“Auditor mutu internal yang bersertifikat bukan sekadar penjamin kepatuhan, tetapi menjadi early warning system Universitas Mulia dalam menjaga integritas akademik, memperkuat akuntabilitas, dan memastikan setiap langkah tata kelola pendidikan selaras dengan standar nasional maupun global.”Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si., Rektor Universitas Mulia

Balikpapan, 11 September 2025 – Universitas Mulia menggelar Pelatihan Sertifikasi Auditor Mutu Internal (AMI) selama dua hari, Rabu–Kamis (10–11/9/2025) di ruang Executive White Campus. Rektor Universitas Mulia, Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si., menegaskan bahwa program ini memiliki urgensi strategis dalam memperkuat Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) yang selaras dengan siklus PPEPP sebagaimana diamanatkan Permendiktisaintek Nomor 39 Tahun 2025.

Menurut Prof. Ahsin, auditor bersertifikat tidak hanya berperan sebagai pengawal kepatuhan terhadap standar nasional maupun internal, tetapi juga menjadi early warning system untuk mendeteksi potensi penyimpangan dalam pengelolaan akademik, kurikulum, dan pelaporan PDDIKTI. Lebih jauh, ia menekankan bahwa hasil audit menjadi rujukan penting dalam penyusunan Laporan Evaluasi Diri (LED) dan Laporan Kinerja Program Studi (LKPS), sehingga memiliki kontribusi langsung terhadap peningkatan mutu dan peringkat akreditasi Universitas Mulia.

Rektor Universitas Mulia Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si. (tengah) menyampaikan urgensi Sertifikasi Auditor Mutu Internal (AMI), didampingi Kepala LPMPP Universitas Mulia, Jamal, S.Kom., M.Kom. (kiri), bersama pemateri pelatihan dari Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, Heri Susanto, S.Pd., M.Pd.

Ia menambahkan, pelatihan sertifikasi AMI juga sejalan dengan visi Universitas Mulia sebagai kampus unggul dan inovatif. Peningkatan kompetensi sumber daya manusia di bidang penjaminan mutu diyakini akan memperkuat akuntabilitas, memperkokoh tata kelola universitas, serta mendorong tumbuhnya budaya mutu yang berkesinambungan. Selain itu, integrasi inovasi teknologi dalam proses audit disebut sebagai langkah penting untuk memperkuat identitas Universitas Mulia sebagai perguruan tinggi berbasis technopreneurship yang berorientasi pada pencapaian Indonesia Emas 2045.

Lebih lanjut, Prof. Ahsin menegaskan bahwa Sertifikasi AMI harus dipahami sebagai bagian dari roadmap jangka panjang universitas dalam tata kelola mutu pendidikan tinggi. Kehadiran auditor yang tersertifikasi tidak semata memenuhi kewajiban regulatif, tetapi menjadi instrumen kunci untuk memperkuat budaya mutu, meningkatkan akuntabilitas, dan mendorong inovasi dalam pengelolaan akademik.

Peserta pelatihan Sertifikasi Auditor Mutu Internal (AMI) memanjatkan doa bersama yang dipimpin oleh Drs. H. Achmad Prijanto sebelum acara dimulai.

“Setelah mengikuti sertifikasi ini, peserta tidak hanya sekadar memperoleh pengakuan kompetensi, tetapi juga memikul peran sebagai garda depan Universitas Mulia dalam menjaga dan meningkatkan mutu pendidikan tinggi secara berkelanjutan,” ujarnya.

Dalam konteks akreditasi, Prof. Ahsin menegaskan bahwa Sertifikasi AMI secara langsung meningkatkan kesiapan Universitas Mulia menghadapi akreditasi nasional maupun internasional. Hal ini dimungkinkan karena auditor bersertifikat mampu memastikan penerapan SPMI secara menyeluruh, menyajikan data dan dokumentasi mutu yang akurat, sekaligus menumbuhkan budaya evaluasi dan perbaikan berkelanjutan. Auditor yang kompeten juga diyakini dapat menghadirkan bukti sahih bagi LED dan LKPS, memperkuat proses visitasi BAN-PT maupun LAM, serta menyiapkan kampus untuk memenuhi standar mutu global.

Dengan demikian, pelatihan sertifikasi AMI yang digelar Universitas Mulia diposisikan sebagai upaya sistematis untuk memperkuat tata kelola mutu, mempercepat pencapaian akreditasi unggul, sekaligus mewujudkan visi universitas sebagai perguruan tinggi unggul dan inovatif. (YMN)

Balikpapan, 11 September 2025 – Universitas Mulia menyelenggarakan Pelatihan Sertifikasi Auditor Mutu Internal (AMI) selama dua hari, 10–11 September 2025, di Ruang Executive, White Campus. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya sistematis kampus dalam memperkuat tata kelola mutu akademik dan meningkatkan daya saing institusi.

Dekan Fakultas Hukum Universitas Mulia, Budiarsih, SH., M.Hum., Ph.D., menekankan bahwa keberadaan AMI tidak dapat dipandang sebagai sekadar formalitas administrasi, melainkan instrumen strategis untuk memastikan akuntabilitas serta kepuasan seluruh pemangku kepentingan. “Audit Mutu Internal memiliki fungsi penting dalam menjaga kualitas pendidikan, khususnya di Fakultas Hukum. AMI menjadi jembatan antara kebutuhan stakeholders dan proses akademik yang berlangsung di fakultas,” ungkapnya.

Peserta mengikuti sesi pelatihan Sertifikasi AMI di Ruang Executive Gedung White Campus Universitas Mulia.

Menurutnya, tantangan utama dalam menjaga mutu akademik tidaklah sederhana. Keterbatasan sumber daya, perubahan kurikulum yang cepat, hingga variasi kualitas dosen masih menjadi pekerjaan rumah yang harus ditangani serius. “Jika tidak diimbangi dengan mekanisme evaluasi yang tepat, tantangan ini dapat menghambat peningkatan kualitas pembelajaran,” tambahnya.

