Tag Archive for: universitas mulia

Tana Paser, 10 Mei 2026 — Universitas Mulia membawa agenda pendidikan berbasis kebutuhan daerah ke ruang kebijakan Pemerintah Kabupaten Paser melalui audiensi bersama Wakil Bupati Paser H. Ikhwan Antasari, S.Sos., di ruang kerja Bupati Paser. Pertemuan ini membahas bagaimana pendidikan tinggi dapat dirancang lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat, struktur pembangunan daerah, dan arah penguatan sumber daya manusia Kabupaten Paser.

Dialog antara Pemerintah Kabupaten Paser dan Universitas Mulia berfokus pada sejumlah isu mendasar: perluasan akses pendidikan tinggi, peningkatan kualitas SDM daerah, optimalisasi implementasi program pendidikan gratis, serta pengembangan model pendidikan yang disusun berdasarkan kebutuhan wilayah hingga desa binaan.

Pemerintah Kabupaten Paser memaparkan bahwa pembangunan SDM menjadi salah satu poros utama kebijakan daerah, termasuk melalui program “Ayo Sekolah” dan target “1 Desa 1 Sarjana” yang menjangkau 139 desa dan 5 kelurahan. Bagi Universitas Mulia, arah ini menghadirkan ruang kerja akademik yang jelas: pendidikan tinggi perlu diterjemahkan menjadi sistem yang mampu membaca potensi wilayah, menyiapkan kompetensi spesifik, dan menghasilkan lulusan yang kembali memberi dampak pada daerah asalnya.

Pendekatan tersebut sejalan dengan orientasi Universitas Mulia yang menempatkan pendidikan bukan sekadar proses memperoleh gelar, tetapi sebagai instrumen untuk membangun kapasitas sosial, ekonomi, dan kelembagaan masyarakat. Kebutuhan kawasan pesisir, penguatan desa, tata kelola pemerintahan lokal, hingga pengembangan sektor produktif menjadi ruang di mana perguruan tinggi dapat bekerja lebih relevan melalui pendidikan, riset, dan pengabdian.

Dalam pembahasan tersebut, Pemerintah Kabupaten Paser juga mendorong keterlibatan Universitas Mulia dalam memperluas pemahaman masyarakat terhadap program pendidikan gratis agar akses terhadap perguruan tinggi tidak terhambat persoalan ekonomi. Posisi ini menempatkan kampus bukan hanya sebagai penyelenggara pendidikan, tetapi sebagai bagian dari mekanisme perluasan kesempatan sosial.

Pembahasan tidak berhenti pada mahasiswa. Penguatan kapasitas perangkat desa dan RT melalui pelatihan maupun pendidikan lanjutan turut menjadi perhatian. Bagi Universitas Mulia, konteks ini membuka ruang kontribusi yang lebih luas: kampus dapat berfungsi sebagai penyedia pengetahuan terapan bagi penguatan tata kelola masyarakat dari tingkat lokal.

Pertemuan ini juga membuka kemungkinan penyelenggaraan program perkuliahan di luar kampus utama, pendidikan yang terkoneksi dengan kebutuhan dunia kerja, serta skema kolaborasi yang dirancang berdasarkan kebutuhan riil Kabupaten Paser. Dengan demikian, pendidikan tinggi ditempatkan sebagai bagian dari desain pembangunan, bukan sekadar layanan akademik.

Kehadiran jajaran Universitas Mulia yang terdiri atas Wakil Ketua MBI Drs. Tatang Setyawan, Koordinator Bidang Amrico Yuliasnarto, Anggota Bidang Branding Dr. Pudjiati, S.E., M.M., serta Anggota Bidang Inovasi Titin Yuliana menunjukkan keseriusan institusi dalam membaca kebutuhan daerah sebagai dasar pengembangan kolaborasi.

Melalui audiensi ini, Universitas Mulia tidak sekadar membangun relasi kelembagaan, tetapi menempatkan kapasitas akademiknya dalam percakapan yang lebih substansial: bagaimana pendidikan tinggi dapat disusun selaras dengan kebutuhan daerah, memperluas mobilitas sosial masyarakat, dan berkontribusi langsung pada pembentukan masa depan Kabupaten Paser. (YMN)

 

Balikpapan, 6 Mei 2026—Air bukan lagi sekadar kebutuhan domestik bagi Balikpapan. Di tengah posisinya sebagai penyangga utama kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN), air menjelma menjadi penentu apakah kota ini mampu bertahan sebagai ruang hidup yang layak di bawah tekanan urbanisasi, keterbatasan sumber air baku, ancaman banjir, serta perubahan iklim yang kian nyata. Ketika pertumbuhan kota bergerak lebih cepat daripada kesiapan ekologinya, ketahanan air menjadi persoalan mendasar yang menyangkut keberlanjutan ekonomi, stabilitas lingkungan, dan kualitas hidup generasi mendatang.

Kesadaran atas besarnya taruhan tersebut mendorong Pemerintah Kota Balikpapan menggelar Deep Dive Workshop pembangunan ketahanan air perkotaan pada 5–6 Mei 2026 di Kantor Bappeda Kota Balikpapan. Kegiatan ini difasilitasi oleh Bank Dunia melalui Singapore Water Center dengan melibatkan berbagai unsur pemerintah, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya. Dari unsur perguruan tinggi, hanya tiga universitas yang diundang dan Universitas Mulia menjadi salah satu institusi yang dipercaya untuk turut terlibat dalam forum strategis tersebut.

Delegasi Universitas Mulia terdiri atas Rektor Universitas Mulia Dr. Agung Sakti Pribadi, Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Yusuf Wibisono, M.T.I., serta Dekan Fakultas Teknik Dr. Pascarianto. Kehadiran Universitas Mulia menunjukkan komitmen institusi akademik dalam mendukung pembangunan kota yang berkelanjutan melalui kontribusi pemikiran ilmiah, kolaborasi lintas sektor, dan penguatan peran perguruan tinggi dalam penyelesaian persoalan strategis daerah.

Workshop ini menghadirkan berbagai pakar internasional dari Bank Dunia, Singapore Water Center, National University of Singapore (NUS), serta Singapore’s National Water Agency yang memiliki pengalaman panjang dalam membangun sistem ketahanan air perkotaan modern. Delegasi internasional tersebut terdiri dari Ms. Irma Magdalena Setiono sebagai Senior Water Supply and Sanitation Specialist, Mr. Jean-Martin Brault sebagai Lead Water Specialist and Head of Singapore Water Center, Mr. Georges Comair sebagai Senior Water Specialist, Ms. Joey Jiayun Zou sebagai Program Analyst, serta Mr. Arief Mulya Ramadhian sebagai Governance Specialist. Selain itu turut hadir pula Prof. Khoo Teng Chye sebagai Strategic Advisor for Balikpapan JIT, NUS yang mengikuti kegiatan secara virtual, Mr. Tan Nguan Sen sebagai Technical Advisor for Balikpapan JIT, Singapore’s National Water Agency, dan Prof. Zhou Yimin sebagai Operational Advisor for Balikpapan JIT, NUS.

