Balikpapan, 17 Maret 2026 — Rangkaian Program Kultum Ramadan 1447 H yang diinisiasi Unit Kerja Sumber Daya Universitas Mulia resmi berakhir pada Selasa, 17 Maret 2026. Sejak dimulai pada 24 Februari 2026, program ini tidak sekadar menjadi agenda rutin keagamaan, tetapi menjelma sebagai ruang pembinaan spiritual yang terstruktur di tengah ritme kerja civitas akademika.

Penutupan kultum menghadirkan materi tentang zakat fitrah—sebuah tema yang tidak hanya relevan secara fikih, tetapi juga sarat makna sosial. Pembahasan ini menegaskan bahwa puncak Ramadan tidak berhenti pada pengendalian diri melalui puasa, melainkan berlanjut pada penyempurnaan ibadah melalui kepedulian terhadap sesama.

Pelaksanaan kultum yang berlangsung setiap dua hari sekali, pukul 10.30 hingga 11.30 WITA, menunjukkan upaya serius institusi dalam merawat dimensi spiritual tanpa mengganggu produktivitas kerja. Pola ini menjadi adaptasi dari program “Jumat Berkah” yang secara konsisten dijalankan di luar Ramadan. Selama bulan suci, format tersebut ditransformasikan menjadi Kultum Ramadan dengan intensitas yang lebih tinggi dan materi yang lebih tematik.

Dalam suasana penutupan yang berlangsung khidmat, panitia turut membagikan paket parsel kepada peserta dan para pengisi materi. Lebih dari sekadar bentuk apresiasi, momentum ini memperlihatkan adanya relasi yang hangat dan setara antara penyelenggara dan partisipan—sebuah aspek yang kerap luput dalam kegiatan seremonial.

Kepala HRD Universitas Mulia, Drs. Achmad Prijanto, menegaskan bahwa program ini dirancang dengan orientasi yang jelas. Ia menyebutkan bahwa Kultum Ramadan menjadi instrumen untuk meningkatkan kualitas ibadah dosen dan tenaga kependidikan, sekaligus memperluas pemahaman keagamaan yang aplikatif dalam kehidupan sehari-hari.

Lebih jauh, ia menekankan pentingnya menghadirkan ruang-ruang refleksi di lingkungan kerja agar Ramadan tidak berlalu secara administratif, tetapi meninggalkan jejak kesadaran spiritual. “Melalui kegiatan ini, kita ingin mendorong sivitas akademika untuk semakin dekat kepada Allah SWT, menggapai keberkahan dan magfirah-Nya, serta menjadikan Ramadan sebagai momentum penyucian jiwa,” ujarnya.

Ia juga menyoroti bahwa tujuan yang tidak kalah penting adalah menjaga keberlanjutan nilai-nilai ibadah setelah Ramadan berakhir. Konsistensi inilah yang menjadi indikator keberhasilan pembinaan spiritual, bukan sekadar intensitas kegiatan selama bulan suci.

Di sisi lain, interaksi yang terbangun selama kultum turut memperkuat ukhuwah islamiah di lingkungan kampus. Pertemuan rutin yang menghadirkan berbagai latar belakang unit kerja ini menciptakan ruang dialog yang cair, sekaligus mempererat solidaritas antarpegawai.

Berakhirnya Kultum Ramadan 1447 H bukanlah titik akhir, melainkan transisi menuju keberlanjutan program pembinaan melalui “Jumat Berkah” yang akan kembali dijalankan. Dengan demikian, nilai-nilai yang ditanamkan selama Ramadan diharapkan tidak berhenti sebagai pengalaman temporer, tetapi bertransformasi menjadi budaya kerja yang berlandaskan spiritualitas.

Program ini memperlihatkan bahwa institusi pendidikan tidak hanya berperan dalam pengembangan intelektual, tetapi juga memiliki tanggung jawab dalam membangun karakter dan kedalaman spiritual sumber daya manusianya. Di titik inilah, Kultum Ramadan menemukan relevansinya—bukan sekadar kegiatan, melainkan proses pembentukan makna. (YMN)

 

Balikpapan, 17 Maret 2026 – Suasana hangat dan penuh keakraban menyelimuti kegiatan buka puasa bersama yang diselenggarakan oleh Divisi Sumber Daya Universitas Mulia di kafe Alhamd, kawasan Gunung Bakaran, pada Senin sore, 16 Maret 2026. Kegiatan ini menjadi momen mempererat silaturahmi di antara pimpinan dan seluruh staf dalam suasana Ramadan yang sarat makna.

Acara tersebut dihadiri oleh Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Universitas Mulia, Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I., bersama jajaran pimpinan di bawah koordinasinya serta para karyawan yang sehari-hari mengemban tugas mendukung pengelolaan sumber daya di lingkungan kampus.

Dalam suasana santai namun penuh kekhidmatan, para peserta berkumpul sejak menjelang waktu berbuka. Percakapan ringan, canda, serta saling bertukar cerita menjadi warna tersendiri yang menghadirkan kehangatan kebersamaan di tengah padatnya aktivitas kerja.

Wibisono menyampaikan bahwa kegiatan sederhana seperti ini memiliki makna yang penting bagi kehidupan organisasi. Menurutnya, kebersamaan yang dibangun di luar ruang kerja mampu memperkuat rasa saling memahami dan mempererat hubungan antarpegawai.

“Ramadan selalu menjadi momentum untuk memperkuat kebersamaan. Dalam suasana seperti ini kita bisa saling mendekatkan diri, mempererat silaturahmi, dan menumbuhkan semangat kerja yang lebih baik,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa Divisi Sumber Daya memegang peranan strategis dalam mendukung keberlangsungan berbagai aktivitas di Universitas Mulia. Karena itu, soliditas tim dan hubungan kerja yang harmonis menjadi fondasi penting dalam menjalankan berbagai tugas dan tanggung jawab.

