Oleh: Yamani, S.S., M.Pd.
Pengurus PC DMI Balikpapan Kota | Pengurus  MUI Kecamatan Balikpapan Kota | Dosen Universitas Mulia

 

Balikpapan, 24 April 2026— Ada masjid yang lantainya mengilap. Keramiknya serasi dengan warna dinding. Lampunya terang, bahkan terlalu terang untuk sekadar membaca mushaf. Semua tampak rapi, bersih, dan menenangkan mata.

Namun di sela-sela keindahan itu, ada sesuatu yang pelan-pelan menghilang. Tidak terdengar lagi riuh anak-anak belajar mengaji selepas magrib. Jarang terlihat remaja duduk berlama-lama, berdiskusi tentang hidup, tentang masa depan, atau sekadar mencari tempat pulang. Masjid tetap berdiri megah, tetapi terasa sunyi—bukan karena tidak ada orang, melainkan karena tidak ada kehidupan di dalamnya selain yang lima waktu.

Barangkali di titik ini kita perlu berhenti sejenak. Bukan untuk menyalahkan siapa pun, melainkan untuk bertanya dengan jujur: apakah kita sedang merawat masjid, atau tanpa sadar justru sedang mengosongkannya?

Dalam bayangan yang lebih utuh, masjid tidak hanya menjadi tempat untuk menunaikan shalat. Ia adalah ruang hidup. Tempat iman bertumbuh bersama ilmu. Tempat seorang anak pertama kali mengenal huruf-huruf Al-Qur’an. Tempat seorang pemuda yang gelisah menemukan arah. Tempat di mana yang lemah dikuatkan dan yang kebingungan dipeluk oleh kebersamaan.

Sejarah pernah menunjukkan itu. Di Masjid Nabawi pada masa Nabi Muhammad SAW, masjid bukan hanya ruang ibadah, tetapi pusat kehidupan umat. Di sana orang belajar, bermusyawarah, menyusun strategi, bahkan menyelesaikan persoalan sosial. Masjid menjadi jantung peradaban.

Lalu kita melihat keadaan hari ini. Banyak masjid tetap ramai saat waktu shalat, tetapi kembali lengang setelahnya. Dana kas terkumpul, bahkan tidak sedikit yang melimpah, tetapi penggunaannya sering berputar pada hal-hal yang serupa: memperindah bangunan, menyempurnakan tampilan, merapikan yang sebenarnya masih layak.

Tempat wudhu diganti bukan karena rusak, melainkan karena warnanya tidak lagi selaras. Keramik dibongkar bukan karena pecah, tetapi karena dianggap kurang sedap dipandang. Sementara itu, di luar pagar masjid, ada anak-anak yang belum tersentuh pembinaan, ada remaja yang mencari jati diri di tempat lain, ada keluarga yang membutuhkan uluran tangan tetapi tidak tahu harus ke mana.

Ini bukan semata-mata soal benar atau salah. Tidak ada yang keliru dalam keinginan memuliakan rumah Allah dengan tampilan terbaik. Tetapi ada sesuatu yang perlu diluruskan: ukuran keberhasilan masjid tidak seharusnya berhenti pada apa yang terlihat oleh mata.

Kita cenderung memilih sesuatu yang hasilnya langsung tampak. Mengganti keramik itu jelas hasilnya. Mengecat ulang dinding, memperbaiki plafon, menambah ornamen—semuanya memberi rasa puas yang cepat. Sementara membangun manusia adalah pekerjaan sunyi. Tidak selalu terlihat. Tidak selalu bisa diukur dalam waktu dekat.

Padahal, lantai yang mengilap tidak pernah bisa menggantikan kosongnya hati seorang pemuda yang tidak pernah disentuh pembinaan. Dinding yang rapi tidak akan menjawab kegelisahan seorang anak yang tumbuh tanpa arah.

Di sinilah letak amanah yang sering luput kita sadari. Dana masjid bukan sekadar angka yang harus dihabiskan atau disimpan. Ia adalah titipan kepercayaan. Setiap rupiah yang masuk membawa harapan agar masjid menjadi lebih hidup, lebih bermanfaat, lebih dekat dengan umat.

Maka pertanyaan yang semestinya kita ajukan bukan hanya, “Apakah ini boleh dilakukan?” tetapi juga, “Apakah ini yang paling dibutuhkan?”

Ada bagian yang mungkin paling sunyi dari semua ini: ketika remaja tidak lagi merasa masjid sebagai ruangnya. Mereka datang, menunaikan shalat, lalu pergi. Tidak ada alasan untuk tinggal. Tidak ada kegiatan yang memanggil. Tidak ada peran yang membuat mereka merasa dibutuhkan.

Masjid tetap berdiri. Tetapi generasi perlahan menjauh.

Perubahan ini tidak terjadi dalam satu malam. Ia datang perlahan, hampir tanpa suara. Hingga suatu hari kita menyadari bahwa yang tersisa hanya barisan yang semakin menua, sementara yang muda memilih mencari tempat lain untuk bertumbuh.

Mungkin yang perlu kita ubah bukan hanya program, tetapi cara pandang. Dari melihat masjid sebagai bangunan yang harus selalu tampak indah, menjadi ruang yang harus selalu terasa hidup. Dari fokus pada fisik, menjadi perhatian pada manusia yang datang dan pergi di dalamnya.

Renovasi tetap penting, tetapi ia seharusnya mengikuti kebutuhan, bukan sekadar selera. Ia menjadi pelengkap, bukan pusat dari segala perhatian.

Bayangkan sebuah masjid yang siangnya diisi suara anak-anak belajar membaca Al-Qur’an, sorenya dipenuhi remaja yang berdiskusi dan berkegiatan, malamnya menghadirkan kajian yang menenangkan hati, dan di sela-selanya ada tangan-tangan yang diam-diam membantu mereka yang kesulitan.

Mungkin tidak semua sudutnya sempurna. Mungkin catnya tidak selalu baru. Tetapi setiap bagiannya hidup.