Kegiatan strategis ini juga dihadiri unsur pemerintah pusat, yaitu Direktur Sungai dan Pantai Mochammad Dian Alma’ruf. Kehadiran perwakilan pemerintah pusat menunjukkan bahwa isu ketahanan air Balikpapan tidak hanya menjadi perhatian pemerintah daerah, tetapi juga menjadi bagian penting dari agenda pembangunan nasional, khususnya dalam konteks penguatan infrastruktur sumber daya air dan keberlanjutan kawasan penyangga Ibu Kota Nusantara.

Kehadiran seluruh narasumber dan pemangku kepentingan tersebut memberikan perspektif yang sangat komprehensif, mulai dari aspek teknis pengelolaan air, pembangunan infrastruktur, tata kelola pemerintahan, integrasi kebijakan perkotaan, hingga strategi penguatan kelembagaan dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan urbanisasi. Workshop berlangsung secara intensif melalui diskusi teknis, kajian kebijakan, simulasi perencanaan, dan analisis studi kasus yang relevan dengan kondisi Balikpapan.

Belajar dari Transformasi Singapura

Dalam workshop tersebut, Singapura dipandang sebagai salah satu contoh terbaik dunia dalam pengelolaan air perkotaan. Meskipun memiliki keterbatasan sumber daya air alami dan luas wilayah yang relatif kecil, negara tersebut berhasil membangun sistem ketahanan air yang terintegrasi dan berkelanjutan. Kondisi ini dinilai relevan dengan Balikpapan yang juga menghadapi keterbatasan sumber air baku sekaligus tekanan pembangunan perkotaan yang terus meningkat.

Singapura memiliki luas daratan sekitar 744 km² dengan jumlah penduduk mencapai 6,1 juta jiwa dan tingkat pendapatan domestik bruto (GDP) sekitar USD 89 ribu. Sementara itu Balikpapan memiliki luas perkotaan sekitar 511 km² dengan karakteristik wilayah yang didominasi 85% kawasan perbukitan dan 15% lahan datar. Jumlah penduduk Balikpapan saat ini mencapai sekitar 757 ribu jiwa dengan GDP sekitar USD 12 ribu. Perbedaan kondisi tersebut menunjukkan bahwa tantangan geografis Balikpapan justru relatif lebih kompleks dalam konteks pengelolaan air dan drainase perkotaan.

Salah satu pelajaran penting yang dibagikan dalam workshop adalah keberhasilan Singapura melakukan pembersihan Sungai Singapura selama periode 1977–1987. Program tersebut berlangsung selama sepuluh tahun dan melibatkan kolaborasi 14 lembaga pemerintah secara terpadu. Pendekatan yang dilakukan tidak hanya fokus pada aspek teknis drainase dan sanitasi, tetapi juga mencakup penataan penggunaan lahan, relokasi permukiman, pengendalian industri, pengelolaan limbah, hingga pengendalian banjir dan sampah. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa ketahanan air bukan sekadar persoalan infrastruktur, melainkan bagian dari transformasi tata kelola kota secara menyeluruh.

Selain itu, Singapura juga memperkenalkan konsep Active, Beautiful, Clean Waters (ABC Waters) yang mengubah fungsi kawasan air menjadi ruang publik yang nyaman, sehat, dan produktif. Melalui pendekatan ini, embung, saluran air, dan kawasan retensi tidak hanya dipandang sebagai infrastruktur pengendali banjir, tetapi juga sebagai ruang sosial, kawasan hijau, sarana rekreasi, serta bagian dari identitas kota modern yang berkelanjutan.

Alkaff Lake sebagai Inspirasi Pengembangan Kota

Salah satu studi kasus yang banyak dibahas dalam workshop adalah pembangunan Alkaff Lake di kawasan Bidadari Estate Singapura. Danau retensi ini dirancang bukan hanya untuk mengendalikan banjir, tetapi juga menjadi ruang publik yang terintegrasi dengan taman kota dan kawasan hunian.

Alkaff Lake memiliki kapasitas tampung sekitar 40.000 meter kubik atau setara dengan 16 kolam renang Olimpiade. Pada kondisi normal, kawasan ini berfungsi sebagai ruang terbuka hijau dan area rekreasi masyarakat. Namun ketika hujan deras terjadi, danau akan berfungsi sebagai kolam retensi yang menampung limpasan air hujan dari wilayah sekitarnya. Sistem tersebut dirancang secara cerdas dengan memanfaatkan gravitasi karena posisi danau berada pada titik terendah kawasan.

Yang menarik, infrastruktur tersebut juga dilengkapi teknologi sensor ketinggian air, sistem peringatan otomatis, aerator untuk menjaga kualitas air, hingga Gross Pollutant Traps (GPT) untuk menangkap sampah dan polutan sebelum masuk ke danau. Pendekatan ini menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur air modern tidak hanya fokus pada aspek teknis, tetapi juga pada aspek keselamatan publik, kualitas lingkungan, estetika kota, dan keberlanjutan ekologi.

Konsep tersebut dinilai sangat relevan bagi Balikpapan yang saat ini mulai mengembangkan beberapa kawasan retensi seperti Wonorejo Retention Basin dan Ampal Hulu Retention Basin. Pemerintah Kota Balikpapan bahkan telah menyiapkan Detailed Engineering Design serta dokumen lingkungan untuk mendukung pengembangan kawasan tersebut sebagai bagian dari strategi pengendalian banjir dan penguatan sumber air baku kota.

Komitmen Balikpapan terhadap Kota Berkelanjutan

Dalam workshop juga dipaparkan berbagai komitmen Pemerintah Kota Balikpapan dalam menjaga keberlanjutan lingkungan. Kota Balikpapan selama ini dikenal memiliki komitmen kuat terhadap pelestarian kawasan lindung, termasuk Hutan Lindung Sungai Wain, Daerah Aliran Sungai Manggar, kawasan mangrove, hingga koridor migrasi satwa liar.

Salah satu kebijakan yang mendapat perhatian peserta workshop adalah komitmen Balikpapan untuk tidak membuka aktivitas pertambangan batu bara di wilayah kota meskipun lebih dari 60% wilayahnya memiliki potensi cadangan batu bara. Kebijakan tersebut menunjukkan keberanian pemerintah daerah dalam menempatkan keberlanjutan lingkungan sebagai prioritas utama pembangunan jangka panjang.

Visi pembangunan Kota Balikpapan menuju tahun 2045 sebagai “Balikpapan Nyaman untuk Semua” dengan semangat kota global yang berkelanjutan juga memperlihatkan arah pembangunan yang sejalan dengan konsep ketahanan air modern. Dalam konteks ini, pengelolaan air tidak lagi dipandang secara sektoral, tetapi menjadi bagian dari pembangunan kota yang terintegrasi dengan transportasi publik, ruang terbuka hijau, sanitasi, pariwisata, hingga pertumbuhan ekonomi baru.

