Humas Universitas Mulia, 13 Januari 2025 —Universitas Mulia Balikpapan baru saja menggelar rapat koordinasi (rakor) sebagai bagian dari laporan pertanggungjawaban kinerja tahun 2024. Dalam wawancara eksklusif bersama Rektor Universitas Mulia, beliau mengungkapkan berbagai evaluasi dan rencana strategis untuk memperbaiki mutu pendidikan, meningkatkan produktivitas dosen, dan memperkuat daya saing universitas di tahun 2025.

Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si., Rektor Universitas Mulia

Evaluasi Kinerja 2024
Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si., Rektor Universitas Mulia menegaskan bahwa rakor ini merupakan forum penting untuk mengevaluasi sejauh mana target-target yang direncanakan telah tercapai selama tahun 2024. “Rakor ini bertujuan untuk mengidentifikasi keberhasilan maupun kendala yang dihadapi, sehingga dapat menjadi acuan dalam perencanaan yang lebih baik di tahun mendatang,” jelasnya.

Rektor memaparkan filosofi Good University Governance (GUG) yang menjadi pedoman utama dalam tata kelola universitas. Lima pilar yang menjadi landasan GUG—kredibilitas, transparansi, akuntabilitas, tanggung jawab, dan keadilan—disebut sebagai kunci dalam membangun universitas yang unggul dan berdaya saing tinggi.

Fokus Perbaikan di 2025
Dalam wawancara eksklusif tersebut, Rektor juga menyoroti beberapa isu utama yang perlu mendapatkan perhatian serius. Salah satunya adalah penurunan jumlah mahasiswa di beberapa program studi. “Penurunan ini menjadi tantangan besar yang harus disikapi bersama, tidak hanya oleh tim Marketing Branding dan Inovasi (MBI), tetapi juga oleh seluruh fakultas melalui program-program inovasi yang mampu menarik minat calon mahasiswa,” ungkapnya.

Selain itu, produktivitas dosen dalam publikasi ilmiah, paten, dan hibah penelitian menjadi prioritas lain di tahun 2025. “Kami akan fokus pada peningkatan kapasitas dosen melalui pelatihan dan pendampingan agar mereka lebih produktif, karena ini sangat berpengaruh pada akreditasi universitas,” tambahnya.

Peningkatan Layanan dan Program Mahasiswa
Untuk meningkatkan mutu layanan, Universitas Mulia akan mengimplementasikan survei kepuasan di tahun 2025, mencakup aspek kemahasiswaan, pembelajaran, hingga manajemen. “Survei ini penting agar kita bisa memahami kebutuhan dan harapan para mahasiswa, dosen, serta tenaga kependidikan,” tutur Rektor.

Drs. Achmad Priyanto, Kepala Bagian HRD bersama Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si.

Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) juga menjadi fokus penting. Universitas berkomitmen untuk memberikan pelatihan intensif agar proposal mahasiswa dapat lolos seleksi dan mendapatkan pendanaan dari DIKTI.

Rektor mengungkapkan rencana perubahan model laporan pertanggungjawaban di tahun 2025 yang lebih efektif dan mendalam. “Laporan akan lebih bersifat internal, langsung dari unit-unit ke pimpinan universitas, dan hasilnya akan disarikan untuk dilaporkan kepada yayasan. Dengan model ini, kita dapat berdiskusi lebih rinci dan fokus pada solusi,” jelasnya dalam wawancara eksklusif.

Dengan rakor ini, Universitas Mulia menegaskan komitmennya untuk terus berbenah dan meningkatkan kualitas dalam berbagai aspek, demi mewujudkan visi sebagai universitas unggul yang berdaya saing di tingkat nasional maupun internasional.

Humas UM (YMN)

 

Foto bersama peserta Rakor dari seluruh Fakultas bersama Rektor dan Yayasan Airlangga. Foto: Media Kreatif

Menuju Good University Governance

UM – Sivitas Universitas Mulia menggelar Rapat Koordinasi atau Rakor tahun 2024, bertempat di Ballroom Cheng Ho, Jumat (10/1/2025). Rakor yang diikuti seluruh pimpinan lembaga, fakultas, dan program studi ini membahas sejumlah capaian dan evaluasi kinerja selama tahun 2024 di seluruh bidang.

Pada kesempatan ini, turut hadir Ketua Yayasan Airlangga Hj. Mulia Hayati Deviantie mengawali sambutan. Rakor dibuka secara resmi oleh Rektor Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si dengan sebuah refleksi dan inspirasi dari media sosial Tiktok baru-baru ini.

“Ada kalimat menarik yang membuat saya merenung. Kalimatnya sederhana: Janganlah suka mengejar dan menangkap kupu-kupu di kebun, tetapi tanamlah pohon dan rawatlah bunganya. Maka, kupu-kupu itu akan datang dengan sendirinya,” ujar Prof. Ahsin.

Prof. Ahsin mengatakan ia menggunakan TikTok bukan sekadar bermedia sosial, tetapi juga mengambil hikmah dari konten-konten yang ada, sebagaimana cerita kupu-kupu di kebun.

Menurutnya, pesan utama dari kalimat tersebut adalah pentingnya mengutamakan proses. Tidak hanya fokus mengejar hasil, peringkat, dan lain sebagainya, tetapi juga tidak mengabaikan proses.

“Oleh karena itu, saya selaku Rektor sangat mengapresiasi budaya yang telah dibangun oleh Yayasan Airlangga. Mulai dari kegiatan pra-rakor, rakor, dan lain sebagainya. Ini adalah bagian dari sistem penjaminan mutu dan budaya mutu yang harus terus kita laksanakan,” ujarnya.

Rektor Prof. Dr. Muhammad Ahsin Rifa'i saat memberikan sambutan. Foto: Media Kreatif

Rektor Prof. Dr. Muhammad Ahsin Rifa’i saat memberikan sambutan. Foto: Media Kreatif

Kepala PSDKU Samarinda Tina Tri Wulansari, S.Kom., M.T.I saat menyampaikan Laporan Pertanggungan Jawab (LPJ) tahun 2024. Foto: Media Kreatif

Kepala PSDKU Samarinda Tina Tri Wulansari, S.Kom., M.T.I saat menyampaikan Laporan Pertanggungan Jawab (LPJ) tahun 2024. Foto: Media Kreatif

Manajemen Pendidikan Tinggi: Tata Pamong dan Tata Kelola

Menurut Rektor, dalam manajemen pendidikan tinggi, ada hal penting yang perlu diperhatikan. Di samping visi dan misi, ada yang disebut dengan tata pamong dan tata kelola, yang disebutnya sebagai sebuah proses.

“Tata pamong dan tata kelola mengharuskan kita untuk memperhatikan beberapa hal, yang pertama adalah organisasi. Apakah organisasi kita kredibel? Apakah kita memiliki organ-organ yang mampu menjalankan fungsi pendidikan tinggi?” tuturnya.

Rektor bersyukur telah merampungkan re-organisasi Universitas Mulia. Prinsip dasar dari re-organisasi, menurutnya, adalah dengan melengkapi organ-organ yang dibutuhkan demi percepatan dan kemajuan universitas. Dengan begitu, diharapkan mampu menggapai visi dan menghadapi persaingan yang semakin ketat.

Good University Governance: Pilar dan Implementasi

Selain organisasi, hal yang tak kalah penting adalah Good University Governance.

“Kita tidak akan dapat melaksanakan pendidikan tinggi dengan baik apabila tidak menerapkan prinsip-prinsip Good University Governance. Inilah yang akan kita laksanakan,” tutur Rektor.

Good University Governance, menurut Rektor memiliki empat pilar, antara lain.

Kredibilitas

Universitas Mulia harus memiliki kredibilitas yang telah dibangun sejak lama. Mulai saat bernama STIKOM Balikpapan, Asmi Airlangga, dan STMIK SPB yang menjadi bukti kredibilitas.

“Kredibilitas ini dibangun dengan perjuangan yang tidak mudah sehingga melahirkan Universitas Mulia,” tutur Rektor.

Yayasan Airlangga melihat kemajuan universitas yang dalam waktu singkat telah memiliki 3.000 mahasiswa, walaupun masih dirasa kurang. Bahkan, pandangan dari pihak lain, seperti UIN yang menilai bahwa hal ini sudah luar biasa.

Transparansi

“Seluruh proses yang ada di universitas, terutama yang terkait dengan pelaksanaan Tri Dharma, harus dilakukan secara transparan. Tidak boleh ada yang ditutup-tutupi,” ujarnya.

Hal ini sudah dilakukan dalam berbagai aspek, seperti informasi hibah, penelitian, pengabdian, penghargaan dosen, dan lain-lain.

“Semuanya kita sampaikan secara transparan kepada seluruh pemangku kepentingan. Tanpa transparansi, pendidikan tinggi tidak akan berjalan dengan baik,” ujar Rektor.

Akuntabilitas dan Tanggung Jawab

“Apa yang sudah kita rencanakan harus dipertanggungjawabkan. Hari ini adalah bagian dari implementasi prinsip ini,” tuturnya.

Apa yang sudah kita rencanakan selama satu tahun, lanjutnya, sesuai dengan program yang telah kita susun, harus kita pertanggungjawabkan.

Apakah sudah dilakukan dengan baik? Apa masalahnya? Jika ada kendala, mengapa itu terjadi? Evaluasi ini akan menjadi acuan dalam menyusun program ke depan.

