sistem Informasi, Akuntansi, Hukum, dan Manajemen.
“Target kami pada periode 2026–2030 adalah mendorong program studi yang sudah Baik Sekali agar naik menjadi Unggul,” tegasnya.

Rektor Universitas Mulia, Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si., menyerahkan buku hasil kajian tentang kelangkaan air bersih di Kota Balikpapan kepada salah satu mitra kerja Universitas Mulia.

Selain itu, Rektor juga menargetkan peningkatan akreditasi bagi program studi lainnya, yakni Teknik Sipil, Teknik Industri, Desain Komunikasi Visual, Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian, Teknologi Informasi, PGPAUD, dan Farmasi, dari predikat Baik menjadi Baik Sekali.

Dari sisi penguatan kelembagaan, Universitas Mulia pada tahun akademik ini menambah dua fakultas baru, yaitu Fakultas Hukum dan Fakultas Teknik, sebagai bagian dari strategi pengembangan disiplin keilmuan yang relevan dengan kebutuhan wilayah dan nasional. Sejalan dengan itu, Universitas Mulia juga membuka lima program studi baru, yakni Teknik Sipil, Teknik Industri, Desain Komunikasi Visual, serta Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian.

Rektor Universitas Mulia menyerahkan piagam penghargaan kepada Ketua Program Studi PGPAUD, Bety Vitriana, M.Pd., sebagai program studi dengan capaian Audit Mutu Internal (AMI) terbaik.

Rektor juga mengungkapkan rencana pengembangan akademik ke depan. Pada tahun mendatang, Universitas Mulia direncanakan membuka enam program studi baru, meliputi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Pendidikan Guru Matematika, Pendidikan Guru Bahasa Inggris, Psikologi, Hubungan Internasional, dan Ilmu Komunikasi.
“Insyaallah, tahun depan kami akan membuka enam program studi baru sebagai bagian dari penguatan peran Universitas Mulia dalam penyediaan sumber daya manusia yang relevan dan adaptif,” ungkapnya.

Dalam konteks pembangunan wilayah, Universitas Mulia menempatkan diri sebagai bagian dari ekosistem pembangunan Kalimantan Timur. Posisi strategis Kota Balikpapan sebagai penyangga utama Ibu Kota Nusantara (IKN) memperkuat peran universitas, tidak hanya sebagai institusi pendidikan tinggi, tetapi juga sebagai mitra strategis dalam pengembangan riset terapan dan inovasi kebijakan.

Ketua Yayasan Airlangga, Mulia Hayati Devianti, menyerahkan potongan tumpeng kepada Rektor Universitas Mulia sebagai simbol peringatan Dies Natalis ke-7 Universitas Mulia.

Menutup rangkaian sambutannya, Rektor mengajak seluruh sivitas akademika menjadikan Dies Natalis ke-7 sebagai momentum akselerasi institusi. Ia menekankan pentingnya konsistensi dalam penguatan riset, pengembangan inovasi, serta peningkatan mutu akademik secara berkelanjutan.

Pada kesempatan tersebut, Rektor juga menyampaikan apresiasi kepada Yayasan, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni, dan seluruh mitra atas kontribusi dan kerja kolektif dalam perjalanan Universitas Mulia hingga mencapai usia tujuh tahun.

“Dirgahayu Universitas Mulia ke-7. Mulia dalam Riset, Unggul dalam Inovasi,” tutupnya.

(YMN)

Balikpapan, 17 Desember 2025—Universitas Mulia (UM) resmi meraih peringkat akreditasi institusi Baik Sekali dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Bagi Rektor Universitas Mulia, Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i, capaian ini tidak dimaknai sekadar sebagai pemenuhan standar administratif, melainkan sebagai pengakuan atas mulai matangnya sistem tata kelola dan budaya mutu institusi.

Baik Sekali adalah pengakuan bahwa sistem kita tidak hanya patuh, tetapi sudah melampaui standar pada sejumlah aspek,” ujar Prof. Ahsin. Ia menegaskan bahwa hasil asesmen ini menjadi landasan kebijakan akademik ke depan, terutama dalam penguatan outcome pembelajaran, relevansi kurikulum, produktivitas riset, serta layanan mahasiswa yang terukur.

Menurutnya, proses akreditasi justru menghadirkan refleksi paling jujur terhadap kondisi internal universitas. Tantangan utama yang dihadapi UM terletak pada konsistensi antara data, narasi, dan bukti kinerja. Asesmen BAN-PT, kata Prof. Ahsin, menuntut setiap klaim capaian benar-benar terdokumentasi, terukur, dan dapat ditelusuri secara sistematis.

Para asesor BAN-PT—Prof. Dr. Ir. Ansar Suyuti, M.T. (Universitas Hasanuddin), Prof. Dr. Pupung Purnamasari, S.E., M.Si., Ak., CA. (Universitas Islam Bandung), dan Dr. Aan Listiana, S.Pd., M.Pd. (Universitas Pendidikan Indonesia)—menggali konsistensi data, narasi, dan bukti kinerja Universitas Mulia dalam sesi asesmen lapangan (visitasi) di Ballroom Cheng Hoo, 21 November 2025.

Dari sisi tata kelola, capaian ini menunjukkan mulai terhubungnya siklus perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan tindak lanjut di berbagai unit. Budaya mutu tidak lagi berhenti pada dokumen formal, tetapi mulai hadir dalam ritme kerja harian.