Peran Strategis Universitas Mulia

Sebagai perguruan tinggi yang berada di Kota Balikpapan, Universitas Mulia menyadari bahwa tantangan ketahanan air merupakan persoalan multidisiplin yang membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, masyarakat, dan sektor industri. Oleh karena itu, keterlibatan Universitas Mulia dalam workshop ini menjadi bagian dari komitmen institusi untuk turut berkontribusi dalam pembangunan daerah berbasis ilmu pengetahuan dan inovasi.

Dalam forum diskusi kelompok, delegasi Universitas Mulia berperan aktif bersama berbagai unsur lainnya untuk mengkaji tantangan yang dihadapi Balikpapan serta merumuskan berbagai alternatif solusi yang dapat diterapkan sesuai karakteristik lokal kota. Diskusi mencakup berbagai aspek seperti tata kelola air, penguatan kelembagaan, pemanfaatan teknologi, integrasi dengan pembangunan IKN, pengendalian banjir, hingga pengembangan ruang kota yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim.

Kehadiran Universitas Mulia dalam forum ini memperlihatkan bahwa perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam menghubungkan pengetahuan ilmiah dengan kebutuhan nyata pembangunan kota. Kampus merupakan pusat pengembangan pengetahuan, penelitian, dan pengabdian masyarakat yang memiliki tanggung jawab moral maupun intelektual untuk turut menjawab persoalan nyata kota. Di tengah tantangan perkotaan yang kian kompleks—mulai dari krisis air, ancaman banjir, hingga tekanan pembangunan—sinergi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat menjadi landasan penting dalam merancang masa depan Balikpapan yang tangguh, layak huni, dan berkelanjutan.

Dalam konteks itulah kampus tidak dapat berhenti sebagai menara akademik yang berjarak dari realitas sosial. Perguruan tinggi dituntut hadir sebagai ruang pemikiran yang aktif, kritis, dan solutif; bukan hanya membaca persoalan, tetapi juga ikut menyusun arah penyelesaiannya. Ketika kota berhadapan dengan ancaman ekologis dan kebutuhan pembangunan yang terus meningkat, kontribusi akademik menjadi bagian penting dalam memastikan kebijakan tidak kehilangan pijakan ilmiah dan keberpihakan pada kepentingan publik.

Pada akhirnya, ketahanan air tidak semata berbicara tentang bendungan, drainase, atau kolam retensi sebagai infrastruktur fisik. Lebih jauh, ia menyangkut hak dasar warga atas lingkungan yang sehat, keberlangsungan sebuah kota, serta kepastian bahwa generasi mendatang tetap memiliki ruang hidup yang bermartabat. Di titik inilah keterlibatan Universitas Mulia memperoleh arti strategisnya: bukan sekadar hadir dalam forum, melainkan ikut mengambil bagian dalam ikhtiar kolektif menjaga Balikpapan agar tetap memiliki masa depan. (YMN)

 

Balikpapan, 7 Mei 2026 – Universitas Mulia melalui Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) menyelenggarakan diskusi publik bertajuk “Kampus atau Barak? Militer Masuk Ranah Pendidikan” pada 7 Mei 2026 di Universitas Mulia Balikpapan sebagai bagian dari penguatan budaya akademik yang menempatkan kampus sebagai ruang dialog, pertukaran gagasan, dan pengembangan nalar kritis mahasiswa terhadap isu-isu kebangsaan kontemporer.

Kegiatan ini dirancang sebagai forum intelektual untuk membahas dinamika hubungan antara pendidikan, demokrasi, dan kebebasan akademik dari beragam perspektif. Melalui tema tersebut, mahasiswa diajak menelaah secara kritis berbagai pendekatan dalam sistem pendidikan, termasuk pentingnya menjaga perguruan tinggi sebagai ruang ilmiah yang bertumpu pada independensi berpikir, kebebasan akademik, serta tanggung jawab sosial.

Rangkaian acara diawali dengan pembukaan dan sambutan dari unsur pimpinan universitas serta perwakilan organisasi kemahasiswaan yang menekankan pentingnya diskusi akademik sebagai bagian dari tradisi perguruan tinggi. Kehadiran Presiden dan Wakil Presiden BEM se-Balikpapan turut memperluas spektrum dialog, menjadikan forum ini tidak hanya sebagai agenda internal kampus, tetapi juga ruang konsolidasi pemikiran mahasiswa lintas perguruan tinggi.

Sesi utama menghadirkan pemaparan mengenai perkembangan isu keterlibatan militer dalam ranah pendidikan sebagai bahan kajian demokrasi dan tata kelola pendidikan tinggi. Materi diskusi menyoroti pentingnya memahami perbedaan karakter pendidikan sipil dan pendidikan berbasis komando dalam konteks pembentukan budaya akademik, sekaligus mendorong mahasiswa untuk mengembangkan literasi konstitusional, kesadaran hukum, dan kepekaan terhadap prinsip-prinsip kebebasan berpikir.

Forum ini juga membahas bagaimana mahasiswa sebagai komunitas intelektual memiliki peran strategis dalam merawat tradisi dialogis di perguruan tinggi. Dalam suasana akademik, peserta diajak melihat bahwa kampus bukan sekadar ruang pembelajaran formal, melainkan lingkungan yang membentuk kapasitas analitis, keberanian berpendapat, serta kemampuan membaca perubahan sosial secara rasional dan bertanggung jawab.

Salah satu gagasan yang mengemuka dalam diskusi menyoroti bahwa berbagai bentuk pendekatan terhadap mahasiswa perlu dipahami secara kritis dengan mempertimbangkan kondisi psikologis, sosial, dan struktural yang memengaruhi kehidupan pendidikan. Pandangan tersebut memperkaya forum dengan perspektif sosial-politik yang memberi ruang refleksi tanpa melepaskan pijakan akademik.

Sesi dialog dan tanya jawab berlangsung dinamis dengan melibatkan peserta dari berbagai organisasi mahasiswa. Pertukaran gagasan yang berkembang menunjukkan bahwa perguruan tinggi memiliki fungsi strategis sebagai ruang perdebatan ilmiah yang sehat, tempat berbagai pandangan dapat diuji melalui argumentasi, data, dan kerangka berpikir demokratis.

Melalui penyelenggaraan diskusi publik ini, Universitas Mulia menegaskan komitmennya dalam mendukung ekosistem pendidikan tinggi yang mendorong keterbukaan intelektual, kedewasaan berpikir, dan partisipasi mahasiswa dalam merespons isu-isu strategis secara akademik. Di tengah perubahan sosial yang terus berlangsung, kampus dituntut tetap menjadi ruang yang memungkinkan lahirnya pemikiran kritis, dialog konstruktif, dan kontribusi nyata bagi kehidupan demokrasi. (YMN)

Balikpapan, 11 Mei 2026—Pelaksanaan Walk-in Interview Batch 2 Career Development Center (CDC) Universitas Mulia bersama SNS sebagai distributor resmi Garudafood memperlihatkan perluasan orientasi kampus dalam membaca masa depan lulusannya. Setelah sebelumnya bergerak di sektor perbankan melalui BBAP Bank BRI, Universitas Mulia kini mulai menempatkan mahasiswa dan alumni pada spektrum industri yang lebih beragam—mulai dari distribusi hingga manufaktur—sebagai respons terhadap realitas pasar kerja yang tidak sesederhana satu jalur profesi.