Keadilan

“Kita harus adil. Keadilan ini berlaku dalam segala hal, termasuk dalam penempatan jabatan,” kata Rektor.

Salah satu indikator keadilan adalah bahwa setiap penempatan didasarkan pada pengalaman, pendidikan, dan kinerja. Dengan begitu, ikut serta menerapkan prinsip keadilan.

Laporan dan Capaian Universitas Mulia Selama Satu Tahun

Selanjutnya, Rektor mengungkap beberapa poin sebagai laporan kepada yayasan.

Penguatan Visi, Misi, Tujuan, dan Strategi

Selama satu tahun ini telah berupaya untuk memperkuat visi, misi, tujuan, dan strategi universitas. Juga telah merevisi roadmap pencapaian dan melakukan perubahan target waktu dari 2023 menjadi 2025.

Hal ini disesuaikan dengan kondisi saat ini dan juga target Indonesia Emas.

Target teaching university juga diperpanjang sampai tahun 2025, sembari melakukan pembenahan SDM, sarana prasarana, dan sistem yang ada.

Dengan demikian, diharapkan dapat melompat ke tahapan berikutnya, yaitu menjadi research university.

Termasuk dalam menyusun rencana program jangka panjang dan pendek yang lebih realistis dan terukur. Seluruh perencanaan ini didasarkan pada indikator dan target yang jelas sehingga diharapkan dapat melakukan evaluasi dengan baik.

Tata Pamong, Tata Kelola, dan Penjaminan Mutu:

Organisasi: yakni telah melakukan reorganisasi untuk menghasilkan struktur yang lebih baik.

Sistem Fungsional dan Operasional: yakni sedang berupaya membenahi sistem yang ada, terutama terkait proses pendidikan.

Peraturan Komplain Nilai: telah membuat peraturan tentang komplain nilai yang bisa diajukan mahasiswa. Ini adalah hak mahasiswa.

Survei Kepuasan: yakni melakukan survei kepuasan terhadap layanan pendidikan. Hasil dari survei ini akan dievaluasi untuk perbaikan.

Tracer Study:

“Saya mengucapkan terima kasih kepada wakil rektor kemahasiswaan dan jajarannya atas kerja keras mereka dalam melakukan tracer study,” tutur Rektor.

Tracer study ini adalah upaya yang sangat berat karena harus meminta masukan dari alumni yang telah lulus 2-4 tahun yang lalu.

Tracer study ini juga telah sesuai dengan standar Dikti dan kita mendapatkan gambaran yang luar biasa terkait alumni. Data tracer study ini akan menjadi acuan dalam pengembangan kurikulum dan sistem akademik.

Badan Eksekutif Mahasiswa:

“Kita juga telah membentuk badan eksekutif mahasiswa, yang sebelumnya tidak ada. Saya melihat BEM sudah banyak berbuat dan aktif dalam berbagai kegiatan,” ujar Rektor.

Penelitian dan Pengabdian:

Menurut Rektor, banyak prestasi yang telah ditorehkan di bidang penelitian dan pengabdian. Begitu pula banyak dosen yang menghasilkan publikasi internasional.

“Kita juga telah mengadakan berbagai event nasional maupun internasional,” ujarnya.

Penekanan pada Proses dan Sistem

“Terakhir, sesuai dengan inspirasi dari cerita kupu-kupu tadi, hal terpenting adalah kita harus membangun proses dan sistem. Siapa pun rektornya nanti, tidak masalah. Karena sistem kita sudah terbangun,” ujar Rektor.

Menurutnya, pedoman, peraturan, SOP, semua sudah ada. Hal ini akan memudahkan siapa pun yang menjalankan operasional Tri Dharma, yang hanya perlu mengacu pada kebijakan dan dokumen yang telah ditetapkan.

“Mudah-mudahan, tahun 2025 kita bisa menyelesaikan semua ini. Sehingga, siapa pun rektor dan pimpinannya nanti, mereka bekerja bukan karena sosok rektor, tetapi karena sistem yang sudah tertata dengan baik,” tuturnya.

Tanggapan Direktur Eksekutif Yayasan

Direktur Eksekutif Yayasan Airlangga Dr. Agung Sakti Pribadi, ditemui usai rakor mengatakan, ia berharap ada peningkatan kualitas lulusan menjadi semakin baik. Hal ini terlihat akan diberlakukannya kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE).

“Ini berarti, capaian pembelajaran dan kompetensi mahasiswa harus betul-betul terukur dan sesuai dengan kebutuhan pasar kerja. Dengan kata lain, mahasiswa harus memiliki kompetensi yang unggul dan relevan,” ujar Dr. Agung.

“Mahasiswa tidak hanya harus memiliki kompetensi yang unggul, namun juga memiliki sertifikasi kompetensi sebagai nilai tambah selain ijazah mereka. Ini dapat berupa surat keterangan pendamping ijazah,” tambahnya.

Menurutnya, rakor merupakan bentuk laporan pertanggungjawaban untuk melihat sejauh mana program yang direncanakan telah berhasil direalisasikan. Secara umum, Dr. Agung melihat Universitas Mulia telah melakukan berbagai kegiatan dengan sukses.

Dr. Agung juga melihat perkembangan di Fakultas Ilmu Komputer (FIKOM) sangat signifikan. FIKOM dinilai berhasil meningkatkan kualitas mahasiswa dengan memberikan pelatihan-pelatihan yang berujung pada sertifikasi.

“Kualitas dosen juga saya rasa sudah menunjukkan peningkatan, meskipun ada beberapa hal yang perlu ditingkatkan, terutama terkait dengan pengalaman dan keterlibatan dalam kegiatan akademik dan penelitian. Saya melihat sudah ada percepatan ke arah yang lebih baik tahun ini,” pungkasnya.

(SA/Kontributor)

Para mahasiswa mendapatkan pendampingan oleh beberapa dosen, di antaranya selaku dosen pembina Dr. Agung Sakti Pribadi, S.H., M.H. yang didampingi dosen Prodi Hukum M. Asyharuddin, S.H., M.H., dan Jhuanda, S.H., M.H. Foto: Media Kreatif

Simulasi Debat Hukum Mata Kuliah Pendidikan Anti Korupsi

UM – Ballroom Cheng Ho Universitas Mulia, Kamis (9/1/2025), menjadi saksi perdebatan sengit antara mahasiswa dari berbagai program studi. Mereka terlibat dalam simulasi debat hukum yang mengupas tuntas dugaan korupsi mantan Menteri Perdagangan RI, Thomas Lembong, dalam perspektif hukum dan ekonomi.

Acara ini bukan hanya sekadar simulasi, melainkan juga sebuah upaya untuk meningkatkan kesadaran mahasiswa tentang pentingnya integritas, keadilan, dan pemberantasan korupsi.

Debat hukum ini merupakan bagian dari mata kuliah Pendidikan Anti Korupsi, yang bertujuan untuk membekali mahasiswa dengan kemampuan analisis dan argumentasi dalam menghadapi isu-isu hukum, khususnya korupsi.

“Korupsi adalah masalah mental yang mendunia, dan kita sebagai generasi penerus harus bisa memahami bentuk-bentuk korupsi dan bagaimana peran masyarakat untuk mengatasinya,” ujar Dr. Agung Sakti Pribadi, dosen pengampu mata kuliah tersebut.

Penangkapan dan penahanan Tom Lembong dengan tuduhan korupsi menimbulkan pendapat pro dan kontra di masyarakat.

Pasalnya, Tom yang menjabat Menteri Perdagangan tahun 2015-2016 di era Presiden Joko Widodo ini dikenal sebagai pejabat yang bersih, cerdas dan santun. Tom lulusan Harvard University Amerika Serikat, sebelum menjabat menteri memiliki rekam jejak dan prestasi yang cemerlang .

Mahasiswa semester tiga saling berdebat terkait Tom Lembong. Mereka berasal dari Prodi Informatika, Sistem Informasi (SI), dan Teknologi Informasi (TI) membahas Pro dan Kontra dengan sudut pandang sebagai Jaksa Penuntut Umum dan sisi lainnya berdiri sebagai pengacara.

Para mahasiswa mendapatkan pendampingan oleh beberapa dosen, di antaranya selaku dosen pembina Dr. Agung Sakti Pribadi, S.H., M.H. yang didampingi dosen Prodi Hukum M. Asyharuddin, S.H., M.H., dan Jhuanda, S.H., M.H.

Suasana debat hukum di Ballroom Cheng Ho, yang dipimpin dosen pembina Dr. Agung Sakti Pribadi, S.H., M.H. yang didampingi dosen Prodi Hukum M. Asyharuddin, S.H., M.H., dan Jhuanda, S.H., M.H. Foto: Media Kreatif

Suasana simulasi debat hukum di Ballroom Cheng Ho, yang dipimpin dosen pembina Dr. Agung Sakti Pribadi, S.H., M.H. yang didampingi dosen Prodi Hukum M. Asyharuddin, S.H., M.H., dan Jhuanda, S.H., M.H. Foto: Media Kreatif

Mahasiswa membahas Pro dan Kontra dengan sudut pandang sebagai Jaksa Penuntut Umum dan sisi lainnya berdiri sebagai pengacara. Foto: Media Kreatif

Mahasiswa membahas Pro dan Kontra dengan sudut pandang sebagai Jaksa Penuntut Umum dan sisi lainnya berdiri sebagai pengacara. Foto: Media Kreatif

Mahasiswa semester tiga saling berdebat terkait Tom Lembong. Mereka berasal dari Prodi Informatika, Sistem Informasi (SI), dan Teknologi Informasi (TI). Foto: Media Kreatif

Mahasiswa semester tiga saling berdebat terkait Tom Lembong. Mereka berasal dari Prodi Informatika, Sistem Informasi (SI), dan Teknologi Informasi (TI). Foto: Media Kreatif

Analisis Kasus dari Tim Jaksa Penuntut Umum

Tim jaksa penuntut umum, yang terdiri dari beberapa kelompok mahasiswa, menyajikan argumen yang kuat terkait dugaan penyalahgunaan wewenang dan tindak pidana korupsi yang dilakukan Thomas Lembong.

