Humas Universitas Mulia, 29 Juli 2025Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Universitas Mulia menggelar uji coba Materi Uji Kompetensi (MUK) sebagai tahapan wajib dalam proses pengajuan penambahan skema sertifikasi ke Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Kegiatan ini bukan sekadar formalitas administratif, melainkan pengujian langsung atas validitas dan ketepatan materi uji yang dirancang untuk mengukur kemampuan nyata calon peserta sertifikasi.

Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Mulia, Wisnu Hera Pamungkas, S.T.P., M.Eng. (kanan), bersama Dekan Fakultas Ilmu Komputer, Djumhadi, S.T., M.Kom. (kiri), memantau langsung proses uji coba Materi Uji Kompetensi (MUK) di lingkungan kampus.

“Uji coba ini kami perlakukan sebagai pengujian kritis terhadap isi materi. Apakah instrumen ini memang layak digunakan untuk menilai kompetensi secara objektif dan akurat? Itu yang kami uji,” ujar Kepala UPT LSP Universitas Mulia, Dr. Mada Aditia Wardhana, S.Sos., M.M.

Seluruh materi uji dikembangkan dengan mengacu pada Skema Sertifikasi dan unit kompetensi yang sudah ditetapkan dalam standar nasional, yakni SKKNI (Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia). Tidak ada improvisasi di luar kerangka, sebab yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar kelulusan, tetapi legitimasi profesional atas kemampuan teknis dan sikap kerja peserta.

Irfan Ananda Pratama, S.A., M.A., melakukan monitoring pelaksanaan uji coba Materi Uji Kompetensi (MUK) sebagai bagian dari proses validasi skema sertifikasi.

Menurut penanggung jawab kegiatan, proses uji coba ini menjadi semacam stress test terhadap sistem evaluasi kompetensi yang disusun. Jika MUK yang diuji tidak mampu secara presisi membedakan antara peserta yang kompeten dan tidak kompeten, maka materi tersebut harus direvisi. “Kami tidak ingin menghasilkan materi yang kabur secara penilaian atau tidak sesuai kebutuhan lapangan kerja,” tegasnya.

Lebih jauh, kegiatan ini juga mencerminkan arah kebijakan Universitas Mulia dalam memosisikan sertifikasi sebagai bagian integral dari proses pembelajaran. Sertifikasi bukan ditempelkan di akhir proses, tetapi dirancang sejak awal sebagai capaian yang terukur dan berbasis standar. Ini menjadi bukti bahwa universitas tidak hanya mendidik, tetapi juga mengkalibrasi capaian mahasiswa dengan tolok ukur yang diakui secara nasional.

Dr. Hety Devita, S.E., M.M., C.Med., C.P.Arb., tampak membagikan soal kepada peserta dalam pelaksanaan uji coba Materi Uji Kompetensi (MUK) di Universitas Mulia.

Dengan menggelar uji coba MUK secara terbuka dan ketat, Universitas Mulia mengirimkan pesan jelas: sertifikasi kompetensi bukan program pelengkap, melainkan sistem yang dibangun secara sistematis, diuji, dan dipertanggungjawabkan.

Humas UM (YMN)

“Melalui MKWK, Universitas Mulia berkesempatan merumuskan model pembelajaran dan pengabdian berbasis proyek yang menitikberatkan pada internalisasi nilai kebangsaan, penyelesaian konflik sosial, penguatan moderasi beragama, serta pengembangan inovasi sosial yang didukung teknologi. Langkah ini diharapkan menjadi kontribusi konkret dalam membangun ekosistem masyarakat Ibu Kota Nusantara yang inklusif, menjunjung toleransi, dan memiliki daya saing sosial,”—Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifai, M.Si. (Rektor Universitas Mulia)

Humas Universitas Mulia, 25 Juli 2025— Di tengah dominasi kampus-kampus besar di Jawa, Universitas Mulia menegaskan eksistensinya sebagai satu-satunya wakil Kalimantan yang lolos hibah Program Pengembangan Model Pembelajaran Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) 2025. Program di bawah Direktorat Pendidikan Tinggi ini menjadi pintu strategis untuk membumikan nilai kebangsaan, toleransi, dan keberagaman lewat pendekatan berbasis proyek.

“Ini bukan sekadar pengakuan, tetapi momentum penting untuk memperkuat reputasi UM sebagai kampus technopreneur yang tidak hanya unggul dalam inovasi dan teknologi, tetapi juga berkomitmen terhadap nilai-nilai kebangsaan, moderasi, dan keberagaman,” tegas Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si., Rektor Universitas Mulia.

Bagi Prof Ahsin, keterlibatan ini menjadi peluang membuka kolaborasi akademik lintas wilayah. Baginya, pengakuan ini harus terhubung dengan agenda jangka panjang: Indonesia Emas 2045. “Keterlibatan ini membuka peluang kolaborasi nasional, memperluas jejaring akademik lintas wilayah, serta menjadi pijakan penting dalam arah pengembangan UM menuju perguruan tinggi unggul yang relevan dengan agenda Indonesia Emas 2045,” ujarnya.