Perluasan ini penting, terutama ketika preferensi kerja banyak lulusan masih terkonsentrasi pada sektor-sektor tertentu yang dianggap paling prestisius, seperti pertambangan. Padahal, struktur ekonomi nasional bertumpu pada banyak lini usaha lain yang menawarkan jenjang karier, stabilitas bisnis, dan peluang profesional yang sama seriusnya. Dalam konteks tersebut, CDC Universitas Mulia sedang berupaya menggeser cara pandang lulusan: dari orientasi sektor tunggal menuju pembacaan karier yang lebih luas dan rasional.

Linda Fauziah, Kepala Bagian Career Development Center Universitas Mulia, menempatkan fase awal lembaganya pada pembukaan jejaring industri seluas mungkin. Mengingat usia CDC yang masih sangat muda, prioritas pertama diarahkan pada penguatan relasi dengan berbagai perusahaan agar alumni memiliki titik masuk yang lebih banyak ke pasar kerja. Setelah fondasi akses tersebut terbentuk, agenda berikutnya akan bergerak pada pengembangan kompetensi melalui pelatihan dan program magang yang lebih terstruktur.

Kerangka ini memperlihatkan bahwa CDC tidak dibangun sebagai pusat distribusi informasi lowongan semata. Yang sedang dirancang adalah jalur konektivitas—sebuah mekanisme yang mempertemukan kualitas lulusan dengan kebutuhan tenaga kerja secara lebih terukur. Artinya, akses kerja dipahami bukan sebagai hasil kebetulan individual, melainkan sebagai bagian dari desain kelembagaan.

Walk-in interview dalam konteks ini memperoleh makna yang lebih substantif. Ia bukan hanya ruang seleksi, tetapi juga medium representasi. Bagi Universitas Mulia, memperkenalkan profil lulusan kepada dunia usaha merupakan pekerjaan strategis, terutama ketika pengenalan publik terhadap kualitas lulusan masih memerlukan penguatan. Karena itu, kehadiran industri di kampus sekaligus menjadi ruang negosiasi reputasi—bahwa lulusan Universitas Mulia hadir dengan kapasitas yang layak dibaca oleh pasar profesional.

CDC juga memperluas fungsi tersebut melalui platform digital, termasuk website dan media sosial, yang digunakan sebagai kanal edukasi karier. Informasi yang dibangun tidak berhenti pada pengumuman rekrutmen, tetapi diarahkan pada pembentukan literasi profesional: bagaimana mahasiswa membaca peluang, memahami kebutuhan industri, dan menyiapkan diri lebih awal sebelum memasuki proses seleksi.

Dr. Linda Fauziah, Kepala Career Development Center Universitas Mulia, bersama tim SNS distributor resmi Garudafood dalam pelaksanaan Walk-in Interview Batch 2 di Universitas Mulia, menandai perluasan jejaring kampus ke sektor distribusi dan manufaktur nasional.

Pada level yang lebih mendasar, Linda menegaskan bahwa kualitas akhir lulusan tidak bertumpu pada CDC semata. Program studi, fakultas, dan rektorat tetap menjadi pusat pembentukan kompetensi akademik. CDC hadir sebagai struktur pendukung yang memperkuat daya tembus lulusan setelah keluar dari sistem pembelajaran formal. Dengan posisi ini, CDC bekerja pada wilayah transisi—menghubungkan hasil pendidikan dengan arena profesional yang sesungguhnya.

Cara pandang semacam ini menempatkan Career Development Center bukan sebagai unit administratif pelengkap, melainkan sebagai instrumen institusional yang membaca satu pertanyaan penting: ke mana lulusan bergerak setelah wisuda? Dari pertanyaan itulah CDC Universitas Mulia mulai menyusun perannya—membuka akses, memperluas horizon sektor, dan membangun pengenalan industri terhadap profil lulusan secara lebih sistematis.

Melalui Walk-in Interview Batch 2 bersama SNS–Garudafood, Universitas Mulia sedang menegaskan bahwa masa depan lulusan tidak semestinya dibatasi oleh sektor yang sedang populer. Yang dibutuhkan adalah keberanian institusi untuk memperluas peta, membaca potensi lintas industri, lalu memastikan lulusan memiliki lebih banyak pintu masuk menuju dunia profesional. Pada titik itulah kampus tidak hanya menghasilkan sarjana, tetapi juga menata kemungkinan. (YMN)

Balikpapan, 8 Mei 2026 – Kerja sama Universitas Mulia dengan lembaga pemasyarakatan dan pembimbingan kemasyarakatan di Kalimantan Timur diarahkan untuk menghubungkan proses pendidikan hukum dengan perubahan cara pandang terhadap pemidanaan, dari pendekatan penghukuman menuju pemulihan sosial.

Dekan Fakultas Hukum Universitas Mulia, Budiarsih, menyebut perubahan tersebut tidak terlepas dari pergeseran sistem hukum pidana nasional yang mulai meninggalkan warisan kolonial dan bergerak menuju model peradilan yang lebih adaptif dan berorientasi pada keadilan korektif.

Ia menjelaskan bahwa implementasi Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) baru mencerminkan arah kebijakan negara dalam merespons perkembangan sosial serta tuntutan perlindungan hak asasi manusia.

“Reformasi hukum pidana hari ini menunjukkan pergeseran menuju sistem yang lebih humanis dan berorientasi pada keadilan korektif atau restorative justice,” ujarnya.

Budiarsih menyoroti bahwa salah satu persoalan utama dalam sistem pemasyarakatan adalah kecenderungan pendekatan yang masih bertumpu pada aspek legalistik, sementara dimensi kemanusiaan belum sepenuhnya terintegrasi secara kuat.

Menurutnya, pembinaan warga binaan tidak dapat berdiri sendiri tanpa keterlibatan akademisi dan masyarakat dalam satu ekosistem yang saling terhubung.

“Pemasyarakatan yang humanis hanya bisa berjalan jika ada sinergi antara petugas, akademisi, dan masyarakat. Di dalamnya ada kebutuhan untuk memahami manusia yang kerap dibebani stigma,” katanya.

Dekan Fakultas Hukum Budiarsih menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) sebagai bagian dari penguatan kolaborasi akademik di bidang hukum dan pemasyarakatan.

Dalam kerja sama ini, Fakultas Hukum juga menempatkan mahasiswa sebagai bagian dari proses pembelajaran berbasis pengalaman langsung, khususnya dalam memahami praktik keadilan restoratif.

