Tag Archive for: universitas mulia

Lumajang, 9 April 2026 – Universitas Mulia mengambil bagian dalam Lokakarya Transformasi Digital Gerakan Pramuka yang diselenggarakan Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Kabupaten Lumajang pada 9–10 April 2026 di Bumi Perkemahan Glagah Arum Lumajang, melalui kontribusi akademik yang mempertemukan pembinaan kepanduan dengan perkembangan teknologi digital.

Kegiatan ini menempatkan perguruan tinggi tidak sebatas sebagai penyedia pendidikan formal, tetapi sebagai mitra strategis dalam menjawab kebutuhan penguatan kapasitas organisasi masyarakat. Di tengah perubahan cara belajar, berorganisasi, dan berkomunikasi yang dipengaruhi teknologi, keterlibatan Universitas Mulia di Lumajang menunjukkan bagaimana pengetahuan akademik dapat diterapkan langsung pada ruang pembinaan generasi muda yang selama ini identik dengan pendekatan konvensional.

Lokakarya diikuti oleh perwakilan Kwartir Ranting se-Kabupaten Lumajang serta jajaran Andalan Pramuka Lumajang. Selama dua hari, peserta membahas cara-cara baru mengintegrasikan teknologi ke dalam pola pembinaan tanpa menghilangkan substansi utama Gerakan Pramuka sebagai ruang pembentukan karakter, kepemimpinan, dan kemandirian.

Kontribusi tersebut dihadirkan melalui keterlibatan Dr. Linda Fauziyah Ariyani, S.Pd., M.Pd., dosen Universitas Mulia, yang membawakan materi bertajuk Transformasi Digital Gerakan Pramuka: Memanfaatkan Artificial Intelligence untuk Pembinaan Generasi Tangguh. Materi ini mengarahkan peserta pada pemahaman bahwa Artificial Intelligence (AI) tidak semata berkaitan dengan otomasi teknologi, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk mendukung penyusunan program, pengembangan materi, serta efisiensi manajerial dalam kegiatan pembinaan.

Pembahasan mengenai AI dalam forum kepramukaan menghadirkan sudut pandang baru bahwa teknologi dan pendidikan karakter tidak berada pada dua kutub yang saling bertentangan. Justru, ketika digunakan secara tepat, perangkat digital dapat memperkuat kualitas perencanaan dan memperluas metode pembinaan, sementara nilai dasar kepramukaan tetap menjadi fondasi utama.

Dr. Linda Fauziyah Ariyani, S.Pd., M.Pd. berfoto bersama para pembina Pramuka usai sesi Lokakarya Transformasi Digital Gerakan Pramuka di Lumajang. Momen ini menjadi penanda kolaborasi antara dunia akademik dan pembinaan kepanduan dalam merespons perkembangan teknologi digital serta pemanfaatan kecerdasan buatan dalam pendidikan karakter.

Bagi banyak peserta, lokakarya ini membuka cara pandang yang lebih kontekstual terhadap perkembangan zaman. Dunia kepramukaan yang selama ini lekat dengan aktivitas lapangan mulai dipahami pula sebagai ruang yang perlu beradaptasi dengan perubahan ekosistem informasi, terutama ketika generasi muda hidup dalam arus teknologi yang bergerak cepat.

Kehadiran Universitas Mulia dalam forum ini juga menunjukkan bahwa pengabdian perguruan tinggi dapat bergerak melampaui batas administratif kampus. Kontribusi akademik tidak berhenti pada ruang kelas atau seminar internal, melainkan hadir dalam bentuk transfer pengetahuan yang dapat digunakan langsung oleh komunitas dan organisasi dalam merespons tantangan baru.

Sinergi dengan Kwartir Cabang Lumajang memperlihatkan bahwa transformasi organisasi kepemudaan membutuhkan kolaborasi yang lebih luas, termasuk dengan perguruan tinggi sebagai sumber pengetahuan dan inovasi. Model kolaborasi semacam ini menjadi penting ketika organisasi berbasis nilai dituntut tetap relevan tanpa kehilangan identitasnya.