Program MKWK, yang kerap dipandang sekadar kewajiban administrasi, menurutnya harus menembus sekat formalitas. Integrasi ke dokumen resmi seperti RPS dan kalender akademik, pembentukan komunitas dosen pengampu, evaluasi berkelanjutan, hingga pameran hasil proyek menjadi cara Universitas Mulia memastikan MKWK benar-benar hidup di kelas dan lapangan.

“Universitas Mulia perlu mengintegrasikannya ke dalam dokumen akademik resmi, melibatkan seluruh elemen kampus, membentuk komunitas dosen pengampu, serta menerapkan evaluasi berkelanjutan berbasis siklus Penetapan, Pelaksanaan, Evaluasi, Pengendalian, dan Peningkatan (PPEPP),” terangnya. Diseminasi proyek melalui pameran atau festival, sambungnya, adalah cara menjaga semangat mahasiswa agar tetap kritis pada persoalan sekitar.

Untuk memastikan napas program tidak padam di tahun berjalan, Prof Ahsin menegaskan pentingnya kebijakan insentif. Dosen mendapat pengakuan beban kerja dan poin jabatan. Mahasiswa berhak konversi SKS atau sertifikat. Baginya, tanpa dukungan regulasi konkret, program semacam ini hanya akan singgah sebentar lalu hilang arah.

Sebagai kampus technopreneur, Universitas Mulia memilih jalur berbeda. Inovasi teknologi ditautkan dengan tantangan sosial. “Inovasi teknologi harus membawa manfaat sosial dan menjawab tantangan bangsa. Mahasiswa didorong untuk menciptakan solusi yang berdampak bagi masyarakat lokal, menjunjung etika, keadaban digital, dan nilai Pancasila,” jelasnya.

Konsep ini akan dituangkan ke proyek-proyek berbasis masalah sosial, etika digital di kurikulum, hingga technopreneurship yang berpihak pada kepentingan publik, bukan sekadar bisnis.

Sebagai kampus di Balikpapan, penyangga utama Ibu Kota Nusantara, Universitas Mulia memanfaatkan posisi geografis dan kultural ini untuk ikut merawat keberagaman IKN yang multikultural. Baginya, MKWK bisa menjadi jalur awal Universitas Mulia terlibat aktif di ranah pendidikan nilai, resolusi konflik, moderasi beragama, hingga inovasi sosial di kawasan penyangga IKN.

“Melalui MKWK, UM dapat mengembangkan model pembelajaran dan pengabdian berbasis proyek yang fokus pada pendidikan nilai, resolusi konflik, moderasi beragama, serta inovasi sosial berbasis teknologi. Ini bisa menjadi kontribusi nyata dalam membangun ekosistem masyarakat IKN yang inklusif, toleran, dan berdaya,” pungkas Ahsin.

Bagi Universitas Mulia, jalur technopreneurship hanya akan lengkap bila memegang erat akar kebangsaan. Dan di tangan mahasiswa, gagasan itu dirancang untuk tidak sekadar selesai di meja kelas — tetapi menjejak nyata di Balikpapan dan Ibu Kota Nusantara.

Humas UM (YMN)

BALIKPAPAN – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Mulia Balikpapan menggelar Musyawarah Besar (Mubes) pada Senin-Selasa, 15-16 Juli 2025, di Ruang Eksekutif Universitas Mulia. Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh pengurus BEM, perwakilan mahasiswa dari berbagai fakultas, serta jajaran pimpinan universitas.

Mubes yang berlangsung 2 hari ini sejak pagi hingga malam hari mengangkat tema “Mewujudkan Regenerasi Progresif untuk Kepemimpinan Berkelanjutan yang Berintegritas dan Berdampak”. Agenda utama meliputi evaluasi program kerja periode sebelumnya, pembahasan rencana strategis organisasi, serta penetapan arah kebijakan kemahasiswaan untuk tahun akademik mendatang.