Senyum kebersamaan keluarga besar Divisi Sumber Daya Universitas Mulia terekam dalam foto bersama sebelum berbuka puasa di Caffe Alhamd Gunung Bakaran.

Menjelang waktu berbuka, acara dilanjutkan dengan doa bersama yang dipanjatkan dengan penuh khusyuk. Suasana hening sejenak, menghadirkan refleksi tentang rasa syukur, kebersamaan, serta harapan agar setiap langkah pengabdian di lingkungan kampus senantiasa membawa keberkahan.

Saat azan magrib berkumandang, seluruh peserta berbuka puasa bersama dengan hidangan sederhana yang telah disiapkan. Tawa ringan dan percakapan hangat kembali mengisi ruang kebersamaan, mencerminkan kedekatan yang terbangun di antara para anggota tim.

Kegiatan ini tidak sekadar menjadi agenda buka puasa bersama, tetapi juga ruang memperkuat ikatan emosional antarpegawai. Dalam suasana Ramadan, kebersamaan tersebut menjadi pengingat bahwa kekuatan sebuah institusi tidak hanya terletak pada sistem dan program kerja, tetapi juga pada hubungan manusiawi yang terjalin di dalamnya.

Melalui momen sederhana di bulan suci ini, Divisi Sumber Daya Universitas Mulia berharap semangat kebersamaan yang terbangun dapat terus terpelihara, menjadi energi positif dalam menjalankan amanah pelayanan dan pengembangan institusi ke depan. (YMN)

 

 

Balikpapam, 18 Februari 2026-Dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah, keluarga besar Universitas Mulia menyampaikan ucapan selamat menunaikan ibadah puasa kepada seluruh sivitas akademika dan masyarakat luas.

Rektor Universitas Mulia, Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si., menyampaikan bahwa Ramadhan merupakan momentum strategis untuk memperkuat integritas spiritual sekaligus meningkatkan kualitas kinerja akademik.

“Ramadhan tidak hanya menghadirkan dimensi ibadah personal, tetapi juga membentuk karakter disiplin, kejujuran, dan tanggung jawab. Nilai-nilai inilah yang menjadi fondasi utama dalam membangun budaya akademik yang unggul dan beretika,” ujar beliau.

Lebih lanjut, Rektor menekankan bahwa puasa melatih ketahanan diri (self-restraint) yang selaras dengan prinsip-prinsip tata kelola perguruan tinggi yang profesional. Dalam konteks pendidikan tinggi, spirit Ramadhan mendorong lahirnya insan akademik yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan sosial.

Senada dengan itu, para Wakil Rektor Universitas Mulia mengajak seluruh dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa untuk menjadikan Ramadhan sebagai ruang refleksi kolektif. Momentum ini diharapkan mampu memperkuat etos kerja, meningkatkan produktivitas ilmiah, serta memperdalam kepedulian sosial melalui berbagai aktivitas pengabdian kepada masyarakat.

“Puasa adalah madrasah karakter. Di dalamnya terdapat latihan konsistensi, pengendalian diri, dan empati terhadap sesama. Nilai-nilai tersebut sangat relevan dalam membangun ekosistem akademik yang humanis dan berkelanjutan,” demikian disampaikan dalam pernyataan bersama jajaran pimpinan universitas.

Universitas Mulia juga mengajak seluruh sivitas akademika untuk tetap menjaga keseimbangan antara aktivitas perkuliahan, penelitian, pengabdian, dan ibadah selama bulan suci. Dengan manajemen waktu yang baik, Ramadhan justru menjadi penguat produktivitas dan kualitas kinerja.

Mengakhiri pernyataannya, Rektor dan para Wakil Rektor menyampaikan doa agar Ramadhan tahun ini menjadi sarana peningkatan iman dan takwa, serta menghadirkan keberkahan bagi keluarga besar Universitas Mulia.

“Semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita, menguatkan komitmen kita dalam menuntut dan mengembangkan ilmu, serta menjadikan Universitas Mulia sebagai institusi pendidikan yang memberi manfaat luas bagi umat dan bangsa.”

Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan 1447 H.
Semoga setiap langkah akademik yang kita tempuh bernilai ibadah dan menghadirkan kemaslahatan. (YMN)

Oleh: Yamani, S.S., M.Pd.

Pengurus PC DMI Balikpapan Kota | Pengurus MUI Balikpapan Kota | Dosen Universitas Mulia

Balikpapan, 17 Februari 2026—Malam ini, umat Islam di Indonesia kembali menanti hasil sidang isbat yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia. Sebagian saudara kita mungkin sudah menetapkan awal Ramadhan berdasarkan perhitungan hisab, sebagian lagi menunggu keputusan resmi pemerintah setelah laporan rukyat dari berbagai titik pengamatan. Setiap tahun suasana ini berulang, dan setiap tahun pula pertanyaan yang sama muncul: mengapa awal Ramadhan bisa berbeda?

Perbedaan itu bukan lahir dari ego, bukan pula dari keinginan untuk menyelisihi. Ia berakar pada cara membaca langit. Secara astronomi, awal bulan hijriah ditandai dengan kemunculan hilal, yaitu bulan sabit pertama setelah fase bulan baru. Prosesnya dimulai dengan ijtima’ atau konjungsi, ketika matahari dan bulan berada pada satu garis bujur langit. Namun pada saat itu, bulan sama sekali belum terlihat. Ia baru saja “lahir” dan masih sangat dekat dengan matahari. Untuk bisa tampak sebagai hilal, bulan harus bergerak menjauh, memiliki jarak sudut tertentu dari matahari, dan cukup tinggi di atas ufuk saat matahari terbenam.