“Terdakwa tidak hanya melanggar hasil rapat koordinasi yang menyatakan tidak perlu impor gula, tapi juga merugikan negara sebesar 1,5 triliun,” kata salah seorang mahasiswa dari pihak perwakilan jaksa penuntut umum.

Jaksa penuntut juga berargumen bahwa terdakwa telah menerbitkan izin impor kepada perusahaan yang tidak memenuhi syarat.

“Tindakan tersebut merugikan petani lokal yang terpaksa menjual hasil panen mereka dengan harga jauh di bawah harga pasar dan juga menyebabkan manipulasi pasar melalui penimbunan gula,” lanjutnya.

Tim jaksa menyoroti pelanggaran Pasal 2 dan 3 UU No. 31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dan Pasal 19 UU No. 5/1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.

Jaksa penuntut juga menekankan temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang menunjukkan adanya penyimpangan prosedur dan kerugian negara akibat kebijakan impor gula.

Pembelaan dari Tim Penasihat Hukum

Di sisi lain, tim penasihat hukum berargumen bahwa Tom Lembong tidak melakukan korupsi. Mereka menyajikan data bahwa impor gula dilakukan atas persetujuan kepresidenan.

“Jika ada surplus atau impor gula, hal ini terjadi atas persetujuan kepresidenan. Jadi, salahkan kepresidenan pada saat itu,” ujar salah seorang anggota tim penasihat hukum.

Tim ini juga menyajikan 6 saksi ahli yang menyatakan bahwa untuk menjadikan seseorang tersangka, harus ada dua hal: kerugian negara dan niat jahat.

“Klien kami tidak memiliki niat jahat dan tidak ada dana yang masuk ke rekeningnya,” ungkap tim pengacara.

Mereka juga mengkritik proses hukum yang dianggap tidak adil dan terkesan dipaksakan. Tim penasihat hukum juga menegaskan bahwa impor gula dilakukan berdasarkan kebutuhan nasional untuk menjaga kestabilan harga dan pasokan.

Perdebatan Mengenai Bukti dan Legalitas

Perdebatan semakin memanas saat tim jaksa menunjukkan bukti-bukti yang mereka miliki, namun tim penasihat hukum mempertanyakan keabsahan bukti-bukti tersebut.

Salah satu poin krusial adalah perbedaan pendapat mengenai apakah tindakan Tom Lembong lebih tepat dikategorikan sebagai kekeliruan administratif atau tindak pidana korupsi.

“Jika memang ada kesalahan dalam memahami regulasi tersebut, hal ini seharusnya dipandang sebagai sebuah kekeliruan administratif, bukan sebagai tindakan yang melanggar hukum,” tegas salah satu penasihat hukum.

Kesimpulan dan Tuntutan

Tim jaksa penuntut umum menyatakan bahwa Tom Lembong tetap bersalah berdasarkan bukti-bukti yang ada dan menuntut hukuman pidana minimal 4 tahun dan maksimal 20 tahun penjara serta denda setinggi-tingginya.

Jaksa juga menuntut pemulihan kerugian negara dan sanksi terhadap korporasi yang terlibat.

Sementara itu, tim penasihat hukum memohon kepada hakim untuk membebaskan Thomas Lembong dari segala tuntutan dengan alasan bahwa klien mereka melakukan tindakan sesuai dengan prosedur dan tidak terbukti melakukan korupsi.

Simulasi Debat Hukum

Kegiatan debat hukum ini tidak lebih dari simulasi perdebatan yang menjadi tugas mata kuliah Pendidikan Anti Korupsi. Dengan demikian, hal ini merupakan bagian dari pendidikan dan pemberdayaan bagi mahasiswa.

Para mahasiswa dibekali dengan kemampuan menganalisis kasus, menyusun argumentasi, dan berpikir kritis.

Mahasiswa juga mendapat pencerahan mengenai pentingnya penegakan hukum dan keadilan serta bahaya korupsi.

Melalui acara ini, para mahasiswa diharapkan dapat memperkaya pengetahuan hukum dan wawasannya tentang isu-isu aktual.

“Mudah-mudahan kalian bisa menjelaskan betul-betul untuk apa yang disampaikan oleh penasehat hukum, kita paham apa yang dilakukan adalah benar,” kata Dr. Agung Sakti Pribadi.

Debat hukum ini mengupas tuntas dugaan korupsi mantan Menteri Perdagangan Tom Lembong. Acara ini digelar di Universitas Mulia dengan melibatkan mahasiswa dari berbagai program studi.

Melalui perdebatan sengit ini mahasiswa berhasil menunjukkan kemampuan menganalisis, berargumentasi, dan berpikir kritis.

Kasus ini memberikan gambaran betapa rumit dan rentannya sistem hukum dan ekonomi di Indonesia.

Debat hukum ini bukan hanya menjadi ajang perdebatan, tetapi juga wadah untuk meningkatkan kesadaran mahasiswa akan pentingnya pemberantasan korupsi.

Debat hukum mengenai kasus dugaan korupsi Tom Lembong di Universitas Mulia diharapkan memberikan wawasan mendalam kepada para mahasiswa tentang kompleksitas isu hukum, ekonomi, dan politik di Indonesia.

Usai menggelar debat hukum, mahasiswa dinilai berhasil menunjukkan kemampuan luar biasa dalam menganalisis, berargumentasi, dan mengaplikasikan pengetahuannya.

“Kegiatan ini menjadi bukti bahwa generasi muda memiliki potensi besar untuk menjadi agen perubahan dan menegakkan keadilan di masa depan. Perdebatan ini juga diharapkan akan meningkatkan kesadaran pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam pemerintahan,” pungkas Dr. Agung Sakti Pribadi.

(SA/Kontributor)

Sebagian sivitas Universitas Mulia foto bersama. Foto: Media Kreatif

Universitas Mulia Bangun Gedung Tiga Lantai

UM – Sivitas akademika Universitas Mulia menghadiri Refleksi Akhir Tahun 2024 yang diselenggarakan Yayasan Airlangga. Kegiatan yang diwarnai pembagian sejumlah hadiah ini bertempat di Ballroom Cheng Ho Universitas Mulia, Selasa (31/12).

Ketua Yayasan Airlangga Hj. Mulia Hayati Deviantie yang mengikuti secara daring, dalam sambutannya mengatakan, beberapa peristiwa penting selama tahun 2024 serta tantangan dan hambatan yang dihadapi, menjadi bahan evaluasi.

“Tujuannya adalah untuk mengukur sejauh mana kita telah bertumbuh, baik sebagai individu maupun sebagai bagian dari umat. Selain itu, kita juga perlu mengukur seberapa besar manfaat yang telah kita berikan dan dirasakan oleh orang lain,” tutur Hj. Mulia.

“Alhamdulillah, Yayasan Pendidikan Airlangga dikelola dengan prinsip humanis. Salah satu wujudnya adalah kita tidak menghilangkan peran seorang ibu yang mengantar anaknya ke sekolah atau ke kampus, agar mereka dapat tumbuh bersama dengan kemajuan yayasan,” tuturnya.

Demikian pula, lanjutnya, yayasan menghargai peran seorang bapak yang selalu mengantar dan menjemput anaknya ke sekolah. “Kita tidak melarang atau membatasi peran tersebut, karena kita menganut prinsip humanis,” terangnya.

Menurutnya, Yayasan Airlangga senantiasa mendukung upaya untuk mencapai dan merealisasikan visi dan misi yang telah direncanakan setiap tahun oleh lembaga pendidikan di bawah naungan Yayasan Airlangga.

“Rencana tersebut kita kembangkan, kita jalankan, dan kita evaluasi bersama di akhir tahun,” tambahnya.

Ketua Yayasan Airlangga Hj. Mulia Hayati Deviantie memberikan sambutan pada Refleksi Akhir tahun 2024 secara daring. Foto: Media Kreatif

Ketua Yayasan Airlangga Hj. Mulia Hayati Deviantie memberikan sambutan pada Refleksi Akhir tahun 2024 secara daring. Foto: Media Kreatif

Direktur Eksekutif Yayasan Airlangga Dr. Agung Sakti Pribadi. Foto: Media Kreatif

Direktur Eksekutif Yayasan Airlangga Dr. Agung Sakti Pribadi. Foto: Media Kreatif

Dosen Berprestasi 2024 Universitas Mulia mendapatkan penghargaan dari Direktur Eksekutif Yayasan Airlangga Dr. Agung Sakti Pribadi. Foto: Vio/Media Kreatif

Dosen Berprestasi 2024 Universitas Mulia mendapatkan penghargaan dari Direktur Eksekutif Yayasan Airlangga Dr. Agung Sakti Pribadi. Foto: Vio/Media Kreatif

Firmansyah, Kepala SMK Kesehatan Airlangga Balikpapan, Guru Inovatif tingkat Provinsi Kalimantan Timur tahun 2024. Foto: SA/Kontributor

Firmansyah, Kepala SMK Kesehatan Airlangga Balikpapan, Kepala Sekolah Inovatif tingkat Provinsi Kalimantan Timur tahun 2024. Foto: SA/Kontributor

Capaian Tahun 2024

Sejumlah prestasi yang membanggakan di bidang pendidikan berhasil diraih. “Salah satunya adalah kebanggaan atas terpilihnya Bapak Firmansyah sebagai kepala sekolah inovatif tingkat Provinsi Kalimantan Timur tahun ini,” tuturnya, disambut aplaus meriah.