Orang-orang datang bukan hanya untuk menunaikan kewajiban, tetapi karena mereka merasa di sanalah mereka bertumbuh.

Tulisan ini tidak sedang menunjuk siapa yang salah. Hampir semua pengurus masjid bekerja dengan niat yang tulus. Namun niat baik, tanpa arah yang tepat, kadang tidak cukup.

Barangkali yang kita butuhkan hari ini adalah keberanian untuk bertanya, dengan jujur dan tanpa defensif: apakah yang kita lakukan selama ini benar-benar menghidupkan umat?

Jika pertanyaan itu mulai kita rawat, mungkin perubahan tidak akan datang dengan gegap gempita. Ia akan hadir pelan-pelan, dalam langkah kecil yang konsisten. Dan suatu hari nanti, kita tidak lagi bangga hanya karena masjid kita indah, tetapi karena masjid itu benar-benar hidup—menghidupkan. (YMN)

 

Oleh: Wahyu Nur Alimyaningtias, S.Kom., M.Kom.

Balikpapan, 21 April 2026— Di sebuah ruang kelas sederhana di Universitas Mulia, cahaya lampu menerangi wajah-wajah penuh harapan. Duduk di depan, dosen dan beberapa mahasiswa wanita duduk dengan senyum hangat—sosok yang bukan hanya pengajar, tetapi juga inspirasi. Di belakang mereka, berdiri para mahasiswa dengan penuh semangat, sebagian mengepalkan tangan, sebagian lagi tersenyum percaya diri. Sebuah potret kecil, namun menyimpan cerita besar tentang perjuangan, mimpi, dan masa depan.

Hari itu terasa Istimewa, semangat Hari Kartini hidup dalam ruangan tersebut. Kartini pernah berkata bahwa perempuan harus berani berpikir dan maju. Semangat itulah yang kini menjelma dalam diri para akademisi wanita di Universitas Mulia. Mereka hadir bukan sekadar mengajar teori, tetapi menjadi jembatan bagi generasi muda—terutama generasi Z—untuk memahami dunia yang terus berubah dengan cepat.

Di tengah tantangan era digital, para dosen wanita Universitas Mulia membuktikan bahwa kelembutan bisa berjalan berdampingan dengan ketegasan, dan empati bisa menjadi kekuatan dalam mendidik. Mereka tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga menanamkan nilai: disiplin, keberanian, dan kepercayaan diri. Mereka memahami bahwa mahasiswa hari ini membutuhkan lebih dari sekadar materi—mereka butuh arah, motivasi, dan teladan.

Sementara itu, para mahasiswa berdiri sebagai simbol harapan masa depan. Dengan gaya khas generasi Z dinamis, kreatif, dan penuh ekspresi , mereka menunjukkan bahwa belajar bukan lagi sekadar kewajiban, tetapi sebuah perjalanan menuju cita-cita. Kepalan tangan mereka bukan hanya gaya, tetapi simbol tekad: tekad untuk sukses, untuk membanggakan keluarga, dan untuk memberikan kontribusi nyata bagi bangsa.

Wahyu Nur Alimyaningtias, S.Kom., M.Kom. berfoto bersama mahasiswa dan mahasiswinya usai perkuliahan, merekam momen kebersamaan yang hangat sekaligus mencerminkan semangat kolaborasi dan inspirasi di lingkungan Universitas Mulia.

Di ruangan itu, tidak ada batas antara dosen dan mahasiswa, yang ada adalah kolaborasi. Perjuangan akademisi wanita dan semangat belajar mahasiswa berpadu menjadi satu energi besar. Energi yang akan melahirkan inovasi, membentuk karakter, dan menciptakan masa depan yang lebih baik.

Cerita ini mengajarkan satu hal:
bahwa perjuangan tidak pernah sia-sia ketika dilakukan dengan hati.
Bahwa pendidikan adalah cahaya, dan perempuan adalah salah satu penjaga nyalanya.
Dan bahwa setiap mahasiswa, dengan semangat dan kerja kerasnya, sedang menulis kisah suksesnya sendiri.

Di Hari Kartini ini, semangat itu terus hidup di kelas-kelas, di pikiran, dan di hati mereka yang percaya bahwa mimpi bukan untuk ditunda, tetapi untuk diwujudkan.n (WN)

Oleh: Dr. Linda Fauziyah Ariyani, M.Pd.

Balikpapan, 21 April 2026—Hari Kartini bukan sekadar seremoni tahunan yang diperingati setiap 21 April. Lebih dari itu, Kartini adalah simbol keberanian untuk melampaui batas—batas budaya, batas pemikiran, bahkan batas yang seringkali diciptakan oleh diri sendiri. Semangat inilah yang relevan hingga hari ini, terutama di tengah dunia yang terus berubah dan menuntut setiap individu untuk adaptif, tangguh, dan berdaya.

Kartini masa kini bukan lagi hanya tentang perjuangan emansipasi dalam arti sempit, tetapi tentang bagaimana perempuan mampu hadir sebagai pribadi yang mandiri, berdaya, dan memberi kontribusi nyata. Kemandirian menjadi fondasi utama. Dari kemandirian lahir keberanian, dari keberanian lahir karya, dan dari karya lahir dampak. Perempuan yang mandiri tidak hanya mampu berdiri untuk dirinya sendiri, tetapi juga mampu menjadi sumber kekuatan bagi lingkungan di sekitarnya.

Dalam konteks saat ini, kebutuhan dunia kerja dan masyarakat tidak lagi melihat gender sebagai batas, melainkan kompetensi, karakter, dan kontribusi. Oleh karena itu, perempuan—khususnya mahasiswa—perlu mempersiapkan diri sejak dini. Tidak cukup hanya unggul secara akademik, tetapi juga harus memiliki keterampilan, kepercayaan diri, serta kemampuan untuk terus belajar dan berkembang. Dunia hari ini membutuhkan perempuan yang tidak hanya cerdas, tetapi juga tangguh dan solutif.