Melalui kegiatan ini, Universitas Mulia tidak sekadar hadir sebagai peserta kolaborasi, tetapi ikut mengambil peran dalam percakapan yang lebih besar tentang masa depan pembinaan generasi muda. Dari ruang perkemahan di Lumajang, diskusi mengenai teknologi, karakter, dan pendidikan bertemu dalam satu agenda: menyiapkan model pembinaan yang mampu membaca perubahan zaman tanpa melepaskan akar nilai yang menjadi pijakannya. (YMN)

Balikpapan, 4 Mei 2026— Dalam lanskap industri kreatif yang terus bergerak dinamis, penguasaan desain tidak lagi berhenti pada kemampuan estetis semata, melainkan menuntut kedalaman konseptual dalam membangun identitas visual yang relevan, strategis, dan komunikatif. Berangkat dari kebutuhan tersebut, Himpunan Mahasiswa Desain Komunikasi Visual (HIMA DKV) menggelar kuliah tamu bertajuk “Menghidupkan Ide Lewat Desain Brand” pada 28 April 2026 melalui platform Google Meet sebagai ruang akademik alternatif yang memperluas pembelajaran mahasiswa di luar struktur perkuliahan formal.

Kegiatan ini menjadi bagian dari ikhtiar institusional program studi dalam menghubungkan fondasi teoritis yang dipelajari di kelas dengan realitas profesional di sektor industri kreatif. Melalui forum ini, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk menelaah branding bukan sekadar sebagai produk visual, tetapi sebagai konstruksi identitas yang memadukan riset, strategi komunikasi, serta pemaknaan simbolik dalam setiap elemen desain.

Rangkaian kegiatan berlangsung sistematis melalui pembukaan, sambutan akademik program studi, pengantar materi, pemaparan substansi utama, diskusi interaktif, hingga sesi partisipatif yang mendorong keterlibatan mahasiswa secara aktif. Format tersebut menunjukkan bahwa pengembangan kompetensi mahasiswa DKV tidak hanya diarahkan pada transfer pengetahuan satu arah, tetapi juga pada pembentukan daya analisis, kreativitas, dan keberanian intelektual dalam merespons tantangan profesi.

Fokus utama pembahasan menempatkan branding sebagai inti dari komunikasi visual modern. Dalam pemaparannya, dijelaskan bahwa logo tidak dapat dipahami hanya sebagai elemen grafis yang menarik perhatian, melainkan sebagai medium representasi nilai dan narasi sebuah brand. “Logo bukan sekadar gambar yang terlihat keren, tetapi memiliki nyawa dan cerita di dalamnya,” menjadi salah satu gagasan penting yang menegaskan bahwa identitas visual harus mampu menghadirkan karakter, filosofi, serta pesan yang terbangun melalui komposisi warna, bentuk, dan tipografi secara utuh.

Perspektif tersebut memberikan landasan akademik yang penting bagi mahasiswa untuk memahami bahwa desain brand merupakan proses strategis yang berakar pada pemikiran kritis dan sensitivitas komunikasi. Dalam konteks ini, mahasiswa didorong untuk melihat karya desain bukan hanya sebagai hasil visual, tetapi sebagai instrumen komunikasi yang memiliki daya hidup, arah, dan posisi dalam membangun persepsi publik.

Pelaksanaan kuliah tamu ini juga merefleksikan komitmen HIMA DKV dalam memperkuat ekosistem pembelajaran yang responsif terhadap perkembangan industri. Organisasi kemahasiswaan tidak sekadar berfungsi sebagai wadah aktivitas mahasiswa, tetapi turut berperan sebagai katalisator akademik yang menghadirkan ruang temu antara pengetahuan kampus dan kebutuhan profesional.