Budaya mutu mulai hidup, bukan hanya di level dokumen, tetapi dalam ritme kerja unit,” jelasnya.

Prof. Ahsin menekankan bahwa hasil akreditasi ini merupakan buah kerja kolektif. Dosen menjaga kualitas akademik, tenaga kependidikan memastikan layanan dan validitas data, sementara unit pendukung menutup celah sistem yang ada. Dari proses tersebut, UM memetik satu pelajaran penting: mutu hanya dapat dibangun melalui koordinasi lintas unit yang disiplin dan berkelanjutan.

Ke depan, rekomendasi hasil asesmen BAN-PT akan diterjemahkan menjadi rencana aksi yang konkret. UM menargetkan perbaikan proses pembelajaran berbasis evidence, peningkatan kapasitas riset dan kolaborasi, serta penguatan standar layanan mahasiswa dengan indikator kinerja yang dipantau secara berkala.

Dalam peta jalan jangka menengah, UM menetapkan prioritas pada penguatan sumber daya manusia dan ekosistem riset, peningkatan mutu program studi, perluasan kemitraan strategis, serta konsistensi luaran publikasi, inovasi, dan dampak pengabdian kepada masyarakat. Prof. Ahsin menegaskan target institusi: paling lambat tahun 2030, Universitas Mulia telah meraih akreditasi Unggul.

Rektor Universitas Mulia, Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si., didampingi para Wakil Rektor dan jajaran pimpinan, memaparkan penjelasan strategis sekaligus merespons secara komprehensif setiap pertanyaan asesor dalam proses asesmen lapangan BAN-PT.

Untuk memastikan mutu berjalan secara berkelanjutan, UM memperkuat pendekatan sistemik melalui kalender mutu tahunan, dashboard kinerja, rapat tinjauan manajemen rutin, serta mekanisme tindak lanjut yang diaudit. Dengan cara ini, mutu tidak lagi bersifat musiman, tetapi menjadi cara kerja sehari-hari.

Terkait Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) dan Audit Mutu Internal (AMI), Prof. Ahsin menilai keduanya telah berjalan, namun masih perlu dipertajam. Fokus penguatan diarahkan pada ketajaman analisis akar masalah dan kecepatan tindak lanjut.

AMI harus makin adaptif, fokus pada perbaikan proses, bukan hanya kepatuhan,” tegasnya.

Bagi mahasiswa dan masyarakat, peringkat Baik Sekali menandai penguatan kualitas tata kelola dan layanan UM. Rektor menekankan bahwa capaian ini merupakan komitmen jangka panjang untuk terus meningkatkan proses belajar, layanan, dan kualitas lulusan—bukan hanya untuk kebutuhan saat ini, tetapi juga untuk menjawab tantangan masa depan.

Di tengah dinamika regulasi, kompetisi antarperguruan tinggi, meningkatnya ekspektasi publik, serta tuntutan transformasi digital, UM dihadapkan pada tantangan menjaga kecepatan perubahan tanpa mengorbankan kualitas dan integritas akademik. Karena itu, Prof. Ahsin menutup dengan penegasan bahwa capaian ini bukan titik akhir.

Baik Sekali bukan garis akhir. Ini awal lompatan,” ujarnya.

Ia mengajak seluruh sivitas akademika Universitas Mulia menjadikan mutu sebagai karakter institusi: disiplin, kolaboratif, berbasis bukti, dan berorientasi pada dampak nyata. (YMN)

 

 

 

Balikpapan, 15 Desember 2025 — Rektor Universitas Mulia, Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si., menghadiri acara pisah sambut Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) VI/Mulawarman yang digelar di Aula Makodam VI/Mulawarman, Senin (15/12/2025) pukul 10.00 WITA.

Acara tersebut menandai serah terima kepemimpinan dari Mayjen TNI Rudy Rachmat Nugraha, S.I.P., M.Sc. kepada Mayjen TNI Krido Pramono, S.H., M.Si. yang selanjutnya akan melanjutkan estafet kepemimpinan Kodam VI/Mulawarman, wilayah strategis yang mencakup Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara.

Gubernur Kalimantan Timur, H. Rudy Mas’ud, menyampaikan sambutan pada acara pisah sambut Pangdam VI/Mulawarman di Aula Makodam VI/Mulawarman, Balikpapan, Senin (15/12/2025).

Gubernur Kalimantan Timur, H. Rudy Mas’ud, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat kepada Mayjen TNI Rudy Rachmat Nugraha atas amanah barunya sebagai Direktur Jenderal Imigrasi Republik Indonesia. Kepada Pangdam yang baru, Gubernur mengucapkan selamat datang sekaligus menegaskan posisi strategis Kodam VI/Mulawarman sebagai satu-satunya komando daerah militer yang wilayahnya berbatasan langsung dengan Malaysia, sehingga memerlukan kewaspadaan, sinergi, dan kepemimpinan yang kuat.

Acara ini dihadiri oleh sejumlah pejabat penting, antara lain Wakapolda Kalimantan Timur Brigjen Pol. Dr. H. Muhammad Sabilul Alif, S.H., S.I.K., M.Si., Wakil Ketua DPRD Kalimantan Timur H. Yono Suherman, S.T., Wakil Wali Kota Balikpapan Dr. Ir. H. Bagus Susetyo, M.M., Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi Kalimantan Timur Nur Asiah, S.H., M.Hum., Kepala BIN Daerah Kalimantan Timur Kolonel Inf. Aldrin Ali Bahasoan, Komandan Kopassus di IKN, jajaran Forkopimda Balikpapan, serta Gubernur Kalimantan Utara Dr. H. Zainal A. Paliwang, S.H., M.Hum., perwakilan DPRD Kaltara, dan para rektor perguruan tinggi negeri maupun swasta.