Di sinilah letak persoalannya. Secara matematis, posisi bulan bisa dihitung dengan sangat presisi. Kita bisa mengetahui dengan akurat kapan konjungsi terjadi, berapa derajat ketinggian bulan saat magrib, dan berapa jarak sudutnya dari matahari. Metode ini disebut hisab, dan digunakan oleh organisasi seperti Muhammadiyah. Prinsip yang dipakai adalah wujudul hilal: jika saat matahari terbenam bulan sudah berada di atas ufuk, walau sangat tipis, maka bulan baru dianggap telah masuk. Ini adalah pendekatan ilmiah yang konsisten dan dapat diprediksi jauh hari.

Namun ada pendekatan lain yang juga ilmiah. Hilal bukan hanya soal angka, tetapi juga soal visibilitas. Ia dipengaruhi oleh ketebalan cahaya senja, kelembaban udara, polusi, dan kemampuan optik manusia maupun teleskop. Karena itu, dalam sidang isbat pemerintah bersama para ulama dan pakar astronomi mempertimbangkan kriteria kemungkinan terlihatnya hilal (imkanur rukyat). Pendekatan ini juga digunakan oleh ormas seperti Nahdlatul Ulama. Jika secara hitungan bulan memang sudah ada, tetapi secara ilmiah hampir mustahil terlihat, maka bulan berjalan disempurnakan menjadi tiga puluh hari. Perbedaannya bukan pada sainsnya, melainkan pada batas minimal yang dianggap cukup untuk menetapkan awal bulan.

Dari sisi fikih, perbedaan ini sama sekali bukan hal baru. Hadis Nabi ﷺ menyebutkan, “Berpuasalah karena melihatnya dan berbukalah karena melihatnya.” Mayoritas ulama dari Mazhab Syafi’i, Mazhab Maliki, dan Mazhab Hanbali memahami hadis ini secara literal: rukyat menjadi dasar utama. Namun sebagian ulama lain seperti Taqi al-Din al-Subki membuka ruang penggunaan hisab ketika telah mencapai tingkat kepastian ilmiah. Artinya, sejak berabad-abad lalu para ulama telah berbeda pendapat dalam bingkai ijtihad, bukan dalam bingkai permusuhan.

Di sinilah kita perlu menundukkan hati. Rasulullah ﷺ telah memberi kaidah yang menenteramkan: “Jika seorang mujtahid berijtihad lalu benar, ia mendapat dua pahala; jika ia berijtihad lalu keliru, ia mendapat satu pahala.” Betapa indahnya agama ini. Tidak ada yang sia-sia dalam usaha mencari kebenaran. Yang menghitung dengan ilmu astronomi mendapatkan pahala atas ijtihadnya. Yang menunggu rukyat dan keputusan sidang isbat pun mendapatkan pahala atas ijtihadnya. Semua berjalan di atas kaidah ilmiah dan syar’i. Tidak ada yang rugi.

Yang sungguh merugi bukanlah mereka yang berbeda dalam menentukan satu hari, melainkan mereka yang membiarkan perbedaan itu membelah hati. Betapa menyedihkan jika hilal yang begitu tipis justru melahirkan prasangka yang tebal. Betapa pilu jika Ramadhan yang datang membawa ampunan dan rahmat malah disambut dengan kecurigaan dan caci maki. Bulan sabit itu hadir dengan kelembutan cahaya, namun jangan sampai cahaya yang lembut itu berubah menjadi api yang menghanguskan ukhuwah. Padahal Allah telah menjanjikan pahala bagi setiap ijtihad yang tulus. Tidak ada yang sia-sia dalam upaya mencari kebenaran. Yang benar mendapat dua pahala, yang keliru tetap mendapat satu pahala. Semua bernilai di sisi-Nya. Yang menjadi musibah bukanlah perbedaan metode, tetapi ketika hati memilih untuk merobek persaudaraan yang seharusnya dijaga.

Malam ini sidang isbat akan dilaksanakan. Sebagian mungkin telah mantap dengan keyakinannya, sebagian lainnya menanti keputusan resmi dengan harap dan doa. Namun apa pun hasilnya, semoga yang kita jaga bukan hanya angka pada kalender, melainkan keutuhan jiwa sebagai satu umat. Mungkin kita berbeda dalam memulai puasa, tetapi kita tetap berdiri menghadap kiblat yang sama. Kita tetap membaca ayat-ayat yang sama. Kita tetap memohon ampunan kepada Tuhan yang sama dengan air mata yang sama. Allah tidak pernah memerintahkan kita untuk bersatu dalam metode, melainkan bersatu dalam iman. Di situlah rahmat Islam memancar—memberi ruang bagi ilmu untuk berpikir, bagi ijtihad untuk bekerja, dan bagi perbedaan untuk hidup tanpa harus melahirkan kebencian. Jika Ramadhan adalah bulan penyucian hati, maka jangan biarkan ia datang ketika hati masih menyimpan bara. Biarlah hilal berbeda satu malam, tetapi jangan biarkan kita berjarak seumur hidup.

Jika kita memulai Ramadhan dengan hati yang lapang, maka satu hari perbedaan tidak akan mengurangi pahala sedikit pun. Namun jika kita memulai dengan kemarahan dan kesombongan, kita bisa kehilangan keberkahan yang jauh lebih besar. Biarlah para ahli berijtihad dengan ilmu mereka, dan biarlah kita menyambut Ramadhan dengan hati yang lembut. Sebab pada akhirnya, yang Allah lihat bukan seberapa cepat kita berpuasa, tetapi seberapa bersih jiwa kita ketika menyambutnya.