Dalam sambutannya, Ketua BEM Universitas Mulia Agung Widianto menyampaikan pentingnya regenerasi progresif dalam membangun kepemimpinan yang berintegritas. “Tema yang kami angkat mencerminkan komitmen kami untuk melahirkan pemimpin masa depan yang tidak hanya berkompeten, tetapi juga berintegritas tinggi dan mampu memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar,” ujarnya.
Riski Zulkarnain Kepala Bagian Kemahasiswaan dan Alumni Universitas Mulia yang turut hadir dalam acara tersebut menekankan pentingnya regenerasi progresif dalam organisasi kemahasiswaan. “Regenerasi progresif bukan hanya sekedar pergantian kepengurusan, tetapi transformasi menyeluruh dalam pola pikir dan tindakan mahasiswa menuju kepemimpinan yang berkelanjutan dan berdampak,” ungkapnya.
Beberapa poin penting yang dibahas dalam Mubes meliputi strategi pengembangan kepemimpinan berintegritas, implementasi program berkelanjutan yang berdampak, sistem regenerasi yang progresif, serta penguatan nilai-nilai moral dalam setiap kegiatan organisasi. Peserta juga merumuskan roadmap kepemimpinan jangka panjang yang mengintegrasikan aspek akademik, sosial, dan moral.
Rektor Universitas Mulia dalam pesannya menyampaikan apresiasi terhadap dinamika organisasi kemahasiswaan yang terus berkembang. “Kegiatan seperti Mubes ini mencerminkan kedewasaan berorganisasi mahasiswa dalam mengambil keputusan strategis melalui musyawarah dan mufakat,” ungkapnya.
Universitas Mulia Balikpapan sebagai salah satu perguruan tinggi swasta terkemuka di Kalimantan Timur terus berkomitmen menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki jiwa kepemimpinan dan kepedulian sosial yang tinggi.Mubes BEM Universitas Mulia ini diharapkan dapat menghasilkan rumusan program yang lebih inovatif dan berdampak positif bagi kemajuan institusi serta masyarakat luas.

“Pembekalan ini bukan hanya soal administrasi. Para Kaprodi harus memahami peran strategis mereka sebagai penggerak peningkatan mutu tridarma secara berkelanjutan. Karena itu, kami menyiapkan strategi pendampingan empat pilar: adaptasi budaya akademik, literasi regulasi, manajemen mutu, dan koordinasi lintas unit serta mitra industri.”
Wisnu Hera Pamungkas, Wakil Rektor I Bidang Akademik Universitas Mulia

 

Humas Universitas Mulia, 18 Juli 2025 — Universitas Mulia menggelar pembekalan bagi para Ketua Program Studi (Kaprodi) baru dari empat prodi yang resmi dibuka tahun ini, yaitu Teknik Sipil, Teknik Industri, Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian (TPHP), serta Desain Komunikasi Visual (DKV). Agenda ini diarahkan untuk mempersiapkan para Kaprodi memahami peran strategis mereka dalam menggerakkan tridarma perguruan tinggi sejak masa perintisan.

Wakil Rektor I Bidang Akademik, Wisnu Hera Pamungkas, , S.T.P., M.Eng. menyerahkan Surat Keputusan (SK) Kaprodi Desain Komunikasi Visual sebagai simbol dimulainya tanggung jawab akademik prodi baru.

“Pembekalan hari ini difokuskan untuk membekali para Kaprodi baru dengan pemahaman menyeluruh terkait peran strategis mereka sebagai pemimpin program studi, khususnya dalam konteks pelaksanaan tridarma perguruan tinggi,” jelas Wakil Rektor I Bidang Akademik Universitas Mulia, Wisnu Hera Pamungkas, S.T.P., M.Eng.

Materi disusun secara berlapis, meliputi aspek akademik, tata kelola kelembagaan, kemahasiswaan, hingga penguasaan sistem informasi yang mendukung manajemen prodi dan aktivitas pengajaran dosen. Wisnu menekankan, peran Kaprodi tidak berhenti pada tugas administratif. “Harapannya, para Kaprodi tidak hanya memahami tugas administratif, tetapi juga mampu menjadi penggerak utama dalam meningkatkan kualitas tridarma secara berkelanjutan,” ujarnya.

Empat Kaprodi baru Universitas Mulia menyimak materi pembekalan yang difokuskan pada penguatan peran strategis dalam pelaksanaan tridarma perguruan tinggi.

Untuk mendampingi para Kaprodi baru dalam merancang kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE) maupun Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), bidang akademik merumuskan strategi empat pilar. Pilar pertama adalah pembiasaan pada budaya akademik kampus agar visi prodi selaras dengan arah universitas. Pilar kedua mencakup penguatan literasi kebijakan akademik pada level nasional dan internal. Pilar ketiga menekankan pembekalan manajemen administrasi dan penjaminan mutu. Sementara pilar keempat mendorong koordinasi lintas unit, termasuk dengan Lembaga Penjaminan Mutu (LPM), Biro Administrasi Akademik dan Kemahasiswaan (BAAK), hingga mitra industri.

“Kami telah menyiapkan strategi pendampingan berbasis empat pilar utama,” terang Wisnu. “Pertama, penanaman pemahaman dan adaptasi terhadap budaya akademik kampus, agar kaprodi dapat menyelaraskan visi prodi dengan arah institusi. Kedua, penguatan literasi terhadap kebijakan dan regulasi akademik, baik yang bersifat nasional maupun internal kampus. Ketiga, pembekalan manajemen administrasi dan penjaminan mutu akademik sebagai fondasi utama tata kelola. Dan keempat, fasilitasi koordinasi dengan para pemangku kepentingan seperti LPM, BAAK, hingga mitra industri, guna memastikan kurikulum OBE dan MBKM dapat diimplementasikan dengan efektif dan kontekstual sesuai kebutuhan zaman.”