Pangdam VI/Mulawarman, Mayjen TNI Krido Pramono, S.H., M.Si., menyampaikan sambutan perdana sekaligus menegaskan komitmen melanjutkan program strategis dan memperkuat sinergi Forkopimda di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara.

Dalam sambutan perdananya, Mayjen TNI Krido Pramono menegaskan bahwa momentum pisah sambut ini bukan sekadar pergantian jabatan, melainkan ajang silaturahmi dan kesinambungan kepemimpinan. Ia menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada Mayjen TNI Rudy Rachmat Nugraha atas berbagai capaian dan fondasi strategis yang telah dibangun selama memimpin Kodam VI/Mulawarman, termasuk peran serta keluarga, khususnya istri Pangdam lama, dalam mendukung tugas negara.

Pangdam baru juga menegaskan komitmennya untuk melanjutkan dan menguatkan program-program yang telah dirintis, serta menjaga sinergi erat bersama TNI, Polri, dan seluruh unsur Forkopimda. Menurutnya, tantangan keamanan saat ini tidak lagi semata-mata berbentuk konflik bersenjata, melainkan ancaman multidimensi yang menuntut koordinasi lintas sektor, kewaspadaan sosial, dan ketangguhan wilayah.

Secara khusus, Pangdam VI/Mulawarman menekankan pentingnya menjaga stabilitas keamanan IKN Nusantara sebagai ibu kota negara, serta kesiapsiagaan TNI dalam menghadapi potensi bencana di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara. Ia menegaskan bahwa kekuatan sejati bukan hanya pada persenjataan, melainkan pada kehormatan dalam menjaga Merah Putih, kedaulatan negara, dan ketahanan wilayah.

Menutup sambutannya, Mayjen TNI Krido Pramono memohon doa dan dukungan dari seluruh pemangku kepentingan di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara agar amanah yang diembannya dapat dijalankan dengan baik, profesional, dan penuh tanggung jawab.

Rektor Universitas Mulia Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si., tampak menghadiri acara pisah sambut Pangdam VI/Mulawarman bersama para pimpinan perguruan tinggi negeri dan swasta se-Kota Balikpapan.

Kehadiran Rektor Universitas Mulia dalam kegiatan ini menjadi wujud komitmen institusi pendidikan tinggi untuk terus memperkuat hubungan strategis dengan unsur TNI, pemerintah daerah, dan Forkopimda, khususnya dalam mendukung stabilitas wilayah dan pembangunan berkelanjutan di Kalimantan. (YMN)

 

Balikpapan, 8 Desember 2025— Di tengah situasi kebencanaan di Sumatra, keterlibatan mahasiswa Universitas Mulia melalui UKM LDK Al-Izzah kembali menunjukkan peran kampus sebagai ruang filantropi yang aktif. Selama dua hari penggalangan dana, tim mahasiswa menyisir kelas pagi dan kelas malam dengan pola kerja terorganisasi: koordinasi izin dosen, pembagian tim dokumentasi, dan pemanfaatan QRIS untuk memudahkan partisipasi.

Hasilnya, kontribusi warga kampus terkumpul dalam bentuk donasi tunai sebesar Rp5.032.000 dan transaksi QRIS sebesar Rp2.707.000. Total dana Rp7.739.000 kemudian disalurkan melalui Human Initiative. Sepanjang kegiatan, mahasiswa melaporkan dukungan yang konsisten dari dosen, karyawan, mahasiswa, hingga pedagang kantin. Pada beberapa kesempatan, penyumbang secara spontan memberikan uang dalam jumlah besar, sedangkan yang tidak membawa uang tunai memanfaatkan QRIS dengan ekspresi lega karena tetap dapat berkontribusi.

Rektor UM, Prof. Ahsin, bersama Kabag Kerjasama Wahyu Nur Alimyaningtias dan Aktivis UKM LDK Al-Izzah menerima kunjungan Fadhilur Rohim, Kepala Divisi Retail & Digital Partnership Human Initiative.

Pada Senin pagi, 8 Desember 2025, ruang Rektor di gedung White Campus menjadi titik temu antara Universitas Mulia dan Human Initiative. Rektor Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si., menyerahkan secara langsung dana hasil penggalangan mahasiswa untuk korban bencana di Sumatra. Penyerahan dilakukan tanpa seremoni berlebihan, namun menunjukkan adanya kepahaman bersama bahwa dukungan nyata seringkali dimulai dari ruang-ruang kecil di dalam kampus. Hadir dalam pertemuan tersebut Wakil Rektor Bidang Akademik, Wisnu Hera Pamungkas, S.T.P., M.Eng., Kabag Kerjasama Universitas Mulia, Wahyu Nur Alimyaningtias, S.Kom., M.Kom. dan Sejumlah Aktivis Dakwah UKM LDK Al-Izzah UM serta  perwakilan lembaga kemanusiaan Human Initiative. Pada kesempatan yang sama, Rektor UM menerima sertifikat penghargaan dari Human Initiative.