Dalam kerangka tersebut, AMI berperan untuk menutup celah kelemahan melalui evaluasi menyeluruh terhadap proses pembelajaran, pengelolaan kurikulum, hingga peningkatan kompetensi dosen. Budiarsih menegaskan bahwa audit yang dilakukan secara konsisten dapat membantu fakultas mengidentifikasi kekurangan, memperbaiki tata kelola, sekaligus meningkatkan akuntabilitas.

Lebih jauh, ia menjabarkan strategi agar AMI dapat diterapkan secara efektif di fakultas. Di antaranya adalah komitmen pimpinan, pembentukan tim AMI yang kompeten, pelatihan berkelanjutan bagi dosen dan tenaga kependidikan, serta keterlibatan aktif mahasiswa. “AMI harus hadir bukan hanya di ruang dokumen, tetapi juga terintegrasi dalam denyut keseharian civitas akademika,” tegasnya.

Pelaksanaan AMI, lanjut Dr. Budiarsih, tidak terlepas dari tujuan jangka panjang peningkatan akreditasi fakultas. Dokumen hasil audit dapat menjadi bukti otentik bahwa proses evaluasi dan perbaikan mutu berjalan nyata. “Lebih dari sekadar dokumen, AMI adalah refleksi kesungguhan fakultas dalam mengembangkan sistem mutu, meningkatkan kepercayaan stakeholder, sekaligus memperkuat posisi kita menuju akreditasi unggul,” jelasnya.

Fakultas Hukum sendiri telah merancang bentuk kerja Lembaga Penjaminan Mutu Fakultas (LPMF) yang meliputi pengembangan sistem mutu terintegrasi, evaluasi berkala, serta pertukaran pengalaman dalam praktik penjaminan mutu. Upaya tersebut dimaksudkan agar budaya mutu tidak berhenti di level wacana, melainkan melekat dalam perilaku akademik sehari-hari.

Dr. Budiarsih menekankan pentingnya keterlibatan mahasiswa dalam membangun budaya mutu. Partisipasi mahasiswa dalam proses audit, kesediaan mengikuti pelatihan, hingga pengawasan bersama terhadap kualitas pembelajaran merupakan langkah strategis agar budaya mutu tumbuh dari bawah. “Mahasiswa tidak hanya penerima manfaat mutu, tetapi juga agen yang memastikan mutu itu terus berkembang,” ujarnya.

Kegiatan sertifikasi ini menghadirkan narasumber dari Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, dengan agenda pelatihan materi di hari pertama dan ujian sertifikasi pada hari kedua. Universitas Mulia menaruh harapan besar bahwa para peserta dapat menjadi auditor internal bersertifikat yang mampu membawa semangat budaya mutu ke seluruh fakultas dan unit kerja.

Dengan demikian, pelatihan AMI tahun ini tidak hanya menjadi rutinitas akademik, tetapi juga momentum penting untuk meneguhkan komitmen Universitas Mulia dalam membangun tata kelola pendidikan yang kredibel, akuntabel, dan berorientasi pada keberlanjutan mutu. (YMN)

Universitas Mulia, 10 September 2025 – Pelatihan Sertifikasi Auditor Mutu Internal (AMI) yang tengah berlangsung di Universitas Mulia menyoroti urgensi kompetensi auditor sebagai “pengawal mutu” perguruan tinggi. Hal ini ditegaskan oleh salah satu narasumber, Muzdalifah, SP., M.Sc., yang menilai auditor internal berperan strategis memastikan seluruh proses akademik dan non-akademik berjalan sesuai standar Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI), Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SN-Dikti), dan regulasi terkini, termasuk Permendikbudristek No. 53 Tahun 2023.

Muzdalifah, SP., M.Sc., salah seorang pemateri Pelatihan Sertifikasi Auditor Mutu Internal di Universitas Mulia dari Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin.

“Kompetensi auditor menentukan kredibilitas AMI sekaligus kualitas tata kelola perguruan tinggi. Auditor yang kompeten mampu mengidentifikasi kesenjangan antara standar dan praktik, memberikan rekomendasi perbaikan yang berorientasi pada peningkatan berkelanjutan, dan menjadi mitra strategis pimpinan dalam mempersiapkan akreditasi baik nasional maupun internasional,” jelas Muzdalifah.

Ia menekankan perbedaan signifikan antara auditor tersertifikasi dan yang belum. Auditor tersertifikasi memiliki pengakuan formal atas pengetahuan dan keterampilan sesuai standar pelatihan, memahami metodologi audit berbasis standar, serta memiliki kredibilitas yang lebih tinggi. “Sementara auditor yang belum tersertifikasi sering kali bekerja tanpa kerangka acuan baku, rawan bias dalam interpretasi, dan hasil auditnya kurang kuat untuk dijadikan dasar pengambilan keputusan strategis,” ujarnya.

Di tengah arus globalisasi dan digitalisasi pendidikan, AMI menurutnya harus bersifat adaptif. Perguruan tinggi dituntut mengintegrasikan teknologi melalui e-audit, dashboard mutu, dan big data monitoring. Selain itu, benchmarking terhadap standar internasional seperti ISO 21001:2018, AUN-QA, hingga European Standards and Guidelines (ESG) menjadi penting agar mutu internal sejalan dengan praktik global.

“Kompetensi digital auditor menjadi kebutuhan mendesak. Mereka harus mampu menilai implementasi e-learning, hybrid learning, digital governance, serta sistem informasi akademik. Tanpa itu, sulit bagi kampus untuk memetakan gap internasionalisasi seperti publikasi, kurikulum global, dan kolaborasi riset,” terang Muzdalifah.

Meski demikian, ia tidak menutup mata terhadap kelemahan yang masih jamak terjadi di banyak perguruan tinggi, termasuk Universitas Mulia. Jumlah auditor bersertifikat masih terbatas, budaya mutu belum mengakar, dokumentasi belum sistematis, hingga tindak lanjut rekomendasi audit yang kerap lemah. “Lebih parah lagi, keberlangsungan AMI sering kali bergantung pada segelintir individu, bukan pada sistem yang mapan,” kritiknya.