Balikpapan, 12 Februari 2026 – Inkubator Bisnis Universitas Mulia menyelenggarakan kegiatan Business Coaching: Cooking Class with Sania pada Kamis, 12 Februari 2026, di Ballroom Cheng Hoo. Kegiatan ini dirancang bukan sekadar kelas memasak, melainkan sebagai ruang pembelajaran terpadu yang menggabungkan keterampilan produksi, strategi pemasaran, hingga pengelolaan keuangan digital dalam konteks kewirausahaan modern.

Peserta mengikuti sesi ice breaking sebagai pembuka kegiatan Business Coaching untuk membangun interaksi dan kerja sama sebelum memasuki materi inti.

Menghadirkan Coach Inkubator Bisnis Universitas Mulia, Chef Sania, Hakasima Houseware, serta perwakilan Bank Mandiri, kegiatan ini mengangkat pendekatan praktik langsung (experiential learning) untuk memperkenalkan siklus usaha secara menyeluruh—dari proses produksi hingga tata kelola finansial.

Acara diawali dengan sesi ice breaking yang membangun dinamika kolaboratif antar peserta. Suasana kemudian beralih ke praktik pembuatan roti kopi dan serabi Solo. Pada tahap ini, peserta tidak hanya mempelajari teknik baking, tetapi juga memahami standar kualitas produk dan efisiensi proses sebagai bagian dari manajemen usaha kuliner.

Chef Sania memperagakan teknik pembuatan adonan roti kopi dalam sesi praktik sebagai bagian dari pembelajaran produksi kuliner.

Pembahasan berlanjut pada aspek branding dan packaging produk. Peserta diajak melihat kemasan bukan sekadar pelindung, melainkan instrumen komunikasi nilai produk kepada konsumen. Sesi marketing digital memberikan gambaran tentang pemanfaatan media sosial dan platform daring sebagai saluran distribusi yang terukur.

Melengkapi rangkaian materi, Bank Mandiri memaparkan pengelolaan keuangan digital untuk usaha, termasuk pencatatan transaksi dan optimalisasi layanan perbankan guna mendukung keberlanjutan bisnis. Penekanan diberikan pada pentingnya literasi finansial sebagai fondasi pertumbuhan usaha yang akuntabel.

Kepala Inkubator Bisnis Universitas Mulia, Dr. Linda Fauziyah Ariyani, M.Pd., menyampaikan materi penguatan kewirausahaan kepada peserta kegiatan.

Rezkika Ramadhani, salah satu peserta, menyampaikan kesannya, “Saya dapat belajar membuat roti dengan teman-teman. Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi saya dan teman-teman, dan saya mendapatkan pengalaman baking yang sangat seru.”

Sementara itu, Kepala Inkubator Bisnis Universitas Mulia, Linda, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya membangun ekosistem kewirausahaan kampus. “Kegiatan ini diharapkan bisa memperkuat komunitas wirausaha di lingkungan Universitas Mulia,” ujarnya.

Melalui kegiatan ini, Inkubator Bisnis Universitas Mulia menempatkan kewirausahaan tidak hanya sebagai keterampilan teknis, tetapi sebagai kompetensi strategis yang memadukan kreativitas, manajemen, dan literasi keuangan dalam satu kesatuan praktik. (YMN)

 

Oleh: Yamani, S.S., M.Pd.
Pengurus PC DMI Balikpapan Kota | Dosen Universitas Mulia


Balikpapan, 12 Februari 2026—
Beberapa hari lagi, mungkin Kamis depan, kita akan memasuki gerbang yang setiap tahun Allah bukakan dengan cara yang berbeda: bukan sekadar lewat hitungan kalender, tetapi lewat panggilan dari langit. Ramadhan bukan hanya pergantian bulan. Ia adalah momentum ketika Allah sendiri mengumumkan ampunan-Nya, membuka pintu-pintu surga, menutup pintu-pintu neraka, dan membelenggu para setan. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa pada malam pertama Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka dan tidak ada satu pun yang ditutup selama sebulan penuh, pintu-pintu neraka ditutup dan tidak ada satu pun yang dibuka, lalu setiap malam terdengar seruan: “Wahai yang menghendaki kebaikan, menghadaplah. Wahai yang menghendaki keburukan, berhentilah.”

Bayangkan, setiap malam langit memanggil. Pertanyaannya bukan apakah seruan itu ada, tetapi apakah hati kita masih peka untuk menjawabnya.

Bagi para dosen, Ramadhan adalah saat paling jujur untuk menilai kembali makna ilmu yang kita ajarkan. Kita berdiri di depan kelas, menjelaskan teori, memaparkan metodologi, membimbing penelitian, memberi nilai, dan membentuk cara berpikir mahasiswa. Namun Ramadhan datang untuk bertanya dengan lembut sekaligus tegas: sudahkah ilmu itu mengalir menjadi teladan? Sudahkah mahasiswa bukan hanya memahami konsep, tetapi melihat akhlak dalam diri pengajarnya? Mengajar bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan amanah yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Jika pintu surga benar-benar dibuka selama sebulan penuh, bukankah kita ingin masuk bersama generasi yang pernah kita bimbing, bukan sendirian membawa gelar dan reputasi?

Bagi mahasiswa, Ramadhan adalah cermin paling jernih bagi masa muda. Di usia yang penuh semangat, penuh cita-cita, dan sering kali juga penuh godaan, Ramadhan mengajarkan integritas yang paling dalam. Puasa adalah ibadah yang sunyi; tidak ada yang tahu kecuali Allah. Di ruang-ruang kampus, mungkin kita bisa tampil cerdas, aktif, dan percaya diri. Di media sosial, kita bisa terlihat sempurna. Tetapi ketika lapar dan dahaga datang, ketika tidak ada yang mengawasi, hanya iman yang berbicara. Ramadhan melatih kejujuran yang tidak bisa dipalsukan. Ia membentuk karakter yang tidak dibangun oleh sorotan publik, tetapi oleh kesadaran bahwa Allah selalu melihat.