Dari pihak Human Initiative, Kepala Divisi Retail & Digital Partnership Fadhilur Rohim menjelaskan bahwa kolaborasi dengan lembaga pendidikan tidak hanya dimaknai sebagai penggalangan dana sesaat, tetapi sebagai bagian dari ekosistem respons kebencanaan yang lebih luas. Kampus disebut sebagai pusat energi anak muda yang memiliki kepedulian sosial tinggi, mampu menggerakkan relawan dan mempercepat penyebaran informasi di saat krisis.

Rektor Universitas Mulia menyerahkan dana hasil penggalangan mahasiswa untuk korban bencana Sumatra kepada perwakilan Human Initiative.

Dalam pandangan Human Initiative, strategi bersama kampus berjalan pada beberapa bidang: kapasitas intelektual untuk edukasi kebencanaan, penggunaan jaringan digital seperti grup WhatsApp dan poster QRIS, serta kecepatan respons ketika bencana berskala besar terjadi. Kolaborasi ini dianggap investasi jangka panjang untuk membentuk generasi muda yang siap siaga dan berdaya dalam kerja kemanusiaan.

Indikator keberhasilan penyaluran bantuan dirumuskan dalam tiga aspek prioritas: ketepatan sasaran kepada kelompok rentan, kecepatan distribusi kebutuhan dasar, serta dampak jangka menengah melalui pemulihan fasilitas umum dan bantuan psikososial. Dana yang dihimpun dari Universitas Mulia dialokasikan untuk penyediaan kebutuhan dasar, layanan darurat lapangan, dan dukungan pemulihan awal.

Aktivis dakwah UKM LDK Al-Izzah menerima piagam penghargaan atas kontribusi penggalangan dana kemanusiaan.

Ketua LDK Al-Izzah sekaligus koordinator aksi, Qolby Zakin, mencatat bahwa kegiatan di lapangan berlangsung dengan disiplin. Tim masuk kelas hanya ketika suasana memungkinkan, meminta izin secara sopan, dan menyampaikan maksud dengan singkat. Pada beberapa momen, mahasiswa yang tidak membawa uang tunai tampak kecewa, tetapi berubah gembira ketika diberi opsi QRIS. “Ada teriakan syukur hanya karena bisa ikut sedekah,” ujarnya.

Bagi Qolby, solidaritas kemanusiaan dalam konteks ini memiliki dimensi spiritual. Ia mengutip hadis tentang perumpamaan kaum mukmin sebagai satu tubuh; ketika satu bagian tersakiti, bagian lain ikut merasakannya. Penggalangan dana di kampus, menurutnya, bukan sekadar aktivitas sosial tetapi bagian dari pendidikan karakter berlandaskan keimanan dan persaudaraan sebangsa.

Setelah dana diserahkan, Human Initiative akan mengawal proses distribusi di lokasi bencana. Dokumentasi penyaluran akan disampaikan melalui kanal publik, termasuk media sosial, untuk memastikan transparansi. Di internal kampus, relawan tetap dipertahankan melalui kegiatan evaluasi dan kebersamaan, dengan pesan yang berulang: meluruskan niat, bekerja lillahita’ala, dan menjaga semangat. (YMN)

Balikpapan, 1 Desember 2025 — Pagi itu, halaman Hotel Novotel dipenuhi warna merah marun yang memantul pada dinding-dinding kaca. Bukan sekadar warna seragam toga, tetapi warna yang mengisyaratkan kebahagiaan para lulusan Universitas Mulia yang hari ini menutup satu bab penting perjalanan akademik mereka.

Ketika lagu Indonesia Raya berkumandang, seluruh ruangan berdiri tegak. Keheningan yang menyusul saat mengheningkan cipta mematri kesadaran bahwa perjalanan ini tidak pernah ditempuh seorang diri. Disusul Hymne Balikpapan dan Mars Universitas Mulia, suasana berubah menjadi khidmat. Doa yang dipimpin Drs. Achmad Supriyanto mengalun pelan, seakan memayungi seluruh harapan yang memenuhi ruang itu.

Drs. Achmad Prijanto memimpin doa dengan khusyuk dan syahdu, memohon keberkahan bagi seluruh wisudawan dan wisudawati Universitas Mulia.

Tak lama, denting musik tarian Dayak mengisi udara. Para penari melangkah anggun, membuka sidang senat terbuka dengan penghormatan khas Kalimantan Timur—sebuah pengingat bahwa setiap perjalanan akademik selalu berdiri di atas kebudayaan tempat ia tumbuh.

Ketua Senat UM, Dr. Agung Sakti Pribadi, S.H., M.H., membuka sidang wisuda ke-7 Program Sarjana Tahun Akademik 2024–2025 dengan ketegasan seorang akademisi yang memahami nilai sebuah pencapaian.

Ketua Yayasan Airlangga Balikpapan, Mulia Hayati Devianti, S.E., menyampaikan sambutan dengan nada haru, menegaskan makna kelulusan sebagai awal tanggung jawab baru bagi para lulusan.

“Jangan Minta Lagi Uang Saku, Nak”

Dalam laporan dan sambutannya, Rektor Universitas Mulia, Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si., menyampaikan capaian universitas serta luapan bangga kepada lulusan yang hari ini resmi menuntaskan pendidikan mereka.

Ketua Yayasan Airlangga Balikpapan, Mulia Hayati Devianti, S.E., yang memberikan sambutan berikutnya, menghadirkan momen paling humanis dalam ruangan itu. Suaranya tenang, namun sarat penegasan tentang makna kedewasaan dan tanggung jawab.