Dari sisi akreditasi, Wisnu menjelaskan penjaminan mutu dilakukan sejak tahap awal. Saat ini, dua prodi baru — Teknik Sipil dan Teknik Industri — telah mengantongi akreditasi dari LAM Teknik, sedangkan TPHP dan DKV masih dalam tahap pengajuan ke BAN-PT. “Penjaminan mutu sejak awal menjadi prioritas penting, karena berkaitan langsung dengan arah capaian akreditasi,” ungkapnya. Ia menambahkan, dokumen akademik dan pelaksanaan tridarma pada tiap prodi disusun menyesuaikan standar akreditasi sejak pendirian.

Indikator keberhasilan prodi baru, menurut Wisnu, terletak pada seberapa jauh kepercayaan publik berhasil dibangun di tiga tahun pertama. “Indikator utama keberhasilan program studi baru dalam jangka pendek adalah sejauh mana prodi mampu membangun kepercayaan publik,” tegasnya. Ia menyadari keterbatasan rekam jejak kerap memengaruhi jumlah mahasiswa pada tahun pertama. Namun demikian, eksistensi prodi harus diupayakan melalui forum-forum eksternal, lomba, seminar, maupun kemitraan.

Dari ruang monitoring, pola evaluasi tidak hanya bergantung pada mekanisme formal audit mutu. “Secara umum, monitoring dan evaluasi dilaksanakan melalui Lembaga Penjaminan Mutu dan Pengembangan Pendidikan (LPMPP), dengan instrumen utama berupa Audit Mutu Internal (AMI) setiap semester dan penelaahan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) program kerja tahunan,” terang Wisnu. Untuk keempat prodi baru ini, pola monev dibuat lebih intensif. Diskusi rutin, koordinasi informal, dan pendampingan teknis menjadi saluran untuk membaca hambatan sejak dini, terutama pada aspek inovasi pembelajaran dan adaptasi teknologi digital.

Di tengah dinamika ini, para Kaprodi baru dituntut tidak hanya membaca dokumen rencana, tetapi aktif memastikan bahwa tridarma, penjaminan mutu, kurikulum OBE-MBKM, serta pembaruan digital berjalan pada jalur yang kontekstual dengan kebutuhan pendidikan tinggi hari ini.

Humas UM (YMN)

“KKN bukan hanya tentang menyelesaikan kewajiban akademik, tetapi tentang merajut empati, membangun kolaborasi, dan menciptakan kebermanfaatan nyata bagi masyarakat.”
— Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si., Rektor Universitas Mulia

Humas Universitas Mulia, 24 Juni 2025 – Sebagai wujud komitmen terhadap implementasi Tridharma Perguruan Tinggi, Universitas Mulia menyelenggarakan kegiatan Pembekalan Kuliah Kerja Nyata (KKN) bagi mahasiswa Tahun Akademik 2024/2025. Acara yang berlangsung di Ballroom Cheng Hoo ini dibuka secara resmi oleh Rektor Universitas Mulia, Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si., dengan sambutan penuh makna yang menegaskan urgensi peran mahasiswa sebagai agen pengabdian sosial.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Sumardi, S.Kom., M.Kom., Rektor Universitas Mulia Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i, dan Kaprodi Manajemen Dr. Pudjiati, S.E., M.M. berdiri di atas panggung saat menyanyikan Mars Universitas Mulia pada pembukaan kegiatan Pembekalan KKN Tahun Akademik 2024/2025.

Dalam sambutannya, Rektor menegaskan bahwa KKN bukan sekadar tugas akademik atau formalitas kelulusan, melainkan sebuah proses pembelajaran holistik yang mengasah kemampuan adaptasi, kepekaan sosial, dan kepemimpinan mahasiswa di tengah masyarakat.

“Saudara sekalian akan menjadi duta Universitas Mulia—mewakili nilai-nilai intelektual, integritas, dan inovasi yang kita tanamkan bersama selama perkuliahan,” tegas beliau.

Rektor menjabarkan bahwa pembekalan ini merupakan fase strategis untuk memperkuat pemahaman mahasiswa mengenai tugas, peran, etika, dan pendekatan sosial yang relevan. Ia mendorong peserta KKN untuk menyusun program kerja yang tidak hanya kontekstual dan relevan dengan kebutuhan masyarakat, namun juga memiliki keberlanjutan dampak setelah masa KKN berakhir.

Rektor Universitas Mulia Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si. secara resmi membuka kegiatan Pembekalan KKN melalui pidato akademik yang menekankan pentingnya integritas, kolaborasi, dan kebermanfaatan sosial mahasiswa di masyarakat.

Dalam pidato akademiknya, Rektor menyampaikan tiga poin utama yang harus menjadi prinsip kerja mahasiswa selama menjalankan KKN:

  1. Integritas dan Etika Personal – Mahasiswa diminta menjaga nama baik pribadi, keluarga, dan universitas melalui sikap santun dalam berpakaian, bersikap, dan berinteraksi dengan masyarakat.