Bagi mahasiswa Universitas Mulia, momentum Hari Kartini harus menjadi pengingat bahwa masa depan tidak ditentukan oleh siapa kita hari ini, tetapi oleh apa yang kita lakukan mulai sekarang. Beranilah mencoba, beranilah gagal, dan beranilah bangkit kembali. Jangan menunggu sempurna untuk memulai, karena setiap langkah kecil yang dilakukan dengan konsisten akan membawa pada perubahan besar.

Peran dosen dan tenaga kependidikan juga sangat penting dalam menumbuhkan semangat Kartini masa kini. Lingkungan akademik harus menjadi ruang yang aman dan suportif bagi setiap mahasiswa untuk berkembang tanpa rasa takut atau ragu. Memberikan dukungan, membuka ruang diskusi, serta menjadi teladan dalam integritas dan profesionalisme adalah bagian dari kontribusi nyata dalam melahirkan generasi yang berdaya.

Secara pribadi, saya memaknai Kartini sebagai sumber inspirasi untuk tidak pernah menyerah dalam kondisi apa pun. Perjalanan hidup mengajarkan bahwa tantangan akan selalu ada, tetapi pilihan untuk tetap melangkah adalah kekuatan terbesar yang kita miliki. Saya percaya bahwa perempuan memiliki kemampuan luar biasa untuk bertahan, bangkit, dan terus berkarya.

Saya juga meyakini bahwa setiap individu memiliki peran untuk memberikan dampak, sekecil apa pun itu. Prinsip hidup yang saya pegang hingga hari ini adalah berusaha menjadikan setiap orang yang saya temui menjadi lebih baik atau setidaknya lebih bahagia. Karena pada akhirnya, keberhasilan sejati bukan hanya tentang apa yang kita capai, tetapi tentang seberapa banyak kebaikan yang bisa kita sebarkan.

Semangat Kartini hari ini adalah tentang keberanian untuk menjadi versi terbaik dari diri sendiri dan keberanian untuk memberi arti bagi orang lain. Inilah saatnya kita semua—mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan—bersama-sama melanjutkan semangat tersebut. Bukan dengan kata-kata, tetapi dengan tindakan nyata.

Selamat Hari Kartini. Saatnya kita berkarya, berdaya, dan memberi dampak. (YMN)

Oleh: Yamani, S.S., M.Pd.

 

Balikpapan, 21 April 2026—Pagi itu, rumah kami berubah menjadi ruang ganti kecil yang riuh. Anak saya—yang masih di PAUD—berdiri di depan cermin dengan mata berbinar. Ia belum benar-benar memahami siapa Raden Ajeng Kartini, tapi ia tahu satu hal: hari itu ia harus tampil “cantik” dengan pakaian adat.

Ibunya mengambil peran dengan kesungguhan yang tidak main-main. Mencari, memilih, lalu menyewa baju adat Bugis yang menurutnya paling anggun. Kainnya jatuh rapi, warnanya lembut, dan ketika dikenakan, anak kami tampak seperti versi kecil dari masa lalu yang dipinjam sebentar untuk difoto. Ia tersenyum lebar. Kami pun, tanpa sadar, ikut larut dalam kebahagiaan yang sederhana itu.

Tidak ada yang salah di sana. Bahkan terasa hangat.

Namun, siang harinya—sekitar pukul 14:44 wita, realitas saya bergerak di jalur yang berbeda.

Sebuah pesan masuk dari kampus—terlambat, —memberitahukan bahwa dalam rangka Hari Kartini, seluruh civitas diminta mengenakan baju adat atau batik. Masalahnya sederhana: saya tidak punya. Batik lama telah lama menjadi kenangan yang tidak lagi muat di badan yang, entah sejak kapan, mulai bernegosiasi dengan gravitasi.

Waktu pun tidak berpihak. Dari sore hingga malam, saya mengajar. Tidak ada ruang untuk berbelanja, bahkan sekadar mencari pinjaman. Di tengah situasi itu, saya berdiri di depan lemari, menatap pilihan yang semakin menyempit, hingga akhirnya menemukan satu potong “jalan keluar”: batik organisasi Dewan Masjid.

Saya memakainya. Sedikit longgar di beberapa bagian, sedikit aneh di bagian lain. Tapi cukup untuk memenuhi syarat administratif yang tidak tertulis: yang penting terlihat ikut merayakan.

Di titik itulah, saya mulai bertanya—pelan, tapi mengganggu: apa sebenarnya yang sedang kita rayakan?

Jika kita kembali membaca surat-surat Raden Ajeng Kartini, kita tidak akan menemukan satu pun paragraf yang membicarakan kebaya sebagai alat perjuangan. Yang kita temukan justru kegelisahan intelektual, kritik terhadap keterbatasan akses pendidikan, dan hasrat yang nyaris radikal untuk berpikir merdeka.

Kartini tidak sedang memperjuangkan pakaian. Ia memperjuangkan kemungkinan.

Namun hari ini, kemungkinan itu sering direduksi menjadi simbol. Kebaya dan baju adat menjelma menjadi semacam “bahasa cepat” untuk menunjukkan bahwa kita sedang mengingatnya. Sebuah kode visual yang mudah dikenali, mudah direplikasi, dan—sayangnya—mudah pula kehilangan makna.

Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Dalam kajian budaya, ada kecenderungan yang disebut sebagai simbolisasi dangkal: ketika sesuatu yang kompleks dipadatkan menjadi tanda yang sederhana, lalu diulang terus-menerus hingga terasa cukup. Dalam konteks ini, kebaya menjadi tanda itu. Ia menggantikan diskursus.

Padahal, mengganti diskursus dengan simbol adalah bentuk kemalasan intelektual yang paling halus.

Di sekolah anak saya, kebaya itu berhasil menghadirkan kegembiraan. Anak-anak tertawa, berfoto, dan merasa istimewa. Itu penting. Masa kanak-kanak memang membutuhkan momen-momen seperti itu.

Tetapi di ruang yang lebih dewasa—kampus, misalnya—kita seharusnya bergerak lebih jauh dari sekadar estetika. Ketika mahasiswa dan dosen diminta mengenakan batik tanpa ruang dialog tentang gagasan Kartini, yang terjadi bukan internalisasi nilai, melainkan kepatuhan administratif yang dibungkus budaya.