Ia menyampaikan dalam logat Bugis,
Jangan minta lagi uang saku dih. Tugasmu sekarang membuat orang tuamu beristirahat dari kekhawatiran itu.”

Kalimat itu memecah keheningan. Beberapa orang tua terlihat mengangguk, sebagian menunduk, mungkin menyimpan air mata.

Mulia Hayati juga mengungkapkan kekagumannya terhadap pencapaian lulusan UM: 361 wisudawan, dengan 54% meraih predikat cumlaude serta 45% meraih nilai tinggi.

“Mimpi adalah awal. Tapi tanpa tindakan, ia hanya tinggal angan,” ujarnya. “Hari ini kalian mekar seperti bunga musim semi, menunjukkan bahwa ketekunan kalian bukan sekadar konsep, tetapi nyata.”

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada para orang tua, keluarga, dosen, dan seluruh tenaga kependidikan UM. “Setiap air mata, setiap malam yang panjang, hari ini terbayar,” tuturnya.

Direktur Eksekutif BPH Yayasan Airlangga, Dr. Agung Sakti Pribadi, S.H., M.H., berdampingan dengan Rektor Universitas Mulia, Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si., memasuki ruang Sidang Senat Terbuka Wisuda Universitas Mulia 2025, diiringi lagu Gaudeamus Igitur.

Kolaborasi Baru, Komitmen Baru

Usai sambutan, agenda dilanjutkan dengan penandatanganan MoU antara Universitas Mulia dan Cabang Dinas Pendidikan Wilayah I Provinsi Kalimantan Timur, yang diwakili Kepala Cabang Dinas, Dr. Winarno, S.Pd., M.Pd. Kolaborasi ini menandai komitmen UM dalam memperluas jejaring akademik dan kontribusi pendidikan di daerah.

Wakil Rektor Bidang Akademik, Wisnu Hera Pamungkas, S.T.P., M.Eng., kemudian membacakan SK kelulusan, memulai prosesi wisuda. Satu per satu nama dipanggil—dari Fakultas Ilmu Komputer, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Fakultas Humaniora dan Kesehatan, hingga Fakultas Hukum. Nama, gelar, dan predikat mereka disebut lantang, mengisi ruangan seolah menegaskan bahwa setiap pencapaian memiliki identitas yang tak boleh dilupakan.

Rombongan Ketua Yayasan Airlangga Balikpapan, Mulia Hayati Devianti, S.E., bersama Ketua Dewan Pembina Yayasan Airlangga, Drs. Satria Dharma, memasuki ruang Sidang Senat Terbuka Universitas Mulia.

Janji yang Bergema di Ruang Sidang Senat

David Kusuma memimpin pembacaan Janji Wisudawan. Suaranya mantap, diikuti ratusan suara lain yang menyatu menjadi gema yang memenuhi ruangan. Janji itu bukan sekadar rangkaian kata, tetapi penegasan bahwa ilmu pengetahuan harus berpihak pada kebaikan dan kemanusiaan.

Lagu “Padamu Negeri” menyusul, memberi ruang bagi setiap lulusan untuk mengingat tanah yang membesarkan mereka.

Di akhir prosesi, Agung Widianto, S.M., mewakili para lulusan menyampaikan kesan dan pesan. Ia menuturkannya tanpa berlebihan, tetapi justru karena itulah kata-katanya terasa kuat.

“UM bukan hanya tempat belajar,” katanya. “Di sini kami tumbuh—dalam cara berpikir, dalam keberanian menghadapi dunia nyata, dalam cara kami memahami tanggung jawab. Kampus ini adalah rumah yang mengajarkan bagaimana menerima kegagalan tanpa kehilangan diri.”

Ia menutup pesannya dengan suara yang sedikit bergetar,
“Ketika kami melangkah keluar hari ini, nama UM melekat pada setiap langkah kami. Bukan sebagai beban, tetapi sebagai identitas. Rumah yang membentuk kami.”

Perpaduan Tari Dayak dan Tari Japin Melayu mengawali prosesi Sidang Senat Terbuka, menghadirkan nuansa budaya Kalimantan sebagai simbol penghormatan kepada tamu undangan.

Penutup: Langkah Baru, Doa yang Tetap Menjaga

Wisuda ke-7 Universitas Mulia bukan sekadar acara seremonial. Ia adalah pertemuan antara rasa syukur, kerja keras, dan harapan masa depan. Toga merah itu akhirnya bukan hanya simbol kelulusan, tetapi tanda bahwa perjalanan yang lebih besar tengah menunggu.

Dalam ruangan itu, sebelum semua beranjak, para orang tua memeluk anak-anak mereka. Ada harapan yang tak diucapkan, doa yang tak selalu terdengar, dan kebanggaan yang tak pernah bisa diterjemahkan sepenuhnya. Namun pagi itu, semuanya menjadi nyata.

Universitas Mulia mengantarkan 361 lulusan menuju perjalanan hidup berikutnya—dengan ilmu, dengan akhlak, dan dengan keberanian untuk menjadi bagian dari perubahan. (YMN)

Balikpapan, 10 November 2025 – Memperingati Hari Pahlawan, Rektor Universitas Mulia, Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si., menegaskan bahwa kepahlawanan masa kini tidak lagi diukur dengan senjata atau seragam, melainkan dengan integritas dan keberanian moral dalam ilmu pengetahuan.