  2. Kolaborasi dan Partisipasi Aktif – Mahasiswa harus melibatkan masyarakat secara langsung dalam seluruh proses kegiatan, menjadikan mereka subjek, bukan objek dalam pembangunan sosial.

  3. Kreativitas dan Kebermanfaatan Program – Mahasiswa diimbau untuk merancang program-program inovatif yang meskipun sederhana, mampu memberikan dampak nyata dan berkelanjutan bagi komunitas setempat.

Tak lupa, Rektor juga memberi pesan kepada para Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) dan tim LPPM untuk aktif memberikan pendampingan dan membuka ruang dialog dua arah yang mendorong terbentuknya inovasi sosial maupun penelitian terapan.

“Jadikan KKN ini bukan hanya sekadar catatan akademik, tetapi pengalaman hidup yang memperkaya perspektif, membentuk karakter, dan memantapkan komitmen Saudara sebagai insan akademik yang berpihak pada masyarakat,” ujar Prof. Ahsin menutup sambutannya.

Acara pembekalan KKN ini turut dihadiri oleh jajaran pimpinan universitas, Ketua LPPM, para Dosen Pembimbing Lapangan, serta panitia pelaksana dan ratusan mahasiswa dari berbagai program studi yang akan diterjunkan ke sejumlah wilayah mitra.

Suasana kegiatan pembekalan KKN Universitas Mulia. Para peserta terlihat antusias menyimak materi sebagai bekal sebelum diterjunkan ke lokasi pengabdian.

Dengan semangat integritas, kolaborasi, dan inovasi, Universitas Mulia kembali mengukuhkan peran strategisnya dalam mencetak generasi muda yang mampu menjawab tantangan zaman melalui kontribusi nyata di tengah masyarakat.

Humas UM (YMN)

Rektor: Dari “Aku Sudah Belajar Apa?” ke “Aku Bisa Apa?” Fokus pada Kompetensi dan Relevansi Kerja

Humas Universitas Mulia, 3 Juni 2025 – Universitas Mulia kembali menegaskan komitmennya dalam menjawab tantangan pendidikan abad ke-21 melalui reformasi kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE). Dalam wawancara bersama Rektor UM, Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i, terungkap bahwa pendekatan ini bukan sekadar pembaruan dokumen, melainkan transformasi mendasar dalam cara mempersiapkan lulusan menghadapi dunia kerja dan perubahan sosial global.

“Selama ini, kita masih menggunakan kurikulum model lama yang bersifat tradisional, di mana proses belajar lebih menekankan pada pemenuhan silabus dan penguasaan materi, tanpa jaminan bahwa mahasiswa benar-benar menguasai kompetensi yang dibutuhkan di dunia kerja,” ungkap Prof. Ahsin.

Rektor Universitas Mulia, Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i, saat memberikan keterangan kepada humas kampus terkait urgensi reformasi kurikulum berbasis OBE.

Ia menilai bahwa kurikulum lama cenderung menghasilkan lulusan yang hanya dibekali transkrip nilai, namun belum tentu mampu menjawab kebutuhan industri. Penilaian pun cenderung bersifat umum dan tidak berbasis pada CPMK (Capaian Pembelajaran Mata Kuliah) dan CPL (Capaian Pembelajaran Lulusan).

“Kita harus bergeser dari paradigma ‘aku sudah belajar apa?’ menjadi ‘aku bisa apa?’,” tegasnya.

Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i, Rektor Universitas Mulia, memberikan arahan strategis dalam pembukaan Workshop Penyusunan Kurikulum Berbasis Outcome-Based Education.

Integrasi OBE, KKNI, dan SKKNI: Membangun Lulusan Kompeten dan Siap Kerja

Lebih lanjut, Prof. Ahsin menekankan bahwa pendekatan OBE bukanlah konsep baru yang berdiri sendiri, melainkan integrasi dari Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) dan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI).

“Dengan mengacu pada KKNI dan SKKNI, kurikulum kita akan mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya siap memasuki dunia kerja, tetapi juga menciptakan pasar kerja melalui kompetensi yang relevan dan terstandar,” tuturnya.

Suasana khidmat dan antusias mewarnai pembukaan Workshop Penyusunan Kurikulum OBE di lingkungan Universitas Mulia.

OBE dirancang untuk menjawab empat pertanyaan mendasar:

  1. Kemampuan apa yang harus dikuasai mahasiswa?
  2. Bagaimana cara terbaik membantu mahasiswa mencapai kemampuan tersebut?
  3. Bagaimana kita mengetahui capaian itu telah tercapai?
  4. Bagaimana melakukan perbaikan berkelanjutan (Continuous Quality Improvement)?

Sinergi Akademik dalam Workshop Penyusunan Kurikulum

Melalui pelatihan intensif selama empat hari yang melibatkan para dekan, ketua program studi, dan unit-unit pendukung, UM berupaya menyusun ulang seluruh dokumen kurikulum berbasis OBE. Dalam kegiatan ini, narasumber berperan aktif memandu proses penyusunan agar setiap program studi memiliki dokumen kurikulum yang terukur, relevan, dan implementatif.