Sebagai solusi, ia mendorong universitas mengacu pada standar internasional seperti ISO 9001:2015, ISO 21001:2018, AUN-QA, hingga Baldrige Excellence Framework untuk memperkuat kredibilitas audit mutu internal. Standar-standar tersebut tidak hanya menjadi rujukan teknis, tetapi juga kerangka kerja untuk memastikan perguruan tinggi memiliki sistem mutu yang diakui secara global.

Pelatihan Sertifikasi AMI ini diharapkan tidak sekadar formalitas, melainkan pijakan nyata membangun budaya mutu di Universitas Mulia. “Mutu itu bukan sekadar dokumen akreditasi. Ia harus hidup dalam praktik sehari-hari, dari ruang kuliah, layanan administrasi, hingga strategi internasionalisasi,” pungkas Muzdalifah. (YMN)

Balikpapan, 19 Agustus 2025 – Pelantikan pejabat struktural Universitas Mulia pada 15 Agustus 2025 lalu menjadi titik strategis dalam penguatan tata kelola sumber daya manusia. Wakil Rektor Bidang Sumberdaya, Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I., mengatakan bahwa setiap penetapan pejabat dilakukan melalui seleksi berbasis data yang ketat, dengan menimbang rekam jejak akademik, pengalaman relevan, serta wawancara mendalam untuk menguji kapasitas kepemimpinan.

Tujuh pejabat struktural Universitas Mulia yang baru dilantik berfoto bersama usai pembacaan SK dan penyebutan nama oleh Wakil Rektor Bidang Sumberdaya.

“Kami tidak hanya melihat prestasi akademik, tetapi juga menilai pengalaman profesional yang menunjukkan kedewasaan manajerial. Wawancara diperlukan untuk mengukur kesiapan mereka menghadapi tantangan organisasi,” jelasnya.

Wibisono menekankan bahwa ukuran keberhasilan pejabat struktural tidak dapat direduksi menjadi capaian administratif semata. Rencana kerja tahunan memang penting, tetapi substansi sesungguhnya terletak pada kemampuan seorang pemimpin membangun kohesi tim, mengarahkan energi kolektif, dan menghadirkan kepemimpinan yang visioner. “Seorang pejabat harus mampu menciptakan iklim kerja yang sehat, sekaligus memastikan arah unit tetap sejalan dengan tujuan universitas,” ujarnya.

Lebih jauh, ia menolak gagasan bahwa pejabat hanya berperan sebagai pengelola administrasi. Mereka dituntut tampil sebagai penggerak utama yang menyalurkan nilai-nilai universitas sekaligus membuka ruang inovasi. “Tugas mereka bukan sekadar menjaga kelancaran administrasi, melainkan membawa perubahan yang relevan dengan kebutuhan dan perkembangan organisasi. Karena itu, kami menyiapkan pengembangan yang mencakup kompetensi teknis, penguatan keilmuan, dan latihan manajerial,” terangnya.

Rektor Universitas Mulia Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si. secara resmi melantik tujuh pejabat struktural baru di lingkungan UM.

Menyinggung aspek efisiensi, Wibisono menjelaskan bahwa desain organisasi Universitas Mulia telah dirumuskan untuk menghindari tumpang tindih peran antara dosen dan tenaga kependidikan. Posisi yang menuntut ketersediaan tinggi dialokasikan kepada tenaga kependidikan, sementara jabatan strategis lain diisi oleh dosen tetap. Dengan skema ini, dosen tetap dapat menjalankan kewajiban akademik tanpa mengorbankan fungsi administratif universitas.

Selain itu, ia menegaskan bahwa pembinaan pejabat struktural tidak berhenti pada saat pelantikan. Universitas telah merancang evaluasi berkala yang disertai mekanisme pengembangan berkesinambungan. “Evaluasi tidak hanya menilai hasil kerja, tetapi juga memantau konsistensi kepemimpinan. Kami melengkapi pembinaan dengan rotasi, mutasi, dan promosi, agar SDM potensial memiliki jalur untuk tumbuh dan mengasah kepemimpinannya,” ungkap Wibisono.

Wawancara ini memperlihatkan bahwa Universitas Mulia menempatkan jabatan struktural sebagai arena kepemimpinan strategis. Penetapan pejabat tidak dipandang sebagai distribusi administratif, melainkan sebagai investasi jangka panjang untuk menjaga kesinambungan visi institusi. Dengan seleksi berbasis kompetensi, program pengembangan yang terarah, distribusi peran yang proporsional, dan evaluasi yang disiplin, universitas berupaya membangun ekosistem kepemimpinan yang berkarakter dan berdaya tahan.

Seluruh pimpinan Universitas Mulia bersama pimpinan Yayasan Airlangga berfoto bersama usai prosesi pelantikan pejabat struktural.

Bagi para pejabat yang baru dilantik, amanah ini bukanlah sekadar jabatan, melainkan kesempatan untuk mengukir jejak kepemimpinan yang bermakna. Di pundak mereka terletak tanggung jawab untuk menjaga kualitas, menegakkan integritas, dan menghadirkan inovasi. Universitas berharap, setiap pejabat dapat menjadikan kepercayaan ini sebagai panggilan pengabdian, bukan hanya untuk institusi, tetapi juga untuk generasi yang akan datang. (YMN)

Balikpapan, 19 Agustus 2025– Sejak pukul 07.00 WITA, suasana di Ballroom Chengho dan Gedung Domein Universitas Mulia tampak berbeda. Ratusan mahasiswa baru Tahun Akademik 2025/2026 berdatangan dengan wajah penuh antusias. Mereka tampil seragam mengenakan kemeja putih lengan panjang dipadu bawahan hitam, serta syal warna-warni—merah, kuning, biru, dan hijau—yang membedakan masing-masing jurusan. Warna-warni syal itu menambah semarak ruangan yang dipenuhi semangat generasi baru.

Suasana di Ballroom Chenghoo saat mahasiswa baru Universitas Mulia 2025 memadati ruang acara pembukaan PKKMB.

Acara dibuka dengan sambutan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Sumardi, S.Kom., M.Kom., yang menekankan pentingnya kreativitas mahasiswa baru. Ia menjelaskan bahwa rangkaian PKKMB 2025 akan berlangsung hingga Sabtu, 23 Agustus 2025, dengan puncak kegiatan berupa inagurasi.