Menurutnya, nilai yang perlu dihidupkan di lingkungan akademik adalah keteladanan integritas — jujur, disiplin, berani mengambil sikap berbasis data, serta gotong royong lintas disiplin. “Itulah energi moral yang menghidupkan etos ilmiah, memperkuat kepercayaan publik, dan melahirkan karya yang bermakna,” ujarnya.

Prof. Ahsin menilai bahwa pahlawan masa kini bukanlah figur tunggal, melainkan ekosistem. “Para dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni, dan mitra yang mengubah masalah nyata menjadi solusi teruji — dari kelas, laboratorium, hingga masyarakat — merekalah pahlawan yang sejati,” ungkapnya. Bagi beliau, kepahlawanan lahir dari integritas, kolaborasi, dan keberanian bereksperimen di tengah dinamika zaman.

Ia menggambarkan universitas sebagai arena kepahlawanan intelektual, tempat gagasan diuji, data diperdebatkan, dan etika dijaga. “Kita merayakan kebenaran melalui riset bermutu, pembelajaran kritis, dan pengabdian yang berdampak. Bukan dengan sorak-sorai, melainkan dengan standar, evidensi, dan akuntabilitas,” tegasnya.

Menjawab bagaimana Universitas Mulia menanamkan semangat tersebut, Prof. Ahsin menjelaskan sejumlah langkah sistemik yang telah dijalankan.
“Kami menanamkan literasi data, etika digital, dan skeptisisme metodologis melalui kurikulum OBE berbasis proyek, mata kuliah literasi informasi, tugas fact-checking, rubrik integritas akademik, serta pembiasaan rujukan primer dan reproduksibilitas hasil,” paparnya.

Dalam pandangannya, perjuangan setara dengan pahlawan hari ini adalah upaya memerdekakan pikiran dari hoaks, meningkatkan mutu riset dan pembelajaran, serta melayani masyarakat dengan teknologi tepat guna. “Itu termasuk membangun inovasi yang menyejahterakan — melalui publikasi, hak kekayaan intelektual, dan prototipe yang diadopsi industri,” jelasnya.

Bagi Prof. Ahsin, Hari Pahlawan juga menjadi refleksi pribadi tentang amanah kepemimpinan. “Maknanya adalah berani benar, adil, dan konsisten. Saya terinspirasi oleh Bung Hatta yang rasional, etis, dan visioner. Kepemimpinan harus berbasis data, dialog, dan tanggung jawab publik demi kemajuan Universitas Mulia,” tuturnya.

Menutup wawancara, Prof. Ahsin menyampaikan pesannya bagi generasi muda Universitas Mulia:
“Jadilah generasi yang cerdas, tangguh, dan rendah hati. Rawat rasa ingin tahu, jaga integritas, kolaborasi tanpa sekat, dan gunakan ilmu untuk melayani. Ukurlah diri dengan dampak, bukan sekadar gelar.” (YMN)

Balikpapan, 3 November 2025 – Universitas Mulia menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) tahun 2025 pada Kamis hingga Jumat, 30–31 November 2025, bertempat di Ballroom Cheng Hoo, Balikpapan. Kegiatan berlangsung selama dua hari, mulai pukul 08.00 hingga 17.30 WITA, diikuti seluruh pimpinan universitas, fakultas, dan unit kerja.

Rakor kali ini menegaskan arah baru menuju tahapan Research and Innovation dalam visi jangka panjang Universitas Mulia 2026–2045. Rektor Universitas Mulia, Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si., menyebut kegiatan ini sebagai forum konsolidasi strategi untuk menyamakan visi lintas unit sekaligus memperkuat budaya riset dan inovasi di lingkungan kampus.

Rektor Universitas Mulia, Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si., menyampaikan sambutan pembukaan Rakor 2025, menegaskan arah baru menuju Research and Innovation.

“Rakor tahun ini adalah forum konsolidasi strategi untuk menyamakan visi 2026–2045, terutama memasuki tahapan ke-2, 2026–2030 yaitu tahapan Research and Innovation. Rakor ini diharapkan dapat menguatkan budaya riset–inovasi dan menyiapkan orkestrasi kolaborasi lintas unit dan infrastruktur menghasilkan dampak nyata bagi mahasiswa, masyarakat, dan daya saing Universitas Mulia,” ujar Prof. Ahsin.

Tema yang diangkat tahun ini, “Membangun Sinergi SDM, Teknologi, dan Inovasi untuk Mewujudkan Research dan Innovation,” dipilih secara khusus untuk menegaskan bahwa tiga pilar tersebut merupakan mesin nilai tambah universitas.

Tim Fakultas Ilmu Komputer (FIKOM) memaparkan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) capaian kinerja dan rencana strategis bidang akademik dan inovasi digital.

“SDM unggul menggerakkan proses, teknologi mempercepat eksekusi, inovasi menghadirkan diferensiasi. Di tengah disrupsi AI, Universitas Mulia bukan hanya adaptif, tetapi proaktif: mengubah pengetahuan menjadi solusi, riset menjadi prototipe, dan prototipe menjadi dampak sosial ekonomi yang terukur,” jelasnya.

Dalam pesannya kepada seluruh peserta Rakor, Prof. Ahsin menegaskan pentingnya disiplin dan orientasi hasil.