Bagi para akademisi, yang terbiasa dengan diskursus, publikasi, dan perdebatan ilmiah, Ramadhan menghadirkan pertanyaan yang lebih dalam daripada sekadar argumen: sudahkah hati kita tunduk? Kita mungkin piawai menjelaskan epistemologi, metodologi, dan teori peradaban. Kita bisa berbicara tentang krisis kemanusiaan global, ketimpangan sosial, dan transformasi digital. Namun Ramadhan mengajak kita untuk duduk sendirian di sepertiga malam, menundukkan kepala, dan mengakui bahwa setinggi apa pun pengetahuan, kita tetap hamba. Ada saatnya kecerdasan berhenti berbicara dan air mata yang mengambil alih. Di situlah ilmu menemukan ruhnya.

Para pengurus masjid pun akan memasuki bulan tersibuk dalam setahun. Jadwal disusun, imam ditentukan, penceramah dihubungi, konsumsi diatur, agenda dirapikan. Masjid akan ramai oleh suara dan aktivitas. Tetapi Ramadhan tidak hanya meminta kerapian program; ia menuntut keikhlasan hati. Masjid bukan sekadar pusat kegiatan, melainkan pusat perubahan. Jangan sampai ia megah oleh dekorasi tetapi miskin oleh ketulusan. Jangan sampai ia penuh oleh manusia tetapi kosong oleh doa yang sungguh-sungguh. Ramadhan mengingatkan bahwa tugas memakmurkan masjid bukan hanya menghidupkan acara, melainkan menghidupkan jiwa-jiwa yang datang dengan luka, dosa, dan harapan.

Bagi remaja masjid, Ramadhan adalah panggilan keberanian. Mungkin ada di antara kalian yang merasa belum layak, masih bergulat dengan kesalahan, atau merasa kecil dibandingkan orang-orang yang tampak lebih saleh. Namun seruan langit itu tidak memilih usia dan tidak mensyaratkan kesempurnaan. Ia memanggil siapa pun yang ingin menjadi lebih baik. Menjadi remaja masjid bukan tentang terlihat religius di hadapan orang lain, tetapi tentang berani melawan diri sendiri ketika tak ada yang melihat. Ramadhan adalah kesempatan untuk membuktikan bahwa masa muda bukan alasan untuk menunda taubat, melainkan alasan untuk mempercepatnya.

Di atas semua itu, ada satu pertanyaan yang mungkin membuat dada kita sesak: bagaimana jika ini Ramadhan terakhir? Tahun lalu kita masih bersama banyak orang yang kini hanya tinggal nama dalam doa. Tidak ada satu pun dari kita yang memegang jaminan akan bertemu Ramadhan berikutnya. Setiap kali bulan ini datang, ia tidak pernah berjanji akan kembali kepada jiwa yang sama. Maka menunda taubat adalah kerugian yang tidak masuk akal. Menunda memaafkan adalah kesombongan yang berbahaya. Menunda kebaikan adalah perjudian yang terlalu mahal.

Setiap malam Ramadhan, langit bertanya: adakah yang memohon ampun sehingga ia akan diampuni? Adakah yang ingin bertaubat sehingga taubatnya diterima? Adakah yang berdoa sehingga doanya dikabulkan? Betapa menyedihkan jika pertanyaan itu menggema, sementara hati kita tetap diam dan sibuk oleh urusan dunia yang tidak pernah benar-benar selesai.

Beberapa hari lagi, mungkin Kamis depan, pintu-pintu surga akan dibuka. Jangan biarkan hati kita tetap tertutup. Sambutlah Ramadhan bukan hanya dengan ucapan dan spanduk, tetapi dengan tekad yang sunyi namun nyata: menjadi dosen yang lebih jujur, mahasiswa yang lebih bersih, akademisi yang lebih rendah hati, pengurus masjid yang lebih ikhlas, dan remaja yang lebih berani menaklukkan dirinya sendiri.

Jika Ramadhan ini mampu membuat kita menangis dalam sujud dan merasa kecil di hadapan Allah, maka itu lebih berharga daripada segala pencapaian yang pernah kita banggakan. Semoga ketika Ramadhan berlalu, yang pergi bukan hanya bulannya, tetapi juga dosa-dosa kita, dan yang tersisa adalah hati yang lebih hidup daripada sebelumnya.

Balikpapan, 26 Januari 2026—Program Studi Sistem Informasi Universitas Mulia menyelenggarakan Class Champion League, sebuah kompetisi antar kelas yang dirancang sebagai bagian dari strategi pembelajaran berbasis praktik. Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa dari mata kuliah Computational Thinking, Pemrograman Berorientasi Objek, dan Literasi Gen AI, serta berlangsung pada Rabu, 21 Januari 2026, pukul 08.00–15.40 WITA di Ballroom Cheng Ho dan beberapa ruang kelas pendukung.

Kompetisi ini disusun untuk memfasilitasi mahasiswa dalam mengintegrasikan penguasaan konsep akademik dengan keterampilan komunikasi, kerja kolaboratif, serta presentasi solusi berbasis teknologi. Melalui rangkaian tantangan yang diberikan, mahasiswa diuji dalam merumuskan pendekatan pemecahan masalah, menyampaikan argumen teknis, dan bekerja secara sistematis dalam tim.

Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh tim pengajar Program Studi Sistem Informasi, dengan koordinasi akademik berada di bawah Rahmat Saudi Al Fathir, A.S., selaku dosen pengampu pada sejumlah mata kuliah yang terlibat. Untuk menjaga mutu penilaian, program studi melibatkan panel juri dengan latar belakang rekayasa perangkat lunak, yakni Muhammad Kharisma Mahardika, Zikri Suanda, dan Pramudya Prima Insan Prayitno.