Ia menjelaskan bahwa keadilan restoratif memandang tindak pidana bukan hanya sebagai pelanggaran terhadap negara, tetapi juga sebagai kerusakan hubungan sosial yang perlu dipulihkan.

“Fokusnya bukan sekadar pada hukuman, tetapi pada pemulihan hubungan antara pelaku, korban, dan lingkungan sosial yang terdampak,” jelasnya.

Melalui keterlibatan di lembaga pemasyarakatan dan balai pemasyarakatan, mahasiswa diharapkan dapat melihat langsung bagaimana konsep tersebut diterapkan dalam proses pembinaan warga binaan maupun klien pemasyarakatan.

Selain aspek pembelajaran, Fakultas Hukum juga menekankan pentingnya kajian akademik mengenai hak-hak warga binaan dan reformasi sistem pemidanaan.

Budiarsih menilai kajian tersebut diperlukan sebagai dasar penyusunan rekomendasi akademik bagi lembaga pemasyarakatan agar pelaksanaan pembinaan tetap berada dalam koridor hak asasi manusia dan ketentuan hukum yang berlaku.

Rektor Universitas Mulia Dr. Agung Sakti Pribadi, S.H., M. H., menandatangani nota kesepahaman (MoU) bersama mitra kerja sama sebagai langkah awal penguatan sinergi kelembagaan.

Ia merujuk pada prinsip bahwa warga binaan tetap memiliki hak untuk diperlakukan secara manusiawi, meskipun sedang menjalani pembatasan kebebasan.

“Warga binaan tetap harus diposisikan sebagai manusia yang memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri dan kembali ke masyarakat,” ujarnya.

Budiarsih juga menekankan pentingnya keseimbangan antara penegakan hukum dan penghormatan terhadap nilai kemanusiaan dalam sistem peradilan pidana.

Menurutnya, kejahatan tidak dapat dipandang sebagai persoalan yang dapat dihapus sepenuhnya, tetapi harus dikelola melalui sistem yang mampu menjaga ketertiban sekaligus keadilan sosial.

“Penegakan hukum harus tetap berjalan, tetapi tidak boleh mengabaikan dimensi kemanusiaan yang menjadi dasar sistem hukum berbasis Pancasila dan hak asasi manusia,” tutupnya. (YMN)

Balikpapan, 7 Mei 2026 – Di tengah derasnya wacana inovasi yang kerap berhenti sebagai istilah akademik di ruang kuliah, Universitas Mulia memilih membawa mahasiswanya langsung ke titik di mana inovasi bekerja sebagai budaya: lantai industri. Melalui visit industry mata kuliah Manajemen Inovasi ke Toyota AUTO2000 MT Haryono Balikpapan, mahasiswa diajak menelusuri bagaimana prinsip perbaikan berkelanjutan dijalankan bukan sebagai slogan perusahaan, melainkan sebagai disiplin kerja yang menjaga relevansi bisnis selama puluhan tahun.

Langkah ini memperlihatkan cara Universitas Mulia memaknai pendidikan bukan sebatas transfer teori, tetapi sebagai proses mempertemukan mahasiswa dengan praktik, sistem, dan pola pikir yang bekerja nyata di dunia profesional. Di ruang industri, mahasiswa tidak sekadar mendengar konsep inovasi, melainkan menyaksikan bagaimana perubahan kecil yang dilakukan terus-menerus dapat membentuk kekuatan organisasi berskala global.

Mahasiswa Universitas Mulia tiba di Toyota AUTO2000 MT Haryono Balikpapan untuk memulai pembelajaran lapangan tentang budaya inovasi dan praktik industri otomotif.

Toyota dipilih karena reputasinya tidak dibangun hanya melalui produk, tetapi melalui kemampuan merawat budaya Kaizen sebagai mesin pembaruan yang bekerja dari level operasional hingga strategi bisnis. Bagi mahasiswa, kunjungan ini menjadi kesempatan untuk membaca langsung bagaimana sebuah perusahaan besar mempertahankan daya hidupnya melalui kebiasaan memperbaiki proses secara konsisten.

Kepala Career Development Center Universitas Mulia sekaligus dosen pengampu mata kuliah Manajemen Inovasi, Dr. Linda Fauziyah Ariyani, S.Pd., M.Pd., menilai pengalaman lapangan semacam ini penting agar mahasiswa memahami inovasi dalam bentuk yang lebih utuh.

“Toyota adalah salah satu perusahaan otomotif terkemuka di dunia yang memiliki budaya organisasi kuat melalui Kaizen. Mahasiswa perlu melihat langsung bagaimana perubahan kecil yang dilakukan terus-menerus dapat menjadi fondasi besar bagi keberlanjutan perusahaan,” ujarnya.

Pihak Toyota AUTO2000 MT Haryono Balikpapan memberikan pemaparan langsung mengenai budaya Kaizen, operasional perusahaan, dan strategi inovasi berkelanjutan.

Melalui pengamatan langsung, mahasiswa diajak membongkar satu pemahaman penting: inovasi bukan selalu soal menciptakan sesuatu yang baru, melainkan tentang keberanian membaca masalah, menemukan celah perbaikan, lalu menjaga solusi itu tetap relevan. Perspektif ini penting di tengah kecenderungan memahami inovasi sebatas teknologi atau produk baru.

Bagi Universitas Mulia, pembelajaran semacam ini menjadi ruang untuk menggeser cara pandang mahasiswa dari sekadar penghafal teori menuju pembaca persoalan. Inovasi yang bertahan, sebagaimana ditekankan dalam pembelajaran lapangan tersebut, lahir dari kebutuhan nyata dan kemampuan menjawabnya secara berkelanjutan.

Selama kunjungan berlangsung, mahasiswa menyigi bagaimana Toyota mempertahankan eksistensinya bukan melalui perubahan besar yang sesekali, tetapi lewat pembaruan yang berlangsung terus-menerus. Dari sana, teori manajemen inovasi yang dipelajari di kelas menemukan bentuk konkretnya: keberlanjutan bisnis bertumpu pada budaya adaptif, bukan sekadar pada ide besar.

“Mahasiswa menjadi lebih memahami bahwa inovasi berkelanjutan lahir dari upaya perbaikan terus-menerus. Ini penting agar mereka melihat hubungan nyata antara teori yang dipelajari dengan praktik industri,” jelasnya.

Mahasiswa Universitas Mulia menyimak secara serius pemaparan industri sebagai bagian dari proses memahami implementasi nyata manajemen inovasi di dunia kerja

Bacaan paling penting dari kunjungan ini terletak pada satu hal mendasar: perusahaan yang mampu bertahan dalam perubahan eksternal adalah perusahaan yang menjadikan inovasi sebagai kebiasaan, bukan proyek sesaat. Dalam konteks itu, eksistensi menjadi indikator paling jujur dari kuat atau lemahnya budaya inovasi.