“Saya menitip pesan: kerjakan hal yang benar, dengan cara yang tepat, dan tuntas. Jadikan data sebagai kompas, kolaborasi sebagai budaya, dan kedisiplinan eksekusi sebagai kebiasaan. Fokus pada luaran: publikasi bereputasi, paten atau prototipe, pembelajaran bermutu, serta layanan mahasiswa yang agile. Bergerak cepat namun akuntabel; berinovasi tanpa meninggalkan integritas. Target kita jelas: Universitas Mulia yang berdaya saing, relevan bagi industri dan masyarakat, serta diakui karena kinerja riset dan inovasinya.”

Tim Fakultas Hukum mempresentasikan LPJ serta arah penguatan riset hukum dan kolaborasi interdisipliner pada Rakor 2025 Universitas Mulia.

Prof. Ahsin menjelaskan bahwa dalam konteks pendidikan tinggi, SDM adalah penggerak, teknologi adalah pengungkit, dan inovasi adalah hasil. Menurutnya, dosen dan tenaga kependidikan yang melek data dan berjejaring memanfaatkan platform digital seperti LMS, repository, laboratorium terpadu, dan AI tools akan mempercepat riset, pembelajaran, serta layanan. “Ketika proses berbasis data dan kolaborasi lintas disiplin berjalan, inovasi lahir lebih konsisten dan daya saing Universitas Mulia meningkat secara berkelanjutan,” tuturnya.

Ia juga menyoroti tantangan utama dalam membangun budaya riset dan inovasi, mulai dari keterbatasan waktu riset dosen karena beban administratif, kompetensi metodologis yang belum merata, hingga akses terhadap pendanaan dan kolaborasi industri. “Infrastruktur laboratorium dan data masih perlu ditingkatkan, demikian pula tata kelola luaran seperti Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dan prototipe hasil riset agar dapat dijalankan secara konsisten dan berkelanjutan,” ungkapnya.

Tim Lembaga Penjaminan Mutu, Pengembangan Pembelajaran, dan Penelitian (LPMPP) menyampaikan LPJ serta evaluasi capaian mutu akademik dan kinerja riset universitas.

Untuk mengatasi hal tersebut, strategi pengembangan sumber daya manusia diarahkan melalui peningkatan kompetensi di bidang teknologi, data, dan metodologi riset. Program peningkatan kapasitas dilakukan melalui pelatihan, sertifikasi, hibah internal, pendampingan penulisan ilmiah, serta magang industri. “Kami memperkuat ekosistem pembelajaran digital, memberikan ruang riset dalam beban kerja dosen, dan membangun komunitas akademik yang saling belajar. Tujuannya agar adaptasi terhadap teknologi dan budaya riset menjadi bagian dari kebiasaan, bukan sekadar program sementara,” ujarnya.

Universitas Mulia, lanjutnya, telah menata ekosistem riset dan inovasi melalui penguatan LPPM, tata kelola SPMI–PPEPP, integrasi platform Lentera (LMS) dengan repositori karya ilmiah, kebijakan insentif berbasis luaran, serta pengembangan laboratorium tematik di bidang komputasi dan AI, jaringan dan keamanan, serta desain dan multimedia. Tahun berjalan, universitas juga melengkapi SOP etika dan kelayakan, manajemen data riset, serta dashboard kinerja (IKU) agar produktivitas dapat dimonitor secara real-time dan akuntabel.

Tim Inkubator Bisnis Universitas Mulia memaparkan LPJ pengembangan kewirausahaan kampus dan program inovasi berbasis mahasiswa.

Berbagai program penguatan kapasitas dosen dan mahasiswa juga digulirkan. “Kami jalankan hibah internal bertingkat, klinik penulisan dan metodologi rutin, mentoring oleh peneliti berpengalaman, serta skema release time bagi dosen dengan target publikasi atau HKI. Mahasiswa didorong melalui skema Riset Tugas Akhir berbasis proyek industri dan masyarakat, kompetisi inovasi, serta program asisten peneliti. Semua ditopang insentif luaran, kolaborasi lintas prodi, dan kontrak kinerja yang terukur,” jelas Prof. Ahsin.

Ia menegaskan bahwa kolaborasi lintas unit dan fakultas menjadi kunci lahirnya inovasi. “Inovasi lahir dari gabungan keahlian. Prodi dan fakultas menyumbang domain knowledge, LPPM mengorkestrasi tata kelola dan pendanaan, BAAK dan SI menyediakan data serta infrastruktur digital, sementara perpustakaan dan repositori mengelola pengetahuan. Skema tim lintas disiplin mempercepat proses, menekan duplikasi, dan meningkatkan peluang pendanaan kompetitif,” paparnya.

Tim Fakultas Ekonomi dan Bisnis bersama Fakultas Humaniora dan Kesehatan bergantian menyampaikan LPJ serta pesan kolaboratif untuk memperkuat sinergi lintas bidang.

Selain memperkuat sinergi internal, Universitas Mulia juga memperluas jejaring eksternal. “UM memperluas kerja sama dengan industri, pemerintah daerah dan otorita IKN, serta lembaga riset seperti BRIN dan LLDikti untuk pendanaan, fasilitas, dan publikasi bersama. Mekanisme yang kami pakai meliputi payung MoU–PKS, riset terkontrak, co-supervision, dan skema matching fund agar hasil riset cepat diimplementasikan,” ungkapnya.