Selain itu, seluruh SMK di bawah naungan Yayasan Airlangga telah menjadi SMK Pusat Keunggulan. “Ini menunjukkan bahwa SMK-SMK kita telah menjadi acuan atau model bagi SMK lain,” terangnya.

Selain capaian akademik, yayasan juga telah berhasil mendirikan Pesantren Al-Madani di Sulawesi Selatan. Yayasan juga terus berupaya melakukan kolaborasi dengan berbagai komunitas dan mahasiswa.

“Kita juga telah berhasil mengadakan kegiatan kesenian, riset desa, dan seminar nasional dan internasional. Selain itu, kita juga berupaya untuk melakukan branding dan inovasi,” tambahnya.

Hj. Mulia juga memberikan apresiasi atas keberhasilan sivitas Universitas Mulia yang berhasil menyusun borang akreditasi institusi.

“Selain itu, kita terus berupaya membangun gedung kampus tiga lantai yang kita harapkan selesai dalam waktu dekat, agar dapat segera kita pergunakan,” ungkapnya.

SMK Pusat Keunggulan

Senada, Direktur Eksekutif Yayasan Airlangga Dr. Agung Sakti Pribadi mengatakan, patut berbangga lantaran seluruh SMK di bawah naungan yayasan berhasil menjadi SMK Pusat Keunggulan.

“Kita berikan apresiasi atas pencapaian ini. Perlu diketahui bahwa tidak semua SMK dapat menjadi pusat keunggulan. Hanya sekolah yang dianggap mampu dan memiliki kualitas yang memadai yang dapat ditunjuk oleh pemerintah,” tutur Dr. Agung.

Ia menilai, SMK TI Samarinda menjadi pionir yang pertama kali mendapatkan bantuan pemerintah, diikuti oleh SMK Airlangga Balikpapan dan SMK Kesehatan Airlangga Balikpapan

Dr. Agung mengatakan, bantuan ini memiliki dampak signifikan terhadap kinerja lembaga pendidikan sekolah. Hal ini terlihat jelas ketika mengunjungi sekolah yang telah mendapatkan bantuan tersebut.

“Contohnya, di SMK Kesehatan, bantuan pemerintah sangat memajukan Prodi Keperawatan, dengan fasilitas ruangan yang profesional dan modern,” terang Dr. Agung.

Berawal dari Raker di Bali 2022

Kepala Sekolah SMK Kesehatan Airlangga Balikpapan Firmansyah mengatakan, bantuan pemerintah diperolehnya usai dirinya mengikuti Rapat Kerja Yayasan Airlangga, di Bali tahun 2022 yang lalu.

“Sejak Raker yang kita ikuti di Bali pada tahun 2022, kita mulai menyusun peta jalan untuk membawa institusi kita ke arah yang lebih baik. Materi Raker tersebut kemudian kami presentasikan di hadapan kurator. Sejak saat itu, kita mulai terarah dalam pengembangan institusi,” ujar Firmansyah.

Setelah itu, lanjutnya, Firmansyah mendapatkan program pendampingan selama tiga tahun terkait pengembangan mutu.

“Pada tahun 2022, kita mendapatkan bantuan sebesar 1,3 Miliar. Bantuan tersebut meliputi bantuan fisik, kurikulum, dan peralatan. Dengan dukungan tersebut, kita menjadi lebih terbuka dan terarah,” terangnya.

Sejak saat itu pula, kemitraan yang dijalin SMK Kesehatan juga semakin luas, baik di tingkat lokal, daerah, maupun nasional.

“Kita menjalin kerjasama dengan berbagai pihak, termasuk rumah sakit dan institusi lainnya,” tambahnya.

Di tahun selanjutnya, SMK Kesehatan kembali mendapatkan bantuan berupa dana sebesar 150 juta. Meskipun tidak sebesar bantuan sebelumnya, tetapi sangat membantu dalam penguatan kurikulum.

Di tahun ketiga dan terakhir, mendapatkan bantuan serupa yang digunakan untuk penguatan kurikulum, menghadirkan guru tamu, dan berbagai program lainnya.

Sejumlah prestasi diraih Firmansyah, di antaranya adalah Juara 1 Kepala Sekolah Inovatif versi Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Timur. Kedua, Juara 2 versi Balai Guru Penggerak. Ketiga, mendapatkan Juara 2 SMK ter-perform di tingkat provinsi.

(SA/Kontributor)

Klasterisasi Perguruan Tinggi 2024 terdapat enam kriteria utama yang digunakan sebagai dasar pengelompokan meliputi: Kelembagaan 15%, Sumber Daya Manusia 15%, Penelitian 15%, Pengabdian kepada Masyarakat 15%, Publikasi 25%, dan Kekayaan Intelektual 10%. Bobot juga berbasis Sinta Score Affiliation dan Akreditasi Perguruan Tinggi.

Klasterisasi Berdasarkan Kinerja, Bukan Pemeringkatan, untuk Tingkatkan Kualitas Riset dan Pengabdian Masyarakat

UM – Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) mengumumkan hasil klasterisasi perguruan tinggi tahun 2025, yang mengelompokkan institusi pendidikan tinggi berdasarkan kinerja penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Publikasi ilmiah menjadi salah satu prioritas utama dalam penilaian, dan kolaborasi antar perguruan tinggi lintas klaster sangat dianjurkan. Klasterisasi ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas pendidikan tinggi secara keseluruhan di Indonesia.

Klasterisasi ini diumumkan melalui surat resmi dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi yang ditandatangani Direktur Riset, Teknologi, dan Pengabdian Kepada Masyarakat, M. Faiz Syuaib, tanggal 19 Desember 2024. (unduh)

Pengelompokan ini didasarkan pada data kinerja dari SINTA (Science and Technology Index) periode 2021-2023, yang mencakup data penulis, afiliasi, artikel, penelitian, pengabdian masyarakat, kekayaan intelektual, dan buku.

Berdasarkan klasterisasi tersebut, terdapat enam kriteria utama yang digunakan sebagai dasar pengelompokan meliputi: Kelembagaan 15%, Sumber Daya Manusia 15%, Penelitian 15%, Pengabdian kepada Masyarakat 15%, Publikasi 25%, dan Kekayaan Intelektual 10%. Bobot juga berbasis Sinta Score Affiliation dan Akreditasi Perguruan Tinggi.

Perguruan tinggi dikelompokkan menjadi empat klaster utama: Mandiri (tertinggi), Utama, Madya, dan Pratama. Daftar lengkap perguruan tinggi diurutkan secara alfabetis dalam setiap klaster dan bukan merupakan pemeringkatan. Perguruan tinggi yang tidak termasuk dalam daftar klaster dikelompokkan dalam klaster Binaan (Prakualifikasi).

Klasterisasi ini bukanlah untuk membandingkan atau pemeringkat perguruan tinggi, tetapi untuk memetakan kinerja, menentukan kewenangan, serta mendorong kolaborasi antar perguruan tinggi lintas klaster.

Tujuan klasterisasi adalah untuk meningkatkan kualitas dan efektivitas penelitian serta pengabdian kepada masyarakat secara keseluruhan.

Kemendikbudristek sangat menganjurkan kolaborasi antar perguruan tinggi yang berada di klaster berbeda, yakni perguruan tinggi dengan klaster yang lebih tinggi dapat membimbing dan mendampingi perguruan tinggi di klaster yang lebih rendah dalam mengembangkan kinerjanya.

Klasterisasi ini memberikan informasi penting bagi masyarakat dan calon mahasiswa mengenai kualitas dan fokus kinerja setiap perguruan tinggi. Hal ini akan membantu calon mahasiswa memilih perguruan tinggi yang paling sesuai dengan minat dan kebutuhannya.

Masyarakat juga dapat memantau perkembangan dan kinerja perguruan tinggi secara transparan.

Klasterisasi ini memberdayakan perguruan tinggi untuk secara aktif melihat posisi dan potensinya serta merencanakan langkah-langkah strategis untuk meningkatkan kinerja.

Perguruan tinggi yang berada di klaster rendah diharapkan termotivasi untuk memperbaiki diri. Sementara yang berada di klaster tinggi diharapkan terus berinovasi untuk mempertahankan kualitasnya.

Klasterisasi ini memberikan pemahaman bahwa kualitas pendidikan tinggi tidak hanya diukur dari peringkat, tetapi juga dari seberapa besar kontribusi perguruan tinggi dalam bidang penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Pemahaman ini dapat mengubah paradigma pendidikan tinggi menjadi lebih berorientasi pada dampak sosial dan kemajuan bangsa.

Dengan dirilisnya klasterisasi perguruan tinggi tahun 2025, Kemendikbudristek berharap dapat mendorong peningkatan mutu pendidikan tinggi di Indonesia.

