Strategic Review BSC: Teknik Industri Universitas Mulia Mengukur Keberhasilan dari Dampak, Bukan Aktivitas
Balikpapan, 26 Juni 2026 – Hari terakhir pelatihan Strategic Review Balanced Scorecard (BSC) Universitas Mulia, Jumat (26/6/2026), menjadi momentum ketika berbagai gagasan yang telah dibangun selama empat hari mulai dipertemukan dalam satu ruang. Setelah menyelesaikan analisis SWOT, menyusun Balanced Scorecard (BSC), serta merumuskan Long-Term Development Plan (LTDP), Strategic Plan (Renstra), dan Key Performance Indicators (KPI), setiap fakultas, lembaga, biro, dan program studi mempresentasikan arah pengembangan unit masing-masing sebagai bagian dari pencapaian visi Universitas Mulia 2045.
Bagi Program Studi Teknik Industri, pelatihan ini tidak hanya menghasilkan dokumen perencanaan. Lebih dari itu, pelatihan menjadi ruang untuk meninjau kembali cara program studi mengelola dirinya agar setiap aktivitas akademik mampu menghasilkan dampak yang terukur bagi mahasiswa, dunia industri, dan masyarakat.
Ketua Program Studi Teknik Industri Universitas Mulia, Rizcky Gandarrityaz, S.T., M.T., menilai bahwa pendekatan Strategic Review Balanced Scorecard memperkuat cara pandang program studi dalam menerjemahkan visi Universitas Mulia 2045 ke dalam sistem pengelolaan yang lebih terarah.
Menurutnya, visi universitas tidak cukup dipahami sebagai pernyataan ideal yang tertulis dalam dokumen institusi. Visi harus diterjemahkan menjadi strategi, program kerja, indikator kinerja, dan target yang dapat dievaluasi secara berkelanjutan.
“Melalui pendekatan Balanced Scorecard, kami mulai melihat pengelolaan program studi secara lebih utuh. Capaian akademik tetap penting, tetapi tidak berdiri sendiri. Pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, kerja sama industri, pengembangan kompetensi dosen, hingga pengalaman belajar mahasiswa harus memberikan kontribusi nyata bagi kebutuhan daerah dan dunia kerja,” ujarnya.
Pandangan tersebut selaras dengan substansi pelatihan yang menempatkan Balanced Scorecard sebagai instrumen untuk menghubungkan visi institusi dengan implementasi program di setiap unit kerja. Dalam proses penyusunan LTDP, Renstra, KPI, hingga AOP, setiap program studi didorong tidak hanya menetapkan target, tetapi juga memastikan bahwa target tersebut menghasilkan perubahan yang dapat dirasakan oleh para pemangku kepentingan.
Sebagai disiplin ilmu yang identik dengan peningkatan sistem, efisiensi, dan continuous improvement, Teknik Industri melihat transformasi program studi harus dimulai dari budaya pengelolaan yang berbasis data.
Rizcky menjelaskan bahwa setiap program perlu dirancang berdasarkan kebutuhan nyata, diukur melalui indikator yang jelas, kemudian dievaluasi secara berkelanjutan agar mampu menghasilkan perbaikan yang konsisten.
Pendekatan tersebut juga diterapkan dalam pengembangan kurikulum melalui implementasi Outcome-Based Education (OBE), pembelajaran berbasis proyek (project-based learning), studi kasus industri, praktikum terintegrasi, serta kolaborasi dengan berbagai mitra. Menurutnya, transformasi tidak dapat dilakukan oleh satu unit secara terpisah, melainkan membutuhkan sinergi dengan fakultas, LPPM, lembaga penjaminan mutu, unit kerja sama, pemerintah daerah, dunia industri, hingga komunitas profesional.
“Kolaborasi harus menghasilkan kegiatan nyata. Transformasi tidak boleh berhenti pada aktivitas administratif,” katanya.
Perubahan kebutuhan dunia kerja akibat perkembangan artificial intelligence, otomasi industri, Internet of Things, smart manufacturing, dan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) juga menjadi bagian penting dalam arah pengembangan Program Studi Teknik Industri.
Sebagai program studi yang berada di Kalimantan Timur, Teknik Industri melihat pembangunan IKN sebagai peluang strategis untuk memperkuat kontribusi perguruan tinggi terhadap transformasi ekonomi dan industri di kawasan tersebut.
Karena itu, pengembangan kurikulum akan terus diarahkan pada penguatan kompetensi di bidang sistem industri modern, efisiensi proses, digitalisasi, manajemen operasi, data analytics, hingga kemampuan menyelesaikan persoalan berbasis data.
Selain melakukan pemutakhiran kurikulum secara berkala, program studi juga memperkuat project-based learning, praktikum berbasis kasus nyata, program magang, keterlibatan praktisi mengajar, serta sertifikasi kompetensi mahasiswa.
Menurut Rizcky, lulusan Teknik Industri di masa depan tidak cukup hanya dibekali ijazah.
“Lulusan juga harus memiliki portofolio proyek, sertifikasi kompetensi, pengalaman menggunakan perangkat dan metode yang digunakan di industri, serta kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi,” jelasnya.
Ia berharap lulusan Teknik Industri Universitas Mulia mampu menjadi problem solver, system thinker, inovator, sekaligus agen perubahan yang memberikan solusi bagi dunia industri maupun masyarakat.
Dalam perspektif Balanced Scorecard, Rizcky menilai bahwa keberhasilan program studi tidak lagi diukur berdasarkan banyaknya aktivitas yang dilaksanakan, melainkan dari dampak yang dihasilkan.
Karena itu, Program Studi Teknik Industri mulai memperkuat sejumlah indikator utama, mulai dari kualitas lulusan, relevansi kompetensi dengan kebutuhan industri, masa tunggu kerja, pengalaman belajar mahasiswa melalui proyek industri, magang, sertifikasi, kompetisi, dan riset, hingga produktivitas kerja sama dengan berbagai mitra.
Ia juga menekankan pentingnya penguatan kompetensi dosen melalui peningkatan jabatan akademik, sertifikasi, penelitian, publikasi ilmiah, pengabdian kepada masyarakat, serta keterlibatan dalam jejaring profesional.
Tidak kalah penting, tata kelola program studi harus terus diperbaiki melalui evaluasi yang berbasis data agar setiap keputusan yang diambil benar-benar mendukung peningkatan mutu secara berkelanjutan.
Menurut Rizcky, ketika seluruh indikator tersebut dijalankan secara konsisten, kontribusi Program Studi Teknik Industri terhadap visi Universitas Mulia 2045 tidak hanya terlihat pada capaian akademik, tetapi juga dirasakan oleh mahasiswa, dunia industri, dan masyarakat Kalimantan Timur.
Presentasi yang dilakukan pada hari terakhir pelatihan menjadi penanda berakhirnya rangkaian Strategic Review Balanced Scorecard. Namun, bagi Program Studi Teknik Industri, proses tersebut justru menjadi awal dari implementasi berbagai strategi yang telah dirumuskan.
Sebab pada akhirnya, keberhasilan sebuah program studi tidak hanya ditentukan oleh kualitas perencanaan yang disusun, tetapi oleh kemampuan mengubah strategi menjadi tindakan yang memberikan nilai tambah bagi institusi, dunia usaha, dan masyarakat. (YMN)