Para dekan dan ketua program studi Universitas Mulia dengan saksama mengikuti materi workshop sebagai langkah konkret menuju kurikulum berbasis capaian pembelajaran.

Rektor menegaskan bahwa keberhasilan reformasi kurikulum ini sangat bergantung pada kepemimpinan para dekan dalam mengkoordinasikan timnya. “Setiap prodi harus serius menyusun dokumennya. Dekan harus aktif memberikan masukan, arahan, dan memastikan seluruh proses berjalan optimal,” tandasnya.

Menjawab Tantangan Industri 4.0 dan Society 5.0

Prof. Ahsin juga menyampaikan bahwa reformasi kurikulum ini menjadi fondasi penting dalam menyiapkan lulusan menghadapi ekosistem kerja yang semakin kompleks. Dalam era Industri 4.0 dan transisi menuju Society 5.0, kompetensi seperti AI, Big Data, IoT, literasi digital, pemikiran kritis, kolaborasi, kreativitas, dan etika menjadi sangat krusial.

“OBE memungkinkan kita mengintegrasikan kompetensi berbasis teknologi dan kemanusiaan ke dalam CPL. Dengan begitu, lulusan UM bukan hanya sarjana, tetapi juga problem solver dan innovator yang mampu menjawab tantangan global,” pungkasnya.

 

Humas UM (YMN)

 

Humas Universitas Mulia, 28 Mei 2025 Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Mulia terus memperluas jejaring kerjasama dengan dunia industri melalui penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) lanjutan bersama Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO). Kerjasama ini merupakan tindak lanjut dari MoU sebelumnya, yang menandai komitmen berkelanjutan untuk memperkuat sinergi antara kampus dan sektor industri, khususnya dalam bidang pariwisata.

Kaprodi Manajemen FEB Universitas Mulia, Dr. Pudjiati, S.E., M.M., menyebutkan bahwa MoA ini memiliki urgensi yang sangat strategis, baik dari sisi akademik maupun praktis.

“Bentuk konkretnya akan kami rancang dalam kegiatan-kegiatan yang langsung berdampak pada penguatan tridharma perguruan tinggi dan peningkatan daya saing lulusan,” ujarnya.

Beberapa bentuk implementasi yang akan dikembangkan antara lain program magang industri terstruktur, kuliah tamu oleh praktisi, riset kolaboratif antara dosen dan pelaku industri, serta penerapan proyek kewirausahaan mahasiswa.

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mulia, Dr. Ivan Hadar, M.Si., saat menandatangani Memorandum of Agreement (MoA) lanjutan bersama Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), sebagai wujud penguatan kolaborasi antara perguruan tinggi dan dunia industri.

Dr. Pudjiati juga mengungkapkan bahwa pihaknya tengah menjajaki kemungkinan pengembangan studi yang lebih aplikatif dan berbasis kebutuhan industri. Salah satu wacana yang tengah disusun adalah membuka konsentrasi atau program studi bisnis pariwisata, yang akan dimasukkan dalam roadmap pengembangan akademik lima tahun ke depan.

“Alasannya jelas, Kalimantan Timur memiliki potensi wisata dan budaya yang sangat besar namun belum dikelola secara optimal. Banyak restoran, hotel, agen perjalanan, dan desa wisata yang membutuhkan manajer serta pelaku usaha yang menguasai manajemen layanan, pemasaran digital, dan pengelolaan destinasi. Sayangnya, masih banyak pelaku usaha pariwisata yang belum memiliki latar belakang manajemen formal,” jelasnya.

Ia menilai potensi lulusan program bisnis pariwisata cukup besar. “Lulusan bisa bekerja sebagai manajer operasional hotel atau resort, konsultan perjalanan, pengelola event dan Meetings, Incentives, Conventions, and Exhibitions (MICE), atau menjadi wirausahawan di bidang wisata,” tambahnya.

Kaprodi Manajemen FEB Universitas Mulia, Dr. Pudjiati, S.E., M.M., memberikan keterangan terkait rencana strategis pengembangan program studi berbasis industri dalam kegiatan penandatanganan MoA bersama APINDO.

Meski begitu, tantangan tetap ada. Salah satunya adalah menjembatani perbedaan orientasi antara dunia akademik dan dunia industri.

“Akademik cenderung fokus pada teori, riset, dan proses pembelajaran, sementara industri lebih menekankan efisiensi, hasil cepat, dan implementasi langsung,” ungkapnya.

Sebagai solusi, pihaknya akan mengembangkan pendekatan problem-based learning dan riset terapan, serta melibatkan pelaku industri dalam penyusunan kurikulum.

“Kami juga menawarkan proyek kolaboratif dengan output konkret, misalnya pembuatan SOP, desain sistem pemasaran, atau pelatihan SDM,” katanya.

Dalam konteks Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), kerjasama ini dimanfaatkan untuk memperkuat kurikulum berbasis industri, mengembangkan program magang industri, projek mandiri mahasiswa, serta mata kuliah proyek kewirausahaan.