Lebih jauh lagi, ada ironi yang sulit diabaikan.

Kita merayakan kebebasan yang Raden Ajeng Kartini perjuangkan, namun dalam cara-cara yang diam-diam membatasi ruang untuk menjadi diri sendiri. Tanpa disadari, peringatan ini belum sepenuhnya memberi tempat bagi semangat kritis yang pernah ia nyalakan. Dalam kondisi seperti itu, kebaya tidak lagi menjadi simbol budaya. Ia berubah menjadi kostum.

Apakah ini berarti kita harus berhenti memakai kebaya atau baju adat saat Hari Kartini?

Tidak sesederhana itu.

Simbol tetap punya tempat. Ia bisa menjadi pintu masuk, terutama bagi anak-anak. Ia bisa menjadi cara awal untuk mengenal identitas dan sejarah. Namun masalah muncul ketika pintu itu tidak pernah dibuka lebih lebar—ketika orang berhenti di ambang, merasa sudah sampai tujuan.

Yang kita butuhkan bukan penghapusan simbol, melainkan pemulihan makna.

Bayangkan jika di sekolah anak saya, setelah memakai baju adat, guru mengajak mereka—dengan cara yang sederhana—untuk memahami bahwa perempuan boleh bercita-cita setinggi apa pun. Bayangkan jika di kampus, alih-alih sekadar instruksi berpakaian, ada ruang diskusi tentang bagaimana gagasan Kartini masih relevan dalam isu akses pendidikan, kesetaraan kerja, atau bahkan dinamika rumah tangga modern.

Di sana, kebaya akan kembali menjadi simbol yang hidup—bukan sekadar kain yang difoto lalu dilupakan.

Pagi ini ketika saya mengenakan batik Dewan Masjid yang “apa adanya”, saya sempat tersenyum sendiri. Ada sedikit kelucuan, ada sedikit kejanggalan. Tetapi di balik itu, ada kesadaran yang pelan-pelan mengendap: kita sering terlalu sibuk terlihat merayakan, hingga lupa untuk benar-benar memahami apa yang dirayakan.

Anak saya mungkin belum mengerti siapa Kartini. Tapi suatu hari nanti, ia akan bertanya. Dan ketika itu terjadi, saya berharap bisa menjawab lebih dari sekadar, “Dia perempuan yang pakai kebaya.”

Saya ingin mengatakan bahwa ia adalah perempuan yang membuka kemungkinan—dan bahwa kemungkinan itu tidak pernah datang dari pakaian, melainkan dari keberanian untuk berpikir, belajar, dan melampaui batas yang dianggap wajar.

Jika tidak, kita hanya akan mewariskan satu hal: lemari penuh simbol, tetapi pikiran yang tetap sempit. (YMN)

 

Balikpapan, 17 Maret 2026 — Rangkaian Program Kultum Ramadan 1447 H yang diinisiasi Unit Kerja Sumber Daya Universitas Mulia resmi berakhir pada Selasa, 17 Maret 2026. Sejak dimulai pada 24 Februari 2026, program ini tidak sekadar menjadi agenda rutin keagamaan, tetapi menjelma sebagai ruang pembinaan spiritual yang terstruktur di tengah ritme kerja civitas akademika.

Penutupan kultum menghadirkan materi tentang zakat fitrah—sebuah tema yang tidak hanya relevan secara fikih, tetapi juga sarat makna sosial. Pembahasan ini menegaskan bahwa puncak Ramadan tidak berhenti pada pengendalian diri melalui puasa, melainkan berlanjut pada penyempurnaan ibadah melalui kepedulian terhadap sesama.

Pelaksanaan kultum yang berlangsung setiap dua hari sekali, pukul 10.30 hingga 11.30 WITA, menunjukkan upaya serius institusi dalam merawat dimensi spiritual tanpa mengganggu produktivitas kerja. Pola ini menjadi adaptasi dari program “Jumat Berkah” yang secara konsisten dijalankan di luar Ramadan. Selama bulan suci, format tersebut ditransformasikan menjadi Kultum Ramadan dengan intensitas yang lebih tinggi dan materi yang lebih tematik.

Dalam suasana penutupan yang berlangsung khidmat, panitia turut membagikan paket parsel kepada peserta dan para pengisi materi. Lebih dari sekadar bentuk apresiasi, momentum ini memperlihatkan adanya relasi yang hangat dan setara antara penyelenggara dan partisipan—sebuah aspek yang kerap luput dalam kegiatan seremonial.

Kepala HRD Universitas Mulia, Drs. Achmad Prijanto, menegaskan bahwa program ini dirancang dengan orientasi yang jelas. Ia menyebutkan bahwa Kultum Ramadan menjadi instrumen untuk meningkatkan kualitas ibadah dosen dan tenaga kependidikan, sekaligus memperluas pemahaman keagamaan yang aplikatif dalam kehidupan sehari-hari.

Lebih jauh, ia menekankan pentingnya menghadirkan ruang-ruang refleksi di lingkungan kerja agar Ramadan tidak berlalu secara administratif, tetapi meninggalkan jejak kesadaran spiritual. “Melalui kegiatan ini, kita ingin mendorong sivitas akademika untuk semakin dekat kepada Allah SWT, menggapai keberkahan dan magfirah-Nya, serta menjadikan Ramadan sebagai momentum penyucian jiwa,” ujarnya.

Ia juga menyoroti bahwa tujuan yang tidak kalah penting adalah menjaga keberlanjutan nilai-nilai ibadah setelah Ramadan berakhir. Konsistensi inilah yang menjadi indikator keberhasilan pembinaan spiritual, bukan sekadar intensitas kegiatan selama bulan suci.

Di sisi lain, interaksi yang terbangun selama kultum turut memperkuat ukhuwah islamiah di lingkungan kampus. Pertemuan rutin yang menghadirkan berbagai latar belakang unit kerja ini menciptakan ruang dialog yang cair, sekaligus mempererat solidaritas antarpegawai.