Perubahan lanskap industri yang bergerak ke arah digitalisasi juga menuntut mahasiswa membangun kelincahan berpikir sejak masa kuliah. Karena itu, proses belajar di Universitas Mulia diarahkan agar mahasiswa terbiasa menguji gagasan, membaca kebutuhan, dan beradaptasi dengan perubahan, bukan menunggu realitas kerja mengubah mereka secara mendadak.

Bagi kampus, membawa mahasiswa ke lapangan berarti memperluas ruang belajar ke situasi yang tidak selalu ideal, tempat teori diuji oleh kompleksitas nyata. Di ruang seperti inilah kemampuan problem solving, observasi, dan nalar kritis lebih mungkin tumbuh dibanding hanya dari simulasi akademik.

“Belajar di Universitas Mulia tidak sekadar mengejar nilai akademik, tetapi juga membangun pengalaman belajar yang membentuk daya saing mahasiswa,” ungkapnya.

Mahasiswa juga memperoleh pemaparan langsung dari Kepala Bengkel Toyota AUTO2000 MT Haryono Balikpapan, Jaka Mulyana, mengenai budaya perbaikan berkelanjutan, serta wawasan strategi pemasaran dari Supervisor Sales, Nur Kholis. Paparan tersebut memperlihatkan bahwa inovasi bekerja lintas lini—dari pelayanan teknis hingga strategi membaca pasar.

Dalam lanskap bisnis modern, pemahaman terhadap kebutuhan konsumen muncul sebagai fondasi penting. Inovasi yang lahir dari kebutuhan pasar memberi kemungkinan hidup lebih panjang dibanding sekadar meluncurkan sesuatu yang baru tanpa relevansi yang jelas.

Suasana dialog berlangsung hangat saat mahasiswa Universitas Mulia dan pihak Toyota AUTO2000 berdiskusi dalam sesi tanya jawab seputar inovasi, pelayanan, dan dinamika industri.

Melalui pola pembelajaran semacam ini, Universitas Mulia sedang menanamkan satu kebiasaan intelektual penting: melihat perubahan bukan sebagai ancaman, tetapi sebagai ruang untuk merumuskan solusi. Visit industry ini pada akhirnya bukan sekadar perjalanan akademik, melainkan proses menautkan pengetahuan dengan realitas, sekaligus mengajak mahasiswa memahami bahwa inovasi terbesar sering kali dimulai dari keberanian memperbaiki hal-hal kecil secara konsisten. (YMN)

 

Balikpapan, 5 Mei 2026– Universitas Mulia mulai menyiapkan sejumlah program pelatihan keterampilan dan pemberdayaan produktif bagi warga binaan melalui kerja sama antara Fakultas Teknik dan Deddy Eduar Eka Saputra selaku Kepala Bapas Kelas I Balikpapan.

Program tersebut menjadi bagian dari penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Fakultas Teknik Universitas Mulia dan pihak pemasyarakatan dalam rangka penguatan pembinaan berbasis pendidikan dan keterampilan.

Dekan Fakultas Teknik Dr. Pascarianto Putra Bura, S.T., M.Eng. mengatakan kontribusi Fakultas Teknik akan dijalankan melalui tiga program studi, yakni Teknik Industri, Teknik Sipil, serta Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian.

Menurutnya, masing-masing program studi memiliki ruang kontribusi yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan minat warga binaan.

“Teknik Industri dapat membantu dalam pelatihan manajemen kerja, kewirausahaan, dan peningkatan keterampilan produktif. Teknik Sipil dapat mendukung pelatihan keterampilan konstruksi dan perawatan fasilitas umum. Sementara Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian dapat memberikan pelatihan pengolahan pangan dan pemanfaatan hasil pertanian yang bernilai ekonomi,” ujarnya.

Ia menilai peluang pengembangan teknologi tepat guna dan pelatihan keterampilan teknis di lingkungan pemasyarakatan cukup besar karena setiap warga binaan memiliki kemampuan dan latar belakang yang berbeda.

Karena itu, Fakultas Teknik ingin menghadirkan program yang tidak hanya bersifat teoritis, tetapi dapat menjadi ruang bagi warga binaan untuk mengembangkan keterampilan yang berguna setelah menyelesaikan masa pembinaan.

“Pelatihan yang diberikan diharapkan dapat menjadi wadah bagi warga binaan untuk mengembangkan ide, keterampilan, dan soft skill yang mereka miliki sehingga dapat diterapkan dalam kegiatan sosial maupun kehidupan setelah masa pembinaan,” katanya.

Selain berfokus pada pembinaan warga binaan, kerja sama tersebut juga membuka ruang pembelajaran lapangan bagi mahasiswa Fakultas Teknik.

Pascarianto menyebut lingkungan pemasyarakatan dapat menjadi ruang belajar kontekstual bagi mahasiswa untuk memahami persoalan sosial sekaligus menerapkan ilmu yang dipelajari di kampus.

Mahasiswa nantinya dapat terlibat dalam praktikum lapangan, pendampingan program, hingga penyusunan solusi berbasis rekayasa sesuai bidang keilmuan masing-masing program studi.

“Mahasiswa dapat belajar langsung memahami kondisi masyarakat dan kebutuhan warga binaan melalui pelatihan keterampilan maupun pendampingan program sesuai bidangnya,” jelasnya.

Ia juga menekankan bahwa pendekatan teknologi dan infrastruktur memiliki peran penting dalam mendukung proses pembinaan karena dapat membantu warga binaan mengembangkan kemampuan produktif dan meningkatkan kesiapan sosial mereka.

Menurutnya, dukungan fasilitas, pelatihan, dan penerapan teknologi sederhana yang sesuai kebutuhan dapat membantu warga binaan menjadi lebih mandiri dan siap kembali ke tengah masyarakat.

Di akhir wawancara, Pascarianto berharap kolaborasi lintas sektor tersebut dapat membuka ruang kontribusi nyata perguruan tinggi dalam mendukung pengembangan kemampuan teknis maupun soft skill warga binaan.

“Kami berharap program ini dapat membantu warga binaan memiliki keterampilan yang bermanfaat, meningkatkan rasa percaya diri, serta lebih siap menghadapi kehidupan sosial dan dunia kerja setelah menyelesaikan masa pembinaan,” tutupnya. (YMN)

 

Balikpapan, 5 Mei 2026 – Universitas Mulia resmi menjalin kerja sama dengan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kalimantan Timur melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) yang dirangkaikan dengan penandatanganan perjanjian kerja sama (PKS) oleh lima fakultas di lingkungan Universitas Mulia.

Dalam kesempatan tersebut, para dekan di lingkungan Universitas Mulia juga menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) bersama Kepala Bapas Kelas I Balikpapan, Deddy Eduar Eka Saputra, guna memperkuat implementasi program pendidikan, pemberdayaan, dan pengabdian masyarakat di lingkungan pemasyarakatan.

Kolaborasi tersebut menjadi langkah strategis dalam memperkuat peran perguruan tinggi tidak hanya sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai mitra transformasi sosial dan kemanusiaan di tengah masyarakat.