Perguruan tinggi diharapkan dapat memanfaatkan informasi klasterisasi ini untuk terus berinovasi, berkolaborasi, dan berkontribusi dalam memajukan bangsa melalui penelitian dan pengabdian yang berkualitas.

Hasil pengukuran data kinerja perguruan tinggi untuk klasterisasi perguruan tinggi tahun 2025 dapat dilihat pada (tab) Metrics Cluster pada profil perguruan tinggi melalui laman (https://sinta.kemdikbud.go.id/) dan pengguna operator BIMA Kemdikbud (https://bima.kemdikbud.go.id/) .

(SA/Kontributor)

Mahasiswa memanfaatkan sarana foto booth menjadikan kenang-kenangan. Foto: Vio/Media Kreatif
Technofest IT FIKOM, Seminar Membahas Dampak, Peluang, dan Inovasi AI dalam Berbagai Aspek Kehidupan

UM – Kamis, (19/12), Ballroom Cheng Ho Universitas Mulia menjadi saksi perhelatan seminar Teknologi AI yang diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Komputer (FIKOM) bekerja sama dengan NVIDIA dan Bitracom.

Seminar ini tidak hanya menyoroti kecanggihan teknologi AI, tetapi juga menjawab berbagai pertanyaan seputar dampaknya pada kehidupan profesional dan pendidikan.

Sesi tanya jawab menjadi sorotan utama. Sejumlah mahasiswa dari berbagai program studi melontarkan pertanyaan kritis kepada dua narasumber, Irwan Chandra dari NVIDIA Indonesia dan konten kreator Ilham Subki Wijaya.

Kekhawatiran tergantikannya manusia oleh AI hingga peluang AI di masa depan menjadi tema diskusi yang menarik.

Sesi tanya jawab kedua narasumber, Irwan Chandra dan Ilham Subki Wijaya, dengan moderator Ir. Richki Hardi, S.T., M.Eng. Foto: Vio/Media Kreatif

Sesi tanya jawab kedua narasumber, Irwan Chandra dan Ilham Subki Wijaya, dengan moderator Ir. Richki Hardi, S.T., M.Eng. Foto: Vio/Media Kreatif

Mahasiswa mencoba perangkat AI besutan vendor ternama NVIDIA di Universitas Mulia, Kamis (19/12). Foto: Vio/Media Kreatif

Mahasiswa mencoba perangkat AI besutan vendor ternama NVIDIA di Universitas Mulia, Kamis (19/12). Foto: Vio/Media Kreatif

Berikut ini ringkasan beberapa pertanyaan menarik dan relevan yang diajukan oleh para mahasiswa dan dosen Universitas Mulia.

AI itu Membantu, Bukan Menggantikan Kreativitas Manusia

Diko, mahasiswa Prodi Informatika, mempertanyakan nasib pekerja kreatif di era AI.

“AI tidak akan menggantikan manusia, tetapi akan menjadi alat yang memaksimalkan kreativitas. AI membutuhkan input dari manusia. Pekerja seni, misalnya, bisa menggunakan AI untuk mempercepat proses kreatif tanpa kehilangan sentuhan personal,” kata Irwan Chandra.

Penjelasan ini menggarisbawahi bahwa teknologi AI adalah mitra, bukan pesaing.

Efisiensi Energi dan Lingkungan

Farhan, mahasiswa yang bekerja yang sebagai Software Engineer, mengangkat isu efisiensi energi GPU NVIDIA di tengah krisis global warming.

Irwan Chandra menjelaskan bahwa teknologi GPU generasi terbaru sudah didesain untuk konsumsi daya lebih rendah dengan performa lebih tinggi.

“Kami tidak hanya fokus pada inovasi performa tetapi juga efisiensi energi, mengurangi dampak lingkungan,” tegasnya.

Peluang Kolaborasi Lintas Bidang

Mahasiswa non-IT pun turut serta dalam diskusi, mempertanyakan relevansi AI bagi bidang mereka, seperti Farmasi.

Ilham Subki Wijaya memberikan contoh kolaborasi antara farmasi dan informatika dalam riset obat dan manajemen stok obat menggunakan AI.

“Kolaborasi lintas disiplin dapat menghasilkan solusi inovatif, seperti sistem diagnosis berbasis AI untuk kesehatan,” jelasnya.

Pemanfaatan AI untuk Pendidikan dan Penelitian

Moderator seminar, Richki Hardi, menyoroti potensi AI seperti ChatRTX untuk penelitian ilmiah.

Ilham Subki menjelaskan keunggulan ChatRTX yang menggunakan dataset spesifik, sehingga dapat memberikan hasil yang lebih terverifikasi dibandingkan AI generik lainnya.

“Sebagai contoh, tadi saya tunjukkan bahwa di dataset terdapat 115 jurnal yang tersimpan. Jadi, jawaban yang diberikan ChatRTX akan merujuk hanya pada jurnal-jurnal tersebut. Dengan pendekatan ini, setiap tanggapan yang diberikan oleh ChatRTX selalu berdasarkan referensi valid yang telah kita simpan,” ujarnya.

Kabar ini menjadi angin segar bagi mahasiswa maupun dosen yang menghadapi tantangan besar dalam penyusunan skripsi dan jurnal ilmiah.

Peluang Mahasiswa dalam Membangun Ibu Kota Nusantara (IKN)

Syanisa Mutho’an Nafil, mahasiswa Prodi Informatika, bertanya tentang peran mahasiswa dalam memanfaatkan AI untuk mendukung pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).

Ilham Subki mengatakan, AI memiliki peluang luas, seperti penggunaan computer vision untuk memprediksi kemacetan dan teknologi scan wajah yang meningkatkan efisiensi transportasi.

“AI bisa diterapkan di banyak hal, dari prediksi kemacetan hingga manajemen real estate,” ujarnya.

Irwan Chandra menambahkan, pentingnya penguasaan dasar STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics) oleh mahasiswa untuk memahami dan memanfaatkan AI secara optimal.

Ia mendorong mahasiswa memanfaatkan teknologi AI untuk mempercepat pembelajaran dan mengadaptasi solusi dari negara lain.

Pandangan ini memotivasi mahasiswa untuk menjadikan AI sebagai pendorong utama pembangunan IKN yang lebih canggih dan efisien.

AI sebagai Pemberdaya Konten Kreator

Hadrian, seorang konten kreator, bertanya tentang peran AI dalam mengatasi tantangan dunia kreatif.

Irwan Chandra menerangkan bagaimana AI, seperti teknologi noise cancellation, membantu meningkatkan kualitas audio dan efisiensi produksi. “Dengan AI, biaya produksi bisa ditekan tanpa mengorbankan kualitas,” ujarnya.

Seminar ini tidak hanya memberikan jawaban atas berbagai pertanyaan kritis, tetapi juga menanamkan pemahaman bahwa AI adalah alat yang mampu memberdayakan manusia di berbagai bidang.

Seperti yang dikatakan Irwan Chandra, “AI tidak akan menjadi manusia super, tetapi kita bisa menjadi manusia super dengan memanfaatkan AI.”

(SA/Kontributor)

Fakultas Ilmu Komputer (FIKOM) bekerja sama dengan NVIDIA dan Bitracom Balikpapan menggelar seminar dengan tema NVIDIA Powers the World’s AI and Yours, bertempat di Ballroom Cheng Ho, Kamis (19/12). Seminar ini merupakan rangkaian Festival Teknologi Informasi atau Technofest IT yang digelar FIKOM. Foto: Vio/Media Kreatif

UM – Fakultas Ilmu Komputer (FIKOM) bekerja sama dengan NVIDIA dan Bitracom Balikpapan menggelar seminar dengan tema NVIDIA Powers the World’s AI and Yours, bertempat di Ballroom Cheng Ho, Kamis (19/12). Seminar ini merupakan rangkaian Festival Teknologi Informasi atau Technofest IT yang digelar FIKOM.

Pada kesempatan ini, para narasumber, yakni Irwan Chandra dan Ilham Subki Wijaya, memperkenalkan produk-produk AI terbaru yang dapat digunakan untuk efisiensi dan produktivitas inovasi perguruan tinggi.

Chandra, Direktur CV. Bitracom Informatika mengawali sambutan, mengucapkan terima kasih kepada Rektor Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i, Wakil Rektor, Dekan, Kepala Lembaga beserta seluruh jajaran pimpinan, dosen, dan mahasiswa Universitas Mulia.

“Kalau saya boleh cerita sedikit, nama gedung yang kita pakai ini adalah Cheng Ho. Sejarah Cheng Ho itu secara ringkas tahun 1400, yaitu memimpin tujuh ekspedisi mengarungi lautan sampai ke Asia dan Afrika,” ujar Chandra.

Tujuan Cheng Ho ditugaskan untuk melakukan ekspedisi, lanjutnya, adalah untuk mencari wilayah baru, destinasi baru, dan kesempatan baru.

“Kami berharap kolaborasi antara Universitas Mulia dan Bitracom dapat membuka peluang baru untuk mengembangkan teknologi AI, menjadikannya sebagai ‘Cheng Ho Teknologi’ yang membawa inovasi dan dampak nyata bagi masa depan,” harap Chandra.