Melalui kegiatan semacam ini, penguatan kapasitas mahasiswa DKV diarahkan pada kesiapan menghadapi industri kreatif dengan perspektif yang lebih komprehensif—bahwa desain adalah perpaduan antara kreativitas, strategi, dan kebermaknaan. Dengan demikian, kampus terus menegaskan posisinya sebagai ruang pengembangan intelektual yang tidak hanya menghasilkan desainer, tetapi juga konseptor visual yang mampu menerjemahkan ide menjadi identitas yang bernilai. (YMN)

 

Balikpapan, 30 April 2026— Suasana perkuliahan Bahasa Inggris Bisnis bagi mahasiswa semester 2 Program Studi Hukum Universitas Mulia kali ini menghadirkan pengalaman berbeda. Melalui kuliah tamu bertopik “Build Your LinkedIn Profile,” mahasiswa tidak hanya mengikuti pembelajaran di ruang kelas, tetapi juga diajak membaca lebih awal peta persiapan menuju dunia profesional bersama narasumber Rizky Wijayanti, S.AP.

Kegiatan yang telah terintegrasi dalam Rencana Pembelajaran Semester (RPS) ini dirancang sebagai langkah strategis agar mahasiswa memiliki kesadaran sejak dini mengenai berbagai bekal yang perlu dipersiapkan sebelum lulus. Fokusnya bukan sekadar akademik, tetapi juga bagaimana mahasiswa mulai mengenali potensi diri, menggali keterampilan, serta membangun citra profesional sebelum benar-benar memasuki dunia kerja.

Dalam pemaparannya, Rizky Wijayanti menekankan bahwa LinkedIn bukan hanya platform formalitas pencari kerja, melainkan ruang personal branding yang dapat merepresentasikan kapasitas, pengalaman, dan arah karier seseorang. Mahasiswa diperkenalkan pada pentingnya menyusun profil yang kuat melalui headline yang tepat, deskripsi diri yang terarah, hingga penyajian pengalaman akademik maupun organisasi secara profesional.

Bagi mahasiswa hukum yang tengah berada di fase awal perkuliahan, materi ini menjadi pengingat bahwa kesiapan karier tidak dibangun secara instan menjelang kelulusan. Sebaliknya, proses tersebut harus dimulai dari sekarang—dengan menyiapkan kompetensi, memperluas pengalaman, dan membangun jejak digital yang kredibel.

Sesi tanya jawab berlangsung aktif, menandakan tingginya rasa ingin tahu mahasiswa terhadap dunia profesional yang selama ini mungkin terasa masih jauh. Berbagai pertanyaan muncul, mulai dari cara menampilkan pengalaman organisasi, menulis profil yang menarik, hingga strategi membangun koneksi profesional yang relevan.

Kuliah tamu semakin menarik saat memasuki sesi quick review, di mana nara sumber meninjau secara langsung beberapa profil LinkedIn mahasiswa. Melalui evaluasi tersebut, mahasiswa dapat melihat secara nyata bagaimana detail kecil seperti foto profil, narasi personal, maupun struktur informasi dapat memengaruhi kesan profesional di mata publik.

Dari sesi ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh teori, tetapi juga pengalaman reflektif tentang posisi mereka saat ini dan apa yang perlu diperbaiki untuk masa depan. Mata kuliah Bahasa Inggris Bisnis pun tampil sebagai ruang belajar yang tidak berhenti pada kemampuan linguistik, melainkan berkembang menjadi wadah pembentukan kesiapan karier yang lebih realistis.

Melalui pendekatan seperti ini, Universitas Mulia menunjukkan bahwa pendidikan tinggi tidak hanya berbicara tentang kelulusan akademik, tetapi juga tentang bagaimana mahasiswa dipersiapkan menghadapi ekosistem profesional yang terus berubah. Sebab di era digital, reputasi dan kesiapan bukan dibangun saat mencari pekerjaan—melainkan sejak seseorang mulai menyiapkan dirinya. (YMN)

 

Oleh: Yamani, S.S., M.Pd.
Pengurus PC DMI Balikpapan Kota | Pengurus  MUI Kecamatan Balikpapan Kota | Dosen Universitas Mulia

Balikpapan, 22 April 2026 — Di tengah maraknya masjid yang sibuk dengan pembangunan fisik megah namun minim aksi sosial, Masjid As-Salam justru tampil sebagai pengecualian. Masjid ini bukan hanya menjadi tempat ibadah formal lima waktu, tetapi juga menjadi episentrum distribusi keadilan sosial melalui aksi konkret—membagikan hewan kurban ke masjid dan musholla yang kekurangan.