Berakhirnya Kultum Ramadan 1447 H bukanlah titik akhir, melainkan transisi menuju keberlanjutan program pembinaan melalui “Jumat Berkah” yang akan kembali dijalankan. Dengan demikian, nilai-nilai yang ditanamkan selama Ramadan diharapkan tidak berhenti sebagai pengalaman temporer, tetapi bertransformasi menjadi budaya kerja yang berlandaskan spiritualitas.

Program ini memperlihatkan bahwa institusi pendidikan tidak hanya berperan dalam pengembangan intelektual, tetapi juga memiliki tanggung jawab dalam membangun karakter dan kedalaman spiritual sumber daya manusianya. Di titik inilah, Kultum Ramadan menemukan relevansinya—bukan sekadar kegiatan, melainkan proses pembentukan makna. (YMN)

 

Balikpapan, 17 Maret 2026 – Suasana hangat dan penuh keakraban menyelimuti kegiatan buka puasa bersama yang diselenggarakan oleh Divisi Sumber Daya Universitas Mulia di kafe Alhamd, kawasan Gunung Bakaran, pada Senin sore, 16 Maret 2026. Kegiatan ini menjadi momen mempererat silaturahmi di antara pimpinan dan seluruh staf dalam suasana Ramadan yang sarat makna.

Acara tersebut dihadiri oleh Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Universitas Mulia, Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I., bersama jajaran pimpinan di bawah koordinasinya serta para karyawan yang sehari-hari mengemban tugas mendukung pengelolaan sumber daya di lingkungan kampus.

Dalam suasana santai namun penuh kekhidmatan, para peserta berkumpul sejak menjelang waktu berbuka. Percakapan ringan, canda, serta saling bertukar cerita menjadi warna tersendiri yang menghadirkan kehangatan kebersamaan di tengah padatnya aktivitas kerja.

Wibisono menyampaikan bahwa kegiatan sederhana seperti ini memiliki makna yang penting bagi kehidupan organisasi. Menurutnya, kebersamaan yang dibangun di luar ruang kerja mampu memperkuat rasa saling memahami dan mempererat hubungan antarpegawai.

“Ramadan selalu menjadi momentum untuk memperkuat kebersamaan. Dalam suasana seperti ini kita bisa saling mendekatkan diri, mempererat silaturahmi, dan menumbuhkan semangat kerja yang lebih baik,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa Divisi Sumber Daya memegang peranan strategis dalam mendukung keberlangsungan berbagai aktivitas di Universitas Mulia. Karena itu, soliditas tim dan hubungan kerja yang harmonis menjadi fondasi penting dalam menjalankan berbagai tugas dan tanggung jawab.

Senyum kebersamaan keluarga besar Divisi Sumber Daya Universitas Mulia terekam dalam foto bersama sebelum berbuka puasa di Caffe Alhamd Gunung Bakaran.

Menjelang waktu berbuka, acara dilanjutkan dengan doa bersama yang dipanjatkan dengan penuh khusyuk. Suasana hening sejenak, menghadirkan refleksi tentang rasa syukur, kebersamaan, serta harapan agar setiap langkah pengabdian di lingkungan kampus senantiasa membawa keberkahan.

Saat azan magrib berkumandang, seluruh peserta berbuka puasa bersama dengan hidangan sederhana yang telah disiapkan. Tawa ringan dan percakapan hangat kembali mengisi ruang kebersamaan, mencerminkan kedekatan yang terbangun di antara para anggota tim.

Kegiatan ini tidak sekadar menjadi agenda buka puasa bersama, tetapi juga ruang memperkuat ikatan emosional antarpegawai. Dalam suasana Ramadan, kebersamaan tersebut menjadi pengingat bahwa kekuatan sebuah institusi tidak hanya terletak pada sistem dan program kerja, tetapi juga pada hubungan manusiawi yang terjalin di dalamnya.

Melalui momen sederhana di bulan suci ini, Divisi Sumber Daya Universitas Mulia berharap semangat kebersamaan yang terbangun dapat terus terpelihara, menjadi energi positif dalam menjalankan amanah pelayanan dan pengembangan institusi ke depan. (YMN)

 

 

Balikpapam, 18 Februari 2026-Dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah, keluarga besar Universitas Mulia menyampaikan ucapan selamat menunaikan ibadah puasa kepada seluruh sivitas akademika dan masyarakat luas.

Rektor Universitas Mulia, Prof. Dr. Ir. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si., menyampaikan bahwa Ramadhan merupakan momentum strategis untuk memperkuat integritas spiritual sekaligus meningkatkan kualitas kinerja akademik.

“Ramadhan tidak hanya menghadirkan dimensi ibadah personal, tetapi juga membentuk karakter disiplin, kejujuran, dan tanggung jawab. Nilai-nilai inilah yang menjadi fondasi utama dalam membangun budaya akademik yang unggul dan beretika,” ujar beliau.

Lebih lanjut, Rektor menekankan bahwa puasa melatih ketahanan diri (self-restraint) yang selaras dengan prinsip-prinsip tata kelola perguruan tinggi yang profesional. Dalam konteks pendidikan tinggi, spirit Ramadhan mendorong lahirnya insan akademik yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan sosial.

Senada dengan itu, para Wakil Rektor Universitas Mulia mengajak seluruh dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa untuk menjadikan Ramadhan sebagai ruang refleksi kolektif. Momentum ini diharapkan mampu memperkuat etos kerja, meningkatkan produktivitas ilmiah, serta memperdalam kepedulian sosial melalui berbagai aktivitas pengabdian kepada masyarakat.

“Puasa adalah madrasah karakter. Di dalamnya terdapat latihan konsistensi, pengendalian diri, dan empati terhadap sesama. Nilai-nilai tersebut sangat relevan dalam membangun ekosistem akademik yang humanis dan berkelanjutan,” demikian disampaikan dalam pernyataan bersama jajaran pimpinan universitas.