Personel Himpunan Mahasiswa membawa bendera Merah Putih dan panji fakultas masing-masing menuju panggung, menandai dimulainya prosesi pengukuhan mahasiswa baru.

“Setiap mahasiswa pasti mempunyai potensi. Inagurasi akan menjadi ajang bagi mereka untuk tampil maksimal, dan panitia telah menyiapkan hadiah bagi pemenang lomba,” ungkapnya, disambut riuh tepuk tangan peserta.

Direktur Eksekutif BPH Yayasan Airlangga, Dr. Agung Sakti Pribadi, S.H., M.H. (berbatik biru), bersama Rektor Universitas Mulia, Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si., serta jajaran dekan, berdiri di atas panggung menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Direktur Eksekutif BPH Yayasan Airlangga, Dr. Agung Sakti Pribadi, S.H., M.H., mengingatkan pentingnya nilai kebangsaan dan toleransi dalam kehidupan akademik. Ia menuturkan kepada 741 mahasiswa baru yang hadir, bahwa keberagaman adalah ciri khas sekaligus kekuatan bangsa Indonesia.

Sambutan oleh Direktur Eksekutif BPH Yayasan Airlangga, Dr. Agung Sakti Pribadi, S.H., M.H., pada pembukaan PKKMB Universitas Mulia 2025.

“Empat puluh tahun lalu, PKKMB lebih banyak membahas wawasan kebangsaan, Bhinneka Tunggal Ika, menyatukan negeri yang memiliki 7.500 pulau, 300 suku, dan 700 bahasa. Indonesia adalah negeri yang toleran karena sejak lama kita terbiasa hidup dalam keberagaman. Semua adalah saudara sebangsa dan setanah air,” tegasnya.

Rektor Universitas Mulia, Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si., memasangkan jaket almamater kepada perwakilan mahasiswa baru sebagai simbol pengukuhan MABA 2025.

Prosesi pengukuhan mahasiswa baru menjadi momen sakral yang dinanti. Dua perwakilan mahasiswa, Arya Muhammad dari Fakultas Ilmu Komputer dan Nina Hidayati dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, maju ke panggung dengan syal warna jurusan masing-masing. Rektor Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si., kemudian memakaikan jas almamater secara simbolis kepada keduanya. Seluruh mahasiswa baru berdiri, mengucapkan Janji Mahasiswa Baru, dan bersama-sama menyanyikan lagu Padamu Negeri ciptaan Kusbini. Nuansa ruangan seketika berubah khidmat, seolah menyatukan semangat kebangsaan dengan ikrar akademik.

Rektor Universitas Mulia, Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si., berfoto bersama perwakilan mahasiswa baru: Arya Muhammad (Fakultas Ilmu Komputer) dan Nina Hidayati (Fakultas Ekonomi dan Bisnis) usai prosesi pengukuhan.

Dalam sambutannya sekaligus membuka resmi PKKMB 2025, Rektor menyampaikan apresiasi kepada panitia serta rasa bangga karena tahun ini mahasiswa dari PSDKU Samarinda turut hadir.

Sambutan Rektor Universitas Mulia, Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si., dalam rangkaian acara PKKMB 2025.

“Alhamdulillah, sekitar 60 mahasiswa dari PSDKU Samarinda hadir mengikuti kegiatan PKKMB. Ini menjadi kebanggaan tersendiri karena untuk pertama kalinya mereka dapat bergabung dalam kegiatan bersama di kampus utama,” ungkapnya.

Rektor menekankan bahwa PKKMB bukan hanya agenda tahunan, melainkan pintu masuk ke dunia akademik yang berbeda dari masa SMA/SMK. Ia menjelaskan bahwa dunia kampus memiliki ekosistem tersendiri yang menuntut mahasiswa untuk lebih mandiri, kritis, dan adaptif.

Dr. Agung Sakti Pribadi, S.H., M.H. (berbatik biru), Direktur Eksekutif BPH Yayasan Airlangga, bersama Rektor Universitas Mulia dan jajaran rektorat berdiri di atas panggung dengan khidmat menyanyikan Indonesia Raya.

“Di SMA atau SMK, banyak hal masih diarahkan guru. Di kampus, kalian harus berinisiatif, mampu berkomunikasi, berkolaborasi, dan mengelola waktu dengan matang. Inilah alasan mengapa PKKMB menjadi sangat penting, agar sebelum perkuliahan dimulai kalian sudah dibekali cara menghadapi dunia kampus,” jelasnya.

Beliau kemudian menyampaikan empat pesan utama:

  1. Belajar dengan integritas. Hindari segala bentuk plagiarisme sejak awal, karena itu merusak martabat akademik.
  2. Kembangkan diri melalui MBKM dan technopreneurship. Manfaatkan peluang magang di industri, proyek pembangunan di desa, atau riset kolaboratif lintas kampus untuk mengasah keterampilan nyata. Universitas Mulia menyediakan jalur-jalur ini agar mahasiswa dapat belajar langsung dari lapangan.
  3. Bangun karakter kolaboratif. Dunia kerja tidak hanya menuntut kecerdasan akademik, tetapi juga kemampuan bekerja sama, berpikir kritis, dan memimpin dengan empati.
  4. Manfaatkan ekosistem kampus. Organisasi kemahasiswaan seperti BEM, HIMA, UKM, hingga Inkubator Bisnis adalah ruang belajar kepemimpinan, kreativitas, dan technopreneurship.

Selain itu, Rektor mengingatkan bahwa kampus dilindungi Undang-Undang Kebebasan Akademik dan Mimbar Akademik. Mahasiswa bebas menyampaikan pendapat dan berdebat secara ilmiah mengenai isu-isu bangsa, termasuk politik dan ekonomi, selama tidak menimbulkan fitnah.

“Di kampus ini, kalian dilindungi oleh Undang-Undang Kebebasan Akademik. Jangan ragu berdebat secara akademis, gunakan ruang ini untuk membangun tradisi intelektual,” tegasnya.

Mahasiswa baru Universitas Mulia 2025 membacakan Ikrar MABA sebagai wujud komitmen integritas dan tanggung jawab akademik.