Pada akhir kompetisi, sejumlah tim mahasiswa dinyatakan meraih peringkat terbaik pada masing-masing kategori lomba. Pada cabang Computational Thinking, penghargaan diberikan kepada tim Adalah Pokoknya. Kategori Literasi Gen AI dimenangkan oleh tim Regu Tulip, sementara cabang Pemrograman Berorientasi Objek diraih oleh tim Nasihuyy.

Program Studi Sistem Informasi menilai bahwa pelaksanaan Class Champion League memberikan ruang pembelajaran kontekstual bagi mahasiswa, khususnya dalam mengembangkan kemampuan mengomunikasikan solusi teknis, mengelola kerja kelompok, serta merespons persoalan berbasis studi kasus.

Rangkaian kegiatan berlangsung melalui sesi perlombaan dan presentasi terbuka, disertai diskusi evaluatif yang memungkinkan mahasiswa memperoleh umpan balik langsung dari para juri. Pola ini diharapkan dapat memperkuat proses pembelajaran di kelas melalui pengalaman aplikatif yang terstruktur.

Melalui kegiatan ini, Program Studi Sistem Informasi Universitas Mulia memperluas penerapan pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning) dengan memfasilitasi mahasiswa untuk menguji konsep teoritis dalam konteks kompetitif yang terstruktur. Model kegiatan semacam ini dipandang sebagai sarana evaluatif terhadap capaian pembelajaran mata kuliah sekaligus wahana penguatan keterampilan profesional mahasiswa yang relevan dengan praktik industri teknologi informasi. (YMN)

 

Balikpapan, 26 Januari 2026—Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Mulia melalui Program Studi Manajemen menyelenggarakan seminar bertajuk “Menata Karier dan Masa Depan di Usia 20-an” pada Jumat, 23 Januari 2026. Kegiatan ini diikuti oleh 194 mahasiswa, yang terdiri atas 135 mahasiswa baru angkatan 2026 serta 59 mahasiswa angkatan 2025.

Ketua Program Studi Manajemen Universitas Mulia, Dr. Pudjiati, S.E., M.M., berfoto bersama mahasiswa peserta seminar yang menerima cenderamata atas keaktifan mereka dalam sesi tanya jawab.

Kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai bagian dari upaya fakultas dalam memberikan pembekalan nonkurikuler kepada mahasiswa, khususnya terkait perencanaan karier sejak masa studi. Selain itu, seminar ini juga memperkenalkan program pembentukan Duta Manajemen yang akan mendukung kegiatan Promosi Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Program Studi Manajemen.

Ketua Program Studi Manajemen Universitas Mulia, Dr. Pudjiati, S.E., M.M., menyampaikan materi dalam seminar “Menata Karier dan Masa Depan di Usia 20-an” yang diselenggarakan oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mulia.

Dalam sesi utama, Ketua Program Studi Manajemen Universitas Mulia, Dr. Pudjiati, S.E., M.M., menyampaikan materi mengenai pengenalan potensi diri, perumusan tujuan profesional, serta pentingnya penyusunan langkah yang terarah dalam menyiapkan karier mahasiswa. Ia juga menyoroti perlunya penguatan keterampilan komunikasi, kepemimpinan, kerja sama tim, serta kesiapan menghadapi dinamika dunia kerja.

Mahasiswa diarahkan untuk memanfaatkan kegiatan organisasi, pelatihan, dan aktivitas kemahasiswaan sebagai bagian dari proses pengembangan diri selama menempuh pendidikan di perguruan tinggi, termasuk keterlibatan dalam kegiatan promosi program studi.

Seorang mahasiswa mengajukan pertanyaan dalam sesi diskusi pada seminar perencanaan karier yang digelar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mulia.

Program Duta Manajemen diperkenalkan sebagai wadah partisipasi mahasiswa dalam kegiatan komunikasi publik Program Studi Manajemen kepada calon mahasiswa dan masyarakat. Melalui program tersebut, mahasiswa diharapkan mampu menjalankan peran representatif secara bertanggung jawab serta menunjukkan sikap profesional dalam interaksi publik.

Pelaksanaan kegiatan didukung oleh Himpunan Mahasiswa Manajemen (HMM) yang berperan dalam membantu kelancaran teknis dan koordinasi selama seminar berlangsung.

Rangkaian kegiatan dilaksanakan melalui pemaparan materi dan sesi diskusi. Partisipasi mahasiswa tercermin dari jumlah pertanyaan serta tanggapan yang muncul selama sesi berlangsung.

Mahasiswa peserta seminar berfoto bersama Ketua Program Studi Manajemen Universitas Mulia, Dr. Pudjiati, S.E., M.M., selaku pemateri utama kegiatan.

Melalui kegiatan ini, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mulia bersama Program Studi Manajemen memfasilitasi mahasiswa dalam memahami pentingnya perencanaan masa depan sejak dini, kesiapan menghadapi dunia kerja, serta peran mahasiswa dalam kegiatan representasi program studi di lingkungan universitas. (YMN)

 

Balikpapan, 6 Januari 2015—Universitas Mulia menjadi salah satu perguruan tinggi swasta yang ditetapkan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia sebagai penerima arah kinerja nasional tahun 2026. Penetapan tersebut dilakukan dalam agenda penandatanganan Indikator Kinerja Utama (IKU) bersama perguruan tinggi negeri dan swasta dari seluruh Indonesia yang berlangsung di Aula Graha Diktisaintek, Gedung D Kemdiktisaintek, Jakarta Pusat, Senin (5/1).