Adapun lima fakultas yang turut menandatangani PKS meliputi Fakultas Ilmu Komputer, Fakultas Hukum, Fakultas Humaniora dan Kesehatan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, serta Fakultas Teknik.

Atas arahan Rektor Universitas Mulia, Dr. Agung Sakti Pribadi, S.H., M.H., penjelasan terkait arah dan substansi kerja sama disampaikan oleh Kepala Bagian Kerja Sama Universitas Mulia, Wahyu Nur Alimyaningtias, S.Kom., M.Kom.

Wahyu Nur Alimyaningtias, S.Kom., M.Kom., selaku Kepala Bagian Kerja Sama Universitas Mulia berfoto bersama Jusmianti dan tim Balai Pemasyarakatan usai kegiatan penandatanganan kerja sama.

Wahyu menjelaskan bahwa kerja sama tersebut memiliki urgensi strategis karena tantangan pembangunan sumber daya manusia saat ini tidak hanya berada pada ruang pendidikan formal, tetapi juga menyentuh kelompok masyarakat yang membutuhkan reintegrasi sosial.

“Lembaga pemasyarakatan merupakan bagian penting dalam proses pembinaan manusia agar mampu kembali produktif di tengah masyarakat. Kampus hadir bukan hanya sebagai pusat ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai mitra transformasi sosial yang dapat mendukung peningkatan kualitas SDM, literasi, keterampilan, kesehatan mental, hingga penguatan program pemberdayaan warga binaan secara berkelanjutan,” ujarnya.

Menurutnya, Universitas Mulia memandang lembaga pemasyarakatan bukan sekadar institusi hukum, melainkan ruang rehabilitasi sosial dan kemanusiaan yang memiliki keterkaitan erat dengan nilai-nilai pendidikan tinggi modern.

Rektor Universitas Mulia Dr. Agung Sakti Pribadi, S.H.,M.H., Wali Kota Balikpapan Rahmad Mas’ud, S.E.,M.E., Kepala Bapas, dan jajaran berfoto bersama usai penandatanganan MoU.

“Pemasyarakatan memiliki fungsi rehabilitatif dan edukatif yang sangat relevan dengan nilai pendidikan. Kampus melihat warga binaan sebagai individu yang memiliki potensi untuk berkembang, memperoleh kesempatan kedua, dan dipersiapkan kembali menjadi bagian produktif dalam masyarakat,” katanya.

Ia menegaskan, Universitas Mulia berkomitmen agar kerja sama tersebut tidak berhenti pada seremoni administratif semata. Implementasi program akan diarahkan pada kegiatan konkret, terukur, dan berkelanjutan yang menyentuh kebutuhan langsung di lingkungan pemasyarakatan.

Program tersebut meliputi pelatihan keterampilan, pendampingan psikososial, penelitian terapan, kuliah praktisi, penguatan literasi digital, literasi bantuan hukum, hingga berbagai bentuk pengabdian masyarakat berbasis problem solving.

“Setiap program akan memiliki target capaian dan evaluasi berkala, serta melibatkan dosen dan mahasiswa agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat pemasyarakatan,” jelasnya.

Keterlibatan lima fakultas di lingkungan Universitas Mulia juga diharapkan mampu menghadirkan pendekatan multidisipliner dalam mendukung penguatan sistem pemasyarakatan di Kalimantan Timur.

Fakultas Ilmu Komputer akan berkontribusi dalam penguatan literasi dan teknologi digital, Fakultas Hukum pada aspek bantuan hukum dan edukasi hukum, Fakultas Humaniora dan Kesehatan melalui pendekatan psikososial dan kesehatan masyarakat, Fakultas Ekonomi dan Bisnis dalam pemberdayaan kewirausahaan, serta Fakultas Teknik melalui pengembangan keterampilan dan inovasi teknologi tepat guna.

Para dekan di lingkungan Universitas Mulia bersama jajaran pemasyarakatan berfoto bersama usai penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS).

Lebih jauh, Wahyu menyebut kerja sama tersebut sangat relevan dengan implementasi tridarma perguruan tinggi, khususnya dalam membangun pembelajaran kontekstual berbasis realitas sosial.

Mahasiswa nantinya berpeluang terlibat dalam program magang, penelitian lapangan, pendampingan masyarakat, hingga berbagai kegiatan sosial-edukatif di lingkungan pemasyarakatan.

“Pengalaman tersebut penting untuk membentuk kompetensi profesional sekaligus sensitivitas sosial mahasiswa, sehingga lulusan tidak hanya unggul secara akademik tetapi juga memiliki empati dan kemampuan menyelesaikan persoalan nyata di masyarakat,” ungkapnya.

Universitas Mulia juga telah menyiapkan indikator keberhasilan kerja sama yang mencakup aspek akademik dan sosial, mulai dari jumlah program implementatif, keterlibatan dosen dan mahasiswa, luaran penelitian, hingga peningkatan kapasitas dan keterampilan warga binaan.

Di akhir keterangannya, Wahyu menegaskan bahwa pendekatan humanis menjadi prinsip utama dalam seluruh pelaksanaan program kerja sama tersebut.

“Setiap program akan dirancang dengan prinsip inklusif, edukatif, dan humanis, sehingga kerja sama ini tidak hanya menghasilkan capaian administratif, tetapi juga memberikan dampak sosial yang bermakna bagi kehidupan manusia dan masyarakat secara luas,” tutupnya. (YMN)

Balikpapan, 6 Mei 2026Ketika sebagian atlet datang ke arena dengan persiapan penuh, Giva Andini Ramadani justru melangkah ke Kejuaraan Nasional Pencak Silat Balikpapan Open I dengan sisa waktu yang nyaris tak ideal. Mahasiswi Program Studi S1 Akuntansi Universitas Mulia itu sempat menghadapi kondisi fisik yang menurun akibat sakit, kadar hemoglobin yang rendah, serta dehidrasi parah hanya beberapa hari sebelum pertandingan nasional digelar di BSCC Dome Balikpapan, 24–26 April 2026.

Situasi tersebut membuat persiapannya terpangkas drastis. Dengan waktu efektif sekitar lima hari menjelang tampil di kategori seni tunggal, Giva harus menata ulang kesiapan fisik sekaligus mental dalam tempo singkat. Kondisi itu bukan hanya menguji teknik, tetapi juga ketahanan psikologisnya sebagai atlet.

Di tengah keterbatasan tersebut, Giva memilih bertahan pada disiplin. Dukungan keluarga dan rekan terdekat menjadi fondasi penting yang membantunya bangkit dari rasa takut sekaligus keraguan. Ia memaksa dirinya mengejar ritme latihan, memulihkan kepercayaan diri, lalu memasuki arena dengan satu keputusan penting: tetap tampil maksimal meski persiapan jauh dari sempurna.

Giva Andini Ramadani menampilkan presisi gerak dan penguasaan teknik saat membawakan seni tunggal pada Kejuaraan Nasional Pencak Silat Balikpapan Open I di BSCC Dome Balikpapan.