Menutup sambutannya, Rektor mendorong mahasiswa baru untuk menjadi generasi yang berprestasi, berakhlak mulia, dan berkontribusi nyata.

“Kalian tidak hanya dituntut menjadi pencari kerja, tetapi pencipta lapangan kerja, inovator, dan penggerak pembangunan. Mari kita jadikan Universitas Mulia sebagai rumah ilmu dan karya, membekali kalian menghadapi tantangan global sekaligus berakar kuat pada nilai-nilai luhur bangsa dan kearifan lokal Kalimantan Timur,” pungkasnya. (YMN)

Balikpapan, 17 Agustus 2025 – Universitas Mulia melaksanakan upacara bendera memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Republik Indonesia pada Minggu, 17 Agustus 2025. Upacara ini menjadi istimewa karena seluruh petugas berasal dari mahasiswa baru (Maba), yang untuk pertama kalinya mengemban tugas penting sebagai pengibar bendera Merah Putih.

Jajaran pimpinan Universitas Mulia tampak rapi berbaris, khidmat mengikuti jalannya upacara bendera memperingati HUT ke-80 Republik Indonesia.

Ketua Panitia Upacara, Drs. Achmad Prijanto, menjelaskan bahwa persiapan kali ini tidak lepas dari sejumlah tantangan. Salah satunya adalah membangun kesadaran mahasiswa baru untuk bersedia menjadi petugas, meskipun mereka memiliki latar belakang sebagai mantan anggota Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) di sekolah asal.

“Sebagian dari mereka sempat ragu terhadap kemampuannya, padahal sebenarnya mereka sudah terlatih. Selain itu, waktu persiapan relatif singkat dan Universitas Mulia juga belum memiliki fasilitas area upacara yang benar-benar memadai,” ungkapnya.

Dosen dan tenaga kependidikan Universitas Mulia ikut menegakkan sikap hormat, menandai semangat kebersamaan dan penghargaan terhadap perjuangan para pahlawan bangsa.

Meskipun demikian, pelatihan yang berlangsung hanya tiga hari tetap berjalan efektif. Para petugas dinilai memiliki kemampuan dasar baris-berbaris yang baik sehingga latihan lebih difokuskan pada kekompakan dan penyamaan gerakan.

Para pengurus BEM, HIMA, dan anggota UKM terlihat kompak berbaris, menegaskan peran aktif organisasi kemahasiswaan dalam tradisi akademik dan nasionalisme kampus.

“Nilai yang ingin ditanamkan bukan sekadar keterampilan teknis, melainkan juga kebersamaan, tanggung jawab, disiplin, dan cinta tanah air,” tambah Achmad.

Ratusan mahasiswa baru memadati lapangan basket dan halaman belakang Gedung Cheng Hoo, siap mengikuti upacara bendera dengan penuh semangat dan antusiasme.

Ia menegaskan bahwa upacara bendera di lingkungan perguruan tinggi tidak boleh dipandang sebatas kegiatan seremonial. Ada makna edukatif yang jauh lebih mendalam, yaitu prinsip pendidikan Ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani. Prinsip ini, menurutnya, akan membentuk mahasiswa baru sebagai calon pemimpin bangsa yang mampu menjadi teladan, penggerak, sekaligus motivator bagi lingkungannya.

Mahasiswa baru mempraktekkan formasi dan koreografi baris-berbaris melingkar, sebagai persiapan terakhir sebelum upacara dimulai, menunjukkan kedisiplinan dan kerja sama tim.

Lebih jauh, Achmad menekankan pentingnya momentum upacara bendera untuk menumbuhkan kesadaran berbangsa dan bernegara di kalangan sivitas akademika.

“Ini adalah wujud penghormatan kita kepada para pahlawan yang telah berjuang tanpa pamrih untuk kemerdekaan bangsa,” ujarnya.

Khusus bagi mahasiswa baru, ia menyampaikan pesan agar mereka tumbuh sebagai generasi milenial yang tangguh, disiplin, rela berkorban, serta memiliki kecintaan yang mendalam terhadap tanah air.

“Kita berharap pengalaman ini tidak hanya membekas pada saat upacara, tetapi menjadi fondasi karakter mereka selama menempuh pendidikan di Universitas Mulia,” tutupnya.

Rektor Universitas Mulia Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifai, M.Si. memimpin khidmat pembacaan teks Pancasila, menjadi momen reflektif bagi seluruh civitas akademika untuk meneguhkan komitmen kebangsaan.

Saat Sang Merah Putih perlahan menguasai langit kampus, kita diingatkan bahwa kemerdekaan bukanlah hadiah, melainkan amanah yang harus dijaga dengan ilmu dan pengabdian. Universitas Mulia ingin menjadikan momentum ini sebagai pengikat janji, mendidik generasi yang berpikir jernih, berhati jujur, dan berani berdiri untuk bangsanya. Dari ruang akademik inilah, diharapkan lahir pemimpin-pemimpin muda yang mampu merangkai masa depan Indonesia dengan kejernihan akal dan ketulusan jiwa. (YMN)

Balikpapan, 15 Agustus 2025 — Siang itu, langit Balikpapan terlihat cerah, seakan ikut menyambut momen penting di Universitas Mulia. Di Ballroom Cheng Hoo, suasana telah tertata rapi sejak pagi. Latar panggung yang elegan dihiasi layar megatron, menampilkan identitas acara “Pelantikan Pejabat Struktural Universitas Mulia” dengan warna dan tipografi yang tegas. Kursi-kursi disusun berderet rapi, memancarkan nuansa formal namun tetap hangat. Para tamu undangan, yang sebagian besar mengenakan batik dengan motif beragam, duduk dengan tenang sambil berbincang ringan menunggu prosesi dimulai.

Rektor Universitas Mulia, Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si., menyampaikan sambutan penuh motivasi kepada para pejabat baru di Ballroom Cheng Hoo.

Ketika acara dibuka, doa bersama dipanjatkan dengan khusyuk, memohon ridha dan pertolongan Allah agar para pejabat yang akan dilantik senantiasa diberi kekuatan, kesehatan, dan kebijaksanaan dalam mengemban tugas. Lalu, hadirin berdiri untuk menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Suara yang bergema serentak menciptakan nuansa patriotik yang seakan menguatkan pesan bahwa pengabdian di dunia pendidikan juga bagian dari pengabdian kepada bangsa.

