Dari OJS ke Indeksasi Global, Universitas Mulia Menata Masa Depan Jurnal Ilmiah
Balikpapan, 12 Juni 2026 – Hujan turun cukup lebat sejak dini hari, Jumat (12/6/2026). Menjelang pagi, rintik masih bertahan di langit Balikpapan. Beberapa ruas jalan menuju Gedung Fakultas Teknik Universitas Mulia tampak tergenang. Air mengalir perlahan di sisi jalan, menyisakan kubangan yang harus dihindari satu per satu.
Dengan langkah hati-hati, para peserta Workshop Standardisasi dan Pendampingan e-Journal menuju Akreditasi dan Indeksasi Global mulai berdatangan. Sebagian menaikkan sedikit ujung celana agar tidak terkena percikan air. Sebagian lainnya menggenggam laptop sambil sesekali mempercepat langkah ketika gerimis kembali menguat.
Di Ruang 202 Fakultas Teknik lantai 2, mereka berkumpul bukan sekadar untuk mempelajari sebuah aplikasi bernama Open Journal Systems (OJS). Mereka datang untuk membahas sesuatu yang jauh lebih mendasar: bagaimana memastikan jurnal ilmiah di Universitas Mulia tidak hanya lahir, tetapi juga hidup, tumbuh, dan berkelanjutan.
Selama dua hari, 12–13 Juni 2026, workshop yang berlangsung pukul 09.00–16.00 WITA pada hari pertama dan 09.00–12.30 WITA pada hari kedua tersebut mempertemukan pengelola jurnal dari berbagai fakultas dan program studi. Di antara peserta terdapat pengelola jurnal yang telah berpengalaman, ada pula yang baru akan membangun jurnal untuk program studi yang relatif baru.
Bagi sebagian peserta, OJS selama ini dipahami sebagai laman tempat mengunggah artikel. Namun dalam workshop tersebut, pemahaman itu perlahan berubah.
OJS ternyata bukan sekadar website jurnal. Sistem ini merupakan jantung pengelolaan publikasi ilmiah modern yang menghubungkan penulis, editor, reviewer, hingga proses penerbitan secara transparan dan terdokumentasi. Melalui OJS, kualitas tata kelola jurnal dapat diukur, dilacak, dan dievaluasi.
Kesadaran itu menjadi penting karena pengelolaan jurnal bukan hanya soal menerbitkan artikel. Banyak jurnal lahir dengan semangat tinggi pada edisi awal, tetapi kemudian kehilangan ritme. Ada yang terlambat terbit. Ada yang melewati jadwal penerbitan. Bahkan tidak sedikit yang vakum dalam beberapa edisi. Padahal keberkalaan merupakan salah satu indikator utama yang dinilai dalam akreditasi jurnal.
Ketika sebuah jurnal melewatkan periode terbit yang telah dijanjikan, yang dipertaruhkan bukan hanya status akreditasi. Kredibilitas jurnal sebagai ruang diseminasi ilmu pengetahuan juga ikut dipertanyakan.

Wajah-wajah serius memenuhi Ruang 204 Fakultas Teknik. Dikelompokkan berdasarkan program studi masing-masing, para peserta mengikuti sesi demi sesi pelatihan sambil membayangkan masa depan jurnal yang mereka kelola—lebih tertata, lebih berkualitas, dan mampu menjangkau pembaca yang lebih luas.
Ketua Panitia Workshop, Henny Okta Piyani, S.E., M.Ak., menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut dari evaluasi pengelolaan jurnal di lingkungan Universitas Mulia.
“Workshop ini diselenggarakan sebagai tindak lanjut hasil evaluasi pengelolaan jurnal di lingkungan Universitas Mulia yang menunjukkan perlunya penguatan tata kelola e-journal, peningkatan kapasitas pengelola jurnal, serta persiapan menuju akreditasi SINTA dan indeksasi internasional,” ujarnya.
Menurut Henny, Universitas Mulia saat ini telah memiliki sejumlah jurnal yang aktif dikelola oleh fakultas maupun program studi. Namun tingkat kematangan pengelolaannya masih beragam.
