Balikpapan, 25 Mei 2026—Suasana pagi yang cerah menyelimuti halaman kampus Universitas Mulia usai pelaksanaan apel pagi, Senin 25/5/2016. Hangat matahari yang belum terlalu terik berpadu dengan semangat para dosen dan tenaga kependidikan yang berkumpul mengikuti pelatihan penggunaan fire extinguisher atau Alat Pemadam Api Ringan (APAR).
Satu per satu peserta tampak maju mendekati titik simulasi kebakaran. Dengan penuh antusias, mereka mempraktikkan langsung cara memadamkan api menggunakan APAR di bawah arahan tim pendamping. Sesekali terdengar tepuk tangan dan sorak semangat ketika semburan serbuk pemadam berhasil melumpuhkan kobaran api dalam hitungan detik.
Kegiatan yang diinisiasi bagian Sarana dan Prasarana tersebut bukan sekadar pelatihan teknis biasa. Di balik praktik pemadaman api itu, tersimpan pesan penting tentang kesiapsiagaan, keselamatan, dan budaya sadar risiko di lingkungan perguruan tinggi.
Kepala Sarana dan Prasarana Universitas Mulia, Muhammad Fahmi Abdillah, S.Kom., M.Kom. menegaskan bahwa pelatihan tersebut merupakan bentuk komitmen kampus dalam meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat, khususnya kebakaran.
“Lingkungan kampus memiliki banyak aktivitas akademik maupun operasional yang melibatkan penggunaan listrik dan berbagai peralatan lainnya, sehingga potensi risiko kebakaran harus diantisipasi sejak dini melalui edukasi dan pelatihan yang tepat,” ujarnya.
Menurutnya, pengelolaan sarana dan prasarana tidak hanya berfokus pada penyediaan fasilitas, tetapi juga memastikan seluruh fasilitas aman digunakan dan memiliki sistem mitigasi risiko yang baik. Ia menilai, keberadaan APAR di lingkungan kampus belum cukup apabila sivitas akademika tidak memahami cara penggunaannya.
“Memiliki APAR saja tidak cukup apabila pengguna tidak memahami cara pengoperasiannya. Karena itu, pelatihan ini bertujuan memberikan pemahaman praktis agar sivitas akademika mampu menggunakan APAR dengan benar dan cepat ketika menghadapi situasi darurat,” jelasnya.
Saat ini, Universitas Mulia telah menempatkan APAR di sejumlah titik strategis kampus, dilengkapi jalur evakuasi serta prosedur tanggap darurat yang terus dievaluasi secara berkala. Tim sarpras juga rutin melakukan pengecekan terhadap tekanan, masa berlaku, hingga penempatan unit APAR agar selalu dalam kondisi siap pakai.
Di tengah praktik pelatihan, antusiasme peserta terlihat begitu tinggi. Beberapa dosen dan karyawan tampak bergantian mencoba teknik pemadaman api. Tidak sedikit peserta yang awalnya ragu berubah menjadi lebih percaya diri setelah berhasil mengendalikan api secara langsung.
Fahmi menyebut, pengalaman praktik lapangan seperti ini penting untuk mengurangi kepanikan saat menghadapi situasi darurat yang sebenarnya.
“Risiko terbesar dalam kondisi kebakaran adalah kepanikan. Kurangnya pemahaman dapat memperburuk situasi dan meningkatkan potensi korban jiwa maupun kerugian material,” katanya.
Ia juga menekankan bahwa keselamatan bukan hanya tanggung jawab satu unit kerja semata, melainkan budaya bersama yang harus dibangun di lingkungan kampus. Karena itu, pihak Sarpras berencana melaksanakan simulasi evakuasi kebakaran secara berkala serta memperkuat koordinasi antarunit dalam penanganan kondisi darurat.
“Keselamatan berkaitan langsung dengan nyawa manusia. Pelatihan seperti ini harus dipahami sebagai kebutuhan penting, bukan sekadar kegiatan seremonial,” tegasnya.
Melalui pelatihan tersebut, Universitas Mulia tidak hanya menunjukkan perhatian terhadap pengembangan fasilitas kampus, tetapi juga memperlihatkan keseriusan dalam membangun lingkungan akademik yang aman, tanggap, dan siap menghadapi berbagai risiko kedaruratan. Di bawah langit pagi yang cerah itu, pelatihan pemadaman api seolah menjadi pengingat bahwa kewaspadaan adalah bagian penting dari budaya kampus modern. (YMN)