Wakil Rektor Bidang Sumberdaya, Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I., membacakan Surat Keputusan beserta lampirannya dengan khidmat.

Wakil Rektor Bidang Sumber Daya, Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I., kemudian membacakan Surat Keputusan dan lampirannya yang menetapkan nama-nama pejabat baru. Dengan intonasi yang mantap, ia menyebut satu per satu pejabat yang dilantik:

  1. Kepala LPPM: Dr. Mada Aditia Wardhana, S.Sos., M.M.
  2. Kepala LPMPP: Jamal, S.Kom., M.Kom.
  3. Dekan Fakultas Hukum: Budiarsih, S.H., M.Hum., Ph.D.
  4. Dekan Fakultas Teknik: Dr. Pascarianto Putra Bura, S.T., M.Eng.
  5. Kepala Unit Pengelola RPL: Dr. Sudarmo, S.H., M.M.
  6. Kabag. Akreditasi pada LPMPP: Novi Indrayani, S.Kom., M.MT.
  7. Kabag. Pengembangan Pendidikan pada LPMPP: Ekki Satria Jaya, S.E., M.Si.Ak., C.FA.

Ketujuh pejabat tersebut kemudian maju ke panggung. Mereka mengenakan jas merah marun almamater Universitas Mulia, melangkah dengan tenang namun penuh wibawa. Di hadapan Rektor, Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si., mereka mengucapkan sumpah jabatan dengan suara yang mantap. Kata demi kata yang keluar bukan sekadar formalitas, tetapi sebuah ikrar moral yang mengikat diri mereka pada amanah yang akan dijalankan hingga Februari 2027.

Rektor Universitas Mulia, Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifai, M.Si., memimpin prosesi pelantikan pejabat baru secara resmi.

Dalam sambutannya, Rektor menyampaikan harapan agar para pejabat yang dilantik dapat bekerja dengan penuh dedikasi, mengedepankan inovasi, dan memperkuat koordinasi lintas unit. Ia menegaskan bahwa kepemimpinan di lingkungan universitas bukan hanya soal menjalankan fungsi administratif, tetapi juga menginspirasi dan memberi arah bagi kemajuan bersama.

Rektor Universitas Mulia, Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifai, M.Si. menyerahkan Surat Keputusan kepada Kepala LPPM UM, Dr. Mada Aditia Wardhana, S.Sos., M.M., disaksikan oleh Direktur Eksekutif BPH Yayasan Airlangga, Dr. Agung Sakti Pribadi, S.H., M.H.

Selesai prosesi, Direktur Eksekutif Badan Pengelola Harian Yayasan Airlangga, Dr. Agung Sakti Pribadi, S.H., M.H., memberikan pernyataan yang menekankan pentingnya pelantikan ini dalam kerangka penguatan tata kelola universitas.

“Pejabat struktural memegang peran strategis dalam menjaga kesinambungan dan stabilitas tata kelola, mulai dari aspek akademik hingga pengelolaan sumber daya. Mereka bertanggung jawab memastikan kebijakan universitas berjalan efektif, sehingga keberlangsungan dan perkembangan institusi dapat terjaga,” ujarnya.

Rektor menyerahkan SK Kepala LPMPP UM, Jamal, S.Kom., M.Kom., dengan kehadiran Direktur Eksekutif BPH Yayasan Airlangga sebagai saksi.

Beliau juga menyampaikan arahan strategis kepada para pejabat baru untuk memprioritaskan peningkatan kualitas akademik melalui inovasi kurikulum dan metode pembelajaran yang relevan dengan perkembangan zaman. Transparansi dalam pengelolaan universitas menjadi fokus penting, dengan implementasi sistem manajemen yang akuntabel serta pelaporan keuangan yang terbuka kepada publik.

Penyerahan SK kepada Kepala Unit Pengelola RPL, Dr. Sudarmo, S.H., M.M., dilakukan langsung oleh Rektor dan disaksikan oleh Direktur Eksekutif BPH Yayasan Airlangga.

“Dalam menghadapi tantangan regulasi pendidikan tinggi dan persaingan antar perguruan tinggi, yayasan memastikan dukungan kebijakan dan sumber daya secara berkelanjutan. Dukungan ini meliputi pengembangan sumber daya manusia melalui pelatihan profesional, kebijakan yang mendorong inovasi akademik, hingga penyediaan sumber daya finansial yang memadai,” jelasnya.

Dr. Agung menekankan bahwa kepemimpinan transformatif sangat dibutuhkan agar universitas mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. “Pemimpin transformatif tidak hanya mengatur, tetapi juga menginspirasi dan memotivasi staf serta mahasiswa, sekaligus membentuk visi dan misi universitas yang relevan dengan kebutuhan era ini,” tambahnya.

Rektor dan Direktur Eksekutif BPH Yayasan Airlangga memberikan ucapan selamat dan berjabat tangan dengan para pejabat yang baru dilantik.

Di akhir pesannya, ia mengingatkan pentingnya komitmen integritas dan pengabdian terhadap institusi. “Integritas dan pengabdian adalah landasan dalam menjalankan tugas. Dengan itu, universitas dapat terus dipercaya dan diperhitungkan di tingkat nasional maupun internasional,” tegasnya.

Acara berakhir dengan sesi ucapan selamat dari pimpinan yayasan, pimpinan universitas, dan para undangan kepada pejabat yang dilantik. Senyum, jabat tangan, dan ungkapan doa mengalir, menandai awal perjalanan baru yang penuh tantangan sekaligus peluang bagi mereka yang dipercaya memegang tonggak kepemimpinan struktural di Universitas Mulia.

Momen foto bersama pimpinan yayasan, pimpinan universitas, dan para tamu undangan sebagai penutup acara.