Keputusan itu berbuah hasil. Giva berhasil meraih Juara 3 Putri kategori seni tunggal, capaian yang tidak sekadar menempatkannya di podium nasional, tetapi juga menegaskan daya juang mahasiswa Universitas Mulia dalam menghadapi tekanan kompetisi.

Bagi Giva, pencapaian tersebut tidak berhenti pada medali. Ia memandang prestasi sebagai akumulasi dari proses panjang yang menuntut konsistensi, keberanian menghadapi situasi sulit, serta kemampuan mengenali batas diri. Pengalaman itu mempertemukannya dengan pelajaran yang lebih substansial: bagaimana seseorang tetap bergerak ketika kondisi tidak berpihak.

Di ruang akademik, Giva menempuh studi akuntansi yang identik dengan ketelitian, logika, dan tanggung jawab. Di arena pencak silat, ia ditempa oleh disiplin fisik, fokus, dan kekuatan mental. Alih-alih bertabrakan, keduanya justru membentuk pola hidup yang saling menguatkan. Pengelolaan waktu yang ketat menjadi kunci agar tuntutan akademik dan latihan dapat berjalan beriringan.

Persinggungan antara dunia akademik dan olahraga inilah yang menghadirkan potret mahasiswa dengan kapasitas lebih utuh—bukan hanya cakap secara intelektual, tetapi juga tangguh secara karakter. Dalam diri Giva, prestasi olahraga tidak berdiri sebagai aktivitas tambahan, melainkan ruang pembentukan diri yang memperkuat kesiapan menghadapi berbagai tekanan kehidupan.

Partisipasinya dalam kejuaraan nasional juga membawa dimensi yang lebih luas. Pencak silat, sebagai warisan budaya bangsa, tidak semata dipahami sebagai kompetisi fisik, tetapi sebagai medium pembelajaran nilai—disiplin, rasa hormat, pengendalian diri, dan sportivitas. Giva memaknai keikutsertaannya sebagai bagian dari peran generasi muda kampus dalam menjaga warisan budaya melalui praktik nyata.

Fokus, keseimbangan, dan keteguhan tercermin dalam kuda-kuda yang diperagakan Giva Andini Ramadani saat tampil membawa semangat Universitas Mulia di arena nasional.

Capaian ini sekaligus menunjukkan bahwa ruang prestasi mahasiswa Universitas Mulia tidak hanya bertumbuh di ranah akademik, tetapi juga menjangkau panggung-panggung kompetitif nasional yang menuntut integritas, daya tahan, dan karakter. Dari arena seni tunggal Balikpapan Open I, Giva membawa pulang lebih dari sekadar juara—ia membawa narasi tentang ketekunan yang diuji oleh keterbatasan, lalu dijawab dengan keberanian. (YMN)

Balikpapam, 6 Mei 2026— Pelaksanaan Walk-in Interview Batch 1 BRILian Banking Associate Program (BBAP) bersama Bank BRI di Universitas Mulia memperlihatkan bagaimana fungsi kampus berkembang melampaui ruang kuliah. Melalui Career Development Center Universitas Mulia, agenda ini ditempatkan bukan sekadar sebagai pembukaan akses kerja, tetapi sebagai bagian dari rancangan institusional untuk mempertemukan kapasitas lulusan dengan kebutuhan sektor profesional yang terus bergerak.

Dr. Linda Fauziyah Ariyani, S.Pd., M.Pd., Kepala Bagian Career Development Center Universitas Mulia, menjelaskan bahwa keterhubungan dengan industri dibangun melalui pendekatan yang lebih aktif, yakni membaca kebutuhan pasar tenaga kerja, memahami karakter mitra profesional, lalu menerjemahkannya ke dalam penguatan kesiapan mahasiswa dan alumni. Menurutnya, relasi dengan dunia kerja tidak diposisikan sebagai respons pasif terhadap lowongan, melainkan sebagai proses penyesuaian kompetensi yang dirancang lebih sadar sejak awal.

Karena itu, persiapan yang diberikan kepada alumni tidak berhenti pada distribusi informasi rekrutmen. Career Development Center Universitas Mulia menempatkan pembinaan, pendampingan, dan penguatan kesiapan personal sebagai bagian penting sebelum lulusan memasuki arena seleksi. Soft skill, daya adaptasi, pemahaman terhadap kultur profesional, hingga strategi menghadapi proses perekrutan menjadi elemen yang terus diasah agar alumni tidak datang sebagai pelamar biasa, tetapi sebagai kandidat yang memahami lanskap kerja yang akan mereka masuki.

Pendekatan semacam ini menunjukkan bahwa Universitas Mulia berupaya menjaga relevansi pendidikan dengan realitas industri. Dunia perbankan, misalnya, tidak hanya menuntut kemampuan administratif, tetapi juga integritas, kecakapan interpersonal, dan kesiapan menghadapi ritme profesional yang kompetitif. Dalam konteks itulah, Career Development Center berperan sebagai simpul transisi—mengubah pengalaman akademik menjadi kesiapan kerja yang lebih terukur.

Pelaksanaan Walk-in Interview BRILian Banking Associate Program (BBAP) Bank BRI bersama Pusat Karir Universitas Mulia di Ruang Executive White Campus menjadi ruang temu antara kesiapan lulusan dan kebutuhan industri perbankan.

Dari pelaksanaan walk-in interview tersebut, sejumlah alumni diketahui melanjutkan ke tahap seleksi berikutnya. Capaian ini menjadi indikator bahwa proses pembekalan yang dilakukan kampus memiliki keterhubungan dengan ekspektasi industri. Bagi Universitas Mulia, keberhasilan semacam itu bukan semata persoalan diterima bekerja, melainkan penanda bahwa lulusan mampu memasuki sistem seleksi eksternal dengan fondasi yang memadai.

Ke depan, Career Development Center Universitas Mulia memandang kolaborasi dengan Bank BRI sebagai hubungan strategis yang perlu dirawat secara berkelanjutan. Orientasinya tidak berhenti pada penyelenggaraan wawancara kerja, tetapi diarahkan pada terbentuknya jalur konektivitas yang lebih kuat antara alumni dan kebutuhan industri, termasuk melalui pelatihan, pembekalan kompetensi, serta pengembangan sumber daya manusia yang lebih selaras dengan dinamika sektor profesional.

Langkah tersebut memperlihatkan arah yang semakin jelas: Universitas Mulia tidak hanya berfokus pada proses akademik di dalam kampus, tetapi juga pada bagaimana lulusan bergerak setelahnya. Di tengah persaingan tenaga kerja yang semakin selektif, kekuatan institusi tidak hanya diukur dari jumlah wisudawan, melainkan dari kemampuannya menyiapkan lulusan agar mampu memasuki dunia profesional dengan kesiapan, pemahaman, dan posisi tawar yang lebih baik.

Melalui peran Career Development Center Universitas Mulia bagai representasi mutu institusi di hadapan dunia industri. (YMN)