Dari Sampul Jurnal hingga Peta Jalan Akreditasi: Hari Kedua Workshop OJS Universitas Mulia Berubah Menjadi Ruang Kerja Nyata

Balikpapan, 13 Juni 2026 – Jika hari pertama Workshop Standardisasi dan Pendampingan e-Journal Menuju Akreditasi dan Indeksasi Global diwarnai hujan lebat dan diskusi tentang standar tata kelola jurnal, maka hari kedua menghadirkan suasana yang berbeda. Sabtu pagi, 13 Juni 2026, hujan yang sejak subuh mengguyur Balikpapan mulai mereda. Hanya tersisa rintik-rintik tipis yang sesekali jatuh di halaman Gedung Fakultas Teknik Universitas Mulia.

Udara terasa lebih dingin ketika peserta memasuki Ruang 202. Namun bukan suhu ruangan yang pertama kali menarik perhatian. Deretan meja dan kursi yang sehari sebelumnya ditata dalam format kelas konvensional telah berubah. Bangku-bangku disusun membentuk huruf U. Para peserta yang terdiri dari pengelola jurnal berbagai program studi tampak saling membantu menggeser meja dan kursi, kemudian duduk berkelompok berdasarkan program studi masing-masing.

Hari kedua bukan lagi tentang mendengarkan. Hari kedua adalah tentang mengerjakan.

Laptop mulai terbuka. Template jurnal ditampilkan di layar. Berkas-berkas desain sampul muncul satu per satu. Diskusi yang sehari sebelumnya banyak berbicara tentang konsep, standar akreditasi, dan tata kelola jurnal, kini berubah menjadi sesi bedah jurnal secara langsung.

Di tengah suasana itulah Prof. Dr. Irwansyah mengajak peserta melihat jurnal dari sudut pandang yang berbeda.

Menurutnya, banyak pengelola jurnal terlalu sibuk memikirkan indeksasi, tetapi lupa membangun fondasi yang menjadi syarat utama sebuah jurnal dapat bertahan dan berkembang.

Prof. Dr. Irwansyah membedah satu per satu unsur yang menentukan kualitas sebuah jurnal ilmiah. Berbekal pengalaman mengelola jurnal bereputasi internasional, ia tidak hanya menjelaskan standar akreditasi, tetapi juga menunjukkan bagaimana konsistensi, kualitas naskah, dan tata kelola menjadi fondasi yang membedakan jurnal yang berkembang dengan jurnal yang berhenti di tengah jalan.

Dalam pemaparannya, Editor in Chief Hasanuddin Law Review yang telah terindeks Scopus Q1 tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan jurnal tidak ditentukan oleh satu faktor tunggal. Kualitas naskah, kompetensi editor dan reviewer, standar tata kelola, serta dukungan kebijakan institusi merupakan empat elemen yang saling berkaitan.

“Jurnal tidak bisa berdiri sendiri. Ia harus menjadi bagian dari ekosistem akademik program studi dan institusi,” demikian salah satu pesan yang berulang kali ditekankan selama sesi pendampingan.

Pesan tersebut terasa relevan bagi Universitas Mulia yang saat ini memiliki jurnal dengan tingkat kematangan yang beragam. Sebagian telah berjalan cukup baik, sementara sebagian lainnya masih menghadapi tantangan keberkalaan, kualitas artikel, hingga penguatan tim editorial.

Bagi Prof. Irwansyah, persoalan terbesar sering kali bukan terletak pada teknologi ataupun platform OJS.

Justru tantangan yang paling sering ditemukan adalah kualitas manuskrip, ketersediaan reviewer yang kompeten, konsistensi penerbitan, dan kebijakan institusi yang belum sepenuhnya mendukung budaya publikasi ilmiah.

Ia mencontohkan bagaimana akreditasi jurnal saat ini tidak hanya menilai tampilan website atau kelengkapan administrasi. Penamaan jurnal, kualitas dewan editor, keterlibatan reviewer internasional, kebaruan artikel, konsistensi penerbitan, hingga jumlah kunjungan pembaca menjadi bagian dari indikator yang diperhatikan.

“Jurnal yang baik bukan sekadar memiliki artikel. Jurnal yang baik memiliki identitas keilmuan yang jelas,” ujarnya saat menjelaskan pentingnya fokus dan scope jurnal.

Menurutnya, jurnal yang terlalu umum justru akan kesulitan membangun reputasi ilmiah. Karena itu, setiap program studi perlu merancang jurnal yang memiliki karakter keilmuan yang tegas dan konsisten.