Pelantikan pejabat struktural ini menjadi salah satu langkah strategis dalam mewujudkan visi Universitas Mulia sebagai perguruan tinggi unggul, inovatif, dan berdaya saing global. Dengan struktur kepemimpinan yang diperkuat melalui kader-kader akademik dan profesional yang mumpuni, universitas diharapkan mampu mempercepat pencapaian target mutu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Sinergi antara pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, dan seluruh pemangku kepentingan akan menjadi kunci dalam membangun ekosistem akademik yang adaptif terhadap perkembangan zaman, sekaligus teguh pada nilai-nilai integritas, kolaborasi, dan keberlanjutan.

(YMN)

Balikpapan, 11 Agustus 2026 – Program Studi Teknologi Informasi Universitas Mulia memperoleh dukungan fasilitas Digital Sandbox Lab melalui hibah PP-PTS 2025. Fasilitas ini diharapkan mampu memperkuat ekosistem pembelajaran dan riset di bidang teknologi informasi, khususnya dalam simulasi kasus nyata seperti keamanan siber dan cloud computing.

Kaprodi Teknologi Informasi, Agus Wijayanto, S.Kom., M.Kom., menyampaikan bahwa Digital Sandbox Lab memberikan ruang isolasi yang memungkinkan mahasiswa melakukan simulasi dan eksperimen berbasis kasus nyata tanpa mengganggu sistem lain. “Ekosistem atau lingkungan Digital Sandbox Lab ini bisa dimanfaatkan dalam pembelajaran seperti pada kasus simulasi keamanan siber atau cloud computing yang memerlukan ruang isolasi,” jelasnya.

Menurut Agus Wijayanto, fokus riset yang harus dicapai Prodi Teknologi Informasi mengacu pada profil lulusan, yaitu pada bidang network and cloud architecture serta cybersecurity. Sandbox Lab memberikan fleksibilitas bagi mahasiswa untuk melakukan eksperimen, seperti penetration testing, incident response, maupun digital forensics. Fasilitas ini mempermudah mahasiswa melakukan berbagai inovasi tanpa khawatir akan kerusakan sistem lain.

“Kami berharap, dengan adanya fasilitas ini mahasiswa dapat terdorong untuk membangun startup. Sandbox Lab dapat digunakan untuk proof of concept dan prototyping produk, mulai dari aplikasi berbasis cloud hingga solusi keamanan jaringan yang siap pakai,” tambahnya.

Lebih lanjut, Agus Wijayanto menekankan bahwa fokus saat ini adalah menyiapkan mahasiswa menghadapi revolusi industri dengan peningkatan kemampuan teknis, khususnya dalam cybersecurity serta network and cloud architecture, sekaligus meningkatkan kemampuan inovasi.

Selain itu, hibah ini membuka peluang kolaborasi lintas program studi di Fakultas Ilmu Komputer. Contohnya, mahasiswa dari program studi Informatika dengan fokus pada artificial intelligence (AI) atau data science dapat memanfaatkan fasilitas ini untuk mengelola dataset besar, melatih model machine learning, dan menguji deployment aplikasi AI di lingkungan cloud.

“Pada dasarnya kami berharap fasilitas hibah ini dapat dimanfaatkan untuk kebaikan mahasiswa Universitas Mulia,” tutup Agus Wijayanto. (YMN)

 

Humas Universitas Mulia, 2 Agustus 2025 Rabu, 30 Juli 2025, bukan sekadar tanggal dalam kalender akademik Universitas Mulia. Di ruang Townhall Hotel Midtown Express, berlangsung diskusi yang mengguncang cara berpikir lama tentang pembelajaran di perguruan tinggi. Prof. Dr. Lambang Subagiyo hadir bukan hanya sebagai narasumber, tapi sebagai pembuka jalan: membawa pendekatan design thinking yang selama ini akrab di dunia startup, ke dalam ranah mata kuliah wajib kurikulum (MKWK) seperti Pancasila, Kewarganegaraan, Agama, dan Bahasa Indonesia.

Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I., bersama Pramudya Prima Insan Prayitno, S.Kom., M.Kom—keduanya dosen MKU—tengah menyusun ulang RPS dengan pendekatan integratif berbasis OBE, PBL, PjBL, dan Design Thinking sebagai bagian dari upaya transformasi pembelajaran di Universitas Mulia.

Alih-alih mengulang narasi lama tentang pentingnya pendidikan karakter, Prof. Lambang memulai dengan sebuah pertanyaan mengusik: “Mengapa mahasiswa bisa cerdas secara teknologi, tapi gamang secara moral dan kebangsaan?” Pertanyaan itu menghantar para dosen MKWK dan MKU pada satu kesadaran bersama—bahwa metode ceramah dan hafalan tidak lagi memadai untuk menjawab tantangan era super smart society.

Yeyen Dwi Atma, S.Kom., M.Kom., tampak terlibat dalam diskusi intens bersama Prof. Dr. Lambang Subagiyo, membahas strategi integrasi pendekatan OBE, PBL, PjBL, dan Design Thinking ke dalam dokumen RPS.

Dalam paparannya, Prof. Lambang tidak banyak menggunakan jargon. Ia bicara tentang mahasiswa yang kehilangan jati diri karena terlalu lama diajak duduk mendengarkan, tanpa pernah diminta menyelesaikan masalah nyata. Ia menyodorkan design thinking sebagai metode yang menuntut empati, mendorong kreasi, dan memancing keberanian untuk menawarkan solusi.

Kepala Inkubator Bisnis Universitas Mulia, Dr. Linda Fauziyah Ariyani, S.Pd., M.Pd., terlihat tengah merefleksikan ulang pendekatan pembelajaran bisnis berbasis proyek dan solusi, dengan mengadopsi kerangka OBE, PBL, PjBL, dan Design Thinking.

“Kalau kita ingin mahasiswa punya nilai, maka mereka harus belajar dari persoalan yang bernilai,” tegasnya. “Bukan dari soal pilihan ganda, tapi dari isu di sekitar mereka: intoleransi, ujaran kebencian, etika digital, dan krisis moral publik.”

Lisda Agustia, S.Ag., M.Pd., mempresentasikan RPS Mata Kuliah Agama Islam yang telah diperbarui untuk mencerminkan pendekatan OBE, PBL, PjBL, dan Design Thinking sebagai respons terhadap kebutuhan pembelajaran abad ke-21.