Menutup wawancara, Prof. Ahsin menegaskan arah langkah Universitas Mulia ke depan:
“Tahun ini kita tegakkan disiplin eksekusi dan budaya kolaborasi; tahun depan kita loncat lebih tinggi dengan riset berdampak, pembelajaran OBE–PBL yang relevan, serta inovasi yang bermanfaat bagi industri dan masyarakat. Kita menutup tahun ini dengan capaian terukur, dan membuka tahun depan dengan tekad: setiap program menghasilkan dampak, setiap langkah mendekatkan kita pada visi 2045. Maju bersama, unggul bersama, dan tetap rendah hati melayani.” (YMN)

Balikpapan, 10 Oktober 2025 — Laut Indonesia, kendati kaya keanekaragaman hayati, kini berada di bawah tekanan eksploitasi, polusi, dan perubahan iklim. Di tengah tantangan itu, Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si., Rektor Universitas Mulia, menggagas cara pandang baru melalui buku Kecerdasan Buatan untuk Laut Indonesia: Inovasi Teknologi dalam Konservasi Ekosistem Kelautan, yang ia tulis bersama Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I. (Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Universitas Mulia) dan Dr. Hadiratul Kudsiah dosen Universitas Hasanuddin Makassar.

Sampul buku “Kecerdasan Buatan untuk Laut Indonesia: Inovasi Teknologi dalam Konservasi Ekosistem Kelautan” karya Prof. Dr. Muhammad Ahsin Rifa’i dan Yusuf Wibisono.

“Indonesia adalah negara maritim superkaya biodiversitas, namun tertekan oleh eksploitasi berlebih, polusi, dan dampak iklim. Metode konservasi konvensional saja tidak cukup, karena itu kami menulis buku ini untuk mendorong adopsi teknologi terutama AI agar pemantauan, analisis, dan pengambilan keputusan konservasi menjadi lebih cepat, presisi, dan berbasis bukti,” ungkap Prof. Ahsin.

Dari Keterbatasan Lapangan ke Gagasan Humanistik Teknologi

Ide buku ini berangkat dari kesenjangan antara kebutuhan konservasi real-time dan keterbatasan instrumen di lapangan. Prof. Ahsin menegaskan, Universitas Mulia membawa visi technopreneurship yang berpusat pada manusia (human-centered technopreneurship) dengan semangat “AI untuk kemaslahatan manusia dan laut.”

Baginya, teknologi harus menempati posisi etis: bukan sekadar perangkat mekanis, melainkan sarana pemulihan ekosistem, pemberdayaan masyarakat pesisir, dan penguatan kebijakan publik berbasis data.

Tiga Ancaman Nyata dan Satu Masalah Pokok

Prof. Ahsin menyoroti tiga persoalan paling mendesak di laut Indonesia: praktik penangkapan destruktif dan IUU fishing, polusi plastik dan mikroplastik, serta dampak perubahan iklim seperti pemutihan karang dan kenaikan muka air laut.
Namun di balik itu, ia menegaskan adanya akar sistemik: kesenjangan data dan lemahnya infrastruktur pemantauan, yang membuat kebijakan konservasi sering tertinggal dari dinamika kerusakan di lapangan.

Kampus sebagai Ruang Orkestrasi Pengetahuan

Dalam pandangan Prof. Ahsin, perguruan tinggi memiliki peran yang tak tergantikan dalam merangkai disiplin yang tampak berjauhan—dari AI dan data science, hingga ekologi, kebijakan publik, dan sosial maritim.

“Kampus menyediakan metodologi, validasi ilmiah, dan integrasi lintas-disiplin agar solusi tidak spekulatif. Publikasi seperti buku ini merangkum bukti, mengonversinya menjadi strategi yang bisa diadopsi pemerintah, LSM, dan komunitas pesisir,” ujarnya.

Universitas Mulia, lanjutnya, tengah menyiapkan pendekatan pembelajaran dan riset yang menghubungkan laboratorium data laut, sistem IoT dan citra satelit, bioakustik, serta etika dan tata kelola AI, agar teknologi diadopsi secara aman, inklusif, dan berkelanjutan.

Kolaborasi Tiga Ilmuwan Lintas Disiplin

Dalam proses penulisan, masing-masing penulis berkontribusi sesuai kepakaran. Prof. Ahsin dan Hadiratul Kudsiah menyusun fondasi ekosistem dan peta ancaman lingkungan laut, sedangkan Yusuf Wibisono, pakar teknologi dan data dari Universitas Mulia, mengembangkan kerangka machine learning, sensor, dan penerapan AI untuk deteksi IUU fishing, pemantauan mikroplastik, serta prediksi iklim laut.

“Kami menyatukan hasilnya melalui tinjauan bersama agar narasi ilmiah, kebijakan, dan praktik lapangan klop. Hasilnya adalah peta jalan integrasi teknologi kelautan yang aplikatif, bukan sekadar konseptual,” kata Prof. Ahsin.

Rektor Universitas Mulia, Prof. Dr. Muhammad Ahsin Rifa’i, menunjukkan buku karyanya bersama Yusuf Wibisono berjudul “Kecerdasan Buatan untuk Laut Indonesia” saat wawancara eksklusif di ruang kerjanya

Menuju Konservasi Berbasis Kecerdasan

Buku ini bukan sekadar panduan akademik, melainkan ajakan reflektif: bagaimana kecerdasan buatan dapat menjadi bagian dari etika lingkungan dan masa depan konservasi Indonesia.

“Laut Indonesia adalah laboratorium hidup yang membutuhkan kecerdasan manusia dan mesin sekaligus,” tutup Prof. Ahsin. “Kita harus memastikan bahwa teknologi yang kita kembangkan benar-benar berpihak pada kehidupan.” (YMN)