Chandra, Direktur CV. Bitracom Informatika mengawali sambutannya. foto: Vio/Media Kreatif

Chandra, Direktur CV. Bitracom Informatika mengawali sambutannya. foto: Vio/Media Kreatif

Irwan Chandra, pembicara pertama, membuka diskusi dengan menggambarkan perjalanan teknologi AI. Foto: Vio/Media Kreatif

Irwan Chandra, pembicara pertama, membuka diskusi dengan menggambarkan perjalanan teknologi AI. Foto: Vio/Media Kreatif

Ilham Subki Wijaya memperkenalkan diri dari Gadgets.id sebagai Content Creator di YouTube. Foto: Vio/Media Kreatif

Ilham Subki Wijaya memperkenalkan diri dari Gadgets.id sebagai Content Creator di YouTube. Foto: Vio/Media Kreatif

Mahasiswa mencoba perangkat AI besutan vendor ternama NVIDIA di Universitas Mulia, Kamis (19/12). Foto: Vio/Media Kreatif

Mahasiswa mencoba perangkat AI besutan vendor ternama NVIDIA di Universitas Mulia, Kamis (19/12). Foto: Vio/Media Kreatif

AI: Dari Masa Lalu ke Masa Depan

Irwan Chandra, pembicara pertama, membuka diskusi dengan menggambarkan perjalanan teknologi AI. “Perkembangan AI mulai terlihat signifikan sejak tahun 2012-2013, tetapi lonjakan besar terjadi pada 2018-2019,” jelasnya.

AI, menurutnya, adalah kemampuan komputer untuk meniru kecerdasan manusia, dan teknologi ini berkembang pesat sejak hadirnya Neural Processing Unit (NPU), yang memungkinkan komputer memproses tugas AI secara lebih efisien.

Tak hanya itu, Irwan menyoroti bagaimana AI telah menjadi bagian dari komputasi modern. Teknologi NVIDIA RTX, misalnya, memungkinkan akselerasi komputasi hingga tingkat yang sebelumnya tidak terbayangkan.

Dengan kemampuan menjalankan aplikasi AI secara lokal, perangkat modern kini mampu memberikan respons cepat tanpa tergantung server jarak jauh.

AI dalam Dunia Kreatif

Dalam sesi yang menggugah minat para kreator konten, Irwan menyoroti peran NVIDIA dalam mendukung lebih dari 125 aplikasi berbasis AI, mulai dari pengeditan video hingga broadcasting. Teknologi seperti NVIDIA DLSS, Broadcast, dan Omniverse dirancang untuk mempercepat proses kreatif hingga beberapa kali lipat dibandingkan perangkat standar.

“Bayangkan, laptop dengan RTX 4090 dapat menyelesaikan tugas delapan kali lebih cepat dibandingkan MacBook Pro dalam beberapa skenario,” katanya.

Ia juga memamerkan teknologi Canvas, yang memungkinkan kreator membuat sketsa dan elemen visual dengan mudah, dan NVIDIA Broadcast yang mampu meningkatkan kualitas meeting online dengan fitur noise reduction dan eye contact adjustment.

AI untuk Gaming dan Pengembangan

Industri gaming juga tidak luput dari pembahasan. Dengan lebih dari 150 juta gamer di Indonesia, NVIDIA membawa inovasi seperti RTX Remix, alat gratis untuk memodifikasi game lama, dan NVIDIA ACE for Gamers, yang memberikan kecerdasan pada karakter dalam game.

“Karakter dalam game kini dapat berinteraksi lebih dinamis dengan pemain, memberikan pengalaman gaming yang lebih imersif,” tambah Irwan.

Selain itu, teknologi DLSS telah meningkatkan performa lebih dari 400 game, membuktikan bahwa AI tidak hanya mendukung kreator tetapi juga komunitas gamer secara luas.

Teknologi GPU: Pendukung Revolusi AI

Semua inovasi AI yang dibahas tidak terlepas dari peran GPU RTX. NVIDIA menawarkan pilihan GPU dengan performa beragam, seperti RTX 4060 hingga RTX 4090, yang dapat memenuhi kebutuhan pengguna dari berbagai kalangan.

GPU ini kini tersedia di laptop dan desktop, memberikan fleksibilitas bagi pengguna untuk menjalankan aplikasi berbasis AI sesuai kebutuhan.

AI: Alat untuk Manusia Super

Irwan menutup presentasinya dengan pesan yang menginspirasi dari CEO NVIDIA Jensen Huang, yang mengatakan, “AI adalah alat untuk membantu manusia menjadi lebih baik, bukan untuk menggantikan manusia.”

Dalam pandangannya, AI seharusnya digunakan untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas hidup manusia, layaknya kalkulator yang mempermudah penghitungan.

AI: Alat untuk Animasi dan Gaming

Narasumber kedua, Ilham Subki Wijaya, mengawali dengan mengucapkan terima kasih untuk NVIDIA Indonesia, Bitracom, dan Universitas Mulia.

“Saya baru tahu kalau universitas ini umurnya belum begitu tua dan kampusnya bagus sekali. Dari sekian banyaknya roadshow, jujur, aula di sini adalah yang paling keren yang pernah saya temui,” kata Ilham.

Ilham memperkenalkan diri dari Gadgets.id sebagai Content Creator di YouTube. “Kerjaan saya biasanya nyobain beberapa komponen-komponen komputer, baik PC desktop ataupun laptop. Kebetulan lagi ngulik-ngulik AI dan sering diundang beberapa vendor untuk mendemokan AI,” katanya.

Hardware untuk AI PC (Khususnya 3D Content)

Karena kerjaan saya biasanya nge-review hardware, di sini saya ingin memperkenalkan hardware-hardware yang memang digunakan, terutama untuk AI PC dan spesifik untuk 3D content (animasi dan gaming).

Hardware untuk AI di antaranya adalah NPU, GPU, dan AI Cloud. Ketiganya, menurutnya, adalah prosesor. Jadi, AI dikerjakan oleh CPU, tapi GPU, NPU, dan GPU di cloud adalah akselerator.

“AI akselerator adalah chip yang spesifik untuk perhitungan matematis. Jadi, belajar matriks dan statistik itu penting untuk develop AI,” ujar Ilham.

Ia kemudian menjelaskan perbedaan NPU, GPU, dan Cloud GPU.

NPU biasa terdapat di laptop, tujuannya untuk efisiensi. NPU mengerjakan hal-hal basic seperti background blur. Contoh, jika laptop ada fitur Microsoft Studio Effect, berarti ada NPU di prosesornya.

“Aplikasi Audacity juga bisa jalan di NPU,” ujarnya.

GPU (RTX) memiliki kemampuan lebih luas lagi. Bisa untuk ComfyUI (generative image dengan node workflow), realtime generative image, dan DLSS (Deep Learning Super Sampling).

Sedangkan Cloud yang digunakan untuk AI seperti ChatGPT, Suno, Hagen, Copilot yang tidak berjalan lokal. Ada yang gratis dan berbayar. “Tetapi dengan RTX, karena jalannya lokal, jadi gratis, kecuali software yang memerlukan subscription,” ujarnya.

Pemanfaatan AI dalam Animasi

“Di sini saya mendemokan pembuatan animasi 30 detik dalam satu hari dengan ComfyUI (untuk still image, texturing), Cloud AI dengan Tripo (untuk membuat aset 3D), Blender (untuk pose, bukan untuk bikin animasi), dan live portrait (untuk dialog). Lalu, untuk merangkai videonya dapat memanfaatkan CapCut,” terang Ilham.

Nvidia Chat RTX

Ilham menerangkan penggunaan Nvidia Chat RTX, yang merupakan LLM (Large Language Model) lokal.

“Saya sudah menyiapkan satu folder jurnal berisi 115 jurnal yang dijadikan dataset. Apapun yang ditanya mengenai supply chain dan management risk, jawaban diberikan dan juga referensi jurnalnya,” ujar Ilham.

Model Chat RTX baru bisa berjalan dengan Bahasa Inggris, tapi bisa dilakukan finetuning jika ingin menggunakan Bahasa Indonesia.

Perbandingan Generate Image dengan CPU dan GPU RTX

Ilham kemudian mendemokan dua stable diffusion dengan prompt yang sama “one car in the mountain“.

Satu menggunakan CPU core i7 13700H yang memakan waktu sekitar 5 menit untuk 1 gambar dengan load 100%. Sementara, stable diffusion yang menggunakan RTX 4070 memakan waktu sekitar 26 detik untuk 10 gambar.

“Jadi, GPU RTX lebih cepat dan efisien untuk generative image. CPU tidak dioptimalkan untuk tugas tersebut,” ujarnya.

Sedangkan implementasi AI pada Gaming, NVIDIA dengan DLSS bisa memperkecil resolusi lalu di-upscale. Dengan adanya AI, kualitas gambar bisa tetap dipertahankan, performa pun lebih tinggi.

Ilham mengakhiri presentasi dengan pesan yang bijak. “AI adalah tools tambahan untuk memaksimalkan dan membuat pekerjaan kita lebih efisien. Pintar-pintarlah belajar matematika agar jago develop AI,” ujarnya.

Semua hal tentang AI perlu akselerator yang tepat dan software perlu di-coding untuk memaksimalkan GPU, Tensor Core, dan CUDA.

“Jika kita menggunakan RTX, maka banyak fitur AI yang dapat digunakan secara lokal, tanpa berbayar. Hal ini juga dapat menjaga privasi data perusahaan atau kampus,” pungkasnya.