Kegiatan ini dihadiri ratusan pimpinan perguruan tinggi, termasuk rektor dan wakil rektor dari PTN dan PTS, yang secara kolektif menandatangani dokumen kebijakan kinerja sebagai dasar pelaksanaan dan evaluasi penyelenggaraan pendidikan tinggi tahun 2026. Dari Kalimantan Timur, hanya tiga PTS yang ditetapkan dalam forum tersebut, yakni Universitas Mulia, Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT), dan Universitas Balikpapan (Uniba). Secara keseluruhan, terdapat sepuluh PTS terpilih di wilayah LLDIKTI XI.

Penandatanganan IKU ini merupakan bagian dari implementasi kebijakan Perguruan Tinggi Berdampak, yang menempatkan kinerja dan akuntabilitas institusi sebagai elemen utama dalam pembangunan pendidikan tinggi. Bagi PTN, kebijakan ini diwujudkan dalam bentuk kontrak kinerja, sementara bagi PTS ditetapkan dalam bentuk arah kinerja sebagai rujukan strategis pengelolaan institusi.

Rektor Universitas Mulia Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si., bersama Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I., berada di barisan pimpinan perguruan tinggi negeri dan swasta terpilih pada agenda Penandatanganan IKU Nasional 2026 di Jakarta.

Dalam pidato kebijakannya, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Brian Yuliarto, S.T., M.Eng., Ph.D., menegaskan pentingnya penguatan kemandirian perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, dengan tetap berada dalam kerangka kebijakan nasional. Kontrak kinerja dan arah kinerja diposisikan sebagai instrumen strategis untuk membantu perguruan tinggi mengelola perubahan sekaligus meningkatkan kontribusinya terhadap pembangunan nasional.

Menteri juga menyampaikan visi pendidikan tinggi, sains, dan teknologi periode 2025–2029, yaitu terwujudnya sistem pendidikan tinggi yang inklusif, adaptif, dan berdampak dalam mendukung transformasi bangsa menuju Indonesia Emas 2045. Visi tersebut diterjemahkan ke dalam misi serta indikator kinerja yang menjadi panduan bersama bagi pimpinan perguruan tinggi dalam merumuskan kebijakan, program, dan tata kelola institusi secara berkelanjutan.

Perguruan tinggi dipandang sebagai kekuatan strategis bangsa dalam membangun sumber daya manusia unggul dan memperkuat kapasitas riset nasional. Dalam konteks ini, kemajuan pendidikan tinggi dinilai tidak dapat dicapai secara terpisah, melainkan memerlukan orkestrasi yang baik serta kolaborasi antarlembaga, baik antara PTN dan PTS, pemerintah, maupun sektor industri, sesuai dengan kapasitas dan karakter masing-masing institusi.

Rektor Universitas Mulia Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si., bersiap menandatangani dokumen Indikator Kinerja Utama (IKU) bersama pimpinan perguruan tinggi terpilih dari seluruh Indonesia.

Perhatian juga diberikan pada peran hampir sepuluh juta mahasiswa sebagai kekuatan strategis melalui agenda kampus berdampak. Aktivitas akademik dan nonakademik perguruan tinggi dinilai telah memberikan kontribusi ekonomi, sosial, dan lingkungan, yang ke depan diarahkan untuk menghasilkan dampak yang lebih terukur melalui penguatan industri berbasis sains dan teknologi, hilirisasi riset, serta kolaborasi dengan sektor swasta dan pemangku kepentingan lainnya.

Selain mahasiswa, dosen ditempatkan sebagai aktor kunci dalam pengembangan sumber daya manusia dan inovasi nasional. Isu kesejahteraan dosen serta berbagai terobosan yang dilakukan pimpinan perguruan tinggi dipandang sebagai bagian dari penguatan ekosistem pendidikan tinggi. Perbedaan tingkat kemajuan antarinstitusi tidak dipandang sebagai hambatan, melainkan sebagai ruang untuk saling belajar dan mendorong peningkatan mutu secara kolektif.

Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Universitas Mulia, Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I., menilai awal tahun 2026 sebagai momentum strategis bagi institusi. Ia menjelaskan bahwa sejumlah capaian penting telah mengawali fase baru pengembangan universitas.

Pimpinan perguruan tinggi negeri dan swasta dari berbagai wilayah Indonesia mengikuti Penandatanganan IKU Nasional 2026 yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

“Awal tahun 2026 adalah momentum penting bagi Universitas Mulia. Diawali dengan dicapainya status akreditasi institusi Baik Sekali pada Desember 2025, memasuki fase Research & Innovation University 2026–2030, serta terpilihnya Universitas Mulia sebagai salah satu PTS di wilayah LLDIKTI XI yang ikut dalam penandatanganan IKU nasional,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa meskipun bagi PTS kebijakan tersebut masih bersifat arah kinerja, namun dampaknya cukup signifikan dalam memfokuskan program kerja institusi.

“Universitas Mulia telah menetapkan enam IKU Wajib, dua IKU Pilihan, dan satu IKU Partisipatif. Dengan pencapaian akreditasi Baik Sekali, pergeseran ke fase Research & Innovation University, serta penandatanganan IKU bersama Menteri, tahun 2026 akan menjadi tahun yang penuh tantangan sekaligus peluang bagi Universitas Mulia untuk menjadi lebih baik,” jelasnya.

Sementara itu, Rektor Universitas Mulia Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si., memandang penetapan arah kinerja nasional sebagai penegasan posisi strategis PTS dalam kebijakan pendidikan tinggi nasional.

“Penetapan arah kinerja ini kami pahami sebagai penegasan peran perguruan tinggi swasta dalam kebijakan pendidikan tinggi nasional. Bagi Universitas Mulia, arah kinerja tersebut menjadi rujukan untuk memastikan pengelolaan institusi tetap otonom, terukur, dan selaras dengan prioritas pembangunan nasional,” ungkapnya.