Program ini tidak sekadar amal tahunan, melainkan bentuk keberpihakan: pada masjid kecil, pada jamaah yang tidak mampu berkurban, pada musholla yang selama ini tertinggal dalam arus sentralisasi kegiatan keagamaan. Di sinilah Masjid As-Salam menunjukkan fungsinya sebagai masjid progresif, yang tidak hanya membangun menara, tetapi juga membangun sesama.

Para pengurus DKM As-Salam tampaknya mengerti betul, bahwa hakikat kurban bukan terletak pada berapa banyak sapi yang disembelih di halaman masjid sendiri, bukan pula pada ramai dan megahnya suasana penyembelihan. Kurban adalah tentang menjangkau mereka yang nyaris tak pernah mencicipi daging kurban di Hari Raya, yang sering luput dari radar kepedulian kita. Di sanalah mereka hadir—bukan sebagai pemberi semata, tetapi sebagai penghubung kasih sayang antar sesama, menjembatani kesenjangan yang kadang tak terlihat mata, namun terasa dalam hati yang peka.

Ironisnya, di kota-kota besar, masih banyak masjid besar berlomba menyembelih sebanyak mungkin hewan kurban—seringkali hanya untuk konsumsi lokal yang sebenarnya sudah berkecukupan. Sementara di gang-gang sempit, di pinggir kota, ada musholla-musholla yang bertahun-tahun tidak pernah menyelenggarakan kurban. Di sinilah peran Masjid As-Salam menjadi signifikan dan menyentuh jantung problem struktural umat: kesenjangan distribusi keberkahan.

Masjid As-Salam tidak berhenti pada ritual dan keramaian seremonial. Mereka memilih untuk melangkah lebih jauh—melintasi batas-batas geografis dan sosial, menyusuri masjid-masjid kecil di pinggiran, musholla sederhana yang nyaris tak terdengar namanya, hingga ke sudut-sudut pelosok yang hanya dikenal oleh mereka yang peduli. Yang dibawa bukan sekadar daging kurban, tetapi harapan dan pengakuan: bahwa saudara-saudara kita di sana tidak dilupakan. Bahwa Idul Adha bukan milik segelintir, tapi milik semua. Melalui tindakan itu, Masjid As-Salam seakan berbisik dengan kasih, “Kami datang karena kami peduli. Anda bagian dari kami. Kebahagiaan hari raya ini pun hak Anda.”

Takmir Masjid As-Salam menyebut, program ini juga menjadi sarana pendidikan bagi jamaahnya sendiri. Bahwa nilai kurban tidak berhenti di bilah pisau, melainkan pada ketulusan untuk meniadakan batas-batas ego wilayah dan struktur masjid. Bahwa daging bukan hanya soal asupan, tetapi juga tentang pengakuan dan penghargaan atas keberadaan saudara seiman yang tersembunyi dari sorotan pusat kota.

Apakah model Masjid As-Salam ini bisa direplikasi? Bukan hanya bisa—harusnya menjadi keharusan moral. Bahkan lebih jauh, inilah seharusnya standar baru bagi masjid-masjid kita: tidak hanya megah dalam arsitektur dan penuh saat salat Jumat, tetapi juga hidup dalam nadi kepedulian sosial. Sebab fungsi sosial masjid sejatinya bukan sekadar wacana dalam kitab atau materi ceramah—ia baru sah disebut masjid umat ketika mampu menyambung yang lemah, bukan hanya memanjakan yang kuat. Ketika ada masjid yang merasa cukup hanya dengan ramai dan gemerlap di tengah kota, Masjid As-Salam justru memilih menengok yang sunyi dan tersisih. Dan di sanalah, ruh sejati Idul Adha dan makna masjid itu sendiri menemukan bentuk terbaiknya.