“Sebagian jurnal telah memiliki OJS dan terbit secara berkala, sementara sebagian lainnya masih memerlukan penguatan pada aspek tata kelola editorial, manajemen reviewer, kebijakan publikasi, kualitas artikel, serta pemenuhan standar akreditasi dan indeksasi. Selain itu, terdapat kebutuhan untuk mengaktifkan kembali beberapa jurnal dan membangun jurnal baru bagi program studi yang baru terbentuk,” katanya.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Universitas Mulia menghadirkan Prof. Dr. Irwansyah, pengelola Hasanuddin Law Review yang telah terindeks Scopus Q1. Pengalaman tersebut menjadi nilai penting karena peserta tidak hanya memperoleh teori, tetapi juga pelajaran dari praktik nyata mengelola jurnal hingga mencapai reputasi internasional.
Di hadapan peserta, Prof. Irwansyah mengingatkan bahwa kualitas jurnal tidak ditentukan oleh tampilan website semata. Di balik sebuah jurnal yang baik terdapat sistem yang bekerja secara disiplin: editor yang aktif, reviewer yang kompeten, kebijakan yang jelas, artikel yang memiliki kebaruan ilmiah, serta dukungan institusi yang konsisten.
Pesan tersebut terasa relevan bagi banyak program studi. Sebab membangun jurnal sesungguhnya tidak berbeda dengan membangun budaya akademik. Keduanya memerlukan komitmen jangka panjang yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan satu kali pelatihan atau pergantian kepengurusan.
Melalui workshop ini, Universitas Mulia menargetkan lebih dari sekadar peningkatan peringkat akreditasi SINTA.
“Capaian konkret yang diharapkan adalah terbentuknya tata kelola jurnal yang sesuai standar nasional dan internasional, tersusunnya SK pengelola jurnal yang aktif, terbitnya jurnal secara tepat waktu dan berkelanjutan, meningkatnya kualitas artikel yang dipublikasikan, bertambahnya indeksasi jurnal pada database bereputasi seperti Google Scholar, Garuda, DOAJ, dan pengindeks internasional lainnya, serta tersusunnya roadmap pengembangan jurnal menuju indeksasi global,” jelas Henny.

Suasana pelatihan hari pertama berlangsung dalam format classroom. Meski cuaca di luar masih diselimuti hujan, antusiasme peserta tidak surut. Berbagai catatan, pertanyaan, dan diskusi mewarnai sesi yang membahas standar tata kelola jurnal sebagai langkah awal menuju akreditasi dan indeksasi yang lebih luas.
Harapan tersebut memiliki kaitan langsung dengan reputasi perguruan tinggi. Di tengah persaingan pendidikan tinggi yang semakin kompetitif, jurnal ilmiah telah menjadi salah satu wajah akademik universitas di ruang publik global. Kualitas jurnal sering kali mencerminkan kualitas budaya riset yang hidup di dalam institusi.
“Jurnal yang berkualitas meningkatkan reputasi dan visibilitas Universitas Mulia, mendukung akreditasi institusi dan program studi, serta memperkuat daya saing perguruan tinggi melalui publikasi ilmiah yang diakui secara nasional maupun internasional,” tambahnya.
Ketika workshop berakhir pada Sabtu siang, peserta tidak hanya membawa catatan tentang pengelolaan OJS, standar akreditasi, atau mekanisme editorial. Mereka membawa pekerjaan rumah yang jauh lebih besar: memastikan jurnal di program studi masing-masing tetap terbit tepat waktu, terus meningkatkan mutu artikel, dan menjadi ruang lahirnya gagasan-gagasan ilmiah yang relevan bagi masyarakat.
Sebab pada akhirnya, kualitas sebuah jurnal tidak ditentukan oleh seberapa sering ia dibicarakan, melainkan oleh kemampuannya menjaga konsistensi. Dan konsistensi itu selalu dimulai dari langkah-langkah kecil yang dikerjakan dengan sungguh-sungguh, bahkan pada pagi yang diguyur hujan sekalipun. (YMN)