Pada agenda tersebut, Universitas Mulia diwakili langsung oleh Rektor yang hadir bersama Wakil Rektor Bidang Sumber Daya. Kehadiran pimpinan universitas secara langsung mencerminkan keterlibatan aktif Universitas Mulia dalam perumusan serta pelaksanaan kebijakan pendidikan tinggi di tingkat nasional. (YMN)

Balikpapan, 6 Januari 2026—Program Studi Manajemen Universitas Mulia menempatkan pembaharuan kepengurusan Himpunan Mahasiswa (HIMA) sebagai bagian dari proses regenerasi kepemimpinan mahasiswa yang berkelanjutan. Pembaharuan ini diarahkan untuk memperkuat fungsi HIMA sebagai ruang pengembangan kepemimpinan, kemampuan berorganisasi, serta soft skills mahasiswa Manajemen, sejalan dengan dinamika kegiatan akademik dan nonakademik.

Pengibaran bendera pataka Program Studi Manajemen Universitas Mulia sebagai penanda pengukuhan kepengurusan Himpunan Mahasiswa Manajemen periode baru.

Kaprodi Manajemen Universitas Mulia, Dr. Pudjiati, S.E., M.M., menyampaikan bahwa melalui proses regenerasi kepengurusan, Prodi Manajemen berupaya menguatkan nilai kepemimpinan, integritas, tanggung jawab, dan kemampuan bekerja sama dalam tim. Selain itu, regenerasi kepengurusan juga diarahkan untuk meningkatkan kompetensi komunikasi, pengambilan keputusan, serta jiwa kewirausahaan mahasiswa sebagai bagian dari kesiapan menghadapi dunia kerja dan kontribusi di lingkungan akademik maupun masyarakat.

Menurutnya, HIMA memiliki peran strategis sebagai bagian dari ekosistem pembelajaran di luar kelas. Melalui aktivitas organisasi, mahasiswa memperoleh ruang praktik nyata dalam mengembangkan kepemimpinan, kemampuan manajerial, kolaborasi, serta keterampilan berpikir kritis yang mendukung capaian pembelajaran lulusan Program Studi Manajemen.

Foto bersama pengurus Himpunan Mahasiswa Manajemen Universitas Mulia dengan Kaprodi Manajemen seusai prosesi pelantikan pengurus.

Pembaharuan kepengurusan HIMA Manajemen dipadukan dengan aksi bersih pantai sebagai bentuk penanaman nilai kepedulian sosial dan lingkungan sejak awal masa kepengurusan. Dr. Pudjiati menegaskan bahwa kepemimpinan mahasiswa tidak hanya berkaitan dengan pengelolaan organisasi, tetapi juga mengandung tanggung jawab terhadap keberlanjutan lingkungan dan pengabdian kepada masyarakat. Dalam perspektif keilmuan manajemen, kegiatan sosial dan lingkungan dipandang sebagai sarana pembelajaran kontekstual untuk menerapkan nilai tanggung jawab sosial, keberlanjutan, serta kepemimpinan beretika.

Pelantikan kepengurusan Himpunan Mahasiswa Manajemen dilaksanakan pada 30 November 2025 sebagai penanda dimulainya masa kepengurusan yang baru. Rangkaian kegiatan tersebut kemudian dilanjutkan dengan aksi bersih pantai yang dilaksanakan pada 4 Januari 2026 di Pantai Soraya. Kegiatan ini melibatkan sekitar 30 mahasiswa yang terdiri dari pengurus lama dan pengurus baru HIMA Manajemen.

Aksi bersih Pantai Soraya yang dilaksanakan sebagai agenda perdana kepengurusan baru Himpunan Mahasiswa Manajemen Universitas Mulia.

Panitia kegiatan menjelaskan bahwa penggabungan agenda organisasi dengan aksi bersih pantai bertujuan menanamkan orientasi kepemimpinan yang memiliki kepedulian sosial dan lingkungan sejak awal masa kepengurusan. Melalui kegiatan ini, pengurus HIMA Manajemen diharapkan memiliki kesadaran akan tanggung jawab sosial serta mampu mengimplementasikan nilai-nilai keberlanjutan dalam setiap program kerja yang dijalankan.

Dalam pelaksanaannya, mahasiswa melakukan pengumpulan dan pemilahan sampah di sepanjang area Pantai Soraya, khususnya sampah plastik dan limbah non-organik. Selain membersihkan area publik pantai, mahasiswa juga saling mengedukasi mengenai pentingnya menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan pesisir sebagai bagian dari tanggung jawab bersama.

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, mahasiswa memperoleh pengalaman dalam membangun kebersamaan, kepedulian, dan tanggung jawab sosial. Kegiatan pembaharuan kepengurusan yang dipadukan dengan aksi bersih pantai memberikan pembelajaran langsung mengenai kepemimpinan dan kerja tim, serta memperkuat peran mahasiswa dalam menjaga lingkungan agar nilai-nilai tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan akademik maupun bermasyarakat.

Sejumlah mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Mulia bersama warga sekitar mengumpulkan sampah di kawasan Pantai Soraya.

Dr. Pudjiati menambahkan bahwa kegiatan ini sejalan dengan visi Universitas Mulia dalam pengembangan karakter mahasiswa yang berintegritas, peduli, dan bertanggung jawab. Melalui proses regenerasi kepengurusan yang dipadukan dengan kegiatan sosial dan lingkungan, mahasiswa diarahkan untuk tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial, kepemimpinan beretika, serta komitmen terhadap keberlanjutan dan pengabdian kepada masyarakat. (YMN)

Pengurus Himpunan Mahasiswa Manajemen Universitas Mulia melaksanakan operasi bersih Pantai Soraya dengan menggunakan kantong plastik (polybag) sebagai bagian dari kegiatan kepedulian lingkungan.