Kurban yang ideal bukan diukur dari berapa banyak hewan yang dipotong di satu lokasi, atau seberapa viral suasana penyembelihannya. Kurban yang sejati adalah yang manfaatnya menjangkau lebih luas—menemukan mereka yang selama ini hanya bisa menonton dari jauh, menanti dengan harap yang sering tak terjawab. Dalam hal ini, Masjid As-Salam memberi kita pelajaran penting: bahwa keadilan sosial umat tak selalu dimulai dari program besar, tetapi dari niat tulus untuk berbagi, dan keberanian untuk berpihak pada yang nyaris tak terdengar suaranya. Ironisnya, justru banyak masjid yang lebih sibuk mengelola citra dan keramaian, tetapi melupakan esensi: bahwa kurban adalah tentang siapa yang disantuni, bukan tentang siapa yang dipameri. (YMN)

Oleh: Wahyu Nur Alimyaningtias, S.Kom., M.Kom.

Balikpapan, 21 April 2026— Di sebuah ruang kelas sederhana di Universitas Mulia, cahaya lampu menerangi wajah-wajah penuh harapan. Duduk di depan, dosen dan beberapa mahasiswa wanita duduk dengan senyum hangat—sosok yang bukan hanya pengajar, tetapi juga inspirasi. Di belakang mereka, berdiri para mahasiswa dengan penuh semangat, sebagian mengepalkan tangan, sebagian lagi tersenyum percaya diri. Sebuah potret kecil, namun menyimpan cerita besar tentang perjuangan, mimpi, dan masa depan.

Hari itu terasa Istimewa, semangat Hari Kartini hidup dalam ruangan tersebut. Kartini pernah berkata bahwa perempuan harus berani berpikir dan maju. Semangat itulah yang kini menjelma dalam diri para akademisi wanita di Universitas Mulia. Mereka hadir bukan sekadar mengajar teori, tetapi menjadi jembatan bagi generasi muda—terutama generasi Z—untuk memahami dunia yang terus berubah dengan cepat.

Di tengah tantangan era digital, para dosen wanita Universitas Mulia membuktikan bahwa kelembutan bisa berjalan berdampingan dengan ketegasan, dan empati bisa menjadi kekuatan dalam mendidik. Mereka tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga menanamkan nilai: disiplin, keberanian, dan kepercayaan diri. Mereka memahami bahwa mahasiswa hari ini membutuhkan lebih dari sekadar materi—mereka butuh arah, motivasi, dan teladan.

Sementara itu, para mahasiswa berdiri sebagai simbol harapan masa depan. Dengan gaya khas generasi Z dinamis, kreatif, dan penuh ekspresi , mereka menunjukkan bahwa belajar bukan lagi sekadar kewajiban, tetapi sebuah perjalanan menuju cita-cita. Kepalan tangan mereka bukan hanya gaya, tetapi simbol tekad: tekad untuk sukses, untuk membanggakan keluarga, dan untuk memberikan kontribusi nyata bagi bangsa.

Wahyu Nur Alimyaningtias, S.Kom., M.Kom. berfoto bersama mahasiswa dan mahasiswinya usai perkuliahan, merekam momen kebersamaan yang hangat sekaligus mencerminkan semangat kolaborasi dan inspirasi di lingkungan Universitas Mulia.

Di ruangan itu, tidak ada batas antara dosen dan mahasiswa, yang ada adalah kolaborasi. Perjuangan akademisi wanita dan semangat belajar mahasiswa berpadu menjadi satu energi besar. Energi yang akan melahirkan inovasi, membentuk karakter, dan menciptakan masa depan yang lebih baik.