(SA/Kontributor)

Mahasiswa mencoba perangkat AI besutan vendor ternama NVIDIA di Universitas Mulia, Kamis (19/12). Foto: Vio/Media Kreatif

Universitas Mulia Teken Kerjasama dengan Mitra Perusahaan

UM – Dalam sesi Talkshow seminar teknologi Artificial Intelligence (AI), para narasumber menekankan bahwa kecerdasan artifisial bukanlah ancaman, melainkan alat yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan efisiensi dan mendorong inovasi. Mahasiswa didorong untuk menguasai AI dan mengintegrasikannya dalam berbagai bidang.

Hal ini terungkap dalam seminar yang digelar Fakultas Ilmu Komputer (FIKOM) bekerja sama dengan NVIDIA dan Bitracom Balikpapan, dengan tema NVIDIA Powers the World’s AI and Yours, bertempat di Ballroom Cheng Ho, Kamis (19/12).

Dalam kesempatan ini, juga dilakukan penandatanganan kerjasama oleh Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i selaku Rektor Universitas Mulia dengan Candra selaku Direktur CV. Bitracom Informatika.

Dua orang narasumber tampil sebagai pembicara, yakni Irwan Chandra selaku SBPC Manager NVIDIA Indonesia dan Ilham Subki Wijaya, seorang Digital Creator Tech Reviewer Gadgets.id dan moderator Ir. Richki Hardi, S.T., M.Eng serta MC Tiara Rafandini.

Seminar diikuti lebih kurang 300 orang peserta, yang didominasi mahasiswa Universitas Mulia serta dari perguruan tinggi lain hingga siswa-siswi SMK. Sebagian dari peserta yang beruntung mendapatkan doorprize serta hadiah bagi pemenang lomba NVIDIA Canvas Competition.

Seminar mengupas produk teknologi berbasis AI bersama NVIDIA, salah satu vendor ternama dunia yang bergerak dalam industri semikonduktor, teknologi grafis, kecerdasan artifisial, dan komputasi paralel.

Dengan mengenalkan berbagai macam teknologi berbasis AI tersebut, diharapkan mahasiswa maupun dosen mampu memanfaatkannya untuk berbagai keperluan dan produktivitas dalam melaksanakan tridharma perguruan tinggi.

Rektor Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i, dalam kesempatan ini diwakilkan Wakil Rektor Bidang Akademik dan Sistem Informasi Wisnu Hera Pamungkas, S.T.P, M.Eng dalam sambutannya mengatakan, menyambut hangat kedatangan pihak NVIDIA.

Dalam kesempatan ini, juga dilakukan penandatanganan kerjasama yang dilakukan oleh Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i selaku Rektor Universitas Mulia dengan Candra selaku Direktur CV. Bitracom Informatika. Foto: Vio/Media Kreatif

Dalam kesempatan ini, juga dilakukan penandatanganan kerjasama yang dilakukan oleh Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i selaku Rektor Universitas Mulia dengan Candra selaku Direktur CV. Bitracom Informatika. Foto: Vio/Media Kreatif

Salah seorang narasumber Irwan Chandra saat memaparkan presentasinya. Foto: Vio/Media kreatif

Salah seorang narasumber Irwan Chandra saat memaparkan presentasinya. Foto: Vio/Media kreatif

Foto bersama panitia dan seluruh peserta Semina tentang Teknologi AI bersama NVIDIA. Foto: Vio/Media Kreatif

Foto bersama panitia dan seluruh peserta seminar tentang Teknologi AI bersama NVIDIA. Foto: Vio/Media Kreatif

Seminar ini, menurutnya, sangat positif mengingat perkembangan AI saat ini cukup masif. Hadirnya Meta AI yang masuk ke dalam grup WhatsApp bersama dengan chat GPT dan teknologi AI lainnya semakin mendekatkan kepada masyarakat luas.

Kini, kehadiran AI telah menyentuh hampir setiap aspek kehidupan masyarakat. Banyak orang, tanpa disadari, telah memanfaatkan teknologi AI dalam berbagai tools dan aplikasi.

“Peran AI, khususnya bagi programmer, sangat signifikan. Apa yang dahulu membutuhkan proses manual panjang, kini bisa diselesaikan dengan cepat dan efisien berkat AI,” ujarnya.

Namun, tambahnya, ia mengingatkan bahwa AI hanyalah alat. Keberhasilannya bergantung pada desain, model, dan pemanfaatan yang tepat oleh penggunanya. Oleh karena itu, mahasiswa diingatkan untuk memperdalam ilmu pengetahuan tentangnya.

Ia mengatakan, seminar ini merupakan momentum penting, terutama bagi mahasiswa, dosen, dan sivitas akademika pada umumnya. Tidak terbatas pada program studi Informatika, tetapi juga terbuka lintas program studi untuk berinovasi dan lebih produktif dalam memanfaatkan AI.

“Kami berterima kasih kepada NVIDIA dan Bitracom yang telah berkontribusi dalam acara ini, sekaligus memberikan semangat baru di momen Dies Natalis Universitas Mulia. Semoga kegiatan ini menginspirasi kolaborasi lintas program studi dan menghasilkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Senada, Dekan FIKOM Djumhadi, S.T., M.Kom, usai seminar yang berlangsung sejak siang sampai menjelang Maghrib ini mengatakan, mahasiswa mendapatkan wawasan tentang teknologi terkini dan inovasi AI dari para narasumber.

“Kita jadi tahu ada yang namanya Chat RTX ya kan, yang bisa kita gunakan untuk menyusun makalah ilmiah, artikel ilmiah seperti jurnal, skripsi, thesis, sampai disertasi yang menggunakan referensi,” ujarnya.

“Kami berharap kegiatan seperti ini, yang kita sebut Technofest IT FIKOM, Festival Teknologi Informasi, menjadi agenda tahunan Fakultas Ilmu Komputer sehingga diharapkan terus mendorong inovasi dan kolaborasi lintas industri,” tambahnya.

Ia berharap kegiatan serupa ke depan dengan memperluas cakupan tema dan melibatkan lebih banyak pelaku industri serta akademisi. Seminar ini diharapkan dapat menciptakan solusi yang lebih berdampak untuk tantangan global.

“Semoga Fakultas Ilmu Komputer Universitas Mulia terus menjadi pelopor dalam memajukan teknologi yang inklusif, bermanfaat, dan berkelanjutan bagi masa depan,” pungkasnya.

(SA/Kontributor)

Tim FHK yang dipimpin Dekan Dr. Mada Aditia Wardhana mengunjungi pelaku usaha madu herbal Madsant, Ridwansyah, di Kel. Margomulyo Balikpapan, Kamis (19/12). Foto: Istimewa

UM – Fakultas Humaniora dan Kesehatan (FHK) Universitas Mulia terus memperluas kemitraan dengan pelaku usaha lokal untuk mendukung pelaksanaan tridharma perguruan tinggi. Salah satu langkah nyata adalah kunjungan ke usaha lebah madu yang dikelola oleh Ridwansyah, pemilik merek Madu Madsant, di Kel. Margomulyo, Balikpapan, Kamis (19/12).

Kunjungan ini bertujuan untuk menjajaki peluang penelitian herbal dan edukasi lapangan, sekaligus mengembangkan produk berbasis propolis dan madu lokal.

“Kunjungan ini merupakan langkah awal untuk mengembangkan produk lebah madu melalui penelitian yang dilakukan oleh Program Studi S1 Farmasi,” kata Dekan FHK, Dr. Mada Aditia Wardhana.

Ia menjelaskan bahwa upaya ini tidak hanya untuk kepentingan riset, tetapi juga untuk Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) di FHK.

Dalam kunjungan tersebut, tim FHK Universitas Mulia melihat secara langsung proses pemanenan propolis dari lebah jenis Biroi menggunakan teknik budidaya berbasis rekayasa.

Pelaku usaha madu juga memperkenalkan inovasi berupa modifikasi pada tutup kotak budidaya untuk meningkatkan kualitas propolis.

Tim FHK sedang mengamati produk madu herbal Madsant di Kel. Margomulyo Balikpapan, Kamis (19/12). Foto: Istimewa

Tim FHK sedang mengamati produk madu herbal Madsant di Kel. Margomulyo Balikpapan, Kamis (19/12). Foto: Istimewa

Sebagian produk madu herbal yang baru dipanen dan dalam bentuk kemasan yang siap dikonsumsi. Foto: Istimewa

Sebagian produk madu herbal yang baru dipanen dan dalam bentuk kemasan yang siap dikonsumsi. Foto: Istimewa

“Proses ini memberikan wawasan baru bagi kami, terutama dalam mengintegrasikan riset Farmasi dengan praktik industri. Selain itu, objek ini juga sangat cocok untuk edukasi lapangan bagi anak usia dini,” tambah Dr. Mada.

Menurutnya, FHK berencana mengembangkan riset lanjutan di bidang Farmasi dan menjadikan peternakan lebah sebagai tempat edukasi bagi anak-anak.

Prodi Pendidikan Guru Anak Usia Dini (PGAUD) direncanakan akan memanfaatkan objek ini untuk memperkenalkan anak usia dini pada dunia peternakan lebah dan manfaatnya.

Kegiatan ini bukanlah langkah awal, melainkan tindak lanjut dari kunjungan sebelumnya yang dilakukan Ridwansyah ke Prodi S1 Farmasi pada September 2024. Kala itu, ia berdiskusi tentang potensi pengembangan produk madu, propolis, herbal, dan kosmetik berbasis bahan lokal.