Dengan langkah strategis ini, FEB Universitas Mulia berharap dapat mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga siap terjun dan berkontribusi nyata dalam dunia usaha dan industri, khususnya sektor pariwisata yang tengah berkembang pesat di wilayah Kalimantan Timur.

Humas UM (YMN)

UM – Resmi sambut mahasiswa baru dalam pembukaan kegiatan Pengenalan Dunia Kampus (PADUKA) pada Senin (26/8). Bertemakan “Temukan, Rasakan, dan Tumbuh,” PADUKA Mulia 2024 bertujuan memberikan pengalaman baru bagi 563 mahasiswa baru, sekaligus mendukung mereka dalam proses adaptasi di lingkungan kampus. Acara ini berlangsung selama lima hari, hingga 30 Agustus 2024 mendatang.

Ketua Panitia PADUKA Mulia, Riski Zulkarnain, S.Pd., M.Pd., menyampaikan laporan kepanitiaan pada pembukaan acara. Riski membagikan sebaran jumlah peserta yang mengikuti kegiatan ini: 230 mahasiswa dari Fakultas Ilmu Komputer, 247 dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, serta 86 dari Fakultas Humaniora dan Kesehatan.

Riski Zulkarnain, S.Pd., M.Pd dalam sesi Laporan Ketua Panitia PADUKA 2024. Foto: Media Kreatif.

Masuk pada rangkaian pembukaan selanjutnya, Rektor Universitas Mulia, Prof. Dr. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si, secara simbolis mengukuhkan mahasiswa baru dengan menyematkan almamater dan memberikan ID card kepada dua perwakilan mahasiswa baru.

Dalam sambutannya, Prof. Ahsin Rifa’i mengungkapkan kebanggaannya terhadap para mahasiswa baru yang kini resmi menjadi bagian dari keluarga besar Universitas Mulia. Beliau menekankan bahwa mahasiswa Universitas Mulia tidak hanya berasal dari Balikpapan tetapi juga dari luar Kalimantan, yang mencerminkan perkembangan signifikan universitas ini menuju visinya sebagai universitas terkemuka berbasis technopreneur.

Rektor Universitas Mulia beri sambutan pada kegiatan Pengenalan Dunia Kampus 2024

Rektor Universitas Mulia, Prof. Muhammad Ahsin Rifa’i memberikan sambutan. Foto: Media Kreatif

“Kalian adalah angkatan ke-6. Artinya usia Universitas Mulia masih terbilang baru. Namun, prestasi-prestasi gemilang telah banyak diraih oleh kakak-kakak tingkat kalian. Dengan semangat baru dari angkatan 2024 ini, saya harap akan terus lahir karya-karya inovatif khususnya di bidang teknologi yang bermanfaat bagi masyarakat luas,” tambah Ahsin.

Sambut hangat mahasiswa baru berjalan khidmat dan meriah. Usai prosesi pengukuhan, panitia melanjutkan dengan berbagai macam sesi. Diantaranya seperti mengenalkan budaya akademik, materi yang memotivasi, serta penampilan seni oleh mahasiswa baru yang menciptakan atmosfer menyenangkan.

Harapannya, kegiatan ini mampu membuat mahasiswa baru mengenal lebih dekat kehidupan kampus dan menemukan upaya akademik untuk mencerdaskan diri sendiri.

(Shafyra Amalia/Kontributor)

UM – Universitas Mulia terpilih menjadi tuan rumah dalam road show Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) “Jaga Kampus Kita” dari radikalisme melalui FKPT Kalimantan Timur pada Kamis (15/8). Sebanyak 460 mahasiswa dari berbagai universitas di Balikpapan memenuhi Ballroom Cheng Ho.

Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Kalimantan Timur, Ahmad Jubaidi, melaporkan bahwa kegiatan ini ditujukan untuk meningkatkan pemahaman civitas akademika terkait pencegahan radikalisme. Selain itu, ia juga berpesan “Jadilah penjaga kedamaian Indonesia terutama Balikpapan sebagai penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN).”

Rektor Universitas Mulia, Prof. Muhammad Ahsin Rifa’i dalam sambutannya berterima kasih kepada BNPT dan FKPT atas acara ini. Menggalang kebersamaan menghadang ideologi radikalisme dan penetrasi terorisme ke perguruan tinggi. Rektor menyatakan akan mengembangkan mode pembelajaran berbasis proses berpikir kognitif.

Masuk pada sesi diskusi panel, Kasubdit Pemberdayaan Masyarakat BNPT, Kolonel (sus) Dr. Harianto, tampil sebagai moderator. Diskusi ini menghadirkan dua pemateri.

Prof. Irfan Idris, Direktur Pencegahan BNPT, membahas “Tren Aksi Terorisme dan Program Pencegahan BNPT”. Irfan menekankan peningkatan gerakan ideologi di bawah permukaan yang menargetkan perempuan, anak, dan remaja. Ia menggarisbawahi pentingnya kesiapsiagaan nasional, kontra radikalisasi, dan perlunya pemantauan kampus.