Cerita ini mengajarkan satu hal:
bahwa perjuangan tidak pernah sia-sia ketika dilakukan dengan hati.
Bahwa pendidikan adalah cahaya, dan perempuan adalah salah satu penjaga nyalanya.
Dan bahwa setiap mahasiswa, dengan semangat dan kerja kerasnya, sedang menulis kisah suksesnya sendiri.

Di Hari Kartini ini, semangat itu terus hidup di kelas-kelas, di pikiran, dan di hati mereka yang percaya bahwa mimpi bukan untuk ditunda, tetapi untuk diwujudkan.n (WN)

Balikpapan, 17 April 2026 Universitas Mulia menggelar pelatihan bertajuk “Inovasi Pangan Lokal: Cara Cerdas Membuat Tepung Mocaf yang Sehat dan Ekonomis” di Aula Kelurahan Karang Joang, Kecamatan Balikpapan Utara, Kamis (16/4/2026). Kegiatan ini diikuti sekitar 65 ibu-ibu PKK dan kader dari seluruh wilayah Kelurahan Karang Joang.

Hadir dalam kegiatan tersebut Dr. Siti Rahmayuni, S.E., M.M., C.FA., bersama Wury Damayantie, S.Farm., M.Farm., dosen Farmasi Universitas Mulia yang sekaligus menjadi narasumber utama. Dari pihak kelurahan, Lurah Karang Joang, Ibu Maryana, S.K.H., turut hadir bersama perangkat desa.

Dalam pemaparannya, Wury Damayantie mengawali materi dengan menyoroti tingginya ketergantungan masyarakat terhadap tepung terigu. Data konsumsi tepung terigu di Indonesia pada tahun 2025 menunjukkan angka yang signifikan, dengan penggunaan yang besar terutama pada sektor industri pangan olahan.

Ia kemudian mengarahkan perhatian peserta pada potensi singkong sebagai sumber pangan lokal yang melimpah. Produksi singkong nasional yang mencapai puluhan juta ton per tahun dinilai menjadi peluang besar untuk dikembangkan sebagai bahan baku alternatif dalam industri pangan berbasis karbohidrat.

Sebanyak 65 ibu-ibu PKK dan kader Kelurahan Karang Joang tampak fokus menyimak pemaparan materi pelatihan pembuatan tepung mocaf yang disampaikan oleh dosen Universitas Mulia di Aula Kelurahan Karang Joang, Balikpapan Utara, Kamis (16/4/2026).

Materi dilanjutkan dengan penjelasan teknis mengenai pembuatan tepung mocaf (Modified Cassava Flour). Proses yang dipaparkan meliputi tahapan pengolahan singkong hingga fermentasi. Wury menjelaskan bahwa waktu fermentasi dapat bervariasi, mulai dari beberapa hari secara alami hingga lebih singkat dengan bantuan starter tertentu.

Selain proses produksi, peserta juga diperkenalkan pada karakteristik tepung mocaf. Tepung ini memiliki tekstur yang lebih halus, rasa yang netral, serta tidak mengandung gluten. Dalam penggunaannya, mocaf dapat menjadi alternatif pengganti tepung terigu untuk berbagai jenis olahan pangan.

Selama sesi berlangsung, peserta aktif mengajukan pertanyaan seputar proses pembuatan, kualitas hasil, hingga kemungkinan pemanfaatan dalam kegiatan rumah tangga. Diskusi berlangsung interaktif, terutama ketika membahas praktik penggunaan tepung mocaf dalam berbagai produk makanan.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya Universitas Mulia dalam mendekatkan pengetahuan akademik dengan kebutuhan masyarakat. Melalui pelatihan ini, peserta tidak hanya memperoleh pemahaman baru mengenai pengolahan pangan lokal, tetapi juga keterampilan dasar yang dapat diterapkan secara langsung.

Dari sisi pemerintah kelurahan, kegiatan ini diharapkan dapat memberikan manfaat praktis bagi masyarakat, khususnya dalam pemanfaatan bahan pangan lokal yang tersedia di sekitar lingkungan.