“Propolis, herbal, dan kosmetik di Balikpapan masih didominasi oleh produk luar daerah. Dengan dukungan Universitas Mulia, kami berharap dapat memproduksi sendiri dan meningkatkan kualitas produk lokal,” ujar Ridwansyah.

Ia juga menyampaikan harapan besar untuk menjalin kerjasama lebih erat dengan Universitas Mulia. “Kami optimis bahwa kolaborasi ini dapat mengembangkan sektor UMKM dan menciptakan produk unggulan yang bermanfaat bagi masyarakat,” tambahnya.

Selain mendorong riset dan inovasi, kegiatan ini juga sejalan dengan visi Universitas Mulia untuk memperkuat kontribusi dalam pengembangan sektor UMKM lokal.

Melalui penguatan kerjasama dengan pelaku usaha seperti Madu Madsant, Universitas Mulia berupaya mendorong terciptanya ekosistem inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

Dalam kunjungan ini, tim FHK mendapat wawasan tentang manfaat propolis sebagai bahan baku herbal dengan nilai tambah tinggi. Propolis dikenal memiliki kandungan antimikroba dan antioksidan yang bermanfaat untuk kesehatan.

Dr. Mada menegaskan bahwa penelitian Farmasi Universitas Mulia ke depan akan difokuskan pada pengembangan bahan herbal lokal, termasuk propolis, untuk menghasilkan produk farmasi yang kompetitif.

“Kami ingin memastikan bahwa Balikpapan memiliki produk herbal berkualitas yang mampu bersaing di pasar nasional,” katanya.

Kolaborasi antara FHK Universitas Mulia dan pelaku usaha lokal seperti Madu Madsant menjadi langkah penting dalam memadukan dunia akademik dengan kebutuhan industri.

Kunjungan ini tidak hanya membuka peluang riset, tetapi juga memberikan dampak positif bagi edukasi anak usia dini dan pengembangan UMKM.

Dengan dukungan Universitas Mulia, diharapkan Balikpapan dapat menjadi pusat inovasi produk herbal lokal yang berkualitas.

Sinergi ini tidak hanya akan memperkuat sektor pendidikan, tetapi juga mendorong kemandirian ekonomi masyarakat melalui produk unggulan berbasis bahan lokal.

(SA/Kontributor)

Ketua BRIDA Jawa Timur Dr. Andriyanto, S.H., M.Kes saat memberikan orasi ilmiah pada Dies Natalis VI universitas Mulia di Ballroom Cheng Ho, Rabu (18/12). Foto: Media Kreatif

Orasi Ilmiah Dies Natalis VI, Universitas Mulia Didorong Menjadi Innovation Hub

UM – Dalam peringatan Dies Natalis ke-6 Universitas Mulia yang berlangsung di Ballroom Cheng Ho, Rabu (18/12), Ketua Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Jawa Timur, Dr. Andriyanto, S.H., M.Kes., memberikan orasi ilmiah bertajuk “Urgensi Inovasi Bagi Sivitas Akademika Universitas Mulia Menyongsong Generasi Emas 2045”.

Orasi ilmiah ini menjadi momentum refleksi dan motivasi bagi sivitas akademika Universitas Mulia untuk mengubah paradigma berpikir dan membangun mentalitas inovasi sebagai pondasi menuju masa depan yang lebih baik.

Dalam orasinya, Dr. Andriyanto menegaskan bahwa inovasi bukanlah sekadar konsep abstrak, tetapi harus menjadi kebiasaan dan mentalitas yang tertanam dalam diri setiap individu.

“Kita harus meninggalkan pola lama, cara berpikir kita harus extraordinary. Kita tidak bisa lagi hidup dengan cara yang biasa,” ungkapnya.

Mengawali orasinya, Dr. Andriyanto menyoroti era disrupsi dan Society 5.0, di mana perubahan terjadi dengan sangat cepat dan menjadi keniscayaan. Ia menekankan pentingnya sikap adaptif dalam menghadapi tantangan zaman dan meninggalkan pola pikir lama.

“Kita harus bisa melompat dan bahkan melampaui batas dalam meraih tujuan,” tambahnya.

Ia juga menjelaskan perbedaan mendasar antara kreativitas dan inovasi. Kreativitas adalah kemampuan menciptakan sesuatu yang baru, sedangkan inovasi menambahkan nilai ekonomis pada kreativitas tersebut.

“Inovasi harus memiliki nilai tambah, khususnya dalam konteks manfaat ekonomi dan kemaslahatan umat,” ujar Dr. Andriyanto.

Ia memberikan contoh konkret seperti memanfaatkan teknologi untuk kemaslahatan umat, dan mengajak universitas untuk bekerjasama dengan UMKM dalam rangka hilirisasi.

“Saya lebih banyak mendengar daripada berbicara,” ungkapnya, mengutip dari seorang tokoh sukses.

Ia menekankan pentingnya mendengarkan dan memahami aspirasi serta kebutuhan mahasiswa dan masyarakat, sebagai landasan untuk berinovasi.

Melalui contoh negara Swiss, Dr. Andriyanto menunjukkan bagaimana sebuah bangsa dapat menjadi negara yang paling inovatif di dunia dengan menjadikan inovasi sebagai kebiasaan. Ia mengajak seluruh hadirin untuk meniru kebiasaan berpikir kritis dan analitis seperti Isaac Newton.

“Jangan hanya menjadi seperti anjingnya Newton yang diam saja saat mendengar kelapa jatuh, tetapi jadilah seperti Newton yang berpikir, menganalisis, dan mencari solusi,” katanya penuh makna.

Untuk menanamkan budaya inovasi, Dr. Andriyanto menawarkan tiga langkah strategis. Pertama, Behavior Change Communication, yaitu menjadikan inovasi sebagai kebiasaan melalui komunikasi perubahan perilaku.

Kedua, Demand Creation, yaitu menciptakan permintaan terhadap universitas, seperti permintaan dari masyarakat dan mahasiswa. “Bagaimana caranya masyarakat datang, meminta kita untuk memberikan konsultasi, atau pembinaan?” jelasnya.

Ketiga, Enabling Environment, yakni membentuk lingkungan yang mendukung tumbuhnya inovasi. “Ciptakan ekosistem inovasi yang berkelanjutan, di mana penelitian, kebaruan, dan kemanfaatan berjalan seiring,” tambahnya.

Ia juga mengingatkan bahwa inovasi harus berbasis penelitian, memiliki kebaruan, memberikan manfaat, dan bersifat berkelanjutan. Dengan membangun Innovation Hub, perguruan tinggi dapat menjadi pusat solusi untuk berbagai masalah yang dihadapi masyarakat.

Dr. Andriyanto bersama Dr. Agung Sakti dan Prof. Muhammad Ahsin Rifa'i. Foto: Vio/MediaKreatif

Dr. Andriyanto bersama Dr. Agung Sakti dan Prof. Muhammad Ahsin Rifa’i. Foto: Vio/MediaKreatif

Orasi Ilmiah Ketua BRIDA Jatim Dr. Andriyanto tentang Kelemahan Pengembangan Inovasi. Foto: SA/Kontributor

Orasi Ilmiah Ketua BRIDA Jatim Dr. Andriyanto tentang Kelemahan Pengembangan Inovasi. Foto: SA/Kontributor

Orasi Ilmiah Ketua BRIDA Jatim Dr. Andriyanto tentang Instrumen Membangun Inovasi. Foto: SA/Kontributor

Orasi Ilmiah Ketua BRIDA Jatim Dr. Andriyanto tentang Instrumen Membangun Inovasi. Foto: SA/Kontributor

Orasi Ilmiah Ketua BRIDA Jatim Dr. Andriyanto tentang Proses Membudayakan Inovasi. Foto: SA/Kontributor

Orasi Ilmiah Ketua BRIDA Jatim Dr. Andriyanto tentang Proses Membudayakan Inovasi. Foto: SA/Kontributor

Pentingnya Generasi Muda untuk Indonesia Emas 2045

Dr. Andriyanto menekankan peran strategis perguruan tinggi dalam mempersiapkan generasi muda untuk menyongsong Indonesia Emas 2045. Dengan bonus demografi yang menjadi peluang besar, Indonesia harus mempersiapkan generasi muda yang inovatif dan kompetitif.

“Kita punya bonus demografi, tapi kalau hanya itu-itu saja kita tidak akan maju,” tegasnya.

Selain itu, ia juga mengingatkan bahwa pemimpin yang baik adalah pemimpin yang transformasional dan adaptif.

“Kita semua adalah pemimpin yang akan mempertanggungjawabkan setiap tindakan kita di akhirat. Mari kita menjadi pemimpin yang mampu melihat perubahan dengan baik,” ajaknya.

Dalam penutup orasinya, Dr. Andriyanto mengajak seluruh sivitas akademika Universitas Mulia untuk menjadi agen perubahan yang proaktif. “Kesuksesan ada di tangan kita, dan kolaborasi, sinergitas serta inovasi adalah kunci untuk mencapai hal itu,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya kontribusi setiap individu untuk kemajuan universitas. “Jika kita adalah bagian dari Universitas Mulia, mari berikan kontribusi terbaik. Jangan takut untuk melakukan perubahan,” pungkasnya.

Orasi ilmiah ini menjadi tonggak penting bagi Universitas Mulia dalam membangun budaya inovasi, sekaligus memotivasi sivitas akademika untuk bertransformasi dan mengambil peran aktif dalam menciptakan masa depan yang lebih baik. (SA/Kontributor)