Universitas Mulia juga mengajak seluruh sivitas akademika untuk tetap menjaga keseimbangan antara aktivitas perkuliahan, penelitian, pengabdian, dan ibadah selama bulan suci. Dengan manajemen waktu yang baik, Ramadhan justru menjadi penguat produktivitas dan kualitas kinerja.

Mengakhiri pernyataannya, Rektor dan para Wakil Rektor menyampaikan doa agar Ramadhan tahun ini menjadi sarana peningkatan iman dan takwa, serta menghadirkan keberkahan bagi keluarga besar Universitas Mulia.

“Semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita, menguatkan komitmen kita dalam menuntut dan mengembangkan ilmu, serta menjadikan Universitas Mulia sebagai institusi pendidikan yang memberi manfaat luas bagi umat dan bangsa.”

Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan 1447 H.
Semoga setiap langkah akademik yang kita tempuh bernilai ibadah dan menghadirkan kemaslahatan. (YMN)

Oleh: Yamani, S.S., M.Pd.

Pengurus PC DMI Balikpapan Kota | Pengurus MUI Balikpapan Kota | Dosen Universitas Mulia

Balikpapan, 17 Februari 2026—Malam ini, umat Islam di Indonesia kembali menanti hasil sidang isbat yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia. Sebagian saudara kita mungkin sudah menetapkan awal Ramadhan berdasarkan perhitungan hisab, sebagian lagi menunggu keputusan resmi pemerintah setelah laporan rukyat dari berbagai titik pengamatan. Setiap tahun suasana ini berulang, dan setiap tahun pula pertanyaan yang sama muncul: mengapa awal Ramadhan bisa berbeda?

Perbedaan itu bukan lahir dari ego, bukan pula dari keinginan untuk menyelisihi. Ia berakar pada cara membaca langit. Secara astronomi, awal bulan hijriah ditandai dengan kemunculan hilal, yaitu bulan sabit pertama setelah fase bulan baru. Prosesnya dimulai dengan ijtima’ atau konjungsi, ketika matahari dan bulan berada pada satu garis bujur langit. Namun pada saat itu, bulan sama sekali belum terlihat. Ia baru saja “lahir” dan masih sangat dekat dengan matahari. Untuk bisa tampak sebagai hilal, bulan harus bergerak menjauh, memiliki jarak sudut tertentu dari matahari, dan cukup tinggi di atas ufuk saat matahari terbenam.

Di sinilah letak persoalannya. Secara matematis, posisi bulan bisa dihitung dengan sangat presisi. Kita bisa mengetahui dengan akurat kapan konjungsi terjadi, berapa derajat ketinggian bulan saat magrib, dan berapa jarak sudutnya dari matahari. Metode ini disebut hisab, dan digunakan oleh organisasi seperti Muhammadiyah. Prinsip yang dipakai adalah wujudul hilal: jika saat matahari terbenam bulan sudah berada di atas ufuk, walau sangat tipis, maka bulan baru dianggap telah masuk. Ini adalah pendekatan ilmiah yang konsisten dan dapat diprediksi jauh hari.

Namun ada pendekatan lain yang juga ilmiah. Hilal bukan hanya soal angka, tetapi juga soal visibilitas. Ia dipengaruhi oleh ketebalan cahaya senja, kelembaban udara, polusi, dan kemampuan optik manusia maupun teleskop. Karena itu, dalam sidang isbat pemerintah bersama para ulama dan pakar astronomi mempertimbangkan kriteria kemungkinan terlihatnya hilal (imkanur rukyat). Pendekatan ini juga digunakan oleh ormas seperti Nahdlatul Ulama. Jika secara hitungan bulan memang sudah ada, tetapi secara ilmiah hampir mustahil terlihat, maka bulan berjalan disempurnakan menjadi tiga puluh hari. Perbedaannya bukan pada sainsnya, melainkan pada batas minimal yang dianggap cukup untuk menetapkan awal bulan.

Dari sisi fikih, perbedaan ini sama sekali bukan hal baru. Hadis Nabi ﷺ menyebutkan, “Berpuasalah karena melihatnya dan berbukalah karena melihatnya.” Mayoritas ulama dari Mazhab Syafi’i, Mazhab Maliki, dan Mazhab Hanbali memahami hadis ini secara literal: rukyat menjadi dasar utama. Namun sebagian ulama lain seperti Taqi al-Din al-Subki membuka ruang penggunaan hisab ketika telah mencapai tingkat kepastian ilmiah. Artinya, sejak berabad-abad lalu para ulama telah berbeda pendapat dalam bingkai ijtihad, bukan dalam bingkai permusuhan.

Di sinilah kita perlu menundukkan hati. Rasulullah ﷺ telah memberi kaidah yang menenteramkan: “Jika seorang mujtahid berijtihad lalu benar, ia mendapat dua pahala; jika ia berijtihad lalu keliru, ia mendapat satu pahala.” Betapa indahnya agama ini. Tidak ada yang sia-sia dalam usaha mencari kebenaran. Yang menghitung dengan ilmu astronomi mendapatkan pahala atas ijtihadnya. Yang menunggu rukyat dan keputusan sidang isbat pun mendapatkan pahala atas ijtihadnya. Semua berjalan di atas kaidah ilmiah dan syar’i. Tidak ada yang rugi.

Yang sungguh merugi bukanlah mereka yang berbeda dalam menentukan satu hari, melainkan mereka yang membiarkan perbedaan itu membelah hati. Betapa menyedihkan jika hilal yang begitu tipis justru melahirkan prasangka yang tebal. Betapa pilu jika Ramadhan yang datang membawa ampunan dan rahmat malah disambut dengan kecurigaan dan caci maki. Bulan sabit itu hadir dengan kelembutan cahaya, namun jangan sampai cahaya yang lembut itu berubah menjadi api yang menghanguskan ukhuwah. Padahal Allah telah menjanjikan pahala bagi setiap ijtihad yang tulus. Tidak ada yang sia-sia dalam upaya mencari kebenaran. Yang benar mendapat dua pahala, yang keliru tetap mendapat satu pahala. Semua bernilai di sisi-Nya. Yang menjadi musibah bukanlah perbedaan metode, tetapi ketika hati memilih untuk merobek persaudaraan yang seharusnya dijaga.