Pelatihan ditutup dengan sesi diskusi lanjutan antara narasumber dan peserta, yang masih berlangsung secara informal setelah pemaparan materi selesai. (YMN)

Selamat kepada 8 dosen Universitas Mulia yang berhasil lolos pendanaan Program BIMA 2026—capaian yang merefleksikan ketajaman perumusan masalah, kekuatan metodologis, dan relevansi riset terhadap kebutuhan nyata di tingkat lokal maupun nasional.

Balikpapan, 10 April 2026—Sebanyak delapan dosen Universitas Mulia dinyatakan lolos pendanaan Program BIMA 2026, skema hibah nasional yang dikenal dengan proses seleksi ketat. Jumlah ini meningkat dibanding tahun sebelumnya dan mencakup dosen yang baru pertama kali memperoleh hibah.

Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Mulia, Dr. Mada Aditia Wardhana, S.Sos., M.M., mengatakan bahwa proposal yang lolos tidak hanya dinilai dari kelengkapan administratif, tetapi juga dari relevansinya terhadap kebutuhan nyata.

“Setiap usulan harus memberikan dampak, baik untuk kebutuhan nasional maupun lokal. Proposal yang lolos menunjukkan relevansi itu,” ujarnya.

Program BIMA merupakan salah satu instrumen pendanaan riset dan pengabdian dari pemerintah pusat yang menekankan pada kualitas substansi, kebaruan, serta kontribusi terhadap penyelesaian persoalan di masyarakat. Setiap proposal melalui tahapan seleksi berlapis sebelum ditetapkan sebagai penerima pendanaan.

Berangkat dari Masalah Riil

Menurut Mada, arah proposal yang diajukan dosen Universitas Mulia mulai bergerak ke pendekatan berbasis dampak. Penelitian dan pengabdian tidak lagi berhenti pada luaran akademik, tetapi diarahkan untuk menjawab persoalan konkret di lapangan.

“Setiap penelitian maupun pengabdian harus berangkat dari masalah riil di lingkungan. Karena itu, usulan yang didanai berpotensi memberikan manfaat, khususnya bagi masyarakat di Kalimantan Timur,” katanya.

Pendekatan ini tercermin dari ragam bidang yang diusulkan, mulai dari kesehatan, teknologi, hingga sosial kemasyarakatan, yang seluruhnya beririsan dengan kebutuhan lokal.

Kekuatan Riset Masih Berproses

Meski demikian, Universitas Mulia belum sepenuhnya mengerucut pada satu bidang unggulan riset. Mada menyebut, pola kekuatan tersebut masih dalam tahap pembentukan seiring meningkatnya jumlah penelitian berbasis dampak.

“Belum terpolarisasi secara jelas, tetapi semakin banyak penelitian berdampak akan membentuk peta keunggulan kampus,” ujarnya.

Persiapan dan Tantangan

Di balik peningkatan jumlah penerima hibah, terdapat tantangan yang masih dihadapi dosen, terutama dalam hal konsistensi meneliti dan pengembangan proposal.

LPPM, kata Mada, berupaya memperkuat pendampingan, termasuk mendorong persiapan lebih awal. Hal ini menjadi penting mengingat jadwal pengusulan pada tahun sebelumnya relatif lebih cepat dari biasanya.

“Ini menjadi catatan bagi kami untuk memfasilitasi persiapan lebih dini, agar kualitas proposal bisa terus meningkat,” katanya.

Daftar Penerima Hibah

Dosen Universitas Mulia yang lolos pendanaan penelitian Program BIMA 2026 antara lain:

  • Budiarsih, Ph.D
  • Apt. Indah Woro Utami, S.Farm., M.Farm.
  • Rijal Fadilah, S.Kom.
  • Rahmat Saudi Al Fathir AS, S.Kom., M.Kom.
  • Apt. Murtiyana Sari, S.Farm., M.Clin.
  • Shafyra Amalia Fitriany, S.Sosio., M.HP
  • Dr. H. Sudarmo, SH, MM UM
  • Apt. Warrantia Citta Citti Putri, S.Farm., M.Sc.