Suasana pelatihan berubah menjadi ruang kerja kreatif ketika setiap program studi mulai merancang identitas jurnalnya masing-masing. Berbagai ide dituangkan ke dalam desain sampul, mulai dari pemilihan nama jurnal, warna, tipografi, hingga karakter visual yang mencerminkan bidang keilmuan. Di balik setiap desain, tersimpan harapan agar jurnal tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memiliki identitas akademik yang kuat.

Salah satu sesi yang paling menarik perhatian peserta justru muncul ketika Rektor Universitas Mulia menginisiasi sebuah lomba sederhana namun sarat makna: kompetisi desain sampul jurnal.

Setiap program studi diminta merancang identitas visual jurnalnya masing-masing. Tidak ada peserta yang tinggal diam. Ruangan yang semula tenang mendadak berubah menjadi studio kreatif dadakan.

Ada yang sibuk memilih warna. Ada yang memperdebatkan tipografi. Ada yang mengutak-atik tata letak judul. Sebagian lainnya berdiskusi mengenai nama jurnal yang dianggap paling representatif terhadap disiplin ilmu program studi.

Persaingan berlangsung dalam suasana yang cair namun serius.

Prof. Irwansyah kemudian berkeliling dari satu kelompok ke kelompok lain memberikan koreksi secara langsung. Ia mengomentari berbagai aspek, mulai dari pemilihan nama jurnal, kesesuaian warna, garis selingkung, tata letak identitas penerbit, hingga unsur visual yang dianggap mampu memperkuat karakter jurnal.

Beberapa desain yang semula dianggap menarik justru mendapatkan banyak catatan perbaikan. Sebaliknya, desain yang sederhana tetapi memiliki identitas keilmuan yang kuat memperoleh apresiasi.

Di sinilah peserta mulai memahami bahwa sampul jurnal bukan sekadar persoalan estetika.

Sampul adalah representasi identitas akademik.

Dalam materi yang disampaikan, Prof. Irwansyah juga menjelaskan bahwa salah satu aspek yang dinilai dalam akreditasi adalah konsistensi tampilan dan desain jurnal. Jurnal yang baik harus memiliki ciri khas yang mudah dikenali serta mampu merepresentasikan bidang ilmu yang diusungnya.

Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa tujuan akhir pengelolaan jurnal bukanlah sekadar memperoleh nilai akreditasi yang tinggi.

Yang jauh lebih penting adalah membangun ruang ilmiah yang mampu melahirkan pengetahuan baru.

Karena itulah peserta diajak memahami konsep state of the art, research gap, dan novelty sebagai fondasi artikel ilmiah yang berkualitas. Menurutnya, artikel yang baik tidak hanya menjawab pertanyaan penelitian, tetapi juga memberikan kontribusi baru terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.

Pendekatan tersebut memberikan perspektif baru bagi banyak peserta. Mereka tidak lagi melihat jurnal sebagai kewajiban administratif untuk memenuhi kebutuhan akreditasi program studi, melainkan sebagai instrumen strategis yang dapat memperkuat reputasi akademik universitas.

Menjelang penutupan kegiatan, suasana ruangan masih dipenuhi diskusi. Beberapa kelompok terus menyempurnakan desain jurnal mereka. Sebagian lainnya mencatat daftar pekerjaan yang harus segera diselesaikan setelah kembali ke program studi masing-masing.

Usai rangkaian workshop, Rektor Universitas Mulia bersama pimpinan LP3M dan narasumber berfoto bersama sebagai penanda berakhirnya kegiatan. Di balik bingkai kebersamaan tersebut tersimpan komitmen yang sama: membangun jurnal-jurnal yang lebih berkualitas, terkelola secara profesional, dan mampu memperluas jejak akademik Universitas Mulia hingga tingkat nasional maupun internasional.

Di luar gedung, hujan telah benar-benar berhenti.

Namun di dalam ruangan, sebuah pekerjaan yang jauh lebih panjang baru saja dimulai.

Membangun jurnal yang terbit tepat waktu mungkin dapat dilakukan dalam satu atau dua tahun. Akan tetapi membangun budaya akademik yang melahirkan artikel berkualitas, reviewer yang aktif, editor yang kompeten, dan jurnal yang dipercaya komunitas ilmiah membutuhkan ketekunan yang jauh lebih panjang.

Dan dari ruang 202 Fakultas Teknik Universitas Mulia pada Sabtu pagi itu, langkah kecil menuju tujuan tersebut sedang disusun, satu jurnal demi satu jurnal. (YMN)