Malam ini sidang isbat akan dilaksanakan. Sebagian mungkin telah mantap dengan keyakinannya, sebagian lainnya menanti keputusan resmi dengan harap dan doa. Namun apa pun hasilnya, semoga yang kita jaga bukan hanya angka pada kalender, melainkan keutuhan jiwa sebagai satu umat. Mungkin kita berbeda dalam memulai puasa, tetapi kita tetap berdiri menghadap kiblat yang sama. Kita tetap membaca ayat-ayat yang sama. Kita tetap memohon ampunan kepada Tuhan yang sama dengan air mata yang sama. Allah tidak pernah memerintahkan kita untuk bersatu dalam metode, melainkan bersatu dalam iman. Di situlah rahmat Islam memancar—memberi ruang bagi ilmu untuk berpikir, bagi ijtihad untuk bekerja, dan bagi perbedaan untuk hidup tanpa harus melahirkan kebencian. Jika Ramadhan adalah bulan penyucian hati, maka jangan biarkan ia datang ketika hati masih menyimpan bara. Biarlah hilal berbeda satu malam, tetapi jangan biarkan kita berjarak seumur hidup.

Jika kita memulai Ramadhan dengan hati yang lapang, maka satu hari perbedaan tidak akan mengurangi pahala sedikit pun. Namun jika kita memulai dengan kemarahan dan kesombongan, kita bisa kehilangan keberkahan yang jauh lebih besar. Biarlah para ahli berijtihad dengan ilmu mereka, dan biarlah kita menyambut Ramadhan dengan hati yang lembut. Sebab pada akhirnya, yang Allah lihat bukan seberapa cepat kita berpuasa, tetapi seberapa bersih jiwa kita ketika menyambutnya.

Balikpapan, 12 Februari 2026 – Inkubator Bisnis Universitas Mulia menyelenggarakan kegiatan Business Coaching: Cooking Class with Sania pada Kamis, 12 Februari 2026, di Ballroom Cheng Hoo. Kegiatan ini dirancang bukan sekadar kelas memasak, melainkan sebagai ruang pembelajaran terpadu yang menggabungkan keterampilan produksi, strategi pemasaran, hingga pengelolaan keuangan digital dalam konteks kewirausahaan modern.

Peserta mengikuti sesi ice breaking sebagai pembuka kegiatan Business Coaching untuk membangun interaksi dan kerja sama sebelum memasuki materi inti.

Menghadirkan Coach Inkubator Bisnis Universitas Mulia, Chef Sania, Hakasima Houseware, serta perwakilan Bank Mandiri, kegiatan ini mengangkat pendekatan praktik langsung (experiential learning) untuk memperkenalkan siklus usaha secara menyeluruh—dari proses produksi hingga tata kelola finansial.

Acara diawali dengan sesi ice breaking yang membangun dinamika kolaboratif antar peserta. Suasana kemudian beralih ke praktik pembuatan roti kopi dan serabi Solo. Pada tahap ini, peserta tidak hanya mempelajari teknik baking, tetapi juga memahami standar kualitas produk dan efisiensi proses sebagai bagian dari manajemen usaha kuliner.

Chef Sania memperagakan teknik pembuatan adonan roti kopi dalam sesi praktik sebagai bagian dari pembelajaran produksi kuliner.

Pembahasan berlanjut pada aspek branding dan packaging produk. Peserta diajak melihat kemasan bukan sekadar pelindung, melainkan instrumen komunikasi nilai produk kepada konsumen. Sesi marketing digital memberikan gambaran tentang pemanfaatan media sosial dan platform daring sebagai saluran distribusi yang terukur.

Melengkapi rangkaian materi, Bank Mandiri memaparkan pengelolaan keuangan digital untuk usaha, termasuk pencatatan transaksi dan optimalisasi layanan perbankan guna mendukung keberlanjutan bisnis. Penekanan diberikan pada pentingnya literasi finansial sebagai fondasi pertumbuhan usaha yang akuntabel.

Kepala Inkubator Bisnis Universitas Mulia, Dr. Linda Fauziyah Ariyani, M.Pd., menyampaikan materi penguatan kewirausahaan kepada peserta kegiatan.

Rezkika Ramadhani, salah satu peserta, menyampaikan kesannya, “Saya dapat belajar membuat roti dengan teman-teman. Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi saya dan teman-teman, dan saya mendapatkan pengalaman baking yang sangat seru.”

Sementara itu, Kepala Inkubator Bisnis Universitas Mulia, Linda, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya membangun ekosistem kewirausahaan kampus. “Kegiatan ini diharapkan bisa memperkuat komunitas wirausaha di lingkungan Universitas Mulia,” ujarnya.

Melalui kegiatan ini, Inkubator Bisnis Universitas Mulia menempatkan kewirausahaan tidak hanya sebagai keterampilan teknis, tetapi sebagai kompetensi strategis yang memadukan kreativitas, manajemen, dan literasi keuangan dalam satu kesatuan praktik. (YMN)

 

Oleh: Yamani, S.S., M.Pd.
Pengurus PC DMI Balikpapan Kota | Dosen Universitas Mulia


Balikpapan, 12 Februari 2026—
Beberapa hari lagi, mungkin Kamis depan, kita akan memasuki gerbang yang setiap tahun Allah bukakan dengan cara yang berbeda: bukan sekadar lewat hitungan kalender, tetapi lewat panggilan dari langit. Ramadhan bukan hanya pergantian bulan. Ia adalah momentum ketika Allah sendiri mengumumkan ampunan-Nya, membuka pintu-pintu surga, menutup pintu-pintu neraka, dan membelenggu para setan. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa pada malam pertama Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka dan tidak ada satu pun yang ditutup selama sebulan penuh, pintu-pintu neraka ditutup dan tidak ada satu pun yang dibuka, lalu setiap malam terdengar seruan: “Wahai yang menghendaki kebaikan, menghadaplah. Wahai yang menghendaki keburukan, berhentilah.”