Dari Pendanaan ke Dampak

Peningkatan jumlah penerima hibah menjadi indikator awal, namun keberhasilan sesungguhnya akan diukur dari luaran yang dihasilkan. Universitas Mulia menargetkan setiap penelitian dan pengabdian yang didanai tidak hanya selesai secara administratif, tetapi juga memberi kontribusi nyata bagi masyarakat.

Dengan keterlibatan dosen pemula dalam skema ini, kampus juga mulai memperluas basis peneliti aktif, sekaligus memperkuat ekosistem riset yang lebih berkelanjutan. (YMN)

 

BALIKPAPAN, 30 Maret 2026— Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Mulia melaksanakan kegiatan Bakti Sosial Gerakan Mahasiswa Mengabdi pada Sabtu, 14 Maret 2026, di Kampung Tumaritis, Kelurahan Graha Indah, Kota Balikpapan.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat yang diselenggarakan Universitas Mulia dalam momentum Ramadan 1446 H. Program tersebut menyasar warga prasejahtera yang sebagian besar bekerja di sektor informal, seperti buruh harian lepas dan pemulung.

BEM Universitas Mulia menyalurkan bantuan sosial kepada warga serta melakukan interaksi langsung melalui dialog dengan masyarakat setempat. Selain penyaluran bantuan, kegiatan juga diisi dengan pendekatan komunikasi untuk menggali kondisi dan kebutuhan warga.

Pelaksanaan kegiatan mendapat pendampingan dari unit terkait di lingkungan Universitas Mulia, yang terlibat dalam koordinasi lapangan, komunikasi dengan masyarakat, serta dukungan layanan sosial. Keterlibatan lintas unit ini menjadi bagian dari upaya institusi dalam memastikan program berjalan terarah dan sesuai kebutuhan masyarakat.

Tokoh masyarakat setempat, Ruslan, turut hadir dalam kegiatan tersebut dan memberikan dukungan terhadap pelaksanaan program. Keterlibatan unsur masyarakat dinilai penting untuk menjaga relevansi kegiatan dengan kondisi riil di lapangan.

Warga Kampung Tumaritis menyambut kegiatan ini dengan antusias. Sejumlah warga hadir di lokasi sejak siang hari untuk mengikuti rangkaian kegiatan dan menerima bantuan yang disalurkan.

Melalui kegiatan ini, Universitas Mulia menjalankan peran pengabdian kepada masyarakat sebagai bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. Program tersebut sekaligus menjadi ruang bagi mahasiswa untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat dan memahami kondisi sosial di lingkungan sekitar kampus. (YMN)

Balikpapan, 21 Maret 2026—Idulfitri bukan sekadar penanda berakhirnya Ramadan, tetapi momentum untuk menata ulang cara kita memaknai ilmu, kerja, dan pengabdian. Dalam keheningan yang lahir dari latihan menahan diri, kita diajak untuk kembali pada esensi: kejujuran dalam berpikir, integritas dalam bertindak, dan ketulusan dalam memberi manfaat.

Keluarga besar Universitas Mulia memaknai Idulfitri sebagai titik temu antara kecerdasan intelektual dan kedewasaan spiritual. Di ruang-ruang kelas, laboratorium, hingga pengabdian kepada masyarakat, nilai-nilai tersebut menjadi fondasi yang menjaga agar ilmu tidak kehilangan arah, dan kemajuan tidak tercerabut dari kemanusiaan.

Atas nama pimpinan Universitas Mulia, kami mengucapkan Selamat Idulfitri 1 Syawal 1447 H. Semoga kejernihan hati yang kita rawat selama Ramadan dapat berlanjut menjadi etos baru dalam berkarya—lebih jujur, lebih bertanggung jawab, dan lebih bermakna bagi sesama. (YMN)