Belajar langsung dari guru terbaik. Mohamad Nasir Abbas, Mitra Deradikalisasi BNPT, berbagi pengalamannya direkrut oleh organisasi radikal pada usia 16 tahun dan dilatih di Afghanistan. Saat itu, organisasi radikal menugaskannya untuk mendirikan negara khilafah di Indonesia dengan cara menghalalkan segala cara.

Ia telat menyadari bahwa Pancasila tidak bertentangan dengan Islam. “Jangan ulangi kesalahan saya”, pesan Nasir Abbas kepada mahasiswa.

Usai diskusi panel, Mayjen TNI Roedy Widodo, Deputi Bidang Pencegahan, Perlindungan, dan Deradikalisasi hadir memberikan pidato kunci. Ia mendorong pemerintah daerah memasukkan penanggulangan terorisme dalam Rencana Aksi Daerah (RAD).

Lebih lanjut dalam pidatonya, Roedy Widodo menyampaikan langkah-langkah yang perlu diambil kampus dalam penguatan daya tangkal & daya tahan paparan radikalisme. Langkah-langkah ini mencakup mulai dari kebijakan kampus yang mendorong wawasan kebangsaan dan agama yang moderat, sampai kurikulum dan aktivitas kampus yang steril dari infiltrasi paham radikalisme.

Rektor Universitas Mulia menerima sertifikat penghargaan dari Deputi Bidang Pencegahan, Perlindungan dan Deradikalisasi Republik Indonesia. Foto: Media Kreatif.

Dengan demikian, “Jaga Kampus Kita” yang menjadi upaya BNPT dalam perkuat public resilience dari radikalisme dan terorisme di lingkungan kampus diharapkan menghasilkan urgensi kolektif bagi civitas akademika.

(Shafyra Amalia/Kontributor)

 

UM – Muhammad Nur Falah Setiawan, Kepala Bagian Marketing Yayasan Airlangga mengundang Guru BK se-Balikpapan dalam Mulia Gathering pada Rabu (14/8). Acara ini mempererat hubungan dan berbagi informasi tentang peluang pendidikan lanjutan serta kolaborasi untuk Guru BK dalam layanan konsultasi pendidikan tinggi.

Dr. Agung Sakti Pribadi, Direktur Eksekutif Yayasan Airlangga, dalam sambutannya ajak para guru untuk memiliki mindset sama dalam mendukung pendidikan setinggi-tingginya.

“Tidak sedikit pekerja di Balikpapan dan sekitarnya memilih melanjutkan kuliah di sini”, terangnya.

Wisnu Hera Pamungkas, Wakil Rektor I, menambahkan bahwa Universitas Mulia siap berdiskusi lebih lanjut mengenai program studi yang tersedia.

Wisnu juga memastikan, mahasiswa lulus dengan etika yang baik. “Selain keilmuan yang maju, kami bertanggung jawab untuk membawa peserta didik kami mulia dari segi akhlak”, tuturnya.

Dalam bincang dua arah ini, Rita Asmarani, Ketua MGBK SMA/MA Kota Balikpapan, ungkap harapannya untuk bisa berkolaborasi lebih luas, termasuk menerima pelatihan.

Pengenalan program pendidikan di Universitas Mulia kepada Guru BK di Balikpapan, sebenarnya bukan hal baru. Oleh karena itu, Universitas Mulia sudah tidak asing lagi di telinga banyak orang. Bahkan, menjadi Universitas tujuan para siswa SMA/MA/SMK dan pekerja yang ingin melanjutkan pendidikan lebih tinggi.

Lita Hindrati, Ketua MGBK SMK Balikpapan, berterima kasih atas hubungan baik dan membagikan cerita dari murid serta alumni tentang melanjutkan kuliah di Universitas Mulia.

Eko Edy Susanto, S.E., M.Ak, Kepala Kaprodi Akuntansi, memandu sesi tanya jawab bersama Guru BK. Peserta ramai menanyakan pertanyaan seputar pendidikan profesi apoteker untuk lulusan farmasi dan beasiswa.

Mada Adhitia Wardhana, Dekan Fakultas Humaniora dan Kesehatan menjawab akan menekuni permintaan tersebut dan akan membangun lab kosmetik tipe B.

Terkait beasiswa, Direktur Eksekutif Yayasan Airlangga merespons optimis, “Jangan biarkan anak tidak sekolah. Salah satu tujuan Yayasan Airlangga adalah mengentaskan angka tidak sekolah.”

Guru BK lainnya juga berharap Universitas Mulia membuat aplikasi yang bisa mereka gunakan, misalnya untuk mendeteksi bullying.

Secara keseluruhan, acara ini mencerminkan semangat dalam mendukung pendidikan setinggi-tingginya, salah satunya dengan mengambil pendidikan lanjutan.

(Shafyra Amalia/Kontributor)