Bayangkan, setiap malam langit memanggil. Pertanyaannya bukan apakah seruan itu ada, tetapi apakah hati kita masih peka untuk menjawabnya.

Bagi para dosen, Ramadhan adalah saat paling jujur untuk menilai kembali makna ilmu yang kita ajarkan. Kita berdiri di depan kelas, menjelaskan teori, memaparkan metodologi, membimbing penelitian, memberi nilai, dan membentuk cara berpikir mahasiswa. Namun Ramadhan datang untuk bertanya dengan lembut sekaligus tegas: sudahkah ilmu itu mengalir menjadi teladan? Sudahkah mahasiswa bukan hanya memahami konsep, tetapi melihat akhlak dalam diri pengajarnya? Mengajar bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan amanah yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Jika pintu surga benar-benar dibuka selama sebulan penuh, bukankah kita ingin masuk bersama generasi yang pernah kita bimbing, bukan sendirian membawa gelar dan reputasi?

Bagi mahasiswa, Ramadhan adalah cermin paling jernih bagi masa muda. Di usia yang penuh semangat, penuh cita-cita, dan sering kali juga penuh godaan, Ramadhan mengajarkan integritas yang paling dalam. Puasa adalah ibadah yang sunyi; tidak ada yang tahu kecuali Allah. Di ruang-ruang kampus, mungkin kita bisa tampil cerdas, aktif, dan percaya diri. Di media sosial, kita bisa terlihat sempurna. Tetapi ketika lapar dan dahaga datang, ketika tidak ada yang mengawasi, hanya iman yang berbicara. Ramadhan melatih kejujuran yang tidak bisa dipalsukan. Ia membentuk karakter yang tidak dibangun oleh sorotan publik, tetapi oleh kesadaran bahwa Allah selalu melihat.

Bagi para akademisi, yang terbiasa dengan diskursus, publikasi, dan perdebatan ilmiah, Ramadhan menghadirkan pertanyaan yang lebih dalam daripada sekadar argumen: sudahkah hati kita tunduk? Kita mungkin piawai menjelaskan epistemologi, metodologi, dan teori peradaban. Kita bisa berbicara tentang krisis kemanusiaan global, ketimpangan sosial, dan transformasi digital. Namun Ramadhan mengajak kita untuk duduk sendirian di sepertiga malam, menundukkan kepala, dan mengakui bahwa setinggi apa pun pengetahuan, kita tetap hamba. Ada saatnya kecerdasan berhenti berbicara dan air mata yang mengambil alih. Di situlah ilmu menemukan ruhnya.

Para pengurus masjid pun akan memasuki bulan tersibuk dalam setahun. Jadwal disusun, imam ditentukan, penceramah dihubungi, konsumsi diatur, agenda dirapikan. Masjid akan ramai oleh suara dan aktivitas. Tetapi Ramadhan tidak hanya meminta kerapian program; ia menuntut keikhlasan hati. Masjid bukan sekadar pusat kegiatan, melainkan pusat perubahan. Jangan sampai ia megah oleh dekorasi tetapi miskin oleh ketulusan. Jangan sampai ia penuh oleh manusia tetapi kosong oleh doa yang sungguh-sungguh. Ramadhan mengingatkan bahwa tugas memakmurkan masjid bukan hanya menghidupkan acara, melainkan menghidupkan jiwa-jiwa yang datang dengan luka, dosa, dan harapan.

Bagi remaja masjid, Ramadhan adalah panggilan keberanian. Mungkin ada di antara kalian yang merasa belum layak, masih bergulat dengan kesalahan, atau merasa kecil dibandingkan orang-orang yang tampak lebih saleh. Namun seruan langit itu tidak memilih usia dan tidak mensyaratkan kesempurnaan. Ia memanggil siapa pun yang ingin menjadi lebih baik. Menjadi remaja masjid bukan tentang terlihat religius di hadapan orang lain, tetapi tentang berani melawan diri sendiri ketika tak ada yang melihat. Ramadhan adalah kesempatan untuk membuktikan bahwa masa muda bukan alasan untuk menunda taubat, melainkan alasan untuk mempercepatnya.

Di atas semua itu, ada satu pertanyaan yang mungkin membuat dada kita sesak: bagaimana jika ini Ramadhan terakhir? Tahun lalu kita masih bersama banyak orang yang kini hanya tinggal nama dalam doa. Tidak ada satu pun dari kita yang memegang jaminan akan bertemu Ramadhan berikutnya. Setiap kali bulan ini datang, ia tidak pernah berjanji akan kembali kepada jiwa yang sama. Maka menunda taubat adalah kerugian yang tidak masuk akal. Menunda memaafkan adalah kesombongan yang berbahaya. Menunda kebaikan adalah perjudian yang terlalu mahal.

Setiap malam Ramadhan, langit bertanya: adakah yang memohon ampun sehingga ia akan diampuni? Adakah yang ingin bertaubat sehingga taubatnya diterima? Adakah yang berdoa sehingga doanya dikabulkan? Betapa menyedihkan jika pertanyaan itu menggema, sementara hati kita tetap diam dan sibuk oleh urusan dunia yang tidak pernah benar-benar selesai.

Beberapa hari lagi, mungkin Kamis depan, pintu-pintu surga akan dibuka. Jangan biarkan hati kita tetap tertutup. Sambutlah Ramadhan bukan hanya dengan ucapan dan spanduk, tetapi dengan tekad yang sunyi namun nyata: menjadi dosen yang lebih jujur, mahasiswa yang lebih bersih, akademisi yang lebih rendah hati, pengurus masjid yang lebih ikhlas, dan remaja yang lebih berani menaklukkan dirinya sendiri.

Jika Ramadhan ini mampu membuat kita menangis dalam sujud dan merasa kecil di hadapan Allah, maka itu lebih berharga daripada segala pencapaian yang pernah kita banggakan. Semoga ketika Ramadhan berlalu, yang pergi bukan hanya bulannya, tetapi juga dosa-dosa kita, dan yang tersisa adalah hati yang lebih hidup daripada sebelumnya.