Materi beliau membuka cara pandang baru tentang bagaimana MKWK bisa menjadi ruang transformasi, bukan sekadar ruang transmisi pengetahuan. Dengan menekankan proses berpikir kreatif dan kolaboratif, mahasiswa diajak untuk tidak hanya memahami Pancasila sebagai teks, tapi menerjemahkannya dalam aksi nyata—seperti merancang kampanye toleransi digital, membuat video edukasi tentang etika media sosial, atau menyusun solusi atas konflik sosial berbasis nilai-nilai kebangsaan.

Prof. Dr. Lambang Subagiyo terlihat bersemangat menyampaikan materi pada sesi pelatihan, sementara peserta tampak menyimak dengan antusias, mencerminkan suasana intelektual yang hidup dan penuh keterlibatan.

Design Thinking bukan satu-satunya alat yang ia tawarkan. Dalam sesi tersebut, Prof. Lambang juga menegaskan bahwa Outcome Based Education (OBE) adalah fondasi yang tak bisa diabaikan. OBE menuntut bukti nyata dari capaian pembelajaran, bukan sekadar nilai di akhir semester. Karena itu, pendekatan seperti PBL (problem-based learning) dan PjBL (project-based learning) harus diintegrasikan ke dalam MKWK agar mahasiswa tidak hanya “tahu”, tetapi juga “mampu” dan “mau”.

Workshop ini bukan hanya sesi pelatihan teknis. Ia menjadi forum reflektif bagi para dosen yang selama ini berkutat di ruang-ruang kelas dengan bahan ajar klasik. Di akhir sesi, bukan hanya catatan yang dibawa pulang, tapi juga kegelisahan produktif: bagaimana mengajar dengan cara yang membentuk manusia, bukan hanya mengisi kepala.

Humas UM (YMN)

 

Humas Universitas Mulia, 1 Agustus 2025 Di tengah arus perubahan zaman dan tantangan era Revolusi Industri 4.0 serta Society 5.0, pendidikan tinggi dituntut menghadirkan pengalaman belajar yang lebih otentik, kritis, dan solutif. Hal ini disampaikan oleh Prof. Dr. Lambang Subagiyo dalam Workshop Implementasi OBE, PBL, dan Design Thinking dalam Integrasi Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) yang diselenggarakan Universitas Mulia pada Rabu, 30 Juli 2025 di Ruang Townhall, Midtown Express Hotel, Balikpapan.

Lisda Hermagustina, S.Ag., M.Pd., dosen MK Agama Islam, memimpin lagu kebangsaan Indonesia Raya sebagai dirigen dalam prosesi seremonial pembukaan Workshop OBE, PBL, dan Design Thinking.

Dalam sesi bertajuk “Implementasi Project Based Learning (PjBL), Problem Based Learning (PBL), dan Case Method pada MKWK”, Prof. Lambang menekankan pentingnya transformasi pendekatan pembelajaran dari sekadar penyampaian materi menjadi proses pembentukan karakter berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills).

“Belajar berenang tidak bisa hanya dari membaca buku. Demikian pula mahasiswa, mereka harus belajar langsung dari kasus nyata, bekerja dalam tim, dan menyelesaikan proyek yang kontekstual,” ujar Prof. Lambang mengutip pemikiran John Dewey dan Whitehead sebagai dasar pendekatan learning by doing.

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Sistem Informasi, Wisnu Hera Pamungkas, S.T.P., M.Eng., bersama Drs. Suprijadi, M.Pd. Dosen Pengampu MK Pancasila, tampak khusyuk berdoa sebelum acara workshop dimulai sebagai bentuk harapan atas kelancaran kegiatan.

Menurutnya, pembelajaran melalui PBL, PjBL, dan Case Method sangat relevan diterapkan pada MKWK karena tidak hanya membentuk pengetahuan kognitif, tetapi juga sikap, kolaborasi, kreativitas, serta keterampilan berpikir kritis dan pemecahan masalah kompleks.

Workshop ini dihadiri oleh dosen-dosen pengampu MKWK dan MKU Universitas Mulia dari berbagai program studi. Mereka diajak untuk menyusun kembali desain pembelajaran berdasarkan prinsip Outcome-Based Education (OBE), yang menempatkan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) sebagai poros utama desain kurikulum.

Dari kiri ke kanan: Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I., Ketua Panitia Workshop Yeyen Dwi Atma, S.Kom., M.Kom., keynote speaker Prof. Dr. Lambang Subagiyo, dan Wakil Rektor Bidang Akademik dan Sistem Informasi Wisnu Hera Pamungkas, S.T.P., M.Eng., berpose bersama usai prosesi penyerahan cinderamata.

Lebih lanjut, Prof. Lambang memaparkan langkah-langkah konkret penerapan metode Project Based Learning dan Problem Based Learning, mulai dari merancang pertanyaan dasar, membentuk tim, menjalankan proyek, menyusun laporan, hingga merefleksikan pengalaman belajar.

“Dengan PjBL dan PBL, mahasiswa dilatih tidak hanya untuk tahu, tetapi untuk bisa berpikir, bertindak, dan mencipta. Ini adalah kompetensi utama di abad 21,” jelasnya.

Salah satu contoh implementasi yang diangkat adalah proyek pencegahan demam berdarah yang melibatkan mahasiswa sebagai pengambil data lapangan dan pencetus solusi berbasis nilai Pancasila. Pembelajaran seperti ini, menurut Prof. Lambang, akan membuat MKWK menjadi lebih bermakna dan berdampak langsung pada masyarakat.

Dari kiri: Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I., Wakil Rektor Bidang Sumber Daya, dan Prof. Dr. Lambang Subagiyo menyanyikan lagu Indonesia Raya dalam prosesi pembukaan Workshop Integrasi OBE, PBL, dan Design Thinking.

Melalui kegiatan ini, Universitas Mulia menegaskan komitmennya dalam membekali dosen dengan pendekatan pedagogis modern yang menumbuhkan pembelajaran aktif, reflektif, dan berorientasi pada dunia nyata.

Humas UM (YMN)